Anda di halaman 1dari 138

Kuil Kencana (Kinkakuji)

Judul asli Kinkakuji


Diterjemahkan dari bahasa Inggris terjemahan Ivan Morris berjudul The Temple of the
Golden Pavilion Naskah terjemahan ini merupakan usaha penerjemahan sastra dunia
yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta Bank Naskah Dewan Kesenian
Jakarta, 1976, diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAY A, Jl. Kramat II, No. 31 A,
Jakarta dengan bantu an The Japan Foundation Anggota IKAPI Cetakan pertama: 1978
HAK CIPTA DILINDUNGIUNDANG-UNDANG ALL RIGHTS RESERVED Gambar
jilid oleh Ai Wakidjan Dicetak oleh Firma Ekonomi, Bandung

Bab Satu

SEJAK masa kanak-kanakku Ayah sering bercerita padaku tentang Kuil Kencana.
Tcmpat kelahiranku ialah sebuah tanjung lengang yang menjorok ke Laut Jepang di
sebelah timur laut Maizuru. Ayah tidak dilahirkan di sana, tapi di Syiraku, di pinggiran
timur kota Maizuru. Ia dianjurkan untuk jadi rohaniwan lalu jadi pendeta sebuah kuil di
sebuah tanjung terpencil di tempat itu ia menikah lalu beroleh seorang anak, itulah aku.
Di dekat kuil di Tanjung Nariu itu tidak ada sekolah menengah yang cocok untukku.
Akhirnya aku meninggalkan rumah orang tuaku dan dikirim ke rumah pamanku di
tempat kelahiran Ayah; selama aku tinggal di sana, aku masuk Sekolah Menengah
Maizuru Timur dan selalu pulang pergi ke sekolah berjalan kaki. Langit di kampung
halaman Ayah selalu cerah. Tapi setiap tahun dalam bulan Oktober dan November, kami
mengalami hujan tiba-tiba, juga pada hari-hari yang kelihatan sama sekali tak berawan.
Aku bertanya dalam hati apa bukan di sini aku mulai mengembangkan perasaan yang
mudah berobah. Di senja-senja musim semi, aku duduk di kamar belajarku di
tingkatdua rumah pamanku lalu merenung ke bukit-bukit. Sinar matahari turun
memancar ke atas daun-daun muda yang menutupi lereng bukit hingga kelihatannya
seolah-olah sehelai tirai emas yang terpasang di tengah-tengah padang. Jika aku melihat
itu maka dalam fikiranku terbayang Kuil Kencana. Biarpun aku sekali-sekali pernah
juga melihat Kuil Kencana yang sebenarnya dalam foto-foto atau dalam buku pelajaran,
tapi yang menguasai pengamatanku ialah bayangan Kuil Kencana itu seperti yang
dilukiskan Ayah bagiku. Ayah tidak pernah menceritakan padaku bahwa Kuil Kencana
yang asli gemerlapan kaiena emas atau yang sebangsa dengan itu; tapi menurut Ayah di
dunia ini tidak ada yang seindah Kuil Kencana. Di s amping itu, aksara-aksara yang
dipergunakan untuk menulis nama kuil itu dan bunyi namanya memberikan suatu
keistimewaan pada Kuil Kencana dan keistimewaan itu tertanam dalam hatiku. Tatkala
aku melihat permukaan padang di kejauhan yang berkilauan dalam cahaya matahari,
maka aku merasa pasti bahwa itu adalah bayang-bayang emas yang disebabkan oleh
kuil yang gaib itu. Puncak Yoshizaka yang merupakan batas antara Wilayah Fukui dan
Wilayah Kyoto terletak langsung di sebelah timur. Matahari terbit langsung di atas
puncak ini. Biarpun kota Kyoto terletak di seberangnya, aku biasanya melihat Kuil
Kencana membubung ke angkasa pagj di tengah-tengah sinar matahari, pada saat ia
bangkit dari pangkuan bukit-bukit timur. Demikianlah Kuil Kencana itu seakan-akan
berada di mana-mana. Karena aku tidak dapat melihat kuil itu dengan mata kepalaku
sendiri, maka ia adalah ibarat laut. Karena biarpun Teluk Maizuru terletak hanya tiga
setengah mil di sebelah barat kampung Shiraku tempat aku berdiam, laut itu sendiri
tidak dapat dilihat karena terhalang oleh bukit-bukit; sungguhpun begitu di udara selalu
terasa mengambang suatu firasat ten tang laut ini: kadang-kadang 6 angin meniupnya
bersama bau laut. Kadang-kadang jika hari buruk maka kawanan burung camar akan
menukik ke padang-padang yang dekat dari situ untuk berlindung. Badanku tidak kuat
dan aku selalu kalah oleh kawan-kawanku kalau berlari atau kalau latihan di tempat
latihan olahraga. Di samping itu sejak lahir aku gagap kalau bicara, dan hal ini membuat
aku lebih menjauhkan diri dengan caraku sendiri. Dan semua orang tahu, bahwa aku
berasal dari sebuah kuil. Beberapa anak nakal sering memperolok-olokkan aku dengan
meniru-niru seorang pendeta gagap yang membaca sutra dengan terbata-bata.
Dalam sal ah sebuah buku kami ada sebuah kisah yang menceritakan seorang ditektif
gagap dan anak-anak itu suka sekali membacakan bagian ini bagiku dengan suara yang
sengaja dilantangkan. Kegagapanku, dengan sendirinya, merupakan suatu halangan
antara aku dan dunia luar. Yang paling sulit kuucapkan adalah ucapan pertama. Ucapan
pertama ini tak ubahnya sebuah kunci pintu yang memisahkan dunia batinku dari dunia
di luar, dan aku tidak pernah bisa memutar kunci itu dengan lancar. Kebanyakan orang
menguasai kata-kata dengan mudah sekali, hingga dapat mengusahakan supaya pintu
antara dunia batin dan dunia luar itu selalu tetbuka luas dan udara dapat keluar masuk
dengan bebas; tapi bagiku hal ini suatu kemustahilan. Karat yang tebal telah menumpuk
pada kunci itu. Jika seorang gagap bergulat dengan seluruh kekuatannya untuk
mengeluarkan ucapan pertamanya, maka ia ibarat burung kecil yang berusaha untuk
melepaskan diri dari getah. Dan jika akhirnya ia toh berhasil membebaskan diri, maka
itu biasanya sudah terlambat. Jelasnya, kadang-kadang adamasanya dunia luar seolah-
olah menunggu aku berpeluk lubuh, sedangkan aku berjuang untuk membebaskan diri.
7 Tapi kenyataan yang menunggu aku bukan lagi kenyataan yang segar. Jika aku
akhirnya. berkat semua usahaku, berhasil sampai ke dunia luar itu, maka yang kutcmui
adalah kenyataan yang telah berobah warna dan telah jadi kabur -kenyataan yang telah
kehilangan kesegaran yang kuanggap sesuai untuk diriku dan yang memberikan bau
separuh busuk. Seperti mudah dibayangkan, seorang remaja seperti aku ingin menguasai
dua bentuk kekuasaan yang saJing ber-tentangan. Dalam sejarah aku menikmati kisah-
kisah ten tang orang-orang zalim. Aku melihat diriku sendiri sebagai seorang penguasa
yang zalim dan pendiam; abdi-abdi akan memper-hatikan setiap macam air muka yang
terbayang pada mukaku dan siang malam mereka hidup dalam ketakutan padaku.
Kekejamanku tidak perlu dibenarkan dengan kata-kata yang jelas dan masuk akal.
Kekeluanku saja sudah cukup untuk membenarkan setiap bentuk kekejaman. Di satu
fihak aku senang sekali mengangan-angankan. bagaimana aku menjatuh-kan hukuman
satu demi satu pada guru-guruku dan kawan-kawan sekolahku yang setiap hari
menyiksa aku tapi di lain fihak, aku membayangkan diriku sebagai seorang seniman
besar, yang diberkati dengan pandangan yang jernih — seorang yang dipertuan sejati
dalam dunia batin. Bentuk lahirku buruk sekali, tapi justeru karena itu dunia batinku
jadi lebih kaya dari dunia batin siapa pun jua. Apa tidak wajar jika seorang anak yang
menderita kekurangan yang tak dapat ditiadakan seperti aku bisa percaya, bahwa ia
adalah seorang mahluk luar biasa yang tak diketahui orang? Aku merasa bahwa di dunia
ini, di salah satu tempat, suatu tugas menunggu aku, tugas yang masih belum kuketahui
sama sekali. Episoda berikut adalah kenangan dari masa ini yang tinggal dalam
ingatanku. Sekolah Menengah Maizuru Timur punya halaman yang luas sekali, dikitari
dengan indah oleh bukit-bukit dan dilengkapi dengan gedung-gedung modern dan
cerah. Pada suatu hari dalam bulan Mei seorang anak tamatan sekolah kami, dan yang
waktu itu jadi pelajar Sekolah Teknik Angkatan Laut di Maizuru, lagi liburan lalu
datang mengunjungi bekas sekolah menengahnya. Kulitnya terbakar oleh matahari —
tampan sekali — dan dari bawah pet seragamnya yang ia tekankan jauh hampir ke
matanya, muncul sebentuk hidung yang tebal; dari rambut sampai ke ujung kaki ia
merupakan seorang pahlawan yang sempurna. Lalu ia bercerita pada murid-murid yang
lebih muda dari dia tentang kekerasan hidupnya kala itu dengan segala peraturan
militernya. Tapi, biarpun ia bermaksud menceritakan suatu kehidupan yang penuh
dengan segala macam kekerasan, kepada kami ia bicara dengan nada seseorang yang
lagi bercerita tentang suatu hidup yang mewah dan menyenangkan. Setiap gerak yang ia
perbuat penuh dengan harga diri, dan biarpun ia masih muda, ia sadar sekali betapa
pentingnya sikap rendah hati. Dadanya, yang di-bungkus dalam pakaian seragam, ia
pentangkan bagai dada patung sebuah haluan kapal yang menguakkan jalan di tengah-
tengah angin laut. Ia duduk di atas rangga batu yang menuju halaman sekolah. Di
sekelilingnya duduk pelajar-pelajar yang mendengarkan kata-katanya dengan penuh
perhatian, sedangkan di petak-petak kebun di atas lereng bunga-bunga bulan Mei
sedang berkembang — tulip, sweet pees, anemon dan daisi sedangkan di atasnya
tergantung kembang putih yang mewah dari pohon magnolia. Baik pembicara maupun
pendengar membatu bagai monumen. Aku duduk sendiri di atas ton ah beberapa meter
dari tempat itu. Begitulah caraku. Begitulah caraku terhadap kembang bulan Mei dan
terhadap seragam yang mengandung harga diri itu dan terhadap ketawa yang berderai
bagai untaian mutiara. Pahlawan muda ini rupanya lebih memikirkan aku dari-pada
pengagum-pengagumnya. Hanya aku seorang yang tidak mau merendahkan diri
terhadap martabatnya, dan fikiran ini melukai rasa harga dirinya. Ia menanyakan pada
yang lain siapa nam aku. "Hai, Mizoguci!" serunya; ini J ah kali pertama ia memandang
aku. Aku menatap dia tanpa bicara. Dalam senyuman yang ia tujukan padaku, aku dapat
melihat sesuatu yang mirip dengan sikap manis seorang yang berkuasa. "Kenapa kau
tidak mengatakan sesuatu? Apa kau bisu?" "Aku g-g-gagap," jawab salah seorang
pengagumnya menggantikan aku dan mereka semua terbongkok-bongkok karena
ketawa. Alangkah tajam menyilaukan, ketawa penuh ejekan ini! Bagiku ada sesuatu
yang cemerlang - cemerlang bagai cahaya yang dipantulkan dari gumpalan dedaunan
pada ketawa kejam kawan-kawan sekelasku yang sebetulnya biasa bagi anak-anak
seumur mereka. "Jadi kau gagap? Kenapa kau tidak masuk Sekolah Teknik Angkatan
Laut? Dalam satu hari saja gagapmu itu bisa mereka dera sampai habis!" Aku tidak tahu
entah bagaimana, tapi sekali uu aku segera memberikan jawaban yang jelas. Kata-
kataku keluar dengan lancar tanpa kuatur. "Aku tidak akan ke sana. Aku akan jadi
pendeta." Semuanya terdiam. Pahlawan muda itu menundukkan kepala, mencabut
sehelai rumput lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Baiklah," katanya, "nanti jika sudah tiba waktunya aku dikubur, kau nanti akan kuberi
tugas." Perang Pasifik sudah meletus. Pada saat itu aku tak sak lagi telah menemui suatu
kesadar-an. Kesadaran bahwa aku akan menunggu di sebuah dunia gelap dengan kedua
tangan terulur ke depan. Bahwa pada suatu hari kembang-kembang bulan Mei, pakaian
seragam, kawan-kawan sesekolahku yang tidak tahu sopan santun, semuanya akan jatuh
ke dalam tanganku yang terulur. Sadar bahwa aku menggenggam dunia dan
memerasnya di pangkalnya. Begitulah ibaratnya . . . Tapi kesadaran seperti itu terlalu
berat untuk dijadikan sumber kebanggaan seorang anak muda seperti aku. Kebanggaan
harus merupakan sesuatu yang ringan, lebih gembira, mudah dilihat, lebih cemerlang.
Aku menginginkan sesuatu yang dapat dilihat dengan mata. Aku ingin ke-banggaanku
merupakan sesuatu yang dapat dilihat setiap orang. Misalnya, pedang yang dia
gantungkan di pinggangnya adalah hal seperti itu. Pedang pendek yang dikagumi oleh
semua pelajar sekolah menengah betul-betul sebuah hiasan yang indah sekali. Kata
orang pelajar-pelajar Akademi Angkatan Laut punya ke-biasaan untuk mempergunakan
pedangnya secara diam-diam buat meraut pensil. Alangkah manisnya, kataku dalam
hati, untuk mempergunakan lambang yang begitu tinggi untuk soal-soal kecil seperti
itu! Kebetulan sekali anak muda itu menanggalkan seragam sekolah tekniknya lalu
menggantungkannya pada pagar putih. Celana dan baju dalam yang berwarna putih
tergantung di sana, langsung di sebelah kembang-kembang itu — ya, baunya adalah bau
kulit manis-basah seorang anak muda. Seekor lebah hinggap dengan tak sengaja ke atas
kembang 11 baju dalam putih yang kemilau itu. Pet seragam, yang dihiasi tali-tali emas,
terletak di atas bagian pagar yang lain ia seolah-olah berada di atas kepala pemakajnya,
ber-tengger dengan baik, ditekan jauh ke dalam sampai ke mata. Pemiliknya sedang di
tan tang oleh salah seorang yang lebih muda daripadanya dan kini telah pergi ke
gelanggang gulat di belakang untuk bertanding. Waktu memandang pada benda-benda
yang dia tinggalkan itu, aku merasa seolah-olah lagi memandang kepada se-macam
kuburan terhormat. Kembang-kembang bulan Mei yang banyak sekali memperkuat
perasaan ini. Pet, yang memantulkan hitam pekat klepnya, dan pedang dan tali kulit,
yang tergantung di sebelahnya, semuanya sudah terpisah dari tubuhnya dan
memancarkan suatu keindahan yang khusus. Barang-barang.itu sendiri sempurna seperti
kenanganku padanya — betul, dalam mataku mereka kelihatan bagai sisa-sisa yang
ditinggalkan oleh seorang pahlawan muda yang telah berangkat ke medan perang. Aku
meyakinkan diri bahwa tidak ada orang di situ. Aku mendengar sorakan dari arah
gelanggang gulat. Lalu dari kantongku kukeluarkan sebuah pisau berkarat yang
Jcupergunakan untuk merancung pensil; aku merangkak ke pagar, dan pada sarung
pedang yang hitam dan bagus itu kutorehkan beberapa torehan kotor . . . Dari penjelasan
seperti ini, orang mungkin mengira dengan segera bahwa aku sebetulnya seorang
penyair muda. Tapi sampai hari ini, aku bukan saja belum pernah menulis sajak tapi
bahkan menulis catatan dalam sebuah kitab Catalan pun belum pernah. Aku tidak punya
keinginan sama sekali untuk melebihi orang lain dengan mengembangkan kesanggupan-
kesanggupan bam dan dengan demikian mengimbangi kekurangan-kekuranganku.
Dengan kata lain, aku terlalu angkuh untuk bisa jadi seorang seniman. Angan-anganku
untuk jadi seorang penguasa zalim atau seorang seniman besar tidak pernah melewati
ambang pintu angan-angan, dan aku sedikit pun tidak berkeinginan untuk melaksanakan
sesuatu dengan mempergunakan tanganku. Karena yang jadi sumber keangkuhanku
yang sebenarnya adalah kenyataan bahwa aku tidak dimengerti orang lain, maka aku
tidak pernah dihadapkan pada keinginan untuk mengutarakan sesuatu dan membuat
orang lain memahami tentang apa yang kuketahui. Aku beranggapan bahwa hal-hal
yang dapat dilihat orang lain bukanlah jadi bagianku. Kesunyianku makin lama makin
gemuk bagai babi. Tiba-tiba ingatanku hinggap pada sebuah peristiwa menyedihkan
yang pernah terjadi di kampung kami. Biarpun sebetulnya aku tidak punya sangkut paut
apa pun dengan kejadian itu, aku tidak bisa melepaskan diri dari perasaan yang jelas
sekali menekankan bahwa aku terlibat dalamnya.
Berkat peristiwa itu, sekaligus aku dihadapkan pada segala-galanya. Pada hidup, pada
kenikmatan sahwat, pada pengkhianatan, pada dendam dan asmara — ya, pada segala
yang mungkin ada di dunia ini. Dan ingatanku cenderung untuk mengingkari dan
melupakan unsur yang luhur yang tersembunyi dalam kesemuanya ini. *** Dua rumah
dari rumah pamanku tinggal seorang gadis cantik. Namanya Uiko. Matanya besar dan
bening. Mungkin karena keluarganya kaya maka sikapnya tinggi hati. Biarpun orang
sangat sekali menghargainya, kita tidak bisa menduga-duga apa yang ia fikirkan jika ia
lagi sendiri. Uiko mungkin sekali masih perawan, tapi perempuan-perempuan yang
dengki mempergunjingkannya dan mengatakan bahwa rupanya mulai mirip perempuan
mandul. Segera setelah tamat Sekolah Menengah Perempuan tingkat pertama, Uiko
menjadi perawat sukarela di Rumah Sakit Angkatan Laut Maizuru. Rumah sakit itu
letaknya tidak jauh, hingga ia dapat pergi ke pekerjaannya naik sepeda. Ia harus
melapur pagi-pagi sekali, hingga ia berangkat dari rumah waktu subuh. kira-kira dua
jam sebelum aku berangkat ke sekolah. Pada suatu malam aku tenggelam dalam
lamunan murung, dan membayangkan tubuh Uiko. Malam itu aku tidak bisa udur
nyenyak, hingga waktu hari masih gelap, aku turun dari tempat tidur, lalu mengenakan
sepatu olahraga dan pergi keluar, masuk ke dalam kekelaman pagi hari musim panas.
Malam itu bukanlah kali pertama aku membayangkan tubuh Uiko pada diriku sendiri.
Sesuatu yang kadang-kadang muncul dalam fikiranku lambat laun menetap. Tubuh
Uiko, yang seakan-akan merupakan penggumpalan fikiranku ini, menyelam ke dalam
suatu bayang-bayang murung yang sekaligus putih dan melenting; ia mengental dalam
bentuk daging yang harum. Jika aku membayangkan tubuhnya, aku dapat merasakan
kehangatan pada jariku. Aku pun mengenangkan kelentingan yang akan menyambut
jari-jariku dan juga bau harum yang mirip bau tepung sari. Aku berlari terus sepanjang
jalan dalam kekelaman subuh. Batu-batu tidak membuat aku kehilangan keseimbangan
dan kekelaman dengan bebas membuka jalan di depanku. Aku sampai ke suatu tempat
yang melebar dan menuju sebuah dusun kecil Yasuoka. Di sana tumbuh sebatang pohon
keyaki besar. Batang pohon keyaki itu basah karena embun. Aku bersembunyi di bawah
pohon itu menunggu sepeda Uiko datang dari arah kampung. Aku tidak tahu apa yang
hendak kulakukan setelah menunggu itu. Aku datang berlari ke situ sampai kehabisan
nafas, tapi kini setelah aku beristirahat dalam kelindapan pohon keyaki aku sendiri tidak
tahu apa yangmau kuperbuat. Aku sudah terlalu lama hidup terlepas dari dunia luar, dan
kadang-kadang aku mengira, begitu aku melompat ke dunia luar, maka segalanya akan
mudah dan segalanya jadi mungkin. Nyamuk menggigit kakiku. Aku mendengar ay am
berkokok di sana-sini. Aku memandang dengan tajam ke ujung jalan. Di kejauhan
tampak sesuatu yang putih dan samar-samar. Kukira itu adalah warna pagi, tapi
nyatanya Uiko. la menaiki sepedanya. Lampunya dinyalakan. Sepeda itu meluncur
tanpa suara. Aku berlari keluar dari balik pohon keyaki itu lalu berdiri menghadang
sepeda itu. Sepeda berhenti di depanku. Lalu aku merasa diriku berobah jadi batu.
Kemauanku, keinginanku — semuanya jadi batu. Dunia luar kehilangan hubungan
dengan dunia dalamku, lalu mulai kembali mengepung aku dan mengambil bentuk
wujud yang jelas. "Aku" yang tadi menyelinap dari rumah pamannya, yang telah
mengenakan sepatu olahraga putih dan berlari sepanjang jalan ini dalam gelap fajar
hingga sampai ke bawah pohon keyaki — "si aku" itu hanya membuat batinnya sendiri
lari ke mari dengan kecepatan penuh. Di atap-atap kampung yang sosok hitamnya kini
muncul dalam kegelapan pagi, di pohon-pohon hitam, di puncak Bukit Aoba yang
hitam, ya, bahkan di tempat di mana Uiko kini berdiri di hadapanku, yang ada hanya
ketiadaan arti yang lengkap dan mengerikan. Sesuatu telah menganugerahkan kenyataan
pada segalanya ini tanpa menunggu ikut sertanya aku; dan kenyataan gelap Pyang
bukan kepaJang besar dan tak punya arti ini, diberikan padaku. dipaksakan padaku.
dengan sesuatu kekuatan yang sampai saat itu belum pernah kusaksikan. Sebagai biasa,
aku merasa bahwa satu-satunya yang dapat menyelamatkan aku dari keadaan itu, hanya
kata-kata. Ini adalah suatu kesalahfahamanku yang khas. Pada saat diperlu-kan
tindakan, aku tenggelam dalam kata-kata; karena kata-kata begitu susah keluar dari
mulutku hingga aku begitu sibuk dengannya dan dengan demikian lupa pada tindakan
sama sekali. Aku merasa bahwa tindakan yang merupakan Isesuatu yang mengagumkan
dan serba beragam, harus disertai oleh kata-kata yang sama mengagumkan dan sama
serba ragamnya. Aku tidak menatap apa pun jua. Aku ingat, Uiko mula-mula ketakutan,
tapi setelah ia mengetahui diriku, ia hanya melihat ke mulutku. Kukira, ia melihat ke
lbbang gelap kecil konyol itu, lobang kecil yang buruk rupa dan penuh kotoran -bagai
sarang hewan-hewan kecil di tengah padang. dan yang kini mengerut-ngerut tanpa arti
dalam cahaya pertama sinar pagi — ia hanya melihat ke mulutku. Dan setelah merasa
puas, karena tidak satu kekuatan pun yang akan muncul dari mulut itu yang bisa
menghubungkan aku dengan dunia luar, ia merasa lega. "Aduh!" katanya. "Ada-ada saja
yang kaulakukan. Orang gagap seperti kau!" Suara Uiko membawa kesegaran dan
kesopanan angin pagi. Ia membiinyikan lonceng sepeda lalu kembali menaikkan kaki ke
atas pedal. Ia bersepeda mengitari aku, seperti mengelakkan sebuah batu di tengah jalan.
Biarpun tidak ada orang lain, Uiko dengan marah membunyikan lonceng sepedanya
berulang kali, dan sambil menjauh aku dapat mendengar bunyi itu menggema di
seberang padang-padang jauh. Malam itu, sebagai hasil pengaduan Uiko, ibunya datang
ke rumah pamanku. Pamanku yang biasanya begitu ramah, memaki aku dengan kasar
sekali. Waktu itu aku mengutuk Uiko dan mendoakan supaya dia mati; beberapa bulan
kemudian kutukan itu terlaksana. Semenjak itu aku yakin sekali akan kekuatan kutukan.
Siang malam aku mendoakan supaya Uiko mati. Aku ingin supaya orang yang
menyaksikan kehinaanku hilang. Jika tidak ada lagi saksi, maka aibku akan terhapus
dari permukaan bumi. Orang lain adalah saksi semua. Jika tidak ada orang lain, rasa
malu tidak akan lahir di dunia ini. Apa yang tampak padaku dalam pandangan Uiko, di
balik matanya yang bercahaya bagai air dalam cahaya pagi yang kelam, adalah dunia
orang lain — yaitu, dunia orang lain yang tidak akan pernah membiarkan kita dan yang
selalu siap jadi sejawat dan saksi kejahatan kita. Orang lain harus dihancurkan semua.
Supaya aku dapat menghadapi matahari sewajarnya, maka dunia sendiri harus
dihancurkan . . . Dua bulan setelah Uiko mengadukan aku, ia mengundurkan-diri dari
pekerjaannya di Rumah Sakit Angkatan Laut dan tinggal di rumah. Di kampung
terdengar bermacam-macam cerita burung. Lalu, pada akhir musim gugur, terjadilah
kecelakaan itu. Kami tidak pernah mengira bahwa seorang disertir dari Angkatan Laut
akan bersembunyi di kampung kami. Pada suatu hari, kira-kira tengah hari seorang
anggota kempei-tai — polisi militer — datang ke kantor kampung kami. Tapi
kedatangan kempei bukanlah hal yang jarang terjadi dan karena itu orang tidak
memberikan perhatian khusus pada kunjungan itu. Hari itu adalah hari yang cerah
menjelang akhir Oktober. Seperti biasa aku mengikuti pelajaran di sekolah, sudah itu
menyelesaikan pekerjaan rumahku di malam hari lalu bersiap-siap hendak tidur. Waktu
mau mematikan lampu, aku memandang ke luar jendela dan mendengar orang berlarian
di jalan kampung; mereka kedengarannya terengah-engah bagai sekawanan anjing. Aku
turun. Bibi dan Paman sudah bangun dan kami semua keluar bersama-sama. Salah
seorang kawan sekolahku berdiri di pintu masuk rumah. Matanya terbuka sebesar-
besarnya karena kaget. "Kempei baru saja menangkap Uiko," teriaknya pada kami. "Dia
sekarang di sana. Mari kita lihat!" Aku mengenakan sandalku, lalu berlari. Malam itu
adalah malam terang bulan yang indah dan di sana-sini di sawah-sawah yang baru
dipanen tumpukan-tumpukan padi membuat bayang-bayang yang jelas di tanah. Di
balik setumpuk pepohonan aku dapat melihat gerakan-gerakan sekumpulan sosok hitam.
Uiko duduk di tanah mengenakan baju hitam. Wajahnya pucat pasi. Sekelilingnya
berdiri beberapa orang kempeitai dan orang tuanya. Salah seorang kempei itu
memegang sesuatu yang mirip dengan kotak makanan sambil berteriak-teriak. Ayah
Uiko memaling-kan muka dari sebelah ke sebelah, sekali mint a maaf pada kempei itu,
sekali menyesali anaknya. Ibunya bersimpuh di atas tanah sambil menangis. Kami
menonton kejadian itu dari ujung sawah. Jumlah penonton makin lama makin banyak
dan bahu -mereka bersentuhan tanpa suara dalam kelam. Di atas kepala kami tergantung
bulan, begitu kecil, seolah-olah ia baru diperas. Kawan sekolahku membisikkan
penjelasan ke telingaku. Rupa-rupanya Uiko sudah pergi diam-diam dari rumahnya
membawa kotak berisi makanan dan bermaksud untuk pergi ke kampung sebelah tatkala
ia ditangkap oleh kempei yang sudah siap menghadangnya. Jelas ia bermaksud
memberikan kotak berisi makanan pada disertir itu. Uiko menjadi akrab dengan disertir
itu waktu ia masih bekerja di Rumah Sakit Angkatan Laut hasil dari keakraban ini, Uiko
mengandung, lalu dikeluarkan. Kempei sekarang lagi menanyai dia tentang tempat
persembunyian disertir itu, tapi Uiko tetap duduk tanpa bergeser biar sejari pun dan
tetap berkeras kepala tidak mau bicara. Sementara aku, aku hanya dapat menatap wajah
Uiko tanpa mengerdip-ngerdipkan mata. la kelihatan seperti seorang perempuan gila
yang tertangkap. Dalam cahaya bulan wajahnya membisu. Sampai saat itu belum pernah
aku melihat wajah yang begitu penuh dengan ketengkaran. Aku mengira, bahwa
wajahku adalah wajah yang ditolak oleh dunia, tapi kini wajah Uiko menolak dunia.
Cahaya bulan tertumpah tanpa kasihan ke atas keningnya, matanya, tulang hidungnya,
pipinya tapi wajahnya yang kaku hanya disapu oleh cahaya. Sekiranya ia menggerakkan
mata atau mulutnya, biarpun sedikit, maka dunia yang ingin ia tolak, akan menanggapi
ini sebagai isyarat untuk masuk bergelombang ke dalam dirinya.
Aku memandang nanap sambil menahan nafas. Aku memandang pada sebuah wajah
yang riwayatnya dihentikan pada titik ini, dan yang tidak mengungkapkan apa pun jua
baik mengenai kelampauan maupun keakanan. Kadang-kadang wajah seperti itu kita
lihat pada tunggul kayu yang baru ditebang. Biarpun penampang pohon itu masih
berwarna segar dan muda, di saat itu semua pertumbuhan berhenti sudah; ia tersingkap
bagi angin dan matahari, terhadapnya ia mesti tak membukakan diri; ia tiba-tiba
diungkapkan pada sebuah dunia yang aslinya bukan dunianya — dan pada 19
penampang ini yang dilukis oleh urat-urat kayu yang indah, kita melihat sebuah wajah
yang aneh. Sebuah wajah yang dihadapkan begitu rupa kepada dunia ini supaya ia
menolak-nya . . . Waktu itu aku teringat, bahwa tidak akan pernah lagi ada saat, baik
dalam hidup Uiko maupun dalam hidupku sendiri, si penonton, di mana wajahnya
memperoleh kecantikan seperti pada saat itu. Tapi umur kecantikan itu tidak selama
seperti mula-mula kukira. Karena perobahan tiba-tiba terjadi pada wajahnya yang cantik
itu. Uiko bangkit. Aku merasa seolah-olah saat itu ia ketawa. Aku seakan-akan merasa
dapat melihat giginya yang putih berkilauan dalam cahaya bulan. Aku tidak bisa
bercerita lebih banyak tentang perobahan ini; karena, waktu Uiko berdiri, maka
wajahnya menjauh dari cahaya bulan dan tenggelam dalam bayang-bayang pepohonan.
Sayang sekali aku tidak dapat melihat perobahan yang terjadi pada Uiko pada saat ia
memutuskan untuk ber-khianat. Sekiranya aku sempat melihat semuanya sampai ke
perincian yang paling kecil, mungkin dalam diriku tumbuh kesediaan untuk
memberikan maaf pada orang, suatu ke-sediaan yang akan dapat memaafkan segala
macam keburukan. Uiko menunjuk ke arah gua Gunung Kahara di kampung sebelah.
"Ah, jadi ia ada di Kuil Kongo-!" teriak kempei itu. Lalu aku diresapi oleh suatu
kegembiraan seperti pada anak-anak yang berpesta. Kempei itu memutuskan membagi
rombongannya menjadi beberapa kelompok, lalu mengepung Kuil Kongo dari segala
arah. Penduduk kampung diminta agar membantu. Bersama beberapa orang anak aku
mengikuti kelompok pertama. Uiko berjalan di depan kami sebagai 20 penunjuk jalan.
Aku heran melihat ketabahan yang diperlihat-kan langkah-langkahnya waktu ia berjalan
mendahului kami menyusuri jalan setapak yang diterangi bulan, didampingi oleh
kempei. Kuil Kongo itu sebuah tempat yang masyhur. Ia didirikan di sebuah gua
gunung kira-kira lima belas menit perjalanan dari dusun Yasuoka dan terkenal karena
pohon kaya yang ditanam ojeh Pangeran Takaoka dan karena pagoda bertingkat tiga
yang indah dan kata orang dibangun oleh Hidari Jingoro. Pada waktu musim panas
kami sering pergi ke sana untuk mandi di pancuran di balik bukit. Dinding kuil utama
terleSfek di pinggir sungai. Rumput pampas tumbuh dengan tebalnya pada bungkah-
bungkah tanah yang pecah dan bulir-bulirnya yang berwarna putih bersinar terang
dalam kelam. Dekat gerbang kuil utama itu sasanqua sedang berbunga. Rombongan
kami berjalan menyusuri sungai tanpa suara. Balai Kuil Kongo berada di atas kami. Jika
jembatan kayu balok kita seberangi maka pagoda bertingkat tiga itu akan berada di
sebelah kanan; di sebelah kiri terbentang hutan dengan dedaunan musim gugur dan di
kedalaman pepohonan itu menjulang tangga berjumlah seratus lima yang tertutup lumut.
Tangga itu dibuat dari batu cadas dan licin sekali. Sebelum menyeberangi jembatan
kayu balok itu, kempei berpaling ke belakang dan memberi isyarat supaya rombongan
kami berhenti. Menurut kata orang dahulu di sini ada sebuah gerbang Dewa yang
dibangun oleh pemahat-pemahat termasyhur Unkei dan Tankei. Lepas batas ini, bukit-
bukit Lembah Kujuku termasuk wilayah Kuil Kongo. Kami menahan nafas. Kempei
menyuruh Uiko jalan terus. Ia menyeberangi jembatan kayu balok itu sendiri dan
setelah beberapa saat kami menyusul. Bagian bawah tangga batu itu terbungkus dalam
bayang-bayang, tapi yang di sebelah atas bermandikan cahaya bulan. Kami
menyembunyikan diri di sana-sini di antara anak tangga terbawah tangga itu. Dedaunan
mulai mengambil wama karat musim gugur, tapi dalam cahaya bulan semuanya
kelihatan hitam. Balai utama Kuil Kongo berada di puncak tangga itu. Dari situ ada
sebuah beranda menuju sebuah balai kosong, yang kelihatannya seolah-olah dirancang
untuk pertunjukan tari-tarian Kagura yang suci. Balai kosong ini dibangun dengan
mencontoh panggung Kuil Kiyomizu: ia menjorok ke atas bukit dan ditopang dari
bawah dengan sejumlah tiang dan palang-palang yang saling berhubungan. Balai,
beranda dan rangka kayu yang menopangnya kini sudah hisuh oleh angin dan hujan.
Semuanya itu berkilat putih bersih bagai kerangka. Jika dedaunan telah beroleh wama
Iengkap musim gugur, coraknya yang merah akan berpadu dengan indah sekali dengan
bangunan putih bagai kerangka ini; tapi pada waktu malam rangka kayu yang sudah
putih itu, kelihatan penuh rahasia dan memukau dalam cahaya bulan. Disertir itu rupa-
rupanya menyembunyikan diri dalam balai di atas panggung. Kempei bermaksud
menangkapnya dengan mempergunakan Uiko sebagai umpan. Kami, para saksi
penangkapan yang segera akan terjadi, menyembunyikan diri dan menahan nafas.
Biarpun udara dingin malam akhir bulan Oktober memeluk aku, pipiku rasanya
terbakar. Uiko menaiki keseratus lima anak tangga batu cadas itu, seorang diri. Angkuh
bagai perempuan gila. Raut wajahnya yang putih dan cantik menonjol antara baju
hitamnya dan rambut hitamnya. 22 Di tengah-tengah bulan dan bintang, di tengah-
tengah awan malam, di tengah-tengah bukit-bukit, yang berbatasan dengan langit,
dengan sosok pohon-pohon sedar runcingnya yang indah, di tengah-tengah bacak-bacak
bulan yang berbintik- bintik, di tengah-tengah gedung-gedung kuil yang menjulang
putih kemilau lepas dari kegelapan sekitarnya — di tengah-tengah semua ini, aku
mabuk oleh kecantikan yang jernih dari pengkhianatan Uiko. Gadis itu memang pantas
untuk menaiki tangga putih itu seorang diri, dengan bangga membusungkan dada.
Pengkhianatannya sama dengan bintang dan bulan dan pohon sedar yang berpucuk
runcing. Dengan kata lain, dia hidup dalam dunia yang sama seperti kami, para saksi:
dan dia menerima alam yang mengitari kami semua. Dia menaiki tangga itu sebagai
utusan kami. Dan aku terpaksa berfikir dengan nafas sesak: "Dengan pengkhianatannya
itu ia akhirnya juga menerima aku. Kini ia milikku!" Pada titik tertentu, apa yang kita
sebut peristiwa, menghilang dari ingatan kita. Uiko yang menaiki keseratus lima anak
tangga batu berlumut itu tetap tinggal dalam penglihatanku. Aku merasakan seolah-olah
ia menaiki anak-anak tangga itu untuk selama-lamanya, tak berkeputusan. Tapi mulai
dari titik itu, ia mulai berobah sama sekali. Mungkin karena Uiko yang menaiki tangga
itu mengkhianati aku, mengkhianati kami, sekali lagi. Mulai dari titik itu, ia tidak lagi
menolak dunia secara keseluruhan. Juga tidak ia terima secara keseluruhan. Ia
menyerahkan diri pada tertib kehangatan hati semata; ia merendahkan dirinya ke tingkat
seorang wanita yang telah memberikan dirinya hanya pada satu orang lelaki. Oleh
karena itulah maka aku bisa mengingat apa yang terjadi sesudah itu, seolah-olah ia
merupakan sebuah 23 gambaran yang dilukiskan dalam sebuah lito kuno. Uiko
menyusuri beranda lalu memanggil ke dalam, ke kegelapan balai kuil. Sosok tubuh
seorang laki-laki muncul. Uiko mengatakan sesuatu padanya. Orang itu membidikkan
sepucuk pistol ke arah tangga batu lalu menembak. Tembakan balasan kempei datang
dari sebalik semak yang terdekat. Lelaki itu sudah siap untuk menembak lagi waktu
Uiko berbalik ke arah beranda dan mulai melarikan diri. Lelaki itu melepaskan
tembakan beberapa kali berturut-turut ke punggung Uiko. Uiko rebah. Lelaki itu
mengarahkan mulut pistol ke pelipisnya sendiri lalu menembak sekali lagi. Mula-mula
kempei, sesudah itu semuanya berlari naik tangga menuju kedua mayat itu. Aku tinggal
tenang bersembunyi dalam bayang-bayang dedaunan musim gugur. Rangka kayu putih
kuil itu, yang disusun bertumpuk-tumpuk ke segala arah, menjulang di atas kepalaku.
Suara telapak orang menyusuri lantai papan beranda di atasku berkurang perlahan-
lahan. Cahaya suluh yang silang-menyilang, melewati terali beranda dan mengenai
dahan-dahan kekayuan yang berdaun merah. Satu-satunya perasaanku ialah bahwa
semuanya ini ber-langsung pada masa yang sudah lama lampau. Orang-orang yang
berkulit tebal baru kaget kalau mereka sudah betul-betul melihat darah. Tapi pada saat
darah ditumpahkan, tragedi itu sudah selesai. Aku tertidur. Waktu aku bangun, kulihat
semua orang sudah pergi. Mereka rupa-rupanya sudah lupa padaku sama sekali. Udara
ramai dengan kicau burung, dan matahari pagi bersinar langsung menembus dedaunan
pepohonan yang ada di sekitarku. Gedung kerangka yang berada di atasku seolah-olah
hidup kembali setelah matahari meneranginya dari bawah. Dengan tenang dan bangga
kuil itu menjorokkan balai kosongnya ke dalam lembah yang 24 penuh daun merah.
Aku berdiri menggigil, lalu menggosok-gosok badanku untuk memperbaiki jalan
darahku. Hanya kedinginan yang tinggal dalam tubuhku. Satu-satunya yang tinggal
ialah rasa din gin. *** Selama liburan musim semi tahun berikutnya, Ayah datang
berkunjung ke rumah Paman. Ia mengenakan jubahnya di luar seragam orang sipil
dalam masa perang. Ia mengatakan, bahwa ia mau mengajak aku ke Kyoto untuk
beberapa hari. Penyakit lama Ayah kelihatan makin parah dan aku terkejut melihat
keadaannya yang kian memburuk. Bukan hanya aku, tapi Paman dan Bibi, semuanya
berusaha membujuk Ayah supaya jangan melakukan perjalanan itu, tapi ia tak mau
menghiraukan kami. Setelah kurenung-renungkan kemudian, aku sadar bahwa Ayah
ingin memperkenalkan aku pada Pendeta Kepala Kuil Kencana selama ia masih hidup.
Tentu saja berkunjung ke Kuil Kencana adalah sesuatu yang sudah bertahun-tahun
kumimpikan, tapi aku tidak senang bepergian dengan Ayah, yang dengan segala
usahanya yang tabah, pasti memberikan kesan pada setiap orang yang melihatnya
bahwa ia sakit keras. Dengan makin dekatnya waktu bagiku untuk berhadap-hadapan
dengan Kuil Kencana yang belum pernah kulihat itu, dalam diriku timbul semacam
keraguan. Apa pun yang terjaJL=yang paling penting ialah Kuil Kencana itu harus^ itu
aku mempertaruhkan segalanya bukar; obyektif kuil itu sendiri, tapi lebih lagi
membayangkan keindahannya. Aku sudah diberi tahu segala-galanj dengan Kuil
Kencana itu, artinya sejauh yang bisa dimengerti oleh seorang anak seumur aku. Dalam
sebuah kitab tentang seni kubaca penjelasan berikut tentang sejarah kuil itu. "Asyikaga
Yosyimitsu (1358 — 1408) mengambil alih kediaman keluarga Saionji dan merobahnya
menjadi sebuah gedung yang besar sekali. Gedung u tarn any a berisikan bangunan-
bangunan Budhis, seperti misalnya tempat benda-benda keramat, Ruang Api Suci,
Ruang Pengakuan dan Hosui-in; dan bagian-bagian yang bisa didianii seperti Syinden,
Ruang Para Barrgsawan, Ruang Pertemuan, Menara Tenkyo, menara kecil Kolioku,
Ruang Izumi dan Anjungan Kansetsu. Ruang Benda Keramat adalah ruang yang
dibangun paling teliti dari semua gedung itu dan inilah yang kemudian disebut Kuil
Kencana. Sulit sekali untuk menentukan sejak kapan ia untuk pertama kalinya diberi
nama Kuil Kencana, mungkin sekali setelah Perang Ojin (1467 - 1477). Pada zaman
Bummei (1469 — 1487) nama ini sudah menjadi nama yang biasa dipakai. "Kuil
Kencana itu sebuah bangunan menara bertingkat tiga yang menghadap sebuah telaga
sebuah taman, Kolam Kyoko. Mungkin sekali bangunan ini sudah diselesaikan kira-kira
dalam tahun kelima Oei (1398). Kedua tingkat bawah dibangun menurut gaya syinden-
zukuri arsitektur dalam negeri dan dilengkapi dengan kisi-kisi lipat, tapi tingkat paling
atas terdiri dari ruang berukuran delapan belas kaki dibangun dengan gaya Zen yang
murni. Atapnya yang terbuat dari kulit kayu sipres, dibuat dalam gaya hokei-zukuri dan
dimahkotai dengan seekor burung funiks emas-tembaga. Ruang Tsuri dengan atap
berbentuk anjung menonjol keluar menghadap ke telaga dan meniadakan kesenadaan
seni bangunan lain di sekitarnya. Atap Kuil Kencana itu melandai sedikit dan terbuat
dari kayu yang berurat-urat halus. 26 Rangkanya ringan dan anggun. Inilah karya
agung arsitektur taman, di mana gaya tempat tinggal dibangun sesuai dengan gaya
Budhis. Dengan demikian kuil ini mengungkapkan selera Asyikaga Yosyimitsu yang
menerima kebudayaan Istana Kaisar se penuh hati dan yang serasi sekali dengan
suasana zaman itu. "Setelah kematian Yosyimitsu, Ruang Kitayama dijadikan biara Zen
sesuai dengan kehendak Yosyimitsu dan disebut sebagai Rokuonji. Kemudian
bangunan-bangunan ini dipin-dahkan ke tempat lain atau dibiarkan lapuk.
Karena nasib baik, Kuil Kencana tetap utuh . . ." Bagai bulan yang tergantung di langit
malam, Kuil Kencana itu dibangun bagai perlambang dari masa kegelapan. Oleh karena
itu perlulah bagi Kuil Kencana impianku untuk dirawaki oleh kegelapan dari semua
arah. Dalam kegelapan ini tiang-tiang gedung yang indah dan ramping itu tetirah
dengan tenang dan mantap, dan memancarkan suatu cahaya guram dari dalam. Apa pun
kata-kata yang disampaikan orang pada Kuil Kencana itu, ia harus tetap berada di sana
dengan hening, memperagakan bangunannya yang rapuh pada mata dunia dan
menahankan kegelapan yang menyungkupnya. Aku juga sering memikirkan burung
funiks emas-tembaga yang memahkotai atap Kuil Kencana itu dan tetap seperti
sediakala setelah bertahun-tahun dihadapkan pada cuaca. Burung emas ajaib ini tidak
pernah berkokok di waktu fajar, tidak pernah mengepak-ngepakkan sayap — ya, bahkan
tak sangsi lagi ia sendiri sudah lupa sama sekali bahwa ia seekor burung. Sungguhpun
begitu tidaklah benar kalau kita katakan bahwa burung itu tidak menimbulkan kesan
burung yang sedang terbang. Burung lain terbang di udara, tapi funiks emas ini terbang
abadi mengatasi waktu dengan sayapnya yang berkilauan. Waktu telah memukul sayap
itu. Waktu memukul sayap lalu mengambang surut. Supaya terbang, funiks itu
membatu, dengan tatapan amarah di matanya, sambil menegakkan sayapnya ke atas,
mengipas-ngipaskan bulu ekomya, dan mengunjurkan kaki emasnya yang agung dengan
berani sekali. Kalau pikiranku sudah mengarah ke situ, maka Kuil Kencana itu kelihatan
olehku bagai sebuah kapal yang indah menempuh lautan waktu. Kitab-kitab seni
menyebut "gedung-gedung berangin dengan dhiding tak memadai", dan ini juga
tergambar oleh khayalku dalam bentuk sebuah kapal. Telaga yang dihadapi oleh kapal
pesiar yang rumit dan bertingkat tiga ini dapat dianggap sebagai lambang laut. Kuil
Kencana itu telah menempuh jalannya dalam malam yang luas. Perjalanan yang
akhirnya tidak bisa diketahui. Pada siang hari, kapal aneh ini menjatuhkan jangkarnya
dengan sikap polos dan memberikan dirinya untuk ditonton oleh orang banyak; tapi jika
malam datang, gelap yang melingkupinya memberikan pada kapal ini suatu kekuatan
baru lalu ia berlayar, dengan atap yang berkibar-kibar bagai layar besar. Tidaklah
berkelebihan kalau dikatakan bahwa masalah pertama yang kuhadapi dalam hidupku
ialah masalah keindahan. Ayahku hanya seorang pendeta desa yang bersahaja, miskin
dalam perbendaharaan kata, dan ia mengajarkan padaku, bahwa "di dunia ini tidak ada
yang seindah Kuil Kencana." Kalau kuingat bahwa keindahan telah turun ke dunia ini
tanpa kuketahui, aku merasa gelisah dan kesal. Kalau keindahan betul ada maka
hidupku sendiri adalah sesuatu yang terasing dari padanya. Tapi bagiku Kuil Kencana
itu tidak pernah hanya sekadar gagasan. Gunung-gunung menyembunyikannya dari
penglihatanku, tapi jika aku ingin memandang, kuil itu 28 selalu ada di sana untuk
kukunjungi dan kulihat. Jadi keindahan adalah suatu benda yang dapat kita sentuh
dengan jari, yang dapat dipantulkan dalam mata dengan jelas. Aku tahu dan aku yakin,
bahwa di tengah-tengah semua perobahan dunia, Kuil Kencana itu akan tetap aman dan
tidak berobah. Kadang-kadang aku menganggap Kuil Kencana itu sebagai sebuah hasil
karya yang kecil dan rapuh yang dapat kugenggam dalam tanganku; juga, kadang-
kadang aku mengingatnya sebagai sebuah katedral yang besar dan menakutkan yang
membubung ke udara tanpa batas. Sebagai anak kecil aku tidak membayangkan
keindahan sebagai sesuatu yang besar atau kecil, tapi di antara keduanya. Hingga kalau
aku melihat sekuntum kembang musim panas yang kecil dan mandi embun, yang
seolah-olah luput dari cahaya, mereka kurasakan indah bagai Kuil Kencana. Dan jika
awan hitam mengandung halilintar bermukim dengan perkasa di balik bukit, dengan
hanya pinggirannya yang menyala seperti emas, maka kecemerlangannya mengingatkan
aku pada Kuil Kencana. Akhirnya begitu rupa hingga kalau aku melihat wajah yang
cantik, maka kesamaan ini terlintas lagi dalam kepalaku: "cantik bagai Kuil Kencana."
Perjalanan itu menyedihkan. Kereta Maizuru bertolak dari Maizuru Barat menuju Kyoto
melewati Ayabe dan berhenti di semua stasiun kecil seperti Makura dan Uesugi.
Gerbong kotor, dan waktu kami sampai ke Jurang Hozu dan kereta mulai memasuki
terowongan satu demi satu, maka tanpa ada ampun asap masuk ke dalam gerbong
hingga Ayah batuk terus-menerus. Kebanyakan penumpang punya hubungan dengan
Angkatan Laut. Gerbong kelas tiga penuh dengan keluarga yang pulang habis
mengunjungi bintara-bintara, pelaut dan pekerja-pekerja gudang senjata yang
ditugaskan di Maizuru. 29 Aku melihat ke langit musim semi yang berawan dan
berwarna timah lewat jendela. Aku memandang pada jubah yang dipakai Ayah di luar
seragam sipilnya. dan ke dada seorang perwira muda yang kekar, yang seolah-
olah membusung sepanjang bans kancing-kancing bajunya yang disepuh. Aku merasa
seolah-olah ditempatkan antara kedua orang itu. Tidak lama lagi, jika umurku sudah
cukup maka kau akan dipanggil masuk tentara. Tapi aku tidak pasti, bahwa biarpun aku
dipanggil, apa aku bisa hidup patuh pada kewajibanku bagai bintara yang ada di
depanku. Pendeknya sekarang ini aku berada di antara dua dunia. Biarpun aku masih
muda, aku sadar di balik keningku yang buruk dan tengkar, bahwa dunia maut yang
dikuasai ayahku dan dunia kehidupan yang ditempati oleh orang-orang muda
dipersatukan oieh peperangan. Aku sendiri mungkin sekali akan jadi seorang penengah.
Jika aku tewas dalam peperangan, maka jelas bahwa tidak menjadi soal sedikit pun jua
jalan yang mana yang kupilih di antara kedua jalan yang kini terbentang depan mataku.
Aku berusaha membantu ayahku waktu ia batuk. Sekali-sekali aku melihat Sungai Hozu
sekilas di luar jendela. Warnanya biru tua, hampir-hampir berat, bagai wama sulfat
tembaga yang dipergunakan dalam percobaan kimia. Setiap kali kereta itu keluar dari
terowongan, Jurang Hozu kelihatan atau tampak jauh sekali atau tak terkira-kira
dekatnya pada jalan kereta api. Dengan dikitari oleh batu-batu yang hcin, ia memutar
mesin bubutnya yang berwarna biru tua terus-menerus. Ayah membawa kepalan-
kepalan nasi putih dalam kotak makanannya dan ia merasa malu untuk membukanya di
depan orang lain dalam gerbong. "Ini bukan beras pasar gelap," katanya. "Ini pembcrian
30 kebaikan hati jemaahku. Aku boleh memakannya dengan rasa syukur dan gembira."
Ia bicara begitu rupa sehingga bisa didengar setiap orang dalam gerbong, tapi waktu dia
betul-betul mulai makan ia hampir-hampir tak sanggup menghabiskan satu kepalan nasi
yang kecil. Aku tidak merasa bahwa kereta tua penuh jelaga ini betul-betul menuju kota.
Aku merasa ia menuju stasiun kematian. Begitu fikiran ini masuk ke dalam otakku,
maka setiap kali kami melewati terowongan asap yang memenuhi gerbong itu
menyebarkan bau tempat pembakaran mayat.
Biar bagaimanapun, waktu aku akhirnya berdiri depan Gerbang Somon Rokuonju,
jantungku berdebar-debar. Kini aku akan melihat sesuatu yang terindah di dunia ini.
Matahari mulai turun dan bukit-bukit dicadari kabut. Beberapa pengunjung melewati
gerbang hampir-hampir pada saat yang sama seperti aku dan Ay all. Di sebelah kanan
gerbang kelihatan tempat lonceng, dikitari oleh kumpulan pohon-pohon pruim yang
masih berkembang. . Sebatang pohon eik tua tumbuh di depan Balai Utama. Ayah
berdiri di jalan masuk lalu minta izin untuk masuk. Pendeta Kepala mengirimkan pesan
bahwa ia lagi sibuk menerima tamu dan meminta supaya kami mau menunggu sebentar.
"Mari kita pergunakan kesempatan ini untuk melihat berkeliling dan meninjau Kuil
Kencana," kata Ayah. Ayah rupanya mau memperlihatkan padaku bahwa di tempat ini ia
banyak sedikit punya pengaruh, lalu ia mencoba melewati pintu masuk pengunjung
tanpa membayar karcis 31 masuk. Tapi baik' penjual karcis dan benda-benda keagamaan
maupun pemeriksa karcis di pintu sudah berganti semenjak Ayah swing datang
berkunjung ke mari, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. "Lain kali kalau aku datang
lagi," kata Ayah dengan air muka dingin, "mereka tentu sudah diganti lagi." Tapi aku
merasa Ayah tidak lagi percaya pada "lain kali" ini. Aku berjalan tergopoh-gopoh
mendahului Ayah, hingga aku hampir-hampir berlari. Aku dengan sengaja berkelakuan
seperti anak kecil yang periang (hanya pada saat seperti itulah — hanya jika aku
memperlihatkan tingkah-tingkah yang disengaja — aku memberikan kesan seorang
anak). Kuil Kencana yang begitu kuimpi-impikan waktu itu memperagakan seluruh
bentuknya padaku dengan cara yang paling mengecewakan. Aku berdiri di pinggir
Telaga Kyoko dan di seberang air Kuil Kencana memperlihatkan bagian depannya
dalam matahari tenggelam. Sosei tersembunyi jauh lebih ke kiri. Kuil Kencana
menjatuhkan bayang-bayang yang sempurna di atas permukaan telaga, di mana
ganggang dan daun-daun tetumbuhan air mengambang. Bayang-bayang itu lebih cantik
dari gedung itu sendiri. Matahari tenggelam membuat pantulan air beriak pulang-balik
di pinggiran atap ketiga tingkat. Dibandingkan dengan cahaya yang ada di sekitarnya,
pantulan belakang pinggiran atap itu terlalu cerah dan menyilaukan; Kuil Kencana itu
memberikan kesan padaku seolah-olah ia membengkokkan diri ke belakang dengan
angkuh. "Bagaimana pendapatmu?" tanya Ayah. "Indah sekali, kan? Tingkat pertama
disebut Hosui-in, yang kedua Choondo, dan yang ketiga Kukyocho." Ayah meletakkan
tangannya yang penyakitan dan kurus itu pada bahuku. Aku merobah sudut
pandanganku beberapa kali lalu membengkokkan kepalaku ke pelbagai arah. Tapi kuil
itu tidak menimbulkan keharuan dalam diriku. Ia tidak lebih dari sebuah gedung
bertingkat tiga, kecil, gelap, tua. Burung funiks yang ada di puncak atap kelihatan
seperti seekor gagak yang hinggap di sana untuk beristirahat. Gedung itu tidak saja tidak
indah kulihat, tapi aku malahan merasakan suatu kejanggalan dan kegelisahan. Apa
mungkin keindahan bisa begitu tidak indah seperti ini? Sekiranya aku seorang anak
biasa yang rendah hati dan tekun, maka aku akan menyesali kekuranganku untuk
menghargai keindahan sebelum aku begitu cepat jadi putus asa. Tapi rasa perih karena
merasa diri ditipu oleh sesuatu yang begitu kuharapkan menghilangkan semua
pertimbang-anku. Aku berpendapat mungkin Kuil Kencana itu memakai semacam
samaran untuk menyembunyikan keindahannya yang sebenarnya. Bukankah masuk akal
bahwa untuk melindungi diri dari orang banyak, keindahan itu menipu orang yang
mengamatinya? Aku harus mendekati Kuil Kencana itu; aku harus teliti semuanya, detil
demi detil, dan melihat hakikat keindahannya dengan mataku. Karena aku hanya
percaya pada keindahan yang dapat dilihat dengan mata, maka sikapku kala itu adalah
wajar sekali. Dengan sikap penuh hormat Ayah kini membawa aku ke beranda terbuka
Hosui-in. Mula-mula aku memperhatikan model Kuil Kencana yang dikerjakan dengan
baik sekali dan disimpan dalam sebuah peti kaca. Model ini menyenangkan hatiku. Ia
lebih dekat pada Kuil Kencana impianku. Waktu mengamati gambar kecil Kuil Kencana
yang begitu sempurna dalam kuil besar itu sendiri, aku teringat pada serentetan
hubungan yang tinibul, jika sebuah jagat kecil ditempatkan 33 dalam jagat besar dan
jika jagat yang lebih kecil lagi ditempatkan dalam jagat kecil itu. Untuk pertama kali
aku sanggup bermimpi. Tentang Kuil Kencana kecil yang lebih kecil dari model ini; dan
tentang Kuil Kencana yang jauh lebih besar dari gedung sebenarnya — begitu besar,
hingga ia membungkus dunia. Tapi aku tidak terus-menerus berdiri di depan model itu.
Berikutnya Ayah membawa aku ke patung kayu Yosyemitsu, yang merupakan sebuah
kekayaan nasional yang terkenal. Patung ini dikenal sebagai Rokuinden-Miciyoshi,
sesuai dengan nama yang diambil Yoshimitsu waktu ia mencukur kepalanya. Juga ini
dalam mataku merupakan gambaran yang tak lebih dari sesuatu yang aneh, penuh abu,
dan aku sama sekali tidak merasakan keindahan dalamnya. Selanjutnya kami naik ke
Choondo, di tingkat dua untuk melihat lukisan loteng, yang dicipfakan oleh Kano
Masanobu, yang memperlihatkan malaikat-malaikat lagi bermain musik. Di tingkat
ketiga, Kukyocho. aku melihat sisa-sisa daun emas yang menyedihkan, yang dulu
melapisi seluruh bagian dalam. Dalamnya pun aku tidak bisa menemui keindahan. Aku
bersandar pada teralinya yang kecil lalu memandang ke bawah dengan fikiran lena, ke
kolam yang kini lagi disinari matahari senja. Permukaan air kelihatan sebagai sebuah
cermin, sebagai sebuah cermin tembaga kuno yang diberi tahi perunggu; dan bayang-
bayang Kuil Kencana jatuh langsung ke atas permukaan ini. Langit senja terbayang di
air, jauh di bawah ganggang dan tetumbuhan air. Langit berbeda dari yang ada di atas
kepala kami. Langit itu jernih dan penuh dengan cahaya yang teduh; dari bawah dan
dari dalam, ia menelan seluruh dunia bumi kita ini, dan Kuil Kencana tenggelam ke
dalamnya bagai sebuah jangkar besar dari emas murni yang kini sudah jadi hitam
karena karat. 34 Bapa Tayama Dosen, Pendeta Kepala kuil ini, adalah sahabat Ayah dulu
waktu mereka bersama-sama belajar di sebuah biara Zen. Mereka bermukim selama tiga
tahun di biara itu dan selama itu mereka tinggal bersama-sama. Kedua anak muda itu
mengikuti sekolah khusus di Kuil Sokoku (yang juga didirikan di bawah Shogun
Yosyimitsu) dan setelah melewati berbagai upacara kuno mazhab Zen lama, mereka
diangkat jadi pendeta. Tapi selain itu, aku mendengar dari Bapa Dosen, lama kemudian,
pada suatu waktu, selagi ia bercakap-cakap dengan aku dengan hati riang, bahwa
ayahku dan dia tidak saja bersama-sama melewati masa-masa latihan yang berat, tapi
pada suatu malam setelah waktu tidur mereka memanjat dinding biara bersama-sama
lalu pergi mencari perempuan lacur dan menyenang-nyenangkan diri.
Ayah dan aku, setelah kami selesai meninjau kuil itu, kembali ke pintu masuk Balai
Utama. Kami diantarkan melalui sebuah ruang yang panjang dan luas sekali ke kantor
Pendeta Kepala, yang berada di perpustakaan besar yang menghadap ke taman dengan
pohon-pohon tusam tua yang termasyhur. Di sana aku duduk lurus dan kaku dalam
seragam sekolahku, tapi ^yah tiba-tiba kelihatannya santai sekali. Biarpun ayahku dan
Pendeta Kepala itu dilatih di sekolah Zen yang sama, lahiriah mereka sangat berbeda
sekali. Ayah kurus karena penyakitnya, kelihatan miskin, kulitnya kering dan seperti
bubuk. Sebaliknya Bapa Dosen kelihatan seperti kue merah jambu. Di atas mejanya
terletak tumpukan bungkusan yang belum dibuka, majalah-majalah, buku-buku dan
surat-surat yang dikirimkan dari seluruh pelosok negeri dan yang memperlihatkan
betapa makmurnya kuil ini. Ia . mengambil gunting dengan jari-jarinya yang gemuk lalu
membuka salah sebuah bungkusan. 35 "Kue kiriman orang dari Tokyo," demikian ia
menjelaskan. "Sekarang ini jarang sekali kita bisa bertemu kue. Kabarnya kedai-kedai
tidak lagi mendapat pembagian dan semuanya dikirim ke balatentara atau ke kantor-
kantor pemerintah." Kami minum teh Jepang yang nikmat sekali dan makan semacam
kue kering Barat yang belum pernah kumakan. Makin tegang aku makin banyak remah
yang jatuh dari kue itu ke atas celana hitamku yang berkilat. Ayah dan Pendeta Kepala
melampiaskan kejengkelannya karena tentara dan pejabat-pejabat hanya menaruh
perhatian pada kuil Syinto dan tidak memperdulikan kuil Budha -bukan saja tidak
memperdulikan. malah sebenarnya mereka menindas: lalu mereka membicarakan
bagaimana cara terbaik untuk mengurus tata usaha kuil di masa depan. Pendeta Kepala
itu seorang yang tarn bun. Memang wajahnya kerut-merut, tapi setiap kerut boleh
dikatakan tidak memperlihatkan bekas. Wajahnya bundar, tapi hidungnya panjang,
hingga kita mendapat kesan bahwa darah yang mengalir dari dalamnya entah bagaimana
telah membeku. Biarpun wajahnya kelihatan lapang, kepalanya yang dicukur
memberikan kesan sempit. Kita merasa seakan-akan semua dayanya bertumpuk di
kepala itu: kepala itu mirip dengan kepala he wan. Percakapan kedua pendeta itu kini
pindah pada masa-masa mereka sekolah bersama. Aku memandang ke Pohon Tusam
Kapal Layar yang ada di taman. Pohon ini dibentuk dengan merendahkan cabang-
cabang sebatang tusam besar dan kemudian mengikatnya bersama dalam bentuk sebuah
kapal, sedangkan ranting-ranting di haluannya diarahkan ke tingkat yang lebih tinggi
dari yang lain-lainnya. Serombongan pengunjung rupa-rupanya datang sejenak sebelum
jam tutup dan aku bisa mendengar dengung suara datang dari arah 36 Kuil Kencana di
seberang dinding. Bunyi langkah dan suara mereka diserap oleh udara senja musim
semi; bunyi yang mereka perdengarkan lembut dan berdengung, tanpa sudut-sudut yang
tajam. Lalu waktu langkah mereka kedengaran surut bagai pasang, langkah-langkah itu
terasa olehku seperti bunyi langkah manusia yang melewati bumi. Aku menatap funiks
yang ada di puncak Kuil Kencana; ia menghisap sisa-sisa cahaya senja. "Sekarang anak
ini . . ." waktu mendengar kata-kata Ayah, aku berpaling padanya. Dalam kamar yang
hampir-hampir gelap itu, Ayah berhasil menyerahkan masa depanku pada Bapa Dosen.
"Barangkali aku tidak akan lama lagi hidup," kata Ayah. "Aku minta supaya kau sedia
mengurus anak ini jika sudah sampai waktunya." Biarpun ia seorang rohaniawan dan
sudah biasa menghibur orang dalam keadaan seperti ini, Bapa Dosen tidak
mengucapkan kata-kata yang menghibur buat persoalan ini tapi menjawab dengan
ringkas: "Baiklah, aku akan mengurus dia." Yang betul-betul mengherankan aku, ialah
bagaimana sesudah itu mereka saling bertukar lelucon tentang kematian berbagai
pendeta terkenal. Salah seorang daripadanya mati sambil berkata: "Oh, aku tidak mau
mati!" Yang lain mengakhiri hidupnya dengan kata-kata Goethe: "Minta cahaya!"
Sedangkan pendeta termasyhur lainnya rupa-rupanya asyik menghitung uang biara
sampai saat ia menghembuskan nafas penghabisan. Kami diundang makan malam, yang
oleh orang Budha disebut "obat" dan sesudah itu- disiapkan segala yang diperlukan
supaya kami dapat menginap malam itu di biara. Sehabis makan aku membujuk Ayah
untuk melihat Kuil 37 Kencana itu sekali lagi. Karena bulan sudah terbit. Ayah sangat
sekali resah oleh pertemuannya lagi dengan Pendeta Kepala itu setelah sekian tahun dan
ia sudah lelah sekali; tapi waktu ia mendengar aku bicara tentang Kuil Kencana, ia
keluar bersama aku, sambil bernafas berat dan bertopang pada bahuku. Bulan naik dari
pinggir-pinggir Gunung Fudo. Bagian belakang Kuil Kencana menampung cahayanya.
Gedung itu seolah-olah melipat bayang-bayangnya yang rumit dan gelap untuk akhirnya
menyingkir dengan tenang; hanya bingkai jendela Kato di Kukyocho yang membiarkan
bayang-bayang bulan yang licin menyelinap ke dalam gedung. Kukyocho tidak
memiliki dinding yang baik, hingga cahaya bulan yang pucat seolah-olah menemui
permukimannya di sini. Dari Pulau Ashiwara kedengaran teriakan burung malam waktu
mereka terbang ke kejauhan. Tangan Ayah yang kurus di atas bahuku terasa berat
menekan. Waktu aku berpaling sekilas ke bahuku, kulihat dalam cahaya bulan bahwa
tangan Ayah sudah berobah menjadi kerangka. *** Setelah aku kembali ke Yasuoka,
Kuil Kencana yang pada penglihatan pertama sangat mengecewakan aku, mulai
menumbuhkan keindahannya dalam diriku dari ke hari, hingga akhirnya ia jadi Kuil
Kencana yang jauh lebih indah daripada sebelum ia kukunjungi. Aku tidak; Aisa
mengatakan di mana letak keindahan itu. Rupa-rupanya apa yang diasuh dalam
mimpiku kini sudah jadi kenyataan dan kini pada gjlirannya dapat dipergunakan sebagai
pendorong untuk impian selanjutnya.
Kini aku tidak lagi mencari ilusi Kuil Kencana dalam alam dan dalam benda-benda
yang mengelilingi aku. Selangkah demi selangkah Kuil Kencana itu mulai berwujud
lebih dalam dan lebih kukuh dalam diriku. Setiap tiangnya, setiap jendela Kato, atapnya,
burung funiks di puncaknya, mengambang dengan jelas di mataku, seolah-olah aku
dapat menyentuhnya dengan tanganku. Bagian terkecil biara itu berpadu dengan baik
sekali dengan seluruh bangunan. Rasanya seperti kita mendengar beberapa nada musik
lalu sesudah itu seluruh ciptaan itu mengalir ke dalam jiwa kita: bagian mana pun dari
Kuil Kencana itu yang kupilih, keseluruhan gedung itu bergema dalam diriku. "Memang
benar waktu Ayah menceritakan padaku bahwa Kuil Kencana adalah benda paling indah
di seantero dunia ini." Demikian aku menulis pertama kali pada Ayah dalam sepucuk
surat. Setelah mengantarkan aku kembali ke rumah pamanku, Ayah segera kembali ke
kuilnya yang terletak di tanjung yang terpencil. Seolah-olah sebagai jawaban untuk
suratku, sepucuk kawat datang dari ibuku, mengatakan bahwa Ayah mengalami
pendarahan dan sudah meninggal. 39 Bab Dua ^J^^^^^^^ DENGAN meninggalnya
ayah berakhirlah masa kanak-kanakku yang sebenarnya. Aku selalu heran melihat
kenyataan, bahwa masa kanak-kanakku begitu miskin akan apa yang dikatakan orang,
perhatian pada sesama manusia. Waktu aku sadar bahwa aku sama sekali tidak merasa
sedih karena kematian Ayah, maka keheranan itu berobah menjadi suatu emosi yang
tiada berdaya, yang tidak lagi bisa digolongkan pada sekedar rasa heran. Aku buru-buru
pergi ke kampung Ayah dan waktu aku sampai ia sudah terbaring dalam peti mati. Aku
berjalan sampai ke Uchiura dan sudah itu naik kapal selama sehari penuh menyusuri
Teluk Nariu. Waktu itu adalah bagian tahun yang sangat panas sebelum musim hujan,
dan dari hari ke hari matahari bersinar terik. Segera setelah aku melihat jenazah Ayah,
maka peti itu dibawa ke tempat pembakaran mayat di tanjung yang lengang untuk
dibakar di pinggir pantai. Meninggalnya pendeta kuil pedesaan adalah suatu peristiwa
yang bukan biasa. Ia tidak biasa karena ia terlalu tertib. Seorang pendeta dapat kita
katakan menjadi pusat kejiwaan sebuah distrik, pengawal kehidupan jemaahnya, tempat
mempercayakan kehidupan nanti di alam baka. Dan orang itu kini sudah meninggal
dalam kuilnya. Ia seolah-olah melakukan tugasnya terlalu baik; seolah-olah orang yang
40 kerjanya mengajarkan bagaimana caranya mati kini memberikan pertunjukan umum
tentang hal itu dan oleh karena suatu kekeliruan ia sendiri ikut mati. Peti Ayah rupanya
sudah diletakkan di tempat yang terlalu sempurna, di mana segalanya sudah
dipersiapkan untuk menerimanya. Ibuku, pendeta muda, dan seluruh jemaah berdiri di
depan peti sambil menangis. Pendeta muda itu membaca sutra dengan nada terantuk-
antuk seolah-olah ia masih tergantung pada petunjuk Ayah yang kini terbaring dalam
peti di hadapannya. Wajah Ayah tertimbun di bawah bunga-bunga pertama musim
panas. Ada sesuatu yang tidak enak pada kesegaran luar biasa bunga-bunga itu. Rasanya
seakan-akan mengintip ke lunas sebuah sumur. Karena wajah orang mati jatuh ke suatu
kedalaman di bawah permukaan yang dimiliki wajah itu selama ia hidup, hingga yang
bisa dilihat oleh mereka yang tinggal tidak lebih dari bingkai sebuah topeng; ia jatuh
begitu dalam hingga ia tidak bisa lagi ditarik ke permukaan. Wajah orang mati dapat
menceritakan pada kita dengan lebih baik dari apa saja di dunia ini betapa jauhnya kita
dari wujud bentuk lahir yang sebenarnya, bagaimana mustahilnya kita mengetahui
terwujudnya keadaan itu. Baru kali inilah aku dihadapkan pada keadaan seperti ini,
suatu keadaan di mana ruh dirobah oleh kematian menjadi wujud lahir semata; dan kini
aku merasa bahwa setahap demi setahap aku mulai mengerti kenapa kembang musim
semi, matahari, mejaku, gedung sekolah, pinsil - ya semua bentuk lahir - selalu terasa
dingin olehku, selalu terasa seakan-akan berwujud jauh dari diriku. Ibu dan anggota-
anggota jemaah lainnya kini memperhatikan pertemuanku yang terakhir dengan Ayah.
Tapi hatiku yang keras, tidak mau menerima kesamaan dengan negeri orang 41 hidup
yang dikiaskan oleh kata "pertemuan". Karena ini sama sekali bukan pertemuan; aku
hanya sekadar memandang pada wajah Ayah yang sudah mati. Mayat itu hanya
dipandangi. Dan aku hanya memandang. Untuk menyadari bahwa memandang
(perbuatan memandang pada seseorang, seperti yang biasa dilakukan orang tanpa
kesadaran khusus) adalah bukti yang begitu jelas dari hak-hak mereka yang hidup, dan
bahwa memandang ini bisa merupakan pengutaraan kekejaman — semuanya ini kini
kuhayati sebagai pengalaman yang hidup. Demikianlah anak muda ini, yang tidak
pernah menyanyi dengan suara keras, yang tidak berlari sambil berteriak-teriak sekuat-
kuatnya, menyadari fakta perwujudannya sendiri. Biarpun dalam banyak hal aku tidak
memiliki keberanian moral, aku kini sama sekali tidak merasa malu untuk meng-
hadapkan wajah yang cerah dan bebas dari air mata pada mereka yang berkabung itu.
Kuil itu terletak di atas karang yang menghadap ke laut. Di belakang tamu-tamu
penguburan, awan musim panas berkumpul di atas permukaan Laut Jepang dan
menghalangi pandanganku. Pendeta kini mulai membacakan sutra Zen khusus guna
mengjringi pemindahan jenazah yang juga kuikuti. Ruang besar kuil itu gelap.
Merawal-merawal yang digantung antara tiang-tiang, hiasan-hiasan bunga di tempat
suaka, tempat pedupaan dan jambangan-jambangan — semuanya berkilauan dengan
cemerlang karena cahaya pantulan dian suci. Sekali-sekali angin laut bertiup ke dalam
kuil menggembungkan lengan jubah pendeta yang kupakai. Waktu aku membaca sutra,
aku tak pernah lupa pada sosok awan musim panas karena mereka memancarkan cahaya
yang menyilaukan ke sudut mataku. Seberkas cahaya keras tak habis-habisnya mengalir
dari 42 luar kuil ke sebuah sisi wajahku. Alangkah cerah cahayanya — yang menghina!
Waktu arak-arakan penguburan hanya tinggal beberapa ratus langkah lagi dari tempat
pembakaran kami ditimpa hujan. Untunglah kami kebetulan berada di depan rumah
seorang anggota jemaah yang mampu, sehingga kami dapat berteduh bersama peti mati
itu. Hujan kelihatannya tidak akan reda. Barisan harus jalan terus. Karena itu kami
semua mendapat alat-alat pelindung hujan dan setelah menutupi peti dengan secarik
kain minyak, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pembakaran.
Tempat ini berada di pantai kecil yang penuh karang di sebuah tanjung yang menjulur
ke laut di sebelah tenggara kampung. Ruap-rupanya tempat ini sudah dari zaman dulu
dipergunakan untuk pembakaran mayat, karena asapnya dari sini tidak menyebar ke rum
all-rum ah. Di tempat ini laut garang sekali. Sementara gelombang-gelombang besar
bergulung ke pantai, meninggi dan memecah, permukaan laut yang gelisah tak henti-
hentinya diterpa oleh tetesan hujan. Dalam kegelapan, hujan dengan tenang selalu
menerpa permukaan air, tanpa memperdulikan keriuhan bunyi. Tapi sekali-sekali
setiupan angin tiba-tiba menghembuskan hujan ke karang-karang terpencil. Lalu karang
putih itu jadi hitam seolah sebuah semburan besar tinta telah dihembus-kan padanya.
Kami melalui sebuah terowongan lalu sampai ke tempat yang dituju. Sementara
pekerja-pekerja mempersiapkan pembakaran, kami tinggal dalam terowongan supaya
jangan kena hujan. Aku sendiri tidak bisa melihat laut. Yang ada hanya gelombang dan
batu-batu hitam yang basah dan hujan. Setelah mereka menuangkan minyak pada kayu
ringan peti 43 itu, maka hujan membadai. Mereka membakarnya. Pembagian minyak
terbatas, tapi karena ini adalah penguburan pendeta kampung, mereka berhasil
memperoleh persediaan yang cukup, hingga kini nyala api bergulat melawan hujan dan
menjulang ke udara dengan bunyi seperti cambuk yang dilecutkan. Biarpun hari siang,
lidah api yang terang jelas sekali kelihatan di tengah-tengah asap yang tebal. Asap naik
ke atas bergumpal-gumpal dan kemudian menyebar sedikit demi sedikit ke arah batu
karang; lalu pada saat tertentu lidah api naik dengan sendirinya dengan sempurna di
tengah-tengah hujan. Tiba-tiba kedengaran bunyi yang mengerikan seolah-olah sesuatu
sedang robek. Tutup peti itu terpelanting. Aku memandang pada lbu yang berdiri di
dekatku. la berdiri sambil memegang untaian tasbih di kedua tangannya. Wajahnya kaku
sekali, kelihatannya begitu kecil dan beku, hingga ia rasa-rasanya bisa digenggam
dalam telapak tangan. Sesuai dengan keinginan Ayah, maka aku berangkat ke Kyoto
lalu jadi murid di Kuil Kencana. Masa itu aku ditasbihkan jadi rohaniwan di bawah
Pendeta Kepala. Ia menyediakan perongkosan sekolahku, sebagai imbalan, aku
melayani dia dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Keduduk-anku sama dengan apa
yang dalam kehidupan orang awam disebut seorang pelajar yang terikat dinas. Aku
sadar, begitu aku bekerja di biara — setelah kepala asrama kami yang keras dipanggil
masuk tentara — maka yang tinggal hanya orang-orang tua dan mereka yang terlalu
muda. Bagiku merupakan hal yang melegakan, dilihat dari banyak sudut, untuk berada
di sini. Aku tidak lagi diejek 44 karena aku anak pendeta seperti yang dilakukan oleh
pelajar-pelajar Sekolah Menengah; karena di sini semua murid berada dalam kedudukan
yang sama. Satu-satunya perbedaan ialah karena aku gagap dan karena aku sedikit lebih
buruk dari yang lain-lainnya. Pendidikanku di Sekolah Menengah Maizuru Timur
terhenti sebelum aku tamat dan berkat bantuan Bapa Tayama Dosen diusahakanlah
hingga aku bisa melanjutkan pelajaran di Sekolah Menengah Akademi Rinzai. Di sana
aku akan mulai sekolah pada semester musim gugur, yang akan mulai dalam jangka
waktu kurang dari satu bulan. Tapi aku tahu, bahwa begitu aku mulai di sekolah baruku,
aku akan dimobilisasikan untuk kerja wajib di beberapa pabrik. Aku kini berhadapan
dengan sekelompok keadaan baru dalam hidupku. Aku masih punya beberapa minggu,
sisa liburan musim panas. Liburan musim panas di masa berkabung; liburan musim
panas yang tertekan aneh selama tahap terakhir peperangan dalam tahun 1944. Hidupku
sebagai seorang rohaniwan berjalan lancar, dan jika kukenang kini, aku merasa bahwa
ini adalah liburan sebenarnya yang terakhir dalam hidupku. Aku masih bisa mendengar
bunyi jangkrik dengan jelas. Kuil Kencana, yang kini kulihat kembali setelah beberapa
bulan, terkapar damai dalam cahaya akhir hari-hari musim panas. Karena baru
memasuki lingkungan rohaniwan, maka kepalaku dicukur. Aku merasa udara cocok
sekali dengan kepalaku; aku merasakan suatu perasaan yang berbahaya sekali, yaitu
bahwa fikiran yang berwujud dalam kepalaku dihubungkan dengan gejala-gejala dunia
luar oleh sebuah selaput tunggal kulit yang peka dan rapuh. Kalau aku memandang ke
Kuil Kencana dengan kepala baruku ini, aku merasa gedung itu memasuki diriku, tidak
saja Iewat mataku, tapi juga lewat kepalaku. Tepat seperti kepalaku 45 memberikan
reaksi pada matahari dengan merasa panas, dan pada angin malam dengan tiba-tiba
merasa sejuk. "Akhirnya aku berhasil juga untuk tinggal di sampingmu, Kuil Kencana!"
Aku berbisik dalam hati dan untuk beberapa saat aku berhenti menyapu dedaunan. "Tak
usah dengan segera, tapi aku minta supaya kau sudi bersahabat dengan aku dan
membukakan rahasiamu padaku. Aku merasa bahwa kecantikanmu hampir-hampir
belum bisa kulihat. Aku minta, tolong perlfhatkan Kuil Kencana sebenarnya lebih jelas
dari-pada gambaranmu yang kulihat dalam hatiku. Selanjutnya, jika kau betul-betul
begitu cantik hingga di dunia ini tidak ada yang bisa dibandingkan dengan kau, tolong
ceritakan padaku kenapa kau begitu cantik, apa perlunya kau begitu cantik." Semasa
musim panas itu Kuil Kencana seolah-olah mempergunakan kabar-kabar peperangan
yang buruk yang sampai pada kami dari hari ke hari sebagai semacam alas tempat ia
bisa bersinar dengan lebih cemerlang dari selama ini. Dalam bulan Juni orang Amerika
mendarat di Saipan dan tentara Serikat maju melampaui ladang-ladang di Normandia.
Jumlah pengunjung berkurang sekali dan Kuil Kencana seolah-olah menikmati
kesunyian ini, keheningan ini. Wajar sekali kalau peperangan dan kekacauan, tumpukan
mayat dan bencah darah, memperbesar keindahan Kuil Kencana. Karena kuil ini
didirikan oleh kekacauan. Ia dibangun oleh sejumlah pemilik yang berhati kelam di
antaranya terdapat seorang jenderal. Desain tiga tingkatnya yang sama sekali tidak
dikoordinasikan, di mana seorang ahli sejarah sent hanya bisa melihat adonan dari
segala macam gaya, pasti lahir secara wajar dari pencaharian suatu gaya yang dapat
mengendapkan semua kekacauan yang melingkunginya. Sekiranya ia dibangun menurut
suatu gaya tunggal, maka Kuil Kencana ini tidak akan sanggup melingkupi kekacauan
itu dan pasti sudah lama runtuh. Sungguhpun begitu, aku merasa aneh, jika setiap kali
aku menengadah menatap Kuil Kencana sambil menopangkan tanganku pada sapu,
bahwa gedung ini berwujud di hadapanku. Kuil Kencana yang kulihat waktu aku
menginap semalam di sini pada kunjunganku yang terakhir dengan Ayah, tidak
memberikan perasaan itu padaku. Kini bagiku tidak mudah untuk percaya bahwa Kuil
Kencana ini akan selalu ada di sini, di hadapan mataku, sementara tahun demi tahun
berlalu. Waktu aku memikirkannya semasa aku masih di Maizuru, aku merasa bahwa
kuil ini tegak untuk selama-lamanya di salah sebuah sudut Kyoto; tapi setelah aku
tinggal di sini, ia hanya muncul di hadapan mataku kalau aku lagi memandang padanya,
dan jika aku tidur di ruang utama maka ia berhenti berwujud. Oleh karena itu beberapa
kali sehari aku pergi melihat Kuil Kencana, suatu hal yang membuat sesama murid di
sana ketawa. Aku selalu heran kuil itu masih ada di sana, dan tatkala aku kembali ke
ruang besar setelah memperhatikan gedung itu baik-baik, aku merasa jika aku tiba-tiba
berbalik dan melihat kembali, maka bentuk-nya akan sirna seperti Euridise. *#* Setelah
aku selesai menyapu sekeliling Kuil Kencana, aku pergi ke bukit yang ada di belakang
untuk mengelakkan matahari pagi yang terasa makin lama makin terik, lalu mendaki
jalan setapak menuju Yukatei. Waktu itu kuil masih belum dibuka dan orang tidak ada
sama sekali. Sebuah formasi pesawat tempur, mungkin sekali dari skwadron angkatan
udara di Maizuru, terbang di atas, melayang rendah di atas Kuil Kencana, lalu
menghilang sambil meninggalkan bunyi suara yang menekan. Di bukit-bukit di
belakang ada sebuah kolam lengang penuh dengan ganggang, dan disebut
Yasutamizawa. Di tengah kolam itu ada sebuah pulau kecil dan di pulau itu berdiri
Shirahebizuka, sebuah menara batu bertingkat lima. Udara pagi yang mengitarinya riuh
dengan suara burung; tidak seekor pun dari burung-burung itu yang kelihatan, tapi
seluruh hutan riuh karenanya. Rumput musim panas tumbuh bergumpal-gumpal besar
depan kolam. Jalan setapak itu terpisah dari rumput oleh sebuah pagar rendah. Di
sampingnya berbaring seorang anak laki-laki yang mengenakan kemeja putih. Sebuah
garpu bambu tersandar pada sebatang pohon mapel rendah, tak jauh dari situ. Anak itu
mengangkat tubuhnya dengan kekuatan yang begitu rupa hingga ia seolah-olah
mencongkel sebuah lobang dalam udara musim panas yang lembut yang mengambang
di atas kami; tapi waktu ia melihat aku ia hanya berkata: "Oh, kau rupanya?" Aku baru
tadi malam diperkenalkan pada anak ini. Namanya Tsurukawa dan ia berasal dari
sebuah biara yang kaya di pinggiran kota Tokyo. Ia dilengkapi secukupnya oleh
kehiarganya dengan bekal untuk sekolah, uang kantong dan uang makan, dan ia masuk
Kuil Kencana berkat hubungan tertentu dengan Pendeta Kepala, supaya ia dapat
menjalankan latihan bagj seorang calon pendeta biasa. Ia pulang waktu liburan musim
panas dan kembali kemarin sore ke Kyoto. Tsurukawa bicara dengan langgam Tokyo
yang fasih dan bagus. Ia akan memasuki Sekolah Menengah Akademi Rinzai musim
gugur yang akan datang di kelas yang sama dengan aku, dan tadi malam aku sudah ia
bingungkan dengan caranya 48 berbicara yang gembira dan cepat. Waktu aku
mendengar dia mengatakan "Oh, kau," mulutku kehilangan kata-kata. Rupa-rupanya
keheninganku ia artikan sebagai semacam kritik. "Tidak apa-apa. Kita tidak perlu
menyapu semuanya dengan teliti. Jika pengunjung datang tempat ini bagaimanapun
juga akan kotor lagi. Lagi pula sekarang ini tidak begitu banyak pengunjung." Aku
ketawa singkat. Ketawaku ini, yang sering kuperdengar-kan secara tak sadar, rupa-
rupanya membuat orang berasa senang padaku. Jadi aku tidak selalu bisa bertanggung
jawab atas kesan-kesan terperinci yang kuberikan pada orang lain. Aku memanjat pagar
lalu duduk di sebelah Tsurukawa. Lengannya membengkok membelit kepalanya dan
aku melihat bahwa biarpun bagian luarnya agak terbakar oleh matahari, bagian dalam
begitu putih hingga kita bisa melihat urat-urat nadinya yang terbayang menembus kulit.
Sinar matahari pagi mengalir di celah-celah pohon dan menebarkan bayang-bayang
hijau muda di atas rumput. Naluriku mengatakan bahwa anak ini tidak akan mencintai
Kuil Kencana seperti aku. Karena ikatanku pada biara ini seluruhnya berakar pada
keburukan mukaku. "Kata orang ayahmu sudah meninggal," kata Tsurukawa. "Ya."
Tsurukawa memalingkan matanya dengan cepat ke samping lalu berkata, tanpa
berusaha untuk menyembunyikan bagaimana asyiknya berfikir secara kekanak-kanakan:
"Mengapa kau begitu senang pada Kjiil Kencana, karena ia mengingatkan kau pada
ayahmu, ya kan? Maksudku, misalnya, jika kau memandang padanya, kau ingat
bagaimana senangnya ayahmu padanya." Aku puns juga karena pemikirannya yang
separuh benar 49 itu sama sekali tidak menimbulkan perobahan apa-apa pada wajahku
yang lesu. Rupanya Tsurukawa membagi-bagi perasaan manusia dengan tepat sekali
dalam laci-laci yang ia simpan dalam kamarnya, bagai seorang anak membagi-bagi
berbagai jenis serangga; dan sekali-sekali ia merasa senang untuk mengeluarkan mereka
untuk kepentingan percobaan yang agak praktis. "Kau sedih sekali karena kematian
ayahmu, kan? Karena itu kau memberikan kesan sunyi. Aku sudah mengira begitu
semenjak aku ketemu kau untuk pertama kalinya tadi malam." Ucapan-ucapannya sama
sekali tidak membuat aku jengkel. Malahan, perasaannya yang mengatakan bahwa aku
kelihatan sunyi memberikan padaku kebebasan dan kedamaian fikiran tertentu, lalu
kata-kata ini meluncur dengan mudahnya dari mulutku: "Tapi itu sama sekali tidak perlu
disedihkan." Tsurukawa melihat padaku sambil menyikat alis matanya yang begitu
panjang hingga rupa-rupanya menghalangi pandangan. "Oh, oh!" katanya. "Jadi kau
rupanya benci pada ayahmu, kan? Atau setidak-tidaknya kau tidak sayang padanya."
"Aku tidak benci padanya dan juga bukannya tak sayang padanya." "Kalau begitu
kenapa kau tak sedih?" "Entahlah, pendeknya begitulah adanya. Aku sendiri juga tidak
mengerti." Setelah dihadapkan pada masalah rumit ini, Tsurukawa duduk lurus di atas
rumput.
"Kalau begitu," katanya, "kau tentu pernah mengalami rasa sedih yang lain." "Aku
betul-betul tidak tahu," jawabku. Setelah mengatakan itu, aku bertanya dalam hatiku
kenapa aku begitu senang menimbulkan keraguan dalam fikiran SO orang lain. Kalau
menurut aku, sama sekali tidak ada keraguan. Kejadian itu cukup jelas: perasaanku
rusak karena kegagapan-ku. Mereka tidak pernah bisa muncul tepat pada saatnya.
Akibatnya, aku merasakan kematian Ayah dan kesedihanku sebagai dua hal yang
terpisah, yang tidak punya hubungan atau sangkut-paut sama sekali. Sedikit
ketidaksesuaian waktu, sedikit keterlambatan, serta-merta membuat perasaanku dan
kejadian yang kualami tadi kembali kepada hubungan yang terpisah-pisah, yang
menurut hematku merupakan hakikat yang sebenarnya. Jika aku sedih, maka dukacita
menyerangku secara tiba-tiba dan tanpa alasan: ia tidak punya hubungan dengan
kejadian mana pun dan alasan apa pun. Lagi-lagi aku berakhir dengan kegagalan untuk
menjelaskan ini pada kawan baruku yang duduk di hadapanku. Akhirnya Tsurukawa
ketawa. "Kau betul-betul aneh," katanya. Perutnya yang tertutup kemeja putih berkerut-
kerut karena ketawa. Sinar matahari yang tertumpah melalui dahan-dahan pepohonan
yang berbuai membuat aku merasa bahagia. Seperti kemeja anak muda yang berkerut
itu, begitulah juga halnya dengan hidupku. Tapi biarpun berkerut, kemejanya itu putih
sekali kelihatannya dalam cahaya matahari! Siapa tahu aku juga begitu? *** Kuil
meneruskan riwayatnya sesuai dengan adat biasa mazhab Zen dan membiarkan dunia
luar berjalan sendiri. Karena musim panas kami tidak pernah bangun lebih lambat dari
pukul lima. Bangun, disebut "membuka peraturan". Begitu kami bangun kami mulai
dengan "tugas pagi" membaca sutra. Ini disebut "tiga Ulangan" dan kami membacanya
tiga kali. Sesudah itu maka biara kami sapu dan lantai 51 Pkami pel. Lalu sarapan yang
disebut "pesta bubur." Kami makan bubur sambil mendengarkan pembacaan sutra pesta
bubur yang khusus. Sehabis sarapan kami melakukan "tugas-tugas" seperti mencabut
rumput, membersihkan taman dan membelah kayu. Sesudah itu, kalau bukan di masa
libur, tibalah saatnya bagi kami masing-masing untuk berangkat ke sekolah. Segera
setelah pulang sekolah, kami dapat "obat" atau makan malam. Dan kadang-kadang ini
disusul oleh ceramah Pendeta Kepala tentang kitab-kitab suci. Pukul sembilan datang
saat "membuka bantal", artinya, waktu tidur. Begitulah acara setiap hari dan setiap hari
isyarat untuk bangun bagiku adalah bunyi lonceng yang dibunyikan oleh pendeta yang
bertanggung jawab atas dapur dan upacara-upacara makan. Mestinya yang tinggal di
Kuil Kencana, yaitu Rokuonji, berjumlah dua belas orang. Tapi sebagai akibat dari dinas
wajib militer dan kerja paksa, penghuni yang ada, di samping penunjuk jalan (yang
sudah berumur tujuh puluh tahun), perempuan tukang masak (yang sudah berumur
enam puluh tahun) Pengetua dan Wakil Pengetua, cuma kami, tiga orang murid atau
santri. Orang-orang tua itu sudah hijau seperti lumut dan hanya separuh hidup,
sedangkan kami yang muda sebetulnya masih anak-anak. Pengetua sibuk dengan
masalah pembukuan kuil yang disebut sebagai "tugas tambahan". Beberapa hari
sesudah kedatanganku, aku diberi tugas untuk mengantarkan koran ke kediaman
Pendeta Kepala (yang kami panggjl "guru tua"). Koran itu datang setiap hari kira-kira
pada saat kami selesai dengan bermacam tugas pagi, termasuk mencuci. Bagi kelompok
murid yang kecil seperti kelompok kami mengepel setiap gang yang ada di kuil yang
memiliki lebih kurang tiga puluh buah kamar dalam 52 jangka waktu yang begitu
singkat adalah berat sekali. Begitu aku selesai, aku pergi ke pintu masuk untuk
mengambil koran, lalu menyeberangi ruang depan dan Ruang Utusan, dan berjalan
mengitari Ruang Tamu, kemudian masuk sebuah gang yang berada di tengah, terus ke
Perpustakaan Besar tempat Guru Tua lagi menunggu. Gang-gang itu masih basah karena
baru dipel, dan di tempat-tempat yang terdapat lekukan-lekukan lantai papan, genangan
air berkilauan dalam sinar matahari pagi dan membasahi kakiku sampai ke mata kaki.
Karena waktu itu masih musim panas, hal ini memberikan perasaan menyenangkan
bagiku. Lalu aku berlutut di luar perpustakaan dan berseru: "Apa saya boleh masuk,
Bapa?" "Yah!" jawabnya. Sebelum melangkah ke dalam terlebih dulu kakiku yang
basah kuseka dengan pinggir jubahku, suatu kepintaran yang kupelajari dari kawan-
kawanku. Aku sadar akan bau dunia luar yang segar dan kuat yang datang dari cetakan
koran itu, lalu aku melihat untuk membaca induk-induk berita secara diam-diam: "Apa
ibukota Kemaharajaan mungkin akan mengalami pemboman?" Barangkali
kedengarannya an eh, tapi sampai saat itu belum pernah terfikir olehku untuk
menghubungkan Kuil Kencana dengan serangan udara. Semenjak Saipan jatuh,
serangan-serangan udara ke negeri Jepang tidaklah bisa dielakkan dan para penguasa
mendesak untuk melaksanakan rencana pengungsian sebagian penduduk Kyoto;
sungguhpun begitu, bagiku tidak ada hubungan antara perwujudan Kuil Kencana yang
separuh abadi dan bencana serangan udara. Aku merasa bahwa biara yang pada
hakikatnya tidak bisa hancur itu dan kekuatan ilmiah api tentu sadar akan perbedaan
mutlak antara sifat-sifat mereka, dan dengan demikian, sekiranya mereka sampai
bertemu, dengan sendirinya mereka 53 akan menyelinap dan saling menjauhi. Tapi
sungguhpun begitu tetap ada bahaya Kuil Kencana itu terancam oleh pern bom an
dalam suatu serangan udara yang mungkin tidak akan lama lagi terjadi. Memang, jika
keadaan terus-menerus begird, maka Kuil Kencana pasti berobah menjadi abu.
Semenjak fikiran ini berakar dalam diriku, maka keindahan tragis Kuil Kencana itu
sekali lagi bertambah. Waktu itu, suatu sore di akhir musim panas, sehari sebelum
sekolah mulai. Pendeta Kepala pergi ke suatu tempat untuk menghadiri suatu upacara
peringatan dengan dikawani oleh seorang wakU pengetua. Tsurukawa mengajak aku
pergi bersama dia menonton film, tapi karena aku tidak begitu tertarik pada usulnya, ia
pun segera kehilangan perhatian: demikianlah sifat Tsurukawa. Setelah mendapat izin
pergi selama beberapa jam, kami meningeal kan Ruang Utama, memakai topi pet
Sekolah Menengah Akademi Rinzai dan setiwal yang melilit kaki celana kepar kami.
Kuil mandi dalam keterikan sinar musim panas dan tak ada seorang pengunjung pun
jua. "Ke mana kita?" kata Tsurukawa. Aku menjawab, bahwa sebelum pergi ke suatu
tempat, aku ingin melihat Kuil Kencana dengan teliti, karena lusa bagi kami tidak punya
lagi kemungkinan melihatnya pada jam seperti sekarang ini, dan selama kami bekerja
jauh di pabrik, Kuil Kencana ini mungkin saja terbakar dalam sebuah serangan udara.
Aku terantuk-antuk dan tergagap-gagap waktu menjelaskan pendapatku dan
Tsurukawa mendengarkan dengan air muka heran dan tak sabar. Begitu aku selesai
dengan pidato yang begitu pendek, keringat mengalir di mukaku, seolah-olah aku baru
saja mengatakan sesuatu yang memalukan. Tsurukawa adalah satu-satunya orang yang
sudah mendengar cerita hubunganku yang aneh dengan Kuil Kencana. Tapi di mukanya
tidak ada apa-apa kecuali kesan perasaan khawatir biasa yang telah kukenal di wajah
orang yang berusaha memahami kegagapanku. Muka-muka seperti inilah yang
menghadapi aku. Jika aku mengungkapkan rahasia penting, jika aku menjelaskan pada
orang tentang gema perasaan keindahan yang merasuk ke dalam diriku, jika aku
mencoba untuk membuka isi dadaku — yang kuhadapi adalah wajah seperti ini. Ini
bukanlah wajah yang biasanya kita perlihatkan pada orang lain. Dengan ketelitian yang
sempurna, wajah ini meniru kekhawatiranku yang lucu; ia seakan-akan merupakan
sebuah cermin diriku sendiri yang mengerikan. Dalam saat-saat seperti itu, biar
bagaimana cantik pun sebentuk wajah, ia akan berobah menjadi buruk, tepat seperti
mukaku. Begitu tampak, maka hal penting yang hendak kusampaikan runtuh menjadi
sesuatu yang tak penting sama sekali, bagai genting atap. Antara Tsurukawa dan aku
terbersit sinar keras cahaya musim panas yang langsung. Sementara menunggu
ucapanku berakhir, wajah mudanya berkilat karena gemuk. Setiap alis matanya adalah
emas kemilau dalam cahaya matahari dan lobang hidungnya membesar karena panas
yang pengap. Aku selesai bicara. Begitu selesai, aku terlanda oleh kemarahan. Sejak aku
ketemu Tsurukawa — sekalipun ia belum pernah berusaha memperolok-olokkan aku
karena kegagapanku. "Kenapa?" Aku bertanya padanya, dan aku mendesak supaya ia
menjelaskan kesabarannya. Seperti telah sering kukemukakan, ejekan dan liinaan lebih
menyenangkan bagiku daripada simpati. Sebuah senyuman yang tak bisa dilukiskan
lunaknya terbayang di wajah Tsurukawa. "Aku orang yang tidak perduli hal-hal seperti
itu," katanya. 55 Aku betul-betul bingung. Karena dibesarkan di Iingkungan pedesaan
yang kasar, aku tidak kenal pria seperti iBfe Kelembutan Tsurukawa mengajarkan
padaku, bahwa biarpun kegagapanku lenyap dariku, aku masih tetap seperti diriku
sendiri. Aku betul-betul merasa nikmat karena ditelanjangi. Mata Tsurukawa yang
bertepi bulu mata yang panjang, memisahkan kegagapanku dan menerima aku
selebihnya sebagaimana adanya. Sampai saat itu aku mempunyai perkiraan yang
aneh, bahwa mengesampingkan kegagapanku sama saja dengan meniadakan suatu
perwujudan yang disebut "aku". Aku merasakan suatu keserasian antara perasaan dan
suatu rasa bahagia. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika aku tidak pernah bisa
melupakan Kuil Kencana seperti yang tampak pada saat itu. Kami berdua Jewat di
depan penjaga pintu tua yang terkantuk-kantuk, lalu menyusuri jalan setapak dekat
dinding batu yang lengang dan sampai ke depan Kuil Kencana. - Aku masih bisa
mengingat keadaan itu dengan jelas. Di sana kami — dua orang anak kecil — tegak
bahu-membahu dekat Kolam Kyoko mengenakan baju putih dan kaus kaki panjang.
Dan di hadapan kedua anak ini, tidak dipisahkan oleh apa pun juga, menjulang KuiJ
Kencana. Di musim panas terakhir ini, di masa libur musim panas terakhir, di hari-hari
terakhir liburan, kemudaan kami mengambang terhuyung-huyung ke ujung. Kuil
Kencana tegak di ujung yang sama, menghadap kami, bicara pada kami. Sampai
sebegitu jauh kekhawatiran akan serangan udara mendekatkan hubungan antara kami
dan kuil itu. Cahaya matahari redup akhir musim panas menghiasi atap Kukyocho
dengan bungkusan emas, dan cahaya yang tertumpah langsung ke bawah, mengisi Kuil
Kencana dengan kegelapan impian. Sampai saat itu kekebalan kuil itu terhadap
kehancuran menekan aku dan membuat aku menjauh darinya; tapi . nasibnya yang
sudah dekat untuk dibakar oleh sebutir bom pembakar membuat ia menjadi dekat
dengan nasib kami. Mungkin sekali Kuil Kencana itu akan hancur sebelum kami. Pada
saat itu aku merasa bahwa kuil itu menghadapi kehidupan yang sama seperti kami.
Bukit-bukit dengan tusam merah di sekelilingnya diliputi. suara jangkrik, seolah-olah
pendeta-pendeta yang tak bisa dihitung dan dilihat oleh mata lagi melagukan seruan
untuk memadamkan kebakaran: "Gya gya," nyanyi mereka, "gyaki gyaki, un nun,
shifura shifura, harashifura harashifwa\" Tidak lama lagi maka gedung yang indah ini
akan dirobah jadi abu, fikirku. Sebagai akibat, gambaran mengenai Kuil Kencana
lambat laun menindih kuil itu sendiri sampai bagian-bagiannya yang terkecil seperti
tiruan yang kita buat dengan selembar sutera gambar, menindis lukisan asli: atap
imajinasiku menindis atap kuil sebenarnya, Sosei di atas Sosei yang menjulur ke kolam,
terali dan jendela Kukyocho menindis terali dan jendela. Kuil Kencana tidak lagi
merupakan bangunan yang tak bisa dipindahkan. Ia seolah-olah telah dirobah menjadi
lambang kerapuhan dunia nyata. Berkat pemikiran begini, kuil yang sebenarnya ternyata
tidak kurang indahnya dari gambaran yang ada dalam hatiku. Besok, sebelum kita
ketahui, hujan api sudah turun dari langit; maka tiang yang ramping, raut atap yang
anggun, akan dihancurkan jadi abu dan kita tidak akan pernah melihatnya lagi. Tapi
untuk sementara ia berdiri dengan indahnya depan kami dengan segala bagian-
bagiannya yang halus, mandi dalam cahaya yang mirip dengan api musim panas. Di atas
rigi-rigi bukit awan perkasa menjulang ke atas, seperti yang pernah kulihat lewat sudut
mataku kala sutra dibacakan waktu penguburan Ayah. Mereka berisi semacam cahaya
tergenang dan memandang rendah pada bangunan kuil yang rapuh. Dalam cahaya
musim panas yang kuat ini, Kuil Kencana seolah-olah kehilangan berbagai bagian
bentuknya; ia mempertahankan kegelapan dingin dan murung dan membungkus dirinya
dengan garis-garis sosoknya yang ajaib. Ia tidak memperdulikan dunia gemerlap
yang mengitarinya. Hanya burung funiks yang ada di atas atap mencekamkan cakamya
yang tajam dengan keras di tempat ia berdiri, dan berusaha untuk tidak terhuyung-
huyung dalam cahaya matahari. Karena bosan menatap kuil itu lama-lama, Tsurukawa
memungut sebuah batu dan dengan ayunan seorang tukang lempar yang bagus batu itu
ia lemparkan ke tengah bayang-bayang yang dibuat oleh Kuil Kencana di Kolam
Kyoko. Riaknya menyebar melewati ganggang, dan gedung yang indah dan rapuh itu
dengan segera pecah berantakan. r Tahun berikut, sampai perang selesai, hubunganku
dengan Kuil Kencana itu akrab sekali. Di masa itu aku selalu khawatir tentang
keselamatannya dan terpesona oleh keindahannya. Masa itu aku seolah-olah
menyentakkan kuil itu ke bawah sampai setingkat dengan aku dan dengan keyakinan
demikian aku dapat mencintainya tanpa sedikit pun merasa takut. Pura itu belum lagi
memberikan pengaruh buruk atau racun padaku. Aku didorong oleh kenyataan bahwa
Kuil Kencana dan aku menghadapi bahaya bersama di dunia ini. Dalam bahaya ini aku
menemui penghubung yang dapat menghubungkan aku dengan keindahan. Aku merasa,
kini sebuah jembatan sudah didirikan antara aku dan sesuatu yang sampai kini seolah-
olah menolak aku, menjauhkan aku.
Aku hampir-hampir mabuk oleh fikiran, bahwa api yang akan menghancurkan aku
mungkin juga akan menghancurkan Kuil Kencana. Karena kami terwujud dalam satu
kutukan, dalam nasib sumpah-serapah yang sama, maka kuil dan aku kini mendiami
dunia yang punya dimensi sama. Laik badanku yang rapuh dan buruk, badan kuil itu,
biarpun keras, terdiri dari arang yang bisa menyala. Kadang-kadang rasanya aku dapat
melarikan diri dari tempat ini, dan membawa kuil itu dan menyembunyikannya dalam
dagingku, dalam seluruh pribadiku — laik seorang pencuri yang menelan sebutir
permata yang mahal waktu melarikan diri., Dalam masa setahun itu tidak ada satu sutra
pun yang kupelajari dan tidak sebuah buku pun yang kubaca; sebaliknya dari hari ke
hari dari pagi sampai malam aku asyik dengan pendidikan moral, latihan, ilmu militer,
kerja di pabrik dan latihan untuk pengungsian darurat. Sifatku yang memang sudah
cenderung untuk melamun, makin berat mengarah ke situ, dan berkat peperangan,
kehklflpan biasa menyusut makin jauh dari aku. Bagi kami anak-anak, peperangan
adalah semacam pengalaman yang mirip mimpi yang tidak memiliki ujud, sesuatu yang
mirip sebuah terungku di mana kita dipisahkan sama sekali dari arti hidup. Waktu B29
pertama menyerang Tokyo dalam bulan November tahun 1944, orang mengira bahwa
Kyoto setiap saat bisa diserang. Lalu secara diam-diam aku berkeinginan supaya seluruh
Kyoto dibungkus oleh nyala api. Kota ini terlalu cemas untuk melindungi benda-benda
kunonya seperti sediakala; kuil dan biara yang serba beragam sudah lupa kenangan abu
merah membara yang lahir dari dalamnya.. Kalau kubayangkan bagaimana Pertempuran
Besar Ojin yang 59 W menghancurkan seluruh kota ini, aku merasa bahwa Kyoto telah
kehilangan sebagian dari keindahannya karena terlalu Ilama lupa pada kegalauan api
peperangan. Besok Kuil Kencana pasti terbakar habis. Bentuk yang sampai kini mengjsi
ruang akan lenyap. Bahkan burung yang berada di puncak kuil itu akan hidup kembali
seperti funiks klasik, lalu terbang menghilang. Dan Kuil Kencana yang sampai kini
terkurung dalam bentuknya, akan bebas dari semua ketentuan dan akan mengambang
hanyut dengan ringan ke sana-sini, sambil menyebarkan cahaya samar di atas danau dan
di permukaan laut yang kelam. Biarpun aku menunggu dan terus menunggu Kyoto tidak
juga terkena serangan udara. Biarpun pada tanggal 9 Maret tahun berikutnya seluruh
daerah perdagangan Tokyo telah menjadi lautan api, dan malapetaka menyebar ke
mana-mana, Kyoto masih juga dipayungi langit jernih perniulaan musim semi. Kini aku
sudah hampir-hampir putus asa menunggu dan mencoba meyakinkan diriku sendiri
bahwa langit permulaan • musim semi ini menyimpan segala macam pembakaran dan
penghancuran dalam dirinya, seperti kaca jendela yang menyilaukan menyembunyikan
apa yang berada di baliknya. Seperti telah kukatakan, dalam soal perasaan kemanusiaan
aku lemah luar biasa. Kematian Ayah dan kerniskinan Ibu sama sekali tidak menyentuh
batinku sama sekali. Yang kuimpi-impikan ialah semacam kompresor langit raksasa
yang akan menurunkan malapetaka, musibah dan tragedi manusia, yang akan
menghimpit seluruh manusia dan semua benda sampai hancur, baik yang bagus maupun
yang buruk. Kadang-kadang kecemerlangan langit permulaan musim semi yang luar
biasa kulihat sebagai cahaya mata kapak raksasa yang sejuk yang cukup besar untuk
menutupi seluruh bumi. Lalu aku menunggu kapak itu jatuh — karena 60 kalau ia jatuh
dengan cepat maka orang tidak akan dapat kesempatan untuk berfikir. Ada sesuatu yang
bahkan kini kurasakan sebagai sesuatu yang aneh. Sebetulnya aku tidak dirasuki oleh
fikiran-fikiran yang murung. Persoalanku, yang menghadapkan aku dengan masalahku
yang sebenarnya, hanya keindahan. Tapi kukira peperangan tidak mempengaruhi aku
dengan membuat fikiranku jadi murung. Jika kita memusatkan fikiran pada ide
keindahan, maka tanpa kita sadari, kita berhadapan dengan pemikiran yang paling gelap
yang ada di dunia ini. Begitulah, kiraku, bagaimana manusia diciptakan. *** Aku ingat
sebuah peristiwa yang terjadi di Kyoto menjelang peperangan berakhir. Kejadian itu
adalah sesuatu yang tak masuk akal, tapi aku bukanlah saksi satu-satunya. Tsurukawa
berada di sampingku. Pada suatu hari waktii listrik mati, Tsurukawa dan aku pergi
mengunjungi Kuil Nanzen bersama-sama. Ini kunjungan kami yang pertama ke Kuil
Nanzen. Kami menyeberangi jalan yang lebar lalu menuju jembatan kayu yang
menghubung-kan lereng tempat perahu-perahu biasanya diluncurkan. Hari itu adalah
hari yang terang dalam bulan Mei. Lereng itu tidak lagi dipakai dan rel yang terentang
menuruni ketinggian sudah berkarat dan hampir-hampir ditutup oleh ganggang
seluruhnya. Di antara ganggang itu kembang-kembang kecil dan rapuh berbentuk salib
bergetar dalam angin. Sampai ke tempat kaki lereng itu, tampak air kotor dan tergenang.
Dan bayang-bayang deretan pohon ceri yang berada di pinggir air tempat kami berada
terbenam seluruhnya. Sambil berdiri di atas jembatan itu kami merenung ke air. Di
tengah-tengah kenangan seseorang tentang masa perang saat kosong yang singkat
seperti itu meninggalkan kesan yang paling hidup. Saat-saat singkat abstraksi lamban
seperti ini bersembunyi di mana-mana, bagai tumpak-tumpak langit biru yang
mengintip di sela awan. An eh sekali, justeru saat seperti ini yang berakar dengan kuat
pada fikiranku, seolah-olah ia merupakan kesempatan yang penuh kenikmatan.
"Menyenangkan sekali, kan?" kataku, lalu tersenyum tanpa ada arti. "Uh," jawab
Tsurukawa dan ia juga tersenyum. Kami berdua merasakan sekali bahwa saat yang
beberapa jam ini adalah milik kami. Di sebelah jalan setapak penuh kerikil dan lebar itu
terdapat sebuah selokan yang penuh dengan air jernih. Tetanaman air yang bagus
mengangguk-angguk bersama arus air. Tidak lama kemudian Gerbang Sammon yang
termasyhur menjulang di hadapan kami. Tidak ada satu orang pun kelihatan di daerah
kuil itu. Di sela-sela tanaman segar, genting kuil itu menyala dengan mewah, seperti
sebuah buku perak bakar besar yang diletakkan di sana. Apakah arti peperangan pada
saat ini? Di tempat tertentu, di saat tertentu, aku merasa, bahwa peperangan telah
menjadi suatu kejadian spirituil yang aneh yang tidak berwujud sama sekali di luar
kesadaran manusia. Barangkali di puncak Gerbang Sammon inilah perampok zaman
kuno yang termasyhur, Isyikawa Goemon meletakkan kakinya di terali dan menikmati
pemandangan bunga-bunga yang lagi berkembang dengan semerbak. Kami berdua
merasa din kekanak-kanakan dan biarpun kala itu telah datang musim di mana pohon-
pohon sakura kehilangan kembangnya dan diselimuti oleh dedaunan, kami mengira
kami akan dapat menikmati pemandangan itu dari tempat yang dulu 62 ditempati
Goemon. Kami membayar ongkos masuk sedikit lalu naik tangga yang curam yang
kayu-kayunya sudah jadi hitam sama sekali. Di ruangan di atas, di mana dulu biasanya
dipertunjukkan tari-tarian agama, kepala Tsurukawa terbentur ke loteng. Aku ketawa
lalu langsung kepalaku juga terbentur. Kami berdua berbalik lalu naik sampai ke kepala
tangga dan muncul di puncak menara itu. Adalah suatu ketegangan yang nikmat, setelah
menaiki tangga sempit bagai ruang bawah tanah, untuk merasakan tubuh kita tiba-tiba
disajikan pada dunia luar yang luas. Kami berdiri di sana beberapa saat memandang
pohon-pohon ceri dan tusam, hutan Kuil Heian yang terhampar bengkang-bengkok di
kejauhan di balik deretan rumah-rumah, bentuk deretan gunung-gunung - Arashiyama,
Kitanokata, Kifune, Minoura, Kompira — semuanya menjulang kabur di ujung jalan-
jalan Kyoto. Setelah kami memuaskan diri dengan ini, kami membuka sepatu lalu
masuk ke dalam ruangan dengan rasa penuh hormat bagai sepasang calon pendeta.
Dalam ruang yang gelap itu terkembang di lantai tikar sebanyak dua puluh empat
lembar. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah patung Sakamuni dan mata emas enam
belas Semut Arh mengkilap dalam gelap. Tempat ini dikenal sebagai Gohoro atau
Menara Lima Funiks. Kuil Nanzen milik sekte Rinzai, sama seperti Kuil Kencana, tapi
kalau yang terakhir ini berpegang pada mazhab Sokokuji, kuil ini merupakan pusat
mazhab Manzenji. Jadi dengan kata lain, kami kini berada dalam sebuah kuil sekte yang
sama dengan sekte kami tapi dari mazhab yang berbeda. Kami berdiri di sana bagai dua
orang pelajar Sekolah Menengah biasa, dengan sebuah buku penunjuk jalan di tangan
kami, sambil memperhatikan lukisan-lukisan loteng yang berwarna menyala, yang
diciptakan oleh Tanyu 63 Morinobu dari mazhab Kano dan oleh Hogan Tokuetsu dari
mazhab Tosa. Di satu sisi loteng itu kelihatan lukisan bidadari terbang di angkasa
sambil memainkan seruling dan biwa kuno. Di tempat lain Kalavinka mengepak-ngepak
dengan sekuntum peoni putih di paruhnya. Ini adalah burung kicau yang dilukiskan
dalam sutra dan hidup di Gunung Sessan: bagian atas badannya seorang gadis yang
gemuk sedangkan bagian bawah berbentuk burung. Di tengah-tengah digambar burung
dongeng yang dianggap kawan burung yang berada di puncak Kuil Kencana; tapi yang
seekor ini mirip dengan bianglala yang sangat bagus, beda sekali dari burung emas
agung yang begitu kukenal. Kami beriutut di depan patung Sakamuni lalu merapatkan
tangan hendak berdoa. Kemudian kami pergi dari ruang itu. Tapi bukanlah pekerjaan
mudah untuk menyeret diri kami ke bawah dari puncak menara itu. Kami bertopang
pada terali yang menghadap ke selatan dekat kepala tangga yang tadi kami naiki. Aku
merasa seolah-olah melihat sebuah spiral berwarna dan indah di sesuatu tempat.
Mungkin sekali ini semacam sisa bayangan dari warna-warna cemerlang yang baru saja
kulihat di lukisan loteng tadi. Perasaan yang kurasakan dari pengendapan warna-warna
yang kaya membuat seolah-olah burung Kalavinka itu bersembunyi di suatu tempat di
antara daun-daun muda atau di atas dahan pohon-pohon pinus muda yang bertebaran di
bawah. Ia seolah-olah memperlihatkan suatu sudut sayapnya yang bagus padaku. Tapi
sebenarnya bukan demikian. Di sebelah jalan di bawah kami terdapat pertapaan Tenju.
Sebuah jalan setapak, yang diratakan dengan batu-batu empat persegi, yang hanya
sudut-sudutnya saja yang saling bersentuhan, berkelok di seberang sebuah taman, di
mana pepohonan rendah dan penuh kedamaian ditanam orang dengan gaya bersahaja,
menuju sebuah ruang besar dengan pintu geser yang terbuka lebar. Kita bisa melihat
setiap bagian terkecil lekuk tembok dan rak-rak miring dalam ruang itu. Sehelai
permadani merah terang dikembangkan di lantai: rupa-rupanya ruang itu sering dipakai
untuk persembahan teh dan sering dipersewakan untuk upacara minum teh. Seorang
wanita muda duduk di sana. Dialah yang tadi terkilas di mataku. Semasa perang tidak
pernah kita bisa melihat seorang wanita mengenakan kimono berlengan panjang yang
begitu cemerlang seperti yang ia pakai. Siapa saja yang keluar dengan dandanan seperti
dia boleh dikatakan akan selalu dicela karena tidak memiliki kesederhanaan patriotik
dan harus pulang untuk berganti pakaian. Begitu bagus potongan pakaiannya. Aku tidak
bisa melihat detil-detil pola, tapi aku melihat bahwa ada bunga-bunga yang dilukis dan
disulam di atas dasar biru pucat, dan bahwa sabuknya yang berwarna merah menyala
berkilauan karena benang-benang emas: udara sekitarnya seolah-olah menjadi terang
oleh kecemerlangan pakaiannya. Wanita muda yang cantik itu duduk di lantai dengan
sikap anggun yang sempurna sekali; raut wajahnya yang pucat menonjol bagai relief
yang seakan-akan dipahat, dan mula-mula aku bertanya-tanya apa ia betul manusia
hidup. "Hei!" kataku tergagap-gagap sejadi-jadinya. "Apa mungkin dia manusia hidup?"
"Aku juga berfikir begitu. Dia benar-benar seperti boneka," kata Tsurukawa yang
bersandar pada terali tanpa melepaskan pandangannya dari wanita itu. Waktu itu dari
belakang ruang itu muncul seorang perwira tentara muda yang mengenakan seragam. Ia
duduk menghadap perempuan itu dengan sikap resmi yang kaku, beberapa depa
daripadanya. Selama beberapa saat keduanya berhadap- 65 hadapan dengan tenang.
Perempuan itu berdiri lalu menghilang tanpa suara ke dalam kegelapan gang. Setelah
sesaat, ia kembali sambil memegang cangkir teh; lengan bajunya yang panjang terayun-
ayun karena angin. Ia berlutut di depan lelaki itu lalu menawarkan teh. Setelah
menyerahkan cangkir teh itu padanya sesuai dengan tata cara, ia kembali ke tempatnya
semula. Lelaki itu mengucapkan sesuatu. Ia masih juga belum meminum tehnya. Saat
yang datang kemudian terasa panjang, tegang dan aneh. Kepala perempuan itu
tertunduk dalam. Waktu itulah peristiwa yang tidak masuk akal itu terjadi. Sambil
duduk lurus, perempuan itu tiba-tiba melepaskan kerah kimononya. Aku hampir-hampir
dapat mendengar desir sutera waktu ia menarik bajunya dari bawah ikat pinggang yang
ketat. Lalu aku melihat buah dadanya yang putih. Aku menahan nafas. Perempuan itu
menggenggam salah sebuah dari buah dadanya yang putih dan penuh dalam satu tangan.
Perwira itu mengulurkan cangkir teh yang berwarna gelap dan dalam itu sambil berlutut
di hadapannya. Perempuan itu menggosok-gosok buah dadanya dengan tangan. Aku
tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah melihat semuanya, tapi aku merasakan secara
jelas, seakan-akan semuanya berlaku langsung di hadapan mataku, bagaimana susu
yang hangat dan putih membersit dari buah dadanya ke dalam teh hijau tua yang
berbuih dalam cangkir itu, bagaimana tercampur dalam cairan itu, dengan meninggalkan
titik-titik putih di atasnya, bagaimana permukaan teh yang tenang itu jadi keruh dan
berbusa karena buah dada yang putih itu. Lelaki itu mengangkat cangkir itu ke mulutnya
lalu meminum teh yang ajaib itu sampai tetesan terakhir. Perempuan itu memasukkan
buah dadanya yang penuh itu kembali ke dalam kimononya. Tsurukawa dan aku
memandang nanap dan tegang pada peristiwa itu. Kemudian setelah kejadian itu kami
fikirkan lebih teliti, kami berkesimpulan bahwa yang baru terjadi itu pasti sebuah
upacara perpisahan antara seorang perwira yang akan berangkat ke medan perang dan
perempuan yang telah melahirkan anaknya. Tapi emosi kami pada saat itu menghalangi
semua penjelasan yang masuk akal. Karena kami memandang begitu nanap, kami
tidak berkesempatan untuk melihat bahwa laki-laki dan perempuan itu sudah keluar dari
sana, tanpa meninggalkan apa-apa kecuali permadani besar merah menyala itu. Aku
sudah melihat raut mukanya yang putih dalam bentuk relief dan aku sudah melihat buah
dadanya yang putih dan bagus. Setelah perempuan itu pergi, fikiranku tertambat pada
satu hal saja selama jam-jam berikutnya sepanjang hari itu, juga selama esok harinya
dan hari-hari sesudah itu. Aku berfikir, bahwa perempuan itu pasti Uiko yang hidup
kembali. 66 Bab Tiga WAKTU itu hari peringatan setahun kematian Ayah. Ibu
memperoleh sebuah fikiran yang aneh. Karena aku susah untuk pulang sebab harus
menjalankan kerja wajib, ia merencanakan hendak datang ke Kyoto dan membawa batu
nisan Ayah, hingga Bapa Dosen dapat membacakan pada hari ulang tahun kematian
sahabat lamanya beberapa sutra di depan nisannya biarpun hanya untuk beberapa menit.
Tentu saja Ibu tidak punya cukup uang untuk mengongkosi pembacaan doa, lalu ia
menulis surat pada Pendeta Kepala dan menyerahkan soal itu pada kemurahan hatinya.
Bapa Dosen menyetujui permintaannya lalu memberi tahu aku. Aku tidak senang
mendengar berita ini. Ada suatu sebab khusus mengapa sampai saat ini aku berusaha
untuk tidak menulis tentang ibuku. Aku tidak ingin menyinggung-nyinggung hal yang
ada sangkut-pautnya dengan ibuku. Mengenai suatu kejadian, aku tidak pernah
mengucapkan sepatah kata penyesalan pun pada Ibu. Aku tidak pernah
membicarakannya. Ibu bahkan mungkin tidak tahu bahwa aku tahu. Tapi sejak kejadian
itu, aku tidak dapat membujuk diriku untuk memaafkan Ibu. Terjadinya semasa liburan
musim panas waktu aku pulang untuk pertama kali setelah memasuki Sekolah
Menengah Maizuru Timur dan setelah aku diserahkan pada pamanku. Waktu itu seorang
keluarga Ibu yang bernama Kurai baru 68 kembali ke Nairu dari Osaka, setelah ia gagal
dalam berusaha. Isterinya, seorang ahli waris sebuah keluarga yang kaya, tidak mau
menerima di rumahnya, hingga Kurai terpaksa tinggal di kuil Ayah sampai persoalan itu
din gin. Di kuil kami tidak banyak kelambu. Adalah hal yang mengherankan bahwa Ibu
dan aku tidak sampai ketularan penyakit paru-paru Ayah, karena kami semua tidur
dalam satu kelambu; dan kini ditambah lagi dengan orang bernama Kurai ini. Aku ingat
bagaimana pada suatu malam musim panas seekor jangkrik terbang sepanjang
pepohonan di kebun sambil memperdengarkan bunyi yang pendek. Rupa-rupanya aku
terbangun oleh bunyi itu. Suara ombak menggema dengan keras, dan pinggiran bawah
kelambu yang berwarna hijau muda itu berkibar-kibar karena angin laut. Tapi ada
sesuatu yang aneh pada goyangan kelambu itu. Kelambu itu mestinya mengembung
karena tiupan angin, lalu bergoyang segan-segan seakan-akan membiarkan angin
merembes melaluinya. Cara kelambu itu tertiup hingga merupakan lipatan-lipatan,
bukanlah gambaran tiupan angin sebenarnya; sebaliknya, kelambu itu seolah-olah
mengesamping-kan angin dan meniadakan kekuatannya. Kedengaran bunyi, bagai desir-
desir bambu, bunyi sesuatu yang bergosok-gosok dengan tikar jerami; bunyi itu adalah
bunyi tepi bawah kelambu yang tergosok-gosok pada lantai. Suatu gerakan yang tidak
disebabkan oleh angin kini sedang dipindahkan ke kelambu itu. Sebuah gerakan yang
lebih rawan dari gerakan angin; sebuah gerakan yang menyebar bagai ombak beriak-
riak sepanjang kelambu, hingga bahan kasar itu mengembang-mengempis, sehingga
dari dalam kelihatan bagai permukaan sebuah danau yang menggembung karena
kegelisahan. Apakah itu kepala ombak yang diciptakan sebuah kapal kala ia menjelajah
jalannya menempuh danau; ataukah pantulan jauh sebuah ombak, sisa alur jalan kapal
yang sudah melalui tempat ini? Dengan rasa takut kuarahkan mataku ke sumbernya.
Lalu, waktu aku menatap kegelapan dengan mata terbuka seluas-luasnya aku merasa
seolah-olah ada penggerak lagi menggerak sampai pusat biji mataku. Aku berbaring di
samping Ayah; kelambu itu terlalu kecil bagj empat orang dan waktu tidur rupanya aku
telah berbalik lalu mendesak dia ke suatu sudut. Karena itu, antara aku dan kejadian
yang kulihat ada ruang putih yang lebar yang terdiri dari kain alas yang kusut; dan Ayah
yang tidur berkeluk di belakangku, bernafas langsung ke tengkukku. Yang membuat aku
sadar bahwa Ayah sebetulnya bangun adalah irama pernafasannya yang tidak teratur,
melompat-lompat, yang mengenai punggungku; karena aku merasa bahwa ia berusaha
untuk menahan batuknya. Tiba-tiba mataku yang terbuka ditutup oleh sesuatu yang
besar dan hangat hingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku segera mengerti. Ayah
mengulurkan tangannya dari belakang untuk menghalangi penglihatanku. Hal ini terjadi
bertahun-tahun yang lalu waktu aku masih berumur tiga belas tahun, tapi kenangan pada
tangan ini masih .hidup dalam diriku. Tangan yang besarnya tiada tolok bandingnya.
Tangan yang merangkul aku dari belakang, dan dalam satu detik menghalangi
pandanganku ke neraka yang sedang kulihat. Tangan dari dunia lain. Apa karena cinta
atau belas kasihan atau rasa malu, aku tidak tahu; tapi tangan itu telah menghentikan
dengan segera dunia yang mengerikan yang berhadapan denganku lalu menguburnya
dalam kegelapan. Aku mengangguk sedikit dalam genggaman tangan itu. Dari anggukan
kepalaku yang kecil, Ayah segera maklum bahwa aku mengerti dan setuju; ia
melepaskan tangannya. Kemudian, sesuai dengan kehendak tangan itu, aku mengatup-
kan mataku dengan paksa dan berbaring di sana tanpa bisa tidur sampai pagi datang,
dan cahaya menyilaukan yang datang dari luar memaksakan diri menembus pelupuk
mataku. *** Ingatlah, bahwa bertahun-tahun kemudian waktu peti mati Ayah dipikul ke
luar rumah, aku begitu sibuk memperhatikan wajah yang sudah mati itu, hingga aku
tidak meneteskan air mata sedikit pun. Ingatlah, bahwa dengan kematiannya aku bebas
dari belenggu tangannya, dan dengan jalan menatap tajam pada wajahnya, aku bisa
menegaskan kehidupanku sendiri. Sampai sejauh itu aku ingat hendak membalaskan
dendamku yang sepatutnya pada tangan itu, artinya, pada apa yang disebut manusia di
dunia ini, cinta; tapi tentang Ibu, lepas dari kenyataan bahwa aku tidak bisa memaafkan
dia karena kenangan itu, aku tidak pernah berniat hendak membalasnya. Maka diaturlah
supaya Ibu bisa datang ke Kuil Kencana pada hari sebelum upacara peringatan dan
supaya bisa menginap malam itu di biara. Pendeta Kepala telah menulis surat ke
sekolahku, supaya aku diizinkan tidak masuk pada hari peringatan itu. Kami yang
terkena peraturan kerja wajib, tidak tinggal di tempat kerja kami, tapi selalu melapor ke
sana pada saat-saat yang sudah ditentukan, sesudah itu pulang ke tempat kami tinggal.
Pada hari sebelum ulang tahun itu aku segan-segan untuk pulang ke kuil. Tsurukawa
yang berhati polos dan jernih sangat senang demi aku, karena aku akan ketemu ibuku
kembali setelah 71 70 sekian lama, dan kawan-kawanku sesama calon pendeta ingin
mengenal ibuku. Tapi aku tidak- suka memiliki ibu yang begitu miskin dan kumal. Aku
tidak tahu bagaimana aku harus menjelaskan pada Tsurukawa yang baik hati itu, kenapa
aku tidak ingin ketemu ibuku. Sudah begitu, begitu kami selesai dengan pekerjaan di
pabrik, Tsurukawa memegang lenganku lalu berkata: "Mari, kita pulang buru-buru.'"
Adalah sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan jika dikatakan bahwa aku sama sekali
tidak mau ketemu ibuku. Aku bukannya tidak punya perasaan terhadap Ibu. Mungkin
sekali masalahnya, aku tidak senang dihadapkan pada pernyataan cinta yang langsung,
yang kita peroleh dari keluarga kita, dan bahwa aku sekadar berusaha agar rasa tidak
senang itu dapat termakan akal dengan berbagai cara. Di situ letak watakku yang buruk.
Cukuplah kalau aku mencoba membenarkan perasaan yang tulus dengan segala macam
jalan fikiran yang masuk akal. Tapi kadang-kadang segala macam alasan yang
dihasilkan oleh otakku memaksakan pada diriku perasaan-perasaan yang bahkan
menggoncang diriku sendiri; sedangkan perasaan-perasaan itu pada mulanya tidak
berasal dari aku. Hanya dalam kebencianku ada sesuatu yang asli. Karena aku manusia
yang hanya bisa terharu oleh kebencian. "Tidak ada gunanya buru-buru," jawabku.
"Kita cuma jadi lelah karenanya. Mari kita jalan lambat-lambat!" "Aku mengerti," kata
Tsurukawa, "jadi kau ingin berdamai dengan ibumu dan merebut rasa sayangnya dengan
berpura-pura terlalu letih hingga kau tidak bisa berjalan cepat." Begitulah Tsurukawa
setiap kali mencoba menafsirkan tingkah lakuku, dan setiap kali itu pula ia salah. Tapi ia
sama sekali tidak menyusahkan aku, bahkan ia sudah jadi seseorang yang sangat
kuperlukan. Karena ia seorang jura tafsir yang beritikad baik — seorang sahabat yang
tiada gantinya yang dapat menterjemahkan untukku kata-kataku ke dalam bahasa dunia
nyata. Ya, kadang-kadang bagiku Tsurukawa bagai seorang ahli al-kimia yang dapat
merobah besi jadi emas. Aku yang merupakan segi negatif gambaran itu; ia segi
positifnya. Seringkali aku terheran-heran melihat perasaanku yang gelap dan keruh
berobah menjadi jernih dan bercahaya setelah disaring melewati hati Tsurukawa!
Sementara aku ragu-ragu dan tergagap-gagap, maka ini akan mengambil alih
perasaanku, ia balik, lalu ia sampaikan pada dunia luar. Apa yang kupelajari dari
kejadian yang mengagumkan ini ialah bahwa dalam soal perasaan, tidak ada perbedaan
antara perasaan yang paling mulia di dunia ini dan perasaan yang paling kasar; hasilnya
sama semata; bahwa tidak ada perbedaan menyolok antara itikad membunuh dan
perasaan penuh belas kasihan yang dalam. Tsurukawa tidak akan pernah bisa meyakini
hal seperti itu, biarpun aku berhasil menjelaskan-nya dengan kata-kata. Tapi bagiku
penemuan ini adalah penemuan yang mengerikan. Kalau aku kini sampai ke titik di
mana aku tidak lagi keberatan kalau Tsurukawa menganggap aku seorang munafik,
maka itu adalah karena kemunafikan, dalam fikiranku telah menjadi sekadar dosa kecil.
Di Kyoto aku belum pernah mengalami serangan udara, tapi sekali waktu aku dikirim
ke pabrik induk di Osaka dengan perintah untuk memesan bagian pesawat terbang,
terjadilah di sana sebuah serangan udara lalu aku melihat salah seorang pekerja pabrik
itu diusung keluar di atas tandu dengan perut robek. Kenapa isi perut harus mengerikan?
Kenapa, kalau kita melihat isi seorang manusia, kita merasa perlu menutup 73 Imata
kita karena ketakutan? Kenapa orang bisa terkejut melihat darah mengalir? Kenapa isi
perut manusia buruk? Bukankah kwalitasnya sama dengan kecantikan kulit yang muda
dan berkilat? Bagaimana air muka Tsurukawa kalau kukatakan bahwa dari dial ah car a
berfikir seperti ini kupelajari — suatu cara berfikir yang merobah keburukanku menjadi
ketidakadaan? Kenapa terasa sesuatu yang tidak bersifat kemanusiaan jika kita
menganggap manusia bagai mawar dan menolak untuk membedakan bagian dalam dan
bagian luar tubuhnya? Sekiranya manusia bisa membalikkan Ibatin dan lahirnya, bisa
membaliknya bagai kelopak mawar dan memaparkannya depan angin musim semi dan
matahari... Ibu telah sampai dan lagi bicara dengan Pendeta Kepala di kamarnya.
Tsurukawa dan aku berlutut di luar, di gang dalam samar-samar muka permulaan musim
panas lalu berseru bahwa kami sudah pulang. Pendeta Kepala hanya mengundang aku
masuk. Di hadapan Ibu, ia mengatakan sesuatu yang maksudnya menunjukkan bahwa
aku telah melakukan tugas-tugasku di kuil dengan baik. Aku selalu menunduk dan
hampir-hampir tidak melihat pada Ibu. Lewat sudut mata aku melihat celana gelembung
masa perang yang ia pakai, terbuat dari katun biru yang telah pucat, dan jari-jari
tangannya yang kotor terletak di atas celana itu. Bapa Dosen mengatakan bahwa kami
sudah boleh beris-tirahat ke tempat kami. Kami membungkuk beberapa kali lalu keluar
dari kamar itu. Aku tidur dalam sebuah kamar berukuran lima tikar yang kecil, di
sebelah selatan perpustakaan kecil dan menghadap ke halaman. Begitu kami sudah
sendiri, maka Ibu mulai menangis. Karena ini sudah kunanti-nanti maka aku tetap bisa
mempertahankan ketenanganku. "Aku kini dibesarkan oleh Rokuonji," kataku pada Ibu,
74 "dan aku minta agar Ibu tidak mengunjungi sebelum aku jadi pendeta penuh." "Aku
mengerti, aku mengerti," kata Ibu. Aku puas sekali karena aku berhasil menerima ibuku
dengan kata-kata yang begitu kasar. Tapi aku jadi kesal, karena seperti dulu, dia sama
sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia punya perasaan atau menolaknya.
Sekaligus, kalau kuingat bahwa mungkin sekali Ibu akan melangkahi batas dan
memasuki fikiranku, aku jadi takut. Waktu melihat wajah Ibu yang hangus dibakar
matahari, aku melihat matanya yang cekung, kecil dan licik. Hanya bibimya yang merah
dan berkilat, seolah-olah memiliki kehidupan tersendiri; ia memiliki gigi kuat dan besar
seperti yang biasa dimiliki perempuan desa. Ia sudah mencapai umur, yang sekiranya ia
diam di kota, tidak akan mengheran-kan kita kalau ia memakai rias muka yang tebal.
Ibu telah menjadikan wajahnya seburuk mungkin. Aku sadar bahwa suatu kesan nafsu
tinggal pada salah satu bagian muka itu. sebagai sebuah endapan; dan aku benci pada
itu. Setelah mengundurkan diri dari kehadiran Bapa Dosen dan setelah menangis dengan
puas, Ibu mengeluarkan sehelai handuk, yang dibawanya dari kampung kami, lalu mulai
menyeka dadanya yang telanjang dan terbakar karena matahari. Handuk itu adalah
macam yang biasanya diperoleh orang sebagai barang pembagian dan terbuat dari serat
kapas. Bahan itu berkilat-kilat, dan jika basah karena keringat, ia malahan lebih berkilat
lagi. Lalu Ibu mengeluarkan sedikit nasi dari karungnya. Katanya ia mau menawarkan
nasi itu pada Pendeta Kepala. Aku diam saja. Kemudian ia keluarkan batu nisan Ayah,
yang dibungkus baik-baik dalam secarik kain abu-abu usang, lalu meletakkannya di atas
rak buku. "Aku begitu senang dengan penyelesaian ini," katanya. ¦Ayah tentu bahagia
sekali karena yang membacakan doa untuknya adalah Pendeta Kepala." "Apa Ibu akan
kembali ke Nariu setelah peringatan setahun ini selesai?" tanyaku.
Jawabnya datang sebagai suatu yang tak disangka-sangka. Temyata, Ibu telah
menyerahkan hak Kuil Nariu kepada orang lain dan telah menjual tumpak tanah milik
kami. Ia telah membayar semua ongkos pengobatan Ayah dan sudah bersiap-siap untuk
tinggal sendiri di rumah seorang paman di Kasagun dekat Kyoto. Jadi kuil tempat aku
kelak harus kembali bukan lagi milik kami! Di desa, di tanjung yang sunyi itu tidak
akan ada apa-apa lagi yang menyambut aku. Aku tidak tahu bagaimana Ibu menafsirkan
air muka kebebasan yang muncul di wajahku, tapi ia membungkuk mendekati aku lalu
berkata: "Begini, sayang. Kau tidak lagi punya kuil milik sendiri. Jadi satu-satunya jalan
bagimu kini ialah jadi Pendeta Kepala Kuil Kencana. Atau harus usahakan supaya Bapa
itu senang padamu, hingga kau bisa rhenggantikan dia jika sudah sampai saatnya ia
pergi. Kau mengerti, kan? Hanya untuk itu Ibu hidup." Aku kaget karena perkembangan
ini lalu mencoba memandang nanap pada Ibu. Tapi aku terlalu terkejut untuk dapat
memandang padanya dengan baik. Kamar kecil yang di sebelah belakang sudah gelap.
Ibuku "yang penuh kasih sayang" telah merapatkan mulutnya pada telingaku waktu ia
bicara padaku dan kini bau keringatnya mengambang depan lobang hidungku. Aku ingat
waktu itu Ibu ketawa. Kenangan lama, bagaimana aku disusukan, kenangan pada buah
dada yang hitam - kenangan itu berpacu menjengkelkan mengelilingi otakku. Dalam
kebakaran sawah rendah ada semacam kekuatan fisik dan kekuatan inilah rupa-rupanya
yang menakutkan aku. Waktu segumpal rambut Ibu yang keriting menyentuh pipiku,
aku melihat seekor lalat besar mengistirahatkan sayapnya di atas bak batu berwarna
hijau lumut di halaman yang taram-temaram. Langit senja dipantulkan pada permukaan
genangan air bundar kecil yang ada dalam bak itu. Tidak ada suatu suara pun yang
kedengaran dan pada saat itu Rokuonji tidak ubahnya bagai kuil yang terlantar.
Akhirnya aku berhasil memandang lurus ke muka ibuku. Sebuah senyuman terbayang
di sudut bibirnya yang berkilat dan aku dapat melihat gigj emasnya yang berkilauan.
"Ya,"jawabku tergagap-gagap sejadi-jadinya. "Tapi sebelum apa-apa, aku sudah
dipanggil dan tewas dalam pertempuran." "Bodoh," katanya. "Kalau mereka sudah
memasukkan orang gagap ke dalam pasukan tentara, maka riwayat Jepang betul-betul
berakhir sudah!" Aku duduk dengan tegang, meluap-luap karena kebencianku pada Ibu.
Tapi kata-kata yang kuucapkan dengan tergagap-gagap itu tidak lebih dari * semacam
helah. "Kuil Kencana ini mungkin terbakar dalam serangan udara," kataku. "Kalau
melihat keadaan sekarang," kata Ibu, "tidak akan mungkin ada serangan udara ke
Kyoto. Orang Amerika menghindarkannya." Aku tidak menjawab. Halaman yang makin
kelam memperoleh warna lunas laut. Batu-batu tenggelam dalam kemuraman, dan
karena bentuknya orang mungkin akan mengira bahwa mereka sudah bergumul dengan
buas. Ibu berdiri tanpa memperdulikan keheninganku lalu memandang dengan
seenaknya pada pintu kayu kamarku yang kecil. "Apa belum waktunya makan malam?"
tanyanya. 76 ITatkala hal ini kemudian kufikirkan lagi, maka aku sadar bahwa
kunjungan ibuku ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pemikiranku. Pada
kesempatan itulah aku mengerti bahwa Ibu. hidup dalam suatu dunia yang berbeda
sekali dari duniaku dan juga pada kesempatan itulah untuk pertama kali jalan fikirannya
mulai mengganggu aku. Ibu adalah orang yang sesuai dengan sifatnya, tidak akan punya
perhatian pada keindahan Kuil Kencana; sebaliknya, ia memiliki suatu pengertian
realistik yang bagiku asing sama sekali. Ia berkata bahwa suatu serangan udara terhadap
Kyoto tidak usah dikhawatirkan, dan biarpun aku mengingin-kan sebaliknya, mungkin
sekali apa yang ia katakan itu benar. Dan kalau tidak ada kemungkinan Kuil Kencana
itu diserang, maka untuk sementara waktu aku sudah kehilangan tujuan hidup dan dunia
tempat ku hidup akan h an cur berantakan. Sebaliknya, keinginan yang diutarakan Ibu
dengan tak disangka-sangka betul-betul memukau aku, biarpun aku muak
mendengamya. Ayah tidak pernah bicara apa-apa tentang ini, tapi siapa tahu ia juga
memiliki ambisi yang sama dengan Ibu waktu ia mengirimkan aku ke kuil ini. Bapa
Dosen bujangan. Karena ia memperoleh kedudukannya sekarang berkat pujian
pendeta sebelumnya yang telah menaruhkan harapannya padanya, maka tidak ada
alasan, selama aku berusaha baik-baik, kenapa aku tidak bisa menggantikan Bapa
Dosen sebagai Pendeta Kepala Rokuonji. Jika itu terjadi, maka Kuil Kencana akan jadi
milikku. Fikiranku jadi kacau. Jika keinginanku yang kedua mulai terasa berat, maka
aku kembali kepada angan-anganku yang pertama (bahwa Kuil Kencana akan dibom),
dan jika angan-angan itu hancur karena penilaian Ibu yang jernih dan realistik, aku
bertumpu pada keinginanku yang kedua, hingga aku akhirnya letih karena tak henti-
hentinya pulang-balik 78 dalam fikiranku, hingga akibatnya, di bagian bawah
tengkukku terdapat sebuah bengkak besar dan merah. Bengkak itu kubiarkan. Ia mulai
berakar dengan kukuh hingga menekan dari tengkukku dengan kekuatan yang besar dan
panas. Dalam tidur yang lelap, aku bermimpi bahwa sebuah cahaya emas murni tumbuh
di tengkukku, lalu mengitari bagian belakang kepalaku sebagai semacam lingkaran
cahaya dan meluas secara lambat laun. Tapi jika aku bangun, maka ini ternyata hanya
rasa sakit yang diseb'abkan oleh bisulku yang parah. Akhirnya badanku panas hingga
aku harus istirahat. Pendeta Kepala menyuruh aku pergi ke dokter. Dokter yang
mengenakan seragam nasional dengan salut-kaki kulit, mendiagnosa bengkakku dengan
nama Barah. Karena tidak mau memakai alkohol, maka ia mendesinfeksi pisaunya
dengan membakarnya di atas api, lalu membedah tengkukku. Aku mengerang. Dunia
yang panas dan berat meledak di belakang kepalaku, lalu aku menyusut dan akhirnya
pingsan. Peperangan berakhir. Yang kufikirkan waktu mendengarkan Pernyataan Kaisar
di pabrik yang mengumumkan berakhirnya permusuhan, hanya Kuil Kencana. Begitu
aku kembali dari pabrik tentu saja aku tergopoh-gopoh pergi ke depan Kuil Kencana. Di
jalan yang biasa dipergunakan para pengunjung, batu-batu kerikil menjadi panas karena
matahari pertengahan musim panas dan masuk satu demi satu ke dalam lobang-lobang
sepatu olahragaku. Di Tokyo, orang mungkin sekali pergi berdiri di depan istana Kaisar
setelah mereka mendengar pengumuman itu; di sini sejumlah besar orang pergi
menangis ke depan gerbang dan biara yang dapat dipakai untuk tempat menangis pada
kesempatan seperti ini. Para pendeta di masa itu tentu cukup makmur. Tapi sungguhpun
Kuil Kencana mempunyai peranan yang besar tidak ada orang yang datang
mengunjungi-nya hari itu. Dengan demikian maka hanya bayang-bayangku yang
kelihatan di batu panas itu. Untuk melukiskan keadaan dengan tepat, harus kukatakan
bahwa aku berdiri di satu fihak sedangkan Kuil Kencana itu di fihak lain. Dan mulai
saat aku mengarahkan pandanganku ke kuil hari itu, aku merasa bahwa hubungan
"kami" telah mengalami perubahan. Dalam hubungan dengan kejutan kekalahan atau
dukacita nasional, Kuil Kencana betul-betul merasa senang;
di saat-saat seperti itu ia mengatasi keduniawian, atau setidak-tidaknya berpura-pura
mengatasi keduniawian. Sampai hari itu Kuil Kencana tidak pernah seperti itu. Tak
sangsi lagi, kenyataan, bahwa ia akhirnya selamat dari pembakaran dalam suatu
serangan udara dan kini sesudah selamat dari bahaya, ia hendak menegakkan
ekspresinya yang dulu, sebuah ekspresi yang mengatakan: "Aku sudah dari zaman
purba ada di sini dan aku akan berada di sini selama-lamanya." Aku diam membisu,
bagai sebuah perabot yang bagus tapi tak berguna, dengan lapisan emas antik bagian
dalamnya terlindung oleh pernis matahari musim panas yang melapisi dinding-dinding
luar. Rak-rak pameran besar dan kosong litempatkan di depan kehijauan hutan
membakar. Benda-oenda hiasan apa yang dapat kita letakkan di atas rak itu? fidak ada
yang akan cocok dengan ukurannya kecuali sesuatu yang mirip dengan sebuah
pedupaan besar, atau lebuah kekosongan yang betul-betul seperti raksasa. Tapi £Mil
Kencana telah kehilangan hal-hal seperti itu; ia tiba-tiba $0 telah kehilangan hakikatnya
dan kini memamerkan sebuah bentuk yang kosong dan aneh. Yang paling aneh bahwa
dari semua saat di mana Kuil Kencana memperlihatkan keindahannya padaku, justru
pada saat inilah ia paling indah. Belum pernah kuil ini memperlihatkan keindahan yang
begitu mantap — keindahan yang mengatasi angan-anganku sekalipun, ya, yang
mengatasi seantero dunia kenyataan, sebuah keindahan yang tak punya hubungan sama
sekali dengan bentuk kesirnaan mana pun jua! Belum pernah keindahannya cemerlang
seperti ini, keindahan yang mengingkari arti yang mana pun jua. Tidaklah berlebih-
lebihan jika kukatakan bahwa waktu menatapnya kakiku gemetar dan keningku basah
oleh keringat dingin. Dulu, kalau aku kembali ke desa setelah melihat kuil ini, bagian-
bagiannya dan seluruh bangunannya menggema dengan semacam harmoni yang
musikal. Tapi kali ini yang kudengar hanyalah keheningan yang sempurna, kebisuan
yang lengkap. Tidak ada yang mengalir di sana, tidak ada yang berubah. Kuil Kencana
itu tegak di hadapanku, menjulang di depanku, bagai sebuah istirahat yang mengerikan
dalam sebuah musik, bagai sebuah keheningan yang menggema. "Ikatan antara Kuil
Kencana dan aku sudah terputus," kataku dalam hati. "Kini anggapan bahwa Kuil
Kencana itu dan aku hidup dalam sebuah dunia yang sama, sudah hancur. Kini aku akan
kembali ke keadaanku dulu, tapi aku akan lebih tanpa harapan dibandingkan dengan
dulu. Suatu keadaan, di mana aku berada di satu fihak sedangkan di fihak lain berada
keindahan. Suatu keadaan yang tidak akan mungkin bertambah baik selama dunia ini
ada." Kekalahan nusa dan bangsa bagiku adalah pengalaman keputusasaan seperti itu.
Bahkan kini aku masih dapat membayangkan di hadapanku cahaya musim panas yang
mirip api pada hari kekalahan itu, tanggal 15 Agustus. 81 Orang mengatakan bahwa
semua nilai sudah runtuh; tapi sebaliknya 'dalam diriku, keabadian bangkit, hidup
kembali dan menegaskan haknya. Keabadian yang mengatakan padaku, bahwa Kuil
Kencana akan berada di sana untuk selama-lamanya. Keabadian yang turun dari langit,
yang melekat pada pipi kita, tangan kita, perut kita, dan akhirnya mengubur-kan kita.
Alangkah terkutuknya dia! Ya, dalam teriakan-teriakan jangkrik yang menggema dari
bukit-bukit yang ada di sekeliling, aku dapat mendengar suara keabadian ini, keabadian
yang merupakan kutukan yang menimpa kepalaku, yang mengurung aku dalam sebuah
tuangan emas. Pada saat pembacaan sutra malam itu sebelum tidur, kami khusus
membacakan doa-doa panjang untuk kedamaian Sri Maharaja Kaisar dan untuk
menghibur arwah mereka yang tewas dalam peperangan. Semenjak perang pecah, telah
menjadi kebiasaan di antara pelbagai sekte untuk memakai pakaian yang sederhana, tapi
malam itu Pendeta Kepala mengenakan jubah merah yang sudah bertahun-tahun ia
simpan. Mukanya yang hcin dan tembam, yang kelihatan seolah-olah bebas dari semua
kerut, memberikan kesan seorang yang sehat hari itu dan seolah-olah melimpah dengan
kepuasan karena sesuatu. Dalam malam panas itu, desir-desir sejuk jubahnya ke den gar
an jelas sekali dalam kuil. Sehabis pembacaan sutra, maka semua yang ada di kuil
dipanggil ke kamar Pendeta Kepala untuk mendengarkan ceramah. Masalah kataketik
Zen yang ia pilih ialah "Nansen membunuh seekor kucing" dari Kejadian Keempat
Belas Mumonkan." "Nansen membunuh seekor kucing" (yang juga terdapat dalam
Kejadian Keenam Puluh Tiga Hekiganroku di bawah judul "Nansen membunuh seekor
anak kucing" dan dalam Kejadian Keenam Puluh Empat di bawah judul "Yosyu
memakai sandal- di atas kepalanya") dari masa dulu dianggap sebagai salah sebuah
masalah Zen yang paling pelik. Di Zaman Tang ada seorang pendeta Ch'an, Pu Yuan,
yang tinggal di Gunung Nan Chuan dan bernama Nan Chuan (Nansen menurut ejaan
Jepang) sesuai dengan nama gunung itu. Pada suatu hari, waktu semua rohaniwan
keluar untuk menyabit rumput, seekor anak kucing muncul di kuil pegunungan yang
penuh kedamaian itu. Semua orang heran melihat anak kucing itu. Binatang itu mereka
bum lalu mereka tangkap. Lalu ia jadi sumber pertengkaran antara kelompok Ruang
Timur dan kelompok Ruang Barat kuil itu. Kedua kelompok itu bertengkar siapa di
antara mereka yang akan memelihara anak kucing itu sebagai mainan. Bapa Nansen
yang memperhatikan ¦ semua ini, segera memegang leher kucing itu, lalu meletakkan
sabitnya pada anak kucing itu dan berkata sebagai berikut: "Jika di antara kalian ada
yang dapat mengatakan sesuatu maka kucing ini akan selamat; jika tidak maka ia akan
mati." Tidak ada yang bisa menjawab, hingga Bapa Nansen membunuh kucing itu lalu
melemparkannya jauh-jauh. Waktu malam turun, Santri Kepala, Yoshu, kembali ke kuil.
Bapa Nansen menceritakan padanya apa yang terjadi lalu menanyakan pendapatnya.
Yoshu segera membuka sepatunya, meletakkannya di atas kepalanya lalu pergi. Pada
saat itu, Nansen mengeluh dengan rasa perih sambil berkata: "Oh, sekiranya hari ini kau
ada di sini, maka anak kucing itu akan selamat." Begitulah garis besar kisah itu. Bagian
di mana Yoshu meletakkan sepatunya di atas kepalanya terkenal sebagai suatu masalah
yang luar biasa peliknya. Tapi menurut pendapat Pendeta Kepala, sebetulnya ia tidak
begitu pelik. Alasan maka Bapa Nansen membunuh kucing itu ialah karena dengan
berbuat begitu ia memotong semua keinginan 82 diri dan membuang semua fikiran yang
tidak. penting dan angan-angan dari fikirannya. Dalam mengamalkan ketiadaan
kepekaannya ini' ia telah memenggal kepala kucing itu dan dengan demikian serta-
merta memenggal semua per ten tangan, semua bantahan dan perpecahan antara diri
sendiri dan yang lain-lain. Ini dikenal sebagai Pedang Pembunuh, sedangkan perbuatan
Yoshu disebut Pedang Pemberi Hidup. Dengan melakukan tindakan yang begitu rendah
hati, seperti meletakkan barang-barang kotor dan hina seperti sepatu di atas kepala, ia
telah menunjukkan contoh praktis dan teladan Bodhisatwa. Setelah menjelaskan
masalah itu dengan cara begini, maka Pendeta Kepala mengakhiri ceramahnya tanpa
menyentuh-nyentuh soal kekalahan Jepang biarpun sekali. Kami merasa seolah-olah
sudah dipukau oleh seekor rubah. Kami sama sekah tidak mengerti kenapa justeru
masalah Zen yang ini yang dipilih pada hari kekalahan negeri kami. Waktu kami
berjalan menyusuri gang menuju kamar kami, aku mengutara-kan kesangsianku pada
Tsurukawa. Ia juga heran dan menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak mengerti,"
katanya. "Aku kira tidak akan ada yang bisa mengerti, kecuali orang yang seumur
hidupnya telah menjadi pendeta. Tapi kukira inti ceramah malam ini ialah, bahwa pada
hari kekalahan kita, ia justeru tidak boleh nyinggung-nyinggungnya dan sebaliknya
bicara tentang pembunuhan seekor kucing." Aku sendiri sama sekali tidak merasa sedih
karena kalah dalam peperangan ini, tapi kesan kebahagiaan yang tak terkira-kira yang
diperlihatkan oleh Pendeta Kepala membuat aku jadi resah. Hormat pada Kepala kita
adalah sesuatu hal yang menjamin ketertiban dalam sebuah kuil. Tapi selama tahun-
tahun yang lewat ketika aku berada dalam 84 asuhan kuil ini, aku sama sekali tidak
merasakan rasa cinta atau rasa hormat pada Kepala kami ini. Itu sendiri tidak mengapa.
Tapi semenjak Ibu menyalakan api ambisi dalam dadaku, aku mulai memandang Kepala
itu dengan daya kritis seorang anak berumur tujuh belas tahun. Kepala itu adalah
seorang yang adil dan tidak pilih kasih. Tapi keadilan dan sikapnya yang tidak berfihak
itu adalah keadilan dan sikap tidak berfihak yang dengan mudah rasanya dapat
kupamerkan sekira aku sendiri sudah jadi Kepala. Orang ini tidak memiliki rasa humor
seorang pendeta Zen yang khas. Ini adalah hal yang aneh, karena biasanya humor
adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari orang-orang gemuk seperti dia. Menurut
cerita orang, Pendeta Kepala itu telah menikmati perempuan sepuas-puasnya. Waktu
aku membayangkan bagaimana dia mengasyikkan diri dengan kesenangan ini, aku
merasa lucu, tapi sekaligus aku jadi resah. Bagaimana rasanya bagi seorang perempuan
jika ia dipeluk oleh badan yang mirip dengan kue kacang berwarna merah jambu?
Mungkin perempuan itu merasa, seolah-olah badan yang lembut dan merah jambu itu
mengembang sampai ke ujung-ujung dunia, seolah-olah ia dikuburkan dalam kuburan
daging. Aku merasa aneh bahwa seorang pendeta Zen juga memiliki daging. Mengapa
Pendeta Kepala begitu mabuk perempuan, mungkin karena ia ingin menunjukkan
kebehciannya pada daging dengan jalan mencampakkannya dari dirinya sendiri. Tapi
jika itu benar, maka aneh sekali kenapa daging yang begitu dibencinya itu begitu
banyak menyerap makanan dan kenapa ia melilitkannya dengan licin sekeliling
sukmanya. Daging, hina dan penurut bagai daging seekor hewan ternak yang terlatih.
Daging yang tak ubahnya seorang gundik bagi jiwa Pendeta Kepala itu. Aku harus
jelaskan apa arti kekalahan ini bagiku. Ini bukanlah pembebasan. Tidak, sama sekali
bukan pembebasan. Ini tidak lain daripada kembali pada kebiasaan Budhis yang abadi
tak berobah-robah, yang berpadu dengan kehidupan kita sehari-hari. Kebiasaan ini kini
sudah ditegakkan dengan kukuh, dan berlangsung terus tanpa perobahan sejak Hari
Penyerahan: "pembukaan peraturan", tugas pagi, pesta bubur, samadi, "obat" atau
makan malam, mandi, "membuka bantal". Pendeta Kepala melarang keras penggunaan
beras pasar gelap di kuil. Sebagai akibatnya, maka beras satu-satunya yang kami —
para murid — temui mengambang dalam mangkok-mangkok bubur kami yang sedikit
sekali isinya, adalah beras yang dikembangkan oleh jemaah, atau jumlah kecil yang
dibeli oleh Pengetua di pasar gelap. Pengetua mem belt beras ini dengan pertimbangan
bahwa kami calon pendeta kini sedang berada dalam usia tumbuh cepat dan karena itu
memerlukan makanan; tapi ia selalu berbuat seolah-olah beras pasar gelap ini adalah
bagian dari sumbangan orang pada -kufl. Kadang-kadang kami keluar membeli ubi
merah. Kami, dapat bubur tidak hanya untuk sarapan; makan siang dan makan malam
kami pun terdiri dari bubur dan ubi merah, hingga kami selalu lapar karenanya.
Tsurukawa meminta juadah pada orang tuanya, dan kadang-kadang dari Tokyo datang
kiriman bungkusan. Kalau malam sudah larut maka ia membawa perbekalan juadahnya
ke kamarku; lalu kami makan bersama-sama. Sekali-sekali halilintar menyambar di
gelap malam. Aku bertanya pada Tsurukawa kenapa ia mau tinggal di sini sedangkan ia
punya keluarga yang makmur dan orang tua yang penuh kasih-sayang. "Semua ini
bagiku semacam latihan menguasai diri," katanya menjelaskan. 'Tendeknya, kalau
sudah datang &b saatnya, maka aku akan mewarisi kuil Ayah." Rupa-rupanya tak ada
yang menyusahkan Tsurukawa. Ia cocok sekali dengan pola hidupnya, bagai sumpit
dalam kotak. Aku melanjutkan percakapan dengan mengatakan pada Tsurukawa
bahwa suatu masa baru dan tidak bisa dibayangkan mungkin akan datang ke negeri
kami. Aku ingat cerita yang dipercakapkan semua orang di sekolah beberapa hari
setelah penyerahan. Cerita itu adalah tentang seorang perwira yang bertanggung jawab
atas beberapa pabrik dan begitu perang berakh^ menumpuk satu truk barang lalu
membawanya ke rumahnya sendiri, sambil berkata dengan terus terang: "Mulai kini aku
akan mulai dengan kegiatan pasar gelap." Aku membayangkan perwira yang berani,
kejam dan berpandangan tajam itu, bagaimana ia berdiri di sana siap untuk berlari
menuju kejahatan. Jalan yang akan dia tempuh dengan sepatu separuh tinggi militernya
mengungkapkan kwalitas yang sama dengan kematian di medan pertempuran; ia
memiliki semacam kekacauan yang mengingatkan aku pada cahaya merah di kala fajar.
Setelah ia berangkat, maka selendang sutera putihnya akan berkibar-kibar di dada dan
dadanya akan terbuka untuk angin malam yang dingin yang masih melingkar-lingkar di
waktu pagi. Punggungnya akan bongkok sekali karena berat barang-barang curian: ia
akan melapah dirinya dengan kecepatan luar biasa. Tapi lebih jauh, lebih samar,
kudengar bunyi lonceng kekacauan di menara lonceng. Aku terpisah dari semua itu. Aku
tak punya uang, tak punya kebebasan, tidak punya kemajuan. Tapi pasti sekali bahwa
dalam otakku yang berumur tujuh belas tahun, kalimat "suatu masa baru" menyangkut
suatu kebulatan tekad untuk mengejar suatu tujuan,. biarpun belum lagi beroleh bentuk
yang kongkrit. 87 "Jika penduduk dunia ini," kataku dalam hati, "bermaksud untuk
mengecap kejahatan melalui hidup dan perbuatan, maka aku akan menyelam sedalam
mungkin ke dalam suatu dunia batin kejahatan." Tapi bentuk kejahatan yang mula-mula
kugambarkan untuk diriku sendiri mula-mula tidak lebih dari sebuah rencana untuk
merebut hati Pendeta Kepala dengan tipu muslihat dan dengan demikian merebut Kuil
Kencana, atau kalau tidak suatu impian gila seperti — misalnya — meracuni Pendeta
Kepala kemudian menggantikannya. Rencana ini malahan berguna untuk melegakan
hati sanubariku, begitu kuketahui bahwa Tsurukawa tidak memiliki keinginan seperti
itu. "Apa kau tidak punya kekhawatiran atau harapan untuk masa depan?" tanyaku
padanya. "Tidak, tidak ada sama sekali. Apa gunanya kupunyai?" Tidak ada yang
murung dalam caranya mengatakan, dan ia juga tidak bicara seenaknya. Waktu itu
sepintas kilat menerangi alis matanya yang tipis dan meninggi sedikit yang merupakan
satu-satunya bagian mukanya yang halus. Rupa-rupanya Tsurukawa sudah membiarkan
tukang cukur berbuat sekehendak hatinya waktu mencukur bagian atas dan bawah
alisnya; hingga alisnya yang tipis jadi makin tipis dan di ujungnya kita bisa melihat
sebuah bayang-bayang biru samar, di tempat pisau cukur menggores. Waktu aku melihat
wama biru itu, aku jadi gelisah. Anak muda yang duduk di depanku ini terbakar di ujung
kemumian hidup. Ia berbeda dari aku. Masa depannya begitu tersembunyi hingga ia
terbakar. Sumbu masa depannya terapung di atas minyak yang jernih dan sejuk.
Siapakah di dunia ini yang diwajibkan meramalkan kemumian dan kesuciannya?
Artinya, jika yang tersisa baginya untuk masa depan hanya kesucian dan kemumian? 88
Malam itu setelah Tsurukawa kembali ke kamarnya, aku tidak bisa tidur karena hawa
panas akhir musim panas terasa sebagai uap. Kecuali suhu udara, kebulatan hatiku
untuk melawan kebiasaanku melakukan onani menghilangkan keinginanku untuk tidur .
. . Kadang-kadang dalam tidurku aku mengeluarkan mani. Ini sama sekali tidak ada
sangkut-pautnya dengan mimpi seks yang kongkrit. Misalnya, seekor anjing hitam
berlari di jalan yang gelap: aku dapat melihat nafasnya yang terengah-engah keluar
bagai api dari mulutnya, dan aku makin terangsang mengikuti bunyi lonceng yang
tergantung di lehemya; lalu, kalau bunyi lonceng itu sudah mencapai nada terkeras,
maka aku akan mengeluarkan mani. Jika aku lagi melakukan onani, maka fikiranku
penuh dengan gambaran-gambaran yang mengerikan. Aku melihat buah dada Uiko.
Lalu pahanya muncul di hadapanku. Dan sementara itu aku sudah berobah menjadi
seekor serangga yang. kecil dan buruk. . . . Aku melompat dari tempat tidur lalu
menyelinap ke luar gedung lewat pintu belakang perpustakaan kecil. Di belakang
Rokuonji dan sebelah barat Yukatei ada sebuah gunung yang bernama Fudosan. Ia
ditumbuhi oleh banyak tusam merah, dan tersebar di sela-sela rumpun-rumpun bambu
yang tebal, yang terhampar di antara pepohonan itu, tumbuh deutsia, azalea dan
tumbuh-tumbuhan lain. Aku begitu kenal gunung ini hingga ia bisa kudaki di malam
hari tanpa tersandung-sandung. Dari puncaknya kita dapat melihat Kyoto Atas dan
Kyoto Pusat, sedangkan di kejauhan kelihatan gunung-gunung Eizan dan
Daimonjiyama. Aku mendaki lereng itu. Aku mendaki menuju bunyi bumng yang
mengepak-ngepakkan sayap mereka ketakutan ketika aku lewat; aku tidak melihat ke
samping dan aku 89 berhasil mengelakkan tunggul-tunggul kayu. Aku merasa segera
sembuh jika aku mendaki seperti ini tanpa punya fikiran apa-apa. Waktu aku sampai di
puncak, angin malam yang sejuk menghembus badanku yang berkeringat. Aku
terpesona melihat pemandangan di depanku. Pengge-lapan sudah lama ditiadakan. dan
kini sebuah lautan cahaya terentang di kejauhan. Hal ini kurasakan hampir-hampir
sebagai keajaiban. karena semenjak per an g be r akhir aku belum ke mari sekali juga di
waktu malam. Cahaya itu merupakan sebuah badan yang kukuh. Mereka bertebaran di
seluruh permukaan yang ceper, tanpa memberikan kesan jauh atau dekat; yang timbul di
hadapanku di waktu malam adalah sebuah bangunan besar dan bening yang seluruhnya
terdiri dari cahaya, yang rupa-rupanya menyebarkan menaranya yang bersayap dan
mempunyai tanduk-tanduk yang rumit. Ini mem an g sebuah kota. Hanya hutan di
sekitar istana Kaisar yang tidak diterangi dan kelihatan seperti sebuah gua besar yang
hitam. Sekali-sekali di arah Gunung Eizan; kilat kelihatan di langit kelam. "Inilah,"
kataku dalam hati, "alam duniawi. Kini setelah perang berakhir, maka di bawah cahaya
itu manusia dihalau oleh fikiran-fikiran jahat. Pasangan-pasangan yang tak terhitung
jumlahnya tatap-menatap dalam cahaya itu, dan dalam hidungku terdapat bau perbuatan
yang sama dengan kematian, yang telah mulai mendesak mereka secara langsung.
Waktu aku ingat bahwa cahaya-cahaya yang tak terhitung jumlahnya ini semuanya
cahaya yang merusak, maka hatiku jadi terhibur. Tolong perbesar kejahatan dalam
hatiku dan perbanyak jumlahnya sampai tak ada batasnya, hingga ia bisa menyesuaikan
diri dalam segala macam segi dengan cahaya besar yang ada di hadapanku! Biarkan
kegelapan hatiku, tempat kejahatan itu terkurung, menyamai kegelapan malam, yang
mengurung cahaya yang tak terhitung jumlahnya itu!" Jumlah pengunjung ke Kuil
Kencana bertambah. Pendeta Kepala telah memohonkan pada pemerintah kota dan
permohonannya ini dikabulkan untuk menaikkan harga tanda masuk supaya sesuai
dengan inflasi. Pengunjung-pengunjung yang bertebaran yang sampai kini kulihat
adalah orang-orang kecil yang mengenakan pakaian seragam, baju kerja atau celana
gelembung semasa perang. Tapi kini Tentara Pendudukan sudah datang dan tidak lama
kemudian kebiasaan murtad kehidupan duniawi mulai berkembang sekitar Kuil
Kencana. Tapi perobahan ini tidak semuanya merupakan keburukan; karena adat
persembahan teh dihidupkan kembali, dan banyak di antara pengunjung wanita kini
datang ke kuil dengan berbaju riang dan berwarna-warni yang selama ini, dalam masa-
masa perang, mereka simpan. Kami para rohaniwan dengan pakaian kami yang
berwarna gelap kini mulai muncul sebagai kontras; kelihatan-nya seolah-olah kami
memainkan peranan rohaniwan hanya sebagai hiburan, atau kelihatannya kami seolah-
olah penduduk suatu daerah yang berusaha keras untuk mempertahankan adat kebiasaan
lama untuk kepentingan wisatawan yang datang untuk melihatnya. Prajurit-prajurit
Amerika terutama, sangat sekali terheran-heran melihat kami: Biasanya mereka
menarik-narik lengan jubah kami tanpa segan-segan dan mentertawakan kami. Kadang-
kadang mereka menawarkan uang pada kami asal mereka diperbolehkan mengenakan
jubah kami; dengan berdandan seperti itu mereka lalu membuat foto untuk dijadikan
kenang-kenangan. Hal-hal seperti inilah yang terjadi jika aku dan Tsurukawa disuruh
mempergunakan 91 90 bahasa Inggeris kami yang patah-patah pada pengunjung-
pengunjung asing sebagai pengganti penunjuk jalan biasa, yang tidak bisa berbahasa
Inggeris sama sekali. Waktu itu musim dingin pertama sesudah perang. Salju turun
mulai malam Jumat dan masih terus turun pada hari Sabtu. Waktu aku pagi itu berada di
sekolah, aku sudah menunggu-nunggu saat pulang di sore hari supaya dapat melihat
Kuil Kencana diselimuti salju. Juga di waktu sore salju turun. Aku meninggalkan jalan
para pengunjung lalu menuju ke pinggir Kolam Kyoto sambil mengenakan sepatu karet
dan menyandang tas sekolahku di bahu. Salju turun dengan semacam kecepatan yang
lancar. Tatkala aku masih kanak-kanak aku sering kali menengadahkan kepalaku ke
salju dengan mulut ternganga; sekarang aku juga melakukan itu, lalu gumpalan-
gumpalan salju menyentuh gigiku dan memperdengarkan suara seolah-olah mereka
memukul sehelai plat timah yang tipis sekali. Aku merasakan salju itu menyebar dalam
lobang mulutku yang hangat hingga ia Iumer begitu ia menyentuh permukaan daging
yang merah. Di saat itu aku membayangkan mulut burung funiks yang berada di puncak
Kukyocho. Mulut burung berwarna emas dan penuh rahasia, yang panas, licin. Salju
memberikan rasa muda kepada kita semua. Apa salah kalau kukatakan, bahwa aku yang
belum lagi berumur delapan belas tahun kini merasakan suatu getaran penuh kemudaan
dalam diriku? Kuil Kencana itu indah tidak tepermanai kala diselimuti oleh salju. Ada
sesuatu yang menyegarkan pada kulit telanjang gedung tertiup angin itu, dengan tiang-
tiangnya menjulang berdekat-dekatan, dan dengan salju yang bertiup masuk dengan
bebas. "Kenapa salju tidak gagap?" demikian aku bertanya dalam hati. Kadang-kadang
kala salju bergeser dengan daun-daun yatsude, ia jatuh ke tanah seakan-akan ia memang
gagap. Tapi jika aku sendiri merasa mandi dalam salju, yang turun dengan lembut terus-
menerus dari langit, aku lupa kekusutan dalam hatiku dan aku seolah-olah kembali pada
suatu irama jiwa yang lebih ramah, seakan-akan dimandikan dalam musik. Berkat salju,
maka Kuil Kencana yang berukuran tiga dimensi ini kini betul-betul jadi gambar yang
ceper, sebuah gambar dalam gambar. Ia tidak lagi menunjukkan rasa permusuhan pada
apa yang berwujud di luar dirinya. Dahan-dahan pohon mapel yang berjuluran ke kedua
sisi kolam itu hampir-hampir tak sanggup menahan salju sehingga hutan kini kelihatan
lebih telanjang dari biasa. Di sana-sini kelihatan salju menumpuk dengan bagus sekali
di pohon-pohon tusam. Salju juga tebal di atas permukaan kolam yang beku; tapi
anehnya, ada tempat-tempat yang tidak bersalju sama sekali dan menyolok karena
tambalan-tambalan putih yang mirip awan dalam lukisan hiasan. Karang Kyusanhakkai
dan Pulau Awaji dipersatukan oleh salju di atas permukaan kolam yang beku itu, dan
pohon-pohon tusam kecil yang tumbuh di sana kelihatan seolah-olah secara kebetulan
tumbuh di tengah-tengah padang es dan salju. Tiga bagian dari Kuil Kencana putih
sekali — atap Kukyocho, Choondo dan atap kecil Sosei. Bagian gedung yang
selebihnya yang tidak didiami tampak gelap dan dalam kehitaman bangunan kayu yang
rumit menonjol ke atas salju, ada sesuatu yang menyegarkan. Seperti kalau kita
memperhatikan sebuah kuil yang bersarang di antara pegunungan dalam lukisan tertentu
pelukis-pelukis Mazhab Selatan, lalu muka kita dekatkan ke kanvas untuk melihat
kalau-kalau ada orang tinggal di balik dinding itu, begitu juga pukauan kayu hitam yang
ada di depanku membuat aku 93 merasa ingin tahu apa menara kuil itu tidak didiami
orang. Tapi biarpun mukaku kudekatkan pada Kuil Kencana, aku hanya akan terbentur
ke kanvas sutera salju yang dingin; lebih dekat dari itu aku tidak bisa mendekat. Juga
hari ini pintu-pintu Kukyocho dibukakan untuk udara yang penuh salju. Jika aku
menengadah melihatnya, maka aku melihat dengan jelas bagaimana salju yang jatuh itu
berputar-putardi tempat kecil yang kosong di Kukyocho, dan bagaimana sesudah itu
mereka hinggap pada lapisan emas dindingnya yang sudah tua dan kusam, dan tinggal
di sana sampai mereka membentuk tumpak-tumpak kecil embun emas. Hari berikutnya
adalah hari Minggu. Pagi hari penunjuk jalan tua itu datang menjemput aku. Rupa-
rupanya ada seorang serdadu asing yang datang untuk melihat-lihat kuil itu sebelum jam
buka yang biasa. Penunjuk jalan itu mempergunakan bahasa tangan untuk meminta
serdadu itu menunggu, lalu pergi menjemput aku, karena seperti katanya, aku fasih
bahasa Inggeris. Anehnya bahasa Inggerisku lebih baik dari bahasa Inggeris Tsurukawa
dan tidak pernah gagap kalau aku berbicara. Sebuah jip kelihatan di dekat pintu masuk.
Seorang serdadu Amerika yang sedang mabuk lagi bersandar pada salah sebuah tiang.
Waktu aku datang ia memandang padaku lalu tertawa dengan penuh ejekan. Kebun
depan gemerlapan karena salju yang baru turun. Di hadapan latar belakang yang
gemerlapan ini, wajah serdadu yang muda dan penuh lipatan-lipatan tebal itu
menghembuskan awan uap putih bercampur bau wiski ke arahku. Sebagai biasa, aku
merasa resah jika aku mencoba membayangkan perasaan apa yang hidup dalam diri
seseorang yang besarnya begitu berbeda dari aku. Karena aku sudah menjadikan
kebiasaan tidak melawan orang lain, aku menyatakan setuju untuk mengantarkannya
melihat-lihat kuil, biarpun waktu itu masih belum waktu buka. Aku minta ongkos
masuk dan ongkos penunjuk jalan. Anehnya, orang mabuk bertubuh besar itu sama
sekali tidak mau membayar. Lalu ia melihat ke dalam jip dan mengucapkan sesuatu
yang berarti "Keluar!" Karena salju yang menyilaukan, aku sebegitu jauh tidak bisa
melihat ke dalam jip yang gelap itu. Tapi kini aku melihat sesuatu yang putih bergerak
di balik jendela jip itu. Aku merasa seolah-olah ada seekor kelinci yang bergerak di
dalamnya. Sebuah kaki yang dibungkus oleh sepatu bertumit tinggi langsing diturunkan
ke tangga jip. Aku heran melihat kaki itu sama sekali tidak dibungkus oleh kaus
panjang, biarpun hari sangat dingin. Dengan sekali lihat aku tahu bahwa gadis itu adalah
seorang pelacur yang menyeltiakan diri untuk serdadu asing: karena ia mengenakan
mantel merah menyala sedangkan kuku tangan dan kakinya juga dicat dengan warna
yang sama. Waktu bagian bawah mantelnya terbuka, aku melihat bahwa di baliknya ia
mengenakan sehelai gaun tidur yang sudah kotor terbuat dari kain handuk. Gadis itu
juga mabuk sekali dan matanya kaku. Lelaki itu mengenakan seragam yang rapi; tapi
perempuan itu hanya menyelimutkan sehelai mantel dan selendang untuk menutupi
gaun tidumya, setelah rupanya baru saja bangun dari tempajt tidur. Dalam pantulan
salju, wajah gadis itu pucat sekali. Karena kulitnya yang putih, yang hampir-hampir
tidak memperlihatkan warna sama sekali, merah gincu bibirnya menyolok sekali. Begitu
menginjak tanah ia bersin; kerut-kerut kecil berkumpul di tulang hidungnya yang
ramping, dan matanya yang mabuk dan lelah memandang nanap ke kejauhan selama
sesaat, sebelum ia tenggelam kembali ke dalam sorotan yang dalam dan 95 94 berat.
Lalu ia memanggil nama lelaki itu. "Jeku, Jeku!"*) katanya. 'Tsu korudo, tsu
korudo/"**) Suara gadis itu berkelana dengan sedih di atas salju, waktu ia mengatakan
bahwa ia kedinginan. Lelaki itu tidak menjawab. Baru kali ini aku melihat seorang
pelacur yang betul-betul cantik. Bukan karena ia mirip Uiko. Ia tak ubahnya sebuah
potret yang dilukis dengan hati-hati sekali supaya tidak mirip dengan Uiko dalam hal
apa pun jua. Gadis ini memiliki kecantikan yang segar dan menantang yang dengan
salah satu cara rupanya telah tercipta sebagai reaksi terhadap kenanganku pada Uiko.
Ada sesuatu yang bersifat menyanjung dalam penolakan pada nafsu syahwatku yang
merupakan buntut dari penghayatanku yang pertama tentang keindahan dan kecantikan.
Hanya dalam satu hal ia serupa dengan Uiko. Yaitu, ia sama sekali tidak melihat padaku
biarpun sekilas selama aku berada di sana. Aku meninggalkan jubah pendetaku dan aku
memakai sehelai switer kotor dan sepatu karet. Semua orang di biara sudah keluar
semenjak pagi untuk menyodok salju, tapi mereka baru selesai membersihkan jalan
pengunjung. Bahkan kini akan susah sekali jika ada rombongan besar pengunjung yang
datang. Tapi untuk sebuah rombongan kecil yang berjalan satu-persatu, cukup jalan.
Aku berjalan mendahului serdadu Amerika dan gadis itu. Waktu orang Amerika itu
sampai ke kolam dan melihat pemandangan yang terungkap di hadapannya ia
mengangkat tangan lalu meneriakkan sesuatu dengan kata-kata yang tidak bisa
kufahami. Lalu ia menggoncang-goncangkan tubuh gadis *) Jack, Jack!"
**) Too cold, too cold!" 96 itu sejadi-jadinya. Gadis itu mengernyitkan alisnya dan
hanya berkata: "Oh Jeku, tsu korudoV Orang Amerika itu menanyakan padaku tentang
buah aoki merah yang berkilat dan kelihatan di balik dedaunan yang penuh salju, tapi
aku tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali "Aoki". Mungkin juga dalam badannya yang
besar itu tersem-bunyi jiwa seorang penyair yang sendu, tapi aku merasa, bahwa dalam
matanya yang biru dan bening terbayang kekejaman. Sajak anak-anak "Ibu Angsa"
menyebut mata hitam sebagai mata kejam dan licik; soalnya jika orang membayangkan
kekejaman, maka orang biasanya menempelkan ciri-ciri^sing padanya. Aku mulai
menjelaskan Kuil Kencana itu menurut aturan baku para penunjuk jalan. Serdadu itu
masih mabuk dan ia berdiri terhuyung-huyung. Dengan jari-jariku yang kebal
kukeluarkan dari kantongku naskah Inggeris tentang Kuil Kencana yang biasanya
kubacakan pada kesempatan seperti ini. Tapi orang Amerika itu merampas buku itu dari
genggaman-ku lalu mulai membaca dengan nada lucu. Aku melihat bahwa penjelasanku
tidak lagi diperlukan. Aku bersandar pada terali Hosui-in dan memandang ke
permukaan kolam yang berkilat-kilat dengan hebat sekali. Belum pernah bagian dalam
Kuil Kencana ini dihadapkan pada cahaya seperti ini — begitu cemerlang hingga kita
jadi risau karenanya. Waktu aku mengangkat kepala kulihat bahwa antara lelaki dan
perempuan itu telah terjadi pertengkaran. Mereka lagi berjalan meMju Sosei.
Pertengkaran makin lama makin hangat, tapi aku tidak bisa menangkap biar satu kata
pun. Perempuan itu menjawab dengan nada kasar; aku tidak tahu apa ia berbahasa
Inggeris atau Jepang. Keduanya berjalan kembali ke Hosui-in, sambil bertengkar. Rupa-
rupanya mereka sudah 97 lupa akan kehadiranku. Orang Amerika itu mengangkat muka
menghadapi gadis itu lalu mulai memaki-makinya. Perempuan itu menampar pipi
serdadu itu dengan sekuat tenaga. Sudah itu ia berbalik lalu berlari dengan sepatu
bertumit tinggi menuju pintu masuk. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi aku juga
meninggalkan Kuil Kencana lalu berlari sepanjang pinggir kolam. Waktu aku sampai ke
tempat gadis itu, orang Amerika yang berkaki panjang itu telah berhasil mengejar dia
dan menyambar kerah mantel merah gadis itu. Waktu berdiri memegang gadis itu, ia
memandang padaku. Ia melonggarkan pegangannya pada kerah merah nyala gadis itu.
Di tangannya itu rupa-rupanya ada kekuatan yang luar biasa; karena, waktu kerah itu ia
lepaskan, gadis itu jatuh lambat-lambat ke belakang, ke atas salju. Bagian bawah mantel
merahnya terbuka dan pahanya yang tersingkap dan putih terkangkang di atas salju.
Gadis itu tidak berusaha untuk bangkit. Dari tempat ia duduk ia membelalak ke mata
raksasa yang menjulang tinggi di atasnya. Aku terpaksa berlutut untuk menolongnya
berdiri. Waktu aku mau berbuat begitu, orang Amerika itu berteriak: "Hei!" Aku
berbalik. Ia berdiri di atasku dengan kaki mengangkang. Ia memberi isyarat padaku
dengan jarinya. Lalu dengan suara yang sama sekali sudah berubah - hangat dan manis
— ia berkata dalam bahasa Inggeris: "lnjak dia. Coba injak dia!" Aku tidak mengerti
apa yang dia maksud. Tapi di matanya yang biru jelas sekali kesan memerintah waktu ia
memandang padaku dari ketinggiannya. Di belakang bahunya aku dapat melihat Kuil
Kencana yang diselimuti salju bersinar-sinar di bawah langit musim dingin yang biru,
hambar dan tak memperlihatkan garis-garis nyata. Di matanya sedikit pun 98 tak
kelihatan tanda-tanda kekejaman. Aku tidak tahu kenapa, tapi pada saat itu aku merasa
matanya sangat sendu sekali. Tangannya yang besar turun, lalu memegang pangkal
leherku dan mengangkat aku sampai aku berdiri. Tapi nada perintahnya. masih hangat
dan lembut. "Injak dia!" katanya. "Dia harus kauinjak!" Karena tak sanggup
membangkang aku mengangkat kakiku yang disalut oleh sepatu tinggi. Orang Amerika
itu mehepuk bahuku. Kakiku turun lalu aku menginjak sesuatu yang lunak bagai lumpur
musim semi. Perut gadis itu. Gadis itu mengatupkan matanya lalu mengerang. "Terus,
injak! Terus!" Aku menurunkan kakiku ke atas tubuh gadis itu. Rasa tak senang yang
kurasakan waktu pertama kali menguijaknya kini digantikan oleh semacam kesenangan.
"Ini perut wanita," kataku dalam hati. "Ini buah dadanya." Aku tidak pernah mengira
bahwa tubuh orang lain bisa menantang seperti ini dengan kepegasan yang sungguh-
sungguh. "Cukup," kata orang Amerika itu dengan tegas. Lalu dengan sopan gadis itu
ditolongnya berdiri dan membersihkan lumpur dan salju dari mantelnya. Sudah itu
ditolongnya gadis itu masuk jip kembali. Ia berjalan mendahului aku tanpa berpaling ke
jurusanku; gadis itu sendiri tidak pernah memalingkan muka padaku. Waktu mereka
sampai ke dekat jip, ia menyilakan gadis itu naik dulu. Pengaruh wiski itu rupanya
sudah habis; orang Amerika itu berpaling padaku lalu berkata dengan sungguh-sungguh:
"Terima kasih." Ia mau memberi aku uang tapi kutolak. Lalu ia mengeluarkan dua kotak
besar rokok Amerika dari tempat duduk jip itu lalu memaksakannya padaku. Dengan
pipi menyala aku berdiri di pintu masuk dalam pantulan salju yang keras sekali. Jip itu
berjalan menuju 99 kejauhan, sambii mengepulkan awan salju, lalu hilang dari niata.
Tubuhku berdenyut karena kebingungan. Setelah kebingungan itu berlalu, aku
memikirkan suatu rencana yang memungkinkan sediMt latihan kemunafikan yang
menyenangkan. Pendeta Kepala senang rokok! Alangkah senangnya dia menerima
hadiah ini! Tanpa mengetahui apa-apa. Bagiku tidak ada perlunya untuk
mengungkapkan semua yang sudah terjadi. Aku hanya berbuat sebagaimana harusnya
karena aku diperintah dan dipaksa. Kalau orang Amerika itu kulawan. aku tidak tahu
kesusahan apa yang akan harus kualamL Aku pergi ke kantor Pendeta Kepala di
Perpustakaan Besar. Kepalanya sedang dicukur oleh Pengetua yang pandai sekali dalam
pekerjaan itu. Aku menunggu di ujung beranda, di mana matahari pagj bersinar dengan
kekuatan penuh. Di taman, salju bertumpuk di atas Pohon Tusam Kapal Layar dan
berkilat dengan cemerlang; kelihatannya benar-benar seperti layar baru yang dilipat.
Pendeta Kepala menutup matanya waktu dicukur. Ia memegang selembar kertas untuk
menampung rambut yang jatuh dari kepala. Bentuk kepala Pendeta Kepala yang kasar
dan hewani makin lama makin menonjol dengan makin lamanya Pengetua itu
mencukur. Setelah ia selesai, Pengetua membungkus kepala itu dengan handuk panas.
Setelah beberapa saat handuk itu ia angkat lalu muncullah sebuah kepala yang baru
lahir, berkilat, yang memberikan kesan seolah-olah ia baru direbus. Aku berhasil
menyampaikan pesanku lalu menyerahkan kedua kotak rokok Chesterfield seraya
membungkuk. "Ha!" kata Pendeta Kepala, "Terima kasih banyak atas susah payahmu." '
la tersenyum sedikit, seakan-akan ia ketawa hanya dengan 100 ujung mukanya. Hanya
sekian. Lalu dengan cekatan ia menerima kedua kotak itu lalu meletakkannya begitu
saja di atas mejanya yang penuh dengan tumpukan kertas dan surat-surat yang serba
beragam. Pengetua mulai memijit bahunya, dan Pendeta Kepala sekali lagi
mengatupkan matanya. Bagiku tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri. Tubuhku
panas karena tidak puas. Tindakan rahasia dan jahat yang telah kulakukan, rokok yang
kuterima sebagai hadiah, diterima oleh Pendeta Kepala tanpa mengetahui kenapa rokok
itu kuperoleh — semua ini harus memperkuat sesuatu yang lebih dramatis dan keras.
Bahwa seseorang yang mempunyai kedudukan seperti Pendeta Kepala sampai tidak
tahu sama sekali apa yang teraadi merupakan alasan lain yang penting bagiku untuk
menaruh benci padanya. Tapi waktu aku mau meninggalkan kamar itu, ia menahanku.
"Begini!" katanya. "Aku bermaksud mengirim kau ke Universitas Otani begitu kau
tamat dari sekolahmu. Kini kau harus gjat belajar, Nak, supaya angka-angkamu baik
kalau nanti ada ujian. Itu yang sangat diinginkan almarhum ayahmu. Ia selalu
memikirkan agar kau dapat angka baik di sekolah." Berita ini segera disebarkan oleh
Pengetua ke seluruh kuil. Jika seorang calon pendeta mendapat didikan universitas atas
anjuran Pendeta Kepalanya, maka itu berarti bahwa ia tentu seorang yang sangat sekali
memberikan harapan. Dulu sering terjadi bagaimana seorang calon pendeta setiap
malam datang ke kamar Pendeta Kepala untuk memijit bahunya, dengan harapan akan
dipujikan mendapat pendidikan universitas — biasanya harapan ini dipenuhi.
Tsurukawa yang akan masuk universitas dengan ongkos orang tuanya, menepuk bahuku
kegjrangan waktu ia mendengar berita itu. Sedangkan calon-calon pendeta yang lain,
yang tak 101 pernah mendengar sesuatu pemberitahuan dari Pendeta Kepala bahwa
akan disuruh melanjutkan pelajaran ke universitas,tidak mau lagi menegur aku sesudah
kejadian itu. Bab Empat DALAM musim semi tahun 1947, datanglah saat bagiku untuk
memulai pelajaran persiapan di Universitas Otani. Tapi masukku ke universitas
bukanlah suatu kejadian meriah dan aku hanya didampingi oleh simpati Pendeta Kepala
yang teguh dan rasa iri hati kawan-kawan sejawatku di kuil. Dilihat dari luar kejadian
ini kelihatan seperti membanggakan, tapi sebetulnya masukku ke universitas ini
dikelamkan oleh keadaan yang tidak ingin kuingat. Pada suatu hari waktu aku kembali
dari sekolah, kira-kira seminggu setelah pagi penuh salju ketika Pendeta Kepala
memberikan izin padaku untuk masuk universitas, ada seorang calon pendeta lain yang
tidak mempegbleh persetujuan masuk universitas sedang melihat padaku dengan wajah
yang bahagia luar biasa. Sampai saat ini anak muda itu tidak pernah menegur aku. Sikap
Pegawai Biara dan Pengetua juga kelihatan agak berubah. Tapi dari tingkah laku mereka
terhadap aku kelihatan bahwa mereka berusaha untuk tidak memperlihatkan sikap yang
berbeda dari sebelumnya Malam itu aku pergi ke kamar Tsurukawa lalu mengeluh
tentang perobahan sikap orang terhadap aku di kuil. Mula-mula ia memiringkan
kepalanya dan berusaha meyakinkan aku bahwa tidak ada apa-apa; tapi ia bukan orang
yang bisa menyembunyikan perasaan dan tidak berapa lama kemudian ia menatap aku
dengan air muka orang bersalah. 103 "Aku mendengamya dari kawan yang lain,"
katanya, sambil menyebut nama rekan sesama calon pendeta, "dan kawan itu juga hanya
mendengar kabar angin, karena waktu hal itu terjadi ia juga sedang berada di sekolah.
Tapi rupa-rupanya ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi waktu kau pergi." Aku
merasakan suatu firasat yang samar-samar tapi aku meneruskan pertanyaanku.
Tsurukawa meminta supaya aku berjanji akan merahasiakan cerita itu. Sambil
memandang nanap kepadaku, ia mulai bicara. Pada sore hari itu seorang gadis telah
mengunjungi kuil lalu minta ketemu dengan Pendeta Kepala. la mengenakan mantel
merah dan jelas sekali bahwa ia seorang pelacur yang melacurkan diri pada orang asing.
Pengetua menemuinya di pintu masuk sebagai wakil Pendeta Kepala. Gadis itu memaki-
maki Pengetua itu dan mengatakan lebih baik mempertemukannya dengan Pendeta
Kepala sekiranya ia ingin selamat. Waktu itu kebetulan Pendeta Kepala lewat di gang.
Gadis itu menceritakan padanya, kira-kira seminggu sebelumnya, pada pagj hari setelah
hujan salju turun, ia mengunjungi kuil itu bersama seorang serdadu asing. Serdadu itu
memukul dia sampai jatuh,lalu salah seorang calon pendeta berusaha untuk mengambil
muka dengan menginjak perutnya. Malam itu ia keguguran. Oleh karena itu berhak
untuk minta ganti uang dari kuil itu. Jika mereka tidak mau memberi, maka ia akan
mengungkapkan kejahatan yang telah terjadi itu dan akan mengumumkan tuntutannya
secara luas. Pendeta Kepala memberikan sedikit uang tanpa berkata apa-apa lalu
menyuruh dia pulang. Semua orang tahu bahwa akulah yang bertugas sebagai penunjuk
jalan hari itu, tapi Pendeta Kepala mengatakan karena di kuil tidak ada saksi yang
melihat perbuatanku, maka soal itu tidak boleh disebut-sebut. Ia sendiri bermaksud
untuk menutup mata terhadap itu. Tapi semua orang di kuil itu segera curiga bahwa
akulah biang keladinya waktu mereka mendengar cerita itu dari Pengetua. Tsurukawa
memegang tanganku. Aku melihat bahwa dia hanipir-hampir menangis. Ia memandang
padaku dengan mata yang jernih lalu memohon padaku dengan suaranya yang jujur dan
kekanak-kanakan: "Apa betul kau sudah melakukan hal seperti itu?" Aku menghadapi
perasaan murungku sendiri. Tsurukawa memaksa aku untuk menghadapinya dengan
menanyakan pertanyaan itu padaku. Kenapa hal itu ia tanyakan? Apa demi
persahabatan? Apa dia sadar bahwa dengan mengajukan pertanyaan seperti itu ia telah
menyia-nyiakan kewajibannya yang sejati? Apa dia tahu bahwa dengan pertanyaan itu
ia telah mengkhianati bagian diriku yang paling dalam?
Aku sudah berkali-kali mengatakan: Tsurukawa adalah gambaranku yang positif. Jika
Tsurukawa melakukan kewajibannya dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan
memaksakan pertanyaan itu padaku, ia tidak akan menanyakan apa-apa, tapi sebaliknya
akan menerima perasaan murungku sebagaimana adanya lalu memindahkannya pada
perasaan yang menggembi-rakan. Maka dusta akan jadi kebenaran, dan kebenaran akan
jadi dusta. Jika Tsurukawa mengikuti cara-caranya yang khas — cara-caranya untuk
merobah semua kegelapan jadi kecerahan, malam jadi siang, cahaya bulan jadi sinar
matahari, kelembaban lumut malam jadi desir-desir dedaunan muda yang berkilat di
kala siang — aku boleh saja menggagapkan suatu pengakuan. Tapi pada kesempatan ini
ia tidak berbuat begitu. Oleh karena itu perasaan murungku jadi lebih kuat karenanya.
Aku ketawa dengan penuh arti. Malam kelam di kuil tak 105 berapi. Lutut dingin.
Tiang-tiang tua kuil itu menjulang sekeliling kami sewaktu kami duduk mcncangkung
melakukan percakapan rahasia. Aku hanya mengenakan baju tidur hingga mungkin
karena kedinginan maka aku menggigil. Tapi kenikmatan yang kurasakan karena
berdusta secara terbuka untuk pertama kali pada kawanku sudah cukup membuat
lututku gemetar. "Aku tidak berbuat apa-apa," kataku. "Betul?" kata Tsurukawa. "Jadi
perempuan itu berdusta. Persetan dia! Tidak masuk akal kenapa Pengetua juga ikut-ikut
percaya," Kemarahan Tsurukawa yang dapat dimengerti makin besar, sampai ia
menyatakan bahwa ia bermaksud untuk bicara dengan Pendeta Kepala atas namaku
keesokan harinya dan menjelaskan apa yang terjadi. Pada saat itu terlintas dalam
fikiranku gambaran kepala Pendeta Kepala yang baru dicukur yang mirip dengan sayur
yang sudah direbus. Lalu aku melihat pipinya yang lembut dan berwarna merah jambu.
Entah kenapa aku tiba-tiba dirangsang oleh rasa muak yang tidak terkira melihat
wajahnya. Oleh karena itu kemarahan Tsurukawa yang wajar perlu sekali dikuburkan ke
dalam tanah sebelum ia diketahui orang. "Tapi apa Pendeta Kepala betul-betul yakin
bahwa aku yang melakukannya?" tanyaku. "Ah," kata Tsurukawa yang tiba-tiba
bingung oleh fikiran baru ini. "Yang lain boleh saja memburuk-burukkan aku di
belakang-ku semau mereka. Selama Pendeta Kepala tahu kisah sebenar-nya, aku tidak
khawatir. Begitu pendapatku." Dengan demikian aku berhasil membuat Tsurukawa
yakin bahwa usaha membela aku hanya akan membuat orang lain lebih curiga dari
sebelumnya. Justru karena Pendeta Kepala 106 yakin aku tak bersalah maka ia
memutuskan untuk tutup mulut dan tidak memperdulikan seluruh persoalan itu. Waktu
aku bicara, kegembiraan tumbuh dalam hatiku, dan lambat laun kegembiraan ini berakar
dalam diriku. Kegembiraan yang mengatakan "Tidak ada saksi. Tidak ada yang bisa
dipanggil untuk memberikan kesaksian." Sesaat pun aku tidak percaya, bahwa hanya
Pendeta Kepala yang yakin akan kebersihanku. Malahan sebaliknya: justru dia sendiri
yang betul-betul yakin bahwa aku berdosa. Putusannya untuk melupakan soal itu adalah
bukti dari sangkaan ini. Barangkali ia sudah tahu semuanya waktu aku menyerahkan
rokok Chersterfield yang dua kotak itu padanya. Barangkali sebabnya ia mendiamkan
soal itu karena secara diam-diam ia mengharapkan kedatanganku untuk mengakui
kesalahanku padanya secara sukarela. Bukan hanya itu. Siapa tahu tindakannya untuk
menganjurkan aku masuk universitas hanya sekadar umpan untuk memeras
pengakuanku: jika aku tidak mengaku ia akan mencabut anjurannya sebagai hukuman
atas ketidakjujuranku; tapi jika aku mengaku, dan jika ia betul-betul yakin bahwa aku
benar-benar menyesal, ia mungkin cenderung, sebagai penghargaan khusus — untuk
terus menganjurkan aku masuk universitas. Masalahnya terletak dalam kenyataan,
bahwa Pendeta Kepala telah mengatakan pada Pengetua untuk tidak menye-but-nyebut
hal ini padaku. Kalau aku betul-betul suci, maka aku akan dapat hidup dengan tenang
dari hari ke hari, tanpa mengetahui atau merasa bahwa ada sesuatu yang luar biasa yang
terjadi. Tapi jika sebaliknya aku sudah melakukan kejahatan, aku mestinya (sekiranya
aku punya fikiran sehat) bisa bcrpura-pura hidup dalam kesncian yang damai sebagai
tanda kesucianku artinya, kehidupan seseorang yang tidak perlu mengakui apa-apa. Ya,
sebaiknya aku berpura-pura 107 saja. Itu jalan yang terbaik bagiku, itu satu-satunya cara
untuk menjelaskan kesucianku. Pendeta Kepala sendiri meng-harapkan itu. Inilah
perangkap yang ia sediakan untukku. Waktu aku ingat itu, aku marah sekali. Karena
dengan demikian aku seolah-olah tidak bisa memaafkan perbuatanku. Jika aku tidak
menginjak perempuan itu, orang Amerika itu mungkin mencabut pistolnya lalu
mengancam aku. Kita kan tidak bisa melawan Tentara Pendudukan. Apa yang
kulakukan, kulakukan karena terpaksa. Tapi perut wanita yang terasa di telapak sepatu
karetku, tubuhnya yang terasa seolah-olah menyanjung aku dengan kebingkasannya;
erangnya; rasa yang mirip kembang daging yang diremas kemudian merekah; inderaku
yang terhuyung-huyung; goncangan yang pada saat itu datang dari tubuh gadis itu laik
halilintar penuh keajaiban dan masuk ke dalam tubuhku — aku tidak bisa berpura-pura
bahwa paksaanlah yang membuat aku menikmati segalanya ini. Aku masih belum bisa
melupakan kemanisan saat itu. Pendeta Kepala tahu apa yang kurasakan sedalam-
dalamnya ia kenal rasa manis itu sampai ke inti-intinya! Selama tahun berikutnya, aku
tak ubahnya seekor burung yang terperangkap dalam sangkar. Sangkar itu tak hilang-
hilangnya dari penglihatanku. Karena aku telah memutuskan untuk tidak mengakui
perbuatanku, maka dalam hidup sehari-hariku aku sama sekali tidak merasa lega. Aneh.
Perbuatanku, yang waktu itu sama sekali tidak menimbulkan rasa berdosa dalam diriku,
perbuatan menginjak perut gadis itu, lambat-laun mulai mengikat dalam ingatanku. Ini
tidak disebabkan karena aku tahu bahwa sebagai akibatnya gadis itu sudah keguguran.
Karena perbuatanku itu mulai rrielekat bagai debu emas dalam ingatanku dan mulai
menyebarkan cahaya menyilaukan yang tak henti-hentinya menusuk mataku. Gemerlap
kejahatan. Ya, itulah dia. Mungkin kejahatan ttu kejahatan kecil sekali, tapi kini aku
dibebani oleh kesadaran yang hidup bahwa aku sudah melakukan kejahatan. Kesadaran
ini tergantung sebagai sebuah perhiasan di dalam dadaku. Mengenai hal-hal praktis,
tidak ada yang bisa kulakukan, sampai aku menempuh ujian masuk Universitas Otani,
kecuali hidup dalam keadaan bingung, dan berusaha sebaik-baiknya untuk menerka apa
rencana Pendeta Kepala sebenarnya terhadap aku. Pendeta Kepala tidak pernah
mengatakan sesuatu yang meniadakan janjinya memberi aku kesempatan belajar di
universitas. Sebaliknya, ia juga tidak mengatakan apa-apa untuk mengurus persiapan
ujian masukku. Aku berharap sekali dan menunggu sampai Pendeta Kepala mengatakan
sesuatu padaku, apa pun yang akan ia katakan! Tapi ia tctap berdiam did dengan
mengesalkan, dan membiarkan aku mengalami siksaan yang lama. Sedangkan aku
sendiri, mungkin karena takut, mungkin karena ingin memper-tahankan diri, aku ragu-
ragu untuk menanyakan pada Pendeta Kepala bagaimana maksudnya. Dulu aku
memandang Bapa Dosen dengan rasa hormat yang biasa, dan kadang-kadang aku
melihat dia dengan mata yang kritis. Tapi kini ia lambat-laun mulai memperoleh ukuran
raksasa, hingga aku tidak lagi bisa percaya bahwa dalam tubuhnya terdapat hati manusia
yang biasa. Bagaimanapun seringnya aku berusaha mengalihkan pandanganku dari dia.
tokoh itu menjulang di depanku bagai sebuah kuil yang mengerikan. Terjadinya pada
akhir musim gugur. Pendeta Kepala diminta untuk menghadiri penguburan seorang
anggota jemaah tua, dan karena perjalanan kereta api ke tempat itu memakan waktu dua
jam, maka pada malam sebelumnya ia mengumurn-kan bahwa ia akan meninggalkan
kuil pukul setengah lima pagi. Pengetua akan mengawani dia. Supaya siap sebelum 109
keberangkatan Pendeta Kepala, kami harus bangun pukul empat untuk menyapu dan
mempersiapkan sarapan. Begitu kami bangun kami mulai dengan "tugas pagi" membaca
sutra, sementara Pengetua membantu Pendeta Kepala dengan persiapan-persiapannya.
Dari halaman yang gelap dan dingin datang suara derik-derik timba sumur yang terus-
menerus. Kami buru-buru membasuh muka. Kokok ayam di halaman menembuspagi
musim gugur yang gelap; suara itu mengandung suatu kesegaran dan keputihan. Kami
menggulung lengan jubah lalu bergegas untuk berkumpul di tempat pemujaan di ruang
pengunjung. Dalam kedinginan fajar, tikar-tikar pada ruang besar, yang tak pernah
ditiduri orang memberikan suatu rasa khusus, seolah-olah mereka enggan menerima
kita. Lilin meja pujaan berkelap-kelip. Kami menunjukkan takzim kami. Mula-mula
kami membungkuk sambil berdiri; lalu kami bersimpuh di atas tikar dan membungkuk
di sela-sela bunyi gong. Perbuatan ini kami ulangi sampai tiga kali. Aku selalu sadar
akan kesegaran dalam suara laki-laki yang membacakan sutra bersama-sama di. kala
tugas pagi. Suara sutra pagi ini adalah yang paling lantang di seluruh hari. Suara-suara
yang lantang itu seolah-olah mencerai-beraikan semua fikiran jahat yang bertumpuk
selama semalam, dan dari pita suara para penyanyi itu seolah-olah menyembur
semprotan hitam dan menggenang di mana-mana. Aku sendiri tidak tahu mengenai
diriku. Aku tidak tahu, tapi anehnya aku merasa diriku kuat kalau kuingat bahwa
suaraku juga telah mencerai-beraikan fikiran kelaki-lakian buruk seperti suara yang lain.
Sebelum kami menyelesaikan "pesta bubur" kami, Pendeta Kepala sudah siap untuk
berangkat. Menurut kebiasaan maka kami semua berbaris di pintu masuk untuk pamitan
dengannya. 110 Hari masih gelap. Langit penuh bintang. Dalam cahaya bintang jalan
batu terbentang samar-samar sampai ke Gerbang Sammon, tapi bayang-bayang pohon-
pohon oak besar, prem dan pohon pinus terkapar di taman, yang satu meleleh memasuki
yang lain hingga mereka menutupi seluruh per-mukaan jalan itu. Switerku penuh
lobang-lobang dan udara pagi yang dingin menyengat sampai ke sikuku. Semuanya
dilakukan dengan diam. Kami membungkuk pada Pendeta Kepala tanpa bicara dan ia
memberikan jawaban yang hampir-hampir tak bisa ditangkap. Lalu bunyi tengkelek
Pendeta Kepala dan Pengetua menghilang perlahan-lahan dengan makin jauhnya
mereka berjalan meninggalkan kami, di atas jalan berbatu itu. Telah merupakan adat
kebiasaan di kalangan sekte Zen untuk menunggu orang yang kita antarkan menghilang
sama sekali di kejauhan. Waktu kami memandang ke arah kedua orang tokoh yang
bepergian itu, kami tak dapat melihat mereka secara keseluruhan. Yang dapat kami lihat
hanya pinggiran jubahnya dan kaus mereka yang putih. Pada suatu titik mereka seolah-
olah hilang sama sekali dari pandangan mata. Tapi itu hanya karena tersembunyi di
balik pepohonan. Setelah bcberapa saat pinggiran putih dan kaus putih itu muncul lagi,
dan entah karena apa gema telapak mereka kedengaran lebih keras dari sebelumnya.
Kami berdiri di sana memandang nanap keduanya yang pergi itu dan rasanya lama
sekali baru kedua tokoh itu melewati gerbang utama dan akhirnya menghilang. Justru
pada saat itulah dalam hatiku lahir suatu kecenderungan yang aneh. Seperti halnya kata-
kata penting tertentu berusaha mendobrak keluar dari mulutku, tapi terhalang oleh
kegagapanku, demikian juga kecenderungan menyala dalam kerongkonganku.
Kecenderungan itu adalah keinginan untuk membebaskan diri secara tiba-tiba. Pada 111
saat itu, keinginan-keinginanku sebelumnya — keinginanku untuk masuk universitas,
dan lebih lagi harapan yang dikemukakan oleh ibuku, supaya aku menggantikan
kedudukan Pendeta Kepala — semuanya lenyap. Aku ingin melarikan diri dari suatu
kekuasaan yang menguasaiku dan yang memaksakan dirinya padaku. Aku tak bisa
mengatakan bahwa pada saat itu aku kehilangan keberanian. Keberanian untuk
melakukan suatu pengakuan adalah suatu soal kecil. Bagi orang seperti aku yang telah
hidup dengan membisu selama dua puluh tahun, nilai sebuah pengakuan dosa adalah
kecil sekali. Orang mungkin mengira bahwa aku sudah terlalu melebili-lebihkan.
Tapisebetulnya dengan menghadapkan diriku pada keheningan Pendeta Kepala dan
dengan penolakanku untuk mengakui dosa, aku sebetumya sudah melakukan percobaan
dengan sebuah masalah tunggal, yaitu: "Apakah kejahatan mungkin?" Jika aku bertahan
sampai saat terakhir untuk tidak mengakui dosaku, maka dengan itu terbuktilah, biarpun
kejahatan itu hanya kejahatan remeh, bahwa kejahatan memang mungkin. Tapi waktu
aku menangkap lintasan-lintasan jubah dan kaus putih Pendeta Kepala itu di sela-sela
pepohonan, menghilang dalam gelap dinihari, maka kekuatan yang menyala dalam
kerongkonganku hampir-hampir tidak bisa ditahan hingga aku ingin melakukan
pengakuan lengkap. Aku ingin berlari mengejar Pendeta Kepala lalu bergantung pada
lengannya dan menceritakan padanya dengan suara lantang semua yang terjadi pada
pagi hari penuh salju itu. Keinginanku melakukan ini pasti tidak ditumbuhkan oleh
karena rasa hormat pada orang itu. Kekuatan Pendeta Kepala itu tak ubahnya bagai
suatu kekuasaan fisik yang hebat. Tapi sangkaan, bahwa kejahatan kecil pertama dalam
hidupku akan runtuh jika aku sampai mengakui dosa, telah 112 menahanku dan aku
merasakan sesuatu yang memegangku kuat-kuat dari belakang. Lalu sosok Pendeta
Kepala lewat di bawah gerbang utama dan menghilang di bawah langit malam. Semua
tiba-tiba merasa lega dan berlari hiruk-pikuk ke pintu depan kuil. Waktu aku tegak
termenung di sana, Tsurukawa menyentuh bahuku. Bahuku tiba-tiba siuman. Bahuku
yang kurus dan lusuh memperoleh harga diri kembali. *** Seperti telah kukatakan,
biarpun ada kekusutan-kekusutan ini, akhirnya aku jadi juga masuk Universitas Otani.
Aku tak perlu membuat suatu pengakuan. Beberapa hari kemudian Pendeta Kepala
memanggil Tsurukawa dan aku, lalu mengatakan kepada kami dengan singkat bahwa
kami sudah harus mulai mempersiapkan diri untuk ujian dan bahwa kami akan
dibebaskan dari tugas-tugas kuil selama kami sibuk dengan pelajaran. Demikianlah aku
berhasil masuk universitas. Tapi sungguh-pun begitu tidaklah berarti bahwa semua
kekusutan sudah selesai. Sikap Pendeta Kepala sama sekali tidak menjelaskan bagiku
apa pendapatnya ten tang kejadian di hari penuh salju itu; juga tak jelas bagiku apa
rencananya mengenai pengganti-nya. Universitas Otani merupakan suatu titik
perkisaran dalam hidupku. Di sinilah pertama kali dalam hidupku aku berkenalan
dengan fikiran-fikiran yang telah kupilih dengan sengaja. Sejarah Otani mulai lebih
kurang tiga ratus tahun yang lalu, waktu dalam tahun 1663 asrama universitas Kuil
Chikusyi Kanzeon dipindahkan ke gedung Kikoku di Kyoto. Semenjak itu ia dipakai
sebagai biara untuk pengikut sekte Otani dari 113 PHonganji. di zaman Imam Kelima
Belas Honganji, seorang pengikut biara itu, bernama Soken Takagi, yang berdiam di
Naniwa. telah memberikan sumbangan besar. Mereka memilih tempat yang sekarang di
Karasumaru-gashira di sebelah utara ibukota, lalu mendirikan universitas di sana. Tanah
itu luasnya hanya sepuluh aker dan terlalu kecil untuk sebuah universitas. Tapi di
sinilah, banyak anak-anak muda, bukan saja dari sekte Otani, tapi juga dari cabang-
cabang agama Budha lainnya, belajar dan dilatih dalam pokok-pokok filsafat agama
Budha. Sebuah gerbang baru bata tua memisahkan wilayah universitas itu dari jalan
raya dan jalan trem. Gerbang itu menghadap ke barat ke Gunung Hiei. Dari gerbang itu
terdapat sebuah jalan kerikil menuju porte-cochere gedung utama, sebuah bangunan
bertingkat dua yang gelap dan muram. Di atas atap pintu masuk itu menjulang sebuah
menara tembaga yang besar. Menara ini bukan menara jam dan bukan pula menara
lonceng; di bawah sebuah penangkal kilat, sebuah jendela empat persegi yang tak
berguna mengorek sebuah sudut langit biru. Di sebelah tempat masuk itu tumbuh
sebatang pohon jeruk tua, daun-daunnya yang indah selalu gemerlapan bagai tembaga
merah dalam sinar matahari. Universitas yang aslinya hanya terdiri dari gedung utama,'
lambat-laun diperbesar dan bagian-bagian lain ditambahkan tanpa pengaturan tertentu.
Selebihnya gedung ini adalah sebuah bangunan kayu tua bertingkat satu. Kita tidak
diperbolehkan memakai sepatu dalam gedung itu dan gedung-gedung sampingnya
dihubungkan dengannya oleh gang-gang yang panjang berlantai bambu. kLantai itu
sudah mulai rekah-rekah karena tua. Kadang-kadang bagian yang rusak diperbaiki,
hingga kalau kita berjalan dari sayap yang satu ke sayap yang lain maka kaki kita
melangkahi mosaik yang terdiri dari kayu tua dan muda, karena sebagian lantai tua
diikuti oleh lantai yang masih baru sekali. Setiap kali kita memulai sebuah sekolah atau
universitas baru, keadaannya sama saja: biarpun setiap hari kita datang dengan perasaan
segar, kita sadar akan sesuatu sifat yang samar dan saling tak berhubungan dalam
berbagai hal. Begitu juga halnya dengan aku ketika aku pertama-tama berada di Otani.
Karena Tsurukawa satu-satunya orang yang kukenal, aku selalu bicara dengan dia dan
tidak dengan siapa pun lagi yang lain. Setelah beberapa hari, aku mulai berfikir, tidak
ada gunanya bagi kami untuk begitu bersusah-payah memasuki suatu dunia baru kalau
kami terus berkumpul bersama-sama. Rupa-rupanya Tsurukawa juga mempunyai
perasaan yang sama, dan setelah itu kami berusaha tidak selalu berdekatan di waktu-
waktu istirahat dan kami masing-masing berusaha memperoleh kawan baru. Karena
akugagap, maka aku tidak memiliki keberanian seperti yang dimiliki Tsurukawa, hingga
kalau jumlah kawannya bertambah maka aku makin lama makin terpencil. Tahun
persiapan di universitas itu terdiri dari sepuluh mata pelajaran — moral, bahasa Jepang,
bahasa Jepang-Cina, bahasa Cina, bahasa Inggeris, sejarah, kitab-kitab Budha, logika,
matematika dan olahraga. Dari semula aku sudah mendapat kesulitan mengikuti
pelajaran logika. Pada suatu hari, waktu jam istirahat tengah hari sehabis pelajaran
logika, aku memutuskan untuk menanyakan beberapa soal pada salah seorang
mahasiswa. Sudah beberapa lama aku hernial untuk berkenalan dengan anak muda itu.
Ia selalu duduk menyendiri dan makan makanan yang ia bawa dekat tanaman bunga di
taman belakang. Kebiasaannya ini tak ubahnya suatu upacara,hingga tak seorang pun
mahasiswa lain yang berusaha mendekatinya, apalagi karena ada suatu kesan kebencian
IIS pada orang yang besar sekali ketika memandang makanannya dengan muak. Dari
fihaknya. ia juga tidak pernah bicara dengan sesama mahasiswa dan rupa-rupanya tidak
tertarik untuk berkawan dengan siapa pun jua. Aku tahu namanya Kashiwagi. Sal ah
satu ciri yang menyolok sekali ialah kedua kakinya yang bengkok. Caranya berjalan
susah sekali. Ia seolah-olah berjalan dalam lumpur: jika ia akhirnya berhasil
mengangkat kaki yang satu dari lumpur, maka kaki yang sebelah lagi se akan-akan
terperosok lebih dalam. Sekaligus seluruh tubuhnya memberikan kesan ketiadaan
keriangan. Langkahnya semacam tarian yang dibuat-buat, lain sekali dari yang biasa.
Dapat dimengerti, bahwa semenjak hari pertamaku di universitas, Kashiwagi telah
menarik perhatianku. Aku merasa lega melihat cacatnya. Sejak semula kakinya yang
bengkok menunjukkan suatu persetujuan dengan keadaan tempatku berada. Kashiwagi
membuka kotak makanannya di atas daun di taman belakang. Kebun itu berada di
sebelah sebuah gedung tua, di man a terdapat ruangan-ruangan tempat kami berlatih
karate dan juga ping-pong; boleh dikatakan tidak satu pun dari kaca-kaca jendela itu
yang masih utuh. Beberapa batang pohon pinus kurus tumbuh di kebun itu dan beberapa
buah bingkai kayu kecil menutupi tempat penyemaian yang kosong pula. Cat biru
bingkai-bingkai itu telah terkelupas; kelihatan-nya kasar dan berkerut-kerut bagai bunga
buatan yang sudah layu. Di samping persemaian itu terdapat sebuah rak dengan
beberapa alas tempat meletakkan pot-pot berisi pepohonan bonsai, setumpuk ubin dan
kerikil, persemaian untuk mawar dan hiasinta. Duduk di atas tumpak rumput itu
menyenangkan sekali. Cahaya diserap oleh dedaunannya yang lembut dan permukaan
116 rumput itu penuh dengan bayang-bayang kecil, hingga seluruh tumpak itu seakan-
akan mengambang di atas tanah. Kalau ia lagi duduk di sana Kashiwagi tidak berbeda
dengan mahasiswa lain; kalau ia berjalan barulah cacatnya kelihatan. Di wajahnya yang
pucat terbayang suatu keindahan yang keras. Secara lahir ia pincang, tapi pada dirinya
terdapat suatu kecantikan yang gagah, seperti yang kita temui pada seorang perempuan
jelita. Orang pincang dan perempuan cantik keduanya bosan dipandangi; mereka lelah
karena kehidupan di mana mereka selalu jadi pokok perhatiah, mereka merasa
terhalang; dan tatapan yang diarahkan padanya dikembalikannya dengan kehidupan itu
sendiri. Mereka yang memang betul-betul menatap, adalah yang menang. Kashiwagi
makan sambil menunduk; tapi aku merasa bahwa matanya sebetulnya meneliti
seluruh dunia yang ada di sekitarnya. Ia menimbulkan kesan berdiri sendiri waktu ia
duduk di sana. Inilah kesan yang menarik hatiku. Dengan hanya melihat padanya dalam
cahaya musim semi dan di tengah-tengah bunga, aku tahu bahwa ia sama sekali tidak
memiliki rasa pemalu, sama sekali tidak kesulitan karena rasa berdosa seperti yang
kurasakan. la adalah bayang-bayang yang menyatakan diri sendiri, atau lebih tepat,
dialah bayang-bayang berwujud itu sendiri. Jelas, bahwa matahari tidak akan pernah
bisa menembus kuhtnya yang tebal. Makan an, yang dia hadapi dengan keasyikan dan
dengan rasa bosan, jelas sekali sangat sederhana, tapi tidak jauh lebih buruk dari yang
biasanya kupersiapkan bagi diriku sendiri pagi-pagi dari sisa-sisa sarapan di kuil. Kala
itu tahun 1947. Kecuali kalau kita sanggup membeli makanan di pasar gelap, maka
mustahillah untuk memperoleh makanan yang cukup baik. Aku berdiri di samping
Kashiwagi sambil memegang kitab catatanku dan kotak makan an ku. Bayang-
bayangku jatuh ke atas makanannya lalu ia melihat ke atas. Ia mengerling padaku lalu
menunduk kembali dan meneruskan kesibukannyamengunyah seperti seekor ulat sutera
mengunyah daun murbei. "Maaf," kataku tergagap-gagap, "aku ingin menanyakan
beberapa hal yang tidak bisa kufahami dari kuliah tadi." Aku bicara dengan langgam
Tokyo, karena setelah masuk universitas aku memutuskan untuk tidak mempergunakan
langgam bicara orang Kyoto.
"Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan," kata Kashiwagi. "Yang kudengar hanya
orang tergagap-gagap." Aku merasa mukaku jadi merah. Kashiwagi menjilat ujung
sumpitnya lalu melanjutkan"Aku tahu kenapa kau bicara padaku. Mizoguchi — itu
namamu kan? Kalau kau mengira kita hams bersahabat karena kita berdua cacat, aku
tidak keberatan. Tapi kalau dibandingkan dengan cacatmu, apa kau betul-betul mengira
bahwa gagap adalah suatu hal yang penring sekali? Kau terlaJu membesar-besarkannya,
tahu kau? Akibatnya, kau terlalu membesar-besarkan gagapmu seperti kau membesar-
besarkan dirimu." Kemudian setelah aku tahu bahwa Kashiwagi berasal dari sebuah
keluarga Zen yang tergolong pada sekte Rinsai, aku sadar bahwa dalam caranya
bertanya dan menjawab pada permulaan ia lebih kurang sekadar melakukan pendekatan
khusus seorang pendeta Zen; tapi tidak bisa diingkari bahwa ucapannya itu
meninggalkan kesan yang kuat sekali pada diriku kala itu. "Kau boleh gagap!" katanya.
"Silakan bicara gagap." Aku mendengarkan cara dia mengutarakan diri yang agak lain
dengan penuh kebingungan. "Akhimya kau menemui seseorang yang bisa kauajak
bicara gagap dengan seenaknya. Ya, 'kan? Orang memang begitu. Semua orang mencari
kawan senasib. Baiklah, apa kau masih perawan?" Aku mengangguk tanpa tersenyum.
Cara Kashiwagi menanyakan pertanyaan itu mirip cara seorang dokter, hingga aku
merasa bahwa aku lebih baik tidak berdusta. "Ya, aku juga sudah mengira," katanya.
"Kau masih perawan. Tapi kau bukan perawan yang cantik. Kau sama sekali tidak
menarik. Kau tidak menarik bagi gadis-gadis sedangkan kau tidak punya keberanian
untuk mendatangi perempuan lacur. Begitu sebenarnya. Tapi kalau kau mengira waktu
kau tadi mulai menegur aku bahwa kau akan berkawan dengan seorang perawan lain,
kau sudah salah sangka. Mau tahu kau bagaimana caranya aku kehilangan
keperawananku?" Tanpa menunggu jawabanku, Kashiwagi meneruskan. "Aku anak
seorang pendeta Zen di Sannomiya, dan aku lahir dengan kaki bengkok. Kalau kau
mendengar aku memulai pembicaraanku dengan begini, kukira kau akan berfikir bahwa
aku seorang anak malang yang sakit.yang tidak perduli dengan siapa ia bicara asal dapat
kesempatan menumpahkan seluruh isi hatinya tenting dirinya sendiri. Tapi itu salah.
Aku tidak akan bicara seperti ini pada siapa saja yang kebetulan lewat. Aku sebetulnya
agak malu mengatakan, tapi sejak semula aku dengan sengaja sudah memilih kau untuk
mendengarkan kisahku. Soalnya, aku merasa bahwa kau akan bisa memungut manfaat
lebih banyak dari pengetahuan ten tang apa yang telah kulakukan daripada orang lain.
Yang terbaik bagimu barangkali adalah melakukan hal yang sama seperti yang telah
kulakukan. Seperti kau tahu, demikianlah caranya orang-orang yang alim mencium
saudara sekeyakinannya dan demikianlah caranya orang yang tak minum minuman
keras mengenal saudara yang juga tidak minum minuman keras. "Nah, aku selama ini
berasa malu karena kenyataan 119 hidupku. Aku merasa bahwa menyesuaikan diri
dengan kenya-taan itu, hidup berdamai dengan kenyataan itu, suatu kekalahan. Kalau
aku ingin menyesali, tentu saja, bahan cukup banyak. Mestinya orang tuaku
mengusahakan supaya kakiku dioperasi waktu aku masih kecil. Kini sudah terlambat.
Tapi aku sama sekali tidak perduli akan orang tuaku dan menyesali mereka kuanggap
sebagai sesuatu yang membosan- kan. "Aku dulu yakin bahwa perempuan tidak akan
mungkin bisa mencintai aku. Sebagai kau barangkali juga tahu, keya-kinan ini lebih
menyenangkan dan mendamaikan daripada yang dikira kebanyakan orang. Antara
keyakinan ini dan penolakanku untuk berdamai dengan kenyataan hidupku tidak
terdapat sama sekali suatu pertentangan. Soalnya, jika aku percaya bahwa perempuan
bisa mencintai aku dalam keadaanku sekarang ini, artinya, dengan kenyataan hidupku
yang sebenarnya, kalau aku sampai meyakini itu, maka itu berarti bahwa aku sudah
berdamai dengan kenyataan ini. Aku sadar bahwa kedua bentuk keberanian —
keberanian untuk menilai kenyataan seperti sebagaimana adanya, dan keberanian untuk
menentang penilaian itu — dapat saling diperdamaikan. Tanpa bergerak, aku bisa
memperoleh perasaan bahwa aku sudah- berjuang. "Karena keadaan fikiranku begitu,
maka wajar sekali jika aku tidak merasa kehilangan keperawananku dengan jalan
bergaul dengan perempuan-perempuan pelacur seperti yang banyak dilakukan kawan-
kawanku. Yang menghalangi aku, adalah, kenyataan bahwa pelacur-pelacur tidak
mcmbiar-kan diri ditiduri langganannya karena mereka sayang pada langganan itu.
Mereka bersedia menerima siapa saja sebagai langganan, orang tua terbata-bata,
pengemis, orang buta sebelah, lelaki-lelaki tampan bahkan orang-orang 120
berpenyakit kusta, selama mereka tidak tahu bahwa orang itu penderita kusta. Sikap
menyamaratakan segala ini akan me-legakan kebanyakan anak muda biasa dan mereka
dengan segala senang hati akan melangkah terus dan membeli perempuan mana saja
yang mereka temui. Tapi aku sendiri tidak ' senang sikap menyamaratakan ini. Aku
tidak bisa menerima bahwa seorang perempuan akan memperlakukan seorang lelaki
yang lengkap dan orang seperti aku dengan cara yang sama. Ini kurasakan sebagai
suatu pengotoran diri sendiri yang besar sekali. Soalnya, aku dirasuki oleh suatu
ketakutan, bahwa jika kakiku yang bengkok ini dilupakan atau tidak diperdulikan, maka
aku dalam pengertian tertentu juga berhenti berwujud. Sama dengan ketakutan yang
kaurasa-kan mulai saat ini, 'kan? Supaya aku merasa betul-betul diakui dan diterima,
aku merasa perlu supaya buat aku segalanya diatur dengan cara yang lebih mewah
daripada yang biasanya diperlukan orang lain. Apa pun yang terjadi, demikian fikiranku,
begitu harusnya hidup jadinya bagiku. "Tak sangsi lagi tentu mungkin untuk mengatasi
rasa tidak puasku yang getir — rasa tak puas karena dunia dan aku ditempatkan dalam
suatu hubungan yang saling bertentangan. Hal ini bisa dimungkinkan dengan jalan
merobah diriku atau merobah dunia. Tapi aku tak suka memimpikan perobahan seperti
ini. Aku benci pada impian-impian tak keruan seperti ini. Kesimpulan logis yang
kuperbuat setelah berfikir keras, ialah, jika dunia berobah, maka aku tidak bisa hidup,
dan jika aku berobah, dunia tidak bisa ada. Dan biarpun kedengar-annya saling
bertentangan, kesimpulan ini merupakan semacam perdamaian, semacam kompromi.
Bagi dunia mungkin untuk hidup bersama dengan fikiran, bahwa sesuai dengan
keadaanku, aku tidak mungkin dicintai. Dan perangkap yang akhimya menjerat seorang
yang cacat tidak terletak dalam 121 keputusannya untuk menyelesaikan keadaan
pertentangan yang terdapat antara dunia dengan dia, tapi sebaliknya dengan jalan
membenarkan pertentangan ini seluruhnya. Karena itulah maka seorang yang cacat
tidak akan pernah bisa disembuhkan. "Nah, pada saat itulah, pada saat keremajaanku
yang penuh — kata-kata ini kupergunakan dengan bijaksana — aku mengalami sesuatu
yang tidak masuk akal. Ada seorang gadis keturunan keluarga kaya yang jadi jemaah
kuil kami. Gadis ini tamatan Sekolah Gadis Kobe dan dia termashur karena
kecantikannya. Pada suatu hari ia ungkapkan kenyataan, bahwa ia sudah jatuh cinta
padaku. Selama beberapa lama aku tidak percaya pada pendengaranku. Berkat
keadaanku yang tidak menguntungkan, aku pandai sekali menduga suasana kejiwaan
orang lain. Oleh karena itu, seluruh persoalan tidak kukesampingkan begitu saja,
seperti banyak dilakukan orang, tapi aku memahami cintanya itu sebagai sekadar rasa
simpatL Aku sadar sekali bahwa tidak seorang gadis pun yang akan mencintai aku
hanya karena simpati semata. Sebaliknya, aku menganggap bahwa sebab cinta kasih
gadis ini ialah rasa keangkuhannya yang luar biasa. Gadis itu sadar sekali akan
kecantikannya dan harga dirinya sebagai perempuan, hingga mustahillah baginya untuk
menerima pelamar yang mana pun juga yang menunjukkan tanda-tanda harga diri. Ia
tidak bersedia mempertaruhkan keangkuhannya sendiri dan menimbangnya dengan
kekenesan seorang anak muda yang tahu harga diri. Ia cukup mendapat kesempatan
untuk menerima lamaran yang baik, tapi makin sempurna jodohnya itu, makin tak suka
dia. Akhirnya, ia dengan keras menolak setiap cinta yang memperlihatkan semacam
keseim-bangan - dalam hal ini ia jujur sekali - lalu menjatuhkan pilihannya padaku. 22
"Aku sendiri sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan padanya. Kau boleh saja
mentertawakan aku tapi aku berkata padanya: "Aku tak cinta padamu." Apa lagi kalau
bukan itu yang dapat kukatakan? Jawaban ini jujur dan sama sekali tidak dibikin-bikin.
Jika sekiranya, sebaliknya, aku tidak mau kehilangan suatu kesempatan baik dan
menjawab pernyataan-nya itu dengan mengatakan"Aku juga cinta padamu, maka aku
akan menimbulkan kesan yang lebih buruk dari hanya sekadar konyol — aku akan
kelihatan tragis. Orang berpera-wakan pelawak seperti aku selalu berusaha
mengelakkan bahaya akan kelihatan tragis karena salah langkah. Aku tahu betul, begitu
aku kelihatan tragis, maka orang tidak lagi akan merasa betah berhubungan dengan aku.
Demi jiwa orang lain, adalah sangat penting supaya aku tidak kelihatan sebagai orang
malang. Oleh karena itulah aku serta-merta memutuskannya dengan mengatakan: "Aku
tidak cinta padamu." "Gadis itu sama sekali tidak putus asa karena jawabanku. Tanpa
ragu-ragu ia mengatakan bahwa aku berdusta. Betul-betul suatu tontonan. yang
mengasyikkan, melihatkan bagai-mana dia berusaha untuk membujuk aku, sambil
berusaha sekuat-kuatnya supaya tidak menyentuh perasaanku. Gadis ini tidak bisa
membayangkan, bahwa di dunia ini ada lelaki yang tidak mau mencintai dia sekiranya
dia beroleh kesempatan. Kalau ada orang seperti itu, maka orang itu pasti telah menipu
dirinya sendiri. Lalu ia mulai membuat sebuah analisa yang dalam tentang diriku dan
akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa sebetulnya aku sudah lama mencintai dia.
Dia seorang gadis yang pintar. Misalkan ia betul-betul mencintai aku, maka ia tentu
menyadari sebaik-baiknya bahwa ia telah mencintai seseorang yang sulit. sekali bisa ia
peroleh. Apa saja yang akan ia katakan akan salah. 123 Jika ia berpura-pura mengatakan
bahwa wajahku tampan, padahal tidak, maka ia akan membuat aku jengkel. Jika ia
mengatakan bahwa kakiku yang bengkok ini bagus, maka aku akan lebih jengkel lagi.
Dan jika ia mengatakan bahwa ia tidak mencintai aku karena keadaan lahirku, tapi
karena apa yang ia rasakan ada dalam diriku, maka ia akan membuat aku betul-betul
marah. Pokoknya, karena ia pintar, semua ini ia perhitungkan dan karena itu ia terus
berkata dengan bersahaja: "Aku cinta padamu". Tentu saja, sesuai dengan analisa yang
ia perbuat, ia telah menemui suatu perasaan dalam diriku yang sesuai dengan cintanya.
"Aku tidak bisa menerima ketidakwajaran ini. Pada saat yang sama, aku lambat laun
dihinggapi oleh keinginan yang luar biasa untuk memiliki gadis itu, tapi aku tidak
yakin, bahwa sekadar nafsu tidak akan dapat mempersatukan dia dan aku. Aku beroleh
fikiran, jika ia betul-betul mencintai aku dan bukan orang lain, maka ini tentu berarti
bahwa aku punya ciri-ciri khas yang membedakan aku dari orang lain. Lalu apa ciri
khas ini kalau bukan kakiku yang bengkok? Jadi jelaslah, biarpun tidak ia katakan,
bahwa yang ia cintai ialah kaki bengkokku. Nah, menurut pemikiranku hal ini tidak bisa
diterima sama sekali. Sekiranya kepribadianku tidak terkandung dalam kaki bengkokku,
cinta ini barangkali masih bisa dibenarkan. Tapi kalau aku mengakui bahwa
kepribadianku — alas an perwujudanku — berada di tempat lain dan bukan di kaki
bengkokku, maka ini akan melibatkan semacam pengakuan tambahan. Lalu aku akan
terpaksa mengakui alasan orang lain untuk hidup dengan cara tambahan seperti ini, dan
ini akan mengantarkan aku untuk mengakui suatu pribadi yang seluruhnya terbungkus
dalam dunia ini. Jadi cinta adalah mustahil. Perkiraannya bahwa ia jatuh cinta padaku
adalah sebuah angan-angan, dan aku tidak 124 mungkin mencintai dia. Karena itu aku
terus-menerus berkata: "Aku tidak cinta padamu." "Anehnya, makin sering aku
mengatakan bahwa aku tidak cinta padanya, makin tenggelam ia dalam angan-angan
bahwa ia betul-betul mencintai aku. Akhirnya, pada suatu malam ia menyerahkan
dirinya padaku. Ia menawarkan tubuhnya, dan aku harus katakan, tubuhnya itu memang
indah mengagumkan sekali. Tapi setelah sampai saatnya aku ternyata impoten sama
sekali. "Kegagalanku yang luar biasa ini telah menyelesaikan segalanya dengan
bersahaja sekali. Akhirnya ia rupa-rupanya memperoleh bukti yang meyakinkan bahwa
aku betul-betul tidak mencintai dia. Ia meninggalkan aku. "Aku malu karena aku
impoten, tapi kalau dibandingkan dengan rasa maluku karena punya kaki bengkok, tidak
ada lagi apa-apa yang perlu disebut. Yang paling merisaukan aku adalah hal lain. Aku
tahu kenapa aku impoten. Yang membuat aku impoten, adalah fikiran, jika telah tiba
saatnya, bagaimana kaki bengkokku yang cacat menyentuh kakinya yang telanjang dan
indah. Penemuan ini telah menghancurkan semua kedamai-an yang ada dalam diriku
yang merupakan bagian dari keyakinanku bahwa aku tidak akan pernah dicintai oleh
seorang perempuan. "Pada saat itu, aku merasakan suatu kegembiraan yang tidak jujur
setelah ingat bahwa dengan nafsuku — dengan jalan memuaskan nafsuku — aku akan
dapat membuktikan kemustahilan cinta. Tapi tubuhku telah mengkhianati aku. Apa yang
ingin kulakukan dengan jiwaku, telah dilaksanakan oleh tubuhku. Dengan demikian aku
berhadapan dengan sebuah pertentangan lain. Atau dengan kata-kata biasa, aku
memimpikan cinta sedangkan aku sendiri yakin bahwa aku tidak bisa dicintai. Tapi pada
tahap terakhir aku menggantikan 125 cinta dengan nafsu, lalu merasa diriku lega. Tapi
akhirnya aku mengerti bahwa nafsu memerlukan kepuasan dan bahwa aku harus
melupakan kenyataan hidupku, dan bahwa aku harus mengesampingkan apa yang
bagiku merupakan halangan bagi cinta, yaitu keyakinan bahwa aku tidak bisa dicintai.
Aku selalu mengira bahwa nafsu adalah sesuatu yang lebih jernih dari kenyataan, dan
aku tidak sadar bahwa ia menghendaki supaya kita melihat diri kita sendiri dengan suatu
cara yang sedikit mirip mimpi dan tidak nyata. "Mulai saat itu badanku lebih menarik
perhatianku dari jiwaku. Tapi aku tidak bisa menjadi penjelmaan nafsu. Aku hanya bisa
memimpikannya. Aku jadi seperti angin. Aku menjadi sesuatu yang tidak bisa dilihat
orang lain, tapi sebaliknya bisa melihat segalanya, yang mendekati sasarannya secara
ringan, mengelusnya dan kemudian memasuki bagian yang paling dalam. Kalau aku
bicara tentang kesadar-an badan, aku berharap kau akan membayangkan suatu
kesadaran yang berhubungan dengan suatu benda yang kukuh, padat dan hitam. Tapi
aku tidak seperti itu. Bagiku, menyadari diriku sebagai suatu benda tunggal, sebagai
satu nafsu tunggal, berarti bahwa aku sudah menerawang, tembus cahaya, tak dapat
dilihat, artinya, serupa dengan angin. "Tapi kaki bengkokku serta-merta membuktikan
bahwa ia adalah halangan terbesar bagiku. Hanya itu yang tidak bisa tembus cahaya.
Mereka lebih banyak menyerupai sepasang arwah binal daripada sepasang kaki.
Itulah mereka — mereka adalah benda-benda yang lebih teguh dari tubuhku sendiri.
"Orang mungkin mengira bahwa kita tidak bisa berkaca kalau kita tidak punya cermin.
Tapi jadi seorang yang pincang, itu berarti bahwa kita senantiasa memiliki cermin di
depan hidung kita. Setiap jam seluruh tubuhku tercermin pada cermin itu. Tidak bisa
dilupakan. Akibatnya, apa yang di 126 dunia ini dikenal sebagai keresahan bagiku tak
lebih dari satu permainan anak-anak. Dalam haiku tidak mungkin ada keresahan.
Bahkan perwujudanku dalam bentuk sekarang ini adalah kenyataan yang selesai, selesai
seperti adanya matahari dan bumi, atau burung-burung yang bagus dan buaya yang
buruk. Dunia ini tidak bergerak bagai batu nisan. "Tidak sedikit rasa gamang pun, tidak
satu tempat ber-pijak pun — di sana letak dasar cara hidupku yang asli. Untuk apa aku
hidup? Fikiran ini membuat orang jadi resah malahan kadang-kadang sampai
membunuh diri. Tapi buat aku sama sekali tidak mengganggu. Punya sepasang kaki
bengkok — begitu persyaratan hidup bagiku, begitulah fikirannya, tujuan-nya, cita
citanya, begitulah hidup itu sendiri. Sekadar hidup bagiku sudah lebih dari memuaskan.
Pertama-tama, bukankah kegamangan seseorang tentang hidupnya lahir dari semacam
ketidakpuasan yang mewah karena khawatir tidak akan dapat hidup sepenuhnya? "Aku
mulai memperhatikan seorang perempuan janda tua yang tinggal sendiri di kampung
kami. Kata orang umurnya" enam puluh, atau lebih menurut sebagian orang. Pada
upacara hari peringatan meninggal ayahnya aku dikirim untuk membacakan sutra di
rumahnya sebagai pengganti ayahku. Tidak seorang pun keluarganya yang menghadiri
upacara itu hingga di hadapan meja pemujaannya hanya kami berdua saja. Setelah aku
selesai membaca sutra maka ia menuangkan teh untukku di kamar sebelahnya. Karena
waktu itu hari musim panas yang panas sekali aku bertanya apa aku boleh mencuci diri.
Aku membuka pakaianku lalu perempuan tua itu menuangkan air ke punggungku. Aku
melihat pandangan yang simpatik kepada kakiku, lalu pada saat itu timbullah sebuah
rencana dalam fikiranku. "Aku selesai bersiram lalu kembali ke kamar tempat 127 i
duduk sebelumnya. Sambil mengeringkan badan aku bercerita padanya dengan nada
yang sungguh-sungguh, bahwa waktu aku dilahirkan Budha telah datang ke dalam
mimpi ibuku dan mengatakan bahwa jika anaknya jadi dewasa, maka perempuan yang
menyembah kakinya dengan tulus ikhlas akan dilahirkan kembali dalam surga. Waktu
aku bicara, perempuan janda yang saleh itu memandang nanap ke mataku sambil
menghitung-hitung tasbihnya. Aku terbaring menelentang bagai mayat; tanganku
terlipat di atas dadaku memegang seuntai tasbih, dan aku membaca sutra palsu. Aku
mengarupkan mataku. Bibirku terus membaca sutra. "Kau bisa bayangkan bagaimana
aku hampir-hampir kaku karena ketawa. Aku mau pecah karena ketawa. Dan aku sama
sekali tidak memimpikan diriku. Aku sadar bahwa perempuan tua itu asyik memuja
kakiku dengan khidmat sambil membaca-kan sutra-sutra. Seluruh fikiranku dikuasai
oleh kakiku dan aku hampir-hampir tercekik karena keadaan yang konyol itu. Kaki
bengkok, kaki bengkok — cuma itu yang bisa kuingat, cuma itu yang bisa kulihat dalam
hatiku. Bentuk kakiku yang mengerikan. Keadaan paling buruk di mana aku sudah
ditempatkan. Kelucuannya. Dan keadaan bertambah lucu lagi, waktu rambut perempuan
tua itu menyentuh telapak kakiku, waktu ia berkali-kali membungkuk sambil berdoa,
hingga aku kegelian. "Rupa-rupanya aku sudah salah kira mengenai nafsuku semenjak
saat aku menyentuh kaki gadis yang indah itu dan kemudian jadi impoten. Karena di
tengah kebaktian yang buruk ini, aku sadar bahwa secara fisik aku terangsang. Ya, tanpa
memimpikan diriku sendiri sedikit pun jua. Ya, dalam keadaan yang paling bengis dari
semua keadaan. "Aku duduk lalu menolakkan badan orang tua itu tiba-tiba. Aku
malahan tidak punya waktu sama sekali untuk merasa 128 an eh karena ia sama sekali
tidak heran melihat perbuatanku. Janda tua itu terlentang di tempat ia kudorong.
Matanya terkatup sambil membaca sutra. Anehnya, aku ingat sekali bahwa sutra yang ia
baca adalah surat dari Rakhmat Besar Darani: 'Iki, iki, Shino shino, Orasan, Furashiri,
Haza haza furashayaS Kau tentu tahu bagaimana ayat ini ditafsirkan: "Kami mohonkan,
kami mohonkan. Kami mohonkan hakikat murni kesucian tak bercacat tempat ketiga
kejahatan, tamak, kemarahan dan kebodohan sudah dihancurkan." "Dalam
penglihatanku, wajah seorang perempuan tua berumur enam puluh tahun — wajah yang
hangus kena matahari tanpa rias — seolah-olah menyambut aku. Kegairahan-ku tak
berkurang sedikit pun jua. Di sini letak puncak keedanan seluruh lelucon ini, tapi tanpa
kusadari aku dibim-bingnya. Atau lebih tepat, aku bukannya tak sadar — aku melihat
semuanya. Sifat khas mereka, ialah jika kita melihat segalanya dengan terang sampai ke
hal yang sekecil-kecilnya. Dan melihat kesemuanya itu dalam lobang yang gelap!
"Wajah perempuan tua yang kerut-merut itu sedikit pun tidak menyimpan kecantikan
dan kesucian. Bahkan keburukan-nya dan umurnya seolah-olah merupakan penegasan
yang terus ada tentang keadaan batinku di mana tak ada impian sama sekali tersimpan.
Siapa yang bisa menjamin, bahwa jika kita memandang tanpa impian pada perempuan
yang mana pun jua, biar bagaimana cantiknya pun ia, siapa yang bisa mengatakan
bahwa wajahnya tidak akan berobah menjadi wajah perempuan tua ini? Kaki
bengkokku dan wajah ini. Ya, demikianlah. Pandangan pada kenyataan memantapkan
keadaan kegairahan tubuhku. Kini untuk pertama kali aku bisa yakin pada nafsuku
sendiri dengan perasaan yang ramah. Dan aku sadar bahwa masalahnya bukanlah
terletak dalam usaha untuk memperpendek jarak antara diriku sendiri dan 129 sasaran,
tapi dalam menjaga supaya jarak tetap sama hingga sasaran tetap me ru pa kan sasaran.'
"Menyenangkan sekali untuk memandangi sasaran kita. Pada saat itu aku menemui
logika nafsu berahiku dari logika seorang yang pincang, yang biarpun tidak bergerak, ia
sampai juga — dari logika bahwa ia tidak akan pernah bisa dihinggapi oleh keresahan.
Aku menemui kepura-puraan yang biasanya disebut orang kegilaan. Nafsu badani tak
ubahnya bagai angin atau sebagai mantel ajaib yang menyem-bunyikan orang yang
memakainya. Dan persatuan yang lahir dari nafsu itu tidak lebih dari sebuah mimpi.
Serempak, pada saat aku memandang, aku juga harus membiarkan diriku dipandang. Di
sanalah, aku melemparkan dari duniaku, baik kaki bengkokku maupun perempuanku.
Kaki bengkokku dan perempuan-perempuanku semua berada dalam jarak yang sama
dari aku. Kenyataan ada di sana; nafsu tidak lebih dari suatu bayangan. Dan sambil
memandang aku merasa diriku jatuh jungkir-balik tiada akhirnya ke dalam bayang-
bayang itu dan sekaligus aku dipancutkan ke atas permukaan yang kupandangi. Kaki
bengkokku dan perempuan tidak akan pernah saling bersentuhan, tidak akan pernah
berkumpul; tapi kalau mereka bersama, maka mereka akan dilontarkan ke luar dunia.
Nafsu menyala tiada putus-putusnya dalam diriku. Karena kaki bengkokku dan kaki
yang indah itu tidak akan pernah bersentuhan, kapan pun juga. "Apa susah bagimu
untuk memahami aku? Apa kata-kataku memerlukan penjelasan? Tapi aku yakin kau
tentu mengerti bahwa sesudah itu aku sanggup meyakini dengan kedamaian fikiran
yang sempurna bahwa "cinta adalah mustahil". Aku dibebaskan dari keresahan. Aku
dibebaskan dari.cinta. Dunia telah berhenti untuk selama-lamanya dan pada saat yang
sama ia juga sudah sampai. Apa ini harus kutegaskan dengan mengatakan "dunia kita"?
Jadi dengan satu kalimat aku dapat merumuskan ilusi besar tentang "cinta" di dunia ini.
Ia adalah usaha untuk menyatukan kenyataan dengan bayang-bayang. Kini aku sampai
pada kesadaran bahwa keyakinanku — keyakinan bahwa aku tidak akan pernah bisa
dicintai orang — adalah keadaan dasar kenyataan hidup manusia. Jadi kini kau tahu
bagaimana aku kehilangan keperawananku!" Kashiwagi selesai bicara. Aku
mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kini akhirnya aku menarik nafas panjang.
Aku betul-betul terpesona oleh pembicaraannya dan tak bisa melepaskan diriku dari
perasaan seolah-olah disentuh oleh suatu cara berfikir yang sampai saat itu belum bisa
kubayang-kan. Beberapa saat setelah Kashiwagi selesai bicara, matahari musim semi
bangun di sekitarku dan tumpak rumput yang cerah itu mulai berkilauan. Suara
teriakan-teriakan yang datang dari lapangan bola basket di belakang gedung juga mulai
kedengaran lagi. Tapi biarpun saat itu masih merupakan sore hari yang sama pada hari
musim semi yang sama, arti dari semuanya seolah-olah berobah sama sekali. Aku tak
bisa berdiam diri. Aku ingin ikut berbunyi, aku ingin menambahkan pembicaraannya.
Lalu aku mengucap-kan kata-kata yang kikuk tergagap-gagap: "Setelah itu tentu kau
sunyi sekali." Sekali lagi ia memperlihatkan kepura-puraan seolah-olah ia tidak
mengerti aku, lalu meminta aku untuk mengulangi apa yang telah kukatakan. Tapi
dalam jawabannya ia memperlihatkan sedikit tanda-tanda persahabatan. "Sunyi,
katamu? Kenapa aku harus sunyi? Nanti kau bisa lihat bagaimana aku berkembang
setelah itu, jika kau nanti sudah mengenali aku." Lonceng berbunyi tanda kuliah sore
akan mulai.. Aku 131 sudah siap untuk berdiri, tapi Kashiwagi yang masih duduk di
rumput menyentakkan lengan bajuku. Seragam universitasku sama dengan seragam
yang kupakai di sekolah Zen. Hanya kancingnya yang baru; baju itu sudah ditambal-
sulam dan sudah lapuk. Lagipula ia sudah terlalu sempit hingga badanku yang kurus
kelihatan lebih kecil dari sebenarnya. "Pelajaran berikut adalah bahasa Jepang-Cina,
'kan? Mem-bosankan sekali. Mari kita jalan-jalan saja." Dengan ucapan ini ia segera
berdiri. Kelihatannya ia memerlukan kekuatan luar biasa: mula-mula ia seolah-olah
mengungkai seluruh tubuhnya dan sesudah itu harus ia sambung-sambung kembali. Hal
ini mengingatkan aku pada onta yang pernah kulihat mencoba berdiri dalam sebuah
film. Sampai saat itu aku belum pernah mangkir dari kuliah, tapi aku tidak ingin
kehilangan kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Kashiwagi. Kami berjalan
menuju gerbang utama. Setelah kami melewati gerbang utama aku tiba-tiba sadar akan
cara berjalan Kashiwagi yang aneh dan merasa diriku dihinggapi oleh suatu perasaan
yang mirip-mirip dengan perasaan malu. Aneh sekali, aku mau saja menyertai perasaan
orang banyak dan merasa malu berjalan bersama Kashiwagi. Kashiwagilah yang
menjelaskan padaku perihal rasa maluku itu. Dan ia juga yang mendorong aku ke arah
kehidupan manusia. Seluruh segi sifatku yang kurasa memalukan dan semua kejahatan
dalam hatiku telah disembuhkan oleh kata-katanya dan telah ia robah menjadi sesuatu
yang segar. Barangkali karena itulah, makanya, waktu aku berjalan me-nyusuri jalan
kerikil melewati gerbang utama, Gunung Hiei yang kulihat di depanku di kejauhan,
berselimut kabut dalam matahaii musim semi, kelihatan seakan-akan ia kulihat untuk
pertama kalinya. Dan ia juga seolah-olah tampil 132 kembali di hadapanku setelah
memperbaharui artinya sendiri, dengan cara yang sama, seperti hal-hal yang begitu
banyak dan berada di sekitarku memperbaharui artinya, setelah tertidur begitu lama.
Puncak gunung itu runcing, tapi kaki-kaki bukit di lerengnya melebar tanpa batas, laik
sebuah tema musik yang mengambang di udara. Waktu aku memandang ke arah
Gunung Hiei di balik rentetan atap-atap rendah, hanya lekuk-lekuk di sampingnya yang
kelihatan jelas dan dekat sekali; warna musim semi gunung besar itu selebihnya
terkubur dalam kebiruan gelap dan rapat. Di luar gerbang utama Universitas Otani tidak
banyak orang yang berjalan-jalan dan juga hampir-hampir tidak ada mobil kelihatan.
Hanya sekali-sekali kedengaran bunyi trem yang menggerajah-gerajah mengikuti
relnya, yang berjalan dari depan stasiun Kyoto menuju depan perhentian trem. Di
seberang jalan, rumah jaga gerbang universitas yang lama berhadapan dengan gerbang
utama yang di sebelah kami dan sebarisan pohon-pohon gingko dengan daun-daun
musim semi yang muda merentang arah ke kiri. "Mari kita jalan-jalan sekeliling
halaman sebentar!" kata Kashiwagi. Aku berjalan di depan menyeberangi jalan trem ke
seberang jalan. Kashiwagi terhuyung-huyung dengan berat menyeberangi jalan yang
lengang itu, sedangkan seluruh tubuhnya mengge-letar karena gerakan-gerakan keras.
Daerah universitas itu cukup luas. Di kejauhan sekelompok mahasiswa yang bebas
kuliah atau yang memutuskan untuk tidak mengikutinya lagi bermain lempar bbla; di
tempat yang lebih dekat beberapa orang mahasiswa lagi berlatih lari maraton.
Peperangan baru beberapa tahun yang lalu berakhir, tapi anak-anak muda kembali
mengasyikkan diri dengan cara-cara untuk menghabiskan enersi mereka. Aku ingat pada
makanan yang 133 kurang baik yang kami peroieh di kuil. Kami duduk di atas sebuah
buaian yang sudah separuh rusak sambil memandang tanpa tujuan pada sesama
mahasiswa yang lagi berlari ke arah kami dan kemudian menyeberangi lapangan
olahraga yang berbentuk bundar telur, berlatih lari maraton. Membolos dari kuliah
seperti ini rasanya seperti sehelai kemeja baru menyentuh kulit kita; matahari dan angin
sepoi-sepoi basah menekankan perasaan ini padaku. Sekelompok pelari berlari
perlahan-Iahan ke arah kami, sambil bernafas berat; setelah mereka mulai lelah, barisan
mereka mulai tidak teratur; lalu mereka berlari ke kejauhan, sambil mengepulkan awan
debu. "Dungu," kata Kashiwagi. "Dungu semua!" Kata-katanya sama sekali tidak
memberikan kesan iri hati. "Buat apa mereka berbuat begitu? Katanya buat kesehatan.
Tapi apa gunanya memamerkan kesehatan kita depan umum seperti itu? Mereka
mengadakan tontonan olahraga di mana-mana, lean? Ini betul-betul tanda bahwa kita
sudah sampai pada tingkat terakhir dekadensi. Yang harus dipamerkan depan umum
adalah hal-hal yang tidak pernah diperlihatkan. Yang harus dilihat oleh umum — ialah
eksekusi! Kenapa mereka tidak mengadakan eksekusi depan umum?" Kashiwagi diam
sebentar lalu melanjutkan dengan nada orang bermimpi: "Bagaimana perkiraanmu cara
mereka mem-pertahankan ketertiban dan keamanan selama peperangan jika tanpa
mempertontonkan pembunuhan dengan kekerasan depan umum? Sebabnya mereka
berhenti mengadakan eksekusH depan umum, kiraku, adalah karena mereka takut rakyat
akan jadi haus darah. Betul-betul dungu, kalau kau mau tahu pendapatku. Orang-orang
yang mengangkat mayat-mayat setelah serangan udara semuanya memiliki air muka
yang lembut dan gembira. Melihat manusia menderita, melihat mereka mandi darah,
melihat regangan kematiannya - semua ini membuat orang jadi rendah hati. Semangat
mereka halus, cerah dan damai karenanya. Kita tidak pemah jadi kejam atau haus darah
di saat-saat seperti itu. Tidak, justru di sore hari musim semi yang indah seperti ini
manusia bisa tiba-tiba jadi kejam. Justru pada saat-saat seperti ini, ya 'kan, di kala orang
memperhatikan matahari mengintip melalui sela-sela dedaunan pepohonan di sebuah
padang rumput yang diriifat dengan baik. Setiap mimpi jahat yang mungkin ada di
dunia ini, semua mimpi jahat yang mungkin ada dalam sejarah, terjadi seperti ini. Tapi
jika kita duduk di tengah-tengah matahari yang cerah, gambaran tubuh mandi darah
yang tertelentang dalam penderitaanlah, yang memberikan batasan jelas pada mimpi
buruk itu dan yang membantu merobah impian menjadi kenyataan. Mimpi buruk itu
bukan lagi kesengsaraan kita, tapi penderitaan berat orang lain. Dan kita tidak
diharuskan merasakan keperihan orang lain. Oh, alangkah melegakan!" Ajaran
Kashiwagi yang penuh darah ini memang punya daya tarik bagiku, tapi yang ingin
kudengarkan kini ialah mengenai ziarah yang ia lakukan setelah ia kehilangan kepera-
wanannya. Karena, seperti telah kukatakan, aku betul-betul mengharapkan hidup dari
Kashiwagi. Aku berhasil untuk masuk dan menyinggung apa yang kuinginkan.
"Maksudmu perempuan?" katanya. "Hm. Aku sudah sampai ke taraf di mana kini aku
dapat mengatakan dengan tepat berkat firasatku, apa seorang perempuan adalah macam
atau bukan macam perempuan yang senang pada lelaki berkaki bengkok. Macam-
macam seperti itu ada. Mungkin sekali perempuan seperti itu, menyembunyikan
keinginannya pada lelaki yang berkaki bengkok seumur hidupnya. Dia bahkan mungkin
tidak ragu-ragu untuk membawa rahasianya itu bersama dia ke dalam kubur. Mungkin
ini satu-satunya 135 134 cacat selera yang dimaiki perempuan itu, mungkin ini satu-
satunya impiannya . . . Coba kita lihat. Bagaimana kita bisa menandai perempuan yang
senang pada lelaki berkaki bene-kok? Biasanya, dia adalah perempuan cantik yang
sejati Hidungnya dingin dan lancip. Tapi ada sesuatu yang longgar di mulutnya . . ."
Waktu itu seorang gadis da tang ke arah kami. Bab Lima GADIS itu tidak berjalan di
daerah universitas. Di luar daerah itu ada sebuah jalan yang melalui daerah rumah-
rumah Icediaman. Jalan itu berada kira-kira dua kaki lebih rendah. Di situlah ia berjalan.
Gadis itu baru keluar dari sebuah rumah bergaya Spanyol yang mengesankan sekali.
Rumah ini memberikan kesan agak rapuh, bercerobong asap dua buah, jendela-jendela
dengan kisi-kisi miring, dan atap kaca yang menutup rumah persemaian yang besar; tapi
kesan umumnya agak terganggu oleh pagar kawat tinggi yang menjulang dekat daerah
universitas, di seberang jalan, yang tak pelak lagi telah didirikan atas permintaan
pemilik rumah itu. Kashiwagi dan aku duduk di atas buaian di luar pagar itu. Aku
memperhatikan wajah gadis itu lalu aku terkejut. Raut mukanya yang agung adalah raut
muka yang tadi dijelaskan oleh Kashiwagi waktu ia bicara tentang macam perempuan
yang "senang laki-laki berkaki bengkok". Waktu kemudian hari aku ingat keheranan
yang kualami pada saat itu, aku merasa diriku agak konyol dan bertanya-tanya dalam
diriku apa bukan mustahil Kashiwagi telah lama mengenal wajah itu dan apa ia tidak
pernah memimpikannya. Kami duduk di sana menunggu gadis itu. Di bawah sinar
penuh matahari musim semi, puncak Gunung Hiei yang biru tua menjulang di kejauhan,
sedangkan pada jarak lebih dekat gadis itu selangkah demi selangkah mendekati kami.
Aku belum lagi pulih dari goncangan yang disebabkan oleh ucapan Kashiwagi tadi —
ucapannya yang mengatakan bahwa kakinya yang bengkok dan wanita-wanitanya
membacaki dunia kenyataan, bagai dua bintang di langit, tanpa sentuh-menyentuh dan
kata-katanya yang aneh tentang bagaimana ia bisa memuaskan nafsunya sedangkan ia
sendiri terkubur dalam dunia bayang-bayang. Waktu matahari ditutup awan: Kashiwagi
dan aku diselimuti oleh bayang-bayang tipis dan dunia kami tiba-tiba seolah-olah
menramerkan aspek diri yang terdiri dari bayang-bayang itu. Semuanya jadi kabur dan
kelabu dan hidupku sendiri juga jadi kabur. Seolah-olah hanya puncak ungu Gunung
Hiei dan gadis ramping yang berjalan menuju kami yang bercahaya dalam dunia
kenyataan dan yang merniliki perwujudan sebenarnya. Jelas sekali bahwa gadis itu
berjalan ke arah kami. Tapi dengan berlalunya waktu, saat-saat terasa sebagai ke-
sengsaraan yang membesar, dan makin dekat ia pada kami makin jelas kelihatan sebuah
wajah yang lain — wajah seseorang yang sama sekali tidak punya hubungan dengan
gadis itu. Kashiwagi berdiri lalu berbisik ke telingaku dengan berat: "Mulai jalan! Ikuti
apa kataku." Aku terpaksa berjalan seperti yang ia suruhkan. Kami berdua berjalan
menyusuri dinding batu, kira-kira dua kaki di atas tanah, sejajar dan searah dengan jalan
gadis itu. "Sekarang lompat ke sana!" kata Kashiwagi, sambil men-dorong punggungku
dengan jarinya yang runcing. Aku melangkahi dinding batu lalu melompat ke jalan. Aku
sama sekali tidak kesulitan untuk melakukan lompatan dua kaki itu. Tapi begitu aku
melompat, Kashiwagi rubuh di sampingku dengan suara yang hebat. la mencoba
melompat dengan 138 kaki bengkoknya, lalu jatuh. Waktu aku melihat ke bawah, aku
melihat punggung hitam seragamnya berombak-ombak di tanah. Waktu ia terbaring
menelangkup di sana, ia sama sekali tidak mirip dengan manusia; selama sesaat ia
kulihat seperti segumpal noda hitam yang tak berarti, laik genangan air keruh yang biasa
kita lihat di pinggir jalan setelah hari hujan. Kashiwagi jatuh tepat di depan gadis itu.
Gadis itu berhenti, terpaku di tempatnya. Waktu aku membungkuk untuk membantu
Kasttlwagi berdiri, aku memandang pada gadis itu; dan waktu kulihat hidungnya yang
dingin dan mancung, dan mulutnya yang memperlihatkan kesan longgar sekitar
bibirnya, matanya yang berawan - waktu aku melihat seluruh wajahnya, selama sekilas
tampil di hadapanku sosok yang kulihat dalam cahaya bulan, sosok tubuh Uiko..
Bayangan itu segera lenyap dan aku melihat seorang gadis yang umurnya kelihatannya
belum lagi dua puluh, memandang padaku dengan air muka mar ah. Aku melihat bahwa
ia ingin berjalan terus melewati kami. Kashiwagi, dalam hal begini rupanya lebih peka
lagi dari aku. Ia mulai berteriak. Teriaknya yang mengerikan menggema di seluruh
daerah kediaman yang lengang itu. "Kau mahluk busuk! Apa aku mau kautinggalkan di
sini seperti ini? Kau yang jadi sebab makanya aku begini!" Gadis itu berbalik. Ia
menggigil dan dengan jarinya yang kering dan ramping ia seolah-olah membarut
pipinya yang pucat. Setelah beberapa saat ia berpaling padaku lalu berkata: "Apa yang
harus kuperbuat?" Kashiwagi menengadah lalu memandang pada gadis itu dengan
tajam. Kemudian ia bicara dengan memberikan tekanan pada setiap kata: "Apa kau mau
mengatakan bahwa di rumahmu tidak ada obat sama sekali?" Selama sesaat gadis itu
terdiam. Lalu ia berbalik dan berjalan ke arah asalnya tadi. Aku membantu Kashiwagi
untuk berdiri. Ia terasa berat sekali, sampai ia berdiri, dan nafasnya tersengal-sengal.
Tapi waktu aku menawarkan bahuku kala kami mulai berjalan, kulihat ia melangkah
dengan kelincahan yang tak kusangka-sangka. *** Aku berlari ke tempat perhentian
trem depan bangsal trem Karasumaru lalu melompat ke atas trem. Baru setelah trem itu
bergerak ke arah Kuil Kencana aku dapat bernafas dengan lega. Tanganku basah karena
keringat. Begitu Kashiwagi kubantu masuk gerbang rumah bergaya Spanyol itu, aku
jadi ketakutan. la kubiarkan di sana berhadapan dengan gadis itu, lalu aku lari tanpa
menoleh ke belakang. Aku tak puny* .waktu untuk berhenti di universitas, tapi lari
sepanjang jalan yang lengang itu, melewati apotik, toko kue, dan toko alat-alat listrik.
Aku merasa melihat sesuatu yang ungu dan merah berkibar-kibar dalam angjn lewat
sudut mataku. Rupa-rupanya waktu lewat di depan gereja Kotoku Tenrikyo, aku melihat
lentera-lentera bertudung kembang pruim mencelak depan dinding hitam dan tirai-tirai
merah tergantung di gerbang, juga dengan jurai-jurai berwama kembang pruim. Aku
tidak tahu ke mana aku begitu tergopoh-gopoh. Waktu trem lambat-laun mendekati
Murasakino, aku sadar bahwa hatiku yang kacau telah membawa aku kembali ke Kuil
Kencana. Kami sedang berada di tengah musim pelancung, dan biarpun hari itu hari
kerja, di Kuil Kencana kelihatan pengunjung yang ramai sekali. Penunjuk -jalan tua itu
memandang padaku dengan rasa curiga waktu aku menguakkan jalan antara orang
banyak itu menuju ke kuil. Maka aku pun berada di sana — berdiri depan Kuil Kencana
yang pada sore musim semi ini dikelilingi oleh debu yang mengambang dan orang
banyak yang menakutkan. Sementara suara penunjuk jalan menggema, kuil itu selalu
seolah-olah separuh menyembunyikan keindahannya dan ber-sikap pura-pura tidak tahu
apa-apa. Hanya bayang-bayang di kolam yang cerah. Tapi jika kita melihat kepadanya
dari arah tertentu, maka awan debu itu kelihatan seperti awan emas yang membungkus
Bodhisatwa dalam lukisan turunnya para orang suci di mana Amida Budha
diperlihatkan turun ke bumi dikelilingi oleh semua Bodhisatwa; demikian juga halnya
dengan Kuil Kencana, seperti adanya samar-samar dalam debu di sana, mirip bagai
wenter tua yang guram dan desain yang sudah lusuh. Bukanlah suatu hal yang aneh jika
keributan dan kegalauan yang ada di sekitarnya masuk ke dalam bentuk tiang-tiang kuil
yang ramping itu, dan kalau mereka diserap ke udara putih ke arah Kukyocho kecil dan
burung funiks yang ada di atas atap menggapai kala membubung ke udara, makin lama
makin kecil. Kuil ini, yang tegak berdiri di sana, merupakan suatu kekuatan yang
mengendalikan, suatu kekuatan yang mengatur. Makin keras keributan yang ada di
sekitarnya, makin keras Kuil Kencana — bangunan ramping asimetris dengan Sosei di
satu sisi dan di atasnya Kukyocho, yang melancip di atas — bertindak sebagai saringan
yang merobah air keruh menjadi air jernih. Kuil itu tidak menolak suara-suara riang
para pelancung itu, tapi ia menyaring suara-suara itu begitu rupa, hingga mereka masuk
ke antara tiang-tiang yang menyerap dan akhirnya menjadi bagian dari keheningan dan
kebeningan. Demikianlah ia berbuat di bumi ini tepat seperti yang dibuat 141 oleh
bayang-bayang kolam yang tenang itu di air. Hatiku jadi tenang, lalu akhirnya rasa
takutku surut. Bagiku, keindahan tentu bersifat seperti ini. Keindahan seperti ini dapat
memisahkan aku dari hidup dan melindungi aku terhadap hidup. "Jika hidupku akan
menyerupai kehidupan Kashiwagi, lindungilah aku. Karena aku tak yakin aku akan
sanggup memikulnya." Demikian doa yang hampir kuucapkan waktu aku berdiri
menghadapi kuil itu. Apa yang disarankan oleh Kashiwagi dalam percakapannya dan
apa yang langsung dia lakukan di hadapanku hanya mungkin punya arti, bahwa hidup
dan menghancurkan adalah satu dan sama. Hidup seperti itu tidak memiliki kewajaran,
dan juga tak memiliki keindahan seperti Kuil Kencana; bahkan, ia sebetulnya lebih
sedikit semacam regangan yang sakit. Memang benar bahwa aku tertarik sekali pada
hidup seperti itu dan bahwa aku mengenali arahku sendiri; tapi adalah mengerikan
sekali jika kita ingat bahwa kita terlebih dulu harus mendarahi tangan kita dengan
nukilan-nukilan kehidupan yang berduri. Kashiwagi membenci naluri dan intelek
sampai ke tingkat yang sama. Bagai sebuah bola yang berbentuk ganjil, hidupnya
berguling terus-menerus lalu mencoba menghancurkan dinding kenyataan. Ia bahkan
tidak mengandung satu perbuatan pun. Hidup yang ia sarankan padaku, singkatnya,
adalah semacam pertunjukan dagelan yang berbahaya, dan dengan itu kita mencoba
menghancurkan kenyataan yang telah menipu kita dengan samaran yang tak dikenal,
dan dengan itu kita membersihkan dunia ini hingga ia tidak pernah lagi mengandung
sesuatu yang tak dikenal. Semua ini baru kuketahui kemudian setelah melihat selembar
poster di kamar tempat penginapan Kashiwagi. 142 Poster itu adalah sebuah lito yang
bagus sekali diterbitkan oleh sebuah biro perjalanan dan memperlihatkan pegunungan
tinggi Jepang. Di atas puncak gunung putih yang menjulang ke angkasa biru, dicetak
kata-kata: "Kami undang Tuan ke sebuah dunia yang tak dikenal!" Kashiwagi mencoret
pesan ini dengan coretan kwas tinta merah berbisa, lalu mencoret-coretkan di
sebelahnya tulisan tangan yang khas dan menari-nari, yang mengingatkan kita pada
kakinya yang bengkok: "Aku tidak suka hidup yang tak dikenal." *** Waktu keesokan
harinya aku pergi ke universitas, hatiku risau memikirkan Kashiwagi. Setelah kufikir-
fikir, rasanya perbuatanku melarikan diri dan meninggalkan dia tidaklah terlalu
bersahabat, dan biarpun aku tidak merasa bahwa aku harus bertanggung jawab, hatiku
risau memikirkan kemungkin-an kalau-kalau pagi itu ia tidak muncul di ruang kuliah.
Tapi waktu kuliah mau dimulai, kulihat Kashiwagi memasuki ruangan dengan
lenggangnya yang tak wajar. Waktu istirahat sehabis kuliah aku segera mendekati
Kashiwagi. Sikap ringan seperti itu bagiku juga merupakan sesuatu yang tidak biasa.
Kashiwagi tersenyum dengan sudut bibirnya lalu menemani aku berjalan ke gang.
"Lukamu tak parah 'kan?" kataku. "Luka?" kata Kashiwagi sambil memandang padaku
dengan senyuman penuh rasa kasihan. "Kenapa aku harus luka? Kenapa kau mengira
aku luka?" Aku bingung mendengar kata-katanya. Setelah membuat aku terperanjat
begitu rupa, Kashiwagi mengungkapkan rahasianya: "Semuanya itu sandiwara. Aku
sudah berkali-kali berlatih menjatuhkan diri di jalan itu, hingga aku bisa
memperlihatkan cara jatuh yang begitu meyakinkan dan orang mengira tulangku patah.
Terus terang aku tidak mengira gadis itu akan berjalan melewati kita dengan air muka
yang tidak perduli sama sekali. Tapi sekiranya kau tahu apa yang terjadi. Gadis itu
sudah mulai jatuh cinta padaku. Atau lebih tepat, ia jatuh cinta pada kaki bengkokku.
Dia sendiri yang membarutkan yodium pada kakiku." Ia mengangkat kaki celananya
lalu memperlihatkan padaku tulang keringnya yang dicat kuning. Aku kini merasa
mengetahui tipu dayanya. Bahwa ia dengan sengaja menjatuhkan diri di jalan untuk
menarik perhatian gadis itu adalah wajar; tapi bukankah dia juga berusaha
menyembunyikan kakinya yang bengkok dengan berpura-pura luka? Tapi keraguanku
ini, sama sekali tidak membuat aku muak padanya, bahkan sebaliknya rasa
persahabatanku padanya, jadi lebih besar. Lagipula, aku merasa — ini perasaan
kekanak-kanakan tentu saja — makin banyak tipu daya tersimpan dalam filsafat-nya,
makin terbukti kejujurannya terhadap kehidupan.
Tsurukawa tidak senang dengan persahabatanku dengan Kashiwagi. Ia memberi aku
nasihat yang sangat ramah sekali tentang itu, tapi aku hanya jengkel karenanya. Aku
sampai menangkis keberatan-keberatannya dengan mengatakan bahwa bagi orang
seperti dia mungkin saja untuk memperoleh kawan baik, tapi bagiku Kashiwagi adalah
kawan yang cukup menyenangkan. Alangkah menyesalnya aku kemudian jika kuingat
kesan sedih yang tak dapat dikatakan tampak di mata Tsurukawa pada saat itu! ***
Dalam bulan Mei Kashiwagi merencanakan berjalan-jalan ke Arashiyama di pinggiran
kota Kyoto. Untuk menghindarkan 144 orang banyak di akhir pekan, ia memutuskan
untuk libur sehari di pertengahan minggu. Anehnya ia menyatakan bahwa ia tidak akan
pergi kalau cuaca baik, tapi hanya kalau hari mendung. Ia akan mengajak gadis dari
rumah bergaya Spanyol itu dan untukku ia telah berusaha mengajak gadis dari rumah
tempat ia menginap. Kami akan bertemu di stasiun Kitano, di lintas kereta listrik
Keifuku. Untunglah hari itu hari yang luar biasa kalau kita perhitungkan musim —
berawan dan memurungkan sama seperti yang dikehendaki Kashiwagi. Kebetulan
waktu itu Tsurukawa lagi menghadapi suatu masalah keluarga, hingga ia terpaksa
mengambil cuti seminggu untuk pergi ke Tokyo. Hal ini sesuai sekali untukku. Biarpun
Tsurukawa bukan orang yang suka mengadukan aku di kuil, aku merasa senang karena
tak usah menyelinap lari dari dia setelah datang bersama dia ke universitas pagi-pagi.
Nah, kenanganku tentang perjalanan itu adalah kenangan yang getir. Keempat kami
yang akan pergi ke Arashiyama. adalah orang-orangmuda, dan seluruh hari seolah-olah
diwarnai oleh kesuraman, kejengkelan, kegelisahan dan kehampaan yang merupakan
bagian dari usia muda. Kashiwagi rupa-mpanya telah memperhitungkan semuanya dan
dengan sengaja memilih hari yang mendung. Waktu itu bertiup angin barat daya; justru
pada saat orang mengira akan bertiup dengan kekuatan penuh, tiba-tiba mati dan
kendur, untuk kemudian disusul oleh hembusan keras. Langit berawan, tapi sekali-sekali
matahari masih mengintip. Sebagian awan bersinar putih, laik dada putih seorang
perempuan yang samar-samar dapat kita kira-kirakan di balik pakaian yang berlapis-
lapis; tapi di kejauhan keputihan makin kabur, dan biarpun kita masih bisa tahu di mana
matahari berada, ia telah berpadu dengan warna langit yang polos, dan membosankan.
145 Kashiwagi tidak berdusta waktu ia bercerita padaku perihal perjalanan itu. Ia
muncul tepat pada waktunya di stasiun didampingi kedua gadis muda itu. Yang seorang
memang gadis yang telah pernah kami temui. Seorang gadis cantik dengan hidung
mancung dan sejuk dan mulut yang longgar; ia menyandang sebuah botol air di bahu
bajunya yang menurut penglihatanku terbuat dari bahan luar negeri. Di sampingnya
berdiri gadis gemuk dari rumah penginapan dengan pakaian dan potongan yang jauh
lebih buruk. Hanya dagunya yang kecil dan bibimya yang kelihatan seolah-olah
dikancing, memiliki sifat-sifat gadis yang menarik. Suasana tiburan. yang mestinya
menyenangkan, telah mulai rusak waktu di kereta. Aku tak dapat mendengar dengan
jelas apa yang diperkatakan Kashiwagi dan kawannya gadis muda itu, tapi mereka tidak
berhenti-hentinya bertengkar. Kadang-kadang gadis itu menggigit bibirnya untuk
menahan air matanya. Gadis dari rumah penginapan kelihatannya tidak perduli apa-apa
dan duduk sambil menyenandungkan sebuah Iagu populer Iambat-lambat. Tiba-tiba ia
berpaling padaku lalu menceritakan kisah berikut padaku: "Ada seorang perempuan
cantik sekali, guru mengarang bunga yang tinggal dekat rumah kami. Pada suatu hari ia
menceritakan sebuah kisah yang sedih sekali padaku. Ia punya seorang kawan pria
semasa perang. Prti itu seorang perwira tentara dan pada suatu saat datanglah waktu
baginya berangkat ke seberang lautan. Mereka hanya punya waktu untuk mengadakan
perpisahan singkat da Kuil Nanzen. Orang tua mereka tidak menyetujui hubungan itu,
tapi hal ini tidak menghalangi mereka dan tidak lama kemudian gadis itu mengandung.
Perempuan malang itu melahirkan bayi yang sudah mati. Perwira itu rusuh sekali
karenanya. Waktu pertemuan mereka yang terakhir, ia berkata, bahwa jika tidak bisa
memperoleh 146 anak, setidak-tidaknya ia ingin minum air susu dari susu perempuan
itu. Mereka tidak punya waktu pergi ke tempat lain, karenanya, pada saat itu dan di
tempat itu juga si perempuan memerah air susu dari susunya ke dalam secangkir teh lalu
memberikannya kepada laki-laki itu untuk diminum. Sebulan kemudian lelaki itu tewas
di medan perang. Semenjak itu perempuan itu hidup sendiri dan tidak pernah lagi punya
hubungan asmara. Dia perempuan yang betul-betul cantik dan masih muda." Aku
hampir-hampir tak bisa percaya pada pendengaranku. Peristiwa mustahil yang
kusaksikan bersama Tsurukawa menjelang akhir masa perang dari puncak gerbang Kuil
Nanzen muncul dalam fikiranku. Aku memutuskan tidak menceritakan kenanganku
pada gadis itu. Karena aku merasa, jika hal itu kuceritakan, maka emosi yang kini
kurasakan setelah mendengar ceritanya akan mengungkapkan rasa misterius yang
melingkupi aku pada hari itu di kuil. Jika tidak kuceritakan, maka kisah gadis itu bukan
merupakan pemecahan teka-teki rahasia tersebut, tapi malahan memperku-at rahasia itu
dan membuatnya lebih dalam. Kereta api melewati rumpun bambu lebat dekat Kolam
Narutaki. Karena waktu itu bulan Mei, maka daun-daun bambu itu mulai berwarna
kuning. Angin bertiup di sela-sela rantingnya, lalu meniup dedaunan kering hingga jatuh
ke permukaan rumpun bambu yang lebat ditebari dedaunan; tapi bagian bawah bambu
itu seolah-olah tidak punya hubungan apa-apa dengan ini, dan berada di sana tenggelam
tenang dalam diri sendiri, dengan buku-bukunya yang besar-besar jalin-berjalin. Hanya
sewaktu kereta api lewat, bambu terdekat berusaha keras untuk membungkuk dan
bergoyang. Sebatang bambu muda berkilat jelas sekali kelihatan di antaranya. Caranya-
yang begitu susah untuk meliuk memberikan kesan 147 suatu gerakan aneh dan
memukau padaku; ia kulihat, lalu sesudah itu ia bergerak pergi ke kejauhan lalu
menghilang. Waktu kami sampai ke Arashiyama, kami berjalan ke arah Jembatan
Togetsu lalu sampai ke kuburan Puteri Kogo yang sebelum itu belum pernah kami lihat.
Selama beratus-ratus tahun yang lalu, puteri ini •menyembunyikan diri di Sagano
karena takut pada kemarahan Taira no Kiyomori. Minamoto no Nakakuni mulai mencari
dia atas perintah Kaisar, lalu menemui tempat persembunyiannya karena bunyi kecapi
yang hilang-hilang timbul yang ia dengar pada suatu malam bulan purnama musim
gugur. Lagu yang dimainkan puteri itu ialah "Kenangan kasih seorang suami." Dalam
sandiwara No Kogo dituUs: "Waktu ia timbul ke tengah malam, penuh dengan
kerinduan pada cahaya bulan, ia sampai ke Horin lalu di sanalah ia dengar bunyi kecapi.
,Ia tidak tahu apakah bunyi itu bunyi topan yang menghembus di puncak-puncak
gunung atau bunyi angin yang bersiul di sela-sela pohon tusam. Waktu ia tanyakan lagu
apa yang dimainkan oleh wanita itu, orang mengatakan bahwa lagu itu adalah lagu:
"Kenangan kasih seorang suami." Lalu besarlah hatinya; karena ini adalah suatu tanda
bahwa yang memainkan lagu itu ingat pada suaminya dengan perasaan penuh kasih."
Puteri Kogo menghabiskan sisa hidupnya di Sagano, sambil berdoa untuk keselamatan'
masa depan Kaisar Takakura. Kuburan yang berada di ujung sebuah jalan'sempit, tidak
lebih dari sebuah tiang batu kecil yang ditanam antara sebatang pohon mapel besar dan
sebatang pohon pruim yang sudah layu. Kashiwagi dan aku membaca sutra sebagai
suatu persembahan saleh pada puteri yang telah tiada itu. Dalam kesahduan cara
Kashiwagi mengucapkan kata-kata suei itu terasa sesuatu yang bersifat murtad. Caranya
148 menjangkiti aku, hingga aku pun membaca sutra dengan cara gembira seperti
biasanya pelajar-pelajar menyenandungkan sebuah lagu melalui hidungnya. Penajisan
yang sedikit ini kuperlukan untuk membebaskan semangatku sampai ke tingkat yang
luar biasa dan membuat aku jadi lebih bergairah. "Ada sesuatu yang jembel sekali pada
kuburan-kuburan bangsawan seperti ini," kata Kashiwagi. "Kekuasaan politik dan
kekuasaan harta menghasilkan kuburan-kuburan bagus. Kuburan yang betul-betul
mempesonakan. Orang-orang itu tidak pernah memiliki imajinasi waktu mereka hidup,
dan karena itu wajar sekali jika kuburan mereka juga tidak memberi peluang untuk
imajinasi. Tapi manusia-manusia yang berbangsa hanya hidup berdasarkan imajinasi
mereka sendiri dan imajinasi orang lain, hingga mereka menrnggalkan kuburan seperti
ini, yang tidak bisa tidak menggoncangkan imajinasi kita. Dan hal' ini bagiku terasa
lebih sialan. Orang-orang seperti itu tidak bisa berhenti, bahkan setelah mereka mati,
untuk memohonkan pada orang. supaya mempergunakan kekuatan imajinasi."
"Maksudmu, kau mau mengatakan bahwa kaum bangsawan hanya ada berkat kekuasaan
imajinasi?" kataku menyertai percakapan itu dengan riang. "Kau sering bicara tentang
kenyataan. Menurut kau apa kenyataan kebangsawanan?" "Ini!" kata Kashiwagi, sambil
menepuk puncak tiang yang tertutup lumut itu. "Tulang atau batu — endapan bukan
organis yang ditinggalkan orang setelah mati." "Kau betul-betul seorang Budhis dalam
pandanganmu," kataku. i "Apa pula hubungannya dengan Budhisme atau yang sebangsa
dengan itu?" kata Kashiwagi. "Kebangsawanan, kebudayaan, semua yang dianggap
orang estetik — kenyataan dari semuanya itu mandul dan bukan organik. Bukankah
1149 Kuil Ryuan yang kaulihat, tidak lebih dari sekadar tumpukan batu. Filsafat, seni —
semuanya batu. Satu-satunya masalah. yang dimiliki manusia ialah politik. Sayang
sekali, 'kan? Kita hampir-hampir dapat mengatakan bahwa manusia tidak lebih dari
mahluk yang mencemarkan diri sendiri." "Bagaimana dengan keinginan seksuil? Di
mana tempatnya?" "Keinginan seksuil? Di antara keduanya. Soalnya adalah soal
berputar-putar dalam sebuah lingkaran setan, dari manusia jadi baru, lalu kembali lagi
jadi manusia, bagai permainan orang buta." Aku serta-merta ingin menambahkan
sesuatu untuk mengingkari keindahan dalam pemikirannya, tapi kedua gadis itu jadi
bosan mendengar percakapan kami lalu mulai berjalan kembali menyusur jalan sempit
itu. Kami berbalik lalu mengikuti mereka. Dari jalan itu bisa kelihatan Sungai Hozu.
Kami sudah sampai ke dekat bendungan di sebelah utara Jembatan Togetsu. Bukit-bukit
Ranzen di seberang sungai penuh dengan kehijauan murung, tapi justru di tempat itu
sebuah garis hidup terdiri dari ruap busa melintang sungai, lalu udara penuh dengan
bunyi gemuruh air. Kami berjalan menyusuri sungai sampai ke Taman Kameyama di
ujung jalan. Di sana, di sungai terdapat sejumlah perahu, tapi waktu kami memasuki
gerbang taman, satu-satunya yang kami temui di sana hanya kertas bekas bertebaran:
jelas bahwa hari ini hanya sedikit sekali pengunjung yang datang. Di gerbang kami
berbalik lalu memandang sekali lagi ke Sungai Hozu dan kehijauan Arashiyama. Kita
dapat melihat sebuah air terjun kecil di seberang sungai. "Pemandangan yang indah
adalah neraka, ya 'kan?" kata Kashiwagi. Aku merasa Kashiwagi telah bicara sepenuh
hati umum 150 waktu ia mengucapkan ini. Sungguhpun begitu aku mencoba melihat
pemandangan itu dengan mata Kashiwagi dan mengenalinya sebagai neraka, seperti
yang ia katakan. Usahaku tidak sia-sia. Karena kini aku melihat bahwa neraka betul-
betul bergetar dalam pemandangan tenang dan wajar yang terbentang di hadapanku,
terbungkus dalam kehijauan yang segar. Rupa-rupanya neraka dapat muncul baik di
siang maupun di malam, kapan saja, di mana saja, sesuai dengan fikiran atau kehendak
kita. Rupa-rupanya ia dapat kita panggil kalau kita kehendaki dan ia akan datang dengan
segera. Pohon-pohon ceri di Arashiyama yang kabarnya telah dipindahkan pada abad
ketiga belas dari pohon-pohon termashur di Gunung Yoshino telah kehilangan bunga-
bunga-nya sama sekali dan mulai menumbuhkan dedaunan. Jika musim bunga sakura
sudah berakhir, maka pohon-pohon ini hanya dapat diberi nama seperti yang biasa
diberikan orang pada kecantikan yang sudah mati. Di Taman Kameyama sebagian besar
pepohonan yang ada adalah pohon tusam, dan di sini warna tidak berubah bersama
dengan perobahan musim. Taman itu besar dan berbukit-bukit. Pepohonannya tinggi-
tinggi semua dan baru berdaun jika sudah tinggi sekali. Ada suatu kesan yang
menggelisahkan dalam memandang taman ini dengan pohon-pohonnya yang banyak
dan tandus silang-menyilang tanpa aturan. Sebuah jalan lebar mengitari taman itu; jalan
itu penuh dengan ketinggian-ketinggian dan pada saat-saat kita mengira ia akan
meninggi sebaliknya ia malahan menurun. Di sana-sini kulihat tunggul-tunggul kayu,
belukar dan pohon tusam kecil. Dekat tempat batu-batu besar putih terbenam muncul
dari tanah, azalea berkembang dengan banyak warna merah lembayung. Di .bawah
langit yang berawan warnanya 151 seolah-olah menyimpan suatu rencana jahat. Kami
mendaki sebuah bukit kecil lalu duduk beristirahat di bawah sebatang pohon lindap
berbentuk payung. Di bawah kami di atas sebuah lereng terdapat sebuah buaian, di
atasnya sepasang muda-mudi lagi duduk. Dari tempat kami, kami dapat melihat seluruh
taman itu meluas ke timur, sedangkan di sebelah barat kami dapat melihat air Sungai
Hozu melalui sela-sela pohon. Derak-derik ayunan itu kedengaran di tempat kami di
bawah pohon itu, bagai bunyi orang menggertakkan gigi. Gadis teman Kashiwagi
membuka bungkusan yang ia bawa. Ia memang benar waktu ia mengatakan bahwa kami
tidak perlu pergi makan siang. Karena bungkusan itu berisi sandwich cukup untuk
empat orang, dan biskuit impor yang waktu itu masih susah untuk diperoleh, dan
bahkan sebotol wiski Suntory yang di kala itu hanya bisa dibeli di pasar gelap, karena
semua persediaan resmi harus diserahkan pada tentara pendudukan. Kyoto waktu itu
adalah pusat kegiatan pasar gelap di daerah Osaka-Kyoto-Kobe. Aku susah sekali
minum minuman keras, tapi waktu gadis itu menawarkan gelas-gelas kecil kepadaku
dan Kashiwagi, aku merapatkan tanganku dengan hormat lalu menerima tawaran itu.
Kedua gadis itu minum teh dari sebuah tempat air. Aku masih ragu bagaimana
Kashiwagi dan kawannya itu bisa begitu akrab. Aku tidak mengerti, kenapa gadis yang
begitu susah untuk dipuaskan, bisa begitu akrab dengan seorang mahasiswa tak
beruang, berkaki bengkok seperti Kashiwagi. Setelah ia minum beberapa gelas wiski, ia
mulai bicara seolah-olah menjawab pertanyaan yang ada dalam fikiranku. "Kau in gat
bagaimana kami bertengkar tadi di kereta 'kan?" katanya. "Soalnya keluarga gadis ini
memaksa dia kawin dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak dia 152 sukai.
Kelihatannya pendiriannya agak lemah dan ia mungkin sekali mengalah pada mereka
setiap saat. Lalu aku menghibur dia, mengancam dan mengatakan padanya bahwa aku
akan melakukan segala-galanya untuk menghalangi perkawinan itu." Pokok
pembicaraan ini sebetulnya tidak pantas ia beberkan di depan gadis itu sendiri, tapi
Kashiwagi bicara dengan seenaknya seolah-olah gadis itu tidak ada di sana. Wajah gadis
itu sedikit pun tidak berobah. Ia mengenakan kalung merjan porselin biru di lehernya
yang kecil. Raut wajahnya begitu mencelak depan langit berawan, tapi wajah itu jadi
lunak berkat rambut hitamnya yang lebat. Matanya dalam dan mata itu memberikan
kesan yang segar dan telanjang. Seperti biasa, mulutnya yang longgar agak terganggang.
Di ruang sempit antara kedua bibirnya, giginya yang runcing dan tipis kelihatan segar,
kering dan putih. Tidak ubahnya gigi binatang kecil. "Oh, sakit, sakit!" teriak Kashiwagi
tiba-tiba sambil membungkukkan badan dan memegang kakinya. Karena kaget aku
buru-buru menolong dia, tapi dia mendorong aku jauh-jauh dan pada saat yang sama ia
memperlihatkan seringai yang aneh padaku. Aku menarik tanganku kembali. "Oh,
sakit!" ia mengerang dengan suara meyakinkan sekali. Pada saat itu aku kebetulan
rnengerling kepada gadis yang di sampingku. Suatu perobahan yang menarik kelihatan
pada mukanya. Matanya kehilangan ketenangan, dan mulutnya gemetar. Hanya
hidungnya yang mancung dan sejuk yang kelihatannya tidak terpengaruh oleh apa yang
terjadi dan memperlihatkan suatu kontras yang aneh dibandingkan dengan bagian
wajahnya yang lain; harmoni dan keseimbangan wajahnya hancur sama sekali. "Oh,
maaf," katanya, "maaf! Tapi kau akan kuobati. Kau akan kusembuhkan dengan segera."
Baru kali inilah 153 aku mendengar dia bicara dengan suara melengking dan tak tahu
malu ini, seakan-akan dia hanya berdua dengan lelaki itu. Ia menegakkan lehernya yang
jenjang dan bagus lalu melihat ke sekitarnya dengan samar-samar. Sudah itu ia berlutut
dengan segera di atas batu di bawah pelindap itu lalu memeluk kaki Kashiwagi. Ia
melekatkan pipi ke kakinya lalu akhirnya menciuminya. Aku terkejut seperti dulu. Aku
berpaling pada gadis dari rumah penginapan itu. Ia melihat ke arah lain, sambil
menyenandungkan sebuah lagu. Saat itu matahari seolah-olah menembu^ awan, tapi ini
mungkin hanya angan-anganku saja. Tapi seluruh komposisi taman itu sudah kehilangan
keselarasannya. Aku merasa retak-retak kecil mulai membuka di seluruh permukaan
gambar yang melingkupi kami — gambar jernih yang melingkupi hutan pinus, pantulan
sungai yang gemerlapan, bukit-bukit di kejauhan, permukaan batu karang putih, azalea
yang terse bar di mana-mana. Rupa-rupanya keajaiban yang ditunggu-tunggu sudah
terjadi dan Kashiwagi telah berhenti mengerang. Ia mengangkat kepala, dan waktu ia
melakukan itu ia sekali lagi menyeringai padaku. "Sekarang aku sudah baik," katanya.
"Kau telah menyem-buhkan aku. Aneh, kan? Kalau mulai terasa sakit, lalu kau berbuat
begitu padaku maka rasa sakit itu segera hilang." Ia memegang rambut gadis itu dengan
kedua tangannya lalu mengangkat wajahnya. Gadis itu memandang padanya dengan
wajah seekor anjing yang setia lalu tersenyum. Pada saat itu cahaya berawan putih
membuat wajah gadis itu mirip sekali dengan wajah perempuan tua berumur enam
puluh tahun yang pernah diceritakan Kashiwagi dulu padaku. Setelah melaksanakan
keajaiban itu, Kashiwagi kelihatannya 154 gembira sekali. Ia begitu gembira, hingga ia
seperti gila. Ia tertawa keras-keras. Gadis itu ia angkat ke atas lututnya lalu mulai ia
ciumi. Ketawanya menggema di dahan-dahan pohon pinus di kaki bukit. "Kenapa tak
kautiduri gadis itu?" katanya padaku waktu aku duduk dengan tenang. "Dia khusus
kuajak untukmu. Atau barangkali kau malu karena kau mengira dia akan mentertawakan
kau sebab kau gagap? Silakan — silakan gagap. Sebelum kau sadar, ia sudah jatuh cinta
pada seorang gagap." "Apa kau gagap?" kata gadis itu padaku, seolah-olah kinilah baru
hal itu ia sadari. "Oh, oh kalau begitu hampir semua cacat hari ini diwakili dengan
lengkap." Kata-katanya menyinggung perasaanku dan membuat aku merasa tidak
sanggup lagi tinggal di sana lebih lama. Tapi anehnya, kebencianku pada gadis
itjfeberobah menjadi keinginan tiba-tiba pada dirinya, lalu aku merasa pening.
"Bagaimana kalau kita berpisah?" kata Kashiwagi, sambil memandang kepada pasangan
muda-mudi yang masih duduk di atas buaian. "Kita membawa pasangan kita masing-
masing ke tempat terpencil dan dua jam lagi kita bertemu di sini." Aku meninggalkan
Kashiwagi bersama pasangannya lalu pergi ditemani gadis dari rumah penginapan itu
menuruni bukit dan kemudian mendaki sebuah lereng yang landai ke arah timur. "Dia
membuat gadis itu merasa seolah-olah orang suci. Akalnya selalu begitu." "Bagaimana
kau tahu?" kataku tergagap-gagap sejadi-jadinya. "Aku sendiri pernah punya hubungan
cinta dengan Kashiwagi." "Dan kini hubungan antara kalian sudah putus?" kataku. "Dan
kau menerimanya dengan begitu mudah." 155 "Ya, aku menerimanya dengan mudah.
Dengan orang cacat seperti dia, sudah memang demikian harusnya." Kali ini kata-
katanya tidak membuat aku marah, tapi justru membuat aku berani dan pertanyaanku
muncul dengan lancar sekali: "Kau cinta pada kakinya yang pincang, 'kan?" "Sudahlah,"
katanya. "Aku tidak ingin bicara tentang kaki kodoknya. Tapi kukira aku cinta pada
matanya yang bagus." Ucapan itu membuat aku kehilangan kepercayaan pada diriku
sendiri. Apa pun perkiraan Kashiwagi, gadis ini telah mencintai sesuatu yang baik
dalam dirinya yang ia sendiri tidak ketahui; dan seperti kini kusadari, keyakinanku yang
angkuh, bahwa pada diriku tidak ada suatu pun yang tidak kusadari yang diakibatkan
oleh penyisihan diriku sendiri sebagai seseorang yang tidak mungkin memiliki segi
yang baik biar bagaimanapun jua. Waktu kami sampai ke puncak lereng itu, kami masuk
ke sebuah padang kecil penuh kedamaian. Di kejauhan di sela-sela pohon pinus dan
pohon sedar kelihatan samar-samar Daimonjiyama, Nyoigatake dan gunung-gunung
lain. Sebuah hutan bambu terentang dari bukit tempat kami berada menuruni lereng
yang mengarah ke kota. Di pinggir hutan itu kelihatan sebatang pohon ceri yang
berbunga agak terlambat dan yang belum lagi menggugurkan bunganya. Bunga-bunga
itu memang terlambat, dan aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apa bukan karena
mereka tergagap-gagap waktu mereka mulai merekah sehingga mereka terlambat
berkembang. Dadaku terasa sesak dan perutku berat. Tapi bukan karena aku baru
rninum. Kini dengan makin dekatnya saat yang tegang, nafsu terasa makin berat, lalu
menjadi semacam bangunan abstrak yang terpisah dari tubuhku dan turun ke atas
bahuku. Rasanya seperti sebentuk mesin besi hitam 156 dan berat. Seperti telah berkali-
kali kukatakan, aku sangat meng-hargai kenyataan, bahwa Kashiwagi, entah karena
kebaikan hati entah karena busuk hati, telah mendorong aku ke arah hidup. Aku sudah
lama mengakui, bahwa aku yang waktu masih sekolah di Sekolah Menengah dengan
sengaja telah menggores-gores sarung pedang kawan sekolahku, tidak berkesanggupan
untuk memasuki hidup lewaf permukaannya yang cerah. Kashiwagilah yang pertama-
tama menunjukkan kepadaku jalan samping yang gelap yang kulewati sehingga dapat
memasuki hidup melalui pintu belakang. Sepintas lalu hal ini kelihatan seperti sebuah
cara yang hanya akan menjurus ke kehancuran; tapi cara ini penuh dengan tipu-daya
yang tak disangka-sangka, ia merobah kehinaan jadi keberanian, ia bahkan dapat
dianggap semacam alkimia yang memulihkan apa yang disebut imoralitas ke
kedudukan aslinya yang berbentuk enersi murni. Dan ini memang suatu macam hidup.
la adalah hidup yang memajukan, yang menangkap, yang merobah, yang bisa hilang. Ia
hampir-hampir tidak bisa disebut hidup tipikal, tapi ia diperlengkapi dengan semua
fungsi kehidupan. Sekiranya di salah satu tempat yang tak bisa dilihat mata, kita
berhadapan dengan pendirian pokok bahwa semua bentuk kehidupan tidak berarti, maka
hidup yang diperlihatkan Kashiwagi padaku harus memiliki nilai yang selalu
meningkat, yang sederajat dengan jenis kehidupan yang sifatnya lebih biasa. Tidak bisa
dikatakan, demikian aku berkata dalam hati, bahwa Kashiwagi bukannya tidak mabuk.
Aku sudah lama tahu, bahwa dalam setiap bentuk pengetahuan, biar bagaimana
rriurungnya pun, selalu men gin tip intoksikasi pengetahuan itu sendiri. Yang
dipergunakan oleh manusia untuk meng-intoksikasikan dirinya sendiri adalah alkohol.
157 Gadis itu dan aku duduk di sebelah kembang iris yang sudah agak layu dan
dimakan cacing. Aku tidak mengerti kenapa ia bersedia mengadakan hubungan dengan
aku dengan cara begini. Aku tidak bisa mengerti — ucapan yang kejam ini
kupergunakan dengan sengaja — kekuatan apa yang telah mendorong dia ke keinginan
untuk ditulari ini. Dalam dunia kita ini mesti ada suatu sikap tidak menolak yang penuh
dengan rasa tersipu-sipu dan kelembutan; tapi gadis itu dengan biasa membiarkan
tanganku memegang tangannya yang kecil dan gemuk, bagai lalat menumpuk atas diri
seseorang yang lagi tidur. Tapi ciuman yang panjang dan rasa lembut dagu gadis itu
menumbuhkan nafsuku. Rupa-rupanya inilah yang telah begitu lama kuimpi-impikan,
tapi rasa itu sendiri tipis dan dangkal. Nafsuku rupa-rupanya tidak berjalan langsung,
tapi berputar mengitari jalan melingkar. Langit putih yang berawan, desir-desir rumpun
bambu, usaha keras ulat yang merangkak di atas selembar daun iris — semuanya ini
tetap seperti sediakala, terpencar-pencar tanpa aturan. Aku mencoba menyelamatkan diri
dengan menganggap gadis yang berada di hadapanku sebagai sasaran nafsuku. Hal ini
harus kutanggapi sebagai kehidupan. Aku harus menganggapnya sebagai suatu halangan
yang "terdapat di jalanku menuju kemajuan dan perburuan. Karena, sekiranya
kesempatan kali ini luput dari tanganku, maka hidup tidak akan selama-lamanya datang
menemui aku. Kenangan pada saat-saat yang tak terhitung jumlahnya di mana kata-
kataku terhalang oleh kegagapanku hingga tak sanggup lahir dari mulutku, melintas
melewati fikiranku. Mestinya pada saat itu aku dengan penuh tekad harus membuka
mulut dan mengatakan sesuatu, biarpun itu berarti aku harus tergagap-gagap. Dengan
demikian aku dapat menjadikan hidup sebagai 158 milikku. Tawaran Kashiwagi yang
kasar, teriakan terus terang-nya: "Gagaplah!" menggema di telingaku dan membuat aku
bersemangat. Akhirnya aku memasukkan tanganku ke bawah rok gadis itu. Pada saat itu
Kuil Kencana tampil di hadapanku. Sebuah bangunan rapuh, murung dan penuh
keagungan. Sebuah bangunan yang lapisan emasnya sudah terkelupas di pelbagai
tempat, dan yang kelihatan bagai tulang-belulang dari kejayaannya di masa lampau. Ia,
Kuil Kencana itu tampil di hadapanku — bangunan aneh, yang jadi jauh kalau kita kira
dia dekat, gedung yang selalu mengambang dengan jelas di suatu titik dalam ruang yang
tak dapat ditentukan, akrab dengan pengamatnya, sungguhpun begitu tetap menjauh.
Bangunan inilah yang kini datang dan tegak di antara aku dan hidup yang hendak
kukejar. Mula-mula ia kecil bagai sebuah luldsan miniatur, tapi dalam waktu sesaat ia
tumbuh jadi besar hingga ia akhirnya menguburkan seluruh dunia yang ada di sekitarku,
dan mengisi setiap sudut dan hubungan dunia iijfc sama seperti dalam model halus yang
pernah kulihat. Kuil Kencana itu jadi begitu besar hingga ia melingkupi segala-galanya.
Ia mengisi dunia bagai musik bahana, dan musik ini sendiri cukup untuk menempati
seluruh arti dunia. Kuil Kencana yang kadang-kadang bersikap begitu tidak perduli
padaku dan yang menjulang ke udara di luar diriku, kini telah menelan aku dan
mengizinkan aku untuk bermukinf dalam rangkanya. Gadis dari rumah penginapan itu
terbang ke kejauhan bagai sebutir debu. Seperti Kuil Kencana yang menolak gadis itu,
demikian juga usahaku untuk menemui hidup, ditolak. Bagaimana aku bisa
mengulurkan tangan kepada kehidupan sedangkan aku sendiri terbungkus dalam
keindahan? Barangkali keindahan juga punya hak untuk meminta supaya 159 aku
meninggalkan tujuanku yang mula-mula. Karena jelas mustahil untuk menyentuh
keabadian dengan satu tangan dan kehidupan dengan tangan lain. Misalkan arti semua
tindakan yang kita arah kan pada kehidupan, adalah, janji mengabdi pada suatu saat dan
membuat saat itu diam, maka Kuil Kencana itu mungkin sadar akan hal ini, lalu untuk
beberapa saat melepaskan sikap tak perdulinya yang bisa terhadap aku. Kuil itu seolah-
olah mengambil bentuk suatu saat dalam waktu, lalu mengunjungi aku di taman ini
supaya aku tahu bagaimana hampanya kerinduanku pada kehidupan. Dalam kehidupan,
suatu saat yang mengambil bentuk keabadian akan membuat kita mabuk; tapi Kuil
Kencana itu tahu betul bahwa saat seperti itu sama sekali tidak berarti jika dibandingkan
dengan apa yang akan terjadi jika keabadian mengambil bentuk satu saat, seperti yang
telah diperbuat kuil itu saat ini. Di saat-saat seperti itulah keabadian keindahan betul-
betul bisa membendung kehidupan kita dan meracuni perwujudan kita. Keindahan
sesaat yang diperlihatkan hidup pada kita tidak berdaya menghadapi racun itu. Racun
itu meremuk dan menghancurkannya dalam sesaat, dan akhirnya mengungkapkan hidup
itu sendiri dalam kesilauan reruntuhan cokelat muda. Hanya sesaat aku dikuasai oleh
gambaran Kuil Kencana itu. Waktu aku ke*mbali ke diriku, kuil itu sudah tak kelihatan
lagi. Ia tak lebih dari sebuah bangunan yang terletak jauh di sebelah timur laut di
Kinugasa yang tak bisa kulihat dari sini. Detik di mana aku mengangankan diriku
diterima dan dipeluk oleh Kuil Kencana itu sudah berlalu. Aku terbaring di puncak
sebuah bukit di Taman Kameyama. Dekatku tidak ada apa-apa kecuali seorang gadis
yang terkapar penuh berahi di antara rumput dan bunga-bunga dan rengung tumpul
sayap serangga. Karena melihat aku 160 uba-tiba ragu, gadis itu duduk lalu menatap
aku dengan mata kosong. Aku melihat pinggulnya bergerak waktu ia berbalik
memunggungi aku dan mengeluarkan sebuah kaca kantong dari tasnya. Ia tidak berkata
apa-apa, tapi kebencian-nya menembus kulitku, laik duri yang masuk ke baju kita di
waktu musim gugur.
Langit tergantung rendah. Rintik hujan kecil-kecil mulai memukul rumput yang ada di
sekelilingku dan dedaunan iris. Kami bangkit buru-buru lalu kembali melewati jalan
menuju pohon lindap itu. *** Bukan saja karena tamasya itu berakhir dengan cara yang
begitu menyakitkan maka hari itu meninggalkan kesan yang begitu murung. Malamnya,
sebelum "pembukaan bantal", Pendeta Kepala menerima sepucuk kawat dari Tokyo. Isi
kawat itu dengan segera diumumkan kepada semua orang di kuil. Tsurukawa
meninggal. Kawat itu hanya mengatakan, bahwa ia meninggal dalam suatu kecelakaan,
tapi kemudian kami mengetahui bagaimana kejadiannya. Pada malam sebelumnya
Tsurukawa pergi mengunjungi pamannya di Asakusa dan di sana ia minum sake banyak
sekali. Ia tidak biasa minum dan minuman itu rupanya sudah naik ke kepalanya. Waktu
ia pulang ia dilanggar oleh sebuah truk yang tiba-tiba datang dari sebuah jalan samping
dekat stasiun. Kepalanya retak lalu ia meninggal seketika itu juga. Keluarganya bingung
sama sekali hingga baru esok sorenya mereka ingat untuk mengirimkan kawat ke kuil.
Biarpun aku tidak menangis waktu ayahku meninggal, kini aku menangis. Karena
kehadiran Tsurukawa rupanya 161 mempunyai hubungan yang lebih erat daripada
kehadiran ayahku dengan masalah yang memenuhi diriku. Semenjak aku kenal
Kashiwagi aku agak menyia-nyiakan Tsurukawa, tapi kini setelah aku kehilangan dia,
aku sadar bahwa kematiannya telah memutuskan satu-satunya benang yang masih
menghubungkan aku dengan dunia siang yang terang. Karena kehilangan cahaya siang,
kehilangan kecerahan, kehilangan musim panas itulah maka aku menangis. Biarpun aku
ingin buru-buru ke Tokyo untuk melawat dan menyatakan belasungkawa pada keluarga
Tsurukawa, aku tidak punya uang. Aku hanya menerima uang kantong sebanyak lima
ratus yen setiap bulan dari Pendeta Kepala. Ibuku, tentu saja tak punya apa-apa. Paling
banyak yang bisa ia lakukan ialah mengirimi aku uang dua ratus atau tiga ratus yen
beberapa kali setahun. Karena itu ia terpaksa tinggal bersama seorang paman di
Kasagun setelah menyelesai-kan semua urusan kuil Ayah, ialah karena ia tidak bisa
hidup dengan uang lima ratus yen sebulan yang disumbangkan oleh para jemaah
ditambah dengan pemberian kecil yang diberikan oleh pemerintah wilayah. Bagaimana
aku bisa memastikan kematian Tsurukawa dalam fikiranku jika aku tidak melihat
mayatnya dan tidak menghadiri penguburannya? Masalah ini menyiksa aku. Perut-nya
yang dibalut kemeja putih yang pernah kulihat terbayang dalam sinar matahari yang
tertumpah menembus pepohonan kini sudah jadi abu. Siapa yang bisa membayangkan
bahwa tubuh dan jiwa anak itu, tubuh dan jiwa yang diciptakan hanya untuk kecerahan
dan yang hanya cocok untuk kecerahan, kini terbaring dalam sebuah kubur? la sama
sekali tidak memiliki tanda-tanda akan mati muda, keadaannya jauh dari semua
kesusahan dan kesedihan, dan ia tidak memiliki sedikit pun unsur yang, biarpun samar-
samar, 162 mengingatkan kita pada maut. Tapi barangkali justru karena ini maka ia mati
dengan begitu tiba-tiba. Barangkali adalah hal yang mustahil untuk menyelamatkan
Tsurukawa dari maut, karena justru ia hanya terdiri dari unsur-unsur murni kehidupan
dan memiliki kerapuhan seekor hewan yang berdarah murni. Kalau begitu maka rupa-
rupanya akulah, sebaliknya, yang ditentukan untuk hidup mencapai usia tua yang
terkutuk. Bangunan dunia yang tembus cahaya tempat dia hidup, bagiku selalu
merupakan suatu rahasia, tapi kini setelah ia meninggal, kerahasiaan ini menjadi sesuatu
yang menakut-kan. Truk itu sudah menghancurkan dunianya yang tembus cahaya,
seperti menumbuk sehelai kaca yang tak bisa kelihatan karena ia bening. Kenyataan
bahwa Tsurukawa tidak mati karena penyakit sesuai sekali dengan gambaran ini.
Memang pada tempatnya, jika ia yang hidupnya merupakan suatu bangunan murni tiada
tara, mengalami kematian karena kecelakaan. Dalam perbenturan ini, yang berlangsung
tidak lebih dari sedetik, terjadilah suatu kontak tiba-tiba lalu nyawanya berpadu dengan
kematiannya. Suatu proses kimia yang cepat sekali. Jelas sekali bahwa hanya dengan
cara yang begitu langsung anak muda yang aneh dan tanpa bayang-bayang ini bisa
mempersatukan bayang-bayangnya dengan kematiannya. Dunia yang didiami
Tsurukawa melimpah karena perasaan cerah dan itikad baik. Sungguhpun begitu aku
dapat mengatakan dengan pasti, bahwa bukanlah karena kesalahfahamannya atau karena
penilaiannya yang manis dan ramah maka ia tinggal di sana. Hatinya yang cerah, yang
sebetulnya tidak punya tempat di dunia ini, didukung oleh suatu kekuatan dan suatu
gaya pegas yang hebat — inilah yang kemudian mengatur tindakan-tindakannya. Ada
sesuatu yang sangat tepat sekali dalam caranya menterjemahkan perasaanku yang gelap
ke dalam perasaan-perasaan yang terang. Kadang-kadang aku curigar, bahwa
Tsurukawa sebetulnya menghayati perasaanku sendiri, justru karena kecerahannya
selalu sesuai dengan tepat sekali dengan kegelapanku, karena kontras perasaan kami
begitu sempurna. Tapi tidak, bukan demikian halnya! Kecerahan dunianya adalah murni
dan punya satu sisi. Ia telah menciptakan sistim sendiri sampai pada bagian yang
sekecil-kecilnya, dan sistim ini memiliki suatu kecermatan yang mungkin juga
menyerupai kecermatan kejahatan. Sekiranya dunia bening dan cerah anak muda itu
tidak ditopang secara terus-menerus oleh kekuatan badannya yang tak kenal lelah, maka
ia akan runtuh dengan segera. Ia berlari ke muka dengan kekuatan penuh. Dan truk itu
sudah melindas badannya yang sedang berlari itu. Wajah Tsurukawa yang selalu riang
dan tubuhnya yang lincah, yang merupakan sumber kesan-kesan baik yang ia berikan
pada orang lain, membuat aku, setelah ia lenyap dari dunia ini, memulai suatu
pemikiran misterius mengenai segi manusia yang dapat dilihat mata. Aku merasa aneh
kenapa sesuatu, hanya dengan sekadar berwujud dan memperlihatkan diri pada mata
kita, bisa menghasilkan kekuatan yang begitu cerah. Aku berpendapat bahwa banyak
sekali harus dipelajari dari tubuh supaya jiwa dapat memiliki rasa kehadiran yang begitu
bersahaja. Kata orang hakikat Zen ialah keiidakadaan segala kekhasan, dan bahwa
kekuatan yang sebenarnya untuk melihat terdapat dalam pengetahuan, bahwa hati kita
tidak memiliki bentuk ataupun rupa. Tapi kesanggupan melihat, yang sanggup
menggambarkan dengan baik ketidakhadiran rupa, rupa-rupanya sangat tajam sekali
untuk menolak pukauan kehadiran bentuk. Bagaimana seorang yang tidak bisa melihat
bentuk atau rupa bisa 164 melihat dan memahami dengan begitu hidup ketidakadaan
bentuk dan ketidakadaan rupa dengan kesungguhan yang lupa diri? Dengan demikian
bentuk jelas seseorang seperti Tsurukawa yang memancarkan kecerahan hanya karena
dia berwujud, seseorang yang dapat dijangkau dengan kedua tangan dan- mata, yang
dapat disebut hidup demi hidup semata, bisa, kini setelah orang itu mati, dipergunakan
sebagai metafora yang paling jernih untuk menjelaskan ketidakadaan bentuk yang tidak
jelas; dan rasa perwujudan dirinya sendiri bisa menjadi contoh yang paling nyata dari
ketidakadaan yang tak berbentuk. Rupa-rupanya, sekarang, memang dia seolah-olah
menjadi sesuatu, tapi tak lebih dari metafora seperti itu. Misalnya, kepatutan dan
kepantasan hubungan antara Tsurukawa dengan kembang-kembang bulan Mei adalah
kepatutan dan kepantasan bunga-bunga itu, sebagai akibat dari kematiannya yang tiba-
tiba dalam bulan Mei, untuk ditebarkan ke dalam peti matinya. Hidupku sendiri tidak
memiliki perlambang kuat seperti yangdimiliki oleh Tsurukawa. Oleh karena itu aku
memerlukan dia. Yang paling membuat aku merasa iri hati padanya ialah karena ia
berhasil mencapai akhir hidupnya tanpa merasa dibebani sedikit pun jua oleh suatu
individualitas yang khusus atau suatu rasa memiliki tugas individuil seperti yang
kumiliki. Rasa individualitas telah menelanjangi hidupku dari perlambangnya, artinya,
dari kekuatannya untuk mengabdi, seperti hidup Tsurukawa, yang merupakan metafora
untuk sesuatu yang berada di luar dirinya; oleh karena itu aku tidak memiliki rasa
perwujudan hidup dan rasa setia kawan, dan itu merupakan sumber rasa sunyi yang
memburu aku tidak henti-hentinya. Aneh sekali. Aku bahkan tidak memiliki rasa setia
kawan dengan kehampaan. 165 Sekali lagi kesunyianku mulai lagi. Aku tidak pernah
lagi ketemu gadis dari rumah penginapan itu dan hubunganku dengan Kashiwagi tidak
lagi seakrab dulu. Cara hidup Kashiwagi masih memiliki daya tank yang besar bagiku,
tapi aku merasa bahwa aku hanya dapat memberikan pengabdianku yang terakhir pada
Tsurukawa jika aku berusaha sedikit untuk melawan daya tarik ini dan berusaha,
biarpun dengan hati enggan, untuk menjauhkan diri. Aku telah menulis surat pada ibuku
dan mengatakan dengan jelas supaya ia jangan lagi datang mengunjungi aku sampai aku
sanggup berdiri sendiri. Aku sudah mengatakan hal ini padanya secara lisan, tapi aku
tak merasa puas sebelum aku menyatakan itu dalam bentuk tulisan dan dengan kata-kata
yang keras. Jawabannya diselimuti dalam kalimat-kalimat yang aneh. Ia menceritakan
padaku bagaimana ia bekerja keras di ladang Paman dan kisah ini kemudian disusul
oleh beberapa kalimat yang dimaksud sebagai nasihat yang paling bersahaja. Lalu ia
menambahkan kalimat berikut: "Aku tidak bersedia mati sebelum aku melihat kau jadi
pendeta Kuil Kencana dengan mata kepalaku sendiri." Aku benci sekali pada bagian
surat ini dan selama beberapa hari aku merasa tidak tenang karenanya. Bahkan di waktu
musim panas aku tidak mengunjungi tempat Ibu tinggal. Karena makanan di kuil buruk
sekali maka hawa panas musim panas kurasakan berat sekali. Di pertengahan bulan
September dilaporkan bahwa mungkin topan besar akan datang melanda. Oleh karena
itu harus ada orang yang berjaga. Aku mengajukan diri secara sukarela untuk tugas itu.
Kukira pada masa itulah terjadinya suatu perobahan halus dalam perasaanku terhadap
Kuil Kencana. Bukan kebencian, tapi suatu firasat bahwa pada suatu saat nanti akan
timbul suatu keadaan di mana hal yang kini berkecambah dengan perlahan-lahan dalam
diriku tidak lagi dapat didamaikan dengan Kuil Kencana. Perasaan ini timbul semenjak
peristiwa di Taman Kameyama, tapi aku takut untuk menyebutnya. Sungguhpun begitu
aku merasa bahagia karena sadar bahwa selama masa jaga semalam itu kuil ini akan
dipcrcayakan padaku. Aku tidak menyembunyikan kegembiraanku. Padaku diberikan
kunci Kukyocho. Tingkat tiga kuil ini dianggap sangat berharga sekali. Beberapa kaki
dari lantai tergantung di loteng sebuah batu tulis yang besar berisi tulisan Kaisar Go-
Komatsu. Radio melapurkan bahwa topan itu akan segera datang, tapi sampai saat itu
masih belum kelihatan tanda-tanda. Di waktu sore hujan turun terus-menerus, tapi kini
hujan sudah reda dan bulan purnama muncul di langit malam. Penghuni biara berjalan-
jalan di taman dan memandang ke langit. Aku mendengar orang mengatakan bahwa
ketenangan ini adalah ketenangan sebelum topan. Kuil tidur pulas. Kini aku sendiri di
Kuil Kencana. Waktu aku berjalan ke bagian gedung itu di mana cahaya bulan tidak bisa
masuk, aku terpukau oleh fikiran, bahwa kini kegelapan yang berat dan mewah kuil itu
membungkus aku. Perlahan-lahan, makin dalam aku tenggelam dalam perasaan yang
nyata ini, hingga akhirnya ia merupakan semacam khayalan. Tiba-tiba aku sadar bahwa
aku sudah memasuki penglihatan yang telah memisahkan aku dari hidup di sore hari di
Kameyama dulu. Aku sendiri di sana, dan Kuil Kencana itu — Kuil Kencana yang
mutlak dan positif — membungkus aku. Apa aku yang memiliki kuil ini atau ia yang
memiliki aku? Atau apa tidak lebih tepat jika dikatakan bahwa suatu keseimbangan
yang aneh telah tercipta pada saat itu, suatu keseimbangan 167 yang memungkinkan
aku untuk jadi Kuil Kencana dan memungkinkan Kuil Kencana untuk menjadi aku?
Kira-kira pukul sebetas lewat angin mulai bertiup lebih keras. Aku menyatakan lampu
senterku lalu menaiki tangga kuil. Waktu aku sampai di puncaknya, kumasukkan
kunciku ke pintu Kukyocho. Aku bersandar pada terali Kukyocho. Angin datang dari
tenggara. Tapi langit tetap tidak berobah. Bulan terbayang di air, di sela-sela ganggang.
Udara penuh dengan bunyi serangga dan kodok. Waktu angin keras pertama-tama
berhembus ke mukaku, suatu getaran yang hampir-hampir sensuil merasuki tubuhku.
Angin makin lama makin keras hingga ia merupakan badai, Ia tak ubahnya bagai
semacam pertanda bahwa aku akan hancur bersama Kuil Kencana. Hatiku berada dalam
kuil itu tapi sekaligus ia bertopang pada angin. Kuil Kencana yang menentukan
bangunan seluruh duniaku, tidak punya thai yang dapat dikibarkan angin. Ia tegak
tenang bermandikan cahaya bulan. Tapi jelas sudah, bahwa angin besar, niat busukku,
pada suatu saat akan menggoncangkan kuil ini, membangunkannya dan pada saat
kehancurannya, merampok keangkuhannya. .. Begitulah keadaannya. Aku dibungkus
dalam keindahan, aku pasti berada dalam keindahan itu; tapi aku sangsi apa aku begitu
ketat terbungkus dalam keindahan hingga tak perlu ditopang oleh kemauan angin yang
ganas yang tak henti-hentinya menghimpun tenaga. Tak ubahnya seperti Kashiwagi
memerintah aku: "Silakan gagap!" begitu aku mencoba menggertak angin dengan
meneriakkan kata-kata yang biasa dipergunakan orang untuk menghalau kuda yang lagi
berpacu: "Kuat, lebih kuat!" Aku berteriak. "Cepat! Lebih kuat lagi." 168 Hutan mulai
bergerak. Cabang-cabang pepohonan sekeliling kolam mulai saling bergeseran. Langit
malam telah kehilangan warna nilanya yang biasa dan mengambil warna lembayung
keabu-abuan. Bunyi serangga belum juga berhenti dan memberikan suatu suasana hidup
sekitarnya. Dari jauh bunyi angin yang menyerupai seruling yang misterius mendekat;
ia seolah-olah kehilangan sebagian dari keganasannya yang semula. Kuperhatikan awan
yang banyak berarak melewati bulan. Satu demi satu mereka najc dari balik bukit di
sebelah selatan bagai batalyon-batalyon besar. Ada awan tebal. Ada awan tipis. Ada
awan luas besar. Ada tumpukan-tumpukan kecil yang tak terhitung banyaknya. Mereka
semuanya seolah-olah dari selatan, berarak melintasi permukaan bulan, lewat di atas
Kuil Kencana, lalu tergopoh-gopoh berangkat ke utara seolah mereka terburu-buru
untuk suatu urusan penting. Aku seolah-olah mendengar teriakan funiks emas yang ada
di atas kepalaku. Tiba-tiba angin surut; lalu membesar lagi. Hutan membalas perobahan
ini dengan peka sekali: ia jadi tenang, lalu tiba-tiba bergoyang dengan liar. Bayang-
bayang bulan di kolam juga berobah, silih berganti gelap dan terang; kadang-kadang ia
mengumpulkan cahayanya yang bertebaran lalu melancar cepat di atas air. Kumpulan
besar awan-awan terentang berkelok-kelok di balik bukit, dan meluas bagai tangan
besar di langit. Ngeri melihat bagaimana awan-awan itu mendesakdan sikut-menyikut
waktu mereka datang mendekat. Sekali-sekali kelihatan tumpak kecil yang cerah di
langit di sela awan-awan itu, tapi tidak lama kemudian ia tertutup lagi. Sekali-sekali
lewat awan yang tipis sekali, hingga aku dapat melihat bulan di baliknya, dikelilingi
oleh keagungan yang samar. 169 Demikianlah langit bergerak sepanjang malam. Tapi
tiri u ada tanda-tanda bahwa angin akan bertiup makin keras av, tidur dekat terali.
Keesokan harinya, pagi-pagi - pagi itu cerah dan terang sekali - penjaga datang dan
memberi tahu bahw topan telah .meninggalkan daerah itu, untungnya, tanpa
menyinggahi Kyoto.

Bab Enam
SUDAH hampir setahun aku berkabung untuk Tsurukawa. Begitu kesunyianku mulai,
maka aku sadar kembali bahwa bagiku mudah untuk membiasakan diri dengan keadaan
ini dan bahwa kehidupan yang paling mudah bagiku sebetulnya adalah kehidupan di
mana aku tidak perlu bicara dengan siapa pun jua. Sikap takutku pada hidup sudah
meninggalkan aku. Setiap hari yang mati punya keasyikannya. Perpustakaan universitas
adalah satu-satunya tempat hi-buranku. Aku tidak membaca buku tentang Zen, tapi
terje-mahan-terjemahan novel dan karya-karya filsafat yang ada. Aku sungkan
menyebutkan nama-nama pengarang dan ahli filsafat itu. Aku sadar akan pengaruh
mereka padaku dan mereka jugalah yang menimbulkan dorongan dalam diriku untuk
melakukan perbuatan yang sudah kulakukan; tapi aku sendiri ingin meyakinkan diriku
bahwa perbuatan itu sendiri adalah hasil pemikiran asliku; terutama, aku tidak senang
perbuatan itu dijelaskan sebagai sesuatu yang didorong oleh suatu filsafat yang sudah
ada. Seperti pernah kujelaskan, kenyataan bahwa aku tidak bisa dimengerti oleh orang
lain adalah satu-satunya sumber kebanggaan bagiku semenjak masa kanak-kanakku, dan
aku sedikit pun tidak punya keinginan untuk mengutarakan diri begitu rupa hingga aku
bisa dimengerti. Jika aku toh mencoba menjelaskan fikiran dan perbuatanku, maka itu
kulakukan 171 tanpa pertimbangan apa-apa sama sekali. Aku tidak tahu apa ini
kulakukan karena aku ingin mengerti diriku sendiri atau bukan. Alasan seperti itu sesuai
dengan watak sejati seseorang dan datang secara otomatis untuk membuat jembatan
antara dia dan orang lain. Kemabukan yang kuperoleh dari Kuil Kencana merupakan
bagian dari kegelapan kepribadianku; dan karena kemabukan ini membebaskan aku dari
segala macam kemabukan lainnya, aku terpaksa melawannya dengan jalan berusaha
dengan sengaja menyelamatkan bagian yang jernih dari pribadiku. Aku tidak tahu
bagaimana halnya dengan orang lain, tapi bagiku, kejemihan itu sendiri adalah aku, dan
karena itu persoalan ini tidak jadi persoalanku karena aku pemiliknya. Waktu itu adalah
masa liburan musim semi tahun 1948, tahunku yang kedua di universitas. Pada suatu
malam Pendeta Kepala keluar. Karena aku tidak punya kawan, satu-satunya cara untuk
memanfaatkan ketidakhadirannya itu adalah dengan berjalan-jalan seorang diri. Aku
meninggalkan kuil lalu keluar melalui Gerbang Somon. Di luar, gerbang itu dibatasi
oleh ?sebuah parit, dan di samping parit itu terdapat sebuah papan pengumuman. Aku
sudah lama melihat papan tua ini, tapi kali ini aku berhenti di hadapannya lalu mulai
membaca" tulisan di situ yang lagi bermandikan cahaya bulan dengan selela-lelanya:
PENGUMUMAN 1. Tidak satu perobahan pun yang boleh dilakukan di wilayah ini
tanpa izin khusus. 2. Tidak ada yang boleh dilakukan dengan salah satu cara sehingga
menyulitkan pen ga we tan wilayah ini. 3. Perhatian umum dimintakan pada peraturan
ini. Setiap pelanggaran terhadap peraturan ini akan dihukum sesuai dengan undang-
undang. MENTERI DALAM NEGERI 31 Maret, 1928 Pengumuman ini jelas sekali
berkenaan dengan Kuil Kencana. Tapi adalah suatu hal yang mustahil untuk mengetahui
siapa yang dituju dengan kata-kata abstrak itu. Aku merasa bahwa sebuah papan
pengumuman seperti ini berada di suatu dunia yang berbeda sama sekali dari dunia yang
didiami oleh sebuah kuil yang tak bisa dirobah dan tak bisa dihancurkan. Pengumuman
itu sendiri meramalkan suatu perbuatan yang jahat dan mustahil. Orang yang telah
menyu-sun peraturan ini dan yang dengan demikian telah memberikan suatu penjelasan
ringkas dari macam perbuatan ini pastilah seorang yang betul-betul telah sesat. Karena
perbuatan ini adalah perbuatan yang hanya bisa direncanakan seorang gila; lalu
bagaimana caranya seorang gila bisa ditakut-takuti sebelumnya dengan jalan
mengancam bahwa perbuatannya akan dihukum? Mungkin yang diperlukan ialah suatu
bentuk khusus tulisan yang hanya dapat difahami oleh orang gila. Aku lagi asyik dengan
fikiran-fikiran kosong seperti itu waktu aku melihat sebuah sosok tubuh mendekat
menyusuri jalan lebar di depan gerbang itu. Pada jam-jam seperti itu tidak ada lagi sisa-
sisa pengunjung yang datang ke mari di waktu siang; hanya pohon-pohon pinus yang
diterangi bulan dan sinar lampu besar, setiap kali ada mobil yang lalu-lalang sepanjang
jalan besar di balik tempat aku berdiri, yang mengisi malam. Tiba-tiba aku mengenali
sosok itu sebagai Kashiwagi. Aku tahu, melihat cara dia berjalan. Lalu di saat dan di
tempat itu juga aku memutuskan untuk mengakhiri perpisahan yang terdapat di antara
kami yang telah kutetapkan selama setahun yang lewat dan hanya mengingat rasa terima
kasihku padanya karena telah menyembuhkan aku di masa lampau. Karena memang ia
telah menyembuhkan aku. Mulai hari pertama aku ketemu dia telah menyembuhkan
fikiran-fikiranku 173 yang pincang dengan kaki bengkoknya, dengan kata-katanya yang
menyakitkan dan terus terang, dengan pengakuan-pengakuannya yang lengkap. Sudah
pada tempatnya jika aku menikmati kenyataan karena aku untuk pertama kali dapat
bercakap-cakap dengan seseorang atas dasar sama sederajat. Seharusnya aku
menggemari kenikmatan (yang hampir-hampir sama dengan melakukan suatu
perbuatan imorii) berendam diri dalam kedalaman pengetahuan yang kukuh bahwa aku
adalah pendeta dan sekaligus seorang yang gagap. Tapi semua ini hapus karena
hubunganku dengan Tsurukawa. Aku menyambut Kashiwagi dengan sebuah senyuman.
Ia mengenakan seragam mahasiswa dan membawa sebuah bungkusan kecil panjang.
"Apa kau mau pergi?" katanya. "Tidak." "Untung aku bisa ketemu kau," katanya. Ia
duduk di atas sebuah tangga batu lalu membuka bungkusannya. "Soalnya," katanya,
sambil memperlihatkan padaku dua buah tabung hitam berkilat yang merupakan sebuah
seruling shakuhachi, "seorang pamanku baru-baru ini meninggal di kampungku dan ia
telah meninggalkan seruling ini buat aku sebagai tanda mata. Tapi aku masih punya
sebuah seruling yang dulu ia berikan padaku waktu ia mengajar aku memainkannya.
Yang ini kelihatannya jauh lebih bagus, tapi aku lebih suka seruling yang biasa kupakai
dan aku tidak merasa perlu untuk memiliki dua buah seruling. Karena itu seruling itu
kubawakan untukmu." Bagi seseorang seperti aku yang tidak pernah menerima
pemberian dari siapa pun jua, adalah suatu kegembiraan untuk menerima sesuatu biar
apa pun jua. Seruling itu ku-ambil lalu kuperiksa. Di bagian depan terdapat empat buah
174 lubang dan di bagian belakangnya satu. "Aku main seruling menurut gaya Kinko,"
tambah Kashiwagi. "Karena malam ini bulan terang, sebagai iseng-iseng kukira tak ada
salahnya aku pergi ke Kuil Kencana dan bermain seruling di sana. Sekaligus aku
bermaksud untuk mengajar kau bermain suling." "Kau telah memilih waktu yang tepat,"
kataku. "Pendeta Kepala sedang keluar. Lagi pula wakilnya yang tua dan pemalas itu
belum lagi selesai menyapu. Gerbang kuil belum akan ditutup sebelum mereka selesai
menyapu." Kehadirannya di gerbang itu merupakan sesuatu yang tiba-tiba, begitu juga
usulnya untuk bermain seruling dalam kuil karena bulan begitu indah malam itu.
Semuanya itu sesuai sekali dengan Kashiwagi yang kukenal. Lagipula, dalam
kehidupanku yang sama dari hari ke hari suatu kejadian tak disangka-sangka selalu
menyenangkan, Sambil memegang seruling baru itu kubawa Kashiwagi ke Kuil
Kencana. Aku tidak ingat betul apa yang telah kami bicarakan malam itu. Rasanya kami
tidak ada membicarakan sesuatu yang penting. Kashiwagi tidak ada memberikan tanda-
tanda bahwa ia ingin mengasyikkan diri dengan filsafatnya yang eksentrik yang biasa
dan paradoks-paradoks yang penuh dun. Mungkin ia datang dengan maksud hendak
mengungkap-kan sesuatu dari dirinya yang kehadirannya sampai saat itu belum
kuketahui. Dan pada malam itu, memang, anak muda berlidah tajam ini, yang biasanya
punya perhatian pada keindahan selama bisa ia kotorkan, memperlihatkan padaku suatu
segi dari sifatnya yang halus. Ia memiliki teori tentang keindahan yang jauh, jauh lebih
tepat dari yang kumiliki. Hal ini tidak ia katakan padaku dengan kata-kata, tapi dengan
gerakan dan matanya, dengan musik ia mainkan 175 pada serulingnya, dan dengan
keningnya yang mencelak dalam cahaya bulan. Kami bersandar pada terali tingkat dua
Kuil Kencana, Choondo. Gang di bawah talang yang membengkok dengan bagus dari
bawah ditupang oleh delapan buah penupang bergaya Tenjiku dan kelihatan seolah-olah
mengambang pada permukaan kolam, di mana bulan lagi bermukim. Mula-mula
Kashiwagi memainkan sebuah lagu singkat bernama "Kereta Istana". Aku betul-betul
terpesona melihat kepintarannya. Aku mencoba meniru dan menempelkan bibirku pada
peniup-nya, tapi aku tak berhasil menimbulkan bunyi. Lalu dengan tetiti ia ajarkan
padaku bagaimana caranya memegang seruling itu dengan tangan kiriku dan bagaimana
menempatkan jari-jariku pada lobang-lobang yang semestinya; ia juga memperlihatkan
padaku bagaimana caranya membuka mulut untuk memegang peniup* dan bagaimana
caranya meniupkan udara ke lapisan logamnya. Tapi, biar bagaimanapun aku berusaha
tidak ada juga suara yang keluar. Pipi dan mataku tegang, dan biarpun tidak ada angin,
aku merasa seolah-olah bulan yang berada di kolam pecah-belah menjadi beribu keping.
Setelah beberapa lama aku lelah, dan selama sesaat aku curiga bahwa Kashiwagi
dengan sengaja memaksakan hukuman ini padaku agar dapat memperolok-olokkan
kegagapanku. Tapi usahaku untuk memaksakan bunyi yang tidak juga kunjung keluar
rupa-rupanya telah memurnikan tenaga batinku yang biasa kupergunakan untuk
menghindarkan kegagapanku sebisa mungkin dengan jalan mendorong kata-kata
pertama dengan lancar keluar dari mulutku. Aku merasa seolah-olah suara yang tidak
juga mau tampil itu sebetulnya telah berwujud di salah satu tempat di dunia yang tenang
dan bermandikan cahaya bulan ini. Aku cukup puas sekiranya setelah berbagai usaha
yang lama aku dapat mencapai dan 176 menghidupkan suara itu kembali. Bagaimana
aku bisa mencapai suara itu — suara misterius seperti yang ditiup oleh Kashiwagi dari
serulingnya. Hanya ketrampilan yang memungkinkan itu. Keindahan adalah ke-
trampilan. Aku beroleh sebuah fikiran yang membuat aku lebih tabah: kalau Kashiwagi
dapat menghasilkan bunyi yang begitu indah dan jernih biarpun kakinya bengkok, maka
aku juga tentu dapat menghasilkan keindahan dengan bantuan ketrampilan. Tapi aku
juga menyadari sesuatu yang lain: cara Kashiwagi memainkan "Kereta Istana" begitu
indah kedengarannya, bukan saja karena latar belakang cahaya bulan yang indah, tapi
justru karena kakinya yang bengkok dan buruk. Kemudian setelah aku lebih akrab
dengan Kashiwagi, aku mengerti bahwa ia tidak senang pada keindahan yang berumur
panjang. Kesenangannya terbatas pada hal-hal seperti musik yang bisa lenyap seketika,
atau mengarang bunga yang akan layu dalam waktu beberapa hari; ia benci pada
arsitektur dan sastra. Jelas ia tidak akan mau mengunjungi Kuil Kencana kecuali pada
malam terang bulan seperti ini. Tapi alangkah anehnya keindahan musik! Keindahan
singkat yang diciptakan oleh seorang pemain musik merobah suatu masa menjadi suatu
kelanjutan yang murni; ia tidak akan pernah bisa terulang lagi; laik umur lalat sehari
atau mahluk lain yang berumur pendek, keindahan adalah suatu abstraksi yang
sempurna dan ciptaan hidup itu sendiri. Tidak ada yang begitu menyerupai hidup seperti
musik; tapi, biarpun Kuil Kencana memiliki keindahan yang sama, tidak ada yang lebih
asing dari dunia dan lebih benci padanya daripada keindahan bangunan ini. Begitu
Kashiwagi selesai memainkan "Kereta Istana", musik — hidup imajiner -lenyap, dan
yang tinggal hanya tubuhnya yang buruk dan 177 mengandung fikiran-fikiran buruk,
utuh dan tak berobah seperti sediakala. Jelas bukan hiburan yang dicari Kashiwagi
dalam keindahan. Hal itu bisa kufahami tanpa perlu membicarakannya. Yang ia senangi,
ialah, beberapa saat setelah nafasnya menciptakan keindahan dalam udara, bahwa
kakinya yang bengkok dan fikirannya yang murung tetap ada, lebih jelas dan lebih
hidup dari sebelumnya. Kesia-siaan keindahan, kenyataan bahwa keindahan yang
melalui tubuhnya tidak meninggalkan bekas sama sekali, bahwa ia tidak mengadakan
perobahan apa-apa — inilah yang disenangi Kashiwagi. Sekiranya keindahan juga dapat
jadi seperti itu bagiku, maka alangkah ringannya hidupku! Aku berkali-kali berusaha
sesuai dengan petunjuk Kashiwagi. Mukaku jadi merah dan nafasku tersengal-sengal.
Lalu, seakan-akan aku tiba-tiba menjadi seekor burung, seakan-akan teriakan seekor
burung melompat dari kerongkonganku, seruling itu memperdengarkan sebuah nada
tunggal yang berani. "Nah, kan!" teriak Kashiwagi sambil tertawa. Nada itu jelas bukan
nada yang indah, tapi nada yang sama muncul setiap kali. Lalu aku membayangkan
bahwa bunyi yang misterius ini, yang rasanya tidak terlahir dari diriku, adalah suara
funiks tembaga em as yang ada di atas kepala kami. *** Sesudah itu aku
mempergunakan kitab petunjuk yang di-berikan Kashiwagi padaku dan aku berlatih
keras siang-malam untuk memperbaiki caraku bermain. Tidak lama kemudian aku
pandai memainkan lagu-lagu seperti "Matahari Terbit Berwarna Merah di atas Dasar
Putih", dan rasa persahabatanku yang lama terhadap Kashiwagi hidup kembali. 178
Dalam bulan Mei aku merasa bahwa aku patut sekali memberikan sesuatu pada
Kashiwagi sebagai tanda terima kasihku atas pemberian seruling itu. Tapi aku tak punya
uang untuk membelikan hadiah untuknya. Aku menjelaskan keadaanku pada Kashiwagi
dengan terus terang; ia mengatakan bahwa ia tidak menginginkan sesuatu yang
memerlukan uang. Lalu, sambil membentuk mulutnya dengan cara yang aneh, ia
berkata: "Karena kau sudah bersusah-payah untuk menyebut-nyebut hal ini, memang
ada sesuatu yang kuingin-kan. Aku ingin mengerjakan fcrangan bunga akhir-akhir ini,
tapi bunga bagiku terlalu mahal. Dan kini kukira sekarang-lah saatnya kembang iris dan
kembang manis mekar di Kuil Kencana. Apa bisa kau membawakan aku sedikit iris —
satu dua tangkai, yang baru saja merekah, dan sepasang yang sudah berkembang penuh?
Kau boleh juga membawakan beberapa bunga lain. Kalau bisa malam ini. Bisa
kauantarkan ke rumah penginapanku?"
Baru setelah aku memberikan persetujuan dengan mudah pada usulnya, kusadari bahwa
ia sebetulnya sudah menyuruh aku mencuri. Supaya aku tidak kehilangan muka, maka
petlulah aku menjadi pencuri bunga. Malam itu kami diberi nasi, hanya sayuran rebus
dan roti hitam yang berat. Untunglah hari itu hari Sabtu dan sejumlah orang kuil itu
sudah keluar semenjak sore. Hari Sabtu dikenal sebagai "pembukaan thai dalam"; kita
boleh keluar dari kuil sore-sore dan tak perlu pulang sebelum pukul sebelas; lagipula, •
hari esoknya disebut "kelupaan tidur" dan kami diizinkan tidur sampai tinggi hari.
Pendeta Kepala telah keluar. Akhirnya matahari turun pukul enam tiga puluh. Angin
mulai bertiup. Aku menunggu sampai lonceng pertama malam hari dibunyikan. Pukul
delapan bunyi lonceng Ojikicho di sebelah kiri gerbang tengah yang melengking dan
bening memberi tahu waktu jaga pertama; ia berbunyi delapan belas kali dan gemanya
lama sekali mengambang di udara. Dekat Sosei, sebuah pancuran kecil, yang separuh
dikelilingi oleh sebuah bendungan, mengalirkan air dari sebuah kolam teratai ke Kolam
Kyoko yang besar. Di sinilah iris mekar dalam jumlah yang banyak, dan indah-indah di
kala itu. Waktu aku mendekat, aku mendengar desir-desir kumpulan kembang iris dalam
angin malam. Kelopak-kelopak merahnya yang tinggi menggetar dalam bunyi air yang
tenang. Di bagian taman itu gelap sekali; warna merah bunga dan warna hijau tua
dedaunan semuan-ya kelihatan hitam. Aku berusaha memetik beberapa iris; tapi berkat
angin kembang dan daun-daun itu mengelakkan jangkauanku, dan sehelai daun telah
melukai jariku. Waktu aku akhirnya sampai ke rumah penginapan Kashiwagi dengan
sepangkuan iris dan kembang-kembang lain, kutemui ia lagi berbaring membaca buku.
Aku khawatir akan ketemu gadis yang tinggal di sana dan yang dulu ikut kami berjalan-
jalan. Tapi untunglah ia sedang keluar. Pencurianku secara kecil-kecilan ini membuat
aku riang. Hal-hal yang pertama-tama dihasilkan oleh hubunganku dengan Kashiwagi
adalah perbuatan-perbuatan jahat kecil-kecilan, penyelewengan kecil-kecilan,
keburukan kecil-kecilan. Semua-nya ini selalu membuat aku jadi lebih gembira; tapi aku
tidak tahu jika penambahan jumlah kejahatan ini secara bertahap-tahap juga akan
menambah kegembiraanku. Kashiwagi senang sekali dengan pemberianku. Ia pergi ke
kamar perempuan induk semangnya untuk meminjam sebuah timba dan alat-alat lain
yang diperlukan untuk menga-rang bunga. Rumah penginapan itu adalah sebuah rumah
bertingkat satu; Kashiwagi tinggal di sebuah kamar di rumah 180 samping. Aku
mengambil serulingnya yang tersandar di lekuk tembok, lalu menempelkan bibirku pada
peniupnya dan memainkan sebuah lagu latihan kecil. Rupa-rupanya aku cukup berhasil,
hingga Kashiwagi yang waktu itu telah kembali ke kamar terheran-heran. Tapi
Kashiwagi yang kutemui malam itu bukanlah Kashiwagi yang sama — yang telah
datang mengunjungi Kuil Kencana. "Kau sama sekali tidak gagap kalau main seruling.
Waktu kau kuajar meniup seruling, sebetulnya aku berharap akan mendengar bagaimana
bunyi musik yang gagap!" Dengan ucapan tunggal ini ia menarik kami ke keadaan yang
timbul waktu kami bertemu pertama kali. Ia memper-baiki sikapnya. Hingga aku
berkesempatan untuk bertanya sambil lalu bagaimana jadinya dengan gadis dari rumah .
bergaya Spanyol itu. "Oh, gadis itu?" katanya seenaknya. "la sudah lama kawin. Aku
berusaha sekeras-kerasnya untuk memperlihatkan padanya bagaimana caranya untuk
menyembunyikan bahwa dia bukan lagi perawan. Tapi suaminya seorang lelaki kaya
yang bodoh dan rupa-rupanya semuanya berjalan dengan baik." Sambil bicara, ia
mengeluarkan bunga iris itu satu demi satu dari dalam cambung air tempat bunga-bunga
itu diren-damnya, lalu menelitinya satu per satu. Lalu ia memasukkan gunting ke dalam
cambung dan menggunting tangkai-tangkai bunga itu dalam air. Lalu tiba-tiba ia
berkata: "Apa kau kenal kata-kata termasyhur yang terdapat dalam bab Pencerah-an
Umum dalam Rinsairoku! 'Jika kau ketemu Budha bunuhlah Budha. Jika kau ketemu
nenek moyangmu, bunuh-lah nenek moyangmu! . . ."' '"Jika kau ketemu murid Budha,'"
sambungku, '"bunuhlah muridnya! Jika kau ketemu ibu-bapamu, bunuhlah ibu- 181
bapamu.' Jika kau ketemu sanak-saudaramu, bunuhlah sanak-saudaramu! Hanya dengan
cara demikian kau akan memper-oleh keselamatan'". "Betul. Berul, demikianJah
keadaannya. Gadis itu adalah murid Budha." "Dengan demikian kau telah
menyelamatkan diri?" "Hm," kata Kashiwagi sambil menyusun kembang iris yang ia
potong lalu memperhatikannya. "Pembunuhan bukan hanya berarti itu saja." Cambung
bunga itu penuh air jernih; dalamnya bercat warna perak. Kashiwagi memeriksa tusukan
bunga, lalu memberulkan salah sebuah pakunya yang agak bengkok. Aku merasa
gelisah lalu berusaha mengisi keheningan itu dengan bicara terus. "Kau tahu tentang
soal Bapa Nansen dan kucing itu, 'kan? Waktu peperangan berakhir, Pendeta Kepala
memanggil kami semua lalu mengkhotbahi kami tentang itu." "Oh, Nansen membunuh
seekor kucing?" kata Kashiwagi, sementara ia mengukur panjang setangkai bunga dan
menekan-nya ke cambung bunga. "Itu suatu soal yang setiap kali muncul dalam hidup
pribadi seseorang, dan selalu dalam bentuk yang agak berbeda. Soal itu agak sulit.
Setiap kali kita berpapasan dengannya di suatu titik perkisaran dalam hidup kita, ia
merobah bentuk dan artinya, biarpun masalah-nya tetap sama. Pertama-rama baik kau
tahu bahwa kucing yang dibunuh oleh Bapa Nansen itu adalah seekor mahluk yang
bengal sekali. Dia cantik, cantik Juar biasa. Matanya seperti etnas dan bulunya berkilat.
Setiap keindahan dan kenikmatan yang terdapat di dunia ini meJen tur ketat bagai
sebuah per dalam tubuhnya yang kecil dan lembut itu. Kebanyakan pengulas lupa
menyebutkan kenyataan bahwa kucing itu adalah mahluk yang indah sekali. Kecuali
aku, 182 tentu saja. Kucing itu tiba-tiba melompat dari setumpukan rumput, matanya
yang lembut dan cerdik berkilauan, lalu ia ditangkap oleh salah seorang pendeta —
seolah-olah semua ini ia lakukan dengan berencana. Dan inilah yang menyebabkan
pertengkaran antara kedua balai biara itu. Karena, biarpun keindahan bisa memberikan
dirinya pada siapa saja, ia sebetul-nya bukan milik setiap orang. Begini. "Bagaimana
harus kujelaskan? Keindahan — ya, keindahan tak ubahnya bagai gigi yang busuk. Ia
bergeser di atas lidah kita, ia berada di sana menyakiti kita dan menegaskan
kehadirannya. Akhirnya keadaan begitu rupa hingga kita tidak kuat lagi menahan
sakitnya, lalu kita pergi ke seorang dokter gigi supaya gigi itu bisa dicabut. Dan, kalau
kita memandang pada gigi yang kecil, kotor berwama cokelat dan berlumuran darah
terletak di telapak tangan kita, mungkin sekali kita akan berfikir seperti berikut: 'Jadi ini
rupanya! Jadi hanya ini rupanya. Benda yang menyakiti aku begitu rupa, yang membuat
aku selalu sadar akan kehadirannya, yang berakar kuat dalam diriku, kini tidak lebih
dari sebentuk benda mati. Tapi apa benda ini sama dengan benda yang tadi? Jika ini
aslinya merupakan bagian kehidupan lahirku, kenapa — berkat nasib yang seperti apa
— ia melekat pada kehidupan batinku dan berhasil membuat aku begitu mende-rita?
Apa dasar perwujudan mahluk ini? Apa dasamya ada dalam diriku? Atau dalam mahluk
ini sendiri? Tapi mahluk yang telah dicabut dari mulutku dan yang kini berada di
telapak tanganku adalah sesuatu yang berbeda sekali. Mustahil ia adalah itu.
"Demikianlah," tambah Kashiwagi, "halnya dengan keindahan. Jadi membunuh kucing
itu sama artinya dengan mencabut sebuah gigi yang busuk, laik mencungkil keindahan.
Tapi tidak bisa dipastikan apa ini betul-betul merupakan 183 penyelesaian terakhir. Akar
keindahan itu tidak dicabut dan biarpun kucing itu sudah mati, keindahan kucing itu
mungkin saja masih hidup terus. Jadi, untuk memperolok-olokkan kegoyahan
penyelesaian inilah maka Josyu sampai meletakkan sepatunya di atas kepalanya. Ia
seolah-olah tahu, bahwa tidak ada penyelesaian kecuali menahan rasa sakit yang
ditimbulkan oleh gigi yang busuk itu." Tafsiran Kashiwagi ini memang tafsiran yang
asli sekali, tapi entah kenapa aku bertanya-tanya dalam hati apa dia tidak memperolok-
olokkan aku setelah meninjau isi hatiku. Untuk pertama kalinya aku betul-betul takut
padanya. Aku takut untuk berdiam diri lalu buru-buru bertanya: "Jadi kau yang mana di
antara- yang dua itu? Bapa Nansen atau Josyu?" "Coba kita lihat. Dalam keadaan
sekarang aku jadi Nansen dan kau jadi Josyu. Tapi pada suatu hari kau bisa saja jadi
Nansen dan aku jadi Josyu. Masalah ini mudah sekali berobah — bagai mata kucing."
Sambil bicara, tangan Kashiwagi bergerak dengan cekatan, mula-mula mengatur letak
penusuk bunga kecil berkarat yang berat dalam cambung, lalu menusukkan sekuntum
kembang ekor kucing, yang merupakan langit dalam karangan bunga ini, sudah itu
menambahkan kembang iris, yang sudah dia arur menjadi suatu karangan berdaun tiga.
Setahap demi setahap maka sebuah karangan bunga menurut ajaran Kansui beroleh
bentuk. Seonggokan kerikil kecil-kecil dan sudah dibersihkan dengan baik, sebagian
putih sebagian cokelat, terletak di samping cambung itu siap untuk dipakai sebagai
hiasan terakhir. Gerakan-gerakan tangan Kashiwagi harus dikatakan indah. Keputusan
kecil yang satu menyusul keputusan lain, dan hasil dari kontras dan simetri berpadu
dengan keindahan yang sempuma. Tetumbuhan alam kini diatur dengan hidup di bawah
suatu pengaturan buatan dan disusun hingga sesuai dengan lagu yang ada. Bunga dan
dedaunan, yang sebelumnya berwujud sebagaimana adanya, kini telah dirobah menjadi
bunga dan dedaufiln sebagaimana harusnya. Kembang ekor kucing dan iris bukan lagi
tetumbuhan individuil tak dikenal yang merupakan bagian dari spesi mereka masing-
masing, kini telah menjadi manifestasi yang langsung dan ringkas dari apa yang dapat
dianggap sebagai hakikat iris dan kembang ekor kucing. Tapi dalam gerakan-gerakan
tangannya itu ada sesuatu yang kejam. Mereka bertingkah seolah-olah memiliki suatu
hak istimewa yang tidak menyenangkan dan muram dalam hubungan dengan tanaman
itu. Mungkin karena ini maka setiap kali aku mendengar bunyi gunting dan melihat
salah satu tangkai bunga itu dipotong, merasa seolah-olah melihat darah menetes.
Karangan bunga Kansui itu kini sudah selesai. Di sebelah kanan cambung itu, di mana
garis lurus kembang ekor kucing berpadu dengan lekuk murni dedaunan iris, salah satu
kembang itu lagi berkembang penuh sedangkan yang. dua lainnya masih putik yang
hendak berkembang. Kashiwagi meletakkan cambung itu dalam lengkung dinding;
seluruh tempat itu hampir-hampir penuh. Maka air dalam cambung itu diam. Batu-batu
kerikil menyembunyikan tusukan bunga dan sekaligus memberikan kesan jernih dari
pinggiran air. "Bagus!" kataku. "Di mana kau belajar?" "Dekat dari sini tinggal seorang
wanita yang memberikan pelajaran mengarang bunga. Aku menunggu kedatangannya
ke mari setiap saat. Aku berkawan dengan perempuan ini dan sekaligus ia mengajar aku
mengarang bunga. Tapi kini setelah aku bisa membuat karangan seperti ini sendiri, aku
185 mulai bosan. Dia masih muda, seorang guru, dan cantik. Kabarnya semasa perang
ia punya hubungan asmara dengan seorang perwira lalu hamil. Anaknya lahir tak
bernyawa dan kekasihnya tewas dalam peperangan. Semenjak itu kerja-nya mengejar-
ngejar laki-laki saja. Dia memiliki sejumlah uang yang cukup dan rupa-rupanya ia
memberikan pelajaran mengarang bunga itu sekadar karena senang. Pokoknya, kalau
kau mau, kau boleh ajak dia malam ini ke mana saja. Dia akan ikut biar ke mana pun."
Waktu aku mendengar itu, aku dirasuki oleh perasaan yang campur-baur. Waktu aku
melihat dia dari puncak gerbang Biara Nanzen, Tsurukawa berada di sampingku. Kini,
tiga tahun kemudian ia akan tampil di hadapanku dan aku akan melihat dia dengan
mataku, bukan melewati mata Kashiwagi. Sampai saat itu aku melihat tragedi wanita itu
sebagai suatu pandangan misteri yang cerah; tapi mulai saat itu aku akan melihatnya
dengan pandangan gelap seseorang yang tidak percaya pada apa pun jua. Karena
nyatanya buah dadanya, yang kulihat dari kejauhan bagai sebuah bulan putih di siang
hari, semenjak itu telah disentuh oleh tangan Kashiwagi, dan bahwa kakinya yang
waktu itu dibungkus oleh kimono yang indah dan berkibar-kibar, telah disentuh oleh
kaki bengkok Kashiwagi. Nyatanya ia telah dinodai oleh Kashiwagi, artinya oleh
pengetahuan. Fikiran ini menyiksa aku sejadi-jadinya dan membuat aku merasa tak
sanggup tinggal lebih lama di tempat itu. Tapi rasa ingin tahu menghalangi aku untuk
pergi. Malahan rasa-rasanya aku tidak sabar lagi menunggu kedatangan perempuan ini
perempuan yang dulu kulihat sebagai titisan Uiko, dan yang kini akan muncul sebagai
gundik usang seorang mahasiswa timpang. Karena, setelah menjadi kawan sekongsi
Kashiwagi, aku sudah siap untuk memasuki 186 kenikmatan maya dengan menodai
kenanganku yang begitu berharga dengan tanganku sendiri. Waktu perempuan itu
datang sedikit pun aku tidak ter-goncang atau bingung. Aku masih bisa ingat saat itu
dengan baik sekali. Suaranya yang serak-serak basah, gerak-geriknya yang teratur dan
cara bicara yang resmi, yang begitu bertolak belakang dengan, kesan liar yang
memancar dari matanya, kesedihan yang muncul dari nadanya waktu ia bicara pada
Kashiwagi, biarpun ia merasa kikuk karena kehadiranku — semua ini kulihat, lalu untuk
pertama kalinya aku mengerti kenapa Kashiwagi meminta aku datang ke kamarnya
malam ini: ia bermaksud untuk mempergunakan aku sebagai penyang- Antara
perempuan ini dan tokoh yang kugambarkan tidak ada hubungan sama sekali. Ia
memberikan kesan seorang perempuan yang berlainan sama sekali dan yang kutemui
untuk pertama kalinya. Biarpun ia tidak merobah cara bicaranya yang sopan; aku tahu
bahwa ia makin lama makin bingung. Ia sama sekali tidak memperdulikan aku.
Akhhtfya rupa-rupanya ia tidak sanggup lagi memikul penderitaannya dan aku
mendapat kesan bahwa ia memutuskan untuk sementara mengesampingkan usaha
merobah pendirian Kashiwagi. Ia pura-pura tiba-tiba jadi tenang lalu melihat ke
sekeping kamar. Biarpun ia sudah setengah jam di sana, jelas baru sekarang untuk
pertama kalinya ia melihat karangan bunga yang terletak begitu menyolok di lekuk
dinding.
"Suatu karangan Kansui yang bagus sekali," katanya. "Kau telah mengerjakannya
dengan baik sekali." Kashiwagi yang telah menunggu-nunggu pertemuan itu
mengemukakan hal itu, kini mengakhiri segalanya. "Ya, bagus juga 'kan?" katanya.
"Kini setelah- aku berhasil mencapai tahap ini, maka tidak ada lagi yang bisa
kauajarkan 187 padaku. Aku tidak memerlukan kau lagi. Ya, betul." Kashiwagi bicara
dengan nada biasa. Aku melihat bagaimana wama surut dari wajah perempuan itu lalu
aku berpaling. Ia seolah-olah tertawa sedikit; tapi dia masih saja memper-tahankan
tingkah-lakunya yang penuh tatakrama itu waktu ia merangkak di atas lututnya
mendekati lekuk dinding itu. Lalu aku mendengar dia berkata: "Apa? Bunga apa ini?
Ya, bunga apa ini?" Pada saat itu juga air ditumpahkan ke lantai, kembang ekor kucing
berjatuhan, kembang iris robek-robek sampai hancur: semua bunga yang kuperoleh
dengan jalan mencuri kini berserakan. Aku senang berlutut di lantai tapi kini tanpa
kusadari aku melompat berdiri. Karena tidak tahu apa yang harus kulakukan aku
bersandar pada jendela. Aku melihat Kashiwagi menyambar pergelangan tangan wanita
yang ramping itu. Sudah itu iaw&rnbak rambutnya lalu pipi perempuan itu ia tampar.
Rente tan perlakuan kasar Kashiwagi sesuai sekali dengan kekejaman yang kulihat
sebelum itu, waktu ia menggunting daun dan tangkai bunga; tapi tindakan ini
kelihatannya seolah-olah merupakan suatu sambungan wajar dari gerakan-gerakannya
sebelumnya. Perempuan itu menutup mukanya dengan kedua tangannya lalu lari ke luar
kamar. Sedangkan Kashiwagi memandang padaku yang berdiri di sana dengan air muka
kebingungan. Ia memperlihatkan senyuman kekanak-kanakan yang aneh padaku lalu
berkata: "Kini giliranmu. Kejar dia! Hibur dia! Lekas!" Aku tidak tahu apakah karena
aku didorong oleh wibawa perintah Kashiwagi atau karena dalam hatiku aku merasa
'kasihan pada perempuan itu, tapi kakiku segera bergerak mengejarnya. Aku berhasil
mengejar dia sampai beberapa rumah dari rumah penginapan itu. Tempat itu adalah
sebuah sudut Itakuramachi, di belakang bangsal trem Karasumaru. Di bawah langit
malam yang penuh awan aku dapat mendengar gerugah-gerugah sebuah trem memasuki
bangsal, dan percikan-percikan api berwarna lembayung yang berpancaran ke dalam
gelap. Perempuan itu berjalan tergopoh-gopoh dari Itakuramachi ke arah timur
lalu masuk ke sebuah lorong belakang. Aku berjalan di sisinya tanpa bicara. Ia
menangis. Tidak lama kemudian menyadari kehadiranku ia lalu berjalan lebih dekat
padaku. Lalu dengan suara yang kedengaran lebih serak karena air matanya, ia mulai
mengemukakan kekecewaannya padaku tentang kejahatan-kejahatan Kashiwagi. Lama
sekali aku dan dia berjalan bersama menyusuri jalan malam itu. Sementara dia
mencanangkan kejahatan-kejahatan Kashiwagi ke telingaku dan menceritakan semua
kekejian, yang menjemukan dan perlakuannya, satu-satunya kata yang kudengar
menggema dalam udara malam itu ialah — "hidup". Kekejamannya, akal-akal bulusnya,
pengkhianatannya, keti-adaan perasaannya, kelicikannya untuk memeras uang dari
perempuan — semuanya ini dikemukakan untuk menjelaskan daya tariknya yang halus.
Satu-satunya yang perlu kupercayai ialah kejujuran Kashiwagi tentang kakinya yang
bengkok. Setelah Tsurukawa meninggal aku hidup lama sekali tanpa menyentuh
kehidupan. Lalu akhirnya aku terangsang karena menyentuh suatu bentuk hidup yang
baru — hidup yang lebih gelap tapi tidak begitu malang, hidup yang tak putus-putusnya
melukai orang lain selama hidup kita. Kata-kata bersahaja Kashiwagi: "Pembunuhan
tidak hanya berarti itu saja!" sekali lagi hidup bagiku. Yang juga kuingat pada saat itu
ialah doa yang pernah kuucapkan waktu aku mendaki gunung di belakang biara waktu
perang berakhir dan memandang ke lautan cahaya kota: "Biarlah kegelapan yang berada
dalam hatiku menyerupai kegelapan malam yang melingkungi cahaya yang tak
terhitung jumlahnya itu!" 189 Perempuan itu tidak menuju rumahnya. Sebaliknya, ia
berkelana tanpa tujuan melewati lorong-lorong belakang yang tidak banyak orang lewat,
hingga ia dapat bicara dengan bebas. Waktu kami sampai ke depan rumah tempat ia
tinggal sendiri, aku tidak tahu lagi di bagian kota mana kami berada. Waktu itu sudah
pukul setengah sebelas. Aku mau pulang ke kuil, tapi perempuan itu membujuk aku
supaya tidak meninggalkan, hingga aku ikut masuk bersama. Ia berjalan di depan lalu
menyalakan lampu. "Pernah kau mengutuki seseorang dan memohonkan supaya ia
mari?" katanya tiba-tiba. "Ya," jawabku dengan segera. Anehnya, aku tidak pernah
menyadarinya sampai saat itu. Tapi kini bagiku jelas bahwa aku selama ini
mengharapkan kematian gadis di rumah penginapan itu karena ia telah menjadi saksi
kehinaanku. "Menakutkan," katanya sambil merendahkan diri ke atas lantai yang
beralaskan tikar pandan lalu berbaring menyamping. "Aku juga pernah." Kamarnya
diterangi dengan cahaya yang agak luar biasa bagi masa ketika arus listrik sangat
dibatasi. Kekuatan bola lampunya paling sedikitnya seratus wat, tiga kali lebih besar
dari yang ada di kamar Kashiwagi. Untuk pertama kali aku melihat tubuh wanita itu
diterangi. Sabuknya yang bergaya Nagoya putih cemerlang, dan kabut lembayung
kembang trelis yang merupakan pola Kimono Yuzen menyolok jelas. Puncak gerbang
Biara Nanzen dipisahkan dari ruang tamu Tenjuan oleh sebuah jarak yang hanya bisa
diatasi oleh burung, tapi kini aku merasa bahwa selama tahun-tahun yang lalu aku telah
memperkecil jarak ini selangkah demi selangkah dan kini akhirnya sudah mendekati
tujuan. Semenjak 90 sore hari di gerbang itu aku sudah mencencang waktu menjadi
kepingan menit dan kini aku betul-betul mulai mendekati arti peristiwa misterius di
Tenjuan itu. Rupanya memang mestinya begini, kataku dalam hati. Tidak bisa
dihindarkan bahwa perempuan ini akan berobah, seperti berobahnya wajah bumi ini
pada saat cahaya dari sebuah bintang yang jauhnya akhirnya menemuinya. Jika pada
saat aku melihat dia dari gerbang Biara Nanzen, dia dan aku bersatu menunggu
pertemuan hari ini, maka semua perobahan seperti yang terjadi dalam dirinya semenjak
itu, dapat di-tiadakan; dengan beberapa perobahan kecil, semuanya dapat dipulihkan
kembali ke keadaannya semula dan aku yang dulu dapat berhadapan dengan dirinya
yang dulu. Lalu aku menceritakan kisah itu. Aku menceritakannya dengan nafas sesak
dan tergagap-gagap. Waktu aku bicara, daun-daun hijau itu kembali bercahaya, dan
malaikat dan burung-burung Hoo yang terkenal dan dilukis di loteng biara itu hidup
kembali. Suatu warna segar kembali pada pipi perempuan itu dan cahaya liar yang tadi
kelihatan di matanya kini berobah menjadi suatu pernyataan yang tak pasti dan campur-
baur. "Jadi itu yang telah terjadi?" katanya. "Oh. Jadi itu yang sebetulnya sudah terjadi.
Karma yang aneh. Ya, itu artinya karma yang aneh." Waktu dia bicara matanya penuh
dengan air mata kegembiraan yang bangga. Ia lupa pada penghinaan yang baru ia alami
dan sebaliknya memasukkan dirinya kembali ke dalam kenangan. Dari goncangan yang
satu ia pindah ke goncangan yang lain, dan ia hampir-hampir gila. Pinggir
bawahkimononya yang berpola kembang wisteri sudah kusut.
"Kini aku tidak punya air susu," katanya. "Oh, bayiku yangmalang! Tidak, aku tidak
punya air susu, tapi sungguhpun 191 begitu kini akan kulakukan apa yang kulakukan di
kala itu. Karena kau mencintai aku semenjak itu, maka kau akan kuanggap sama dengan
lelaki itu. Selama aku bisa berpendapat begitu maka tak ada yang perlu kumalukan. Ya,
aku akan lakukan sama seperti yang kulakukan kala itu." Ia bicara seolah-olah
menyampaikan suatu keputusan besar. Tindakannya yang menyusul kata-katanya
seolah-olah datang dari limpahan kegairahan, kalau bukan karena keputusasaan yang
melimpah-limpah. Kukira secara sadar ia didorong oleh kegairahan untuk melakukan
perbuatan itu dengan penuh perasaan itu. Tapi kekuatan yang memaksa sebenarnya
adalah keputusasaan yang disebabkan oleh Kashiwagi atau setidak-tidaknya sisa-sisa
rasa yang selalu tinggal dari keputusasaan itu. Demikianlah ia membuka sabuknya di
depan mataku dan mengungkai sejumlah tali. Lalu dengan iringan bunyi siitera sabuk
itu sendiri jadi longgar, dan karena lepas dari ikatannya maka leher kimononya pun
membuka. Samar-samar aku dapat melihat buah dada putih perempuan itu. Ia
memasukkan tangannya ke balik kimononya lalu ia keluarkan buah dada kirinya dan ia
hadapkan padaku. Aku akan berdusta kalau kukatakan aku tidak pusing karenanya. Aku
memandang ke buah dadanya. Aku memper-hatikannya dengan teliti sekali.
Sungguhpun begitu aku tetap mempertahankan perananku sebagai penonton. Titik putih
yang misterius yang kulihat dari jauh - dari atas gerbang biara itu — bukanlah gumpalan
daging yang bisa dijamah seperti ini. Kesan itu begitu lama meragi dalam diriku hingga
buah dada yang kini kulihat terasa tidak lebih dari daging, tak lebih dari benda yang
dapat dipegang. Daging itu sendiri tidak memiliki kekuatan untuk merayu atau
menggoda. Setelah ia dibeberkan di hadapanku dan terputus sama sekali dari kehidupan,
ia tidak lebih dari suatu bukti bagaimana sedihnya hidup ini. Aku masih tetap tidak akan
mengatakan sesuatu yang tidak benar. Tak sangsi lagi waktu aku melihat buah dadanya
yang-putih itu aku diserang oleh rasa pening. Soalnya aku melihat terlalu teliti dan
terlalu lengkap, hingga apa yang kulihat melebihi kenyataan buah dada seorang
perempuan tapi setahap demi setahap berobah menjadi nukilan yang tak berarti. Pada
saat itulah suatu keajaiban terjadi. Setelah mengalami suatu proses yang perih, buah
dada perempuan itu akhirnya kulihat indah. Ia jadi dibekali dengan segala kekhasan
keindahan steril dan dingin, dan sementara buah dada itu tetap berada di hadapanku,
lama-lama melingkupi dirinya sendiri dalam prinsip dirinya sendiri. Sama seperti
mawar menutup diri dalam prinsip pokok sekuntum mawar. Keindahan datang lambat
likali padaku. Orang lain melihat keindahan dengan cepat, dan menemui keindahan
serta nafsu syahwat pada saat yang sama; padaku ia selalu datang kemudian. Kini dalam
waktu sesaat buah dada perempuan itu memperoleh hubungannya dengan keseluruhan,
ia mengatasi kenyataannya sebagai daging semata lalu menjadi suatu substansi yang tak
merasa, yang selalu abadi dan berhubungan dengan keabadian. Semoga aku berhasil
membuat orang mengerti diriku. Kuil Kencana itu sekali lagi tampil di hadapanku. Atau
lebih tepat, buah dada itu berobah menjadi Kuil Kencana. Aku ingat malam topan pada
permulaan musim gugur waktu aku lagi berjalan-jalan di kuil. Biarpun sebagian besar
dari gedung itu terbuka untuk cahaya bulan, suatu kegelapan yang berat dan mewah
bertengger di atasnya dan kegelapan itu telah masuk ke dalam kuil malam itu, ke dalam
kisi-kisi, ke dalam pintu-pintu kayu, ke bawah atap dengan 193 lapisan-lapisan emas
yang sudah terkelupas. Dan ini wajar sekali. Karena Kuil Kencana itu sendiri sebetulnya
sesuatu yang dibangun dengan sangat teliti sekali. Sungguhpun begitu, biarpun bentuk
lahir buah dada ini menyinarkan cahaya daging yang cerah, dalamnya penuh dengan
kegelapan. Hakikat sebenarnya terdiri dari kegelapan yang berat dan mewah yang sama.
Aku yakin aku tidak mabuk karena pengertianku, penger-tianku telah diinjak-injak dan
dihina; adalah wajar sekali kalau hidup dan nafsu berahi mengalami proses yang sama.
Tapi perasaan gairahku yang dalam tetap tinggal dan selama beberapa lama aku duduk
bagai orang lumpuh di hadapan buah dada perempuan yang terbuka itu. Aku duduk di
sana waktu aku menangkap pandangan perempuan itu yang dingin dan penuh
kebencian. Ia memasuk-kan buah dadanya kembali ke dalam kimononya. Padanya
kukatakan, bahwa aku harus pergi. Ia mengantarkan aku ke pintu lalu menutup pintu
keras-keras setelah aku keluar. Sampai aku kembali ke kuil aku berada dalam keadaan
bergairah. Dalam mata fikiranku aku dapat melihat Kuil Kencana dan buah dada
perempuan itu datang dan pergi sflih berganti. Aku dilingkupi oleh suatu rasa
kegembiraan yang impoten. Tapi waktu garis-garis kuil itu mulai kelihatan di sela-sela
hutan pinus yang gelap, yang mendesau-desau dalam angin, semangatku setapak demi
setapak jadi dingin, perasaan impotenku jadi lebih berkuasa, dan kemabukanku berobah
menjadi kebencian — aku benci entah karena apa. "Jadi sekali lagi aku sudah
diasingkan dari hidup!" kataku dalam hati. "Kenapa Kuil Kencana itu berusaha
melindungi aku? Kenapa ia memisahkan aku dari hidup tanpa kuminta? Tentu mungkin
saja kuil itu berusaha menyelamatkan aku dari api neraka. Tapi dengan berbuat begitu,
Kuil Kencana itu membuat aku lebih jahat dari mereka yang betul-betul jatuh ke dalam
neraka, ia membuat aku menjadi 'seseorang yang lebih tahu tentang neraka dari siapa
saja."' Gerbang utama kuil hitam dan tenang. Di gerbang samping, lampu yang tidak
pernah dipadamkan sampai lonceng pagi berbunyi, bercahaya muram. Aku membuka
gerbang samping. Di dalam kudengar bunyi rantai besi tua dan berkarat yang menarik
beban pemberat. Pintu terbuka. Penjaga gerbang sudah tidur. Di bagian dalam gerbang
itu ada pesan yang mengatakan bahwa orang terakhir yang pulang setelah lewat pukul
sepuluh harus mengunci gerbang. Dua papan nama menunjukkan bahwa pemiliknya
belum pulang. Salah satu papan nama itu adalah papan nama Pendeta Kepala; dan yang
satu lagi milik tukang kebun tua. Waktu aku berjalan ke arah kuil, aku melihat sejumlah
papan panjang lebih kurang lima meter, yang dipergunakan untuk sebuah pekerjaan
bangunan. Bahkan di waktu malam urat-urat kayu yang terang itu dapat dilihat. Waktu
aku mendekat*kulihat serbuk gergaji bertebaran di seluruh tempat itu bagai kembang
kuning; bau kayu yang menarik menyebar di seluruh kegelapan. Sebelum masuk dapur,
aku berbalik untuk melihat Kuil Kencana itu buat akhir kali. Aku menyu-suri jalan ke
tempatnya dan lambat-laun gedung itu mulai kelihatan. Ia dikelilingi oleh pepohonan
yang berdesir dan tegak membatu, tapi tetap bangun, di tengah-tengah malam. Seolah-
olah ia pengawal malam. Biarpun bagian Rokuonji yang berpenghuni tidur di kala
malam, aku belum pernah melihat Kuil Kencana itu tidur. Bangunan yang tak
berpenghuni ini bisa melupakan tidur. Kegelapan yang berdiam di dalamnya bebas dari
hukum-hukum manusia.
Lalu dengan nada yang mirip dengan sebuah kutukan 195 aku berbicara pada Kuil
Kencana itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, dengan nada yang kasar: "Satu hari
nanti kau akan kukuasai. Ya, satu hari nanti kau akan kutundukkan, hingga kau tidak
bisa lagi menghalang-halangi aku." Suara menggema kosong dalam bayang-bayang
malam Kolam Kyoko. Bab Tujuh ADA semacam tulisan rahasia yang seolah-olah
bekerja dalam pengalaman umum hidupku. Seperti di sebuah gang yang terdiri dari
cermin, bayangan yang satu dipantulkan, kemudian dipantulkan sampai ke kedalaman
yang tak berakhir. Hal-hal yang kulihat-lihat di masa lampau dipantulkan dengan jelas
pada apa yang kutemui untuk pertama kalinya, dan aku merasa seolah-olah dibimbing
oleh kesamaan-kesamaan itu ke liku^ku dalam gang itu, ke suatu ruang dalam yang tak
berlunas. Orang yang pada akhir hidupnya akan dihukum mati tak henti-hentinya -
setiap kali ia melihat tiang kawat dalam perjalanan menuju tempat ia bekerja, setiap kali
ia melintasi jalan kereta api -r menggambarkan gambaran tempat hukuman itu
dilakukan dalam fikirannya dan akhirnya menge-nali tempat itu dengan akrab sekali.
Oleh karena itu dalam pengalamanku tidak ada yang mempunyai si fat menumpuk.
Tidak ada ketebalan yang begitu rupa yang dapat mem bentuk sebuah gunung dengan
jalan membangun lapis demi lapis. Aku tidak merasa akrab dengan apa pun di dunia ini
kecuali dengan Kuil Kencana; bahkan, aku tidak mempunyai hubungan yang akrab
dengan pengalamanku di masa lampau. Tapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa di antara
semua pengalaman ini ada unsur-unsur tertentu - unsur-unsur yang tidak ditelan oleh
laut waktu yang gelap, unsur-unsur yang tidak susut menjadi sesuatu 197 yang tidak-
berarti dan penguiangan yang tak putus-putusnya -yang dapat dihubung-hubungkan
hingga merupakan suatu gambar an yang mengerikan dan tidak menyenangkan. Kalau
begitu apa unsur-unsur tertentu itu? Aku seringkali memikirkannya. Tapi nukilan-
nukilan cerai-berai dan berkilau-an dari pengalaman-pengalaman ini lebih lagi tidak
memiliki keteraturan dan arti dari pecahan-pecahan botol bir yang gemerlapan, yang
kita lihat di pinggir jalan. Aku tidak berhasil mempercayai bahwa nukilan-nukilan ini
adalah ke-pingan bertebaran daripada sesuatu yang di masa lampau memiliki bentuk
yang indah sekali. Karena, dalam ketidakadaan arti mereka, dalam ketidakadaan
susunan mereka, dalam keburukan mereka yang khusus, setiap nukilan yang tersebar ini
masih melamunkan keakanan. Ya, biarpun mereka tidak lebih dari nukilan, masing-
masing tanpa rasa takut, tenang, aneh, melamun tentang masa depan! Suatu masa depan
yang tidak akan pernah bisa ditegakkan atau dipulihkan, yang tidak akan pernah bisa
disentuh, suatu masa depan yang belum pernah ada yang serupa dengannya
sebelumnya! Renungan-renungan tak jelas seperti kadang-kadang memberikan padaku
semacam kegairahan sendu yang entah bagaimana, tapi pokoknya kurasakan cocok
dengan diriku. Pada kesempatan-kesempatan seperti itu, jika bulan kebetulan lagi
terang, maka aku mengambil serulingku lalu bermain di samping Kuil Kencana. Aku
kini sudah sampai ke taraf untuk bisa memainkan lagu Kashiwagi "Kereta Istana", tanpa
harus membacanot. Musik tidak ubahnya bagai mimpi. Tapi sekaligus, sebaliknya, ia
mirip dengan suatu bentuk kesadaran yang lebih menyolok daripada yang kita miliki di
saat-saat kita sadar. Aku sering bertanya dalam hati, yang mana di antara kedua itu yang
sebetulnya musik? Kadang-kadang musik memiJiki kekuasaan untuk membalikkan
kedua hal yang 198 bertentangan ini. Dan kadang-kadang aku berhasil dengan mudah
menyatukan diriku sendiri dengan lagu "Kereta Istana" yang kumainkan. Sukmaku
mengenal kenikmatan selagi menyatukan diri dengan musik. Karena bagiku, beda dari
Kashiwagi, musik adalah hiburan sejati. Kalau aku selesai meniup serulingku, aku
sering bertanya dalam hati: "Kenapa Kuil Kencana membiarkan perbuatanku ini?
Kenapa ia tidak menyalahkan aku atau menghalangi aku di saat-saat aku menyatukan
diri ke dalam musik? Belum pernah kuil itu membiarkan aku jika aku mencoba
menyatukan diriku dalam kebahagiaan dan kenikmatan hidup. Pada setiap kejadian
seperti itu maka biasanya kuil itu segera menghambat usahaku dan memaksa aku
kembali pada diriku. Kenapa Kuil Kencana ini hanya mengizinkan kemabukan dan
kelupaan dalam soal musik saja?" Jika aku berfikir begitu, maka daya tarik musik lalu
sirna, semata-mata karena Kuil Kencana hanya mengizinkan aku akan kenikmatan itu
saja. Karena biarpun kuil itu memberikan izin yang tak dilisankan padaku, musik,
biarpun ia sangat sekali menyerupai kehidupan, bisa merupakan suatu bentuk hidup
khayalan dan palsu; dan ia bagaimanapun aku berusaha untuk menyatukan diriku ke
dalamnya, penyatuan hanya mungkin bersifat sementara. Aku tidak bermaksud
memberikan kesan seolah-olah aku menyerah dan mengundurkan diri dari lapangan
sebagai akibat dari kedua kekalahanku dalam menghadapi perempuan dan hidup.
Sampai akhir tahun 1948 aku cukup banyak mendapat kesempatan seperti itu beserta
bimbingan Kashiwagi; dan tanpa merasa ditindas oleh apa-apa, aku menunaikan tugas-
tugas itu. Tapi hasilnya selalu sama. Antara gadis itu dan aku, antara hidup dan diriku,
selalu berdiri Kuil Kencana. Maka segala yang menyentuh tanganku pada saat aku
mencoba menangkapnya dengan serta-merta berobah jadi abu dan kemungkinan yang
kuhadapi berobah Imenjadi padang pasir. Sekali waktu aku sedang beristirahat sesudah
sesuatu pekerjaan di Japaugan di belaJcang dapur, aku kebetulan melihat cara seekor
Iebah mengunjungi sekuntum kembang serunai musim panas yang kuning dan kecil. Ia
datahg, terbang menembus cahaya yang selalu hadir dengan sayapnya yang keemasan,
lalu ia memilih di antara sekian banyak kembang serunai satu kuntum lalu bercumbu-
cumbu di hadap-annya. Aku mencoba melihat kembang itu melalui mata lebah itu.
Kembang serunai itu mengembangkan kelopaknya yang kuning dan tak bercacat. Ia
indah bagai Kuil Kencana kecil dan pun sempurna bagai kuil itu; tapi ia tidak berobah
menjadi kuil dan tetap memih'Jd bentuk sekuntum kembang serunai musim panas. Ya, ia
tetap berbentuk kembang serunai, sekuntum bunga, suatu bentuk tunggai tanpa catatan
metafisik apapunjua. Dengan mematuhi peraturan perwujud-annya sendiri, ia
memancarkan suatu kecantikan lalu menjadi sasaran yang cocok untuk keinginan Jebah
itu. Alangkah mengherankan, untuk berada di Sana, bernafas, bagai suatu sasaran untuk
keinginan yang tak berbentuk, yang terbang, mengaiir dan bergerak. Lambat-laun
bentuk itu makin mereng-gang, kelihatannya ia seakan-akan mau remuk, ia bergetar dan
menggigil. Ini wajar sekali, karena bentuk kembang serunai yang sebenarnya itu sesuai
dengan keinginan Iebah itu dan kecantikannya berkembang menunggu keinginan itu.
KM datanglah saatnya di mana arti bentuk bunga itu akan bersinar dalam kehidupan.
Bentuk itu sendiri adalah tuangan hidup, yang mengaiir terus dan tak memiliki bentuk;
pada saat yang sama, lenyapnya hidup tak berbentuk ini adalah pembentukan dari
semua bentuk yang ada di dunia ini . . . dengan demikian lebah itu menyeruak masuk
jauh ke dalam bunga itu, lalu tenggelam dalam kemabukan dengan tubuh seluruhnya
bertabur tepungsari. Kembang serunai itu setelah menyambut lebah ke dalam tubuhnya,
ia menjadi lebah kuning, berbaju zirah dan mewah, dan aku melihat bagaimana dia
menggoyang-goyang diri sejadi-jadinya seolah-olah ia setiap saat ingin terbang
meninggalkan tangkainya. Cahaya, dan perbuatan yang berlangsung dalam cahaya ini
hampir-hampir membuat aku pening. Lalu, setelah aku meninggalkan mata lebah itu
dan kembali ke mataku, terfikir olehku bahwa mataku yang menatap peristiwa ini
berada dalam kedudukan yang sama dengan mata Kuil Kencana. Ya, begitulah kejadian-
nya. Seperti aku kembali dari mata lebah ke mataku, begitu juga, pada saat hidup
mendekati, aku meninggalkan mataku sendiri lalu menjadikan mata Kuil Kencana jadi
mataku. Justru pada saat itulah kuil itu hadir di antara hidup dan aku. Aku kembali ke
mataku. Dalam dunia benda-benda yang luas dan samar ini, lebah dan kembang serunai
musim panas itu seolah-olah hanya "harus diatur". Terbang lebah dan goyang bunga
sedikit pun tidak berbeda dari desir-desir angin. Di dunia yang kelu dan beku ini
semuanya berada pada kedudukan yang sama dan bentuk yang memancarkan pesona
yang begitu kuat sudah tak ada lagi. Kembang serunai itu tidak lagi indah karena
bentuknya, tapi karena nama "serunai" yang samar dan kita berikan padanya dan karena
janji yang terkandung dalam nama itu. Karena aku bukan lebah, maka aku tidak tergoda
oleh serunai itu, dan karena. aku bukan kembang serunai tidak ada lebah yang
merindukan aku. Aku menyadari suatu rasa persaudaraan dengan arus hidup dan dengan
segala bentuk yang terdapat dalamnya, tapi kini perasaan itu sudah lenyap. Dunia ini
sudah dibuang ke dalam suatu kenisbian dan yang bergerak hanya waktu. 201 Aku t/dak
ingin membeberkan masalahku. Yang kuingin kukatakan hanya, bahwa, jika Kuil
Kencana yang abadi dan mutlak itu muncul dan jika mataku berobah menjadi mata kuil
itu, maka dunia sekitarku berobah seperti kulukis- Ikan, dan bahwa dalam dunia yang
sudah berobah ini hanya Kuil Kencana yang tetap mempertahankan bentuknya dan
memiliki keindahan dan dengan demikian mengeinbalikan segala-galanya jadi tanah.
Semenjak aku menginjak-injak tubuh pelacur di taman kuil itu, dan terutama semenjak
Tsurukawa meninggal, aku tak jemu-jemunya mengajukan pertanyaan pada diriku:
"Apa kejahatan bagaimanapun juga mungkin?" Pada suatu hari Sabtu dalam bulan
Januari tahun 1948, aku telah memanfaatkan suatu sore yang libur untuk mengunjungi
sebuah bioskop kelas tiga. Setelah filem selesai aku berjalan-jalan di Shinkyogoku
seorang diri untuk pertama Ikali semenjak lama sekali. Di antara orang ban yak itu aku
tiba-tiba berada dekat seseorang yang wajahnya kukenal, tapi sebelum aku sempat
mengingat siapa orang itu, wajah itu sudah ditelan oleh laut pejalan-pejalan kaki dan
meng-hilang di belakangku. Leiaki itu mengenakan sebuah topi filt, mantel yang bagus,
sehelai syal dan lagi berjalan-jalan bersama seorang gadis yang mengenakan mantel
merah karat — jelas sekali seorang geisha. Wajah leiaki itu yang berwarna kemerah-
merahan dan tembam, sikapnya yang mirip kebersihan seorang bayi, begitu beda dari
sikap kebanyakan leiaki separuh baya, hidungnya yang mancung — ya, semua ini
tanda-tanda Pendeta Kepala, yang menyolok. Bapa Dosen. Hanya topi fflt itu yang
menyembunyikan ciri-ciri itu pada saat itu. 2 Biarpun tidak ada yang perlu kumalukan,
reaksiku yang pertama ialah rasa takut kalau-kalau aku sampai dia lihat. Karena serta-
merta aku merasa bahwa aku harus menghindar-kan untuk jadi saksi dari pengelanaan
diam-diam Pendeta Kepala dan dengan demikian terlibat dalam satu hubungan curiga-
mencurigai dengannya. Lalu seekor anjing hitam berjalan di antara orang banyak itu.
Anjing itu besar dan kusut dan rupanya sudah biasa berjalan di tempat yang ramai,
karena ia dengan cekatan sekali mencari jalan antara kaki-kaki perempuan yang
mengenakan mantel berwarna-warni dan leiaki yang mengenakan seragam militer dan
sekali-sekali berhenti depan sebuah toko. Aku melihat anjing itu mencium-cium di luar
sebuah kedai oleh-oleh yang tidak berobah semenjak zaman Shogoin Yatsuhashi. Untuk
pertama kalinya kini aku dapat melihat muka anjing itu dalam cahaya toko itu. Salah
satu matanya rusak, dan darah serta lendir beku yang terdapat di sudut matanya
kelihatan seperti batu delima. Sedangkan mata yang baik memandang lurus ke bawah.
Bulu yang kusut pada punggungnya bergumpal-gumpal dan kelihatan keras. Aku tidak
pasti kenapa anjing ini justru menarik per-hatianku. Mungkin, karena, waktu anjing itu
berjalan, ia dengan gigjh membawa dalam dirinya sebuah dunia yang lain sama sekali
dari jalan yang cerah dan riuh ini. Anjing itu berjalan melalui sebuah dunia gelap yang
dikuasai oleh indera pencium. Dunia ini ditempelkan pada jalan manusia itu, dalam bias
penerangan kota, lagu-lagu yang kedengaran dari piringan hitam, dan bunyi ketawa
orang, semuanya diancam oleh bau yang gelap dan mendesak. Karena tata ciuman jauh
lebih teliti, dan bau kencing yang melekat pada kaki anjing yang basah itu dihubungkan
dengan tepat sekali pada bau busuk dan samar-samar yang memancar 203 dari alat-aiat
bagian dalam tubuh manusia. Hari dingin sekali. SeJcelompok kecil anak-anak muda
yang kelihatanrtya bagai pengusaha-pengusaha pasar gelap, berjalan sambil mengambili
hiasan-hiasan Tahun Baru yang terdapat di pohon-pohon pinus, yang masih terdapat di
luar beberapa buah rumah biarpun hari raya sudah berlalu. Mereka membuka telapak
tangan yang terbungkus sarung tangan kulit untuk melihat siapa yang bisa mengambil
paling banyak. Salah seorang dari mereka hanya memiliki beberapa Iembar daun; yang
lainnya memiliki sepotong dahan lengkap. Anak-anak muda itu ketawa lalu menghilang
dari pandangan. Tanpa kusadari aku sudah mengikuti anjing itu. Sesaat aku mengira,
bahwa aku sudah kehilangan dia, tapi ia segera kelihatan lagi. Ia berbalik masuk jalan
yang menuju ke Kawaramachi. Aku lama mengikuti dia hingga sampai ke jalan di mana
terdapat rel trem. Di situ lebih gelap dari di Shinkyogoku. Anjing itu menghilahg. Aku
berhenti lalu melihat ke segala arah mencari dia. Aku pergi ke sudut jalan lalu
meneruskan usahaku mencari anjing itu. Waktu ini sebuah mobil sewaan yang
dijalankan seorang supir dengan cat yang mengkilat berhenti di depanku. Supir itu
membukakan pintu lalu seorang gadis naik. Aku melihat padanya. Seorang laki-laki
juga mau masuk, tapi waktu ia melihat aku, ia terpaku. di tempat ia berdiri. Orang itu
Pendeta Kepala. Aku tidak tahu nasib apa yang membuatnya tadi telah berpapasan
dengan aku di jalan, dan sudah menempuh jalan memutar bersama gadis itu, bertemu
dengan aku seperti ini. Pokoknya, dia ada di sana, dan mantel gadis yang masuk mobil
itu adalah mantel merah karat yang kuingat. Waktu itu tidak ada lagi kesempatan untuk
mengelakkan dia. Tapi aku begitu kaget karena pertemuan itu dan aku tidak dapat
mengucapkan apa-apa. Sebelum aku dapat mengu-capkan sesuatu, suara gagap telah
menggelegak dalam mulutku. Akhimya wajahku memperlihatkan kesan yang sama
sekali tidak kuinginkan. Bahkan aku telah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak
penting dalam keadaan seperti itu: aku ketawa terbahak-bahak melihat Pendeta Kepala.
Aku tidak dapat menjelaskan ketawaku kali ini. Ia seolah-olah datarvg dari luar dan
tiba-tiba menempel pada mulutku. Tapi waktu Pendeta Kepala melihat aku ketawa,
mukanya berobah. "Bebal!" katanya. "Apa kau mau membuntuti aku?" Lalu ia masuk
ke dalam mobil dan membanting pintu mobil itu di hadapanku. Waktu mobil itu sudah
pergi, aku sadar bahwa ia telah melihat aku waktu tadi kami berpapasan di
Shinkyogoku.
Keesokan harinya aku menunggu panggilan Pendeta Kepala untuk dimarahi. Ini adalah
kesempatan bagiku untuk memberi-kan penjelasan. Tapi, setelah peristiwa yang dulu —
waktu aku menginjak-injak pelacur — Pendeta Kepala mulai menyiksa aku dengan
mendiamkan persoalan itu. Waktu itulah aku menerima surat lagi dari ibuku. Surat itu ia
akhiri dengan ucapan biasa bahwa ia hidup dengan harapan akan dapat melihat aku
menjadi Kepala Kuil Kencana. "Bebal, apa kau mau membuntuti aku?" — kalau
kufikirkan kata-kata yang disemburkan Pendeta Kepala kepadaku, terasa sekali bahwa
kata-kata itu tidak pantas sama sekali. Jika ia seorang pendeta Zen yang lebih khas,
lebih berfikiran terbuka dan memiliki rasa humor yang lebih besar, maka ia tidak akan
pernah mengucapkan makian yang begitu keji 205 pada muridnya. Ia akan
mengucapkan kata-kata yang lebih berbobot dan lebih berguna. Kini, tentu saja Pendeta
Kepala tidak bisa lagi mencabut kata-katanya; tapi aku yakin, bahwa kala itu ia telah
salah mengira bahwa aku telah membuntuti dia dengan sengaja lalu mentertawakannya
seolah-olah aku sudah berhasH memergoki lagi melakukan sesuatu perbuatan jahat;
akibatnya dia malu dan serta-merta memperlihatkan kemarahannya dengan cara yang
konyol sekali. Tapi bagaimanapun kenyataan sebenarnya, kebisuan Pendeta Kepala
menjadi sumber kerisauan yang menekan aku dan hari ke hari. Kehadiran pendeta itu
menjadi suatu kekuatan besar, ia menjadi bayang-bayang seekor lalat yang terbang
berputar-putar depan mata kita. Sudah menjadi kebiasaan bagi Pendeta Kepala untuk
mengajak seorang atau dua orang muridnya jika ia diminta untuk menghadiri upacara di
luar kuil. Dulu Pengetua yang selalu ikut, tapi akhir-akhir ini se bagai hasil dari apa
yang dikatakan proses demokratisasi, sudah jadi kebiasaan bagi kelima kami - Pengetua,
Pengawas, aku sendiri dan dua orang santii lainnya - untuk menemani Pendeta Kepala
secara bergann'-ganti. Kepala asrama, yang kekerasannya sudah jadi pemeo di antara
kami, telah dipanggil masuk tentara dan kemudian tewas di medan perang. Tugasnya
sekarang dilakukan oleh pengawas yang sudah separuh baya itu. Setelah Tsurukawa
meninggal maka seorang murid lain telah mengisi tempatnya di kuil. Waktu itu Pendeta
Kepala sebuah kuil (yang tergolong pada sekte Sokokuji dan yang memiliki silsilah
seperti Rokuonji) meninggal, lalu Pendeta Kepala kami diundang untuk menghadiri
pengukuhan penggantinya. Kebetulan sekali waktu itu giliranku untuk menemani dia.
Karena ia tidak melakukan apa-apa untuk menghalangi aku, aku berharap akan ada
kesempatan bagi kami berdua selama perjalanan ke kuil itu untuk mengadakan
penjelasan. Tapi pada malam sebelum upacara pengukuhan itu, telah ditetapkan bahwa
santri baru itu akan ditambahkan pada rombongan kami hingga harapanku hancur sama
sekali. Para pembaca yang kenal sastra Gosan tentu akan ingat khotbah yang dibacakan
waktu khimuro Zankyu memasuki Kuil Manju di Kyoto dalam tahun pertama kurun
zaman Koan (1361). Kata-kata yang indah yang diucapkan oleh pendeta baru itu waktu
ia sampai ke kuil dan mendekati gerbang utama di Ruang Bumi, lalu Ruang Leluhur,
dan akhirnya Kamar Kepala Pertapaan, telah diturunkan pada kami. Sambil menunjuk
ke gerbang utama, ia bicara dengan penuh kebanggaan dan mengucapkan kata-kata
yang dibebani kegembiraan karena akan memulai tugas baru keagamaannya: "Dalam
Tenjo Kyuchu, depan gerbang Teijo Manju. Dengan tangan kosong kubuka kunci,
dengan kaki telanjang kudaki Gunung Konron yang keramat." Upacara pedupaan
dimulai terlebih dulu. Mula-mula, Pendeta melakukan kebaktian Syihoko untuk
menghormati pemim-pin besar agama, Syiho. Dulu, waktu agama Zen belum disekap
oleh upacara-upacara dan kebangkitan spirituil, sebuah individu dinilai lebih tinggi dari
segala-galanya, adalah kebiasaan bagi murid untuk memilih guru, dan bukan guru
memilih murid. Di masa itu murid mendapat "persetujuan" agama bukan saja dari
pendeta yang pertama-tama mengajar dia, tapi dari bermacam-macam guru; dan di
waktu upacara pedupaan Syihoko maka ia akan mengumumkan nama guru yang
jalannya ingin ia ikuti dengan penuh hikmah. Sementara aku memperhatikan upacara
pedupaan yang mengesankan ini, aku bertanya dalam hati, datangkah saat bagiku untuk
menghadiri upacara penggantian di Kuil Kencana, (apa aku akan mengumumkan nama
fendeta Kepala sebagai dikehendaki oleh kebiasaan. Barangkali aku akan melanggar
kebiasaan yang sudah berumur fujuli ratus rahun itu dan mengumumkan sebuah nama
lain, l/dara dingin dalam kamar kepala pertapaan di sore hari permulaan musim semi ini,
bau kelhna macam setanggi yang menimbulkan kenangan, peimata yang berkilauan di
balik Tiga Alat dan lingkaran cahaya yang gemerlap melingkari Budha Utama,
kecerahan jubah yang dipakai oleh pendeta-pendeta yang bertugas. Bagaimana kalau
pada suatu hari aku berada di sini melakukan upacara pedupaan Shihoko? Aku
membayangkan diriku sendiri dalam bentuk seorang pendeta yang lagi melakukan
upacara pengukuhan. Karena duihami oleh suasana keras permulaan musim semi akan
mengkhianati kebiasaan lama itu dengan segala senang hati. Pendeta Kepala akan hadir
setelah men-dengar kata-kataku, maka ia tidak akan sanggup lagi bicara karena bingung
dan pucat karena amarah. Karena aku akan mengumumkan nama yang bukan namanya.
Nama lain? Tapi siapa guru lam yang mengajarkan jalan pencerahan yang sebenarnya?
Aku tidak dapat menyebutkan namanya. la terhalang oleh kegagapanku dan tidak mau
keluar dari mulutku. Aku gagap; dan waktu aku tergagap-gagap, nama Iain itu mulai
muncul — "Keindahan," aku mulai mengatakan dan "Kekosongan". Lalu semua yang
hadir tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku terpaku di sana dengan kaku, di tengah-
tengah ketawa mereka. Aku terbangun tiba-tiba dari lamunanku. Pendeta Kepala hams
melakukan suatu upacara dan aku sebagai pembantunya hams mendampingi dia. Bagi
seorang murid adalah sesuatu yang membanggakan untuk dapat hadir pada kesempatan
«perti ini; apalagi untukku, karena Pendeta Kepala Kuil Kencana adalah tamu utama di
antara mereka yang bertugas 208 dalam upacara itu. Setelah Pendeta Kepala selesai
membakar setanggi, ia memukulkan sebuah palu yang disebut "para putih", dan dengan
demikian menyatakan bahwa pendeta yang hari itu dikukuhkan sebagai kepala kuil itu
bukanlah" seorang ganfuto, artinya, seorang pendeta gadungan. Ia mem-bacakan
mantera lama lalu memberikan pukulan keras dengan palu putih itu. Lalu aku
rrpliyadari kembali bagaimana ajaibnya kekuasaan yang dimiliki oleh Pendeta Kepala
ini. *** Aku tidak sanggup menahan cara Pendeta Kepala mendiamkan kejadian-
kejadian akhir-akhir ini, apalagi karena aku tidak tahu berapa lama sikap berdiam diri
itu akan berlangsung. Sekiranya aku sendiri diberkahi dengan salah satu bentuk
perasaan manusia, kenapa aku tidak boleh mengharapkan perasaan kemanusiaan yang
sepatutnya dari orang-orang, seperti Pendeta Kepala, yang berhubungan denganku.
Apakah perasaan itu perasaan cinta atau benci. Aku kini mendapat suatu kebiasaan
buruk untuk memperhatikan air muka Pendeta Kepala di setiap kesempatan, tapi aku
tidak berhasil menemui perasaan tertentu yang terbayang di mukanya. Ketiadaan kesan
di mukanya malahan tidak bisa disamakan dengan sikap dingin. Mungkin ia
mengandung suatu ketinggian hati dan pandangan rendah, tapi sikap pandang rendah ini
bukan terhadap aku sebagai orang seorang, tapi lebih lagi terhadap sesuatu yang bersifat
universil, sesuatu yang misalnya ia tujukan pada kemanusiaan umumnya atau bahkan
pada berbagai konsepsi yang abstrak.
Mulai masa itu aku memaksa diriku untuk membayangkan gambaran kepala hewan
Pendeta Kepala itu dan perbuatan-perbuatan lahiriah yang tidak senonoh yang telah ia
lakukan. Aku membayangkan dia sedang becak dan aku juga membayangkan dia waktu
ia u'dur bersama gadis yang bermanteJ merah karat itu. Aku melihat wajahnya yang tak
menyimpan apa-apa itu mengendur, ialu suatu kesan yang bisa merupakan tertawaan
atau keperihan, muncui di mukanya begitu ia jadi lengah karena kehikmatan badamah.
Wujud tubuhnya yang Iunak dan halus yang mencair ke dalam tubuh gadis itu, yang
juga lunak dan halus waktu keduanya secara lahiriah tidak bisa dibeda-bedakan. Cara
bagaimana perutnya yang buncit menekan perut buncit gadis itu. Tapi anehnya, biar
bagaimana kuat pun imajinasiku, muka Pendeta Kepala yang tak mengutarakan apa-apa
itu selalu dihubungkan segera dalam fikiranku dengan pengutaraan hewaniyang menjadi
bagian dari perbuatan membuang kotoran dan melakukan hubungan seksuil. Tidak
pernah ada sesuatu yang moncul untuk mengisi ruang antara kedua hal itu. Ujung
ekstrim yang satu langsung berobah menjadi ujung ekstrim lainnya, tanpa adanya
perantara yang terdiri dari wama yang berganti secara bertahap seperti yang kita temui
dalam kehidupan sehari-hari. Satu-satunya yang dapat diguna-kan sebagai penghubung
adalah makian konyol yang pernah diucapkan Pendeta Kepala padaku sore itu. "Bebal,
apa kau mau membuntuti aku?" Setelah lelah karena beriikir dan menunggu, aku
akhirnya dicekam oleh suatu keinginan yang keras sekali: ingin melihat kebencian
terbayang di wajah Pendeta Kepala. Rencana yang kususun untuk itu sebuah rencana
gila, kekanak-ka^akan dan jelas sekali merugikan aku; tapi aku tak sanggup lagi
mengendalikan diriku, Aku malahan tidak memikirkan ke-mungkinan bahwa ulahku ini
hanya akan memperkuat salah faham Pendeta Kepala yang dulu dan mengira bahwa aku
sudah membuntuti dia dengan sengaja. 30 Aku ketemu Kashiwagi di universitas lalu
padanya kuta-nyakan nama dan alamat toko itu. Kashiwagi memberi tahu aku tanpa
menanyakan apa yang mau kulakukan. Aku segera pergi ke toko itu lalu meneliti
sejumlah foto berukuran kartupos yang memperlihatkan geisha-geisha terkenal dari
daerah Gion. Mula-mula wajah gadis-gadis itu dengan dandanan mereka yang tebal
kelihatan serupa semuanya, tapi setelah beberapa lama mulailah timbul berbagai ragam
perbedaan dari gambar-gambar itu. Kini aku dapat menembus topeng pupur mereka
yang serupa, melihat bayang-bayang halus rupa mereka masing-masing — kemurungan
atau kecerahan, kebijakan yang cekatan atau ketumpulan yang cantik, ke-sempitan hati
atau kemeriahan yang tak bisa disembunyikan, kemalangan atau nasib baik. Akhirnya
aku menemui gambar yang kucari. Karena lampu listrik dalam toko itu terang, pantulan
gambar berkilat pada kertas licin itu hingga susah sekali untuk memperoleh pandangan
yang jelas tentang foto-foto itu. Tapi begitu pantulan cahaya itu jatuh ke tanganku, aku
dapat melihat bahwa memang inilah wajah gadis yang memakai mantel merah karat itu.
"Aku mau yang ini," kataku pada penjaga toko. Keberanian yang aneh kali ini sesuai
sekali dengan kenya-taan, bahwa semenjak aku memulai rencanaku ini, aku sudah
berobah sama sekali dan telah jadi periang dan penuh dengan kegembiraan yang tak
bisa diterangkan. Rencanaku semula ialah mencari kesempatan di mana Pendeta Kepala
itu sedang keluar dan dengan demikian menyembunyikan daripadanya siapa yang telah
melakukan perbuatan itu; tapi keadaanku yang baru dan penuh semangat mendorong
aku untuk melaksanakan rencana itu dengan penuh keberanian, dan dengan cara begitu
rupa hingga jelas siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan itu. 211 Aku masih
bertugas untuk mengantarkan koran pagf ke faunar Pendeta Kepala. Pada suatu pagi
dalam bulan Maret, waktu udara masih dingin, aku seperti biasa pergi ke pintu masuk
kuil untuk mengambil koran. Jantungku berdebar-debar waktu gambar geisha Gion itu
kukeluarkan dari kan-tongku dan kuseh'pkan ke dalam koran itu. Matahari pagi
menyinari pohon sago yang tumbuh di tengah-tengah halaman dan dikitari oleh sebuah
pagar me-lingkar. Kulit pohon sago yang kasar itu berobah warna sedikit dalam cahaya
matahari. Di sebelah kiri terdapat sebatang pohon asam kecil. Beberapa ekor burung
kecil yang terlambat mencicit-cicit lunak hingga kedengarannya bagai untaian tasbih
yang bersentuh. An eh sekali bahwa di kala itu masih ada burung-burung seperti itu, tapi
pelebaran bagian bawah yang berwarna kuning yang dapat kulihat berkat sinar matahari
yang menembus di sela-sela dahan, tak mungkin memiliki burung lain. Kerikil-kerikil
putih bertaburan dengan damai di halaman. Aku berjalan had-hati sepanjang gang
supaya kakiku tidak basah oleh genangan air yang terdapat di sana-sini karena lantai
baru dipel. Pintu kantor Pendeta Kepala di Perpustakaan Besar terkunci. Hari begitu
pagi hingga keputihan kertas pintu geser bersinar dengan terang. Aku berlutut di luar, di
gang sambil berkata seperti biasa: "Apa aku boleh masuk, Bapa?" Setelah disetujui oleh
Pendeta Kepala, aku mendorong pintu geser itu, lalu masuk dan meletakkan koran yang
terlipat lepas itu di sudut meja. Pendeta Kepala sedang asyik membaca sebuah buku dan
tidak melihat mataku. Aku mengundurkan diri, menutup pintu, lalu berjalan perlahan-
lahan sepanjang gang menuju kamarku sambil berusaha sebaik-baiknya supaya tetap
tenang. Waktu aku sampai ke kamarku, aku duduk dan menumpah- kan seluruh
perhatianku pada kehangatan hatiku yang men-desak, sampai datang waktunya bagiku
untuk berangkat ke universitas. Belum pernah dalam hidupku aku menanti-nantikan
sesuatu dengan begitu rupa. Biarpun rencanaku itu kubuat dengan maksud untuk
menimbulkan amarah Pendeta Kepala, gambar yang kini kulihat hanya sarat dengan
nafsu dramatis, saat dua orang manusia saling mencapai pengertian. Siapa tahu Pendeta
Kepala itu tiba-tiba menerjang ke dalam kamarku lalu memaafkan aku. Dan kalau ia
memaafkan aku, siapa tahu untuk pertama kalinya dalam hidupku aku akan berhasil
mencapai perasaan cerah dan mumi tempat Tsurukawa selalu hidup. Pendeta Kepala dan
aku akan berpeiukan, dan yang tersisa sesudah itu hanya suatu rasa penyesalan karena
tidak lebih dulu sampai pada saling pengertian seperti itu. Lanunan ini tidak lama, tapi
rasa-rasanya tidak bisa dimeigerti kenapa aku biarpun untuk waktu yang singkat bisa
membiarkan diriku dikuasai oleh angan-angan dungu seperti itu. Tapi setelah kufikirkan
dengan tenang, kusadari, bahwa karena dengan perbuatan bodoh ini aku sudah me-
ninbulkan kemarahan Pendeta Kepala, maka aku dengan berbuat demikian telah
mencoret namaku sendiri dari daftar cilon yang mungkin menggantikan dia, dan dengan
demikian nenutup jalan bagiku untuk bisa berharap jadi pemilik XLuil Kencana ini —
selama ini aku begitu asyik dengan apa yang ingin kutuju hingga aku lupa sama sekali
pada pengabdian seumur hidupku pada kuil itu sendiri. Perhatianku terpusat pada suara
yang mungkin kedengaran datang dari kamar Pendeta Kepala di Perpustakaan Besar.
Aku tidak mendengar apa-apa. Kini aku menunggu kemarahan Pendeta Kepala yang
garang, teriakan mengguntur yang axan cua lontarkan. Aku fmerasa tidak akan
menyesal jika aku diserang, ditendang sampai jatuh dan sampai berdarah. Tapi di
jurusan Perpustakaan Besar yang ada hanya keheningan yang sempurna; tidak ada satu
suara pun yang terdengar waktu aku menunggu di kamarku. Waktu sampai saat aku
hams meninggalkan kuil dan berangkat ke universitas, hatiku letih dan kuyu. Aku tidak
sanggup memusatkan perhatian pada kuliah dan waktu penga-jar mengajukan sebuah
pertanyaan aku memberikan jawaban yang tidak tepat sama sekali. Semua orang
mentertawakan aku. Aku mengerling pada Kashiwagi dan aku melihat bahwa hanya dia
yang tak perduh" dan asyik memandang ke luar jendela. Ia pasti sadar sekah' akan
drama yang berhngsung dalam diriku. Waktu aku kembali ke kuil, tidak ada perobahan
apa-apa. Apakah keabadian kehidupan kuil yang gelap sudah aegitu mantap hingga
tidak mungkin ada perbedaan antara hari yang satu dengan yang lainnya? Ceramah ten
tang hukum-hukum Zen diadakan dua kali sebulan, dan had itu adalah satu dari hari
ceramah. Senua penghuni kuil berkumpul di tempat Pendeta Kepala unuk
mendengarkan ceramahnya. Aku merasa, mungkin sekali ia akan mempergunakan
ceramah tentang ayat-ayat Mumonkm sebagai dalih untuk mencela aku di hadapan
semua oran£ Aku punya alasan khusus untuk meyakini ini. Karena dalan ceramah
malam itu aku duduk langsung berhadapan dengan Pendeta Kepala, aku merasa bahwa
aku sudah didorong oleh semacam semangat kejantanan yang tak pada tempatnya sama
sekah'. Aku merasa bahwa Pendeta Kepala akan membalas dengan memamerkan
kesalehan yang jantan: ia akan menge-sampingkan semua kemunafikan, lalu mengakui
perbuatannya di hadapan semua orang, dan setelah melakukan itu mencela aku karena
perbuatanku yang tidak terpuji. Semua penghuni kuil semuanya telah berkumpul
sebelum-nya di bawah sinar muram dengan kitab Mumonkan di pangkuan dan tangan.
Malam itu dingin sekali dan satu-satunya alat pemanas ialah sebuah anglo kecil yang
diletakkan dekat Pendeta Kepala. Aku mendengar orang bersin. Mereka duduk di sana,
tua dan muda, sedangkan bayang-bayang memperlihatkan keragaman cahaya pada
wajah mereka yang tertunduk; dalam wajah mereka ada sesuatu kesan tidak berdaya
yang tak dapat dikatakan. Santri baru yang di waktu siang bekerja sebagai guru Sekolah
Dasar, adalah seorang anak muda yang rabun dan kacamatanya tak putus-putusnya
meluncur dari hidungnya yang kurus. Hanya aku yang sadar akan kekuatan yang ada
dalam badanku. Setidak-tidaknya begitulah bayanganku. Pendeta Kepal? membuka
kitabnya lalu memandang ke sekelilingnya, pada kami semua. Matanya kuikuti. Aku
ingin dia melihat bahwa aku tidak merundukkan mataku. Tapi waktu matanya yang
dikelilingi oleh keriput-keriput tebal sampai padaku, ia :idak memperlihatkan perhatian
sedikit pun jua, lalu piniah pada orang berikutnya. Ceramah dimulai. Aku hanya
menunggu saat ia beralih tiVa-tiba kepada masalahku. Aku mendengarkan dengan
singguh-sungguh. Suara Pendeta Kepala.yang tinggi menderu-ceru. Tidak satu bunyi
pun yang lahir dari perasaan hatinya /ang dalam. *** Malam itu aku tidak bisa tidur.
Sambil bangun, aku merasa benci pada Pendeta Kepala itu dan berkeinginan untuk 21 4
mempermain-mainkan dia karena kemunaflkannya. Tapi lambat-laun timbullah suatu
rasa penyesalan dalam diriku dan aku mulai merobah perasaanku yang angkuh.
Kebencianku Ipada kemunafikan Pendeta Kepala itu, dengan salah satu jalan yang aneh,
dihubungkan dengan penglemahan jiwaku secara lambat-laun, hingga akhirnya aku
sampai pada titik pemikiran, karena aku kini sadar bahwa Pendeta Kepala itu sebetulnya
tidak berarti apa-apa. Maka permintaan maafku padanya tidak akan dapat diartikan
sebagai kekalahan. Hatiku yang telah sampai ke puncak lereng yang terjal kini berlari
turun dengan cepat sekah. Aku memutuskan untuk pergi minta maaf keesokan hari-nya.
Waktu pagi sudah datang, aku memutuskan untuk minta maaf nanti slang. Kulihat air
muka Pendeta Kepala sedikit pun tidak berobah. Hari itu adalah hari yang berangin.
Waktu aku lembali dari universitas, aku kebetulan membuka laciku. Aku aelihat sesuatu
yang dibungkus dengan kertas putih. Isinya adalah foto itu. Tidak sepatah kata pun yang
tertulis di atas kertas itu. Rupa-rupanya Pendeta Kepala bermaksud un tuk menyuiahi
persoalan itu dengan cara begini. Dia tidak bermaksud untuk melupakan perbuatanku
seluruhnya, tapi ia mau meije-laskan bagaimana sia-sianya perbuatan itu. Tapi cararya
yang aneh untuk mengembalikan foto itu, mendatangkai sekawanan bayangan ke dalam
fikiranku. "Jadi Pendeta Kepala juga menderita!" demikian kataki dalam hati. "Ia tentu
telah mengalami ketakutan yang tiada tara sebelum sampai pada cara ini. Dan kini ia
tentu benci padaku. Mungkin bukan karena foto itu ia benci padaku, tapi karena aku
telah membuat dia bertindak dengan cara yang begitu tidak pantas. Sebagai akibat dari
foto yang sebuah ini, ia merasa hams bertindak secara diam-diam dalam kuilnya ¦
sendiri. Ia hams berjalan diam-diam sepanjang gang kalau tidak ada lagi orang, lalu dia
harus memasuki kamar salah seorang muridnya yang belum pernah ia masuki
sebelumnya, lalu membuka laci begitu rupa seolah-olah ia sedang melakukan suatu
kejahatan. Ya, kini ia sudah punya cukup alasan untuk membenci aku." Fikiran ini
menumbuhkan suatu kegembiraan yang tak bisa . dilukiskan dalam diriku. Lalu aku
menyiapkan diri untuk melakukan suatu tugas yang menyenangkan. Aku mengeluarkan
gunting lalu menggunting foto itu jadi potongan-potongan kecil. Potongan-potongan itu
kubungkus baik-baik dalam sehelai kertas yang kuat dari buku catatanku. Bungkusan itu
kugenggam kuat-kuat lalu aku berjalan ke tempat di dekat Kuil Kencana. Kuil yang
penuh dengan keseimbangan murung seperti biasa, menjulang ke langit berangin dan
cerah karena bulan. Tiang-tiangnya yang ramping tegak ber-dekatan; waktu bulan
menyinarinya, tampaklah seperti tali kecapi, sedangkan kuil itu sendiri kelihatan sebagai
sebuah alat musik besar dan aneh. Kesan khusus ini tergantung dari ketinggian bulan.
Malam ini jelas sekali. Tapi angin bertiup dengan sia-sia melalui ruang-ruang antara
tali-tali kecapi yang tak bersuara itu. Aku memungut sebuah batu, kubungkus dengan
kertas itu; sudah itu bungkusan kuremas kuat-kuat. Maka tenggelamlah potongan-
potongan kecil wajah gadis itu di tengah-tengah Kolam Kyoko setelah diberati dengan
batu. Riaknya mengem-bang bebas dan tak lama kemudian ia sampai ke pinggir aii
tempatku berdiri.

***

Keburonanku secara tiba-tiba dari kuil itu pada bulan November tahun itu disebabkan
oleh bertumpuknya segala kejadian ini. Setelah kemudian kuflkirkan kembali, aku sadar
bahwa keburonanku ini, yang kelihatannya terjadi secara tiba-tiba, sebetulnya didahuiui
oleh pertimbangan yang cukup banyak dan keraguan-keraguan. Tapi aku lebih suka
memper- Icayai bahwa aku didorong oleh suatu gerak hati yang tiba-tiba. Karena dalam
diriku tidak ada yang dilahirkan oleh gerak hati tiba-tiba, aku dibius oleh suatu bentuk
perbuatan tiba-tiba yang tidak sejati. Misalnya seorang leiaki, yang bermaksud untuk
mengunjungi kuburan ayahnya keesok-an harinya, tapi waktu sampai saatnya ia tiba-
tiba berada depan sebuah stasiun. lalu merubah niatnya dan memutuskan mendatangi
seorang kawan minum, apa ini dapat dikatakan sebagai tanda sifat impulsif yang sejati,
sifat suka mengikuti gerak hati yang sebenarnya? Apa perobahan niat secara tiba-tiba ini
bukan semacam pembalasan yang ia lakukan atas kehendaknya sendiri? Apa itu bukan
sesuatu yang dilakukan secara sadar daripada persiapan lama yang ia lakukan untuk
mengunjungi kuburan ayahnya? Sebab utama dari keburonanku terdapat dalam apa
yang dengan jelas diungkapkan oleh Pendeta Kepala padaku sehari sebelumnya: "Dulu
aku berniat untuk menjadikan kau peng-gantiku di smi. Tapi kini dapat kukatakan
padamu dengan terus terang bahwa niat itu sudah tidak ada lagi." Inilah kali pertama
aku mendengar hal seperti itu dari dia, biarpun mestinya tahu bahwa itu akan terjadi dan
sudah hams siap untuk mendengarkan pengumuman itu. Aku tidak bisa pura-pura
mengatakan bahwa kabar itu datang sebagai petir di waktu siang atau bahwa aku betul-
betul terheran-heran dan hilang akal. Sungguhpun begitu, aku ihgtn meyakinkan diriku
bahwa keburonanku dicetuskan oleh kata-kata Pendeta Kepala dan disebabkan oleh
teriak hati 218 tiba-tiba. Setelah aku yakin akan kemarahan Pendeta Kepala berkat
ulahku dengan foto itu, aku mulai menyia-nyiakan pelajaranku di universitas. Ini jelas
sekali. Dalam masa persiapanku, aku beroleh angka terbaik dalam bahasa Cina dan
Sejarah; aku mendapat biji delapan puluh empat untuk kedua mata pelajaran itu dan
bijiku seluruhnya berjumlah tujuh ratus empat puluh delapan, dan itu berarti aku berada
di tingkat kedua puluh empat dalam kelas yang terdiri dari delapan puluh empat
mahasiswa. Dari empat ratus enam puluh empat pelajaran aku hanya empat belas jam
tidak hadir. Di tahun kedua jumlah bijiku seluruhnya hanya enam ratus sembilan puluh
tiga dan dengan demikian turun derajat ke tingkat tiga puluh lima dalam satu kelas yang
terdiri dari tujuh puluh tujuh mahasiswa. Baru dalam tahun ketigalah aku betul-betul
mulai tidak memperdulikan pelajaranku — bukan karena aku punya uang yang dapat
kupergunakan untuk membuang-buang waktuku, tapi karena aku senang bermalas-
malas. Kebetulan sekali semester pertama tahun ketiga mulai setelah peristiwa foto itu.
Waktu semester pertama berakhir universitas mengirimkan lapuran ke kuil, lalu aku
dimarahi oleh Pendeta Kepala. Sebab dari kemarahan ini ialah karena angka-angkaku
buruk dan karena tidak menghadiri kuliah selama sekian banyak jam kuliah, tapi yang
paling menjengkelkan Pendeta Kepala ialah karena aku tidak menghadiri pelajaran-
pelajaran khusus mengenai latihan Zen, yang dilangsungkan hanya selama tiga hari
dalam semester itu. Pelajaran-pelajaran mengenai latihan Zen ini diadakan selama tiga
hari sebelum permulaan musim panas, musim dingin dan liburan musim semi —
seluruhnya sembilan hari dalam se tahun — dan diadakan dalam bentuk seperti yang
dilakukan di pelbagai seminari khusus. Untuk caci-maki ini Pendeta Kepala memanggil
aku ke kamarnya, suatu hal yang jarang sekali terjadi. Aku tegak di Isana membisu
sambil menundukkan kepala. Dalam hatiku aku menunggu kata-katanya yang menuju
ke suatu persoalan tertentu; tapi ia sama sekali tidak menyinggung-nyinggung peristiwa
foto itu, juga tidak ia bangkit-bangkitkan soal pelacur dulu dan pemerasan yang telah ia
lakukan. Semenjakitulah sikap Pendeta Kepala mulai dingin terhadap aku. Tapi justru
hasil inilaJi yang kuinginkan, bukti yang sangat sekali ingin kulihat; ia merupakan
semacam kemenangan bagiku. Tapi satu-satunya yang diperlukan untuk menciptakan-
nya adalah sekadar kemalasanku. Dalam semester pertama tahun ketiga aku tidak hadir
sebanyak enam puluh jam -kira-kira lima kah lebih banyak dari ketidakhadiranku
seluruhnya dalam tahun pertama. Jam-jam itu tidak kuperguna-kan untuk membaca
buku, dan uang tidak kupunyai untuk kuhabiskan buat bersenang-senang. Kadang-
kadang aku ber-cakap-cakap dengan Kashiwagi tapi tanpa berbuat apa-apa. Ya, aku
sendiri tanpa berbuat apa-apa dan kenanganku pada Universitas Otarii campur-aduk
akrab sekali dengan kenangan kemalasan. Kemalasan ini barangkali adalah suatu bentuk
khusus dari praktek Zen-ku dan aku tidak pernah secara sadar merasa bosan selama aku
berada dalam keadaan begitu. Sekali aku pernah duduk di rumput selama berjam-jam
memperhatikan sebuah koloni semut yang sibuk mengangkut butir-butir kecil tanah
merah. Soalnya bukan karena semut-semut itu sudah menarik perhatianku. Pada
kesempatan lain aku berdiri lama sekali di luar universitas sambil memandang nanap
bagai orang tolol ke gelung-gelung asap yang tipis dan naik dari cerobong asap sebuah
pabrik di belakang. Bukannya karena asap itu menarik perhatianku. Pada saat 220 itu
aku merasa seolah-olah terbenam sampai ke leher dalam perwujudan yang merupakan
diriku. Dunia di luar diriku telah jadi dingin sebagian-sebagian dan kemudian
dipanaskan lagi. Bagaimana harus kujelaskan? Aku merasa bahwa dunia luar itu sudah
kelihatan tapi kemudian hilang lagi. Batinku dan dunia luar perlahan-lahan dan secara
tak teratur bertukar tempat. Peristiwa-peristiwa yang tak berarti dan mengeluingi aku
bersinar depan mataku; sambil bersinar, ia memaksakan dirinya ke dalam diriku.
Bagian-bagian yang bersinar itu mungkin saja sehelai bendera di atas sebuah pabrik,
atau sebentuk noktah tak penting di dinding, atau terompah tua yang ditinggalkan di
rumput. Saat demi saat mereka hidup dalam diriku — semuanya ini dan juga segala
macam hal lain - lalu mereka hilang lagi. Atau apa barangkali lebih tepat kalau
kukatakan segala macam fikiran tak berbentuk? Hal-hal penting berpegangan tangan
dengan hal-hal remeh, dan perkem-bangan politik di Eropah yang kubaca di koran pagi
berhubung-an erat sekali dengan terompah tua yang terletak di kakiku. Aku
menghabiskan waktu lama sekali memikirkan sudut tajam yang dibentuk oleh ujung
daun rerumputan tertentu. Barangkali kata "berfikir" tidak begitu tepat. Konsep-
konsepku yang aneh dan tak lebih tetek-bengek itu bukanlah suatu proses yang
berlangsung terus-menerus, tapi sesuatu yang tak putus-putusnya muncul bagai nada
sebuah lagu. Kenapa sudut tajam itu harus begitu tajam? Sekiranya ia tumpul, apa
penamaan "rumput" jadi tidak berarti dan apa alam terpaksa mengalami kehancuran dari
salah satu sudut totalitas-nya? Jika sebuah gigi roda kecil dibuang dari alam, bukankah
alam sendiri akan runtuh seluruhnya? Lalu fikiranku mulai meneliti masalah itu tanpa
tujuan — dari sudut pandangan yang satu ke siidut pandangan yang lain. Kemarahan
Pendeta Kepala segera tersiar antara penghuni 221 kuil dan sikap mereka terhadap aku
jelas makin bermusuhan. Sesama muridkuyang dulu iri hati sekali karena aku
dianjurkan masuk universitas kini mendecakkan lidahnya penuh kejayaan setiap kali ia
ketcmu aku. Aku meneruskan hidupku di kuil selama musim panas dan musim gugur,
dan aku hampir-hampir tidak bicara dengan siapa pun jua. Di pagi hari sebelum aku
melarikan diri, Pendeta Kepala telah menyuruh Pengetua datang ke kamarnya. Waktu
itu tanggal sembilan November. Karena sudah siap untuk pergi ke universitas aku sudah
mengenakan seragam mahasiswa. Wajah Pendeta Kepala yang tembam itu biasanya
gembira, karena ia akan menyampaikan sesuatu yang tidak menyenang-kan padaku,
wajahnya jadi membeku dengan aneh. Bagiku sendiri cukup menyenangkan melihat
Pendeta Kepala memandang padaku seolah-olah sedang mengamati seorang ber-
Ipenyakit lepra. Justru air muka seperti inilah yang ingin kulihat, — air muka yang
mengandung perasaan manusia. Pendeta Kepala itu berpaiing dari aku. Sambil bicara ia
menggosok-gosokkan tangannya di atas anglo. Daging Iembut telapak tangannya hanya
memperdengarkan suara sedUdt sekali, tapi di telingaku ia kedengaran seolah-olah
menggegar dan merusak kejernihan udara pagi musim dingin. Persentuhan antara
daging pendeta itu dengan dagingnya sendiri menghasilkan suatu perasaan akrab yang
tidak perlu ada sama sekali. "Almarhum ayahmu akan sedih sekali mendengar ini!"
katanya. "Coba lihat surat ini! Mereka dari universitas telah menulis surat lagi dengan
peringatan-peringatan keras. Sudah sepatutnya kau berflkir apa yang akan terjadi kalau
terus-menerus begini." Lalu ia langsung pindah ke kata-kata Iain: "Dulu aku berniat
hendak menjadikan kau penggantiku 222 di sini. Tapi kini bisa kukatakan dengan terus
terang bahwa niat itu sudah tidak ada lagi." Aku diam selama beberapa saat. Lalu aku
berkata: "Jadi Bapa tidak akan menyokong aku lagi?" "Apa kau betul-betul mengira aku
masih akan menyokong setelah semua kejadian ini?" tanya Pendeta Kepala setelah diam
sebentar. Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi aku menggagap-kan sesuatu
mengenai soal yang lain sama sekali: "Bapa kenal aku benar-benar. Dan kukira saya
juga kenal Bapa." "Jadi kalau kau kenal bagaimana?" kata Pendeta Kepala itu, lalu suatu
sinar muram timbul di matanya. "Gunanya tidak ada sama sekali. Sia-sia." Belum
pernah aku melihat wajah manusia yang begitu memencilkan diri dari dunia hari ini.
Belum pernah aku melihat seorang laki-laki, yang biarpun telah mengotori tangannya
dengan uang dan perempuan dan segala macam benda kehidupan duniawi, yang begitu
membenci dunia. Aku sarat dengan perasaan benci, seolah-olah aku berhadapan dengan
bangkai yang masih hartgat dan memiliki wajah yang sehat. Pada saat itu datang
keinginan yang keras sekali pada diriku untuk menjauhkan diri dari semua yang
mengelilingi aku, biarpun hanya untuk sementara waktu. Setelah aku mengundurkan
diri dari kamar Pendeta Kepala, keinginan itu terasa makin keras dan ak^tak dapat
mengalihkan fikiran-ku dari soal itu. Kuambil pembungkus furoshiki lalu aku
membungkus kamus Budhis dan seruling pemberian Kashiwagi. Aku berang-kat ke
universitas membawa bungkusan dan tasku. Fikiranku penuh dengan niat untuk pergi.
Waktu memasuki gerbang universitas, aku bersyukur sekali dapat melihat Kashiwagi
berjalan di depanku. Kupegang 2 Flengannya lalu kua/ak bicara ke pinggir jalan. Aku
minta supaya dipinjami uang tiga ribu yen dan mengambil kamus serta seruling itu
untuk ia pergunakan semaunya. Pada mukanya tidak kelihatan tanda-tanda tarikan
wajah yang biasanya ia perlihatkan jika lagi mengemukakan ucapan yang paradoksal —
air muka yang dapat kita lukiskan sebagai gambaran kecerahan filsafat. Ia memandang
padaku dengan mata dikecilkan dan berkabut. "Kau ingat nasiiiat yang diberikan
Laertes pada anaknya dalam Hamlet? 'Jangan berhutang dan jangan berpiutang.
Karenahutang bisa sekaligus menghilangkan uang dan kawan.'" "Aku tidak punya ayah
lagi," jawabku. "Tapi kalau tidak bisa juga tidak jadi apa." "Aku tidak mengatakan tidak
bisa," kata Kashiwagi. "Man kita bicarakan. Aku tidak tahu pasti apa aku bisa
mengumpulkan tiga ribu yen atau tidak." Aku mau menuding Kashiwagi dengan apa
yang diceritakan oleh perempuan guru mengarang bunga itu tentang dirinya — Icara dia
memeras uang dari perempuan — tapi aku berhasil mengendalikan diriku. Tertama-tama
harus kita fikirkan bagaimana caranya untuk melepas kamus dan seruling ini." Sambil
mengucapkan itu, ia tiba-tiba berbalik lalu berjalan kembali ke gerbang. Aku juga
berbalik lalu menemaninya sambil memperlambat langkahku supaya sesuai dengannya.
Ia mulai bicara tentang sesama mahasiswa yang menjadi ketua sebuah perhimpunan
simpan-pinjam yang dikenal sebagai Klub Hikari dan yang telah ditangkap karena
dituduh terlibat dalam kegiatan keuangan pasar gelap. Ia dibebaskan dalam bulan
September, dan semenjak itu rupa-rupanya ia selalu kesuiitan, karena nama baiknya
sudah rusak. Sejak bulan April, Kashiwagi tertarik sekali pada ketua Klub Hikari 224 itu
dan kami sering membicarakannya. Kami yakin pengaruh-nya dalam masyarakat masih
banyak dan kami sama sekali tidak mengira bahwa empat belas hari kemudian ia bunuh
diri. "Untuk apa uang itu?" tanya Kashiwagi tiba-tiba. Aneh baginya untuk menanyakan
pertanyaan seperti itu. "Aku mau pergi ke suatu tempat. Tujuan yang jelas tidak ada."
"Apa kau masih akan kembali?" "Mungkin sekali." "Kenapa kau lari?" "Aku mau
menjauhkan diri dari keadaan sekelilingku. Dari bau kelumpuhan yang diberikan
dengan keras sekali oleh mereka yang ada di sekitarku." "Kau juga mau menjauhkan
diri dari Kuil Kencana?" "Ya. Juga dari Kuil Kencana." "Apa Kuil Kencana juga
lumpuh?" "Tidak, Kuil Kencana pasti tidak lumpuh! la adalah akar kelumpuhan semua
orang." "Ya, kukira kau akan berfikir begitu," kata Kashiwagi sambil berjalan dengan
lenggang menari yang khas dan mendekakkan lidahnya dengan riang. Aku mengikuti
dia menuju sebuah toko antik kecil dan dingin, lalu seruling itu ia jual. Ia hanya bisa
mendapat empat ratus yen. Sudah itu kami singgah ke sebuah toko buku bekas dan
berhasil menjual kamus itu dengan harga seratus yen. Untuk sisa uang sebanyak dua
ribu lima ratus yen lagi Kashiwagi mengajak aku ke rumah penginapannya. Setelah
meminjamkan uang itu padaku, ia mengajukan sebuah usul yang ganjil. Seruling itu,
demikian ia menjelaskan, adalah sebuah barang pinjaman yang sudah kukembalikan
padanya, sedarigkan kamus itu dapat dianggap sebagai hadiah. Jadi aku tidak ada
melakukan apa-apa kecuali menyerahkan padanya barang-barang yang sebetulnya sudah
menjadi miliknya, dan karena itu uang yang lima ratus yen yang diperoleh dari
penjualan itu adalah haknya. Jika ditambahkan uang yang dua ribu lima ratus yen itu
maka jumlah hutang itu seluruhnya tentu jadi tiga ribu yen. Dari tiga ribu yen ini
Kashiwagi ingin menerima bunga sebanyak sepuluh persen sebulan sampai seluruh
hutang selesai dibayar. Menurut Kashiwagi, jika di-bandingkan dengan bunga tiga
puluh empat persen yang diminta oleh Klub Hikari, maka bunga ini begitu rendah,
hingga seluruh hutang ini sebetulnya lebih merupakan pembe-rian dari fihaknya. Ia
mengeluarkan selembar kertas Jepang yang tebal, sebuah batu tinta lalu mulai
menuliskan per-syaratan hutang itu dengan penuh kesungguhan. Sudah itu ia menyuruh
aku menekankan cap ibu jariku pada dokumen itu. Karena aku tidak mau merisaukan
masa depan, maka aku menekankan ibu jariku ke bantal tinta lalu menekankan-nya pada
surat perjanjian hutang-piutang itu. Jantungku berdebar karena tidak sabar. Setelah
meninggalkan rumah penginapan Kashiwagi dengan uang tiga ribu yen dalam kantong,
aku naik trem sampai Taman Funaoka. Aku beriari menaiki tangga batu yang menuju ke
Kuil Kenkun. Aku bermaksud mengambil surat undian suci mikuji untuk mendapat
semacam gambaran tentang perjalananku. Dari kaki tangga itu kita dapat melihat
gedung utama Kuil Yoshiteru Inari yang dicat dengan warna merah lincah, dan juga
sepasang rubah dari batu yang dikelilingi oleh kawat. Masing-masing rubah berhiaskan
ukir-ukiran pada mulutnya dan bahkan telinganya yang tegak dan tajam itu diberi cat
merah. Hari itu dingin sekali. Sekali-sekali angin berhembus di antara sinar matahari
yang tipis. Matahari yang lemah menem-bus pepohonan hingga tangga itu kelihatan
seperti baru 226 disirami abu. Kelihatannya seperti abu kotor, karena cahaya yang
lemah sekali. Aku beriari naik tangga itu tanpa berhenti untuk mengambil nafas dan
waktu akan sampai ke halaman terbuka di depan Kuil Kenkun, aku sudah mandi
keringat. Di depanku terdapat tangga lain yang menuju kuil itu. Atap gentengnya yang
rata menjulur sampai ke tangga. Di kedua jalan menuju kuil itu berbarislah pohon-
pohon pinus yang ramping ber-keluk-keluk di bawah langit musim dingin. Gedung kayu
tua kantor kuil itu berada di sebelah kanan dan di pintunya tergantung papan yang
bertuliskan: "Lembaga Penelitian Dan Telaah Nasib Manusia." Antara kantor kuil dan
ruang tempat memuja terdapat sebuah gudang putih, dan di belakangnya tumbuh
beberapa pohon sedar di bawah awan dingin dan kelabu yang tersebar di atas kepalaku,
sarat dengan cahaya berkabung. Dari sini kita bisa melihat pemandangan ke gunung-
gunung di bagian barat Kyoto. Dewa utama yang dipuja di Kuil Kenkun adalah
panglima perang bangsawan Nobunaga. Putera sulungnya, Nobutada, juga disucikan
bagai dewa pendarnping. Kuil itu bentuknya bersahaja dan satu-satunya warna yang
terdapat di situ ialah warna merah terali yang melingkungi ruang besar pemujaan. Aku
menaiki tangga lalu menghadap dewa-dewa itu. Sesudah itu kuambil kotak tua bersegi
enam yang terletak di atas lemari barang-barang persembahan. Kotak itu kugoncang-
goncang. Akhirnya sepotong bambu yang diukir halus sekali menjulur dari lobang yang
terdapat di atas kotak itu. Di atasnya tertulis dengan tinta Cina angka "14". Aku
berbalik. "Empat belas, empat belas," aku menggumam pada diriku sendiri sambil
menuruni tangga. Bunyi kata-kata itu seolah-olah mengental di lidahku dan setahap
demi setahap mem- 227 peroleh arti tertentu. Aku pergi ke pintu kantor kelenteng lalu
menyatakan kehadiranku. Seorang perempuan separuh baya muncul. Rupa-rupanya ia
lagi mencuci dan ia sibuk menyeka tangannya pada rok luar yang ia pakai. Tanpa
memperlihatkan air muka yang khas ia menerima pembayaran sepuluh yen yang
kuserahkan padanya. "Nomor berapa?" tanyanya. "Nomor empat belas." "Tunggu di
sini." Aku duduk di serambi terbuka, menunggu. Dalam diriku timbul fikiran alangkah
tidak berartinya kalau nasibku harus ditentukan oleh tangan perempuan yang basah dan
lecet itu. Tapi tidak apa, karena aku justru datang ke kuil itu dengan niat untuk
menghadapi ketiadaan arti itu. Di balik pintu geser kertas aku dapat mendengar bunyi
denting cincin besi sebuah laci tua yang rupa-rupanya lagi dibuka oleh perempuan itu
dengan susah payah. Lalu aku mendengar bunyi kertas dirobek dan sesaat kemudian
pintu geser itu temganga. "Ini." kata perempuan itu sambil mengulurkan selembar kertas
kecil lalu menutup pintu itu kembali. Tangan perempuan yang basah itu meninggalkan
jejak lembab pada satu sudut kertas itu. Aku membaca kertas itu. "Nomor empat belas -
sial," begitu tertulis. "Kalau kau tinggal di sini beribu dewa akhirnya akan
menghancurkan kau." "Pangeran Okuni, setelah menghadapi batu berapi, panah
menukik, dan siksaan-siksaan lain, meninggalkan propinsi jos sesuai dengan perintah
Dewa-dewa Leluhurnya. Ini adalah alamat bagimu untuk melarikan diri secara diam-
diam." Tafsiran yang dicetak di bawahnya membebcrkan segala 228 macam kesusahan
dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Aku tidak takut karenanya. Aku mencari
berbagai petunjuk yang terdaftar di bagian bawah kertas itu lalu menemui petunjuk
tentang perjalanan. "Perjalanan — sial. Elakkan perjalanan menuju barat laut." Setelah
membaca itu, aku memutuskan untuk menuju ke barat laut. Kereta"lce Tsuruga
berangkat dari stasiun Kyoto antara pukul lima dan pukul tujuh pagi. Waktu bangun di
kuil pukul setengah enam. Pagi-pagi hari tanggal sepuluh, tatkala aku bangun dan
langsung mengenakan seragam mahasiswaku, tidak ada orang yang memperlihatkan
kecurigaan. Mereka semua sudah membiasakan diri untuk pura-pura tidak melihatku. Di
waktu fajar keadaan di kuil selalu agak ramai. Sebagian sibuk menyapu, sebagian
mengepel. Sampai pukul setengah tujuh waktu dipergunakan untuk kesibukan
pembersihan. Aku keluar lalu mulai menyapu halaman depan. Aku bermaksud untuk
memulai perjalananku langsung dari 'kuil tanpa membawa apa-apa, seolah-olah aku
tiba-tiba menguap ke udara. Sapuku bergerak bersama aku di atas jalan kerikil yang
berkilat dalam sinar fajar. tiba-tiba sapu itu rebah, aku menghilang hingga tidak ada lagi
yang tinggal dalam cahaya temaram itu kecuali kerikil putih yang ada di jalan.
Begitulah keberangkatanku kubayangkan. Oleh karena itu aku tidak pamitan dengan
Kuil Kencana. Yang paling penting ialah bahwa aku tiba-tiba direnggutkam dari seluruh
keadaan kelilingku — dan Kuil Kencana termasuk keadaan keliling ini. Selangkah demi
selangkah kuarahkan 229 sapuJcu ke gerbang utama. Di sela-seia dahan pohon pinus
aku dapat melihat bin tang pagi. Jantungku berdebar. Kini aku harus pergi. Kata itu
seolah-olah mengepak-ngepak di udara. Apa pun yang terjadi aku harus pergi — pergi
dari sekelilingku, pergi dari pengertianku tentang keindahan yang begitu membelenggu,
pergi dari kegelapan terpencil tempat aku hidup, pergi dari kegagapanku dan semua
keadaan hidupku yang lain. Sapuku jatuh dari tanganku ke kegelapan rumput bagai
sebufir buah ranum jatuh dari pohon. Diam-diam aku berjalan menuju gerbang utama,
sambil mengendap-endap di balik pohon. Begitu gerbang itu kulewati maka aku mulai
beriari sekuat tenaga. Trem pertama pagi itu lewat. Aku naik. Penumpang trem itu hanya
ada beberapa orang; mereka kelihatannya pekerja. Aku membiarkan cahaya lampu
listrik menyirami aku sepenuhnya. Rasanya aku belum pernah berada di tempat yang
begitu terang. Aku ingat semua perincian perjalananku dengan baik. Aku tidak pergi
tanpa tujuan. Aku memutuskan pergi ke sebuah kecamatan yang dulu pernah
kukunjungi waktu aku masih Sekolah Menengah. Tapi begitu makin dekat ke tempat itu
perasaanku tentang pergi dan pembebasan begitu kuat hingga aku merasa bergerak ke
arah suatu tujuan yang tak dikenal. Aku rnenumpang kereta api yang kukenal menuju ke
kampung halamanku, tapi belum pernah gerbong tua yang hitam berdebu ini kelihatan
begitu aneh seperti sekarang ini dan belum pernah ia kelihatan punya warna-warna yang
begitu segar. Stasiun, bunyi peluit, bahkan suara menggeretak pengeras suara yang
menggaung dalam udara pagi, semuanya mengulangi suatu perasaan tunggal, kemudian
memperkuatnya, dan sesudah itu menyebarkan suatu harapan yang kemilau dan sendu
di hadapan mataku. Matahari pagi membagi peron stasiun yang luas menjadi berbagai
bagian. Bunyi sepatu berlarian di peron, bunyi lonceng stasiun yang tak henti-hentinya
berbunyi dan selalu kedengaran sama, bunyi bakiak, warna jeruk yang dikeluarkan oleh
salah seorang pedagang di peron dari keranjangnya, lalu mengacungkannya —
semuanya kulihat sebagai saran atau tanda-tanda sesuatu yang besar tempat aku kini
menyerahkan diri. Setiap bagian dari stasiun itu, biar bagaimana kecilnya pun,
dipusatkan pada inti perasaanku tentang perpisahan dan kepergian. Dengan sopan
santun dan sahdu peron itu mulai menjauh dariku. Aku dapat merasakannya. Ya, aku
dapat merasakan bagaimana permukaan batu yang tidak mengatakan apa-apa itu
diterangi oleh benda yang bergerak menjauhinya, yang berpisah, yang pergi. Aku
mengandalkan diri pada kereta. Ini suatu cara pengutaraan yang janggal, tapi tidak ada
jalan lain untuk memastikan fikiran aneh bahwa kedudukanku secara bertahap bergerak
dan hanyut menjauh dari stasiun Kyoto. Bermalam-malam kalau aku berbaring di kuil
aku mendengar peluit kereta barang jika lewat dekat halaman kuil, dan kini bisa
dimengerti kalau aku sendiri merasa aneh karena duduk di salah satu kereta yang siang-
malam tanpa pengecualian lewat berpacu di kejauhan. Kini kami berpacu menuju
Sungai Hizu, yang dulu pernah kulihat waktu aku naik kereta ini bersama ayahku yang
sakit. Daerah antara tempat ini dan Sonobe, di sebelah barat daerah pegunungan Atago
dan Arashiyama, memiliki iklim yang berbeda sekali dari iklim kota Kyoto. Mungkin
sekali ini disebabkan oleh arus udara. Selama tiga bulan terakhir setiap tahun kabut naik
dari Sungai Hozu kira-kira pukul sebelas malam lalu menyelimuti seluruh daerah itu
230 ¦sampai pukul sepuluh keesokan harinya. Kabut itu tidak ada hentinya begitu
mengambang menjauhi sungai. Sawah-sawah kelihatan berkabut di kiri-kanan kereta,
dan bagian-bagian yang sudah dipanen memperoleh wama hijau. Beberapa pepohonan
yang tumbuh tersebar, dengan berbagai ukuran dan tinggi, tumbuh di pematang-
pematang sawah itu. Semua dahan yang rendah dan dedaunannya dipotong dan
batangnya dibungkus dengan tikar jerami (yang di daerah itu disebut "sangkar
kukusan") hingga jika pohon-pohon itu menjuJang keluar kabut kelihatan bagai hantu-
hantu pohon. Sekali, sebatang pohon wilg besar muncul dengan jelas sekali ke dekat
jendela kereta api. Di belakangnya, keluasan sawah yang hampir-hampir tak kelihatan
berwarna kelabu; daun-daun basah pohon wilg itu tergantung berat dan seluruh pohon
itu bergoyang sedikit dalam kabut. Hatiku yang begitu gembira waktu meninggalkan
Kyoto, kini hanyut ke dalam kenangan orang-orang mati. Waktu aku ingat Uiko dan
ayahku dan Tsurukawa, maka perasaanku jadi lembut sekali, dan aku bertanya-tanya
dalam hati apakah yang bisa kucintai bukan hanya orang-orang yang sudah mati.
Terserah bagaimana, tapi alangkah mudahnya orang mati dicintai dibanding dengan
mereka yang masih hidup! Gerbong kelas tiga itu tidak begitu penuh. Di sana mereka
duduk — orang-orang yang begitu sulit untuk dicintai - sibuk mengepul-ngepulkan
rokok atau mengupas jeruk. Di sampingku duduk seorang petugas dari sebuah
perhimpunan masyarakat. Ia sedang bicara dengan seorang lain dengan suara keras.
Keduanya mengenakan pakaian yang sudah tua tanpa potongan dan aku melihat
sepotong lapisan yang robek menjulur dari balik salah satu lengan baju. Sekali lagi aku
betul-betul kaget oleh kenyataan, bahwa kebersahajaan pernikiran sedikit pun tidak
berkurang biarpun orang bertam- bah tua. Wajah-wajah petani yang kerut-merut hangus
itu dan suara mereka yang sudah jadi serak karena minuman, dapat dikatakan
merupakan suatu contoh dari semacam mediokritas atau fikiran bersahaja. Mereka lagi
mempercakapkan siapa yang akan mereka minta untuk memberikan sumbangan pada
organisasinya. Seorang leiaki botak duduk dengan wajah yang tenang. Ia tidak
menyertai percakapan itu tapi asyik menyekakan tangan pada sehelai saputangan katun,
yang aslinya berwarna putih tapi kini sudah jadi kuning karena terlalu sering dicuci.
"Coba lihat tanganku ini!" gumamnya. "Kotor karena jelaga selama aku duduk di sini.
Betul-betul menjengkelkan!" "Kau pernah menulis surat sekali pada surat kabar tentang
jelaga ini, 'kan?" kata leiaki lain yang kini ikut bicara. "Tidak," kata leiaki botak itu.
"Tapi aku betul-betul jengkel — penuh jelaga!" Biarpun aku tidak memperhatikan tapi
aku terpaksa ikut mendengarkan. Kuil Kencana dan Kuil Perak sebentar-sebentar
muncul dalam percakapan mereka. Mereka sependapat bahwa sepatutnya minta
sumbangan yang cukup besar dari kedua kuil itu. Pendapatan Kuil Perak hanya separuh
dari pendapatan Kuil Kencana, tapi sungguhpun begitu jumlah itu cukup banyak.
Pendapatan tahunan Kuil Kencana, kata salah seorang dari mereka untuk memberikan
contoh, mungkin lebih dari lima juta yen. Ongkos perawatan kuil itu sesuai dengan
kebiasaan Zen, termasuk bayar listrik dan air, tidak mungkin lebih dari dua ratus ribu
yen. Lalu apa yang terjadi dengan sisanya? Mudah sekali! Pendeta Kepala membiarkan
calon pendeta dan murid-murid makan nasi dingin sedangkan dia sendiri setiap malam
keluar dan menghabiskan uang itu dengan geisha-geisha daerah Gion. Di samping itu
kuil itu bebas pajak. Mereka seolah-olah punya hak luar wilayah. Ya, kuiJ-kuil itu harus
dikuras supaya memberi sumbangan! Demikianlah percakapan mereka berlangsung.
Setelah selesai berbicara, leiaki berkepala botak yang masih saja menyekakan tangan
pada saputangannya itu berkata: "Betul-betul menjeng- kelkan!" Dan ucapan itu
merupakan kesimpulan bagi semuanya. Di tangannya tidak sedikit pun kelihatan bekas-
bekas jelaga; tangan itu sudah diseka dan dipolis dengan sempurna dan mereka
memperlihatkan kecemerlangan sebuah pahatan hiasan Netsuke. Tangannya yang
diperdapat sudah jadi itu betul-betul lebih mirip pada sepasang sarung tangan yang
terbuat dari apa pun jua. Mungkin aneh, tapi baru kali inilah aku mendengar kritik
umum. Di Kuil Kencana kami semua adalah bagian dari dunia pendeta-pendeta dan
universitas juga merupakan bagian dari dunia itu. Kami tidak pernah bertukar pendapat
tentang kuil itu. Tapi percakapan petugas-petugas tua ini bagiku sama sekali tidak
mengherankan. Semua yang mereka katakan terasa olehku sebagai sesuatu yang bisa
dimengerti. Kami makan nasi dingin. Pendeta Kepala mengeluyur ke daerah Gion.
Semuanya ini wajar. Tapi yang membuat aku geram sekali ialah karena harus difahami
dengan cara seperti yang diperhhatkan oleh petugas-petugas tua ini. Betul-betul tidak
bisa diterima bahwa aku harus difahami oleh kata-kata mereka. Karena kata-kataku
mempunyai fitrah yang lain. Jangan lupa, bahkan tatkala aku melihat Pendeta Kepala
berjalan bersama geisha Gion itu aku sama sekali tidak dihinggapi oleh rasa kebencian
moral. OleH karena itu percakapan petugas-petugas tua ini lewat begitu saja dari
fikiranku dan hanya meninggalkan secercah rasa benci dan bau-bau kebersahajaan
pemikiran yang mengam-bang. Aku tidak bermaksud mencari sokongan umum untuk
fikiran-fikiranku. Juga aku tidak bemiat untuk memberi 234 bingkai pada flkiranku
hingga dapat lebih dimengerti oleh dunia. Seperti telah berkali-kali kukatakan, alasan
utama dari kehidupanku adalah kenyataan bahwa aku tidak difahami orang. Pintu
gerbong dibuka lalu masuklah seorang pedagang dengan sebuah keranjang besar
tergantung di leher. Ia mene-riakkan dagangannya dengan suara parau. Tiba-tiba aku
merasa lapar, lalu aku membeli sekotak makanan. Makanan itu terdiri dari mi berwarna
hijau karena yang dipakai sebagai bahan pembpktnya adalah ganggang, dan bukan
beras. Kabut telah pergi tapi langit belum juga cerah. Aku melihat pohon-pohon murbei
tumbuh di kaki gunung-gunung Tamba; dan di rumah-rumah mulai kelihatan orang
bekerja membuat kertas. Teluk Maizuru. Nama ini mengharukan aku seperti dulu. Aku
sendiri tidak begitu pasti apa sebabnya. Semenjak masa kanak-kanakku di desa Shiraku
yang tidak jauh dari situ, "maizuru" telah menjadi semacam istilah khusus untuk laut
yang tidak kelihatan dan akhirnya ia merupakan semacam alamat laut yang memburuk.
Laut yang tak kelihatan itu dapat dilihat dengan jelas dari puncak Gunung Aoba yang
menjulang di balik desa Shiraku. Aku sudah dua kali mendaki gunung itu. Pada
kesempatan kedua aku melihat skwadron gabungan, yang kebetulan berlabuh di
Pelabuhan Angkatan Laut Maizuru. Kapal-kapal yang membuang jangkar di teluk yang
kemilau itu mungkin merupakan bagian dari suatu kesatuan cadangan rahasia. Semua
yang ada di sekeliling skwadron ini termasuk ke dalam kerahasiaan dan kita bertanya-
tanya dalam hati apa armada itu betul-betul ada. Oleh karena itu, skwadron gabungan
yang kulihat di kejauhan itu kelihatan bagai se-kawanan burung air hitam yang agung,
yang kita kenal hamanya tapi yang sampai saat itu baru kita lihat dalam 235 gambar.
Mereka seolah-olah lagi mandi-mandi secara diam-diam sambil bersenang-senang di
teluk itu, di bawah pengamat-an seekor burung tua yang garang dan penuh waspada,
dan rupa-rupanya dengan lengah sama sekali tak menyadari bahwa mereka sedang
diamat-amati. Aku ditarik kembali ke masa kini oleh suara kondektur yang masuk dan
mengumumkan stasiun berikutnya, Maizuru Barat. Di antara penumpang tidak ada
seorang pelaut pun yang dulu biasanya buru-buru menyandang tasnya. Orang-orang
yang bersiap-siap untuk turun, kecuali aku, adalah beberapa orang yang rnirip dengan
pedagang pasar gelap. Semuanya sudah berobah. Pelabuhan itu telah menjadi pelabuhan
asing. Tanda-tanda jalan berbahasa Inggeris ber-taburan dengan menyolok sekah di
persimpangan-persimpangan dan tentara Amerika tampak di mana-mana dalam jumlah
besar. Di bawah langit musim dingin yang berawan itu, angin yang dingin bertiup di
jalan dan mengandung garam. Jalan-jalan ini telah diperlebar untuk kepentingan militer.
Iidah laut yang sempit yang menjorok bagai sebuah terusan jauh ke pusat kota,
permukaan air yang mati, kapal-kapal perang kecil Amerika yang tertambat pada pantai
- terasa sekali suasana damai yang melingkupi, tapi suatu kebijaksanaan kesehatan yang
berlebflian telah menghilangkan kegesitan fisik, hingga seluruh kota itu kini
memberikan kesan sebuah rumah sakit. Aku tidak berharap akan bertemu di sini dengan
laut atas dasar hubungan yang dekat, tapi tentu saja sebuah jip bisa saja datang
menyelonong dari belakang lalu mendorong aku ke dalam laut sekadar untuk
menyenangkan hati. Kalau hal itu kurenungkan sekarang, maka aku sadar bahwa
dorongan hati yang membuat aku mengadakan perjalanan ini mengandung suatu
keakraban dengan laut; tapi bukan laut dan 236 pelabuhan buatan seperti yang ada di
Maizuru, tapi laut yang garang dan masih memiliki kegesitan aslinya, seperti laut yang
pernah kutemui di masa kanak-kanakku di rumahku di Tanjung Nariu. Ya, laut kasar,
dan pemarah, yang selalu penuh kegeraman, laut yang kita temui sepanjang pantai Laut
Jeparig. Oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi ke Yura. Dalam musim panas
pantai itu biasanya ramai oleh orang-orang yang berenang, tapi sekarang ini di sana
tentu lengang sekali dan yang ada hanya laut dan daratan yang saling bergumut dengan
kekuatan gelap. Jarak antara Maizuru Barat dan Yura tujuh mil lebih sedikit. Kakiku
samar-samar masih ingat jalan itu. Jalan itu mengikuti bagian baru teluk di sebelah barat
Maizuru, kemudian melintasi jalan kereta api Miyazu di sebelah kanan, masuk ke
Puncak Takajiri lalu keluar di Sungai Yura. Lalu setelah melintasi Jembatan Okawasa, ia
mengikuti Sungai Yura menuju utara sepanjang sisi barat. Sudah itu ia menyusuri arus
sungai sampai bermuara di laut. Aku meninggalkan kota lalu mulai berjalan menyusuri
jalan itu. Karena berjalan, maka kaki terasa lelah dan aku bertanya pada diriku sendiri:
"Apa yang akan kutemui di Yura? Bukti apa yang kuharapkan akan kutemui sehingga
aku bersusah-payah seperti ini? Jelas, di sana tidak ada apa-apa kecuali selembar Laut
Jepang dan pantai yang lengang?" Tapi kakiku tidak memperlihatkan kecenderungan
untuk memperlambat diri. Aku mencoba mencapai suatu tujuan, tak perduli ke mana.
Nama tempat yang kutuju sama sekali tidak punya arti. Aku didorong oleh tekad -oleh
tekad yang hampir-hampir imoril — untuk menghadapi tujuanku, biar apa pun juga.
Sekali-sekali sinar matahari yang lunak bersinar menyenang- kan dan berkas-berkas
cahaya yang ramah memancar dengan penuh basa-basi di sela-sela dahan-dahan
pepohonan keyaki di samping jalan. Tapi entah bagaimana aku merasa tidak bisa
berlambat-lambat. Tidak ada waktu untuk beristirahat. AJcu tidak menemui lereng yang
menurun menuju sebuah lembah sungai yang lebar, tapi aku tiba-tiba melihat Sungai
Yura dari sebuah jurang sempit di gunung. Airnya biru, dan biarpun sungai itu lebar, ia
mengaiir lambat di bawah langit berawan. Ia seolah-olah merangkak dengan segan-
segan menuju laut. Waktu aku sampai ke pinggir barat sungai Uu, di jalan tidak ada lagi
mobil atau orang yang berjalan. Sekali-sekali aku melihat kebun jeruk di pinggir jalan,
tapi aku tidak melihat orang sama sekali. Waktu aku melewati sebuah teratak kecil
bernama Kazue, aku mendengar suara rumput dikuakkan. Seekor anjing. Hanya
mukanya yang muncul di antara rumput-rumput. Rambut di puncak hidungnya
berwarna hitam. Aku tahu bahwa daerah ini terkenal (menurut cerita yang tidak begitu
meyakinkan) sebagai daerah tempat ke-diaman satria purba, Sansyo Dayu; tapi aku
tidak bermaksud untuk berhenti di sini dan aku lewat tanpa memperdulikannya. Karena
aku hanya mencari sungai. Di. tengah sungai itu ada sebuah .pulau besar dikeiilingi
bambu. Biarpun di jalan ?'dak ada angin sama sekah, bambu di pulau itu merunduk
karena angin. Di puiau itu ada empat atau lima aker sawah, yang diairi oleh hujan, tapi
aku tak melihat seorang petani pun jua. Satu-satunya manusia yang kelihatan, ialah
seorang leiaki yang tegak membelakangi aku, memegang sebuah joran kail. Aku sudah
beberapa lama tidak melihat orang, hingga aku merasakan suatu keramahan
terhadapnya. Rupa-rupanya ia lagi mengail ikan mulut kelabu. Kalau begitu, kataku
dalam hati, aku tentu tidak jauh lagi dari muaia sungai. Lalu desir-desir keras bambu
yang merunduk karena angin menenggelamkan bunyi air. Semacam kabut mengambarfg
di atas pulau itu; mungkin sekali hujan yang sudah mulai turun. Titik hujan mewarnai
pinggir sungai yang kering di pulau itu, dan sebelum kusadari hujan sudah menimpa
aku. Aku tegak memandangi pulau itu dan lambat-laun aku jadi basah. Aku melihat
bahwa di kejauhan sama sekali tidak ada tanda-tanda hujan. Leiaki yang lagi mengail itu
tidak merobah kedudukannya sedikit pun daripada tatkala ia kulihat pertama kali. Tidak
lama kemudian hujan pun reda, juga di tempat aku berdiri. Di setiap kelok jalan semak-
semak dan bunga-bunga musim gugur menghalangi pandanganku. Tapi tidak lama
kemudian aku sampai di tempat muara sungai yang terkembang di hadapanku. Angin
laut yang dingin sekali berhembus mengenai hidungku. Waktu Sungai Yura itu makin
mendekati muaranya, ia membeberkan sejumlah pulau sepi. Air sungai itu sudah
mendekati laut dan sudah mulai diserang oleh air asin, tapi permukaannya makin tenang
dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda apa yang akan dihadapi — tak
ubahnya seperti seseorang yang pingsan lalu mati tanpa sadar terlebih dulu. Di luar
perkiraanku muara sungai itu sempit sekah. Di sana laut terkapar berbaur tanpa bisa
dipisahkan dengan tumpukan awan gelap, kemudian mencair ke dalam sungai,
menyerangnya. Supaya bisa merasakan laut itu, aku masih harus berjalan jauh
sedangkan angin berhembus keras mengenai diriku dari seberang padang dan sawah-
sawah. Angin melanjutkan polanya di seluruh permukaan laut. Karena lautlah maka
angin secara demikian membuang-buang ke-kuatannya yang ganas di atas padang-
padang sunyi. Dan 239 laut adalah laut uap yang melingkupi daerah musim dingin ini,
laut yang tak berobah, berkuasa dan tak bisa dilihat. Di balik muara sungai itu
gelombang meUpat diri, lapis demi lapis, dan akhirnya membukakan keluasan
permukaan laut yang kelabu. Sebuah pulau berbentuk Topi Derby terapung di sungai.
Pulau itu Pulau Kammuri yang dipelihara sebagai tempat kediaman burung omizunagi
yang sudah jarang bisa ditemui. Aku memutuskan untuk masuk salah satu padang itu.
Aku melihat sekeliling. Pulau itu pulau sepi. Pada saat itu melintas semacam pengertian
di otakku. Tapi begitu aku sadar akan lintasan ini ia menghilang, hingga aku kehilangan
artinya. Aku berdiri sebentar di sana, tapi angin yang bertiup menghembus badanku
meniadakan semua fikiranku. Aku mulai berjalan menghadang angin. Padang tandus itu
bermuara ke tanah mandul berbatu-batu. Rumputnya layu; satu-satunya kehijauan yang
tidak layu adalah semacam ganggang yang menyerupai lumut pada tanah, sedang
ganggang itu juga kelihatannya merumuk dan merengkeng. Tanah sudah bercampur
dengan pasir. Aku mendengar suara lembab dan menggetar. Lalu aku mendengar suara
manusia. Aku memunggung pada angin keras lalu menatap ke arah puncak Yuragatake.
Waktu itulah aku mendengar suara-suara itu. IAku melihat ke sekeliling mencari
manusia. Sebuah jalan setapak menurun ke pantai sepanjang karang-karang rendah. Aku
tahu orang lagi bekerja secara bertahap untuk melindungi karang-karang itu dari erosi
yang hebat. Di sana-sini kelihatan tiang-tiang dari beton bagai kerangka putih dan
warna beton baru di atas pasir itu memberikan kesan yang segar sekali. Bunyi lembab
dan menggetar itu datang dari kincir pencampur beton. Alat itu mengocok semen waktu
dituangkan ke dalam penuangannya. Sekelompok pekerja dengan hidung yang merah
cerah melihat padaku dengan rasa ingin tahu waktu aku lewat dengan seragam
mahasiswa. Aku mengerling ke arah mereka. Hanya sekianlah salam kemanusiaan kita
masing-masing. Laut surut secara tiba-tiba dan pantai berbentuk kerucut. Waktu aku
berjalan melintasi pasir granit di pinggir air aku merasa gembira karena selangkah demi
selangkah aku bergerak dengan pasti ke arah pengertian tunggal yang tadi melintasi
fikiranku. Angin dingin sekah dan karena aku tidak pakai sarung tangan, tanganku
hampir-hampir beku tapi sedikit pun aku tak perduli. Ya, ini betul pantai Laut Jepang!
Di sinilah sumber dari semua kemalanganku, semua fikiranku yang murung, asal semua
keburukanku dan semua kekuatanku. Laut yang liar. Ombak mendorong ke depan dalam
gumpalan-gumpalan yang tak kunjung berhenti, hingga kita hampir-hampir tidak bisa
melihat lekuk kelabu dan mulus yang berada antara gelombang yang satu dan
gelombang berikutnya. Tumpukan awan yang bertumpuk di atas laut memperlihatkan
suatu rasa yang berat tapi sekaligus juga rasa yang rapuh. Karena tumpukan awan yang
tak bisa dirumuskan dan terasa berat itu mempunyai pinggir, maka tampak sebuah garis
yang ringan dan dingin bagai garis-garis bulu ayam yang lembut, sedangkan di tengah-
tengahnya membungkus sebentuk langit biru yang guram, yang kehadirannya tak bisa
kita pastikan. Di balik air berwarna seng menjulang warna lembayung hitam gunung-
gunung tanjung. Semuanya diresapi oleh ke-gelisahan dan kemantapan, dengan
kekuatan gelap dan selalu bergerak, dengan rasa kebekuan logam. Tiba-tiba aku teringat
pada apa yang dikatakan Kashiwagi padaku pada hari pertemuan kami yang pertama.
Pada 241 saat kita duduk di sebuah padang yang dirawat baik, pada suatu sore musim
semi yang indah, sambil dengan iena menarap matahari yang bersinar di seJa-seia
dedaunan dan membuat bermacarn pola di atas rumput — pada saat seperti itulah
kekejaman tiba-tiba membersit dalam diri kita. Kini aku menghadapi ombak dan angin
utara yang keras. Di sini tidak ada sore musim semi yang indah, tidak ada padang
rumput yang dirawat baik. Tapi alam sepi di hadapanku ini lebih mengelus semangatku,
daripada padang yang mana pun jua di suatu sore permulaan musim semi. Di sini aku
puas dengan diriku sendiri. Di sini aku tidak diancam oleh apa pun jua. Apa mat yang
muncul dalam diriku kini merupakan suatu niat kejam seperti yang diartikan oleh
Kashiwagi? Aku tidak tahu, tapi pendeknya niat yang tiba-tiba tumbuh dalam diriku
mengungkapkan arti yang melintasi fikiranku sebelumnya dan ia membuat batinku jadi
cerah. Aku belum mencoba memikirkannya lebih dalam, tapi aku baru sekadar dipukau
oleh niat itu, seolah-olah aku dipukau oleh cahaya. Tapi niat yang sampai saat itu belum
pernah timbul di hatiku, mulai tumbuh jadi kuat dan besar begitu ia dilahirkan. Bukan
aku yang mengandung ide itu, tapi ide itu yang membungkus aku. Inilah ide dan niat
yang membungkus diriku: "Kuil Kencana itu harus kubakar." 242 Bab Delapan
SEMENTARA itu aku melanjutkan perjalanan sampai ke dapan Stasiun Tango-Yura
dengan Kereta Miyazu. Waktu aku ke kota itu tatkala mengikuti darmawisata Sekolah
Menengah Maizuru Timur, kami mengikuti jalan yang sama dan naik kereta dari stasiun
itu pula. Di jalan di depan stasiun hampir-hampir tidak ada orang hingga mudah sekali
dimengerti bahwa mata pencaharian rakyat itu sebagian besar diperdapat pada musim
panas yang singkat, di saat banyak pengunjung datang ke daerah itu. Aku memutuskan
untuk menginap di sebuah losmen kecil tatkala aku melihat sebuah papan nama: "Balai
Yura -Losmen untuk Perenang." Lewat jendela kaca geser di dekat pintu masuk aku
memberi tahu kehadiranku, tapi dari dalam tidak ada jawaban. Di tangga kelihatan
debu. Tidak ada orang sama sekali. Aku pergi ke pintu belakang. Di sana ada sebuah
taman kecil bersahaja dengan beberapa bunga serunai yang sudah layu. Sebuah timba
kelihatan di atas sebuah rak tinggi. Timba ini disediakan bagi pengunjung musim panas
yang memakainya untuk mencuci pasir yang melekat pada tubuh waktu mereka pulang
berenang. Tidak jauh dari gedung utama ada sebuah rumah kecil, rupanya tempat
keluarga pemilik losmen itu tinggal bersama keluarganya. Aku dapat mendengar bunyi
radio lewat pintu Ikaca yang tertutup. Ada sesuatu yang hampa dalam bunyi keras yang
sebetulnya tidak berguna sama sekali, yang memberikan kesan padaku bahwa waktu itu
tidak ada orang di rumah. Beberapa pasang bakiak bertebaran di pintu masuk. Aku
berdiri di luar lalu meneriakkan kehadiranku setiap kali ada kekosongan dalam hiruk-
pikuk bunyi radio itu. Tapi seperti sudah kukira, dari dalam gedung ini juga tidak datang
jawaban. ISebuah bayangan muncul di belakang. Matahari merembes lemah melalui
langit berawan. Aku tidak menyadarinya sampai aku kebetulan melihat urat-urat kotak
bakiak berobah menjadi lebih terang. Seorang perempuan memandang padaku. Badan-
nya begitu gemuk, hingga garis-garis badannya yang putih melendung dengan lunak,
dan matanya begitu kecil hingga lata tidak bisa memastikan apa dia betul punya mata.
Aku minta kamar padanya. Perempuan itu sama sekali tidak minta supaya aku
mengikuti dia, tapi ia berbalik tanpa bicara lalu berjalan menuju pintu masuk losmen
itu. Aku diberi sebuah kamar kecil di sudut, di tingkat dua, menghadap ke luar. Kamar
itu sudah lama ditutup dan api lemah yang menyala di anglo yang dibawakan
perempuan itu untukku, dengan segera mengisi ruangan itu dengan asap, hingga jadi
pengap sekah. Aku membuka jendela lalu membiarkan diriku ditiup angin utara. Di arah
laut awan masih melanjutkan permainannya yang lamban dan santai, yang sebetulnya
tidak mau diperlihatkan kepada siapa saja. Awan ini seolah-olah merupakan suatu
pantulan dari keinginan alam yang tak punya tujuan. Sebagian memperlihatkan
kepingan-kepingan langit - kristal kecerdasan bening yang kecil dan biru. Laut sendiri
tidak kelihatan. Sambil berdiri di depan jendela aku mulai memikirkan niatku tadi. Aku
bertanya pada diriku sendiri kenapa aku tidak beroleh fikiran untuk membunuh Pendeta
Kepala lebih dulu sebelum membakar kuil itu. Kini kusadari, bahwa maksud untuk
membunuh Pendeta Kepala itu memang pemah tercetus dalam fikiranku; tapi segera
kusadari bahwa itu tidak ada gunanya. Karena, misalkan aku berhasil membunuh
Pendeta Kepala, kepalanya yang dicukur licin dan semua kejahatannya, yang sudah
berpadu dengan kelumpuhan, tak akan urung muncul terus-menerus pada permukaan
langit yang gelap. Umumnya, benda-benda yang dibekali kehidupan, tidak seperti Kuil
Kencana, memiliki sifat kekar untuk berwujud selama-lamanya. Manusia hanya dibekali
dengan sebagian dari atribut-atribut alam yang begitu beragam, dan berkat suatu cara
penggantian yang berhasil sekali, mereka menyebarkan bagian itu dan membuatnya jadi
banyak. Jika tujuan sebuah pembunuhan untuk menghancurkan sifat ke-abadian seorang
korban, maka pembunuhan itu didasarkan pada suatu salah hitung. Dengan demikian
fikiranku membuat aku lebih mengakui bahwa antara perwujudan Kuil Kencana dan
manusia ada semacam pertentangan yang lengkap. Di satu fihak, suatu khayalan
kehidupan abadi muncul dari aspek manusia yang jelas sekali mudah dihancurkan;
sebalik-nya, keindahan Kuil Kencana yang seakan-akan tidak bisa dihancurkan
memberikan kemungkinan pada suatu peng-hancuran. Mahluk fana seperti manusia
tidak bisa dihapuskan; benda-benda yang tak bisa dihancurkan seperti Kuil Kencana
bisa dihancurkan. Kenapa orang tidak sadar akan ini? Jelas bahwa kesimpulanku ini asli
sekali. Sekiranya aku membakar Kuil Kencana, yang telah ditetapkan sebagai Monumen
Nasio-nal dalam tahun 1897, aku hanya melakukan perbuatan penghancuran,
keruntuhan yang tidak bisa dipulihkan, perbuatan yang betul-betul akan mengurangi
jumlah keindahan yang diciptakan manusia di dunia ini. 244 Sewaktu aku berfikir
mengikuti garis-garis ini, aku ma- Jahan dihinggapi oleh suatu rasa lucu. Jika Kuil
Kencana itu kubakar, kataku dalam hati, maka aku telah melakukan HE. sesuatu yang
mempunyai nilai pendidikan yang besar sekali. EL Karena hal ini akan mengajarkan,
bahwa tidak ada artinya untuk menyimpulkan suatu keutuhan yang tidak bisa
dihancurkan dengan bantuan suatu analogi. Mereka akan belajar, bahwa biarpun Kuil
Kencana terns ada, terus tegak selama lima ratus lima puluh tahun dekat Kolam Kyoko,
tidak memberikan jaminan apa-apa. Mereka akan dihinggapi oleh suatu rasa resah
begitu menyadari bahwa aksioma yang dengan sendirinya benar yang ditempelkan oleh
kelanjutan hidup kita pada kuil • itu, bisa runtuh dari hari ke hari. Kelanjutan hidup kita
terjamin karena ia dikelilingi oleh substansi waktu yang padat, yang akan ada selama
masa tertentu. Ambil, misalnya, sebuah laci yang dibuat seorang tukang kayu untuk
memudahkan hidup sebuah rumah tangga. Dengan berlalunya waktu, maka bentuk
sebenarnya barang ini sudah diatasi oleh waktu itu sendiri, dan jika kurun zaman dan
abad telah berlalu, maka waktu seolah-olah memadat lalu memperoleh bentuk itu. Suatu
ruang kecil tertentu, yang mula-mula ditempati barang itu, kini ditempati oleh waktu
yang memadat. Ia bahkan telah menjadi semacam penjelmaan dari suatu bentuk
ruh. Pada permulaan Tsukumogami-ki, sebuah kitab dongeng abad pertengahan, ada
bait-bait seperti berikut: "Dalam Kitab Bunga Rampai tentang kekuatan jagat, Yin dan
Yang, tertulis bahwa, setelah berlalu masa beratus tahun dan setelah benda berobah jadi
ruh, maka hati manusia pun tertipulah; masa ini diberi nama Tsukumogami, tahun ruh
berkabung. Adalah kebiasaan dunia untuk membuang alat-alat rumah tangga kita yang
sudah tua setiap tahun - sebelum kedatangan musim semi - ke jalan, ini disebut
menyapu rumah. Dengan cara yang sama setiap seratus tahun, manusia harus
mengalami musibah Tsukumogami." Dengan demikian perbuatanku akan membuka
mata manusia pada musibah Tsukumogami dan dengan demikian menyela-matkan
mereka dari musibah itu. Dengan perbuatanku itu maka dunia tempat Kuil Kencana
berada akan kuserahkan ke dalam dunia di mana ia tidak berada. Maka dengan demikian
arti dunia pasti berobah.' Makin lama aku berfikir makin cerah hatiku. Akhir dan
kehancuran dunia — dunia yang kini mengelilingi aku dan berada di depan mataku —
tidak akan lama lagi. Sinar matahari turun jatuh ke tanah. Kuil Kencana bersinar dalam
cahaya, dan dunia yang mengandung Kuil Kencana akan tergelincir dari saat ke saat,
bagai pasir yang jatuh melalui sela jari kita. Kehadiranku di Losmen Yura berakhir
setelah tiga hari, waktu perempuan pemilik, yang mencurigai aku karena aku tidak
melangkahkan kaki selangkah pun keluar losmen selama aku berada di sana, pergi
memanggil polisi. Waktu kulihat ia memasuki kamarku memakai seragamnya, aku jadi
keta-kutan, kalau-kalau ia mengetahui rencanaku, tapi aku segera sadar bahwa tidak ada
alasan sama sekali untuk kekhawatiian itu. Sebagai jawaban atas pertanyaannya, aku
menceritakan semua yang telah terjadi — bahwa aku ingin menjauhkan diri dari
kehidupan biara untuk beberapa lama dan bahwa aku melarikan diri. Lalu kuperlihatkan
surat tanda pengenal universitasku, dan sudah itu aku dengan sengaja hendak membayar
ongkos penginapanku waktu polisi masih ada di situ. Akibatnya polisi itu dengan segera
mengambil sikap melindungi. Ia menilpon kuil untuk mengetahui apa yang kuceritakan
itu benar, dan sesudah itu memberi tahu aku bahwa ia akan mengantarfcu. Supaya
jangan sampai merusak "masa depanku" demikian ia berkata, maka ia akan menukar
seragamnya untuk kepentingan perjalanan itu. Waktu kami menunggu kereta di Stasiun
Tango-Yura, turunlah hujan, dan karena stasiun itu tidak beratap, maka ia basah kuyup.
Polisi yang kini telah mengenakan pakaian biasa menemani aku ke kantor stasiun, dan
dengan bangga sekali ia perlihatkan bahwa kepala stasiun dan pegawai lainnya adalah
kawan-kawan pribadinya. Bukan itu saja, ia malahan memperkenalkan aku pada semua
orang sebagai kemenakannya yang datang mengunjunginya dari Kyoto. Aku mengera'
psikologi kaum revolusioner. Pejabat-pejabat pedesaan itu, kepala stasiun dan polisi itu,
yang kini lagi duduk bercakap-cakap sekeliling ember merah anglo besi, sama sekah
tidak merasakan perobahan besar yang sedang berlangsung di hadapan matanya,
kehancuran tata-tertib kehidupan mereka yang tidak lama lagi akan terjadi. Jika Kuil
Kencana telah dibakar — ya, jika Kuil Kencana sudah dibakar, dunia orang-orang ini
akan berobah, aturan-aturan emas kehidupan mereka akan jungkir balik, jadwal kereta
api mereka akan kacau-balau, undang-undang mereka tidak akan punya akibat. Akii
bahagia mengingat, bahwa orang-orang ini sama sekali tidak sadar bahwa anak muda
yang duduk di sampingnya, yang lagi memanaskan tangannya di atas anglo dengan
wajah tak perduli, adalah seorang calon penjahat. Seorang pejabat stasiun muda yang
lincah menceritakan dengan suara lantang pada semua orang tentang filem yang akan
ditontonnya pada kesempatan liburnya yang berikut. Filem itu bagus, yang tidak boleh
tidak akan mengucurkan air mata orang dan sekaligus penuh dengan action. Ya, pada
hari libur berikutnya ia akan pergi menonton. Orang muda 248 itu yang tubuhnya jauh
lebih kekar dari aku, yang begitu lebih penuh dengan kehidupan, akan pergi menonton
filem pada hari libur berikutnya; ia akan duduk menonton sambil memelukkan tangan
ke pinggang seorang gadis dan sudah itu akan tidur. Ia tak henti-hentinya menggoda
kepala stasiun itu, menceritakan lelucon, dan menerima celaan lunak dari atasannya,
sementara dia sibuk ke sana ke mari, memasukkan arang ke dalam anglo dan
menuliskan angka-angka pada papan tulis. Sesaat aku merasa seakan-akan hampir-
hampir sekali lagi terperangkap oleh keindahan hidup atau oleh suatu rasa iri hati
terhadap kehidupan. Aku masih punya kesempatan untuk meniadakan niat tidak
membakar kuil itu; aku bisa meninggalkan kuil itu selama-lamanya, melepas-kan
keinginan jadi pendeta, lalu mengubur diriku dalam kehidupan seperti anak muda ini.
Tapi serta-merta kekuatan gelap membawa aku kembali ke dalam diriku dan membebas-
kan aku dari niat seperti itu. Ya, bagaimanapun juga Kuil Kencana itu harus kubakar.
Hanya dengan demikian dapat dimulai suatu kehidupan baru yang ditumpahkan khusus
untukku. Kepala Stasiun menerima tilpon. Lalu ia pergi ke depan kaca dan memperbaiki
pecinya yang berbenang emas dengan teliti sekali. Ia mendehem, membusungkan dada,
lalu melang-kah ke peron, seolah-olah ia memasuki sebuah ruang upacara. Hujan sudah
reda. Tidak lama kemudian kedengaran bunyi kereta yang terang dan basah, kala
menempuh rel yang dibangun di antara karang-karang. Sesaat kemudian ia memasuki
stasiun. *## Aku sampai ke Kyoto pukul delapan kurang sepuluh menit 249 dan polisi
berpakaian pieman itu mengantarkm aku ke gerbang utama kuil. Malam itu dingin
sekah. Waktu aku muncul dari barisan pohon pinus yang gelap dan mendekati gerbang
yang tegar, kulihat ibuku berdiri di sana. la Jcebetulan berdiri dekat papan yang
bertuliskan: "Setiap pelanggaran terhadap peraturan ini akan dihukum men unit undang-
undang". Dalam cahaya Iampu gerbang, rambutnya yang kusut memberikan kesan
seolah-olah setiap helai rambutnya yang putih itu meremang. Pantulan cahaya lampu
membuat rambutnya kelihatan lebih putih dari sebenarnya. Mukanya yang kecU
kelihatan diam karena dilingkari gumpalan putih yang meremang itu. Tubuh Ibu yang
kecil kelihatan membesar dengan menge-rikan. Di belakangnya terpapar kegelapan
halaman yang dapat kulihat melaiui gerbang. Sosoknya yang besar membayang di
hadapan kegelapan. Ia kelihatan konyol dalam kimononya yang sudah usang dan tidak
bisa dipakai lagi, dan di luar kimono ini ia ikatkan sabuknya yang bersulam benang
emas yang terbaik yang pemah ia punyai tapi yang kini sudah Iusuh sama sekali. Waktu
ia berdiri di sana ia kelihatan bagai seseorang yang sudah mati. Aku ragu-ragu
mendekati dia. Waktu itu aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa sampai berada di situ,
tapi kemudian kuketahui, bahwa Pendeta Kepala setelah tahu bahwa aku pergi, telah
menanyakan ke tempat ibuku; ia risau sekali lalu datang ke kuil dan tinggal di sana
sampai aku kembali. Polisi itu mendorong aku ke depan. Anehnya, begitu aku makin
dekat pada ibuku, tubuhnya kelihatan makin kecU. Wajahnya kini berada lebih rendah
dari wajahku. Dan berkerut-kerut aneh waktu ia menengadah memandang padaku. Aku
jarang sekali ditipu oleh perasaan naluriku, dan 250 waktu aku melihat matanya yang
licik, cekung dan kecil, membuat aku ingat, bahwa sudah pada tempataya aku benci
pada ibuku. Pertama, kebencian yang berkepanjangan karena ia telah melahirkan aku,
kenangan pada penderitaan yang telah ia timpakan padaku — penderitaan, yang seperti
telah kujelaskan, tidak memberi aku kesempatan untuk merencanakan pembalasanku,
tapi sebaliknya menyisihkan aku dari ibuku. Ikatan seperti itu sulit sekali diputuskan.
Tapi kini, begitu aku merasa bahwa ia separuh tenggelam dalam kesedihan seorang ibu,
aku tiba-tiba merasa diriku bebas. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa, bahwa kini
Ibu tidak akan pernah lagi bisa mengancam aku. Kedengaran suara orang terisak-isak
tak menentu, seolah-olah ada yang lagi dicekik sampai mati. Lalu tangan Ibu menjulur
ke depan dan menampar pipiku tanpa kekuatan. "Anak tak tahu kewajiban! Apa kau tak
punya rasa tanggung jawab?" Polisi itu melihat padaku tanpa bicara tatkala aku
mendapat tamparan. Jari-jari Ibu kehilangan keserempakannya dan semua kekuatan
seolah-olah lenyap dari tangannya; akibatnya, ujung kukunya menimpa pipiku bagai
batu. Bahkan waktu ia menampar aku, kulihat, bahwa kesan memohon tidak lenyap dari
matanya, hingga aku mengalihkan pandanganku.
Sesaat kemudian ia merobah nadanya. "Jadi — jadi kau sudah pergi sejauh itu,"
katanya. "Dari mana kau dapat uang?" "Uang? Kupinjam dari kawan, kalau Ibu ingin
tahu." "Betul?" kata Ibu. "Tidak kaucuri?" "Tidak, tidak kucuri." Ibu menghela nafas
dengan lega, seolah-olah inilah satu-satunya hal yang ia risaukan. "Betul? Jadi kau tidak
melakukan sesuatu yang salah?" "Tidak, tidak sama sekali." 251 "Betul? Baik kalau
begitu. Tentu saja kau harus minta maaf sedalam-dalamnya pada Pendeta Kepala. Aku
sendiri sudah minta maaf, tapi kini kau sendiri harus ke sana dan mohon maaf padanya
dari lubuk hatimu. Pendeta Kepala itu orang yang berjiwa besar dan kukira akan mau
melupakan peristiwa ini. Tapi kali ini kau harus mulai dengan lembaran baru, kalau
tidak ibumu yang malang akan mati. Betul, Nak. Aku akan mati kalau kau tidak juga
mau berubah. Kau harus jadi pendeta besar . . . tapi sekarang pergilah ke sana mohon
maaf." Polisi itu dan aku mengikuti ibu tanpa bicara. Ibu begitu bingung hingga ia
sampai lupa mengucapkan salam biasa pada polisi itu. Ia berjalan dengan langkah cepat
dan singkat waktu aku memandang pada sabuknya yang lembut, yang tergantung di
punggungnya, aku bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang membuat Ibu begitu buruk.
Lalu aku mengerti. Yang membuat ia buruk ialah — harapan. Harapan yang gigih, bagai
penyakit kurap yang tengkar, yang bermukim, merah dan basah, dalam kttlit yang telah
dijangkiti dan mengakibat-kan gatal yang tak habis-habisnya, dan menolak untuk
mengalah pada kekuatan luar yang mana pun juga. *** Musim dingin datang.
Keputusanku makin lama makin bulat. Lagi-lagi aku terpaksa mengundurkan
rencanaku, tapi aku tidak bosan karena pengunduran yang terus-menerus ini. Yang
merisaukan aku selama masa setengah tahun itu adalah sesuatu hal yanglain sama
sekali. Setiap akhir bulan Kashiwagi menagih hutang yang ia berikan padaku. Ia
memberi tahu aku tentang jumlah seluruhnya, termasuk bunga, dan sudah itu menyiksa
aku dengan segala macam makian. Tapi aku tidak 252 lagi punya maksud untuk
melunasi hutang itu. Selama aku menjauh dari universitas, selama itu aku tidak akan
ketemu Kashiwagi. Mungkin aneh kenapa aku tidak membeberkan, bagaimana, setelah
satu kali mengambil keputusan, aku segera goyah lagi, dan pendirianku timbul-
tenggelam. Soalnya kebimbangan itu kini sudah merupakan sesuatu yang sudah berlalu.
Selama masa setengah tahun ini pandanganku terpaku dengan teguh-nya pada suatu titik
di masa depanku. Mungkin sekali pada saat ini aku mengerti apa arti kebahagiaan.
Pertama-tama kehidupanku di kuil mulai menyenangkan. Jika kuingat, bahwa apa pun
yang terjadi, Kuil Kencana itu akan tetap dibakar, maka hal-hal yang berat terasa jadi
ringan. Bagai seseorang yang tahu bahwa ia akan mati, maka aku kini berusaha untuk
membuat diriku disenangi orang lain yang ada di kuil. Tingkah-lakuku jadi
menyenangkan dan aku berusaha untuk berdamai dengan segala-galanya. Aku bahkan
bisa berdamai dengan alam. Setiap pagi jika burung datang untuk mematuk sisa-sisa
makanan, aku memandang dada mereka yang berbulu halus dengan perasaan yang
betul-betul bersahabat. Aku bahkan lupa pada kebencianku pada Pendeta Kepala. Aku
sudah bebas — bebas dari ibuku, bebas dari kawan-kawanku, bebas dari segala-galanya.
Tapi aku tidak cukup bodoh untuk mengira bahwa kesenangan yang baru kutemui dalam
hidup sehari-hari bukanlah karena aku telah merobah dunia ini tanpa menjamahnya
sama sekali. Segalanya dapat dimaafkan jika ditinjau dari sudut pandangan hasil yang
diperoleh. Dalam ihtiar untuk membuat diriku melihat segala-galanya dari kacamata
hasil, dalam keyakinan bahwa keputusan untuk memberikan hasil ini berada dalam
tanganku sendiri - di situlah letak dasar rasa kebebasanku. 253 tBiarpun keputusanku
untuk membakar Kuil Kencana suatu keputusan yang tiba-tiba, buat aku cocok sekali,
bagai pakaian yang ditempahkan khusus untukku. Rasanya seolah-olah aku sudah
merencanakannya semenjak aku dilahirkan. Setidak-tidaknya, niat itu seolah-olah
tumbuh dalam diriku, dan hanya menunggu hari berkembangnya, mulai saat Kuil
Kencana ini kukunjungi pertama kali bersama Ayah. Kenyata-an, bahwa kuil ini
kelihatan oleh seorang anak kecil sebagai sesuatu yang indah sekali, mengandung
berbagai motif yang akhir-akhirnya mengantarkan dia pada perbuatan membakar. Pada
tangga! 17 Maret tahun 1950, aku selesai dengan tahap persiapanku di Universitas
Otani. Dua hari kemudian aku mengalami hari ulang tahunku yang kedua puluh satu.
Catatan mengenai aku selama masa persiapan tiga tahun itu betul-betul luar biasa. Aku
berhasil mencapai nomor tujuh puluh sembilan dalam kelas yang bermahasiswakan
tujuhpuluh sembilan orang. Angkaku yang terendah kuperoleh untuk bahasa Jepang,
seluruhnya berjumlah empat puluh dua. Dari enam ratus enam belas jam pelajaran aku
tidak hadir sebanyak dua ratus delapan belas jam — pokoknya, lebih dari sepertiga
jumlah waktu. Tapi karena segalanya di universitas ini didasarkan pada ajaran Budhis,
yaitu maaf, maka tidak ada yang dapat dianggap kegagalan dan aku diizinkan untuk
mengikuti tahap pelajaran biasa. Pendeta Kepala telah memberikan persetujuan tanpa
diucapkan untuk ini. Aku terns menyia-nyiakan pelajaranku, dan selama hari-hari indah
mulai akhir musim semi sampai permulaan musim panas aku menghabiskan waktuku
dengan mengunjungi pel bagai biara dan kuil yang dapat kita masuki tanpa bayar. Aku
biasanya berjalan selama kakiku kuat membawaku. Aku ingai salah satu dari hari-hari
itu. Aku sedang berjalan di depan Kuil Myoshin. Waktu 254 itu aku melihat seorang
mahasiswa berjalan di depanku dengan langkah yang sama cepatnya dengan langkahku.
Ia mampir di sebuah kedai rokok yang terletak di sebuah gedung yang bertalang gaya
lama, lalu aku melihat wajahnya dari samping tatkala ia berdiri di sana mengenakan topi
mahasiswanya membeli sebungkus rokok. Raut mukanya tajam dan putih dengan
kening yang sempit. Dari topinya kuketahui bahwa ia dari Universitas Kyoto. Ia
memandang padaku lewat sudut matanya. Rasanya seolah-olah bayang-bayang hitam
hanyut bersama. Aku tahu dengan segera bahwa dia seorang piromaniak - seorang yang
suka membakar. Waktu itu pukul tiga sore - bukan waktu yang tepat untuk melakukan
pembakaran. Seekor kupu-kupu mengepak-ngepak dari jalan-jalan yang dilewati bis,
lalu bergantung pada sekuntum kamelia yang tertekur dalam sebuah jambangan di
bagian depan kedai rokok itu. Bagjan-bagian bunga putih yang layu itu kelihatan
seolah-olah baru dibakar oleh api berwarna cokelat. Lama sekali bis baru datang. Jam
yang tergantung di atas jalan sudah mati. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin bahwa
mahasiswa. itu berjalan selangkah demi selangkah menuju pembakaran. Mungkin
karena rupanya begitu mirip dengan seorang piromaniak. Ia dengan sengaja memilih
waktu siang bolong, saat yang paling sulit untuk melakukan pembakaran dan kini ia
mengarahkan langkahnya perlahan-lahan menuju tujuan yang telah ia tetapkan dengan
tabah. Di hadapannya ke-bakaran dan kehancuran; di belakangnya dunia teratur yang
telah ia tinggalkan. Ada sesuatu yang keras di punggung pakaian seragamnya yang
membuat aku merasa demikian. Mungkin juga karena semenjak beberapa lama
begitulah punggung seorang piromaniak yang kubayangkan. Punggung-nya yang hitam
dari kain serge, yang ditimpa cahaya matahari, sarat dengan kemalangan dan
kemarahan. Aku memperlambat langkah lalu memutuskan untuk membuntutinya.
Waktu aku berjalan di belakangnya dan melihat bahwa salah satu bahunya lebih rendah
dari yang sebelah lain, aku merasa bahwa punggungnya itu sebetulnya adalah
punggungku sendiri. Ia lebih tampan dari aku, tapi aku yakin bahwa ia terdorong untuk
melakukan perbuatan yang sama dengan perbuatanku, karena kesunyian yang sama,
kemalangan yang sama, dan kekacauan fikiran yang sama tentang keindahan. Waktu
membuntuti dia aku merasa seolah-olah menyaksikan perbuatanku sendiri, sebelum
kujalankan. Hal seperti itu mungkin saja terjadi pada sore hari akhir musim semi, karena
cahaya terang dan karena udara lamban. Aku menjadi dua dan diriku yang Iain meniru
perbuatanku terlebih dulu, dan dengan demikian jelas memperlihatkan padaku diriku
yang tidak akan dapat kulihat jika telah datang saatnya untuk melaksanakan rencanaku.
Bis belum juga datang. Jalan itu tiada berujung. Perlahan-lahan gerbang selatan Kuil
Myosyin yang besar kelihatan. Pintunya terbuka seluas-luasnya dan gerbang itu seolah-
olah pernah menelan segala macam gejala yang mungkin ada. Dalam bingkainya yang
bagus sekali, seperti yang dapat kulihat dari tempatku berdiri yang khusus, ia
memadukan tumpukan pilar-pilar Gerbang Pesuruh Kaisar dan Gerbang Sammon yang
bertingkat dua, ubin Balai Budhis, sejumlah pohon pinus, sebagian dari langit biru, yang
dipisahkan dengan hidup sekah dari selebihnya, dan sejumlah onggokan awan yang
tipis. Begitu gerbang kudekati, maka makin banyak yang ditambahkan - jalan batu yang
berjalan simpang-mi di halaman kuil yang luas itu, dinding gedung pagoda, dan yang
lain-lain yang tak terhitung. Begitu kita lewat di bawah gerbang itu, maka kita akan
sadar bahwa bangunan misterius itu melingkupi seluruh langit biru dan setiap awan
yang ada di langit itu. Demikianlah fitrah sebuah gedung suci yang agung. Mahasiswa
itu melalui gerbang itu. Ia berjalan mengitari Gerbang Pesuruh Kaisar lalu berhenti
dekat kolam teratai depan Gerbang Sammon. Lalu ia berdiri di atas sebuah jembatan
gaya Cina yang menyeberangi kolam itu lalu memandang ke Gerbang Sammon yang
menjulang di atasnya. Gerbang itu rupanya, demikian aku berkata dalam hati, yang jadi
sasaran pembakarannya. Gerbang Sammon yang bagus itu memang cocok sekali untuk
dibungkus dalam api. Pada sore hari yang begitu cerah, nyala api itu tidak akan dapat
dilihat. Asap akan melingkar di sekitar gerbang itu lalu membubung ke udara; tapi satu-
satunya cara untuk mengetahui bahwa nyala yang gaib dari pandangan itu menjilat
langit ialah dengan melihat bagaimana langit biru itu membengkok dan menggetar.
Waktu mahasiswa itu mendekati Gerbang Sammon, aku berjalan ke samping, hingga
aku tidak bisa kelihatan lalu memper-hatikannya dengan teliti. Saat itu adalah saat para
pendeta peminta-minta kembali ke kuil, dan aku melihat tiga orang di antara mereka
mendekat melalui jalan. Mereka berjalan berdamping-dampingan menyusuri jalan batu
itu, memakai terompah jerami dan memegang topi dari anyaman ranting. Setelah
melewati aku, mereka berbelok ke kanan. Mereka berjalan tanpa bicara, sambil
mematuhi peraturan bagi pendeta pengemis. Menurut peraturan itu mereka tidak boleh
melihat ke depan lebih jauh dari tiga kaki sampai mereka berada di kamarnya.
Mahasiswa itu masih ragu-ragu di dekat Gerbang Sammon. Akhirnya ia bersandar pada
salah sebuah tiangnya lalu mengeluarkan bungkus rokok yang baru ia beli dari salah
257 satu kantongnya. Ia melihat ke sekelilingnya dengan ketakutan. Aku mengira bahwa
ia mau membakar gerbang itu dengan dalih hendak merokok. Seperti yang kulihat, ia
memasukkan sebatang rokok ke mulutnya, menggerakkan mukanya ke depan lalu
menyalakan geretan. Sejenak geretan itu memancarkan kilat yang jernih dan kecil.
Warna api itu seolah-olah tidak bisa dilihat oleh mata, juga tidak oleh mahasiswa itu. Ini
disebabkan karena pada saat itu matahari sore telah membungkus ketiga sisi gerbang
itu, sehingga yang masih berada dalam bayang-bayang hanya satu sisi. Selama sekejap
geretan itu menghasil-kan sesuatu yang mirip gelembung api, yang menyala di samping
wajah mahasiswa yang lagi bersandar pada pilar gerbang dekat kolam teratai. Lalu ia
menggoncang-goncangkan tangannya sejadi-jadinya memadamkan geretan itu. Biarpun
geretan itu sudah padam mahasiswa itu belum lagi puas. Geretan itu ia lemparkan ke
salah sebuah batu sendi, lalu menginjak-injaknya dengan kaki keras-keras. Lalu ia
menyeberangi jembatan sambil mengisap rokoknya dengan rasa senang, dan
melanjutkan perjalanannya melewati Gerbang Pesuruh Kaisar, tanpa menyadari
bagaimana kecewaku sambil berdiri di sana sendiri dan sunyi. Akhirnya dia menghilang
di Gerbang Selatan. Dari sana kita bisa melihat jalan besar dan samar-samar sebarisan
rumah yang berbaris sampai ke-jauhan. liri bukan seorang piromaniak tapi hanya
seorang mahasiswa yang pergi jalan-jalan. Dan mungkin sekali seorang anak muda yang
lagi iseng, dan agak miskin. Aku memperhatikan semua perbuatannya sampai yang
sekecil-kecilnya dan aku bisa mengatakan bahwa semua yang ada pada dirinya
menjengkelkan aku - sifatnya yang pengecut, yang membuat dia.melihat sekelilingnya
dengan ketakutan - 258 bukan karena ia mau membakar sesuatu, tapi hanya karena ia
mau melanggar peraturan dan mengisap rokok; kenikmatan licik, yang diperbolehkan
secara istimewa untuk mahasiswa, yang jelas sekali ia rasakan karena ia sudah
melanggar peraturan; tapi yang terlebih-lebih adalah "kebudayaannya yang beradab".
Berkat kebudayaan sampan macam inilah maka api kecilnya dapat dikendalikan dengan
aman. Ia barangkali bangga sekali karena sadar bahwa ia sendirilah yang jadi
pengendali geretannya, pengendali yang teliti dan melindungi masyarakat dari bahaya
kebakaran. Salah satu anugerah dari kebudayaan ini ialah, bahwa semenjak
Pembangunan Meiji hampir tidak ada kuil tua yang ada di dalam atau di sekitar Kyoto
yang terbakar. Bahkan pada peristiwa-peristiwa kebakaran secara kebe-tulan yang
jarang sekali terjadi, ^)i selalu bisa segera dicincang, dipecah-pecah dan kemudian
dipadamkan. Dulu tidak seperti itu. Kuil Chion terbakar dalam tahun 1431 dan sesudah
itu terbakar beberapa kali lagi. Gedung utama Kuil Nanzen terbakar dalam tahun 1393,
hingga Ruang Budha, Ruang Upacara, Ruang Intan, Pertapaan Awam Besar dan
bangunan lain hancur sama sekali. Kuil Enryaku habis terbakar jadi abu dalam tahun
1571. Kuil Kenjin hangus karena api semasa peperangan dalam tahun 1552. Ruang
Sanjusangen terbakar habis dalam tahun 1249. Kuil Honno hancur terbakar dalam
pertempuran tahun 1582. Di masa itu kebakaran-kebakaran itu saling mengadakan
hubungan yang akrab. Kebakaran waktu itu tidak dipecah-pecah jadi kepingan-kepingan
kecil hingga bisa dianggap remeh seperti sekarang ini, tapi diizinkan untuk berpegangan
tangan sedemikian rupa sehingga sejumlah kebakaran terpisah-pisah dapat bersatu
menjadi kebakaran tunggal yang besar sekali. Di mana saja ada kebakaran, ia dapat
memanggil kebakaran lain dan suaranya selalu didengarkan dengan segera. Sebabnya
maka kebakaran kuil yang disebut dalam warkah-warkah tua tidak pernah disebabkan
oleh pembakaran dengan sengaja, tapi selalu dilukiskan sebagai kebakaran secara ke-
betulan, karena api yang merembet, atau kebakaran yang disebabkan oleh peperangan,
karena biarpun di zaman itu ada orang seperti aku, apa yang harus diperbuatnya
hanyalah mena-han nafas dan menunggu di salah satu tempat persembunyian. Besok
atau lusa setiap kuil hams terbakar. Api cukup banyak dan tidak bisa dikendalikan.
Sekiranya ia mau menunggu, maka api yang lagi menunggu-nunggu kesempatan pasti
akan mendobrak ke luar, api yang satu akan berpegangan tangan dengan api lainnya lalu
bersama-sama mereka akan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Betul-betul
suatu kebetulan yang jarang sekah' bisa terjadi bahwa Kuil Kencana ini selamat dari
kebakaran. Karena dasar-dasar pemikiran Budhis menguasai dunia — kebakaran terjadi
secara wajar, kehancuran dan pengrusakan adalah hal yang wajar, kuil-kuil besai yang
dibangun mesti akan habis terbakar. Bahkan biarpun ada para piromaniak, mereka akan
begitu yakin secara wajar pada kekuasaan api, hingga tidak akan ada ahh' sejarah yang
mau percaya bahwa kehancuran itu adalah akibat pembakaran dengan sengaja. Di masa
itu dunia adalah suatu tempat yang sulit. Kini dalam tahun 1950, dunia juga tidak
kurang sulitnya. Misal-kanlah bahwa kuil-kuil itu sudah terbakar habis sebagai akibat
dari kesulitan dan kegelisahan ini, apa ada alasan untuk tidak membakar Kuil Kencana
itu kini? Biarpun aku menghindarkan kuliah, aku sering pergi ke 260 perpustakaan dan
pada suatu hari dalam bulan Mei aku bertemu Kashiwagi yang selama ini selalu
kuelakkan. Waktu ia melihat aku mau menghindar, ia mengejar aku dengan air muka
yang menunjukkan rasa senang. Kesadaran, bahwa sekiranya aku melarikan diri ia
tidak akan mungkin dapat mengejarku dengan kakinya yang bengkok itu, meng-halangi
aku untuk bergerak. Kashiwagi memegang bahuku. Ia kehabisan nafas. Kuliah hari itu
sudah berakhir dan kukira waktu itu sudah pukul setengah enam. Supaya tidak ketemu
Kashiwagi, aku berjalan lewat b el akan g gedung universitas setelah meninggalkan
perpustakaan, lalu menyusuri jalan yang terdapat antara dinding batu yang tinggi dan
gedung di mana terdapat ruangan-ruangan kelas. Bunga serunai liar banyak sekali
tumbuh di tanah kering itu, di sela-sela oleh kertas-kertas dan botol-botol kosong yang
dibuang orang. Beberapa orang anak menyelinap ke tempat itu dan kini lagi bermain
kejar-kejaran. Suara mereka garau menarik perhatian orang pada kekosongan ruangan-
ruangan kelas, yang dapat dilihat melalui kaca jendela yang telah pecah. Semua
mahasiswa sudah pergi dan barisan demi barisan meja berdebu berada di sana dalam
keheningan. Aku melewati barak-barak itu lalu sampai ke sisi lain gedung universitas.
Aku berhenti depan sebuah gubuk kecil, tempat bagian mengarang-bunga
menggantungkah papan ber-tulisan "Studio". Matahari memancar pada deretan pohon
kapur barus yang tumbuh sepanjang dinding dan bayang-bayang daunnya yang rapuh
terpantul ke atas atap gubuk itu dan ke atas dinding batu bata merah gedung utama.
Dalam matahari senja bata merah itu kelihatan meriah sekali. Kashiwagi menyandarkan
dirinya pada dinding. Ia ber-nafas tersengal-sengal. Bayang-bayang daun-daun pohon
kapur barus menerangi pipinya, yang waktu itu kelihatan liar 261 Idan kusut seperti
sediakaia, hingga wajahnya memberikan kesan lincah dan hidup yang menarik sekali.
Mungkin pantulan bata merah yang begitu tidak cocok buat Kashiwagi, yang
menyebabkan kesan ini. "Kim" aku punya lima ribu seratus yen?" katanya. "lima ribu
seratus yen pada akhir bulan ini. Bagimu makin lama makin berat meJunasi hutangmu."
la mengeluarkan surat perjanjian hutangku dari kantong dadanya, tempat surat itu selalu
ia simpan, lalu ia kembangkan di depanku. Lalu, karena dia takut aku akan menjangkau
dokumen itu dan merobek-robeknya, ia buru-buru melipatnya dan memasukkan kembali
ke dalam kantongnya. Tidak ada yang tersisa dalam penglihatanku kecuah kesan yang
masih membekas dan sebuah cap jari yang merah berbisa. Kelihatan-nya kejam sekali
— cap jariku itu. "Cepat bayar!" kata Kashiwagi. "Demi kebaikanmu. Kenapa tak
kaupergunakan uang kuliahmu atau uang lain untuk membayar hutang?" Aku tidak
menjawab. Apa kita masih diwajibkan membayar hutang kita di hadapan bencana
dunia? Aku tergoda untuk sedikit membayangkan pada Kashiwagi apa yang terkandung
dalam fikiranku, tapi aku menahan diri. "Aku tidak bisa mengerti kalau kau tidak mau
bicara," kata Kashiwagi. "Ada apa? Apa kau malu karena kau gagap? Itu 'kan sudah
tidak perlu lagi. Semua orang tahu kau gagap - bahkan ini! Ya, bahkan ini!" Ia mernpkul
dinding bata merah yang tertimpa cahaya matahari senja. Kepalanya beroleh warna
pupur kuning cokelat. "Bahkan ruangan ini tahu. Tidak seorang pun di universitas ini
yang tidak tahu itu!" Tapi aku masih saja menghadapi dia dengan membisu. Pada saat
itu salah seorang anak yang bermain-main itu 262 gagal menangkap bola, hingga bola
itu bergulir di antara kami. Kashiwagi membungkuk dan berusaha memungut bola itu
dan melemparkannya kembali pada mereka. Melihat ini, aku digoda oleh suatu
keinginan yang konyol untuk melihat bagaimana caranya Kashiwagi memindahkan bola
itu dengan kaki bengkoknya, dari tempat kira-kira satu kaki jaraknya, supaya dapat ia
jangkau dengan tangannya. Mataku seolah berpaling secara tak disengaja ke arah
kakinya. Kashiwagi melihat ini dengan suatu kecepatan yang tidak terkira. Sebelum
orang dapat melihat bahwa ia betul-betul berusaha untuk membungkuk, ia mengelakkan
badannya lalu memandang padaku dengan mata yang penuh kebencian, yang belum
pernah ia perlihatkan selama ini. Salah seorang anak itu mendekati kami dengan ragu-
ragu, lalu mengambil bola yang terletak di antara kami, lalu lari. Akhirnya Kashiwagi
berkata padaku: "Baiklah. Kalau sikapmu begitu; Kau juga tahu apa yang harus
kulakukan. Sebelum aku pulang bulan depan aku akan berusaha memperoleh uangku
kembali sebanyak mungkin. Lihat saja! Kau lebih baik bersiap-siap." Dalam bulan Juni
kuliah-kuliah makin jarang diadakan dan mahasiswa-mahasiswa mulai bersiap-siap
untuk pulang ke kampung halaman masing-masing. Tanggal 10 Juni adalah hari yang
tidak akan pernah bisa kulupakan. Sejak pagi hujan terus dan di waktu malam hujan
turun bagai dicu-rahkan. Setelah makan aku membaca buku dalam kamarku. Kira-kira
pukul delapan aku mendengar bunyi langkah orang di gang, antara ruang tamu dan
Perpustakaan Besar. Malam itu adalah salah suatu malam yang jarang sekali bagi
Pendeta 263 Kepala tinggal di kuil. Rupa-rupanya ia lagi menerima tamu. Bunyi telapak
itu kedengaran agak aneh. Kedengarannya bagai tetesan hujan yang terpen car dan
memukul dinding fkayu. Langkah murid yang mengantarkan tamu itu ke tempat
Pendeta Kepala kedengaran lunak dan teratur, dan hampir-hampir tenggeiam dalam
langkah tamu yang kedengaran terseret-seret, hingga papan tua lantai gang itu berderik-
derik ganjil sekali. Kuil penuh dengan bunyi hujan. Hujan malam tercurah ke atas biara
besar dan tua itu, hingga kamar-kamar yang pengap kosong selalu dipenuhi bunyi hujan.
Di dapur, di kediaman Pengetua, di kamar-kamar pegawai kuil, di ruang tamu, yang
kedengaran hanya bunyi hujan. Aku memikirkan hujan yang memerangkap Kuil
Kencana. Pintu geser kamarku kubuka sedikit. Halaman tengah yang kecil dan yang
terdiri dari batu-batu penuh air, dan aku dapat melihat punggung air yang hitam dan
bercahaya waktu mengaiir dari batu yang satu ke batu yang lain. Murid itu kembali dari
tempat Pendeta Kepala lalu menju-Iurkan kepalanya ke dalam kamarku. "Ada seorang
mahasiswa yang datang untuk menemui Pendeta Kepala. Apa bukan kawanmu?"
Aku jadi resah. Murid yang memakai kacamata dan yang pada siang hari bekerja
sebagai guru Sekolah Dasar itu, sesudah tamu pergi, kutahan lalu kuundang ke dalam
kamarku. Aku membayangkan segala macam hal mengenai percakapan yang
berlangsung di perpustakaan dan aku tidak kuat untuk tinggal sendiri. Beberapa menit
berlalu. Tiba-tiba bunyi lonceng tangan Pendeta Kepala berbunyi. Bunyinya yang tajam
dan memerin-tah itu menembus hiruk-pikuk hujan; lalu diam tiba-tiba. Murid itu dan
aku saling berpandang-pandangan. 264 "Buat kau," katanya. Aku memaksa diriku
berdiri. Waktu sampai di tempat Pendeta Kepala, aku berlutut di luar. Aku dapat melihat
dokumen yang memuat cap ibu jariku terletak di atas mejanya. Pendeta Kepala
mengang-kat salah satu ujung kertas itu lalu memperlihatkannya padaku. Ia
membiarkan aku berlutut di luar kamar. "Apa ini betul cap ibu jarimu?" tanyanya. "Ya."
"Bagus betul perbuatanmu! Kalau aku mendapat kesusahan seperti ini dari kau lagi, aku
tidak bisa menahan kau lebih lama di sini. Kau lebih tahu. Ini bukan kali pertama ..."
Mungkin karena Kashiwagi berada dalam kamar itu, Pendeta Kepala memotong
percakapannya. "Biar aku sendiri yang membayar hutang itu," sambungnya. "Kau boleh
pergi." Waktu mendengar kata-kata itu aku berhasil memandang pada Kashiwagi untuk
pertama kalinya. Ia duduk di atas lantai dengan wajah orang yang baru saja melakukan
sesuatu yang terpuji sekali. Tapi ia mengalihkan pandangannya. Jika Kashiwagi baru
saja melakukan sesuatu yang jahat, ia selalu memperlihatkan sikap seseorang yang suci,
seolah-olah, tanpa ia ketahui sama sekali, sari sifatnya baru saja disadap. Hanya aku
yang tahu ini. Waktu aku kembali ke kamarku, aku sadar, bahwa malam itu, dalam
kerasnya suara hujan, dalam kesunyianku, aku sudah terbebas. "Aku tidak akan bisa
menahan kau lebih lama di sini" — untuk pertama kali aku mendengar Pendeta Kepala
bicara begitu padaku, untuk pertama kali ia memberikan peringatan itu. Tiba-tiba
semuanya jadi terang. Pendeta Kepala sudah merencanakan pengusiranku dari kuil. Aku
harus buru-buru melaksanakan putusanku. Jika Kashiwagi tidak berbuat seperti yang ia
lakukan 265 itu, aku mungkin sekali tidak akan berkesempatan untuk mendengar kata-
kata itu dari Pendeta Kepala dan rencanaku tentu akan kuundurkan lebih lama. Waktu
kuingat bahwa Kashiwagilah yang telah memberi aku kekuatan untuk mengatasi
kelambananku, aku dilingkupi oleh suatu rasa terima kasih yang aneh padanya. Hujan
tidak memperlihatkan tanda-tanda akan reda. Untuk bulan Juni, malam itu dingin sekali
dan kamarku yang kecil dan dilingkungi oleh dinding papan kelihatan sepi sekali dalam
cahaya temaram lampu pijar. Di sinilah ke-diamanku, tempat aku tak lama lagi mungkin
akan diusir. Dalam kamar itu tidak ada satu hiasan pun. Pinggir hitam tikar pandan yang
telah memucat dan berada di lantai telah robek dan tertarik-tarik, dan helaian-helaian
anyamannya kelihatan jelas sekali. Seringkali kalau aku masuk ke dalam kamar dan
menghidupkan lampu, ibu jari kakiku tersangkut pada pinggiran tikar yang robek itu,
tapi aku tidak berusaha untuk memperbaikinya. Semangatku untuk hidup tidak punya
urusan dengan tikar pandan itu. Setelah musim panas mendatang, kamarku yang kecil
itu pengap oleh bau busuk badanku. Kedengarannya lucu, tapi biarpun aku seorang
pendeta, badanku harus berbau seorang anak muda biasa. Bau itu menembus tiang hitam
yang tua dan berkilat pada keempat sudut kamar itu, bahkan juga dinding kayu itu. Kini
bau badan seorang anak muda yang tidak menyenangkan merembes di antara urat-urat
kayu, yang telah diberi semacam warna oleh umur. Tiang dan dinding itu dirobah
menjadi sesuatu yang hidup -tidak bisa bergerak, mencucurkan bau anyir ikan.
Kemudian bunyi langkah yang kudengar sebelumnya datang mendekat melalui gang.
Aku berdiri lalu pergi ke gang. Kashiwagi berdiri di sana, bagai semacam pesawat 266
mekanik yang tiba-tiba berhenti. Di belakangnya cahaya dari kediaman Pendeta Kepala
menerangi Pohon Pimvs Kapal Layar di kebun dan aku dapat melihat haluan pohon itu
yang basah dan berwarna hijau kehitaman mengangkat dirinya sendiri ke atas dalam
gelap. Sebuah senyuman terbayang di mukaku dan aku menyadari dengan rasa puas
bahwa waktu Kashiwagi melihat senyuman itu ia untuk pertama kalinya
memperlihatkan air muka yang mendekati ketakutan. "Apa kau tidak mau mampir
sebentar?" kataku. "Ya, ya, kau tidak perlu menakut-nakuti aku. Kau orang aneh."
Kashiwagi masuk ke dalam kamarku dan ia beihasil merendahkan badannya ke
samping, ke tikar, dengan gerakan perlahan yang biasa dan membuat kita mengira ia
bermaksud untuk merangkung. la mengangkat kepalanya lalu memandang ke sekeliling
kamar. Di luar, bunyi hujan menutupi kami bagai tirai tebal. Di antara bunyi air yang
jatuh di beranda terbuka, kita bisa mendengar titik hujan yang ditempiaskan oleh pintu
geser kertas yang terdapat pada pelbagai bagian gedung ini. "Kau," kata Kashiwagi, "tak
boleh menyalahkan aku. Pokoknya, kau yang salah maka aku sampai berbuat seperti ini.
Mengenai itu cukup sekian!" Dari dalam kantongnya ia keluarkan sebuah sampul, di
atasnya kulihat cap kuil, lalu ia mulai menghitung uang kertas yang terdapat di
dalamnya. Hanya ada tiga uang kertas sepuluh ribu yen — uang kertas baru yang jelas
baru dikeluarkan sesudah bulan Januari. "Uang kertas di kuil ini bersih dan bagus, ya
'kan?" kataku. "Pendeta Kepala kami begitu tak mudah puas hingga ia menyuruh
Pengetua pergi ke bank sekah tiga hari untuk 267 mengambil uang kertas bersih untuk
perbelanjaan kecil kami." "Lihat ini!" kata Kashiwagi. "Cuma ada tiga. Pendeta yang
mengurus kuil ini betul-betul kikir. Katanya ia tidak mau mengakui bunga atas pinjaman
yang terjadi antara sesama mahasiswa. Biarpun ia sendiri cukup menikmati ke-untungan
dari perbuatan seperti itu." Melihat Kashiwagi dilanda oleh kekecewaan yang tak
disangka-sangka ini, hatiku gembira sekali. Aku tertawa terbahak-bahak dan Kashiwagi
juga menyertai aku. Selama sesaat antara kami terdapat semacam keserasian, tapi
Kashiwagi berhenti tertawa hampir-hampir seketika lalu menatap kening-ku dan bicara
seolah-olah ia mau membuang aku. "Aku tahu," katanya. "Kau sekarang ini lagi punya
niat merusak."
Aku kesusahan sekah menahan berat tatapannya. Lalu aku mengerti bahwa
pengertiannya tentang "merusak" ber-beda sekali sifatnya dari apa yang kurencanakan.
Aku tenang kembali. Dalam jawabanku sedikit pun tidak terasa kegagapan. "Tidak,
tidak sama sekah," kataku. "Betul? Kau orang aneh. Kau boleh dikatakan orang yang
paling aneh yang pernah kutemui." Aku tahu bahwa ucapan Ini disebabkan oleh
senyuman ramah yang masih belum juga lenyap dari mulutku. Jelas sekali, bahwa
Kashiwagi tidak akan pernah menyadari arti rasa terima kasih yang tumbuh dalam
diriku, dan fikiran ini membuat senyumanku jadi lebih lebar dengan sendirinya. "Apa
kau mau pulang ke kampungmu?" tanyaku dengan cara yang biasa dipergunakan orang-
orang bersahabat kalau lagi bercakap-cakap. "Ya, aku mau pulang besok. Musim panas
di Sannomiya. Di sana membosankan sekali." "Kalau begitu berapa lama kita tidak akan
saling bertemu di universitas." 268 "Apa? Kau sendiri tidak pernah ke sana." Waktu
mengatakan itu, Kashiwagi buru-buru membuka kancing dada baju seragamnya, lalu
meraba isi kantong dalamnya. "Aku memutuskan untuk mengantarkan ini padamu
sebelum aku berangkat pulang," katanya. "Barangkali kau akan senang. Ketinggian
penghargaanmu kepadanya edan sekali." Ia meletakkan setumpuk surat ke atas mejaku.
Aku heran waktu membaca nama pengirimnya di atas sampul surat-surat itu. "Bacalah,"
kata Kashiwagi dengan nada biasa. "Surat-surat ini adalah kenangan dari Tsurukawa."
"Kau bersahabat dengan Tsurukawa?" tanyaku. "Begjni. Ya, kukira aku sahabatnya
dengan caraku sendiri. Tsurukawa sendiri tidak senang dianggap orang sebagai kawan-
ku. Tapi sekaligus aku adalah satu-satunya orang tempat ia membukakan isi hatinya. Ia
sudah tiga tahun meninggal, jadi kiraku tidak ada salahnya kalau kini surat ini
diperlihatkan pada orang lain. Kau begitu berkawan dengan dia hingga aku bermaksud
memperlihatkannya hanya padamu. Pada orang lain tidak. Aku sudah berrrfeksud
hendak memperlihatkannya padamu pada suatu hari." Surat-surat itu semua
bertanggalkan bulan Mei 1947, beberapa lama sebelum ia meninggal. Hampir setiap
hari ia menulis surat dari Tokyo dan dialamatkan pada Kashiwagi. Bahkan sekali pun
aku tidak pernah ia kirimi surat, tapi pada Kashiwagi ia mengirim surat secara teratur
sejak ia pulang ke Tokyo. Surat-surat itu memang dari Tsurukawa -tulisan tangannya
yang bersegi-segi dan kekanak-kanakan, jelas sekali. Aku sedikit merasa iri hati.
Tsurukawa, yang kelihatannya tidak pernah berusaha menyembunyikan perasa-annya
yang bening padaku, yang pernah memburuk-burukkan 269 Kashiwagi dan pernah
berusaha menghalangi persahabatanku dengan dia, ternyata ia sendiri telah mengadakan
hubungan yang tersembunyi ini. Aku mulai membaca surat-surat itu menurut urutan
tanggalnya. Surat-surat itu ditulis dengan huruf-huruf kecil di atas kertas tulis yang
tipis. Gayanya kikuk sekali. Jalan fikirannya "seolah terperosok saban kali, dan susah
sekali untuk diikuti. Tapi dari balik kalimat-kalimatnya yang kacau mulai muncul suatu
penderitaan yang samar, dan waktu aku membaca surat-suratnya yang terakhir,
penderitaan yang dialami Tsurukawa terbayang di hadapanku dengan jelas sekali.
Sambil membaca surat-surat itu, air mata mengambang di mataku, tapi pada saat yang
sama aku betul-betul heran melihat kekonyoian penderitaan Tsurukawa. Soal yang tidak
lebih dari suatu persoalan cinta kecil yang biasa sekali - cinta tidak berbahagia seorang
anak muda yang tidak berpengalaman pada seseorang yang tidak disetujui orang tuanya.
Lalu suatu bagian dari surat itu membuat aku terhenyak. Mungkin ini tidak lebih dari
suatu pengutaraan Tsurukawa yang dilebih-lebihkan dengan tak disengaja untuk
meluftskan perasaannya, tapi akibatnya mengagetkan juga. "Jika kuingat-ingat,"
demikian ia menulis, "percintaanku yang tidak berbahagia ini mungkin sekali hasil
langsung dari sifatku yang tidak berbahagia. Aku dilahirkan dengan sifat pemurung.
Kukira aku tidak pernah tahu apa artinya bergembira atau bersenang-senang." Surat itu
berakhir dengan suatu nada yang menggemparkan, dan waktu kubaca, aku merasakan
suatu kecurigaan yang sampai saat itu belum pernah kurasakan. "Apa mungkin dia . . ,"
demikian aku mulai. Kashiwagi mengangguk dan menyela aku: "Ya, memang. Memang,
bunuh diri. Aku pasti demikian halnya. Keluarganya rupa-rupanya telah menutupinya
untuk menyelamatkan muka, lalu membuat cerita tentang truk itu dan sebagainya.**
"Kau membalassuratnya, 'kan?" Aku tergagap-gagap karena perasaan berang waktu aku
mendesakkan pertanyaan itu pada Kashiwagi. "Ya, tapi rupanya surat itu baru sampai
setelah ia meninggal." "Apa yang kaukatakan?" "Aku menulis, bahwa dia tidak boleh
mati. Hanya itu." Keyakinanku yang dalam bahwa aku tidak bisa dikhianati oleh
perasaanku ternyata tidak benar. Kashiwagi telah membunuh sangkaanku ini.
"Bagaimana rasanya?" katanya. "Apa surat-surat ini sudah merobah pandangan
hidupmu? Rencanamu kini hancur semua, 'kan?" Jelas bagiku kenapa kini setelah tiga
tahun ia baru memperlihatkan surat-surat ini padaku. Tapi, biarpun aku mendapat
goncangan, dalam diriku masih tinggal semacam ingatan — ingatan pada matahari yang
bersinar menembus pepohonan dan menimpa kemeja putih anak muda yang terbaring di
atas rumput tebal musim panas. Tsurukawa telah meninggal dan tiga tahun kemudian
telah berobah seperti ini. Kelihatannya apa yang kupercayakan padanya seakan-akan
ikut lenyap bersama kematiannya, tapi nyatanya pada saat itu ia lahir kembali dengan
bentuk kenyataan yang baru. Ini terjadi karena aku percaya pada substansi ingatan, dan
bukan karena dirinya yang sebenamya. Keadaan kepercayaanku begitu rupa, dan jika
aku kini berhenti percaya pada ingatan itu, maka hidupku sendiri akan runtuh. Tapi,
Kashiwagi berdiri memandang padaku. Ia merasa puas sekali karena telah berhasil
sekali mencincang perasaanku. 271 ["Bagaimana?" katanya. "Dalam dirimu sebentar ini
ada yang hancur, 'kan? Aku tidak tahan melihat seorang kawanku hidup dengan sesuatu
yang mudah hancur dalam dirinya. Seluruhkebaikanterletak dalam menghancurkan hal-
hal seperti "Bagaimana kalau ia belum juga hancur?" tanyaku. "Itu keangkuhan palsu.'"
kata Kashiwagi dengan senyuman mengejek. "Aku ingin membuat kau mengerti. Yang
merobah dunia ini ialah - pengetahuan. Kau mengerti maksudku? Tidak ada yang lain
yang bisa merobah apa pun jua di dunia ini. Hanya pengetahuan yang bisa merobah
dunia, dan sekaligus membiarkannya sebagaimana adanya. Jika kau memandang dunia
dengan pengetahuan, kau akan sadar bahwa semuanya tidak bisa dirobah, tapi semuanya
senantiasa berada dalam perobahan. Kau boleh tanya apa gunanya. Kita katakan saja
begini - manusia memiliki senjata pengetahuan untuk membuat hidup ini bisa dihayati.
Untuk binatang hal seperti itu tidak diperlukan. Binatang tidak memerlukan
pengetahuan atau yang seperti itu untuk dapat membuat hidupnya bisa ia pertahankan.
Tapi manusia memerlukan sesuatu, dan dengan pengetahuan keberatan hidup dapat
dijadikan senjata, biarpun pada saat yang sama keberatan itu sedikit pun tidak
berkurang. Demikianlah nyatanya." "Apa menurat kau tidak ada jalan lain agar dapat
menahan hidup?" "Tidak. Lepas dari itu hanya ada kegjlaan atau maut." "Pengetahuan
tidak akan pernah bisa merobah dunia," teriakku, yang sudah hampir-hampir berada di
pinggiran suatu pengungkapan isi hatiku. "Yang merobah dunia ini ialah perbuatan.
Lain dari itu tidak ada." Seperti telah kukira, Kashiwagi menangkis ucapanku dengan
sebuah senyuman dingin, yang kelihatannya seolah-olah di- 272 tempelkan pada
mukanya. "Itulah!" katanya. Perbuatan, katamu. Tapi apa kau tidak mengerti,
bahwa keindahan dunia ini yang begitu berarti bagimu, memerlukan tidur dan supaya
bisa tidur ia harus dilindungi oleh pengetahuan? Kau ingat kisah "Nansen membunuh
kucing" yang pernah kuceritakan padamu? Kucing dalam kisah itu cantik sekali. Itulah
sebabnya pendeta-pendeta yang mendiami kedua ruangan itu berkelahi mengenai
kucing itu, karena mereka sama-sama ingin melin-dungi kucing itu, merawatnya,
membiarkannya tidur dengan enak, dalam jubah pengetahuan mereka masing-masing.
Bapa Nansen seorang manusia yang berbuat, lalu ia membunuh kucing itu dengan sabit
dan dengan demikian mengakhirinya. Tapi waktu Choshu kemudian datang, ia
membuka sepatunya lalu meletakkannya di atas kepalanya. Yang ingin dikatakan
Choshu adalah ini: Ia sadar sekali bahwa keindahan adalah sesuatu yang perlu tidur dan
yang harus dilindungi oleh pengetahuan sewaktu tidur. Tapi tidaklah ada apa yang
disebut pengetahuan individuil, suatu pengetahuan khusus yang menjadi milik dari satu
orang atau satu kelompok. Pengetahuan adalah laut kemanusiaan, ladang kemanusiaan,
keadaan umum kehidupan manusia. Kukira itulah yang ingin ia katakan. Kini kau ingin
memainkan peranan Choshu rupanya. Nah, keindahan - keindahan yang begitu kaucintai
-adalah khayal dari bagian yang tersisa, bagian berlebih, yang diberikan pada
pengetahuan. la adalah khayal dari "cara lain untuk menahankan hidup" yang tadi
kaukatakan. Kita boleh mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang disebut
keindahan, yang membuat khayalan itu begitu kuat, yang membekali dia dengan
kekuatan kenyataan yang begitu besar, justru adalah pengetahuan. pari sudut pandangan
pengetahuan, keindahan tidak mungkin merupakan hiburan. 273 PTapi dari perkawuian
antara yang tidak merupakan hiburan di satu fihak dan pengetahuan di lain fihak,
lahirlah sesuatu yang baru. Ia lekas lenyap bagai sebuah gelembung dan tidak berdaya
sama sekali. Tapi bagaimanapun jua sesuatu sudah dilahirkan. Sesuatu inilah yang
disebut orang seni." "Keindahan . . .," kataku, lalu terhenti karena suatu serangan
kegagapanku. Fikiran ini adalah sesuatu tanpa batas. Aku merasa curiga bahwa justru
pengertianku tentang keindahan yang telah melahirkan kegagapanku. "Keindahan, hal-
hal yang indah," kutambahkan, "semuanya itu adalah musuhku." "Keindahan
itumusuhmu?" kata Kashiwagi dengan membuka matanya lebar-Iebar. Lalu tampak
kesan filsafat yang menggembirakan, yang biasa tampak pada mukanya yang merah.
"Alangkah Iainnya mendengar itu dari mulutmu. Aku betui-betuJ harus mengganti fokus
lensa pengertianku," Kami meneruskan percakapan beberapa lama. Inilah kali pertama
semenjak lama kami bertukar fikiran dengan cara yang begitu akrab. Hujan masih
belum juga reda. Waktu ia pergi, Kashiwagi menceritakan padaku tentang Sannomiya
dan pelabuhan Kobe. Aku belum pernah mengunjungi tempat-tempat itu lalu ia
melukiskan kapal-kapal besar yang meninggalkan pelabuhan di kala musim panas.
Pemandangan itu jadi jelas bagiku waktu aku ingat Maizuru. Untuk sekali ini pendapat
kami sama. Kami, dua orang mahasiswa miskin memiliki lamunan yang sama dan
sepakat bahwa tidak satu pun, juga pengertian atau perbuatan, yang dapat menya-mai
kenikmatan yang diberikan oleh keberangkatan menuju tempat yang jauh. 274
BARANGKALI bukanlah sekadar kebetulan, bahwa menurut peraturan ia menegur aku
seperti yang biasa ia lakukan, Pendeta Kepala justru pada saat hams menegur,
memperlaku-kan aku dengan baik sekali. Lain hari setelah Kashiwagi datang untuk
menagih hutang, Pendeta Kepala memanggil aku ke kamar kerjanya lalu menyerahkan
padaku uang sebanyak tiga ribu empat ratus yen untuk uang kuliahku selama semester
pertama, tiga ratus lima puluh yen untuk kendaraan dan lima ratus yen untuk keperluan
alat tulis-menulis. Di universitas sudah merupakan peraturan bahwa kami harus
membayar uang kuliah sebelum liburan musim panas, tapi setelah apa yang terjadi itu,
aku sama sekali tidak mengira bahwa Pendeta Kepala akan memberikan uang padaku.
Biarpun ia memutuskan untuk membayar uang kuliah itu, kukira, karena ia sudah tahu
bahwa aku sulit sekali untuk dipercaya, ia akan mengirimkan uang itu langsung ke
universitas. Aku lebih tahu dari dia, bahwa biarpun ia menyerahkan uang itu padaku,
kepercayaannya padaku adalah palsu. Dalam pengertian tertentu kebaikan yang ia
berikan padaku tanpa rrengatakan apa-apa mengingatkan aku pada kulitnya yang lunak
dan merah jambu. Kulit yang penuh dengan kepalsuan, kulit yang mempercayai apa
yang sepatutnya dikhianati, dan yang mengkhianati apa yang mestinya dipercayai, kulit
yang tidak dijangkiti korupsi, hangat, kulit merah jambu 275 yang mempropagandakan
dirinya sendiri secara diam-diam. Sama seperti waktu aku melihat polisi di losmen di
Yura, dan takut akan ketahuan, juga kini aku diancam oleh ketakutan, yang hampir-
hampir mendekati keputusasaan, kalau-kalau Pendeta Kepala itu mengerti rencanaku
dan berusaha supaya aku tidak sempat melakukan tindakan yang menentukan dengan
memberi aku uang. Aku merasa, aku tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk
melakukan perbuatan itu selama aku masih menyimpan uang pemberiannya. Aku harus
berusaha secepat mungkin mendapatkan jalan untuk menghabiskan uang itu. Aku harus
menemukan cara menghabiskan uang itu yang begitu rupa, hingga kalau Pendeta Kepala
itu sampai tahu apa yang kulakukan, maka ia harus begitu marah hingga mengusir aku
dengan serta-merta di tempat itu juga. Hari itu giliranku untuk bekerja di dapur. Waktu
aku mencuci piling sehabis makan, aku kebetulan melihct ke arah ruang makan. Semua
orang sudah pergi dan mang itu hening. Di pintu masuk ada sebuah tiang penuh jelaga
yang memperlihatkan kilauan berwarna hitam. Sebuah papan, yang sudah hampir-
hampir kehilangan warna karena jeiaga, dipakukan pada tiang itu. Aku membaca kata-
kata: A-TA-KO TANDA SUCI Awas kebakaran Dalam fikiranku aku bisa melihat
bentuk pucat api ta-wanan yang dipenjarakan oleh tanda jimat ini. Sesuatu yang dulu
pernah riang kini tergambar di balik tanda iii, pucat dan lemah. Aku bertanya apa orang
akan percaja jika kukatakan bahwa akhir-akhir ini gambaran api yang kulihat telah
memberikan pada sesuatu yang tidak kuranj dari nafsu berahi. Tapi apa tidak masuk
akal, jika kemauanki untuk hidup tergantung sama sekali dari kebakaran, maka nafsu
berahiku juga seharusnya mengarahkan pandangannya ke sana? Nafsuku membentuk
tubuh ramping dari kebakaran; dan nyala api yang tahu bahwa mereka kulihat melalui
tiang hitam yang berkilat itu, mendandani mereka dengan bagus sekali untuk peristiwa
itu. Mereka adalah hal-hal yang rapuh — tangan, anggota, dada kebakaran itu. Pada
malam hari tanggal 18 Juni aku menyelinap ke luar kuil dengan uang di dalam
kantongku, lalu berjalan menuju daerah Shinchi Utara yang biasanya dikenal dengan
nama Gobancho. Kabarnya di sana murah dan mereka ramah pada crang-orang baru
yangbersahaja danlangganan-langganan seperti itu. Gobancho jauhnya setengah jam
berjalan dari kuil. Malam itu panas sekali. Bulan bersinar lunak di langit yang ditutupi
oleh awan tipis. Aku mengenakan jumper, celant khaki, dan bakiak. Mungkin sekali
nanti aku akan pulang setelah beberapa jam, dengan pakaian yang sama. Bagaimana aku
bisa meyakinkan diriku mengenai gagasan bahwa aku yang berada dalam pakaian itu
adalah seorang pribadi yang lain sama sekali? Jdas, supaya aku bisa hiduplah maka aku
berencana unUk membakar Kuil Kencana itu, tapi apa yang kulakukan kini lebih mirip
pada persiapan untuk kematian. Seperti seoiang yang telah memutuskan untuk bunuh
diri, mungkin terfebih dulu mengunjungi rumah pelacuran supaya kehilangan
keperawanannya, demikianlah aku pergi ke daerah hiburan itu. Tapi percayalah. Jika
orang seperti itu mengunjungi seorang peiacur maka itu sama dengan menuliskan tanda
tangannya di atas sebuah formulir yang sudah ditetapkan, dan biarpun is mungkin
kehilangan keperawanannya, ia tidak akan mungkin jidi "orang lain". Kini aku tidak
perlu khawatir pada kegagalan — kegagalan /ang begitu sering kualami pada saat-saat
genting jika Kuil 277 Kencana itu masuk di antara aku dan perempuan itu. Karena aim
tidak lagi punya impian atau tujuan untuk menyertai kehidupan melalui seorang
perempuan. Hidupku sendiri berdiri kuat di atas hal lain itu. semua perbuatanku sampai
saat itu tidak lebih dari suatu perjalanan fcejam dan muran yang H membawa aku ke
keadaanku sekarang. DemikianJah aku bicara pada diriku sambil berjalan menuju
Gobancho. Tapi waktu itu dalam diriku timbul fcaa-kata Kashiwagi: "Perempuan
pelacur tidak tidur dengan Jangganan-[ nya karena dia sayang padanya. Mereka
bersedia meierima langganan siapa saja. laki-laki tua yang sudah reyot, pengemis, leiaki
buta sebelah, leiaki tampan - bahkan orang sakit lepra, asal mereka tidak tahu. Sikap
sama rata ini akan memuabhkan kebanyakan Jaki-laki dan mereka akan terus dengan
ffnang dan membeh perempuan mana saja yang pertama-tarna nereka hhat. Tapi
pendirian sama rata ini sama sekah tidak menarik hatiku. Aku tidak senang pada
pendapat bahwa se>rang wanita hams memperlakukan seorang leiaki biasa dan orang
seperti aku seolah-olah bagi mereka sama dan sedeajat. Elni kurasakan sebagai
penghinaan diri sendiri." Bagiku tidak menyenangkan untuk mengingat kata-kat; ini.
Persoalanku tidak sama dengan persoalan Kashiwagi. L-pas dari kegagapanku, aku
tidak menderita cacat badan apa pun juga, dan tidak ada alasan sama sekali untuk tidak
mertgangjap ketiadaan daya tank lahiriahku sebagai sekadar semacim keburukan yang
biasa saja. Sungguhpun begitu, aku bertanya dalam hatiku, apa firasat yang ada pada
perempuan mana pun jua tidak akan mengenali tanda seorang penjahat sejati yang
terdapat di keningku? fikiran edan ini segera menyebabkan aku gelisah hingga
iangkahku jadi lambai karenanya. Akhirnya aku bosan berfikit dan aku tidak lagi tahu
pasti apa aku bermaksud menghiJangkan keperawananku supaya aku dapat membakar
Kuil Kencana atau apa aku merencanakan untuk membakar Kuil Kencana supaya
kehilangan keperawananku. Lalu tanpa sebab apa-apa aku irgat kalimat agung tempo
kannan ("kesusahan yang menghadang dunia") dan aku berjalan sambil mengucapkan
tempc kannan, tempo kannan. Tidak lama kemudian aku sampii ke tempat permainan
lempar bola yang terang-bendtrang dan ramai, dan kedai-kedai minuman, mengalah
pada serentang kegelapan yang tenang di sana-sini secara teratir diterangi oleh lampu
neon dan lampu-lampu kertas putih yang guram. Sejak saat aku meninggalkan kuil, aku
dirasiki oleh lamunan seolah-olah Uiko masih hidup dan bahva dia hidup memencilkan
diri di daerah ini. Semenjak aku memutuskan untuk membakar Kuil Kencana, aku sudah
keivoali ke keadaan masa kanakku yang segar dan belum ternjda, dan aku merasa sudah
pada tempatnya jika aku mercmui orang dan benda yang kutemui pada permulaan
hidupku. Hulai saat itu aku akan hidup. Tapi anehnya, segala macam fikiran sial
menumpukkan kekuatan dalam diriku dari hari kc hari dan aku merasa bahwa setiap
saat aku bisa dihinjungi maut. Aku hanya berdoa supaya maut menghindari aku sampai
aku sempat membakar Kuil Kencana, Aku boleh dikatakan tak pernah sakit dan kini aku
tidak memperlihatkan tanda-tanda orang sakit. Tapi aku merest makin lama makin kuat
setiap hari, dan pcngendalian segala macam keadaan yang memungkinkan aku hidup
terletak di atas bahuku /sendiri; hanya aku yang harus memikul beban tanggung jawab
untuk melanjutkan hidup. Sehari sebelumnya, waktu aku lagi menyapu, aku mclukai
jariku dengan serpihan bambu dari sapuku. Bahkan luka kecil itu sudah cukup untuk
membuat aku resah, Aku ingat 279 penyair yang kematiannya disebabkan oleh duri
mawar yang menusuk jarinya. Orang-orang biasa di sekitarku tidac akan pernah mati
karena sebab itu. Tapi .aku telah rnenjadi seseorang yang berharga, hingga kita tidak
bisa tahu kenatian seperti apa yang mungkin tersedia untukku. Untunglah jariku tidak
bernanah, dan hari itu waktu jari itu kutekat aku hanya merasa sakit sedikit. Tidak perlu
kukatakan bahwa aku sudah melakukan persiap-an pencegahan sebelum aku pergi ke
Gobancho. Sehari sebelumnya aku pergi ke sebuah toko obat di bagian kota yang agak
jauh dan tidak mengenalku, lalu membeli sebuigkus kondom. Selaput berpupur —
barang ini betul-betul mempu-nyai warna yang tidak sehat dan tak bertenaga. Waktu
malam kukeluarkan sebuah, lalu kucoba. Kala kemalmnku berdiri, di tengah-tengah
benda lain dalam kamarku — lutisan Budhis yang kugores-gores dengan krayon merah,
kaleider Perhimpunan Turis Kyoto, surat-surat Budhis untuk dirakai di biara-biara Zen
yang kebetulan terkembang tepat dergan ayat-ayat Bucho-Sonsho, kaus-kaus kotorku,
tikar pandan yang robek — ia kelihatan seperti sebuah bayangan Budha yang tidak
menyolok, licin, kelabu, tak punya mata Jan hidung. Bentuknya yang tidak
menyenangkan mengingatkan aku pada tindakan keagamaan yang mengerikan dan yang
dikenal sebagai "menyunat kemaluan", yang sekarang ini hanya ada dalam catatan-
catatan tertentu yang diturunkan dari masa lampau. Aku memasuki sebuah jalan
samping yang diterangi dengan sebarisan tanglung. Lebih dari seratus rumah yang
terdapat di jalan itu dibangun dengan gaya yang sama. Kata orang jika seorang buronan
yang melarikan diri dari kejaran undang-undang menyerahkan diri pada centeng yang
menguasai daerah itu, maka ia bisa disembunyikan dengan mudah. Rupa-rupanyif 280
jika centeng itu menekan sebuah tombol, maka sebuah lonceng akan berbunyi di setiap
rumah pelacuran hingga penjahat itu bisa tahu bahwa polisi datang. Setiap rumah
memiliki sebuah jendela kisi-kisi gelap di samping pintu masuk dan masing-masing
terdiri dari dua tingkat. Atap genteng tua dan berat yang menjulur jauh di bawah bulan
yang pengap memiliki ketinggian yang sama. Di setiap pintu masuk terdapat thai biru
tua dengan aksara Nishijin yang ditulis dengan cat putih, sedangkan di belakang-nya
dapat kita lihat germo perempuan tempat pelacuran masing-masing yang mengenakan
penutup rok putih dan membungkuk ke depan untuk melihat siapa yang lewat.
Aku sama sekali tidak merasa senang. Aku merasa seolah-olah susunan keadaan yang
biasa telah meninggalkan aku, seolah-olah aku terpisah dari orang banyak dan tinggal
sendiri; dan kini rupa-rupanya aku lagi menyeret kakiku yang letih melalui daerah
kesepian yang tiada tara. Nafsu yang berdiam dalam diriku berjongkok sambil berpeluk
lutut dan memperlihatkan padaku punggungnya yang masam. Sung-guhpun begitu aku
merasa berkewajiban untuk menghabiskan uang itu di sini. Aku akan belanjakan semua
uang yang kuterima untuk uang kuliahku, dan dengan demikian memberikan kepada
Pendeta Kepala cukup alasan yang bisa diterima untuk mengusir aku dari kuil. Aku
sama sekah tidak sadar bahwa dalam pemikiran itu terdapat suatu kontradiksi yang
menarik; sebab kalau ini alasanku yang sebenarnya, maka itu berarti bahwa aku sayang
kepada Pendeta Kepala itu. Rupanya masih pagi sekali bagi orang banyak untuk
mengunjungi Gobancho. Pendeknya di jalan sedikit sekali orang kelihatan. Bakiakku
menggema dengan jernih dalam udara malam. Suara tunggal nada germo-germo yang
menyeru orang yang sekali-sekali lewat seolah-olah merangkak menembvt* udara
musim hujan yang basah dan tergantung rendah. Jari kakiku menjepit lidah-lidah
bakiakku yang agak longgar dengan kuat. Beginilah fikiranku. Di antara sekian banyak
lampu yang kulihat dari puncak Gunung Fudo pada malam waktu perang berakhir, rupa-
rupanya aku juga sudah melihat lampu jalan ini. Di tempat, ke mana kakiku kini
melangkah, Uiko tentu sudah menunggu. Di salah sebuah persimpangan jalan kulihat
sebuah tempat bernama Otaki. Aku memilih tempat ini tanpa alasan lalu masuk
meliwati tirai biru. Tiba-tiba aku berada di sebuah rumah dengan lantai ubin. Di ujung
kamar duduk tiga orang gadis. Mereka kelihatan seolah-olah sedang duduk dengan
bosan menunggu kereta. Salah seorang dari mereka memakai kimono dan lehernya
diperban. Yang dua lainnya mengenakan pakaian Barat. Seorang gadis membungkuk; ia
menurunkan kaus kakinya dan asyik nienggaruk betisnya. Uiko sedang keluar.
Kenyataan bahwa dia tidak ada membuat aku merasa lega. Gadis yang lagi menggaruk
kaki mengangkat kepalanya bagai seekor anjing yang bam dipanggil. Bedak yang putih
dan tebal, dan gincu merah melekat pada mukanya yang tembam, tampak jelas dan
kasar yang biasa kita lihat pada gambar yang disebut anak-anak. Tapi, dan ini adalah
suatu hal yang aneh dikatakan, ia memandang padaku dengan air muka yang betul-betul
beritikad baik. Sama dengan pandangan yang kita berikan pada sesama manusia yang
kita temui di sebuah sudut jalan. Matanya sama sekali tidak mengenali nafsu yang
berada dalam diriku. Karena Uiko tidak ada, maka tidak jadi soal gadis mana yang
kuambil. Aku masih diganggu oleh takhyul bahwa setiap pilihan atau harapan yang
kuperlihatkan akan berakhir dengan kegagalan. Seperti gadis-gadis itu juga tidak bisa
282 memilih langganannya, maka bagiku juga lebih baik untuk tidak memilih gadisku.
Aku harus pasti bahwa pengertian keindahan yang mengerikan, yang membuat orang
jadi tidak berdaya untuk bertindak, tidak sampai mempengaruhi aku dan maksudku.
"Kau mau gadis yang mana?" tanya germo perempuan itu. Aku menunjuk pada gadis
yang lagi menggaruk kaki. Rasa gatal yang terdapat di kaki gadis itu — mungkin rasa
gatal bekas gigitan nyamuk yang beterbangan di lantai — adalah ikatan yang
menghubungkan aku dengan gadis itu. Berkat kegatalannya, dia berhak kemudian untuk
bertindak sebagai saksi kalau orang menyelidiki apa yang sudah kulakukan. Gadis itu
berdiri lalu mendekati aku. Kulihat bibirnya berobah menjadi sebuah senyuman. Waktu
aku menaiki tangga tua dan suram menuju tingkat kedua aku ingat kembali pada Uiko.
Aku menukirkan bagaimana ia keluar pada jaman ini, dari dunia yang berwujud dalam
jam ini. Karena dia sudah pergi dari tempat ini, aku pasti tidak akan bisa menemuinya
biar di mana pun kucari. Rupa-rupanya Uiko telah pergi dari dunia kita ini untuk mandi
atau hal seperti itu. Tatkala Uiko masih hidup, aku merasa bahwa dia bisa keluar-masuk
dunia ganda seperti ini dengan bebas. Bahkan waktu peristiwa yang menyedihkan itu,
waktu ia kelihatan seolah-olah menolak dunia, ia sekali lagi menerimanya. Barangkali
buat Uiko kematian tidak lebih dari suatu kejadian sementara. Darah yang ia tinggalkan
di beranda Kuil Kongo barangkali merupakan suatu macam bubuk peninggalan sayap
seekor kupu-kupu jika kita pagi hari membuka jendela dan ia terbang dengan seketika.
Di tengah-tengah tingkat kedua sebuah langkan terbuka tempat angin dari halaman
bertiup ke dalam; seutas tali 283 jemuran (erentang dari sebuah talang ke (aJang yang
lain dan di sana rergantung sehelai petikot merah, beberapa helai pakaian dalam wanita
dan sehelai gaun tidur. Had gelap sekali dan garis-garis gaun malam yang tidak begitu
jelas itu kelihatan bagai sosok tubuh manusia. Seorang gadis lagi bemyanyi di dalam
sebuah kamar. Nyanyian gadis itu mengaiir dengan lembut; kadang-kadang ditingkah
oleh suara laki-hki yang sumbang. Lalu gadis itu tiba-tiba ketawa, seolah-olah ada tali
yang putus. "Itu Harako,"kata gadis yang menemam'ku sambil berpaling pada germo
itu. "Selalu begitu," kata germo itu, "selalu." Kemudian ia menghadapkan punggungnya
dengan jengkel ke kamar itu. Aku dibawa ke sebuah kamar yang tidak menarik sama
sekali. Semacam rak menggantikan lekuk dinding yang biasanya ada, dan di atasnya
orang dengan cara yang semberono telah meletakkan sebuah patung dewa keuntungan
Hotei dan patung seekor kucing yang lagi memberi isyarat. Sebuah pengumuman
dengan berbagai peraturan yang terperinci terlekat pada dinding. Di sana juga ada
sebuah kalender tergantung. Kamar itu diterangi oleh sebuah bola lampu yang guram.
Melalui jendela terbuka kita kadang-kadang bisa mendengar bunyi langkah orang lewat
yang mengelana sepanjang jalan mencari kenikmatan. Perempuan germo itu bertanya
kepadaku apa aku mau tinggal beberapa waktu saja atau satu malam. Ongkos untuk
kunjungan singkat empat ratus yen. Aku memesan sedikit sake dan biskuit beras.
Perempuan itu turun untuk mengambii pesananku, tapi gadis itu masih belum juga
datang. Baru setelah perempuan itu kembali membawa sake dan menyuruh gadis itu
duduk di dekatku, barulah ia duduk bersama aku di atas tikar pandan. Kini setelah ia
kuperhatikan baik-baik, 284 kulihat bibir atasnya digosok begitu rupa hingga jadi merah
sedikit. Rupa-rupanya gadis itu punya kebiasaan menghabiskan waktu dengan
menggosok dan menggaruk, bukan saja kakinya tapi juga seluruh tubuhnya. Lalu aku
mengira bahwa warna merah sedikit itu mungkin corengan yang disebabkan gincu
merah yang tebal. Kuharap orang jangan heran kalau aku mengamati segala-galanya
dengan teliti. Lagipula, ini adalah kunjunganku yang pertama ke sebuah rumah
pelacuran dan aku ingin sekali menemui bukti kenikmatan dalam setiap benda yang
berbenturan dengan penglihatanku. Semua kulihat jelas sekali sebagai sebuah etsa;
setiap bagian kecil ditempelkan dengan segala kejelasan dengan jarak yang tetap di
hadapan mataku. "Aku pernah ketemu Tuan sebelum ini, 'kan Tuan?" kata gadis itu,
yang memperkenalkan dirinya dengan nama Mariko. "Bagiku ini kali pertama."
"Betul? Ini kali pertama kau datang ke rumah seperti ini?" "Ya, kali pertama."
"Mungkin sekali. Karena itu tanganmu gemetar." Baru setelah ia berkata begitu, aku
sadar, bahwa tanganku yang memegang mangkuk sake menggigil sejadi-jadinya. "Kalau
betul begitu, Mariko," kata germo perempuan itu, "maka kau malam ini beruntung
sekali." "Coba saja kita lihat nanti, apa itu betul apa tidak," kata Mariko sambil lalu.
Dalam caranya berkata tidak terasa sama sekali keberahian sedikit pun juga, dan aku
melihat bahwa ruh Mariko lagi bermain-main di suatu tempat yang tidak ada
hubungannya dengan tubuhku atau tubuhnya, bagai seorang anak yang dipisahkan dari
kawannya bermain. Mariko mengenakan blus hijau muda dan rok kuning. Aku melihat
tangannya, lalu kulihat bahwa hanya ibu jarinya yang dicat merah. Barangkali ia telah
meminjam sedikit 285 cat kuku pada salah seorang kawannya -dan mencat kuku ibu
jarinya karena sekadar iseng. Kami masuk kamar tidur. Mariko meletakkan sebelah
kakinya di atas kasur, yang terkembang di atas tikar pandan, lalu menarik tali panjang
yang tergantung di samping kerudung lampu. Warna cerah selimut katun cetak timbul
dengan jelas sekali dalam sinar lampu listrik. Sebuah boneka Perancis terletak dalam
lekuk dinding yang bagus. Aku menanggalkan pakaianku dengan cara yang kikuk.
Mariko menyelimutkan sehelai burdah dari handuk berwarna merah jambu di atas
bahunya lalu menanggalkan pakaiannya di bawah burdah itu dengan cekatan sekah.
Dekat tempat tidur itu ada sebuah kendi berisi air, lalu aku minum beberapa gelas.
Mariko yang lagi memunggung mendengar bunyi air. "Kau peminum air rupanya,"
katanya tertawa. Waktu kami sudah berbaring berhadapan ia menyentuh puncak
hidungku sedikit lalu berkata: "Apa betul buatmu ini kali yang pertama?" Dia ketawa.
Bahkan dalam cahaya suram lampu tidur aku tidak mehipa-kan untuk memandang.
Karena melihat adalah satu bukti bahwa aku ada. Lagipula, ini adalah kali pertama aku
melihat mata orang lain begitu dekat padaku. Hukum jarak yang menguasai duniaku
telah hancur. Seorang asing telah melanggar perwujudanku dengan lancang. Kehangatan
tubuh seorang asing dan minyak wangi murahan yang ada di kulitnya bersatu untuk
merendam aku setahap demi setahap hingga akhirnya aku tenggelam sama sekali. Untuk
pertama kali aku melihat bagaimana dunia orang lain bisa lumer seperti ini. Aku
diperlakukan sebagai leiaki yang menjadi bagian dari suatu kesatuan universil. Aku
tidak pernah mengira bahwa orang akan memperlakukan aku seperti itu. Setelah aku
menanggalkan pakaianku, masih banyak lapisan yang duepas-kan dari diriku —
kegagapanku ditanggalkan, dan juga ke-burukan mukaku dan kemiskinanku. Malam itu
aku betul-betul telah merasakan kepuasan lahiriah, tapi aku tidak bisa percaya bahwa
akulah yang menikmati kepuasan itu. Di kejauhan suatu perasaan yang sampai saat ini
menjauhi diriku membersit dan lalu runtuh. Aku memisahkan badanku dari badan gadis
itu lalu meletakkan daguku di atas bantal. Sebelah kepalaku nanar rasanya karena dingin
lalu kuketuk-ketuk sedikit dengan kepalanku. Aku tiba-tiba dihinggapi perasaan seolah-
olah semuanya meninggalkan aku. Tapi tidak cukup kuat untuk membuat aku menangis.
Setelah selesai, kami berbaring berdampingan beicakap-cakap. Secara samar-samar aku
mendengar gadis itu bercerita bagaimana ia hanyut ke mari dari Nagoya. Tapi fikiranku
seluruhnya tertuju ke Kuil Kencana. Fikiran ini sebetulnya tidak lebih dari renungan
abstrak mengenai kuil itu, beda sekali dari fikiran-fikiranku yang lembam dan sensuil
yang biasa. "Kau ke mari lagi, 'kan?" kata Mariko. Dari kata-katanya aku merasa bahwa
ia pasti lebih tua beberapa tahun dari aku. Ya, ia lebih tua dari aku. Buah dadanya
langsung berada di hadapanku, basah karena keringat. Buah dada itu hanya daging, dan
tidak akan pernah mengalami proses aneh hingga menjadi Kuil Kencana. Dengan malu-
malu ia kusentuh dengan ujung jariku. "Kukira ini asing bagimu," kata Mariko. Lalu ia
duduk, dan sambil memandang nanap pada salah sebuah buah dadanya, buah dada itu ia
goyang-goyangkan sedikit seakan-akan ia lagi bermain dengan seekor hewan kecil.
Goyangan lembut tubuhnya mengingatkan aku pada matahari malam di Teluk Maizuru.
Cara matahari berobah dengan cepat dalam fikiranku 287 seakan-akan berpadu dengan
kecepatan perobahan daging gadis itu. Fikiran itu menyenangkan hatiku, seperti
matahari senja yang telah berkubur dalam awan yang berlapis-lapis. Daging menggetar
yang ada di hadapanku tidak lama lagi akan terbaring jauh dalam kuburan malam yang
gelap. *** Keesokan harinya aku mengunjungi tempat yang sama dan menanyakan
gadis yang sama. Ini bukan karena sisa uangku masih banyak. Pengalaman itu, waktu
aku mengalaminya untuk pertama kali terasa sangat miskin dibandingkan dengan
kehangatan yang kubayangkan, dan bagiku terasa perlu untuk mencobanya sekali lagi
membawanya sedikit lebih dekat pada kehangatan yang kubayangkan.'Salah satu hal
yang membedakan aku dari orang lain ialah bahwa semua perbuatan yang kulakukan
dalam kehidupanku yang sebenarnya cenderung berakhir sebagai tiruan yang teliti
daripada yang ada dalam bayanganku. Atau, lebih tepat, bukan yang ada dalam bayang-
anku tapi kenangan pada sumber fikiranku sendiri. Aku tidak pernah bisa melupakan
perasaan setiap pengalaman yang mungkin kunikmati dalam hidupku, sesudah pernah
mengalami sebelumnya dalam bentuk yang lebih cemerlang. Bahkan dalam soal
tindakan badaniah seperti ini, aku merasa bahwa dulu di suatu tempat, yang aku tidak
bisa ingat lagi - mungkin dengan Uiko - aku pernah kenal suatu bentuk kenikmatan
nafsu berahi yang lebih garang, suatu keberanian yang membuat seluruh badanku terasa
tumpul. Inilah yang merupakan sumber dari semua kenikmatanku kemudian, dan
kenikmatan-kenikmatan itu tidak lebih dari sekadar menyeduk segenggam air dalam
masa lampau. Aku betul-betul merasa bahwa dulu belum selang berapa 288 lama aku
pernah menyaksikan di suatu tempat kecemerlangan matahari tenggelam yang tiada
tara. Apa salahku, kalau matahari-matahari tenggelam yang kulihat sesudah itu selalu
kelihatan lebih pudar? Kemarin gadis itu telah memperlakukan aku seolah-olah aku
langganan biasa dan karena itu dalam kunjunganku hari ini aku membawa sebuah buku
dalam kantongku. Buku ini adalah bagian dari suatu koleksi yang baru kubeli beberapa
hari yang lalu di sebuah toko buku bekas. Buku itu adalah Kejahatan dan Hukuman
karangan Bequaria. Buku karangan ahli hukum kriminil Italia abad kedelapan belas ini
ternyata semacam pesta makan table d'hole yang terdiri dari patokan-patokan untuk
pencerahan dan iasionalisme, dan buku itu kukesampingkan setelah kubaca beberapa
halaman. Tapi aku mengira, mungkin gadis itu menaruh perhatian pada judulnya.
Mariko menyambut aku dengan senyuman yang sama seperti kemarin. Senyumannya
masih sama "seperti kemarin", sama sekali tidak meninggalkan bekas. Keramahannya
terhadap-ku adalah keramahan yang kita perlihatkan pada seorang asing yang kebetulan
kita lihat di sudut jalan. Mungkin karena tubuh gadis ini sendiri laik sebuah sudut jalan.
Aku duduk bersama Mariko dan germo itu dalam sebuah kamar yang kecil. Kami
minum sake dan aku cukup mahii dalam mempertukarkan mangkok sakeku sesuai
dengan adat kebiasaan lama. "Kau memutar mangkok itu dengan baik sekali waktu kau
menyerahkannya pada temanmu," kata wanita itu. "Kau mungkin masih muda tapi kau
tahu betul adat-istiadat!" "Tapi kalau kau setiap hari ke mari," tambah Mariko, "apa
Pendeta Kepalamu tidak akan memarahi kau?" Jadi rupanya mereka tahu siapa aku,
kataku dalam hati; 289 mereka tahu bahwa aku dari sebuah kuil. "Jangan kira aku tidak
tahu!" kata Mariko waktu ia melihat aku heran. "Semua anak muda kini punya rambut
panjang seperti gaya Zaman Perwalian. Jika ada orang beram-but pendek seperti
rambutmu, kita bisa tahu bahwa dia pasti dari salah satu kuil. Di rumah-rumah seperti
kami, semua tahu tentang mereka. Karena ke marilah biasanya para pendeta termasyhur
waktu mereka masih muda. Bagaimana kalau kita nyanyi?" Lalu tiba-tiba Mariko
menyanyikan sebuah lagu populer tentang pelbagai kesibukan perempuan daerah
pelabuhan. Lalu kami masuk ke kamar tidur. Aku berhasil melakukan segalanya dengan
lancar dan mudah dalam keadaan yang kini sudah kukenal. Kali ini aku betul-betul
merasa menikmati sekilas kenikmatan; tapi bukan macam kenikmatan yang
kubayangkan, tapi sekadar kepuasan perasaan karena aku sudah berhasil menyesuaikan
diri pada kenikmatan syahwat. Setelah selesai, Mariko memberi aku nasihat yang
menyen-tuh perasaan, yang mengungkapkan kenyataan bahwa ia lebih tua dari aku.
Selama beberapa saat nasihat ini membuat badanku terasa dingin. "Kukira engkau lebih
baik jika tidak terlalu sering datang ke tempat seperti ini," kata Mariko. "Kau seorang
yang sungguh-sungguh. Aku yakin. Kau jangan sampai dikuasai oleh hal-hal seperti ini.
Kau harus pergunakan semua ihtiar untuk pekerjaanmu. Itu lebih baik untukmu. Tentu
saja aku senang kalau kau ke mari. Tapi kau mengerti 'kan, kenapa aku bicara seperti ini
padamu? Kau kurasakan seperti adikku sendiri." Mariko rupa-rupanya telah
mempelajari percakapan ini dari sebuah kisah dalam salah satu majalah murahan
wanita. Kata-katanya tidak diucapkan dengan kedalaman perasaan 290 tertentu. Mariko
sekadar menyalin sebuah kisah kecil, dengan mempergunakan aku sebagai bahan dan
berharap aku akan memasuki suasana perasaan yang ia ciptakan. Yang paling sempuma
ditinjau dari sudut penglihatannya ialah kalau aku sampai mengucurkan air mata. Tapi
hal itu tidak kulakukan. Sebaliknya, aku merenggutkan kitab Kejahatan dan Hukuman
dari samping tempat tidur lalu kusodorkan ke bawah hidungnya. Dengan patuh Mariko
membuka lembaran-lembaran buku itu. Sesudah itu tanpa berkata apa-apa buku itu ia
letakkan kembali ke tempatnya yang tadi. Buku itu sudah hilang dari ingatannya. Aku
hanya menginginkan supaya Mariko sedikit merasakan suatu firasat karena nasib telah
menunjuk dia untuk ketemu denganku. Aku ingin supaya ia sedikit lebih mendekati
kesadaran bahwa ia sudah mengulurkan tangan dalam kehancuran dunia. Sebab
bagaimanapun juga, ini bukanlah hal yang tidak penting bagi gadis seperti dia. Aku
kehilangan kesabaran lalu memikirkan sesuatu yang mestinya tidak kuucapkan:
"Sebulan lagi — sebulan lagi mulai saat ini, koran akan penuh berita tentang diriku.
Ingatlah padaku jika hal itu terjadi." Jantungku berdebar keras begitu aku selesai bicara.
Tapi Mariko tertawa terbahak-bahak. Ia ketawa begitu keras hingga buah dadanya
tergoncang-goncang; lalu ia mengeiling padaku dan berusaha menahan diri dengan
menggigit lengan bajunya, tapi sekali lagi ketawanya meledak hingga seluruh tubuhnya
tergoncang-goncang. Aku yakin, Mariko sendiri tidak akan bisa menjelaskan kenapa ia
begitu senang. Ia melihat air mukaku lalu berhenti ketawa. "Apa yang lucu?" tanyaku.
Pertanyaan itu pertanyaan yang bodoh. "Kau betul-betul seorang pembohong. Oh, lucu
sekali. 291 Kau betul-betul pembohong!" "Aku tidak membohong." "Oh, sudahlah!"
kata Mariko lalu tertawa kembali terbahak-bahak. "Aku bisa mati ketawa, kau mau
membunuh aku! Semuanya bohong. Dan selama itu wajahmu tidak berobah sama
sekali." Aku memandang padanya sambil tertawa. Barangkali yang membuat dia ketawa
semata-mata karena aku gagap yang dengan cara aneh sekali mengemukakan ucapan
tegas tentang masa depan. Pokoknya dia tidak percaya pada apa yang kukatakan.
Mariko tidak punya kepercayaan. Biarpun di hadapannya terjadi gempa bumi, dia tidak
akan percaya. Jika seluruh dunia ini kiamat. maka mungkin hanya gadis ini yang
selamat. Karena Mariko hanya percaya pada hal-hal yang terjadi sesuai dengan logika
pribadinya. Logika ini tidak punya tempat untuk kehancuran dunia dan karena itu tidak
ada yang bisa memberikan kesempatan pada Mariko untuk memikirkan itu. Dalam hal
ini ia serupa dengan Kashiwagi. Mariko adalah Kashiwagi perempuan, seorang
Kashiwagi yang tidak berfikir. Setelah percakapan itu selesai, Mariko duduk di tempat
tidur dengan dada telanjang, Jalu mulai 'jlersenandung. Se-nandungnya itu berpadu
dengan dengung seekor lalat yang terbang sekeliling kepalanya. Setelah beberapa saat
lalat itu hinggap di atas salah sebuah buah dadanya. "Oh, geli!" katanya, tapi ia tidak
berusaha mengusir lalat its. Begitu hinggap di atas dadanya, lalat itu tinggal menempel
di sana. Anehnya, Mariko rupanya sama sekali tidak keberatan untuk dibelai seperti ini
oleh seekor lalat. Aku dapat mendengar bunyi hujan di talang. Kedengaran- 292 nya
seolah-olah hanya di tempat itu sajalah hujan turun. Dalam pendengaranku hujan itu
seolah-olah membatu karena ketakutan, seolah-olah telah mengelana ke bagian kota ini
lalu kehilangan jalan sama sekali. Bunyi hujan itu terputus dari malam yang luas, seperti
halnya aku; bunyi itu adalah bunyi yang merupakan bagian dari suatu dunia yang sudah
terbatas, bagai dunia kecil yang diterangi cahaya guram lampu tidur. Karena lalat
senang pada pembusukan, apa Mariko sudah mulai membusuk? Apa ketiadaan
keyakinan gadis itu berarti pembusukan? Apa karena ia mendiami dunia mSiknya
sendiri maka lalat itu datang mengunjungi dia? Bagiku sulit untuk dimengerti. Lalu
kulihat Mariko tiba-tiba tertidur. Ia terbaring bagai mayat dan di atas kebulatan buah
dadanya, yang diterangi lampu tidur, lalat itu juga tidak bergerak-gerak dan rupanya
juga ikut pulas. Aku tidak pernah kembali lagi ke Otaki. Aku telah menyelesai-kan apa
yang harus kuselesaikan. Sekarang tinggal Pendeta Kepala itu mengetahui bagaimana
aku menghabiskan uang kuliahku dan cara mengusir aku dari kuil. Sungguhpun begitu,
aku sama sekali tidak memberikan tanda-tanda pada Pendeta Kepala tentang apa yang
kulakukan dengan uang itu. Aku tidak perlu mengungkapkannya padanya; Pendeta
Kepala harus melakukan penyelidikan sendiri untuk kepentinganku tanpa
mengharapkan suatu pengakuan dari fihakku. Sulit sekali bagiku untuk menjelaskan
pada diriku sendiri, kenapa aku sampai begitu mengandalkan kekuatan Pendeta 293
Kepala. Buat apa aku meminjam kekuatannya? Kenapa aku harus menggantungkan
keputusan terakhirku pada pengusiran diriku oleh Pendeta Kepala? Karena, seperti telah
kukatakan, aku sudah lama sadar bahwa pada pokoknya Pendeta Kepala tidak punya
daya sama sekali. Beberapa hari setelah kunjunganku yang kedua ke rumah pelacuran
itu, aku berkesempatan untuk mengamati segi khusus sifat Pendeta Kepala. Pagi sekali,
sebelum halaman dibuka, Pendeta Kepala berjalan-jalan sekeliling kuil. Perbuatan itu
adalah perbuatan yang tidak biasa ia lakukan. la bertemu denganku dan pendeta-pendeta
muda lainnya yang lagi sibuk menyapu, lalu ia mengatakan sesuatu untuk mengucapkan
terima kasih atas pekerjaan kami. Dengan mengenakan jubah putihnya yang sejuk ia
berjalan menuju jenjang batu yang menuju Yukatei. Rupa-rupanya ia ingin duduk
sendiri di sana sambil menuang teh dan menjernihkan fikirannya. Langit
memperlihatkan tanda-tanda kenaikan matahari yang garang. Di sana-sini awan yang
masih membayangkan sinar merah berarak depan latar belakang biru. Seolah-olah
awan-awan itu belum bisa mengatasi ketersipu-sipuannya. Setelah kami selesai
menyapu, maka anggota kelompok yang lain kembali ke gedung utama. Hanya aku
yang menyusuri jalan yang melewati Yukatei menuju belakang Perpustakaan Besar. Aku
bertugas menyapu halaman di belakang perpustakaan. Aku mengambil sapuku lalu
menaiki tangga yang dibatasi pagar bambu. Tangga itu menuju suatu tempat dekat
rumah minuman teh Yukatei. Pepohonan masih basah karena hujan yang turun sampai
tadi malam. Cahaya pagi memantul pada titik-titik embun dan banyak membacaki
semak-semak yang ada di sekitarnya dan kelihatannya buah-buah merah di sana mulai
tumbuh di luar musim yang sebenarnya. Jaringan Jaba-laba yang merentang dari tetesan
embun yang satu 294 ke tetesan embun lainnya juga berwarna agak merah dan tampak
bergetar. Semuanya kupandangi, dan aku dipenuhi oleh semacam rasa heran kalau
kufikirkan bagaimana benda-benda di atas bumi ini dapat memantulkan warna-warna
langit dengan begitu peka. Bahkan kebasahan hujan yang menyelubungi seluruh
perkampungan kuil ini memperoleh rupa dari langit yang di atas. Semuanya basah,
seolah-olah menerima hmpahan rakhmat dari langit dan memancarkan bau perpaduan
antara pembusukan dan kesegaran. Karena benda-benda di atas bumi ini tidak tahu cara
menolak apa pun jua. Di sebelah Anjungan Yukatei terdapat Menara Bintang Utara yang
termaslnkr, yang namanya berasal dari sebuah bait: "Bintang Utara menunggu di sini
lalu semua bintang yang berjuta-juta jumlahnya memberikan bantuan." Menara Bintang
Utara yang ada sekarang, bukanlah menara yang tegak di sini waktu Yoshimitsu
memegang kekuasaan. Menara ini dibangun kembali kira-kira seratus tahun yang lalu
dengan bentuk bulat yang disengaja untuk sebuah rumah minuman teh. Karena Pendeta
Kepala tidak kelihatan di Yukatei, maka ia tentu berada di Menara Bintang Utara. Aku
tidak niau berhadapan sendiri dengan Pendeta Kepala. Aku berjalan diam-diam
sepanjang pagar sambil membungkuk-kan badan supaya tidak kelihatan dari seberang.
Menara Bintang Utara terbuka. Dalam lekuk dinding kulihat kertas gulungan Maruyama
Okyu seperti biasa. Lekuk itu juga berisi patung Budha kecil yang diciptakan dengan
halus sekali, terbuat dari kayu cendana, yang kini sudah jadi hitam selama seratus tahun
semenjak dibawa dari India. Di sebelah kiri kulihat rak yang terbuat dari kayu murbei
dengan gaya Rikyu; aku juga melihat lukisan pada pintu geser. Semua di sana seperti
yang sudah kukira, kecuali 295 kehadiran Pendeta Kepala. Secara tak sadar aku
menjulurkan kepala ke atas pagar, lalu melihat sekeliling. Di bagian ruangan yang gelap
dekat sebuah tiang kulihat sesuatu mirip bungkusan putih besar. Tatkala kuperhatikan
dengan lebih baik, ternyata Pendeta Kepala. Jubah putihnya membungkuk sejauh
mungkin ke depan dan dia merokok duduk dengan kepala di antaia kedua lututnya,
sedangkan mukanya tertutup oleh lengan bajunya yang panjang. Pendeta Kepala tidak
merobah duduknya. Ia diam membatu. Tapi aku yang tegak di sana dan
memperhatikannya, dihinggapi oleh gelombang perasaan yang berobah-obah. Mula-
mula kukira Pendeta Kepala tiba-tiba sakit dan lagi mengalami serangan semacam
penyakit sawan. Mestinya aku segera mendekati dia lalu menawarkan ban tuan. Tapi
begitu mat itu datang, maka sesuatu menahanku. Aku tidak merasa sayang sedikit pun
jua pada Pendeta Kepala, dan tidak lama lagi aku akan melaksanakan niatku untuk
membakar Kuil Kencana. Menawarkan bantuan dalam keadaan seperti itu sama dengan
kemunafikan semata. Di samping itu, mungkin saja, jika dia kutolong, maka aku bisa
jadi sasaran rasa terima kasih dan cintanya,hingga tekadku bisa menjadi lemah. Setelah
Pendeta Kepala kuperhatikan baik-baik, ternyata ia tidak sakit. Apa yang menimpa dia,
sosoknya yang berada dalam keadaan merungkuk di rumah teh kecil itu sama sekah
tidak memiliki keangkuhan dan keagungan. fa memberikan kesan hina, laik sikap
seekor hewan yang sedang tidur. Aku melihat lengan bajunya bergoyang sedikit. Suatu
be ban yang berat yang tak kelihatan oleh mata seolah-olah menekan punggungnya. Apa
kiranya - beban yang tak kelihatan itu? Apa penderitaan? Atau Pendeta Kepala itu sadar
bahwa ia sebetulnya tidak berdaya? Setelah aku terbiasa dengan keheningan itu, aku
mendengar Pendeta Kepala membaca sesuatu dengan suara perlahan sekali.
Kedengarannya bagai sebuah sutra, tapi aku tidak bisa mengenalinya. Tiba-tiba aku
beroleh fikiran yang menghancur-kan harga diriku — kemungkinan Pendeta Kepala
memiliki suatu kehidupan kejiwaan yang gelap dan tidak kami ketahui sama sekali, dan
bahwa kejahatan-kejahatan, dosa-dosa kecil dan kelalaian yang kuihtiarkan, jika
dibandingkan dengan kehidupannya itu, tidak berarti sama sekali. Lalu aku tahu. Sikap
merungkuk Pendeta Kepala serupa sekali dengan "menunggu taman", yaitu, bila
seorang pendeta pengembara ditolak memasuki sebuah kuil dan kemudian duduk
sepanjang hari dekat pintu masuk dengan kepala tertunduk. Sekiranya seorang pejabat
agama yang berkeduduk-an setinggi Pendeta Kepala betul-betul meniru disiplin ke-
agamaan yang dijalankan oleh seorang pendeta pengelana yang baru datang, maka pasti
ia memiliki kerendahan hati yang luar biasa sekali. Tapi kepada siapa kerendahan
hatinya ini diarahkan? Seperti kerendahan hati daun-daun rumput, ujung-ujung daun
pepohonan, embun yang menempel di jaring laba-laba yang ditujukan pada cahaya pagi
yang terdapat di langit, begitu juga barangkali Pjhdeta Kepala mengarahkan kerendahan
hatinya pada kejahatan dan penyelewengan sejati dunia ini yang tidak menjadi bagian
dari dirinya; barangkali ia lagi membiarkan hal-hal ini membayang secara wajar pada
dirinya, pada waktu ia duduk merungkuk seperti binatang itu. Tapi tidak,
kerendahanC'hatinya tidak diarahkan pada kekuatan scmesta seperti itu. Aku tiba-tiba
melihat, untuk akulah kerendahan hati itu ia pamerkan. Pasti sudah. Ia tahu bahwa aku
akan melewati tempat itu,lalu ia mengambil sikap ini untuk diperlihatkan padaku.
Pendeta Kepala telah melihat dengan jelas bahwa ia betul-betul tidak berdaya dan
akhirnya ia mempergunakan cara yang fantastis dan ironis ini untuk menasihati aku,
untuk merobek-robek hatiku secara diam-diam, untuk menimbulkan rasa kasihan dalam
diriku, untuk membuat aku berlutut untuk berdoa. Sementara aku memperhatikan
Pendeta Kepala, aku duduk merungkuk dalam sikap yang kuanggap sebagai sikap
kerendahan diri, aku nyaris dihinggapi oleh emosi. Biarpun aku berusaha untuk
melawannya dengan segala kekuatanku, nyata-nya aku sudah berada di ambang
penyerahan pada rasa sayang yang tertuju kepadanya. Tapi aku in gat, bahwa sikap ini
sengaja ia ambil untukku membalikkan semuanya dan membuat hatiku lebih keras dari
sebelumnya. Pada saat itulah aku memutuskan untuk menjalankan terus rencanaku
tanpa tergantung pada keadaan persyaratan, seperti rnisalnya dnisirnya aku oleh Pendeta
Kepala. Ia dan aku telah menjadi penduduk dua dunia dan tidak lagi saling
mempengaruhi Aku bebas dari semua kungkungan. Kini aku dapat melaksanakan
keputusanku dengan cara dan pada saat yang kusenangi, tanpa mengharapkan sesuatu
dari kekuatan luar. Cahaya pagi lenyap dari langit; pada saat yang sama awan
berkumpul lalu cahaya matahari yang terang mengun-durkan diri dari Menara Bintang
Utara. Pendeta Kepala masih di sana dalam sikap merungkuk. Aku buru-buru
-meninggalkan tempat itu. ?** Pada tanggal 25 Juni Perang Korea pun pecah.
Ramalanku bahwa dunia ini akan rusak dan hancur ternyata benar. Aku harus buru-buru.
298 Bab Sepuluh PADA hari setelah kunjunganku ke Gobancho aku sudah melakukan
suatu percobaan. Aku mencabut beberapa batang paku, yang panjangnya lebih kurang
dua inci, dari pintu kayu di belakang Kuil Kencana. Di tingkat bawah Kuil Kencana ada
dua buah jalan masuk ke Hosui-in. Keduanya adalah pintu lipat, yang satu arah ke timur
dan yang satu lagi arah ke barat. Penunjuk jalan tua itu biasanya setiap malam naik ke
Kuil Kencana. Mula-mula ia mengunci pintu barat dari dalam, dan sesudah itu ia
menutup pintu timur dari luar, lalu dikuncinya. Tapi aku tahu, aku bisa masuk Kuil
Kencana tanpa kunci. Karena di belakang ada sebuah pintu kayu tua yang tidak lagi
dipakai. Pintu ini bisa diangkat dengan mudah dari atas kalau dari bawahnya kita cabut
kira-kira selusin paku. Paku-paku itu longgar dan mereka bisa dicabut dengan jari.
Karena itu sebagai percobaan aku sudah mencabut beberapa buah paku. Paku-paku itu
kubungkus dalam sepotongkertas, lalu kutempatkan baik-baik di bagian belakang
laciku. Beberapa hari berlalu. Rupa-rupanya tidak ada orang yang tahu. Satu minggu
lewat. Masih juga tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang melihat paku-paku itu
tidak ada lagi. Pada malam tanggal dua puluh delapan aku diam-diam memasuki kuil
itu lalu mengembalikan paku-paku itu ke tempatnya semula. 299 Pada hari aku melihat
Pendeta Kepala duduk merungkuk di rumah tempat minum teh dan akhirnya
memutuskan Ibahwa aku tidak mau tergantung pada kekuatan orang lain, aku telah pergi
ke sebuah toko obat dekat Pos Polisi Nishijin, di Chimoto Imaidegawa, lalu membeli
arsenikum. Mula-mula padaku diberikan sebuah botol kecil yang isinya tidak mungkin
lebih dari tiga puluh pil. Aku minta botol yang lebih besar dan akhirnya membayar
seratus yen untuk botol berisi seratus pil. Lalu aku pergi ke tukang besi di sebelah
selatan pos polisi itu dan membeli sebilah pisau kantong yang matanya empat inci
panjangnya. Seluruhnya bersama kotaknya berharga sembilan puluh yen. Aku berjalan
pulang-balik di depan Pos Polisi Nishijin. Hari sudah malam dan sebagian jendela-
jendelanya diterangi lampu. Aku melihat seorang ditektif polisi berjalan tergopoh-gopoh
menuju gedung itu. Ia mengenakan kemeja kerah terbuka dan membawa sebuah tas.
Tidak ada orang yang menghiraukan aku. Tidak ada orang yang menghiraukan aku
selama dua puluh tahun yang lewat dan dalam keadaan sekarang hal ini tentu akan
berlangsung terus. Dalam keadaan sekarang aku masih merupakan orang yang tidak
penting. Di negeri Jepang ada berjuta, berpuluh juta orang, yang disimpan di pqjok-
pojok dan tidak dihiraukan sama sekali. Aku masih tergolong pada barisan mereka.
Dunia sama sekali tidak perduli apa orang-orang ini hidup atau mati dan oleh karena itu
pada diri mereka ada sesuatu yang meyakinkan. Karena itu ditektif polisi itu merasa
yakin hingga tidak merasa perlu untuk memperhatikan aku. Cahaya lampu yang merah
dan berasap menerangi batu tanda Pos Polisi Nishijin. Aksara jin sudah jatuh tapi tidak
ada yang berusaha mengganti-nya. Dalam perjalananku pulang ke kuil aku berfikir
tentang apa yang sudah kubeli malam itu. Belanjaanku itu mengasyik- kan sekali.
Biarpun racun dan pisau itu kubeli dan aku harus mati, aku begitu senang dengan
pembelian itu, hingga aku bertanya-tanya dalam hati apa bukan begini perasaan
seseorang yang baru membeli sebuah rumah baru dan lagi membuat rencana untuk
hidup masa depannya. Bahkan setelah sampai ke kuil aku tidak bosan-bosannya
mematuti kedua milikku itu. Pisau kantong itu kukeluarkan dari kotaknya lalu matanya
kujilat. Besinya segera berkabut dan rasa sejuk bening yang kurasakan pada lidahku
diikuti oleh suatu rasa yang rada-rada manis. Kemanisan ini terbayang secara samar-
samar pada lidahku dari dalam besi itu, dari dalam hakikat besi itu yang tidak bisa
dijamah. Kejernihan bentuk, kecemerlangan besi laik warna nila laut yang dalam —
merekalah yang membawa kemanisan jernih yang bergelung dengan aman sekeliling
ujung lidahku bersama dengan air ludahku. Akhirnya rasa manis itu meninggalkan aku.
Dengan rasa bahagia kubayangkan hari saat tubuhku akan diracuni oleh ledakan
kemanisan itu. Langit kematian terang dan kelihatan olehku bagai langit kehidupan.
Semua fikiranku yang murung telah meninggalkan aku. Dunia ini kini sudah bebas dari
keperihan. *** Sehabis perang di Kuil Kencana telah dipasang sebuah lonceng tanda
kebakaran model terakhir. Lonceng itu direncanakan begitu rupa, hingga jika suhu
dalam kuil itu mencapai titik tertentu, maka lonceng itu akan berbunyi di gang gedung
tempat kami tinggal. Pada malam tanggal dua puluh sembilan Juni lonceng itu rusak.
Yang menemukan kerusakan itu si penunjuk jalan tua. Waktu itu aku kebetulan berada
di 301 dapur dan mendengar orang tua itu melaporkan kejadian tersebut ke kantor
Pengetua. Aku seolah-olah mendengarkan dorongan yang datang dari langit. Tapi
keesokan harinya Pengetua menilpon pabrik yang telah memasang pesawat tersebut dan
minta supaya mereka mengirimkan seorang montir. Penunjuk jalan yang baik hati itu
sengaja memberi tahu aku tentang perkembangan ini. Aku menggigit bibir. Tadi malam
adalah kesempatan terbaik untuk melaksanakan keputusanku dan aku telah gagal.
Malam had ketika montir itu datang, kami semua berdiri sekelilingnya menonton dia
bekerja. Perbaikan itu memerlukan waktu lama. Orang itu memiringkan kepalanya ke
satu sisi dengan sikap putus asa yang samar-samar, lalu penontonnya mulai pergi
seorang demi seorang. Akhirnya aku juga pergi. Kini aku harus menunggu perbaikan itu
selesai dan lonceng itu akan berbunyi keras di seluruh kuil jika montir itu mencobanya.
Aku menunggu. Malam mendorongkan dirinya ke atas Kuil Kencana bagai pasang naik,
dan aku bisa melihat lampu kecil montir itu padam-timbul dalam gedung yang gelap ito.
Tiada bunyi lonceng kedengaran. Montir itu menyerah lalu berkata bahwa besok ia akan
kembali untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Tapi, ia tidak menepati janji, dan tidak
datang pada tangga] satu Juli. Pemimpin kuil tidak merasa perlu memburu-buru montir
itu menyelesaikan pekerjaannya. Pada tanggal tiga puluh Juni aku sekah lagi pergi ke
Cnimoto Imaidegawa untuk membeli rod manis dan biskuit kacang kedelai. Karena
kami tidak diberi makanan apa-apa antara waktu makan yang satu dan yang lain, aku
sekali-sekah datang ke sana untuk membeli sedikit juadah dengan uang kantongku yang
cuma sedikit itu. Tapi pembelianku pada tanggal tiga puluh itu tidak di- 302 sebabkan
oleh rasa lapar. Juga bukan untuk menelan arsenikum maka roti itu kubeli. Kalau aku
harus memberikan alasan juga, mengapa aku membeli roti itu, maka alasannya adalah
kegelisahanku. Hubungan antara aku dan kantong kertas yang kupegang dengan
tanganku! Hubungan antara perbuatan sem-purna dan terpisah yang tak lama lagi akan
kulakukan dengan roti buruk dalam kantongku itu! Matahari merembes keluar dari
langit yang penuh awan dan menyelubungi rumah-rumah tua sepanjang jalan itu bagai
kabut panas. Keringat mulai mengucur di punggungku seakan-akan ada seuntai benang
dingin lagi ditarik di atasnya. Aku lelah sekali. Hubungan antara aku dan roti manis!
Apa hubungan itu? Kukira jika waktunya datang dan aku lagi berhadapan muka dengan
perbuatan itu, semangatku akan diikat oleh ketegangan dan pemusatan fikiran saat itu,
tapi perutku, yang masih tetap tinggal dalam keadaan terpisah, masih akan minta
jaminan tentang perpisahan ini. Aku merasa seolah-olah alat dalam tubuhku tidak
ubahnya bagai anjing yang buruk yang tidak bisa dilatih dengan baik. Aku tahu. Aku
tahu biar bagaimana hidup pun semangatku, perutku dan ususku - bagian-bagian badan
yang bodoh dan dungu — akan mende-sak untuk memperoleh apa yang mereka
inginkan dan mulai melamunkan suatu lamunan konyol kehidupan sehari-hari. Aku tahu
perutku akan melamun. Ia akan melamun tentang roti manis dan biskuit kacang kedelai.
Sementara hatiku melamun tentang permata, perutku akan melamun dengan tengkar
tentang roti manis dan biskuit kacang. Pokoknya, makananku ini akan memberikan
kunci yang kuat jika orang mulai menyiksa otak dengan menanyakan sebab
kejahatanku. "Orang malang itu lapar," demikian orang akan berkata. "Bisa
dimengerti!" Lalu datanglah saatnya. Satu Juli tahun 1950. Seperti telah kukatakan,
tidak ada kemungkinan lonceng tanda kebakaran itu bisa diperbaiki hari itu. Hal itu
ditegaskan pada pukul enam senja. Penunjuk jalan tua itu sekali lagi menilpon pabrik,
lalu minta supaya mereka menyelesaikan perbaikan. Montir itu menjawab, bahwa
sayang sekali ia terlalu sibuk dan tidak bisa datang malam itu. Tapi besok pekerjaan itu
pasti ia selesaikan. Di waktu siang ada kira-kira seratus pengunjung yang datang
mengunjungi kuil itu, tapi karena gerbang ditutup pukul setengah tujuh, ombak manusia
itu mulai surut. Waktu penunjuk jalan tua itu selesai menilpon, ia berdiri di pintu dapur
lalu memandang dengan nanar ke lapangan kecil di luar kuil. Ia sudah menyelesaikan
pekerjaannya hari itu. Gerimis turun. Semenjak pagi sudah beberapa kali turun hujan.
Juga angin bertiup sepoi-poi basah dan untuk suatu musim panas hari tidak begitu
menyesakkan. Aku melihat bunga pohon labu bertebaran di sana-sini di lapangan dalam
hujan. Kacang kedelai yang ditanam bulan yang lalu, telah mulai tumbuh di sepanjang
tanah pinggiran yang hitam berkilat di seberang ladang. Jika penunjuk jalan itu berfikir,
biasanya ia merapatkan gigi palsunya yang tidak begitu baik pasangannya, hingga
berdetak. Setiap hari ia memberikan penerangan yang sama kepada pengunjung-
pengunjung.kuil, tapi karena gigi palsunya, maka makin lama makin sulit untuk
memahaminya. Ia sama sekali tidak memperdulikan usul supaya ia memperbaiki
giginya. Orang tua itu menggerutu sambil menatap ke kebun. Ia diam sebentar lalu aku
mendengar giginya berbunyi. Ia mulai menggerutu lagi. Rupa-rupanya ia menggerutu
karena pekerjaan memperbaiki lonceng tanda kebakaran itu lambat sekali. Waktu aku
mendengarkan gerutunya yang tak bisa ditangkap itu, aku merasa ia seolah-olah
mengatakan bahwa sekarang perbaikan sudah terlambat — baik untuk giginya, maupun
untuk lonceng tanda kebakaran itu.

***
Malam itu Pendeta Kepala mendapat tamu yang bukan tamu biasa. Tamu itu Bapa
Kuwai Zenkai, kepala Kuil Ryuho, di Propinsi Fukui, kawan lamanya semasa belajar di
biara. Karena Bapa Zenkai adalah sahabat Pendeta Kepala, maka ia tentu juga
bersahabat dengan Ayah. Pendeta Kepala sedang keluar waktu Bapa Zenkai datang.
Orang menilpon dan menyampaikan bahwa ia kedatangan tamu; ia mengatakan akan
kembali dalam waktu satu jam. Bapa Zenkai datang ke Kyoto untuk menginap satu atau
dua hari di kuil kami. Aku ingat bagaimana senangnya Ayah membicarakan pendeta ini
dan aku tahu bahwa Ayah sangat hormat kepadanya. Baik lahirnya maupun sifatnya, ia
jantan sekali dan dapat dianggap sebagai contoh perawakan kekar seorang pendeta Zen.
Tingginya hampir enam kaki, kulitnya hitam dan alisnya tebal. Suaranya seperti guntur.
Waktu salah seorang sesama calon pendeta mengabarkan padaku bahwa Bapa Zenkai
ingin bercakap-cakap dengan aku sebelum Pendeta Kepala pulang, aku agak ragu. Aku
takut mata pendeta yang jernih dan terang itu akan mengetahui rencanaku, yang kini
sudah mendekati pelaksanaan. Kutemui dia sedang duduk bersila di ruang tamu besar
gedung utama. Ia sedang minum sake yang telah disediakan oleh Pengetua dan lagi
menghadapi penganan dan sayur-sayuran. Seorang temanku telah menanyai - dia
sampai aku datang. Tapi aku segera nienggantikannya dan duduk dengan sopan di
hadapan pendeta itu, lalu mulai menuangkan sake untuknya. Aku duduk membelakangi
kegelapan hujan yang tak bersuara. Karena itu Bapa Zenkai menghadapi dua peman-
dangan suram — kebun yang gelap yang basah karena musim hujan dan wajahku. Tapi
dia bukanlah orang yang merasa terganggu oleh ini atau oleh apa pun jua. "Kau mirip
ayahmu." "Kau betul-betul sudah besar." "Sayang sekali ayahmu sudah meninggal!"
Bapa Zenkai menriiliki kebersahajaan yang asing bagi Pendeta Kepala dan kekuatan
yang tak pernah dimiliki Ayah. Wajahnya terbakar, lobang hidungnya besar sekali,
lipatan kulit sekeliling alis matanya yang tebal melendung, hingga wajahnya seolah-
olah dibentuk menurut topeng-topeng Obeshimi yang dipergunakan oleh jin-jin dalam
sandiwara No. Raut mukanya jelas tidak teratur. Bapa Zenkai terlalu banyak memiliki
kekuatan batin. Kekuatan ini tampak karena dengan senang hati dan secara keseluruhan
menghancurkan setiap keteraturan yang mungkin hadir di situ. Tulang pipinya
menjorok, bagai gunung-gunung tinggi dan runcing yang sering dilukiskan oleh
seniman-seniman Cina dari Mazhab Selatan. Tapi dalam suara pendeta yang
mengguntur itu ada suatu kelembutan yang menggema dalam hatiku. Kelembutan ini
bukan kelembutan biasa, tapi kelembutan akar sebatang pohon besar yang tumbuh di
luar kampung dan memberikan keteduhan kepada para musafir. Kelembutannya bagi
perasaan. Selama kami bicara, aku selalu harus waspada. Kalau tidak, maka malam ini,
dari semua malam, kebulatan tekadku mungkin kuungkapkan karena tersentuh oleh
kelembutan ini. Aku curiga, jangan-jangan Pendeta Kepala telah minta Bapa Zenkai
datang untuk kepentinganku, tapi aku sadar, bahwa tidak mungkin dia disuruh datang
dari tempat sejauh Propinsi Fukui hanya karena aku. Tidak, pendeta ini tidak lebih dari
tamu khusus, yang kebetulan akan jadi saksi suatu kehancuran yang luar biasa. Botol
sake dari tembikar putih itu bisa berisi lebih dari setengah botol besar, tapi Bapa Zenkai
telah mengosong-kannya. Aku minta diri dengan membungkuk, lalu pergi ke dapur
untuk mengambil botol lain. Setelah. aku kembali dengan sake yang dihangatkan, aku
merasa dihinggapi oleh satu perasaan yang belum pernah kukenal sebelumnya.
Keinginan untuk dimengerti oleh orang lain sampai saat itu belum pernah merupakan
keinginan bagiku, tapi kini aku ingin supaya hanya Bapa Zenkai memahami aku. Ia
tentu melihat, waktu aku berlutut kembali dan menuangkan sake di depannya — mata
bercahaya karena suatu kejujuran yang sebelumnya itu tidak pernah ada. "Bagaimana
pendapat Bapa tentang diri saya?" tanyaku. "Hm, menurut aku kau kelihatannya seorang
mahasiswa yang sungguh-sungguh. Tentu saja aku tidak tahu kenakalan apa yang
kaulakukan di samping itu. Tapi aku lupa. Sekarang tidak lagi seperti dulu, 'kan?
Kukira, kalian anak-anak muda, kini tidak akan punya cukup duit untuk mengerjakan
yang tidak-tidak. Waktu ayahmu dan aku dan Pendeta Kepala masih muda, macam-
macam kenakalan yang kami lakukan." "Apa saya kelihatan sebagai mahasiswa biasa?"
tanyaku. "Ya," jawab Bapa Zenkai, "dan itu yang paling baik. Kelihatan biasa itu paling
baik. Orang tidak curiga pada kita." Bapa Zenkai bebas dari kekenesan. Pejabat-pejabat
tinggi agama yang selalu diminta pendapatnya mengenai segala hal, mulai dari sifat
manusia sampai ke lukisan dan barang antik, cenderung berbuat kesalahan karena tidak
memberikan 307 pendapat yang positif tentang apa saja, karena takut diketawa-kan
orang nanti kalau pendapat itu salah. Di samping itu tentu saja ada macam pendeta Zen
yang segera mengemukakan pendapatnya yang akhir tentang segala macam hal yang
diperdebatkan. Tapi pendapat ini akan mereka rumuskan begitu hati-hatj hingga ia bisa
mempunyai dua arti yang saling bertentangan. Bapa Zenkai tidak seperti itu. Aku sadar
sekali bahwa ia mengatakan apa yang dia lihat dan apa yang dia rasa. Ia tidak berusaha
untuk mencari-cari arti khusus dari hal-hal yang terbayang di matanya yang kuat dan
murni. Baginya tidak menjadi soal apa ada arti atau tidak. Tapi yang membuat Bapa
Zenkai di atas segala-galanya begitu besar dalam pandanganku, ialah jika ia
memandang pada suatu barang — padaku misalnya — ia tidak berusaha untuk
memaksakan individualitasnya dengan jalan melihat sesuatu yang tidak bisa dilfliat
orang lain kecuali dm, tapi ia melihat benda itu seperti orang lain melihatnya. Dunia
nyata itu sendiri tidak punya arti bagi pendeta ini. Aku maklum apa yang dia maksud,
lalu aku mulai merasa tenang. Selama aku kelihatan biasa oleh orang lain, aku betul-
betul biasa, bagaimana aneh pun perbuatan yang kulakukan, kebiasaan ini akan tetap
tinggal, bagai beras yang sudah ditampi- Tanpa usaha yang sadar, aku akhirnya
menggambarkan diriku sebagai sebatang pohon yang berbulu lebat dan tenang, yang
ditanam di hadapan Bapa Zenkai. "Apa baik, Bapa," kataku, "jika kita bertindak sesuai
dengan pola yang diharapkan orang pada kita?" "Hal itu tidak selalu mudah. Tapi kalau
kita mulai bertingkah janggal, maka orang akan menganggap hal itu sebagai sesuatu
yang biasa bagi kita. Mereka pelupa sekali." "Pribadi seperti apa yang paling
langgeng?" tanyaku. "Pribadi yang kubayangkan atau pribadi menurut kepercayaan
orang yang patut saya miliki?" "Kedua-duanya pada satu saat akan beTakhir. Biar bagai-
manapun kita meyakinkan diri kita bahwa pribadi kita adalah yang paling langgeng,
pada suatu saat ia akan berakhir. Selama kereta berjalan penumpang diam. Tapi begitu
kereta berhenti, penumpang harus mulai berjalan dari titik itu. Beriari ada akhirnya, tapi
beristirahat juga ada akhirnya. Kematian kelihatan seperti istirahat yang paling akhir,
tapi kita tidak tahu berapa lama ia akan berlangsung." "Tolong lihat ke dalam diriku,
Bapa," kataku akhirnya. "Aku bukanlah orang seperti yang Bapa kira. Tolong lihat ke
dalam hatiku." Pendeta itu mengangkat mangkuk kemulutnya,lalu mena-tap aku dengan
sungguh-sungguh. Keheningan menekan aku bagai atap kuil yang besar, hitam dan
basah oleh hujan itu. Aku menggigil. Lalu Bapa Zenkai bicara dengan suara ketawa
yang jelas sekali: "Tidak ada gunanya melihat ke dalam dirimu. Semua yang bisa dilihat
terbayang pada wajahmu." Aku merasa bahwa aku sudah dimengerti selengkap-
lengkap-nya sampai ke lekuk-lekuk diriku yang paling dalam. Untuk pertama kali aku
merasa diriku kosong. Laik air yang masuk ke dalam kekosongan ini, demikian dalam
diriku membersit tekad baru untuk melaksanakan apa yang mau kulakukan. *** Pendeta
Kepala kembali ke kuil. Hari sudah pukul sembilan. Seperti biasa, sebuah kelompok
yang terdiri dari empat orang mulai melakukan pemeriksaan untuk malam itu. Tidak ada
yang luar biasa. Pendeta Kepala lagi minum sake dengan 309 Bapa Zenkai. Kira-kira
pukul setengah satu salah seorang murid datang untuk mengantarkan tamu itu ke kamar
tidur. Lalu Pendeta Kepala - mandi — atau "masuk air" seperti disebut di kuil — dan
tepat pukul satu dinihari, tatkala malam mulai berakhir, kuil itu sudah tenang sama
sekali. Di luar hujan turun terus. Kasurku terkembang di lantai. Aku duduk sendiri
memper-hatikan malam yang telah bertengger ke atas kuil. Makin lama malam makin
tebal dan berat. Tiang-tiang besar dan pintu kayu kamar kecil tempat aku duduk yang
menupang malam tua itu kelihatan sederhana. Dalam mulutku aku menggigil diam-
diam. Seperti biasa, sebuah kata muncul di bibirku, hingga aku jengkel; tak ubahnya
seperti kita mencari sesuatu dengan sia-sia dalam sebuah kantong dan sebaliknya terus
menemui barang-barang lain yang tidak kita perlukan. Keberatan dan kekentalan dunia
batinku hampir-hampir menyerupai malam itu dan kata-kataku berderak muncul ke
permukaan seperti ember yang berat ditarik dari sumur di tengah malam. Tidak akan
lama lagi, kataku dalam hati; aku harus sabar beberapa saat lagi. Kunci berkarat yang
membuka pintu antara dunia mar dan dunia dalamku akan berputar dengan mudah
dalam lobang kunci. Duniaku akan segar karena angin dapat bertiup bebas antaranya
dan dunia luar. Ember sumur itu akan naik, sambil berbuai sedikit dalam angin, dan
semuanya akan terbuka di hadapan ku dalam bentuk sebuah padang luas dan kamar
rahasia itu akan hancur . . . Kini ia telah ada di depan mataku dan -tangan ku sebentar
lagi akan kuulurkan untuk menjangkaunya . . . Hatiku penuh bahagia waktu aku duduk
di sana dalam kegelapan selama lebih kurang satu jam. Rasanya belum pernah aku
sebahagia itu dalam seluruh hidupku. Tiba-tiba aku bangkit dari kegelapan. Diam-diam
aku menyelinap ke belakang perpustakaan lalu mengenakan terompah jerami yang
sebelum itu sudah kusediakan di sana. Lalu aku berjalan dalam hujan menyusuri parit di
belakang kuil menuju bengkel kerja. Dalam bengkel kerja itu tidak ada papan, tapi
lantainya penuh dengan serbuk gergaji yang berbau apek karena hujan. Bau apek serbuk
gergaji itu mengelana tanpa daya di seluruh, tempat itu. Bengkel kerja itu juga
dipergunakan untuk menyimpan jerami. Sekali beli biasanya empat puluh ikat jerami,
tapi malam itu hanya tinggal tiga ikat, sisa dari pembelian ter akhir. Ketiga ikat jerami
itu kuangkat, lalu aku kembali menyusuri pinggir kebun. Semua diam di dapur. Aku
berjalan melewati tepi gedung, lalu sampai ke belakang tempat tinggal para Pengetua.
Tiba-tiba lampu menyala di kamar kecil. Aku merungkuk. Aku mendengar orang
mendehem di kakus. Kedengarannya seperti Pengetua. Sesudah itu aku mendengar dia
buang air. Pekerjaannya itu seolah-olah tidak ada akhirnya. Aku khawatir jerami itu
akan basah kena hujan, karena itu sambil merungkuk dekat gedung itu ia kuhmdungi
dengan dadaku. Bau yang datang dari kakus makin keras karena hujan dan kini ia
bertengger berat di atas setumpak pakis. Bunyi air di kakus berhenti lalu aku mendengar
bunyi tubuh orang menubruk dinding kayu. Rupa-rupanya Pengetua itu belum bangun
betul dan tegaknya belum kukuh. Lampu di jendela itu mati. Ketiga ikat jerami itu
kuambil lalu aku berjalan menuju belakang perpustakaan. Kekayaanku hanya terdiri
dari sebuah keianjang anyaman tempat inilik pribadiku kusimpan, dan sebuah kopor
kecil tua. Aku bermaksud untuk membakai semua itu. Tadi 3tt aku sudah membungkus
buku-bukuku, pakaianku, jubahku, dan barang-barang tetek-bengek lain dalam kedua
tempat ini- Semoga orang akan melihat bahwa aku teliti sekali dalam segala hal.
Barang-barang seperti tongkat kelambu yang akan membuat ingar kalau kubawa dan
juga barang-barang yang tidak bisa terbakar seperti tempat abu rokok, mangkok dan
tempat tintaku, yang bisa jadi bukti perbuatanku, kumasukkan dalam bantal lunak dan
kemudian kubungkus dengan kain. Barang-barang ini kupisahkan dari barang-barang-ku
yang lain. Selain itu, aku harus membakar sebuah kasur dan dua selimut teba). Semua
barang-barang besar ini ku-pindahkan sepotong-sepotong ke belakang perpustakaan lalu
kuunggukkan di atas tanah. Aku pergi ke Kuil; Kencana untuk melepaskan pintu
belakang yang sudah kuceritakan sebelumnya. Paku itu tercabut satu demi satu dengan
mudah seolah-olah mereka tertancap dalam segumpal tanah lunak. Pintu yang lepas itu
kudukung dengan seluruh badanku dan permukaan kayu busuk yang basah
mengembang dan bergeser lembut dengan pipiku. Pintu tidak seberat kukira. Setelah
pintu itu kulepaskan, kuletakkan di atas tanah di samping gedung. Kini aku dapat
memandang ke bagian dalam Kuil Kencana. Di dalam sesak karena gelap. Pintu itu
lebamya hanya cukup untuk dimasuki orang dengan jalan miring. Aku merendam
tubuhku ke dalam kegelapan Kuil Kencana. Lalu sebentuk wajah yang aneh muncul di
hadapanku hingga aku gemetar karena takut. Karena aku memegang kayu geretan yang
dinyalakan mukaku terbayang di lemari kaca yang berisi model kuil itu. Saat itu
bukanlah saat yang tepat untuk kegiatan seperti itu, tapi aku berhenti dan memandang
nanap ke Kuil Kencana kecil yang ada di dalam kotak itu. Kuil kecil ini 312 diterangi
oleh cahaya bulan kayu geretanku. Bayang-bayangnya mengerdip-ngerdip dan rangka
kayunya yang halus merungkuk di sana dengan gelisah. Tapi tidak lama kemudian ia
ditelan oleh kegelapan. Geretanku habis terbakar. Anehnya, nyala merah yang terdapat
di ujung kayu geretan itu membuat aku bingung, lalu kayu geretan itu kuinjak-injak
sampai mati seperti yang dilakukan mahasiswa yang pernah kulihat di Kuil Myoshin.
Lalu kunyalakan geretan satu lagi. Aku lewat di depan ruang sutra dan patung tiga
Budha, lalu sampai ke tempat kotak persembahan. Kotak itu memiliki sejumlah kisi-
kisi, dan di antara kisi-kisi itu dapat dimasukkan mata uang. Dan kini karena cahaya
geretanku berkelap-kelip dalam gelap, bayang-bayang kisi-kisi ini beriak bagai
gelombang. Dalam kotak persembahan itu terdapat sebuah patung Shikaga Yoshimitsu,
yang sudah dianggap monumen nasional. Patung dengan sikap duduk itu mengenakan
jubah pendeta yang kedua lengannya melebar; sebuah tongkat berada dalam tangannya.
Mata pada kepala yang kecil dan dicukur licin itu terbuka luas dan lehemya tenggelam
dalam lengan longgar jubah itu. Mata patung itu berkilat-kilat kena cahaya geretanku,
tapi aku tidak takut. Patung kecil Yoshimitsu ini memang buruk sekah. Biarpun ia
sendiri dikeramatkan di sudut gedung yang ia bangun sendiri, tapi rupanya ia sudah
lama kehilangan hak milik dan pengawasannya. Aku membuka pintu barat yang menuju
ke Sosei. Seperti sudah kukatakan, pintu itu adalah pintu lipat yang dapat dibuka dari
dalam. Langit malam penuh hujan lebih cerah daripada di dalam Kuil Kencana. Dengan
bunyi berderik yang tertahan-tahan pintu basah itu membiarkan tiupan udara malam
biru tua yang penuh angin. Mata Yoshimitsu, kataku dalam hati waktu aku beriari ke
luar pintu itu menuju belakang perpustakaan. Mata Yoshimitsu. Semuanya akan
dikerjakan di hadapan mata itu. Di hadapan mata seorang saksi yang tak bisa melihat
dan sudah mati. Waktu aku beriari terdengar sesuatu yang berbunyi dalam kantongku.
Yang berbunyi itu kotak geretanku. Aku berhenti lalu menyelipkan setangan kertas di
bawah tutup kotak itu. Tindakan ini menghentikan bunyi itu. Dari kantong yang lain
tidak ada suara kedengaran. Di sana botol arsenikum dan pisau kantongku terbungkus
setangan dengan baik. Roti manis dan biskuit kacang tentu juga tidak memperdengarkan
suara, juga bungkus rokok yang berada dalam kantong bajuku yang berlengan pendek.
Lalu aku mulai melakukan pekerjaan mekanis. Aku memerlukan perjalanan empat kali
untuk memindahkan semua barang yang tadi kutumpuk di luar perpustakaan ke depan
patung Yosrrimitsu dalam Kuil Kencana. Mula-mula kubawa kasur dan kelambu yang
tongkatnya telah ditanggalkan. Sesudah itu kujemput kedua selimut tebal itu. Kemudian
kopor dan keranjang, lalu ketiga ikat jerami. Semuanya kutumpuk secara tidak teratur.
Jerami itu kuletakkan di antara kelambu dan kasur. Kelambu rupa-rupanya mudah sekali
terbakar, karena itu kukembangkan di atas semua barangku. Akhirnya aku kembali ke
belakang perpustakaan untuk menjemput bungkusan yang berisi pelbagai barang yang
susah terbakar. Kali ini bebanku kubawa ke pinggir kolam di sebelah timur Kuil
Kencana. Dari situ aku dapat melihat Karang Yohaku di hadapanku. Aku berdiri di
bawah setumpuk pohon pinus dan hampir dapat melindungi diriku dari hujan. Pantulan
langit malam memberikan keputihan yang guram pada permukaan kolam itu. Ganggang
yang tebal membuatnya 314 seperti daratan keras dan hanya berkat celah-celah antara
tutup yang tebal itu kita bisa mengetahui bahwa di bawahnya ada air. Di tempat aku
berdiri hujan turun tidak cukup deras untuk membuat riak. Kolam itu menguap dalam
hujan dan kelihatan seolah-olah terkembang sampai ke mana-mana tanpa batas. Udara.
penuh dengan kelembaban. Aku memungut sebuah kerikil lalu menjatuhkannya ke
dalam air. Terdengar bunyi "cemplung" yang keras sehingga udara sekitarku seolah
retak. Selama sesaat aku merungkuk dalam gelap, diam, dengan harapan akan dapat
meniadakan keributan yang kuciptakan sendiri dengan keheninganku itu. Aku
memasukkan tanganku ke dalam air, lalu ganggang yang ngilu-ngilu kuku bergantungan
di jariku. Mula-mula kuluncurkan tongkat kelambu ke dalam air dari jariku yang basah.
Sudah itu kuserahkan tempat abu rokokku ke dalam kolam itu, seolah-olah mau kucuci.
Dengan cara yang sama kujatuhkan mangkok dan tempat tintaku. Dengan demikian
masuklah semua barang yang hams dibuang ke dalam air. Yang tinggal di sampingku
hanya bantal dan kain yang kupergunakan untuk membungkus barang-barang itu. Tidak
ada lagi yang harus kukerjakan kecuali membawa kedua barang itu ke depan patung
Yoshimitsu dan sesudahnya membakar kuil itu. Rasa lapar yang kurasakan secara tiba-
tiba terlalu sesuai dengan apa yang sudah kuperkirakan, hingga aku bukannya merasa
puas, tapi malahan merasa sudah dikhianati. Aku masih membawa roti manis dan
biskuit kacang yang sudah mulai kumakan kemarin. Aku menyekakan tanganku yang
basah pada pinggir baju kausku yang berlengan pendek, lalu mulai makan makanan itu
dengan lahap. Aku sama sekali tidak sadar akan rasanya. Perutku berteriak minta makan
dan tidak perduli sama sekah soal rasa. Untunglah 315 aku masih bisa memusatkan
flkiranku untuk memasukkan roti manis itu buru-buru ke dalam mulutku. Jantungku
berdebar. Setelah makanan itu selesai kutelan, maka kusodok sedikit air dari kolam,
kuminum. Aku sudah berada di ambang pintu tugasku. Aku sudah menyelesaikan semua
persiapan untuk tugas itu dan kini aku berdiri di ujung persiapan itu dan tak perlu
mengerjakan apa-apa lagi selain menerjunkan diri ke dalam tindakan itu. Dengan sedikit
usaha aku akan- bisa melaksanakan pekerjaan itu. Aku sesaat pun tidak membayangkan
bahwa sebuah jurang yang cukup lebar dan dapat menelan seluruh kehidupanku kini
menganga di antara aku dan apa yang hendak kulakukan. Pada saat itu aku memandang
nanap pada Kuil Kencana untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir. Kuil itu
kelihatan guram dalam kegelapan malam yang berhujamffu dan garis-garisnya tidak
begitu jelas. Ia berdiri di dalam kehitaman seolah-olah merupakan kristalisasi malam itu
sendiri. Jika kupaksa mataku, maka aku dapat melihat Kukyocho, tingkat atas kuil, di
mana seluruh bangunan itu tiba-tiba jadi sempit, dan juga hutan tiang-tiang ramping
yang mengelilingi Choondo dan Hosui-in. Tapi segala bagian kecil kuil itu yang selama
ini begitu mengharukan aku, sudah lumer dalam kegelapan yang rata. Tapi, tatkala
kenanganku tentang keindahan makin lama makin hidup, kegelapan ini mulai
menyediakan diri untuk jadi latar belakang di depan mataku sehingga dapat mencipta-
kan penglihatanku semauku. Seluruh pengertianku tentang keindahan tersembunyi
dalam bentuk yang murung dan merungkuk ini. Berkat kekuatan ingatan, berbagai detik
keindahan mulai berkilauan satu demi satu keluar dari kegelapan yang melingkupi;
kilauan itu makin lama makin 316 meluas sampai seluruh kuil itu timbul di hadapanku
dalam cahaya waktu yang aneh, yang tidak merupakan siang maupun malam. Belum
pernah Kuil Kencana memperlihatkan diri padaku dalam bentuk yang begitu sempurna,
belum pernah aku melihat bagian-bagiannya yang terkecil berkilauan seperti ini.
Seolah-olah aku dianugerahi penglihatan seorang buta. Cahaya yang memancar dari kuil
itu sendiri membuat gedung itu jadi bening, dan sambil berdiri di pinggir kolam aku
dapat meiihat dengan jelas sekali lukisan bidadari pada atap bagian dalam Choondo dan
sisa-sisa lapisan emas di dinding Kukyocho. Bagian dalam Kuil Kencana yang halus
mulai berpadu akrab dengan bagian lainnya. Karena mataku dapat melingkupi
keseluruhannya, aku dapat melihat bangunan kuil itu dan garis besar polanya yang
jelas. Aku dapat melihat pengulangan-pengulangan yang sangat teliti sekali dan
dekorasi setiap bagian di mana pola itu dituangkan ke dalam bentuk. Aku melihat hasil
kontras dan simetri. Kedua tingkat yang lebih bawah, Hosui-in dan Choondo
mempunyai lebar yang sama dan biarpun antara keduanya terdapat sedikit perbedaan,
mereka dilindungi oleh talang yang lebar; tingkat yang satu bertupang ke atas
kawannya, sehingga mereka kelihatan bagai sepasang mimpi yang punya hubungan erat,
atau bagai kenangan pada dua kenikmatan yang sama dan pernah kita nikmati di masa
lampau. Tingkat kembar ini dimahkotai oleh tingkat ketiga, Kukyocho, yang melonjong
secara tiba-tiba. Di atas, di puncak atap yang ditutupi sirap, burung funiks tembaga yang
disepuh emas itu menghadap malam yang panjang dan kelam. Bahkan ini belum bisa
memuaskan arsiteknya. Di sebelah barat Hosui-in ia tambahkan Sosei kecil, yang
menjulur dari kuil itu bagai sebuah anjungan tergantung. Ia seolah-olah mengerahkan
semua kekuatan keindahannya untuk memecah- 317 kan simetri gedung itu. Peranan
Sosei dalam keseluruhan arsitektur ialah untuk mengadakan perlawanan metafisik.
Biarpun ia tidak menjorok jauh sekali dari kolam, kelihatannya ia seolah-olah lari untuk
selama-lamanya dari pusat Kuil Kencana. Sosei itu tak ubahnya seekor burung yang
membu-bung pergi meninggalkan bangunan gedung itu, laik seekor burung yang
beberapa saat sebelumnya telah mengembangkan sayapnya dan kini menyelamatkan diri
ke permukaan kolam, ke arah semua yang bersifat duniawi. Gunanya Sosei itu adalah
untuk mengadakan jembatan yang menghubungkan tata yang menguasai dunia dan hal-
hal seperti nafsu syahwat, yang betul-betul merupakan kekacauan. Ya, itulah. Ruh Kuil
Kencana ini mulai dengan Sosei yang menyerupai sebuah jembatan yang terputus
separuh jalan; lalu ia membentuk sebuah menara tiga tingkat; lalu sekali lagi ia lari dari
jembatan itu. Karena kekuasaan nafsu berahi yang hebat sekali, yang terbayang pada
permukaan kolam ini, adalah sumber kekuatan tersembunyi yang telah membangun
Kuil Kencana; tapi setelah kekuatan ini ditertibkan dan menara bertingkat tiga itu
terbentuk, ia tak sanggup lama untuk bermukim di sana dan baginya tak ada jalan lain
kecuali menyelamatkan diri mengikuti Sosei kembali ke permukaan kolam, kembali
kerlap-kerlip nafsu berahi, pulang ke kampung halamannya. Di masa lampau, setiap kali
aku memperhatikan kabut pagi atau kabut senja yang mengelana di atas kolam itu, aku
dirasuki oleh fikiran ini — fikiran, bahwa ini adalah permukiman kekuatan syahwat
yang tak tepermanai, yang aslinya telah membangun Kuil Kencana. Dan keindahan
menyatakan pergulatan dan pertentangan dan ketidakserasian di setiap bagian gedung
ini — selanjutnya, keindahanlah yang menguasai mereka semua! Kuil Kencana ini
dibangun dengan bubuk emas di kala malam yang panjang 318 dan gelap, sama seperti
sutra yang dengan cermat diukirkan dengan bubuk emas ke dalam halaman biro tua
sebuah buku. Tapi aku tidak tahu, apa keindahan di satu fihak sama dengan Kuil
Kencana itu sendiri, atau sebaliknya berpadu hakikat dengan malam kehampaan yang
mengelilingi kuil itu. Mungkin sekali keindahan adalah kedua-duanya. Ia bagian-bagian
tersendiri tapi sekaligus juga seluruh bangunan, ia Kuil Kencana dan sekaligus malam
yang melilitkan diri pada Kuil Kencana itu. Setelah mengingat ini, maka aku merasa
bahwa rahasia keindahan Kuil Kencana yang di masa lalu begitu menyiksa aku, kini
sudah mendekati pemecahannya. Jika diteliti keindahan setiap bagian kecil masing-
masing — tiang-tiangnya, terali, kisi-kisi, pintu berbingkai, jendela berukir, atau
berbentuk kerucut — Hosui-in, Choondo, Kukyocho, Sosei — bayang-bayang kuil -di
atas kolam, pulau-pulau kecil, pohon-pohon pinus, ya, bahkan tempat menambatkan
perahu kuil — keindahan tidak pernah lengkap dalam bagian-bagian kecil yang mana
pun jua; karena setiap bagian meramalkan keindahan bagian berikutnya. Keindahan
masing-masing bagian selalu diisi dengan rasa kegamangan. Ia merindukan kesempur-
naan, tapi ia tidak mengenai kelengkapan dan selalu dirayu bagi keindahan berikutnya,
keindahan yang tak dikenal. Ramalan keindahan yang terkandung dalam satu bagian
dihubungkan dengan ramalan keindahan berikutnya, hingga berbagai ramalan
keindahan yang tidak berwujud menjadi pola dasar Kuil Kencana ini. Ramalan-ramalan
itu adalah tanda kehampaan, kenihilan. Kenihilan adalah bangunan pokok keindahan
ini. Karena dari tidak selesainya berbagai bagian dari keindahan ini tumbuhlah dengan
sen dirinya suatu ramalan kenihilan, dan gedung yang rapuh ini, yang dibuat pula dari
papan yang paling ramping, gemetar menghadapi kenihilan ini, bagai kalung
bertatahkan permata yang gemetar dalam 319 Tapi belum pernah masa keindahan Kuil
Kencana itu habis! Keindahannya selalu menggema di salah satu tempat. Bagai
seseorang yang menderita karena selalu mendengar bunyi lonceng di telinganya, begitu
juga aku mendengar bunyi keindahan Kuil Kencana itu, terus-menerus, di mana pun aku
berada hingga aku jadi terbiasa padanya. Jika keindahan ini kita perbandingkan dengan
suara, maka gedung itu tak ubahnya sebuah genta emas kecil yang berdenting terus-
menerus selama lima setengah abad, atau bagai sebuah kecapi kecil. Bagaimana kalau
bunyi itu berhenti? Aku digoda oleh suatu kerisauan. Di atas Kuil Kencana yang
berwujud dalam gelap masih dapat kulihat dengan jelas Kuil Kencana dalam angan-
anganku. Ia belum lagi berhenti berkilauan. Terali Hosui-in di pinggir air mengundurkan
diri dengan segala kerendahan hati, sedang-kan di atas talangnya terali Choondo, yang
ditupang oleh sendi-sendi gaya India, membusungkan dadanya sambil melamun ke arah
kolam. Talang itu diterangi oleh pantulan kolam, dan kerlip-kerlip air memantulkannya
dengan ragu-ragu. Jika Kuil Kencana memantulkan matahari senja atau berkilauan
dalam cahaya bulan, maka cahaya air itulah yang membuat seluruh bangunan kelihatan
seolah-olah mengam-bang dengan ajaib dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Ikatan
•bentuk kuil yang kuat itu dilonggarkan oleh pantulan air yang beriak, dan pada saat-
saat seperti itu Kuil Kencana seolah-olah dibangun dari angin, air dan api yang bergerak
terus-menerus. Keindahan Kuil Kencana tak bisa ditandingi. Dan aku tahu kini dari
mana kerisauanku itu datangnya. Keindahan itu berusaha untuk terakhir kalinya
menjalankan kekuasaannya atas diriku dan mengikat aku dengan impotensi yang begitu
320 sering kualami di masa lampau. Kaki dan tanganku menjauh dari apa yang ada di
hadapanku. Beberapa saat sebelumnya, aku hanya berada dalam jarak selangkah daii
tindakanku, tapi kini aku kembali mengundurkan diri ke kejauhan. "Aku telah
menyelesaikan semua persiapan," gumamku pada diriku sendiri, "dian hanya berada
satu langkah dari tindakanku. Setelah memimpikan tindakan itu dengan begitu lengkap,
setelah menghidupkan impian itu, apa masih perlu ia dipindahkan pada suatu perbuatan
lahir? Bukankah di tingkat ini perbuatan seperti itu tidak ada gunanya? "Kashiwagi
mungkin benar waktu ia mengatakan bahwa yang merobah dunia bukanlah perbuatan,
tapi pengetahuan. Tapi ada semacam pengetahuan yang mencoba mengikuti perbuatan
sampai ke batas-batas yang paling mungkin. Penge-tahuanku beginilah sifatnya.
Pengetahuan seperti inilah yang membuat perbuatan jadi lumpuh sama sekah. Biarpun
aku sudah mengadakan semua persiapan dengan teliti, apa sebab-nya tidak terletak
dalam pengetahuan yang menentukan, bahwa aku tidak perlu bertindak dengan segala
kesungguhanV "Ya, itu dia. Bagiku kini perbuatan tidak lebih dari sesuatu yang
berkelebihan. Ia telah melompat ke luar kehidupan, ia melompat lepas dari keinginanku,
dan kini ia tegak di hadapanku, bagai sebuah pesawat besi dingin yang terpisah,
menunggu dirinya digerakkan. Rasanya seolah-olah antara aku dan tindakanku tidak ada
hubungan sedikit pun jua. Sampai tahap ini, yang ada selalu aku, tapi mulai tahap ini
bukan aku lagi. Bagaimana aku bisa berhenti jadi diriku sendiri?" Aku bersandar pada
pangkal pohon pinus. Kulit pohon itu yang basah dan dingin memukau aku. Aku merasa
bahwa tanggapanku ini, kesejukan ini - adalah diriku sendiri. Dunia sudah berhenti
dalam keadaannya seperti sediakala; di sana tidak ada lagi nafsu, dan aku, juga sudah
puas sekah. 321 Apa yang harus kuperbuat dengan kerisauan yang berat ini, kataku
dalam hati. Aku merasa demam dan lemah, dan tanganku tidak mau bergerak seperti
kehendakku. Pasti aku sakit. Kuil Kencana masih kemilau di hadapanku, sama seperti
pemandangan Jissokan yang pernah dilihat oleh Shuntokumaru. Dalam kegelapan
malam kebutaannya, Shuntokumaru melihat matahari turun main-main bernyala redam
di atas Laut Namba. Ia melihat Awaji Eshima, Suma Akashi bahkan Laut Kii yang
memantulkan matahari senja di bawah langit tak berawan. Tubuhku seakan-akan
lumpuh dan air mata mengaiir tak putus-putusnya. Aku tidak keberatan tinggal di sini
dalam keadaan begun sampai pagi datang dan aku ditemui orang. Aku tidak akan
mengajukan satu kata permintaan maaf pun. Sampai saat itu aku telah bicara panjang
lebar tentang bagaimana impotennya ingatanku semenjak masa kanak-kanak-ku, tapi
aku harus tegaskan bahwa sebuah ingatan tiba-tiba jadi gesit dan memiliki kekuatan
menghidupkan yang besar sekali. Kelampauan tidak hanya menarik kita ke kelampauan.
Ada kenangan dari masa lampau yang punya perbuatan yang kuat, dan jika kita yang
hidup di hari ini menyentuhnya, ia tiba-tiba jadi tegang lalu melantingkan kita ke masa
depan.
Sementara tubuhku rupa-rupanya telah jadi bebas, fikiranku masih menggerayang di
salah satu tempat dalam ingatanku. Sejumlah kata muncul di permukaan, lalu penyap.
Aku seolah-olah menjangkaunya dengan tangan jiwaku, lalu tersembunyi kembali.
Kata-kata itu memanggil aku. Ia berusaha mendekati aku supaya aku berusaha sebaik-
baiknya. "Lihat ke belakang, lihat ke luar, dan jika ketemu segera bunuh!" Ya, kalimat
pertama berbunyi seperti itu. Bagian termasyhur 322 dalam bab Rinsairoku. Lalu kata-
kata yang masih ketinggalan itu muncul dengan lancar: "Jika kau ketemu Budha, bunuh
Budha! Kalau kau ketemu leluhurmu, bunuh leluhurmu! Kalau kau ketemu murid
Budha, bunuh murid itu! Kalau kau ketemu ayah dan ibumu, bunuh ayah dan ibumu!
Kalau kau ketemu saudaramu, bunuh saudaramu! Hanya dengan demikian kau akan
mendapat keselamatan. Hanya dengan demikian kau akan selamat dari belenggu
kebendaan dan jadi bebas." Kata-kata itu melantingkan aku dari keadaan impoten yang
telah menyungkupku. Tiba-tiba seluruh tubuhku tersulut dengan kekuatan. Sebagian
fikiranku masih mengatakan padaku tidak ada gunanya melakukan ini, tapi kekuatan
yang baru kutemui tidak takut pada kesia-siaan. Justru karena sia-sia, maka tindakan itu
harus kujalankan. Kain yang terletak di sampingku kugulung lalu kukepit di bawah
lenganku bersama bantal. Lalu aku berdiri. Aku memandang ke arah Kuil Kencana. Kuil
kemilau angan-anganku mulai mengabur. Terali-terali itu lambat-laun ditelan kegelapan
dan hutan tiang-tiang ramping kehilangan kejelasannya. Air, cahaya sirna dari air dan
pantulannya di atas punggung talang juga lenyap. Tidak lama kemudian semua bagian
kecil telah tersembunyi dalam kegelapan dan yang tinggal dari Kuil Kencana itu tidak
lebih dari sebuah garis besar yang samar dan hitam. Aku beriari. Aku beriari mengitari
bagian utara kuil. Kakiku mulai terbiasa pada tugasnya dan aku tidak tersandung.
Kegelapan membuka di hadapanku secara lambat-laun dan membimbing aku. Dari
pinggir Sosei aku melompat ke dalam Kuil Kencana melalui pintu yang tergantung di
jalan masuk sebelah barat dan kubiarkan terbuka. Kain dan bantal itu kulemparkan 323
atas tumpukan yang sudah kusiapkan. Jantungkan berdebar-debar dengan gembira dan
tanganku yang basah gemetar. Di samping itu, geretanku basah. Yang pertama tidak mau
menyala. Yang kedua patah waktu ia mau menyala. Yang ketiga menyala, dan karena
tanganku kulindungkan terhadap angin ia menerangi ruangan antara jarijariku. Lalu aku
harus mencerai ikat an jerami. Karena, biarpun ketiga ikatan jerami itu aku sendiri yang
menggotongnya ke gedung ini dan meletakkannya di berbagai tempat, aku sudah lupa
sama sekah tempat jerami itu kuletakkan. Waktu jerami itu kutemui, geretanku sudah
habis terbakar. Aku merungkuk dekat jerami dan kali ini aku menyalakan dua batang
geretan sekaligus. Nyala api itu menggambarkan bayangan-bayangan yang bergalau
pada tumpukan jerami itu, menimbulkan warna cemerlang pada tempat-tempat yang
liar, dan menyebar dengan saksama ke segala arah. Sementara asap menjulang ke udara,
api itu menyembunyikan diri dalam gumpalan putihnya. Lalu, dengan tak disangka-
sangka, jauh dari tempat aku berdiri, lidah api melonjak, membakar kehijauan kelambu.
Aku merasa seolah-olah segalanya di sekitarku jadi hidup. Pada saat itu fikiran jadi
jernih sama sekali. Persediaan geretanku terbatas. Aku beriari ke sudut lain kamar itu,
menyalakan geretan dengan hati-hati lalu membakar tumpukan jerami yang berikut. Api
baru yang melonjak menambah semangatku. Di masa lalu, kalau aku keluar bersama
kawan-kawanku dan kami membuat api unggun, aku selalu senang mengerjakan tugas
itu. Dalam Hosui-in kelihatan Ionjakan bayang-bayang besar. Patung-patung Tiga
Budha Keramat, Amida, Kannon dan Seishi menyala merah. Patung kayu Yosnimitsu
menyinarkan 324 matanya; dan di belakangnya bayang-bayangnya mengepak- ngepak.
Aku hampir-hampir tidak merasakan hawa panas. Waktu kulihat nyala yang gigih itu
berpindah ke peti persembahan, aku merasa bahwa semuanya akan berjalan dengan
baik. Aku lupa akan arsenikum dan pisau kantong. Tiba-tiba aku beroleh fikiran untuk
mati di Kukyocho dengan dikitari api. Lalu aku beriari meninggalkan api dan naik ke
tangga yang sempit itu. Aku tidak sempat bertanya pada diriku sendiri kenapa pintu
yang menuju ke Choondo terbuka. Penunjuk jalan tua itu lupa mengunci pintu tingkat
kedua. Asap melingkar-lingkar ke punggungku. Sambil batuk aku memandang patung
Kannon yang diciptakan oleh Keishin dan bidadari-bidadari yang lagi main musik yang
terlukis di atas loteng. Aku beriari ke tangga berikutnya lalu mencoba membuka pintu
Kukyocho. Pintu itu tidak mau terbuka. Jalan masuk ke tingkat tiga terkunci dengan
kuat. Aku mengetuk pintu. Ketukan itu mestinya keras sekali, tapi bunyinya tidak
sampai ke telingaku. Dengan sekuat tenaga kudesak-desak pintu itu. Aku merasa seolah-
olah ada orang yang akan membukakan pintu Kukyocho dari dalam untukku. Yang
kumimpikan di Kukyocho adalah sebuah tempat untuk mati, tapi karena asap sudah
mulai mengejar-ngejar, aku memukul pintu itu sejadi-jadinya, seolah-olah yang kucari
adalah tempat untuk menyelamatkan diri. Yang ada di balik pintu itu hanya sebuah
kamar kecil. Dan pada saat itu aku bermimpi dengan jelas bahwa dinding kamar itu
dilapisi sepenuhnya dengan lembaran-lembaran emas, biarpun aku tahu betul bahwa
dinding itu sudah hampir terkelupas seluruhnya. Tidak bisa kujelaskan bagaimana
dalam-nya kerinduanku pada kamar kecil yang bersinar itu sewaktu aku berdiri
memukuli pintu itu. Sekiranya aku bisa masuk, kataku dalam hati, maka semuanya akan
baik jalannya. Sekiranya aku bisa masuk kamar kecil emas itu! Aku memukul sekuat
tenaga. Tanganku tidak cukup kuat, lalu aku menghimpitkan seluruh tubuhku ke pintu
itu. Tapi dia masih juga tidak mau terbuka. Choondo telah penuh dengan asap. EH
bawah kakiku kudengar bunyi geretak-geretak api. Aku lemas karena asap dan hampir-
hampir pingsan. Sambil batuk-batuk aku terus memukul pintu. Tapi pintu itu tidak juga
mau terbuka. Ketika datang suatu kesadaran dalam diriku bahwa aku ditolak, aku tidak
ragu-ragu lagi. Aku turun ke tangga. Aku beriari turun ke Hosui-in menempuh asap
yang bergumpal-gumpal; aku rupa-mpanya sudah berjalan melewati api itu sendiri.
Waktu akhirnya sampai ke pintu barat, aku melompat ke luar. Lalu aku beriari bagai
anak panah tanpa menyadari ke mana arahku. Aku lari. Betul-betul mengherankan
berapa jauh aku lari tanpa berhenti untuk beristirahat. Aku bahkan tidak bisa ingat lagi
tempat-tempat mana yang kulewati. Rupa-rupanya aku telah keluar melewati gerbang
belakang di samping Menara Kyohoku di bagian utara halaman kuil, sudah itu rupanya
aku lewat Ruang Myoo, mendaki jalan gunung yang dibatasi oleh rumput dan azalea
hingga sampai ke puncak Gunung Hidari Daimonji. Ya, jelas, di puncak Gunung Hidari
Daimonjilah aku menelentang di ladang bambu dalam bayang-bayang pohon pinus
merah, dan berusaha menenangkan jantungku yang berdebar keras. Inilah gunung yang
melindungi Kuil Kencana dari utara. Teriakan beberapa ekor burung yang terkejut
membuat aku siuman. Atau mungkin juga seekor burung yang terbang dekat sekali
dengan mukaku, dengan kelepak sayapnya yang besar. 326 Aku tertelentang di sana
sambil memandang nanap ke langit. Burung-burung banyak sekali terbang melewati
dahan -dahan pinus merah dan serpihan api yang tipis, yang sudah mulai jarang,
mengambang di udara di atas kepalaku. Aku duduk lalu memandang ke jurang arah Kuil
Kencana. Sebuah suara yang aneh menggema dari sana. Bunyinya seperti bunyi petasan.
Bunyinya seperti bunyi orang banyak yang dengan bersama-sama serentak meretak.
Dari tempat aku duduk Kuil Kencana tidak kelihatan. Yang bisa kulihat hanya asap yang
berpusar dan api besar yang menjulang ke langit. Serpihan-serpihan api melayang-
layang antara pepohonan, dan langit Kuil Kencana seolah-olah ditaburi dengan pasir
emas. Aku menyilangkan kakiku lalu merenung tamasya itu lama sekali. Waktu aku
sadar, kulihat badanku melepuh di mana-mana, tergores-gores, dan mengucurkan darah.
Jari-jariku juga penuh darah. Rupa-rupanya jari-jariku terluka waktu aku memukuli
pintu kuil. Aku menjilat lukaku bagai seekor binatang yang baru menyelamatkan diri
dari pemburunya. Aku mencari-cari dalam kantongku, lalu kukeluarkan botol arsenikum
yang kubungkus dalam sapu tangan dan pisau kantongku. Keduanya kulemparkan ke
dalam jurang. Lalu kulihat dalam kantongku yang sebelah lagi ada sebungkus rokok.
Kukeluarkan sebatang lalu aku mulai mero-kok. Aku merasa seperti seseorang yang
beristirahat untuk merokok setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan. Aku mau hidup.

SELESAI