Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Infeksi virus dengue endemis di beberapa daerah tropis dan
subtropis, dan lebih dari 100 negara di Afrika, Amerika, Mediterania, Asia
Selatan dan Fasifik Barat. Sekitar 2,5 juta penduduk di daerah tersebut pernah
terinfeksi virus dengue. Menurut WHO terdapat kira-kira 50-100 juta kasus
infeksi virus dengue setiap tahunnya, dengan 250.000-500.000 demam
berdarah dengue dan 24.000 di antaranya meninggal dunia.Di Indonesia DBD
merupakan masalah kesehatan karena hampir seluruh wilayah Indonesia
mempunyai risiko untuk terjangkit infeksi dengue.Dua belas di antara 30
provinsi di Indonesia merupakan daerah endemis DBD.Virus penyebab dan
nyamuk sebagai vektor pembawa tersebar luas di perumahan penduduk
maupun fasilitas umum.
Demam Dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan
oleh virus genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe
yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara
nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Dari 4 serotipe dengue yang
terdapat di Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak
berhubungan dengan kasus berat, diikuti dengan serotipe DEN-2.
Perjalanan penyakit dengue sulit diramalkan, manifestasi klinis
bervariasi mulai dari asimtomatik, simtomatik (demam dengue, DBD), DBD
dapat tanpa syok atau disertai syok (SSD). Pasien yang pada waktu masuk
rumah sakit dalam keadaan baik sewaktu-waktu dapat jatuh ke dalam keadaan
syok (SSD), oleh karena itu kecepatan menentukan diagnosis, monitor dan
pengawasan yang ketat menjadi kunci keberhasilan penanganan DBD.
2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demam Berdarah Dengue


Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh satu dari 4 virus dengue berbeda dan ditularkan melalui nyamuk terutama
aedes aeggypty dan aedes lbopictus yang ditemukan di daerah tropis dan
subtropics .
Aedes aegypti merupakan vektor yang paling utama namun spesies
lain seperti Albopictus aegypti juga dapat menjadi vektor penular.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014, DBD dapat ditemukan di
seluruh provinsi di Indonesia dan hampir setiap tahun menyebabkan epidemi
pada musim hujan. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain
adanya semua serotipe virus dengue di Indonesia, iklim tropis yang
mendukung kehidupan virus dan vektor nyamuk, masih adanya air bersih
yang tertampung sebagai media pertumbuhan larva nyamuk Aedes
aegypti serta peningkatan curah hujan1

2.2. Epidemiologi Demam Berdarah Dengue

Pada banyak daerah tropis dan subtropis, penyakit DBD adalah


endemik yang muncul sepanjang tahun, terutama saat musim hujan ketika
kondisi optimal untuk berkembang biak. Biasanya sejumlah besar orang akan
terinfeksi dalam waktu yang singkat.Sebelum tahun 1970, hanya 9 negara
yang mengalami wabah DBD, namun sekarang DBD menjadi penyakit yang
endemik pada lebih dari 100 negara, diantaranya adalah Afrika, Amerika,
Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat memiliki angka tertinggi
kasus DBD. Jumlah kasus di Amerika, Asia Tenggara dan Pasifik Barat telah
3

melewati 1,2 juta kasus di tahun 2008 dan lebih 2,3 juta kasus di 2010. Pada
tahun 2013 dilaporkan terdapat sebanyak 2,35 juta kasus di Amerika, dimana
37. 687 kasus merupakan DBD berat.
Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya
mobilitas dan kepadatan penduduk, jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah. Pada tahun 2015, tercatat terdapat
sebanyak 126.347 penderita DBD di 34 provinsi di Indonesia dan 1.229 orang
diantaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun
sebelumnya, yakni sebanyak 100.347 penderita DBD dan 907 penderita
meninggal dunia pada tahun 2014. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim
dan rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.1
2.3 Etiologi
Virus dengue termasuk kelompok arbovirus B.Virus dengue terdiri
atas 4 serotipe sehingga seseorang dapat terkena infeksi dengue hingga empat
kali semasa hidupnya. Terkadang dapat ditemukan seseorang yang menderita
infeksi lebih dari satu virus dengue (mixed infection).2
Data ruang rawat inap Departemen IKA FKUI-RSCM mendapatkan
sebagian besar (79,5%) penderita yang dirawat mengalami infeksi sekunder,
sedangkan infeksi primer didapatkan pada 15,9%, pasien. Pada sebagian kecil
pasien (4,6%) tidak dapat ditentukan apakah infeksi yang terjadi adalah
infeksi primer atau sekunder. Virus dengue serotipe 1 (DENV-1) merupakan
penyebab infeksi primer terbanyak, sedangkan penyebab infeksi sekunder
terbanyak adalah DENV-2. Beberapa pasien mengalami infeksi campuran dua
serotipe dengue. Selama kurun waktu tahun 2006 – 2010, DENV-2 dan DEN-
V3 merupakan virus yang terbanyak ditemukan sebagai penyebab infeksi
dengue di ruang rawat inap Departemen IKA FKUI-RSCM. Semua serotipe
virus dengue beredar di Jakarta.
4

2.4 Manifestasi klinis dan perjalanan penyakit


Dalam perjalanan penyakit infeksi dengue, terdapat tiga fase perjalanan
infeksi dengue, yaitu
 Fase demam: viremia menyebabkan demam tinggi
 Fase kritis/ perembesan plasma: onset mendadak adanya perembesan
plasma dengan derajat bervariasi pada efusi pleura dan asites
 Fase recovery/ penyembuhan/ convalescence: perembesan plasma
mendadak berhenti disertai reabsorpsi cairan dan ekstravasasi plasma.

(gambar perjalanan penyakit infeksi dengue)

Manifestasi klinis berdasarkan klasifikasi dengue


a. Undifferentiated fever (sindrom infeksi virus)
Pada undifferentiated fever, demam sederhana yang tidak dapat
dibedakan dengan penyebab virus lain. Demam disertai kemerahan
5

berupa makulopapular, timbul saat demam reda. Gejala dari saluran


pernapasan dan saluran cerna sering dijumpai.
b. Demam dengue (DD)
i. Anamnesis:
Demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot &
sendi/tulang, nyeri retroorbital, photophobia, nyeri pada punggung,
facial flushed, lesu, tidak mau makan, konstipasi, nyeri perut, nyeri
tenggorok, dan depresi umum.
ii. Pemeriksaan fisik
 Demam: 39-40°C, berakhir 5-7 hari
 Pada hari sakit ke 1-3 tampak flushing pada muka (muka
kemerahan), leher, dan dada.
 Pada hari sakit ke 3-4 timbul ruam kulit
makulopapular/rubeolliform
 Mendekati akhir dari fase demam dijumpai petekie pada kaki
bagian dorsal, lengan atas dan tangan.
 Convalescent rash, berupa petekie mengelilingi daerah yang
pucat pada kulit yg normal, dapat disertai rasa gatal.
 Manifestasi perdarahan
- Uji bendung positif dan/atau petekie
- Mimisan hebat, menstruasi yang lebih banyak, perdarahan
saluran cerna (jarang terjadi, dapat terjadi pada DD dengan
trombositopenia)
6

c. Demam berdarah dengue


Terdapat tiga fase dalam perjalanan penyakit, meliputi fase demam,
kritis, dan masa penyembuhan (convalescence, recovery).
i. Fase demam
 Anamnesis
Demam tinggi, 2-7 hari, dapat mencapai 40°C, serta terjadi
kejang demam. Dijumpai facial flush, muntah, nyeri kepala,
nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis,
nyeri di bawah lengkung iga kanan, dan nyeri perut.
 Pemeriksaan fisik
Manifestasi perdarahan Uji bendung positif (≥10 petekie/ 2
inch) merupakan manifestasi perdarahan yang paling banyak
pada fase demam awal. Mudah lebam dan berdarah pada
daerah tusukan untuk jalur vena. Petekie pada ekstremitas,
ketiak, muka, palatum lunak. Epistaksis, perdarahan gusi,
Perdarahan saluran cerna, Hematuria (jarang), Menorrhagia,
Hepatomegali teraba 2-4 cm di bawah arcus costae kanan dan
kelainan fungsi hati (transaminase) lebih sering ditemukan
pada DBD. Berbeda dengan DD, pada DBD terdapat
hemostasis yang tidak normal, perembesan plasma
(khususnya pada rongga pleura dan rongga peritoneal),
hipovolemia, dan syok, karena terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler. Perembesan plasma yang
mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura
dan rongga peritoneal terjadi selama 24-48 jam4.
7

ii. Fase kritis


Fase kritis terjadi pada saat perembesan plasma yang berawal pada
masa transisi dari saat demam ke bebas demam (disebut fase time of
fever defervescence) ditandai dengan peningkatan hematokrit 10%-
20% di atas nilai dasar. Tanda perembesan plasma seperti efusi
pleura dan asites, edema pada dinding kandung empedu. Foto dada
(dengan posisi right lateral decubitus = RLD) dan ultrasonografi
dapat mendeteksi perembesan plasma tersebut. Terjadi penurunan
kadar albumin >0.5g/dL dari nilai dasar / 3 detik). Diuresis
menurun (< 1ml/kg berat badan/jam), sampai anuria. Komplikasi
berupa asidosis metabolik, hipoksia, ketidakseimbangan elektrolit,
kegagalan multipel organ, dan perdarahan hebat apabila syok tidak
dapat segera diatasi.
iii. Fase penyembuhan (convalescence, recovery)
Fase penyembuhan ditandai dengan diuresis membaik dan nafsu
makan kembali merupakan indikasi untuk menghentikan cairan
pengganti. Gejala umum dapat ditemukan sinus bradikardia/ aritmia
dan karakteristik confluent petechial rash seperti pada DD.
d. Expanded dengue syndrome
Manifestasi berat yang tidak umum terjadi meliputi organ seperti hati,
ginjal, otak,dan jantung. Kelainan organ tersebut berkaitan dengan
infeksi penyerta, komorbiditas, atau komplikasi dari syok yang
berkepanjangan. Diagnosis DBD/DSS ditegakkan berdasarkan kriteria
klinis dan laboratorium
i. Kriteria klinis
Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung
terus-menerus selama 2-7 hari Manifestasi perdarahan, termasuk
uji bendung positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis,
8

perdarahan gusi, hematemesis, dan/melena Pembesaran hati, Syok


ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi (≤20
mmHg), hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien
tampak gelisah.
ii. Kriteria laboratorium
Trombositopenia (≤100.000/mikroliter), 20% dari nilai dasar /
menurut  Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit
umur dan jenis kelamin.

2.5 Klasifikasi Demam Berdarah Dengue


i. Klasifikasi demam berdarah dengue WHO 1997
9

ii. Klasifikasi demam berdarah dengue WHO 2009

iii. Klasifikasi demam berdarah dengue WHO 2011

Manifestasi klinis menurut kriteria diagnosis WHO 2011,


infeksi dengue dapat terjadi asimtomatik dan simtomatik. Infeksi
dengue simtomatik terbagi menjadi undifferentiated fever (sindrom
infeksi virus) dan demam dengue (DD) sebagai infeksi dengue
ringan; sedangkan infeksi dengue berat terdiri dari demam berdarah
dengue (DBD) dan expanded dengue syndrome atau isolated
organopathy. Perembesan plasma sebagai akibat plasma leakage
merupakan tanda patognomonik DBD, sedangkan kelainan organ lain
10

serta manifestasi yang tidak lazim dikelompokkan ke dalam


expanded dengue syndrome atau isolated organopathy. Secara klinis,
DD dapat disertai dengan perdarahan atau tidak; sedangkan DBD
dapat disertai syok atau tidak

iv. Derajat demam berdarah dengue 3,4


11

2.6 Patogenesis Demam Berdarah Dengue

Secondary heterologous dengue infection

Replikasi virus Anamnestic antibody respons

Kompleks virus-antibodi

Aktivasi komplemen

Komplemen menurun

Anafilatoksin (C3a, C5a)

Histamin dalam urin ↑

Permeabilitas kapiler meningkat

 Hematokrit ↑
30% kasus syok Perembesan plasma  Natrium ↑
 Cairan dalam rongga
serosa

Hipovolemia

 Syok
 Anoksia
 asidosis

Meninggal
12

Menurut hipotesis infeksi sekunder yang diajukan oleh Suvatte,


sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berbeda, respon
antibody anamnestik pasien akan terpicu, menyebabkan proliferasi dan
transformasi limfosit dan meghasilkan titer IgG antidengue. Karena bertempat
di limfosit, proliferasi limfosit juga menyebabkan tingginya angka replikasi
virus dengue.Hal ini mengakibatkan terbentuknya kompleks virus-antibodi
yang selanjutnya mengaktivasi sistem komplemen.Pelepasan C3a dan C5a
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan merembesnya
cairan ke ekstravaskular. Hal ini terbukti dengan peningkatan kadar
hematocrit, penurunan natrium dan terdapatnya cairan dalam ronga serosa.

Hipotesis immune enhancementmenjelaskan secara tidak langsung


bahwa mereka yang terkena infeksi kedua oleh virus heterolog mempunyai
resiko yang lebih besar untuk menderita DBD berat. Antibody heterolog yang
telah ada akan mengenali virus lain kemudian membentuk kompleks antigen-
antibodi yang berkaitan dengan Fc reseptor dari membran leukosit terutama
makrofag. Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi sekresi media
vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh
darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok. 2

2.7 Diagnosa Banding

 Selama fase akut penyakit, sulit untuk membedakan DBD dari demam
dengue dan penyakit virus lain yang ditemukan di daerah tropis. Maka
untuk membedakan dengan campak, rubela, demam chikungunya,
leptospirosis, malaria, demam tifoid, perlu ditanyakan gejala penyerta
lainnya yang terjadi bersama demam. Pemeriksaan laboratorium
diperlukan sesuai indikasi.
13

 Penyakit darah seperti trombositopenia purpura idiopatik (ITP),


leukemia, atau anemia aplastik, dapat dibedakan dari pemeriksaan
laboratorium darah tepi lengkap disertai pemeriksaan pungsi sumsum
tulang apabila diperlukan.
 Penyakit infeksi lain seperti sepsis, atau meningitis, perlu difikirkan
apabila anak mengalami demam disertai syok2

2.8 Transmisi

a. Virus
Virus dengue (DEN) adalah virus single strain RNA yang terdiri atas 4
serotipe (DEN1, DEN2, DEN3, DEN4). Dari keempat tipe tersebut
tipe yang paling sering di ASIA adalah DEN2 dan DEN3, adapun
partikel virs yang matur berbentuk sferis dengan diameter 50nm.
b. Vektor
Keempat serotype virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk aedes aegypti yang telah terinfeksi. Nyamuk ini hidup
di daerah tropis dan subtropis, adapun jenis nyamuk yang lainnya
adalah aedes albopictus, aedes polynesiensis, aedes scutellaris
compleks. Habitat dari nyamuk ini ialah tempat-tempat genangan air
bersih di sekitar lingkungan rumah.
c. Host
penyakit DBD terjadi pada seseorang yang ditentukan oleh faktor-
fakror pada host itu sendiri. Kerentanan seseorang terhadap penyakit
DBD ditentukan oleh usia, etnis dan kemungkinan ada penyakit
kronis. Setelah terinfeksi oleh salah satu dari keempat serotype virus
dengan masa inkubasi 4-10 hari akan muncul gejala-gejala infeksi
virus dengue, namun sebagian dapat asimptomatis. virus dengue
masuk ke kulit saat terinfeksi oleh gigitan nyamuk selama fase akut
14

dari penyakit virus akan tampak pada pemeriksaan darah. Sistem imun
humoral akan berespon terhadap infeksi tersebut melalui aktivasi
CD8+ CD4+ Limfosit T

2.9. Penegakan diagnosa DHF dan DSS

a. Tanda dan gejala DHF-DSS5

DHF DSS
Demam >39˚C, 2-7 hari, bifasik Kulit menjadi dingin
Tanda-tanda perdarahan: Nadi cepat dan kecil
 Test troniquet positif
 Petechiae, ekimosis, purpura
 Perdarahan dari mukosa, gusi,
saluran pecernaan atau lokasi
lainnya
 Hematemesis atau melena
Trombositopenia ≤100.000 mm3 Hipotensi
Hematokrit ≥20% Penyempitan tekanan nadi ≤ 20 mmHg
Sakit kepala
Nyeri retro orbital
Myalgia/Athralgia

b. Pemeriksaan penunjang6
Diagnosis penderita demam berdarah dilakukan dengan anamnesis
penderita, baik secara autoanamnesis atau alloanamnesis. Kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan dipertegas dengan
pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium mempunyai
peranan penting dalam diagnosis penderita demam berdarah dengue.
 Uji tourniquet
Uji Torniquet yang dikenal dengan pemeriksaan Rumple Leed
merupakan salah satu pemeriksaan penyaring untuk mendeteksi
kelainan sistem vaskular dan trombosit. Dengan melakukan
bendungan darah pada tekanan tertentu, di lengan atas akan
15

terjadi perdarahan di bawah kulit (petechiae) bila dinding kapiler


kurang kuat resistensi. Hasil positif bila dalam waktu 10 menit
timbul 10 atau lebih petechiae di daerah voler lengan. Sebelum
percobaan, harap diperhatikan apakah ada bekas gigitan nyamuk
pada daerah volar lengan bawah atau noda hitam yang mungkin
menyebabkan hasil menjadi positif palsu.
 Pemeriksaan trombosit
Selain hemokonsentrasi, maka yang selalu hampir terjadi pada
penderita DBD adalah trombositopenia. Penurunan jumlah
tromboit dibawah 100.000/μl darah, biasanya ditemukan antara
hari 3-8 sakit. Pemeriksaan trombosit memiliki dua tujuan, yaitu
mengukur jumlah trombosit secara kuantitatif dan mengukur
secara kualitatif, khususnya dalam hubungan tranfusi darah yang
nanti dibutuhkan.
 Pemeriksaan hematokrit
Tujuannya untuk mengetahui adanya hemokonsentrasi yang
terjadi pada penderita DBD. Nilai hematocrit adalah besarnya
volume total sel-sel darah, khususnya eritrosit dibandingkan
volume keseluruhan darah dan dinyatakan dalam persen. Pada
penderita DBD, hemetokrit meningkat ≥ 20%. Gejala klinis
demam mendadak dan tinggi berelangsung 2-7 hari dengan
gambaran perdarahan ditambah peningkatan nilai hematokrit dan
penurunan jumlah trombosit merupakan pedoman dalam
menegakkan diagnosis DBD. Peningkatan nilai hematokrit
merupakan petunjuk adanya peningkatan permeabilitas kapiler
dan bocornya plasma. Namun kadar ini dipengaruhi oleh adanya
penggantian cairan awal dan perdarahan. Namun. Kadar ini
dipengaruhi oleh adanya penggantian cairan awal dan
16

perdarahan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap


perawatan penderita dengan pemeriksaan hematokrit.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan hematokrit setiap 2 jam
sekali selama 6 jam. Apabila hemokonsentrasinya membaik
maka diperlambat menjadi setiap 4 jam sampai keadaan klinis
pasien membaik.
 Pemeriksaan NS1 antigen
Antigen NS1 muncul pada hari pertama setelah serangan
demam dan menurun ke tingkat tidak terdeteksi setelah 5-6
hari. Spesifisi-tas antigen NS1 100% sama tingginya seperti
kultur virus maupun PCR.
 Pemeriksaan Ig M dan Ig G
Akibat infeksi dengue, muncul respon imun baik humoral
maupun selular. Antibodi yang muncul pada umumnya adalah
IgG dan IgM, pada infeksi dengue primer antibodi mulai
terbentuk dan pada infeksi sekunder kadar antibodi yang telah
ada jadi meningkat. Antibodi terhadap virus dengue dapat
ditemukan di dalam darah sekitar demam hari ke-5, meningkat
pada minggu pertama sampai dengan ketiga, dan menghilang
setelah 60-90 hari.

2.10. Penatalaksanaan DHF dan DSS


a. Antipiretik
Usia Dosis
<1 tahun 60 mg/pemberian
1-3 tahun 60-120 mg/pemberian
3-6 tahun 120 mg/pemberian
6-12 tahun 240 mg/pemberian
17

Antipiretik diberikan pada pasien dengan hiperpireksia, terutama


pasien dengan riwayat kejang demam.Diberikan saat demam
dengan suhu > 39˚C tetapi tidak melebih enam kali pemberian
dalam 24 jam. Pemberian salisilat sebaiknya dihindari karena dapat
menimbulkan perdarahan, asidosis dan reye atau reye like
syndrome.
b. Terapi cairan7
 Terapi cairan DHF dengan peningkatan hematokrit > 20%
18

c. Terapi cairan dengan syok dengue7


19

2.11 Indikasi Pulang DHF dan DSS


 Bebas demam dalam 24 jam tanpa menggunakan antipiretik
 Kembalinya nafsu makan
 Perbaikan klinis yang terlihat
 Jumlah urin yang cukup
 Hematokrit stabil
 Melewati setidaknya 2 hari setelah pemulihan dari shock
 Tidak ada gangguan pernapasan dari efusi pleura atau asites
 Jumlah tromnosit lebih dari 50.000 mm3

2.12 Prognosis dan Komplikasi


a. Prognosis
Dubia ad bonam
b. Komplikasi
 Ensefalopati dengue: edema otak dan alkalosis
 Kelainan ginjal akibat syok berkepanjangan
 Edema paru akibat pemberian cairan berlebihan
20

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Felixcano Artaro Bungaran
Jenis Kelamin : Laki-laki
Anak Ke : Anak Pertama
Usia : 6 tahun
Tanggal lahir : 15 Februari 2012
Tempat lahir : Medan
Rekam medis : 1808161226
Tanggal masuk RS : 27 Agustus 2018
Lama rawat : 7 hari
Alamat : Jalan Keruntung No 23 Linkungan VI

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Mual dan Muntah(+)

Telaah : Hal ini dialami os sudah lebih dari 10 kali dalam satu hari
SMRS dan sudah 3 kali setelah sampai di rumah sakit
volumenya ± 1 aqua gelas berisi apa yang dimakan os,
demam(+) ± 3 hari os mengeluhkan nyeri di perut kanan atas
seperti ditusuk, os tampak sangat rewel dan terus menerus
haus, bibir os tampak kering.

RPO : Ambroxol, Cotrimoxsazole, Pulvis, Ibu Profen namun tidak


membaik

RPT : Tidak Ada

RPK : Tidak Ada


21

III. PEMERIKSAAN FISIK

 Status Present : Composmentis (Anak Rewel)


Sensorium : GCS (E: 4 V: 5 M: 6 )
Vital Sign : Tekanan Darah( 110/80 mmHg), Heart Rate( 118x/i),
Respiratory Rate( 46x/i), Temperature (36°C)
Anemi ( - ), ikterik ( - ), dypsnoe ( - ), sianosis ( - ), oedem ( - )
Berat Badan ( 27,9 kg)
 Status Lokalisata
Kepala : Rambut : hitam dan tidak mudah dicabut
Mata : Refleks cahaya ( + / + )
Pupil (isokor/anisokor)
Diameter : 2-3mm
Konjungtiva palpebra: dalam batas normal
Telinga : Dalam Batas Normal
Hidung : Dalam Batas Normal
Mulut : Mukosa bibir :Bibir tampak kering
T – T : T1-T1
Faring : Dalam Batas Normal
Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening ( - )
Kaku Kuduk ( - )
Dada : Simetris fusiformis ( + )
Retraksi ( - )
Iga gambang ( - )
Suara Pernapasan: Vesikuler (+/+)
Suara Tambahan : Tidak Ditemukan
Perut :Hepar Teraba Membesar,hiperperistaltik(+)

Anggota Gerak : Akral (dingin), t/v (cukup)


Capillary refil time : >2’’
Palmar pucat ( - ), Sianosis ( - )
22

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Unit Hasil Nilai Rujukan
(Tgl:27-08-2018)
HEMATOLOGI
Hemoglobin g/dL 15,7 10,6-16,0

Leukosit 103/µL 3,46 6,00-18,00

Eritrosit 106/ µL 5,92 3,40-5,10


Trombosit 103/µL 29 150-450
Hematokrit % 46,9 32,0-52,0
MPV fL 9,6 6,0-9,5
RDW % 14,0 11,5-14,0
HDW g/dL 3,09 2,00-2,98
PDW % 71,7 25,0-65,0
MCV fL 79,2 76,0-90,0
MCH Pg 26,5 25,0-31,0
MCHC g/dL 33,5 30,0-35,0
Eosinofil % 0,4 1-3
Basofil % 0,5 0-1
Neutrofil % 64,7 50-70
Limfosit % 29,7 20-40
Monosit % 4,7 2,0-8,0
Retikulosit 109/µL 26,1 31,0-82,0
Absolut
Pemeriksaan Unit Hasil Normal
KIMIA
ELEKTROLIT TES
23

Natrium mmol/l 130 135-147

Kalium mmol/l 4,06 3,50-5,50


Chloride mmol/l 115 94-111
Kalsium mg/dl 7,9 9,0-11,0
DIABETES

Glukosa ad mg/dl 124 <120


Random
IMUNO-SEROLOGI
IgM Anti Dengue - Negative Negative
IgG Anti Dengue - Negative Negative
RHEUMATOLOGY PROFILE
CRP Quantitative mg/L <3 <6

Pemeriksaan Unit Hasil Nilai Rujukan


(Tgl:28-08-2018)
HEMATOLOGI
Hemoglobin g/dL 16,0 10,6-16,0

Leukosit 103/µL 6,59 6,00-18,00

Eritrosit 106/ µL 6,07 3,40-5,10


Trombosit 103/µL 16 150-450
Hematokrit % 47,5 32,0-52,0
MPV fL 8,4 6,0-9,5
RDW % 14,3 11,5-14,0
HDW g/dL 3,13 2,00-2,98
PDW % 21,3 25,0-65,0
MCV fL 78,2 76,0-90,0
MCH Pg 26,3 25,0-31,0
MCHC g/dL 33,6 30,0-35,0
24

Eosinofil % 1,6 1-3


Basofil % 2,0 0-1
Neutrofil % 54,5 50-70
Limfosit % 35,1 20-40
Monosit % 6,8 2,0-8,0
Retikulosit 109/µL 27,7 31,0-82,0
Absolut
HEMATOLOGI
BLOOD FILM COMMENT
Eritrosit - Normokrom -
Normositer
Leukosit - Blue -
Lymphocyte(+)
,Toxic Granul(+)
Trombosit - Large -
Trombocyte,
indirect kurang
Kesan - Trombositopenia -
dengan
Gambaran DHF

Pemeriksaan Unit Hasil Nilai Rujukan


(Tgl:29-08-2018)
HEMATOLOGI
Hemoglobin g/dL 11,7 10,6-16,0

Leukosit 103/µL 4,21 6,00-18,00

Eritrosit 106/ µL 4,42 3,40-5,10


Trombosit 103/µL 12 150-450
Hematokrit % 33,8 32,0-52,0
MPV fL 8,1 6,0-9,5
RDW % 13,9 11,5-14,0
25

HDW g/dL 3,28 2,00-2,98


PDW % 46,3 25,0-65,0
MCV fL 76,4 76,0-90,0
MCH Pg 26,5 25,0-31,0
MCHC g/dL 34,7 30,0-35,0
Eosinofil % 0,6 1-3
Basofil % 1,9 0-1
Neutrofil % 62,3 50-70
Limfosit % 22,2 20-40
Monosit % 13,0 2,0-8,0
Retikulosit 109/µL 21,3 31,0-82,0
Absolut
Pemeriksaan Unit Hasil Nilai Rujukan
(Tgl:30-08-2018)
HEMATOLOGI
Hemoglobin g/dL 11,3 10,6-16,0

Leukosit 103/µL 4,46 6,00-18,00

Eritrosit 106/ µL 4,27 3,40-5,10


Trombosit 103/µL 26 150-450
Hematokrit % 33,4 32,0-52,0
MPV fL 5,9 6,0-9,5
RDW % 13,7 11,5-14,0
MCV fL 78,2 76,0-90,0
MCH Pg 26,5 25,0-31,0
MCHC g/dL 33,9 30,0-35,0
Eosinofil % 0,3 1-3
Basofil % 7,9 0-1
Neutrofil % 47,8 50-70
Limfosit % 22,4 20-40
Monosit % 21,6 2,0-8,0
26

Pemeriksaan Unit Hasil Nilai Rujukan


(Tgl:31-08-2018)
HEMATOLOGI
Hemoglobin g/dL 10,8 10,6-16,0

Leukosit 103/µL 3,28 6,00-18,00

Eritrosit 106/ µL 4,02 3,40-5,10


Trombosit 103/µL 52 150-450
Hematokrit % 31,8 32,0-52,0
MPV fL 5,4 6,0-9,5
RDW % 13,5 11,5-14,0
MCV fL 79,1 76,0-90,0
MCH Pg 26,8 25,0-31,0
MCHC g/dL 33,8 30,0-35,0
Eosinofil % 2,2 1-3
Basofil % 5,6 0-1
Neutrofil % 43,4 50-70
Limfosit % 31,2 20-40
Monosit % 17,6 2,0-8,0

V. PEMANTAUAN

Tanggal 27 Agustus 2018 28 Agustus 2018


27

S Dari IGD os masuk ke Demam hari ke 4 (+), os muntah(+)


Ruangan namun karena mual(+), os masih sangat rewel dan
keaadan kurang stabil os gelisah, os makan(+) namun sedikit
dipindahkan ke PICU
Os Mual(+) dan Muntah (+)
dengan frekuensi lebih dari 10
kali dalam satu hari, muntah
berisi apa yang dimakan os,
demam(+) kurang lebih sudah
3 hari dan naik turun namun
tidak pernah sampai suhu
normal, sebelumnya os sudah
meminum obat namun keluhan
tidak berkurang, os
mengeluhkan nyeri (+) di perut
kanan atas seperti ditusuk skala
nyeri 6, os sangat rewel dan
terus menerus haus, mimisan(-
), BAK (-) belum adasejak
teraseperti biasanya
O Keadaan Umum : Belum Stabil Keadaan Umum: Belum Stabil
Sensorium: Composmentis Sensorium: Composmentis
Vital Sign: TD: 93/57 mmHg Vital Sign: TD: 91/63mmHg
HR: 111 x/i HR:133x/i
(nadi teraba cepat RR: 38x/i
lemah,) T : 37,1°C
RR: 22x/i Thorax: SP :vesikuler +/+
T : 38,5°C Abdomen: distensi minimal,
Thorax: SP :vesikuler +/+ peristaltik (+) namun
Abdomen: distensi , melemah,hepatomegali
hiperistaltik, hepatomegali Ekstremitas: akral dingin
Ekstremitas: Akral hangat
28

A Dengue Hemorragic Fever Dengue Shock Syndrome yang


dd/Dengue Shock Syndrome terkompensasi

P  Os sudah masuk ke  IVFD RL 75 cc/jam


PICU(Pediatric ditambah dengan Gelofusin
Intensive Care Unit) 75 cc/jam pada masing –
 Os dipasangkan IV masing IV Line
Line di tangan kiri dan  Inj Omeprazole 30 mg/24
kanan masing-masing jam
75 cc/jam habis dalam  Inj Ondansetron 3mg/8jam
satu jam ,bila  Infus Paracetamol 300 mg
hemodinamik sudah K/P demam
stabil maka cairan  Inj Ceftriaxone 1gr/12 jam
diturunkan 50 cc/jam  Cek darah rutin ulang
kiri dan kanan
 Os dipasangkan kateter
urin untuk
pemantauaan cairan
 Inj Omeprazole 30
mg/24 jam
 Inj Ondansetron
3mg/8jam
 Infus Paracetamol 300
mg K/P demam
 Sucralfat Syr 3x5cc
 Inj Ceftriaxone 1gr/12
jam
 Cek darah rutin ulang
Tanggal 29 Agustus 2018 30 Agustus 2018
29

S Os masih tampak rewel dan haus Mual(-),Muntah(-), Demam (-),sesak


(+), mual(-), muntah (+), Demam nafas(+), bengkak pada kaki sebelah
hari ke 5(+), BAB (+) warnanya kiri (+), BAB (+)warnanya kuning
seperti biasa kuning kecokelatan kecokelatan, nafsu makan sudah
ada(+), os sudah tidak terlalu rewel
dan gelisah lagi.

O Keadaan Umum : Rewel dan Keadaan Umum : Masih sedikit


Gelisah Gelisah
Sensorium: Composmentis Sensorium: Composmentis
Vital Sign: TD: 120/68mmHg Vital Sign: TD: 120/60mmHg
HR:121x/i HR:112x/i
RR: 36 x/i RR: 31x/i
T : 36,9°C T : 37°C
Thorax: SP :vesikuler +/+ Thorax: SP :vesikuler +/+, suara
Abdomen: Distensi(+) napas melemah di lapangan paru
minimal, peristaltik (+) kanan ,Dyspnea(+), stridor(-),
Ekstremitas: Akral hangat, ronki kasar minimal(+/+),
CRT<2’’ Abdomen:Dsitensi minimal(+),
peristaltik (+)
Urogenital: stabil UOP(3,7cc/jam)
Muskuloskletal: Oedem di tungkai
kiri(+)

A Dengue Shock Syndrome Dengue Shock Syndrome


terkompensasi terkompensasi
30

P  IVFD RL diturunkan  IVFD RL 50 cc/jam


menjadi 45 0 cc/jam di diberikan hanya disatu IV
IV Line kanan dan 30 Line kiri saja , AFF line
cc/jam di IV line kiri kanan
 Inj Omeprazole 30  Inj Ceftriaxone 1gr/12 jam
mg/24 jam  Inj Paracetamol 300
 Inj Ondansetron mg/8jam
3mg/8jam  Inj Omeprazole 30 mg/24
 Infus Paracetamol 300 jam
mg /8jam  Sucralfat 3x5ml
 Inj Ceftriaxone 1gr/12  Inj Furosemide 10mg/12
jam jam/IV
 Cek darah rutin ulang  Cek Darah Rutin

Tanggal 31 Agustus 2018 01 September 2018


S Demam(-), Sesak nafas(+) namun Demam(-), sesak nafas (+) namun
sudah berkurang, Mual(-), sudah berkurang, nafsu makan(+)
Muntah(-), bengkak pada kaki sudah kembali normal, bengkak pada
kir(+), BAB(+) warna agak hijau kaki kiri(+) namun sudah berkurang,
kekuningan, os sudah mulai selera mual(-), muntah(-), os sudah tidak
makan , os sudah tidak terlalu gelisah lagi
rewel dan gelisah.

O Sensorium: Composmentis Sensorium: Composmentis


Vital Sign: TD: 110/67mmHg Vital Sign: TD: 110/70mmHg
HR:100x/i HR:90x/i
RR: 32x/i RR: 28x/i
T : 36,7°C T : 37°C
Thorax: SP :vesikuler +/+, Thorax: SP :vesikuler +/+, suara
napas melemah di lapangan napas melemah di lapangan paru
paru kanan ,Dyspnea(+), kanan ,Dyspnea(+) sudah
stridor(-),suara berkurang, stridor(-),
Abdomen:Soepel, peristaltik Abdomen:Soepel, peristaltik (+),
(+), hepar teraba membesar Muskuloskletal: Oedem di tungkai
2cm kiri(+) namun sudah berkurang
31

Urogenital: stabil UOP(5


cc/jam)
Muskuloskletal: Oedem di
tungkai kiri(+)

A Dengue Shock Syndrome Dengue Shock Syndrome


Terkompensasi Terkompensasi

P  IVFD RL 50 cc/jam  IVFD D5% NaCl 0,45%


 Inj Ceftriaxone 1gr/12 50 cc/jam
jam  Inj Ceftriaxone 1gr/12 jam
 Inj Paracetamol 300  Inj Paracetamol 300
mg/8jam (K/P) mg/8jam (K/P)
 Inj Ranitidine 30 mg/12  Inj Furosemide 10mg/12
jam jam/IV
 Sucralfat 3x5ml
 Inj Furosemide
10mg/12 jam/IV
 Cek Darah Rutin Ulang
 Os dipindahkan ke
Ruangan
Tanggal 02 September 2018
S Demam(-), sesak nafas (-)nafsu
makan(+) sudah kembali normal,
bengkak pada kaki kiri(+) namun
sudah berkurang, mual(-),
muntah(-), os sudah tidak gelisah
lagi, Os PBJ (pulang berobat
jalan)
O Keadaan Umum: Sudah Stabil
Sensorium: Composmentis
Vital Sign: TD: 110/65mmHg
HR:86x/i
RR: 29x/i
T : 37,4°C
32

Thorax: SP :vesikuler +/+,


,Dyspnea(-) , stridor(-),
Abdomen:Soepel, peristaltik
(+),
Muskuloskletal: Oedem di
tungkai kiri(+) namun sudah
berkurang

A Dengue Shock Syndrome


Terkompensasi
P  Paracetamol oral
250mg 3x1 bila demam
 Furosemide oral
2x10mg
 Os Kontrol 3 hari lagi
ke Poliklinik

Grafik Pemantauaan Hemodinamik Selama Masa Perawatan

Suhu
39

38.5

38
Suhu (°C)

37.5

37 Suhu

36.5

36

35.5
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7
33

Tekanan Darah
140

120
Sistole/Diastole(mmHg)

100

80
Sistole
60 Diastole
40

20

0
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7

Heart Rate
140

120
Heart Rate (x/menit)

100

80

60 Heart Rate

40

20

0
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7
34

Respiratory Rate
40

35
Respiratory Rate (x/menit)

30

25

20
Respiratory Rate
15

10

0
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7

VI. PROGNOSIS

Dubia ad Bonam
35

BAB 3
KESIMPULAN

1. Demam Dengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus genus
Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes
albopictus.
2. Gejala klinis demam mendadak dan tinggi berelangsung 2-7 hari dengan
gambaran perdarahan ditambah peningkatan nilai hematokrit dan penurunan
jumlah trombosit merupakan petunjuk dalam menegakkan diagnosis DBD.
3. Dengue Shock Syndrome ditandai dengan; kulit menjadi dingin, nadi cepat
dan kecil, hipotensi dan penyempitan tekanan nadi ≤20 mmHg.
36

Daftar Pustaka

1. InfoDatin Kementerian Kesehatan. Situasi DBD di Indonesia [Internet].


InfoDATIN. 2016. p. p 12. Available from:
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin dbd
2016.pdf
2. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2007. 607-621 hal
3. Handbook for clinical management of dengue. Cited September 2018.
(available from).
http://www.wpro.who.int/mvp/documents/handbook_for_clinical_manageme
nt_of_dengue.pdf
4. Mulya RK. Diagnosis Dan Tata Laksana Terkini Dengue. RSUPN Cipto
Mangunkusumo, FKUI. Jakarta :2011
5. Darmowandowo, Widodo. Infeksi Virus Dengue. FK Unair. Surabaya; 2006
6. Purwanto. Pemeriksaan Laboratorium Pada Penderita Demam Berdarah
Dengue. Media Litbang Kesehatan. Semarang; 2001
7. Chen K, Pohan HT, Sinto R. Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam
Berdarah Dengue. Dexa Medica. Jakarta; 2009
37