Anda di halaman 1dari 4

The Story of Me

Dhaifina Azimatunisa itulah nama lengkap saya. Teman saya biasa memanggil
Fina, namun ada juga yang iseng-iseng memanggil saya dengan sebutan Dai. Namun itu
tidak masalah silahkan panggil saya sesuai keinginan saja. Saya lahir pada tanggal 07 mei
1998 di Majalengka.

Saya terlahir dari keluarga sederhana. Ayah saya bernama Deni Susiyanto dan ibu
saya bernama Ai Iim Maryam. Kedua orang tua saya bekerja sebagai guru disebuah
sekolah Madrasah Tsanawiyah. Dalam keluarga, saya adalah anak sulung yang
mempunyai dua orang adik. Imam Hibatul Haqi, adik laki-laki saya yang sekarang
berumur 14 tahun. Adik perempuan saya bernama Faizia Camila dan sekarang baru
berumur 6 tahun. Kami tinggal di kota majalengka, lebih tepatnya di RT.10 RW.01, desa
Cigaleuh, kecamatan lemahsugih, kabupaten majalengka.

Hobi saya berolahraga bulu tangkis, tapi itu tidak berlanjut sampai sekarang.
Setelah berhenti dari bulu tangkis, saya jadi suka bermain catur. Ketika hari libur saya
selalu bermain catur bersama keluarga, biasanya adik laki-laki saya. Namun setelah
sekian lama, bermain catur agak sering berkurang. Pada akhirnya saya berfikir
sebenarnya hobi itu tidak akan berlangsung statis selamanya. Saya termotiasi dari
kutipan sebuah buku yang mengatakan bahwa “jadikanlah belajar sebagai hobi, karena
belajar diperlukan dan bermanfaat setiap saat” itulah yang membuat saya tidak terlalu
memikirkan tentang hobi.

Pada tahun 2004 saya mulai memasuki bangku Sekolah dasar. Saat itu saya
bersekolah di SDN Cigaleuh 1. Dari mulai kelas 4 SD saya aktif mengikuti lomba, kalua
dulu namanya itu porseni. Dalam bidang olahraga, saya pernah ikut serta dalam lomba
bulutangkis dan volley bal. Kelas 5 saya masuk tim CCPAI (Cerdas Cermat Pendidikan
Agama Islam) dengan dua teman laki-laki saya. Ditingkat rayon tim kami unggul dan
mendapat juara 1, kami mewakili rayon kami untuk tingkat kecamatan. Hasil belajar yang
giat, tim kami mendapat juara 1 kembali ditingkat Kecamatan dan mendapat kepercayaan
untuk mewakili kecamatan ketingkat Kabupaten. Selama di SD alhamdulillah saya
mendapat prestasi, walaupun hanya masuk peringkat dua besar. Hanya sekali saya
mendapat peringkat pertama hingga akhirnya lulus pada tahun ajaran 2009/2010.
Setelah itu, pada tahun 2010 saya melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih
tinggi di MTs. Assalam Lemahsugih. Sejak MTs inilah prestasi saya meningkat dan selalu
mendapat peringkat pertama di kelas. Awal masuk MTs saya duduk di kelas VII A,
kemudian naik ke kelas VIII B dan terakhir kelas IX A. Awal kelas VII saya diberi
kepercayaan untuk mengikuti Olimpiade PAI. Tahun-tahun berikutnya juga diberi
kesempatan untuk mengikuti Olimpiade, kelas VIII pada mata pelajaran Fisika dan
terakhir kelas IX mata pelajaran PAI kembali. Namun dari ketiga kali ikut serta olimpiade
itu tidak satupun lolos dari Kabupaten.

Itu membuat saya sangat down, namun kembali berfikir positif mungkin usaha
saya masih belum optimal. Maka dari itu saya harus berusaha untuk lebih giat lagi belajar.
Pengalaman yang sangat mengerikan ketika porseni tingkat SLTP saya pernah ditunjuk
untuk mengikuti lomba pidato Bahasa inggris. Pertama, ini bukan keinginan saya sendiri,
kedua untuk persiapan dan latihan sangat kurang. Hasilnya memang tidak terlalu buruk,
tapi menurut saya sendiri itu sangat mengerikan.

Pada tahun 2012/2013 saya lulus dari sekolah tersebut dan melanjutkan ke SMAN
1 Bantarujeg. Sejak awal masuk SMA, guru-guru selalu bertanya dengan pertanyaan yang
sama. Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang asing, melainkan pertanyaan yang sering
didengar namun seakan sulit untu menjawabnya dengan penuh keyakinan. “Apa cita-cita
kalian?” itulah pertanyaan yang dilontarkan hampir semua guru pada murid baru jenjang
SMA. Terkadang hari ini saya menjawab ingin menjadi itu, kemudian dihari yang lain
saya ingin menjadi ini. Inilah yang sangat menyulitkan. Entah alasan apa yang pada
akhirnya saya berkata “saya ingin menjadi guru, ini benar!”.

Menjelang kenaikan kelas XI, saya memilih untuk masuk jurusan IPA. Alasannya
karena saya sangat menyukai pelajaran-pelajaran tentang alam dari pada ilmu-ilmu
sosial. Sebelum itu, kami para siswa yang telah lulus dari kelas X dihampiri tes untuk
mengetahui dimanakah sebenarnya kami berpotensi. Alhasil setelah tes, diumumkanlah
pembagian kelas dan saya duduk di kelas XI IPA 1.

Lain dari jenjang MTs., di SMA saya sangat tertarik dengan yang namanya
organisasi. Kemudian saya memilih untuk mengikuti ekstrakulikuler di antaranya yaitu
Paskibra dan PKS. Sebenarnya saat MTs. pun ikut serta dalam OSIS dan Pramuka
(dewan penggalang), namun saat itu tujuannya hanya sebagai tambahan waktu untuk
lebh mendapat banyak teman.

Setelah semester 2 di kelas X, organisasi siswa intra sekolah (OSIS) mengadakan


perekrutan untuk pengurus baru. Saya mendaftarkan diri namun malah masuk
kepengurusan MPK. Dalam kepengurusan MPK, setelah kenaikan jabatan angkatan
kami, saya ditunjuk menjadi sekretaris MPK. Dan itu adalah pengalaman yang sangat
berharga, Karena dengan jabatan itulah saya jadi mengetahui sedikit demi sedikit tentang
bagaimana administrasi dalam sebuah kepengurusan organisasi.

Setelah naik ke kelas XII IPA 1, semua terkait kepengurusan organisasi diserahkan
pada adik kelas. Setelah menjadi murid tingkatan tertua tentu kami fokus pada
pembelajaran untuk UN nanti. Serangkaian ujian pun menghampiri ketika duduk di kelas
XII semester akhir. Puncaknya saya mengikuti UN pada bulan April. Setelah UN selesai
rasanya beban sedikit berkurang dan tinggal memikirkan bagaimana hasilnya. Pada
tanggal 07 mei 2016 diumumkanlah hasil sekolah selama 3 tahun. Prestasi yang saya
dapatkan cukup meskipun tidak begitu memuaskan karena hanya masuk peringkat ke-3
di jurusan IPA.

Setelah lulus dari SMA itulah masa-masa yang sangat mengguncangkan, selalu
terpikirkan hendak kemana pendidikan ini berlanjut. Sebenarnya saya mengikuti
pendaftaran seleksi SNMPTN, namun tidak lolos. Di sekolah waktu itu hanya beberapa
orang yang lolos lewat seleksi SNMPTN. Saya tidak mengikuti seleksi jalur SBMPTN,
karena saat itu orang tua saya menyarankan untuk masuk Universitas Galuh Ciamis. Saya
mencoba mendaftar lewat jalur nilai (PMDK) kemudian diterima. Alhasil sekarang saya
menjadi mahasiswa di Universitas Galuh Ciamis. Lebih tepatnya mahasiswa kelas 1/C
program studi Pendidikan Biologi Universitas Galuh Ciamis.

Dari dulu saya sangat mengidolakan Nabi Muhammad SAW dan Baharudin Jusuf
Habibie. Idola pertama saya Nabi Muhammad SAW., itu sudah tidak perlu dipaparkan
bagaimana sifat, perilaku dan kehidupannya. Sudah jelas beliau adalah utusan Allah yang
jelas-jelas memiliki gelar Uswatunn Hasanah. Tetapi berbeda dengan Baharudin Jusuf
Habibie, beliau adalah seorang manusia biasa. Namun ada hal tertentu yang membuat
saya sangat mengaguminya, dari segi kecerdasannya, sikap dan perilakunya, juga
semangatnya yang tidak pernah menyusut. Disamping IQ nya yang tinggi, ternyata beliau
adalah sosok yang taat beribadah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat tahajud, tidak
pernah lupa bersedekah, dan selalu berusaha menjaga kesehatan dengan rajin berpuasa
senin-kamis. Dan akhirnya saya ingin mencoba apa yang beliau lakukan.