Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN GAWAT DARURAT PADA PASIEN

DENGAN ASMA
DI INSTALASI GAWAT DARURAT BADUNG

A. PENGERTIAN
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas
yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila
terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran
udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya
proses radang (Almazini, 2012)
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami
penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang
menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi
pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering
terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar
30 tahunan (Saheb, 2011)
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan
hiperresponsivitas saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan atau
dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang
luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan
(Sundaru, 2013)
Kesimpulan asma merupakan gangguan pada saluran pernafasan yang dapat
menyebabkan seseorang sulit untuk bernafas dan dapat menyebabkan kematian
apabila tidak ditangani secara cepat.

B. KLASIFIKASI
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3
tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik) : Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh
faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu
binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma
ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik
seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma
ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik) : Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang
bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti
udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran
pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering
sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi
bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma
gabungan.
3. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

C. ETIOLOGI
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
Genetik: Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun
belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita
dengan penyakit alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan
foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga
bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
 Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
 Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obat-obatan
 Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan,
logam dan jam tangan
2. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau,
musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga
dan debu.
3. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain
itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang
mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum
diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang
yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes,
polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat
paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena
aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

D. PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang
alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila
reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat
pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus
kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut
meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast
dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat,
diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan
leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan
dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi
daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama
eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah
tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan
eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat,
tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea.
Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat
meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara
ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.

E. MANIFESTASI KLINIK
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan
gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan
dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot
bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini
adalah sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita
ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai
bersamaan.
Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin
banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi
dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali
terjadi pada malam hari.

F. KOMPLIKASI
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :
1. Status asmatikus
2. Atelektasis
3. Hipoksemia
4. Pneumothoraks
5. Emfisema
6. Deformitas thoraks
7. Gagal nafas

G. PENATALAKSANAAN
Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :
1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.
2. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan
asma
3. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai
penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan
penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang
diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang
merawatnnya.
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
1. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan, Menghindari
faktor pencetus, Pemberian cairan, Fisiotherapy, dan Beri O2 bila perlu.
2. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran
nafas. Terbagi dalam 2 golongan :
a. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin)
b. Santin (teofilin)
H. PENGKAJIAN
1. Airway
1. Kaji dan pertahankan jalan napas
2. Lakukan head tilt, chin lift jika perlu
3. Gunakan bantuan untuk memperbaiki jalan napas jika perlu
4. Pertimbangkan untuk di rujuk ke anesthetist untuk dilakukan intubasi
jika tidak mampu untuk menjaga jalan napas atau pasien dalam kondisi
terancam kehidupannya atau pada asthma akut berat
5. Jika pasien menunjukan gejala yang mengancam kehidupan, yakinkan
mendapat pertolongan medis secepatnya.
2. Breathing
1. Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, dengan
tujuan mempertahankan saturasi oksigen >92%
2. Berikan aliran oksigen tinggi melalui non re-breath mask
3. Pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask-ventilation
4. Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk menkaji
PaO2 dan PaCO2
5. Kaji respiratory rate
6. Jika pasien mampu, rekam Peak Expiratory Flow dan dokumentasikan
7. Periksa system pernapasan – cari tanda:
a. Cyanosis
b. Deviasi trachea
c. Kesimetrisan pergerakan dada
d. Retraksi dinding dada
8. Dengarkan adanya:
a. Wheezing
b. pengurangan aliran udara masuk
c. silent chest
3. Circulation/Sirkulasi
1. Kaji denyut jantung dan rhytme
2. Catat tekanan darah
3. Lakukan EKG
4. Berikan akses IV dan pertimbangkan pemberian magnesium sulphat 2
gram dalam 20 menit
5. Kaji intake output
6. Jika potassium rendah makan berikan potassium
4. Disability
1. Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
2. Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda ekstrim pertama dan
pasien membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive
5. Exposure
Pada saat pasien stabil dapat di tanyakan riwayat dan pemeriksaan lainnya.

Pengkajian Sekunder Asma


a. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi
pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu maupun pada diri
individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada gejala sama sekali sampai
kepada sesak yang hebat yang disertai gangguan kesadaran.
Keluhan dan gejala tergantung berat ringannya pada waktu serangan. Pada
serangan asma bronkial yang ringan dan tanpa adanya komplikasi, keluhan dan
gejala tak ada yang khas. Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi,
Sesak, Batuk, yang timbul secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan
atau dengan pengobatan, meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu yang
lama.
b. Pemeriksaan Fisik
Berguna selain untuk menemukan tanda-tanda fisik yang mendukung
diagnosis asma dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, juga berguna
untuk mengetahui penyakit yang mungkin menyertai asma, meliputi
pemeriksaan :
1) Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah, kelemahan suara bicara,
tekanan darah nadi, frekuensi pernapasan yang meningkatan, penggunaan otot-
otot pembantu pernapasan sianosis batuk dengan lendir dan posisi istirahat klien.
2) Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit,
kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya
bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis pada rambut di kaji warna rambut,
kelembaban dan kusam.
3) Thorak
a) Inspeksi
Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan adanya peningkatan
diameter anteroposterior, retraksi otot-otot Interkostalis, sifat dan irama
pernafasan serta frekwensi peranfasan.
b) Palpasi.
Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus.
c) Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma
menjadi datar dan rendah.
d) Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan expirasi lebih dari 4
detik atau lebih dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernafasan dan Wheezing.
c. Sistem pernafasan
1) Batuk mula-mula kering tidak produktif kemudian makin keras dan
seterusnya menjadi produktif yang mula-mula encer kemudian menjadi kental.
Warna dahak jernih atau putih tetapi juga bisa kekuningan atau kehijauan terutama
kalau terjadi infeksi sekunder.
2) Frekuensi pernapasan meningkat
3) Otot-otot bantu pernapasan hipertrofi.
4) Bunyi pernapasan mungkin melemah dengan ekspirasi yang memanjang
disertai ronchi kering dan wheezing.
5) Ekspirasi lebih daripada 4 detik atau 3x lebih panjang daripada inspirasi
bahkan mungkin lebih.
6) Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
Hiperinflasi paru yang terlihat dengan peningkatan diameter anteroposterior
rongga dada yang pada perkusi terdengar hipersonor.
Pernapasan makin cepat dan susah, ditandai dengan pengaktifan otot-otot bantu
napas (antar iga, sternokleidomastoideus), sehingga tampak retraksi suprasternal,
supraclavikula dan sela iga serta pernapasan cuping hidung.
7) Pada keadaan yang lebih berat dapat ditemukan pernapasan cepat dan
dangkal dengan bunyi pernapasan dan wheezing tidak terdengar(silent chest),
sianosis.
d. Sistem kardiovaskuler
1) Tekanan darah meningkat, nadi juga meningkat
2) Pada pasien yang sesaknya hebat mungkin ditemukan:
takhikardi makin hebat disertai dehidrasi.
Timbul Pulsus paradoksusdimana terjadi penurunan tekanan darah sistolik lebih
dari 10 mmHg pada waktu inspirasi. Normal tidak lebih daripada 5 mmHg, pada
asma yang berat bisa sampai 10 mmHg atau lebih.
3) Pada keadaan yang lebih berat tekanan darah menurun, gangguan irama
jantung.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan dypsnea ,
peningkatan produksi mukus, kekentalan sekresi dan bronchospasme.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
kapiler – alveolar
3. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan bronkus.
4. Nyeri akut; ulu hati berhubungan dengan proses penyakit.
5. Cemas berhubungan dengan kesulitan bernafas dan rasa takut sufokasi.

C. RENCANA KEPERAWATAN ASMA

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI (NIC)


KEPERAWATAN HASIL (NOC)
1 Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan tindakan NIC :
efektif berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam, Airway Management
dypsnea , peningkatan produksi
mukus, kekentalan sekresi dan pasien mampu : Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
bronchospasme. Respiratory status : Ventilation lift atau jaw thrust bila perlu.
Respiratory status : Airway Posisikan pasien untuk
patency memaksimalkan ventilasi
Aspiration Control, Identifikasi pasien perlunya
Dengan criteria hasil : pemasangan alat jalan nafas buatan.
Mendemonstrasikan batuk efektif Keluarkan sekret dengan batuk atau
dan suara nafas yang bersih, tidak suction
ada sianosis dan dyspneu (mampu Auskultasi suara nafas, catat adanya
mengeluarkan sputum, mampu suara tambahan
bernafas dengan mudah, tidak ada Lakukan suction pada mayo
pursed lips) Berikan bronkodilator bila perlu
Menunjukkan jalan nafas yang Berikan pelembab udara Kassa basah
paten. NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2

2 Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan tindakan NIC :


berhubungan dengan perubahan keperawatan selama 3 x 24 jam,
membran kapiler – alveolar
pasien mampu : Airway Management

Respiratory Status : Gas exchange


Buka jalan nafas, gunakan teknik chin
Respiratory Status : ventilation
lift atau jaw thrust bila perlu
Vital Sign Status
Posisikan pasien untuk
Dengankriteriahasil :
memaksimalkan ventilasi
Mendemonstrasikan peningkatan
Identifikasi pasien perlunya
ventilasi dan oksigenasi yang
pemasangan alat jalan nafas buatan
adekuat
Pasang mayo bila perlu
Memelihara kebersihan paru paru
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
dan bebas dari tanda tanda
Keluarkan sekret dengan batuk atau
distress pernafasan
suction
Mendemonstrasikan batuk efektif Auskultasi suara nafas, catat adanya
dan suara nafas yang bersih, tidak suara tambahan
ada sianosis dan dyspneu (mampu Lakukan suction pada mayo
mengeluarkan sputum, mampu Berikan bronkodilator bila perlu
bernafas dengan mudah, tidak ada Barikan pelembab udara
pursed lips) Atur intake untuk cairan
Tanda tanda vital dalam rentang mengoptimalkan keseimbangan.
normal Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring

Monitor rata – rata, kedalaman, irama


dan usaha respirasi
Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot supraclavicular
dan intercostal
Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya ventilasi dan
suara tambahan
3 Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan NIC :
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam,
penyempitan bronkus
pasien mampu : Airway Management

Respiratory status : Ventilation


Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
Respiratory status : Airway
lift atau jaw thrust bila perlu
patency
Posisikan pasien untuk
Vital sign Status
memaksimalkan ventilasi
DenganKriteriaHasil :
Lakukan suction pada mayo
Menunjukkan jalan nafas yang
Berikan bronkodilator bila perlu
paten (klien tidak merasa tercekik,
Berikan pelembab udara Kassa basah
irama nafas, frekuensi pernafasan
NaCl Lembab
dalam rentang normal, tidak ada
Atur intake untuk cairan
suara nafas abnormal).
mengoptimalkan keseimbangan.
 Tanda Tanda vital dalam rentang
Monitor respirasi dan status O2
normal (tekanan darah, nadi,
pernafasan)
TerapiOksigen
Bersihkan mulut, hidung dan secret
trakea
 Pertahankan jalan nafas yang paten
 Atur peralatan oksigenasi
 Monitor aliran oksigen
 Pertahankan posisi pasien

Vital sign Monitoring


Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri

4 Nyeriakut; ulu Setelah dilakukan tindakan NIC :


hatiberhubungandengan proses
keperawatan selama 3 x 24
penyakit.
jam,pasien mampu : Pain Management

Pain Level(tingkatnyeri),
Lakukan pengkajian nyeri secara
Pain control(control nyeri),
komprehensif termasuk lokasi,
Comfort
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
level(tingkatkenyamanan).
dan faktor presipitasi.
DenganKriteriaHasil :
Observasi reaksi nonverbal dari
Mampu mengontrol nyeri (tahu
ketidaknyamanan.
penyebab nyeri, mampu
Gunakan teknik komunikasi terapeutik
menggunakan tehnik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
nonfarmakologi untuk
pasien.
mengurangi nyeri, mencari
Kaji kultur yang mempengaruhi respon
bantuan, Skala nyeri 1-2)
nyeri.
 Melaporkan bahwa nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa
berkurang dengan menggunakan
lampau.
manajemen nyeri
Evaluasi bersama pasien dan tim
Mampu mengenali nyeri (skala,
kesehatan lain tentang ketidakefektifan
intensitas, frekuensi dan tanda
kontrol nyeri masa lampau.
nyeri) Bantu pasien dan keluarga untuk
Menyatakan rasa nyaman setelah mencari dan menemukandukungan.
nyeri berkurang Kontrol lingkungan yang dapat
Tanda vital dalamrentang normal mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
Evaluasi keefektifan control nyeri.
Tingkatkan istirahat.
Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil.
 Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri.

5 Cemas berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan NIC :


kesulitan bernafas dan rasa takut
keperawatan selama 3 x 24 jam, Anxiety Reduction (penurunan
sufokasi.
pasien mampu : kecemasan).
Anxiety control Gunakan pendekatan yang
Coping menenangkan.
Impulse control Nyatakan dengan jelas harapan
DenganKriteriaHasil : terhadap pelaku pasien.
Klienmampumengidentifikasidan Jelaskan semua prosedur dan apa yang
mengungkapkangejalacemas dirasakan selama prosedur.
Mengidentifikasi, Pahamiprespektifpasienterhadapsituasi
mengungkapkandanmenunjukkant stres.
ehnikuntukmengontolcemas Temani pasien untuk memberikan
Vital sign dalambatas normal keamanan dan mengurangi takut.
Posturtubuh, ekspresiwajah, Dorong pasien untuk mengungkapkan
bahasatubuhdantingkataktivitasme perasaan, ketakutan,
nunjukkanberkurangnyakecemasa persepsiInstruksikan pasien
n menggunakan teknik relaksasi.
Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan.
DAFTAR PUSTAKA
Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma
Berat.Jakrta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Indah, S. 2015. Laporan Pendahuluan Asma. Diakses tanggal 5 Januari
2019. Pada https://id.scribd.com/document/273699167/LP-ASMA-
gawat-darurat
Saheb, A. 2011. Penyakit Asma. Bandung: CV medika
Sundaru H. 2013 Apa yang DiketahuiTentangAsma,
JakartaDepartemenIlmuPenyakitDalam, FKUI/RSCM
Suriadi. 2011,Asuhan Keperawatan pada Anak,Jakarta : ISBN
Halim Danukusantoso, 2012. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru, Jakarta, Penerbit
Hipokrates , 2012
WOC