Anda di halaman 1dari 14

JOURNAL READING

Role of Contact Allergens in Chronicity and Relapses of Nummular Eczema


Diajukan untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi
salah satu syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di Bagian Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya

Oleh :
Maimunah Faizin
6120018029

Pembimbing :
dr. Meidyta Sinantrayana W., Sp. KK

Departemen / SMF Dermatologi dan Venereologi


Fakultas Kedokteran
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
BAB II ISI JURNAL
Latar Belakang .................................................................................................... 2
Metode ................................................................................................................ 3
Hasil .................................................................................................................... 5
Hasil Uji Tempel ................................................................................................. 6
Diskusi ................................................................................................................ 8
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Dermatitis numularis merupakan kelainan kulit inflamatori dengan lesi


papul atau papulovesikel yang bergabung membentuk plak numuler dengan batas
tegas (Burgin, 2008). Dermatitis numularis merupakan dermatitis kronik dengan
bagian tubuh yang paling sering terkena adalah dorsum tangan, ekstremitas
bawah, permukaan ekstensor lengan, lengan atas, tungkai dan kaki (Halberg,
2011). Dermatitis numularis merupakan dermatitis endogen yaitu dermatitis yang
terjadi utamanya dimediasi oleh proses/faktor-faktor yang berasal dari dalam
tubuh tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksogen (Burton, 2004).

Dermatitis numularis mempunyai dua puncak distribusi umur. Distribusi


paling sering terjadi pada umur dekade enam sampai tujuh dan biasa terjadi pada
laki-laki. Puncak distribusi umur yang lebih kecil terjadi pada dekade kedua
sampai ketiga, yang berhubungan dengan dermatitis atopik dan paling sering pada
wanita (Miller, 2011). Prevalensi seluruh bentuk dermatitis adalah 18 per 1000
kasus, meliputi dermatitis atopik 7 per 1000, hand eczema, dishidrosis dan
dermatitis numularis terdapat pada kira-kira 2 per 1000 kasus.

Sebagian besar kasus dermatitis numularis tidak diketahui etiologinya


(Burton, 2004). Meski etiologi dermatitis numularis belum jelas, beberapa studi
banyak melaporkan kasus dermatitis numularis dengan berbagai etiologi berbeda,
sedangkan studi patogenesis penyakit masih sedikit dilaporkan. Beberapa
penelitian dan laporan kasus seri menunjukkan peran multifaktorial yang meliputi
lingkungan, cuaca, keadaan hidrasi kulit, alergen atau iritan lingkungan, infeksi
sebelumnya, infeksi tersembunyi, efek samping obat, hipersensitivitas terhadap
alergen spesifik (Burton, 2004; Miller, 2012).

1
BAB II

ISI JURNAL

Role of contact allergens in chronicity and relapses of nummular eczema

Renu Rattan, Gita R. Tegta, Vinay Shanker, Ghanshyam K. Verma, Anuj Sharma,
Meena Chauhan, Abhishek Sharma. Role of contact allergens in chronicity and
relapses of nummular eczema. Int J Res Dermatol. 2017 Jun;3(2):213-218.

Latar Belakang

Istilah eksema sebenarnya belum jelas. Eksema mungkin dapat disebabkan


oleh faktor internal atau eksternal, dan eksema dapat menyerang di beberapa
bagian tubuh. Eksema eksogen berkaitan dengan factor pemicu eksternal tertentu,
sedangkan eksema endogen disebabkan proses dari dalam tubuh individu.

Istilah dermatitis numularis juga dikenal sebagai discoid atau orbiculare


eksema, yang pertama kali ditemukan oleh Devergie pada tahun 1857. Dermatitis
numularis merupakan jenis eksema endogen yang berbentuk koin, dengan vesikel
yang berbentuk rapat, berdinding tipis dan dasar eritema. Dermatitis numularis
biasanya sering kambuh dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan sering
disertai dengan perubahan kulit yang kering serta muncul pada musim dingin atau
panas. Karakteristik dari dermatitis numularis yaitu patch yang dorman/ tidak aktif
dapat menjadi aktif kembali. Banyak faktor penyebab terjadinya dermatitis
numularis seperti infeksi bakteri, riwayat atopi, dermatitis kontak alergi, varises
dan edema tungkai, faktor diet, faktor lingkungan, serta obat yang diberikan
secara sistemik.

Sensitisasi kontak terhadap allergen yang berbeda menjadi salah satu


faktor penyebab. Terdapat beberapa penelitian tentang dermatitis kontak alergi
pada pasien dengan relaps dermatitis numularis di India. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kejadian dermatitis kontak alergi dan menemukan penyebab
kekambuhan pada dermatitis numularis pada pasien yang berasal dari daerah bukit
dengan kondisi lingkungan yang dingin dan kering.

2
Metode

Empat puluh pasien yang didiagnosa dermatitis numular yang kambuh


dijadikan sebagai responden untuk dilakukan test patch di Departemen
dermatologi Indira Gandhi Medical college, Shimla, Himachal, Pradesh. 10 pasien
yang menderita penyakit kulit lain, tetapi tidak ada tanda dan gejala dermatitis
dijadikan sebagai kontrol terhadap tes patch.

Detail klinis pada pasien termasuk profil pekerjaan perlu dicatat terutama
pada pekerjaan yang riwayat kontak dengan bahan tertentu. Kekambuhan lesi
sehubungan dengan musim juga perlu dicatat. Pasien dengan infeksi dermatofit
perlu dikesampingkan, dengan melakukan kerokan pada lesi dan dilakukan
pemeriksaan KOH. Pemeriksaan histopatologi ini dilakukan bertujuan untuk
mengetahui apakah responden mempunya riwayat atau sedang terkena infeksi
dermatofit.

Antigen yang digunakan untuk tes patch menggunakan 25 alergen yang


didapatkan di India sesuai standar, dapat dilihat di tabel 1.

3
Tabel 1. alergen tes patch – Indian Standard Series (ISS)

Tes patch diaplikasikan pada kulit tidak berambut dan tidak ada lesi,
biasanya di punggung bagian atas, dan perlu dijelaskan prosedur nya kepada
pasien serta meminta persetujuan terlebih dahulu.

Tes patch dihapus setelah 48 jam dan mengedukasi pasien supaya tidak
menggaruk dan menunggu satu jam sampai kulit kembali pada kontur yang
normal dan iritasi kulit mereda. Letak uji temple kemudian diperiksa apakah ada
reaksi atau tidak. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan pada 72 jam. Pemeriksaan
pada uji temple dilakukan setelah 48 dan 72 jam pada semua pasien, dan jika
diperlukan pasien diperiksa setelah 96 jam untuk melihat reaksi yang lambat.
Reaksi dinilai menggunakan International contact dermatitis research group
(ICDRG). Relevansi uji temple didefinisikan sebagai:

 Pasti (Definite)- Jika terdapat reaksi positif terhadap allergen, objek


mengandung alergen yang dicurigai

4
 Kemungkinan (Probable)- Jika zat yang diidentifikasi dengan uji tempel
terdapat pada kulit pasien setelah kontak
 Kemungkinan (Possible)- Jika pasien terpapar dengan keadaan tertentu
dimana terjadi kontak pada kulit dengan bahan yang diketahui hampir
sama dengan alergen.
 Past- Jika reaksi uji tempel positif yang mana sebelumnya telah terjadi
dermatitis kontak
 Tidak diketahui (Unknown)- Jika tidak ada tanda yang berhubungan
bahkan setelah dilakukan pemeriksaan secara luas

Hasil

Dari 40 pasien dengan dermatitis numularis kronis yang kambuh telah


dilakukan uji tempel terdapat 27 laki-laki dan 13 perempuan. Rata-rata usia
responden yaitu 39,1±19 tahun (dengan kisaran usia 13-75 tahun). Pekerjaan dari
responden berupa pelajar (32,5%), pekerja kantor dan pekerja rumah tangga
(masing-masing 15%), pensiunan (12,5%), guru (7,5%), petani (5%) dan tukang
kayu, polisi, penjaga toko, pelatih fisik (masing-masing 2,5%). Dapat dilihat di
gambar 1

Gambar 1. Profil pekerjaan pasien


Lokasi yang sering terkena yaitu anggota tubuh bagian bawah yaitu pada
29 pasien (72,5%) dan 33 pasien (82,5%) didapatkan lesi lebih dari satu tempat.

5
Durasi terkena dermatitis bervariasi, mulai dari Sembilan bulan sampai 20 tahun.
33 dari 40 pasien dilaporkan mengalami kekambuhan baik berupa timbul lesi dan
gejala pada musim dingin.
Hasil Uji Tempel
Hasil uji tempel yang positif didapatkan pada 21 pasien (52,5%). 17 pasien
(42,5%) menunjukkan positif terhadap 1 alergen, 3 pasien (7,5%) positif pada 2
antigen dan 1 pasien (2,5%)positif terhadap 3 alergen.

Gambar 2. Reaksi positif terhadap jumlah antigen

Pada 21 pasien yang positif terhadap uji tempel, 16 (76,19%) diantaranya


terdapat lesi pada anggota tubuh bawah, 9 pasien (42,85%) didapatkan lesi di
daerah trunkus, 5 pasien (23,85%) didapatkan lesi pada sekitar tangan, dan 3
pasien (14,28%) didapatkan lesi pada kaki.
Alergen yang paling banyak ditemukan yaitu fragrance mix pada 7 pasien
(17,5%), 5 pasien (12,5%) sensitif terhadap nikel, 3 pasien (7,5%) sensitif
terhadap PPD dan 2 pasien (5%) sensitiv terhadap gentamisin, dan sensitif
terhadap thiuram mix, black rubber mix, P. tert. butylphenol formaldehyde,
neomisin, benzocaine dan chinoform masing-masing pada satu pasien (2,5%). Dua
pasien (satu sensitif terhadap nikel dan yang lain sensitif PPD) menunjukkan
kekambuhan pada lesi yang telah hilang sebelumnya saat terkena dermatitis
numularis.

6
Alergen yang paling banyak sensitive pada uji tempel yaitu kosmetik
(25%), logam (20%), obat dan karet (masing-masing 7,5%) dan bahan perekat
(2,5%).
Sepuluh pasien yang tidak menderita dermatitis numularis dan dijadikan
control juga dilakukan uji tempel menggunakan alergen sesuai ISS, tetapi tidak
menunjukkan reaksi positif.

Tabel 2. Hasil Reaksi Positif pada Uji Tempel

Tabel 3. Distribusi reaksi positif sesuai dengan kategori alergen

7
Diskusi
Patofisiologi dermatitis numularis belum diketahui secara jelas, namun
sering berhubungan dengan xerosis. Pada literature disebutkan penyebab
dermatitis numularis yaitu kombinasi dari rusaknya sawar kulit dan reaksi
imunologi. Sawar kulit yang rusak menyebabkan kulit kering, sehingga alergen
dapat menembus sawar kulit dan terjadi reaksi alergi atau iritasi. Aoyama et al,
dalam penelitian nya menemukan bahwa dibandingkan dengan usia control,
pasien dengan dermatitis numularis menunjukkan peningkatan terhadap
lingkungan aeroalergen. Pada penelitian Jiamton et al, 2/3 pasien dengan
dermatitis numularis didapatkan kulit yang kering.
Pada penelitian ini 20 pasien (57,5%) didapatkan terjadi kekambuhan pada
musim dingin. Pada daerah bukit, sawar kulit rusak dan menjadi xerosis. Oleh
karena itu, pasien dermatitis numularis mempunyai resiko untuk terjadi reaksi
alergi. Hal ini juga berkaitan terhadap kekambuhan dan keparahan dermatitis
numularis.
Dermatitis kontak alergi merupakan reaksi yang abnormal (respon imun
yang diperantarai sel) pada kulit sebagai respon terhadap berbagai macam factor
alergen. Prevalensi dermatitis kontak alergi di dunia mencapai 1,5% sampai 5,5%
pada populasi secara umum. Di India, terhitung 10-15% dari pasien dengan
penyakit kulit.
Dermatitis kontak alergi ditemukan pada pasien yang menderita dermatitis
numularis. Uji tempel telah menjadi pemeriksaan utama pada pasien yang
dicurigai terkena dermatitis kontak. Rajgopalan et al menunjukkan bahwa pasien
yang dilakukan uji tempel memiliki prognosis yang baik, sebagaimana dibuktikan
dengan penurunan indeks keparahan penyakit. Oleh karena itu, uji tempel sangat
berguna ketika alergen penyebab tidak ditemukan dari riwayat sebelumnya dan
pemeriksaan klinis.
Morrow et al menyimpulkan bahwa hipersensitivitas terhadap lidah buaya
dapat menimbulkan lesi pada dermatitis numularis. Patrizi et al, melaporkan
thiomersol merupakan penyebab dermatitis numularis pada lima anak dengan
riwayat atopi setelah dilakukan uji tempel. Begitu juga krim untuk penghilang
bulu, merkuri, dan amalgam gigi dapat menyebabkan dermatitis numularis.

8
Pada penelitian Narendra et al, 100 pasien dicurigai mengalami dermatitis
kontak iritan setelah dilakukan uji tempel sesuia ISS. Empat puluh empat pasien
menunjukkan hasil reaksi positif terhadap satu atau lebih alergen. Alergen yang
paling sensitive yaitu nikel sulfat, kalium dikromat, kobalt klorida, koloponi,
pengharum dan thiuram.
Pada penelitian Fleming et al, 24 pasien (50%) dermatitis numularis
didapatkan hasil reaksi positif pada uji tempel dan 33% diantaranya relevan secara
klinis. Alergen yang paling sensitive yaitu bahan karet, formaldehyde, neomisin,
nikel dank rom.
Krupa Shankar et al meneliti reaksi yang signifikan pada 23 dari 50 pasien
dengan dermatitis numularis yang dilakukan uji tempel. Alergen yang paling
sensitive yaitu nikel sulfat, neomisin, nitrofurazone, dan koloponi (masing-masing
7,14%). Dalam penelitiannya, Sembilan pasien menunjukkan reaksi positif pada
satu alergen, sedangkan 14 pasien lainnya bereaksi pada lebih dari satu alergen.
Dalam penelitian lain oleh Khurana et al, 28 pasien (56%) dermatitis
numularis menunjukkan hasil positif pada uji tempel. Kalium dikromat
merupakan alergen yang paling sensitive (20%), diikuti oleh nikel (16%), kobalt
klorida dan pengharum (masing-masing 12%).
Pada penelitian ini 21 pasien (52%) menunjukkan reaksi positif pada uji
tempel. Tujuh belas pasien (42,5%) menunjukkan positif terhadap satu antigen, 3
pasien (7,5%) positif terhadap 2 antigen, dan hanya 1 pasien (2,5%) positif
terhadap 3 antigen. Alergen yang paling sensitif yaitu penghatum pada 7 pasien
(17,5%), 5 pasien (12,5%) sensitive terhadap nikel, 3 pasien (7,5%) sensitive
terhadap PPD dan 2 pasien sensitive terhdap gentamisin, dan 1 pasien masing-
masing sensitive terhadap thiuram mix, black rubber mix, P. tert. butylphenol
formaldehyde, neomisin, benzocaine and chinoform (2,5%).
Pengharum merupakan alergen yang paling sering ditemukan di
Hongkong, yang ditemukan dalam penelitian oleh Sharma et al, merupakan lima
alergen paling sering muncul.
Alergen yang paling sensitive pada penelitian ini yaitu fragrance mix yang
merupakan campuran dari cinnamic aldehyde dan alkohol. Bahan tersebut
biasanya dapat terpapar melalui kosmetik, perlengkapan mandi, produk makanan,

9
produk rumah tangga, dan produk industri. Pada penelitian Krupa Shankar 64%
reaksi positif terhadap kosmetik, obat topical, dan peralatan mandi. Alergen paling
banyak pada penelitian ini dijumpai pada produk kosmetik yaitu pengharum
ditemukan pada 7 pasien, dan PPD (ditemukan pada pewarna rambut) pada 3
pasien. Sensitisasi terhadap logam seperti nikel sering terjadi karena nikel ada di
mana-mana. Pada penelitian Khurana et al, kalium dikromat dan nikel merupakan
alergen yang paling sering ditemukan pada pasien dermatitis numularis yaitu 20%
dan 16%, sedangkan pada penelitian ini 5 pasien (12,5%) sensitive terhadap nikel.
Alergi terhadap sediaan topikal sering terjadi pada pasien yang menderita
dermatitis kronis. Pasricha et al melaporkan sensitivitas kontak terhadap neomisin
pada 28% pasien mereka yang diduga menderita dermatitis kontak
medikamentosa. Pada penelitian Narender et al, antobiotik topikal dan bahan
pengawet bersama-sama menyumbang 22 kasus dermatitis kontak (27,5%), dan
merupakan penyebab utama dermatitis yang diinduksi iatrogenik. Pada penelitian
ini 2 pasien (5%) menunjukkan reaksi positif terhadap gentamisin dan 1 pasien
(2,5%) sensitive terhadap neomisin.

10
BAB III
KESIMPULAN
Penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan iklim dingin
Himachal Pradesh yang mengarah pada xerosis kulit dan gangguan sawar kulit.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui kejadian dermatitis kontak alergi dan kontak
alergi yang paling sering pada pasien dermatitis numularis di wilayah Himachal
Pradesh yang memungkinkan terjadi kekambuhan dan kenaikan tingkat
keparahan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dermatitis numularis kronis
yang kambuh kemungkinan juga terjadi dermatitis kontak alergi. Uji tempel
sangat diperlukan dengan menggunakan standar yang ada pada pasien dermatitis
numularis untuk mencegah terjadinya keparahan dengan cara menjauhi alergen
yang sensitive. Kualitas hidup dapat diperbaiki dan kekambuhan dapat dicegah
pada pasien dermatitis numularis dengan merawat kulit yang xerosis dan
memberikan edukasi untuk menjauhi alergen yang sensitif sesuai hasil pada uji
tempel.

11
DAFTAR PUSTAKA

Burgin, S., 2008. Nummular Eczema and Lichen Simplex Chronicus/Prurigo


Nodularis. Dalam Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller
AS, Leffell DJ. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Edisi ke 7,
New York: Mc Graw Hill, pp.158-162.

Burton, J.L., 2004. Eczema Lichenification Prurigo and Eythroderma. Dalam


Rook A, Wilkinson D, Ebling FJ. Rook’s Textbook of Dermatology. Edisi
ke 7. OOxford:Blackwell Scienctific, pp.646-648.

Halberg, M., 2011. Nummular Eczema. The Journal of Emergency Medicine,


43(5), pp.e327–e328.

Miller J.L., 2011. Nummular Dermatitis Clinical Presentation, dalam


https://emedicine.medscape.com/article/1123605-clinical, diakses tanggal 24
April 2019.

12