Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita semua mungkin sudah banyak mendengar cerita-cerita yang


menyeramkan tentang HIV/AIDS. Penyerangan AIDS itu berlangsung
secara cepat dan mungkin sekarang sudah ada disekitar kita. Sampai
sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan AIDS, bahkan
penyakit yang saat ini belum bisa dicegah dengan vaksin.

Acquired Immune Deficiency Syndrome atau yang lebih dikenal


dengan dengan AIDS adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus HIV yaitu: H = Human (manusia), I = Immuno deficiency
(berkurangnya kekebalan), V = Virus.

Maka dapat dikatakan HIV adalah virus yang menyerang dan


merusak sel kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya
tahan dan mudah terserang berbagai penyakit antara lain TBC, diare,
sakit kulit, dll. Kumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh kita
itulah yang disebut AIDS.

Maka, selama bertahun-tahun orang dapat terinfeksi HIV sebelum


akhirnya mengidap AIDS. Namun penyakit yang paling sering
ditemukan pada penderita AIDS adalah sejenis radang paru-paru yang
langka, yang dikenal dengan nama Pneumocystis Carinii Pneumonia
(PCP), dan sejenis kanker kulit yang langka yaitu Kaposi’s Sarcoma
(KS). Biasanya penyakit ini baru muncul dua sampai tiga tahun setelah
penderita didiagnosis mengidap AIDS. Seseorang yang telah terinfeksi
HIV belum tentu terlihat sakit. Secara fisik dia akan sama dengan orang
yang tidak terinfeksi HIV.

1
Oleh karena itu 90% dari pengidap AIDS tidak menyadari bahwa
mereka telah tertular virus AIDS, yaitu HIV karena masa inkubasi
penyakit ini termasuk lama dan itulah sebabnya mengapa penyakit ini
sangat cepat tertular dari satu orang ke orang lain. Masa inkubasi
adalah masa dari saat penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh (saat
penularan) sampai timbulnya penyakit.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Penyakit HIV/AIDS?
2. Apa Etiologi Penyakit HIV/AIDS?
3. Apa Tanda & Gejala Penyakit HIV/AIDS?
4. Bagaimana Patofisiologi Penyakit HIV/AIDS?
5. Apa Komplikasi Penyakit HIV/AIDS?
6. Apa Pemeriksaan Penunjang Penyakit HIV/AIDS?
7. Bagaimana Pengobatan & Pencegahan Penyakit HIV/AIDS?

C. Tujuan
1. Mengetahui Definisi Dari Penyakit HIV/AIDS
2. Mengetahui Etiologi Penyakit HIV/AIDS
3. Mengetahui Tanda & Gejala Penyakit HIV/AIDS
4. Memahami Patofisiologi Penyakit HIV/AIDS
5. Mengetahui Komplikasi Penyakit HIV/AIDS
6. Mengetahui Pemeriksaan Penunjang HIV/AIDS
7. Mengetahui Pengobatan & Pencegahan Penyakit HIV/AIDS

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune


Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem
kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-
virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan
lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau


disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh
manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan
terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun
penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan
virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak


langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran
darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air
mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan
dapat terjadi melalui hubungan
intim (vaginal, anal,ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang
terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin,
atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh
tersebut.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat


menyebabkan AIDS. HIV termasuk keluarga virus retro yaitu virus yang
memasukan materi genetiknya ke dalam sel tuan rumah ketika
melakukan cara infeksi dengan cara yang berbeda (retro), yaitu dari

3
RNA menjadi DNA, yang kemudian menyatu dalam DNA sel tuan
rumah, membentuk pro virus dan kemudian melakukan replikasi.
Virus HIV ini dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel
darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem
kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari
gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

B. Etiologi

AIDS disebabkan oleh virus HIV. Virus ini menyerang manusia dan
sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah
dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam
tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
Sehingga, semua penyakit dapat dengan mudah menyerang tubuh,
lambat laun tubuh menjadi lemah dan kurus, pada akhirnya penderita
AIDS akan meninggal.

HIV merupakan penyakit menakutkan dan masih menjadi salah satu


penyebab utama kematian baik di negara berkembang maupun negara
maju. Virus HIV ditularkan melalui:

1. Melalui kontak hubungan badan (hubungan sexual) dengan seorang


penderita yang telah terinfeksi HIV.
2. Melalui jarum suntik atau alat tusuk lain yang telah dipakai atau
bekas dipakai orang yang terinfeksi HIV.
3. Melalui transfusi darah yang tercemar HIV.
4. Melalui ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada bayi yang
dikandungnya.
5. Air susu ibu pengidap AIDS kepada anak susuannya.

Jadi, penularan HIV pada manusia adalah melalui kontak dengan


cairan yang mengandung sel terinfeksi atau partikel virus. Yang
dimaksud dengan cairan tubuh di sini adalah darah, semen, cairan

4
vagina, cairan serebropinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang
lebih rendah, virus juga terdapat pada air mata, air kemih dan air ludah.
Virus HIV Tidak Menular Melalui :
 Keringat, Air liur.
 Makanan,Flu/influenza.
 Berpelukan.
 Makan dengan perabot yang sama.
 Bersalaman.
 Mandi bersama.
 Digigit nyamuk.
 Memakai toilet bersama.
 Berhubungan Seks dengan menggunakan Kondom yang baik.
 Ciuman, senggolan, dan kegiatan sehari-hari lainnya.

C. Tanda & Gejala

Banyak orang dengan HIV tidak tahu kalau mereka terinfeksi. Hal
ini karena gejala dan tanda-tanda HIV/AIDS di tahap awal seringkali
tidak menimbulkan gejala berat. Infeksi HIV hingga menjadi AIDS
terbagi menjadi tiga fase, yakni sebagai berikut:

 Fase pertama: Infeksi HIV akut


Fase pertama umumnya muncul setelah 2-4 minggu infeksi HIV
terjadi. Pada fase awal ini penderita HIV akan mengalami gejala
mirip flu, seperti:
- Sakit kepala.
- Sariawan.
- Kelelahan.
- Radang tenggorokan.
- Hilang nafsu makan.
- Nyeri otot.
- Ruam.

5
- Bengkak kelenjar getah bening.
- Berkeringat.

Gejala dan tanda-tanda HIV/AIDS di atas muncul karena kekebalan


tubuh sedang melawan virus. Gejala ini bisa bertahan selama 1-2
minggu atau bahkan lebih.
Meski demikian, harus diingat bahwa gejala tersebut tidak selalu
disebabkan oleh HIV. Setelah gejala dan tanda-tanda HIV/AIDS di
atas hilang, penderita bisa tidak merasakan apa pun sampai
bertahun-tahun kemudian.

 Fase kedua: Fase laten HIV


Pada fase ini, penderita HIV/AIDS tidak menunjukkan tanda dan
gejala yang khas, bahkan akan merasa sehat seperti tidak
terinfeksi virus. Namun sebenarnya, virus HIV secara diam-diam
berkembang biak dan menyerang sel darah putih yang berperan
dalam melawan infeksi.
Tanda-tanda HIV/AIDS pada fase ini memang tidak terlihat, tapi
penderita tetap bisa menularkannya pada orang lain. Di akhir fase
kedua, sel darah putih berkurang secara drastis sehingga gejala
yang lebih parah pun mulai muncul.
 Fase ketiga: AIDS
AIDS merupakan fase terberat dari infeksi HIV. Pada fase ini, tubuh
hampir kehilangan kemampuannya untuk melawan penyakit. Hal ini
karena jumlah sel darah putih berada jauh di bawah normal. Tanda-
tanda HIV AIDS pada tahap ini antara lain berat badan menurun
drastis, sering demam, mudah lelah, diare kronis, dan
pembengkakan kelenjar getah bening.
Karena pada fase AIDS sistem kekebalan tubuh sudah sangat
lemah, maka penderita HIV/AIDS akan sangat rentan terkena
infeksi dan jenis kanker tertentu.

6
Penyakit yang biasanya terjadi pada penderita AIDS antara lain:
- Infeksi jamur pada mulut dan tenggorokan.
- Pneumonia.
- Toksoplasmosis.
- Meningitis.
- Tuberkulosis (TB).
- Kanker, seperti limfoma dan sarkoma kaposi.

D. Patofisiologi
Virus masuk ke dalam sel dan materi genetik virus dimasukkan ke
dalam DNA sel sehingga terjadi infeksi. Di dalam sel, Virus berkembng
biak pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan pertikel virus
yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit
lainnya dan menghancurkannya.

Virus menempel pada limfosit yang memiliki satu reseptor protein


yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang
memiliki reseptor biasanya, disebut sel CD4+ atu disebut limfosit T
penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan menagatur
sel-sel lain pada sistem kekebalan.(misalnya limfosit B, makrofag dan
limfosit T stitostik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-
sel ganas dan organisme asing.
Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga
teradi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infksi
dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi HIV akan kehilangan limfosit Tpenolong
melalui 3 tahap selama beberpa bulan atau tahun.
1. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300
sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV
sejumlah sel menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini
penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak

7
partikel virus yang terdapat dalam luar darah. Meskipun tubuh
berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan
infeksi.
2. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus didalam darah
mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita.
Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus
berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dak kadar Limfosit CD4+
yang rendah membantu dokter mendapati orang-orang yang berisiko
tinggi menderita AIDS.
3. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya
menurun drastis. Jika kadarnya turun hingga 200 sel/Ml darah, maka
penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B.
Limfosit B adalah limfosit yang menghasilkan antibodi. Seringkali HIV
meyebabkan produksi antibodi berlebihan. Antibodi yang diperuntukkan
melawan HIV dan infeksi lain ini banyak membantu dalam melawan
berbagai infeksi oportunistik pada AIDS.
Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus
menyebabkan berkurangnya kemampuan Sistem kekebalan tubuh
dalam mengenali dan sasaran baru yang harus diserang.

E. Komplikasi
Infeksi yang bisa timbul akibat komplikasi HIV

 Tuberkulosis (TB). TB adalah infeksi oportunistik plaing umum ynag


dikaitkan dengan HIV dan merupakan penyebab utama kematian di
antara orang-orang yang memiliki AIDS.
 Cytomegalovirus. Cytomegalovirus adalah infeksi terkait HIV yang
umum. Jika sistem kekebalan tubuh Anda melemah, virus kembali
muncul—menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan,
paru-paru atau organ lainnya. Di sisi lain, sistem kekebalan tubuh

8
yang sehat menonaktifkan virus tersebut dan membuatnya tetap
tertidur di dalam tubuh Anda.
 Candidiasis. Infeksi jamur yang umum ini ditularkan dalam cairan
tubuh, seperti air liur, darah, urin, sperma dan ASI. Infeksi ini
menyebabkan peradangan dan lapisan putih yang tebal pada selaput
lendir di mulut, lidah, esofagus dan vagina.
 Meningitis kriptokokus. Meningitis kriptokokus adalah infeksi sistem
saraf pusat yang umum terkait dengan HIV. Infeksi ini disebabkan oleh
jamur yang ditemukan dalam kotoran. Meningitis adalah peradangan
pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang
belakang (meninges).
 Toksoplasmosis. Infeksi yang berpotensi mematikan ini disebabkan
oleh Toxoplasma gondii, suatu parasit yang disebarkan utamanya
oleh kucing. Kucing yang terinfeksi menyebarkan parasit melalui
tinjanya, dan kemudian parasit tersebut dapat menyebar ke hewan
lain dan manusia.
 Cryptosporidiosis. Cryptosporidiosis adalah parasit usus yang
umumnya ditemukan pada hewan. Anda tertular cryptosporidiosis
ketika Anda menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Parasit
tersebut tumbuh di dalam usus dan saluran empedu, menyebabkan
diare yang kronis dan parah pada orang yang memiliki AIDS.

Kanker juga bisa timbul sebagai komplikasi HIV/AIDS

 Sarkoma Kaposi. Sarkoma ini adalah tumor dinding pembuluh darah.

Kanker ini jarang ditemukan pada orang yang tidak terinfeksi HIV,
sedangkan umum pada pasien yang terinfeksi HIV. Sarkoma Kaposi
juga dapat mempengaruhi organ dalam, termasuk saluran
pencernaan dan paru-paru. Sarkoma Kaposi biasanya muncul
sebagai lesi merah jambu, merah atau ungu pada kulit dan mulut.
Pada orang dengan kulit lebih gelap, lesi tersebut dapat terlihat coklat
gelap atau hitam.

9
 Limfoma. Jenis kanker ini berasal dari sel darah putih Anda. Limfoma
biasanya pertama kali muncul dalam kelenjar getah bening Anda. Ada
beberapa tanda yang paling umum, termasuk pembengkakan tanpa
rasa sakit pada kelenjar getah bening di leher dan ketiak atau pangkal
paha.

Komplikasi HIV lainnya yang mungkin terjadi

 Wasting syndrome. Regimen pengobatan agresif telah mengurangi


jumlah kasus wasting syndrome. Meskipun begitu, komplikaso ini
masih memengaruhi banyak orang yang memiliki AIDS. Beberapa
gejala umumnya termasuk: penurunan berat badan, diare, kelemahan
kronis dan demam.
 Komplikasi neurologis. AIDS dapat menyebabkan gejala neurologis
meskipun tidak menginfeksi sel-sel saraf, seperti linglung, pelupa,
depresi, kegelishaan dan kesulitan berjalan. Salah satu komplikasi
neurologis yang paling umum adalah kompleks dementia AIDS, yang
menyebabkan perubahan perilaku dan menurunnya fungsi mental.
 Penyakit ginjal. HIV-associated nephropathy (HIVAN) adalah
peradangan pada filter kecil. Filter ini memainkan peran penting dalam
ginjal Anda yang membuang kelebihan cairan dan ampas dari aliran
darah dan meneruskannya ke urin Anda. Dikarenakan predisposisi
genetic, resiko terkena HIVAN lebih tinggi pada orang kulit hitam.

Meskipun banyak obat-obatan efektif tersedia di pasaran, virus dapat


menjadi kebal terhadap obat apapun. Hal ini dapat menjadi komplikasi
yang serius jika itu berarti bahwa obat yang kurang efektif harus
digunakan.

10
F. Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan apakah pasien terinfeksi HIV, maka harus


dilakukan tes HIV. Skrining dilakukan dengan mengambil sampel darah
atau urine pasien untuk diteliti di laboratorium. Jenis skrining untuk
mendeteksi HIV adalah:

 Tes antibodi. Tes ini bertujuan mendeteksi antibodi yang dihasilkan


tubuh untuk melawan infeksi HIV. Meski akurat, perlu waktu 3-12
minggu agar jumlah antibodi dalam tubuh cukup tinggi untuk
terdeteksi saat pemeriksaan.
 Tes antigen. Tes antigen bertujuan mendeteksi p24, suatu protein
yang menjadi bagian dari virus HIV. Tes antigen dapat dilakukan 2-
6 minggu setelah pasien terinfeksi.

Bila skrining menunjukkan pasien terinfeksi HIV (HIV positif), maka


pasien perlu menjalani tes selanjutnya. Selain untuk memastikan hasil
skrining, tes berikut dapat membantu dokter mengetahui tahap infeksi
yang diderita, serta menentukan metode pengobatan yang tepat. Sama
seperti skrining, tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah
pasien, untuk diteliti di laboratorium. Beberapa tes tersebut antara lain:

 Hitung sel CD4. CD4 adalah bagian dari sel darah putih yang
dihancurkan oleh HIV. Oleh karena itu, semakin sedikit jumlah CD4,
semakin besar pula kemungkinan seseorang terserang AIDS. Pada
kondisi normal, jumlah CD4 berada dalam rentang 500-1400 sel per
milimeter kubik darah. Infeksi HIV berkembang menjadi AIDS bila
hasil hitung sel CD4 di bawah 200 sel per milimeter kubik darah.
 Pemeriksaan viral load (HIV RNA). Pemeriksaan viral
load bertujuan untuk menghitung RNA, bagian dari virus HIV yang
berfungsi menggandakan diri. Jumlah RNA yang lebih dari 100.000
kopi per mililiter darah, menandakan infeksi HIV baru saja terjadi

11
atau tidak tertangani. Sedangkan jumlah RNA di bawah 10.000 kopi
per mililiter darah, mengindikasikan perkembangan virus yang tidak
terlalu cepat. Akan tetapi, kondisi tersebut tetap saja menyebabkan
kerusakan perlahan pada sistem kekebalan tubuh.
 Tes resistensi (kekebalan) terhadap obat. Beberapa subtipe HIV
diketahui kebal pada obat anti HIV. Melalui tes ini, dokter dapat
menentukan jenis obat anti HIV yang tepat bagi pasien.

G. Pencegahan & Pengobatan

Pencegahan HIV dan AIDS

Terdapat berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah


penularan HIV dan AIDS, antara lain:

 Gunakan kondom yang baru setiap berhubungan intim, baik


hubungan intim vaginal maupun anal.

 Hindari berhubungan intim dengan lebih dari satu pasangan.

 Bersikap jujur kepada pasangan jika mengidap positif HIV, agar


pasangan juga menjalani tes HIV.

 Diskusikan dengan dokter jika didiagnosis positif HIV saat hamil,


mengenai penanganan selanjutnya, dan perencanaan persalinan,
untuk mencegah penularan dari ibu ke janin.

 Bersunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV.

 Jika menduga baru saja terinfeksi atau tertular virus HIV, seperti
setelah melakukan hubungan intim dengan pengidap HIV, maka
harus segera ke dokter. Agar bisa mendapatkan obat post-exposure
prophylaxis (PEP) yang dikonsumsi selama 28 hari dan terdiri dari 3
obat antiretroviral.

12
Pengobatan HIV dan AIDS

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV,
tetapi ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus.
Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan
menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan
diri dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Jenis obat ARV
memiliki berbagai varian, antara lain Etravirine, Efavirenz, Lamivudin,
Zidovudin, dan juga Nevirapine.

Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor


jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pengidap terhadap
pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3–6 bulan. Sedangkan
pemeriksaan HIV RNA, dilakukan sejak awal pengobatan, lalu
dilanjutkan tiap 3–4 bulan selama masa pengobatan.

Agar perkembangan virus dapat dikendalikan, pengidap harus


segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis mengidap HIV. Risiko
pengidap HIV untuk terserang AIDS akan semakin besar jika
pengobatan ditunda, karena virus akan semakin merusak sistem
kekebalan tubuh. Selain itu, penting bagi pengidap untuk mengonsumsi
ARV sesuai petunjuk dokter. Konsumsi obat yang terlewat hanya akan
membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi
pengidap.

Segera minum obat jika jadwal konsumsi obat pengidap dan tetap
ikuti jadwal berikutnya. Namun jika dosis yang terlewat cukup banyak,
segera bicarakan dengan dokter. Kondisi pengidap juga memengaruhi
resep atau dosis yang sesuai. Dokter juga dapat menggantinya sesuai
dengan kondisi pengidap. Selain itu, pengidap juga boleh untuk
mengonsumsi lebih dari 1 obat ARV dalam sehari.

13
PENGKAJIAN PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS
HIV / AIDS

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn. T
Umur : 35 th
No Reg : 012 68651
Ruang : Seruni
Agama : Islam
Pekerjaan : Supir
Alamat : Jalan Biraan 322 Dayeuhkolot, Bandung
Suku Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMU
MRS : 26 Februari 2013
Tanggal Pengkajian : 26 Februari 2013
DX Medis : AIDS

2. Keluhan Utama
Saat MRS : Klien dibawa ke rumah sakit dengan
keluhan
diare dan demam tinggi.
Saat pengkajian : Klien mengatakan badan terasa lemah,
dan tidak mampu melakukan aktifitas.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak tanggal 25 Februari 2014 klien mengalami diare hebat sekitar
12-13x/hari, tidak nafsu makan (anoreksia), dan kesulitan menelan
(disfagia). Klien juga mengalami demam sejak 23 Februari 2014 dan

14
dibawa ke rumah sakit pada pukul 09.00 WIB. Pada saat pengkajian
klien berkata-kata dengan suara yang lirih seperti kelelahan dan
mengeluhkan badan terasa lemah.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Dalam 3 bulan terakhir Tn. T sering mengalami diare tak terkontrol
tanpa merasakan sakit perut, penyebabnya tidak diketahui, dengan
faktor yang memperberat adalah bergerak sehingga usaha yang
dilakukan adalah diam. Klien juga demam tinggi sehingga dibawa
ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Dari riwayat 3 bulan
terakhir Tn. T pernah 3-4 kali mengalami demam dan 1 kali
mengalami diare disertai darah. Klien juga mengatakan pada masa
mudanya pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan anggota keluarga
yang mengalami kelainan, penyakit kronis, ataupun penyakit yang
sama dengan Tn. T

6. Riwayat Psikososial
a. Persepsi Klien Terhadap Masalah
Tn. T mengatakan bahwa penyakitnya ini merupakan masalah
yang mengkhawatirkan, sambil mengungkapkan itu wajahnya
terlihat lemah, dan badannya terlihat lemas. Saat ditanya
tentang penyakit, pengobatan, komplikasi Tn. T hanya
menggelengkan kepala. Klien hanya mengatakan pernah
mengkonsumsi obat terlarang sehingga dikucilkan oleh saudara-
saudaranya. Pasien merasa diasingkan oleh keluarga dan
teman-temannya, pasien tidak punya uang lagi, pasien merasa
frustasi karena tidak punya teman dan merasa terisolasi. Pasien

15
pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri dengan
berusaha melompat dari lantai 2.

7. Pola Kesehatan Sehari-hari Selama Di Rumah dan RS


a. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Di Rumah : makan 3x/hari, habis satu porsi dengan
komposisi nasi sayur dan telur terkadang
tempe. Minum air putih 1000 cc/hari ditambah
kopi tiap pagi.
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien menunjukkan gejala
anoreksia dan kesulitan menelan, Makan
2x/hari tidak habis, minum air putis 300cc/jam
b. Pola Eliminasi
1) Kebiasaan Devekasi Sehari-hari
Di Rumah : klien devekasi 12-13x/hari dengan
konsistensi cair, warna kuning
kecoklatan. Pernah satu kali devekasi
disertai darah
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien belum devikasi
karena pasien baru datang.
2) Kebiasaan Miksi
Di Rumah : Tn. T miksi 3-4x / hari (kira-kira 1500 cc)
warna kuning, bau khas, tidak ada
kesulitan BAK, tidak terdapat darah pada
urin. Selama sakit BAK 3-4x/ hari
Di Rumah Sakit : klien BAK tanpa alat bantu ataupun
kateter.
c. Pola Tidur dan Istirahat
Dirumah Klien : istirahat (tidur) kira-kira 6 jam/hari mulai jam
22.00 WIB sampai 05.00,
Di Rumah Sakit : klien tidur siang selama 40 menit

16
d. Pola Aktivitas
Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa bantuan
orang lain dan tidak memiliki kebiasaan olah
raga
Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk
mengankat beban berat maupun sedang. Klien
mendapat terapi istirahat, beberapa
aktifitasnya dibantu.

e. Pola Reproduksi dan Seksual


Klien Tn. T dengan usia 35 th memiliki 2 orang anak. Klien
melakukan seksual menggunakan kondom tapi tidak konsisten.

8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Lemah, terpasang infus RL,
Keadaan sakit : Klien sering mengeluh lemas
Tekanan darah : 90 / 80 mmHg
Nadi : 55 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Bising Usus : 20 x/menit
Suhu : 37,8˚C
Tinggi badan : 167 cm
Berat badan : 52 kg
b. Review of System (ROS)
(1) Kepala : Posisi tegak, bentuk kepala simetris, warna
rambut hitam, distribusi rambut merata, tidak terlihat
bayangan pembuluh darah, tidak terdapat luka, tumor,
edema, terlihat ada ketombe, dan bau.
 Mata ; tidak terdapat vesikel, tidak ada masa, nyeri
tekan, dan penurunan penglihatan, konjungtiva anemis.
 Hidung ; ada sekret, tidak ada lesi

17
 Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran
mukosa kering, lidah ada bercak-bercak keputihan, dan
halitosis.
 Telinga ; tidak ada nyeri tekan
(2) Leher : trakea simetris, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid dan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
(3) Thoraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,tidak ada
otot bantu napas
 Paru ; bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi
interkosta, ekspansi kanan dan kiri sama, perkusi paru
didapat suara sonor di seluruh lapang paru, batas paru
hepar dan jantung redup,
 Jantung ; ictus cordis terlihat di mid-clavicula line sinistra
ICS 5,
(4) Ketiak dan Payudara ; Tidak didapatkan pembesaran
kelenjar limfe dan tidak ada benjolan, puting dan areola baik
(5) Abdomen : bentuk simetris, ada nyeri tekan, tidak ada
benjolan, tidak ada tanda pembesaran hepar, tidak didapati
asites, dan hasil perkusi didapat suara timpani,
(6) Genetalia : Tn. T adalah klien laki-laki,
 Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapat bercak,
pada batang penis ada tanda jamur, tidak ada tanda
herpes, ada lesi.
 Skrotum ; tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur, tidak ada
tanda herpes
 Uretra ; tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi
(7) Anus dan Rektum : tidak ada abses, ada hemoroid, rektum
didapati sedikit berlendir.
(8) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat
oedema, tidak ada fraktur, tidak tampak tanda atropi

18
(9) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat
kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis,
akral dingin, capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda
inflamasi pada kuku, ada lesi pada kulit bagian area scapula
(10) Status Neurologis
a) Tingkat kesadaran : Kompos Mentis
b) Tanda–tanda perangsangan otak
1) Pusing
2) Suhu tubuh 37,8o C
c) Uji saraf kranial
NI : Klien tidak dapat membau dengan baik
N II : Klien dapat melihat dengan jelas
N III : Klien dapat menggerakkan bola mata
N IV : Klien dapat melihat gerakan tangan perawat
baik ke samping kiri ke kanan.
NV : Klien dapat menggerakan rahang
N VI : Klien dapat menggerakan mata kesamping
N VII : Klien dapat merasakan pahit, manis, asam,
dan manis
N VIII : Klien dapat mendengarkan degan baik
N IX : Klien dapat berbicara
NX : Klien dapat mengangkat bahu
N XI : Klien dapat berbicara dengan baik
N XII : Klien dapat menggerakan lidah dan dapat
berbicara dengan baik
d) Funsi Motorik
Tidak ada gerakan yang tdak disadari klien, klien mampu
bergerak tanpa perintah.

19
e) Fungsi Sensorik
Klien tidak merasakan usapan kapas pada area
maksilaris, dapat merasakan benda tajam, tidak dapat
merasakan hangat, panas, dan dingin.
f) Refleks Pantologis
Reflek babinsky negatif, reflek cadlok negatif, reflek
Gordon negatif.

9. Pemeriksaan Penunjang
a) Hasil Test Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) : dari hasil test
ELISA yang dilakukan, menunjukkan hasil bahwa Tn. T Positif
dibuktikan dengan antibodi dalam serum mengikat antigen virus
murni di dalam enzyme-linked antihuman globulin.
b) Hasil Test Western Blot : Positif
c) P24 Antigen Test : Positif
d) Kultur HIV : Positif, dengan kadar antigen P24
Meningkat

20
ANALISA DATA

Nama : Tn. T No Reg : 012 68651


Umur : 35 th

Tanggal Kelompok Data Masalah Etiologi


26/02/2014 DS : Resiko Imunodefisiensi
1. Klien mengatakan Terhadap
pernah Infeksi
mengkonsumsi
obat terlarang
sehingga
dikucilkan oleh
saudara-
saudaranya.
2. Klien mengeluh
susah menelan (
disflagia)
DO :
1. Mulut ; terdapat
lesi, gigi ada yang
tanggal, membran
mukosa
kering, lidah ada
bercak-bercak
keputihan, dan
halitosis.
2. Penis ; klien di
sirkumsisi, gland
penis terdapat

21
bercak, pada
batang penis ada
tanda jamur, tidak
ada tanda herpes,
ada lesi.
3. Saat dirumah klien
devekasi 12-
13x/hari dengan
konsistensi cair,
warna kuning
kecoklatan.
Pernah satu kali
devekasi disertai
darah
26/02/2014 DS : Kekurangan Output yang
1. Saat dirumah klien Volume Cairan berlebih
devekasi 12-
13x/hari dengan
konsistensi cair,
warna kuning
kecoklatan.
Pernah satu kali
devekasi disertai
darah
DO :
1. integumen : warna
sawo matang,
tekstur kering,
terdapat
kemerahan pada
area, turgor buruk,

22
terdapat tanda
sianosis, akral
dingin, capillary
refill time >3 detik,
tidak ada tanda
inflamasi pada
kuku, ada lesi pada
2. Penis : ada lesi
pada batang penis.
3. TD : 90/80
26/02/2014 DS : Kelemahan Proses penyakit
1. Klien sering yang
mengeluh lemas dimanifestasikan
2. Klien mengatakan oleh kekurangan
tidak nafsu makan energi,
(anoreksia) ketidakmampuan
3. Klien mengeluh mempertahankan
kesulitan menelan aktivitas sehari-
(disfagia). hari.
DO :
1. Klien terlihat lemas
2. klien merasa
mudah lelah, tidak
kuat untuk
mengankat beban
berat maupun
sedang.
3. Klien mendapat
terapi istirahat,
beberapa

23
aktifitasnya
dibantu.
4. Pada saat
pengkajian klien
berkata-kata
dengan suara yang
lirih seperti
kelelahan dan
mengeluhkan
badan terasa
lemah.
26/02/2014 DS : Gangguan Rash Dan Lesi
- Integritas Kulit Pada Kulit
DO :
1. Integumen : warna
sawo matang,
tekstur kering,
terdapat
kemerahan pada
area, turgor buruk,
terdapat tanda
sianosis, akral
dingin, capillary
refill time >3 detik,
tidak ada tanda
inflamasi pada
kuku, ada lesi pada
kulit bagian area
scapula.
2. gland penis
terdapat bercak

24
3. Hipertermia (Suhu
tubuh 37,8o C)
26/02/2014 DS : Intoleransi Kelemahan Dan
1. Klien sering Aktivitas Kelelahan
mengeluh lemas
DO :
1. klien merasa
mudah lelah, tidak
kuat untuk
mengankat beban
berat maupun
sedang.
2. Klien mendapat
terapi istirahat,
beberapa
aktifitasnya
dibantu.
3. Pada saat
pengkajian klien
berkata-kata
dengan suara yang
lirih seperti
kelelahan dan
mengeluhkan
badan terasa
lemah.
4. konjungtiva
anemis.
5. TD 90/80
6. RR 24 x/menit
7. Nadi 55 x/menit

25
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Terhadap Infeksi berhubungan dengan Imunodefisiensi
2. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Output Yang
Berlebih
3. Kelemahan berhubungan dengan Proses Penyakit Yang
Dimanifestasikan Oleh Kekurangan Energi, Ketidakmampuan
Mempertahankan Aktivitas Sehari-hari.
4. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan Rash Dan Lesi
Pada Kulit
5. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Kelemahan Dan
Kelelahan

INTERVENSI

Nama : Tn. T
Umur : 35 th
No Reg : 012 68651

26
No Tanggal Diagnosa Tujuan & Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
1 26/02/2014 Resiko Tujuan : 1. Instruksikan 1. Mengurangi
pkl 10.00 Terhadap Pasien pasien / orang resiko
WIB Infeksi mencapai masa terdekat kontaminasi
berhubunga penyembuhan mencuci tangan silang.
n dengan luka/lesi dalam sesuai indikasi 2. Mengurangi
Imunodefisi kururn waktu 3 x 2. Berikan patogen pada
ensi 24 jam lingkungan yang sistem imun
bersih dan dan
KH : berventilasi mengurangi
1. Klien tidak yang baik kemungkinan
demam. 3. Pantau keluhan pasien
2. Bebas dari nyeri ulu hati mengalami
pengeluaran disfagia, sakit infeksi
/sekresi retrosternal nosokomial.
purulen dan pada waktu 3. Esofagitis
tanda-tanda menelan dan mungkin
lain dari diare hebat. terjadi
infeksi. sekunder
akibat
kandidiasis
oral ataupun
herpes
2 26/02/2014 Kekurangan Tujuan : 1. Pantau tanda - 1. Memberikan
pkl 10.00 Volume Mempertahanka tanda vital informasi
WIB Cairan n hidrasi dalam termasuk CVP tentang
berhubunga kurun waktu 24 bila terpasang, volume cairan
n dengan jam catat hipertensi sirkulasi

27
Output Yang termasuk 2. Mengurangi
Berlebih KH : perubahan faktor yang
1. Membran postural. menyebabkan
mukosa 2. Hilangkan diare.
lembab makanan yang 3. Meningkatkan
2. Turgor kulit potensial kebutuhan
membaik menyebabkan metabolisme
3. Tanda-tanda diare yakni dan diaforesis
vital stabil pedas atau yang
berlemak tinggi, berlebihan b/d
kacang, kubis, demam.
susu.
3. Mencatat
peningkatan
suhu dan durasi
demam. Berikan
kompres hangat
sesuai indikasi.
4. Kolaborasikan
dengan dokter
dalam
pemberikan
antipiretik
sesuai indikasi

28
No Tanggal Intervensi Implementasi Respon TTD
1 26/02/2014 1. Instruksikan 1. Mengajarkan 1. Klien tidak
pkl 10.00 pasien / orang kepada keluarga menunjukkan
WIB terdekat untuk mencuci tanda-tanda
mencuci tangan sebelum dan demam.
tangan sesuai setelah kontak 2. Bebas dari
indikasi. dengan pasien pengeluaran /
2. Berikan 2. Monitor kondisi sekresi purulen
lingkungan ruangan dan dan tanda-
yang bersih ventilasi tanda lain dari
dan 3. Mengobservasi infeksi.
berventilasi kondisi pasien untuk
yang baik. mengetahui adanya
3. Pantau keluhan nyeri ulu
keluhan nyeri hati disfagia, sakit
ulu hati retrosternal pada
disfagia, sakit waktu menelan dan
retrosternal diare hebat
pada waktu
menelan dan
diare hebat.
2 26/02/2014 1. Pantau tanda- 1. Monitor tanda-tanda 1. Membran
pkl 10.00 tanda vital vital dan tekanan mukosa
WIB termasuk CVP darah. lembab.
bila terpasang, 2. Monitor jenis nutrisi 2. Turgor kulit
catat yang dikonsumsi membaik.
hipertensi oleh pasien sesuai 3. Tanda-tanda
termasuk indikasi. vital stabil
perubahan 3. Observasi tanda-
postural. tanda peningkatan

29
2. Hilangkan suhu suhu dan
makanan yang durasi demam.
potensial Memberikan
menyebabkan kompres hangat
diare yakni sesuai indikasi.
pedas atau 4. Memberikan
berlemak antipiretik sesuai
tinggi, kacang, indikasi
kubis, susu.
3. Mencatat
peningkatan
suhu dan
durasi demam.
Berikan
kompres
hangat sesuai
indikasi.
4. Kolaborasikan
dengan dokter
dalam
pemberikan
antipiretik
sesuai indikasi

30
DAFTAR PUSTAKA

Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidomologi, penularan, pencegahan, dan


pemberantasannya.. Jakarta: Erlangga Medical Series
Muhajir. 2007. Pendidkan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Bandung: Erlangga
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993. Mikrobiolog
Kedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara
Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series

Definisi https://id.wikipedia.org/wiki/AIDS

Tanda dan gejala https://www.alodokter.com/kenali-tanda-tanda-hiv-aids

Komplikasi https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/awas-kanker-bisa-jadi-
pertanda-komplikasi-hiv/

Pemeriksaan penunjang https://www.alodokter.com/hiv-aids/diagnosis

Pencegahan & Pengobatan https://www.halodoc.com/kesehatan/hiv-dan-aids

ASKEPhttps://www.scribd.com/uploaddocument?archive_doc=243947940&escape=f
alse&metadata=%7B%22context%22%3A%22archive_view_restricted%22%2C%22page
%22%3A%22read%22%2C%22action%22%3A%22download%22%2C%22logged_in%22%
3Atrue%2C%22platform%22%3A%22web%22%7D

31