Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PENDAHULUAN

DIARE

2019

NAMA : APRIYANTI

NIM : 01.2016.003

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

KURNIA JAYA PERSADA

PALOPO

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih

banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk

cair atau setengah padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut

World Health Organization

(WHO) tahun 1980, diare adalah buang air besar encer lebih dari 3

kali sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut

dan kronis. Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan

yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan

bentuk tinja yang encer atau cair.

Diare merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai di

masyarakat. Penyakit ini terutama disebabkan oleh makanan dan minuman

yang terkontaminasi akibat akses kebersihan yang buruk. Di dunia,

diperkirakan sekitar 2,5 miliar orang mempunyai akses kebersihan yang

buruk. Faktor ibu berperan sangat penting dalam kejadian diare pada balita.

Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan balita. Jika balita terserang diare

maka tindakan- tindakan yang ibu ambil akan menentukan perjalanan


penyakitnya. Tindakan tersebut dipengaruhi berbagai hal, antara lain adalah

tingkat pendidikan, pengetahuandan tindakan pencegahan tentang diare.

B. Rumusan Masalah

1. Apa konsep medis diare?

2. Bagaimana bentuk asuhan keperawatan teori diare?

3. Bagaimana bentuk asuhan keperawatan kasus diare?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep medis diare?

2. Untuk mengetahui Bagaimana bentuk asuhan keperawatan teori diare?

3. Untuk mengetahui Bagaimana bentuk asuhan keperawatan kasus diare?


BAB II

TINJAUAN DIARE

A. Definisi

Diare didefenisikan sebagai suatu kondisi di mana terjadi perubahan dalam

kepadatan dan karakter tinja dan tinja air di keluarkan tiga kali atau lebih per

hari (Ramaiah, 2007:13)

Diare tejadi akibat pencernaan bakteri E.COLI terhadap makanan. Bakteri

ini sangat senang berada dalam tinja manusia, air kotor, dan makanan basi. Untuk

mencegah terjadinya diare, makanan yang diberikan kepada anak harus hygenis.

Jangan lupa juga untuk selalu mencuci tangan dengan bersih (Widjaja. 2005:26)

Sedangkan menurut Suriadi (2006:80) menyatakan bahwa diare adalah

kehilanangn cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuiensi

satu kali atau lebih buang air bentuk tinja encer atau cair.

Menurut Suradi, dan Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan

dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi

karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau

cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal

yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai
atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses

inflamasi pada lambung atau usus.

B. Etiologi

Menurut Dr. Haikin Rachmat, MSc., penyebab diare dapat diklasifikasikan

menjadi enam golongan:

1. Infeksi yang disebabkan bakteri, virus atau parasit

2. Adanya gangguan penyerapan makanan atau disebut malabsorbsi

3. Alergi

4. Keracunan bahan kimia atau racun yang terkandung dalam makanan

5. Imunodefisiensi yaitu kekebalan tubuh yang menurun

6. Penyebab lain

Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (PPML), Ditjen

Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL) Depkes

yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang disebabkan infeksi dan

keracunan. Setelah melalui pemeriksaan laboratorium, sumber penularannya

berasal dari makanan atau minuman yang tercemar virus. Konkretnya, kasus

diare berkaitan dengan masalah lingkungan dan perilaku. Perubahan dari musim

kemarau ke musim penghujan yang menimbulkan banjir, kurangnya sarana air

bersih, dan kondisi lingkungan yang kurang bersih menyebabkan meningkatnya

kasus diare. Fakta yang ada menunjukkan sebagian besar pasien ternyata tinggal

di kawasan kurang bersih dan tidak sehat.


Saat persediaan air bersih sangat terbatas, orang lantas menggunakan air

sungai yang jelas-jelas kotor oleh limbah. Bahkan menjadi tempat buang air

besar. Jelas airnya tak bisa digunakan. Jangan heran kalau kemudian penderita

diare sangat banyak karena menggunakan air yang sudah tercemar oleh kuman

maupun zat kimia yang meracuni tubuh. Masalah perilaku juga bisa

menyebabkan seseorang mengalami diare. Misalnya, mengkonsumsi makanan

atau minuman yang tidak bersih, sudah tercemar, dan mengandung bibit

penyakit. Jika daya tahan tubuh ternyata lemah, alhasil terjadilah diare.

Diare dapat disebabkan dari faktor lingkungan atau dari menu makanan.

Faktor lingkungan dapat menyebabkan anak terinfeksi bakteri atau virus

penyebab diare. Makanan yang tidak cocok atau belum dapat dicerna dan

diterima dengan baik oleh anak dan keracunan makanan juga dapat menyebabkan

diare.

Kadang kala sulit untuk mengetahui penyebab diare. Diare dapat

disebabkan oleh infeksi pada perut atau usus. Peradangan atau infeksi usus oleh

agen penyebab :

1. Faktor infeksi : Bakteri, virus, parasit, kandida

2. Faktor parenteral : infeksi di bagian tubuh alin (OMA sering terjadi pada

anak-anak)

3. Faktor malbabsorpsi : karbohidrat, lemak, protein

4. Faktor makanan : makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran

yang dimasak kurang matang, kebiasaan cuci tangan


5. Faktor psikologis : rasa takut, cemas

C. Patofisiologi

Penyakit ini dapat terjadi karena kontak dengan tinja yang terinfeksi secara

langsung, seperti :

1. Makan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari

oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan kotor

2. Bermain dengan mainan terkontaminasi apalagi pada bayi sering memasukkan

tangan/mainan/apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan

dipermukaan udara sampai beberapa hari

3. Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan

air yang benar

4. Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar Penyebab

gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus

enteris,VirusNorwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella,

Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia,

Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan

infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana

merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah adanya peningkatan

bising usus dan sekresi isi usus sebagai upaya tubuh untuk mengeluarkan agen

iritasi atau agen infeksi. Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin
di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi

diare dan absorpsi air serta elektrolit terganggu. Sebagai homeostasis tubuh,

sebagai akibat dari masuknya agen pengiritasi pada kolon, maka ada upaya untuk

segera mengeluarkan agen tersebut. Sehingga kolon memproduksi mukus dan

HCO3 yang berlebihan yang berefek pada gangguan mutilitas usus yang

mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri

adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan

asam basa, gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi darah.

Proses terjadinya Gastroenteritis dapat disebabkan oleh berbagai

kemungkinan faktor diantaranya :

1. Faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganime (kuman) yang

masuk ke dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus

dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan

usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yangakhirnya

mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan danelektrolit.

Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan system

transport aktif dalam usus halus, sel di dalam mukosa intestinal mengalami

iritasi dan meningkatnya cairan dan elekrtolit. Mikroorganisme yang masuk

akan merusak sel mukosa intestinalsehingga menurunkan area permukaan

intestinal, perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan

dan elektrolit
2. Faktor malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang

mengakibatkan tekanan osmotic meningkat sehingga terjadipergeseran air dan

eletrolit ke ronga usus yang dapat meningkatkan isirongga usus sehingga

terjadilah Gastroenteritis.

3. Faktor makanan ini dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap

dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan peristaltic usus yang

mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang

kemudian menyebabkan Gastroenteritis

4. Faktor psikologi dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristalticusus

yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yangdapat

mnyebabkan Gastroenteritis (Hidayat Azis, 2006)

D. Manifestasi Klinis

1. Bising usus meningkat, sakit perut atau mules

2. Diare, vomitus, tanda dehidrasi (+)

3. Asidosis, hipokalemia, hipotensi, oliguri, syok, koma

4. Pemeriksaan mikro organisme (+) ( misalnya amoeba)

5. Bisa ada darah dan mukus (lendir) dalam feses (misalnya pada disentri

amuba)

6. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer

7. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi : turgor kulit jelek (elastisitas kulit

menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering


8. Kram abdominal

9. Demam

10. Mual dan muntah

11. Anoreksia

12. Lemah

13. Pucat

14. Perubahan tanda-tanda vital; nadi dan pernapasan cepat

15. Menurun atau tidak ada pengeluaran urine

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,

hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare

yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat

dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi

berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan

merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi

tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan

dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam

karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat

pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam

(pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa

renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah

menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin

dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga

dapat timbul aritmia jantung.

Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai

timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit

nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

E. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang

1. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan

2. Kultur tinja

3. Pemeriksaan elektrolit, BUN, creatinin, dan glukosa

4. Pemeriksaan tinja; pH, lekosit, glukosa, dan adanya darah

F. Penatalaksanaan

Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam

mengatasi pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau

oral rehidration solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian

ini segera apabila gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya

sendiri di rumah. Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru

dilakukan setelah gejala dehidrasi nampak.


Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara

intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan

kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat

yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai

dari biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk

rumah sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon

time untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan

kondisi pasien kearah yang fatal

Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS.

Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab

diare dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).

Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia

lamblia, Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional,

artinya antibiotik yang diberikan dapat membasmi kuman.

Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan

antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan

untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan

suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut

kalau kondisi sudah membaik.

Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Banyak minum

2. Rehidrasi perinfus
3. Antibiotika yang sesuai

4. Diit tinggi protein dan rendah residu

5. Obat anti kolinergik untuk menghilangkan kejang abdomen

6. Tintura opium dan paregorik untuk mengatasi diare (atau obat lain)

7. Transfusi bila terjadi perdarahan

8. Pembedahan bila terjadi perforasi

9. Observasi keseimbangan cairan

10. Cegah komplikasi

G. Komplikasi

Kondisi ini jika diatasi dengan cepat dengan perawatan dan pengobatan yang

benar, kemungkinan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari. Namun jika tidak

ditangani dan didiamkan begitu saja, ini akan menyebabkan diare kronis dengan

risiko berikut :

1. Kehilangan banyak nutrisi

Diare yang kronis dapat menyebabkan Anda mengalami dehidrasi.

Pasalnya, buang air berlebih dalam waktu lebih dari sebulan bisa

menyebabkan tubuh Anda kehilangan terlalu banyak cairan.

Selain cairan, Anda juga bisa kehilangan vitamin, mineral, protein,

dan lemak ketika terkena kondisi ini. Diare kronis juga dapat menurunkan

berat badan jika tubuh Anda tidak menyerap cukup karbohidrat dan kalori dari

makanan yang Anda makan.


2. Perdarahan dan iritasi

Diare kronis dapat menyebabkan iritasi pada usus besar atau rektum.

Iritasi bisa berupa luka yang menyebabkan jaringan di usus rapuh. Iritasi ini

juga dapat membuat perdarahan di usus maupun pada feses yang keluar.

3. Dehidrasi

Ketika Anda sedang buang-buang air, Anda dapat mengalami

dehidrasi karena kehilangan banyak cairan tubuh.

Dehidrasi ringan dapat mudah diatasi dengan memperbanyak asupan

cairan. Baik dari air putih, oralit, atau makanan berkuah.

Namun, diare kronis dapat menyebabkan dehidrasi parah yang

mengakibatkan penurunan volume urin, urin gelap, kelelahan, sakit kepala

ringan, dan tekanan darah rendah.


DAFTAR PUSTAKA

Bernardo, Simatupang. 2011. Makalah Diare. Diakses tanggal 30 September 2012

di http://bernardosimatupang.wordpress.com

Midwery. 2009. Diare. Diakses tanggal 20 juli 2019 di http://midwifery-

materials.blogspot.com

Ramaiah, safitri, 2007. All You Wanted To Know About Diare. Jakarta: Bhuana Ilmu

Popular.

Rizky, Kurniadi. 2009. Makalah Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare. Diakses

tanggal 30

Suryadi, dkk. 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta:percetakan penebar

swadaya.

Widjaja. 2007. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan

Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN DIARE

A. Pengkajian

1. Data Umum

Identitas klien meliputi nama, umur, alamat, agama, tanggal masuk

RS/RB,No. Rekam medis, Diagnosis medis dan bangsal

2. Pengkajian 13 Domain Nanda

a. Health Promotion

1) Keadaan umum (Alasan masuk Rumah Sakit,TTV)

2) Riwayat masa lalu (penyakit, kecelakaan,dll)

3) Riwayat pengobatan

4) Kemampuan mengontrol kesehatan (Yang dilakukan bila sakit, Pola

hidup)

5) Faktor Sosial Ekonomi (Penghasilan/asuransi kesehatan, dll)

6) Pengobatan sekarang :

b. Nutrition

1) A (Antropometri) meliputi BB, TB, LK, LD, LILA, IMT

2) B (Biochemical) meliputi data laboratorium yang abnormal :

3) C (Clinical) meliputi tanda-tanda klinis rambut, turgor kulit, mukosa

bibir, konjungtiva anemis/tidak :


4) D ( Diet) meliputi nafsu, jenis, frekuensi makanan yang diberikan

selama dirumah sakit :

5) E (Energy) meliputi kemampuan klien dalam beraktivitas selama

dirumah sakit :

6) F (Faktor) meliputi penyebab masalah nutrisi : (Kemampuan

menelan, mengunyah, dll) :

7) Penilaian Status Gizi :

8) Pola Asupan Cairan :

9) Cairan Masuk :

10) Cairan Keluar

11) Penilaian Status Cairan (Balance Cairan) :

12) Pemeriksaan Abdomen (IPPA)

c. Elimination

1) System Urinary (Pola pembuangan urine, Riwayat kelainan kandung

kemih, pola urine, retensi urine)

2) Sisten Gastrointestinal (Pila eliminasi, konstipasi dan faktor

penyebab konstipasi)

3) System Integument (Kulit)

d. Activity/Rest

1) Istirahat/Tidur (Jam Tidur, Insomnia, Pertolongan Untuk Merangsang

Tidur)
2) Aktivitas (Pekerjaan, Kebiasaan Olahraga, ADL, Kekuatan Otot,

ROM, Resiko Untuk Cidera)

3) Cardio Respons (Penyakit Jantung, Edema Ekstremitas, Tekanan

Darah Dan Nadi, Tekanan Vena Jugularis, Pemeriksaan Jantung

(IPPA)

4) Pulmonary Respon (Penyakit System Nafas, Penggunaan O2,

Kemampuan Bernafas, Gangguan Pernafasan, Pemeriksaan Paru-

Paru (IPPA)

e. Perception (Cognition

1) Orientasi/kognisi (Tingkat pendidikan, Kurang pengetahuan,

Pengetahuan tentang penyakit, Orientasi)

2) Sensasi/persepsi (Riwayat penyakit jantung, sakit kepala,

penggunaan alat bantu, penginderaan)

3) Communication (Bahasa yang digunakan, kesulitan berkomuikasi)

f. Selfperception

Self-concept/self-estrem (Perasaan cemas/takut, Perasaan putus

asa/kehilangan, keinginan untuk mencederai, adanya luka/cacat)

g. Role Relationship

Peranan hubungan (Status hubungan, orang terdekat, perubahan

konflik/peran, perubahan gaya hidup, interaksi dengan orang lain)


h. Sexuality

Identitas seksual (Masalah/disfungsi seksual, periode menstruasi, KB,

pemeriksaan SADARI, pemeriksaan papsmear)

i. Coping/Stress Tolerance

Coping respon (Rasa sedih/takut/cemas, kemampuan untuk mengatasi,

perilaku yang menampakkan cemas)

j. Life Principles

Nilai kepercayaan (Kegiatan keagamaan yang diikuti, kemampuan untuk

berparsitipasi, kegiatan kebudayaan, kemampuan memecahkan masalah)

k. Safety/Protection

Alergi (Penyakit autoimmune, tanda infeksi, gangguan thermoregulasi,

gangguan/resiko)

l. Comfort

1) Kenyamanan/Nyeri (PQRST)

2) Rasa tidak nyaman lainnya

3) Gejala yang menyertai

m. Growth/Development (Pertumbuhan dan perkembangan)

3. Pengkajian Primer

a. Airway

1) Pantikan kepatenan jalan napas

2) Siapkan alat bantu untuk menolong jalan napas jika perlu


3) Jika terjadi perburukan jalan napas segera hubungi ahli anestesi dan

bawa ke ICU

b. Breathing

1) Kaji respiratory rate

2) Kaji saturasi oksigen

3) Berikan oksigen jika ada hypoksia untuk mempertahankan saturasi >

92%

4) Auskultasi dadaLakukan pemeriksaan rontgent

c. Circulation

1) Kaji denyut jantung

2) Monitor tekanan darah

3) Kaji lama pengisian kapiller

4) Pasang infuse, berikan ciaran jika pasien dehidrasi

5) Periksakan dara lengkap, urin dan elektrolit

6) Catat temperature

7) Lakukan kultur jika pyreksia

8) Lakukan monitoring ketat

9) Berikan cairan per oral

10) Jika ada mual dan muntah, berikan antiemetik IV


4. Pengkajian GCS

Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU/GCS :

Menurut (Heriana, 2014, hal. 63-65) ada tiga hal yang dinilai dalam penilaian

kuantitatif kesadaran yang menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale)

a. Respon membuka mata (eyes)

Nilai 4 Mata membuka spontan, misalnya sesudah disentuh

Nilai 3 Dapat membuka mata jika diajak bicara, dipanggil nama atau

diperintahkan untuk membuka mata

Nilai 2 Mata membuka hanya kalau dirangsang kuat/ nyeri

Nilai 1 Tidak membuka mata walaupun diberikan rangsang nyeri

b. Respon bicara (verbal)

Nilai 5 Pasien orientasi penuh atau baik dan mampu berbicara. Orientasi

waktu, tempat, orang, siapa dirinya, berada di mana, tanggal dan

hari

Nilai 4 Pasien konfusi atau tidak orientasi penuh

Nilai 3 Bisa bicara, kata-kata yang diucapkan jelas dan baik, tetapi tidak

menyambung dengan apa yang sedang dibicarakan

Nilai 2 Mampu bersuara namun tidak dapat ditangkap secara jelas apa
artinya/ “ngrenyem”, suara tidak mampu dikenali makna katanya

Nilai 1 Tidak bersuara apapun walau diberi rangsangan nyeri

c. Respon motorik

Nilai 6 Dapat menirukan perintah sederhana yang telah pemeriksa

anjurkan seperti: mengangkat tangan, dapat menunjuk jumlah

jari-jari, serta mampu melepaskan genggaman

Nilai 5 Mampu menunjuk tepat, tempat rangsang nyeri yang diberikan

seperti tekanan pada sternum, cubitan pada muskulus trapezius

Nilai 4 Gerakan fleksi menjauhi dari rangsangan nyeri yang diberikan,

tetapi tidak mampu menunjuk dengan tangan dimana lokasi

atau tempat rangsang nyeri yang diberikan

Nilai 3 Bila diberi rangsangan nyeri bahu mengalami fleksi abnormal,

bahu mengalami abduksi, fleksi dan pronasi lengan bawah,

fleksi pada pergelangan tangan dan mengepal

Nilai 2 Bila diberi rangsang nyeri bahu mengalami ekstensi abnormal.

Bahu abduksi dan rotasi interna, ekstensi lengan bawah, fleksi

pergelangan tangan dan tinju mengepal

Nilai 1 Sama sekali tidak ada respons


d. Skor penilaian GCS :

1) GCS 14-15: Compos Mentis

2) GCS 12-13: Apatis

3) GCS 11-10: Delirium

4) GCS 7-9: Somnolen

5) GCS 8-10: Stupor

6) GCS <5: Koma

B. Analisa Data

Data Etiologi Masalah

DS : Output Gangguan keseimbangan

1. Pasien mengatakan minum berlebihan cairan dan elektrolit

air putih habis + 4 gelas

(+1000)/ hari

2. Pasien mengatakan diare 4-

5 x 1 hari. Konsistensi cair,

warna kekuningan

DO :

1. Turgor jelek, kulit kering

2. Mukosa bibir kering


3. Feses konsistensi cair,

warna kekuningan

4. Ureum 2,5 mg/dl

5. Creatinin 4,1 mg/dl

6. Kalsium 5,1 mg/dl

DS : Intake tidak Resti pemenuhan nutrisi

1. Pasien mengatakan mual, adekuat kurang dari kebutuhan

muntah tubuh

2. Pasien mengatakan hanya

habis 2-3 sendok dari porsi

makanan

DO :

1. Wajah tampak pucat

2. Konjungtiva anemis

DS : Hospitalisasi Resti kurang dari

Pasien mengatakan tidur + 3-4 kebutuhan istirahat tubuh

jam/hari

DO :

1. Wajah tampak pucat

2. Mata tampak besar-besar,

mata kemerahan
C. Diagnosa Keperawatan

No. Diagnosa Keperawatan

1. Ansietas berhubungan dengan stressor yang ditandai oleh rasa gelisah

2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

kehilangan cairan sekunder

3. Hipertermi brerhubungan dengan proses infeksi penyakit

D. Intervensi

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1. Ansietas Mengetahui a. Berikan a. Memberikan

berhubungan tingkat informasi actual informasi

dengan kecemasan terkait diagnosis tentang

stressor yang perawatan dan penyakit

ditandai oleh Kriteria hasil : prognosis b. Mengajarkan

rasa gelisah Setelah b. Dorongan cara yang

dilakukan keluarga untuk tepat untuk

perawatan mendampingi mendampingi

2x24 jam tidak klien dengan pasien

ada lagi cara yang tepat c. Mengkaji

perasaan c. Kaji untuk kecemasan


gelisah, tidak tanda verbal dan pasien

ada kagi nonverbal d. Memberikan

perasaan kecemasan dosis obat

stress, dan d. Atur yang tepat

tidak ada lagi penggunaan

masalah obat-obatan

perilaku untuk

mengerang rasa

kecemasan

dengan tepat

2. Ketidakseimb Setelah a. Pantau tanda a. Penurunan

angan cairan dilakukan dan gejala volume cairan

dan elektrolit tindakan dehidrasi dan elektrolit

berhubungan keperawatan b. Pantau input menyebabkan

dengan dalam waktu dan output dehidrasi

kehilangan 1X24 jam c. Bina hubungan jaringan

cairan diharapkan : saling percaya b. Dehidrasi

sekunder a. TTV dalam d. Pemberian dapat

batas cairan meningkatkan

normal parenteral laju filtasi

b. Tidak ada sesuai dengan glomerulus


tanda-tanda umur c. Mempermuda

dehidrasi e. Kolaborasi h melakukan

c. Frekuensi dengan dokter intervensi

BAB 1X / dalam selanjutnya

hari pemberian obat d. Pemberian

cairan secara

cepat dapat

sebagai

penganti

cairan yang

hilang

e. Menentukan

pemberian

obat secara

tepat

3. Hipertermi Setelah a. Bina hubungan a. Mempermuda

brerhubungan diberikan saling percaya h melakukan

dengan tindakan b. Berikan intervensi

proses infeksi keperawatan kompres pada selanjutnya

penyakit dalam waktu klien b. Membantu

1X24 jam c. Anjurkan klien menurunkan


diharapkan : untuk memakai suhu tubuh

Suhu tubuh baju tipis dan klien

normal dapat menyerap c. Membantu

Keluhan utama keringat mengurangi

kembali d. Anjurkan klien penguapan

normal minum sedikit pada tubuh

Demam klien tapi sering d. Menganti

turun e. Kolaborasi cairan yang

dengan dokter hilang

dalam e. Menentukan

pemberian obat pemberian

obat secara

tepat

E. Implementasi

No. Implementasi Evaluasi

Dx

1. 1. Memantau TTV S : Klien mengatakan diare

2. Memantau intake dan output dan panas


dengan memperhatikan tetesan O : Keluhan utama hilang,

infus dan BAB, BAK klien diare berkurang 3-4x/hari,

3. Membina hubungan saling panas, T = 120/70 mmHg, S =

percaya dengan klien 37 C

4. Memberikan cairan parentera A : Masalah teratasi sebagian

dengan memasang infus pada P : lanjutkan intervensi 1-5

klien.

5. Mengkolaborasikan dengan

dokter

6. Membina hubungan saling

percaya antara perawat dengan

klien

7. Memberikan kompres pada

klien

8. Membantu menggati pakaian

klien

9. Memberi klien minum


BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS DIARE

Kasus :

Pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 11.30 WIB Ny.S yang berumur 50 tahun,

dibawa ke UGD RSUD SAWERIGADING dan masuk ke ruang perawatan Anggrek

1 dengan keluhan sudah mengalami diare selama lebih 2 hari dan BAB encer

berlendir dengan frekuensi 5-6 kali setiap harinya, pasien juga merasa mual dan

pusing. Setelah dilakukan observasi badan pasien panas dan bau feses khas, setelah

ditanya kembali klien mengatakan sebelumnya makan-makanan yang pedas.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital, TD :110/70

mmHg, N : 84x/mnt, RR : 20x/mnt, S : 38 º C dan keadaan umum : lemah, mukosa

bibir kering dan turgor kulit kurang elastis

A. Pengkajian Keperawatan

Nama Mahasiswa : Apriyanti

Semester/Tingkat : VI/III

Tempat Praktik :

Tanggal Pengkajian : 2 Agustus 2019


1. Data Umum

a. Nama Insial Klien : Ny. S

b. Umur : 50 Tahun

c. Alamat : Jalan Libukang Permai

d. Agama : Islam

e. Tanggal masuk RS/RB: 2 Agustus 2019, jam 11.30 WIB

f. Nomor Rekam Medis : 030405

g. Diagnosis Medis : Diare

h. Bangsal : Anggrek 1

2. Pengkajian 13 Domain Nanda

a. Health Promotion

1) Keadaan umum

a) Alasan masuk Rumah Sakit :

Klien mengatakan sudah mengalami diare selama kurang lebih 2 hari,

pasien merasa lemah, Mukosa bibir kering dan turgor kulit kurang

elastis

b) Tekanan darah : 110/70 mmHg

c) Nadi : 84x/menit

d) Suhu : 38°C

e) Respirasi : 20x/menit

2) Riwayat masa lalu (penyakit, kecelakaan, dll) :


Klien mengatakan sebelumnya klien tidak pernah sakit seperti ini. Klien

tidak pernah MRS sebelumnya

3) Riwayat pengobatan

Klien mengatakan tidak pernah mengonsumsi obat/jamu sebelumnya

No Nama obat/jamu Dosis Keterangan

1. - - -

2.

3.

4) Kemampuan mengontrol kesehatan

a) Yang dilakukan bila sakit : Apabila klien sakit, klien akan langsung ke

dokter

b) Pola hidup (konsumsi /alkohol/olahraga/dll)

5) Faktor Sosial Ekonomi (penghasilan/asuransi kesehatan, dll) :

Saat ini pasien bergantung pada anak dan suami, dan penghasilan yang

didapat dari suami pasien. Asuransi kesehatan yang digunakan berupa

BPJS kesehatan

6) Pengobatan sekarang :

No Nama Obat Dosis Keterangan Manfaat

1. Loperamide 4mg/ Obat tablet Mengurangi


(imodium) 2xsehari jumlah cairan yang

keluar dan

memperlambat

ritme pencernaan

2. Oralit 200mg Obat minum Menghilangkan

nyeri

3. Suplemen

probiotik

b. Nutrition

1) A (Antropometri) meliputi BB, TB, LK,LD,LILA,IMT)

a) BB biasanya : 62 kg dan BB sekarang : 60kg

b) Lingkar perut : 76 cm

c) Lingkar kepala : 55 cm

d) Lingkar dada : 65 cm

e) Lingkar lengan atas : 23 cm

f) IMT : 18, 6115 ( Under weight)

2) B (Biochemical) meliputi data laboratorium yang abnormal :

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Bilirubin total 0,90 mg/dl 0.00-1.00


Bilirubin direk 0.30 mg/dl < 0,20

SGOT 22.0 u/l 40.0 u/l

SGPT 23.0 u/l 41.0 u/l

Leokosit 10.000/mm3 4000-11.000

Eritrosit 4.52 4.20- 5.40

Hemoglobin 13,2 gr/dl 12-16 g/dl

Hematokrit 39,9 % 35-47 g/dl

MCV 4,57 u/l 3,6 – 5,8

MCH 87 FL 80-100

Trombosit 243/mm3 150000 - 450000

Gol. Darah O -

3) C (Clinical) meliputi tanda-tanda klinis rambut, turgor kulit, mukosa bibir,

konjungtiva anemis/tidak :

a. Kulit : Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan

bersih, turgor kulit kurang elastis

b. Rambut : Hitam, panjang, bergelombang dan beruban

c. Kepala : Bentuk mesochepal, tidak ada luka

d. Mata : kemampuan melihat menggunakan kaca mata, konjungtiva

anemis, sklera tidak ekterik, tidak ada sekret.


e. Mulut : mukosa bibir kering, kebersihan gigi bersih, tidak terjadi

sianosis

4) D (Diet) meliputi nafsu, jenis, frekuensi makanan yang diberikan selama di

rumah sakit :

Saat ini klien mendapatkan diet bubur. Klien mengatakan nafsu makannya

berkurang. Klien biasa hanya makan 8-10 sendok saja

5) E (Energy) meliputi kemampuan klien dalam beraktivitas selama di rumah

sakit :

Sebelum sakit klien tidak memiliki keluhan dalam aktivitasnya dan mampu

melakukan aktivitas rumah tangga. Tetapi sekarang klien hanya dapat

berbaring saja, aktivitas berkurang seperti biasanya

6) F (Faktor) meliputi penyebab masalah nutrisi: (kemampuan menelan,

mengunyah, dll) :

Kemampuan menelan dan mengunyah klien baik

7) Penilaian Status Gizi :

Ny. S mengalami penurunan berat badan. Yang awalnya 62 kg menjadi 60

kg

8) Pola Asupan Cairan : Sebelum sakit klien minum air 1-5 gelas perhari,

selama sakit klien minum air hanya 2 gelas

9) Cairan masuk : Pasien mendapatkan terapi cairan IV RL


10) Cairan Keluar : Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-

6x/hari. Pada saat dikaji klien BAB 5-6x konsistensi cair dan BAK 4-

5x/hari

11) Penilaian Status Cairan (balance cairan) : 6-7cc/kgBB/hari

12) Pemeriksaan Abdomen (sistem elimination juga) :

Inspeksi : terlihat membesar

Auskultasi : bunyi bising usus 10x/m

Palpasi : perut kembung

Perkusi : bunyi thimpany

c. Elimination

1) Sistem Urinary

a) Pola pembuangan urine (frekuensi, jumlah, ketidaknyamanan)

Sebelum sakit, klien buang air kecil sehari 4-6 x, warna warna

kuning jernih, kira-kira sekali buang air kecil 1 gelas (200 ml).

Setelah sakit dan selama dirawat klien buang air kecil sehari 2-

3 x warna kuning, sekali buang air kecil kira-kira ½ gelas (300-

100 ml).

b) Riwayat kelainan kandung kemih : Tidak ada

c) Pola urine (jumlah, warna, kekentalan, bau) : pola urine tidak

normal

d) Distensi kandung kemih/retensi urine

2) Sistem Gastrointestinal
a) Pola eliminasi

Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-6x/hari.

Pada saat dikaji klien BAB 5-6x konsistensi cair dan BAK 4-

5x/hari

b) Konstipasi dan faktor penyebab konstipasi

Nutrisi yang tidak terpenuhi dikarenakan asupan nutrisi terus

keluar

3) Sistem Integument

a) Kulit (integritas kulit/hidrasi/turgor/warna/suhu)

Warna sawo matang, kulit terasa dingin, kuku panjang, turgor

kulit menurun dan kering

d. Activity/Rest

1) Istirahat/tidur

a) Jam tidur : Sebelum sakit klien tidur ± 6-7 jam sehari

mulai jam 21.00 wib sampai jam 04.00 – 04.30 wib, sebelum

tidur klien biasa berdoa terlebih dahulu dan Setelah sakit klien

mengalami perubahan dalam pola tidur yang biasanya klein

dapat tidur nyenyak, klien sering terbangun karena harus bolak –

balik ke kamar mandi.

b) Insomnia : pasien memiliki masalah tidur

c) Pertolongan untuk merangsang tidur : tidak ada pertolongan

untuk merangsang tidur


2) Aktivitas

a) Pekerjaan : Sebelum sakit aktivitas dilakukan klien seperti

biasa layaknya ibu dirumah tangga seperti memasak, mencuci,

membersihkan rumah dan sebagainya. Namun, selama sakit

dan dirawat pasien tidak dapat menjalankan aktivitas seperti

biasanya, apalagi saat nyeri muncul klien tidak bisa beraktivitas

sama sekali, tapi kalau tidak nyeri klien biasa keluar / turun

dari tempat tidur. Klien mengatakan mengalami kesulitan

beraktivitas saat nyeri muncul, pergerakan tubuh baik,

perawatan diri seperti mandi, mengenakan pakaian, makan,

minum dan lain – lain di bantu oleh anak-anaknya.

b) Kebiasaan olahraga : pasien tidak memiliki kebiasaan

olahraga

c) ADL

- Makan : kurang baik

- Toileting : baik

- Kebersihan : baik

- Berpakaian : baik

a) Bantuan ADL : tidak ada abntuan ADL

b) Kekuatan otot : lemah


c) ROM : normal, dapat melakukan yang

diperintahkan

d) Resiko untuk cidera : resiko terjadi cedera rendah

3) Cardio respons

a) Penyakit jantung : S1-S2 murni, tidak ada murmur.bising

(-)

b) Edema ekstremitas : tidak ada

c) Tekanan darah dan nadi

- Berbaring : 100/60 mmHg

- Duduk : 110/70 mmHg

d) Tekanan vena jugularis : normal

e) Pemeriksaan jantung

- Inspeksi : Ictus Cordis tak nampak

- Palpasi : Ictus Cordis teraba pada intercosta ke 4

dan 5

- Perkusi : pekak+normal

- Auskultasi : BJ 1 dan BJ II regular, tidak ada suara

tambahan

4) Pulmonary respon

a) Penyakit sistem nafas :pasien tidak memiliki masalah pada

pernafasan
b) Penggunaan O2 : tidak ada bantuan O2

c) Kemampuan bernapas : baik

d) Gangguan pernapasan (batuk, suara nafas, sputum, dll) : tidak

ada gangguan pada pernafasan

e) Pemeriksaan paru-paru

- Inspeksi : gerakan dada simetris

- Palpasi : SF (Stelfermitus) kanan dan kiri sama

- Perkusi : sonor

- Auskultasi : wheezing/ronchi tidak teraba

e. Perception/Cognition

1) Orientasi/kognisi

Kemampuan kognitifnya baik

a) Tingkat pendidikan : pasien sekolah hingga SMA

b) Kurang pengetahuan : pasien mengatakan kurang mengetahui

tanda dan gejala penyakit

c) Pengetahuan tentang penyakit : pasien tidak memiliki

pengetahuan terkait penyakit

d) Orientasi (waktu, tempat, orang)

2) Sensasi/persepsi

a) Riwayat penyakt jantung : tidak ada riwayat penyakit

jantung
b) Sakit kepala : ada

c) Penggunaan alat bantu : tidak ada

d) Penginderaan : Klien tidak ada keluhan yang

berkenaan dengan kemampuan penglihatan, pendengaran,

penghidu, pengecap maupun sensori perubahan.

3) Communication

a) Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia

b) Kesulitan berkomunikasi : tidak ada

f. Selfperception

1) Self-concept/self-estrem

a) Perasaan cemas/takut : Klien selalu bertanya-

tanya kapan akan sembuh

b) Perasaan putus asa/kehilangan : tidak ada

c) Keinginan untuk mencederai : tidak ada

d) Adanya luka/cacat : tidak ada luka

g. Role Relationship

1) Peranan hubungan

a) Status hubungan : klien merupakan seorang

ibu/orang tua

b) Orang terdekat : Anak-anaknya dan suami

c) Perubahan konflik/peran : tidak ada perubahan konflik

d) Perubahan gaya hidup : ada perubahan gaya hidup


e) Interaksi dengan orang lain : baik

h. Sexuality

1) Identitas seksual

a) Masalah/disfungsi seksual : tidak ada masalah seksual

b) Periode menstruasi : periode menstruasi pasien baik

c) Metode KB yang digunakan : IUD/Spira

d) Pemeriksaan SADARI : pasien mengetahui cara

pemeriksaan SADARI

e) Pemeriksaan papsmear : pasien mengetahui apa itu

pmeriksaan papssmar

i. Coping/Stress Tolerance

1) Coping respon

a) Rasa sedih/takut/cemas : pasien terlihat sedikit

cemas dikarenakan nyeri perutnya

b) Kemampuan untuk mengatasi : pasien mencoba untuk

selalu berkomunikasi dengan keluarga

c) Perilaku yang menampakkan cemas : tidak ada perilaku yang

menanmpakkan rasa cemas

j. Life Principles

1) Nilai kepercayaan

Tidak ada nilai-nilai keluarga yang bertentangan dengan kesehatan


a) Kegiatan keagamaan yang diikuti : Klien menjalankan

kegiatan agama yaitu adalah sholat 5 waktu, walaupun klien

sedang sakit klien tetap menjalankan ibadah kecuali jika nyeri

muncul.

b) Kemampuan untuk berpartisipasi : pasien biasa ikut

berpartisipsi

c) Kegiatan kebudayaan : tidak ada kegiatan

kebudayaan yang diikuti

d) Kemampuan memecahkan masalah : Klien dalam mengambil

keputusan biasanya bermusyawarah dengan anak-anaknya

k. Safety/Protection

1) alergi

a) Penyakit autoimmune : pasien mengatakan tidak memiliki

penyakit autoimmune

b) Tanda infeksi : tidak ada tanda infeksi

c) Gangguan thermoregulasi : pasien sempat mengalami kenaikan

suhu : 38◦C

d) Gangguan/resiko (komplikasi immobilisasi, jatuh, aspirasi,

disfungsi neurovaskuler peripheral, kondisi hipertensi,

pendarahan, hipoglikemia, sindrome disuse, gaya hidup yang

tetap) : tidak ada gangguan


l. Comfort

1) Kenyamanan/Nyeri

a) Provokes (yang menimbulkan nyeri : pasien mengtakan

merasa nyeri saat beraktivitas dan hilang pada saat istirahat

b) Quality (bagaimana kualitasnya) : klien mengatakan

nyerinya seperti ditusuk-tusuk

c) Regio (dimana letaknya) : pasien mengatakan nyerinya

pada perut bagian bawah

d) Scala (berapa skalanya) : skala nyeri 4

e) Time (waktu) : nyeri timbul hingga 5 menit

2) Rasa tidak nyaman lainnya : tidak ada

3) Gejala yang menyertai : tidak ada gejala yang menyertai

m. Growth/Development

Pertumbuhan dan perkembangan :

Selama pasien dirawat di rumah sakit, ada perkembangan mengenai

status kesehatan pasien menjadi lebih baik

3. Catatan Perkembangan

Keadaan umum

JAM 19.45 07.00 14.00 21.00 07.00 14.00

TD 110/70 110/70 110/70 110/70 110/70 110/70


mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg mmHg

TTV Nadi 84 x/m 84 x/m 90 x/m 90 x/m 90 x/m 90 x/m

RR 20 x/m 20 x/m 22 x/m 22 x/m 22 x/m 22 x/m

Suhu 38 oC 37 oC 37 oC 37 oC 36 oC 36oC

Eye 4 4 4 4 4 4

GCS Motorik 5 5 6 6 6 6

Verbal 4 5 5 5 5 5

B. Analisa Data

Data Etiologi Masalah

DS : Output Gangguan

3. Pasien mengatakan minum air putih berlebihan keseimbangan

habis + 4 gelas (+1000)/ hari cairan dan

4. Pasien mengatakan diare 4-5 x 1 hari. elektrolit

Konsistensi cair, warna kekuningan

DO :

7. Turgor jelek, kulit kering

8. Mukosa bibir kering

9. Feses konsistensi cair, warna


kekuningan

10. Ureum 2,5 mg/dl

11. Creatinin 4,1 mg/dl

12. Kalsium 5,1 mg/dl

DS : Intake tidak Resti

3. Pasien mengatakan mual, muntah adekuat pemenuhan

4. Pasien mengatakan hanya habis 2-3 nutrisi kurang

sendok dari porsi makanan dari kebutuhan

DO : tubuh

3. Wajah tampak pucat

4. Konjungtiva anemis

DS : Hospitalisasi Resti kurang

Pasien mengatakan tidur + 3-4 jam/hari dari kebutuhan

DO : istirahat tubuh

3. Wajah tampak pucat

4. Mata tampak besar-besar, mata

kemerahan
C. Diagnosa

No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1. Ansietas Mengetahui e. Berikan e. Memberikan

berhubungan tingkat informasi actual informasi

dengan kecemasan terkait diagnosis tentang

stressor yang perawatan dan penyakit

ditandai oleh Kriteria hasil : prognosis f. Mengajarkan

rasa gelisah Setelah f. Dorongan cara yang

dilakukan keluarga untuk tepat untuk

perawatan mendampingi mendampingi

2x24 jam tidak klien dengan pasien

ada lagi cara yang tepat g. Mengkaji

perasaan g. Kaji untuk kecemasan

gelisah, tidak tanda verbal dan pasien

ada kagi nonverbal h. Memberikan

perasaan kecemasan dosis obat

stress, dan h. Atur yang tepat

tidak ada lagi penggunaan

masalah obat-obatan

perilaku untuk

mengerang rasa
kecemasan

dengan tepat

2. Ketidakseimb Setelah f. Pantau tanda f. Penurunan

angan cairan dilakukan dan gejala volume cairan

dan elektrolit tindakan dehidrasi dan elektrolit

berhubungan keperawatan g. Pantau input menyebabkan

dengan dalam waktu dan output dehidrasi

kehilangan 1X24 jam h. Bina hubungan jaringan

cairan diharapkan : saling percaya g. Dehidrasi

sekunder d. TTV dalam i. Pemberian dapat

batas cairan meningkatkan

normal parenteral laju filtasi

e. Tidak ada sesuai dengan glomerulus

tanda-tanda umur h. Mempermuda

dehidrasi j. Kolaborasi h melakukan

f. Frekuensi dengan dokter intervensi

BAB 1X / dalam selanjutnya

hari pemberian obat i. Pemberian

cairan secara

cepat dapat

sebagai
penganti

cairan yang

hilang

j. Menentukan

pemberian

obat secara

tepat

3. Hipertermi Setelah f. Bina hubungan f. Mempermuda

brerhubungan diberikan saling percaya h melakukan

dengan tindakan g. Berikan intervensi

proses infeksi keperawatan kompres pada selanjutnya

penyakit dalam waktu klien g. Membantu

1X24 jam h. Anjurkan klien menurunkan

diharapkan : untuk memakai suhu tubuh

Suhu tubuh baju tipis dan klien

normal dapat menyerap h. Membantu

Keluhan utama keringat mengurangi

kembali i. Anjurkan klien penguapan

normal minum sedikit pada tubuh

Demam klien tapi sering i. Menganti

turun j. Kolaborasi cairan yang


dengan dokter hilang

dalam j. Menentukan

pemberian obat pemberian

obat secara

tepat

D. Implementasi

No. Implementasi Evaluasi

Dx

1. 1. Memantau TTV S : Klien mengatakan diare

2. Memantau intake dan output dan panas

dengan memperhatikan tetesan O : Keluhan utama hilang,

infus dan BAB, BAK klien diare berkurang 3-4x/hari,

3. Membina hubungan saling panas, T = 120/70 mmHg, S

percaya dengan klien = 37 C

4. Memberikan cairan parentera A : Masalah teratasi sebagian

dengan memasang infus pada P : lanjutkan intervensi 1-5

klien.

5. Mengkolaborasikan dengan

dokter
6. Membina hubungan saling

percaya antara perawat dengan

klien

7. Memberikan kompres pada

klien

8. Membantu menggati pakaian

klien

9. Memberi klien minum


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Diare adalah pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk (NANDA,

2012). Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare

merupakan situasi dimana seorang individu mengalami sensasi rasa sakit

perut seperti melilit atau mulas kemudian defekasi berupa feses yang encer

atau lunak dan tidak berbentuk serta dikeluarkan secara terus- menerus

dengan frekuensi lebih dari 3 kali

Dari kasus yang saya angkat, diagnose yang muncul yaitu :

1. Ansietas berhubungan dengan stressor yang ditandai oleh rasa gelisah

2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan

cairan sekunder

3. Hipertermi brerhubungan dengan proses infeksi penyakit

B. Saran

Diharapkan agar makalah ini dapat membantu dalam penyusunan

berbagai asuhan keperawatan terkait demam thypoid dan dapat bermanfaat

bagi semua
DAFTAR PUSTAKA

Lynda Juall Carpenito R.N., M.S.N., Rencana Asuhan & Dokumentasi

Keperawatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1999

Midwery. 2009. Diare. Diakses tanggal 28 juli 2019 di http://qurotul-

ayun.blogspot.com/2015/04/contoh-kasus-ashuan-keperawatan-

dengan_89.html

Mi Ja Kim, Gertrude K. McFarland, Audrey M. McLane, Diagnosa

Keperawatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1994

Marilynn E/ Doengoes, Rencana Asuhan Keperawatan,Edisi 3, Buku

Kedokteran EGC, Jakarta, 1999

Potter & Perry, Fundamental Keperawatan, Edisi 4, Buku Kedokteran EGC,

Jakarta, 2005