Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN IMUNOLOGI

Kelompok 7

Kelas 2B Semester 4

1. Trisna Bagus Wibawa (P07134018061)


2. Ni Putu Sinta Wirawati (P07134018070)
3. Shindy Sausan (P07134018085)
4. Ni Made Dwi Riska Dewi (P07134018093)
5. Ni Putu Sri Widia Wati (P07134018094)
6. Dhani Achmad Oktovianto (P07134018095)
7. I Gusti Ayu Redina Matua Dewi (P07134018108)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

2020
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang menjadi masalah kesehatan


dunia. Demam tifoid terjadi baik di negara tropis maupun negara subtropis, terlebih pada
negara berkembang. Besarnya angka kejadian demam tifoid sulit ditentukan karena
mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang luas. (Muliawan SY, 1990)
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica, terutama
serotype Salmonella typhi (S. typhi). Untuk menentukan diagnosis pasti dari penyakit ini
diperlukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan
adalah pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan
kuman, uji serologis, dan pemeriksaan kuman secara molekuler.(Karsinah, 1994)
Pemeriksaan laboratorium yang paling sering digunakan adalah uji serologis.
Akan tetapi, kultur Salmonella merupakan gold standard dalam menegakkan diagnosis
demam tifoid.Tes serologis lain yang dapat digunakan dalam menentukan diagnosis
demam tifoid adalah tes Widal, dan tes IgM Salmonella typhi. (Karsinah, 1994)
Salah satu kajian ilmu yang diterapkan dalam pemeriksaan serologi adalah
imunoserologi. Imunologi merupakan studi mekanisme dan fungsi sistem kekebalan
akibat pengenalan terhadap zat asing dan usaha netralisasi, eliminasi dan metabolisme
terhadap zat asing atau produknya.Serologi merupakan pemeriksaan yang menggunakan
serum sebagai bahan pemeriksaan.
Dalam laboratorium klinik pemeriksaan imunoserologi dilakukan dengan metoda,
antara lain:
- Rapid test
- Tes Aglutinasi (Widal dan ASTO)
- Immunochromatography
- Pemeriksaan imunologi digunakan metoda ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent
Assay)
- CMIA (Chemiluminescent Microparticle Immuniasay)
- ECLIA (Electro-chemi-luminescence Immuno Assay)
B. Dasar Teori

1.1 Pengertian Uji Widal


Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun
1896. Hasil positif Widal akan memperkuat dugaan terinfeksi Salmonella typhi pada
penderita.Saat ini walaupun telah digunakan secara luas, namun belum ada kesepakatan
akan nilai standar aglutinasi (cut-off point).(Bakr WM, 2011)
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica, terutama serotype
Salmonella typhi (S. typhi).Bakteri ini termasuk kuman gram negatif yang memiliki flagel,
tidak berspora, motil, berbentuk batang, berkapsul dan bersifat fakultatif anaerob dengan
karakteristik antigen O, H dan Vi. (WHO, 2003)
Metode yang dipakai pada pemeriksaan widal ini adalah tabung aglutinasi. Teknik
aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji
tabung (tube test). Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum
penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang
positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen
yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah dimatikan
dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar anti
dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi
menunjukkan titer antibodi dalam serum (Rahma Yuli. 2013).

1.2 Pengenalan Umun Bakteri Salmonella typhosa


Bakteri Salmonella typhosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan demam
typhoid (Typhoid Fever). Demam ini merupakan suatu penyakit infeksi sistemik oleh
Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A,B dan C yang masih dijumpai secara
luas di negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis.
Umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari setelah infeksi yang ditandai dengan demam
yang tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam yang khas
adalah kenaikan tidak turun selama lebih dari 1 minggu terutama sore hari, pola demam
yang khas adalah kenaikan tidak langsung tinggi tetapi bertahap seperti anak tangga
(stepladder), sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan (anoreksia), mual,
muntah, sering sukar buang air besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan suhu tubuh, debar jantung relatif lambat
(bradikardi), lidah kotor, hepatomegali dan splenomegali, kembung (meteorismus),
pneumomia dan kadang-kadang dapat timbul gangguan jiwa. Penyulit lain yang dapat
terjadi adalah pendarahan usus, perforasi, radang selaput perut (peritonitis) serta gagal
ginjal. Tubuh yang kemasukan Salmonella akan terangsang untuk membentuk antibodi
yang bersifat spesifik terhadap antigen yang merangsang pembentukannya. Antibodi
yang dibentuk merupakan petanda demam typhoid, yang dapat dikategorikan sebagai
berikut :
a. Aglutinin O
Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin H
atau Vi, karena pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang limposit B
untuk mengekskresikan antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin O ini lebih
bermanfaat dalam diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi dengan antigen
spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160 dinyatakan positif
demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak mendapat vaksinasi atau sembuh
dari demam typhoid dan untuk yang tidak pernah terkena 1/80 merupakan positif.
b. Aglutinin H (flageller)
Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan
rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang baik
dalam menentukan demam typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam jangka 5-7
hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan antigen spesifik
akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan.
c. Aglutinin Vi (Envelop)
Antigen Vi tidak digunakan untuk menunjang diagnosis demam thypoid. Aglutinin
Vi digunakan untuk mendeteksi adanya carrier. Antigen ini menghalangi reaksi aglutinasi
anti-O antibodi dengan antigen somatik. Selain itu antigen Vi dapat untuk menentukan
atau menemukan penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi atau kuman-kuman
yang identik (Rahma Yuli, 2013).
1.3 Teknik Pemeriksaan Uji Widal
Teknik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/
peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan
waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal
peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan
dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal
peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang
digunakan. (dr. Joni, 2012)
Adapun teknik pemeriksaan uji Widal antara lain :
1. Test Slide
 Uji penyaring
Prosedur kerja : Pada gelas objek 2 tetes serum penderita ditambahkan dengan
2 tetes suspensi antigen, dicampur dengan gelas pengaduk, gerakkangelas objek
dengan gerakan memutar perlahan5 menit, pada suhu kamar,aglutinasi dilihat dengan
bantuan lampu neonatau cahaya matahari dekat jendela kaca.
 Uji titrasi
Prosedur Kerja :Serum penderita diencerkan secara serial.
Contoh Serial pengenceran :
Perbandingan
Titer
Serum Antigen
1 : 20 25 40
1 : 40 25 20
1 : 80 25 10
1 : 160 25 5
1 : 320 50 5

2. Test Tabung
Adapun teknik pengujian dengan tes tabung adalah sebagai berikut.
Bahan : serum penderita
Alat :
1. Rak kecil berlubang
2. Tabung venoject 3 ml.
3. Pipet serologi 1 ml dengan skala 0,01 ml.
4. Mikropipet 50 uL
5. Inkubator
Reagen : Antigen Widal
- O : antigen Salmonella typhi (somatik)
- H : antigen Salmonella paratyphi A (flagelar)
- B : antigen Salmonella paratyphi B (flagelar)
Cara Kerja :
1. Dilakukan pengenceran serum
2. Tambahkan antigen 0,25 ml pada tiap tabung
3. Dicampur dengan cara menggoyang rak 3-4 kali
4. Inkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam
5. Lihat adanya aglutinasi pada dasar tabung dengan bantuan cermin (widal
reader)
Cara Membaca Aglutinasi
- Pola sedimen di dasar tabung, lihat diatas cermin cekung
- Negatif : sedimen bulat, tepi halus
- Positif : sedimen melebar ke tepi dengan pola ireguler
- Setelah dilihat, goyangkan tabung
Aglutinin H : agregat flokuler, mudah pecah
Aglutinin O : agregat granuler dan halus

Kontrol
Kontrol Positif:
- Uji Widal dilakukan terhadap serum yang mengandung agglutinin dengan iter
> 1:160
- Dalam 1 rak, dikerjakan bersama beberapa rak yang berisi serum penderita.
Kontrol Negatif
- 4 tabung berisi 0,25 ml PZ dan 0,25 antigen (O, H, A dan B)
1.4 Antigen dalam Uji Widal
Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter
penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut :
 Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur
kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C
selama 2–5 jam, alkohol dan asam yang encer.
 Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi dan
berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga
dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu
60°C dan pada pemberian alkohol atau asam.
 Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari
fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam
pada suhu 60°C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk
mengetahui adanya karier.
 Outer Membrane Protein (OMP)
Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran
sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya.
OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Porin merupakan
komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP F dan merupakan
saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000. Sifatnya resisten
terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–100°C. Protein nonporin terdiri atas
protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat sensitif terhadap protease, tetapi
fungsinya masih belum diketahui dengan jelas (Sutrimo, 2013).

1.5 Pembacaan Hasil


1. Rapid Screening Test
Jika aglutinasi terlihat dalam satu menit , titer yang signifikan harus diperoleh dalam
tes tabung konfirmasi . Reaksi kira-kira setara dengan yang diperoleh dalam tes tabung
aglutinasi dengan pengenceran serum dari 1 dalam 20 . Volume yang lebih kecil dari
serum dapat digunakan untuk tes skrining jika titer dianggap signifikan lebih besar dari 1
dalam 20. Hal ini tidak mungkin untuk layar sera pada tingkat setara dengan pengenceran
tabung dari 1 dalam 10 .
2. Rapid Slide Titration
Reaksi yang diperoleh secara kasar setara dengan yang akan terjadi dalam tes
aglutinasi tabung dengan pengenceran serum dari 1/20 , 1/ 40, 1/80 , 1/160 , 1/320
masing-masing . Dalam reaksi ditemukan saran untuk mengkonfirmasi dan reaksi
membentuk titer dengan uji tabung meskipun dari pengalaman yang telah diperoleh ini
seharusnya tidak diperlukan . Tes tabung dilakukan saat hasil tidak sesuai dengan temuan
klinis . Kesalahan hasil pemeriksaan dapat diperoleh jika reagen tidak dapat mencapai
suhu kamar ( 18 sampai 300C ) sebelum digunakan. Selain itu, reaksi positif palsu
kemungkinan terjadi jika tes dibaca lebih dari satu menit setelah pencampuran.
3. Tabung aglutinasi
Dalam reaksi O positif terdapat aglutinasi granular yang jelas. Aglutinasi H memiliki
karakteristik timbulnya flokular. Dalam reaksi negatif dan kontrol saline penampilan
suspensi seharusnya tidak berubah, dan menunjukkan pusaran khas ketika tabung disentil
. Tabung tidak boleh dikocok . Titer di setiap tempatnya adalah pengenceran dari serum
pada tabung terakhir yang menunjukkan aglutinasi.
Sebagai kontrol positif untuk setiap suspensi, serangkaian pengenceran dari serum
pengaglutinasi Salmonella yang tepat.

1.6 Kelebihan dan Kelemahan Uji Widal


1. Kelebihan
Kelebihan tes Widal adalah biaya yang relatif murah, hasil yang cepat, dan hampir
di semua pusat kesehatan dapat melakukan pemeriksaan ini.
2. Kelemahan
Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai
sarana penunjang diagnosis demam typhopid yaitu spesifitas yang agak rendah dan
kesukaran untuk menginterpretasikan hasil, sebab banyak faktor yang mempengaruhi
kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan
titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar
untuk diinterpretasikan. Dengan alasan ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan
pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.
Uji Widal dapat memberikan hasil yang berbeda-beda antara lain karena uji ini
merupakan tes imunologik dan seharusnya dilakukan dalam keadaan yang baku,
Salmonella thypi mempunyai antigen O dan H yang sama dengan Salmonella lainnya,
maka kenaikan titer antibodi ini tidak spesifik untuk Salmonella thypi, penentuan hasil
positif mungkin didasarkan atas titer antibodi dalam populasi daerah endemis yang secara
konstan terpapar dengan organisme tersebut dan mempunyai titer antibodi yang mungkin
lebih tinggi daripada daerah non endemis pada orang yang tidak sakit sekalipun. Tidak
dihasilkannya antibodi terhadap Salmonella karena rendahnya stimulus yang dapat
merangsang timbulnya antibodi, sehingga antibodi terganggu. Pemeriksaan serologi
Widal juga tergantung pada waktu pengambilan spesimen dan kenaikan titer agglutinin
terhadap antigen Salmonella thypi. Kenaikan titer antibodi tes serologi Widal pada
umumnya paling baik pada minggu kedua dan ketiga, yaitu 95,7%, sedangkan kenaikan
titer pada minggu pertama adalah hanya 85,7%. Karena hal ini sehingga saat
pengambilan spesimen perlu diperhatikan. Pemeriksaan tes serologi Widal memerlukan
dua kali pengambilan spesimen, yaitu pada masa akut dan masa konvalesen dengan
interval waktu 10-14 hari. Diagnosis ditegakkan dengan melihat adanya kenaikan titer
lebih atau sama dengan 4 kali titer masa akut, tetapi pada pelaksanaan dilapangan
pengambilan spesimen menggunakan spesimen tunggal. Kenaikan titer aglutinin yang
tinggi pada spesimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut
merupakan infeksi baru atau lama, juga kenaikan titer aglutini terutama aglutinin H tidak
mempunyai anti diagnostik yang penting untuk demam tifoid, namun masih dapat
membantu dalam menegakkan diagnosis tersangka demam tifoid pada penderita dewasa
yang berasal dari daerah non endemik atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di
daerah endemik, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak
dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di
atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemik, kemungkinan untuk menelan S.
typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan
ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemik yang satu dengan
yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di
bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih
diperlukan untuk menunjang diagnosis demam tifoid, ambang atas titer rujukan, baik
pada anak maupun orang dewasa perlu ditentukan. (Levine, 1978)
Titer widal biasanya pada angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
 Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
 Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika
ada, maka dinyatakan (+).
 Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada
pasiendengan gejala klinis khas.

1.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Uji Widal


Interprestasi uji widal harus memperhatikan beberapa faktor yaitu sensitivitas,
stadium penyakit, faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat
mempengaruhi pembentukan antibodi, gambaran imunologis dari masyarakat setempat
(daerah endemis atau non-endemis), faktor antigen, teknik serta reagen yang digunakan.
Tes Widal mempunyai sensitivitas dan spesifisitas moderat (± 70%), dapat
menghasilkan hasil negatif palsu pada 30% kasus demam tifoid dengan kultur positif.
Tes Widal negatif palsu dapat terjadi pada:
1. Carrier tifoid
2. Jumlah bakteri hanya sedikit sehingga tidak cukup memicu produksi antibodi pada
host.
3. Pasien sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya
4. Waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit
5. Keadaan umum pasien yang buruk
6. Adanya penyakit imunologik lain.
Tes Widal positif palsu dapat terjadi pada:
1. Imunisasi dengan antigen Salmonella
2. Reaksi silang dengan Salmonella non tifoid
3. Infeksi malaria, dengue atau infeksi enterobacteriaceae lain
4. Pernah mendapat vaksinasi
5. Reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp)
6. Reaksi anamnestik (pernah sakit)
7. Adanya faktor rheumatoid (RF)
(Saputra,Andi, 2012)

ISI

A. Metode
Metode yang digunakan adalah Rapid Test

B. Prinsip
Uji Widal dengan prinsip yaitu uji aglutinasi yang memakai antigen suspense kuman
yang direaksikan dengan antibdi spesifik terhadap kuman tersebut yang ada didalam
serum penderita. Jika terdapat antibodi homolog yang cukup akan menyebabkan
terbentuknya aglutinasi

C. Reaksi pemeriksaan
Reaksi pemeriksaan yang digunakan adalah aglutinasi

D. Spesimen Pemeriksaan

Spesimen yang digunakan dalam pemeriksaan uji widal yaitu serum darah

D. Alat pemeriksaan
 Slide Rapid Test
 Tusuk Gigi
 Mikropipet 10-100µl & 5µl
 Lampu
 Centrifuge
E. Reagen pemeriksaan

Reagen yang digunakan yaitu reagen Suspensi Kuman dengan antigen A dan O

F. Prosedur pemeriksaan
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Darah kemudian dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit
3. Disiapkan Slipe Rapid Test yang akan digunakan
4. Tetesi 20 l darah dan 1 tetes reagen O (AO, BO, CO, DO) dan H (AH, BH, CH,DH)
pada masing-masing reagen di Slide Rapid Test.
5. Aduk dengan menggunakan tusuk gigi dan goyangkan selama 1 menit
6. Lalu amati dibawah lampu, sebelum diamati dibawah lampu, slide rapid test masih dalam
keadaan digoyangkan secara pelan.
7. Jika hasilnya positif apabila ditemukan aglutinasi
8. Selanjutnya dilakukan penetesan kembali pada slide Rapid Test namun yang bagiannya
positif dengan 10 l dan 1 tetes reagen O dan H.
9. Lakukan cara yang sama pada no.5 & 6
10. Jika hasilnya positif kembali lakukan penetesan kembali pada slide Rapid Test namun
yang bagiannya positif dengan 5 l dan 1 reagen O & H
11. Namun jika hasilnya negatif, maka hentikan penetesan kembali.
12. Kemudian catat titer pada Slide Rapid Test.

Adapun Titer yang tersebut pada tabel yaitu:


Tetesan Titer
20 µl Darah Serum + 1 Tetes Reagen 1/80
10 µl Darah Serum + 1 Tetes Reagen 1/160
5 µl Darah Serum + 1 Tetes Reagen 1/320

I. Nilai normal

Negatif (-) : tidak terjadi aglutinasi

J. Hasil Pemeriksaan

a. Menggunakan reagen asli


No Reagen Sampel Reaksi Keterangan
1 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen AH 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
2 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen BH 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
3 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen CH 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
4 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen DH 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
5 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen AO 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
6 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen BO 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
7 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen CO 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi
8 Negatif (-)
tidak terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen DO 20 µl serum Diaduk dengan tusuk


gigi

b. Menggunakan reagen buatan


No Reagen & Sampel Reaksi Keterangan
1 Negatif (-) tidak
terjadi
aglutinasi

1 tetes reagen buatan + 20 µl Diaduk dengan tusuk gigi


serum

c. Pembacaan

Pembacaan/pengamatan
hasil dilakukan dibawah
lampu sambil
digoyangkan pelan dan
tidak boleh lebih dari 1
menit

d. Alat dan Bahan


No Gambar Nama alat/bahan Fungsi
1 Slide Rapid Test Tempat untuk
mencampurkan reagen
dan sampel

2 White tip Untuk mengambil


serum pasien

3 Tusuk gigi Untuk mencampurkan


reagen dan serum
pasien

4 Mikropipet Untuk memipet serum


pasien dalam ukuran
mikro
5 Serum pasien Sebagai sampel

6 Reagen AH Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

7 Reagen BH Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

8 Reagen CH Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi
9 Reagen DH Reagen digunakan
untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

10 Reagen AO Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

11 Reagen BO Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

12 Reagen CO Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi
13 Reagen DO Reagen digunakan
untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

14 Reagen buatan Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

15 Reagen buatan Reagen digunakan


untuk mengetahui
reaksi aglutinasi yang
disebabkan oleh
antibodi spesifik yaitu
Salmonella Typi

K. Interpretasi Pemeriksaan

Pada pratiku yang telah dijalani yaitu pemeriksaan widal dengan sampel serum atas nama
Ni Made Dwi Riska Dewi, umur 19 tahun, berjenis kelamin perempuan dinyatakan negative,
karena tidak terdapatnya penggumpalan atau aglutinasi pada sampel yang sudah ditetesi oleh
reagen O dan reagen H.
PENUTUP

A. Kesimpulan
Uji widal merupakan uji aglutinasi yang menggunakan suspensi bakteri Salmonella
typhi dan Salmonella paratyphi sebagai antigen untuk mendeteksi terhadap antibodi
Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi di dalam serum penderita. Dimana
sampel yang digunakan pada uji typoid adalah serum darah. Bahan untuk
pemeriksaan untuk uji widal ialah serum.Penyebab pengujian widal menjadi positif
yaitu: a. Pasien memang menderita demam tifoid b. Riwayat vaksinasi c. Reaksi
silang dengan non-typhoidal Salmonella d. Infeksi dengan malaria, dengue atau
Enterobacteriaceae lainya

B. Pengesahan Pembimbing Pratikum

HeriSetyoBekti, S.ST.,M.Biomed
PutuSuryaningsih, S.ST

Daftar Pustaka

Benson HJ. 1998. Microbilogical Applications : Laboratory Manual In General


Microbiology. Edisi VII.
Brooks, G.F., et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology). Buku I :
Jakarta.

Department of Vaccines and Biologicals. 2003. Background Document: The Diagnosis,


Treatment And Prevention Of Typhoid Fever. Geneva: WHO

dr. Joni, 2012, Widal untuk Demam Typoid, online,


http://www.sumbarsehat.com/2012/07/tes-widal-untuk-demam-typoid.html,

Handojo et al. 2004. Comparison Of The Diagnostic Value Of Local Widal Slide Test
Wiith Imported Widal Slide Test, In Department Of Clinical Medical Faculty. Airlangga:
Malang.

Hardjoeno, H. 2003. Interprestasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Jakarta : EGC.

Kalma, H., et al. 2014. Imunologi Terapan. Edisi II. Kemenkes RI Poltekkes Makassar.

Karsinah, Suharto, W. Mardiastuti, M. Lucky. 1994. Batang Negatif Gram. Dalam: Staf
Pengajar FK UI, penyunting. Buku ajar mikrobiologi kedokteran. Edisi Revisi. Jakarta: Bina
Rupa

Koivunen, M. E and Krogsrud, R. L. 2006. Principles of Immunochemical Techniques


Used inClinical Laboratories. Lab Medicine37 (8): 490-497
(https://www.academia.edu/38120347/Panduan_Analisis_Laboratorium_Imunoserologi_untuk_
D3_Teknologi_Laboratorium_Medis)

Levine MM, Grados O, Gilman RH, Woodward W, Plaza RS, Waldman W. 1978.
Diagnostic value of the Widal test in area endemic for Typhoid Fever. Am J Trop Med Hyg.

Levine, M.M., Grados, O., Gilman, R,H., 1978, “Diagnostic Value of the Widal Test in
Areas Endemic for typhoid Fever”. Am Journal Trop Med and Hyg, 27 (4) 795-800.

Muliawan SY, Surjawidjaya JE. 1999. Diagnosis Dini Demam Tifoid Dengan
Menggunakan Protein Membran Luar S. typhi Sebagai Antigen Spesifik. CDK

Rahma Yuli. 2013. Prosedur Pemeriksaan Laboratorium. Online.


http://myblogaintyours.blogspot.com/2013/02/prosedur-pemeriksaan-laboratorium-tes.html.
Saputra, Andi, 2012, Pengertian Test Widal atau Ujiwidal, online,
http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/03/pengertian-test-widal-atau-uji-widal.html,

Sutrimo, 2013, Uji Widal, online, online,


http://analiskesehatankendariangkatan5.blogspot.com/2013/01/uji-widal.html,

Suwahyo, E., 1979, Perbandingan daya aglutinasi antigen Salmonella dari dalam dan luar
daerah endemik Surabaya untuk pemeriksaan Widal Surabaya, Unair. Karya Akhir.

Widodo, D, 2006. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi V.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Jakarta.

Wikipedia. 2013. Widal. Online. http://www.wikipedia.org.