Anda di halaman 1dari 15

1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh
rangkaian proses penyusunan laporan kasus yang berjudul: “Food Alergi “
sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik ilmu
kesehatan kulit dan kelamin di RS Murni Teguh.
Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada dokter pembimbing atas bimbingan dan
arahannya selama mengikuti Kepaniteraan Klinik di Kepaniteraan Klinik ilmu
kesehatan kulit dan kelamin di RS Murni Teguh.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih banyak kekurangan,
kritik dan sarannya yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan guna
perbaikan case ini di kemudian hari. Harapan penulis semoga laporan kasus
ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan serta dapat menjadi arahan
dalam mengimplementasikan ilmu di klinis dan masyarakat.

Medan , 2019
2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 1

DAFTAR ISI ................................................................................................................ 2

BAB 1 ........................................................................................................................... 3

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................. 4

1.1 Defenisi....................................................................................................... 4

1.2 Etiologi ...................................................................................................... 4

1.2 Epidemiologi .............................................................................................. 5

1.3 Patogenesis ................................................................................................. 5

1.5 Gejala Klinis .............................................................................................. 7

1.6 Penegakan Diagnosa ................................................................................. 7

1.7 Penatalaksanaan ....................................................................................... 8

1.8 Diagnosa Banding ..................................................................................... 8

1.9 Prognosis .................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 10

STATUS PASIEN ..................................................................................................... 11


3

BAB 1

PENDAHULUAN

Makanan adalah salah satu penyebab alergi yang berbahaya.Tidak


semua reaksi makan yang tidak diinginkan adalah suatu alergi makanan.
Klasifikasi dari EAACI ( European Association of Alergy and Clinical
Immunology) membagi reaksi makanan yang tidak diinginkan menjadi reaksi
toksik dan non toksik. Reaksi toksik adalah reaksi iritan yang ditimbulkan
oleh racun dari makanan misalnya daging yang terkontaminasi oleh
bakteri,atau makanan yang terkontaminasi oleh pestisida. Reaksi non toksik
dapat berupa reaksi imunologis atau non imunologis. Reaksi non imunologis
(intoleransi makanan) seperti reaksi akibat zat yang terdapat pada makanan
seperti histamin pada ikan, tiramin yang terdapat pada keju,atau pada orang
yang defesiensi laktolosa.1
Alergi makanan adalah respons abnormal terhadap makanan yang
diperantarai oleh reaksi alergi imunologis. Sebagian besar keluhan mengenai
makanan adalah intoleransi makanan bukan suatu alergi makanan. Alergi
makanan dapat bermanisfestasi seperti alergi yang lain pada satun organ atau
berbagai organ target pada kulit seperti urtikaria,angioedema ,dermatitis
kontak,pada saluran napas rinitis,asma, saluran cerna, nyeri abdomen ,muntah
pada kardiovaskuler syok anafilaktik. Alergi makanan pada orang dewasa
dapat merupakan alergi yang sudah terjadi saat anak-anak atau reaksi yang
memang baru terjadi pada usia dewasa. Secara umum patofisiologi alergi
makanan dapat diperantarai IgE maupun tidak diperantarai oleh IgE.1
4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Defenisi
Kelainan kulit akibat alergi makanan ialah dermatosis akibat reaksi
imunologik terhadap makanan atau bahan pelengkap makanan. Alergi
makanan adalah respons abnormal terhadap makanan yang diperantarai oleh
reaksi alergi imunologis.Sebagian besar keluhan mengenai makanan adalah
intoleransi makanan bukan suatu alergi makanan. Alergi makanan dapat
bermanisfestasi seperti alergi yang lain pada satun organ atau berbagai organ
target pada kulit seperti urtikaria,angioedema ,dermatitis kontak,pada saluran
napas rinitis;asma saluran cerna nyeri abdomen ,muntah pada kardiovaskuler
syok anafilaktik. Alergi makanan pada orang dewasa dapat merupakan alergi
yang sudah terjadi saat anak-anak atau reaksi yang memang baru terjadi pada
usia dewasa.1

1.2 Etiologi
Sistem kekebalan tubuh secara salah mengidentifikasi protein pada
makanan tertentu sebagai sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Sistem
kekebalan ini memicu pelepasan Imunoglobulin E (IgE) ke dalam darah untuk
menetralisir makanan yang diduga berbahaya tadi. Akibatnya, timbul gejala
alergi.
Makanan yang paling banyak memicu alergi, antara lain protein dalam
kerang, udang, lobster, kepiting, kacang kenari, pala, ikan, dan telur.
Sedangkan pada anak-anak, alergi makanan umumnya dipicu oleh protein
dalam telur, susu, kacang-kacangan, dan gandum.
5

1.3 Epidemiologi
Prevalensi alergi makanan tidak diketahui dengan pasti, namun
besarnya dugaan masyarakat terhadap alergi makanan melebihi prevalensi
yang dibuktikan melalui penelitian klinis. Gangguan ini lebih serig ditemukan
pada bayi dan anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa.
1.4 Patofisiologi
Setiap saat saluran cerna akan terpajan dengan berbagai macam
protein yang bersifat alergenik, namun reaksi hipersensitivitas terhadap
makanan relatif jarang terjadi. Hal ini mencerminkan betapa efisiensinya
fungsi saluran cerna dalam memproses makanan. Sawar mekanis atau non-
imunologis yang terdapat pada saluran cerna adalah asam lambung, enzim
proteolitik, mukus dan gerakan peristaltik. Selain sawar mekanis, penting pula
sawar imunologis yang diperankan oleh git-associated lymphoid tissue
(GALT) yang terdiri atas:

1. Folikel limfoid sepanjang mukosa usus, termasuk apendiks dan bercak


peyer
2. Limfosit intraepitel
3. Limfosit, sel plasma dan sel mas pada lamina propria
4. Kelenjar linfe mesenterium
Setelah ingesti makanan, terjadi peningkatan poduksi igA-sekretori
pada lumem usus, yang akan mengikat protein membentuk suatu kompleks,
sehingga absorbsi berkurang. Sekitar 2% makromolekul tetap akan terserap
dalam bentuk antigen utuh, dan terhadap bagian ini akan timbul toleransi.
Mekanisme terjadinya toleransi belum diketahui dengan pasti, kemungkinann
melalui perangsangan sel T CD8+. Hipersensitivitas terhadap makanan terjadi
bila toleransi hilang atau berkurang. Tingginya insidenns alergi makanan pada
bayi dan anak-anak, mungkin akibat imaturitas sistm imun dan fungsi
fisiologis saluran cerna yang belum sempurna.
6

Urtikaria dan angioderma didasari oleh reaksi hipersensitivitas tipe I.


Alergen makanan yang masuk akan mengakibatkan terjadinya cross-
linking igE yang melekat pada prmukaan sel mas atau basosil. Akibat
keadaan tersebut, terjadi pelepasan mediator, misalnya histamin,
leukotrien dan prostaglandin yang selanjutnya akan mengakibatkan gejala
klinis.
Pengaruh alergen makanan pada aksaserbasi dermatitis atopik
masih diperdebatkan. Sebagian penulis berpendapat bahwa alergen
makanan pada awalnya menimbulkan eritema dan pruritus yang
diperantarai oleh igE seperti reaksi hipesensitivitas tipe I. Hal tersebut
akan mengakibatkan rangsangan untuk menggaruk, sehingga terjadi
eksaserbasi dermatitis atopik. Pendpat lain menyebutkan bahwa
mekanisme pembentukan lesi akibat makanan pada dermatitis atopik tidak
dapat diklasifikasikan dengan mudah, mungkin berupa respons fase
lambat dari hipersensitivitas tipe I atau merupakan hipersensitivitas tipe
IV.
Lebih dari 85% penderita dermatitis herpetiformis duhring
memiliki gangguan pada usus halus berupa enteropati sensitif-glutein.
Diajukan 2 teori tentang peranan enteropati ini terhadap patogenesis
penyakit ini. Yang pertama usus halus merupakan tempat terjadinya reaksi
yang spesifik terhadap gluten, yaitu respon selular yang menimbulkan
enteropati dan respon humoral berupa igA yang menimbulkan kelainan
kulit. Yang kedua, defek usus mengakibatkan gluten, protei non-gluten
dan lektin mencapai sirkulasi, hingga terbentuk antibodi spesifik yang
selanjutnya diendapapkan di kulit.1
7

1.5 Gejala Klinis


Manifestasi alergi makanan pada kulit umumnya berupa
urtikaria/angioderma atau dermatitis atopik. Namun dapat juga berupa
dermatitis herpetiformis duhring. Alergi makanan juga telah dibuktikan
merupakan pencetus dermatitis atopik pada sepertiga kasus anak-anak. Dalam
waktu 2 jam setelah ingesti makanan tersangka, akan terjadi eritema dan
pruritus yang menyebabkan penderita menggaruk, sehingga terjadi
eksaserbasi dermatitis atopik. Kasus dermatitis atopik pda bayi diperkirakan
85% ajkan mengalami toleransi terhadap makanan setelah mencapai usia 3
tahun.1

1.6 Penegakan Diagnosa


Untuk menegakan diagnosis alergi makanan dibutuhkan anamnesis
yang teliti untuk membedakan antara intoleransi makanan dan reaksi
hipersensitivitas sejati. Berbagai uji in vivo dan in vitro dapat membantu
pembuktian dugaan alergi makanan. Uji in vivo yang sering digunakan adalah
uji tusuk dan diet eliminasi selama 7-14 hari terhadap makanan tersangka. Uji
in vitro umumnya berupa pemeriksaan kadar igE spesifik dalam serum
(RAST), namun nilainya kurang bermakna bila dibandingkan dengan uji
tusuk.
Skin aplication food test (SAFT) juga sering digunakan untuk mencari
makann pencetus dermatitis atopik, terutama untuk anak yang berusia
dibawah 4 tahun, karena banyak anak takut jika akan dilakukan uji tusuk.
Makanan dalam kondisi sama seperti yang dikonsumsi diaplikasikan secara
tertutup pada punggung penderita, dan efek yang diharapkan timbul berupa
urtikaria kontak.
Double blind placebo controlled food challenge test (DBPCFC)
merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis alergi makanan.
Pemilihan jenis mkanan untuk DBPCFC dilakukan berdasarkan anamnesis,
8

uji kulit atau RAST, atau diet eliminasi. DBPCFC tidak dilakukan pada
penderita dengan riwayat alergi makanan yang mengancam jiwa dan hasil uji
kulit yang positif.

1.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan alergi makanan dibedakan menjadi dua, yaitu
mengatasi gejala alergi akut dan mencegah terjadinya reaksi alergi.
Pengobatan gejala akut dilakukan dengan menggunakan epinefrin atau
antihistamin. Sedangkan, pencegahan reaksi alergi yang paling manjur adalah
dengan menghindari paparan alergen.
Pada pasien dengan gejala yang lokal (mulut gatal, urtikaria lokal, dan
lain-lain) cukup diberikan antihistamin oral difenhidramin 25–50 mg setiap 6–
8 jam, atau cetrizin 5–10 mg/hari, atau loratidine 10-20 mg/hari).
Sementara pasien dengan gejala sistemik anafilaksis, dapat
diberikan epinefrin : Pada dewasa: 0,3–0,5 ml larutan 1:1.000, Pada anak:
0,01 ml/kgBB larutan 1:1.000. Epinefrin diberikan secara intramuskular dan
dapat diulang setelah 10–15 menit. Selain itu, dapat ditambah antihistamin
parenteral difenhidramin 10–50 mg IV/IM setiap 6–8 jam.5,6,7
1.8 Diagnosa Banding
Kelainan kulit DKA sering tidak memberikan gambaran morfologik
yang khas, menyerupai dermatitis atopik, dermatitis numularis, dermatitis
seboroik, atau neurodermatitis sirkumskripta. Diagnosis banding yang
terutama ialah dengan dermatitis kontak iritan. Dalam keadaan ini pemeriksan
uji tempel perlu timbangkan untuk menentukan apakah dermatitis tersebut
karena kontak alergi.
Dermatitis Numularis. Lesi eksematous khas berbentuk koin, berbatas
tegas, ujud kelainan kulit terdiri dari papul dan vesikel. Dermatitis Atopik.
Erupsi cenderung bilateral dan simetris. Lesi kering terdiri dari papul atau
likenifikasi, dan hiperpigmentasi. Tempat predileksi pada muka dan ekstensor
9

untuk bayi dan anak-anak, bagian fleksor, di lipat siku, lipat lutut, samping
leher pada dewasa. Adanya riwayat atopi pada pasien atau keluarganya.
Dermatitis Seboroik. Adanya erupsi kronik pada daerah scalp,
belakang telinga, sternal, axilla, dan lipat paha, disertai dengan skuama basah
berwarna kuning hingga kering. 1

1.9 Prognosis
Prognosis food alergi umumnya baik, sejauh bahan alergenya dapat
dihindari.6
10

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A.Dermatitis . In: Sri AS dan Suria D, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. 7th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2017. p.
161-165
2. Peiser , T Tralau J Heidler et al. Allergic contact dermatitis: epidemiology,
molecular mechanisms,in vitro methods and regulatory aspects.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3276771/pdf/18_2011_Article_8
46.pdf
3. British Association of Dermatologists’ guidelines for the management of contact
dermatitis.2017.http://www.bad.org.uk/shared/get-
file.ashx?id=4375&itemtype=document
4. Guideline contact dermatitis. Jochen B, detlef B, werner B
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4484750/pdf/40629_2014_Artic
le_13.pdf
5. National Institute of Allergy and Infectious Disease. Guidelines for the Diagnosis
and Management of Food Allergy in the United States.
https://www.foodallergy.org/sites/default/files/migrated-files/file/niaid-clinician-
summary.pdf, 2010
6. National Institute for Health and Care Excellence. Food allergy in under 19s:
assessment and diagnosis. https://www.nice.org.uk/guidance/cg116/chapter/1-
Guidance, 2011.
7. S. H. Sicherer. Food Allergies. https://emedicine.medscape.com/article/135959-
workup#c10, 2016.
8. P.J.Delves.FoodAllergy. http://www.msdmanuals.com/professional/immunology-
allergic-disorders/allergic,-autoimmune,-and-other-hypersensitivity-
disorders/food-allergy, 2017
11

STATUS PASIEN
A. Identitas Pasien
Inisial : Ny. W
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 65 Tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
B. Riwayat Penyakit
Keluhan utama:
Bercak kemerahan dan bersisik yang terasa gatal pada kedua kaki, tangan dan
leher yang dialami sejak tiga minggu yang lalu.
Riwayat Perjalanan Penyakit:
Awalnya berupa bercak kemerahan yang terasa gatal pada kedua punggung
kaki setelah makan kacang yang kemudian digaruk semakin lama menyebar
pada kedua tangan kiri dan kanan dan leher, kemudian diberikan obat salep
namun tidak ada perbaikan.
Riwayat Penyakit Terdahulu:
Penyakit diabetes melitus, penyakit hipertensi, penyakit jantung
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak dijumpai keluhan yang sama pada keluarga.
Riwayat Penggunaan Obat :
Penggunaan obat (+)
C. Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata
Keadaan umum : Pasien tampak lemah
Kesadaran: compos mentis.
Tanda Vital
Tekanan darah : 140/90mmHg
Nadi : 85 x/i
12

Pernafasan : 20 x/i
Suhu : 36,5°C
Keadaan Spesifik
Kepala : dalam batas normal
Leher : dalam batas normal
Thorax : dalam batas normal
Abdomen :dalam batas normal
Genitalia :dalam batas normal
Ekstremitas :dalam batas normal
13

m
o
m
e
t
a
s
o
n
e

f
u
r
o
a
t
e
,
Status Dermatologistatus dermatologi :

- Plak eritematosa ditutupi skuama, multipel, batas tidak tegas, lentikuler-


plakas pada regio coli sinistra.

- Ekskoriasi,Plak hiperpigmentasi yang ditutupi skuama, multipel lentikuler-


plakat, batas tidak tegas pada regio dorsum pedis, manus dextra dan sinistra.

D. Pemeriksaan Penunjang
Uji kulit : tidak dilakukan
14

E. Diagnosis Banding
1. Food alergi
2. Dermatitis kontak alergi
3. Dermatitis kontak iritan
4. Dermatitis seboroik
F. Diagnosis Kerja
Food alergi
G. Penatalaksanaan
Non medikamentosa:
- hindari kontak ulang dengan alergen penyebab (kacang tanah)
- jaga kebersihan

Medikamentosa:

- Cetirizine tab 1 x 10mg


- Momethasone furoate 1% krim 2x1
H. Prognosis
Ad vitam: Bonam
Ad functionam: Dubia ad bonam
Ad sanactionam: Dubia ad bonam
15

LAMPIRAN