Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

PERSAMAAN NERNST

Dosen Pengampu Matakuliah :


1. Bapak Ridwan Joharmawan
2. Bapak Ida Bagus Suryadharma

Oleh : Kelompok 5
Devi Barkahtin Nurjanah (170332614530)
Dwiky El Fizar Kustanto (170332614510)
Verdina Dea Nafratilova (170332614551)

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

APRIL 2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan, diharapkan mahasiswa mampu menyusun dan
mengukur GGL sel elektrik (sel elektrokimia) dan mencoba membuktikan
persamaan Nernst melalui percobaan.

B. Dasar Teori
Elektrokimia adalah cabang ilmu kimia yang berhubungan dengan
interkonveksi energi listrik dan energi kimia. Proses elektrokimia adalah reaksi
redoks (oksidasi-reduksi) dimana dalam reaksi ini energi yang dilepaskan oleh
reaksi spontan diubah menjadi listrik atau dimana energi listrik digunakan untuk
reaksi yang nonspontan bisa terjadi. Reaksi elektrokimia dapat dibagi dalam dua
macam, yaitu reaksi yang menghasilkan arus listrik (proses yang terjadi dalam
baterai) dan reaksi yang dihasilkan oleh arus listrik atau elektrolisis (Keenan,
1992). Sebuah sel elektrik sederhana yang menghasilkan energi listrik dapat
dilihat pada gambar dibawah ini :

Persamaan Nernst merupakan persamaan yang menyatakan hubungan antara


potensial dari sebuah elektron ion-ion metal dan konsentrasi dari ion dalam
sebuah larutan. Pada sel elektrokimia sederhana, elektron akan mengalir dari
anoda ke katoda. Hal ini akan menimbulkan perbedaan potensial antara kedua
elektroda. Perbedaan potensial akan mencapai maksimum jika tidak ada arus
listrik yang mengalir. Perbedaan maksimum ini dinamakan GGL sel atau E0 sel
pada bagian faktor E0sel yang dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah
konsentrasi.
Bentuk persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

°
𝑅𝑇 𝑎𝐶𝑐 𝑎𝐷𝑑
𝐸𝑠𝑒𝑙 = 𝐸𝑠𝑒𝑙 − 𝑙𝑛
𝑛𝐹 𝑎𝐴𝑎 𝑎𝐵𝑏
𝑎𝐴𝑎 , 𝑎𝐵𝑏 ,𝑎𝐶𝑐 , 𝑎𝐷𝑑 ,......... adalah aktivitas dipangkatkan dengan koefisien reaksi, dan
F = konstanta Faraday (96.485 C/J)
n = jumlah (mol) elektron yang dipertukarkan dalam reaksi redoks
R = tetapan gas (8,314 J/K.mol)

Untuk perhitungan yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, aktivitas


dapat diganti dengan konsentrasi, sehingga persamaan (1) menjadi :

°
𝑅𝑇 𝐶𝐶𝑐 𝐶𝐷𝑑
𝐸𝑠𝑒𝑙 = 𝐸𝑠𝑒𝑙 − 𝑙𝑛
𝑛𝐹 𝐶𝐴𝑎 𝐶𝐵𝑏
C = konsentrasi larutan
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

Dalam percobaan ini, alat dan bahan yang digunakan antara lain :
A. Alat :
1. Voltmeter
2. Penjepit
3. Kabel
4. Labu takar (100 mL)
5. Pembakar gas, kasa, dan kaki tiga
6. Pipet 10 mL
7. Termometer 0-100oC

B. Bahan :
1. Akuades
2. Kertas amplas
3. Lempeng tembaga
4. Lempeng seng
5. Larutan ZnSO4 1,0 M
6. Larutan CuSO4 1,0 M
7. Jembatan Garam

C. Prosedur Percobaan
Elektroda tembaga dan seng

- Kedua elektroda dibersihkan dengan amplas.


- Disiapkan larutan ZnSO4 dan CuSO4 masing-masing 100 mL.
- Dirangkai voltmeter dengan kabel dan penjepit pada lempeng
elektroda.
- Dipasang jembatan garam pada larutan.
- Diukur suhu larutan.
- Pada percobaan pertama digunakan larutan ZnSO4 1,0 M dan
CuSO4 dengan konsentrasi 0,001 M; 0,01 M; 0,1 M; dan 1 M
- Dicelupkan kedua elektroda pada larutan.
- Diamati nilai GGL pada voltmeter sampai konstan.
- Pada percobaan kedua digunakan larutan CuSO4 1 M dan
ZnSO4 dengan konsentrasi 0,001 M; 0,01 M; 0,1 M; dan 1 M
dengan prosedur pengukuran yang sama.

Hasil
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Percobaan dilakukan pada suhu ruang, yaitu 27 0C.
1. Larutan CuSO4 konsentrasi bervariasi dengan larutan ZnSO4 konsentrasi tetap
Larutan pada Larutan pada
-Log
Anoda Katoda Esel (Volt)
Zn2+/Cu2+
Zn|Zn2+ (M) Cu|Cu2+ (M)
1,0 1,0 1,09 0
1,0 0,1 1,08 1
1,0 0,01 1,06 2
1,0 0,001 1,03 3

2. Larutan CuSO4 konsentrasi tetap dengan larutan ZnSO4 konsentrasi bervariasi

Larutan pada Larutan pada


-Log
Anoda Katoda Esel (Volt)
Zn2+/Cu2+
Zn|Zn2+ (M) Cu|Cu2+ (M)
1,0 1,0 1,10 0
0,1 1,0 1,12 1
0,01 1,0 1,14 2
0,001 1,0 1,09 3

B. Pembahasan
Hubungan konsentrasi dan E0sel dapat dinyatakan dengan persamaan Nernst.
Pada percobaan ini digunakan katoda logam Cu dan larutan CuSO4 serta anoda
logam Zn dan larutan ZnSO4. Konsentrasi larutan divariasi untuk membuktikan
persamaan Nernst. Pada percobaan pertama konsentrasi larutan ZnSO4 dibuat tetap
sementara larutan CuSO4 dibuat bervariasi. Berdasarkan pustaka, semakin rendah
konsentrasi larutan CuSO4 yang digunakan, besarnya volt akan semakin turun. Dari
percobaan pertama yang sudah dilakukan, data besarnya volt yang didapatkan
memiliki kecenderungan turun, maka hal ini sudah sesuai dengan pustaka.
Hal ini berlaku sebaliknya pada percobaan kedua, yakni konsentrasi larutan
CuSO4 dibuat tetap sementara larutan ZnSO4 dibuat bervariasi. Berdasarkan pustaka,
semakin rendah konsentrasi larutan ZnSO4 yang digunakan, besarnya volt akan
semakin naik. Dari percobaan kedua yang sudah dilakukan, data besarnya volt yang
didapatkan memiliki kecenderungan naik, tetapi ada pengecualian pada pengukuran
ke 4 dimana saat konsentrasi ZnSO4 yang digunakan adalah 0,001 M, nilai volt yang
didapatkan justru turun dari nilai sebelumnya yakni sebesar 1,09 V. Untuk konsentrasi
larutan ZnSO4 0,001 M, percobaan sempat kami ulang sebanyak 2 kali akan tetapi
nilai volt tetap tidak bisa naik. Hal ini belum sesuai pustaka karena dimungkinkan
lempengan belum bersih meskipun sudah diampelas berkali-kali, selain itu pada saat
dicuci dengan aquades, lempengan belum bersih sepenuhnya.
Nilai E0sel yang diperoleh dari voltmeter diplotkan dengan -log [Zn2+]/[Cu2+]
berupa grafik di bawah ini :
a. Grafik hubungan -log [Zn2+]/[Cu2+] terhadap nilai E0 sel dengan larutan
CuSO4 dibuat bervariasi
1.1

1.09

1.08

1.07
Series1
1.06
Linear (Series1)
1.05 Linear (Series1)
1.04
y = -0.02x + 1.095
1.03

1.02
0 1 2 3 4

Pada grafik percobaan pertama diperoleh persamaan y = -0,02x + 1,095. Dari


persamaan tersebut diperoleh nilai E0sel sebesar 1,095 V.
b. Grafik hubungan -log [Zn2+]/[Cu2+] terhadap nilai E0 sel dengan larutan
ZnSO4 dibuat bervariasi
1.15

1.14

1.13

1.12 Series1
Linear (Series1)
1.11
y = -0.001x + 1.114 Linear (Series1)
1.1

1.09

1.08
0 1 2 3 4

Pada grafik dari percobaan kedua diperoleh persamaan y = -0,001x + 1,114. Dari
persamaan tersebut diperoleh nilai E0sel sebesar 1,114 V.

Pada sel elektrokimia ini terjadi reaksi berikut:


Anoda : Zn(s)  Zn2+(aq) + 2e E0 = +0,76 V
Katoda : Cu2+(aq) + 2e  Cu(s) E0 = +0,34 V
Reaksi sel : Zn(s) + Cu2+(aq)  Zn2+(aq) + Cu(s) E0sel = +1,10 V
Berdasarkan literatur, besarnya E0sel adalah 1,10 V , sedangkan berdasarkan data
percobaan yang dibuat sesuai grafik yakni E0sel sebagai fungsi -log [Zn2+]/[Cu2+]
dan diregresi diperoleh nilai rata-rata dari E0sel yang dihitung dengan persamaan
Nernst sebesar 1,089 V. Berdasarkan hasil tersebut persamaan Nernst dapat
digunakan untuk menentukan Eºsel dengan memvariasi salah satu konsentrasi
larutan.
Dari percobaan ini diperoleh persentase kesalahan sebesar 1%. Persen
kesalahan ini muncul diduga karena praktikan kurang bersih saat membersihkan
atau mengampelas lempeng elektroda.
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :


1. Pada percobaan pertama dengan konsentrasi ZnSO4 tetap dan konsentrasi CuSO4
bervariasi diperoleh persamaan y = -0,02x + 1,095, maka nilai E0sel adalah 1,095 V.

2. Pada percobaan kedua dengan konsentrasi ZnSO4 bervariasi dan konsentrasi CuSO4
tetap diperoleh persamaan y = -0,001x + 1,114, maka nilai Eºsel adalah 1,114 V.

3. Dari perhitungan menggunakan persamaan Nernst diperoleh Eºsel sebesar 1,089 V.

4. Persen kesalahan dari percobaan ini adalah 1%.


DAFTAR PUSTAKA

1. Tim KBK Fisika.2019.Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisika.Malang.Jurusan Kimia


FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Mulyati, S dan Hendrawan. 2003. Kimia Fisika II. IMSTEP JICA
3. Petrucci, Ralph H. 2000. Kimia Dasar dan Prinsip Terapan Modern Jilid I. Jakarta :
Erlangga
LAMPIRAN
 Perhitungan E0sel menggunakan persamaan Nernst :

° 𝐑𝐓 [𝐙𝐧𝟐+ ]
𝐄𝐬𝐞𝐥 = 𝐄𝐬𝐞𝐥 − 𝐥𝐧
𝐧𝐅 [𝐂𝐮𝟐+ ]
° RT [Zn2+ ]
1. Esel = Esel − l
nF [Cu2+ ]

° 8,314 J. K −1 . mol−1 × 300 K


1,09 V = Esel − ln 1
2 × 96485 C. mol−1
°
Esel = 1,09 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
2. 1,08 V = Esel − ln 10
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,1097 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
3. 1,06 V = Esel − ln 100
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,1195 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
4. 1,03 V = Esel − ln 1000
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,119285 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
5. 1,10 V = Esel − ln 1
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,10 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
6. 1,12 V = Esel − ln 0,1
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,0902 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
7. 1,14 V = Esel − ln 0,01
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,0805 V
° 8,314 J.K−1 .mol−1 ×300 K
8. 1,09 V = Esel − ln 0,001
2×96485 C.mol−1
°
Esel = 1,0007 V

°
Rata-rata nilai Esel = 1,089 V
 Perhitungan persen kesalahan :
1,10 − 1,089
Persen Kesalahan = × 100% = 1 %
1,10
Foto-foto saat percobaan :

 Refleksi anggota kelompok :


1. Devi Barkahtin N. :
 Pengetahuan : mampu membuktikan persamaan Nernst melalui percobaan, mampu
mengukur besarnya volt pada alat voltmeter.
 Keterampilan : mampu menggunakan alat voltmeter.
 Karakter : semangat, kekompakan, ketelitian.
 Hal yang seharusnya tidak dilakukan : tidak memakai masker dan sarung tangan,
terburu-buru saat membaca angka pada voltmeter.
2. Dwiky El Fizar K. :
 Pengetahuan : mampu memahami persamaan Nernst.
 Keterampilan : mampu mengamplas dengan baik.
 Karakter : kesabaran dalam mengulang percobaan.
 Hal yang seharusnya tidak dilakukan : kurangnya ketelitian.
3. Verdina Dea N. :
 Pengetahuan : mampu memahami persamaan Nernst melalui percobaan.
 Keterampilan : mampu menggunakan alat voltmeter.
 Karakter : ketelitian, kerja sama.
 Hal yang seharusnya tidak dilakukan : kurangnya ketelitian.