Anda di halaman 1dari 31

TUGAS

UJIAN TENGAH SEMESTER

DOSEN : FRESLEY HUTAPEA, SH, MH, MARS


MAHASISWA : RIANTI KAMA RATIH (186080069)

PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT


UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
2019
SOAL MID TEST – S2 URINDO 2019

Seorang pengusaha Asing ingin mendirikan Rumah Sakit kls A bertaraf internasional sesuai
kebutuhan masyarakat setempat sesuai aturan yang berlaku akan tetapi karena beliau belum
mengetahui Syarat, Prosedur serta Teknis mendirikan dan menyelenggarakan Rumah Sakit
sebuah Kota dengan jumlah penduduk 5 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk yg
sangat padat karena dekat dengan daerah pusat pemerintahan, . Menurut Data kesehatan di Kota
tersebut ada Rumah Sakit Pemerintah kelas B 1 buah dan RS B Swasta berbentuk
PT/Yayasan ada 2 RS dan 12 kelas C, dengan 18 Puskesmas Pengusaha dimaksud
berkeinginan mendirikan Rumah Sakit swasta kelas dengan keunggulan Pusat Cancer
Terpadu .
Permasalahan yang dihadapi perusahaan tadi adalah bagaimana prosedurnya mendirikan dan
menyelenggarakan rumah sakit, prosedurnya dan kepada siapa harus berhubungan serta
berapa biaya yang dibutuhkan, sarana prasarana serta alat apa yang dibutuhkan dan
tenaga yang diperlukan.
Selain daripada itu dalam penyelenggaraan RS diperlukan adanya standar-standar seperti Standar
Pelayanan dan SOP/SPO.
Untuk itu meminta bantuan saudara sebagai Lulusan MARS yang dianggap sebagai konsultan
dlm bidang Perumahsakitan dengan imbalan yang dapat disepakati bersama
Pertanyaan
1. Sebagai konsultan tentunya saudara dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan pada
perusahaan tersebut untuk mendirikan dan menyelenggarakan Rumah Sakit. ..Uraikan
pertimbangan-pertimbangan Saudara dalam pendirian dan penyelenggaraan RS
secara lengkap dan jelas.

2. Uraikan prosedur mendirikan sebuah Rumah Sakit beserta dengan mekanisme


melaksanakannya lengkap dengan aturan yang berkaitan dalam hal pendirian dan
penyelenggaraan RS..Apakah mungkin mendirikan rumah sakit internasional ?
Jelaskansecara lengkap

3. Mengingat daerah sangat padat penduduk ,. Apakah perlu didirikan RS Klas D Pratama ?
.Jekaskan pula tatacara pendirian RS Kls D Pratama sesuai aturan yg berlaku
4. Dalam proses pendirian dan penyelengaraan Rumah Sakit diperlukan adanya Studi
Kelayakan (feasibility study),Master Plan dengan membuat pertimbangan berdasarkan
peraturan yang berlaku, antara lain:
a. Analisis kebutuhan pelayanan (program fungsi)
b. Analisis kebutuhan SDM (kompetensi masing-masing)
c. Analisis kebutuhan Sarana, Prasarana dan Alat (SPA)
d. Analisis kebutuhan biaya
Coba saudara buatkan Study Kelayakan sesuai pengetahuan Saudara.

5. Jelaskan pula standar-standar apa yang diperlukan termasuk kebijakan, pedoman


dan berapa SOP/SPO yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan RS tersebut. Uraikan
secara lengkap
CATATAN:
DIKERJAKAN MASING-MASING MAHASISWA DIKUMPULKAN 2 (dua ) MINGGU
MENDATANG DIKIRIM MELALUI EMAIL: fresleyhutapea@yahoo.com

JAWABAN

Jawaban No.1 : Pendirian dan penyelenggaraan RS :

Pertimbangan-pertimbangan dalam pendirian dan penyelenggaraan RS, saya menggunakan


pendekatan SYSTEM dengan 4 komponen yaitu Input – Proses – Output - Outcome

•segala hal yang


PROSES •segala hal yang
OUTCOME
berhubungan dihasilkan dari
dengan Pre •segala hal yang proses dan dapat •dampak positif dan
operasional berhubungan diukur negatif dari input -
dengan proses proses dan output
operasional

INPUT OUTPUT

Namun dalam hal mendirikan dan menyelenggarakan Rumah Sakit, saya harus melihat
OUTCOME terlebih dahulu, apa VISI dan MISI yang akan dicapai, dan apa ekpektasi owner
terhadap bisnis rumah sakit ini. Hal ini sangat penting karena sangat mempengaruhi semua aspek
system pada proses sebelumnya.
Masing – masing tahapan pendekatan system ini akan dijabarkan apa saja yang termasuk di
dalamnya dan dalam menjalankannya perlu adanya monitoring dan evaluasi yang jelas dan
terukur
a. Aspek output
- Dengan pendirian rumah sakit ini akan ada nilai tambah sosial kemasyarakatan dimana
taraf hidup dan pelayanan kesehatan meningkat, dan mempermudah akses ke
pelayanan Rumah Sakit.

- Akan menambah nilai bisnis secara umum, keberadaan Rumah Sakit menimbulkan
efek multiplier dimana ekonomi rakyat sekitar akan meningkat, baik penyerapan
kebutuhan SDM, dan suplly kebutuhan internal RS.

- Nilai ekonomi, kesehatan secara makro untuk kabupaten tersebut, meningkat, dimana
daerah tersebut secara index kesehatan meningkat dan masyarakat dapat
berproduktivitas maksimal.

b. Aspek Proses

- Mempertimbangkan tingkat persaingan bisnis rumah sakit disekitar apakah masih


mungkin sehingga investasi bisa maksimal profitabel.

- Aspek legalitas tanah dan bangunan serta masalah perizinan, dimana secara legal
daerah tersebut diizinkan untuk membangun RS dan tidak bermasalah secara hukum
nantinya.

- Aspek Financial, baik dalam biaya pembangunan, biaya operasioanal sampai dengan
BEP sehingga investasi dapat maksimal.

- Aspek SDM, MSDM dikelola dengan baik, mulai dari perencanaan, perekrutan,
pelatihan, dan sebagainya.

c. Aspek Input

- Urgensi/segmented market, segmen pasar yang akan dituju, apakah segmen menengah
kebawah, medium, atau menengah keatas, karena hal ini akan berpengaruh terhadap
pembiayaan, fasilitas, profit, dan manajemen resiko.

- Supply keberadaan barang dan jasa apakah memungkinkan untuk pembangunan RS di


daerah tersebut.

- Demand kebutuhan RS/pelayanan kesehatan apakah masih benar-benar dibutuhkan


sehingga sanggup untuk berkompetisi memberikan pelayanan terbaik.

Berdasarkan data yang ada di kota tersebut dengan jumlah penduduk 5 juta jiwa dengan
data jumlah Rumah Sakit Pemerintah kelas B 1 buah dan RS B Swasta berbentuk PT/Yayasan
ada 2 RS dan 12 kelas C, dengan 18 Puskesmas; dengan dasar perhitungan kapasitas 1 RS
Pemerintah type B adalah 1000 tempat tidur (Permenkes RI ttg RS BAB I, pasal 1), kapasitas 2
RS Swasta tipe B adalah masing-masing 500 tempat tidur, 12 RS tipe C dengan kapasitas
masing-masing adalah 300 tempat tidur, dan 18 Puskesmas dengan kapasitas masing-masing
adalah 250 tempat tidur; maka TOTAL TEMPAT TIDUR DI KOTA TERSEBUT ADALAH
10100 TEMPAT TIDUR. Ketentuan WHO mengatakan ratio setiap 500 penduduk adalah 1 TT.
Jika dibandingkan dengan rasio yang seharusnya dimana 1 tempat tidur : 1000 jiwa penduduk,
maka jumlah penduduk yang besar dengan fasilitas kesehatan yang ada saat ini masih dirasakan
kurang.

Berdasarkan analisis di atas, maka masih sangat memungkinkan untuk Perusahaan


membangun sebuah RS tipe A atau B di kota tersebut. Tetapi dengan keunggulan Pusat Cancer
terpadu tersebut maka perushaan lebih cocok untuk membangun RS tipe A dengan jumlah
kapasitas tempat tidurnya adalah 1000-1500 tempat tidur.
Berdasarkan UU no. 44/2009 tentang Rumah Sakit, Permenkes no.340/Menkes/Per
III/2010 tentang klasifikasi Rumah Sakit, Permenkes no.56/2004 tentang klasifikasi & perizinan
Rumah Sakit. Maka untuk membangun RS tipe A diperlukan fasilitas dan kemampuan pelayanan
medis meliputi 4 pelayanan medik spesialis dasar, 5 pelayanan spesialis penunjang medik, 12
pelayanan medik spesialis lain, dan 13 pelayanan medik sub-spesialis. Dimana RS yang akan
dibangun oleh perusahaan adalah RS dengan keunggulan Pusat Cancer Terpadu, dimana
keunggulan tersebut adalah terutama melibatkan pelayanan medik spesialis dan sub-spesialis
yang terpadu serta paripurna.
Namun sebelum mendirikan rumah sakit perlu diperhatikan beberapa aspek yaitu:
a. Aksesibilitas : memudahkan penduduk untuk mengakses pelayanan kesehatan. Perlu
diperhatikan berapa jarak rumah sakit yang direncanakan dengan rumah sakit yang a da. Jika
letaknya berjauhan maka pendirian rumah sakit ini adalah upaya yang tepat. Pendirian rumah
sakit baru merupakan solusi untuk mengatasi masalah minimnya aksesibilitas masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini tentunya sesuai dengan tujuan awal pendirian rumah sakit
tipe A yang merupakan pusat rujukan dari RS tipe B, C sekitar dan RS dari daerah sekeliling
kota tersebut.
b. Morbiditas dan mortalitas : Angka kesakitan dan kematian merupakan salah satu faktor
yang perlu menjadi pertimbangan didirikannya rumah sakit. Jika angka kesakitan dan kematian
di suatu daerah melebihi standar/cenderung tinggi, maka ini merupakan salah satu indikasi
perlunya rumah sakit di daerah tersebut, walaupun perlu pengumpulan data yang lebih mendalam
apakah hal tersebut terjadi karena akses ke rumah sakit yang sulit.
c. Segmen pasar : merupakan aspek yang berkaitan dengan peluang pasar untuk suatu produk
yang akan di tawarkan oleh suatu proyek tersebut dalam hal ini rumah sakit. Perlu
dipertimbangkan jumlah konsumen potensial yaitu konsumen yang mempunyai keinginan atau
hasrat untuk membeli serta daya beli masyarakat. Daya beli merupakan kemampuan konsumen
dalam rangka membeli barang yang dipengaruhi kebiasaan, preferensi konsumen, kecenderungan
permintaan masa lalu.
d. Legalitas : yaitu suatu aspek yang terkait dengan aspek legal yang meliputi ketentuan hukum
yang berlaku termasuk izin lokasi dan izin usaha.
e. Bisnis : Dengan pendirian rumah sakit, nilai bisnis wilayah disekitarnya meningkat. Selain itu
menambah peluang kerja masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar rumah sakit sehingga dapat
meningkatkan income per capita penduduk setempat. Namun letak antar rumah sakit perlu
dipertimbangkan agar j angan terlampau dekat dengan rumah sakit lainnya sehingga keuntungan
dapat dimaksimalkan.
f. Dari sisi budaya : yaitu mengkaji tentang dampak keberadaan proyek terhadap kehidupan
masyarakat setempat, kebiasaan adat setempat.
g. Dari segi sosial : yaitu Apakah dengan keberadaan proyek wilayah menjadi semakin ramai,
lalu lintas semakin lancar, adanya jalur komunikasi, penerangan listrik dan lainnya, pendidikan
masyarakat setempat. Maka untuk mendapatkan itu semua dapat dilakukan dengan cara
wawancara, kuesioner, dokumen, dll. Untuk melihat apakah suatu proyek layak atau tidak
dilakukan dengan membandingkan keinginan investor atau pihak yang terkait dengan sumber
data yang terkumpul.
h. Aspek lingkungan : telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak dari suatu usaha
terhadap lingkungan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana dampak pendirian
rumah sakit ini terhadap resiko pencemaran lingkungan dan pencegahannya sehingga lingkungan
disekitar rumah sakit bisa terjaga dari bahaya pencemaran.
j. Aspek Finansial : ketersediaan dana finansial sejak awal perencanaan pembangunan RS
sampai dengan kegiatan operasional pelayanan kesehatan bisa berjalan di RS.
k. Pemilihan teknologi : Kriteria pemilihan teknologi pada dasarnya adalah menetapkan
teknologi yang paling efisien secara teknis dan ekonomis. Faktor yang perlu dipertimbangkan
dalam pemilihan teknologi yaitu
1 .Kesesuaian teknologi dengan material
2. Biaya investasi dan perawatan
3. KemampuanSDM

Beberapa Penjelasan detail terkait diatas sebagai berikut :

UNDANG-UNDANG PEMERINTAH/ KEMENKES / PERATURAN / PEDOMAN –


PEDOMAN TENTANG RUMAH SAKIT DAN YANG BERKAITAN DENGAN RUMAH
SAKIT
Undang-undang yang berkaitan dengan pendirian rumah sakit adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Kepmenkes RI No. 1333/Menkes/SK/XII/2009 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit
5. Permenkes RI No. 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi RS di Lingkungan
Departemen Kesehatan
6. Permenkes RI No. 340/Menkes/Per/III/2010 tentang Klasifikasi RS
7. Permenkes RI No. 147/Menkes/Per/I/2010 tentang Perijinan RS
8. Kode Etik Rumah Sakit (KODERSI) yang memuat rangkuman nilai-nilai dan norma-norma
perumahsakitan guna dijadikan pedoman bagi semua pihak yang terlibat dan berkepentingan
dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perumahsakitan di Indonesia.
9. Guideline Praktik Kedokteran – Pedoman Praktik dokter dan Dokter gigi dari KKI (Konsil
Kedokteran Indonesia)

BADAN HUKUM PERUSAHAAN ( RUMAH SAKIT )


Sebelum mendirikan rumah sakit, owner harus menentukan apa badan hukum yang akan
memayungi rumah sakit tersebut.
Badan hukum terbagi menjadi 2 yaitu Badan Hukum Publik dan Badan Hukum Privat. Badan
hukum public adalah badan pemerintahaan yang menjalankan fungsi dan tugas dari
pemerintahan, sedangkan badan hukum privat adalah badan hukum pribadi, yang menyangkut
kepentingan pribad, yang didirikan berdasarkan hukum perdata.
Rumah sakit swasta biasanya memilih badan hukum PT ( Perseroan Terbatas ) karena memiliki
karakteristik yang sesuai dengan tujuan didirikannya rumah sakit, yaitu memperoleh laba/
keuntungan dari usaha penyelenggaraan rumah sakit itu. Badan hukum PT ini banyak diminati
oleh pengusaha dalam menjalankan bisnisnya karena PT dinilai sebagai badan hukum yang
transparan dan dapat menjalankan kegiatan usaha yang menghasilkan profit. Badan hukum
koperasi dan Yayasan kurang diminati karena tidak sesuai dengan tujuan pendirian bisnis rumah
sakit. Badan hukum koperasi hanya sebatas mensejahterakan anggotanya sedangkan badan
hukum Yayasan tidak bertujuan mencari keuntungan atau laba karena Yayasan bertujuan untuk
kemanusiaan, keagamaan dan bidang social.

KEKUATAN PERMODALAN DAN FUNDING OWNER


Perlu dipertimbangkan dan ditanyakan kepada owner bagaimana sumber dana / permodalannya
untuk bisnis rumah sakit ini.
Permodalan meliputi :
- Modal awal investasi (tanah, Gedung, peralatan medis non medis, obat dan BHP,
sarana dan prasarana, dll)
- Modal untuk operasional (gaji structural, take home pay dokter tetap, honor dokter
part timer, gaji karyawan fungsional, dll)
- Buffer cash
Permodalan bisa saja berasal dari konsorsium beberapa owner yang melakukan setoran dana di
awal ataupun melakukan pinjaman ke bank. Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan
masing-masing. Pada dasarnya darimanapun asal modal harus ada aturan main yang jelas,
wewenang owner dan wewenang direktur, tanggung jawab owner dan tanggung jawab direktur
yang tertuang di dalam akta pendirian perusahaan dan di dalam hospital by law.
STUDI KELAYAKAN / FEASYBILITY STUDI
Sebelum mendirikan seebuah rumah sakit, akan sangat perlu disusun sebuah studi kelayakan atau
feasibility studi, untuk mengetahui, untuk menilai, untuk menganalisa apakah bisnis rumah sakit
ini dengan tipe ini di lokasi ini dengan fasilitas ini dengan segalamacam karakteristik internal
begini, ditambah dengan informasi karakteristik masyarakat begini, trendnya begini, perundang-
undangannya begini, pesaing – pesaing yang selevel begini, dst apakah bisnis rumah sakit ini
LAYAK untuk didirikan atau tidak.
Studi kelayakan juga diperluhan agar investasi yang dilakukan dapat berjalan dan menghasilkan
keuntungan yang diharapkan. Secara teoritis, jika studi kelayakan dilakukan dengan benar saat
memulai suatu investasi bisnis, maka resiko kegagalan dan kerugian dapat diminimalisir.
Tahapan – tahapan pembuatan STUDI KELAYAKAN akan saya jabarkan di dalam jawaban soal
nomor 4.

Persiapan yang dilakukan dalam pendirian Rumah Sakit meliputi :


A. Pengumpulan Data Primer
Pengumpulan Data Primer, dapat dilakukan dengan melalui proses Pengamatan atau Observasi
langsung / Pengamatan atau Observasi Lapangan sehingga akan didapat seluruh Informasi atau
Data secara visual pada wilayah Perencanaan. Pengumpulan Data Primer dapat pula dilakukan
dengan cara Wawancara atau Tanya Jawab kepada Instansi-instansi dan pihak-pihak lain yang
berkaitan dengan pekerjaan penyusunan ini dan atau dengan langsung kepada masyarakat umum
selaku salah satu Pelanggan dari Rumah Sakit. Sifat wawancara bersifat terbuka artinya
pengambilan data tidak terpatok pada kuesioner namun dapat dikembangkan secara lisan dengan
responden.

Secara garis besar Data yang didapat dari Pengumpulan Data Primer adalah :
1. Kondisi Potensi Lahan/Lokasi
2. Informasi langsung lainnya yang terkait dengan Kondisi dan Potensi yang ada terkait
dengan Standar / Pedoman dan Ketentuan yang berlaku serta Sasaran dari Rencana
Pembangunan / Pengembangan Rumah Sakit serta informasi keinginan yang ada dalam hal
ini akan membangun rumah sakit dengan type A serta produk unggulan Cardiac Center

B. Pengumpulan Data Sekunder


Pengambilan Data Sekunder, dapat dilakukan dengan mendatangi pula masing-masing Instansi
lainnya yang berkaitan sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam pekerjaan penyusunan ini.
Jika pada salah satu Instansi ternyata Data tidak dipunyai, atau sedang dalam proses pembuatan,
atau sedang digunakan untuk keperluan lain maka konsultan dapat mencari pada Instansi lain
yang terkait sesuai dengan kebutuhan data atau mencarinya pada Literatur mengenai
KeRumahSakitan lainnya. Untuk melaksanakan pekerjaan ini diperlukan Data Internal/Data
Dalam dari rumah sakit yang ada dan atau rumah sakit di wilayah sekitarnya , yang terdiri dari :
1. Data Kesehatan pada Rumah Sakit yang ada, meliputi :
- Angka Kesakitan (Morbiditas) Utama Rawat Inap Angka Kematian (Mortalitas)
- Angka Kelahiran
- Angka Pasien Rujukan
- Data asal pasien rawat jalan, rawat gawat darurat dan rawat inap
- Jumlah pasien rawat jalan
- Jumlah pasien rawat inap
- Jumlah hari rawat
- Angka rata-rata hari rawat secara keseluruhan
- Jumlah dan Jenis Pelayanan Kesehatan
- Jumlah dan jenis Tenaga Kesehatan
- Jumlah dan Jenis Layanan Spesialistik Rumah Sakit
- Jumlah dan Jenis Layanan Penunjang Medik Rumah Sakit
- Struktur Organisasi Manajemen Rumah Sakit

2. Data Lokasi
- Data Kondisi Lahan Rumah Sakit yang ada dan pengembangannya
- Bentuk dan Luas Lahan serta Lantai Bangunan yang ada serta rencana perluasannya
- Kondisi Lingkungan menurut ketentuan daerah setempat.
- Batas lokasi lahan sekelilingnya
- Jaringan Listrik, Air Minum, Telkom, Air Kotor/Limbah, Pemadam Kebakaran, Jaringan
Gas dan Pembuangan Sampah
- Data Penggunaan dan ketinggian Bangunan serta Dokumen Perencanaan Bangunan yang
ada (Arsitektur, Struktur, Elektrikal dan Mekanikal Bangunan).
3. Data Finansial/Keuangan
- Data Tarif Perawatan yang ada di Rumah Sakit
- Cash Flow Rumah Sakit yang ada
- Data Kinerja Tahunan Rumah Sakit yang ada
4. Data Luar/Data Eksternal Rumah Sakit dan Lingkungan
a. Data Kesehatan
- Angka Kesehatan (Morbiditas), Penyakit Utama Rawat Jalan di Puskesmas dan Rumah
Sakit.
- Angka Kesakitan (Mortalitas), Penyakit Utama Rawat Inap di Puskesmas dan Rumah
Sakit
- Jumlah Posyandu, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dengan Tempat Tidur dan
Puskesmas Keliling
- Jumlah dan Jarak merata Puskesmas Pembantu, Puskesmas DTP dan Puskesmas Keliling
dengan Rumah Sakit di wilayah kerja
- Rumah Sakit Pemerintah kelas A serta ada 20 Rumah Sakit Swasta meliputi (5 RS kelas
B dan 15 RS kelas C)
- Jarak Antar Rumah Sakit di wilayah Kerja
- Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit di Wilayah Jangkauan Rumah Sakit
- Jumlah dan Jenis tenaga dokter umum dan Spesialis di wilayah kerja
- Jumlah tenaga kesehatan lainnya diwilayah kerja.

b. Data Keadaan Lingkungan Sekitar


- Jalan Pencapaian sangat strategis karena berada pada Pusat pemerintahan, daerah wisata
dan kota Industri.
- Utilitas bangunan sesuai yang ada apakah wilayah ini sudah memiliki jaringan telepon,
listrik, air bersih dan saluran pembuangan serta data kondisinya.
- Kondisi Topografi wilayah perencanaan.
- Rencana peruntukkan tanah di sekitar wilayah perencanaan yang terkait dengan Rencana
Tata Ruang Kota yang ada (RTBL, RUTR, RDTR,RTRW).
- Iklim dan cuaca setempat diwilayah ini.
5. Data Kesehatan Kota/Kabupaten
- Data Tarif Perawatan di Rumah Sakitlain sekitar lokasi
- Sebaran Rumah Sakit sekitar wilayah
- Pola penyakit daerah setempat.
6. Data Kebijakan, Pedoman dan Peraturan Pemerintah
- Kebijakan dan pedoman terkait layanan Kesehatan Rumah Sakit
- Peruntukan Tanah diwilayah setempat
- Rencana Detail Tata Ruang
- Peraturan Teknis yang berlaku setempat , antara lain:
1) Garis Sempadan Bangunan (;GSB)
2) Jarak bebas Bangunan
3) Koefisien Lantai Bangunan (;KLB)
4) Tinggi maksimal lantai bangunan
5) Koefisien Dasar Bangunan (;KDB)
6) Koefisien Daerah Hijau (;KDH)
7. Data Demografi
- Luas Wilayah
- Jumlah Penduduk sekitar 5 Juta Jiwa
- Angka Kepadatan penduduk yang sangat padat, daerah kota yang sangat ramai.
- Laju Pertumbuhan Penduduk
8. Data Sosial Dan Budaya
- Agama
- Peranan Masyarakat
- Suku Bangsa
9. Data Ekonomi
- Mata Pencarian
- Tingkat Pendapatan
- Penghasilan setempat berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD)
- Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah setempat

Jawaban No.2 : Prosedur dan tahap-tahap pendirian rumah sakit meliputi :

1. Pemilik/Pimpinan rumah sakit mengajukan surat permohonan izin mendirikan ditujukan


kepada penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan) dengan
melampirkan persyaratan administrasi;
2. Surat permohonan tembusannya disampaikan kepada:
a.Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan
b.Kepala Dinas Kesehatan Provinsi setempat
c.Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
3. Berkas surat permohonan yang telah diterima dilakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen
oleh Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan;
4. Penerbit izin harus menerbitkan bukti penerimaan berkas permohonan yang telah lengkap atau
memberikan informasi apabila berkas permohonan belum lengkap kepada pemilik atau pengelola
yang 10 Petunjuk Teknis Izin Mendirikan, Izin Operasional dan Peningkatan Kelas Rumah Sakit
mengajukan permohonan izin mendirikan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) hari kerja
sejak berkas permohonan diterima. Dokumen yang belum langkap agar segera dilengkapi
oleh rumah sakit selama waktu 6 (enam) hari;
5. Penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan) memberikan data
dukung kelengkapan berkas permohonan izin mendirikan kepada Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan
perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi /Kabupaten /Kota;
6. Untuk RS kelas A dan PMA, Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan perumahsakitan mendelegasikan wewenang
pembentukan Tim Visitasi pemberian izin mendirikan kepada Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan;
7. Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di
Bidang Pembinaan Perumahsakitan mendelegasikan wewenang pembentukan Tim Visitasi
pemberian izin mendirikan kepada Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas
dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan;
8. Berdasarkan data dukung kelengkapan berkas permohonan, Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota melakukan:
a.Telaah terhadap kelengkapan dokumen
b.Kajian audit master plan, analisa studi kelayakan bangunan dan dokumen lainnya;
c.Berkoordinasi dengan tim ahli bangunan pada Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu
bidang kesehatan atau Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk mendapatkan rekomendasi;
d.Membentuk Tim Visitasi izin mendirikan yang terdiri atas:

- izin mendirikan RS kelas A dan RS PMA terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal
Pelayanan Kesehatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Direktorat Fasilitas
Pelayanan Kesehatan), Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, Asosiasi Perumahsakitan Nasional
- izin rumah sakit kelas B terdiri atas unsur Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Asosiasi Perumahsakitan Nasional.
- izin rumah sakit kelas C dan rumah sakit kelas D terdiri atas unsur Dinas Kesehatan
Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Asosiasi Perumahsakitan Nasional.

9. Berdasarkan penunjukan Tim Visitasi, Tim bertugas:


a.Untuk audit masterplan dan penilaian kelayakan pembangunan rumah sakit, tim berkoordinasi
dengan tim ahli bangunan pada Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan
atau Dinas Pekerjaan Umum setempat; 12 Petunjuk Teknis Izin Mendirikan, Izin Operasional
dan Peningkatan Kelas Rumah Sakit
b.Sesuai jadwal yang ditentukan Tim Visitasi akan melaksanakan kunjungan ke rumah sakit
untuk melakukan penilaian dokumen dan peninjauan lapangan atas kelayakan paling lama 7
(tujuh) hari setelah penunjukan;

10. Tim Visitasi harus menyampaikan laporan hasil visitasi kepada Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di bidang kesehatan di tingkat provinsi atau
kabupaten/kota dan umpan balik (feed back) kepada Pemohon yang ditandatangani oleh Direktur
di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan
perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan di tingkat Provinsi atau
Kabupaten/Kota kepada pemohon;

11 Berdasarkan laporan hasil visitasi oleh Tim Visitasi, Direktur di lingkungan Kementerian
Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perumahsakitan menyampaikan laporan
kelayakan pembangunan rumah sakit kepada Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian
Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang perumahsakitan;

12. Berdasar laporan kelayakan pembangunan, Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian


Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang
berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota
menyampaikan surat rekomendasi penerbitan/penolakan izin kepada penerbit izin paling lama 7
(tujuh) hari kerja;

13. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak rekomendasi teknis diterima, penerbit izin
(Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu bidang kesehatan) harus mengeluarkan surat
penerbitan/penolakan izin sesuai rekomendasi teknis.

A. Persyaratan
Untuk memperoleh izin operasional, pengelola mengajukan permohonan secara tertulis kepada
pejabat penerbit izin sesuai dengan klasifikasi rumah sakit dengan melampirkan dokumen
administrasi:
1.Izin mendirikan rumah sakit, bagi permohonan Izin operasional untuk pertama kali;
2.Profil rumah sakit, meliputi visi dan misi, lingkupkegiatan, rencana strategi, dan struktur
organisasi;
3.Isian instrumen self-assessment sesuai klasifikasi, rumah sakit yang meliputi pelayanan,
sumber daya manusia, bangunan dan prasarana serta peralatan kesehatan;
4.Gambar desain (blue print) dan foto bangunan serta sarana dan prasarana pendukung;
5.Izin penggunaan bangunan (IPB) dan sertifikat laik fungsi;
6.Dokumen pengelolaan lingkungan berkelanjutan;
7.Daftar sumber daya manusia;
8.Daftar peralatan medis dan nonmedis;
9.Daftar sediaan farmasi dan alat kesehatan;
10.Berita acara hasil uji fungsi peralatan kesehatan disertai kelengkapan berkas izin pemanfaatan
dari instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk peralatan
tertentu; dan
11.Dokumen administrasi dan manajemen, meliputi:
a.Badan hukum atau kepemilikan;
b.Peraturan internal Rumah Sakit (hospital by laws);
c.Komite Medik;
d.Komite Keperawatan;
e.Satuan Pemeriksaan Internal;
f.Surat izin praktik atau surat izin kerja tenaga kesehatan;
g.Standar prosedur operasional kredensial staf medis;
h.Surat penugasan klinis staf medis; dan
i.Surat keterangan/sertifikat hasil uji/kalibrasi alat kesehatan.
12. Surat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit;
13. Surat tanda telah terakreditasi;
14. Untuk pengajuan Izin Peningkatan Kelas harus melampirkan surat tanda akreditasi paripurna
pada klasifikasi rumah sakit sebelumnya.

9. Pelaksanaan proses visitasi sebagai berikut:


a. Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang
Pembinaan Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah
Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota menyampaikan surat tertulis kepada rumah sakit untuk
pelaksanaan visitasi;
b. Pada pelaksanaan visitasi, Tim Visitasi membagi tugas dalam penilaian di 4 (empat) kelompok
yaitu :
- Administrasi dan manajemen;
- Pelayanan;
- Sumber daya manusia;
- Sarana prasarana dan alat kesehatan;
c. Tim Visitasi melakukan kompilasi hasil penelusuran dan penilaian;
d. Hasil penilaian Tim Visitasi berikut catatancatatan mengenai hal-hal yang perlu
disempurnakan/diperbaiki disampaikan oleh 18 Petunjuk Teknis Izin Mendirikan, Izin
Operasional dan Peningkatan Kelas Rumah Sakit Tim Visitasi kepada pihak rumah sakit (pada
pertemuan exit meeting yang dihadiri oleh seluruh pimpinan rumah sakit);
e. Tim Visitasi membuat Berita Acara Hasil Penelusuran setelah dilakukan klarifikasi bersama
pihak rumah sakit terhadap seluruh hasil penelusuran dan penilaian;
f. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) ditandatangani oleh Tim Visitasi dan pihak rumah sakit
10. Tim visitasi harus menyampaikan laporan hasil visitasi kepada Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di bidang kesehatan di tingkat Provinsi atau
Kabupaten/Kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah visitasi dilakukan;
11. Berdasarkan laporan hasil visitasi, Tim Visitasi membuat umpan balik (feedback) hasil
visitasi kepada Pimpinan rumah sakit, yang ditandatangani oleh Direktur di lingkungan
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota untuk dilakukan perbaikan /tindak lanjut paling lama 7 (tujuh) hari
kerja setelah visitasi dilakukan;
12. Tim Visitasi memastikan rumah sakit memberikan surat komitmen untuk melengkapi
perbaikan terhadap catatan hasil penilaian dan komitmen sampai berapa lama untuk dilakukan
perbaikan setelah menerima surat umpan balik (feedback) hasil visitasi paling lama 6 (enam hari)
kerja;
13. Dalam hal hasil verifikasi lapangan tidak sesuai dengan klasifikasi yang ditetapkan, Direktur
di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Pembinaan
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten /Kota menugaskan Tim Visitasi untuk melakukan satu kali penilaian ulang
dengan waktu yang disepakati. Hasil penilaian ulang dilaporkan paling lambat 12 (dua belas
hari);
14. Terhadap rumah sakit yang masih dalam proses pengurusan perpanjangan Izin Operasional
dan dilakukan verifikasi ulang, Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan
tanggung jawabnya di Bidang Pembinaan Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di
Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memberikan surat
keterangan sedang dalam pengurusan perpanjangan izin operasional yang dapat dipergunakan
sampai batas izin operasional sebelumnya habis;
15. Berdasarkan tindak lanjut perbaikan atas catatan hasil pemeriksaan Tim Visitasi oleh
rumah sakit, Direktur Jenderal di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung
jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada
Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota menyampaikan surat rekomendasi
penerbitan/penolakan izin kepada penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Bidang Kesehatan) paling lama 7 (tujuh) hari kerja;
16. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak rekomendasi teknis diterima, penerbit izin
(Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Kesehatan) harus mengeluarkan surat
penerbitan/penolakan izin sesuai rekomendasi teknis; 20 Petunjuk Teknis Izin Mendirikan, Izin
Operasional dan Peningkatan Kelas Rumah Sakit
17. Dalam hal rekomendasi teknis permohonan Izin diterima dari Direktur Jenderal di
lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di Bidang
Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang Kesehatan pada Pemerintah Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota, penerbit izin (Badan/Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang
Kesehatan) menerbitkan Izin berupa surat keputusan dan sertifikat yang memuat kelas Rumah
Sakit dan jangka waktu berlakunya izin;
18. Dalam hal rekomendasi teknis permohonan Izin ditolak, pemberi izin harus memberikan
alasan penolakan yang disampaikan secara tertulis kepada pemohon dan memberikan pilihan
kepada pemohon untuk:
a) melengkapi persyaratan izin operasional sesuai klasifikasi rumah sakit yang akan
diselenggarakan; atau
b) mengajukan permohonan izin operasional sesuai klasifikasi rumah sakit hasil penilaian Tim
Visitasi tanpa dilakukan visitasi ulang
19. Dalam hal terdapat masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu sebagaimana
dimaksud pada prosedur perizinan, Direktur di lingkungan Kementerian Kesehatan yang tugas
dan tanggung jawabnya di Bidang Perumahsakitan atau pejabat yang berwenang di Bidang
Kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memperpanjang jangka
waktu pemrosesan izin paling lama 14 (empat belas) hari kerja dengan menyampaikan
pemberitahuan tertulis kepada pemohon.
1. Studi Kelayakan Rumah Sakit pada dasarnya adalah suatu awal kegiatan perencanaan rumah
sakit secara fisik dan non fisik yang berisi tentang:
A. Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit, meliputi:
1) Demografi, yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan penduduk, serta
karakteristik penduduk yang meliputi umur, jenis kelamin dan status perkawinan);
2) Sosio-ekonomi, yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan,
angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik rata-rata bruto;
3) Morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan 10 penyakit utama (Rumah
Sakit, Puskesmas & Rawat jalan, Rawat inap), angka kematian (GDR, NDR), angka
persalinan, dan seterusnya;
4) Sarana dan prasarana kesehatan yang mempertimbangkan jumlah, jenis dan kinerja
layanan kesehatan , jumlah spesialisasi dan kualifikasi tenaga kesehatan, jumlah dan
jenis layanan penunjang (canggih, sederhana dan seterusnya); dan
5) Peraturan perundang-undangan yang mempertimbangkan kebijakan pengembangan
wilayah pembangunan sektor non kesehatan, kebijakan sektor kesehatan dan
perumah sakitan.
B. Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana dan tenaga yang
dibutuhkan untuk layanan yang akan diberikan, meliputi:
1) Sarana dan fasilitas fisik yang mempertimbangkan rencana cakupan, jenis layanan
dan fasilitas lain dengan mengacu dari kajian kebutuhan dan permintaan (program
fungsi dan pogram ruang);
2) Peralatan medik dan non medik yang mempertimbangkan perkiraan peralatan yang
akan digunakan dalam kegiatan layanan;
3) Tenaga / sumber daya manusia yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan tenaga
dan kualifikasi; dan
4) Pendanaan yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan dana investasi.
C. Kajian kemampuan pembiayaan yang meliputi:
1) Prakiraan pendapatan yang mempertimbangkan proyeksi pendapatan yang mengacu dari
perkiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur;
2) Prakiraan biaya yang mempertimbangkan proyeksi biaya tetap dan biaya tidak tetap
dengan mengacu pada perkiraan sumber daya manusia;
3) Proyeksi Arus Kas (5 -10 tahun);dan
4) Proyeksi Laba/Rugi (5 – 10 tahun).

2. Master plan adalah strategi pengembangan aset untuk sekurang-kurangnya sepuluh tahun
kedepan dalam pemberian pelayanan kesehatan secara optimal yang meliputi identifikasi
proyek perencanaan, demografis, tren masa depan, fasilitas yang ada, modal dan
pembiayaan.
3. Status kepemilikan.
Rumah Sakit dapat didirikan oleh:

A. Pemerintah, harus berbentuk Unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang bertugas di bidang
kesehatan dan instansi tertentu dengan pengelolaan Badan Layanan Umum ,
B. Pemerintah Daerah, harus berbentuk Lembaga Teknis Daerah dengan pengelolaan Badan
Layanan Umum Daerah, atau
C. Swasta, harus berbentuk badan hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang
perumahsakitan:
1) Badan hukum dapat berbentuk Yayasan, Perseroan, perseroan terbatas, Perkumpulan
dan Perusahaan Umum.
2) Badan hukum dalam rangka penanaman modal asing atau penanaman modal dalam
negeri harus mendapat rekomendasi dari instansi yang melaksanakan urusan
penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri.
3) Persyaratan pengolahan limbah meliputi Upaya Kesehatan Lingkungan (UKL), Upaya
Pemantauan Lingkungan (UPL) dan atau Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)
yang dilaksanakan sesuai jenis dan klasifikasi Rumah Sakit sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4) Luas tanah untuk Rumah Sakit dengan bangunan tidak bertingkat, minimal 1½ (satu
setengah) kali luas bangunan dan untuk bangunan bertingkat minimal 2 (dua) kali luas
bangunan lantai dasar. Luas tanah dibuktikan dengan akta kepemilikan tanah yang sah
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
5) Penamaan Rumah Sakit :
a. harus menggunakan bahasa Indonesia, dan
b. tidak boleh menambahkan kata ”internasional”, ”kelas dunia”, ”world class”,
”global” dan/atau kata lain yang dapat menimbulkan penafsiran yang
menyesatkan bagi masyarakat.
6) Memiliki Izin undang-undang gangguan (HO), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin
Penggunaan Bangunan (IPB) dan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) yang dikeluarkan
oleh instansi berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.

ALUR PERIZINAN PENDIRIAN RS :


Jawaban No.3 : Diketahui kota A berpenduduk 5 juta jiwa. Fasilitas kesehatan yang ada :

Rumah Sakit Pemerintah kelas B 1 RS, RS B Swasta berbentuk PT/Yayasan ada 2 RS, 12
RS kelas C, dan 18 Puskesmas

Menurut Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perijinan Rumah Sakit, pada
pasal 58 disebutkan :

(1) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat 2 huruf b,
didirikan dan diselenggarakan untuk menjamin ketersediaan dan meningkatkan aksesibilitas
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tingkat kedua.
(2) Rumah Sakit Umum kelas D pratama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Selain pada daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Rumah Sakit Umum kelas D
pratama dapat juga didirikan di kabupaten/kota, apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. belum tersedia Rumah Sakit di kabupaten/kota yang bersangkutan;

b. Rumah Sakit yang telah beroperasi di kabupaten/kota yang bersangkutan kapasitasnya belum
mencukupi; atau

c. lokasi Rumah Sakit yang telah beroperasi sulit dijangkau secara geografis oleh sebagian
penduduk di kabupaten/kota yang bersangkutan.

Berdasarkan kriteria di atas, kota A sama sekali tidak memenuhi persyaratan untuk
mendirikan RS Klas D Pratama, karena berada di kota besar, mudah dijangkau secara geografis,
RS yang tersedia pun banyak meskipun rasio tempat tidur dengan jumlah penduduk belum ideal.
Hal ini bisa diatasi dengan mendirikan RS kelas C ke atas, bukan dengan pendirian RS Klas D
Pratama. Jadi tidak diperlukan pendirian RS Klas D Pratama.

Tata cara pendirian RS Klas D Pratama berdasarkan Permenkes No 24 Tahun 2014 tentang RS
Kelas D Pratama :
Persyaratan
Pasal 12
1) Setiap penyelenggaraan Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memenuhi persyaratan.
2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi lokasi, bangunan, peralatan,
sumber daya manusia, kefarmasian, dan prasarana penunjang lainnya.
3) Rincian persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Perizinan
Pasal 13
1) Setiap Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memiliki izin.
2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari izin mendirikan dan izin
operasional.
3) Izin mendirikan dan izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 14
(1) Untuk mendapatkan izin mendirikan dan izin operasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (2), harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota setempat.
(2) Permohonan izin mendirikan rumah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
dengan melampirkan dokumen:
a. fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan, kecuali instansi Pemerintah danPemerintah Daerah ;
b. studi kelayakan;
c. master plan ;
d. rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota;
e. izin undang-undang gangguan (Hinder Ordonantie/HO) dan/atau surat izin tempat
usaha (SITU);
f. fotokopi sertifikat tanah atau bukti kepemilikan tanah
g. izin-izin lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(3) Permohonan izin operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan
melampirkan dokumen:
a. upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL)
dan/atau sertifikat analisis dampak lingkungan (AMDAL);
b. izin Mendirikan Bangunan (IMB); dan
c. ‘as built drawing’ (gambar arsitektur, struktur, mekanikal, elektrikal dan seluruh
fasilitasnya) dan foto bangunan, berikut sarana dan prasarana pendukung;
d. daftar sumber daya manusia disertai kelengkapan berkasnya;
e. daftar peralatan medis dan non medis;
f. daftar sediaan farmasi dan alat kesehatan;
g. struktur organisasi rumah sakit;
h. peraturan internal rumah sakit (hospital bylaws); dan
i. sertifikat laik fungsi.
j.
Pasal 15
(1) Setiap Rumah Sakit Kelas D Pratama harus memiliki struktur organisasi dan tata kerja.
(2) Organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Kelas D Pratama disusun berdasarkan prinsip
organisasi yang hemat struktur dan kaya fungsi serta menggambarkan kewenangan,
tanggung jawab, dan hubungan kerja dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan
administrasi manajemen sesuai kebutuhan penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
(3) Organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri atas kepala rumah
sakit atau direktur rumah sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur
penunjang medis, komite medik, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum
dan keuangan.
(4) Pembentukan organisasi dan tata kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

.
Jawaban No.4 : Studi kelayakan Rumah sakit adalah awal kegiatan perencanaan pendirian
suatu rumah sakit secara fisik dan non fisik, yang mencakup :

- Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit


- Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana serta tenaga
yang dibutuhkan untuk pelayanan yang akan diberikan
- Kajian kemampuan pembiayaan
Master plan adalah
strategi pengembangan aset untuk sekurang-kurangnya sepuluh
tahun kedepan dalam pemberian pelayanan kesehatan secara optimal yang meliputi identifikasi
proyek perencanaan, demografis, tren masa depan, fasilitas yang ada, modal dan pembiayaan.
Luas tanah untuk bangunan rumah sakit tidak bertingkat, minimal satu setengah kali
luas bangunannya, sedangkan untuk rumah sakit bertingkat minimal dua kali luas bangunan
lantai dasar.
Penamaan rumah sakit harus menggunakan bahasa Indonesia, bukan nama orang
yang masih hidup, tidak menggunakan kata ‘International’ ‘world class’ atau kata lain yang
dapat menyesatkan penafsiran masyarakat.
Pasal 6 ayat 1 mengatakan bahwa untuk mendapatkan izin operasional, rumah sakit
harus memenuhi persyaratan :
- Sarana dan prasarana
- Peralatan
- SDM
- Administrasi dan Manajemen
 Sarana dan prasarana:
Tersedia dan berfungsinya sarana dan prasarana pada rawat jalan, rawat inap, gawat darurat,
operasi/bedah, tenaga kesehatan, radiologi, ruang laboratorium, ruang sterilisasi, ruang
farmasi, ruang pendidikan dan latihan, ruang kantor dan administrasi, ruang ibadah, ruang
tunggu, ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit; ruang menyusui, ruang
mekanik, ruang dapur, laundry, kamar jenazah, taman, pengolahan sampah, dan pelataran
parkir yang mencukupi sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
 Peralatan:
tersedia dan berfungsinya peralatan/perlengkapan medik dan non medik untuk
penyelenggaraan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan, persyaratan mutu, keamanan,
keselamatan dan laik pakai sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
- Memiliki izin pemanfaatan dari instansi berwenang sesuai ketentuan yang berlaku untuk
peralatan tertentu, misalnya; penggunaan peralatan radiologi harus mendapatkan izin dari
Bapeten.
 Sumber daya manusia :
Tersedianya tenaga medis, dan keperawatan yang purna waktu, tenaga kesehatan lain dan
tenaga non kesehatan telah terpenuhi sesuai dengan jumlah, jenis dan klasifikasinya.
 Administrasi dan manajemen:

Memiliki organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah
Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis,
satuan pemeriksaan internal, serta administrasi umum dan keuangan.
1) Kepala Rumah
Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang
perumahsakitan.
2) Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus
berkewarganegaraan Indonesia.
3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi
kepala Rumah Sakit.
Pasal 7 menyatakan bahwa izin operasional sementara berlaku untuk jangka waktu satu tahun.

Sedangkan pasal 8 mengatakan :

(1) Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara harus mengajukan surat
permohonan penetapan kelas rumah sakit kepada Menteri Kesehatan.

(2) Permohonan izin operasional tetap harus melampirkan:


- Rekomendasi Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Kesehatan Provinsi
- Profil dan data rumah sakit
- Isian Instrumen Self Assessment penetapan kelas
(3) Dalam penetapan kelas rumah sakit, Menteri membentuk Tim Penilai Klasifikasi
Rumah Sakit
(4) Berdasarkan hasil penilaian Tim, Menteri menetapkan klasifikasi rumah sakit.
Selanjutnya pada pasal 9 dikatakan bahwa ;
(1) Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara dan mendapatkan
penetapan kelas, akan diberikan izin operasional tetap

(2) Izin operasional tetap berlaku selama 5 tahun dan dapat diperpanjang kembali selama
memenuhi persyaratan.

Persyaratan administrasi untuk melengkapi permohonan izin mendirikan rumah sakit


yaitu :

1) Surat permohonan Izin Mendirikan Rumah Sakit kepada Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi.
2) Salinan Akta Notaris Pendirian Badan Hukum Pemilik Rumah Sakit.
3) Salinan Pengesahan Badan Hukum dari Departemen Kehakiman.
4) Salinan Tanda Daftar Yayasan dari Dinas Sosial.
5) Salinan Sertifikat Tanah atas nama Badan Hukum Pemilik Rumah Sakit atau Surat
Pernyataan Persetujuan dari Pemilik Tanah ( bila Sertifikat Tanah bukan atas nama
Badan Hukum Pemilik Rumah Sakit ).
6) Salinan Keterangan Rencana Kota atau Surat Izin Penunjukan Penggunaan Tanah
(SIPPT) dari Gubernur untuk disyaratkan dan Rencana tataletak Bangunan dari Dinas
Tata Kota
7) Izin UUG ( Undang Undang Gangguan ).
8) Dokumen Studi Kelayakan
9) Gambar Master Plan Gedung / Fisik Rumah Sakit Umum
10) Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan :
a. Rumah Sakit setara Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas C
Dokumen UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan) dan UKL (Upaya Kelola
Lingkungan) yang telah mendapat rekomendasi dari Kanwil Departemen
Kesehatan Provinsi.
b. Rumah Sakit setara Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas B atau Kelas A
Dokumen AMDAL ( Analisa Dampak Lingkungan ) yang telah mendapat
pengesahan dari Komisi Amdal Departemen Kesehatan.
11) Denah Lokasi Rumah Sakit.
Ruang lingkup

Studi kelayakan ini mempunyai ruang lingkup pemahaman dan kajian meliputi:

a. Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit, meliputi:

1) Demografi, yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan penduduk, serta


karakteristik penduduk yang meliputi umur, jenis kelamin dan status perkawinan.
2) Sosio-ekonomi, yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat pendidikan,
angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik rata-rata bruto.
3) Morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan 10 penyakit utama (Puskesmas,
Rumah Sakit baik di Rawat jalan dan Rawat inap), angka kematian (GDR, NDR), angka
persalinan, dan lain-lain.
4) Sarana dan prasarana kesehatan yang mempertimbangkan jumlah, jenis dan kinerja
layanan kesehatan , jumlah spesialisasi dan kualifikasi tenaga kesehatan, jumlah dan jenis
layanan penunjang (apakah yang canggih, yang sederhana, atau yang lainnya).
5) Peraturan perundang-undangan yang mempertimbangkan kebijakan pengembangan
wilayah pembangunan sektor non kesehatan, kebijakan sektor kesehatan dan perumah
sakitan.
b. Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana dan tenaga
yang dibutuhkan untuk layanan yang akan diberikan, meliputi:

1) Sarana dan fasilitas fisik yang mempertimbangkan rencana cakupan, jenis layanan dan
fasilitas lain dengan mengacu dari kajian kebutuhan dan permintaan (program fungsi dan
pogram ruang).
2) Peralatan medik dan non medik yang mempertimbangkan perkiraan peralatan yang akan
digunakan dalam kegiatan layanan.
3) Tenaga / sumber daya manusia yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan tenaga dan
kualifikasinya.
4) Pendanaan yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan dana investasi.
c. Kajian kemampuan pembiayaan yang meliputi:

1) Prakiraan pendapatan yang mempertimbangkan proyeksi pendapatan yang mengacu dari


perkiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat tidur.
2) Prakiraan biaya yang mempertimbangkan proyeksi biaya tetap dan biaya tidak tetap
dengan mengacu pada perkiraan sumber daya manusia.
3) Proyeksi Arus Kas (5 -10 tahun).
4) Proyeksi Laba/Rugi (5 – 10 tahun).
d. Analisa Proyek
1. Kekuatan (Strenght)
- Lokasi rumah sakit berada di kabupaten pemekaran yang berkembang pesat baik dari aspek
pertumbuhan penduduk dan aspek sosial ekonomi, tentu memerlukan sarana pelayanan
kesehatan berupa rumah sakit.
- Rumah sakit ini direncanakan memiliki fasilitas dan peralatan medis yang sesuai dengan
perkembangan teknologi sehingga dapat melayani masyarakat secara maksimal.
- Rumah sakit ini akan dikelola dengan sistem manajemen modern dan dengan pelayanan
prima.
2. Kelemahan
- Sebagai rumah sakit yang baru berdiri, yang belum memiliki image yang kuat di
masyarakat, sehingga perlu mendekatkan diri pada masyarakat yang dilayani dengan
strategi manajemen dan pelayanan yang prima.
3. Peluang
- Sebagai satu-satunya rumah sakit yang bertaraf international
- Peluang untuk menarik pelanggan/pasien di luar wilayah sebagai rumah sakit pilihan.
- Peluang untuk dapat bekerjasama dengan asuransi kesehatan/perusahaan di sekitar
wilayah tersebut.
4. Ancaman
- Ketersediaan sarana dan prasarana umum
Ruang lingkup penanggung jawab proyek adalah mewujudkan proyek rumah sakit serta
mempersiapkan perangkat keras dan perangkat lunak dan ketenagaan (SDM) sebelum
diserahkan kepada pemilik.
Rencana ruang lingkup rumah sakit meliputi :
a. Poli rawat jalan
b. Pelayanan rawat inap dengan 400 tempat tidur, dengan perincian :
Kelas Utama dan VIP 10 % , Kelas 1 : 10%, Kelas 2 : 30%, Kelas 3 : 50%
c. Kamar operasi 10 unit
d. Kamar PCI 2 unit
e. CSSD
f. ICU,ICCU, NICU, dan ruang observasi dengan kapasitas 20 tempat tidur
g. Farmasi/apotik
h. Laboratorium
i. Medical Check-Up
j. Radiologi
k. Instalasi Gawat Darurat dengan kapasitas 20 tempat tidur
l. Kamar bersalin dengan kapasitas 10 ruang
m. Rehabilitasi Medik
n. Dapur/gizi
o. Laundry dan Linen
p. Ruang jenazah.
ASPEK UMUM

a. Perseroan Terbatas
b. Nama dan Alamat perseroan Terbatas
Nama Dan Struktur PT : Meliputi Komisaris Utama, Komisaris, Dan Direktur
a. Permodalan
- Besarnya modal berdasarkan akte modal Perseroan Terbatas
- Modal Investor/Kreditur : berdasarkan kebutuhan rumah sakit
b. Investasi Rumah Sakit
Investasi Rumah Sakit dengan rincian sebagai berikut :
a. Biaya tanah
Dengan jumlah tempat tidur 400, maka luas bangunan minimal adalah 400 x 75 m2 =
30.000 m2. Direncanakan gedung rumah sakit akan dibuat bertingkat 3 lantai. Luas lantai
dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan) sebesar 30%, maka luas tanah yang diperlukan adalah
40.000 m2. Bila asumsi harga tanah sesuai NJOP di daerah tersebut sebesar Rp. 500.000 / m2
maka biaya harga tanah = Rp.20.000.000.000,-

b. Biaya konstruksi : 30.000 x Rp. 3.500.000 / m2 = Rp. 105.000.000.000,-

c. Biaya peralatan medis dan non medis = Rp. 105.000.000.000,- (asumsi 100% dari biaya
konstruksi)

d. Biaya perijinan =Rp. 1.000.000.000,- (asumsi kabupaten tingkat I)

e. Biaya operasional 1 tahun pertama = Rp 20,000.000.000,- (SDM+Energi+lain-lain)

Total biaya investasi rumah sakit adalah Rp. 251.000.000.000,- (dua ratus lima puluh satu
milyar rupiah)
Kebutuhan Investasi tersebut dipenuhi investor dari luar negeri yang bekerjasama dengan
perusahaan swasta melalui penanaman modal asing (PMA).

- Investasi Proyek Rumah Sakit


Investasi rumah sakit memang bukan bisnis murni (profit oriented), akan tetapi
mempunyai aspek sosialnya juga. Meskipun demikian tetap memerlukan perhitungan-
perhitungan financial dan pendekatan aspek ekonomis-medis dalam sistem kesehatan nasional.

ASPEK TEKNIS

Status Proyek
Proyek yang akan dibangun adalah rumah sakit swasta dengan bentuk badan hukum
Perseroan Terbatas.

Proyek ini dibangun dengan modal dari pendanaan pinjaman dan akan dikelola dengan
manajemen modern, dimana pemegang saham tidak terlibat secara dominan, terutama pada
aspek birokrasi, manajemen umum, keuangan, personalia, dan pemasaran. Akan tetapi dalam hal
standarisasi pelayanan medis dan rencana anggaran pendapatan dan belanja rumah sakit,
pemegang saham masih ikut memegang kendali.

Investor atau kreditur hanya sebagai penyedia dana dan tidak ikut serta dalam
penyelenggaraan manajemen rumah sakit, kecuali dalam keadaan tertentu, dimungkinkan untuk
dimusyawarahkan pada saat RUPS atau RUPS Luar Biasa atas permintaan Direktur Utama dan
atau Komisaris Utama.

Gedung/Bangunan

1. Umum
Gedung direncanakan berlantai 3, dengan total luas lantai 30.000 m2, dengan asumsi 10.000
m2 untuk luas tiap lantai. Sisa lahan akan digunakan untuk parkir dan taman.
2. Pembagian Utilitas Gedung
Gedung berlantai 3 dengan pembagian ruang-ruang tiap lantai maupun antar lantai
berdasarkan berbagai aspek, yaitu aspek manfaat, efisiensi, kemudahan dalam pencapaian,
keamanan dan kenyamanan. Penghubung antar lantai menggunakan fasilitas lift untuk pasien
dan lift barang, juga tersedia tangga kebakaran.
3. Kebutuhan Peralatan Medis
Ketersediaan peralatan medis dan peralatan penunjang sesuai dengan standar yang berlaku,
yaitu pada :
a. Ruang Emergency
b. Rawat Jalan/Poli
c. Hemodialisis
d. Rawat Inap
e. CSSD
f. ICU/NICU/ICCU/Observasi
g. ESWL
h. Catc Lab
4. Kebutuhan Peralatan Non Medis
a. Transportasi
- Mobil ambulance
- Mobil Medical Check-Up dengan peralatannya
b. Audio-Visual

c. Furniture
d. Perlengkapan Elektronik
e. Komunikasi
Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)
Jumlah dan jenis ketenagaan di rumah sakit ini secara garis besar dikelompokkan atas 6
kelompok, yaitu

1. Kelompok Eksekutif
2. Tenaga Administrasi
3. Tenaga Medis
4. Keperawatan
5. Tenaga Gizi
6. Keuangan
7. Tenaga Informasi
8. Tenaga Penunjang pelayanan medis yang meliputi tenaga laboratorium, farmasi,
radiologi, anesthesi, dan fisioterapi.
9. Tenaga IPSRS (Instalasi Pemeliharaan Sarana / Prasarana Rumah Sakit).
Jumlah tenaga yang direncanakan apabila rumah sakit telah beroperasi adalah 300 orang.
Perhitungan lebih rinci akan diperhitungkan kembali berdasarkan lay-out, kebutuhan minimal
dan beban kerja, sehingga pemenuhannya juga secara bertahap.

ASPEK KEUANGAN
Proposal ini dibuat untuk menilai feasibilitas atas sebuah investasi pembangunan dan
pengelolaan rumah sakit di wilayah baru pemekaran kabupaten, dengan nilai investasi sebesar :
Rp 251.000.000.000,- Sedangkan permodalan dengan perincian sebagai berikut :

PMA : Rp 251.000.000,-

Dana tersebut akan digunakan untuk biaya pembangunan sarana dan prasarana sebesar Rp.
231.000.000.000,- , dan modal kerja operasional sebesar Rp. 20.000.000.000,-

Analisis yang akan dilakukan terhadap prediksi kegiatan operasional yang berhubungan dengan
pengelolaan keuangan berupa data proyeksi pemasukan dan pengeluaran uang (cash flow) dan
rencana kegiatan. Analisis keuangan dilakukan pada dua aspek yaitu Penilaian Feasibilitas
investasi dan penilaian kinerja keuangan organisasi ketika kegiatan sudah berjalan.

Analisa Cash Flow 6 Tahun kedepan

Proyeksi Laporan Rugi Laba

Rumah sakit ini memproyeksikan laba kotor yang akan dicapai mulai tahun pertama
beroperasi, yaitu sebesar Rp. 599.000.000,- kemudian mengalami peningkatan pada tahun kedua
sebesar Rp. 5.120.000.000,-Sedangkan pada tahun ketiga beroperasi, laba perusahaan meningkat
hingga Rp. 21.544.000.000,- dan pada tahun ke-6 laba perusahaan menjadi Rp.
157.192.832.000,-

Proyeksi Penerimaan (Sales Projection)

Proyeksi atas penerimaan (sales) rumah sakit pada tahun pertama operasional adalah
sebesar Rp. 13.000.000.000,- dan pada tahun ke-6 penerimaan menjadi Rp. 188.006.400.000,-

Proyeksi Biaya Variabel dan Biaya Tetap

Yang termasuk kategori biaya variable adalah biaya upah paramedis dan non medis,
biaya bahan baku, obat-obatan, biaya pemeliharaan, serta biaya administrasi umum. Sedangkan
yang termasuk biaya tetap adalah biaya gaji direksi dan staff, biaya gaji dokter umum dan
spesialis, biaya penyusutan dan amortisasi.

Analisis Investasi

Tujuan dari analisis ini adalah untuk melihat feasibilitas ekonomi dari sebuah investasi.

a. Analisis Net Present Value (NPV)


Analisis ini untuk melihat nilai waktu dari uang. Uang yang alkan diterima pada masa yang
akan datang berupa cash flow bersih, dikonversikan ke nilai uang sekarang dengan
menggunakan software aplikasi excel diperoleh Net Present Value yang positif sebesar
Rp.162.079.837.000,- . Karena hasil yang diperoleh bernilai positif, maka berarti investasi
mampu menghasilkan nilai lebih atas nilai modalnya serta investasi mampu memberi nilai
positif terhadap pemilik modal.

b. Internal Rate of Return (IRR)


IRR merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi. Suatu proyek/investasi dapat
dilakukan apabila laju pengembaliannya lebih besar daripada laju pengembalian apabila
melakukan investasi di tempat lain Bunga deposito, reksadana, dan lain-lain). IRR bertujuan
untuk menghitung tingkat pengembalian internal (tingkat bunga) dari sebuah arus kas (Cash
Flow) secara periodik. Dengan menggunakan data cash flow dan program excel, nilai IRR
didapat sebesar 110,9 %, ini sangat baik sekali.
c. Pay Back Period (PBP)
Pay Back Period adalah kemampuan peminjam dalam mengembalikan pinjamannya atau
lama kembalinya modal diukur dalam satuan waktu. Perhitungan dilakukan dengan cara
membagi nilai modal/investasi dengan nilai kas masuk netto. Atas dasar perhitungan didapat
pay back period selama 4 tahun setelah beroperasi, walaupun pengembalian modal pinjaman
bank selama 6 tahun.
d. Break Event Point (BEP)
Untuk mengetahui kapasitas atau omset penjualan berapa perusahaan tidak menderita
kerugian maupun tidak mendapatkan laba. Dari hasil analisis BEP Rumah Sakit berada pada
tingkat penjualan Rp. 26.000.0000.000,- yang dicapai pada tahun kedua dengan tingkat
penjualan sebesar 53 %.
Berdasarkan analisis diatas maka kesimpulan dari analisis pengeluaran modal (capital budgeting)
dihasilkan NPP yang potitif dan pengembalian (PBP) modal yang relative cepat serta BEP yang
berada di atas kapasitas normal, serta IRR berada jauh diatas deposito perbankan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa rencana pengelolaan Rumah Sakit ini baik secara operasional
maupun financial sangat memadai

Analisis Kinerja Organisasi

Pengelolaan keuangan di rumah sakit, memegang peranan yang sangat penting, karena
dengan pengelolaan yang baik akan mampu menghasilkan laba yang memadai. Untuk menilai
kinerja operasional suatu organisasi, diperlukan analisis data laporan laba rugi dan neraca rumah
sakit. Pada saat ini kami hanya membatasi pada Studi Kelayakan Capital Budgeting saja melalui
parameter, IRR, NPV, Pay back Period dan BEP Analisis. Mengingat dengan tools tersebut
sudah dapat mencerminkan rencana investasi sangat feasibel.

Dari analisis di atas menunjukkan bahwa rencana investasi dengan menggunakan


penanaman modal asing untuk pengelolaan Rumah Sakit ini sangat feasible secara ekonomis
yang dibuktikan dengan hasil analisis yang dihitung secara cermat dengan menggunakan paket
aplikasi excel. Dari analisis investasi (Capital Budgeting) yang terdiri dari analisis Net Present
Value, IRR, Pay Back Period dan BEP, semua menunjukkan ke arah yang positif untuk
menerima proyek ini.

Jawaban No.5 Standar-standar yang diperlukan :

1. Tugas Pokok Dan Fungsi ( Tupoksi ), meliputi :

- DIREKTUR
- KOMITE MEDIK
- SATUAN PENGAWAS INTERNAL
- MANAJER SDM DAN ADUM
- MANAJER PEMASARAN
- MANAJER KEUANGAN DAN AKUNTANSI
- MANAJER MEDIS
- KEPALA BAGIAN PELAYANAN MEDIS
- KEPALA BAGIAN PENUNJANG MEDIK
- KEPALA BIDANG AKUNTANSI
- KEPALA UNIT RAWAT INAP
- KEPALA UNIT RAWAT JALAN
- KEPALA UNIT GAWAT DARURAT
- KEPALA UNIT RADIOLOGI
- KEPALA UNIT INSTALASI FARMASI DAN PERBEKALAN MEDIS
- KEPALA UNIT INSTALASI GIZI
- KEPALA UNIT LABORATORIUM
2. Peraturan Rumah Sakit, meliputi :
- Hospital By Laws
- Medical Staf By Laws
- Non Medical Staf By Laws
3. SOP/SPO, meliputi :
- SOP IGD
- SOP Perawat
- SOP Nutrisi
- SOP Laboratorium
- SOP Perbekalan dan Farmasi
- SOP Radiologi
- SOP Rekam Medis
- SOP IPRS (Instalasi Penunjang Rumah Sakit)
4. Clinical Pathaway
5. SIMRS (Sistem Informasi dan Manajemen Rumah Sakit)
6. Dalam persiapan akreditasi, maka diperlukan :
- Hak Pasien dan Keluarga
- Manajemen Informasi dan Rekam Medik
- Manajemen Komunikasi dan Edukasi
- Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
- Sasaran Keselamatan Pasien
- Standar Integrasi Pendidikan Kesehatan dalam Pelayanan RS
- Kompetensi dan Kewenangan Staf
- Manajemen Fasilitas dan Keselamatan
- Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat
- Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
- Tata Kelola RS
- Akses ke RS dan Kontinuitas Pelayanan
- Asesmen Pasien
- Pelayanan dan Asuhan Pasien
- Pelayanan Anestesi dan Bedah
- Pelaksanaan Program Nasional meliputi :
 Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta Peningkatan Kesehatan Ibu dan Bayi
 Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS
 Penurunan Angka Kesakitan TBC
 Pelayanan Geriatri

Anda mungkin juga menyukai