Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lansia merupakan proses penuaan dengan bertambahnya usia individu yang
ditandai dengan penurunan fungsi organ tubuh seperti otak, jantung, hati dan ginjal serta
peningkatan kehilangan jaringan aktif tubuh berupa otot-otot tubuh. Penurunan fungsi
organ tubuh pada lansia akibat dari berkurangnya jumlah dan kemampuan sel tubuh,
sehingga kemampuan jaringan tubuh untuk mempertahankan fungsi secara normal
menghilang, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita (Fatmah, 2010).
Populasi lansia berusia ≥ 60 tahun sebanyak 10% dan diperkirakan akan
meningkat pada tahun 2050 di dunia. sedangkan lansia berusia ≥ 85 tahun meningkat
0,25 % (Holdsworth, 2014). Lansia adalah sekelompok orang yang mengalami suatu
proses perubahan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Jumlah lansia di dunia,
termasuk negara Indonesia bertambah tiap tahunnya. Pada tahun 2012persentase
penduduk usia 60 tahun keatas adalah 7,58%, sedangkan pada tahun 2013 meningkat
menjadi 8 %, pada tahun 2014 meningkat menjadi 8,2% dan tahun 2015 meningkat
menjadi 8,5% ( BPS 2015).
B. Rumusan masalah
1. Apa saja laporan pendahuluan dari hipertensi ?
2. Apa saja asuhan keperawatan dari hipertensi ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui laporan pendahuluan dari hipertensi
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari hipertensi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Lansia
1. Defenisi
Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah memasuki tahapan akhir dari
fase kehidupan. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan mengalami suatu proses
yang disebut Aging Process atau proses penuaaan.(Wahyudi, 2008). Menua adalah
suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan
proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai
sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho,
2006 dalam Kholifah, 2016).
2. Tipe keluarga
Pembagian tipe keluarga bergantung pada konteks keilmuwan dan orang yang
mengelompokan. Secara tradisional keluarga dikelompokan menjadi dua, yaitu :
a. Keluarga inti (nuclear family)
adalah keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari
keturunannya atau adopsi atau keduanya
b. Keluarga besar (extended family)
adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai
hubungan darah (kakek/nenek, paman/bibi) Tipe-tipe keluarga secara umum yang
dikemukakan untuk mempermudah pemahaman terhadap literatur tentang
kelurga. (friedman, 2005)
c. Keluarga inti (konjugal)
merupakan keluarga yang menikah, sebagai orang tua, atau pemberian nafkah.
Keluarga inti terdiri dari sumi, istri, dn ank mereka-anak kandung, anak adopsi
atau keduanya
d. Keluarga orientasi (keluarga asal)
merupakan unit keluarga yang di dalamnya seseorang dilahirkan
e. Keluarga besar
merupakan keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh darah) yang
paling lazim menjadi anggota keluarga orientasi yaitu salah satu teman keluarga
inti, berikut ini termasuk “sanak keluarga” seperti kakek atau nenek, tante,
paman, dan sepupu
Namun, dengan berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa
individualisme, pengelompokan tipe keluarga selain tipe diatas berkembang menjadi :
a. Keluarga bentukan kembali (dyadic family)
adalah keluarga baru yang terbentuk dari pasangan yang telah cerai atau
kehilangan pasangannya. Keadaan ini di indonesia juga menjadi tren karena
adanya pengaruh gaya hidup barat yang pada zaman dahulu jarang sekali ditemui
sehingga seorang yang telah cerai atau ditinggal pasangan cenderung hidup sendiri
untuk membesarkan anak-anaknya
b. Orang tua tunggal (single parent family)
adalah keluarga yang terdiri dari salah satu orang tua dengan anak-anak akibat
perceraian atau ditinggal pasangannya
c. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmarried teenage mother)
Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa pernah
menikah (the single adult living alone). Kecenderungan di indonesia juga
meningkat dengan dalih tidak mau direpotkan oleh pasangan atau anaknya kelak
jika telah menikah
d. Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the non-marital heterosexual
cohabiting family). Biasanya dapat dijumpai pada daerah kumuh perkotaan
(besar), tetapi pada akhirnya mereka dinikahkan oleh pemerintah daerah
(kabupaten atau kota) meskipun usia pasangan tersebut telah tua demi status anak-
anaknya
e. Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama (gay and
lesbian family)
3. Fungsi keluarga
Ada lima fungsi keluarga menurut (Friedman, 2010), yaitu :
a. Fungsi afektif Fungsi afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan
maupun untuk berkelanjutan unit keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif
merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting.Peran utama orang
dewasa dalam keluarga adalah fungsi afektif, fungsi ini berhubungan dengan
persepsi keluarga dan kepedulian terhadap kebutuhan sosioemosional semua
anggota keluarganya.
b. Fungsi sosialisasi dan status sosial Sosialisasi merujuk pada banyaknya
pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarg yang ditunjuk untuk
mendidik anak – anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul peran
sosial orang dewasa seperti peran yang di pikul suami-ayah dan istri-ibu.
Status sosial atau pemberian status adalah aspek lain dari fungsi sosialisasi.
Pemberian status kepada anak berarti mewariskan tradisi, nilai dan hak
keluarga, walaupun tradisi saat ini tidak menunjukan pola sebagian besar
orang dewasa Amerika.
c. Fungsi reproduksi Untuk menjamin kontiniutas antar generasi kleuarga dan
masyarakat yaitu menyediakan angagota baru untuk masyarakat.
d. Fungsi perawatan kesehatan Fungsi fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua
yang menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan terhadap
kesehatan dan perlindungan terhadap bahaya. Pelayanan dan praktik kesehatan
adalah fungsi keluarga yang paling relafan bagi perawat keluarga.
e. Fungsi ekonomi Fungsi ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan
sumber daya yang cukup finansial, ruang dan materi serta alokasinya yang
sesuai melalui proses pengambilan keputusan.
4. Peran perawat keluarga
Perawatan kesehatan masyarakat, sejak dahulu sampai sekarang, keluarga sudah
dianggap sebagai kesatuan dari pemeliharaan kesehatan. Perananan perawat keluarga
membantu keluarga untuk mengatasi dengan baik masalah-masalah kesehatan dengan
meningkatkan kesanggupan mereka untuk melaksanakan tugas-tugs kesehatan.
Proses membantu keluarga meningkatkan kesanggupan untuk menyelesaikan
masalah kesehatan, perawat dapat berperan sebagai :
a. Pengenal kesehatan (health monitor)
b. Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
c. Koordinator pelayanan kesehatan keluarga
d. Facilitator
e. Educator
f. Advocat
B. Konsep Hipertensi
1. Definisi
Menurut Sheps (2009) dalam Masriadi (2016), hipertensi adalah penyakit
dengan tanda adanya gangguan tekanan darah sistolik maupun diastolik yang naik
diatas tekana darah normal. Tekanan darah sistolik adalah tekanan puncak yang
tercapai ketika jantung berkontraksi dan memompakan darah keluar melalui arteri.
Tekanan darah diastolik diambil tekanan jatuh ketitik terendah saat jantung rileks dan
mengisi darah kembali. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu
peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut
darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan dan organ–organ tubuh secara
terus– menerus lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hal ini terjadi bila arteriol–
arteriol konstriksi. Konstriksi arterioli membuat darah sulit mengalir dan
meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja
jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan
pembuluh darah (Udjianti, 2010). Hipertensi sering juga diartikan sebagai suatu
keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik
lebih dari 80 mmHg (Muttaqin, 2009).
2. Etiologi Hipertensi
a. Penyebab sekunder hipertensi, seperti:
 Renal arteri stenosis
 Penyakit parenkim ginjal
 Pheochromocytoma
 Aldosteronisme primer
 Tumor sistem saraf pusat
 Koarktasio aorta
 Penyakit tiroid
b. Volume overload
 Insufisiensi ginjal progresif
 Asupan garam berlebihan
 Terapi diuretik tidak adekuat
c. Hipertensi diinduksi obat
 Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS), kokain, amfetamin, obat
terlarang lainnya
 Agen-agen simpatomimetik, hormon kontrasepsi oral, siklosporin,
tacrolimus
 Erythropoietin, kortikosteroid, liquorice, senyawa herbal (ephedra,
mahuang)
d. Kondisi terkait gaya hidup
 Obesitas
 Asupan alkohol berlebihan
(Robert, 2012).
3. Patofisiologi Hipertensi
Sejumlah mekanisme fisiologis terlibat dalam pengaturan tekanan darah, dan
gangguan mekanisme ini mungkin memainkan peran kunci terjadinya hipertensi. Di
antara faktor- faktor lain, seperti faktor genetik, aktivasi sistem saraf simpatik/
sympathetic nervous system (SNS) dan sistem renin angio tensional dosteron, asupan
garam berlebih serta gangguan antara vasokonstriktor dan vasodilator telah terlibat
dalam patofisiologi hipertensi. Walaupun peran faktor di atas dalam pathogenesis
hipertensi telah diketahui, keterlibatan faktor-faktor ini dalam menyebabkan HR
belum begitu diketahui secara menyeluruh (Vasilios et al., 2011; Costas et al.,
2011).
Faktor prediktor terkuat kurangnya kontrol tekanan darah adalah usia tua,
tekanan darah awal yang tinggi, obesitas, konsumsi garam berlebihan dan PGK.
Telah diketahui hubungan antara penuaan dan aktivasi SNS, sejumlah penelitian
menunjukkan bahwa seluruh aktivitas saraf simpatik tubuh meningkat dengan
penuaan dan indeks aktivitas simpatis terutama muscle sympathetic nerve activity
lebih terkait dengan tekanan darah pada orang tua (Vasilios et al., 2011; Costas et
al., 2011).
Selain penuaan, obesitas, hiperaldosteronisme dan OSA merupakan
karakteristik HR. Studi kohort pasien dengan HR, indeks massa tubuh rata-rata lebih
dari 32 kg/m2 dan prevalensi hiperaldosteronisme sekitar 20%, sedangkan HR
memiliki prevalensi yang sangat tinggi pada pasien-pasien dengan OSA. Selain itu,
diantara subyek HR, hiperaldosteronisme lebih sering terjadi pada pasien yang
didiagnosis dengan OSA dibandingkan pasien yang berisiko rendah untuk OSA.
(Costas et al., 2011).
Data-data yang ada bahwa OSA, hiperaldosteronisme dan obesitas tidak hanya
merupakan komorbiditas umum pada HR tetapi kondisi ini juga berinteraksi dalam
proses terjadinya HR. Meskipun mekanisme yang menghubungkan kondisi ini
dengan HR tidak sepenuhnya dapat dijelaskan, peningkatan aktivitas SNS mungkin
merupakan kondisi terpenting yang mendasari terjadinya HR (Costas et al., 2011).
Jalur patofisiologi yang diusulkan untuk aktivasi SNS dan pengembangan RH.
Kelebihan obesitas, OSA dan aldosteron yang meliputi suatu wilayah besar dari
mosaic fenotip RH dan yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas SNS,
melalui beberapa mekanisme. ALDO: Aldosterone excess/ aldosteron berlebih,
OSA: Obstructive sleep apnea / apnea tidur obstruktif, RAA: Renin Angiostenin
Aldosteron System activation, RH: Resistant hypertension/ hipertensi resisten, SNS:
Sympathetic nervous system hyperactivity/ Sistem saraf simpatik hiperaktif.(Costas
et al., 2011).
Data klinis dan eksperimen saat ini menunjukkan dampak dari aktivasi SNS,
yaitu resistensi insulin, adipokines, disfungsi endotel, siklik hipoksemia intermiten,
efek aldosterone pada sistem saraf pusat, kemoreseptor, dan disregulasi baroreseptor.
(Vasilios et al., 2011).
4. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala hipertensi dibedakan menjadi
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal
ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri
tidak terukur. (Vasilios et al., 2011; Costas et al., 2011).
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim
yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. (Vasilios
et al., 2011; Costas et al., 2011).
5. Penatalaksanaan
a. Diuretic{Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)} Merupakan
golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine.
Tetapi karena potasium berkemungkinan
b. terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus
dilakukan.
c. Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}.Merupakan obat yang
dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui prose memperlambat
kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
d. Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting
enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam
pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh
darah yang juga memperlebar pembuluh darah.
6. Komplikasi
Hipertensi yang tidak ditanggulangi dalam jangka panjang akan menyebabkan
kerusakan arteri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai darah dari arteri
tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ tubuh menurut Wijaya
& Putri (2013), sebagai berikut :
a. Jantung Hipertensi dapat menyebab terjadinya gagal jantung dan penyakit
jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat,
otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut
dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak lagi mampu memompa sehingga
banyaknya cairang yang tetahan diparu maupun jaringan tubuh lain yang dapat
menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut gagal jantung.
b. Otak Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke, apabila tidak
diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
c. Ginjal Hipertensi juga menyebabkan kerusakan ginjal, hipertensi dapat
menyebabkan kerusakan system penyaringan didalam ginjal akibat lambat laun
ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh yang masuk
melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam tubuh.
d. Mata Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan dapat
menimbulkan kebutaan.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN