Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

TOKSIKOLOGI PELARUT

Dosen Pembimbirng :

D. Saeful Hidayat, Drs, MS, Apt

Oleh :

Siti Anjani

A 171 045

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN KHAZANAH

BANDUNG

2020
ABSTRAK
Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih mudah menguap,
meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan. Untuk membedakan antara
pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya terdapat dalam jumlah yang
lebih besar. Secara umum, pelarut dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori,
yaitu: polar dan non-polar. Umumnya, konstanta dielektrik pelarut menyediakan
ukuran kasar polaritas pelarut. Polaritas yang kuat air ditandai, pada 20 °C, dengan
konstanta dielektrik 80,10. Pelarut dengan konstanta dielektrik kurang dari 15
umumnya dianggap nonpolar.
Secara teknis, konstanta dielektrik mengukur kemampuan pelarut untuk
mengurangi kekuatan medan medan listrik di sekeliling partikel bermuatan
tenggelam di dalamnya. Pengurangan ini kemudian dibandingkan dengan kekuatan
medan partikel bermuatan dalam kekosongan. Dalam istilah awam, konstanta
dielektrik pelarut dapat dianggap sebagai kemampuan untuk mengurangi biaya
internal terlarut.

Komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh terhadap


reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada
plankton, bahkan dapat mematikan ikan, dengan sendirinya dapat menurunkan
produksi ikan yang berakibat menurunnya devisa negara. Proses emulsifikasi
merupakan sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan
perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan
tercemar. Proses ini merupakan penyebab terkontaminasinya sejumlah flora dan
fauna di wilayah tercemar.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelarut adalah benda cair atau gas yang dapat melarutkan benda padat,
cair, atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Secara umum, pelarut dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu: polar dan non-polar. Umumnya,
konstanta dielektrik pelarut menyediakan ukuran kasar polaritas pelarut.
Polaritas yang kuat air ditandai, pada 20° C, dengan konstanta dielektrik 80,10.
Pelarut dengan konstanta dielektrik kurang dari 15 umumnya dianggap
nonpolar.
Secara teknis, konstanta dielektrik mengukur kemampuan pelarut untuk
mengurangi kekuatan medan medan listrik di sekeliling partikel bermuatan
tenggelam di dalamnya. Pengurangan ini kemudian dibandingkan dengan
kekuatan medan partikel bermuatan dalam kekosongan. Dalam istilah awam,
konstanta dielektrik pelarut dapat dianggap sebagai kemampuan untuk
mengurangi biaya internal terlarut.
Dampar buruk pelarut yaitu dari pencemaran udara contohnya
hidrokarbon, hidrokabon merupakan teknologi umum yang digunakan untuk
beberapa senyawa organic yang diemisikan bila bahan bakar minyak dibakar.
Sumber langsung dapat berasal dari berbagai aktivitas perminyakan yang ada,
seperti ladang minyak, gas bumi geothermal. Umumnya hidrokarbon terdiri
atas methana, ethan dan turunan-turunan senyawa alifatik dan aromatic.
Hidrokarbon dinyatakan dengan hidrokarbon total (THC). Senyawa
hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berupa benzena, toluena,
ethylbenzena, dan isomer xylena, dikenal sebagai BTEX, merupakan
komponen utama dalam minyak bumi, bersifat mutagenik dan karsinogenik
pada manusia. Senyawa ini bersifat rekalsitran, yang artinya sulit mengalami
perombakan di alam, baik di air maupun di darat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pelarut

Pelarut adalah benda cair atau gas yang dapat melarutkan benda padat,
cair, atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut paling umum
digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga
umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga
disebut pelarut organik. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih
mudah menguap, meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan. Untuk
membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya
terdapat dalam jumlah yang lebih besar.
2.2 Macam-Macam Pelarut
2.2.1 Berdasarkan Struktur Kimia
a. Hidrokarbon
Sesuai namanya maka pada golongan ini terdiri dari pelarut-pelarut
dimana unsur hidrogen (H) dan carbon (C) menjadi struktur dasarnya.
Golongan ini terbagi lagi menjadi tiga sub golongan, yaitu: aliphatis,
aromatis dan halogenated hidrokarbon. Sedang sub golongan aliphatis
dibagi lagi menjadi aliphatis jenuh (saturated) dan tidak jenuh
(unsaturated).
Pelarut-pelarut golongan hidrokarbon hampir seluruhnya berasal
dari hasil distilasi minyak bumi yang merupakan campuran dari
beberapa sub-sub golongan (bukan senyawa murni), sehingga titik
didihnya berupa range dari minimum sampai maksimum, bukan
merupakan titik didih tunggal.
b. Oksigenated Solvent
Oksigenated sovent atau pelarut dengan atom oksigen adalah
pelarut-pelarut yang struktur kimianya mengandung atom oksigen.
Termasuk dalam kategori ini adalah golongan ester, ether, ketone dan
alkohol.
2.2.2 Berdasarkan Sifat (Polaritas)
Secara umum, pelarut dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu:
polar dan non-polar. Umumnya, konstanta dielektrik pelarut menyediakan ukuran
kasar polaritas pelarut. Polaritas yang kuat air ditandai, pada 20 °C, dengan
konstanta dielektrik 80,10. Pelarut dengan konstanta dielektrik kurang dari 15
umumnya dianggap nonpolar.
Secara teknis, konstanta dielektrik mengukur kemampuan pelarut untuk
mengurangi kekuatan medan medan listrik di sekeliling partikel bermuatan
tenggelam di dalamnya. Pengurangan ini kemudian dibandingkan dengan kekuatan
medan partikel bermuatan dalam kekosongan. Dalam istilah awam, konstanta
dielektrik pelarut dapat dianggap sebagai kemampuan untuk mengurangi biaya
internal terlarut.
1. Pelarut Non Polar
a. Heksana
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus
kimia C6H14 (isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3).
Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana
dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang
menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Seluruh isomer heksana amat
tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut organik yang inert.
Heksana juga umum terdapat pada bensin dan lem sepatu, kulit dan tekstil.
Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang
tidak larut dalam air.
Heksana diproduksi oleh kilang-kilang minyak mentah. Komposisi dari
fraksi yang mengandung heksana amat bergantung kepada sumber minyak,
maupun keadaan kilang. Produk industri biasanya memiliki 50%-berat
isomer rantai lurus, dan merupakan fraksi yang mendidih pada 65–70 °C.

Gambar 1.1 Struktur Kimia Heksana


b. Benzena
Benzena (atau 1,3,5-sikloheksatriena), juga dikenal dengan nama C6H6,
PhH, dan benzol, adalah senyawa kimia organik yang merupakan cairan tak
berwarna dan mudah terbakar serta mempunyai bau yang manis. Benzena
adalah sejenis karsinogen. Benzena adalah salah satu komponen dalam
bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam dunia industri.
Benzena juga adalah bahan dasar dalam produksi obat-obatan, plastik,
bensin, karet buatan, dan pewarna. Selain itu, benzena adalah kandungan
alami dalam minyak bumi, namun biasanya diperoleh dari senyawa lainnya
yang terdapat dalam minyak bumi.

Gambar 1.2 Struktur Kimia Benzena


c. Toluena
Toluena, dikenal juga sebagai metilbenzena ataupun fenilmetana,
adalah cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma
seperti pengencer cat dan berbau harum seperti benzena. Toluena adalah
hidrokarbon aromatik yang digunakan secara luas dalam stok umpan industri
dan juga sebagai pelarut. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga
digunakan sebagai obat inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan.

Gambar 1.3 Struktur Kimia Toluena


d. Dietil Eter
Dietil eter , yang juga dikenal sebagai eter dan etoksi etana, adalah
cairan mudah terbakar yang jernih, tak berwarna, dan bertitik didih rendah
serta berbau khas. Anggota paling umum dari kelompok campuran kimiawi
yang secara umum dikenal sebagai eter ini merupakan sebuah isomernya
butanol. Berformula CH3-CH2-O-CH2-CH3, dietil eter digunakan sebagai
pelarut biasa dan telah digunakan sebagai anestesi umum. Eter dapat
dilarutkan dengan menghemat di dalam air (6.9 g/100 mL).
Enzim sitokrom P450 dipercaya memetabolisir dietil eter. Dietil eter
menghambat alkohol dehidrogenase, dan dengan begitu memperlambat
metabolisme etanol. Dietil eter juga menghambat metabolisme obat yang
membutuhkan metabolisme oksidatif.

O
Gambar 1.4 Struktur Kimia Dietil Eter
e. Kloroform
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3).
Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius,
meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium
atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah
menguap.

Cl
Cl
Cl
Gambar 1.5 Struktur Kimia Kloroform
f. Etil Asetat
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3.
Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini
berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering
disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat.
Etil asetat diproduksi dalam skala besar sebagai pelarut.
Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah
menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan
penerima ikatan hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan
hidrogen karena tidak adanya proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang
terikat pada atom elektronegatif seperti flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat
dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam air hingga kelarutan 8%
pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi.
Namun demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa
atau asam.

O
N
Gambar 1.6 Struktur Kimia Etil Asetat

2. Pelarut Polar Aprotic


a. 1,4-Dioksana
1,4-Dioksana, sering hanya disebut Dioksana, adalah jelas, tak
berwarna heterosiklik senyawa organik yang merupakan cairan pada suhu
kamar dan tekanan. Memiliki rumus molekul C4H8O2 dan titik didih 101 °
C. Hal ini biasanya digunakan sebagai pelarut aprotic. 1,4-Dioksana
memiliki bau yang lemah sama dengan dietil eter. Ada juga dua senyawa
isomerik kurang umum, 1,2-Dioksana dan 1,3-Dioksana. 1,2-Dioksana
adalah bentuk peroksida yang secara alami dalam botol tua Tetrahidrofuran.
1,4-Dioksana diklasifikasikan sebagai sebuah eter, dengan masing-
masing dari dua atom oksigen membentuk kelompok fungsional eter. Hal ini
lebih polar daripada dietil eter, yang juga memiliki empat karbon, tetapi
hanya satu gugus fungsional eter. Dietil eter agak larut dalam air, tetapi 1,4-
Dioksana yang bercampur dengan air dan higroskopik. Polaritas yang lebih
tinggi dan sedikit lebih tinggi massa molekul juga memberi itu jauh lebih
tinggi daripada titik didih dietil eter. Ketika digunakan sebagai pelarut untuk
reaksi Grignard, Dioksana positif mempengaruhi pembentukan magnesium
halida Schlenk garam dalam ekuilibrium.
Nama Dioksana tidak boleh dicampurkan dengan dioksin, yang
merupakan senyawa yang berbeda tetapi juga merupakan diether (dua
kelompok fungsional eter).
O
O
Gambar 1.7 Struktur Kimia 1,4-Dioksana
b. Tetrahidrofuran (THF)
Tetrahidrofuran, atau dikenal sebagai THF, adalah senyawa organik
heterosiklik dengan rumus kimia (CH2)4O). Ia berupa cairan berviskositas
rendah dan memiliki aroma seperti dietil eter. Ia termasuk dalam molekul
eter yang paling polar. THF adalah analog yang terhidrogenasi dari senyawa
aromatik furan. THF adalah pelarut aprotik dengan tetapan dielektrik 7,6. Ia
memiliki kepolaran yang sedang dan melarutkan berbagai macam senyawa
nonpolar maupun polar.
THF sering digunakan dalam ilmu polimer. Ia dapat digunakan untuk
melarutkan karet sebelum dilakukan penentuan massa molekul
menggunakan kromatografi permeasi gel. THF juga melarutkan PVC.
THF dapat dipolimerisasikan menggunakan asam kuat, menghasilkan
polimer linear yang disebut poli(tetrametilena eter) glikol (PTMEG), Nomor
Registrasi CAS [25190-06-1], juga dikenal sebagai PTMO, politetrametilena
oksida. Kegunaan utama dari polimer ini adalah untuk membuat serat
poliuretana elastomerik seperti Spandex.
THF dapat disintesis dari hidrogenasi katalitik furan. Proses pembuatan
THF dalam industri menggunakan dehidrasi 1,4-butanadiol dengan katalis
asam. Du Pont mengembangkan proses produksi THF dengan mengoksidasi
n-butana menjadi maleat anhidrida kasar, diikuti dengan hidrogenasi maleat
anhidrida menjadi THF.
THF cenderung membentuk peroksida jika disimpan dalam udara. Oleh
karena itu THF tidak boleh didistilasi sampai kering, yang dapat
meninggalkan residu peroksida yang mudaj meledak. THF komersial sering
memakai BHT untuk mencegah pembentukan peroksida. Campuran Trapp
yang memperluas jangkauan temperatur THF sebagai pelarut.
c. Diklorometana (DCM)

Diklorometana (DCM atau methylene chloride) adalah senyawa

organik dengan rumus CH2Cl2. Ini tidak berwarna, mudah menguap cairan

dengan aroma manis yang sedang banyak digunakan sebagai pelarut. Lebih

dari 500.000 ton diproduksi pada tahun 1991. Meskipun tidak bercampur

dengan air, itu bercampur dengan berbagai pelarut organik. ini pertama kali

dibuat pada tahun 1840 oleh kimiawan Perancis Henri Victor Regnault, yang

terisolasi dari campuran chloromethane dan klorin yang telah terkena sinar

matahari.

Diklorometana adalah paling beracun chlorohydrocarbons yang

sederhana, tetapi tidak tanpa risiko kesehatan sebagai volatilitas tinggi

membuat inhalasi akut bahaya. diklorometana juga metabolised oleh tubuh

untuk karbon monoksida berpotensi menimbulkan keracunan karbon

monoksida. akut pemaparan oleh terhirup telah mengakibatkan optik

neuropati dan hepatitis. kontak kulit yang lama dapat mengakibatkan

pelarutan diklorometana beberapa jaringan lemak di kulit, menyebabkan

iritasi kulit atau luka bakar kimia.

Ini mungkin karsinogenik, karena telah dikaitkan dengan kanker paru-

paru, hati, dan pankreas di laboratorium hewan. diklorometana melintasi

plasenta. Keracunan janin pada wanita yang terpapar namun selama

kehamilan belum terbukti. Dalam percobaan binatang itu fetotoxic pada

dosis yang maternal beracun tapi tidak ada terlihat efek teratogenic.

d. Aseton
Aseton, juga dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-
propanon, propan-2-on,dimetilformaldehida, dan β-ketopropana, adalah
senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Ia
merupakan keton yang paling sederhana. Aseton larut dalam berbagai
perbandingan dengan air, etanol, dietil eter, dll. Ia sendiri juga
merupakan pelarut yang penting.
Aseton digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan
senyawa-senyawa kimia lainnya. Selain dimanufaktur secara industri, aseton
juga dapat ditemukan secara alami, termasuk pada tubuh manusia dalam
kandungan kecil. Sejumlah kecil aseton diproduksi dalam tubuh
melalui dekarboksilasi jasad keton.

O
Gambar 1.8 struktur aseton
e. Asetonitril (MeCN)

Asetonitril adalah senyawa kimia dengan rumus CH3CN. Ini cairan

berwarna organik yang paling sederhana nitril. Ini diproduksi terutama

sebagai produk sampingan dari pembuatan acrylonitrile. Hal ini terutama

digunakan sebagai pelarut dalam aprotic kutub pemurnian butadiena. Di

laboratorium, digunakan sebagai media-polaritas pelarut yang bercampur

dengan air dan memiliki rentang cairan nyaman.

f. Dimetilformamida (DMF)

N,N-dimetilformamida adalah senyawa organik formula (CH3) 2-N-

CHO. Biasa disingkat DMF, cairan tak berwarna yang bercampur dalam air

dan sebagian besar senyawa organik. DMF digunakan sebagai pelarut untuk

reaksi kimia. Dimetilformamida adalah murni tidak berbau, sedangkan jika

terdegradasi memiliki bau amis karena pengotor dari dimetilamin. Su

nombre proviene del hecho de ser un derivado de la formamida , Namanya


berasal dari yang menjadi turunan dari formamide, yang amina dari format

asam.

g. Dimetil sulfoksida (DMSO)

Dimetil sulfoksida (DMSO) adalah organosulfur senyawa dengan

rumus kimia (CH3)2SO. Ini adalah cairan tak berwarna yang penting aprotic

pelarut yang polar melarutkan baik senyawa polar dan nonpolar dan

bercampur dalam berbagai pelarut organik maupun air. Ini memiliki properti

yang berbeda menembus kulit sangat mudah, sehingga orang dapat

mencicipinya segera setelah datang ke dalam kontak dengan kulit. Rasanya

telah digambarkan sebagai tiram-atau-seperti bawang putih.

3. Pelarut Polar Protic

a. Asam asetat

Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia

asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam

makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali

ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat

murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna,

dan memiliki titik beku 16.7°C.

Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena

tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai

macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan

sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering

digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam

asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari
hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari

sumber hayati.

b. n-Butanol

n-Butanol adalah salah satu jenis Pelarut Polar Protic. Rumus kimia n-

Butanol adalah CH3-CH2-CH2-CH2-OH. Titik didih n-Butanol adalah 118

°C. Konstanta Dielektriknya adalah 18. Massa jenisnya adalah 0.810 g/ml.

n-Butanol yang memiliki rumus kimia C4H9OH, merupakan produk

hasil reaksi n-butiraldehid dengan hidrogen. n-Butanol merupakan cairan

putih jernih dan berbau tajam Produksi n-butanol sebagian besar digunakan

pada pembuatan resin urea fonnaldehid dan plasticizer dibutil pthalat.

c. Isopropanol (IPA)

Isopropil alkohol (IPA). IPA adalah zat yang tidak beracun. Zat ini

berpotensi menjadi bahan aditif bahan bakar karena merupakan salah satu

hasil samping dari produksi berbahan baku gas alam, sehingga tersedia

dalam jumlah yang cukup besar.

Isopropil alkohol (IPA) atau isopropanol adalah nama lain dari 2-

propanol. Rumus kimianya adalah CH3CHOHCH3. Senyawa ini merupakan

turunan kedua setelah propilen dari propana. Isopropil alkohol dapat

membentuk azeotrop dengan air pada 87,4% isopropanol. IPA adalah zat

yang sangat mudah menguap, mudah terbakar, berbau khas dan beracun.

d. Etanol

Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau

alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar,

tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat

ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah

salah satu obat rekreasi yang paling tua.

Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia

yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah

pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia,

etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk

sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama

digunakan sebagai bahan bakar.

Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut

organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida,

kloroform, dietil eter, etilena glikol, gliserol, nitrometana, piridina, dan

toluena. Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan, seperti pentana

dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik seperti

trikloroetana dan tetrakloroetilena.

e. Metanol

Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,

adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan bentuk

alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang

ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun

dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Ia digunakan

sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan

additif bagi etanol industri.


Penggunaan metanol sebagai bahan bakar mulai mendapat perhatian

ketika krisis minyak bumi terjadi di tahun 1970-an karena ia mudah tersedia

dan murah. Masalah timbul pada pengembangan awalnya untuk campuran

metanol-bensin. Untuk menghasilkan harga yang lebih murah, beberapa

produsen cenderung mencampur metanol lebih banyak. Produsen lainnya

menggunakan teknik pencampuran dan penanganan yang tidak tepat.

Akibatnya, hal ini menurunkan mutu bahan bakar yang dihasilkan. Akan

tetapi, metanol masih menarik utuk digunakan sebagai bahan bakar bersih.

Metanol juga digunakan sebagai solven dan sebagai antifreeze, dan fluida

pencuci kaca depan mobil.

Penggunaan metanol terbanyak adalah sebagai bahan pembuat bahan

kimia lainnya. Sekitar 40% metanol diubah menjadi formaldehyde, dan dari

sana menjadi berbagai macam produk seperti plastik, plywood, cat, peledak,

dan tekstil. Dalam beberapa pabrik pengolahan air limbah, sejumlah kecil

metanol digunakan ke air limbah sebagai bahan makanan karbon untuk

denitrifikasi bakteri, yang mengubah nitrat menjadi nitrogen.

f. Air

Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk

kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet

lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun

kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat

di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak

gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air

tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut
bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan

aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara)

menuju laut.

Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan

kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik.

Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air

sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang

Sumber Daya Air.

2.3 Kegunaan Pelarut

2.3.1 Alkana

a. Bahan Bakar : elpiji, kerosin, bensin, dan solar.

b. Petrolium eter dan nafta digunakan sebagi pelarut dalam industri atau

pencucian kering (Dry Cleaning).

c. Sumber Hidrogen : Industri Amonia dan pupuk.

d. Pelumas : alkan suku tinggi (jumlah karbon tiap molekulnya cukup besar)

misalnya C18H38.

e. Bahan Baku Senyawa Organik lain : untuk sintesis berbagai senyawa

organik seperti asam cuka, alkohol.

f. Bahan Baku Industri : minyak bumi dan gas alam untuk bahan baku plastik,

deterjen, karet sintesis, minyak rambut, obat gosok.

2.3.2 Alkena

Kegunaan: Membuat karet sintesis, plastik dan alkohol.


2.3.3 Alkuna

Kegunaan alkuna: Alkuna mempunai nilai ekonomis paling penting

hanyalah etuna, yang disebut asetilena (C2H2) digunakan untuk mengelas besi dan

baja.

2.3.4 Haloalkana

a. Sebagai Zat Anestesi

Kloroform (CHCl3) pernah digunakan sebagai obat bius karena

menyebabkan kerusakan hati tetapi sekarang diganti dengan siklopropana

(C3H6), bahan ini bersifat toksik(racun) dan digantikan lagi dengan

Halotan yaitu 2-bromo-2-2kloro-1,1,1-trifluoroetana (CF3CHClBr), yang

bersifat tidak toksik, tidak mudah terbakar dan lebih nyaman bagi pasien.

Kloroetana (C2H5Cl) digunakan sebagai anetesi lokal. Daya anestesi yang

mudah menguap sehingga menurunkan suhu kulit dan membuat syaraf

kurang sensitif.

b.Sebagai Antiseptik

Idioform (CHI3) adaah suatu zat berwarna kuning, bebau khas dan

digunakan sebagai antiseptic.

c. Sebagai Pelarut

CCl4 untuk melarutkan lemak dan oli dan dalam pencucian kering

(dry cleaning). Tetapi jika terpapar terlalu lama akan meyebabkan

kerusakan hati dan ginjal.

d. Sebagai Pemadam Api

Akan terhalogenasi sempurna seperti karbon tetraklorida, CCI4,

dan bromoklorodifluorometana (BCF) dapat memadamkan api . Zat-zat


tersebut mempunyai massa jenis yang cukup besar sehingga dapat

mengusir udara dan memadamkan api, tetapi pada suhu tinggi CCI4

dapat bereaksi dengan air membentuk fosgen (COCl2), suatu gas yang

sangat beracun. BCF juga dapat merusak ozon dilapisi statosfir sehingga

penggunakan bahan tersebut dilarang.

e. Sebagai Klorofluorokarbon (CFC) dan Freon

Senyawa klorofluorokarbon (CFC) adalah suatu golongan senyawa

sistesis yang mengandung karbon, klorin dan flourin. Senyawa ini

bersifat stabil dan tidak mudah terbakar,tidak korosif, relatf tidak

beracun, mudah dibuat, dan relatif murah. Contonya freon-11(CCl3F)

dan freon-12(C2Cl2F2). Pada tahun 1970-an para ahli menyatak bahwa

senyawa ini menyebabkan kerusakan lapisan ozon pada statosfir oleh

sebab itu freon (CFC) dilarang penggunaannya.

f. Senyawa Haloalkana

Vinilklorida dan Kloroprena merupakan bahan dasar pada industri

plastik dan karet sintesis.

2.3.5 Alkohol

a. Metanol

Pada suhu kamar, metanol berupa zat cair bening, mudah menguap

dan berbau seperti alkohol biasa. Metanol tergolong zat yang sangat

beracun. Dosis tunggal 30 mL dapat meyebabkan kebutaan permanen

bahkan kematian. Keracunan metanol dapat juga terjadi karena menghirup

uapnya ataupun terkena kulit. Kebutaan akibat keracunan metanol

disebabkan oleh pembentukan formaldehida (HCHO) atau asam format


(HCOOH) yang dapat merusak retina mata. Sebagian besar produksi

metanol diubah menjadi metanal (formaldehida) yang pada akhirnya

digunakan untuk membuat plastik. Metanol dicampurkan dengan bensin

sampai kadar 15% tanpa mengubah konstruksi mesin kendaraan.

Pemabakaran Metanol lebih bersih daripada minyak bumi.

b. Etanol

Etanol adalah alkohol biasa dan merupakan alkohol yang paling

banyak diproduksi. Pada suhu kamar, etanol berupa zat cair bening, mudah

menguap dan berbau khas. Dalam kehidupan sehari-hari, etanol dapat kita

temukan dalam spritus, dalam alkohol rumah tangga (alkohol 70 % yang

digunakn sebagi pembersih luka), dal minuman beralkohol. Etanol bersifat

memabukkan dan menyebabkan kantuk karena menekan aktivitas otas

atas. Etanol juga besifat candu, orang yang sering minum alkohol akan

menjadi ketagihan dan sukar untuk meninggalkan alkohol. Alkohol teknis

dibuat melalui fermentasi tetes tebu atau dari hidrasi etena dengan katalis

asam sulfat pekat. Penggunaan alkohol teknis adalah untuk menbuat

etanal(asetaldehida), sebagi pelarut, sebagai bahan bakar, dan untuk

membuat berbagi jenis senyawa organik.

2.3.6 Aldehida

a. Untuk membuat formalin. Formalin yaitu larutan 40% formaldehida dal air.

Formalin digunakan untuk mengawetkan contoh biologi dan mengawetkan

mayat tetapi tidak boleh digunakan untuk mengwetkan makanan.

b. Untuk membuat berbagai jenis termoset (plastik yang tidak meleleh pada

pemanasan).
2.3.7 Eter

Kegunaan eter: Sebagai pelarut dan obat bius (anestesi) pada operasi. Dietil

eter adalah obat bius yang diberikan melalui pernafasan, metil ters-butil eter

(MTBE) sebagai zat aditif bensin yaitu untuk menaikkan nilai oktan.

2.3.8 Keton

Keton yang paling banyak penggunaanya adalah propanon yang nama

dagangnya adalah aseton. Kegunaan aseton antara lain adalah sebagai pelarut,

khususnya untuk zat-zat non polar dan kurang polar. Dalam kehidupan sehari-hari,

kaum wanita menggunakan untuk membersihkan pewarba kuku (kutek). Beberapa

keton siklik merupakan bahan farfum karena berbau harum.

2.3.9 Asam Karboksilat

Asam Format (Asam Semut), Asam format adalah cairan tidak berwarna,

berbau tajam, mudah larut dalam air, alkohol dan eter. Dalam jumlah kecil juga

terdapat pada keringat. Dalam industri, asam format di buat dari karbon monoksida

dengan uap air yang dialirkan melaui katalis (oksida logam) pada suhu sekitar 200C

dan tekanan tinggi. Asam format tergolong asam lemah tetapi merupakan asam

terkuat diantara asam alkanoat. Asam format banyak digunakan dalam industri

tekstil, penyamakan kulit dandiperkebunan karet untuk menggumpalkan lateks

(getah pohon karet).

Asam Asetat (Asam Cuka), Asam asetat adalah asam yang terdapat dalam

cuka. Kadar asam asetat yang terdapat dalam cuka makan sekitar 20-25%. Asam

asetat murni yang disebut asam asetat glasial, merupakan cairan bening tak

berwarna, berau sangat tajam, membeku pada suhu 16.60C, membentuk kristal

yang menyerupai es atau kaca.


2.4 Dampak Buruk Pelarut

2.4.1 Pencemaran Udara

Hidrokarbon merupakan teknologi umum yang digunakan untuk beberapa

senyawa organic yang diemisikan bila bahan bakar minyak dibakar. Sumber

langsung dapat berasal dari berbagai aktivitas perminyakan yang ada, seperti ladang

minyak, gas bumi geothermal. Umumnya hidrokarbon terdiri atas methana, ethan

dan turunan-turunan senyawa alifatik dan aromatic. Hidrokarbon dinyatakan

dengan hidrokarbon total (THC). Senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam

minyak bumi berupa benzena, toluena, ethylbenzena, dan isomer xylena, dikenal

sebagai BTEX, merupakan komponen utama dalam minyak bumi, bersifat

mutagenik dan karsinogenik pada manusia. Senyawa ini bersifat rekalsitran, yang

artinya sulit mengalami perombakan di alam, baik di air maupun di darat.

2.4.2 Pencemaran Air

Jauh sebelumnya tercatat telah beberapa kali terjadi kasus tumpahan minyak

di perairan Indonesia yang menyebabkan pencemaran pada air laut. Akibat hal ini

dapat mengganggu kehidupan biota laut, terutama pada ikan. Bukan hanya itu, ikan

yang telah terkontaminasi minyak bumi jika dikonsumsi akan berakibat fatal pada

kesehatan, seperti timbulnya gejala pusing dan mual.

Senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berupa benzena,

toluena, ethylbenzena, dan isomer xylena, dikenal sebagai BTEX, merupakan

komponen utama dalam minyak bumi, bersifat mutagenik dan karsinogenik pada

manusia. Senyawa ini bersifat rekalsitran, yang artinya sulit mengalami

perombakan di alam, baik di air maupun di darat, sehingga hal ini dapat mengalami

proses biomagnition pada ikan ataupun pada biota laut yang lain.
Bila senyawa aromatik tersebut masuk ke dalam darah, akan diserap oleh

jaringan lemak dan mengalami oksidasi dalam hati membentuk phenol, kemudian

pada proses berikutnya terjadi reaksi konjugasi membentuk senyawa glucuride

yang larut dalam air, kemudian masuk ke ginjal.

Senyawa antara yang terbentuk adalah epoksida benzena yang beracun dan

dapat menyebabkan gangguan serta kerusakan pada tulang sumsum. Keracunan

yang kronis menimbulkan kelainan pada darah, termasuk menurunnya sel darah

putih, zat beku darah, dan sel darah merah yang menyebabkan anemia. Kejadian ini

akan merangsang timbulnya preleukemia, kemudian leukemia, yang pada akhirnya

menyebabkan kanker. Dampak lain adalah menyebabkan iritasi pada kulit.

Komponen minyak tidak larut di dalam air akan mengapung pada permukaan

air laut yang menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak

tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan

batuan-batuan di pantai. Hal ini mempunyai pengaruh yang luas terhadap hewan

dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di perairan.

Komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh terhadap

reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada

plankton, bahkan dapat mematikan ikan, dengan sendirinya dapat menurunkan

produksi ikan yang berakibat menurunnya devisa negara. Proses emulsifikasi

merupakan sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan

perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan

tercemar. Proses ini merupakan penyebab terkontaminasinya sejumlah flora dan

fauna di wilayah tercemar.

2.5 Efek Pada Kesehatan dan Perkembangan Manusia


2.5.1 Efek Umum

a. Depresi SSP

Kebanyakan solven adalah depresan Susunan Syaraf Pusat.

Mereka terakumulasi di dalam material lemak pada dinding syaraf dan

menghambat transmisi impuls. Pada permulaan seseorang terpapar, maka

fikiran dan tubuhnya akan melemah. Pada konsentrasi yang sudah cukup

tinggi, akan menyebabkan orang tidak sadarkan diri. Manifestasi klinis

dimulai dengan disorientasi, perasaan pusing, dan euphoria. Efek yang

disebut belakangan menyebabkan penyalahgunaan beberapa zat kimia

ini. Sindroma dapat berkembang menjadi paralisis, ketidaksadaran, dan

kejang–kejang. Senyawa-senyawa yang kurang polar dan senyawa-

senyawa yang mengandung klorin, alkohol, dan ikatan rangkap memiliki

sifat depresan yang lebih besar.

b. Iritasi

Solven adalah irritan. Di dalam paru-paru, irritasi menyebabkan

cairan terkumpul. lrritasi kulit digambarkan sebagai hasil primer dari

larutnya lemak kulit dari kulit. Sel-sel keratin dari epidermis terlepas.

Diikuti hilangnya air dari lapisan lebih bawah. Kerusakan dinding sel juga

merupakan suatu faktor. Memerahnya kulit dan timbul tanda-tanda lain

seperti inflammasi. Kulit pada akhirnya sangat mudah terinfeksi oleh

bakteri, menghasilkan ruam dan bisul pemanah. Pemaparan kronik

menyebabkan retak-retak dan mengelupasnya kulit dan juga dapat

menyebabkan terbentuknya calluses dan kanker. Karena pelarut mudah

menguap, penghirupan uapnya dapat jugamenyebabkan iritasi pada saluran


nafas, dan dapat juga menyebabkan iritasi mata. Solven-solven bervariasi

tingkatannya untuk dapat menyebabkan initasi. Semakin nonpolar suatu

solven maka semakin efektif ia melarutkan lemak kulit.

2.5.2 Efek Khusus

a. Efek pada hati

Etanol merupakan penyebab perlemakan hati dan sirosis hati. Efek ini

tampaknya timbul akibat toksisitas langsung ditambah keadaan kurang gizi

yang biasanya terdapat diantara pecandu alcohol. Berbagai hidrokarbon

berklorin dapat menyebabkan berbagai jenis kerusakan hati, antara lain

perlemakan hati, disamping nekrosis hatai, sirosis hati, dan kanker hati.

b. Efek pada ginjal

Hidrokarbon berklorin tertentu, misalnya klorform dan karbon

tetraklorida, bersifat nefrotoksik selain hepatotoksik. Pada tingkat pajanan

yang lebih rendah, efek ginjal berkaitan dengan fungsi tubulus, misalnya

glikosuria, aminoasiduria, dan poliuria. Pada tingkat lebih tinggi, mungkin

ada kematian sel serta peningkatan BUN dan anuria. Pada manusia, CCl4

terutama mempengaruhi ginjal bila jalur pajanan adalah lewat penghirupan,

sementara hati merupakan organ organ sasaran utama bila zat kimia itu

dimakan. Etilen glikol juga bersifat nefrotoksik karena sitotoksisitas

langsungnya di samping karena penyumbatan tubulus proksimal oleh Kristal

dari metabolitnya, kalsium oksalat.

c. Efek pada SSP

Susunan Saraf, terlepas dari pengaruhnya terhadap SSP, hidrokarbon

alifatik dan keton tertentu misalnya, n-heksan dan metal n-butil keton juga
mempengaruhi sususan saraf perifer. Manifestasi klinis dari polineuropati ini

dimulai dengan rasa baal dan parestesia, disamping kelemahan motorik pada

tangan dan kai. Efek ini kemudian melibatkan kedua lengan dan kaki. Secara

patologi ini ditandai oleh aksonopati distal. Metabolit reaktif dari dua pelarut

ini adalah 2,5-heksadion.

d. Sistem Hematopoietik,

benzene merupakan contoh terkemuaka pelarut yang mempengaruhi

sisitem ini. Zat ini menenkan sumsum tulang pada hewan dan manusia dan

menurunkan jumlah eritrosit, leukosit, serta trombosit yang beredar. Pada

manusia yang terpajan benzene telah dilaporkan terjadinya leukemia belum

pernah diamati pada hewan coba di laboraturium. Tetapi, benzene dapat

menyebabkan tumor padat pada hewan yang diberi zat ini

e. Karsinogenesis

beberapa hodrokarbon berklorin diketahui dapat menimbulkan tumor

hati, dan benzene bersifat karsinogenik pada hewan dan menimbulkan

leukemia pada manusia. Selain itu, dioksan juga merupakan karsinogen hati

dan dapat menimbulkan kanker nasofaring.


BAB III
KESIMPULAN
Pelarut adalah benda cair atau gas yang dapat melarutkan benda padat, cair,
atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Hidrokarbon akan mengakibatkan
toksik, komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh terhadap
reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada
plankton, bahkan dapat mematikan ikan, dengan sendirinya dapat menurunkan
produksi ikan yang berakibat menurunnya devisa negara.
DAFTAR PUSTAKA
Kusnoputranto, H. 1995. Toksikologi Lingkungan. Universitas Indonesia. Fakultas
Kesehatan Masyarakat dan Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan
Lingkungan : Jakarta
Scott, Ronald McLean. 1989. Chemical Hazard in the Workplace. Lewis
Publishers, Inc. 121 South Main Street, Chelsea, Michigan 48118
Martindale. 1996. The Extra Pharmacopoeia. Thirty First Edition. James E F
Reynolds. London Roya Pharmaceutical Society.