Anda di halaman 1dari 3

Bawang Merah & Bawang Putih

Disuatu hari hiduplah seorang gadis cantik yang baik hati. Dia selalu menjalani harinya
dengan gembira hingga dia ditinggal pergi oleh ayahnya. Bawang putih kini tinggal dengan
ibu tiri dan anaknya yakni bawang merah. Mereka sangat kejam dan selalu memperlakukan
bawang putih seperti seorang pembantu.
Ibu : “Bawang Putih!” Teriaknya dengan keras.
BP : “Ada apa bu?” ucap bawang putih dambil meletakkan sapu yang di pegangnya.
Ibu : “Dimana sarapan kami ?” Sudah jam berapa ini ?”
BP : “Maaf bu, saya dari tadi sibuk menyapu.”
Ibu : “Halah alasan saja kau ini. Cepat siapkan sarapannya!”
BP : “Baik BU”
Bawang putih pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Saat akan menghidupkan kompor,
kegiatan bawang putih berhenti karena kakak tirinya yakni bawang merah memanggilnya
tanpa henti.
BM : “ Putih… Putih!!”Teriaknya, marah-marah
BP : “Ada apa kak ?”
BM : “Kenapa bajuku belum disetrika, aku akan pergi setelah ini.
BP : “Tapi aya harus memasak untuk sarapan.”
BM : “Aku tidak peduli yang harus kamu lakukan adalah bajuku sudah disetrika kurang
dari satu jam. Jangan lupa sarapannya juga.”
BP : “Baik kak, akan aku usahakan.”
Dengan tergesa-gesa, bawang putih menyiapkan sarapan dan langsung menyetrika. Terasa
lelah. Akan tetapi bawang putih tetap mencoba untuk sabar. Seburuk apapun perlakuan ibu
tiri dan saudara tirinya mereka adalah keluarga yang hanya dimiliki bawang putih.
Ibu : “Mau apa kamu ?” Bentak si ibu yang melihat bawang putih duduk disampingnya.
BP : “ Putih mau makan bu.”
Ibu : “ Enak saja kau mau makan disini. Kalau mau makan, kau makan di dapur saja.”
BP : “Baik bu.”
BM : “Eh tunggu dulu, kau harus mencuci terlebih dahulu baru boleh makan.”
BP : “ Tapi saya lapar kak.”
BM : “Aku tidak peduli.”
Dengan kasar, Bawang merah melemparkan tumpukan pakaian kotor kea rah bawang putih.
Dengan perasaan sedih, bawang putih memunguti pakaian tersebut. Dia segera pergi ke
sungai untuk mencuci pakaian.
Saat sedang mencuci, Tiba-tiba arus sungai menjadi deras. Pakaian yang sedang dicuci
bawang putih pun hanyut terbawa arus.
BP : “ Bagaimana ini semua pakaian merah hanyut.”
Bawang putih pun berlari mengejar pakaiannya yang hanyut. Bawang putih menyusuri
sepanjang sungai hingga akhirnya dia bertemu dengan kakek tua yang sedang membawa
pakaiannya.
BP : “ Permisi kek, Itu baju milik saya.”
Kakek : “ Ini hanyut dan sudah saya pungut. Jadi ini milik saya.”
BP : “Saya mohon kek, saya bias kena marah jika baju itu hilang.”
Kakek : “Jika kau ingin baju ini, kau harus membantuku terlebih dahulu.”
BP : “Baik kek saya bersedia.”
Bawang putih pun pergi dengan kakek tersebut. Sesampainya di rumah, bawang putih disuruh
untuk membersihkan rumah si kakek.. saat bawang putih sedang istirahat, si kakek mendekat
ke arahnya membawakan segelas air dan sepotong roti.
Kakek : “Terimakasih, sudah mau membantgu kakek.”
BP : “ Sama-sama kek. Bisa saya minta bajunya.”
Kakek : “Kenapa terburu-buru?”
BP : “Saya kan kena marah jika pulang sore.”
Kakek : “Baiklah saya punya hadiah untuk kamu.”
BP : “Tidak usah repot-repot kek.”
Kakek : “Jangan menolak rejeki. Pilihlah yang kamu suka.”
BP : “ Saya pilih yang kecil saja kek.”
Bawang putih pulang dengan membawa bingkisan kecil yang diberikan kakek tersebut.
Sesampainya dirumah, Bingkisan itu direbut oleh ibu dan kakak tirinya. Saat dibuka, mereka
terkejut karena isinya adalah perhiasaan. Ibu pun menyuruh bawang merah untuk melakukan
hal yang sama. Keesokan harinya bawang merah pergi ke sungai sesuai dengan apa yang
diceritakan bawang putih. Bawang merah melarung semua pakiannya benar saja jika
pakiannya di temukan oleh kakek tua.
BM : “Kakek yang kemarin memberi saudara saya hadiah kan?”
Kakek : “ Oh gadis baik itu saudaramu?”
BM : “ Saya juga ingin hadiah seperti itu kek.”
Kakek : “Baiklah kau bisa ikut denganku ke rumah.”
Dengan perasaan bahagia, bawang merah mengikuti kakek hingga ke rumah. Sesampainya
disana, bawang merah kecewa karena malah disuruh membersihkan rumah. Bawang merah
pun menemui kakek tadi.
BM : “ Kakek, saya ingin hadiah bukannya bersih-bersih di rumah.”
Kakek : “ Kau beda sekali dengan saudaramau.”
BM : “ Aku tidak peduli yang aku pedulikan hanyalah hadiah.
Kakek : “Baiklah aku ambilkan hadiahnya dulu.”
BM memilih hadiah yang besar saat kakek tersebut memberikan dua pilihan. BM pun pulang
ke rumah dan membuka hadiah tersebut bersama ibunya.
Ibu : “ Bagus sekali nak, Kau dapat hadia yang lebih besar dari putih.”
BM : “Tentu saja aku pandai.”
Ibu : “Mari kita buka.”
Saat mereka membuka hadiah tersebut, berapa terkejutnya BM dan ibunya saat melihat isinya
ternyata sekotak penuh dengan ular dan binatang berbisa lainnya. Merekapun mati karena
ketamakannya.