Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mioma uteri atau kanker jinak yang terdapat di uterus adalah tumor jinak
yang tumbuh pada rahim. Dalam istilah kedokteranya disebut fibromioma uteri,
leiomioma, atau uterine fibroid. Mioma uteri merupakan tumor kandungan yang
terbanyak pada organ reproduksi wanita. Kejadiannya lebih tinggi antara 20% –
25 % terjadi pada wanita diatas umur 35 tahun, tepatnya pada usia produktif
seorang wanita, menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen
(Sjamsuhidajat, 2010).
Berdasarkan penelitian World Health Organisation (WHO) penyebab dari
angka kematian ibu karena mioma uteri pada tahun 2010 sebanyak 22 kasus
(1,95%) dan tahun 2011 sebanyak 21 kasus (2,04%). Di Indonesia kasus mioma
uteri ditemukan sebesar 2,39% -11,7% pada semua pasien kebidanan yang di
rawat. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada wanita kulit hitam dibandingkan
wanita kulit putih. Data statistik menunjukkan 60% mioma uteri terjadi pada
wanita yang tidak pernah hamil atau hamil hanya satu kali (Handayani, 2013).
Berdasarkan otopsi novak didalam buku Winkjosastro, 2009 menemukan 27 %
wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit
hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi
sebelum menarche. Setelah menopause hanya kira –kira 10 % mioma yang masih
bertumbuh. Bahaya mioma uteri ini apabila tidak segera ditangani dapat
menyebabkan terjadinya anemia defisiensi zat besi karena terjadinya perdarahan
yang abnormal pada uterus dan selama usia reproduksi dapat menyebabkan
infertilitas (Anwar, 2011)
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merasa tertarik untuk membahas
mengenai masalah mioma uteri ini dengan menggunakan metode pendekatan
manajemen “asuhan keperawatan dengan gangguan sistem reproduksi : post op
histrektomi indikasi mioma uteri
B. Identifikasi Masalah
Melihat banyaknya angka kejadian penyakit mioma uteri, kemudian
melihat juga dari komplikasi dari penyakit mioma uteri yang membahayakan
hidup para penderita, serta kurang pengetahuan para penderita tentang penyakit
mioma uteri, maka penulis tertarik untuk membuat asuhan keperawatan dengan
gangguan sistem reproduksi : post operasi histrektomi indikasi mioma uteri.

C. Rumusan Masalah
1
Dari latar belakang tentang kasus mioma uteri di atas maka dirumuskan
suatu rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana melakukan pengkajian keperawatan pada pasien post operasi
histrektomi atas indikasi mioma uteri.
2. Bagaimana menegakan diagnosa keperawatan pada pasien Post operasi :
Mioma uteri.
3. Bagaimana menentukan intervensi yang tepat sesuai dengan diagnosa pada
pasien post operasi mioma uteri.
4. Bagaimana mengimplementasikan intervensi keperawatan yang sudah
disusun sesuai dengan diagnosa pada pasien post operasi mioma uteri.
5. Bagaimana melakukan evaluasi akhir asuhan keperawatan pada pasien
dengan post operasi mioma uteri.
D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penyusunan makalah ini untuk mengetahui gambaran dan mendapatkan
pengalaman nyata dalam menerapkan asuhan keperawatan yang tepat dengan
gangguan sistem reproduksi : Mioma uteri dengan menggunakan pendekatan
manajemen keperawatan secara benar, tepat dan sesuai dengan standart
keperawatan secara professional.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan asuhan keperawatan ini adalah agar mahasiswa
dapat :
a. Mengetahui metode dan cara pengkajian secara langsung pada pasien
mioma uteri post operasi histrektomi.
b. Mengetahui metode dan cara menegakan diagnosa keperawatan pada
pasien mioma uteri post operasi histrektomi
c. Mengetahui cara membuat intervensi keperawatan atau rencana
keperawatan yang sesuai dengan diagnosa pada pasien mioma uteri post
operasi histrektomi.
d. Mengetahui cara melakukan implementasi atau pelaksanaan tindakan
keperawatan secara langsung pada pasien mioma uteri post operasi
histrektomi.
e. Mengetahui evaluasi tindakan yang telah dilaksanakan pada pasien mioma
uteri post operasi histrektomi.

E. Manfaat Penulisan

2
1. Bagi penulis Penulis dapat lebih mendalami materi dan menambah
pengetahuan tentang gangguan sistem pencernaan khususnya tentang post
operasi mioma uteri.
2. Pasien dan keluarga Bagi pasien dapat bermanfaat untuk mengetahui
proses penyakit dan kemudian mengetahui cara mempercepat pemulihan
keadaan pasca operasi. Bagi keluarga dapat menambah pengetahuan
tentang bagaimana melakukan perawatan dengan mioma uteri.
3. Institusi pendidikan Mengetahui tingkat kemampuan dan melakukan
evaluasi penilaian akhir selama pembelajaran. Menambah bahan referensi
bacaan tentang asuhan keperawatan post operasi mioma uteri.
4. Institusi rumah sakit Karya tulis ini sebagai bahan bacaan dan ilmu
pegetahuan dalam menerapkan asuhan keperawatan pada pasien post
operasi mioma uteri saat melakukan tindakan keperawatan

BAB II
3
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot polos
dinding uterus. Beberapa istilah untuk mioma uteri adalah fibromioma,
miofibroma, laiomioma, fibroleiomioma, atau uterin fibroid. Mioma
merupakan tumor uterus yang ditemukan pada 20-25% wanita diatas umur 35
tahun (Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma, 2015).
Mioma adalah penyakit yang berjenis tumor. Berbeda dengan penyakit
kanker, mioma tidak mempunyai kemampuan menyebar ke seluruh tubuh.
Konsistensinya padat dan sering mengalami degerasi dalam kehamilan dan
sering kali ditemui pada wanita berumur 35-45 tahun. Tumor ini mebutuhkan
waktu 4-5 tahun dan untuk mencapai ukuran sebesar buah jeruk. Tumor ini
sering pula ditemukan pada wanita yang belum pernah melahirkan atau wanita
yang sulit hamil (inferentil) (Setiati, 2009).
Dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa mioma uteri adalah
suatu pertumbuhan jinak dari otot-otot polos, tumor jinak otot rahim, disertai
jaringan ikat, neoplasma yang berasal dari otot uterus yang merupakan jenis
tumor uterus yang paling sering, dapat bersifat tunggal, ganda, dapat mencapai
ukuran besar, biasanya mioma uteri banyak terdapat pada wanita usia
reproduksi terutama pada usia 35 tahun.

2. Penyebab / Faktor Predisposisi


Walaupun mioma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti,
namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa mioma
uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest”
yang selanjutnya dapat dirangsang terus-menerus oleh hormone estrogen.
Namun demikian, beberapa factor yang dapat menjadi factor pendukung
terjadinya mioma adalah : wanita usia 35-45 tahun, hamil pada usia muda,
genetic, zat-zat karsinogensik, sedangkan yang menjadi factor pencetus dari
terjadinya mioma uteri adalah adanya sel yang imatur.
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan
diduga merupakan penyakit multifactorial. Dipercayai, bahwa mioma
merupakan sebuah tumor monoclonal yang dihasilkan dari mutasi somatic dari
sebuah sel neoplastic tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas
kromosom, khususnya pada kromosom lengan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tumor, disamping factor predisposisi genetic,
adalah estrogen, progesterone dan human growth hormone.
a. Estrogen

4
Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Seringkali terdapat
pertumbuhan tumor yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen
eksogen. Mioma uteri akan mengecil pada saat menopause dan
pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan kelainan lainnya yang
tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan fibrosistik
dari payudara (14,8%), adenomyosis (16,5%) dan hyperplasia
endometrium (9,3%). Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan
anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. 17B
hidroxydesidrogenase: enzim ini mengubah estradiol (sebuah estrogen
kuat)menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada
jaringan miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang
lebih banyak daripada myometrium normal.
b. Progesteron
Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen.
Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara, yaitu :
mengaktifkan 17B hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor
estrogen pada tumor.
c. Hormon Pertumbuhan
Level hormone pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi
hormone yang mempunyai struktur dan aktivitas biologic serupa yaitu
HPL, terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang
cepat dari leiomyoma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari
aksi sinergistik antara HPL dan Estrogen.
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa factor yang
diduga kuat sebagai factor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
a. Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun,
ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini
paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
b. Paritas
Lebih sering terjadi pada nulipara atau pada wanita yang relative
infertile, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas
menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.
c. Factor ras dan Genetik
Menurut Manuaba, pada wanita ras tertentu, khususnya wanita
berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari factor ras,
kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga, ada yang
menderita mioma.

5
Belum diketahui secara pasti, tetapi asalnya disangka dari sel-sel
otot yang belum matang. Disangka bahwa estrogen mempunyai peranan
penting, tetapi dengan teori ini sukar diterangkan apa sebabnya pada
seorang wanita estrogen pada nuli para, factor keturunan juga berperan
mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti
konde diliputi pseudakapsul.
Menurut Mansjoer, perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian
besar bersifat degenerative karena berkurangnya aliran darah ke mioma
uteri. Perubahan sekunder meliputi atrofi, degenerasi hialin, degenerasi
kistik, degenerasi membantu, marah, lemak.
3. Patofisiologi
Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam miometrium
dan lambat laun membesar karena pertumbuhan itu miometrium terdesak
menyusun semacam pseudekapsula atau simpai semu yang mengelilingi tumor di
dalam uterus mungkin terdapat satu mioma, akan tetapi mioma biasanya banyak.
Jika ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini
tampak bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus,
uterus mioma dapat menonjol ke depan sehingga menekan dan mendorong
kandung kencing ke atas sehingga sering menimbulkan keluhan miksi Tetapi
masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah pada mioma uteri
yang menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mual.
Selain itu masalah dapat timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus
yang berlebihan sehingga terjadi anemia. Anemia ini bisa mengakibatkan
kelemahan fisik, kondisi tubuh lemah, sehingga kebutuhan perawatan diri tidak
dapat terpenuhi. Selain itu dengan perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan
seseorang mengalami kekurangan volume cairan.

6
4. Web Of Caution (WOC)

Herediter, pola Mioma Uteri


hidup, hormonal

Mioma intramural (dinding Mioma submukosum Mioma subserosum


antara miometrium (tumbuh menjadi polip, (diantara ligamentmluteum)
dilahirkan melalui serviks)

Penurunan imun tubuh Resiko Infeksi Tanda / Gejala

Perdarahan pervaginam Tindakan Pembedahan Pembesaran uterus


(histerektomi)

Hb menurun Resiko kekurangan Penekanan organ


volume cairan sekitar

Tak tertangani Resiko syok


dengan cepat

Perlukaan Kurang informasi mengenai


prognosis penyakit dan
Kerusakan terapi
integritas jaringan Ansietas

Hilangnya uterus ovarium

Estrogen berkurang
Menekan vesika Penekanan Saraf
urinaria dan rektum
Progesteron
kewanitaan menurun

Libido seksual Pola eliminasi Nyeri


menurun

Disfungsi seksual Retensi Urin Konstipasi

7
4. Klasifikasi
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapiran uterus yang terkena.
a. Lokasi
Servical (2,6%), umumnya tumbuh kea rah vagina menyebkan
infeksi. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan
gangguan traktus urinarius. Corporal (91%), merupakan lokasi paling
lazim, dan seringkali tanpa gejala.
b. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya
dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

Gambar 1. Mioma Uteri


1) Mioma Uteri Subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai
tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan
dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat
berada di dalam ligamentumlatum dan disebut sebagai mioma
intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga
peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus,
omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan system
peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya
tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan
terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga
peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitic.
2) Mioma Uteri Intramural
Berubah sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti
kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut
sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma
subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di

8
dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak
(jaringan otot rahim dominan).
3) Mioma Uteri Submukosa
Terletak dibawah endometrium. Dapat pula bertangkai
maupun tidak. Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis
servikalis, dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi.
5. Manifestasi Klinis
Separuh penderita mioma uteri tidak memperlihatkan gejala.
Umumnya gejala yang temukan bergantung pada lokasi, ukuran, dan
perubahan pada mioma tersebut seperti :
a. Perdarahan abnormal: hipermenore, menoragia, metroragia. Sebabnya:
 Pengaruh ovarium sehingga terjadi hiperplasi endometrium
 Permukaan endometrium yang lebih luas dari biasanya
 Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
 Myometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya
sarang mioma di antara serabut myometrium sehingga tidak
dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
b. Nyeri: dapat timbul karena gangguan sirkulasi yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan
setempat dapat menyempitkan canalis servikalis sehingga
menimbulkan dismenore.
c. Gejala penekanan : penekanan pada vesika urinaria menyebabkan
poliuri, oada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum
menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan limfe
menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
d. Disfungsia reproduksi
Hubungan antara mioma uteri sebagai penyebab infertilitas
masih belum jelas. Dilaporkan sebesar 27-40% wanita dengan mioma
uteri mengalami infertilitas. Mioma yang terletak di daerah kornu
dapat menyebabkan sumbatan dan gangguan transportasi gamet dan
embrio akibat terjadinya oklusi tuba bilateral. Mioma uteri dapat
menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang sebenarnya
diperlukan untuk motilitas sperma di dalam uterus. Perubahan bentuk
kavum uteri karena adanya mioma dapat menyebabkan disfungsi
reproduksi. Gangguan implantasi embrio dapat terjadi pada keberadaan
mioma akibat perubahan histologi endometrium dimana terjadi atrofi
karena kompresi massa tumor.
Mekanisme gangguan fungsi reproduksi dengan mioma uteri :
 Gangguan transportasi gamet dan embrio
 Pengurangan kemampuan bagi pertumbuhan uterus
 Perubahan aliran darah vaskuler

9
 Perubahan histologi endometrium
(Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma, 2015)

6. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang


a. Tes laboratorium
Hitung darah lengkap dan apusan darah : leukositosis dapat disebabkan
oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar
hemoglobin dan hematocrit menunjukkan adanya kehilangan darah
yang kronik.
b. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin
Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang
simetrik menyerupai kehamilan atau terdapat bersama-sama dengan
kehamilan.
c. Ultrasonografi
Apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat
membantu.
d. Pielogram intravena
Dapat membantu dalam evaluasi diagnostic.
e. Pap smear serviks
Selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelum
histerektomi.
f. Histerosal pingogram
Dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untuk
mengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopi.
7. Penatalaksanaan Medis
Penanganan yang dapat dilakukan ada dua macam, yaitu penanganan
secara konservatif dan penanganan secara operatif.
a. Penanganan konservatif sebagai berikut :
1) Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodic setiap
3-6 bulan
2) Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC
3) Pemberian zat besi
b. Penanganan operatif, bila :
1) Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu
2) Pertumbuhan tumor cepat
3) Mioma subserosa bertangkai dan torsi
4) Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya
5) Hipermenorea pada mioma submukosa
6) Penekanan pada organ sekitarnya
Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :
 Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertile atau yang masih
menginginkan anak atau mempertahankan uterus demi
kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif, dan
masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan
bila ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau
sarcoma uterus, juga dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini

10
seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan jelas yang
dengan mudak dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi
menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan
dengan endometrium, kehamilan berikutnya harus dilahirkan
dengan section caesaria.
 Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan
pada penderita yang memiliki leiomyoma yang simptomatik atau
yang sudah bergejala.
 Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan mioma saja tanpa
pengangkatan uterus. Apabila wanita sudah dilakukan miomektomi
kemungkinan dapat hamil sekitar 30-50%. Dan perlu disadari oleh
penderita bahwa setelag dilakukan miomektomi harus dilanjutkan
histerektomi.
Lama perawatan :
1) 1 hari pasca diagnosa keperawatan
2) 7 hari pasca histerektomi/miomektomi
Masa pemulihan :
1) 2 minggu pasca diagnose keperawatan
2) 6 minggu pasca histerektomi/miomektomi
c. Penanganan radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga
penderita mengalami menopause. Radioterapi ini umumnya hanya
dikerjakan kalau terdapat kontrak indikasi untuk tindakan operatif akhir-
akhir ini kontrak indikasi tersebut makin berkurang. Radioterapi
hendaknya hanya dikerjakan apabila tidak ada keganasan pada uterus.
1) Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk
patient).
2) Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rectum
3) Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan
menopause. Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan
perdarahan.
Obat-obatan yang biasa kepada penderita mioma yang mengalami
perdarahan melalui vagina yang tidak normal, antara lain :
 Obat anti-inflamasi yang nonsteroid (Nonsteroid Anti
Infamation=NSAID)
 Vitamin
 Dikerok (kuretase)
 Obat-obatan hormonal (misalnya, pil KB)
 Operasi penyayatan jaringan mioma ataupun mengangkat rahim
keseluruhan
 Pemberian hormone steroid sintetik seperti progestin, malah
kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri daerah panggul yang

11
bertambah. Hormon GnRH agoins (Gonadotropin Releasing
Hormon) bias mengurangi besar ukuran mioma. Akan tetapi,
mioma kembali membesar setelah 6 bulan obat GnRH dihentikan.
 Bila uterus hanya sedikit membesar apalagi tidak ada keluhan,
tidak memerlukan pengobatan khusus.

8. Komplikasi
a. Perdarahan sampai terjadi anemia
b. Torsi tangkai mioma dari :
 Mioma uteri subserosa
 Mioma uteri submukosa
c. Nekrosis dan infeksi, setelah torsi dapat terjadi nekrosis dan infeksi
d. Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan
1) Pengaruh mioma terhadap kehamilan
 Infertilitas
 Abortus
 Persalinan prematuritas dan kelainan letak
 Inersia uteri
 Gangguan jalan persalinan
 Perdarahan post partum
 Retensi plasenta
2) Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri
 Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen
 Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai
B. HISTEREKTOMI
1. Pengertian Histerektomi
Histerektomi berasal dari bahasa Yunani yakni hystera yang berarti
“rahim” dan ektmia yang berarti “pemotongan”. Histerektomi berarti operasi
pengangkatan rahim.28 Akibat dari histerektomi ini adalah si wanita tidak bisa
hamil lagi dan berarti tidak bisa pula mempunyai anak lagi. Walaupun tidak
pernah diharapkan, wanita tak jarang mengalami berbagai penyakit yang berkaitan
dengan organ reproduksinya.
Penyakit itu diantaranya kanker rahim atau kanker mulut rahim, fiBbroid
(tumor jinak pada rahim), dan endometriosis (kelainan akibat dinding rahim
bagian dalam tumbuh pada indung telur,tuba fallopi, atau bagian tubuh lain,
padahal seharusnya hanya tumbuh di rahim). Penyakit-penyakit tersebut sangat
membahayakan bagi seorang wanita, bahkan dapat mengancam jiwanya, karena
itu, perlu tindakan medis untuk mengatasinya. Menghadapi penyakit-penyakit
tersebut tindakan medis yang harus dilakukan adalah histerektomi.
Prosedur histerektomi biasanya dipilih berdasarkan diagnosa penyakit,
juga berdasarkan pengalaman dan kecenderungan ahli bedah. Namun, demikian,
prosedur histerektomi melalui vagina memiliki resiko yang
lebih kecil dan waktu pemulihan yang lebih cepat dibanding prosedur
histerektomi melalui perut

12
2. Tujuan atau Kegunaan Histerektomi
Tujuan atau kegunaan histerektomi adalah untuk mengangkat rahim
wanita yang mengidap penyakit tertentu dan sudah menjalani berbagai perawatan
medis, namun kondisinya tidak kunjung membaik.Pengangkatan uterus
merupakan solusi terakhir yang direkomendasikan pada pasien, jika tidak ada
pengobatan lain atau prosedur yang lebih rendah resiko untuk mengatasi masalah
tumor atau kista pada organ reproduksinya
3. Alasan Melakukan Histerektomi
Wanita yang melakukan histerektomi memiliki alasan masingmasing.
Alasan-alasan melakukan histerektomi adalah:
a. Menorrhagia atau menstruasi berlebihan. Selain darah menstruasi
yang keluar berlebihan, gejala lainnya adalah kram dan sakit pada
perut.
b. Endometriosis yaitu kondisi yang terjadi ketika sel-sel yang melintang
di rahim ditemukan di luar dinding rahim
c. Penyakit radang panggul yaitu terinfeksinya sistem reproduksi oleh
bakteri bisa menyebabkan penyakit ini. Sebenarnya penyakit radang
panggul bisa diatasi dengan antibiotik, namun jika kondisinya telah
parah atau infeksi sudah menyebar dibutuhkan tindakan histerektomi.
d. Fibroid atau tumor jinak yang tumbuh di area rahim.
e. Kekenduran rahim yaitu terjadi ketika jaringan dan ligamen yang
menopang rahim menjadi lemah. Gejalanya adalah nyeri punggung,
urine bocor, sulit berhubungan seks, dan merasa ada sesuatu yang
turun dari vagina.
f. Adenomiosis atau penebalan rahim yaitu kondisi ketika jaringan yang
biasanya terbentang di rahim menebal ke dalam dinding otot rahim.
Hal tersebut bisa membuat menstruasi terasa menyakitkan dan nyeri
panggul.
g. Kanker kewanitaan seperti: serviks, ovarium, tuba fallopi dan rahim
4. Jenis-Jenis Histerektomi
a. Histerektomi Radikal
Histerektomi radikal yaitu mereka yang menjalani prosedur ini akan
kehilangan seluruh sistem reproduksi seperti seluruh rahim dan
serviks, tuba fallopi, ovarium, bagian atas vagina, jaringan lemak dan
kelenjar getah bening. Prosedur ini dilakukan pada mereka yang
mengidap kanker

b. Histerektomi Abdominal
1) Histerektomi Total
Histerektomi total yaitu seluruh rahim dan serviks diangkat jika
menjalani prosedur ini. Namun ada pula jenis histerektomi total
bilateral saplingoooforektomi yaitu prosedur ini melibatkan tuba

13
fallopi dan ovarium. Keuntungan dilakukan histerektomi total adalah
ikut diangkatnya serviks yang menjadi sumber terjadinya karsinoma
dan prekanker
2) Histerektomi Subtotal
Histerektomi subtotal adalah Pengangkatan bagian atas uterus
dengan meninggalkan bagian segmen bawah rahim. Tindakan ini
umumnya dilakukan pada kasus gawat darurat obstetrik seperti
pendarahanpaska persalinan yang disebabkan atonia uteri, prolapsus
uteri, dan plasenta akreta.
3) Histerektomi Eksenterasi
Pelvik Histerektomi eksenterasi Pelvik yaitu pengangkatan semua
jaringan dalam rongga panggul. Tindakan ini dilakukan pada kasus
metastase daerah panggul

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan
Dalam hal pemeriksaan, menurut Setiati(2009: 95-96) adalah sebagai berikut:
a. Anamnesis
Timbul benjolan di perut bagian bawah pada waktu yang relatif lama.
kadang- kadang Gangguan haid. Buang air kecil atau air besarpun
terjadi. Nyeri perut terjadi apabila mioma terinfeksi , terpuntir atau
pecah.
b. Pemeriksaan fisik
Palpasi Abdomen digunakan untuk mendapatkan tumor diabdomen
bagian bawah.
c. Pemeriksaan Ginetologi
Dengan pemeriksaan bimanual. Tumor tersebut didpatkan menyatu
dengan rahim atau mengisi dengan kavum Douglasi. Konsistennya
padat , kenyal, bergerak dan permukaan tumor umumnya rata. Gejala

14
klinisnya adalah adanya rasa penuh pada bagian bawah, tanda massa
yang padat kenyal, terjadi perdarahan abnormal, dan muncul rasa
nyeri, terutama saat menstruasi.
d. Pemeriksaan Luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan
tumor dapat terbatas atau bebas.
Selain itu, fokus pengkajian mioma uteri terdiri dari :
a. Pengumpulan Data
Merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi dari klien sebagai
berikut:
 Mioma biasanya terjadi pada usia reproduktif, paling sering
ditemukan pada usia 35 tahun keatas.
 Makin tua usia maka toleransi terhadap nyeri akan berkurang.
 Orang dewasa mempunyai dan mengetahui cara efektif dalam
menyesuaikan diri terutama terhadap perubahan yang terjadi
pada dirinya akibat tindakan THA_BSO (Total Abdominal
Hyterektomi And Bilateral Salphingo Oopphorectomy).
b. Keluhan utama
Keluhan yang timbul hampir tiap jenis oprasi adalah rasa nyeri karena
terjadi torehan tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri setelah
bedah biasanya berlangsung 24-48 jam. Adapun yang perlu dikaji pada
rasa nyeri tersebut adalah pengkajian nyeri P, Q, R, S, T.
c. Riwayat reproduksi
1) Haid
 Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab
mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan
mengalami atropi pada masa menopause.
2) Hamil dan Persalinan
 Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma, dimana
mioma uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan
dengan hormone estrogen, pada masa ini dihasilkan dalam
jumlah yang besar.
 Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi
psikologi klien dan keluarga terhadap hilangnya organ
kewanitaan.
d. Data Psikologi

15
Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap
emosional klien dandiperlukan waktu untuk memulai perubahan yang
terjadi. Oragan reproduksi merupakan komponen kewanitaan, wanita
melihat fungsi menstruasi sebagai lambing feminitas sehingga
berhentinya menstruasi biasanya dirasakan sebagai hilangnya perasaan
kewanitaan. Perasaaan seksualitas dalam arti hubungan seksual perlu
ditangani. Beberapa wanita merasa cemas bahwa hubungan seksualitas
terhalangi atau hilangan kepuasan. Pengetahuan klien tentang dampak
yang akan terjadi sangat perlu persiapan psikologi klien.
e. Status Respiratori
Respirasi bisa meningkat atau menurun. Pernafasan yang cepat dapat
terdengar tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh
kebelakang atau terdapat sekret. Suara paru yang kasar merupakan
gejala terdapat sekret pada saluran nafas. Usaha batuk dan bernafas
dalam dilaksanakan segera pada klien yang memakai anestesi general.
f. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang
harus dijawab oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah.
Variasi tingkat kesadaran dimulai dari siuman sampai ngantuk, harus
diobservasi dan penurunan tingkat kesadaran merupakan gejala syock.
g. Status Urinari
Retensi urin paling umum terjadi setelah pembedah genekologi, klien
yang hidrasinya baik biasanya kencing setelah 6-8 jam setelah
pembedahan. Jumlah output urin yang sedikit akibat kehilangan cairan
tubuh saat operasi, muntah akibat anestesi.
h. Status Gastrointestinal
Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah
pembedahan, tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan
intestinal. Ambulatori dan kompres hangat perlu diberikan untuk
menghilangkan dalam usus.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d kerusakan jaringan otot (uterus berkontraksi)
b. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
(perdarahan)
c. Resiko syok b.d ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh
(perdarahan pervaginam berulang)
d. Resiko infeksi b.d prosedur invasive
e. Retensi urine b.d penekanan oleh masa jaringan neoplasma pada organ
sekitarnya
16
f. Kerusakan integritas jaringan
g. Disfungsi seksual
h. Konstipasi b.d penekanan pada rectum (prolaps rectum)
i. Ansietas b.d perubahan dalam status peran, ancaman pada status
kesehatanm konsep diri (kurangnya sumber informasi terkait penyakit)

17
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
No : Diagnosa Keperawatan Intervensi ( NIC )
( NOC )
1. Nyeri akut b.d kerusakan NOC NIC
jaringan otot (uterus  Pain Level Pain management
berkontraksi)  Pain Control  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
 Comfort Level frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi
 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Kriteria Hasil:  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
 Mampu mengontrol nyeri  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
 Melaporkan bahwa nyeri pencahayaan, kebisingan
berkurang dengan menggunakan  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan inter personal)
manajemen nyeri  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
 Mampu mengenali nyeri (skala,  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
intensitas, frekuensi dan tanda  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
nyeri)
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Menyatakan rasa nyaman setelah
 Tingkatkan istirahat
nyeri berkurang
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dam tindakan nyeri tidak berhasil

Analgesic administration
 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesic yang diperlukan atau kombinasi dari analgesic ketika pemberian lebih

18
dari satu
 Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri
 Tentukan analgesic pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV, Im untuk pengobatan nyeri secara teratur
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali
 Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan gejala
2. Resiko kekurangan volume NOC NIC
cairan b.d kehilangan cairan  Fluid balance Fluid management
aktif (perdarahan)  Hydration  Timbang popok/pembalut jika diperlukan
 Nutritional status: food and  Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
fluid intake  Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik) jika diperlukan
Kriteria Hasil:  Monitor vital sign
 Mempertahankan urine output  Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
sesuai dengan usia dan BB, BJ  Kolaborasikan pemberian cairan IV
urine normal, HT normal
 Monitor status nutrisi
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh
 Berikan cairan IV
dalam batas normal
 Dorong masukan oral
 Tidak ada tanda-tanda dehidrasi,
 Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
elastisitas turgor baik,
 Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
membrane mukosa lembab,
 Tawarkan snack (jus buah, buah segar)
tidak ada rasa haus yag
berlebihan  Kolaborasi dengan dokter
 Atur kemungkinan transfusi
19
 Persiapan untuk transfuse

Hypovolemia management
 Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan
 Pelihara IV line
 Monitor tingkat Hb dan hematocrit
 Monitor tanda vital
 Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan
 Monitor berat badan
 Dorong pasien untuk menambah intake oral
 Pemberian cairan IV monitor adanya tanda dan gejala kelebihan volume cairan
 Monitor adanya tanda gagal ginjal
3. Resiko syok b.d NOC NIC
 Syok prevention Syok prevention
ketidakcukupan aliran darah
 Monitor status sirkulasi BP, warna kulit, suhu kulit, denyut jantung, HR, dan ritme,
ke jaringan tubuh  Syok management
nadi perifer, dan kapiler refill
(perdarahan pervaginam  Monitor tanda inadekuat oksigenasi
Kriteria Hasil:
berulang)  Monitor suhu dan pernapasan
 Nadi dalam batas yang  Monitor input dan output
diharapkan  Pantau nilai labor : HB, HT, AGD, dan elektrolit
 Irama jantung dalam batas  Monitor hemodinamik invasi yang sesuai
 Monitor tanda dan gejala asites
yang diharapkan  Monitor tanda awal syok
 Frekuensi nafas dalam batas  Tempatkan pasien pada posisi supine, kaki elevasi untuk peningkatan preload dengan
yang diharapkan tepat
 Irama pernapasan dalam  Lihat dan pelihara kepatenan jalan napas
20
batas yang diharapkan  Berikan cairan iv dan atau oral yang tepat
 Natrium serum dbn  Berikan vasodilator yang tepat
 Kalium serum dbn  Ajarkan keluarga dan pasien tentang tanda dan gejala datangnya syok
 Klorida serum dbn  Ajarkan keluarga dan pasien tentang langkah untuk mengatasi gejala syok
 Kalsium serum dbn Syok management
 Magnesium serum dbn  Monitor fungsi neurologis
 PH darah serum dbn  Monitor fungsi renal
 Monitor tekanan nadi
 Monitor status cairan, input output
 Catat gas darah arteri dan oksigen di jaringan
 Monitor EKG
 Memanfaatkan pemantauan jalur arteri untuk meningkatkan akurasi pembacaan
tekanan darah
 Memantau tingkat karbon dioksida sublingual dan/atau tonometry lambung
 Monitor adanya gejala gagal pernapasan
 Monitor nilai laboratorium
 Masukkan dan memelihara besarnya kebosanan akses IV
4. Resiko infeksi b.d prosedur NOC NIC
invasive  Imunne Status Infection Control
 Knowledge: Infection  Bersihkan dlingkungan setelah dipakai pasien lain
control  Pertahankan teknik isolasi
 Risk control  Batasi pengunjung bila perlu
 Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah
Kriteria Hasil: berkunjung meninggalkan pasien
 Klien bebas dari tanda dan gejala  Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan
infeksi  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
 Mendeskripsikan proses  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung

21
penularan penyakit, faktor yang  Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat
mempengaruhi penularan serta  Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petinjuk umum
pelaksanaannya  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
 Menunjukkan kemampuan untuk  Tingkatkan intake nutrisi
mencegah timbulnya infeksi  Berikan terapi antibiotic bila perlu
 Jumlah leukosit dalam batas  Monitor tanda dan gejala infeksi sitemik dan lokal
normal
 Monitor perhitungan granulosit, WBC
 Menunjukkan perilaku hidup
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
sehat
 Batasi pengunjung
 Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif
5. Retensi urine b.d penekanan NOC NIC
oleh masa jaringan  Urinary elimination Urinary retention care
neoplasma pada organ  Urinary continence  Monitor intake dan output
 Monitor penggunaan obat antikolionergik
sekitarnya
Kriteria Hasil:  Monitor derajat distensi bladder
 Kandung kemih kosong secara  Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output urine
penuh  Sediakan privacy untuk eliminasi
 Tidak ada residu urin > 100-200  Stimulus refleks bladder dengan kompres dingin pada abdomen
cc
 Kateterisasi jika perlu
 Bebas dari ISK
 Monitor tanda dan gejala ISK
 Tidak ada spasme bladder
22
 Balance cairan seimbang
6. Kerusakan integritas NOC NIC
jaringan  Tissue integrity : skin and Pressure ulcer prevention wound care
mucous  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
 Wound healing : primary  Jaga kulit agar tetap bersih dan kering
and secondary intention  Mobilisasi pasien setiap du jam sekali
 Monitor kulit akan adanya kemerahan
Kriteria Hasil:  Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah yang tertekan
 Perfusi jaringan normal  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
 Tidak ada tanda-tanda infeksi  Monitor status nutrisi pasien
 Ketebalan dan tekstur jaringan  Memandikan pasien dnegan sabun dan air hangat
normal
 Observasi luka : lokasi, dimesi, kedalaman luka, jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi
 Menunjukkan pemahaman
local, formasi traktur
dalam proses perbaikan kulit
 Ajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka
dan mencegah terjadinya cidera
 Kolaborasi ahli gizi pemberian diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein)
berulang
 Cegah kontaminasi feses dan urin
 Menunjukkan terjadinya proses
 Lakukan teknik perawatan luka dengan steril
penyembuhan luka
 Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka
 Hindari kerutan pada tempat tidur
7. Disfungsi seksual
8. Konstipasi b.d penekanan NOC NIC
pada rectum (prolaps  Bowel elimination Constipation/impaction Management
rectum)  Hydration  Monitor tanda dan hejala konstipasi
Kriteria Hasil:  Monitor bising usus

23
 Mempertahankan bentuk feses  Monitor feses : frekuensi, konsistensi dan volume
lunak setiap 1-3 hari  Konsultasi dengan dokter tentang penurunan dan peningkatan bising usus
 Bebas dari ketidak nyamanan  Monitor tanda dan gejala rupture usus/peritonitis
dan konstipasi  Jelaskan etiologi dan rasionalisasi tindakan terhadap pasien
 Mengidentifikasi indicator  Identifikasi factor penyebab dan kontribusi konstipasi
untuk mencegah konstipasi  Dukung intake cairan
 Feses lunak dan berbentuk  Kolaborasikan pemberian laksatif
 Pantau tanda-tanda dan gejala konstipasi
 Pantau tanda-tanda dan gejala impaksi
 Memantau bising usus
 Konsultasikan dengan dokter tentang penurunan / kenaikan frekuensi bising usus
 Evaluasi profil obat untuk efek samping gastrointestinal
 Anjurkan pasien / keluarga untuk mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi
tinja
 Anjurkan pasien/keluarga untuk diet tinggi serat

9. Ansietas b.d perubahan NOC NIC


dalam status peran,  Anxiety self-control Anxiety Reduction
ancaman pada status  Anxiety level  Lakukan pendekatan yang menenangkan
 Coping  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien
kesehatanm konsep diri
Kriteria Hasil:  Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
(kurangnya sumber
 Klien mampu mengidentifikasi  Pahami perspektif pasien terhadap situasi stres
informasi terkait penyakit) dan mengungkapkan gejala  Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
cemas  Dorong keluarga untuk menemani pasien
24
 Mengidentifikasi,  Lakukan back/neck rub
mengungkapkan dan  Dengarkan dengan penuh perhatian
menujukkan teknik untuk  Identifikasi tingkat kecemasan
mengontrol cemas  Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
 Vital sign dalam batas normal  Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, dan persepsi

25
26