Anda di halaman 1dari 3

Setelah meninggalkan praktek saya sebagai dokter umum dan berpraktek selama

beberapa tahun sebagai dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater, saya merasakan


bahwa memberikan terapi psikiatri terkadang lebih sulit jika dibandingkan dengan
memberikan terapi terbatas untuk penyakit fisik. Ketika saya masih melakukan
pekerjaan saya sebagai dokter umum, seorang pasien yang datang ke tempat praktek
saya umumnya datang atas keinginannya sendiri atau minimal tetap ada keinginan
untuk mengobati dirinya meskipun diajak oleh orang lain. Sementara ketika saya
berpraktik sebagai seorang dokter psikiater, cukup banyak pasien yang datang tidak
atas keinginannya sendiri ataupun terpaksa datang karena dirujuk oleh dokter spesialis
bidang lainnya. Hal yang membedakan antara pasien psikiatri yang saya contohkan
dengan pasien yang datang ke dokter umum atau ke dokter spesialis bidang lainnya
umumnya terletak dalam insight/tilikan pasien tentang penyakitnya.

Apakah insight itu?

Insight/tilikan adalah kesadaran dan pemahaman seseorang tentang kondisi yang


dialaminya. Berkenaan dengan bidang medis, insight/tilikan sakit menunjukan
seberapa paham dan sadar seseorang mengenai penyakit dan gejala yang dialaminya. Di
dalam bidang psikiatri, penilaian terhadap insight/tilikan pasien merupakan salah satu
hal yang wajib ketika dokter psikiater membuat diagnosa. Hal ini karena
faktor insight/tilikan sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan terapi
psikiatri yang diberikan. Berkaitan dengan terapi skizofrenia, dalam opini saya pribadi,
faktor insight pasien merupakan faktor terpenting yang menentukan keberhasilan
terapi pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Mengapa demikian? Saya akan
membahasnya setelah mengenalkan terlebih dahulu pembagian insight/tilikan sakit
seseorang.

Pembagian insight

Insight pada pasien psikiatri secara sederhana dapat dibagi ke dalam lima tingkatan
berikut:

 Insight derajat 1, ketika pasien menyangkal ataupun sama


sekali tidak merasa sakit.
 Insight derajat 2, ketika pasien sedikit menyadari bahwa
dirinya sakit dan butuh bantuan namun dalam waktu yang
bersamaan juga menyangkal bahwa ia sakit.
 Insight derajat 3, ketika pasien menyadari bahwa dirinya
sakit, namun menyalahkan faktor eksternal, orang lain, masalah
medis, atau masalah fisik lainnya sebagai penyebab sakitnya.
 Insight derajat 4, ketika pasien menyadari gejala yang
dialami dan penyakitnya, mengetahui bahwa hal tersebut
muncul akibat pola pikirnya sendiri, namun tidak menggunakan
pengetahuan tersebut untuk melakukan suatu perubahan di masa
depan. Insight ini dikenal sebagai insight intelektual.
 Insight derajat 5, ketika pasien menyadari sepenuhnya apa
yang mendasari gejala yang dialaminya, dan pasien melakukan
perubahan pada perilaku dan kepribadiannya untuk mencapai
pemulihan, keterbukaan terhadap ide dan konsep baru mengenai
dirinya. Insight ini dikenal sebagai insight emosional sesungguhnya.

Insight dan Skizofrenia

Berdasarkan pembagian insight tersebut, di awal masa sakit biasanya Orang dengan
Skizofrenia (ODS) tidak menyadari bahwa dirinya menderita suatu
penyakit. Insightnya berada di derajat 1. Ketika insight masih berada di derajat 1, maka
pengobatan terhadap kemudian menjadi sangat sulit untuk dilakukan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini, selain masalah stigma dan pengobatan ke
dokter jiwa. Pertama, skizofrenia ataupun gangguan jiwa lainnya tidak menyebabkan
perubahan ataupun gangguan fisik, karena konsep sakit senantiasa dikaitkan dengan
masalah kesehatan jasmani ketika tidak ada masalah fisik, maka tidak ada penyakit.
Kedua, gejala yang dialami dalam skizofrenia, dirasakan secara nyata oleh orang
tersebut. Contohnya ketika seorang penderita skizofrenia mengalami gejala halusinasi
dengar berupa suara orang yang menyuruh-nyuruhnya, maka pasien tidak akan mampu
membedakan suara halusinasi dengan suara yang benar ada sumbernya di dunia nyata.
Hal ini akan menyebabkan orang yang mengalaminya merasa hal tersebut merupakan
suatu hal yang nyata. Untuk membaca selengkapnya mengenai gejala pada skizofrenia,
Anda bisa membacanya di sini.

Insight derajat 1 inilah yang pada akhirnya menyebabkan pasien tidak mau untuk
diajak berobat sementara minum obat anti psikotik dan konsultasi dengan dokter
psikiater ataupun psikolog klinis merupakan hal yang penting dalam pemulihan pasien
dengan skizofrenia. Jikapun pasien akhirnya dapat dibawa secara paksa oleh keluarga
untuk berobat, sering kali pasien kemudian menolak untuk minum obat, menolak
konsultasi ulang dengan dokter psikiater ataupun psikolog. Ketika gejala sudah
menghilang, pasien kemudian juga sering memutuskan untuk tidak minum obat lagi
yang akhirnya berujung pada kekambuhan gejala. Bila pun keluarga sudah menyadari
pentingnya pengobatan pada skizofrenia, sering kali keluarga harus sembunyi-
sembunyi dalam memberikan obat selama insight pasien tetap buruk.

Berdasarkan hal-hal yang telah dituliskan, maka meningkatkan insight setidaknya


hingga derajat 3 merupakan target terapi yang juga sangat penting disamping
menghilangkan gejala yang dialami pasien. Ketika seseorang sudah menyadari bahwa
dirinya memang sakit atau menderita suatu gejala tertentu, maka penolakan terhadap
terapi menjadi lebih minimal. Tentu tetap saja yang diharapkan adalah insight dapat
meningkat hingga derajat 5, pada tahapan ini pasien sendiri yang biasanya akan aktif
mencari bantuan untuk pemulihan dirinya.

Bila Anda ataupun keluarga Anda merupakan ODS, maka berdiskusilah dengan dokter
Anda mengenai hal ini. Tanpa didukung peningkatan insight maka sering kali pasien
skizofrenia mengalami kekambuhan gejala dalam masa perjalanan hidupnya. Semakin
sering gejala kambuh maka target pemulihan akan menjadi semakin sulit tercapai. Hal
ini lah yang ingin kita hindari bersama. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

https://pantirehabilitasi.wordpress.com/2015/11/25/tilikan-insight-dalam-terapi-skizofrenia/