Anda di halaman 1dari 24

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

Jl. Lanto Dg Pasewang No. 34 Telp. (0411) 21022 Kode Pos 92311

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO

NOMOR : 5 TAHUN 2012

TENTANG

KAWASAN TANPA ASAP ROKOK DAN TERBATAS MEROKOK

OLEH :

BAGIAN HUKUM DAN PERUNDANG-UNDANGAN


SEKRETARIAT DAERAH
KABUPATEN JENEPONTO

TAHUN 2013
2

BUPATI JENEPONTO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO


NOMOR 5 TAHUN 2013

TENTANG

KAWASAN TANPA ASAP ROKOK DAN TERBATAS MEROKOK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI JENEPONTO,

Menetapkan : a. bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang apabila
digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu
dan masyarakat baik selaku perokok aktif maupun
perokok pasif, oleh karena itu diperlukan perlindungan
terhadap bahaya rokok bagi kesehatan;

b. bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Peraturan


Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan
Rokok Bagi Kesehatan, perlu menetapkan Kawasan Tanpa
Rokok;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


pada huruf a dan huruf b, maka perlu menetapkan
Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok
dan Terbatas Merokok.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang


Pembentukan Daerah- Daerah Tingkat II di Sulawesi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959
Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 1822);

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3886);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4235);
5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4247);

6. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4279);
7. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4301);
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
9. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
10. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063);
11. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5072);
4

12. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran
Negara RI Tahun 2011 Nomor 82 Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5234);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang
Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 36, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4276);
14. Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 2 Tahun
2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja
Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten Jeneponto (Lembaran Daerah
Kabupaten Jeneponto Tahun 2008 Nomor 188).

Dengan Persetujuan Bersama,


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN JENEPONTO
dan
BUPATI JENEPONTO

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO TENTANG


KAWASAN TANPA ASAP ROKOK DAN TERBATAS MEROKOK

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Jeneponto;
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Jeneponto;
3. Bupati adalah Bupati Jeneponto;
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jeneponto;
5. Pimpinan atau penanggung jawab adalah orang dan/atau badan
hukum yang karena jabatannya memimpin dan/atau bertanggung
jawab atas kegiatan dan/atau usaha di tempat atau kawasan yang
ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok
baik milik pemerintah maupun swasta;
6. Pimpinan Lembaga adalah Pengelola,menejer,penanggungjawab dan
pemilik pada kawasan tanpa asap rokok dan terbatas merokok;
7. Badan adalah sekumpulan Orang dan / atau pemodal yang merupakan
satu kesatuan,baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha,meliputi perseroan terbatas,perseroan komanditer
artau perseroan lainnya,BUMN atau Usaha milik daerah dengan nama
dan dalam bentuk
apapun,firma,kongsi,koperasi,persekutuan,yayasan,organisasi massa,
organisasi sosial politik atau sejenisnya,lembaga dana pensiun serta
bentuk badan usaha lainnya;
8. Masyarakat adalah orang perorangan dan/atau kelompok orang.
9. Pencemaran udara di ruang tertutup adalah pencemaran udara yang terjadi
di dalam ruang dan/atau angkutan umum akibat paparan sumber
pencemaran yang memiliki dampak kesehatan kepada manusia.
10. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang produktif secara sosial dan ekonomis.

11. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal adalah tingkat kondisi


kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai pada suatu saat sesuai
dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang
atau masyarakat dan harus selalu diusahakan peningkatannya secara
terus menerus.
12. Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tobacum, nicotiana
rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin, tar
dan zat adiktif dengan atau tanpa bahan tambahan;
13. Kawasan Tanpa Asap Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan
dilarang untuk merokok;
14. Kawasan Terbatas Merokok adalah tempat atau area dimana kegiatan
merokok hanya boleh dilakukan di tempat khusus yang disediakan;
15. Kegiatan merokok adalah kegiatan menghisap atau menyalakan
rokok;
16. Tempat atau ruangan adalah bagian dari suatu bangunan gedung yang
berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan dan/atau usaha;
17. Tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi
masyarakat termasuk tempat umum milik Pemerintah Daerah,
Pemerintah Pusat, gedung perkantoran, tempat pelayanan umum antara
lain terminal, stasiun, mall, pusat perbelanjaan, pasar serba ada, hotel,
restoran, dan sejenisnya;
18. Tempat kerja adalah ruang tertutup yang bergerak atau tetap dimana
tenaga kerja bekerja atau tempat yang sering dimasuki tenaga kerja dan
tempat sumber-sumber bahaya termasuk kawasan pabrik, perkantoran,
ruang rapat, ruang sidang/seminar, dan sejenisnya;
19. Kendaraan Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang
dapat berupa kendaraan darat, air, dan udara termasuk di dalamnya
taksi, bus umum, angkutan kota, dan sejenisnya;
6

20. Tempat ibadah adalah tempat yang digunakan untuk kegiatan keagamaan,
seperti masjid termasuk mushola, gereja termasuk kapel, pura, wihara, dan
kelenteng;
21. Arena kegiatan anak-anak adalah tempat atau arena yang
diperuntukkan untuk kegiatan anak-anak, seperti Tempat Penitipan
Anak (TPA), tempat pengasuhan anak, arena bermain anak-anak, atau
sejenisnya;
22. Tempat proses belajar mengajar adalah tempat proses belajarmengajar
atau pendidikan dan pelatihan termasuk perpustakaan, ruang
praktik atau laboratorium, musium, dan sejenisnya;
23. Tempat pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan Pemerintah dan
masyarakat, seperti rumah sakit, Puskesmas, praktik dokter, praktik bidan,
toko obat atau apotek, pedagang farmasi, pabrik obat dan bahan obat,
laboratorium, dan tempat kesehatan lainnya,antara lain pusat dan/atau
balai pengobatan, rumah bersalin, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA);
24. Tim adalah pejabat pegawai negeri sipil lingkup pemerintah daerah
dan/atau masyarakat yang ditunjuk oleh bupati dengan tugas melakukan
pembinaan,pengawasan dan perlindungan terhadap perokok pasif.

BAB II
TUJUAN
Pasal 2

Tujuan penetapan Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok,


adalah :
a. Menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian yang timbul oleh
asap rokok dengan cara merubah perilaku masyarakat agar hidup sehat;
b. Meningkatkan produktivitas kerja;
c. mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap rokok;
d. menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula;
e. mewujudkan generasi muda yang sehat.

BAB III

KAWASANTANPAASAPROKOK

Bagian Pertama
Umum

Pasal 3

(1) Bupati berwenang menetapkan tempat-tempat tertentu sebagai Kawasan


Tanpa Asap Rokok.
(2) Tempat-tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. tempat Umum;
b. tempat Kerja;
c. Kendaraan Angkutan Umum;
d. Tempat proses belajar mengajar;
e. Tempat pelayanan Kesehatan ;
f. Tempat sarana olahraga;
g. Arena Kegiatan Anak-anak;
h. Tempat Ibadah.

Pasal 4
Setiap Orang yang berada dalam kawasan tanpa asap rokok dilarang
melakukan kegiatan merokok.

Bagian Kedua
Tempat Umum

(1) Setiap Orang dilarang merokok ditempat umum sebagaimana dimaksud


dalam pasal 3 ayat (2) huruf a,seperti pasar modern, tradisional,tempat
wisata,tempat hiburan,hotel dan restoran,taman kota,tempat
rekreasi,halte dan terminal angkutan umum.

(2) Tempat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1),adalah gedung


tertutup sampai batas kucuran air dari atap paling luar.

(3) Tidak termasuk larangan bagi setiap orang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) serta lembaga dan/atau badan untuk menjual ,dan / atau
membeli,mempromosikan,mengiklankanproduk rokok didalam tempat atau
gedung tertutup sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4) Bagi lembaga dan/atau badan sebagaimana dimaksud pada ayat(3) yang
mempromosikan dan mengiklankan produk rokok,wajib mempunyai isin.

Bagian Ketiga

Tempat kerja

(1) Setiap orang dilarang merokok ditempat kerja sebagaimana dimaksud


dalam pasal 3 ayat (2) huruf b yang meliputi perkantoran pemerintah,baik
sipil maupun tentara nasional Indonesia ( TNI )/Kepolisian Negara RI
(POLRI),perkantoran swasta dan industri.
(2) Setiap orang, Badan dan/atau Lembaga dilarang mempromosikan,
menginklankan ditempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1).
(3) Tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan Ayat (2), adalah
Gedung tertutup sampai batas kucuran air dari atap paling luar.

Bagian Keempat
Kendaraan Umum
Pasal 7
8

(1) Setiap orang dilarang merokok dikendaraan Umum sebagaimana


dimaksud dalam pasal 7 Ayat (2) huruf c seperti Bus Umum,
Angkutan Kota, Termasuk kendaraan wisata, Bus Angkutan Anak
sekolah, dan Bus angkutan karyawan.
(2) Setiap orang, Badan dan/atau lembaga, Dilarang mempromosikan,
mengiklankan, menjual, dan/atau Membeli produk rokok dikendaraan
umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(3) Larangan merokok sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan Ayat (2),
adalah didalam kendaraan angkutan Umum.

Bagian Kelima
Tempat Proses Belajar Mengajar
Pasal 8
(1) Pimpinan/pengelola/penanggung jawab tempat proses belajar
mengajar, wajib melarang peserta didik, pendidik, dan tenaga
kependidikan serta seluruh unsur sekolah lainnya merokok ditempat
proses belajar mengajar.

(2) Pimpinan/pengelola/penanggung jawab tempat proses belajar


mengajar, wajib menegur dan/atau memperingatkan dan/atau
mengambil tindakan apabila peserta didik, pendidik dan tenaga
kependidikan serta unsur sekolah lainnya terbukti merokok di tempat
proses belajar mengajar.

(3) Peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta seluruh unsur
sekolah lainnya dapat memberikan teguran atau melaporkan kepada
pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat proses belajar mengajar
apabila terbukti ada yang merokok ditempat proses belajar mengajar.

(4) Pimpinan/pengelola/penanggung jawab tempat proses belajar


mengajar, wajib mengambil tindakan atas laporan yang disampaikan oleh
peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta seluruh unsur
sekolah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

Bagian Keenam
Tempat pelayanan kesehatan
Pasal 9
(1) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat pelayanan kesehatan,
wajib melarang setiap pasien dan/atau pengunjung serta tenaga medis
dan non medis merokok ditempat pelayanan kesehatan.
(2) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat pelayanan kesehatan,
wajib menegur dan/atau memperingatkan dan/atau mengambil tindakan
apabila ada pasien dan atau pengunjung serta tenaga medis dan non
medis merokok ditempat pelayanan kesehatan.
(3) Pasien dan/atau pengunjung serta tenaga medis dan non medis dapat
memberikan teguran atau melaporkan kepada pimpinan dan/atau
penanggung jawab tempat pelayanan kesehatan, apabila ada pasien
dan/atau pengunjung serta tenaga medis dan non medis sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).

Bagian Ketujuh
Tempat Sarana Olahraga
Pasal 10
(1) Setiap orang dilarang merokok ditempat sarana Olahraga sebagaimana
dimaksud pasal 3 ayat (2) huruf f yang melipuputi sarana Olahraga dan
Tempat Olahraga.
(2) Setiap orang, badan dan/atau lembaga dilarang mempromosikan,
mengiklankan, menjual dan/atau membeli produk ditempat sarana
Olahraga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(3) Sarana Olahraga yang dimaksud pada ayat (1), adalah ditempat atau
gedung tertutup sampai batas luar pagar area sarana olahraga.

Bagian Kedelapan
Arena Kegiatan Anak-Anak
Pasal 11
(1) Pimpinan dan/atau penanggung jawab arena kegiatan anak-anak, wajib
melarang pengguna dan/atau pengunjung merokok di arena kegiatan
anak-anak.
(2) Pimpinan dan/atau penanggung jawab arena kegiatan anak-anak, wajib
menegur dan/atau memperingati dan/atau mengambil tindakan,
apabila ada pengguna dan/atau pengunjung yang terbukti merokok di
arena kegiatan anak-anak.
(3) Pengguna dan/atau Pengunjung arena kegiatan anak-anak, dapat
memberikan teguran atau melaporkan kepada pimpinan dan/atau
penanggung jawab arena kegiatan anak-anak.
(4) Pimpinan dan/atau penanggungjawab arena kegiatan anak-anak, wajib
mengambil tindakan atas laporan yang disampaikan oleh pengguna
dan/atau pengunjung sebagaimana dimaksud pada Ayat (3).

Bagian Kesembilan
Tempat Ibadah
Pasal 12
10

(1) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat ibadah wajib melarang


pengguna dan/atau pengunjung tempat ibadah merokok ditempat
ibadah.
(2) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat ibadah, wajib menegur
dan/atau memperingatkan dan/atau mengambil tindakan apabila
menjumpai pengguna dan/atau pengunjung tempat ibadah yang
terbukti merokok di tempat ibadah.
(3) Pengguna dan/atau Pengunjung tempat ibadah, wajib menegur atau
melaporkan kepada pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat
ibadah apabila ada yang merokok ditempat ibadah.
(4) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat ibadah, wajib mengambil
tindakan atas laporan yang disampaikan oleh pengguna dan/atau
pengunjung tempat ibadah sebagaimana dimaksud pada Ayat (3).

BAB IV

KEWAJIBAN PIMPINAN ATAU PENANGGUNG JAWAB


KAWASAN TANPA ASAP ROKOK

Pasal 13
(1) Pimpinan atau penanggung jawab Kawasan Tanpa Asap Rokok sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) berkewajiban untuk :
a. membuat dan memasang tanda/petunjuk/peringatan
larangan merokok;
b. memberikan teguran dan peringatan kepada setiap orang yang
merokok dalam Kawasan Tanpa Asap Rokok.

BAB V
KAWASAN TERBATAS MEROKOK

Pasal 14
(1) Bupati berwenang menetapkan tempat-tempat tertentu sebagai Kawasan
Terbatas Merokok.

(2) Tempat-tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :


a. tempat umum.
b. tempat kerja; dan
c. Angkutan Umum

Pasal 15
Setiap orang yang berada di kawasan Terbatas merokok dilarang merokok
kecuali di tempat khusus yang disediakan untuk merokok.
BAB VI
KEWAJIBAN PIMPINAN/PENANGGUNG JAWAB
KAWASAN TERBATAS MEROKOK
Pasal 16

Pimpinan atau penanggung jawab Kawasan Terbatas Merokok


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) berkewajiban untuk :
a. menyediakan tempat khusus untuk merokok;
b. membuat dan memasang tanda/petunjuk/peringatan larangan merokok
dan tanda/petunjuk ruangan boleh merokok;
c. memberikan teguran dan peringatan kepada setiap orang yang merokok
dalam Kawasan Terbatas Merokok kecuali di Tempat Khusus Merokok.

BAB VII
TEMPAT KHUSUS MEROKOK
Pasal 17

(1) Tempat khusus untuk merokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12


huruf a harus memenuhi ketentuan :
a. terpisah dari ruangan atau area yang dinyatakan sebagai tempat
dilarang merokok;
b. memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai;
c. tersedia asbak atau tempat pembuangan puntung rokok.
(2) Tempat khusus untuk merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilengkapi dengan data dan informasi mengenai bahaya merokok
bagi kesehatan.
(3) Tempat khusus merokok terdiri dari :
a. Di dalam ruangan
b. Di luar ruangan

BAB VIII
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 18

(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Asap
Rokok dan Terbatas Merokok.

(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan dengan cara :
a. memberikan sumbangan pemikiran dan pertimbangan berkenaan
dengan penentuan kebijakan yang terkait dengan Kawasan
Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok;
b. melakukan pengadaan dan pemberian bantuan sarana dan prasarana
yang diperlukan untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Asap Rokok dan
Terbatas Merokok;
c. ikut serta dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan serta
penyebarluasan informasi kepada masyarakat;
12

d. melaporkan setiap orang yang terbukti melanggar ketentuan Pasal 4 atau


Pasal 11 kepada pimpinan/ penanggungjawab Kawasan Tanpa Asap
Rokok dan Terbatas Merokok.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan peran serta
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bupati.

BAB IX

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


Pasal 19

(1) Bupati berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan sebagai upaya


mewujudkan Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa


bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat serta kepada pimpinan
dan/atau penanggung jawab Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Terbatas
Merokok.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pemantauan atas ketaatan terhadap ketentuan yang berlaku di Kawasan
Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok.

(4) Bupati dapat melimpahkan kewenangan pembinaan dan pengawasan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pejabat di Lingkungan
Pemerintah Daerah sesuai dengan Tugas dan Fungsi masing-masing.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bupati.

Pasal 20

Dalam rangka pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, Bupati


dapat membentuk Satuan Tugas Penegak Kawasan Tanpa Asap Rokok dan
Terbatas Merokok.

BAB X
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 21

(1) Pimpinan dan/atau penanggung jawab kawasan tanpa asap rokok dan
kawasan terbatas merokok yang melanggar ketentuan pasal 13 dan/atau
pasal 16 dapat dikenakan sanksi berupa :
a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. penghentian sementara kegiatan;
d. pencabutan izin; dan/atau
e. denda paling banyak Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
(2) Setiap orang, Badan dan/atau lembaga yang melanggar ketentuan Pasal
4 dan/atau Pasal 15 dapat dikenakan sanksi berupa :
a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. denda paling banyak Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah).
(3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus
disetorkan ke Kas Daerah.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sanksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan Ayat (2) di atur lebih lanjut dengan peraturan
Bupati.

BAB XI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 22
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 6 ayat (1), pasal 7 Ayat (1),
pasal 8 ayat (1), pasal 9 ayat (1), pasal 10 ayat (1), Pasal 11 ayat (1), dan
pasal 12 ayat (1), diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga)
hari atau denda paling banyak Rp. 1.000.000,00,- (satu juta rupiah).
(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), adalah pelanggaran.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 23
(1) Terhadap kawasan tanpa asap Rokok dan terbatas merokok
sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 dan pasal 22, Bupati
melakukan Pembinaan dalam bentuk Tim.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan paling
lama 1 (satu) Tahun terhitung sejak peraturan daerah ini diundangkan.
BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 24

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 25
Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Jeneponto.
14

Ditetapkan di Jeneponto
pada tanggal 4 Juli 2013

BUPATI JENEPONTO,

TTD

RADJAMILO

Diundangkan di Jeneponto
pada tanggal 5 Juli 2013

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN JENEPONTO

TTD

Drs. H. IKSAN ISKANDAR, M.Si


Pangkat : Pembina Utama Madya
Nip. : 19590723 198901 1 002

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO TAHUN 2012 NOMOR 220.


PENJELASAN

ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO

NOMOR TAHUN 2012

TENTANG

KAWASAN TANPA ASAP ROKOK DAN TERBATAS MEROKOK

I. UMUM
Udara memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia
dan makhluk lainnya. Sebagai salah satu sumber daya alam yang sangat
diperlukan bagi kehidupan maka penurunan kualitas udara akan
sangat berpengaruh bagi kelangs ungan hidup manusia serta
m a k h l uk h i dup l ai n n y a sehingga mutu/kualitasnya harus selalu
dijaga. Untuk melindungi kualitas udara diperlukan upaya-upaya
pengendalian terhadap sumber-sumber pencemar udara dan terhadap
kegiatan yang memiliki potensi mencemari udara.

Pencemaran udara yang salah satunya ditimbulkan dari asap rokok


menjadi permasalahan serius ketika dipahami bahwa rokok tidak saja
berdampak buruk pada kesehatan perokok tetapi juga mengkontaminasi
orang-orang disekelilingnya. Hasil dari berbagai penelitian tentang bahaya
yang ditimbulkan oleh asap rokok bagi kesehatan telah banyak diekspos
namun sejauh ini belum banyak direspon oleh masyarakat.

Oleh sebab itu melalui Peraturan Daerah ini diharapkan terwujud


suatu kebijakan yang men-seimbangkan antara pemenuhan kewajiban
pemerintah dalam rangka mengendalikan penggunaan rokok agar
terwujud derajad kesehatan masyarakat yang optimal dan
tanggungjawab pemerintah untuk memberi kesempatan bagi dunia
usaha dalam peran sertanya memberikan kontribusi terhadap
pendapatan Negara serta menyediakan lapangan kerja. Keseimbangan
tersebut tertuang melalui bentuk kebijakan yang tidak secara mutlak
melarang penggunaan rokok tetapi berupa pembatasan merokok di
kawasan-kawasan tertentu.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Cukup jelas.
16

Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Peran serta masyarakat adalah partisipasi masyarakat yang
meliputi perorangan, badan hukum, atau badan usaha termasuk
produsen, importer, lembaga atau organisasi yang diselenggarakan oleh
masyarakat dalam upaya mewujudkan terbentuknya Kawasan
Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Terbatas Merokok.

Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
RENCANA SUBSTANSI MATERI
YANG AKAN DIATUR DALAM RANCANGAN PERATURAN DAERAH
TENTANG KAWASAN TANPA ROKOK

I. PERTIMBANGAN SOSIOLOGIS :

1. bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan dapat
mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat
baik selaku perokok aktif maupun perokok pasif, oleh sebab itu
diperlukan perlindungan terhadap bahaya rokok bagi kesehatan secara
menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan;
2. bahwa menikmati dan mendapatkan udara yang sehat dan bersih
merupakan hak bagi setiap orang sehingga diperlukan adanya
kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk
mencegah dampak penggunaan rokok baik langsung maupun tidak
langsung terhadap kesehatan, guna terwujudnya derajat kesehatan
masyarakat yang optimal.

II. PERTIMBANGAN YURIDIS :


1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor
68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3886);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);
5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53 Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4389);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059);
9. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
19
10. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok
Bagi Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4276);

III. PENGERTIAN-PENGERTIAN :

25. Pencemaran udara di ruang tertutup adalah pencemaran udara yang terjadi
di dalam ruang dan/atau angkutan umum akibat paparan sumber
pencemaran yang memiliki dampak kesehatan kepada manusia.
26. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang produktif secara sosial dan ekonomis.

27. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal adalah tingkat kondisi


kesehatan yang tinggi dan mungkin dapat dicapai pada suatu saat sesuai
dengan kondisi dan situasi serta kemampuan yang nyata dari setiap orang
atau masyarakat dan harus selalu diusahakan peningkatannya secara terus
menerus.
28. Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk
lainnya yang dihasilkan dari tanaman atau bentuk lainnya yang dihasilkan
dari tanaman nicotiana tobacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintetisnya yang mengandung nikotin, tar dan zat adiktif dengan atau tanpa
bahan tambahan.
20

11. Kawasan Tanpa Asap Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan
dilarang untuk merokok.
12. Kawasan Terbatas Merokok adalah tempat atau area dimana kegiatan
merokok hanya boleh dilakukan di tempat khusus yang disediakan.
13. Kegiatan merokok adalah kegiatan menghisap atau menyalakan
rokok.
14. Tempat atau ruangan adalah bagian dari suatu bangunan gedung yang
berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan dan/atau usaha.
15. Tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh Pemerintah,
swasta atau perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat
termasuk tempat umum milik Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat,
gedung perkantoran, tempat pelayanan umum antara lain terminal,
stasiun, mall, pusat perbelanjaan, pasar serba ada, hotel, restoran, dan
sejenisnya.
16. Tempat kerja adalah ruang tertutup yang bergerak atau tetap dimana tenaga
kerja bekerja atau tempat yang sering dimasuki tenaga kerja dan tempat
sumber-sum berbahaya termasuk kawasan
pabrik,perkantoran,ruangrapat,ruangsidang/seminar, dan sejenisnya.
17. Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang dapat berupa
kendaraan darat, air, dan udara termasuk di dalamnya taksi, bus umum,
angkutan kota, dan sejenisnya.
18. Tempat ibadah adalah tempat yang digunakan untuk kegiatan keagamaan,
seperti masjid termasuk mushola, gereja termasuk kapel, pura, wihara, dan
kelenteng.
19. Arena kegiatan anak-anak adalah tempat atau arena yang
diperuntukkan untuk kegiatan anak-anak, seperti Tempat Penitipan
Anak (TPA), tempat pengasuhan anak, arena bermain anak-anak, atau
sejenisnya.
20. Tempat proses belajar mengajar adalah tempat proses belajarmengajar
atau pendidikan dan pelatihan termasuk perpustakaan, ruang
praktik atau laboratorium, musium, dan sejenisnya.
21. Tempat pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan Pemerintah dan
masyarakat, seperti rumah sakit, Puskesmas, praktik dokter, praktik bidan,
toko obat atau apotek, pedagang farmasi, pabrik obat dan bahan obat,
laboratorium, dan tempat kesehatan lainnya,antara lain pusat dan/atau balai
pengobatan, rumah bersalin, Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).
21

IV. TUJUAN
Tujuan penetapan Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Terbatas
Merokok, adalah :

f. menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian yang ditimbulkan


oleh asap rokok dengan cara merubah perilaku masyarakat untuk hidup
sehat;
g. meningkatkan produktivitas kerja;
h. mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap rokok;
i. menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula;
V. KAWASAN TANPA ROKOK
(2) mewujudkan generasi muda yang sehat. Tempat-tempat
tertentu meliputi :
i. tempat proses belajar mengajar;
j. tempat pelayanan kesehatan;
k. arena kegiatan anak-anak; dan
l. tempat ibadah;
22

VI. KAWASAN TERBATAS MEROKOK

Tempat-tempat tertentu meliputi :


d. tempat umum;
e. tempat kerja; dan
f. angkutan umum
VII. KEWAJIBAN PIMPINAN ATAU PENANGGUNG JAWAB
KAWASAN TERBATAS MEROKOK

Pimpinan atau penanggung jawab Kawasan Terbatas Merokok 2)


berkewajiban untuk:
d. menyediakan tempat khusus untuk merokok;
e. membuat dan memasang tanda/petunjuk/peringatan larangan merokok dan
tanda/petunjuk ruangan boleh merokok;
f. memberikan teguran dan peringatan kepada setiap orang yang melanggar
ketentuan dimaksud.
VIII. TEMPAT KHUSUS MEROKOK

Tempat khusus untuk merokok :


d. terpisah dari ruangan atau area yang dinyatakan sebagai tempat
dilarang merokok;
e. memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai;
f. tersedia asbak atau tempat pembuangan puntung rokok.
Tempat khusus merokok terdiri dari :
c. Di dalam ruangan
d. Di luar ruangan

IX. PERAN SERTA MASYARAKAT

(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam mewujudkan Kawasan Tanpa Asap
Rokok dan Terbatas Merokok di Daerah.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan dengan cara :
e. memberikan sumbangan pemikiran dan pertimbangan berkenaan
dengan penentuan kebijakan yang terkait dengan Kawasan
Tanpa Asap Rokok dan Terbatas Merokok;
f. melakukan pengadaan dan pemberian bantuan sarana dan prasarana
yang diperlukan untuk mewujudkan Kawasan Tanpa Asap Rokok
dan Terbatas Merokok;
g. ikut serta dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan serta
penyebarluasan informasi kepada masyarakat;
h. mengingatkan setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4 atau
Pasal 11;
i. melaporkan setiap orang yang terbukti melanggar ketentuan Pasal 4
atau Pasal 11 kepada pimpinan/ penanggungjawab Kawasan Tanpa
24
j. Asap rokok.

IX. SANKSI

sanksi berupa :
f. teguran;
g. peringatan tertulis;
h. penghentian sementara kegiatan;
i. pencabutan izin; dan/atau
j. denda paling banyak Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).