Anda di halaman 1dari 1

Nama saya Frida Anastasia, teman dan keluarga memanggil saya Frida.

Saya lahir dan besar di Kota


Semarang, sebuah kota perjuangan dan histori. Dari kecil saya berjuang dengan kemiskinan sebab kita
sekeluarga kehilangan pemimpin keluarga saat saya masih kecil. Banyak pengalaman kurang
menyenangkan seperti beruaha menghindar dari penagih hutang, orang PLN yang akan memutus listrik
rumah, dan bayak hal yang sulit dihadapi oleh kuita 4 bersaudar yang masih kecil. Sejak itu kita
mengukuhkan hati bahwa kelak saat dewasa kita akan menjadi orang yang membanggakan dan berguna
bagi ibu.Saya sendiripun memiliki cita-cita untuk sekolah di tempat yang bergengsi.

Setelah lulus Sekolah Dasar saya berjuang untuk diterima di SMP 05 Semarang yang notabennya saat itu
merupakan SMP RSBI / Sekolah Bilingual. Saat itu saya berjuang diantara anak-anak yang kemampuan
diatas rata-rata. Saya sadar bahwa saya bukanlah murid yang berprestasi di bidang akademik, kemampuan
akademik saya bisa tergolong menengah. Oleh sebab itu saya berusaha aktif di bidang non akademik, saya
mengikuti ekstrakulikuler Pramuka dan Karawitan yang merupakan bidang yang saya cintai. Saya banyak
mengikuti Lomba Pramuka dan Karawitan,walaupun tidak sering memenanggkan lomba namun saya
sangat menikmati prosesnya. Saya sadar proses lebih penting daripada hasil apapun.

Setelah lulus SMP saya berjuang untuk masuk SMK 07 Semarang, sebuah sekolah teknik yang sangat
memiliki nama di Kota Semarang sebab prestasi dan kualitas lulusannya. Saat itu saya tidak tahu ingin
memilih jurusan apa sebab saya belum tahu ingin jadi apa kelak. Jadi eyang saya menyuruh agar masuk
Jurusan Konstruksi Batu dan Beton. Banyak orang berkata anak jurusan bangunan itu kelak hanya jadi kuli
bangunan sebab praktik yang sering kita jalankan seperti pekerjaan para kuli. Saya sangat sebal saat itu
namun saya hanya diam dan berkata dalam hati bahwa saya akan membuktikan bahwa anak lulusan
banguna itu lebih bernilai daripaada anggapan mereka. Selama 4 tahun saya berjuang di jurusan bangunan
dengan pelajarannya yang sulit dan praktik yang melelahkan membuat saya yakin bahwa inilah bidanng
yang akan saya tekuni kelak.

Setelah perjuangan 4 tahun di SMK saya tidak langsung melanjutkan kuliah sebab saya ingin merasakan
dunia kerja di bidang konstruksi. Selama setahun saya bekerja sebagai Drafter di Proyek Pembangunan
Gudang Pelabuhan Panjang, disinilah saya benar-benar diperlihatkan betapa sulitnya dunia kerja itu.
Dengan hanya bermodal ilmu dari saat smk dulu mungkin bias membuat saya bertahan namun saya yakin
tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu saya berkeinginan untuk mempelajari ilmu murni Teknik Sipil
dan ITB adalah universitas yang saya pikir tepat untuk menekuni lebih lanjut ilmu murni yang saya cari.