Anda di halaman 1dari 1

Teks cerpen.

Sebuah Rasa yang Terpendam

Jatuh cinta pada seseorang tidak harus melihat seberapa sempurna fisik orang tersebut,
seberapa lama kita mengenalnya, seberapa cantik paras wanita tersebut, dan seberapa tampan
wajah pria tersebut. Semua kriteria itu terhempas tak berguna ketika Tuhan berkehendak lain. Jatuh
cinta pada seseorang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Hmm ya! Seperti yang sedang aku rasakan
sekarang.

Aku Agnes, siswi kelas IX di sekolah menengah pertama yang cukup terkenal di Surabaya.
Awal kenaikan kelas IX aku merasa biasa-biasa saja terhadap adik kelas. Tapi, setelah beberapa
bulan aku menjadi kakak kelas, perasaanku menjadi berbeda kepada satu diantara adik kelas
bernama Ray. Awalnya, aku bertemu dengan Ray secara tidak sengaja di sebuah tempat bimbel
matematika. Waktu itu sekitar pertengahan bulan oktober. Dihari itu aku bimbel matematika
bersama sahabatku Tania. Awalnya, aku dan Tania saling bersenda gurau disitu. Tetapi tiba-tiba ada
2 orang cowok yang masuk dan mengagetkan kami berdua. Seketika, aku dan Tania langsung diam
dan tidak melanjutkan gurauan kami. Empat puluh lima menit kemudian, aku dan Tania
memutuskan untuk pulang karena aku sudah tidak konsentrasi karena kedua cowok tersebut.

Ditengah perjalanan, aku dan Tania membahas tentang 2 cowok yang ku temui tadi di les.
“Eh Tan, kamu tadi ngerasa ada yang beda gak sih, gara-gara les hari ini?”
“Ah enggak tuh, biasa aja. Emang kenapa?” sahut Tania.
“Aduh.. aku nggak tahu nih, aku ngerasa beda aja gara-gara 2 cowok tadi.” Balasku.
“Kamu kenapa sih? Suka ya sama mereka?”. Ucap Tania
“Ah, ya enggak lah. Aku aja nggak kenal sama mereka. Eh, tapi aku tadi nggak sengaja lihat
buku paket matematika cowok yang baju kuning lho, di buku itu ada tulisan Ray 8F. Mungkin nama
dia Ray kali ya Tan”. Ucapku
“Ya ampun... sampai segitunya ya memperhatikan mereka. Jangan-jangan kamu suka ya
sama yang baju kuning? Kenalan gih sana. Ngomong-ngomong aku kayak pernah lihat cowok yang
baju kuning di sekolah, dia emang kelas delapan”. Cakap Tania
Sedangkan, aku hanya tersenyum mendengar ucapan Tania yang seperti itu.

Keesokan harinya, seperti biasa aku dan Tania berangkat ke sekolah dengan bersepeda.
Ditengah perjalanan, aku dan Tania kembali membahas tentang Ray semalam.
“Nes”. Sapa Tania
“Apa Tan?”. Jawabku
“Gak jadi deh, hehe”. Ucapnya
“Duh, kebiasaan deh, kalo ngomong setengah-setengah”. Ucapku dengan nada yang sedikit
meninggi
“Hehe.. maaf dong Nes, masa gitu aja marah sih”. Ujarnya
“Siapa juga yang marah