Anda di halaman 1dari 56

BAB III

PENATALAKSANAAN PROGRAM ORTOTIK PROSTETIK

A. Assessment

Assessment adalah proses pemeriksaan untuk mengumpulkan informasi atau

data-data mengenai pasien secara lengkap, mulai dari data pribadi pasien, riwayat

penyakit pasien, kondisi lingkungan, pekerjaan serta aktifitas sehari - hari pasien.

Tujuan assessment adalah untuk menentukan tindakan yang perlu diberikan agar

sesuai dengan kebutuhan pasien. Di dalam hal ini kita dapat menentukan jenis tipe

ortosis apa yang sesuai dengan masalah yang dialami pasien. (Ripatti, 2009)

1. Subjective Assessment

Subjective assessment adalah suatu proses pengambilan atau

pengumpulan informasi mengenai pasien dengan wawancara. Subjective

assessment meliputi : (Hallbergh, 2002)

Gambar 3.1
Subjective Assessment (Dokumetasi Pribadi, 2019)

92
93

a. Identitas pasien

1) Nama : Triyatno

2) Alamat : Purbayan, RT 02/ RW 02, Baki, Sukoharjo,

Jawa Tengah

3) Umur : 47 Tahun

4) Jenis Kelamin : Laki - laki

5) Pekerjaan : Penjahit

6) Agama : Islam

7) Nomor handphone : 081390020294

8) Lingkungan tinggal : Datar

9) Berat badan : 48 kg

10) Tinggi badan : 157 cm

b. Kondisi Kesehatan umum Pasien :

Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya secara umum,

dan kesehatan pasien cukup baik.

c. Kondisi Seputar Deformitas Pasien :

1) Keluhan utama pasien : keluhan utama pasien adalah tungkainya

yang layuh atau lemah dan memiliki panjang tungkai yang berbeda

sehingga sulit untuk beraktivitas.

2) Penyebab dan kronologi keluhan : pada waktu kecil pasien

mengalami panas tinggi dan dibawa berobat dan akhirnya disuntik,

setelah disuntik deformitas pada tungkai pasien mulai muncul.

3) Diagnosis : pasien mengalami post polio paralysis.


94

4) Harapan pasien setelah mendapat penanganan OP : pasien

mendapatkan alat yang mudah dan tidak berat saat digunakan dan

pasien bisa lebih baik dalam beraktivitas sebagai penjahit.

d. Keadaan Ortosis yang pernah dipakai oleh Pasien : pada tahun 2001

pasien pernah menggunakan orthosis berupa braces besi yang saat

digunakan sangat berat, susah dan merusak Celana pasien sehingga

pasien sudah dari tahun 2004 tidak memakainya lagi hingga saat ini.

Pasien hanya memakai kruk sebagai alat bantu untuk beraktivitas

sehari-hari.

1. Objective Assessment

Dalam melakukan objective assessment penulis melakukan beberpa

pemeriksaan seperti berikut :

Gambar 3.2
Objective Assessment pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi, 2019)

a. Kondisi Deformitas Pasien (Inspeksi dan Palpasi) : hasil pemeriksaan

inspeksi adalah bahwa saat berjalan tanpa menggunakan kruk terdapat


95

hand thigh gait. Tungkai pasien mengalami atrofi, pada knee joint

terdapat hyperekstensi knee dan valgus knee, pasien memiliki

perbedaan panjang tungkai serta foot pasien juga mengalami eksternal

rotasi dan dropfoot. Saat di palpasi suhu tungkai pasien normal dan

pasien memiliki sensitivitas serta proprioception yang bagus.

b. Pemeriksaan Range Of Motion (ROM): dalam pemeriksaan ROM

dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan pemeriksaan pasif dan juga

pemeriksaan aktif. Hal ini karena terdapat beberapa pergerakan sendi

yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh pasien.

1) Pemeriksaan ROM pada hip joint pada tungkai kiri

Gambar 3.3
Pengukuran ROM fleksi hip joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,

2019)
96

Gambar 3.4
Pengukuran ROM ekstensi hip joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,
2019)

Gambar 3.5
Pengukuran ROM abduksi hip joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,
2019)
97

Gambar 3.6
Pengukuran ROM adduksi hip joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,
2019)

Tabel 3.1

Hasil ROM HIP Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN ROM

1 FLEKSI HIP 1100


2 EKSTENSI HIP 200
3 ABDUKSI HIP 500
4 ADDUKSI HIP 300
(Data Pribadi)
98

2) Pemeriksaan ROM pada knee joint pada tungkai kiri.

Gambar 3.7
Pengukuran ROM fleksi knee joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,
2019)
Tabel 3.2
Hasil ROM Knee Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas
NO GERAKAN ROM

1 FLEKSI KNEE 1300


2 EKSTENSI KNEE 00
(Data Pribadi)

3) Pemeriksaan ROM pada subtalar joint pada tungkai kiri

Tabel 3.3
Hasil ROM Subtalar Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN ROM

1 INVERSI 100
2 EVERSI 100
(Data Pribadi)
99

4) Pemeriksaan ROM pada ankle joint.

Gambar 3.8
Pengukuran ROM plantarfleksi ankle joint pada tungkai kiri (Dokumetasi
Pribadi, 2019)
Tabel 3.4

Hasil ROM Ankle Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN ROM

1 DORSALFLEKSI 150
2 PLANTARFLEKSI 500
(Data Pribadi)

c. Pemeriksaan Muscle Strength

Pasien mempunyai kekuatan otot yang lemah. Untuk itu

pemeriksaan MMT dengan posisi pemeriksaan MMT grade 0,1,dan 2.

Berikut adalah hasil dari manual muscle testing :


100

Gambar 3.9
Pengukuran MMT fleksi hip pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi, 2019)

Gambar 3.10
Pengukuran MMT ekstensi hip pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,

2019)
101

Gambar 3.11
Pengukuran MMT abduksi hip joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,
2019)
Tabel 3.5
Hasil MMT Hip Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN MMT

1 FLEKSI HIP 3
2 EKSTENSI HIP 1
3 ABDUKSI HIP 1
4 ADDUKSI HIP 2
(Data Pribadi)

Tabel 3.6
Hasil MMT Knee Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN MMT

1 FLEKSI KNEE 1
2 EKSTENSI KNEE 1
(Data Pribadi)
102

Gambar 3.12
Pengukuran MMT ankle joint pada tungkai kiri (Dokumetasi Pribadi,

2019)

Tabel 3.7

Hasil MMT Ankle Joint pada tungkai pasien yang mengalami deformitas

NO GERAKAN MMT

1 PLANTARFLEKSI 0

2 DORSALFLEKSI 0

(Data pribadi)

d. Pemeriksaan sensation kulit : hasil dari pemeriksaan sensasi kulit

pasien masih bagus. Pasien dapat membedakan mana benda yang

tumpul dan mana yang lancip.


103

Gambar 3.13
Pemeriksaan sensitivitas kulit pasien pada tungkai kiri (Dokumentasi
pribadi, 2019)
e. Pemeriksaan Propioception : pemeriksaan ini dilakukan dengan

mengerakan persendian pasien dan pasien diminta untuk menyebutkan

arah geraknya tanpa pasien melihatnya. Pasien mampu merasakan arah

gerak persendiannya sehingga tes proprioception dinilai baik.

Gambar 3.14
Pemeriksaan proprioception pada tungkai kiri (Dokumentasi pribadi,
2019)
104

f. Pemeriksaan stabilitas sendi :

1) Medial collateral ligament test : hasil pemeriksaan adalah Positif.

Yang artinya pasien mengalami kekenduran pada ligament medial

collateral.

Gambar 3.15
Pemeriksaan medial collateral ligament knee tungkai kiri (Dokumentasi
pribadi, 2019)
2) Lateral collateral ligament test : hasilnya adalah negative, yang

berarti pasien tidak mengalami kekenduran pada ligament lateral

collateral.

Gambar 3.16
Pemeriksaan lateral collateral ligament knee tungkai kiri (Dokumentasi
pribadi, 2019)
105

3) Anterior drower test : hasilnya negative, yang berarti pasien tidak

mengalami kekenduran ligament anterior cruciatum.

Gambar 3.17
Pemeriksaan anterior cruciatum ligament tungkai kiri (Dokumentasi
pribadi, 2019)

4) Posterior drower test : hasilnya positif, yang berarti bahwa pasien

mengalami kekenduran ligament posterior cruciatum.

Gambar 3.18
Pemeriksaan posterior cruciatum ligament tungkai kiri (Dokumntasi
pribadi, 2019)
106

g. Pemeriksaan deformitas lain : memeriksa deformitas lain yang dimiliki

pasien dengan bertanya kepada pasien. Dan hasilnya bahwa tidak terdapat

deformitas lainnya pada pasien.

h. Gait Assessment : saat berjalan pasien mengalami hand thigh gait, knee

hyperekstensi saat mid stance, dan foot eksternal rotasi.

i. Pemeriksaan Khusus

Dalam pemeriksaan khusus terdapat beberapa tes yang dilakukan

diantaranya yaitu:

1) Thomas test.

Tahapan Thomas test adalah :

a) Minta pasien berbaring di atas bed.

b) Meminta pasien untuk melakukan gerakan fleksi hip joint pada

tungkai yang sehat.

c) Ketika pasien memfleksikan hip joint secara penuh, terlihat pada

tungkai yang mengalami deformitas terangkat dari bad yang

membuktikan pasien mengalami kontraktur hip.

d) Selanjutnya menghitung drajat kontraktur dengan cara mengukur

sudut antara thigh dengan meja. Dalam pemeriksaan ini diketahui

pasien memiliki kontraktur hip joint sebesar 100.


107

Gambar 3.19
Thomas test & mengukur drajat contractur hip pada tungkai kiri
(Dokumentasi pribadi, 2019)
2) Pemeriksaan LLD adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk

mengetahui perbedaan panjang tungkai pasien. Cara pengukuran yaitu

hitung selisih panjang dari umbilicus ke medial malleolus pada kedua

tungkai. Setelah dilakukan pengukuran diketahui panjang tungkai

normal adalah 87 cm dan tungkai deformitas 84 cm ini membuktikan

bahwa pasien mengalami leg length discrepancy sepanjang 3 cm.

Gambar 3.20
Pemeriksaan LLD (Dokumentasi pribadi, 2019)
108

A. Kesimpulan Hasil Assessment

a. Diagnosis Ortotik Prostetik :

Subjek mengalami post polio paralysis pada tungkai kiri. Tungkai subjek

mengalami atrofi, contracture hip 10o, hyperekstensi knee, valgus knee, eksternal

rotasi dan terdapat pes cavus pada foot serta terdapat LLD 3 cm. Sensitifitas dan

proprioception baik. Kekuatan otot lemah, dan mengalami hand thigh gait jika

berjalan tidak menggunakan alat bantu kruk.

b. Prescription Ortotik Prostetik :

1) Orthosis yang sesuai untuk deformitas pasien berdasarkan hasil

diagnosis yaitu memberikan knee ankle foot orthosis dengan detail alat

yaitu desain posterior shall custome plastic, menggunakan komponen

sidebar dengan hyperektensi stop, drop lock knee joint, valgus strap,

rigid ankle joint, kompensasi LLD, dan menggunakan bahan plastik

Polipropyelen dengan ketebalan 4 mm.

2) Alasan menggunakan desain dan bahan ini karena Kafo memiliki

mekanisme kerja yang baik untuk mengkompensasi deformitas knee,

ankle dan foot. Pemberian desain posterior shell karena pemakaian

yang mudah, untuk drop lock knee joint diberikan karena kekuatan hip

ekstensor dan knee ekstensor ≤3 dan pasien mengalami hyperextensi

knee. Penggunaan valgus strap bertujuan untuk mengkoreksi valgus

pada knee. Pemberian rigid ankle karena pasien memiliki kekuatan otot

dorsalfleksi dan plantarfleksi yang lemah. Penambahan kompensasi

LLD menggunakan spons untuk menyamakan panjang tungkai saat mid


109

stance. Sedangkan pemilihan bahan PP 4mm karena bahan ini bersifat

kuat dan ulet.

B. Casting

Casting adalah cara membuat duplikat kaki pasien untuk memberikan

koreksi pada sebagian atau seluruh disfungsional knee, ankle foot ke dalam

alignment yang benar.

1. Langkah yang pertama adalah melakukan beberapa persiapan sebelum

melakukan proses casting. Persiapan itu adalah sebagai berikut :

a. Persiapaan alat terlebih dahulu yang meluputi bed, pensil air, ember,

gunting dan cutter, mid line, jangka bengkok, plastik alas, dan plastik

strip

b. Persiapan bahan yang diantaranya meluputi stocking casting, plastik

wrap, POP, air, tali rapia, dan blangko ukur.

c. Persiapan pasien atau mengintruksikan pasien untuk berbaring di bad

yang sudah disediakan yang sebelumnya sudah dialasi menggunakan

alas plsatik. Lalu lapisi tungkai pasien menggunakan plastik wrap dari

proximal hingga foot dan pakaikan stokinet casting pada tungkai

paasien.
110

Gambar 3.21
Persiapan casting : pelapisan plastic wrap pada tungkai kiri.
(Dokumentasi pribadi, 2019) .

Gambar 3.22
Persiapan casting : pemakaian stocking casting pada tungkai kiri
(Dokumentasi pribadi, 2019)
2. Teknik Pelaksanaan casting

a. Teknik penandaan.

Melakukan proses penandaan pada beberapa daerah di tungkai

terlebih dahulu agar mempermudah pengukuran. Bagian yang harus


111

ditandai meliputi : 1) tepat 4 cm dibawah perineum pada sisi medial, 2)

tepat 2 cm dibawah pirenium pada sisi lateral, 3) Trokantor mayor,4)

Adduktor tubercle, 5) Medial tibial plateu (MTP), 6) tepat ¼ Diantara

adductor tubercel dan MTP, 6) Head & neck of fibula, 7) tepat 2 cm di

bawah neck of fibula , 8) Distal tip of medial maleollus, 9) lateral

maleollus, 10) Navicular, 11) Base of metatarsal 1 dan 5, 12) area luka

(jika ada), dan 13) bone prominem.

Gambar 3.23
Penandaan pada trochantor tungkai kiri. (Dokumentasi pribadi, 2019)
112

Gambar 3.24
Penandaan pada Medial Tbia Plateu tungkai kiri. (Dokumentasi pribadi,
2019)

Gambar 3.25
Penandaan pada head of fibula tungkai kiri. (Dokumntasi pribadi, 2019)
113

Gambar 3.26
Penandaan pada calcaneus tungkai kiri. (Dokumentasi pribadi, 2019)

b. Teknik Pengukuran

Setelah penandaan lalu lakukan pengukuran sebagai berikut : 1)

Circumference 2 cm dibawah perineum sampai 4 cm dibawah trochanter,

2) Circumference mid thigh, 3) Circumference distal thigh, 4)

Circumference gastroc terbesar, 5) Circumference gastroc terkecil, 6)

Diameter malleolus medial-lateral, 7) Diameter medial-lateral knee joint,

8) Diameter anterior-posterior knee, 9) Distance medial & lateral maleolus

ke floor, 10) Distance knee axis ke floor dan 11) Distance trochantor ke

floor.
114

Gambar 3.27
Pengukuran diameter lingkar terbesar tungkai kiri. (Dokumentasi pribadi,
2019)

Gambar 3.28
Pengukuran jarak antara MTP ke floor tungkai kiri. (Dokumentasi pribadi,
2019)
Hasil Pengukuran:
1) Lingkar :
a) 2 – 3 jari dibawah perenium melingkar trochantor = 28 cm
b) Circumference mid femur = 23 cm
c) Circumference distal femur = 26,5 cm
d) Circumference terbesar gastroc = 18 cm
e) Circumference terkecil gastroc = 15 cm
2) Panjang/jarak :
115

a) Trochanter – floor = 74,5 cm


b) Perineum – floor = 63 cm
c) MTP – floor = 40,5 cm
d) Medial tip – floor = 9 cm
e) Panjang foot = 21 cm
3) Diameter :
a) Diameter knee A/P & M/L = 9 cm
b) Diameter ankle = 7,5 cm

c. Posisi pasien

Dalam proses casting ini posisi pasien dalam keadaan tidur

terlentang diatas bad karena pasien memiliki kekuatan otot yang lemah dan

juga tidak kuat jika berdiri terlalu lama.

d. Teknik casting

Teknik casting yang dilakukan adalah teknik pembalutan adalah

castingwrap dengan satu tahap dengan POP di rendam kedalam baskom

hingga tidak nampak gelembung-gelembung udara keluar dari POP,

selanjutnya pasangkan plastik strip dibagian anterior yang membentang dari

proximal hingga ujung foot, balutkan 3-4 lapis yang dimulai dari proximal

hingga distal. Pada bagian ankle/ tendon acilles di berikan 5-6 lapis hagar

lebih kuat dan tidak mudah patah saat rectifikasi negative cast.
116

Gambar 3.29
Proses casting : pembalutan POP dimulai dari bagian proximal pada
tungkai kiri (Dokumentasi pribadi, 2019)

Gambar 3.30
Proses casting : pembalutan dibagian thigh pada tungkai kiri (Dokumen
pribadi, 2019)
117

Gambar 3.31
Proses casting : pembalutan bagian tibia & fibula pada tungkai kiri

(Dokumen pribadi, 2019)

Gambar 3.32
Proses casting : pembalutan pada bagian ankle dan foot pada tungkai kiri

(Dokumen pribadi, 2019)


118

e. Teknik koreksi

Pengkoreksian yang dilakukan pada saat casting dilakukan pada

bagian yang mengalami deformitas. Pada saat casting penulis melakukan

pengkoreksian pada ankle dan foot untuk memposisikan foot dalam posisi

netral dengan cara memfiksasi pada subtalar joint dan memposisikan foot

900 tegak lurus terhadap tibia dan massage pada permukaan POP agar

menempel sempurna.

Menunggu POP hingga kering, lalu memberi tanda garis pada

dibagian mid anterior atau mid plastic strip dari atas kebawah dengan garis

interval 5 cm tegak lurus terhadap garis mid plastic strip. Selanjutnya buka

secara perlahan negative cast menggunakan cutter pada garis mid plastic

strip. Lalu lepaskan negative cast dari pasien dan bantu pasien untuk

membersihkan tungkainya.

Gambar 3.33
Posisi koreksi pada Ankle (Dokumentasi pribadi, 2019)
119

Gambar3.34
Memberi garis pada mid plastic strip untuk membuka negative cast
(Dokumentasi pribadi, 2019)

Gambar 3.35
Membuka perlahan negative cast menggunakan cutter (Dokumentasi
pribadi, 2019)
3. Evaluasi negative cast

Hasil dari proses casting adalah terbentuknya hasil cetakan atau

negative cast tungkai pasien. Pada negative cast terlihat bahwa penandaan

pada negative cast tidak tercetak dengan jelas untuk itu langkah awal yang
120

harus dilakukan adalah menandai ulang negative cast. Selain itu negative

cast pada bagian knee terlihat hyperekstensi. Dan solusi untuk mengatasinya

adalah dengan memotong bagian poplitea dan bagian patella pada negative

cast lalu memposisikan knee fleksi 50. Hal ini dilakukan untuk

mengkompensasi hyperekstensi pada knee pasien dan memposisikan seperti

anatomi tungkai normal.

Gambar 3.36

Proses penandaan ulang pada negative cast (Dokumentasi pribadi, 2019)


121

Gambar 3.37
Evaluasi negative cast dengan memposisikan knee fleksi 50 (Dokumentasi
pribadi, 2019)

C. Cast Rectifikasi

1. Tahap Persiapan. Mempersiapkan beberapa kebutuhan rectifikasi yang

meliputi :

a) Mempersiapkan alat yang meliputi : tangkai besi kafo, penjepit tangkai

besi, ember, surform / patar setengah lingkar, surform/ patar lingkaran,

jangka bengkok, jangka sorong, gergaji besi, paku kecil 4mm, paku

beton, alas plastic, mangkuk, spatula, sikat besi,dan kuas.

b) Mempersiapkan beberapa bahan yang meliputi : POP roll, powder gips,

kawat kasa, spons, tangkai besi, sabun, dan negative cast / benda kerja.

2. Proses Rectifikasi

a) Pre rectifikasi / filling.

Langkah – langkah melakukan filling adalah :


122

1) Memastikan bahwa penandaan dan koreksi negative cast sudah

tepat.

2) Menutup sambungan bagian anterior. Sebelum menutup

sambungan bagian anterior, terlebih dahulu memasukan tangkai

besi yang panjangnya melebihi negative cast kira- kira 10-15 cm

dengan bagian bawah tangkai besi melengkung mengikuti kontur

dari foot.

Gambar 3.38
Memasukan tangkai besi dan menutup bukaan anterior (Dokumentasi
pribadi, 2019)

3) Memastikan bahwa penyambungan pada bagian anterior sudah

baik dan melihat apakah terdapat daerah-daerah yang tipis, dsini

terlihat bahwa pada bagian mid thigh masih terdapat daerah yang

tipis, lalu penulis membalutkan lagi menggunakan POP agar pada

waktu pengecoran tidak terjadi kebocoran


123

4) Selanjutnya menuangkan air sabun ke dalam negative gips secara

merata dan apabila terdapat busa dapat di bilas atau dihilangkan

terlebih dahulu dari negative gips.

5) Lalu membuat adonan gips dari campuran air dan powder gips

sesuai dengan kebutuhan. Biasanya supaya adonan cukup, sebelum

negative cast diberi air sabun, tuangkan air setengah dari negative

cast lalu masukan ke dalam ember. Air ini yang menjadi takaran

pembuatan adonan.

6) Menuangkan adonan gips ke dalam negative cast yang telah

ditanam didalam bak pasir dan memastikan tangkai besi benar-

benar tegak lurus. Selanjutnya menunggu sampai adonan dalam

negative cast kering.

Gambar 3.39
Proses filling (Dokumentasi pribadi, 2019)
124

3. Prosedur rectifikasi.

1) Lepaskan negative cast dan membersihkan positive gips dari kasa yang

menempel.

2) Menandai ulang pada positive gips, agar mudah saat melakukan

penambahan dan pengurangan.

Gambar 3.40
Proses pelepasan negative cast dari positive gips (Dokumentasi pribadi,
2019)
3) Cek ukuran pada positive gips dan membandingkan pada blangko ukur.

Mencatat setiap perbedaan ukuran yang didapatkan.


125

Gambar 3.41
Process cek ukuran positive gips (Dokumentasi pribadi,2019)

4) Rectifikasi bagian foot dan ankle : (1) Meratakan bagian heel dan

forefoot sehingga alignment dapat dicapai dengan menggunakan flat

surform (2) pastikan metatarsal head dan heel base sejajar pada bidang

coronal dan sagittal sehingga positive gips dapat berdiri stabil pada

permukaan yang rata, (3) membentuk dan memadukan medial

longitudinal arcus dan lateral logitudinal dengan menggunakan half

round surform mengikuti bentuk medial longitudinal arcus yang sudah

dibentuk pada saat casting arcus, (4) foot dan ankle diperlukan

penambahan pada bony prominance dan bagian pinggirnya sehingga

bagian tidak menekan pada area sensitifnya, (5) penambahan plaster

pada bagian toes kurang lebih 1,5 cm dan dipastikan bahwa final ortosis

lebih besar daripada foot saat weight bearing serta ortosis di trimline

pas agar tidak meleset disekitar dalam sepatu, dan (6) beri penambahan

pada medial dan lateral malleolus dengan mempertahankan bentuknya.


126

Gambar 3.42
Rectifikasi pada foot and ankle (Dokumentasi pribadi, 2019)
5) Modifikasi bagian tungkai bawah : Daerah betis memiliki otot yang

besar yaitu Gastrocnemius di bagian posterior. Bagian ini perlu

dirapikan dan diratakan.

6) Modifikasi bagian Femur : Biasanya ada pengurangan pada daerah

yang diukur diameternya sebanyak 1-2 cm untuk memberikan

kestabilan thigh pada kafo.


127

Gambar 3.43
Mengurangi bagian lingkar femur (Dokumentasi pribadi, 2019)

7) Menentukan mechanical axis knee. Mechanical knee axis ini digunakan

untuk axis knee pada sidebar. Cara untuk menentukan mechanical knee

axis adalah (1) menempatkan positive gips pada lantai yang rata, (2)

sesuaikan tinggi MTP (medial tibia plateu) ke floor, ketika diplumb line

TKA line akan jatuh di mid of patella dan antara jari 1 dan ke 2 foot,

mechanical axis berada di 2 cm proximal MTP dari pandangan anterior,

lalu beri tanda garis. Dari garis tersebut ukur diameter A-P lalu dibagi

2 dengan presentase 60% anterior dan 40% posterior. Setelah knee axis

telah ditentukan lalu memaku knee axis di atas dengan menggunakan

paku beton sebagai tanda. Knee axis ini harus sejajar dilihat dari

berbagai penampang.
128

Gambar 3.44
Proses menentukan mekanical knee axis ( Dokumentasi pribadi, 2019)

8) Pembuatan box pada thigh suction dan afo suction pada bagian anterior.

Box ini digunakan untuk batas pemotongan trimline agar memudahkan

tungkai pasien masuk ke dalam kafo. Pembuatan box ini dengan cara :

berikan penambahan adonan gips pada bagian tepi anterior pada setiap

suction dengan ketinggian sama dengan batas puncak setiap section,

setelah itu rapikan setiap permukaan positif gips.


129

Gambar 3.45
Pembuatan box pada bagian anterior (Dokumentasi pribadi, 2019)

Gambar 3.46
Pembuatan box pada bagian posterior / poplitea area (Dokumentasi
pribadi, 2019)
j. Evaluasi Positive cast

Hasil setelah hasil filling di buka : Bagian heel pada positif gips

tidak terbentuk sempurna / cekung, solusinya adalah memberi

penambahan pada heel yang cekung dan disamakan tingginnya dengan


130

head of metatarsal 1. Arcus longitudinal kurang cekung, sedangkan pasien

memiliki pes cavus, solusinya adalah menguranginya sedikit agar pes

cavus bisa terkompensasi. serta foot terlihat terlalu eksternal rotasi karena

kurangnya koreksi pada foot, solusinya adalah pengurangan pada lateral

forefoot dan penambahan pada medial forefoot hingga sejajar dengan

bagian heel sisi medial.


131

D. Fabrikasi

1. Tahap Persiapan. Mempersiapkan beberapa kebutuhan rectifikasi yang

meliputi :

a. Mempersiapkan alat yang meliputi : gunting, pengaris besi, jigsaw,

cast cutter, iron bending horizontal & vertical, palu besi, palu karet,

paku kecil 4 mm, gergaji besi, gerinda, spidol, oven, mesin suction,

cutter, hand glove, dan pengaris siku, .

b. Mempersiapkan beberapa bahan yang meliputi : spons, plastic wrape,

stoking moulding kafo, plastic PP 4 mm, lakban besar, kain kasa, tiner.

c. Komponen yang perlu disiapkan adalah 1 pasang sidebar dural 4 mm

droplock knee joint.

2. Tahapan pembuatan ortosis ;

a. Persiapan moulding terlebih dahulu dengan cara: 1) membungkus

positif gips menggunakan plastik wrap, 2) lalu lapisi menggunakan

stoking moulding kafo, 3) selanjutnya buat rainforce pada bagian ankle

dengan bentuk persegi panjang dengan ukuran 1 cm x 7 cm dipasang

sejajar dengan tendon acilles pada positif gips dan rainforce dibawah

malleolus dengan ukuran 1 cm x 7 cm.


132

Gambar 3.47
Persiapan Moulding : Melapisi positive gips menggunakan plastic wrape
(Dokumentasi pribadi, 2019)

Gambar 3.48
Persiapan Moulding : melapisi positive gips menggunakan stocking moulding
(Dokumentasi pribadi, 2019)

Gambar 3.49
Persiapan Moulding : Membuat rainforce pada bagian tendon acilles
(Dokumentasi pribadi, 2019)
133

b. Persiapkan plastic polypropilen dengan ukuran yang didapatkan dari:

Mengukur panjang positive gips dari posterior sampai distal (dilebihkan

10cm) dan mengukur circum positif gips terbesar (dilebihkan 5cm).

c. Potong plastic PP sesuai ukuran diatas menggunakan jigsaw.

d. Letakkan positive gips pada ragum.

Gambar 3.50
Meletakan positif gips pada mesin suction yang telah di tangem pada
ragum (Dokumentasi pribadi, 2019)
e. Masukan plastic PP yang sudah dibersihkan dari debu kedalam oven yang
telah disetting dengan suhu 200o
f. Setelah bening seperti kaca, keluarkan PP dari dalam oven dan letakan ke

positive cast dengan hati-hati.

Gambar 3.51
Meletakan plastik Polipropylene yang telah dioven & berwarna bening diatas
positif gips (Dokumentasi pribadi, 2019)
134

g. Setelah diletakkan pada positive cast, lalu merekatkan sambungan plastic

dibagian bawah dan pastikan pada bagian foot plastic tidak terlalu tipis,

selanjutnya tali pada bagian atas dengan kencang. Lalu hidupkan mesin

suction.

Gambar 3.52

Proses melekatkan plastik Polipropylene dengan hati-hati (Dokumentasi

pribadi, 2019)

h. selama suction membentuk kontur dari positive gips, pastikan bahwa

semua bagian kafo terbentuk rapi tanpa ada lipatan plstik dan, potong

bagian perekatan yang tersisa.

i. Setelah kontur terbentuk, langkah selanjutnya adalah mematikan.suction

dan lepaskan kafo dari ragum.


135

Gambar 3.53
Hasil dari proses moulding (Dokumentasi pribadi, 2019)

j. Mengambar trimline pada benda kerja sesuai dengan desain yang akan

dibuat. Pastikan trimlen sejajar antara bukaan kanan dan kiri. Trimline

pada bagian anterior thigh saction adalah dari proximal turun ke distal

thigh (mencakup ¾ thigh dilihat dari lateral) lalu kebelakang naik sampai

diatas poplitea area kira-kira 5-10 cm. Pada bagian tibia section bukaan

anterior dibawah patella kurang lebih 5-10 cm lalu kebawah dan pada

ankle joint trimline terdapat di depan maleollus lalu berlanjut ke ujung jari-

jari kaki. Sedangkan bukaan posterior di bawah poplitea 5-10 cm.

k. Langkah selanjutnya membending sidebar dengan cara : 1) KAFO yang

telah di moulding diletakkan pada permukaan yang rata agar axis knee joint
136

tetap sama dan sejajar, 2) mengambar garis aligment pada Kafo dengan

membagi sisi medial lateral 50:50, lalu beli garis tegak lurus dengan garis

bagi medial lateral dipertengahan box poplitea area, 3) Menandai sidebar

untuk titik pembendingan yaitu dengan jarak 7-8 cm dari titik axis untuk

pembengkokan ke dalam dan setelahnya mengikuti bagian yang sudah

menempel, melakukan ini pada ke dua sidebar, 4) Membending sesuai

dengan contour plastik KAFO sampai menempel, 5) Setelah sidebar

sesuai dan menempel pada kontur, maka selanjutnya meyesuaikan panjang

sidebar. Sidebar terlalu panjang maka dilakukan pemotongan

menggunakan gergaji besi dan menghaluskan pada ujungnya, 6) lalu

menggambar sidebar yang sudah sesuai kountur dan panjangnya agar

mempermudah proses pemasangan, 7) Menentukan titik pengeboran pada

sidebar/melakukan penandaan pada sidebar pada bagian proximal thigh

yaitu pada 2 cm dibawah tepi atas sidebar, bagian distal thigh titiknya

terletak pada bagian sidebar yang pertama menyentuh KAFO hasil

moulding, bagian proximal calf terletak pada sidebar yang pertama kali

menyentuh mouldingan, bagian distal calf titiknya terletak pada 2 cm

diatas tepi bawah sidebar.


137

Gambar 3.54
Proses bending sidebar : hasil sidebar yang telah sesuai dengan kontur kafo

(Dokumentasi pribadi, 2019)

l. Langkah terakhir dari fabrikasi adalah potong benda kerja sesuai dengan

trimline menggunakan cast cutter, sehingga didapat thigh section dan

Afo/tibia section, lalu lepaskan PP dari positif gips dan rapikan trimline

menggunakan router atau jigsaw.

Gambar 3.55

Hasil dari thigh section dan afo section (Dokumentasi pribadi, 2019)
138

3. Evaluasi Ortosis
Hasil dari proses moulding adalah suction bekerja dengan maksimal
sehingga kontur perbentuk baik, tetapi pada bagian ankle plastic terlipat dan
solusinya adalah merauter bagian lipatan agar terlihat lebih rapi.
E. Alignment
1. Tahap Persiapan. Hal – hal yang perlu dipersiapkan saat alignment adalah :
a. Persiapan alat yang meliputi : kunci pas, penitik, palu besi, alat bur,
obeng +, gunting, cuter, pengaris besi, palu karet, dan head gun.
b. Persipan bahan yang meliputi ; spons, lem, anti slip, dan mur & baut
ukuran 4 mm.
c. Persipan komponen 1 pasang sidebar droplock knee joint yang telah
dibending.
2. Membuat kompensasi LLD dengan cara :1) Mengukur spon untuk

membuat kompensasi pes cavus lalu dipotong, 2) lalu mengkasari bagian

spon dan diberi lem bagian spons dan PP, 3) panaskan spon dengan

menggunakan heatgun, 4) pasangkan spon ke bagian longitudinal arcus,

dan lalukan hal yang sama sampai lapis spon pada arcus sejajar dengan

heel foot dan forefoot pada ortosis, 5) selanjutnya merapikan sesuai

bentuknya dengan router. Jika arcus telah terbentuk, selanjutnya membuat

kompensasi LLD, 6) siapkan spon ukuran 5 mm, lalu gambar atau tracing

bagian foot pada spon, gunting spon mengikuti tracing lalu buat beberapa

buah sesuai dengan ketinggian LLD, 7) lalu kasari bagian yang akan

disatukan antara kedua spon tersebut dan beri lem secara merata, 8)

selanjutnya panaskan mengunakan heatgun, lalu tempelkan satu persatu

pada foot orthosis dan yang terakhir adalah rapikan menggunakan router

dengan hati-hati.
139

Gambar 3.56
Proses pembuatan kompensasi LLD (Dokumentasi pribadi, 2019)

a. Alignment orthosis (bench alignment) dengan cara sebagai berikut :

1) Melubangi sidebar yang telah ditandai menggunakan penitik saat

pengepasan pada PP tadi menggunakan bor.

Gambar 3.57
Proses melubangi sidebar (Dokumentasi pribadi, 2019)

2) Lalu tempelkan sidebar pada PP dan tandai lubang pada sidebar

ke plastik PP.

3) Lalu lobangi juga plastik PP menggunakan bor.


140

4) Jika semua telah dilobangi lalu satukan sidebar dengan plastik PP

menggunakan baut dan rapikan.

5) Memastikan bahwa mechanical axis knee joint berada pada 2 cm

diatas medial tibial plateu dan 60% anterior dan 40% posterior

knee, serta knee joint harus parallel pada kedua sisi.

6) Periksa dari pandangan lateral alignmentnya yaitu dari ankle

joint garis alignment jatuh di tengah malleolus lateralis, pada

knee joint berada di 1,5 – 2 cm diatas medial tibial plateau dan

membagi dua bagian yaitu anterior 60% dan posterior 40%.

Alignment dilihat dari pandangan anterior yaitu pada foot jatuh di

antara sela-sela phalange 1 dan 2, pada knee joint jatuh di 1,5 – 2

cm di atas medial tibial plateau, dan tepat pada mid patella.

Gambar 3.58
Rangkaian kafo anterior view untuk tungkai kiri (Dokumentasi pribadi, 2019)
141

Gambar 3.59
Rangkaian kafo posterior view untuk tungkai kiri (Dokumentasi pribadi,
2019)

Gambar 3.60
Rangkaian kafo medial view untuk tungkai kiri (Dokumentasi pribadi, 2019)
142

Gambar 3.61
Rangkaian kafo lateral view untuk tungkai kiri (Dokumentasi pribadi, 2019)

F. Fitting
1. Tahapam Persiapan:

a. Siapkan terlebih dahulu alat yang akan digunakan seperti : gunting,

solasi besar, spidol, kunci pas, head gun, lem, dan spons,

b. Lalu siapkan kafo yang akan di fittingkan kepada pasien. Pastikan kafo

terrangkai sesuai aligment dan segala permukaan kafo aman digunakan

oleh pasien.

c. Selanjutnya adalah mempersiapkan pasien yang akan melakukan proses

fitting. Jelaskan terlebih dahulu prosedur fitting yang akan dilakukan

oleh pasien.

2. Proses fitting kafo

a. Lakukan static alignment.

Hal yang harus dilakukan saat static alignment adalah :


143

1) Memasangkan Knee ankle foot orthosis. Lalu kencangkan

menggunakan isolasi besar (sebagai penganti strap) dengan

melapisi spons terlebih dahulu pada bagian yang akan di beri

isolasi agar tidak kontak langsung dengan kulit pasien.

Gambar 3.62
Proses static alignment : memakaikan kafo dengan hati-hati
(Dokumentasi pribadi, 2019)
2) Cek semua trimline pada bagian posterior apakah area popliteal

terjepit / tidak.
144

Gambar 3.63
Proses static alignment : Cek trimline saat berdiri (Dokumentasi
pribadi, 2019)

3) Cek bagian anterior apakah trimline anterior terlalu panjang

ataupun longgar.

4) Meminta pasien untuk berdiri dan cek tinggi ortosis. Apakah

kompensasi sudah sesuai dengan tungkai yang mengalami

deformitas.

5) Mengecek ketepatan knee axis apakah sudah pas dengan knee axis

pasien, dan cek apakah Lock pada Knee joint berfungsi normal.

6) Meminta pasien untuk duduk untuk mengecek trimline bagian

posterior apakah trimline bagian posterior terjepit atau tidak.


145

b. Lakukan dynamic alignment

Hal yang harus dilakukan saat dynamic alignment adalah :

1) Intruksikan kepada pasien untuk berjalan diantara parallel bar.

2) Melihat pola jalan pasien, apakah lebih baik saat menggunakan

kafo atau tidak.

3) Pastikan bahwa starp terikat kuat saat digunakan untuk berjalan

Gambar 3.64
Proses dynamic fitting : berjalan diantara parallel bar menggunakan
kafo (dokumentasi pribadi, 2019)
c. Evaluasi fitting

Hasil fitting pertama adalah pada bagian ankle terlalu sempit,

solusinya merauter trimline pada ankle agar lebih longgar. Karena

terlalu valgus dan bendingan sidebar kurang tinggi, menyebabkan

knee pada bagian medial terlalu menempel dengan knee joint pada

sidebar, solusinya adalah menerapkan 3 point pressure dengan cara

memberikan ganjalan pada bagian medial wall pada kafo agar

mendorong knee ke lateral sehingga knee tidak menyentuh sidebar.

Hasil fitting kedua adalah kompensasi LLD yang terlalu tebal

sehingga menyebabkan tungkai deformitas lebih panjang daripada


146

tungkai normal, solusinya adalah mengurangi ketebalan dari spons

dengan cara dirauter. Lalu saat digunakan berjalan pasien merasa

ingin terpental kebelakang saat fase push off, hal ini karena roll over

pada kompensasi LLD yang kurang, solusinya adalah merauter bagian

forefoot lebih landau.

d. Finishing

Proses finishing biasanya dilakukan dengan : (1) merapikan

ortosis dan menghaluskan trimline, (2) memastikan semua baut sudah

permanen atau kencang, (3)membersihkan ortosis jika ada bekas

spidol/tanda, (4) mengkeling baut bagian Knee joint dan baut pada

ortosis, (5) Menempelkan spon berbentuk lingkaran pada kepala baut,

(6) membuat dan menempelkan spon pada strap, (7) membuat dan

menempelkan spon pada bagian dalam Ankle joint.

e. Edukasi Pasien

Ortotis sebaiknaya memberikan edukasi kepada pasien

mengenai cara pemakaian ortosis serta cara perawatan dan

penyimpanannya. Penting untuk memberitahu kepada pasien agar

dalam penggunaan ortosis harus disertai dengan kemauan untuk dapat

kembali berjalan dengan pola jalan yang baik, karena dengan pola

jalan yang baik dapat memberikan suatu parameter keberhasilan

dalam program pembuatan ortosis tersebut, maka dari itu edukasi

tentang bagaimana cara latihan jalan yang baik harus diterapkan selalu

kepada penderita. Edukasi selanjutnya yaitu cara perawatan ortosis


147

antara lain adalah bila ortosis sedang tidak digunakan, maka ortosis

disimpan di tempat yang cukup kering dan tidak lembab serta cukup

cahaya, lalu bersihkan ortosis cukup dengan di lap dengan kain saja.

Cara pemakaian KAFO adalah dengan membuka setiap strap,

meluruskan tungkai pasien kemudian ortosis di posisikan lurus dan

dalam posisi terkunci. Setelah ortosis sudah di kenakan, pastikan strap

terikat dengan kencang. Dan apabila terjadi ketidaknyamanan,

perubahan atau kerusakan pada alat ortosisnya supaya bisa datang

kembali untuk menemui ortotis prostetis agar bisa mengerti masalah

yang terjadi pada alatnya dan dapat diperbaiki kembali.