Anda di halaman 1dari 87

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kasus pelaporan akuntansi mengenai tindakan manajemen laba telah

banyak terjadi, contohnya yaitu seperti pada kasus di Amerika Serikat yakni Enron,

Merck, World Com, dan lain-lain. Selain di Amerika Serikat tentunya di Indonesia

juga terdapat kasus mengenai tindakan manajemen laba yaitu seperti pada PT.

Kimia Farma Tbk, PT. Lippo Tbk, dan lain-lain yang terdeteksi adanya manipulasi

laba dengan melibatkan pelaporan keuangan (Boediono, 2005). Kasus keuangan di

perusahaan tersebut mengakibatkan kegagalan dalam integritas laporan keuangan

perusahaan sehingga hal ini berguna untuk memenuhi kebutuhan informasi para

pengguna laporan. Pada umumnya manajemen laba merupakan penyajian laba di

laporan keuangan yang tidak sebenarnya disajikan tentang kondisi ekonomi

perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan informasi untuk

mendukung pengambilan keputusan. Apabila informasi yang disajikan dapat

memenuhi kebutuhan stakeholders, maka tindakan manajemen laba dapat

diminimalkan serendah mungkin (Boediono, 2005). Artinya, jika perusahaan

dengan laba yang rendah maka perusahaan akan melakukan tindakan manajemen

laba.

Manajemen laba merupakan masalah dalam perusahaan yang sering terjadi

pada lingkungan bisnis. Awal mula terjadinya kasus manajemen laba sering terjadi

akibat konflik kepentingan antara pemilik dengan manajemen. Manajemen

berkepentingan untuk memperoleh kompensasi kontrak semaksimal mungkin

1
2

seperti bonus atau yang lainnya agar tercapai kemakmurannya, sedangkan pemilik

perusahaan ingin mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin serta pengembalian

saham seoptimal mungkin. Hal ini mendorong manajemen untuk melakukan

manajemen laba. Dasar dari adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dengan

manajer tersebut merupakan teori agensi. Perilaku manajemen laba selalu

diasosiasikan dengan perilaku yang negatif karena manajemen laba menyebabkan

tampilan informasi keuangan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Praktik dalam manajemen laba ini adalah tindakan kecurangan dalam bentuk

pembohongan akuntansi dengan tujuan menciptakan kinerja perusahaan agar

terkesan lebih baik dari yang sebenarnya (Mulford & Comiskey, 2010:81); Raja,

2014). Manajemen laba terbagi menjadi dua yaitu yang pertama dilihat sebagai

perilaku manajemen dalam memanfaatkan kesempatan untuk memaksimumkan

keuntungan. Kedua, yaitu manajemen melakukan manajemen laba untuk

melindungi perusahaan agar dapat mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak

terduga untuk keuntungan dalam pihak yang terlibat dalam kontrak (Raja, 2014).

Menurut Fatmawati (2016) mengemukakan bahwa manajemen laba dapat

diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu: fraudalent accounting, manajemen laba

akrual dan manajemen laba rill. Fraudalent accounting merupakan kecurangan

dalam akuntansi yang melanggar General Accepted Accounting Principles (GAAP)

atau prinsip-prinsip standar akuntansi keuangan berlaku umum. Manajemen laba

akrual yakni pilihan dalam GAAP yang menutupi kinerja ekonomi yang sebenarnya

sedangkan manajemen laba rill dilakukan oleh manajemen dengan melakukan

tindakan yang tidak sesuai dengan praktek yang sebenarnya demi menaikkan laba
3

yang dilaporkan. Tindakan manajemen laba dapat diminimalkan dengan adanya

tata kelola (Good Corporate Governance/GCG) yang baik. Salah satu penyebab

terjadinya manajemen laba juga dapat dikarenakan praktik good corporate

governance dalam perusahaan tersebut lemah. Penerapan good corporate

governance dalam perusahaan sangatlah penting karena good corporate

governance secara efektif dapat meminimalkan konflik agensi yang melibatkan

manajer.

Beberapa fenomena mengenai manajemen laba yang terjadi pada beberapa

perusahaan besar. Contoh fenomena manajemen laba yaitu kasus PT Agis Tbk

(AGIS), PT Inovisi Infracom (INVS). Pada kasus PT Agis berdasarkan hasil

pemeriksaan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal, 2007) AGIS terbukti telah

memberikan informasi yang secara material tidak besar terkait dengan pendapatan

dari 2 (dua) perusahaan yang di akuisisi yaitu PT Akira Indonesia dan PT TT

Indonesia, dimana dinyatakan bahwa pendapatan kedua perusahaan tersebut adalah

sebesar Rp800 miliar, namun demikian berdasarkan Laporan Keuangan kedua

perusahaan yang akan diambil alih tersebut per 31 Maret 2007 total pendapatannya

hanya sebesar kurang lebih Rp466,8 miliar. AGIS juga melakukan pelanggaran

terkait Laporan Keuangan AGIS yang merupakan konsolidasi dari anak-anak

perusahaan yang salah satunya adalah PT AGIS Elektronik. Dalam Laporan Laba

Rugi Konsolidasi AGIS diungkapkan. Pendapatan Lain-Lain Bersih sebesar Rp29,4

miliar yang berasal dari Laporan Keuangan AGIS Elektronik sebagai anak

perusahaan AGIS yang tidak didukung dengan bukti-bukti kompeten dan kesalahan

penerapan prinsip akuntansi. Dengan demikian pendapatan lain-lain dalam Laporan


4

Keuangan AGIS Elektronik adalah tidak wajar yang berakibat Laporan Keuangan

Konsolidasian AGIS juga tidak wajar (Febrianti, 2016).

Kasus PT Inovisi Infracom (INVS) pada tahun 2015. Dalam kasus ini Bursa

Efek Indonesia (BEI) menemukan indikasi salah saji dalam laporan keuangan INVS

periode September 2014. Dalam keterbukaan informasi INVS bertanggal 25

Februari 2015, ada delapan item dalam laporan keuangan INVS yang harus

diperbaiki. BEI meminta INVS untuk merevisi nilai aset tetap, laba bersih per

saham, laporan segmen usaha, kategori instrumen keuangan, dan jumlah kewajiban

dalam informasi segmen usaha. Selain itu, BEI juga menyatakan manajemen INVS

salah saji item pembayaran kas kepada karyawan dan penerimaan (pembayaran)

bersih utang pihak berelasi dalam laporan arus kas. Pada periode semester pertama

2014 pembayaran gaji pada karyawan Rp1,9 triliun. Namun, pada kuartal ketiga

2014 angka pembayaran gaji pada karyawan turun menjadi Rp59 miliar.

Sebelumnya, manajemen INVS telah merevisi laporan keuangannya untuk

periode Januari hingga September 2014. Dalam revisinya tersebut, beberapa nilai

pada laporan keuangan mengalami perubahan nilai, salah satu contohnya adalah

penurunan nilai aset tetap menjadi Rp1,16 triliun setelah revisi dari sebelumnya

diakui sebesar Rp1,45 triliun. Inovisi juga mengakui laba bersih per saham

berdasarkan laba periode berjalan. Praktik ini menjadikan laba bersih per saham

INVS tampak lebih besar. Padahal, seharusnya perseroan menggunakan laba

periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

(http://www.bareksa.com, diposting pada: 25 Februari 2015, diakses pada: 05 Mei

2019, pukul 21.20 WIB).


5

Praktik manajemen laba sangat umum di dunia perusahaan sebagai akibat

dari masalah keagenan yang serius (Healy dan Wahlen, 1999). Karena tidak dapat

dipungkiri bahwa antara manajemen dan pemilik modal memiliki tujuan yang

berbeda. Manajemen berorientasi pada kinerjanya yang dicerminkan dari laporan

keuangan yang dihasilkan perusahaan, sementara pemilik modal lebih berorientasi

akan perkembangan perusahaannya kedepan. Karena disini manajemen selaku

penggerak perusahaan dapat menggunakan prinsip akuntansi yang fleksibel untuk

mengelola laba sesuasi dengan kebutuhannya. Akibat dari praktik ini maka muncul

asimetri informasi (perbedaan informasi) yang akan menyebabkan kekeliruan

informasi keuangan sebagai akibat dari konflik kepentingan antara agent dan

principal. Jika asimetri informasi ini terus terjadi, maka perusahaan akan

mengalami penurunan performa karena keputusan yang diambil akan berbeda

dengan keadaan yang sebenarnya. Namun perilaku oportunistik manajer yang

menimbulkan asimetri informasi ini dapat diminimalisasi dengan mekanisme

pemantauan tata kelola perusahaan perusahaan yang baik (good corporate

governance).

Good corporate governance merupakan mekanisme yang dikembangkan

dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dan perilaku pihak manajemen.

Beberapa mekanisme good corporate governance meliputi keberadaan komisaris

independen, keberadaan komite audit, tidak terdapatnya CEO duality, dan lain

sebagainya. Penerapan prinsip good corporate governance yang terdiri dari

independensi, transparansi, pengungkapan, akuntabilitas dan responsibilitas dan


6

kewajaran menjadi fokus utama dalam melakukan tata pengelolaan perusahaan.

(KNKG, 2006).

Herdian (2015) melakukan penelitian tentang pengaruh good corporate

governance, profitabilitas, free cash flow dan leverage terhadap manajemen laba

pada perusahaan manufaktur. Hasil menjukkan bahwa good corporate governance

(GCG), profitabilitas, dan free cash flow berpengaruh positif terhadap manajemen

laba. Sedangkan leverage berpengaruh negatif terhadap manajemen laba pada

perusahaan manufaktur di Indonesia.

Fatmawati (2016), dalam penelitiannya tentang pengaruh mekanisme good

corporate governance terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2011-2015. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel

tidak berpengaruh terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur.

Penelitian Mangkusuryo dan Jati (2017) tentang pengaruh mekanisme good

corporate governance terhadap manajemen laba perusahaan yang masuk dalam

Corporate Governance Perception Index (CGPI), hasil kepemilikan manajerial,

ukuran komite audit, kinerja lingkungan, berpengaruh positif dan signifikan

terhadap manajemen laba. Sedangkan proporsi dewan komisaris independen,

profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba.

Penelitian yang dilakukan oleh Suri dan Dewi (2018) tentang pengaruh

mekanisme good corporate governance terhadap manajamen laba pada perusahaan

manufaktur sektor food & beverage di BEI, menunjukkan bahwa good corporate

governance tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.


7

Kurniawati (2018) melakukan penelitian tentang analisis pengaruh leverage,

ukuran perusahaan, komite audit dan profitabilitas terhadap manajemen laba yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2016 hasil menunjukkan bahwa

leverage, ukuran perusahaan, komite audit, dan profitabilitas berpengaruh terhadap

manajemen laba.

Penelitian yang dilakukan oleh Suaidah dan Utomo (2018) pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017 tentang

pengaruh mekanisme good corporate governance dan profitabilitas terhadap

manajemen laba, menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan profitabilitas

berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Artinya bahwa dengan adanya

kepemilikan manajemen yang besar diyakini dapat memberikan pengaruh untuk

membatasi perilaku manajer dalam melakukan manajemen laba dan dengan adanya

laba yang dihasilkan oleh perusahaan dapat menjadi indikator terjadinya praktik

manajemen laba dalam suatu perusahaan. Sedangkan komite audit, komisaris

independen tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Penelitian Emy, dkk (2019) tentang pengaruh faktor good corporate

governance, free cash flow, dan leverage terhadap manajemen laba pada

perusahaan batu bara, hasil menunjukkan bahwa hanya kempemilikan manajerial

berpengaruh positif terhadap manajemen laba pada perusahaan batu bara di

Indonesia sedangkan komponen good corporate governance lainnya, free cash flow

dan leverage berpengaruh negatif terhadap manajemen laba pada perusahaan batu

bara.
8

Penelitian yang dilakukan oleh Sari, dkk (2019), tentang pengaruh

mekanisme good corporate governance, profitabilitas, dan kinerja lingkungan

terhadap environmental disclosure pada perusahaan sektor pertambangan dan

perkebunan di BEI, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada

good corpoate governance, kinerja lingkungan terhadap manajemen laba pada

perusahaan tambang dan perkebunan. Sedangkan proporsi dewan komisaris

independen, profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba

pada perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian yang dilakukan oleh

Suaidah dan Utomo (2018) dengan persamaan menggunakan variabel komite audit,

komisaris independen, kepemilikan menajerial, dan profitabilitas. Sedangkan

perbedaannya yaitu pertama, menambah variabel leverage dengan mengacu pada

penelitian yang dilakukan oleh (Herdian 2015). Leverage merupakan rasio yang

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya

yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk

membayar hutang. Leverage biasanya dipergunakan untuk menggambarkan

kemampuan Perusahaan untuk menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai

beban tetap (fixed cost asset sorfunds) untuk memperbesar tingkat penghasilan

(return) bagi pemilik perusahaan. Leverage dibagi menjadi dua, yaitu leverage

operasi dan leverage keuangan. Leverage operasi menunjukkan seberapa besar

biaya tetap yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, sedangkan

leverage keuangan menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam

membayar hutang dengan modal yang dimilikinya.


9

Kedua, penelitian Suaidah dan Utomo (2018) menggunakan data Bursa Efek

Indonesia tahun 2015-2017. Penelitian ini menggunakan data pubilikasi Bursa Efek

Indonesia dengan data tahun 2014-2018, dengan pertimbangan bahwa periode

tersebut merupakan periode terkini dari kondisi di dalam pasar modal. Oleh karena

itu, penelitian ini diharapkan menghasilkan penelitian yang terbaru dalam

mengetahui adanya praktik perataan laba dalam laporan keuangan perusahaan yang

terdaftar di BEI.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah good corporate governance terhadap manajemen laba?

2. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba?

3. Apakah leverage berpengaruh terhadap manajemen laba?

C. Tujuan Penelitian

1. Menguji dan memberikan bukti empiris mengenai pengaruh good corporate

governance terhadap manajemen laba.

2. Menguji dan memberikan bukti empiris mengenai pengaruh profitabilitas

terhadap manajemen laba.

3. Menguji dan memberikan bukti empiris mengenai pengaruh leverage

terhadap manajemen laba.

D. Kontribusi Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan adalah:


10

1. Bagi Perusahaan

Sebagai masukan dan bahan pertimbangan perusahaan dalam mengelola

modal kerja, sehingga tetap dapat menarik bagi calon investor untuk

melakukan investasi dan para kreditur bersedia memberikan pinjaman.

2. Bagi Akademi

Sebagai referensi dam sebagai pembanding antara teori yang didapat di

bangku kuliah dan fakta di lapangan.

E. Sistematika Penulisan

BAB I. PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

kontribusi penelitian dan sistematika Penelitian.

BAB II. TINJUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Memuat uraian tentang tinjauan pustaka, telaah penelitian

sebelumnya perumusan hipotesis dan model penelitian.

BAB III. METODE PENELITIAN

Memuat secara rinci metode penelitian penelitian yang digunakan

peneliti beserta jenis penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan

data, definisi variabel penelitian dan pengukuran variabel, serta analisis data

yang digunakan.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi: (1) statistik deskriptif variabel penelitian, (2) hasil pengujian

asumsi klasik (3) hasil pengujian hipotesis dan (4) pembahasan hasil.
11

BAB V. KESIMPULAN

Bab terakhir berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran-

saran atau rekomendasi. Kesimpulan menyajikan secara ringkas seluruh

penemuan penelitian yang ada hubungannya dengan maslah penelitian.

Kesimpulan diperoleh berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data yang

telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Saran-saran dirumuskan

berdasarkan hasil penelitian, berisi uraian mengenai langkah-langkah apa

yang perlu diambil oleh pihak-pihak terkait dengan hasil penelitian yang

bersangkutan. Saran diarahkan pada dua hal, yaitu: 1) Saran dalam usaha

memperluas hasil penelitian, misalnya disarankan perlunya diadakan

penelitian lanjutan. 2) Saran untuk menentukan kebijakan di bidang-bidang

terkait dengan masalah atau fokus penelitian.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Telaah Teori

1. Teori Agensi (Agency Theory)

Teori keagenan dikembangkan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976

melalui bukunya yang berjudul “Theory of the Firm”. Konsep dari teori ini adalah

adanya pemisahan peran antara pemegang saham sebagai principal dan manajer

sebagai agent. Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Brigham dan Houston

(2006:26), hubungan keagenan (agency relationship) terjadi ketika satu atau lebih

individu, yang disebut sebagai prinsipal menyewa individu atau organisasi lain,

yang disebut sebagai agen, untuk melakukan sejumlah jasa dan mendelegasikan

kewenangan untuk membuat keputusan keagenan tersebut. Hubungan keagenan

dapat terjadi diantara (1) pemegang saham dan manajer, dan (2) manajer dan

pemilik utang.

Telah lama diketahui bahwa para manajer mungkin memiliki tujuan-tujuan

pribadi yang bersaing dengan tujuan memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

Wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepada manajer menyebabkan para

manajer memiliki keleluasaan untuk membuat keputusan-keputusan yang dapat

menguntungkan para manajer tersebut. Hal ini yang menyebabkan konflik

keagenan, sehingga dengan kata lain konflik keagenan terjadi akibat adanya

perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan dan para manajernya.

12
13

Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan yang baik

mencerminkan kontrak yang baik antara prinsipal dan agen yaitu, kontrak yang

mampu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan agen dalam

mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada prinsipal. Manajer seharusnya

melakukan tindakan-tindakan yang dapat memaksimalkan kekayaan pemegang

saham dalam menjalankan kegiatan perusahaan. Sedangkan pada kenyataannya

manajer cenderung memilih dan melakukan tindakan-tindakan yang

menguntungkan kepentingannya sendiri sehingga dapat memicu adanya tindakan-

tindakan yang tidak semestinya (disfunctional behavior).

Teori agensi mengasumsikan bahwa prinsipal tidak memiliki informasi yang

cukup tentang kinerja agen. Agen memiliki lebih banyak informasi mengenai

kapasitas diri, lingkungan kerja, perusahaan secara keseluruhan dan prospek dimasa

yang akan datang dibandingkan dengan prinsipal. Hal inilah yang menyebabkan

ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh prinsipal dan agen yang disebut

sebagai asimetri informasi. Menurut (Eisenhardt, 1989), agency theory

menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu: (1) manusia pada umumya

mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas

mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu

menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut,

manajer sebagai manusia akan bertindak opportunistic, yaitu mengutamakan

kepentingan pribadinya.

Adanya asumsi bahwa tiap pihak antara agen dan prinsipal bertindak untuk

memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agen memanfaatkan adanya


14

asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi

yang tidak diketahui oleh prinsipal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan

yang terjadi antara prinsipal dan agen mendorong agen untuk menyajikan informasi

yang tidak sebenarnya kepada prinsipal, terutama jika informasi berkaitan dengan

pengukuran kinerja agen. Asimetri informasi ini mengakibatkan terjadinya moral

hazard berupa usaha agen untuk melakukan manajemen laba (earning management)

termasuk praktik perataan laba.

2. Manajemen Laba

Scott (1997:423) manajemen laba adalah pilihan yang dilakukan oleh manajer

dalam menentukan kebijakan akuntansi, atau aksi nyata, yang mempengaruhi laba

sehingga mencapai sasaran dengan melaporkan laba tertentu. Menurut Scott (2011),

terdapat empat pola manajemen laba, yaitu:

1. Taking a Bath, di mana teknik ini dilakukan dengan cara mengakui biaya yang

ada pada periode yang akan datang pada periode berjalan, hal ini terjadi selama

periode tekanan organisasi pada saat terjadi reorganisasi, termasuk adanya

penggantian CEO yang baru.

2. Income maximization, bahwa maksimalisasi laba bertujuan untuk memperoleh

bonus yang lebih besar. Laporan yang menunjukkan laba yang besar akan

menyebabkan meningkatnya bonus / kompensasi yang diperoleh manajer. Pola

seperti ini mungkin dipilih oleh perusahaan yang nampak secara politis selama

periode tertentu memiliki keuntungan yang besar. Perusahaan yang akan

mencoba melakukan pelanggaran perjanjian hutang akan melakukan income

maximization.
15

3. Income minimization, dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat

tinggi dengan maksud mengurangi kemungkinan munculnya biaya politis, para

manajemen melakukan pola seperti ini untuk tujuan perolehan bonus, dengan

melakukan hal ini maka mereka tidak akan berada di atas cap. Kebutuhan yang

ada akan melakukan minimalisasi pendapatan termasuk melakukan write off

pada modal asset dan asset tidak berwujud, pengeluaran periklanan,

pengeluaran R&D, dan lain-lain.

4. Income smoothing, dilakukan oleh perusahaan karena cenderung lebih memilih

untuk melaporkan tren pertumbuhan laba yang stabil daripada perubahan laba

yang meningkat atau menurun secara drastis.

Berbagai penelitian discretionary accrual/abnormal accrual diukur untuk

mendeteksi pola perilaku earnings management. Penentuan arah dan pengukuran

dari akrual sangat dipengaruhi oleh pertimbangan pihak manajemen, sehingga

akrual sangat mudah untuk dimanipulasi.

Besaran discretionary accrual positif mengindikasikan terdapatnya manipulasi

income yang naik, begitu sebaliknya jika discretionary accrual negatif

menunjukkan terdapat manipulasi income yang menurun. Menurut Yu (2008),

penggunaan discretionary accrual memiliki kelemahan, yaitu :

1. Untuk perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi, diskontinyu dalam

operasi maupun perusahaan yang memiliki aktivitas signifikan di luar negeri

akan mengakibatkan penggunaan akrual menjadi tidak tepat bila menggunakan

pendekatan neraca.
16

2. Discretionary accrual akan over estimasi untuk perusahaan dengan kinerja

yang ekstrim, pertumbuhan yang sangat pesat dan arus kas yang sangat volatil.

3. Good Corporate Governance

Good Corporate Governance merupakan salah satu strategi dalam membatasi

aktivitas manajemen laba dengan memberdayakan korporasi, baik perusahaan

pemerintah maupun perusahaan swasta. Tata kelola perusahaan mencakup

hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta

tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan

adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan

lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator,

lingkungan serta masyarakat (Suri dan Dewi, 2017).

Di Indonesia, konsep good corporate governance mulai diperkenalkan sejak

tahun 1999 ketika pemerintah membentuk Komite Nasional Kebijakan Corporate

Governance (KNKCG). Pada tahun 2004 berubah menjadi Komite Nasional

Kebijakan Governance (KNKG) melalui Surat Keputusan Menteri Koordinator

Perekonomian RI No. KEP-49/M.EKON./II.TAHUN 2004 berpendapat bahwa

perusahaan-perusahaan di Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menerapkan

standar Good Corporate Governance (GCG) yang telah diterapkan di tingkat

internasional (Suri dan Dewi, 2017).

Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia disebutkan ada lima

asas good corporate governance yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas,

independensi serta kewajaran diperlukan untuk mencapai kinerja yang


17

berkesinambungan dengan memperhatikan kepentingan pihak yang

berkepentingan:

1. Transparansi (Transparancy)

Asas ini berhubungan dengan kualitas dan keterbukaan mengenai informasi

yang disajikan oleh perusahaan. Pada asas ini mewajibkan adanya informasi

yang terbuka, tepat waktu, jelas, dan dapat diperbandingkan yang menyangkut

kondisi keuangan, pengelolaan perusahaan, pengambilan keputusan dan

kepemilikan perusahaan.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Pada asas akuntabilitas perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan

kinerjanya secara transparan dan independen, sehingga perusahaan harus

dikelola secara benar, terukur, dan sesuai dengan kepentingan pemegang saham

dengan tetap mempertimbangkan kepentingan stakeholders lain. Akuntabilitas

merupakan pra-syarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang

berkesinambungan.

3. Responsibilitas (Responsibilty)

Asas responsibilitas dapat diartikan tanggung jawab perusahaan terhadap

masyarakat dan lingkungan serta harus mentaati peraturan perundang-undangan

yang berlaku. Penerapan asas ini diharapkan membuat perusahaan menyadari

bahwa kegiatan operasionalnya seringkali menghasilkan dampak negatif yang

harus ditanggung masyarakat.


18

4. Independensi (Independency)

Untuk memungkinakan dilaksanakannya asas-asas Corporate Governance

lainnya yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, serta kewajaran dan

kesetaraan, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-

masing organ perusahaan dapat berfungsi tanpa saling mendominasi dan tidak

dapat di intervensi oleh pihak lain.

5. Kewajaran (Fairness)

Pada asas kewajaran perusahaan harus senantiasa memperhatikan pada

perlakuan dan jaminan hak-hak yang sama kepada pemegang saham, baik

mayoritas maupun minoritas, termasuk pemegang saham asing serta investor

lainnya. Prinsip ini diharapkan untuk membuat seluruh aset perusahaan dikelola

secara baik dan hati-hati sehingga terdapat perlindungan terhadap kepentingan

pemegang saham secara jujur dan adil. Penegakan prinsip fairness menyaratkan

adanya peraturan perundang-undangan yang jelas, tegas, konsisten, dan dapat

ditegakkan secara baik serta efektif.

Kelima asas tersebut membantu perusahaan untuk meminimalisir adanya agency

problem, sehingga kinerja keuangan dapat menjadi lebih baik (Suri dan Dewi,

2017).

Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) juga

mengembangkan enam prinsip Good Corporate Governance (GCG)

(Herwidayatmo, 2000:24-25), yaitu:


19

1. Ensuring the Basis for an Effective Corporate Governance Framework

Kerangka Corporate Governance harus meningkatkan pasar yang

transparan dan efisien, konsisten dengan aturan hukum dan secara jelas

mengartikulasikan pembagian kewajiban antara pengawas, regulator dan

otoritas pelaksanaan yang berbeda.

2. The Rights of Stakeholders and Key Ownership Functions

Kerangka Corporate Governance harus melindungi dan memfasilitasi

penggunaan hak-hak pemegang saham.

3. The Equitable Treatment of Stakeholders

Kerangka Corporate Governance harus memastikan persamaan perlakuan

bagi seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham minoritas dan

asing. Semua pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk

memperoleh penggantian kembali secara efektif atas pelanggaran hak-hak

mereka.

4. The Role of Stakeholders in Corporate Governance

Kerangka Corporate Governance harus mengakui hak-hak stakeholder

yang ditetapkan oleh hukum dan mendorong kerjasama aktif antara korporat

dan stakeholder dalam menciptakan kemakmuran, pekerjaan, dan

perusahaan yang memiliki sustainable.

5. Disclosure and Transparancy

Kerangka Corporate Governance harus memastikan bahwa pengungkapan

yang tepat waktu dan akurat telah dibuat atas semua hal yang material
20

menyangkut korporat, termasuk situasi keuangan, kinerja, kepemilikan, dan

pengelolaan perusahaan.

6. The Responcibilities of the Board

Kerangka Corporate Governance harus memastikan pedoman strategis

perusahaan, pengawasan yang efektif terhadap manajemen oleh dewan, dan

akuntabilitas dewan kepada perusahaan dan pemegang saham.

Dengan demikian, adanya konsep tata kelola perusahaan ini, merupakan salah

satu bentuk dan upaya perbaikan terhadap sistem, proses dan seperangkat peraturan

dalam pengelolaan suatu organisasi yang pada esensinya dapat mengatur dan

memperjelas hubungan, wewenang, hak dan kewajiban semua pemangku

kepentingan.

4. Struktur Corporate Governance

Corporate governance merupakan suatu struktur yang mengatur pola

hubungan organ perusahaan (direksi, komisaris), pemegang saham, serta para

stakeholders lainnya melalui sebuah sistem pengawasan dan perimbangan

wewenang atas pengendalian perusahaan yang mengacu pada tujuan perusahaan.

Struktur corporate governance dapat diartikan sebagai suatu kerangka dalam

organisasi untuk menerapkan berbagai prinsip governance sehingga prinsip

tersebut dapat dibagi, dijalankan, serta dikendalikan. Hal ini berarti, struktur

corporate governance harus mampu mendukung tata kelola perusahaan.


21

Mekanisme atau struktur corporate governance dalam penelitian ini akan

dijelaskan dalam sub-bab berikut ini.

1) Komite Audit

Menurut Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance mengenai

Komite Audit adalah: “Suatu komite yang beranggotakan satu atau lebih anggota

Dewan Komisaris dan dapat meminta kalangan luar dengan berbagai keahlian,

pengalaman, dan kualitas lain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Komite

Audit.” Komite Audit dituntut untuk dapat bertindak secara independen, dan tidak

dapat dipisahkan dari moralitas yang melandasi integritasnya. Hal ini perlu disadari

karena Komite Audit merupakan pihak yang menjembatani antara eksternal auditor

dan perusahaan yang juga sekaligus menjembatani antara fungsi pengawasan

Dewan Komisaris dengan Internal Auditor.

Komite audit adalah pihak yang bertanggung jawab melakukan pengawasan

dan pengendalian untuk menciptakan keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan

responsibilitas. Keempat faktor inilah yang membuat laporan keuangan menjadi

lebih berkualitas (Sulistyanto, 2008:156) Di Indonesia komite audit merupakan

salah satu komite yang berperan penting dalam pelaksanaan corporate governance.

Dewan komite audit bertugas memberikan suatu pandangan tentang masalah

akuntansi, pelaporan keuangan dan penjelasannya, sistem pengawasan internal,

serta auditor independen (FCGI, 2000).

Tujuan dan manfaat komite audit adalah sebagai berikut :

a) Melaksanakan pengawasan independen atas proses penyusunan laporan

keuangan dan pelaksanaan audit.


22

b) Memberikan pengawasan independen atas proses pengelolaan risiko dan

kontrol.

c) Melaksanakan pengawasan independen atas pelaksanaan corporate

governance.

Komite audit dalam penelitian ini dilihat dari 3 proksi yaitu:

1) Jumlah anggota komite audit, diukur secara numeral dengan melihat jumlah

anggota komite audit suatu perusahaan.

2) Pengungkapan jumlah pertemuan komite audit, diukur secara numeral

dengan melihat jumlah pertemuan komite audit dalam tahun berjalan.

3) Keahlian komite audit, diukur dengan melihat persentase jumlah anggota

komite audit yang berlatar belakang/ahli keuangan dan ekonomi terhadap

jumlah anggota komite audit secara keseluruhan dalam perusahaan.

Dengan adanya komite audit akan memperkecil kemungkinan manajemen

melakukan manajemen laba (earning management) dengan cara melakukan

pengawasan atas laporan keuangan dan pengawasan dari audit eksternal. Komite

audit merupakan organ tambahan yang diperlukan dalam pelaksanaan GCG. Hal ini

disebabkan karena pengawasan dan akuntabilitas dewan komisaris belum memadai.

2) Ukuran Dewan Direksi

Dewan direksi yaitu dewan yang dipilih oleh pemegang saham, bertugas

mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh manajemen dalam mengelola

perusahaan, dengan tujuan kepentingan para pemegang saham (Fatmawati, 2016).

Ukuran dewan direksi dalam perusahaan sangatlah penting untuk pencapaian

keefektifan komunikasi antar anggota dewan. Pedoman Good Corporate


23

Governance yang dihasilkan oleh KNKG merumuskan prinsip-prinsip penting

dalam dewan direksi. Paling sedikit 20% dari jumlah direksi harus berasal dari

kalangan di luar perseorangan guna meningkatkan keefektifan atas peran

manajemen dan transparan dari pertimbangannya. Tingkat pengawasan yang tinggi

terhadap manajemen dalam perusahaan dapat mengurangi risiko oportunistik laba

dari manajemen. Dewan direksi pada perusahaan bertindak sebagai agen dalam

perusahaan. Dewan direksi menjalankan kegiatan operasional perusahaan dan juga

berdasarkan atas keinginan principal.

3) Proporsi Dewan Komisaris Independen

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) komisaris

independen memiliki kriteria, antara lain:

1. Komisaris independen bukan merupakan anggota manajemen.

2. Komisaris independen bukan merupakan pemegang saham mayoritas atau

seorang pejabat dari atau dengan cara lain yang berhubungan secara

langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas

perusahaan.

3. Komisaris independen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tidak

dipekerjakan dalam kapasitasnya sebagai eksekutif oleh perusahaan atau

perusahaan lainnya dalam satu kelompok usaha dan tidak pula dipekerjakan

dalam kapasitasnya sebagai komisaris setelah tidak lagi menempati posisi

seperti itu.

4. Komisaris independen bukan merupakan penasihat profesional perusahaan

atau perusahaan lainnya yang satu kelompok dengan perusahaan tersebut.


24

5. Komisaris independen bukan merupakan seorang pemasok atau pelanggan

yang signifikan dan berpengaruh dari perusahaan atau perusahaan lainnya

yang satu kelompok atau dengan cara lain berhubungan secara langsung

atau tidak langsung dengan pemasok atau pelanggan tersebut.

6. Komisaris independen tidak memiliki kontrak kontraktual dengan

perusahaan atau perusahaan lainnya yang satu kelompok selain sebagai

komisaris perusahaan tersebut.

7. Komisaris independen harus bebas dari kepentingan dan urusan bisnis

apapun atau hubungan yang dapat atau secara wajar dapat dianggap sebagai

campur tangan secara material dengan kemampuannya sebagai seorang

komisaris untuk bertindak demi kepentingan yang menguntungkan

perusahaan.

Dewan komisaris independen diangkat melalui Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS). Proporsi minimum dewan komisaris independen adalah 30% dari

keanggotaan dewan komisaris. Proporsi dewan komisaris dalam suatu perusahaan

berpengaruh terhadap fungsi pengawasan dalam pengambilan kebijakan

perusahaan. Karena semakin tinggi proporsi dewan komisaris independen, maka

semakin baik pula fungsi pengawasan dalam perusahaan. Dewan komisaris yang

independen secara umum mempunyai pengawasan yang lebih baik terhadap

manajemen. Hal ini akan mengurangi kemungkinan kecurangan dalam menyajikan

laporan keuangan yang mungkin dilakukan manajemen, karena pengawasan yang

dilakukan oleh anggota komisaris lebih baik dan lebih bebas dari berbagai

kepentingan intern dalam perusahaan (Chtourou, et al., 2001). Sehingga komposisi


25

dewan komisaris independen berpengaruh terhadap pelaksanaan corporate

governance dalam perusahaan.

4) Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah bagian dari saham perusahaaan yang dimiliki

oleh investor institusi, seperti perusahaan asuransi, institusi keuangan (bank,

perusahaan keuangan, kredit), dana pensiun, investment banking, dan perusahaan

lainnya yang terkait dengan kategori tersebut (Yang et al., 2009). Chew dan Gillan

(2009:176) menjelaskan bahwa terdapat dua jenis investor institusional, yaitu

investor institusional sebagai transient investors (pemilik sementara perusahaan)

dan investor institusional sebagai sophisticated investors.

Kepemilikan institusional di suatu perusahaan akan mendorong peningkatan

pengawasan terhadap kinerja manajemen. Selain itu investor institusi dianggap

sophisticated investors yang tidak mudah “dibodohi” oleh tindakan manajer

(Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Cornett et al. (2006) menyatakan, investor

institusional dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam

setiap keputusan yang diambil oleh manajer. tindakan monitoring yang dilakukan

oleh sebuah perusahaan dan investor institusional dapat membatasi perilaku

manajer sehingga keberadaan investor institusional dapat mendorong manajer

untuk memperhatikan kinerja perusahaan, Hal ini disebabkan investor institusional

terlibat dalam pengambilan keputusan yang strategis sehingga tidak mudah percaya

terhadap tindakan manipulasi laba yang dilakuan oleh manajer.


26

5) Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan managerial adalah kepemilikan saham perusahaan oleh

managerial. Kepemilikan managerial merupakan alat monitoring internal yang

penting untuk memecahkan konflik agensi antara external stockholders dan

manajemen (Chen dan Steiner, 1999). Fungsi dewan komisaris sesuai dengan yang

dinyatakan dalam National Code for Good Corporate governance (2001) adalah

memastikan bahwa perusahaan telah melakukan tanggung jawab sosial dan

mempertimbangkan kepentingan berbagai stakeholder perusahaan sebaik

memonitor efektifitas pelaksanaan good corporate governance.

Indikator untuk mengukur kepemilikan manajerial adalah persentase

perbandingan jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dengan seluruh jumlah

saham perusahaan yang beredar. Jika manajer mempunyai kepemilikan pada

perusahaan maka manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang

saham, karena manajer juga mempunyai kepentingan di dalamnya. Besar kecilnya

jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan

adanya kesamaan kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham. Artinya

semakin besar kepemilikan manajerial maka semakin besar pula kecenderungan

pihak manajemen melakukan praktek manajemen laba.

5. Profitabilitas

Gitman (2003:591) mengungkapkan bahwa profitabilitas merupakan

hubungan antara pendapatan dan beban secara umum dengan menggunakan total

aktiva atau aset perusahaan, baik aset lancar maupun aset tetap di dalam kegiatan

produksi. Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan


27

keputusan perusahaan (Brigham dan Houston, 2006:107). Oleh karena itu,

profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting

karena untuk melangsungkan keberlanjutannya, suatu perusahaan harus berada

dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya keuntungan, maka

akan sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Para pemangku

kepentingan seperti kreditur, pemilik perusahaan dan terutama dari pihak

manajemen perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan karena didasari

betapa pentingnya arti dari profit terhadap kelangsungan dan masa depan

perusahaan (Syamsuddin, 2011:59).

Van Horne dan Wachowicz (2005:222) mengemukakan bahwa rasio

profitabilitas dapat digunakan sebagai alat pengukuran tingkat profitabilitas suatu

perusahaan. Rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis, yaitu rasio yang menunjukan

profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukan

profitabilitas dalam kaitannya dengan investasi. Profitabilitas dalam hubungannya

dengan investasi terdiri atas tingkat pengembalian atas aktiva (return on total

assets/ROA) dan tingkat pengembalian atas ekuitas (return on total equity/ROE).

Menurut Syahyunana (2004:85), ROA menunjukan kemampuan perusahaan

menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Besarnya perhitungan

pengembalian atas aktiva menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan

menghasilkan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dengan seluruh

aktiva yang dimilikinya. Oleh karena itu, analisa profitabilitas perusahaan

menggunakan alat ukur ROA dapat menjadi salah satu alternatif stakeholders untuk
28

menganalisa performa kinerja manajer perusahaan melalui data laporan keuangan

yang tersedia.

6. Leverage

Menurut Rodoni dan Ali (2010:123) bahwa “leverage adalah rasio yang

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya

yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk

membayar hutang”. James & John M. Wachowicz (2012:169) menyatakan,

“leverage merupakan penggunaan biaya tetap dalam usaha untuk meningkatkan

(atau menaikkan) profitabilitas. Penggunaan utang dalam jumlah yang besar akan

meningkatkan resiko perusahaan dan meningkatnya biaya dari utang maupun

ekuitas”, (Brigham dan Houston, 2011). Leverage biasanya dipergunakan untuk

menggambarkan kemampuan Perusahaan untuk menggunakan aktiva atau dana

yang mempunyai beban tetap (fixed cost asset sorfunds) untuk memperbesar tingkat

penghasilan (return) bagi pemilik perusahaan (Syamsuddin, 2007:89).

Leverage dibagi menjadi dua, yaitu leverage operasi dan leverage

keuangan. Leverage operasi menunjukkan seberapa besar biaya tetap yang

digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, sedangkan leverage keuangan

menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayar hutang

dengan modal yang dimilikinya (Wulandari, 2013). Oleh karena itu, semakin

banyak menggunakan hutang maka leverage perusahaan akan semakin besar dan

semakin tinggi pula risiko yang dihadapi perusahaan (gagal bayar). Manajemen

yang tidak ingin kinerjanya dinilai buruk dalam mengelola perusahaan oleh

principal cenderung akan melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba.


29

B. Telaah Penelitian Sebelumnya

Tabel 1.
Telaah PenelitianTerdahulu

Nama Peneliti
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun)
1 Emy, dkk Pengaruh Faktor Good Semua komponen good
(2019) Corporate Governance, corporate governance kecuali
Free Cash Flow, dan kepemilikan manajerial
Leverage Terhadap berpengaruh positif terhadap
Manajemen Laba pada manajemen laba.
Perusahaan Batu Bara
yang listing di BEI
periode 2015-2017
2 Sari dkk., Pengaruh Mekanisme Hasilnya kepemilikan
(2019) Good Corporate manajerial, ukuran komite
Governance, audit, kinerja lingkungan,
Profitabilitas, dan berpengaruh positif dan
Kinerja Lingkungan signifikan. Sedangkan
Terhadap proporsi dewan komisaris
Environmental independen, profitabilitas
Disclosure pada berpengaruh negatif dan
Perusahaan Sektor signifikan
Pertambangan dan
Sektor Perkebunan yang
Terdaftar di PROPER
periode 2013-2017

3 Suaidah & Pengaruh Mekanisme Hasilnya komite audit,


Utomo (2018) Good Corporate komisaris independen tidak
Governance dan berpengaruh signifikan
Profitabilitas Terhadap terhadap manajemen laba.
Manajemen Laba pada Sedangkan kepemilikan
Perusahaan Manufaktur manajerial dan profitabilitas
yang terdaftar di BEI berpengaruh signifikan
periode 2015-2017 terhadap manajemen laba.
30

Tabel 1.
Telaah PenelitianTerdahulu
(lanjutan)

Nama Peneliti
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun)
4 Suri dan Dewi Pengaruh Mekanisme Semua komponen good
(2018) Good Corporate corporate governance tidak
Governance Terhadap berpengaruh terhadap
Manajemen Laba pada manajemen laba.
Perusahaan Manufaktur
Sektor Food and
Beverage yang Terdaftar
BEI periode 2012-2016

5 Kurniawati Analisis Pengaruh Leverage, Ukuran


(2018) Leverage, Ukuran Perusahaan, Komite Audit,
Perusahaan, Komite dan Profitabilitas
Audit, Dan Profitabilitas berpengaruh terhadap
Terhadap Manajemen manajemen laba.
Laba (Studi Empiris pada
Perusahaan manufaktur
yang terdaftar di BEI
Periode 2014-2016)

6 Mangkusuryo Pengaruh Mekanisme Komite Audit, Komisaris


dan Jati (2017) Good Corporate Independen tidak terbukti
Governance Terhadap berpengaruh signifikan
Manajemen Laba pada terhadap praktek manajemen
Perusahaan yang masuk laba.
dalam Corporate Hasil dari Kepemilikan
Governance Perception Manajerial dan Profitabilitas
Index (CGPI) tahun 2013- terbukti berpengaruh
2015 signifikan terhadap
praktek manajemen laba.
31

Tabel 1.
Telaah PenelitianTerdahulu
(lanjutan)

Nama Peneliti
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun)
7 Fatmawati Pengaruh Mekanisme Dewan Direksi, Dewan
(2016) Good Corporate Komisaris, Komite Audit
Governance Terhadap tidak terbukti berpengaruh
Manajemen Laba pada signifikan terhadap praktek
Perusahaan Manufaktur manajemen laba.
yang Terdaftar di BEI
periode 2011-2015

8 Herdian (2015) Pengaruh Good Komite audit, kepemilikan


Corporate Governance, institusional dan
Profitabilitas, Free Cash profitabilitas mampu
Flow dan Leverage mengurangi tindakan
Terhadap Manajemen manajemen laba.
Laba pada Perusahaan Sedangkan ukuran dewan
Manufaktur di BEI direksi, proporsi dewan
periode 2011-2013 komisaris independen dan
leverage tidak berpengaruh
terhadap praktek manajemen
laba.

9 Gunawan, dkk Pengaruh Ukuran Semua variabel tidak


(2015) Perusahaan, berpengaruh terhadap
Profitabilitas, dan manajemen laba.
Leverage Terhadap
Manajemen Laba Pada
Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia periode
2009 - 2013

C. Perumusan Hipotesis

a. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba

1. Komite audit

Komite audit adalah pihak yang bertanggung jawab melakukan pengawasan

dan pengendalian untuk menciptakan keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan


32

responsibilitas (Sulistyanto, 2008:156). Keempat faktor inilah yang membuat

laporan keuangan menjadi lebih berkualitas. Dalam melaksanakan tugasnya,

komite audit perlu melakukan rapat-rapat yang berfungsi sebagai media komunikasi

dan koordinasi anggotanya dalam melaksanakan tugas pengawasan pelaporan

kinerja manajemen. Jumlah rapat komite audit mengacu pada kesediaan anggota

komite audit untuk bekerja sama dalam mempersiapkan, mengajukan pertanyaan,

dan mengejar jawaban ketika berhadapan dengan manajemen, auditor internal,

auditor eksternal, dan pihak-pihak lain yang relevan. Semakin banyak jumlah rapat,

semakin terkoordinir pula tugas pengawasan yang dilakukan oleh anggota komite

audit. Dengan pengawasan yang baik maka kemungkinan praktek manajemen laba

dapat ditanggulangi. Berdasar teori keagenan, dengan adanya komite audit dapat

meminimalisir kesalahan atas pencatatan laporan keuangan, karenanya adanya

pengawasan dan pengelolaan pada perusahaan.

Penelitian yang dilakukan Suaidah & Utomo (2018) menemukan bahwa

komite audit yang melakukan pertemuan secara teratur akan menjadi pengawas

yang lebih baik dalam mengawasi proses pelaporan keuangan. Hasil penelitian oleh

Lin et al. (2006) dan Fatmawati (2016) juga mengungkapkan kesimpulan yang

sama, yaitu keberadaan komite audit di perusahaan terbukti berpengaruh negatif

terhadap praktik manajemen laba. Hal ini terjadi karena tujuan perusahaan

membentuk komite audit hanya sekedar untuk memenuhi peraturan Bapepam yang

bersifat mandatory. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis pertama dalam

penelitian ini adalah:

H1a. Komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.


33

2. Ukuran Dewan Direksi

Ukuran dewan direksi merupakan salah satu komponen good corporate

governance untuk mengelola sumber daya perusahaan supaya dapat dimaksimalkan

penggunaannya. Namun kebutuhan akan jumlah dewan direksi yang besar akan

menimbulkan kerugian dalam hal komunikasi dan koordinasi, sehingga akan

muncul permasalahan antara pihak principal dan agent (Jensen, 1993). Manajemen

akan menjadi lebih leluasa melakukan manajemen laba karena kurangnya

komunikasi dan koordinasi antar dewan direksi. Ukuran dewan direksi yang lebih

sedikit dapat lebih efektif dalam menanggulangi praktek manajemen laba yang

dilakukan oleh pihak manajemen. Hubungan keagenan (agency relationship) akan

terjadi ketika adanya pihak – pihak dalam perusahaan yang memiliki kepentingan

untuk mencapai tujuan dalam kegiatan tersebut, dengan bertindak atas kepentingan

mereka sendiri.

Penelitian Herdian (2015) menyatakan bahwa ukuran dewan direksi

berpengaruh negatif secara tidak signifikan terhadap manajemen laba. Fatmawati

(2016) juga berpendapat dewan direksi memiliki pengaruh negatif signifikan

terhadap manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis kedua

dalam penelitian ini adalah:

H1b. Ukuran dewan direksi berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

3. Proporsi Dewan Komisaris Independen

Dewan komisaris independen antara lain bertugas dan bertanggung jawab

untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif

(memantau jadwal, anggaran, dan efektivitas strategi), mematuhi hukum dan


34

perundangan yang berlaku, serta menjamin bahwa prinsip-prinsip dan praktik good

corporate governance telah dipatuhi dan diterapkan dengan baik (Sulistyanto,

2008:144). Dalam hubungannya dengan teori keagenan adalah bahwa jumlah

dewan komisaris independen bisa sangat mempengaruhi setiap keputusan yang

akan dibuat, dalam kaitannya dalam pembuatan laporan keuangan perusahaan

sehingga dapat terjadinya asimetri informasi antar principal dan agent-nya.

Hal ini akan mengurangi kemungkinan kecurangan dalam menyajikan

laporan keuangan yang mungkin dilakukan manajemen, karena pengawasan yang

dilakukan oleh anggota komisaris lebih baik dan lebih bebas dari berbagai

kepentingan intern dalam perusahaan (Chtourou et al., 2001). Karena semakin

tinggi proporsi dewan komisaris independen, maka semakin baik pula fungsi

pengawasan dalam perusahaan, sehingga praktek manajemen laba yang dilakukan

pihak manajemen dapat di minimalisir atau ditanggulangi.

Penelitian yang dilakukan Fatmawati (2016) mengatakan bahwa proporsi

dewan komisaris independen memiliki pengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Dan penelitian Mangkuryo & Jati (2019) mengatakan bahwa maka dapat diartikan

bahwa dewan komisaris independen tidak berpengaruh secara parsial terhadap

variabel manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis ketiga yang

akan diujikan adalah:

H1c. Proporsi dewan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap


manajemen laba.

4. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah bagian dari saham perusahaaan yang

dimiliki oleh investor institusi, seperti perusahaan asuransi, institusi keuangan


35

(bank, perusahaan keuangan, kredit), dana pensiun, investment banking, dan

perusahaan lainnya yang terkait dengan kategori tersebut (Yang et al., 2009). Chew

dan Gillan (2009:176) menjelaskan bahwa terdapat dua jenis investor institusional,

yaitu investor institusional sebagai transient investors (pemilik sementara

perusahaan) dan investor institusional sebagai sophisticated investors. Kepemilikan

institusional dalam teori keagenan akan mendapatkan hubungan keagenan (agency

relationship) yang terjadi ketika satu atau lebih individu untuk melakukan sejumlah

wewenang dan mendelegasikannya untuk membuat keputusan keagenan tersebut.

Penelitian yang dilakukan Suri dan Dewi (2018) menunjukkan bawha secara

parsial kepemilikan institusional berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap

manajemen laba. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis keempat yang akan diuji

pada penelitian ini adalah:

H1d. Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

5. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah saham yang dimiliki oleh manajemen secara

pribadi maupun saham yang dimiliki oleh anak cabang perusahaan yang

bersangkutan beserta afiliasinya. Jika manajer mempunyai kepemilikan pada

perusahaan maka manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang

saham, karena manajer juga mempunyai kepentingan di dalamnya. Besar kecilnya

jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan

adanya kesamaan kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham.

Indikator untuk mengukur kepemilikan manajerial adalah persentase perbandingan

jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dengan seluruh jumlah saham
36

perusahaan yang beredar. Artinya semakin besar kepemilikan manajerial maka

semakin besar pula kecenderungan pihak manajemen melakukan praktek

manajemen laba. Menurut teori keagenan, semakin dekat perusahaan dengan

pelanggaran yang berbasis akuntansi, maka memungkinkan para pemilik

perusahaan untuk cepat memilih prosedur akuntansi yang dapat memindahkan laba

yang dilaporkan.

Hasil penelitian yang berbeda ditunjukkan oleh Mangkusuryo dan Jati (2017)

yang menunjukkan bahwa kepemilkan manajerial berpengaruh terhadap besar

kecilnya praktik discretionary accruals (manajemen laba) di suatu perusahaan. Dan

juga hasil penelitian yang dilakukan oleh Suaidah dan Utomo (2018) menyatakan

bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap manajemen laba. Berdasarkan

hal tersebut, maka hipotesis kelima yang akan diuji pada penelitian ini adalah:

H1e. Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

b. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Gitman (2003:591) mengungkapkan bahwa profitabilitas merupakan

hubungan antara pendapatan dan beban secara umum dengan menggunakan total

aktiva atau aset perusahaan, baik aset lancar maupun aset tetap di dalam kegiatan

produksi. Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan

keputusan perusahaan (Brigham dan Houston, 2006:107). Oleh karena itu,

profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting

karena untuk melangsungkan keberlanjutannya, suatu perusahaan harus berada

dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Para pemangku kepentingan

seperti kreditur, pemilik perusahaan dan terutama dari pihak manajemen


37

perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan karena didasari betapa

pentingnya arti dari profit terhadap kelangsungan dan masa depan perusahaan

(Syamsuddin, 2011:59).

Menurut Syahyunana (2004:85), ROA menunjukan kemampuan perusahaan

menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Besarnya perhitungan

pengembalian atas aktiva menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan

menghasilkan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dengan seluruh

aktiva yang dimilikinya. Oleh karena itu, analisa profitabilitas perusahaan

menggunakan alat ukur ROA dapat menjadi salah satu alternatif stakeholders untuk

menganalisa performa kinerja manajer perusahaan melalui data laporan keuangan

yang tersedia. Untuk profitabilitas dalam teori agensi mengasumsikan bahwa

prinsipal mempunyai banyak informasi atau akses ke seluruh perusahaan untuk

dapat menilai suatu perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam periode

tertentu.

Penelitian yang dilakukan Gunwawan, dkk (2015) profitabilitas tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba sehingga tidak mampu mengurangi tindakan

manajemen laba. Dan penelitian Kurniwati (2018) menyatakan bahwa profitabilitas

berpengaruh positif terhadap manajemen laba sehingga profitabilitas dapat memicu

peningkatan manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis keenam

pada penelitian ini adalah:

H2. Profitabilitas berpengaruh positif terhadap manajemen laba.


38

c. Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Menurut Rodoni dan Ali (2010:123) bahwa “leverage adalah rasio yang

mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya

yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk

membayar hutang”. Kesalahan pengambilan keputusan ataupun strategi bisnis

dapat mengakibatkan perusahaan terancam gagal untuk membayar kewajibannya.

Perusahaan yang terancam gagal membayar kewajibannya memungkinkan pihak

manajemen melakukan manajemen laba sehingga perusahaan dalam pandangan

investor maupun publik tetap baik. Leverage adalah perbandingan total kewajiban

dengan total aset perusahaan. Semakin besar proporsi leverage maka semakin besar

pula kemungkinan perusahaan melakukan manajemen laba guna menjaga nama

baik perusahaan di mata investor maupun publik. Dalam hubungannya dengan teori

keagenan, adalah bahwa leverage merupakan salah satu mekanisme bagi

stakeholders untuk meminimumkan masalah keagenan dengan manajer (Agustia,

2013).

Penelitian yang dilakukan oleh Emy dkk., (2019) leverage berpengaruh

positif terhadap praktek manajemen laba, semakin tinggi leverage dapat memicu

peningkatan manajemen laba. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan yang

mempunyai leverage yang tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi

dibandingkan dengan proporsi asetnya akan cenderung melakukan manipulasi

dalam bentuk manajemen laba. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis ketujuh

yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

H3. Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.


39

D. Model Penelitian

Good Corporate Governance

Komite Audit (KA)


H1a ( - )

Ukuran Dewan Direksi


(UDK) H1b ( + )

Proporsi Dewan Komisaris H1c ( - )


Independen (PDKI) Manajemen Laba
H1d ( - ) (ML)
Kepemilikan Institusional
(KI) H1e ( - )

H2 (+)
Kepemilikan Manajerial
(KM)
H3 (+)

Profitabilitas (PRO)

Leverage (LEV)

Gambar 1. Model Penelitian


BAB III

METODA PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Metode penentuan

sampel dari populasi yang ada berdasarkan kriteria tertentu yang dikehendaki

peneliti atau purposive sampling. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh sesuai

dengan tujuan penelitian dan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria

yang dimaksud meliputi:

1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan termasuk kategori

perusahaan manufaktur selama periode 2014-2018.

2. Perusahaan yang menerbitkan data laporan keuangan tahuan yang lengkap

selama periode pengamatan.

3. Perusahaan yang memiliki Corporate Governance.

4. Laporan keuangan perusahaan tidak terdapat laba negatif.

5. Tidak terdapat informasi yang terkait dengan variabel penelitian.

B. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian ini berbentuk deskriptif kuantitatif, maksudnya dalam

penelitian ini untuk mencari besar atau kecilnya suatu pengaruh terhadap suatu

objek yang diteliti. Selain itu data penelitian ini dinyatakan dalam angka,

40
41

dengan mencari data yang ada kaitannya dengan faktor yang mendukung

pengaruh variabel tersebut.

Sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder yang

diperoleh secara tidak langsung baik melalui media perantara. Data sekunder

yang diperoleh berasal dari laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan

manufaktur selama periode 2014-2018 yang telah diaudit. Data-data tersebut

diperoleh melalui akses internet pada website www.idx.co.id. Penelitian

periodisasi data penelitian yang mencakup data periode tahun 2014-2018

dipandang cukup mewakili untuk memprediksi indikasi adanya manajemen

laba, karena merupakan periode terkini dari kondisi di dalam pasar modal.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metodedokumentasi yang digunakan untuk mendapatkan data-data tertulis dari

laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur yang dipublikasikan, selain

itu menggunakan studi pustaka dengan melihat literatur.


42

C. Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel

Tabel 2.1
Variabel Penelitian

No Variabel Definisi Alat Ukur


1 Manajemen Diukur dengan a. Mengukur total accrual dengan
Laba (Earning proxy menggunakan model Modified
Management) discretionary Jones.
accruals (DA)
yang kemudian Total Accrual (TAC) = NI – CFO
diabsolutkan.
b. Menghitung nilai accruals yang
diestimasi dengan persamaan
Manajemen Laba regresi.
(Y), diukur untuk
mengakomodasi TACt/ At-1 = α1(1/ At-1) +
manajemen laba α2((ΔREVt ) / At-1) + α3(PPEt /
meningkatkan At-1) + e
atau menurunkan
c. Menghitung non-discretionary
laba (Chen et al,
accruals model (NDA) adalah
2010).
sebagai berikut:

Pengukuran NDAt = α1(1/ At-1) + α2((ΔREVt -


discretionary ΔRECt) / At-1) + α3(PPEt / At1)
accruals sebagai
proksi manajemen
laba menggunakan d. Menghitung discretionary
model Jones (1991) accruals adalah sebagai berikut :
yang dimodifikasi
oleh (Dechow et DACt : (TACt / At-1) – NDAt
al.1995).
e. Menghitung absoute
discretionary accruals adalah
sebagai berikut:

ABSDAC : |DACt|
43

Tabel 2.1
Variabel Penelitian
(lanjutan)

No Variabel Definisi Alat Ukur


2 Komite Audit Pihak yang
bertanggung jawab
melakukan
pengawasan dan
pengendalian total anggota KA diluar
untuk menciptakan KA= 100%
total anggota KA
keadilan,
transparansi,
(Reviani dan Sudantoko, 2012)
akuntabilitas, dan
responsibilitas.
(Sulistyanto,
2008:156)

3 Ukuran Direksi adalah


Dewan Direksi organ perseroan
yang berwenang
dan bertanggung
jawab penuh atas
pengurusan UDK = DK Internal + DK Eksternal
perseroan untuk
kepentingan (Agustia, 2013)
perseroan dan
sesuai maksud dan
tujuan perseroan
(KNKG, 2006)

4 Proporsi Bertugas dan


Dewan bertanggung jawab
Komisaris memiliki strategi DK luar perusahaan
PDKI= x100%
Independen bisnis yang efektif, Total DK
menjamin prinsip
dan praktik gcg
dipatuhi dan (Ujiyanto, 2007)
diterapkan
(Sulistyanto,
2008:144).
44

Tabel 2.1
Variabel Penelitian
(lanjutan)

No Variabel Definisi Alat Ukur


5 Kepemilikan Bagian dari saham KI =
Institusional perusahaaan yang Jumlah saham institusional
dimiliki oleh 𝑥100%
Jumlah saham yang beredar
investor institusi,
seperti perusahaan
asuransi, institusi (Boediono, 2005)
keuangan, dana
pensiun, investment
banking, dan
perusahaan lainnya
yang terkait dengan
kategori tersebut
(Yang et al., 2009)
6 Kepemilikan Merupakan alat Jumlah saham yg dimiliki
KM= x100%
Manajerial monitoring internal Seluruh saham beredar
yang penting untuk
memecahkan (Boediono, 2005)
konflik agensi
antara external
stockholders dan
manajemen (Chen
dan Steiner, 1999).

7 Profitabilitas Merupakan Laba bersih


hubungan antara ROA=
Total Aset
pendapatan dan
beban secara umum (Kasmir, 2016)
dengan
menggunakan total
aktiva atau aset,
baik aset lancar
maupun aset tetap
di kegiatan
produksi Gitman
(2003:591) .
45

Tabel 2.1
Variabel Penelitian
(lanjutan)

No Variabel Definisi Alat Ukur


8 Leverage Merupakan 𝐿𝐸𝑉
penggunaan biaya 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
tetap dalam usaha = 𝑥100%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠
untuk meningkatkan
(atau menaikkan)
profitabilitas Horne & (Harahap, 2013)
John M. Wachowicz
(2012:169).
Sumber: Data diolah tahun 2019

D. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan software SPSS (Statistical Product and Service

Solution) versi 25.0, yang berfungsi untuk menganalisis data dan melakukan

perhitungan statistik baik parametric maupun non parametric dengan basis

windows.

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah penyajian data secara numerik. Statistik deskriptif

digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari

nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian maksimum, minimum, sum, range,

kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2018:19). Data yang

diolah berupa data kualitatif dan data kuantitatif.

2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian regresi berganda dapat dilakukan setelah model dari penelitian

ini memenuhi syarat–syarat lolos dari asumsi klasik. Syarat-syarat tersebut harus
46

terdistribusi secara normal, tidak mengandung multikolinearitas, autokorelasi, dan

heteroskedastisitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel independen dan variabel dependen atau keduanya terdistribusikan secara

normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal

atau mendekati normal. Uji normalitas yang digunakan adalah uji statistik

nonparametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) pada tingkat signifikansi 0,05 atau 5%.

Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal

(Ghozali, 2018:160).

Dasar yang digunakan untuk pengambilan keputusan dengan melihat angka

probabilitas, dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Probabilitas > 0,05 maka data terdistribusi normal.

2. Probabilitas < 0,05 maka data tidak terdistribusi normal.

2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (bebas). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika antar

variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90), maka

hal ini merupakan indikasi adanya multikolonieritas dan variabel-variabel ini tidak

ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar

sesama variabel independen sama dengan nol. (Ghozali, 2018:105).


47

Cara mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi

adalah dilihat dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) Variance Inflation Factor

(VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang

dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Pengertian sederhana, setiap variabel

independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel

independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang

terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi, nilai tolerance

yang rendah sama dengan VIF tinggi (karena VIF = 1/tolerance). Nilai cut-off yang

umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance

≤ 0.10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat

kolonieritas yang masih dapat ditolerir. Walaupun multikolonieritas dapat dideteksi

dengan nilai tolerance dan VIF, tetapi kita masih tetap tidak mengetahui variabel-

variabel independen manakah yang saling berkorelasi (Ghozali, 2018:105).

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke

pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain

tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda adalah heterokedastisitas.

Model regresi yang baik adalah data yang tidak terjadi heterokedastisitas.

Heteroskedastisitas terjadi apabila variabel gangguan tidak mempunyai variance

yang sama untuk semua observasi. Cara yang dapat digunakan untuk melihat ada

atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dengan menggunakan uji Glejser.

Jika dalam hasil uji Glejser menunjukkan variabel independen signifikan


48

mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.

Jika probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 5%, maka model

regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas (Ghozali, 2018:139).

4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada

korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem

autokorelasi. Hal ini sering ditemukan pada data runtun waktu (time series)

(Ghozali, 2018:110).

Cara mengetahui autokorelasi dalam regresi menggunakan uji Durbin Watson.

Uji ini digunakan untuk autokorelasi yang mensyaratkan adanya intercept

(konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel bebas (Ghozali, 2018:110).

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi:

(1) Batas atas (du) < DW < 4-du, maka koefisien autokorelasi = 0, berarti tidak

ada autokorelasi, positif atau negatif.

(2) Nilai DW < batas bawah (dl), maka koefisien autokorelasi > 0, berarti ada

autokorelasi positif.

(3) Nilai DW > 4-dl, maka ada autokorelasi negatif.

(4) Nilai du < DW < dl atau 4-du < DW < 4-dl, maka hasilnya tidak dapat

disimpulkan.

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Metoda Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda

(multiple regression analysis). Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk


49

mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis ini

juga mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukan

arah hubungannya. Model regresi linier berganda dalam penelitian ini berupa

persamaan sebagai berikut:

DTACt = α + β1KA + β2UDK + β3PDKI + β4KI + β5KM + β6PRO + β7LEV + e

Keterangan:

DTACt : Discretionary Accrual (proksi dari manajemen laba)

α : Konstanta

β1, β2, β3,


β4, β5, β6, β7 : Koefisien regresi

KMA : Komite Audit

UDD : Ukuran Dewan Direksi

PDKI : Proporsi Dewan Komisaris Independen

KI : Kepemilikan Institusional

KM : Kepemilikan Manajerial

PRO : Profitabilitas (Return On Asset)

LEV : Leverage

e : error

4. Pengujian Hipotesis

a. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Koefisien determinasi (Adjusted R Square) pada intinya mengukur seberapa

jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai

koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti

kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel


50

dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel

independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2018:97).

a. Uji F (Goodness of Fit)

Uji F pada dasarnya digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi

sampel dalam menaksir nilai aktual (goodness of fit). Uji F menunjukkan apakah

variabel independen yang dimaksudkan dalam model mempunyai pengaruh

terhadap variabel dependen dan model dalam penelitian bagus dan tepat (fit).

Pengujian yang dilakukan dengan distribusi F adalah membandingkan nilai F hasil

perhitungan dengan nilai F menurut tabel (Ghozali, 2018:98). Menentukan nilai F

tabel menggunakan tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan pembilang

(df1) = k dan derajat kebebasan penyebut (df2) = n - k - 1 (k adalah jumlah variabel

bebas).

Keputusan yang diambil yaitu:

(1) Jika F hitung > F tabel atau ρ value < α = 5%, maka Ho ditolak atau Ha

diterima, artinya model dalam penelitian layak atau fit.

(2) Jika F hitung < F tabel atau ρ value > α = 5%, maka Ho tidak ditolak atau

Ha tidak ditolak, artinya model dalam penelitian tidak layak atau tidak fit.

α = 5%
Ho tidak dapat
ditolak Ho ditolak
Gambar 3.1
Daerah Penerimaan Uji F
51

b. Uji t

Uji t digunakan untuk menunjukkan variabel independen secara individu

atau parsial dalam menerangkan variasi variabel dependen. Uji t digunakan untuk

mengukur signifikansi pengaruh pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan

perbandingan nilai t hitung masing-masing koefisien regresi dengan t tabel (nilai

kritis) sesuai dengan tingkat signifikansi yang digunakan (Ghozali, 2018:98)

Kriteria uji t berupa: level of significans 0,05 dengan derajat kebebasan df = n-1 dan

merupakan uji satu sisi. Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan t tabel

dengan keterangan:

(1) Jika hipotesis positif

a) Jika nilai t hitung > t tabel atau p value < α = 5%, maka Ho ditolak atau Ha

diterima, artinya variabel independen berpengaruh positif terhadap variabel

dependen.

b) Jika nilai t hitung < t tabel atau p value > α = 5%, maka Ho tidak diterima

atau Ha tidak ditolak, berarti variabel independen tidak berpengaruh

terhadap variabel dependen.

α = 5%
Ho tidak dapat ditolak
Ho ditolak
0 t tabel
Gambar 3.2
Kurva Uji t Penerimaan Hipotesis Positif
52

(2) Jika hipotesis negatif

a) Jika nilai –t hitung < -t tabel atau p value < α = 5%, maka Ho ditolak atau

Ha diterima, berarti variabel independen berpengaruh negatif terhadap

variabel dependen.

b) Jika nilai –t hitung > -t tabel atau p value > α = 5%, maka Ho tidak ditolak

atau Ha tidak ditolak, berarti variabel independen tidak berpengaruh

terhadap variabel variabel dependen

α = -5%

Ho tidak dapat ditolak


Ho ditolak
t tabel 0
Gambar 3.3
Kurva Uji t Penerimaan Hipotesis Negatif
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014 sampai dengan tahun

2018. Berdasarkan pengambilan sampel dengan menggunakan metode

purposive sampling diperoleh sampel sebanyak 33 perusahaan, sehingga

jumlah sampel secara keseluruhan selama 5 tahun sebanyak 165 data observasi.

Hasil seleksi sampel disajikan dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1
Sampel Penelitian

Kriteria Sampel Jumlah


Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di
144
Bursa Efek Indonesia (BEI)
1. Perusahaan manufaktur yang tidak
terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama (26)
periode 2014-2018
Perusahaan yang tidak menerbitkan
2. laporan keuangan tahuan lengkap selama
(22)
periode pengamatan.
Perusahaan yang tidak memiliki
3.
Corporate Governance. (9)
Laporan keuangan perusahaan tidak
4. terdapat laba negatif. (38)
Tidak terdapat informasi yang terkait
5. (16)
dengan variabel penelitian.
Jumlah perusahaan manufaktur yang sesuai dengan
33
kriteria dan dapat digunakan sebagai sampel
Jumlah data observasi sampel penelitian
165
(5 tahun x 33 perusahaan)
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

53
54

B. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atau

deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata

(mean), standar deviasi dari masing-masing variabel. Berdasarkan hasil olah

data statistik diperoleh statistik deskriptif yang disajikan dalam tabel 4.2.

Tabel 4.2
Statistik Deskriptif
Std.
Variabel N Minimum Maximum Mean
Deviation
LN_KA 165 -0,51 0,29 -0,0220 0,21165
LN_UDK 165 1,10 1,61 1,3496 0,16744
LN_PDKI 165 -0,92 -0,40 0,6552 0,16936
LN_KI 165 0,60 4,20 2,9831 0,85804
LN_KM 165 0,31 3,84 2,6746 0,87356
LN_PRO 165 -2,53 4,19 2,4503 0,80313
LN_LEV 165 -3,00 2,46 0,7831 0,69263
Valid N 165
(listwise)
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Penjelasan secara rinci dari hasil pengujian statistik deskriptif adalah

sebagai berikut:

1. Deskripsi Data Variabel Komite Audit (KA)

Keberadaan komite audit merupakan adanya komite audit dalam

perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan statistik diskriptif dapat

diketahui bahwa perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

mempunyai nilai keberadaan komite audit terendah -0,51. Sementara nilai

keberadaan komite audit tertinggi adalah 0,29 dan dengan standar deviasi

0,21. Adapun rata-rata keberadaan komite audit pada perusahaan

manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018 adalah -0,0220. Hal


55

ini berarti bahwa rata-rata perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

selama tahun 2014-2018 telah memiliki komite audit.

2. Deskripsi Data Variabel Ukuran Dewan Direksi (UDK)

Nilai standar deviasi variabel ukuran dewan direksi 0,167 dan nilai

mean sebesar 1,34. Nilai mean tersebut lebih besar dari standar deviasinya.

Hal ini menunjukkan data memiliki variance yang relatif lebih kecil,

sehingga sebaran data stabil. Secara keseluruhan nilai ukuran dewa direksi

terendah (minimum) sebesar 1,10 dan ukuran dewan direksi tertinggi

(maksimum) sebesar 1,61 dengan selisih 0,51.

3. Deskripsi Data Variabel Proporsi Dewan Komisaris Independen (PDKI)

Proporsi dewan komisaris independen merupakan jumlah total

anggota dewan komisaris, baik yang berasal dari internal perusahaan

maupun dari eksternal perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan statistik

diskriptif dapat diketahui bahwa perusahaan manufaktur di Bursa Efek

Indonesia mempunyai ukuran dewan komisaris terendah -0,92, sementara

nilai proporsi dewan komisaris independen tertinggi adalah -0,40 dan

dengan standar deviasi 0,169. Adapun rata-rata proporsi dewan komisaris

independen pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun

2014-2018 adalah -0,65. Hal ini berarti bahwa rata-rata jumlah total

anggota dewan komisaris independen, baik yang berasal dari internal

perusahaan maupun dari eksternal perusahaan adalah 0,537.


56

4. Deskripsi Data Variabel Kepemilikan Institusional (KI)

Nilai standar deviasi variabel kepemilikan institusional 0,858 dan

nilai mean sebesar 2,98. Nilai mean tersebut lebih besar dari standar

deviasinya. Hal ini menunjukkan data memiliki variance yang relatif lebih

kecil, sehingga sebaran data stabil. Secara keseluruhan nilal kepemilikan

institusional terendah (minimum) sebesar 0,60 dan kepemilikan

institusional tertinggi (maksimum) sebesar 4,20 dengan selisih 3,60.

5. Deskripsi Data Variabel Kepemilikan Manajerial (KM)

Nilai standar deviasi variabel kepemilikan manajerial 0,873 dan

nilai mean sebesar 2,67. Hal ini menunjukkan bahwa nilai standar deviasi

lebih kecil dari mean, variabel kepemilikan manajerial mengidentifikasi

hasil yang baik, karena nilai standar deviasi mencerminkan penyimpangan

dari data variabel tersebut cukup tinggi karena lebih kecil dari rata -

ratanya. Secara keseluruhan nilai kepemilikan manajerial terendah

(minimum) sebesar 0,31 dan kepemilikan manajerial tertinggi

(maksimum) sebesar 3,84 dengan selisih 3,53.

6. Deskripsi Data Variabel Profitabilitas (PRO)

Variabel Profitabilitas yang diukur dengan ROA menunjukkan

nilai rata – rata sebesar 2,45 dengan nilai minimum yang diperoleh sebesar

-2,53 dan nilai maksimum sebesar 4,19. Hal ini berarti ROA yang tinggi

menunjukkan efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan aset yang

dimiliki untuk menciptakan laba.


57

7. Deskripsi Data Variabel Leverage (LEV)

Variabel leverage yang diukur dengan DER atau perbandingan

antara total utang dibanding dengan total ekuitas menunjukkan nilai rata –

rata sebesar 0,78. Hal ini berarti bahwa perusahaan rata – rata memiliki

hutang sebesar 0,78 dari seluruh modal sendiri perusahaan. Nilai leverage

minimum diperoleh sebesar 0,05 atau terdapat hutang sebesar 0,05% dari

seluruh modal sendiri perusahaan dan leverage terbesar adalah sebesar

2,46 atau terdapat hutang yang lebih besar dari modal sendiri perusahaan.

C. Uji Asumsi Klasik

1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji

normalitas yang digunakan adalah uji statistik non-parametrik

Kolmogorov-Smirnov (K-S) pada tingkat signifikansi 0,05 atau 5% (ρ

value). Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau

mendekati normal. Jika ρ value > dari 0,05, maka data terdistribusi normal.

Jika ρ value < dari 0,05, maka data tidak terdistribusi normal. Berdasarkan

hasil analisis diperoleh uji normalitas dalam tabel 4.3.

Tabel 4.3
Uji Normalitas

Unstandardized
Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 0,360
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,000
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019
58

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nilai Kolmogorov-

Smirnov adalah 0,360 dengan tingkat signifikansi 0,000 dimana nilainya

lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukan bahwa data residual tidak

terdistribusi normal. Setelah dilakukan pengobatan dengan

mentransformasi variabel dependen yaitu variabel manajemen laba ke

dalam bentuk logaritma natural (Ln) menggunakan bantuan menu

transform dan compute, maka hasil pengujian normalitas penelitian ini

menjadi seperti dalam tabel 4.4

Tabel 4.4
Uji Normalitas Setelah Proses Pengobatan

Unstandardized
Residual
Kolmogorov-Smirnov Z 0,780
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,320
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan hasil uji non parametrik Kolmogorov-Smirnov pada

Tabel 4.4 dapat diketahui nilai Kolmogorov-Smirnov yang diperoleh

sebesar 0,780 dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,320. Hasil

tersebut menunjukkan bahwa p value 0,320 > 0,05. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa data pada model regresi penelitian ini terdistribusi

dengan normal.

2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen.

Model regresi yang baik adalah model yang tidak mengandung

multikolinearitas. Dengan kata lain, model regresi yang baik adalah model
59

regresi yang tidak memiliki korelasi antar variabel independen

Berdasarkan hasil analisis statistik, diperoleh hasil uji multikolonieritas

berdasarkan nilai tolerance dan VIF seperti pada tabel 4.5.

Tabel 4.5
Uji Multikolonieritas

Variabel Tolerance VIF Keterangan


KA 0,915 1,093 Tidak terjadi multikolonieritas
UDK 0,034 29,823 Terjadi multikolonieritas
PDKI 0,033 30,464 Terjadi multikolonieritas
KI 0,256 3,909 Tidak terjadi multikolonieritas
KM 0,232 4,304 Tidak terjadi multikolonieritas
PRO 0,921 1,086 Tidak terjadi multikolonieritas
LEV 0,901 1,110 Tidak terjadi multikolonieritas
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui terdapat multikolonieritas

pada variabel ukuran dewan direksi dan proporsi dewan komisaris

independen. Setelah dilakukan pengobatan dengan mentransformasi

variabel independen yaitu variabel ukuran dewan direksi dan proporsi

dewan komisaris independen ke dalam bentuk logaritma natural (Ln)

menggunakan bantuan menu transform dan compute, maka hasil pengujian

mulkolonieritas penelitian ini menjadi seperti dalam tabel 4.6

Tabel 4.6
Uji Multikolonieritas Setelah Proses Pengobatan

Variabel Tolerance VIF Keterangan


KA 0,915 1,093 Tidak terjadi multikolonieritas
UDK 0,828 1,208 Tidak terjadi multikolonieritas
PDKI 1,000 1,000 Tidak terjadi multikolonieritas
KI 0,256 3,909 Tidak terjadi multikolonieritas
KM 0,232 4,304 Tidak terjadi multikolonieritas
PRO 0,921 1,086 Tidak terjadi multikolonieritas
LEV 0,901 1,110 Tidak terjadi multikolonieritas
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019
60

Berdasarkan hasil uji multikolonieritas pada Tabel 4.6 dapat

diketahui bahwa variabel komite audit, ukuran dewan direksi, proporsi

dewa komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, profitabilitas, leverage memiliki nilai tolerance > 0,10 dan

memiliki nilai VIF < 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam model

regresi ini tidak terjadi multikolonieritas.

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu

pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas

dan jika berbeda adalah heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dalam

penelitian ini menggunakan uji Glejser. Jika dalam hasil uji Glejser

menunjukkan variabel independen signifikan memengaruhi variabel

dependen dengan probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan

5%, maka model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.

Berdasarkan hasil analisis statistik, diperoleh hasil uji Glejser untuk

menentukan uji heteroskedastisitas seperti dalam tabel 4.7.


61

Tabel 4.7
Uji Heteroskedastisitas Sebelum Proses Pengobatan

Unstandardized Standardized
Keterangan Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) 0,395 7,620 0,052 0,959
KA -0,605 0,584 -0,082 -1,036 0,302
UDK 0,124 1,001 0,051 0,124 0,902
PDKI 0,674 7,125 0,040 0,095 0,925
KI 0,007 0,014 0,072 0,478 0,633
KM -0,004 0,020 -0,036 -0,226 0,822
PRO 0,017 0,012 0,114 1,436 0,153
LEV 0,221 0,067 0,265 3,307 0,001
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui terdapat heteroskedastisitas

pada variabel leverage. Setelah dilakukan pengobatan dengan

mentransformasi variabel independen yaitu leverage ke dalam bentuk

logaritma natural (Ln) menggunakan bantuan menu transform dan

compute, maka hasil pengujian mulkolonieritas penelitian ini menjadi

seperti dalam tabel 4.8

Tabel 4.8
Uji Heteroskedastisitas Setelah Proses Pengobatan

Unstandardized Standardized
Keterangan Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) 0,048 7,879 0,006 0,995
KA -0,768 0,602 -0,105 -1,277 0,204
UDK 0,147 1,039 0,061 0,141 0,888
PDKI 2,227 7,372 0,131 0,302 0,763
KI 0,005 0,014 0,056 0,357 0,721
KM -0,003 0,020 -0,024 -0,145 0,885
PRO 0,010 0,021 0,066 0,469 0,640
LN_LEV 0,129 0,268 0,067 0,481 0,631
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan Tabel 4.8 tersebut menunjukan bahwa seluruh

variabel independen, yaitu dapat diketahui bahwa variabel komite audit,


62

ukuran dewan direksi, proporsi dewa komisaris independen, kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, profitabilitas, leverage memiliki

probabilitas signifikansi di atas tingkat kepercayaan 5%. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa dalam model regresi pada penelitian ini tidak

mengandung adanya heteroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi

yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin Watson.

Berdasarkan hasil analisis statistik, diperoleh hasil uji Durbin Watson

untuk menentukan uji autokorelasi seperti dalam tabel 4.9.

Tabel 4.9
Uji Autokorelasi

R R Square Adjusted Std. Durbin-


R Square Error of the Watson
Estimate
0,449 0,202 0,166 2,25743 0,886
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Nilai DW (d) sebesar 0,886, nilai ini akan dibandingkan dengan

nilai tabel Durbin-Watson dengan menggunakan nilai signifikansi 5%,

jumlah sampel 165 (n) dan jumlah variabel independen 7 (k=7). Hasil

tersebut diperoleh bahwa nilai Durbin Watson (DW) sebesar 0,886 yang

lebih kecil dari nilai batas bawah (dl) yaitu 1,060 dan lebih besar atau

mendekati nilai 0. Artinya, nilai DW adalah 1,060 < 0,886< 0. Dengan

kata lain, kondisi tersebut menunjukan bahwa terdapat autokorelasi positif


63

di dalam model regresi penelitian ini. Setelah dilakukan pengobatan

dengan menggunakan metode Cochrane Orcutt maka hasil pengujian

autokorelasi seperti dalam tabel 4.10.

Tabel 4.10
Uji Autokorelasi Setelah Pengobatan

R R Square Adjusted R Std. Error of Durbin-Watson


Square the Estimate
0,432 0,187 0,151 1,86013 1,814
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan tabel 4.10, nilai DW (d) berubah menjadi sebesar

1,814. Maka diperoleh bahwa nilai Durbin Watson (DW) sebesar 1,814

yang lebih besar dari nilai batas atas (du) yaitu 1,060 dan lebih kecil dari

nilai 4 dikurangi batas atas (4 - du) yaitu 2,079. Dengan kata lain, nilai DW

berada diantara nilai batas atas dan nilai selisih 4 dengan batas atas, yaitu

1,060 < 1,814 < 2,079. Artinya, kondisi tersebut menunjukan bahwa sudah

tidak ada lagi autokorelasi positif di dalam model regresi penelitian ini.

D. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui pengaruh

variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil analisis,

diperoleh hasil regresi linear berganda seperti dalam tabel 4.11.


64

Tabel 4.11
Koefisien Regresi

Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) 2,156 0,959 2,248 0,026
KA -0,053 0,409 -0,011 -0,129 0,897
UDK -1,077 0,592 -0,157 -1,820 0,071
PDKI 0,518 0,567 0,077 0,913 0,363
KI -0,364 0,399 0,303 1,074 0,285
KM -0,561 0,332 -0,473 -1,688 0,094
PRO 0,178 0,105 0,141 1,698 0,092
LEV 0,357 0,127 -0,230 -2,821 0,006
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan hasil koefisien regresi pada Tabel 4.11 diperoleh

persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 2,156 - 0,053KA - 1,077UDK + 0,518PDKI - 0,364KI - 0,561KM +

0,178PRO + 0,357LEV + e.

Hasil analisis regresi pada persamaan regresi tersebut dapat diinterpretasikan

sebagai berikut:

1. Nilai konstanta α sebesar 2,156 yang merupakan besarnya tingkat

koefisien manajemen laba apabila variabel lain yang diteliti bernilai

tetap. Artinya, jika variabel independen dianggap konstan (tetap atau

tidak ada perubahan), maka manajemen laba akan naik sebesar 215,6%.

2. Nilai koefisien regresi variabel komite audit (KA) sebesar -0,053.

Artinya, jika anggota komite audit suatu perusahaan meningkat 1%,

maka manajemen laba akan turun sebesar 5,3% dengan asumsi variabel

lain tetap konstan.


65

3. Nilai koefisien regresi variabel ukuran dewan direksi (UDK) sebesar -

1,077. Artinya, jika anggota ukuran dewan direksi suatu perusahaan

meningkat 1%, maka manajemen laba akan turun sebesar 107,7%

dengan asumsi variabel lain tetap konstan.

4. Nilai koefisien regresi variabel proporsi dewan komisaris independen

(PDKI) sebesar 0,518. Artinya, jika nilai proporsi dewan komisaris

independen suatu perusahaan meningkat sebesar 1%, maka akan

mengakibatkan naiknya manajemen laba atau penambahan manajemen

laba sebesar 51,8% dengan asumsi variabel lain tetap konstan.

5. Nilai koefisien regresi variabel kepemilikan institusional (KI) sebesar -

0,364. Artinya, jika kepemilikan institusional meningkat sebesar 1%,

maka manjemen laba akan turun 36,4% dengan asumsi variabel lain

tetap konstan.

6. Nilai koefisien regresi variabel kepemilikan manajerial (KM) sebesar -

0,561. Artinya, jika kepemilikan manajerial menurun sebesar 1%, maka

manajemen laba akan turun 56,1% dengan asumsi variabel lain tetap

konstan.

7. Nilai koefisien regresi variabel profitabilitas (PRO) sebesar 0,178.

Artinya, jika profitabilitas meningkat sebesar 1%, maka tidak akan

mengakibatkan naiknya manajemen laba atau menurunkan manajemen

laba sebesar 17,8% dengan asumsi variabel lain tetap konstan.


66

8. Nilai koefisien regresi variabel leverage (LEV) sebesar 0,357. Artinya,

jika leverage bertambah sebesar 1%, maka manajemen laba akan naik

35,7% dengan asumsi variabel lain tetap konstan.

E. Pengujian Hipotesis

1. Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Koefisien determinasi (Adjusted R Square) adalah mengukur

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Berdasarkan hasil analisis statistik, diperoleh hasil koefisien determinasi

seperti dalam tabel 4.12.

Tabel 4.12
Uji Koefisien Determinasi

Adjusted R Std. Error of the


R R Square
Square Estimate
0,285 0,081 0,048 1,03451
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan hasil koefisien determinasi pada Tabel 4.12 dapat

diketahui bahwa koefisien determinasi penelitian ini memiliki nilai

Adjusted R Square sebesar 0,081. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen

sebesar 8,1%, sisanya sebesar 91,9% dijelaskan oleh faktor lain di luar

model penelitian ini.

2. Uji F

Uji F digunakan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel

dalam menaksir nilai aktual (goodness of fit). Selain itu, dalam uji F akan

diketahui pengaruh secara simultan variabel independen terhadap variabel


67

dependen sehingga dapat diuji kelayakan model penelitian. Berdasarkan

hasil analisis statistik, diperoleh hasil uji F seperti dalam tabel 4.13.

Tabel 4.13
Uji F

Sum of Mean
Model df F Sig.
Squares Square
Regression 12,950 7 2,590 2,420 0,039
Residual 146,619 156 1,070
Total 159,568 163
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan Tabel 4.14 diketahui bahwa model regresi penelitian

ini memiliki nilai F hitung sebesar 2,420 dengan tingkat signifikansi 0,039

yang berarti lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat digunakan

untuk memprediksi variabel dependen atau dapat dikatakan bahwa

variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Nilai F

tabel untuk N = 164 dengan df1 = k = 7 dan df2 = n - k - 1 = 164 - 7 - 1 =

156 diperoleh nilai F tabel sebesar 2,07. Hasil tersebut menunjukkan

bahwa F hitung 2,420 > F tabel 2,07, maka Ho ditolak atau Ha tidak dapat

ditolak, sehingga model regresi layak digunakan. Hasil Uji F (goodness of

fit) dapat dijabarkan dalam gambar nilai kritis uji pada gambar 4.1.

α = 5%

Ho tidak dapat
ditolak
Ho ditolak
l
2,07 2,420
Gambar 4.1
Nilai Kritis Uji F
68

3. Uji t

Uji t digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu

variabel independen (bebas) dalam menerangkan variasi variabel

dependen (terikat). Proses pengujian ini dilakukan dengan cara melihat

nilai signifikansi masing-masing variabel independen menggunakan

tingkat kepercayaan 0,05 atau 5%.

Nilai t tabel dapat dilihat pada tabel t statistik pada df = n – k – 1

atau 164 - 7 - 1 = 156 (k adalah jumlah variabel independen). Keputusan

hipotesis diterima atau tidak diterima dapat diukur dengan melihat nilai

dan arah dari t hitung yang diperoleh. Berdasarkan hasil analisis statistik,

hasil uji statistik t dapat ditunjukan seperti dalam tabel 4.14.

Tabel 4.14
Uji t

Variabel Hipotesis t hitung Sig. t tabel Keterangan


KA Negatif -0,129 0,897 -1,654 H1a tidak diterima
UDK Positif -1,820 0,071 1,654 H1b tidak diterima
PDKI Negatif 0,913 0,363 -1,654 H1c tidak diterima
KI Negatif 1,074 0,285 -1,654 H1d tidak diterima
KM Negatif -1,688 0,094 -1,654 H1e tidak diterima
PRO Positif 1,698 0,092 1,654 H2 tidak diterima
LEV Positif -2,821 0,006 1,654 H3 tidak diterima
Sumber: Data sekunder yang diolah 2019

Berdasarkan Tabel 4.14 dapat dijabarkan pengaruh masing-masing

variabel dependen sebagai berikut:


69

a. Pengaruh Komite Audit Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, ukuran perusahaan

memperoleh nilai -t hitung = -0,129 > -t tabel = -1,654 dan ρ value =

0,897 > α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa komite audit tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba, maka H1a tidak diterima.

Hasil pengujian statistik t variabel komite audit dapat dilihat pada

gambar 4.2.

Ho ditolak Ho tidak dapat


ditolak
l
-1,654 -0,129 0

1,654
Gambar 4.2
Nilai kritis Uji t Variabel Komite Audit

b. Pengaruh Ukuran Dewan Direksi Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, ukuran dewan direksi

memperoleh nilai -t hitung = -1,820 < t tabel = 1,654 dan ρ value =

0,071 < α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa variabel ukuran dewan

direksi tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, maka H1b tidak

diterima. Hasil pengujian statistik t variabel ukuran dewan direksi

dapat dilihat pada gambar 4.3.


70

Ho tidak dapat
ditolak Ho ditolak

l
-1,820 0 1,654

Gambar 4.3
Nilai kritis Uji t Variabel Ukuran Dewan Direksi

c. Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen Terhadap

Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, proporsi dewan

komisaris independen memperoleh nilai t hitung = 0,913 > t tabel = -

1,654 dan ρ value = 0,363 > α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa

variabel proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh

terhadap manajemen laba, maka H1c tidak diterima. Hasil pengujian

statistik t variabel proporsi dewan komisaris independen dapat dilihat

pada gambar 4.4.

Ho ditolak Ho tidak dapat


ditolak
l
-1,654 0
0,913

Gambar 4.4
Nilai kritis Uji t Variabel Proporsi Dewan Komisaris Independen

d. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, kepemilikan

institusional memperoleh nilai t hitung = 1,074 < -t tabel = -1,654 dan

ρ value = 0,285 < α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa kepemilikan


71

instusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, maka H1d

tidak diterima. Hasil dapat dilihat pada gambar 4.5.

Ho ditolak Ho tidak dapat


ditolak
l
-1654 0
1,074

-1,654
Gambar 4.5
Kurva Uji t Variabel Kepemilikan Institusional

e. Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, kepemilikan manajerial

memperoleh nilai -t hitung = -1,688 > -t tabel = -1,654 dan ρ value =

0,094 > α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa kepemilikan manajerial

tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, maka H1e tidak

diterima. Hasil dapat dilihat pada gambar 4.6.

Ho ditolak Ho tidak dapat


ditolak
l
-1,688 -1,654 0

Gambar 4.6
Kurva Uji t Variabel Kepemilikan Manajerial

f. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, profitabilitas

memperoleh nilai t hitung = 1,698 > t tabel = 1,654 dan ρ value = α

0,092 > α = 0,05. Hal ini menunjukan bahwa profitabilitas tidak


72

berpengaruh terhadap manajemen laba, maka H2 tidak diterima.

Hasil dapat dilihat pada gambar 4.7.

Ho tidak dapat
ditolak Ho ditolak

l
0 1,654 1,698

Gambar 4.7
Kurva Uji t Variabel Profitabilitas

g. Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik, leverage memperoleh

nilai -t hitung = -2,821 < t tabel = 1,654 dan ρ value = 0,006 < α =

0,05. Hal ini menunjukan bahwa leverage berpengaruh negatif

terhadap manajemen laba, maka H3 tidak diterima. Hasil pengujian

statistik t variabel leverage dapat dilihat pada gambar 4.8.

Ho tidak dapat
ditolak Ho ditolak

-2,821 0 1,654

Gambar 4.8
Kurva Uji t Variabel Leverage
73

F. Pembahasan

1. Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa komite audit tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa

keberadaan komite audit gagal dalam mendeteksi manajemen laba. Hal ini

disebabkan oleh pembentukan komite audit yang di dasari sebatas untuk

pemenuhan regulasi, dimana regulasi mensyaratkan perusahaan harus

mempunyai komite audit. Sehingga mengakibatkan kurang efektifnya

peran komite audit dalam memonitor kinerja manajemen. Sesuai dengan

tugasnya seharusnya komite audit mampu melakukan penelaahan atas

informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan, seperti laporan

keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya. Keberadaan komite

audit diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas secara

signifikan terutama dalam penanganan hal-hal yang terkait dengan system

kendali internal, manajemen resiko, pengungkapan laporan keuangan

perusahaan serta praktik-praktik Good Corporate Governance secara

keseluruhan. (Agustia, 2013)

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan dapat terjadi atas yang penyewaan suatu

individu atau organisasi dari diluar. Contohnya dapat terjadi akibat besar

atau kecilnya suatu komite, khususnya komite audit dalam perusahaan

yang dapat dengan mudah untuk melakukan sejumlah jasa dan

mendelegasikan kewenangan untuk membuat keputusan.


74

Penelitian ini konsisten dengan penelitian Suaidah dan Utomo

(2018) yang menyimpulkan bahwa komite audit tidak berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba. Akan tetapi, penelitian ini tidak

konsisten dengan penelitian Sari, dkk. (2019) yang menyatakan bahwa

komite audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

2. Pengaruh Ukuran Dewan Direksi Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa ukuran dewan

direksi tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Ukuran dewan direksi

tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sehingga besar kecilnya

jumlah dewan direksi tidak mampu membatasi tindakan manajemen laba.

Hal ini disebabkan karena perusahaan yang berukuran besar memiliki

perhatian yang lebih, sehingga manajemen akan meminimalkan risiko dan

menghindari tindakan yang tidak semestinya (disfunctional behaviour)

seperti manajemen laba yang dapat mengancam jabatan, kompensasi dan

prestasi manajemen perusahaan tersebut. Jumlah dewan direksi sangat

penting dalam sebuah perusahaan, namun jika jumlah dewan direksi dalam

suatu perusahaan melebihi batas atau terlalu banyak, maka kinerja dewan

direksi tidak akan terkontrol secara baik sehingga peluang untuk

melakukan kecurangan sangatlah besar (Fatmawati, 2016).

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan dapat terjadi dengan adanya banyak atau

sedikitnya direksi dalam perusahaan yang dapat dengan mudah untuk

melakukan kewenangannya dalam membuat suatu keputusan. Namun,


75

menurut Jensen (1993) jumlah dewan direksi yang relatif kecil kurang dari

7 orang dapat membantu meningkatkan kinerja mereka sehingga lebih

optimal dalam memonitor kinerja manajemen. Jumlah dewan direksi yang

cukup besar yaitu lebih dari 7 orang tidak dapat berfungsi secara optimal

karena akan mengalami kesulitan untuk berkoordinasi.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Herdian (2015)

yang menyatakan bahwa ukuran dewan direksi berpengaruh terhadap

manajemen laba. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak konsisten dengan

penelitian Fatmawati (2016) yang menyatakan bahwa variabel ukuran

dewan direksi tidak memiliki pengaruh terhadap manajemen laba.

3. Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen Terhadap

Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik diketahui bahwa proporsi

dewan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

Sehingga dapat dikatakan bahwa dewan komisari independen tidak

memiliki kemampuan mengendalikan manajemen untuk meminimalisir

praktik manajemen laba. Besar kecilnya proporsi dewan komisaris

independen tidak dapat menjadi faktor penentu utama dari efektivitas

pengendalian melalui nilai, norma, dan kepercayaan yang diterima dalam

suatu organisasi serta peran dewan komisaris dalam aktivitas pengendalian

(monitoring) terhadap manajemen (Agustia, 2013).

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan dapat terjadi terhadap principal dan manajer


76

yang dapat mengangkat atau menyewa suatu individu atau organisasi dari

diluarnya. Untuk itu hubungan keagenan dapat terjadi ketika adanya

proporsi atau jumlah suatu dewan dalam perusahaan yang dapat digunakan

sebagai alat untuk melakukan kewenangan dan mendelegasikanya untuk

membuat suatu keputusan terhadap perusahaan.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Suaidah dan

Utomo (2018) dan Mangkusryo & Jati (2017) yang menyatakan bahwa

proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak konsisten dengan

penelitian Sari, dkk., (2019) yang menyatakan bahwa proporsi dewan

komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

4. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa kepemilikan

institusional tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Artinya, tinggi

rendahnya kepemilikan disuatu perusahaan tidak berpengaruh terhadap

terjadinya manajemen laba di suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan

kepemilikan saham institusional yang besar membuat investor mempunyai

kekuatan yang lebih, dalam melakukan kontrol terhadap kegiatan

operasional perusahaan. Transient investor’s justru akan membuat pihak

manajer mengambil kebijakan agar bisa mencapai target laba yang

diinginkan para investor. Dengan adanya kepemilikan institusional

menyebabkan manajer terasa terikat untuk memenuhi target laba dari para
77

investor, sehingga manajer akan tetap cenderung terlibat dalam tindakan

manipulasi laba (Febrianti, 2016).

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan dapat terjadi terhadap manajer yang

disebabkan karena adanya kepemilikan saham institusional yang besar

dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan kontrol terhadap kegiatan

operasional perusahaan tersebut. Akibatnya pihak manajemen dapat saja

terpicu melakukan tindakan yang akan meningkatkan laba jangka pendek,

misalnya dengan melakukan manipulasi laba.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Suri dan Dewi

(2018) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba. Akan tetapi, hasil penelitian ini

tidak konsisten dengan penelitian Herdian (2015) yang menyatakan bahwa

kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

5. Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik diketahui bahwa kepemilikan

manajerial tidak berpengaruh terhadap manajermen laba. Ini dikarenakan

seorang manajer yang juga mempunyai saham memiliki kepentingan

pribadi yaitu adanya return yang diperoleh dari kepemilikan sahamnya

pada perusahaan tersebut. Hal ini akibat dari adanya ketimpangan

informasi (information asymetry) yaitu kondisi dimana satu pihak

memiliki kelebihan informasi dibandingan dengan pihak lain. Semakin

tinggi kepemilikan saham oleh manajerial maka semakin tinggi pula


78

kemungkinan dalam melakukan manajemen laba (Suaidah & Utomo,

2018)

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan bisa sangat terjadi ketika kepemilkan yang

dimilki oleh pihak manajemen tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam

menekan tindakan manajemen laba, karena pihak manajerial atau

manajemen bisa saja melakukan tindakan manajemen laba walaupun

mereka mempunyai kepemilikan didalam perusahaan, hal ini untuk

kepentingan pribadi mereka untuk mendapatkan bonus yang besar.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Suri dan Dewi

(2018) yang menyatakan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh

terhadap manajemen laba. Namun, hasil penelitian ini tidak konsisten

dengan penelitian Suaidah dan Utomo (2018) dan Mangkusuryo dan Jati

(2017) yang menyatakan bahwa variabel kepemilikan manajerial memiliki

pengaruh terhadap manajemen laba.

6. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik diketahui bahwa profitabilitas

tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal tersebut menunjukkan

bahwa, perusahaan dengan timgkat profitabilitas yang besar ataupun kecil

memiliki tingkat manajemen laba yang rendah. Hal ini juga dikarenakan

investor yang cenderung mengabaikan informasi ROA yang ada sehingga

manajemen pun menjadi tidak termotivasi melakukan manajemen laba

melalui variabel profitabilitas. Jadi, semakin tinggi atau rendahnya


79

profitabilitas yang diperoleh oleh suatu perusahaan tidak akan

mempengaruhi tingkat manajemen laba perusahaan (Herdian, 2015).

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa kinerja manajemen diukur dari profitabilitas yang dihasilkan. Hal

tersebut menunjukkan bahwa, perusahaan dengan tingkat profitabilitas

yang besar ataupun kecil memiliki tingkat manajemen laba yang rendah.

Hal ini juga dikarenakan investor yang cenderung mengabaikan informasi

ROA yang ada sehingga manajemen pun menjadi tidak termotivasi

melakukan manajemen laba melalui profitabilitas. Jadi, semakin tinggi

atau rendahnya profitabilitas yang diperoleh oleh suatu perusahaan tidak

akan mempengaruhi tingkat manajemen laba perusahaan.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Gunawan (2015)

yang menyimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap

manajemen laba. Akan tetapi, penelitian ini tidak konsisten dengan

penelitian Sari, dkk (2019) dan Suaidah & Utomo (2018) yang menyatakan

bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba.

7. Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan hasil pengujian statistik diketahui bahwa leverage

berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Artinya, apabila leverage

naik, maka manajemen laba di suatu perusahaan akan semakin turun. Hal

ini disebabkan karena perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi

akibat besarnya total hutang terhadap total aset akan menghadapi resiko

default yang tinggi, dimana perusahaan tersebut akan terancam tidak


80

mampu memenuhi kewajibannya. Tindakan manajemen laba tentunya

tidak dapat dijadikan sebagai mekanisme untuk menghindarkan default

tersebut. Pemenuhan atas kewajiban perusahaan harus tetap dilakukan

dan tidak dapat dihindari dengan adanya manajemen laba.

Penelitian ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan

bahwa hubungan keagenan bisa sangat terjadi antara principal dan manajer

dalam melakukan kewenangan terhadap suatu individu atau organisasi

diluar. Untuk itu hubungan keagenan dapat terjadi ketika adanya hasil

suatu leverage atas utang atau ekuitas dalam perusahaan yang menjadikan

hasil tersebut sebagai perintah atau delegasi dari manajer atas principalnya

dalam rangka untuk membiayai kelangsungan operasi perusahaan.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Kurniwati (2018)

yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh terhadap manajemen laba.

Namun, hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Herdian

(2015) yang menyatakan leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen

laba
BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014-2018. Sampel diambil

dengan menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh data yang

dapat diolah sebanyak 33 perusahaan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut,

maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa komite audit,

ukuran dewan direksi, proporsi dewan komisaris independen, kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, profitabilitas, dan leverage dalam

menjelaskan manajemen laba mendapatkan hasil yang tidak banyak berasal

dari model penelitian ini dan hasil lebih banyak dijelaskan oleh faktor-faktor

yang lain di luar model penelitian ini.

Hasil uji F menunjukan bahwa komite audit, ukuran dewan direksi,

proporsi dewan komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, profitabilitas, dan leverage berpengaruh terhadap manajemen laba

sehingga model yang digunakan layak (fit).

Hasil uji t menunjukan bahwa seluruh hipotesis dalam penelitian ini

tidak dapat ditolak, dimana komite audit, ukuran dewan direksi, proporsi

dewan komisaris independen, kepemilikan institusional, kepemilikan

81
82

manajerial, profitabilitas tidak berpengaruh terhadap manjemen laba,

sedangkan leverage berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

B. Keterbatasan Penelitian

1. Perusahaan yang dijadikan sampel penelitian hanya mendasar pada

perusahaan manufaktur saja, sehingga kurang mewakili seluruh emiten

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena keterbatasan

tersebut, maka penelitian ini hanya terdapat 33 perusahaan yang

memenuhi kriteria sampel penelitian.

2. Penelitian ini menggunakan data periode yang relatif pendek, yaitu tahun

2014-2018, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan pada

data serupa yang diterbitkan pada periode yang lain.

3. Terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi manajemen yang tidak

tercakup dalam penelitian, sehingga hanya satu variabel saja yang

menunjukkan hasil yang berpengaruh terhadap manajemen laba.

C. Saran

1. Penelitian selanjutnya menggunakan objek penelitian yang lebih luas,

tidak hanya pada perusahaan manufaktur saja, tetapi bisa mengambil

perusahaan sektor lain yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti

sektor perbankan, jasa keuangan, sehingga memungkinkan hasilnya lebih

baik dari penelitian ini.

2. Penelitian selanjutnya menambah tahun atau memperpanjang tahun

penelitian dan perlu direplikasi dengan data dan periode berbeda, sehingga
83

dapat diperoleh informasi yang dapat mendukung atau dapat memperbaiki

hasil penelitian.

3. Penelitian selanjutnya dapat menambah variabel dengan proksi lain yang

lebih lengkap seperti kepemilikan pemerintah, kepemilikan asing, kualitas

auditor (Herdian, 2015).


84

DAFTAR PUSTAKA

Agustia, Dian. 2013. Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash
Flow, dan Leverage Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan, 15(1), 27–42. https://doi.org/10.9744/jak.15.1.27-42

Brigham, Eugene, F., and Houston, J. F. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan


(Essential of Financial Management). Edisi ke sebelas, buku 1. Terjemahan
oleh Ali Akbar Yulianto. Jakarta: Salemba Empat.

Boediono, Gideon. S. B. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme


Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan menggunakan
Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII, 172.

Chen, C. R. dan Steiner, T. L. 1999. Managerial Ownership and Agency Conflicts:


A Nonliear Simultaneous Equation Analysis of Managerial Ownership, Risk
Taking. Debt Policy, and Dividend Policy. The Financial Review. Tallahassee,
34(1), 119.

Chew, Donald, H., and Gillan, S. L. 2009. US Corporate Governance. Columbia:


Columbia University Press

Chtourou, S. M., Bedard, J., & Courteau, L. 2001. Corporate governance and
earnings management. University of Laval, Quebec, Canada.

Cornett, M. M., Marcus, A. J., and Tehranian, H. 2009. Corporate Governance And
Earnings Management At Large U.S. Bank Holding Companies. Journal of
Corporate Finance, 15, 412–430.

Eisenhardt, K. M. 1989. Agency theory: An assessment and Review. Academy of


Management Review, 14(1), 57–74.

Emy., dkk. 2019. Pengaruh Faktor Good Corporate Governance, Free Cash Flow,
dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Batu Bara. E-JRA
Vol. 08 No. 03 Februari 2019, 08(03), 87–100.

Fatmawati, Yunel. 2016. Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance


Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015). Jurnal Akuntansi.

Febrianti, Lenny. 2016. Pengaruh Financial Leverage, Profitabilitas, Umur


Perusahaan, Ukuran Perusahaan, dan Struktur Kepemilikan Terhadap
Praktik Perataan Laba (Suatu Studi Pada Perusahaan Manufaktur Food and
Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010–2014).
Fakultas Ekonomi Unpas.
85

Forum For Corporate Governance in Indonesia (FGCI). 2001. Peranan Dewan


Komisaris dan Komite Audit Pelaksanaan Corporate Governance.

Gitman, Lawrance J. 2003. Principle of Managerial Finance. Edisi Sepuluh. Inc.,


United states.

Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi analisis multivariete dengan program IBM SPSS 23.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gunawan, I Ketut, et., al., 2015. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas dan
Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa
Efek Indonesia. Jurnal Akuntansi Program S1. Universitas Pendidikan
Ganesha.

Harahap, Sofyan Syafri. 2013. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan Edisi 11.
Rajawali Pers, Jakarta.

Healy, P.M. and Wahlen. 1999. A Review of the Earning Management and An
Instrumental Variables Approach. Journal of Accounting Research, 33, 353-
368.

Herdian, Christopher. Henry. 2015. Pengaruh Good Corporate Governance,


Profitabilitas, Free Cash Flow Dan Leverage Terhadap Manajemen Laba
Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

James C. Van Horne & John M. Wachowicz jr. 2012. Prinsip-prinsip Manajemen
Keuangan. Edisi 13, buku 1. Jakarta : Salemba Empat.

Jensen, M. C., & Meckling, W. H. 1976. Theory Of The Firm: Managerial


Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial
Economics, 3(4), 305–360.

Kasmir. 2016. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). 2006. Pedoman Umum GCG


Indonesia. Jakarta: KNKG.

Kurniwati, Dyah Ayu. 2018. Analisis Pengaruh Leverage, Ukuran Perusahaan,


Komite Audit, Dan Proftabilitas Terhadap Manajemen Laba. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mangkusuryo, Yusuf, dan Ahmad Waluyo Jati. 2017. Pengaruh Mekanisme Good
Corporate Governance dan Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba. Jurnal
Ekonomi Dan Bisnis, 20(2), 149–154.
86

Midiastuty, P.P. Dan Machfoedz, M. 2003. Analisis Hubungan Mekanisme Good


Corporate Governance Dan Indkasi Manajemen Laba. Simposium Nasional
Akuntansi VI, Surabaya.

Mulford, C. W., & Comiskey, E. E. 2010. Deteksi Kecurangan Akuntansi: The


Financial Numbers Game. Jakarta Pusat: PPM Manajemen.

National Committee on Corporate Governance (NCCG). 2001. Indonesian Code for


Good Corporate Governance

Raja, Dani Rahman. 2014. Aktivis Manajemen Laba: Analisis Peran Komite Audit,
Kepemilikan Institusional, Presentasi, Persentasi Saham Publik dan Leverage
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode Tahun 2008-
2011. Simposium Nasional Akuntansi.

Rianti, Rensi. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Kepemilikan Institusional,


dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan.
E-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, 02(1).

Reviani, D., & Sudantoko, D. 2012. Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran


Perusahaan, dan Corporate Governance Terhadap Manajemen
Laba. PRESTASI, 9(1), 92-108.

Rodoni, Ahmad dan Herni Ali. 2010. Manajemen Keuangan. Jakarta: Mitra
Wacana Media.

Sari, Gusti Ayu Catur Nur, et., al., 2019. Pengaruh Mekanisme Good Corporate
Governance , Profitabilitas dan Kinerja Keuangan Terhadap Environmental
Disclosure. E-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, 10(1)

Scott, William, R. 1997, Financial Accounting Theory, International Edition, New


Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Scott, William R. 2011. Financial Acconting Theory. Edisi 6. USA: Pearson.

Suaidah, Yuniep Mujati, dan Langgeng Prayitno Utomo. 2018. Pengaruh


Mekanisme Good Corporate Governance dan Profitabilitas Terhadap
Manajemen Laba. The New Oxford Shakespeare: Modern Critical Edition,
20(2), 2448–2453. https://doi.org/10.1093/oseo/instance.00209156.

Sudana, I Made. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan (Teori dan Praktek).


Surabaya: Erlangga.

Sulistyanto, H. Sri. 2008. Manajemen Laba. Teori Dan model Empiris. Grasindo:
Jakarta.
87

Suri, Natasha, dan Intan Pramesti Dewi. 2017. Pengaruh Mekanisme Good
Corporate Governance Terhadap Manjamen Laba Pada Perusahaan
Manufaktur Sektor Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Jurnal Sains Manajemen & Akuntansi Volume IX No. 2 / November
/ 2017, IX(2), 65–75.

Syamsuddin, Lukman. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Raja


Grafindo Persada.

Syahyunana. 2004. Manajemen Keuangan 1 (Perencanaan, Analisis dan


Pengendalian Keuangan). Medan: USUS Press.

Ujiyantho, Muh. 2007. Mekanisme Corporate Governance, Manajemen Laba Dan


Kinerja Keuangan. Simposium Nasional Akuntansi X. Makassar, 26–28.

Van Horne, James C dan John M. Wachowicz. 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen


Keuangan Edisi kedua belas. Jakarta: Salemba Empat.

Widowati, Nungki. 2009. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen


Laba Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. Universitas Dipenogoro Semarang.

Wulandari, Rahmita. 2013. Analisa Pengaruh Corporate Governance dan Leverage


Terhadap Manajemen laba. Skripsi. Universitas Diponogoro.

Yang, W. S., Loo, S. C., and Shamser. 2009. The Effect of Board Structure and
Institutional Ownership Structure on Earnings Management. International
Journal of Economics and Management, 3(2), 332–353.

Yu Frank. 2006. Corporate Governance and Earnings Management. Working


Paper.

http://www.bareksa.com , diakses pada tanggal 05 Mei 2019