Anda di halaman 1dari 8

Menjadi kritikus film

Apa yang dibutuhkan

1. Klip
Baca buku ini, pinjam video atau nonton dibioskop  buat review nya  tunjukkan pada teman dan
minta untuk memberikan feedback yang jujur. Baca chapter 2 sampai 7 lagi  tulis lagi
2. Resume : siapkan review terbaikmu untuk dikirimkan ke website/publisher/internet/surat kabar
lokal.
3. Professionalism : tidak salah dalam menulis (typo), punya kekhasan, dan melakukan banyak
research.

Chapter 2 : mengerti riwayat film

Alasan mengerti riwayat ini agar dapat membandingkan film baru dengan film lama yang melegenda.
Contoh: membandingkan gladiator dengan Ben-Hur, atau Star Wars: Episode II dengan Empire Strikes
back. Atau Daredevil adalah rip-off dari spiderman. Atau semua film gangster diukur dengan godfather.

Hal sama juga berlaku untuk pemain dan kru. Kita bisa membandingkan perjalanan karir Sandra bullock
dari awal yang kocak sampai mendapatkan peran yang lebih serius. Berlaku juga untuk sutradara. Karir
steven spielberg contohnya, kita bisa melihat film mana yang mendapatkan box office atau yang flops.
Spielberg mengagetkan kita dengan menggabungkan aksi dan humor yang menarik/blockbuster dengan
seni yang perlu pemikiran keras.

Dalam memilih film yang akan kita review, bandingkan dengan film yang fenomenal dan melegenda.
Kadang-kadang ada actor yang acting nya baik, tetapi karena film nya buruk jadi terkesan buruk.

Saran: banyaklah nonton film-film yang berkualitas agar bisa membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk. Film saat ini dan klasik juga.

Sebelum mereview suatu film, tontonlah film sebelumnya yang menjadi inspirasi film ini.

Tonton film di appendix a.

Tonton 20 film/bulan

Selain itu, dengarkan dan baca berbagai review film dari penulis atau kritikus yang kamu kagumi, tidak
Cuma satu tapi banyak, untuk mendapatkan struktur dan gayanya, serta perspektif yang berbeda dalam
mereview film.

Abaikan sejarah dan kamu akan mengalami kutukan sejarah berulang. Sejarah film:

Film pertama ketika Lumiere menciptakan kamera Lumiere untuk menangkap pergerakan, hitam putih,
dan tanpa suara pada tahun 1895. Film hanya singkat dan suara berasal dari orchestra di bioskop.
Film berdurasi panjang dimulai pada tahun 1900s. D.W. Griffith’s Birth of a Nation (1915) pertama kali
menayangkannya, tentang Ku Klux Klan yang dianggap tidak jahat. Pada era ini, muncul film-film seperti
Dr. Caligari (1920), Nosferatu (1922), dan Battleship Potemkin (1925). Puncaknya adalah film-film Charlie
Chaplin, yaitu The Gold Rush (1925), dan Modern Times (1936).

Potemkin adalah film pertama yang memperkenalkan teknik editing yang rumit – memotong antara
karakter yang banyak dengan sudut untuk menunjukkan kejadian dari perspektif yang berbeda. Film inni
menginspirasi film Rob Marshall’s Chicago (2002).

Masa film yang bisa berbicara

Alan Crosland’s the Jazz Singer (1927) : film pertama berbicara

It Happened One Night (1934): giant leap

Citizen kane (1941), Casablanca (1942), Maltese Falcon (1941), Notorious (1946), It’s Wonderful Life
(1945) : yang terkenal

Film Berwarna

The Wizard of Oz (1939) dan Gone with the wind (1939) : warna yang lebih terang dari keseharian.
Inspirasi Blue Velvet (1986)

Italian Neo-Realism

Konsep bertolak belakang dengan Hollywood. Menceritakan kehidupan sehari-hari orang biasa

The Bicycle Thief (1949), film Fellini: La Strada (1954), Night of Cabiria (1957), 8 ½ (1963), La Dolce Vita
(1960)

The French New Wave

Periode pendek 1958 – 1960, dimana kritikus menjadi filmmaker untuk menjawab tantangan orang yang
tidak suka dengan review kritikus.

From 5 to 7 (1962), The 400 Blows (1959), Jules and Jim (1961), Godard’s Breathless (1960), This Man
Must Die (1969)

America pada 1950an dan awal 1960

All about Eve, Sunset Boulevard (1950), Rear Window (1954), Shane (1953), the Apartment, Psycho.
Vertigo (1957)

Grandeur: Ben-Hur (1959), Lawrence of Arabia (1962), Doctor Zhivago (1965), Cleopatra (1963). Dari
film-film yang durasinya lama ini kita bisa tahu, apa film yang memang pas dengan durasi lama atau apa
film yang cukup durasinya lebih singkat.

Sutradara terkenal : Alfred Hitchcock, Billy Wilder, John Ford, George Cukor
Exploitasi

Subgenre Film-film dari tahun 1950 – 1970 yang menceritakan tema yang tabu (seks, obat, etnis).

Shaft (1971)  ada remake nya tapi jelek.

I Spit on Your Grave (1978), She Wolf of the SS (1974), His Pink Flamingos (1972), Serial Mom (1994).

Cult film : The Rocky Horror Picture Show (1975), Faster Pussycat! Kill! Kill! (1965), Big Bad Mama
(1974)  menginspirasi Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez

Love dan Psychos di 1960 – 1970an

Experimentalism dan severe disenchantment.

The Graduate (1967), cerita cinta yang sedih

Catch-22 (1970), A Clockwork Orange (1971), Deliverance (1972), The Godfather (1972)  penjahat
yang buat kita empati

One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975), Dog Day Afternoon (1975), Taxi Driver (1976)  anti-hero.

Breakfast at Tiffany’s (1961)  Pulp Fiction (1994), Pretty Women (1990)

Easy Rider (1969), 2001: A Space Odyssey (1968)  film tentang perjalanan. Inspirasi Y Tu Mama
Tambien (2001)

Film tentang kejadian: 1975 - sekarang

Jaws (1975) merupakan film inspirasi dari banyaknya film tentang kejadian. Hollywood jadi berlomba-
lomba membuat film agar menjadi blockbuster  high rated dan menjangkau banyak audiens.

Star Wars (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), ET the Extra-Terrestrial (1982), Grease (1978), Top Gun
(1986), Toy Story (1995), Shrek (2001), dan Finding Nemo (2003).

Ketika kita membuat film agar semua orang menikmati, kita membuat film menjadi mudah dan tidak seni.

The biggest flop in history : Cuthroat islad (1995), Ishtar (1987), dan Hudson Hawk (1991)

Mereview film saat ini jadi sangat sulit, apakah kita ikut kerumunan atau tidak. Contoh seperti Jurassic
Park (1993), kita mereviewnya, padahal sejatinya itu film hanya melihat dinosaurus besar berkeliling dan
menginjak-injak selama 2 jam.

Tips mudahnya adalah membandingkan film yang akan direview dengan film lain yang memang terbaik
dengan genre yang sama. Misal: phantom menace dengan star wars, atau jaws dengan Eight-Legged
Freaks

Independent dan Digital Filmmaking

Perfilman diluar studio besar atau holywood.


The Blair Witch Project (1999), Swingers (1996), sex, lies, and videotape (1989), Memento (2000), Amelie
(2001). Dogma 95 movement:

 Pengambila ngambar dilakukan di lokasi, bukan di studio


 Tidak ada dubbing sound (bahkan musik)
 Tidak ada trik kamera
 Tidak ada aksi superficial (ledakanadan pembunuhan)
 Film dengan waktu sekarang dan di lokasi diambil shot nya.

Contoh : the Celebration (1998)

Membuat perbandingan dengan film yang bertema sama atau originalnya adalah alat yang berharga
dalam mengkritik film

CHAPTER 3

MENGERTI TENTANG CARA MEMBUAT FILM

Tahap 1 : bagaimana film tercetus

Ide dari penulis  jual ke studio atau rumah produksi (biasanya kecil). Ide biasanya singkat, synopsis,
yang dapat dikembangkan  pembuatan script screenplay.

Screenwriter  menulis script yang beneran (lebih dari 100 halaman)

Produser : bertanggungjawab terhadap uang untuk menyewa pemeran dan kru  merekrut talent.

Jika talent setuju, skrip rampung  film dibiayai oleh studio (satu atau banyak studio).

Estimasi budget penting. Jika budget nya besar, mereka akan memperhatikan review yang kamu tulis.
Film tidak boleh jelek proses produksinya.

Jenis-jenis kru di film:

 Art director : bertanggungjawab terhadap apa yang terlihat di sepanjang film (bangunan, pakaian
set up), diebut juga production designer
 Cinematographer : bekerja dengan sutradara/director pada pencahayaan, mengeset shot,
memilih stok film dan kamera, dan mengawasi penggunaan kamera. Membawahi kru
pencahayaan, dan yang bawa-bawa alat. Disebut juga director of photography (DP)
 Cahaya : departemen yang bertanggungjawab pada perekaman suara di set atau suara direkam
setelah set selesai.
 Kru lain : line producer, script supervisor, dan assistant director.

Sebelum produksi (pre-production), sutradara dapat melakukan latihan dengan pemain, atau tidak,
tergantung dari gaya sutradara. Kemudian, pemilihan lokasi dan tanggal untuk memulai buat film.
Hari pertama shooting adalah hari pertama produksi (production). Produksi bisa cepat atau lama,
tergantung dari lokasi, apakah hanya sedikit lokasi, atau waktu yang dimiliki kru untuk membuat film.
Misalnya film indie bisa dikerjakan saat weekend saja.

Post-Production  editing film. Tugas sutradara untuk mengedit/memotong film menjadi 100 menit dari
ratusan-ribuan menit takes yang dibuat.

CHAPTER 4

MENULIS REVIEW PERTAMA

Rahasia review yang baik : JUJUR

Bagaimana menganalisis film:

Pertanyaan dasar pada film yang ditonton :

1. Apakah film ini tujuannya tercapai? Maksudnya, apakah penonton dapat tertawa, menangis, atau
berteriak dalam terror seperti yang diharapkan? Dibandingkan dengan film lain di genre yang
sama, apakah kamu tertawa/menangis/ berteriak lebih tinggi atau lebih sedikit? Mengapa?
2. Apakah ceritanya menarik? Disini kita mengevaluasi scriptnya. Apakah candaannya baru atau
kamu pernah mendengarnya di dialog film lain. Apakah plotnya diambil dari film lain? Apakah
kamu dapat memperkirakan endingnya setelah 20 menit menonton? Apakah kecepatannya
terlalu lambat, atau plotnya membingungkan? Jika buruk, maka screenwriting nya jelek.
3. Bagaimana performance aktornya? Apakah acting nya bisa dipercaya? Apakah perannya ini bisa
kita lihat di dunia nyata? Apakah penampilannya natural atau dibuat-buat? Apakah satu orang
lebih menonjol daripada yang lainnya? Atau semua pemeran memiliki cahayanya masing?
Apakah aktornya salah casting atau berhasil mengeksplorasi area baru? Apakah actor nya malas
sehingga dia menampilkan karakternya dari film lain?
4. Bagaimana dengan sutradara? Directing susah dinilai, khususnya bagi pemula karena banyak
dapat bantuan dari kru pendukung. Acting yang baik adalah salah satu tanda penyutradaraan
yang baik, tetapi ketika actor bekerja dengan baik bersama-sama, itu indikasi yang lebih baik dari
sutradara. Sutradara yang baik juga menguasai sisi teknis dari pembuatan film, yaitu pemilihan
shot yang baik, fotografi yang baru, dan pergerakan kamera yang tidak terlihat. Laju film juga
bagian yang penting dalam penyutradaraan. Apakah scene dimulai ketika penting dan diakhiri
sebelum menjadi membosankan? Apakah filmnya mempercepat alur cerita ketika memasuki
klimaks atau kecepatannya kacau?
5. Bagaimana dengan kru pendukung? Apakah kostum dan setnya autentik? Apakah musik
background menyatu dengan keseluruhan film? Apakah efek spesialnya terlihat baik, dan
suaranya berada pada level volume yang cocok (tidak terlalu keras atau lembut).
6. Apakah ada pesan yang disampaikan film? Yang kamu akan tetap ingat selama seminggu
setelah nonton film?
7. Apakah filmnya terlalu lama atau atau terlalu pendek? Apakah film berdurasi panjang sesuai
dengan kepentingannya dalam film?
8. Akhirnya, apakah semua aspek diatas memiliki kombinasi yang baik? Berkaitan dengan
pertanyaan pertama.

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat segera dijawab satu menit setelah kita selesai menonton film. Jangan
anggap pertanyaan-pertanyaan ini ujian/checklist yang harus diselesaikan.

Seni vs entertainment (hiburan)

Bedakan. Masing-masing punya kelebihan. Jangan terlalu menilai seni pada film yang memang tujuannya
untuk menghibur, begitupula sebaliknya.

Kritik film vs movie reviewer. Kritik film biasanya membahas film lebih detil dan dibahas setelah banyak
orang nonton, sementara movie reviewer membahas film apakah layak ditonton atau tidak, untuk orang yang
belum nonton film itu.

Pertimbangan genre

Genre yang berbeda harus dipertimbangkan untuk direview berbeda. Penikmat film horror tentu berbeda
dengan penikmat film romantis. Selain itu perbedaan gender/jenis kelamin juga patut dipertimbangkan. Cara
yang terbaik untuk mengatasinya adalah biarkan dunia tahu bahwa kamu memiliki karakteristik (misalnya
genre) yang berlawanan dengan apa yang kamu tonton, di awal review. Misalnya: kamu adalah wanita yang
mereview film terminator/ film horror. Kasih tau itu di awal. Atau kamu ras kulit putih yang nonton film orang
kulit hitam. Kasih tau juga diawal.

Menilai penampilan artis

Bayangkan artis yang kamu sukai, namun dia bermain di film yang kamu tidak suka. Misalnya, al pacino
main di film showtime. Ini akan membantumu untuk memisahkan artis yang kita sukai main di film, bahwa
tidak semua penampilannya bagus.

Apa yang membuat penampilan seorang artis baik atau buruk?

Penampilan artis itu bisa diingat. Misalnya jim carrey dalam ace ventura, jack Nicholson di flew over the
cuckoo’s nest atau the shining, al pacino di The Godfather, Samuel L Jackson dalam pulp fiction. Karakter
yang membuat artis tersebut tidak bisa lepas dari peran itu di dunia nyata dan film selanjutnya.

Penampilan yang berlebihan dapat terjadi ketika artis terlalu berlebihan dalam berakting, menghancurkan
set, cerita, agar semua orang melihat penampilannya dia (over-the-top performance)

Penampilan yang buruk juga bisa dilihat dari acting yang kaku atau tidak alami. Hal ini bisa terjadi karena
latihan/persiapan yang kurang, casting yang buruk, atau dialog yang buruk. Tidak begitu susah mengatakan
bahwa dialognya kaku. Telingamu akan mengatakan bahwa ada yang salah dengan pengucapannya, tinggal
tulis saja kalau ada yang salah.

Hal-hal pendukung lainnya yaitu aksen yang tidak pas, improvisasi yang buruk, artis mabuk, dll.

Character actor adalah actor yang dikhususkan untuk memainkan peran pendukung yang eksentrik, aneh,
dan tidak biasa yang berbeda dari actor utama (berandalan, nerd, tidak taat hukum), dan actor ini selalu
memainkan hal yang serupa di film yang berbeda. Contohnya: Philip Seymour Hoffman.

Sekolah acting

Method acting adalah gaya dimana actor berusaha untuk menciptakan kembali emosi karakter yang akan
dirasakan, membayangkannya dalam memori emosi atau memori sensory berdasarkan pengalaman actor
sendiri sebelumnya yang memiliki analogi yang sama dengan apa yang dirasakan karakter. Bertindak
karena motivasi. Misalnya: membayangkan dia kembali datang ke acara penguburan ayahnya saat
memainkan karakter yang sedih saat ke pemakaman orang yang dicintai. Contoh : Robert de niro.

Brechtian acting: kurang begitu popular. Actor menampilkan diri dengan menunjukkan pada audiens bahwa
apa yang dia kerjakan adalah acting, bahwa itu adalah cerita/film, bukan kenyataan. Saat ini, hal itu
dianggap sebagai pendekatan yang berlebihan terhadap penampilan. Contoh: Bill Murray. Karakternya kita
tahu itu film dan penampilannya Grandiose (dramatisasi berlebihan).

Improvisasi adalah perpanjangan dari method acting, dimana actor mengembangkan karakter berdasarkan
motivasi dan memori, kemudian cukup bereaksi dalam moment saat menjadi karakternya dan dalam situasi
umum di film. Contohnya: Christopher Guest’s best in show (2000) atau Rob Reiner’s This is Spinal Tap
(1984).

Menilai screenwriting

Tanpa script, film tidak aka nada. Tahap menulis adalah tahap kritis, dia yang membuat film jadi buruk, dan
dia juga yang membuat acting buruk, pencahayaan buruk, sutradara buruk menjadi film yang menarik.

Aspek yang penting dalam script adalah mampu menciptakan suasana yang tidak bisa dipercaya. Film tidak
menceritakan kehidupan sehari-hari, jika itu ditampilkan, orang tidak akan menontonnya. Namun perlu
diingat bahwa apa yang terjadi ini punya alasan dan berlogika, jangan asal membuat pemecahan suatu
masalah dengan gampang (tiba-tiba ada orang menolong, atau orang jahat tiba-tiba jatuh).

Untuk film-film fiksi ilmiah seperti star wars dan lord of the ring, aplikasi bahwa kejadian tersebut susah untuk
dipercaya tidak berlaku. Penonton sudah tau bahwa yang ditampilkan di film adalah bohongan. Film ini
adalah alternative untuk orang yang tidak ingin berpikir banyak tentang ilmu fisika dan hal-hal exact lainnya.

Peraturan emas dalam penulisan script adalah tidak ada dalam film (cerita, dialog, plot) yang memang
benar, kita hanya membuat itu terlihat benar. Apa yang dikatakan mentri ketika dia menghibur dalam
pemakaman? Itu tidak penting, selama penonton tidak bilang “dia tidak mungkin bilang begitu!”
Struktur cerita

Yang paling umum adalah three act structure. Sumber: Syd Field, Robert McKee, Linda Seger, William
Goldman. Contoh : boy meets girl – boy loses girl – boy gets girl back.

Contoh lain  The Matrix (1999) : act one : Neo mengetahui bahwa dia hidup dalam simulasi komputer. Act
two: Neo keluar dari the matrix, belajar tentang resistensi, berlatih terus-terusan dan akhirnya menyadari
bahwa dia adalah superhero. Act three : Neo masuk the Matrix untuk menyelamatkan Morpheus dan
dikuatkan bahwa dia benar-benar the One.