Anda di halaman 1dari 160

PERJANJIAN PEMBIAYAAN

BANK SUMUT SYARIAH


(Studi Pada Cabang Pembantu Bank Sumut Syariah Stabat)

OLEH:

ANDRA MULIA FATWA


NIM: 203046101672

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH


PROGRAM STUDI MUAMALAH (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDATULLAH JAKARTA
1429 H/2008 M
‫ﺑﺴﻢ اﷲ اﻟﺮ ﺣﻤﻦ اﻟﺮ ﺣﻴﻢ‬

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan Rahmat dan

Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-

baiknya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pembimbing

umat, Rasulullah Muhammad SAW. keluarganya, pula sahabatnya dan umatnya.

Dengan segala rendah hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh

dari kesempurnaan dan tidak akan selesai tanpa dukungan dan bantuan dari

berbagai pihak baik secara moril maupun materil. Seperti juga perjalanan studi

yang penulis jalani dari awal hingga akhir, tidak ada pekerjaan yang sukses

dikerjakan dalam kesendirian. Di balik keberhasilan selalu ada pihak lain yang

memberikan semangat, motivasi, bimbingan serta doa. Untuk itu penulis sangat

berterima kasih atas bantuan dan jasa yang diberikan oleh berbagai pihak dalam

penyelesaian skripsi ini, sebagai berikut:

1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak

Prof. DR. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM.

2. Ibu Euis Amalia, M.Ag, selaku Ketua Jurusan Muamalah Fakultas Syariah

dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Bapak Ah. Azharuddin Lathif,

M.Ag, selaku sekretaris Jurusan Muamalah Fakultas Syariah dan Hukum UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta; Bapak Drs. Djawahir Hejazziey, SH., MA.,

selaku Ketua Program Non-Reguler Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta dan Drs. H. Ahmad Yani, MA., selaku Sekretaris


Program Non-Reguler Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta yang telah banyak membantu penulis dalam menentukan judul dan

dalam penyelesaian hal-hal administratif dan nasehat-nasehat yang sangat

berharga.

3. Bapak Drs. Hasanuddin M.Ag dan Bapak Drs, Djawahir Hejazziey, SH., MA

selaku pembimbing yang telah sabar membimbing, memberikan arahan dan

meluangkan waktunya kepada penulis sehingga skripsi ini selesai.

4. Bapak H. Abdul Wahab Abd. Muhaimin, Lc., MH. dan Bapak Drs. Ahmad

Yani, M.Ag. selaku penguji.

5. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Muamalah Fakultas

Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tidak dapat penulis

sebutkan satu-persatu yang banyak berperan dalam memberikan pembelajaran.

6. Pimpinan dan seluruh Staf Karyawan perpustakaan utama dan perpustakaan

Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu fasilitas untuk

studi kepustakaan.

7. Terkasih dan tercinta, Ibunda saya Hj. Nurjani S.Pd.I dan Ayahanda Wagino

S.Pd atas cinta dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menjalani hidup

dan dan menikmati pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi,

cucuran keringat yang telah engkau berikan kepada ananda hingga sukses

meraih gelar Sarjana S1.

8. “Citra Devi”. Beserta keluarga besar, terima kasih atas segala perhatian, kasih

sayang, motivasi, waktu, yang telah setia mendampingi dalam mencari data

dari awal sampai akhir dan telah memberikan nasehat-nasehat yang berharga.
9. Keluarga Besar Kyai, Abdul Rahman beserta Umi Dech.

10. Keluarga Besar PT. Bank Sumut Syariah Cab. Pembantu Stabat Kab. Langkat

yang telah memberikan informasi banyak tentang Bank Sumut Syariah

sehingga mempermudah penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Keluarga Besar Bang Alfian.

12. Keluarga Besar Syekh Bessilam, Tanjung Pura Kab. Langkat-Sumut.

13. Buat Ibu Kosan yang Slalu Mendo’akan.

14. Keluarga Besar Pak Endang

15. Bang Kamal dan Kak Inur, yang selama ini telah memberikan support serta

kontribusi besar kepada penulis sehingga mempercepat proses penyusunan

skripsi ini.

16. Teman-teman PS B terima kasih atas kebersamaannya selama kita 4 tahun kita

saling mengenal dan menjalin persahabatan bahkan persaudaraan. Apalagi

disaat kita KKN di Gunung Putri Cianjur I always miss all.

17. Teman-temanku di saat menghadapi wisuda, Ayu Dhoni, Prita, Eli, Sahmi

Sitompul, Uda Dion beserta Uni, Alfi, Fia, Eko Kusumo, Inal Pc, Boyduz,

Hasbullah, Ram, Sarmy, Alan Nochi, Boy, Fatwa Ginting, Dhany, Ajo (dkk),

Bosstink, Hadi, Egar, Helmy, Honess, Bang Rio dan Ficky (under story),

terima kasih sudah menemani saat menyelesaikan skripsi ini.

Atas semua bantuan yang telah diberikan, penulis hanya dapat

memanjatkan do’a kepada Allah SWT. semoga kebaikan yang telah diberikan

dapat bernilai ibadah dan dibalas oleh Allah SWT., dengan pahala yang berlipat

ganda.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk kita

semua. Amin.

Jakarta, 3 Juni 2008


M
1 Jumadil Ula
1429 H,

Penulisan
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………........................................ i

DAFTAR ISI...................................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah........................................................ 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah.................................... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................. 8
D. Kajian Pustaka……………………………………………… 9
E. Kerangka Teori dan Konsep………………………………… 10
F. Metode Penelitian ................................................................. 11
G. Sistematika Penulisan ........................................................... 12

BAB II TINJAUAN TEORITIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN


A. Perjanjian Pembiayaan ......................................................... 15
B. Azas-azas Perjanjian………………………………………… 21
C. Syarat dan Rukun Akad…………………………………….. 31
D. Batalnya Perjanjian…………………………………………. 38
E. Pembiayaan…………………………………………………. 40
F. Prinsip Dasar Kegiatan Perbankan Syariah .......................... 42

BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG BANK SUMUT


SYARIAH
A. Tinjauan Tentang Bank Sumut Syariah ................................ 54
1. Pendirian Bank Sumut Syariah ....................................... 54
2. Modal Awal Bank Sumut Syariah................................... 54
3. Struktur Kepengurusan Bank Sumut Syariah ................. 57
B. Produk-Produk Bank Sumut Syariah .................................... 60
C. Geografis Sumatera Utara ..................................................... 74
BAB IV ANALISIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN BANK
SUMUT SYARIAH
A. Ketentuan Umum dan Syarat Memperoleh Pembiayaan di
Bank Sumut Syariah.............................................................. 77
B. Bentuk Perjanjian Pembiayaan Pada Bank Sumut
Syariah .................................................................................. 82
C. Analisis Perjanjian Pembiayaan pada Bank Sumut
Syariah .................................................................................. 92

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 97
B. Saran-saran............................................................................ 97

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 101

LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perjanjian pembiayaan pada bank sumut syariah

Muamalah
Bank
Konvensional syariah
Bank Sumut Syariah
------ pembiayaan
Perjanjian
-------------- sah secara syariah

Bank
------ pembiayaan
Perjanjian

Muamalah
Bank
Konvensional syariah
Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya
membutuhkan orang lain agar dapat menjaga kelangsungan hidupnya,
dengan cara memenuhi kebutuhan hidup mereka. Aktivitas pemenuhan
kebutuhan tersebut melahirkan berbagai kegiatan muamalah antar umat
manusia, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Berbagai aktivitas
ekonomi tersebut terus mengalami perkembangan seiring dengan
kemajuan peradaban manusia dan juga perkembangan teknologi.
Dalam aktivitas perekonomian tersebut, maka peranan bank telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam perdagangan
antar negara maupun perdagangan dalam negara. Dengan melalui bank,
berbagai transaksi dalam dunia perdagangan dapat dlakukan dengan
lebih cepat dan lebih mudah, karena tidak harus melalui transaksi dalam
bentuk tunai. Di segi lain, melalui perbankan masyarakat juga dapat
menyimpan uangnya secara aman dan dapat memperoleh penghasilan
dari aktivitas menyimpan tersebut. Di segi lain, masyarakat yang tidak
memiliki atau kekurangan modal akan dapat meminjam kredit melalui
perbankan, sehingga dapat terbantu dalam melaksanakan berbagai
rencananya, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Dengan demikian
jelaslah bahwa perbank merupakan salah satu fasilitas penting dalam
perekonomian modern saat ini.
Keberadaan perbankan juga telah mengalami perkembangan dalam
penerimaan oleh masyarakat muslim. Pada awalnya sebagaian besar
masyarakat muslim tidak menerimanya, karena ia termasuk kegiatan
riba. Selanjutnya sebagain mereka dapat menerimanya, karena aktivitas
riba tersebut dianggap tidak sama dengan ang terjadi pada masa
Rasululllah SAW dan mengingat kepentingannya pada masa sekarang.
Namun demikian sebagian masyarakat tetap belum dapat menerima
praktek perbankan yang konvensional karena masih terdapatnya unsur
riba tersebut, walaupun dengan berbagai dalih atau alasannya, sehingga
memerlukan suatu perbankan yang benar-benar bersih dari aktivitas atau
unsur riba tersebut. Keadaan ini mendorong masyarakat muslim untuk
melahirkan model perbankan yang benar-benar sesuai dengan syariat
Islam. Keadaan ini akhirnya melahirkan perbankan syariah yang
dianggap telah meneuhi unsure-unsur syariah tersebut dan bebar dari
unsur riba. Hal ini menyebabkan tumbuhnya berbagai perbankan syariah
di luruh wilyah Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara.
Salah satu perbankan syariah di Provinsi Sumatera Utara adalah
Bank Sumut Syariah. Bank ini cukup dapat memberikan kepercayaan
pada masyarakat dalam pelayanan maupun fasilitas. Bank ini didirikan
pada tanggal 4 November 2005 dengan Akte Notaris Roesli Nomor 22
dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT). Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 1962 tentang ketentuan pokok bank milik
Pemerintahan Daerah dengan Peraturan Daerah (Perda) Tingkat I
Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 1965. Perda tersebut menetapkan
modal dasar sebesar Rp 3 Triliun dan sahamnya hanya dimiliki oleh
Pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintahan
Daerah Tingkat II di seluruh Sumatera Utara.
Salah satu dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank Sumut
Syariah adalah penyalur pembiayaan kepada masyarakat. Dalam
penyaluran pembiayaan terhadap masyarakat para pihak terikat dengan
perjanjian, hal itu bertujuan untuk menjamin segala kemungkinan yang
terjadi pada masa pembiayaan berlangsung. Untuk itu antara pihak
kreditur (yang memberikan pinjaman/pembiayaan) dengan pihak debitur
(orang yang menerima pinjaman/kredit/pembiayaan) haruslah terikat
satu perjanjian. Perjanjian sebagaimana dimaksud dikenal dengan istilah
perjanjian penyaluran pembiayaan.
Perjanjian penyaluran pembiayaan merupakan suatu hubungan
hukum antara debitur dan kreditur. Dalam perjanjian pembiayaan diatur
dengan hak dan kewajiban debitur maupun kreditur. Dalam hal ini
kreditur memberikan pinjaman kepada debitur, sehingga kreditur berhak
untuk menuntut pembayaran dari hutang debitur. Sebaliknya debitur
sebagai pihak yang berhutang memiliki kewajiban untuk melaksanakan
prestasi sesuai dengan isi dari perjanjian. Konsekuensinya debitur harus
membayar hutangnya pada saat jatuh tempo atau ada waktu yang telah
ditentukan dalam perjanjian.
Berkaitan dengan perjanjian penyaluran pembiayaan, maka perlu
dilihat pendapat yang dikemukakan oleh R. Setiawan yang menyatakan
“Perjanjian adalah persetujuan atau perbuatan hukum, dimana satu
orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya
terhadap satu orang atau lebih”1
Selanjutnya Hoffman menyebutkan “Perikatan adalah hubungan
hukum kekayaan antara beberapa pihak, dimana pihak yang satu
(prestasi), sedangkan pihak yang lainnya (debitur) berkewajiban untuk
memenuhi tuntutan tersebut (schuld) dan biasanya juga bertanggung
jawab (haftung) atas prestasi itu.2
Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam suatu hubungan
hukum akan terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh
masing-masing pihak. Demikian pula dengan halnya dengan perjanjian
yang dilakukan oleh kreditur (Bank) dengan pihak debitur (nasabah).

Eksitensi perbankan sebagai layanan jasa keuangan berbasis pada


kepercayaan nasabah. Diatur dalam ketentuan perbankan dalam
Undang-Undang No. 7 Tahun 1992, tentang Perbankan Jo Undang-
Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun
1992 Perbankan. Dengan adanya ketentuan syariah, Pasal 1 butir 1 jo
13. Yang dimaksud dengan perbankan adalah segala sesuatu yang
menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha,
serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usaha.

Perjanjian dalam bank syari’ah?


Sedangkan arti dari prinsip syariah adalah aturan perjanjian
berdasarklan Hukum Islam antar bank dan pihak lain untuk
penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan
usaha lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain
pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan
berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual-beli
barang dengan memperoleh keuntungan (mudharabah) atau pembiayaan

1
P.N.H, Simanjuntak, Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia, Djambatan, 1999., h. 332
2
Bachsan Muslapa, Asas-asas Hukum Dagang, Penerbit Armico Bandung, 1982., h. 53
modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau
dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang
disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wal iqtina).
Dengan adanya Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 maka
berlaku dual sistem dalam pengelolaan bank, yakni secara konvensional
dengan menggunakan bunga (interest) untuk setiap peminjaman atau
penyimpangan dana, serta menggunakan sistem bagi hasil yang
merupakan dasar perbankan pada Bank Syariah.
Faktor utama sebagai dasar pertimbangan bagi nasabah dalam
memilih layanan perbankan adalah kepercayaan atas kinerja profesional
perbankan, seperti jaminan keamanan dana nasabah, efektifitas dan
efisien layanan jasa perbankan. Faktor bunga tidaklah menjadi alasan
utama nasabah dalam memilih jasa perbankan, sebagian masyarakat
tidak terlalu memperhatikan masalah atas bunga tersebut,dan lebih
mengutamakan efektifitas, efisiensi dan keamanan atas dana yang
disimpan oleh lembaga perbankan.
Eksitensi lembaga perbankan syariah dalam beberapa tahun
terakhir memang menjadi salah satu alternatif lembaga keuangan bagi
masyarakat sebagai dampak krisis ekonomi 1997 yang berimbas pada
likuidasi perbankan nasional.
“Dalam kurun waktu 1997 hingga saat ini lembaga perbankan
syariah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Jumlah bank tumbuh
dengan pesat dari hanya satu bank umum syariah dan 78 BPRS pada
tahun 1998 menjadi 2 bank umum syariah, 3 UUS, dan 81 BPRS pada
akhir tahun 2001. Jumlah Kantor Cabang dari bank umum syariah dan
UUS tumbuh dari 26 menjadi 51”.3
Kepercayaan masyarakat yang sempat goyah terhadap perbankan
konvensional akibat krisis moneter perbankan tahun 1997 tersebut,
kembali pulih dan tetap menjadi mainstream bagi masyarakat dengan
alasan kepercayaan atas profesional perbankan. Menanggapi timbulnya
interest masyarakat atas prinsip syariah, perbankan konvensional pun
dengan responsive mengembangkan layanan dengan membuka unit
syariah dalam fasilitas layanan jasa perbankan. Dengan profesional
kinerja perbankan dan kredibilitas yang sudah disandangnya,
keberadaan unit perbankan syariah dalam perbankan konvensional telah
menjadi competitor bagi perbankan syariah.
Atas dasar itu pula Bank Sumut sebagai bank konvensional
membuka layanan bank dengan sistem syariah. Dalam penelitian ini
penlis mencoba meninjau lebih jauh tentang bagaimana penyaluran
kredit oleh Bank Sumut Syariah.

3
Http://www. LIPI.com. Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis:
Perspektif Ekonomi Politik Islam, oleh Mahmud Thoha, dikutip pada tanggal 28 Desember 2006.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis memilih judul
skripsi “PERJANJIAN PEMBIAYAAN PADA BANK SUMUT
SYARIAH ”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Batasan masalah merupakan hal yang sangat penting untuk

ditentukan dahulu sebelum sampai tahap pembatasan selanjutnya.

Melihat luasnya cakupan pembahasan serta menghindari kesimpang

siuran dalam penulisan skripsi ini sesuai dengan judul dan latar

belakang masalah yang dijelaskan diatas. Maka penulis membatasi

masalah sampai prinsip dasar sistem pelayanan pada bank syariah dan

penyaluran dana.

Adapun rumusan masalah yang penulis bahas yaitu :

- Apakah perjanjian pembiayaan Bank Sumut Syariah telah memenuhi

ketentuan syariah.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam penyusunan skripsi harus mempunyai tujuan dan manfaat

penelitian. Adapun tujuan yang dilakukan penulis sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pembiayaan di Bank Sumut Syariah

2. Untuk mengetahui bentuk perjanjian pembiayaan Bank Sumut

Syariah kepada nasabah.

3. Untuk mengetahui apakah perjanjian pembiayaan Bank Sumut

Syariah telah memenuhi ketentuan syariah


Adapun manfaat penelitian yang diperoleh penulis, baik Pada

instansi maupun masyarakat. Jika diperinci, maka penelitian yang

penulis laksanakan memiliki 2 manfaat yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian yang penulis lakukan dapat

memberikan penambahan ilmu pengetahuan bagi penulis sendiri, dan

dalam bidang ilmu pengetahuan dapat pula memecahkan atau

mencari solusi dari suatu permasalahan yang ada.

2. Manfaat Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat untuk penulis

dan masyarakat, khususnya bagi penulis akan lebih memudahkan

jika suatu waktu berhadapan dengan persoalan dibidang perbankan,

khususnya yang menyangkut perbankan Syariah. Selanjutnya

penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengalaman bagi penulis

sebagai modal untuk dapat bekerja dengan baik dimasa mendatang.

D. Metode Penelitian

Metode pendekatan yang dipergunkan adalah dengan metode

yuridis normative yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti

pustaka yang merupakan data sekunder seperti: Perundang-undangan

literatur yang berhubungan dengan penyaluran pembiayaan pada Bank

Syariah, khususnya pada Bank SUMUT Syariah.


Perjanjian pembiayaan pada bank sumut syariah

Data:
Sumber data: Pihak bank ---- Masyarakat (nasabah)
Alat pengumpul data:wawancara --- studi documenter ---- library
Analisis: Deskriptif --- tabel frekuensi persentase

Muamalah
Bank
Konvensional syariah
Bank Sumut Syariah
------ pembiayaan
Perjanjian ==
-------------- sah secara syariah

1. Jenis dan Sumber Data

Jenis data penelitian ini adalah data primer. Data primer yang

diperoleh dikelompokkan berdasarkan variabel penelitian,

selanjutnya dianalisis secara kualitatif sehingga diperoleh gambaran

yang jelas tentang pokok permasalahan. Dengan analisis kualilatif

maka data yang diperoleh dari responden menghasilkan data

deskriptif analisis, sehingga dipelajari dan diteliti sebagai sesuatu

yang utuh.

Data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari bahan

hukum primer berupa seperti:

a. Undang-undang No. 10 Tahtm 1998 tentang Perbankan.

b. Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

2. Teknik Pengumpulan Data


Observasi: pengamatan
Wawancara: pertanyaan lisan
Angket: pertanyaan tulisan
Tes:
Studi Dokumenter= dokumen
Library: buku-buku

a. Library Research (Penelitian Kepustakaan).

Metode ini penelitian dilaksanakan dengan cara mengambil

dari sumber bacaan tertulis dari para sarjana, yakni berupa buku-

buku atau bahan ilmiah yang menyangkut tentang penyaluran

dana pembiayaan oleh Bank Syariah.

b. Field Research (Penelitian Lapangan)

Penelitian lapangan dilakukan dengan cara melaksanakan

observasi langsung pada Bank Sumut Syariah dan sekaligus

mengadakan wawancara dengan staff perwakilan Bank Sumut

Syariah Medan.

3. Analisa Data

Data sekunder dari bahan hukum primer disusun secara

sistematis dan kemudian substansinya dianalisis secara yuridis

(contens analysis) untuk memperoleh gambaran tentang pokok

permasalahan.

E. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah:


Bab I Pendahuluan Pada Bab I ini yang kita bahas adalah: A.

Latar Belakang Masalah, B. Pembatasan dan Perumusan Masalah, C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian, D. Metode penelitian, E. Sistematika

Penulisan.

Bab II. Tinjauan Pustaka, A. Gambaran Umum Tentang Bank

Syariah, (1) Sejarah Singkat Bank syariah, (2) Latar Belakang Bank

Syariah (3) Fungsi Bank Syariah, (4) Tujuan Bank syariah. B.

Gambaran Umum Tentang Perjanjian, (1) Pengertian Perjanjian secara

Umum, (2) Bentuk Perjanjian Sistem Pembiayaan Bank sumut Syariah,

(3) Perjanjian Penyaluran Pembiayaan Bank Syariah, (4) Sistem

Penghimpun Dana Bank Syariah, (5) Prinsip Dasar Sistem Pelayanan

Bank Syariah.

Bab III Gambaran Umum Tentang Bank Sumut Syariah, A.

Pembahasan Tentang Bank Sumut Syariah, (1) Pendirian Bank Sumut

Syariah, (2) Modal awal Bank Sumut Syariah, (3) Struktur

Kepengurusan Bank Sumut Syariah, (4) Kedudukan Bank Sumut

Syariah di Bank Indonesia, B. Produk-Produk di Bank SUMUT Syariah,

(1) Penghimpun Dana, (2) Penyaluran Dana, (3) Pelayanan Jasa C.

Realisasi Bank Sumut Syariah.

Bab IV Analisis Perjanjian Pembiayaan Bank Sumut Syariah, A.

Ketentuan Umum Dan Syarat Memperoleh Pembiayaan Di Bank Sumut

Syariah, B. Analisis Akad Pembiayaan di Bank Sumut Syaiah, (1)


Pembiayaan Murabahah, (2) Pembiayaan Mudharabah D. Landasan

Hukum.

BAB V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran-

saran terhadap hasil penelitian.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS TENTANG BANK SYARIAH

A. Gambaran Umum Tentang Bank Syariah


1. Sejarah Singkat Bank Syariah
2. Latar Belakang Bank Syariah
3. Fungsi Bank Syariah
a. Bank Umum
b. Bank Pembangunan
c. Bank Tabungan
d. Bank Pasar
e. Bank Desa
f. Lumbung desa
g. Bank Pegawai
4. Tujuan Bank Syariah
a. Menjalankan kegiatan ekonomi umat
b. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi
c. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat,
B. Gambaran Umum Tentang Perjanjian
1. Pengertian Perjanjian Secara Umum
2. Syarat dan Rukun Akad
a. Shighat (pernyataan ijab dan qabul)
b. ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad)
c. Ma’qud ‘alaih (obyek akad),
d. Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad).
C. Prinsip Dasar Sistem Pelayanan Pada Bank Syariah
1. Fungsi Bank Islam
a. sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi
b. Sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki
c. Sebagai penyedia jasa lalu lintas pembanyaran dan jasa-jasa lainnya
d. Sebagai pengelola fungsi sosial
2. Prinsip Dasar Bank Islam
a. Prinsip mudharabah
b. Prinsip musyarakah
c. Prinsip wadiah
d. Prinsip jual beli (al-buyu’)
1) Murabahah
2) Salam yaitu
3) Ishtisna’
4) Jasa-jasa terdiri dari:
a) Ijarah
b) Wakalah
c) Kafalah
d) Sharf
5) Prinsip kebajikan
2. Produk Bank Islam
a. Penyaluran dana
1) Ba’i (jual beli
2) Salam
3) Istishna
4) ijarah(sewa)
b. Akad Pelengkap
1) hawalah
2) rahn
3) qardh
4) wakalah
5) kafalah
c. Penghimpun dana
1) wadi’ah
2) Mudharabah
a) Mudharabah mutlaqah
b) mudharabah muqayadah
c) wakalah
d. Jasa Perbankan
1) sharf (jual beli valuta asing)
2) ijarah(sewa)
D. Sistem Penghimpunan Dana Bank Syariah
Dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri dari:
1. Modal
2. Titipan
3. Investasi
E. Bentuk Perjanjian Sistem Pembiayaan Pada Bank Syariah
1. Pembiayaan Modal Kerja
a. Pembiayaan Likuidasi (Cash financing)
b. Pembiayaan Piutang
1) Pembiayaan piutang (Receivable Financing)
2) Anjak Piutang (Factoring)
c. Pembiayaan persediaan (Inventory Financing)
1). Bai'al-Murabahah,
2). Bai' al-Istisha',
3). Bai' as-Salam,
2. Pembiayaan Investasi
3. Pembiayaan Konsumtif
F. Perjanjian Penyaluran Pembiayaan pada Bank Syariah
BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG BANK SUMUT SYARIAH

a. Pembahasan tentang Bank SUMUT Syariah


1. Pendirian bank SUMUT syariah
2. Modal Awal Bank SUMUT Syariah
3. Struktur Kepengurusan Bank Sumut
Syariah
4. Kedudukan Bank Sumut Syariah di
SUMUT (Sumatra Utara)

b. Produk-Produk di Bank Sumut Syariah


i. Penghimpun Dana

I. Produk Wadiah (titipan Wadiah)


a. Tabungan Marwah (martabe wadiah)
b. Giro Wadiah

Adapun ketentuan umum dari produk ini adalah :


a. Keuntungan atau kerugian
b. Bank harus membuka akad.
c. Pengganti biaya administrasi
d. Ketentuan-ketentuan lain

II. Produk Mudharabah (bagi hasil)


a. Tabunagan Marhamah (martabe bagi hasil mudharabah)
b. Deposito Ibadah

Dalam kegiatan penghimpun dana, mudharabah terbagi menjadi :


a. GIA = General Investment Account (mudharabah mutlaqah)
Ketentuan umum :
a. Bank wajib
b. Untuk tabungan mudharabah
c. Tabungan dan deposito
d. Ketentuan-ketentuan
b.SIA = Special Investment Account (mudharabah muqayyadah)

a. Dikelola dengan prinsip Mudharabah Mutlaqah .


b. Pemilik dana mendapat bagi hasil .
c. Dapat dijadikan jaminan pembiayaan di PT. Bank Sumut
ii. Penyaluran dana.
I. Transaksi Jual Beli dalam bentuk Piutang Murabahah.
II. Transaksi Bagi Hasil Mudharabah
III. Ijarah dan Ijarah Muntahiyah bit Tamlik.
IV. Gadai Emas Syariah.
V. Qardh
iii. Pelayanan Jasa
Bank Sumut Syariah merupakan perwujudan dari komitmen
Pengelola untuk memberikan “pelayanan terbaik” dalam
memenuhi kebutuhan nasabah akan jasa yang kami tawarkan
kepada nasabah adalah :
I. Kiriman Uang (Transfer)
II. Inkaso (jasa tagih)
III. Bank Garansi
a. Memilih antara Wadiah dan Mudharabah
b. Giro
c. Tabungan
d. Deposito

c. Giografis Sumatera Utara


BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG BANK SUMUT SYARIAH

A. Pembahasan tentang Bank SUMUT Syariah


1. Pendirian bank SUMUT syariah
2. Modal Awal Bank SUMUT Syariah
3. Struktur Kepengurusan Bank Sumut Syariah
4. Kedudukan Bank Sumut Syariah di SUMUT (Sumatra
Utara)

B. Produk-Produk di Bank Sumut Syariah


1. Penghimpun Dana
2. Produk Wadiah (titipan Wadiah)
a. Tabungan Marwah (martabe wadiah)
b. Giro Wadiah
3. Produk Mudharabah (bagi hasil)
a. Tabunagan Marhamah (martabe bagi hasil mudharabah)
b. Deposito Ibadah
Dalam kegiatan penghimpun dana, mudharabah terbagi menjadi :
a. GIA = General Investment Account (mudharabah
mutlaqah)
b. SIA=Special Investment Account(mudharabah
muqayyadah)
4. Penyaluran dana.
a. Transaksi Jual Beli dalam bentuk Piutang Murabahah
b. Transaksi Bagi Hasil Mudharabah
c. Ijarah dan Ijarah Muntahiyah bit Tamlik
d. Gadai Emas Syariah
e. Qardh
5. Pelayanan Jasa
a. Kiriman Uang (Transfer)
b. Inkaso (jasa tagih)
c. Bank Garansi
d. Memilih antara Wadiah dan Mudharabah
e. Giro
f. Tabungan
g. Deposito

C. Giografis Sumatera Utara


BAB IV

ANALISIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN BANK SUMUT SYARIAH

A. Ketentuan Umum dan Syarat Memperoleh Pembiayaan

1. Pembiayaan Mudharabah

2. Pembiayaan Murabahah

B. Bentuk Perjanjian di Bank Sumut Syariah

1. Perjanjian Mudharabah

2. Perjanjian Murabahah

C. Analisis Penulis

1. Perjanjian Mudharabah

2. Perjanjian Murabahah
BAB IV
ANALISIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN BANK SUMUT SYARIAH

D. Ketentuan Umum dan Syarat Memperoleh Pembiayaan di Bank SUMUT


Syariah
• Perseorangan
• Badan Usaha ( Fa, Cv, PT )
• Kelompok Musytari’ (Instansi, Lembaga, BUMN, BUMD, Koperasi,
Perusahaan Bonafide)
I. Proses Pengadaan Barang
I. Prosedur Kepada Perseorangan (1)
I. Prosedur Kepada Perseorangan (2)
II. Prosedur Kepada Badan Usaha
III. Kelompok Pegawai
- Agunan / Jaminan

E. Analisis Akad Pembiayaan Bank Sumut Syariah

1. Akad Pembiayaan Murabahah


Berdasarkan sumber dana yang digunakan, pembiayaan murabahah secara
garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok :
1. Pembiayaan Murabahah yang di danai dengan URIA (Unre stricted
Investment Account = investasi tidak terikat).
2. Pembiayaan Murabahah yang di danai dengan RIA (Restricted
Investment Account = investasi terikat).
3. Pembiayaan Murabahah yang di danai dengan Modal Bank.
Definisi dalam akad pembiayaan murabahah bank sumut syariah ini,
yang dimaksud dengan :
1. Jual-beli Murabahah
2. Barang
3. Supplier/ Developer
4. Urbun
5. Harga Beli
6. Keuntungan
7. Harga jual
8. Agunan
1. Denda
2. Hari Kerja Bank

2. Akad Pembiayaan Mudharabah

1. Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau


2. Mudharabah adalah penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal)
3. Nisbah adalah rasio atau perbandingan pembagian keuntungan (bagi hasil)
4. Bagi hasil adalah bagian hasil usaha yang dihitung dari pendapatan usaha
5. Modal (Maal) adalah dalam uang tunai atau hutang yang diperdagangkan
6. Barang adalah barang yang dihalalkan berdasarkan Syariah baik zatnya
7. Agunan adalah barang bergerak maupun tidak bergerak yang didukung
oleh
8. Cidera Janji (wanprestasi) adalah keadaan tidak dilaksanakannya
sebagian
9. Denda adalah sanksi yang dikenakan kepada nasabah oleh Bank, yang
10. Keuntungan Usaha adalah pertambahan harta yang diperoleh dalam
11. Kerugian Usaha adalah berkurangnya harta di dalam menjalankan
12. Pendapatan adalah seluruh penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha
yang
13. Keuntungan Operasional adalah pendapatan operasional yang diperoleh
dari
14. Keuntungan Bersih adalah keuntungan operasional setelah dikurangi
biaya
15. Pembukuan Modal adalah pembukuan atas nama Syirkah pada Pihak
16. Hari Kerja Bank

F. Landasan hukum
3. Pasal 14 UU No. 14 Tahun 1970
4. Pactum Compromittendo

LEMBAGA/BADAN ARBITRASE (“Wasit”) terdiri dari :


1. Wasit Ad Hoc.
2. Wasit Permanen.
3. Lembaga Pemberi Pendapat yang Bersifat Final.

C. Analisis Penulis

1. Shighat (pernyataan ijab dan qabul)


2. ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad)
3. Ma’qud ‘alaih (obyek akad),
4. Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad).
BAB I

PENDAHULUAN

F. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah mahluk sosial yang dalam kehidupannya

membutuhkan orang lain agar dapat menjaga kelangsungan hidupnya,

dengan cara memenuhi kebutuhan hidup mereka. Aktivitas pemenuhan

kebutuhan tersebut melahirkan berbagai kegiatan muamalah antar umat

manusia, khususnya dalam kegiatan ekonomi. Berbagai aktivitas

ekonomi tersebut terus mengalami perkembangan seiring dengan

kemajuan peradaban manusia dan juga perkembangan teknologi.

Dalam aktivitas perekonomian tersebut, maka peranan bank

telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam

perdagangan antar negara maupun perdagangan dalam negara. Dengan

melalui bank, berbagai transaksi dalam dunia perdagangan dapat

dilakukan dengan lebih cepat dan lebih mudah, karena tidak harus

melalui transaksi dalam bentuk tunai. Di segi lain, melalui perbankan

masyarakat juga dapat menyimpan uangnya secara aman dan dapat

memperoleh penghasilan dari aktivitas menyimpan tersebut. Di segi

lain, masyarakat yang tidak memiliki atau kekurangan modal akan dapat

meminjam kredit melalui perbankan, sehingga dapat terbantu dalam


melaksanakan berbagai rencananya, khususnya dalam kegiatan

ekonomi. Dengan demikian jelaslah bahwa perbankan merupakan salah

satu fasilitas penting dalam perekonomian modern saat ini.

Keberadaan perbankan juga telah mengalami

perkembangan dalam penerimaan oleh masyarakat muslim. Pada

awalnya sebagaian besar masyarakat muslim tidak menerimanya, karena

ia termasuk kegiatan riba. Selanjutnya sebagain mereka dapat

menerimanya, karena aktivitas riba tersebut dianggap tidak sama dengan

Yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan mengingat

kepentingannya pada masa sekarang. Namun demikian sebagian

masyarakat tetap belum dapat menerima praktek perbankan

konvensional karena masih terdapatnya unsur riba tersebut, walaupun

dengan berbagai dalih atau alasannya, sehingga memerlukan suatu

perbankan yang benar-benar bersih dari aktivitas atau unsur riba

tersebut. Keadaan ini mendorong masyarakat muslim untuk melahirkan

model perbankan yang benar-benar sesuai dengan syariat Islam.

Keadaan ini akhirnya melahirkan perbankan syariah yang dianggap

telah memenuhi unsur syariah tersebut dan bebas dari unsur riba. Hal ini

menyebabkan tumbuhnya berbagai perbankan syariah di seluruh

wilayah Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara.

Salah satu perbankan syariah di Provinsi Sumatera Utara

adalah Bank Sumut Syariah. Bank ini cukup dapat memberikan


kepercayaan pada masyarakat dalam pelayanan maupun fasilitas. Bank

ini didirikan pada tanggal 4 November 2005 dengan Akte Notaris Roesli

Nomor 22 dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT). Berdasarkan Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang ketentuan pokok bank milik

Pemerintahan Daerah dengan Peraturan Daerah (Perda) Tingkat I

Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 1965. Perda tersebut menetapkan

modal dasar sebesar Rp 3 Triliun dan sahamnya hanya dimiliki oleh

Pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintahan

Daerah Tingkat II di seluruh Sumatera Utara.

Salah satu dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Bank

Sumut Syariah adalah penyalur pembiayaan kepada masyarakat. Dalam

penyaluran pembiayaan terhadap masyarakat para pihak terikat dengan

perjanjian, hal itu bertujuan untuk menjamin segala kemungkinan yang

terjadi pada masa pembiayaan berlangsung. Untuk itu antara pihak

kreditur (yang memberikan pinjaman/pembiayaan) dengan pihak debitur

(orang yang menerima pinjaman/kredit/pembiayaan) haruslah terikat

satu perjanjian. Perjanjian sebagaimana dimaksud dikenal dengan istilah

perjanjian penyaluran pembiayaan.

Perjanjian penyaluran pembiayaan merupakan suatu

hubungan hukum antara debitur dan kreditur. Dalam perjanjian

pembiayaan diatur dengan hak dan kewajiban debitur maupun kreditur.

Dalam hal ini kreditur memberikan pinjaman kepada debitur, sehingga


kreditur berhak untuk menuntut pembayaran dari hutang debitur.

Sebaliknya debitur sebagai pihak yang berhutang memiliki kewajiban

untuk melaksanakan prestasi sesuai dengan isi dari perjanjian.

Konsekuensinya debitur harus membayar hutangnya pada saat jatuh

tempo atau ada waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian. Hal

tersebut dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Qashash ayat 28, sebagai

berikut:

Artinya: “Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan


kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku
sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku
(lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan".

Berkaitan dengan perjanjian penyaluran pembiayaan, maka

perlu dilihat pendapat yang dikemukakan oleh R. Setiawan yang

menyatakan “Perjanjian adalah persetujuan atau perbuatan hukum,

dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling

mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”4 Selanjutnya

Hoffman menyebutkan “Perikatan adalah hubungan hukum kekayaan

antara beberapa pihak, dimana pihak yang satu (prestasi), sedangkan

pihak yang lainnya (debitur) berkewajiban untuk memenuhi tuntutan

tersebut (schuld) dan biasanya juga bertanggung jawab (haftung) atas

4
P.N.H, Simanjuntak, Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia, Djambatan,
1999., h. 332
prestasi itu.5 Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam suatu

hubungan hukum akan terdapat hak dan kewajiban yang harus dipenuhi

oleh masing-masing pihak. Demikian pula dengan halnya dengan

perjanjian yang dilakukan oleh kreditur (Bank) dengan pihak debitur

(nasabah).

Sedangkan arti dari prinsip syariah adalah aturan perjanjian

berdasarklan Hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk

penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha atau kegiatan

usaha lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain

pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan

berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual-beli

barang dengan memperoleh keuntungan (mudharabah) atau pembiayaan

modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah) atau

dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang

disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wal iqtina).

Dengan adanya Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 maka

berlaku dual sistem dalam pengelolaan bank, yakni secara konvensional

dengan menggunakan bunga (interest) untuk setiap peminjaman atau

penyimpangan dana, serta menggunakan sistem bagi hasil yang

merupakan dasar perbankan pada Bank Syariah. Eksitensi lembaga

5
Bachsan Muslapa, Asas-asas Hukum Dagang, Penerbit Armico Bandung,
1982., h. 53
perbankan syariah dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi

salah satu alternatif lembaga keuangan bagi masyarakat sebagai dampak

krisis ekonomi 1997 yang berimbas pada likuidasi perbankan nasional.

“Dalam kurun waktu 1997 hingga saat ini lembaga

perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Jumlah

bank tumbuh dengan pesat dari hanya satu bank umum syariah dan 78

BPRS pada tahun 1998 menjadi 2 bank umum syariah, 3 UUS, dan 81

BPRS pada akhir tahun 2001. Jumlah Kantor Cabang dari bank umum

syariah dan UUS tumbuh dari 26 menjadi 51”.6

Kepercayaan masyarakat yang sempat goyah terhadap

perbankan konvensional akibat krisis moneter perbankan tahun 1997

tersebut, kembali pulih dan tetap menjadi mainstream bagi masyarakat

dengan alasan kepercayaan atas profesional perbankan. Menanggapi

timbulnya interest masyarakat atas prinsip syariah, perbankan

konvensional pun dengan responsive mengembangkan layanan dengan

membuka unit syariah dalam fasilitas layanan jasa perbankan. Dengan

profesional kinerja perbankan dan kredibilitas yang sudah

disandangnya, keberadaan unit perbankan syariah dalam perbankan

konvensional telah menjadi competitor bagi perbankan syariah.

Atas dasar itu pula Bank Sumut sebagai bank konvensional

6
Http://www. LIPI.com. Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia
Pasca Krisis: Perspektif Ekonomi Politik Islam, oleh Mahmud Thoha, dikutip pada tanggal 28
Desember 2006.
membuka layanan bank dengan sistem syariah. Dalam penelitian ini

penulis mencoba meninjau lebih jauh tentang bagaimana penyaluran

kredit oleh Bank Sumut Syariah.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis memilih

judul skripsi “PERJANJIAN PEMBIAYAAN PADA BANK

SUMUT SYARIAH ”

G. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Batasan masalah merupakan hal yang sangat penting untuk

ditentukan dahulu sebelum sampai tahap pembatasan selanjutnya.

Melihat luasnya cakupan pembahasan serta menghindari kesimpang

siuran dalam penulisan skripsi ini sesuai dengan judul dan latar

belakang masalah yang dijelaskan diatas. Maka penulis membatasi

masalah sampai prinsip dasar sistem pelayanan pada bank syariah dan

penyaluran dana.

Adapun rumusan masalah yang penulis bahas yaitu:

1. Bagaimana Perjanjian Pembiayaan Bank Sumut Syariah?

2. Apakah perjanjian pembiayaan Bank Sumut Syariah telah

memenuhi ketentuan syariah?

H. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam penyusunan skripsi harus mempunyai tujuan dan

manfaat penelitian. Adapun tujuan yang dilakukan penulis sebagai


berikut:

1. Untuk mengetahui pembiayaan di Bank Sumut Syariah.

2. Untuk mengetahui apakah perjanjian pembiayaan Bank Sumut

Syariah telah memenuhi ketentuan syariah.

Adapun manfaat penelitian yang diperoleh penulis, baik

Pada instansi maupun masyarakat. Jika diperinci, maka penelitian yang

penulis laksanakan memiliki 2 manfaat yaitu sebagai berikut:

3. Manfaat Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian yang penulis lakukan dapat

memberikan penambahan ilmu pengetahuan bagi penulis sendiri, dan

dalam bidang ilmu pengetahuan dapat pula memecahkan atau

mencari solusi dari suatu permasalahan yang ada.

4. Manfaat Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat untuk

penulis dan masyarakat, khususnya bagi penulis akan lebih

memudahkan jika suatu waktu berhadapan dengan persoalan

dibidang perbankan, khususnya yang menyangkut perbankan

Syariah. Selanjutnya penelitian ini diharapkan dapat menjadi

pengalaman bagi penulis sebagai modal untuk dapat bekerja dengan

baik dimasa mendatang.

D. Kajian Pustaka
Berdasarkan telaah yang sudah dilakukan terhadap beberapa

sumber kepustakaan, penulis melihat bahwa apa yang merupakan masalah

pokok penelitian ini tampaknya sangat penting dan prospektif untuk

mengetahui banyak juga perusahaan swasta yang menggunakan sistem

syariah. yakni, penelitian ini tentang “PERJANJIAN PEMBIAYAAN BANK

SUMUT SYARIAH”

Adapun kajian pustaka yang digunakan dari penulisan ini

adalah:

1. Siti Khadijah, 9946117203, aplikasi Manajemen Pembiayaan pada Bank

syariah, (Studi Kasus pada BNI SYARIAH) (Jakarta, Program Studi

Perbankan syariah Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum). UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta 2003.

Pada skripsi ini membahas Manajemen Pembiayaan pada Bank Syariah

sedangkan, pada skripsi penulis membahas tentang Aplikasi Perjanjian

pembiayaan Bank Sumut Syariah.

2. Randhi Novadinata, 202046101249, Perjanjian Kerjasama Antara PT.

Jamsostek (persero) Pelaksaaan Pelayanan Kesehatan dalam Perspektif

Hukum Islam dan Hukum Positif. (Jakarta, Program studi Perbankan Islam

Jurusan Muamalat (Ekonomi Islam) Fakultas Syariah dan Hukum UIN

Syarif Hidayatullah, 2006).

Pada skripsi Randhy Novadinata membahas Pembiayaan dengan

Kerjasama antara Jamsostek (persero) dengan Pelaksanaan Pelayanan

Kesehatan ditinjau dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif


sedangkan, pada skripsi penulis hanya membahas Perjanjian Pembiayaan

pada suatu Bank Islam.

E. Kerangka Teori dan Konsep

1. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini membahas tentang Perjanjian

Pembiayaan Bank Sumut Syari’ah, pengertian, landasan hukum serta

sistem kegiatan di Bank Syari’ah pada umumnya dan Bank Sumut

Syari’ah pada khususnya.

2. Kerangka Konsep

Dalam penelitian ini konsep yang dikedepankan adalah sistem

kegiatan Bank Sumut Syari’ah, utamanya pada produk perjanjian

pembiayaan Serta analisis perjanjian pembiayaan yang ditinjau dari rukun

dan syarat akad.

F. Metode Penelitian

Metode pendekatan yang dipergunkan adalah dengan

metode yuridis normative yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara

meneliti pustaka yang merupakan data sekunder seperti: Perundang-

undangan literatur yang berhubungan dengan penyaluran pembiayaan

pada Bank Syariah, khususnya pada Bank Sumut Syariah.

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini di lakukan di Bank Sumut Syariah Cabang

Pembantu Kabupaten Langkat-Sumatra Utara yang beralamat di Jl. Besar


Stabat, dan Kantor Pusat yang beralamat di Jl, Imam Bonjol No. 18,

Medan. Phone : (061) 4155100 – 4514100, Facsimile : (061) 4142937 –

4152652.

2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data penelitian ini adalah data primer. Data primer

yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan variabel penelitian,

selanjutnya dianalisis secara kualitatif sehingga diperoleh gambaran

yang jelas tentang pokok permasalahan. Dengan analisis kualilatif

maka data yang diperoleh dari responden menghasilkan data

deskriptif analisis, sehingga dipelajari dan diteliti sebagai sesuatu

yang utuh.

Data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari bahan

hukum primer berupa seperti: (1) Undang-undang No. 10 Tahun

1998 tentang Perbankan; dan (2) Kitab Undang-undang Hukum

Perdata.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Library Research (Penelitian Kepustakaan).

Metode ini penelitian dilaksanakan dengan cara

mengambil dari sumber bacaan tertulis dari para sarjana, yakni

berupa buku-buku atau bahan ilmiah yang menyangkut tentang

penyaluran dana pembiayaan oleh Bank Syariah.

b. Field Research (Penelitian Lapangan)


Penelitian lapangan dilakukan dengan cara

melaksanakan observasi langsung pada Bank Sumut Syariah dan

sekaligus mengadakan wawancara dengan staff perwakilan Bank

Sumut Syariah Medan.

4. Analisa Data

Data sekunder dari bahan hukum primer disusun

secara sistematis dan kemudian substansinya dianalisis secara yuridis

(contens analysis) untuk memperoleh gambaran tentang pokok

permasalahan.

G. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah:

Bab I Pendahuluan Pada Bab I ini yang kita bahas adalah:

A. Latar Belakang Masalah, B. Pembatasan dan Perumusan Masalah, C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian, D. Kajian Pustaka, E. Metode

penelitian, F. Sistematika Penulisan.

Bab II. Tinjauan Pustaka: A. Pengertian Perjanjian Secara

Umum, B. Azas Perjanjian, C. Syarat dan Rukun Akad, D. Batalnya

Perjanjian, E. Pengertian Pembiayaan, F. Prinsip Dasar Kegiatan

Perbankan Syariah.

Bab III Gambaran Umum Tentang Bank Sumut Syariah, A.

Pembahasan tentang Bank Sumut Syariah (a). Pendirian Bank Sumut


Syariah, (b). Modal Awal Bank Sumut Syariah, (c). Struktur

Kepengurusan Bank Sumut Syariah, dan (d). Kedudukan Bank Sumut

Syariah di Sumatra Utara, B. Produk-Produk di Bank Sumut Syariah, C.

Geografis Sumatera Utara

Bab IV Analisis Perjanjian Pembiayaan Bank Sumut

Syariah, A. Ketentuan Umum dan Syarat Memperoleh Pembiayaan

(Pembiayaan Murabahah, dan Pembiayaan Murabahah) B. Bentuk

Perjanjian Pembiayaan pada Bank Sumut Syariah (Perjanjian

Pembiayaan Murabahah, dan Perjanjian Pembiayaan Mudharabah) C.

Analisis Perjanjian Pembiayaan pada Bank SUMUT Syariah (Perjanjian

Murabahah, dan Perjanjian Mudharabah

BAB V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan

saran-saran terhadap hasil penelitian.


PERJANJIAN PEMBIAYAAN
BANK SUMUT SYARIAH

(Studi Pada Cabang Pembantu Bank Sumut Syariah Stabat)

OLEH:

ANDRA MULIA FATWA


NIM: 203046101672

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH


PROGRAM STUDI MUAMALAH (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDATULLAH JAKARTA
1429 H/2008 M
BAB II

TINJAUAN TEORITIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN

A. Pengertian Perjanjian

1. Hukum Islam

Kata perikatan/perjanjian identik dengan kata akad (al-aqdu),

karena menurut bahasa, kata akad (al-aqdu) berarti perikatan, perjanjian

dan pemufakatan. Hal ini diperkuat dengan alasan bahwa seringnya Al

qur'an memakai kata ini dalam arti perikatan dan perjanjian. Seperti dalam

firman Allah Swt bahwa memerintahkan kepada umat menusia agar

senantiasa menepati janjinya, di dalam surat al-Maidah ayat 1 .

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu;.. ".

Dr. Abdul razak Ahmad al-Sanhuri mengatakan dalam

bukunya Nazhariyat al-Aqdi bahwa pengertian perjanjian lebih sempit dari

sebuah kesepakatan. menurut beliau. "perjanjian adalah kesepakatan yang

dilakukan oleh dua pihak di dalam sehih obyek kegiatan ".7

Dalam ensiklopedi Islam dikatakan, sebagaimana yang

dikutip oleh M. Ali hasan, bahwa akad adalah "pertalian ijab dan Kabul

7
Abdul Razak 'Ahmad al-Sanhuri. Nadzariyat al-Aqdi. (Beirut: Dar al-
Fikr, t.th). h. 80
sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikatan

"8

Dalam Islam sebuah perjanjian sangat dihormati dan

menepatinya, adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena

sikap tersebut menunjukkan sikap sosok pribadi muslim yang baik.

Ada pepatah arab, yang dinukil oleh Sayyid Sabiq, yang

mengatakan bahwa "Barang siapa yang bergaul dengan masyarakat, maka

janganlah menzaliminya, dan apabila berbicara janganlah

membohonginya, dan apabila berjanji janganlah mengkhianatinya, apabila

itu semua telah dikerjakan maka sempurnalah wibawanya. dan nampaklah

kredibilitamu dan dia layak dianggap sebagai saudara.9

Dan siapa pun yang melanggar sebuah perjanjian maka

sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan dosa besar, dan diancam

dengan balasan yang pedih, Allah Swt berfirman dalam surat al-Shaff ayat

2-3:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu


mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar
kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan”.
Bahkan Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

"Sesunggnhnya perjanjian yang baik merupakan sebagian daripada iman

"10

8
M. Ali Hasan, Berhagai Transuksi Dtilum /sltim. (Jakarta: FT. Raja Grafindo Persada,
2003), h. 101
9
Sayyid Sabiq, Fiqh at-Sunnah. (Beirut: Dar al-fikr. 1983) Cet ke-4. h. 99
10
Al-Bukhori, Shohih al-Bitkhori, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987). h.22
Dan yang harus senantiasa diperhatikan adalah bahwa setiap

perjanjian yang kita lakukan. akan diminta pertanggung jawabannya oleh

Allah Swt. Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-Isra ayat 34:

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali


dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa
dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungan jawabnya”.

2. Hukum Positif

Secara harfiah ada yang mengatakan bahwa perjanjian adalah

persetujuan, balikan ada pula yang menyamakan dengan kontrak. Istilah

"Perjanjian" dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan dari istilah

''Overeenkomst" dari Bahasa Belanda. atau "Agreement" dalam Bahasa

Inggris, yang berarti kata sepakat antara dua pihak atau lebih mengenai

harta benda kekayaan mereka yang bertujuan mengikat kedua belah pihak.

Dari segi Bahasa Indonesia perjanjian adalah persetujuan

baik tertulis maupun lisan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih yang

masing-masing berjanji akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan

itu.11

Melihat batasan tersebut maka perjanjian adalah sama dengan

persetujuan , sementara kontrak sama pula dengan perjanjian tetapi lebih

sempit sifatnya, karena kontrak hanya merupakan perjanjian yang tertulis

saja.

11
Munir Fuady. Hukum Kontrak. (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999). h.
2
Secara yuridis banyak batasan yang diberikan oleh berbagai

ahli hukum. Menurut Prof. Subekti S.H; "Perjanjian adalah suatu peristiwa

dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu

saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal". Dari peristiwa ini,

timbullah suatu hubungan hukum antara dua orang yang membuatnya

tersebut.12

Prof. DR. R. Wirjono Prodjodikoro S.H merumuskan suatu

perjanjian sebagai suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara

dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk

melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal. sedang

pihak lain berhak untuk menuntut pelaksanaan janji itu.13

Pasal 1313 Kitab Undang Undang Hukum Perdata

memberikan defenisi mengenai perjanjian sebagai berikut:

''Suatu 'perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu


orang atau lebih berjanji mengikatkan dirinya terhadap satu orang
atau lebih. "

Dari peristiwa ini. timbullah suatu hubungan hukum antara

dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan

suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya.

Buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata tidak

memberikan defenisi tentang perikatan. Pasal 1233 Kitab Undang-undang

Hukum Perdata hanya menyebutkan mengenai sumber perikatan. dimana

12
Subekti. Hukum Perjanjian. (Jakarta: PT. Imermasa, 1987), Cet. ke-12
.h.l
13
Wirjono Prodjodikoro. Azas-azas Hukum l\'rjanjicin, (Bandung:
Sumur Bandung. Cet. ke-8. h. 9
dikatakan bahwa: "Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena

persetujuan, baik karena Undang-undang".

Oleh karena itu kemudian menurut Prof. Subekti yang

dimaksud dengan perikatan oleh buku III Kitab Undang-undang Hukum

Perdata. adalah:" Suatu hubungan hukum (mengenai kekayaan harta

benda) antara dua orang, yang memberi hak pada yang satu untuk

menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan orang yang

lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu”.14

Jadi dalam suatu terdapat .hak disatu pihak lainnya wajib

memenuhi prestasi yang dituntut. Perhubungan antara kedua orang atau

dua pihak tadi adalah suatu perhubungan hukum. artinya hak si berpiutang

dijamin oleh Hukum atau Undang-undang. Apabila kewajiban itu tidak di

penuhi secara suka rela, si berpiutang dapat menututnya di depan hakim.

Adapun hubungan antara perjanjian dan perikatan adalah

bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Jadi karena ada suatu

perjanjian maka kemudian lahirlah perikatan.

Sumber perikatan adalah perjanjian dan Undang-undang.

tetapi sumber terpenting dari perikatan adalah perjanjian karena sebagian

besar perikatan terbit karena adanya suatu perjanjian.

Perikatan yang dilahirkan dari Undang-undang itu timbul

karena Undang-undang saja atau karena Undang-undang sebagai akibat

perbuatan manusia (pasal 1352 Kitab Undang-undang Hukum Perdata).

14
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdaiu. (Jakarta: PT. Intermasa. 1984). Get. ke-12, h.
122
Menurut pasal 1353 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Perikatan

yang dilahirkan dari Undang-undang sebagai akibat perbuatan manusia

terbit dari perbuatan halal atau perbuatan melawan hukum.

Perikatan yang bersumber dari Undang-undang semata-mata

adalah perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu

ditetapkan melahirkan suatu perikatan diantara pihak-pihak yang

bersangkutan. terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut.

Perikatan yang bersumber dari Undang-undang sebagai

akibat perbuatan manusia maksudnya adalah bahwa dengan dilakukannya

serangkaian tingkah laku seseorang maka Undang-undang meletakkan

akibat hukum berupa perikatan terhadap orang tersebut. Tingkah laku

seseorang tadi mungkin merupakan perbuatan yang diperbolehkan

Undang-undang atau mungkin pula perbuatan melawan hukum.

Oleh karena itu berarti perikatan yang lahir dari perjanjian

memang dikehendaki oleh dua orang pihak yang membuat suatu

perjanjian, sedangkan perikatan yang lahir dari Undang-undang diadakan

oleh Undang-undang diluar kemauan para pihak yang bersangkutan.

Apabila dua orang yang mengadakan suatu perjanjian, maka mereka

bermaksud supaya antara mereka berlaku suatu perikatan hukum.

Sungguh-sungguh mereka itu terikat satu sama lain karena janji yang telah

mereka berikan.

B. Azas-azas Perjanjian
1. Hukum Islam

Hukum Islam mengatur pula masalah azas-azas dari suatu

perjanjian, yang mana azas-azas tersebut sangat berpengaruh pada status

akad dari perjanjian yang dilaksanakan. Dimana ketika azas ini tidak

terpenuhi maka akan berakibat pada batalnya atau tidak sahnya perikatan

(perjanjian) yang dibuat. Azas-azas itu adalah sebagai berikut:

a. Al-Hurriyah (Kebebasan)

Dalam suatu perjanjian, pihak-pihak yang melakukan

akad mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian dari segi yang

diperjanjikan atau menentukan persyaratan-persyaratan lain, termasuk

menetapkan cara-cara penyelesaian bila terjadi sengketa. Kebebasan

menentukan persyaratan dalam perjanjian ini dibenarkan selama tidak

bertentangan dengan Syariat Islam. Hal ini agar tidak terjadi

penganiayaan sesama manusia melalui akad dan syarat-syarat yang

dibuatnya. Azas ini pula menghindari semua bentuk paksaan, penipuan

dan tekanan dari pihak manapun. Adanya unsur paksaan dan

pemasungan kebebasan dalam akad perjanjian mengakibatkan tidak

sahnya suatu akad. Landasan azas ini terdapat dalam:15

QS. al-Maidah/5:l

15
T.M. Hasbi Ashshiddiqi, et. al., AI-Qur'an dan Terjemahnya,
(Madinah-Saudi Arabia: Mujarnma al-Malik Fahd Li Thiba'at al-Mushhaf Asy syarif.
1990 M/1410 H), h. 64. 156
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu
[388] dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak
menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan
haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum
menurut yang dikehendaki-Nya”.

Q.S.al-Ahzab/33:72

Artinya: “Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada


langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

b. Al-Musawah (Persamaan atau Kesetaraan)

Azaz ini memberikan arti bahwa kedua belah pihak yang

melakukan perjanjian kedudukan yang sama antara satu dan yang

lainnya. Sehingga, pada saat menentukan hak dan kewajiban masing-

masing pihak didasarkan pada azaz al-musawah ini. Landasan azas ini

terdapat dalam al-qur’an al-Hujarat/49: 13

Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari


seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal”.16

c. Al-Adalah (keadilan)

16
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1971. Bank Indonesia,
Kamus Perbankan, 1999
Keadilan salah satu sifat tuhan dan al-qur’an menekankan

agar manusia menjadikannya sebagai ideal moral. Bahkan al-qur’an

menempatkan keadilan lebih dekat kepada takwah, seperti diisyaratkan

dalam Q.S al-Maidah/5:8-9

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-


orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah,
menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu
lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. Allah Telah menjanjikan kepada orang-orang
yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar”.17

Pelaksanaan azas ini dalam akad, dimana para pihak yang

melakukan akad dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan

kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah mereka buat,

dan memenuhi semua kewajibannya.

d. Al-Ridha (Kerelaan)

Azas ini menyatakan bahwa segala transaksi yang

dilakukan harus atas dasar kerelaan antara masing-masing pihak. Jika

dalam1 transaksi tidak terpenuhi azas ini, maka itu sama artinya dengan

memakan sesuatu dengan cara yang bathil (al-akl bil bathil). Transaksi

17
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1971. Bank Indonesia,
Kamus Perbankan, 1999
yang dilakukan tidak dapat dikatakan telah mencapai sebuah bentuk

usaha yang saling rela antara pelakunya jika didalamnya ada tekanan,

paksaan. penipuan dan' mis-statement. Jadi. azas ini mengharuskan

tidak adanya paksaan dalam proses transaksi dari pihak manapun.

Dasar azas ini adalah QS. An-Nisaa'/4:29:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling


memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-
suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh
dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu”.18

e. Ash-Shidq (Kejujuran dan Kebenaran)

Kejujuran adalah suatu nilai etika yang mendasar dalam

Islam, dan Islam adalah nama lain dari kebenaran. Islam dengan tegas

melarang kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Allah

berbicara benar dan memerintahkan semua Muslim untuk jujur dalam

segala urusan dan perikatan, seperti diungkapkan dalam firman-Nya

Q.S. al-Ahzab/33:70, yaitu:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada


Allah dan Katakanlah perkataan yang benar”.19

18
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1971. Bank Indonesia,
Kamus Perbankan, 1999
19
Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1971. Bank Indonesia,
Kamus Perbankan, 1999
Nilai kebenaran ini memberikan pengaruh kepada pihak-

pihak yang melakukan perjanjian untuk tidak berdusta, menipu dan

melakukan pemalsuan. Pada saat azas ini tidak dijalankan, maka akan

merusak legalitas akad yang dibuat. Dimana pihak yang merasa

dirugikan dapat menghentikan proses perjanjian tersebut.

f. Al-kitabah (Tertulis)

Prinsip lain yang tidak kalah pentingnya dalam

melakukan akad sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S. al-

Baqarah/2:282-283, yaitu:


☺ ☺








⌦ ⌧






Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu


bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah
seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan
benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia
menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu
mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia
mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang
berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan,
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan
persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka
(boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-
saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang
seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan
(memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan
janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun
besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu,
lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan
lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu
perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu,
Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli;
dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika
kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu
adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada
Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui
segala sesuatu. Jika kamu dalam perjalanan (dan
bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang).
akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang
lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada
Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi)
menyembunyikan persaksian. dan barangsiapa yang
menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan”.

Ayat ini mengisyaratkan agar akad yang dilakukan benar-

benar berada dalam kebaikan bagi semua pihak yang melakukan akad,

maka akad itu harus dilakukan dengan melakukan kitabah (penulisan

perjanjian). Disamping itu, diperlukan juga adanya saksi-saksi

(syahadah), rahn, (gadai, untuk kasus tertentu), dan prinsip tanggung

jawab individu.

2. Hukum Positif

Dikatakan bahwa hukum benda mempunyai suatu sustem

tertutup, sedangkaan hukum perjanjian menganut sistem terbuka. Artinya

macam-macam hak atas benda adala terbatas dan peraturan-peraturan yang

menganai hak-hak atas benda itu bersifat memaksa, sedangkan Hukum

Perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada masyarakat

untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak

melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Pasal-pasal dari Hukum

Perjanjian merupakan apa yang dinamakan Hukum Pelengkap ("optional

law "), yang berarti bahwa pasal-pasal itu boleh disingkirkan manakala

dikehendaki oleh pihak-pihak yang membuat suatu perjanjian. Mereka

diperbolehkan membuat ketentuan-ketentuan sendiri yang menyimpang

dari pasal-pasal Hukum Perjanjian. Kalau mereka tidak mengatur sendiri


sesuatu soal, itu berarti mereka mengenai soal tersebut tunduk kepada

Undang-undang. Memang tepat sekali nama hukum pelengkap itu dapat

dikatakan. melengkapi perjanjian-perjanjian yang dibuat secara tidak

lengkap.

Sistem terbuka, yang mengandung suatu azas kebebasan

membuat perjanjian. dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata

lazimnya disimpulkan dalam pasal 1338 ayat (1), yang berbunyi demikian:

"Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagi undang-undang

bagi mereka yang membuatnya".

Dengan menekankan pada perkataan semua maka pasal

tersebut seolah-olah berikan suatu pernyataan kepada masyarakat bahwa

kita di perbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja

(atau tentang apa saja) dan perjanjian itu akan mengikat mereka yang

membuatnya seperti suatu undang-undang. Atau dengan perkataan lain:

Dalam sosal perjanjian. kita diperbolehkan membuat undang-undang bagi

kita sendiri. Pasal-pasal dari Hukum Perjanjian hanya berlaku, apabila atau

sekedar kita tidak mengadakan aturan-aturan sendiri dalam perjanjian-

perjanjian yang kita adakan itu.

Misalnya, barang yang diperjual belikan, menurut Hukum

Perjanjian harus diserahkan di tempat dimana barang itu berada sewaktu

perjanjian jual beli ditutup. Tetapi para pihak, leluasa untuk

memperjanjikan bahwa barang harus diserahkan di kapal, digudang,


diantar ke rumah si pembeli dan lain-lain, dengan pengertian bahwa biaya-

biaya pengantaran harus dipikul si penjual.

Selanjutnya. Sistem terbuka dari Hukum Perjanjian itu, juga

mengandung suatu pengertian, bahwa perjanjian-perjanjian khusus yang

diatur dalam undang-undang hanyalah merupakan perjanjian yang paling

terkenal saja dalam masyarakat pada waktu Kitab Undang-undang Hukum

Perdata dibentuk. Misalnya, Undang-undang hanya mengatur perjanjian-

perjanjian jual-beli dan sewa menyewa, tetapi dalam praktek timbul suatu

macam perjanjian yang dinamakan sewa beli, yang merupakan suatu

campuran antara jual-beli dan sewa menyewa.

Dalam Hukum Perjanjian berlaku azas, yang dinamakan azas

kosensualisme. Perkataan ini berasal dari perkataan latin consensus yang

berarti sepakat. Azas Konsensualisme bukanlah berarti untuk suatu

perjanjian disyaratkan adanya kesepakatan. Ini sudah semestinya suatu

perjanjian juga dinamakan persetujuan, berarti dua pihak sudah setuju atau

bersepakat mengenai sesuatu hal.

Arti konsensualisme ialah pada dasarnya perjanjian dan

perikatan yang timbul karenanya itu sudah dilahirkan sejak detik

tercapainya kesepakatan. Dengan perkataan lain, perjanjian itu sudah sah

apabila sudah sepakat mengenai hal-hal yang pokok dan tidaklah

diperlukan sesuatu formalitas, Azas konsensualisme tersebut lazimnya

disimpulkan dari pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang

berbunyi : “Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat: a.


sepakat mereka yang mengikat dirinya; b. kecakapan untuk membuat

suatu perjanjian; c. suatu hal tertentu; d. suatu sebab yang halal".

Oleh karena dalam pasal tersebut tidak disebutkan suatu

formalitas tertentu di samping kesepakatan yang telah tercapai itu. maka

disimpulkan bahwa setiap perjanjian itu sudahlah sah (dalam arti

"mengikat") apabila sudah tercapai kesepakatan mengenai hal-hal yang

pokok dari perjanjian itu, Terhadap azas konsensualisme itu juga ada

pengecualian disana sini oleh undang-undang ditetapkan formalitas-

formalitas tertentu untuk beberapa macam perjanjian, atas ancaman

batalnya perjanjian tersebut apabila tidak menuruti bentuk cara yang

dimaksud, misalnya : Perjanjian penghibahan, jika mengenai benda tak

bergerak harus dilakukan dengan akta notaris. Perjanjian perdamaian harus

diadakan secara tertulis, dan lain-lain sebagainya. Perjanjian-perjanjian

untuk mana ditetapkan suatu formalitas tertentu, dinamakan perjanjian

formil.

C. Syarat dan Rukun Akad

Suatu akad harus memenuhi beberapa rukun dan syarat. Rukun

akad adalah unsur yang harus ada dan merupakan esensi dalam setiap akad.

Jika salah satu rukun tidak ada, menurut hukum Islam akad dipandang tidak

pernah ada. Sedangkan syarat adalah suatu sifat yang mesti ada pada setiap

rukun, tetapi bukan merupakan esensi. Salah satu contoh syarat dalam akad

jual beli adalah “kemampuan menyerahkan barang yang dijual”. Kemampuan


menyerahkan ini harus ada dalam setiap akad jual beli, namun ia tidak

termasuk dalam pembentukan akad.

Berikut akan diuraikan mengenai unsur-unsur pembentuk

perangkat akad (alat al-‘aqd) di mana perangkat-perangkat inilah yang

nantinya menjadi unsur-unsur pembentuk akad.

Menurut mayoritas ulama, rukun akad terdiri atas: (1) Shighat

(pernyataan ijab dan qabul); (2) ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad),

(3) Ma’qud ‘alaih (obyek akad), dan (4) Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad).

Berikut diuraikan rukun dan syarat akad menurut mayoritas

ulama:

1. Shighat (pernyataan ijab dan qabul)

Shighat al-aqd adalah cara bagaimana penyertaan

pengikatan diri itu dilakukan. Dalam literatur fiqih, sighat al-aqd

biasanya diwujudkan dalam bentuk ijab dan qabuk, agar ijab dan qabul

ini benar-benar mempunyai akibat hukum, para ulama fiqih

mensyaratkan tiga hal :

a. Tujuan yang terkadang dalam penertaan itu jelas, sehingga dapat

dipahami jenis akad yang dikehendaki,

b. Antara ijab dan qabul harus ada kesesuain, dan

c. Pernyataan ijab qabul ini mengacu pada suatu kehendak masing-

masing pihak secara pasti dan tidak ragu-ragu.

Satu majlis akad adalah kondisi bukan fisik dimana kedua

belah pihak yang berakad terfokus perhatiannya untuk melakukan akad.


2. ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad)

Pihak yang berakad haruslah orang-orang yang cakap,

berkaitan dengan orang yang melakukan akad ini, para fuqaha’

membahasnya pada hal dua pokok. Pertama, ahliyatul ada’ yaiti orang

yang layak dengan sendirinya dapat melakukan berbagai akad, yaiti

mereka yang dewasa (baligh) dan berakal, (bukan dibawah

pengampuan) atau perwalian, maja secara otomatis orang tersebut

layak mendapat ketetapan untuk menerima hak dan kewajiban serta

tindakan sesuai dengan perjanjian yang dibuatnya yang dibenarkan

oleh syara’. Kedua, wilayah atau perwalian. Perwalian dilakukan

terhadap mereka yang dianggap tidak cakap hokum yaitu terhadapo

orang yang belum dewasa atau mereka yang dibawah pengampuan.

Menurut kitab Undang-undang Hukum Perdata

pasal1330, maka yang dianggap dewasa dan karenanya oleh hukum

dianggap cakap membuat perjanjian, jika :

a. Sudah genap berusia 21 tahun

b. Sudah kawin meskipun belum genap berusia 21 tahun

c. Sudah kawin meskipun bercerai meskipun belum genap berusia 21

tahun.

Akan tetapi ketentuan diatas sudah tidak berlaku lagi

karena keluarnya Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang

dituangakan dalam pasal 47 ayat (1), yaitu : “Anak yang belum

mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah


melangsungkan perkawinan ada dibawah kejelasan orang tuanya

selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya”

Maka orang yang dianggap dewasa adalah orang yang

sudah berumur 18 tahun ke atas atau sudah pernah menikah. Umur

dewasa 18 tahun ini juga sudah dikuatkan oleh Mahkamah Agung,

antara lain dalam putusannya No. 477 K/Sip/1976, tanggal 13 oktober

1976”

Sedangkan tentang orang dibawah pengampuan diatur

dalam kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 433, orang dibawah

pengampuan tersebut adalah :

1). Orang yang dungu (onnoozelheid)

2). Orang gila ( tidak waras pikiran)

3). Orang yang mata gelap (rezernij)

4). Orang yang boros

Mereka tetap dibawah pengampuan sungguh pun

kadang-kadang mereka dapat bertindak seperti orang yang cakap

berbuat.

3. Ma’qud ‘alaih (obyek akad),

Sesuatu yang menjadi obyek akad harus memenuh 4

(empat) syarat:

a. Ia harus sudah ada secara konkret ketika akad dilangsungkan; atau

diperkirakan akan ada pada masa akan datang dalam akad-akad

tertentu seperti dalam akad salam, ishtishna’, ijarah dan mudarabah.


b. Ia harus merupakan sesuatu yang menurut hukum Islam sah

dijadikan obyek akad, yaitu harta yang dimiliki serta halal

dimanfaatkan (mutaqawwam).

c. Ia harus dapat diserahkan ketika terjadi akad, namun tidak berarti

harus dapat diserahkan seketika.

d. Ia harus jelas (dapat ditentukan, mu’ayyan) dan diketahui oleh kedua

belah pihak. Ketidakjelasan obyek akad selain ada larangan Nabi

untuk menjadikannya sebagai obyek akad mudah menimbulkan

persengketaan di kemudian hari, dan ini harus dihindarkan.

Mengenai penentuan kejelasan suatu obyek akad ini, adat kebiasaan

(‘urf) mempunyai peranan penting.

Dari syarat pertama ulama mengecualikan empat macam akad :

salam, istishna, ijarah dan musaqah. Artinya, empat macam aqad

ini tetap dinyatakan sah walaupun objek akad belum ada ketika

terjadi.

Selain rukun, agar suatu akad dinyatakan sah masih diperlukan

sejumlah syarat. Beberapa syarat yang berkenaan dengan shighat,

`aqid dan ma`qud`alih, telah dikemukakan. Syarat penting lainnya

adalah bahwa akad yang dilakukan bukan akad yang dilarang oleh

hukum dan bahwa akad tersebut harus menimbulkan manfaat.

4. Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad).

Maudhu` al`aqd atau tujuan akad merupakan salah satu

bagian yang penting yang mesti ada pada setiap akad. Yang dimaksud
dengan maudhu`al`aqd adalah tujuan utama untuk apa akad itu

dilakukan. Menurut hukum islam, yang menentukan tujuan hukum akad

adalah al-musyarri` (yang menetapkan syariat yaitu Allah). Dengan

kata lain, akibat hukum suatu akad hanya diketahui melalui syara`

(hukum Islam) adalah tidak sah dan karena itu tidak menimbulkan

akibat hukum. Tegasnya dalam hukum islam, jual beli atas barang yang

diharamkan tersebut tidak menyebabkan perpindahan kepemilkan

barang kepada pembeli dan kepemilikan harga barang kepada penjual.

Tujuan dalam setiap akad-akad berbeda-beda karena berbeda jenis atau

bentuk akadnya. Dalam akad jual beli, misalnya, akibat hukumnya

adalah pemindahan pemilikan benda dengan imbalan; dalam akad

hibah, akibat hukumnya adalah pemindahan pemilikan benda tanpa

imbalan; dalam akad sewa menyewa (ijarah), akibat hukumnya adalah

pemindahan pemilikan manfaat suatu benda atau jasa orang dengan

imbalan; dalam akad peminjaman (ijarah), akibat hukumnya adalah

pemindahan pemilikan manfaat suatu benda tanpa imbalan; demikian

seterusnya. Tujuan akad itu tercapai segera setelah akad dilakukan

apabila syarat-syarat yang diperlukan telah terpenuhi.

Tujuan akad sebagaimana dikemukakan di atas selain

disebut dengan istilah maudhu’al-‘aqd-disebut juga dengan “akibat

hukum khusus akad” (al-hukm al-ashliy li-al-aqd atau atsar al-‘aqd al-

khash, disingkat al-atsar al-khash). Di samping itu, menurut hukum

Islam, terdapat pula “akibat hukum umum akad” (atsar al-‘aqd al-
‘amm, disingkat al-atsar al-‘amm) pada setiap jenis dan bentuk akad.

Artinya, pada setiap akad yang sah terdapat akibat hukum yang bersifat

umum dan sama, walaupun bentuk atau jenis akadnya berbeda-beda.

Akibat hukum umum tersebut adalah nafadz dan ilzam wa luzum.

Nafadz adalah berlakunya akibat hukum khusus akad dan

semua perikatan (iltizamat) yang ditimbulkannya begitu akad selesai

dilakukan. Nafadz dalam akad jaul beli, misalnya, adalah berpindahnya

kepemilikan barang yang di jual (kepada pembeli) dan pembayaran

harganya (kepada penjual) begitu akad selesai dilakukan, serta

timbulnya kewajiban melaksanakan perikatan atas para pihak, yaitu

menyerahkan barang yang di jual dan menerima pembayaran (bagi

penjual) serta menerima barang dan menyerahkan pembayaran harga

barang (bagi pembeli).

Lawan atau kebalikan nafadz adalah tawaqquf

(bergantung). Akad yang nafadz disebut akad yang nafidz dan akad

yang tidak nafadz disebut akad mauquf.

Ilzam dalam pengertian umum adalah mewajibkan

pelaksanaan (pemenuhan) perikatan yang lahir dari akad; sedangkan

menurut pengertian Fiqh (hukum Islam) adalah menimbulkan perikatan

tertentu secara timbal balik atas pihak-pihak yang berakad dalam akad

yang bersifat mengikat satu pihak seperti wadi’ah (penitipan).

Sedangkan, yang dimaksud dengan luzum (mengikat)

adalah ketidakbolehan “membatalkan” (fasakh) akad kecuali atas


kerelaan kedua belah pihak. Akad yang memiliki akibat hukum luzum

(disebut akad lazim) adalah akad yang tidak mengandung hak khiyar

(hak pilih untuk meneruskan atau tidak meneruskan akad) akibat hukum

luzum ini, menururt ulama mazhab Hanafi dan Maliki, timbul begitu

akad (ijab kabul) selesai dilakukan; sedangkan menurut ulama mazhab

Syafi’i dan Hambali, ia baru muncul setelah majlis akad selesai. Dari

perbedaan pendapat ini nampaknya yang paling tepat adalah pendapat

yang menyatakan bahwa akad memiliki akibat hukum begitu selesai

dilakukan. Dalam konteks sekarang adalah setelah dilakukan

penandatanganan kedua belah pihak. Karena saat itulah secara nyata

kedua belah pihak yang terlibat dalam akad menunjukkan

kesepakatannya.

D. Batalnya Perjanjian

Menurut Sayyid Sabiq, sebuah perjanjian dianggap batal

apabila salah satu hal di bawah ini terjadi, di antaranya adalah20

1. Apabila berakhirnya masa berlaku sebuah perjanjian, apabila perjanjian itu

memiliki tenggang waktu.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Taubah ayat 4.

20
Sayyid Sabiq, Op. cit., h. 101
Artinya: ”Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan
perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi
sesuatupun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka
membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap
mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Dan hadist Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Al-

Tirmidzi, dari Amr bin Abasah, bahwa tidak dibenarkan berpaling dari

sebuah perjanjian, sebelum masanya telah habis.

2. Apabila perjanjian itu dibatalkan oleh kedua belah pihak yang melakukan

akad.

Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al-Taubah ayat 12-13.

Artinya: “Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka


berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah
pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya
mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang
janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapakah kamu tidak
memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya),
padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul
dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?
Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang
berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.

3. Apabila muncul tanda-tanda penghianatan dari salah satu pihak yang

melakukan perjanjian.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Al-Anfal ayat 58.

Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari


suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada
mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berkhianat”.

E. Pembiayaan

a. Pengertian pembiayaan

Dalam kamus perbankan yang dimaksudkan dengan biaya

adalah pengeluran atau pengorbanan yang tak terhindarkan untuk

mendapatkan barang atau jasa dengan tujuan memperoleh maslahat,

pengeluaran untuk kegiatan, tujuan, atau waktu tertentu , seperti ongkos

pengiriman, pengepakan dan penjualan dimaksudkan untuk memperoleh

penghasilan dalam laporan laba rugi perusaan, komponen biaya

merupakan pengurang dari pendapat pengertian biaya berbeda dengan

beban, semua biaya adalah beban, tetapi tidak semua beban adalah biaya

(cost; expense).21

Pengertian pembiayaan menurut Undang-Undang perbankan

nomor 10 tahun 1998 pasal satu ayat (12) adalah penyedian uang atau

tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau

kesepakatan antara bank pihak yang dibiayai untuk pengebalikan uang

tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi

21
Bank Indonesia, Kamus Perbankan, 1999, cet. ke l, h. 30
hasil.22 pada bank konvensional kegiatan pembiyaan dikenal dengan

istilah Kredit yaitu penyidiaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan

dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjaman.

Meminjam antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan

pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

pemberian bunga.23

Pada dasarnya konsep kredit pada bank konvesional dan

pembiayaan pada bank syariah tidak terlalu berbeda, yang terjadi

perbedaan antara kredit yang diberikan oleh bank konvensional dengan

pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah adalah terletak pada

keuntungan yang diharapkan. bagi bank komvensional keutungan yang

diperoleh melalui bunga, sedangkan bagi bank syariah berupa imbalan

atau bagi hasil.24

b. Macam-Macam Pembiayaan

Salah satu tugas pokok bank adalah menyalurkan dana-

dana yang terhimpun melalui kegiatan pembiyaan untuk memenuhi

kebutuahan pihak-pihak yang merupakan defisit unit. Manurut sifat

penggunaanya pembiayan dapat dibagi dalam;

a. Transaksi investasi yang didasarkan antara lain atas Akad

Mudharabah dan/atau Musyarakah;

22
Udang Udangan Perbaankan No 10 Th 1999, Jakarta: Sinar Garfika,
2001, cet. ke I, h. 10
23
Kasmir, bank dan lambaga keuangan lainya (Jakarta ;pt raja
grafindo persada 2000), h.
24
Kasmir, bank dan lambaga keuangan lainya (Jakarta ;pt raja
grafindo persada 2000), h. 73
b. Transaksi sewa yang didasarkan antara lain atas Akad Ijarah atau

Akad Ijarah dengan opsi perpindahan hak milik (Ijarah

Muntahiyah bit Tamlik);

c. Transaksi jual beli yang didasarkan antara lain atas Akad

Murabahah, Salam, dan Istishna;

d. Transaksi pinjaman yang didasarkan antara lain atas Akad Qardh;

dan

e. Transaksi multijasa yang didasarkan atas Akad Ijarah atau

Kafalah.

F. Prinsip Dasar Kegiatan Perbankan Syariah

Perkembangan yang pesat di dunia bisnis dan keuangan telah

mendorong berkembangnya inovasi transaksi-transaksi keuangan syariah.

Untuk mengantisipasi timbulnya risiko reputasi atas pesatnya perkembangan

inovasi transaksi keuangan syariah tersebut diperlukan kesesuaian dengan

prinsip syariah secara istiqamah sebagaimana difatwakan oleh Dewan Syariah

Nasional. Untuk itu, diperlukan adanya penyesuaian dan penyempurnaan

pengaturan yang berlaku terhadap pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan

Penghimpunan Dana, Penyaluran Dana dan Pelayanan Jasa Bank Syariah

dalam rangka memelihara kepercayaan masyarakat terhadap Bank Syariah.

Dengan adanya ketentuan tentang pelaksanaan prinsip syariah

dalam kegiatan Penghimpunan Dana, Penyaluran Dana dan Pelayanan Jasa

Bank Syariah akan memberikan manfaat kepada semua pihak yang


berkepentingan dimana pada gilirannya akan mewujudkan pengelolaan Bank

Syaria yang sehat. Selain itu, dengan adanya ketentuan ini dapat memberikan

kejelasan dalam pelaksanaan kegiatan Bank Syariah sehingga dapat membantu

operasional Bank Syariah menjadi lebih efesien dan meningkatkan kepastian

hukum para pihak, termasuk bagi pengawas dan auditor Bank Syariah.

1. Produk Penghimpunan Dana Bank Syariah

Bagi bank konvensional selain modal, sumber dana lainnya

cenderung bertujuan untuk ”menahan” uang. Hal ini sesuai dengan

pendekatan yang dilakukan Keynes yang mengemukakan bahwa orang

membutuhkan uang untuk tiga kegunaan transaksi, cadangan, dan investasi.

Berbeda dengan hal tersebut, bank syariah tidak melakukan pendekatan

tunggal dalam menyediakan produk dalam penghimpunan dana bagi

nasabahnya.

Dilihat dari sumbernya, dana bank syariah terdiri dari:

4. Modal, yaitu dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Pada

akhir periode tahun buku, setelah dihitung keuntungan yang didapat

pada tahun tersebut, pemilik modal akan memperoleh bagian hasil

usaha yang biasa dikenal dengan deviden.

5. Titipan, salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam

mobilisasi dana adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Adapun

akad yang sesuai prinsip ini adalah al-wadi’ah yaitu merupakan titipan

murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya mengkehendaki.

6. Investasi, akad yang sesuai dengan prinsip ini adalah mudharabah.


Tujuan dari mudharabah adalah kerjasama antara pemilik dana

(shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib) yang dalam hal ini

bank.

2. Produk Penyaluran Dana Bank Syariah

Islam sebagai agama merupakan konsep yang mengatur

kehidupan manusia secara komprehensif dan universal baik dalam

hubungan dengan Sang Pencipta (Hablun min Allah) maupun dalam

hubungan sesama manusia (Hablum min annas). Ada 3 (tiga) pilar pokok

dalam ajaran Islam yaitu:

Aqidah: Komponen ajaran Islam yang mengatur tentang keyakinan

atas keberadaan dan kekuasaan Allah sehingga harus menjadi

keimanan seorang muslim manakala melakukan berbagai

aktivitas dimuka bumi semata-mata untuk mendapatkan

keridhaan Allah sebagai khalifah yang mendapat amanah dari

Allah.

Syariah: Komponen ajaran Islam yang mengatur tentang kehidupan

seorang muslim baik dalam bidang ibadah (Hablu min Allah)

maupun dalam bidang muamalah (Hablum min annas) yang

merupakan aktualisasi dari aqidah yang menjadi

keyakinannya. Sedangkan muamalah sendiri meliputi

berbagai bidang kehidupan antara lain yang menyangkut


ekonomi atau harta dan perniagaan disebut muamalah

maliyah.

Akhlak: Landasan perilaku dan kepribadian yang akan mencirikan

dirinya sebagai seorang muslim yang taat berdasarkan

syariah dan aqidah yang menjadi pedoman hidupnya

sehingga disebut memiliki akhlaqul karimah sebagaimana

hadist nabi yang menjadikan akhlaqul karimah.25

Cukup banyak tuntutan Islam yang mengatur tentang

kehidupan ekonomi umat antara lain secara garis besar adalah sebagai

berikut:

a. Islam menempatkan fungsi uang semata-mata sebagai alat ukur dan

bukan sebagai komoditi, sehingga tidak layak untuk diperdagangkan

apalagi mengandung unsur ketidakpastian atau spekulasi (gharar)

sehingga yang ada bukan harga uang apalagi dikaitkan dengan

berlalunya waktu tetapi nilai uang untuk menukar dengan barang.

b. Riba dalam segala bentuknya dilarang bahkan dalam ayat Al-Qur’an

tentang pelarangan riba yang terakhir yaitu surat Al-Baqarah ayat 278-

279 secara tegas dinyatakan sebagai berikut: “Hai orang-orang yang

beriman takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba itu jika

kamu orang beriman. Kalau kamu tiada memperbuatnya dan jika kamu

bertobat maka untukmu pokok-pokok hartamu kamu tidak menganiaya

dan tidak pula teraniaya”.

25
Ausaf Ahmad, Development and Problem of Islamic Banks, IRTI-IDB,
1985. h. 34-35
c. Larangan riba juga terdapat dalam ajaran Kristen baik Perjanjian Lama

maupun Perjanjian Baru yang pada intinya menghendaki pemberian

pinjaman pada orang lain tanpa meminta bunga sebagai imbalan.

d. Meskipun masih ada sementara pendapat khususnya di Indonesia yang

masih meragukan apakah bunga bank termasuk riba atau bukan, maka

sesungguhnya telah menjadi kesepakatan utama, ahli Fiqih dan Islamic

Banker di kalangan dunia Islam yang menyatakan bahwa bunga bank

adalah riba dan riba diharamkan.

e. Tidak memperkenalkan berbagai bentuk kegiatan yang mengandung

unsur spekulasi dan perjudian termasuk didalamnya aktivitas ekonomi

yang diyakini akan mendatangkan kerugian bagi masyarakat.

f. Harta harus berputar (diniagakan) sehingga tidak boleh hanya berpusat

pada segelintir orang dan Allah sangat tidak menyukai orang yang

menimbun harta sehingga tidak produktif dan oleh karenanya bagi

mereka yang mempunyai harta tidak produktif akan dikarenakan zakat

yang lebih besar dibanding jika diproduktifkan. Hal ini juga dilandasi

ajaran yang menyatakan bahwa kedudukan manusia di bumi sebagai

khalifah yang menerima amanah dari Allah sebagai pemilik mutlak

segala yang terkandung di dalam bumi dan tugas manusia untuk

menjadikannya sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan

manusia.

g. Bekerja dan atau mencari nafkah adalah ibadah dan wajib dilakukan

sehingga tidak seorangpun tanpa bekerja yang berarti siap menghadapi


resiko dapat memperoleh keuntungan atau manfaat (bandingkan

dengan perolehan bunga bank dari deposito yang bersifat tetap dan

hampir tanpa resiko).

h. Dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam kegiatan ekonomi

harus dilakukan secara transparan dan adil atas dasar suka sama suka

tanpa paksaan dari pihak manapun.

i. Adanya kewajiban untuk melakukan pencatatan atas setiap transaksi

khususnya yang tidak bersifat tunai dan adanya sanksi yang bisa

dipercaya (simetri dengan profesi akuntansi dan notaris).

j. Zakat sebagai instrumen untuk pemenuhan kewajiban penyisihan harta

yang merupakan hak orang lain yang memenuhi syarat untuk

menerima, demikian juga anjuran yang kuat untuk mengeluarkan infaq

dan shodaqah sebagai manifestasi dari pentingnya pemerataan

kekayaan dan memerangin kemiskinan.

Dari uraian ringkas di atas memberikan gambaran yang jelas

tentang prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi Islam di mana tidak hanya

berhenti pada tataran konsep saja tetapi tersedia cukup banyak contoh-

contoh kongrit yang diajarkan oleh Rasul Allah, yang untuk

penyesuaiannya dengan kebutuhan saat sekarang cukup banyak ijtma’ yang

dilakukan oleh para ekonom dan praktisi lembaga keuangan Islam. Sesuai

sifatnya yang universal maka tuntutan Islam tersebut diyakini akan selalu

relevan dengan kebutuhan zaman, dalam hal ini sebagai contoh adalah

pengembangan lembaga keuangan Islam seperti perbankan dan asuransi.


Atas dasar hal tersebut di atas, maka dalam pelaksanaan

perjanjian penyaluran dana pada Bank Syariah secara umum didasari pada

konsep Islam. Di mana dalam perjanjian penyaluran pembiayaan tersebut

yang menjadi persoalan krusial adalah larangan praktek sistem bunga (riba).

Dalam Penyaluran Dana secara garis besar produk pembiayaan

syariah terbagi dalam empat kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan

penggunaannya, yaitu:

1). Pembiayaan dengan Prinsip Jual Beli (Ba’i)

Prinsip Jual Beli diadakan sehubungan adanya perpindahan

kepemilikan barang atau benda (transfer of proferty). Tingkat

keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas

barang yang dijual. Transaksi Jual Beli dapat dibedakan berdasarkan

bentuk pembayaran dan penyerahan barangnya yakni sebagai berikut:

a). Bai'al-Murabahah, Pembiayaan persediaan dalam usaha produksi

terdiri atas biaya pengadaan bahan baku dan penolong. Melalui

proses produksi bahan baku tersebut akan menjuadi barang setengah

jadi, kemudian barang jadi yang siap untuk dijual. Bila barang jadi

itu dijual dengan kredit, ia berubah menjadi piutang dan melalui

proses collection akan berubah menjadi kas kembali.

b). Bai' as-Salam, Untuk produksi yang prosesnya tidak dapat diikuti,

seperti produksi pertanian, bank dapat memberikan fasilitas bai' as-

salam. Melalui fasilitas ini, bank melakukan pemesanan barang

kepada nasabah dengan pembayaran di muka secara sekaligus dan


nasabah berkewajiban men-deliver barang tersebut pada tanggal

yang disepakati dalam kontrak. Pada waktu yang bersamaan, bank

dapat mencari pembeli atas produk tersebut. Kombinasi ini disebut

sulam parallel.

c). Bai' al-Istisha', Bila nasabah juga membutuhkan pembiayaan untuk

proses sampai menghasilkan barang jadi, bank dapat memberikan

fasilitas bai' al-istisha'. Melalui fasilitas ini, bank melakukan

pemesanan barang dengan harga yang disepakati kedua belah pihak

(biasanya sebesar biaya produksi ditambah keuntungan bagi

produsen, tetapi lebih rendah dari harga jual) dan dengan

pembayaran di muka secara bertahap sesuai dengan tahap-tahap

produksi.

2). Pembiayaan dengan Prinsip Sewa (Ijarah)

Transaksi Ijarah dilandaskan pada adanya perpindahan

manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip

jual beli (ba’i), tetapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya.

Bila pada jual beli objek transaksinya adalah barang, pada ijarah objek

transaksinya adalah jasa.

Pada umumnya bank-bank Islam mengoperasikan produk

ijarah tersebut dengan menggunakan ijarah muntahiya bitamlik (IMB)

yang merupakan perpaduan antara kontrak jual beli dengan sewa, atau

lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di

tangan penyewa. Hal ini lantaran lebih sederhana dari segi pembukuan
dan bank pun tidak diperbolehkan untuk mengurus pemeliharaan aset,

baik pada saat leasing maupun sesudahnya.

3). Pembiayaan dengan Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)

Prinsip bagi hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang

ditujukan guna mendapatkan barang dan jasa sekaligus.

a). Pembiyaan Musyarakah

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para

pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang

mereka miliki secara bersama-sama. Semua bentuk usaha yang

melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-

sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud

maupun yang tidak berwujud.

b). Pembiayaan Mudharabah

Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak

atau lebih dimana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan

sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu

perjanjian keuntungan. Bentuk ini menegaskan bentuk kerja sama

dalam paduan kontribusi 100% modal shahibul maal dan keahlian

dari mudharib.

Untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan, biasanya

diperlukan “akad pelengkap” yang tidak ditujukan untuk mencari

keuntungan, tapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan,

salah satunya ialah qardh, yang berarti pinjaman uang.


3. Produk Pelayanan Jasa Bank Syariah

Sebagaimana diuraikan penjelasan atas PBI NO. 9/19/PBI/2007

tanggal 17 Desember 2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam

kegiatan “Penghimpunan Dana” dan “Penyaluran Dana” serta “Pelayanan

Jasa” bagi Bank syariah didasarkan sistem ekonomi Islam akan menjadi

dasar beroperasinya bank Islam, yaitu yang paling menonjol adalah tidak

mengenal konsep bunga uang dan yang tidak kalah pengtingnya adalah

untuk tujuan komersial Islam tidak mengenal peminjaman uang tetapi

adalah kemitraan/kerjasama (mudharabah dan musyarakah) dengan prinsip

bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya dimungkinkan untuk tujuan

sosial tanpa adanya imbalan apapun.

Dalam realisasi kegiatan Pelayanan Jasa Bank Syariah,

dapatlah dilihat sebagai berikut:

1) Jasa-jasa terdiri dari:

a) Ijarah yaitu kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan

pendapatan sewa, bila terdapat kesepakatan pengalihan pemilikan

pada akhir masa sewa disebut ijarah mumtahiya bi tamlik (sama

dengan operating lease).

b) Wakalah yaitu pihak pertama memberikan kuasa kepada pihak

kedua (sebagai wakil) untuk urusan tertentu di mana pihak kedua

mendapat imbalan berupa fee atau komisi.

c) Kafalah yaitu pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas

kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai


dengan yang di perjanjikan di mana pihak pertama menerima

imbalan berupa fee atau komisi (garansi).

d) Sharf yaitu pertukaran/jual beli mata uang yang berbeda dengan

penyerahan segera/spot berdasarkan kesepakatan harga sesuai

dengan harga pasar pada saat pertukaran.

2) Jasa Perbankan

a) Sharf (jual beli valuta asing). Pada prinsipnya jual beli valuta

asing sejalan dengan prinsip sharf, sepanjang dilakukan pada

waktu yang sama (spot). Bank mengambil keuntungan dari jual

beli valuta asing ini.

b) Ijarah (sewa). Jenis kegiatan ijarah antara lain penyewaan kotak

simpanan (safe deposit box) dan jasa laksana administrasi

dokumen (custodian). Bank mendapat imbalan sewa dari jasa

tersebut.26

Prinsip operasi yang berbeda dengan bank konvensional

memberikan implikasi perbedaan pada prinsip akuntansi baik dari segi

penyajian maupun pelaporannya. Laporan akuntansi bank Islam akan

terdiri dari:

a. Laporan posisi keuangan /neraca.

b. Laporan laba-rugi.

c. Laporan arus kas.

d. Laporan perubahan modal.

26
Mahmud Thoha (Ed), (2005). Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil
Dalam Sektor Primer (Buku 2), Jakarta: P2E-LIPI.
e. Laporan perubahan investasi tidak bebas/terbatas.

f. Catatan atas laporan keuangan.

g. Laporan sumber dan penggunaan zakat.

h. Laporan sumber dan penggunaan dana qard/qardul hasan.27

27
Http://www. LIPI.com. Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia
Pasca Krisis: Perspektif Ekonomi Politik Islam, oleh Mahmud Thoha, dikutip pada tanggal
28 Desember 2006.
BAB III

GAMBARAN UMUM TENTANG BANK SUMUT SYARIAH

C. Tinjauan tentang Bank Sumut Syariah

Mengenai pembahasan terhadap pokok-pokok yang

sebelumnya telah dirumuskan dan ditetapkan pada bab I terdahulu

berikut penulis menguraikan terlebih dahulu keberadaan akitivitas

kegiatan dari Bank Sumut Syariah tersebut.

6. Pendirian Bank Sumut Syariah

Bank sumut syariah didirikan pada tanggal 4 November

2005 dengan akte notaris Roesli nomor 22 dalam bentuk Perseroan

Terbatas (PT). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962

tentang Ketentuan Pokok Bank Milik Pemerintahan Daerah dengan

Peraturan Daerah (Perda) Tingkat I Sumatera Utara Nomor 5 Tahun

1965. Perda tersebut menetapkan modal dasar sebesar Rp 3 Triliun

dan sahamnya hanya dimiliki oleh Pemerintahan Daerah Tingkat I

Sumatera Utara dan Pemerintahan Daerah Tingkat II di seluruh

Sumatera Utara.

7. Modal Awal Bank Sumut Syariah

Bank Indonesia akan menurunkan batas minimal modal

awal bank umum syariah Rp 3 triliun, langkah itu bertujuan agar

lebih banyak investor yang berminat mendirikan bank syariah. Bank


Indonesia (BI) mensyaratkan investor yang ingin mendirikan bank

umum syariah khususnya pada bank sumut syariah menyetor modal

minimal Rp 3 triliun. Besaran modal awal tersebut bisa membatasi

pendirian ketentuan bank umum konvensional yang baru. Modal

awal tersebut akan dinaikan kembali jika jumlah Bank Sumut

Syariah dianggap sudah optimal.

Selain ketentuan modal awal, Bank Indonesia juga

berencana menertibkan aturan baru untuk unit usaha syariah yang

ingin menjadi bank umum syariah yang berdiri sendiri. Penambahan

Kantor Bank Syariah meningkat dari 40 outlet pada januari 2000

menjadi 328 outlet pada mei 2005. Itu berarti rata-rata pertumbuhan

mencapai lima outlet per bulan. Adapun pertumbuhan kantor bank

konvensional hanya satu outlet per bulan.

Dana Pihak Ketiga (DPK) Syariah Bank Sumut tumbuh

161% pada triwulan I 2007 yang mencapai Rp 37,97 miliar atau

tumbuh sebesar 161% dibandingkan periode yang sama tahun 2006

sebesar Rp 14,5 miliar.

Kepala Bidang Pembiayaan Devisi Syariah Bank Sumut


Kaswinata mengatakan, sumber penghimpunan DPK terbesar
masih berasal dari produk tabungan sebesar Rp 17,9 miliar,
deposito sebesar Rp 16,6 miliar, dan giro Rp 3,4 miliar. Pada
periode yang selama tahun 2006, sumber DPK yang terbesar
juga berasal dari tabungan sebesar Rp 6,8 miliar, disusul oleh
deposito sebesar Rp 6,5 miliar, dan giro sebesar Rp 1,2
miliar.28

Penyaluran pembiayaan Devisi Syariah Bank Sumut pada

triwulan I 2007 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi

sebesar 81,5 % atau sebesar Rp 58,005 miliar di bandingkan periode

yang sama tahun lalu yang hanya Rp 31,95 miliar. Sumber

pembiayaan berasal dari jual beli murabahah sebesar Rp 51,545

miliar dan mudharabah (modal kerja) sebesar Rp 6,51 miliar.

“Pembiayaan terbesar disalurkan ke usaha kecil sebesar Rp 30,69

miliar, disusul oleh usaha mikro sebesar Rp 22,14 miliar, dan usaha

menengah sebesar Rp 5,23 miliar.

Jumlah nasabah saat ini mencapai 1.750 nasabah. Divisi

Syariah Bank Sumut masih tetap fokus pada pangsa pasar sektor riil

dan ritel untuk mengangkat perekonomian masyarakat menengah

kebawah.29 Sampai saat ini Bank Sumut Syariah masih tetap

menjalankan program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

kecil, yang lebih dikenal dengan pembiayaan peduli usaha mikro

tanpa agunan. Besarnya Rp 1 juta untuk membantu percepatan

penghimpunan dana, Devisi Bank Sumut Syariah juga melaksanakan

office chanelling pada bulan juli 2007, dengan mendirikan pusat

layanan syariah di 66 kantor Bank Sumut Konvensional, yakni 15

28
Hasil wawancara dari PT. Bank Sumut Syariah
29
Hasil wawancara dari PT. Bank Sumut Syariah
kantor cabang dan 51 kantor cabang pembantu.

8. Struktur Kepengurusan Bank Sumut Syariah

Dengan dikeluarkannya UU No. 10 Tahun 1998 tentang

perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, maka dengan

ketentuan pelaksanaan dan beberapa SK Direksi BI pada tgl 12 Mei

1999 atau paket Mei 1992 antara lain (1) SK Direksi BI

No.32/33/KEP/DIR tgl 12 Mei 1992 tentang Bank Umum, (2) SK

Direksi BI No.32/43/KEP/DIR tgl 12 Mei 1959 Bank Umum

berdasarkan Prinsip Syariah. Maka sistem Perbankan sesuai dengan

UU.No 10 Tahun 1998 terdiri dari (a) Bank Umum, (b) Bank

Perkreditan Rakyat. Dalam melaksanakan usahanya, Bank Umum

dapat menyelenggarakan secara konvensional dan secara syariah.

Sesuai dengan SK Direksi Bank Indonesia No.32/33/KEP/DIR tgl 12

Mei 1959 bagi Bank konvensional yang menginginkan berubah

menjadi Bank Syariah penuh maupun kombinasi antara Bank

konvensional dan Bank Syariah.

Sehubungan dengan poin di atas, maka PT. Bank Sumut

Syariah diurai ataupun di kemudikan oleh seorang Direktur Utama

dan beberapa orang Direktur yang dalam pelaksanaan tugas, fungsi,

dan tanggung jawabnya berada dibawah pengawasan seorang

Komisaris Utama dan beberapa orang komisaris. Baik Komisaris

Utama, Komisaris, Direktur Utama, Direktur, dan pada Anggota


Direksi, keberadaannya diangkat dan diberhentikan atas dasar hasil

rapat umum penentuan kebijakan dan masa depan PT. Bank Sumut

Syariah adalah berada di tangan Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS).

Komisaris Utama, Komisaris, Direktur Utama, Direktur,

masa lamanya menduduki Jabatannya dengan di tentukan waktunya

(masa aktif 55 tahun). Pengangkatan dan pemberhentian masing-

masing ditentukan berdasarkan hasil rapat di dalam RUPS. Dalam

arti bila hasil RUPS memuat diletakkannya pemberhentian dan atau

pergantian Komisaris Utama, Komisaris, Direktur Utama, dan

Direktur maka harus dilakukan pemberhentian dan pengambilan

tersebut.

Secara skematis susunan atau format Kepengurusan PT.

Bank Sumut Syariah yang dilihat dari segi kewenangan di dalam

mengambil dan mendapatkan kebijakan secara menentukan masa

depan perusahaan, secara sederhana dapat digambarkan sebagaimana

yang terdapat dalam Lampiran 1.

Dalam hal terjadinya pergantian Komisaris Utama,

Direktur Utama, dan juga Direktur, maka hal ini harus didaftarkan di

Kantor Paniteraan Pengadilan Negeri.

Struktur Organisasi Cabang Pembantu


PT. Bank Sumut Syariah Stabat

Pemimpin
Cabang Pembantu

Seksi Pemasaran Seksi Operasional

Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan


Pemasaran Analisis Pelayanan dan Pelayanan dan Pelayanan dan
Pembiayaan Informasi Nasabah Informasi Nasabah Informasi Nasabah

Dengan adanya struktur organisasi Cabang Pembantu PT

Bank Sumut Syariah Stabat, maka diharapkan dapat lebih memenuhi

kebutuhan masyarakat di Stabat khususnya dan di Kabupaten

Langkat umumnya tentang Bank Syariah. Hal ini sesuai dengan

keadaan penduduk di Kabupaten Langkat yang mayoritas adalah

muslim, sehingga memerlukan bank tersebut. Di segi lain, Stabat

merupakan ibu kota Kabupaten Langkat, sehingga banyak aktivitas

ekonomi yang kelancarannya memerlukan jasa perbankan, baik yang

bersifat menyimpan, kredit, maupun aktivitas perbankan lainnya.

D. Produk-Produk Bank Sumut Syariah

Bank sumut syariah merupakan komitmen dalam

menyediakan produk dan jasa perbankan dilandasi pada prinsip syariah

dan pemberdayaan modal secara produktif, untuk keamanan dan

kemudahan investasi. Bank sumut syariah memanfaatkan produk dan


jasa keuangan murni syariah.

Secara teknis fisik, menabung di bank syariah dengan yang

berlaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaannya. Hal ini

baik karena bank syariah maupun bank konvensional diharuskan

mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. Akan tetapi, jika

diamati secara mendalam, terdapat perbedaan besar diantara keduanya.

Perbedaan pertama, terletak pada akad. Pada bank syariah

semua transaksi harus berdasarkan pada akad yang dibenarkan oleh

syariah. Dengan demikian semua transaksi itu harus mengikuti kaidah

dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. Pada bank

konvensional, transaksi pembukaan rekening, baik giro, tabungan,

maupun deposito, berdasarkan perjanjian titipan maupun perjanjian

titipan ini tidak mengikuti prinsip manapun dalam muamalah syariah,

misalnya wadi’ah, karena salah satu penyimpangannya diantaranya

menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang

disetor.

Perbedaan kedua, terdapat pada imbalan yang diberikan.

Bank konvensionsl menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk

menghitung keuntungan. Artinya, bunga yang dijanjikan di muka

kepada nasabah menghitung keuntungan ongkos yang harus dibayar

oleh bank. Karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lainnya

(peminjam) dengan biaya (bunga) yang lebih tinggi. Perbedaan diantara


keduanya disebut spread. Jika bunga dibebankan kepada peminjam

lebih tinggi dari pada bunga yang harus dibayar kepada nasabah

penabung, bank akan mendapatkan spread negative bagi bank. Bank

harus menutupnya dengan keuntungan yang dimiliki sebelumnya. Jika

tidak ada, ia harus menanggulangi dengan modal. Bank syariah

menggunakan profit sharing, artinya dan yang diterima bank disalurkan

dengan pembiayaan. Keuntungan yang didapatkan dari pembiayaan

tersebut dibagi dua, untuk bank dan nasabah berdasarkan perjanjian

pembagian keuntungan di muka (biasanya terdapat dalam formulir

pembukaan rekening yang berdasarkan mudharabah).

Perbedaan ketiga, adalah secara kredit/ pembiayaan. Para

penabung dikonvensional tidak sadar bahwa uang yang ditabungkannya

diputarkan kepada semua bisnis tanpa memandang halal-haram bisnis

tersebut, bahkan sering terjadi dana tersebut digunakan untuk

membiayai proyek-proyek milik grup perusahaan bank tersebut.

Celakanya kredit itu diberikan tanpa memandang apakah jumlah

melebihi batas maksimum pemberian kredit (BMPK) ataukah tidak.

Akibatnya, ketika krisis datang dan kredit-kredit itu bermasalah, bank

sulit untuk mendapatkan dana pengembalian dana darinya. Adapun

dalam bank syariah, penyaluran dana simpanan dari masyarakat dibatasi

oleh dua prinsip dasar, yaitu prinsip syariah dan keuntungan. Artinya,

pembiayaan yang harus diberikan harus mengikuti kriteria-kriteria


syariah, disamping pertimbangan-pertimbangan keuntungan. Misalnya,

pemberian pembiayaan (kredit) harus kepada bisnis lain yang halal,

tidak boleh atau kepada perusahaan atau bisnis yang memperoleh

makanan dan minuman yang diharamkan, perjudian, pornografi, dan

bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah. Karena itu, menabung

dibank syariah relatif lebih aman ditinjau dari perspektif Islam karena

akan mendapatkan keuntungan yang didapati dari bisnis yang halal.

1. Produk Dana

Fatwa DSN No: 01/ DSN-MUI/ IV/ 2000, Tentang:

Giro yang dibenarkan secara syariah, yaitu Giro yang berdasarkan

prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. No: 02/ DSN-MUI/ IV/ 2000,

Tentang: Tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang

berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah, No: 03/ DSN-MUI/

IV/ 2000, Tentang Deposito yang dibenarkan, yaitu deposito yang

berdasarkan prinsip Mudharabah.

Memilih antara Wadiah dan Mudharabah. Seseorang

yang ingin menabung di Bank Sumut Syariah dapat memilih antara

akad al-wadiah atau al-mudharabah. Meskipun jenis produk

tabungan di Bank Syariah mirip dengan konvensional, yaitu giro,

tabungan, dan deposito, namun dalam Bank Syariah terdapat

perbedaan-perbedaan yang prinsipil seperti yang dijelaskan berikut

ini.
Giro, pada umumnya, Bank Syariah menggunakan akad

al-wadiah pada rekening giro. Nasabah yang membuka rekening

giro berarti melakukan akad wadiah ya al-amanah dan wadiah ya

adh-dhamanah.30 Akad wadi’ah yad al-amanah adalah akad titipan

yang dilakukan dengan kondisi penerimaan titipan (dalam hal ini

bank) tidak wajib mengganti jika terjadi kerusakan. Biasanya akad

ini diterapkan bank pada titipan murni, seperti safe deposit box.

Dalam hal ini bank hanya bertanggung jawab atas kondisi barang

(uang) yang dititipkan. Adapun wadiah yad adh-dhamanah adalah

titipan yang dilakukan dengan penerima titipan bertanggung jawab

atas nilai (bukan fisik) dari uang yang dititipkan. Bank sumut

syariah ini menggunakan akad wadiah yad adh-dhamanah untuk

rekening giro.

Bank Sumut Syariah dengan sistem bagi hasil dirancang

untuk terbinanya kebersamaan dalam menanggung resiko usaha dan

berbagi hasil usaha antara pemilik dana (investor atau shahibul

maal) dan pengelola dana (manajer atau mudharib).

a. Produk Wadiah (titipan Wadiah)

Produk wadiah ada dua macam, yaitu tabungan

Marwah (martabe wadiah), dan giro Wadiah. Prinsip wadi’ah

yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah pada produk

30
Hasil wawancara dari PT. Bank Sumut Syariah
rekening giro dan tabungan. Wadi’ah dhamanah berbeda

dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah amanah, pada

prinsipnya harta tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak yang

dititipi. Sedangkan dalam hal wadi’ah dhamanah, pihak yang

dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan

sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipaan tersebut.

Adapun ketentuan umum dari produk ini adalah

sebagai berikut ini:

1. Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak

milik atau ditanggung bank, sedang pemilik dana tidak

dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. Bank

dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana

sebagai suatu insentif untuk menarik dana masyarakat

namun tidak boleh dijanjikan dimuka.

2. Bank harus membuka akad membuka rekening yang isinya

mencakup izin penyaluran dana yang disimpan dan

persyaratan lain yang disepakati selama tidak bertentangan

dengan prinsip syariah.

3. Terhadap pembukaan rekening ini bank dapat mengenakan

pengganti biaya administrasi untuk sekedar menutupi biaya

yang benar-benar terjadi.

4. Ketentuan-ketentuan lain yang berkenaan dengan giro dan


tabungan tetap berkaku selama tidak bertentangan dengan

prinsip syariah, yaitu:

• Dikelola dengan prinsip Wadiah yad-dhamanah dimana

bank sebagai pengelola dana titipan nasabah.

• Kewenangan atas pengelolaan dana nasabah menjadi hak

bank dan apabila ada kerugian menjadi tanggung jawab

bank.

• Bank tidak membagikan bagi hasil atas dana titipan.

• Dapat dijadikan jaminan pembiayaan di PT. Bank Sumut

• Nasabah dapat menarik dananya setiap saat diseluruh

Kantor Bank Sumut secara on line.

• Bank wajib mengembalikan dana titipan nasabah.

• Lembaga Penjaminan Pinjaman (LPS) menjamin

pengembalian dana titipan nasabah s/d 1 (satu) Milyar.

b. Produk Mudharabah (bagi hasil)

Produk mudharabah (bagi hasil) ada dua macam,

yaitu:

1. Tabungan Marhamah (martabe bagi hasil mudharabah).

Tabungan. Bank Sumut Syariah menetapkan dua akad dalam

tabungan, yaitu wadi’ah dan mudharabah. Tabungan yang

menerapkan akad wadi’ah mengikuti prinsip-prinsip wadi’ah


yad adh-dhammanah seperti yang dijelaskan diatas. Artinya

tabungan ini tidak mendapatkan keuntungan karena ia titipan

dan dapat diambil sewaktu-waktu dengan menggunakan buku

tabungan atau media lain seperti kartu ATM. Tabungan yang

berdasarkan akad wadi’ah ini tidak mendapatkan keuntungan

dari bank karena sifatnya titipan. Akan tetapi, bank tidak

dilarang jika ingin memberikan semacam bonus/hadiah.

Tabungan yang menerapkan akad mudharabah mengikuti

prinsip-prinsip akad mudharabah. Di antaranya sebagai

berikut: Pertama, keuntungan dari dana yang digunakan harus

dibagi antara shahibul maal (dalam hal ini nasabah) dan

mudharib (dalam hal ini bank). Kedua, adanya tenggang waktu

antara dana yang diberikan dan pembagian keuntungan, karena

untuk melakukan investasi dengan memutar dan itu diperlukan

waktu yang cukup.

Ketentuan teknis tabungan yang berlaku pada industri

perbankan pada umumnya juga berlaku dalam tabungan bank

sumut syariah. Misalnya, nasabah harus menyerahkan foto

copy KTP, mengisi formulir, menandatangani specimen tanda

tangan. Demikian pula dalam hal ketentuan pembukaan dan

penutupan rekening, penarikan dan pemindahan dana, dan

sebagainya.
2. Deposito Ibadah

Deposito. Bank Sumut Syariah menerapkan akad mudharabah

untuk deposito. Seperti dalam tabungan, dalam hal ini nasabah

(deposan) bertindak sebagai shahibul maal dan bank selaku

mudharib. Penerapan mudharabah terhadap deposito

dikarenakan kesesuaian yang terdapat diantara keduanya.

Misalnya seperti yang dikemukakan diatas bahwa akad

mudharabah mensyaratkan adanya tenggang waktu antara

penyetor dan penarikan agar dana itu bisa diputarkan.

Tenggang waktu ini merupakan salah satu sifat deposito,

bahkan dalam deposito terdapat pengaturan waktu, seperti 30

hari, 90 hari, dan seterusnya.

Ketentuan teknis deposito dalam Bank Sumut Syariah juga

mengikuti ketentuan bank teknis, seperti syarat-syarat

pembukaan, penutupan, formulir pembukaan, bilyet, specimen

tanda tangan, dan sebagainya. Sebagaimana tabungan yang

mendapatkan keuntungan/bagi-hasil dari keuntungan bank.

Pembayaran keuntungan di Indonesia pada akhir bulan/ jatuh

tempo.

Konsep Trust Investment (mudharabah) adalah investasi dana

dari satu pihak lain (investee) yang menjadi manajer.

Keuntungan investasi dibagi menurut kesepakatan (nisbah)


yang dituangkan dalam kontrak diawal investasi. Dalam

mengaplikasikan prinsip mudharabah, deposan bertindak

sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai

mudharib (manajer). Dana tersebut digunakan bank untuk

melakukan murabahah atau ijarah seperti yang dijelaskan

seperti terdahulu. Dapat pula dana terebut digunakan bank

untuk melakukan mudharabah kedua. Hasil usaha ini akan

dibagihasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati. Dalam hal

bank menggunakannya untuk melakukan mudharabah kedua,

maka bank bertanggung jawab penuh atas kerugian yang

terjadi.

Rukun mudharabah terpenuhi sempurna (mudharib, shahibul

maal, usaha yang dibagihasilkan, nisbah dan ijab qabul).

Diaplikasikan pada produk Tabungan Berjangka dan Deposan

Berjangka.

Dalam kegiatan penghimpun dana, mudharabah terbagi

menjadi:

a. GIA = General Investment Account (mudharabah

mutlaqah)

Tidak ada pembatasan bagi bank dalam menggunakan dana

yang dihimpun. Nasabah tidak memberi persyaratan apapun

kepada bank, ke bisnis apa dana yang disimpannya hendak


disalurkan, atau menetapkan penggunakan akad-akad

tertentu. Jadi bank memiliki kebebasan penuh dalam

menyalurkan dana GIA ini ke bisnis manapun yang

diperkirakan menguntungkan.

Ketentuan umum:

1) Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana

mengenai nisbah dan tata cara pemberitahuan

keuntungan dan/ atau pembagian keuntungan serta

resiko yang dapat ditimbulkan dari penyaluran dana.

Apabila telah tercapai kesepakatan, maka hal tersebut

harus dicantumkan dalam akad.

2) Untuk tabungan mudharabah, bank dapat memberikan

buku tabungan sebagai bukti penyimpanan, serta kartu

ATM dan atau alat penarikan lainnya kepada penabung.

Untuk deposito mudharabah, bank wajib memberikan

sertifikat atau tanda penyimpanan (bilyet) deposito

kepada deposan.

3) Tabungan dan deposito mudharabah tidak dapat diambil

pada setiap saat.

4) Ketentuan-ketentuan yang lain yang berkaitan dengan

tabungan dan depisito berjangka tetap berlaku

sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.


b. SIA = Special Investment Account (mudharabah

muqayyadah)

Dalam hal ini diberlakukan beberapa hal sebagai berikut:

1) Dikelola dengan prinsip Mudharabah Mutlaqah yaitu

nasabah sebagai pemilik dana (shahibul maal) dan

bank (mudharib) sebagai pengelola dana.

2) Bank tanpa batasan dapat mengelola dana di sektor

usaha yang produktif dan tidak bertentangan dengan

prinsip syariah.

3) Pemilik dana mendapat bagi hasil yang diberikan setiap

bulan dan dibukukan secara otomatis ke rekening

tabungan.

4) Dapat dijadikan jaminan pembiayaan di PT. Bank

Sumut.

Khusus Bagi Tabungan Marhamah adalah:

1) Mempunyai sistem target saving dengan jangka waktu.

2) Jika target belum tercapai selama jangka waktu yang

diperjanjikan dapat diperpanjang.

3) Penyetoran dan penarikan dapat dilakukan secara On

line di/ke seluruh Kantor Bank SUMUT.

4) Besarnya bagi hasil yang diperoleh nasabah tergantung

dari nisbah dan pendapatan operasional bank.


5) Sebagai bukti Investasi diberikan buku tabungan.

2. Produk Pembiayaan

a. Transaksi Jual Beli dalam bentuk Piutang Murabahah.

Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah merupakan

akad-jual beli atas suatu barang, dengan harga disepakati diawal

dimana bank menyebutkan harga pembelian dan keuntungan yang

diperoleh bank. Bank dapat mensyaratkan pembeli untuk

membayar uang muka (urbun). Nasabah membayar kepada bank

menurut harga yang diperjanjikan dan harga/pembayaran tidak

berubah selama jangka waktu yang telah disepakati.

b. Transaksi Bagi Hasil Mudharabah

Transaksi bagi hasil mudharabah adalah akad kerja sama antara

bank sebagai pemilik dana (shahibul maal) dengan nasabah

sebagai pengelola dana (mudharib). Jangka waktu pembiayaan,

pengembalian dana dan pembagian keuntungan ditentukan dalam

akad. Kerugian dapat menjadi beban bank atau beban nasabah,

sesuai dengan penyebab kerugian yang diatur dalam akad, dan

Bank tidak ikut serta dalam pengelolaan usaha nasabah tetapi

memiliki hak dalam pengawasan dan pembinaan usaha nasabah.

c. Ijarah dan Ijarah Muntahiyah bit Tamlik.

Ijarah dan ijarah muntahiyah bit tamlik adalah Transaksi sewa


dalam bentuk ijarah atau sewa dengan opsi perpindahan hak milik

dalam bentuk ijarah muntahiyah bit tamlik.

d. Gadai Emas Syariah.

Bank Sumut Syariah memberikan fasilitas pada nasabah dengan

mengadaikan emas untuk memperoleh pinjaman dana dan akan

dikembalikan sebesar dana yang dipinjam dalam jangka waktu

yang diperjanjikan (qardh). Atas emas yang digadaikan bank

mengenakan biaya sewa, dan ini solusi tepat untuk nasabah yang

membutuhkan dana seketika.

e. Qardh

Qardh adalah pinjam meminjam dana tanpa imbalan degan

kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjaman

secara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

3. Produk Jasa

Bank Sumut Syariah merupakan perwujudan dari

komitmen Pengelola untuk memberikan “pelayanan terbaik” dalam

memenuhi kebutuhan nasabah akan jasa yang kami tawarkan kepada

nasabah adalah:

a. Kiriman Uang (Transfer). Fasilitas BI-RTGS untuk melayani

kebutuhan nasabah akan jasa transfer ke seluruh bank di nusantara

secara cepat dan aman. Bank Sumut Syariah telah On line ke

seluruh jaringan kantor PT. Bank SUMUT.


b. Inkaso (jasa tagih). Fasilitas yang di berikan kepada nasabah atas

kepastian dan pengurusan penagihan warkat-warkat yang berasal

dari kota lain secara cepat dan aman.

c. Bank Garansi. Fasilitas yang disediakan oleh bank kepada

nasabah yang membutuhkan penjaminan untuk mitra kerja dalam

rangka bisnis seperti tender proyek, pelaksanaan proyek dan

sebagainya.

E. Geografis Sumatera Utara

Lambang SUMUT PETA SUMUT


Peta lokasi Sumatera Utara

Koordinat l°-4° LU 98°-100° BT

Dasar hukum UU 10/1948, UU 24/1956

Tanggal penting 15 April 1948

Ibu kota Medan

Gubernur Rudolf Pardede

Luas71.680km2
Penduduk 11.490.453(2005)

Agama : Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Parmalim, Konghucu

Bahasa : Indonesia, Batak, Nias, Melayu, Jawa

Zona waktu : WIB

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di

Pulau Sumatera, berbatasan dengan Aceh di sebelah utara dan dengan

Sumatera Barat serta Riau di sebelah selatan.31 Provinsi ini terutama

merupakan kampung halaman suku bangsa Batak, yang hidup di

pegunungan dan suku bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir

timur. Selain itu juga ada suku bangsa Nias di pesisir Barat Sumatera,

Mandailing, Jawa dan Tionghoa.

Geografi Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1A° - 4A°

Lintang Utara dan 98A° - 100A° Bujur Timur, yang pada tahun 2004

memiliki 18 Kabupaten dan 7 kota, dan terdiri dari 328 kecamatan,

secara keseluruhan Provinsi Sumatera Utara mempunyai 5.086 desa dan

382 kelurahan. Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km2,

Sumatera Utara tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini,

perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian provinsi.

Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara.

Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi,

cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut

31
http://www. Wikipedia.com/sumatra utara
tersebar di Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhan Batu,

dan Tapanuli Selatan.

Agama utama di Sumatra Utara adalah:

1. Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, suku Mandailing, suku

Jawa

2. Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak

dan suku Nias

3. Hindu: terutama dipeluk oleh keturunan India yang minoritas di

perkotaan

4. Buddha: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan

5. Konghucu: terutama dipeluk oleh suku Tionghoa di perkotaan

6. Parmalim: dipeluk oleh sebagian suku Batak yang berpusat di Huta

Tinggi

7. Animisme: masih ada dipeluk oleh mayoritas suku Batak dan Nias,

yaitu Pelebegu Parhabonaron dan kepercayaan sejenisnya

Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun 2005 umat Islam

adalah kelompok agama terbesar (7.530.839 jiwa; terbanyak di

Sumatera), diikuti Protestan (3.062.965).32

32
http://www. Wikipedia.com/sumatra utara
BAB IV

ANALISIS PERJANJIAN PEMBIAYAAN BANK SUMUT SYARIAH

G. Ketentuan Umum dan Syarat Memperoleh Pembiayaan

1. Pembiayaan Murabahah

Dalam pelaksanaan pemberian pembiayaan Murabahah

dibagi ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu: Perseorangan; Badan

Usaha ( Fa, Cv, PT ); dan Kelompok Musytari’ (Instansi, Lembaga,

BUMN, BUMD, Koperasi, Perusahaan Bonafide).

a. Perseorangan

Prosedur memperoleh pembiayaan Murabahah adalah

sebagai berikut:

1) Mengisi dan Menandatangani Permohonan Pembiayaan

2) Memenuhi persyaratan

a) FC, KTP (suami/istri), KK dan atau Buku Nikah

b) FC, KTP (suami/istri) dan KK Orang Tua selaku PBJ

c) Karpeg asli (PNS) atau SK Pengangkatan (BUMN/BUMD/

Perusahaan Bonafide)

d) Pas foto suami dan istri uk 3x4 (1 lembar)

e) Slip Gaji/ Surat Keterangan Penghasilan untuk bulan

terakhir

f) NPWP untuk pembiayaan > Rp. 100 juta


3) Untuk perseorangan yang mempunyai penghasilan tetap,

pembiayaan yang dapat diberikan maksimal 50% dari gaji

dikalikan dengan jangka waktu.

4) Menunjukkan asli surat agunan dan FC, PBB terakhir dan

IMB. (fotocopy sebagai arsip)

5) Mengisi dan Menandatangani Permohonan Pembiayaan

6) Memenuhi persyaratan

a) FC, KTP (suami/istri), KK dan atau Buku Nikah

b) FC, KTP (suami/istri) dan KK Orang Tua selaku PBJ

c) Karpeg asli (PNS) atau SK Pengangkatan (BUMN/BUMD/

Perusahaan Bonafide)

d) Pas foto suami dan istri uk 3x4 (1 lembar)

e) Slip Gaji/ Surat Keterangan Penghasilan untuk bulan terakhir

f) NPWP untuk pembiayaan > Rp. 100 juta

7) Untuk perseorangan yang mempunyai penghasilan tetap,

pembiayaan yang dapat diberikan maksimal 50% dari gaji

dikalikan dengan jangka waktu.

8) Menunjukkan asli surat agunan dan FC, PBB terakhir dan IMB.

(fotocopy sebagai arsip)

b. Badan Usaha ( Fa, Cv, PT )

Prosedur memperoleh pembiayaan Murabahah adalah


sebagai berikut:

1. Mengisi dan Menandatangani Permohonan Pembiayaan

2. Memenuhi persyaratan :

a) FC, KTP (suami/istri), dan atau Buku Nikah

b) FC Legelitas Usaha

c) Laporan keuangan perusahaan 6 bulan terakhir

d) Menunjukan asli surat agunan berikut PBB terakhir dan

IMB

c. Kelompok Musytari’

Pembiayaan Mudharabah kepada kelompok pegawai

secara kolektif melalui Dinas, Instansi Pemerintah, Lembaga

Pemerintah, Perusahaan BUMN/BUMD, koperasi dan perusahaan

swasta yang bonafide, didasarkan pada kerjasama yang

dituangkan dalam bentuk perjanjian kerjasama(PKS) antara

pemimpin cabang dan kepala dinas /instansi/ lembaga/ koperasi/

perusahaan swasta:

1. mengisi dan mendatangi pembiayaan

2. pejabat membuat surat permohonan di atas kop surat

3. memenuhi persyaratan

1) Daftar pegawai yang bermohon

2) FC KTP suami/istri masing-masing permohonan


3) FC Karpeg (PNS)

4) FC SK Pengangkatan dan taspen

(BUMN/BUMD/Perusahaan Bonafide)

5) FC daftar pembayaran gaji bulan terakhir yang telah dilegasi

pejabat

6) Surat pernyataan dan kuasa memotong gaji dari pemohon

kpd bendaharawan.

Jumlah pembiayaan yang dapat diberikan:

a) Untuk setiap peminjam pegawai negri sipil (PNS) maksimal

40% dari gaji (dikali jangka waktu) atau maksimal Rp.

100.000.000,-

b) untuk setiap peminjaman non pegawai negri sipil (PNS)

maksimal 40% dari gaji (dikali jangka waktu) atau maksimal

Rp. 75.000.000,-

2. Pembiayaan Mudharabah

Adapun persyaratan untuk pembiayaan

mudharabah adalah sebagai berikut:

3. usaha perorangan maupun badan memenuhi aspek-aspek

legalitas seperti: memiliki NPWP, legalitas usaha dan

AD/ART

4. pemenang tender, yaitu perusahaan yang tertera pada

SPK/kontrak/gunning dan telah melakukan perikatan tertulis


dengan kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/bagian

proyek sebagai pengguna barang/jasa dengan pemasok atau

kontraktor atau konsultan sebagai penyedia barang/jasa

dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa.

5. pemegang surat perintah kerja (SPK)/kontrak/gunning yang

berdasarkan akte notaris menerima kuasa dari pemenang

tender.

6. mudharib yang mendapatkan pembiayaan modal kerja

kelayakan berdasarkan kuasa atas hunjuk dari pemenang

tender harus melampirkan:

7. menyerahkan bukti-bukti identitas bagi yang mewakili

perusahaan seperti KTP, SIM, atau paspor dan kartu

keluarga.

8. menyediakan agunan tambahan

9. melampirkan proyeksi cash/cash flow yang telah

ditandatangani dan distempel (untuk CV dan PT)

10. usaha yang dijalankan bukan usaha yang dilarang

syariah.

H. Bentuk Perjanjian Pembiayaan pada Bank Sumut Syariah

5. Perjanjian Pembiayaan Murabahah


Negosiasi & Kontrak

Akad Jual Beli


BANK NASABAH
Terima Barang

Bayar
Beli Barang Kirim Barang
Dokumen
SUPPLIER/
PENJUAL

Merupakan salah satu pembiayaan dengan prinsip jual

beli barang pada harga perolehan dengan tambahan keuntungan

(marjin) yang disepakati, antara pihak bank selaku penjual dan

nasabah selaku pembeli, yang pembayarannya dilakukan secara

angsuran sesuai dengan kesepakatan bersama. Pembiayaan

murabahah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang

membutuhkan tambahan asset namun kekurangan dana untuk

melunasinya secara sekaligus.

Transaksi murabahah ini lazim dilakukan oleh Rasulullah

Saw dan para sahabatnya. Secara sederhana, murabahah berarti

suatu penjualan barang seharga barang tersebut di tambah

keuntungan yang telah disepakati. Misalnya, seseoarang membeli

barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu.


Akad ini merupakan salah satu bentuk natural certainty contracts,

karana dalam murabahah ditentukan beberapa required rate of profit-

nya (keuntungan yang ingin diperoleh).

Karakteristik murabahah adalah penjual harus memberi

tahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan

jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut. Misalnya,

si fulan membeli unta 30 dinar, biaya yang dikeluarkan 5 dinar, maka

ketika menawarkan untanya, ia mengatakan: “saya jual unta ini 50

dinar, saya mengambil keuntungan 15 dinar.”

Berdasarkan sumber dana yang digunakan, pembiayaan

murabahah secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga

kelompok: (1) Pembiayaan Murabahah yang di danai dengan URIA

(Unre stricted Investment Account = investasi tidak terikat); (2)

Pembiayaan Murabahah yang di danai dengan RIA (Restricted

Investment Account = investasi terikat); dan (3) Pembiayaan

Murabahah yang di danai dengan Modal Bank.

Dalam setiap pendisainan sebuah pembiayaan, faktor-

faktor yang perlu diperhatikan adalah: (1) Kebutuhan nasabah; dan

(2) Kemampuan finansial nasabah. Faktor-faktor ini juga akan

mempengaruhi sumberdana yang akan digunakan untuk pebiayaan

tersebut.

Definisi dalam akad pembiayaan murabahah Bank Sumut


Syariah ini, yang dimaksud dengan:

a) Jual-beli murabahah adalah jual beli antara pihak kedua sebagai

pemesanan untuk membeli, dan pihak pertama sebagai penyedia

barang yang berasal dari milik pihak ketiga, yang dalam

perjanjian Akad ini dinyatakan dengan jelas dan rinci mengenai

barang, harga beli Pihak Pertama kepada Pihak Kedua sehingga

termasuk didalamnya keuntungan yang diperoleh Pihak Pertama,

serta persetujuan Pihak Kedua untuk membayar harga jual

tersebut secara tangguh, baik secara sekaligus (lumpsum) atau

secara angsuran.

b) Barang adalah barang yang menjadi objek dalam akad ini, yang

meliputi segala jenis dan macam barang yang dihalalkan oleh

syariah, baik zat maupun cara perolehannya.

c) Supplier/Developer adalah pihak ketiga yang ditunjuk atau

disetujui oleh Pihak Pertama untuk menyediakan barang yang

akan dibeli oleh Pihak Pertama dan selanjutnya akan dijual

kepada Pihak Kedua.

d) Urbun adalah uang muka pembelian dan disetor Pihak Kedua

kepada Pihak Pertama dan merupakan faktor pengurang

pembiayaan murabahah (bukan sebagai pembayar angsuran) jika

murabahah dilaksanakan. Akan tetapi jika murabahah batal maka

Pihak Pertama mengambil urbun kepada Pihak Kedua setelah


dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh Pihak

Pertama untuk mengadakan atau memperoleh barang pesanan.

e) Harga Beli adalah sejumlah uang yang dikeluarkan Pihak

Pertama untuk membeli barang dari supplier/ developer yang

diminta oleh pihak kedua dan disetujui oleh pihak pertama

bedasarkan surat persetujuan prinsip dari pihak pertama kepada

pihak kedua, termasuk didalamnya biaya-biaya langsung yang

terkait dengan pmbelian barang tersebut.

f) Keuntungan adalah keuntungan pihak pertama atas terjadinya

jual-beli Murabahah ini yang disetujui oleh kedua belah pihak

yang ditetapkan dalam akad ini.

g) Harga jual adalah harga beli ditambah dengan sejumlah

keuntungan pihak pertama yang disepakati oleh kedua balah

pihak yang ditetapkan dalam akad ini.

h) Agunan adalah barang bergerak maupun tidak bergerak yang

didukung oleh segala macam dan bentuk surat bukti tentang

kepemilikan atau hak-hak lainnya atas barang yang diserahkan

nasabah kepada bank dan dijadikan jaminan guna menjamin

terlaksananya kewajiban pihak kedua terhadap pihak pertama

berdasarkan akad ini.

i) Denda adalah sanksi yang dikenakan kepada Nasabah oleh Bank

yang disebabkan karena kelalaian Nasabah dalam melakukan


kewajibannya sesuai dengan jadwal angsuran yang ditentukan dan

disepakati dalam Akad.

i) Hari Kerja Bank adalah hari kerja yang berlaku pada Pihak

Pertama

6. Perjanjian Pembiayaan Mudharabah

Pengertian mudharabah adalah akad yang telah dikenal

oleh umat muslim sejak zaman nabi, bahkan telah dipraktikkan oleh

bangsa arab sebelum turunya Islam. Ketika Nabi Muhammad Saw

berprofesi sebagai pedagang, ia melakukan akad mudharabah

dengan khadijah. Dengan demikian, ditinjau dari segi hukum Islam,

maka praktik mudharabah ini dibolehkan, baik menurut Al-Qur’an,

Sunnah, maupun ijma’.


Mudharib Bank

Keahlian/Keterampilan Modal
Proyek/Usaha dan
Perjanjian Bagi Hasil

Pembagian
Keuntungan

Modal

Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang populer

dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudharabah

adalah bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik

modal kepada pengelola (shahib al-maal) mempercayakan sejumlah

modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian suatu

keuntungan.

Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil

shahib a-maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang

kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung

jawab untuk semua kerugian yang terjadi akibat kelalaiaan.


Sedangkan sebagai wakil shahib al-maal dia diharapkan untuk

mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba

optimal.

Musyarakah dan mudharabah dalam literatur fiqih

berbentuk perjanjian kepercayaan (uqud al-amanah) yang menuntut

tingkat kejujuran yang tinggi dan menjunjung keadilan. Pada

prinsinya, mudharabah sifatnya mutlak dimana shahib al-maal tidak

menetapkan restriksi atau syarat-syarat tertentu kepada si mudharib.

Namun demikian, apabila dipandang perlu, shahib al-maal boleh

menetapkan batasan-batasan atau syarat-syarat tertentu guna

menyalamatkan modalnya dari resiko kerugian. Jenis mudharabah

seperti ini disebut mudharabah muqayyadah (mudharabah terbatas,

atau dalam bahasa inggrisnya, Restricted Investment account). Jadi

pada dasarnya, terdapat dua bentuk mudharabah, yakni: mutlaqah

dan muqayyadah. Praktek Bank Sumut syariah kini, dikenal dua

bentuk mudharabah muqayyadah, yakni yang on balance-sheet dan

yang of balance-sheet.

Definisi dalam akad pembiayaan mudharabah pada Bank

Sumut Syariah ini adalah sebagai berikut:

1. Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang

atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang


mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau

tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan

berupa bagi hasil

2. Mudharabah adalah penanaman dana dari pemilik dana

(shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk

melakukan kegiatan usaha tertentu dengan pembagian

mengunakan metode bagi untung dan rugi (profit loss

sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing)

antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah

disepakati sebelumnya.

3. Nisbah adalah rasio atau perbandingan pembagian

keuntungan (bagi hasil) antara bank sebagai shahibul maal

dan nasabah sebagai mudharib.

4. Bagi hasil adalah bagian hasil usaha yang dihitung dari

pendapatan usaha yang dibiayai dengan pembiayaan

musyarakah yang menjadi hak bank dan nasabah yang

ditetapkan berdasarkan nisbah.

5. Modal (Maal) adalah dalam uang tunai atau hutang yang

diperdagangkan atau yang bersifat investasi yang ditanamkan

dalam suatu usaha berdasarkan prisip syariah.

6. Barang adalah barang yang dihalalkan berdasarkan Syariah

baik zatnya maupun cara perolehannya yang dibeli nasabah


dan pemasok dengan pendanaan yang berasal dari

pembiayaan yang disediakan oleh bank dan diketahui jelas

kuantitas, kualitas dan serta spesifikasinya.

7. Agunan adalah barang bergerak maupun tidak bergerak yang

didukung oleh segala macam dan bentuk surat bukti tentang

kepemilikan atau hak-hak lainnya atas barang yang

diserahkan Nasabah kepada Bank dan dijadikan jaminan guna

menjamin terlaksananya kewajiban pihak Kedua terhadap

Pihak Pertama berdasarkan akad ini

8. Cidera Janji (wanprestasi) adalah keadaan tidak

dilaksanakannya sebagian atau seluruh kewajiban oleh

nasabah sesuai dengan jadwal pengembalian pembiayaan

yang disepakati

9. Denda adalah sanksi yang dikenakan kepada nasabah oleh

Bank, yang disebabkan karena nasabah lalai dalam

melakukan kewajibanya sesuai dengan jadwal angsuran yang

ditentukan dan disepakti dalam akad

10. Keuntungan usaha adalah pertambahan harta yang diperoleh

dalam menjalankan usaha yang dihitung berdasarkan periode

tertentu yaitu dengan mengurangkan jumlah harta akhir

periode dengan harta awal.

11. Kerugian Usaha adalah berkurangnya harta di dalam


menjalankan proyek/usaha yang dihitung berdasarkan

periode tertentu yaitu jumlah harta akhir periode lebih kecil

dari jumlah harta pada awal periode.

12. Pendapatan adalah seluruh penerimaan yang diperoleh dari

hasil usaha yang dijalankan Pihak Kedua dengan

menggunakan modal secara patungan dari yang disediakan

oleh Kedua belah pihak sesuai dengan Akad ini.

13. Keuntungan Operasional adalah pendapatan operasional yang

diperoleh dari hasil proyek usaha yang dijalankan Pihak

Kedua dengan menggunakan modal secara patungan dari

yang disediakan oleh Kedua belah pihak setelah dikurangi

biaya-biaya langsung yang dikeluarkan untuk memperoleh

pendapatan tersebut, belum termasuk biaya-biaya tidak

langsung yang dikeluarkan dalam mendukung kegiatan

operasional proyek/usaha (overhead).

14. Keuntungan Bersih adalah keuntungan operasional setelah

dikurangi biaya-biaya tidak langsung yang dikeluarkan dalam

mendukung kegiatan operasional proyek/usaha (overhead)

sebelum Pembagian Keuntungan dan pajak-pajak.

15. Pembukuan Modal adalah pembukuan atas nama Syirkah

pada Pihak Pertama yang mencatat seluruh transaksi

sehubungan dengan Modal, yang merupakan bukti sah atas


penyertaan modal, hak dan beban kewajiban para musyarik.

16. Hari Kerja Bank adalah hari kerja Pihak Pertama

I. Analisis Perjanjian Pembiayaan pada Bank SUMUT Syariah

1. Perjanjian Murabahah

a. Shighat (pernyataan ijab dan qabul)

Dalam pelaksanaan perjanjian murabahah pada Bank

Sumut Syari’ah, yaitu antara pihak bank dengan nasabah adalah

dilakukan secara langsung. Setelah dipenuhi syarat dan prosedur

perjanjian, maka pihak bank menyerahkan langsung kepada

nasabah, dan nasabah langsung menerimanya. Dalam

pelaksanaan penyerahan tersebut, pernyataan sighat umumnya

dilakukan dengan perbuatan dan bukan dengan ucapan sighat.

Menurut analisis penulis, pelaksanaan sighat yang

dilakukan pihak bank SUMUT Syari’ah dengan nasabah telah

memenuhi kriteria syari’ah, walaupun pelaksanaan sighatnya

tidak diucapkan. Penyerahan dan penerimaan tersebut

merupakan suatu perbuatan yang dapat dipandang sebagai

sighat, karena hal tersebut menunjukkkan kerelaan kedua belah

pihak dalam melaksanakan perjanjian.

b. ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad)

Pihak yang melakukan aqad adalah pihak bank dan


nasabah. Pegawai bank SUMUT Syari’ah adalah individu yang

sudah dewasa. Sedangkan pihak nasabah juga disyaratkan yang

sudah dewasa, yaitu yang mempunyai identitas diri berupa Kartu

tanda Penduduk. Dengan demikian pelaksanaan perjanjian

murabahah yang dilaksanakan di Bank Sumut Syari’ah telah

memenuhi kriteria syari’ah, yaitu pelaksana aqad tersebut

haruslah yang sudah mukallaf.

c. Ma’qud ‘alaih (obyek akad)

Obyek akad yang dilaksanakan oleh Bank SUMUT

Syariah dalam pelaksanaan perjanjian pembiayaan murabahah

adalah masalah uang atau dana. Dengan demikian obyek akad

adalah suatu hal yang jelas. Bila pada saat perjanjian, obyek

tersebut belum ada, tetap sudah jelas, maka perjanjian tersebut

tetap sah. Berdasarkan keadaan pelaksanaan yang demikian,

maka ma’qud ‘alaih (obyek akad) pada perjanjian pembiayaan

murabahah yang dilaksanakan oleh Bank SUMUT Syariah

adalah sah secara syari’ah.

d. Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad)

Tujuan akad yang dilaksanakan dalam perjanjian

pembiayaan murabahah adalah pemindahan pemilikan dana dari

pihak bank ke pihak nasabah, sehingga nasabah dapat

menggunakannya serta menikmati manfaatnya. Dengan


demikian jelaslah bahwa maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad) dalam

perjanjian pembiayaan murabahah adalah sah secara syari’ah,

karena tujuannya yang jelas dan bermanfaat.

2. Perjanjian Mudharabah

a. Shighat (pernyataan ijab dan qabul)

Dalam pelaksanaan perjanjian mudharabah pada

Bank Sumut Syari’ah, yaitu antara pihak bank dengan nasabah

adalah dilakukan secara langsung. Setelah dipenuhi syarat dan

prosedur perjanjian, maka pihak bank menyerahkan langsung

kepada nasabah, dan nasabah langsung menerimanya. Dalam

pelaksanaan penyerahan tersebut, pernyataan sighat umumnya

dilakukan dengan perbuatan dan bukan dengan ucapan sighat.

Menurut analisis penulis, pelaksanaan sighat yang

dilakukan pihak bank SUMUT Syari’ah dengan nasabah telah

memenuhi kriteria syari’ah, walaupun pelaksanaan sighatnya

tidak diucapkan. Penyerahan dan penerimaan tersebut

merupakan suatu perbuatan yang dapat dipandang sebagai

sighat, karena hal tersebut menunjukkkan kerelaan kedua belah

pihak dalam melaksanakan perjanjian.

b. ‘Aqidan (dua pihak yang melakukan akad)

Pihak yang melakukan aqad adalah pihak bank dan

nasabah. Pegawai bank SUMUT Syari’ah adalah individu yang


sudah dewasa. Sedangkan pihak nasabah juga disyaratkan yang

sudah dewasa, yaitu yang mempunyai identitas diri berupa Kartu

tanda Penduduk. Dengan demikian pelaksanaan perjanjian

mudharabah yang dilaksanakan di Bank Sumut Syari’ah telah

memenuhi kriteria syari’ah, yaitu pelaksana aqad tersebut

haruslah yang sudah mukallaf.

c. Ma’qud ‘alaih (obyek akad)

Obyek akad yang dilaksanakan oleh Bank SUMUT

Syariah dalam pelaksanaan perjanjian pembiayaan mudharabah

adalah masalah uang atau dana. Dengan demikian obyek akad

adalah suatu hal yang jelas. Bila pada saat perjanjian, obyek

tersebut belum ada, tetap sudah jelas, maka perjanjian tersebut

tetap sah. Berdasarkan keadaan pelaksanaan yang demikian,

maka ma’qud ‘alaih (obyek akad) pada perjanjian pembiayaan

mudharabah yang dilaksanakan oleh Bank SUMUT Syariah

adalah sah secara syari’ah.

d. Maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad)

Tujuan akad yang dilaksanakan dalam perjanjian

pembiayaan mudharabah adalah pemindahan pemilikan dana

dari pihak bank ke pihak nasabah, sehingga nasabah dapat

menggunakannya serta menikmati manfaatnya. Dengan

demikian jelaslah bahwa maudhu’ al-‘aqd (tujuan akad) dalam


perjanjian pembiayaan mudharabah adalah sah secara syari’ah,

karena tujuannya yang jelas dan bermanfaat.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan penelitian penulis, baik pustaka

maupun lapangan, serta dari uraian dan penjelasan di atas, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:

1. Bahwa pembiayaan di Bank Sumut Syariah hanya ada 2 (dua) bentuk

murabahah dan mudharabah berdasarkan analisis diatas yaitu aspek

Shighat, ‘Aqidan, Ma’qud ‘alaih dan Maudhu’ al-‘aqd. Pelaksanaan

pembiayaan di Bank Sumut Syariah telah memenuhi ketentuan syariah.

2. Ditinjau dari aspek shighat (pernyataan ijab dan qabul), ‘aqidan (dua

pihak yang melakukan akad), ma’qud ‘alaih (obyek akad), dan maudhu’

al-‘aqd (tujuan akad), pembiayaan yang dilakukan Bank Sumut Syariah

telah memenuhi ketentuan syariah dalam PBI (peraturan Bank Indonesia)

dan ketentuan DPS (Dewan Pengawas Syariah) MUI.

B. Saran

1. Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir sejak tahun 1998 tentang

perbankan yang membentuk peluang tentang perbankan yang memberikan

peluang didirikan bank syariah, perkembangan bank syariah, dipandang

dari sisi jumlah jaringan kantor dan volume kegiatan usaha, masih belum

memuaskan. Oleh karena itu disarankan kepada pemerintah untuk lebih

mendorong perkembangan bank syariah di Indonesia.


2. Dalam tahap awal pengembangan, bahkan pada saat ini pemahaman

sebagian besar masyarakat mengenai sistem dan prinsip perbankan syariah

masih belum tepat. Pada dasarnya, sistem ekonomi Islam telah jelas, yaitu

melarang mempraktekkan riba serta kumulasi kekayaan hanya pada pihak

tertentu secara tidak adil. Oleh sebab itu disarankan kepeda pihak Bank

tetap mensosialisasikan pengenalan prinsip-prinsip dasar hubungan antara

bank dan nasabah, serta cara-cara berusaha yang halal dalam bank syariah.

3. Mengingat bahwa perbankan Syariah adalah sistem perbankan yang

mengedepankan moralitas dan etika, maka nilai-nilai yang menjadi dasar

dalam pengaturan dan pengembangan serta nilai-nilai yang harus

diterapkan dalam operasi perbankan adalah siddiq, istiqamah, tablig,

amanah, fatonah. Pengelolaan yang profesional (ri’ayah) dan tanggung

jawab (mas’uliyah) dan upaya bersama-sama dan terus-menerus untuk

melakukan perbaikan (fastabiqu khairat). Sejalan dengan hal itu,

pembangunan perbankan syariah diarahkan bahwa jasa Bank Syariah

dapat digunakan dan dikembangkan oleh lapisan masyarakat, tidak hanya

masyarakat muslim, namun penyediaan dan penggunaan jasa tersebut

harus taat terhadap prinsip-prinsip syariah dalam pelaksanaan, kegiatan

dan akad perbankan.

4. Berdasarkan perkembangan nasabah pembiayaan yang disabutkan pada

bab sebelumnya, hendaknya Bank Sumut mempunyai strategi untuk

menarik minat masyarakat kepada akad pembiayaan selain mudarabah dan

murabahah, sehingga tingkat nasabah mendapat hasil yang optimal.


5. Tetap mempertahankan yang terbaik, membanggakan dan bersyariah,

sehingga predikat tersebut membuat kepercayaan masyarakat terhadap

Bank Sumut Syariah terus meningkat sehingga menambah calon nasabah

yang menghimpun dananya di Bank Sumut Syariah.

6. Bank yang tidak melaksanakan prinsip syariah sebagaimana dimaksud

dalam pasal 2 ayat 1 dikenakan sanksi administratif sebagaimana

dimaksud dalam pasal 52 ayat 2 UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan

sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998 berupa :

a. Teguran tertulis

b. Penurunan tingkat kesehatan bank.

c. Penggantian pengurus; dan/atau

d. Pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor cabang tertentu

maupun untuk bank secara keseluruhan.

7. Kesalahan dan kekurangan yang ada dalam penulisan dan substansinya

diharapkaan koreksinya guna menutupi kekurangan dan kesalahan.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Ausaf. Development and Problem of Islamic Banks, IRTI-IDB,


1985.

'Ahmad al-Sanhuri, Abdul Razak, Nadzariyat al-Aqdi. Beirut: Dar- al-Fikr.


t.th.

Bukhori, Al-, Shohih al-Bitkhori, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987

Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahan. Jakarta: Yayasan


Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1971. Bank
Indonesia, Kamus Perbankan, 1999

Fuady, Munir, Hukum Kontrak. (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. 1999

Hasan, M. Ali, Berhagai Transuksi Dtilum /sltim. Jakarta: FT. Raja Grafindo
Persada, 2003

Jusmaliani (ed.), (2004). Kajian Teori Ekonomi Dalam Islam: Kebijakan


Dalam Perekonomian Islam, Jakarta : P2E-LIPI.

Kasmir, Bank Dan Lambaga Keuangan Lainya, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2000

Kasmir, Manajemen Perbankan Syarif, Grafindo, Bank Syari’ah Dari Teori


ke Paraktik, Jakarta: Gema Insani Perss, 2001, cet. ke-l; h .160

Masyhuri (ed), (2003). Kajian Teori Ekonomi Dalam Islam, Jakarta: P2E-
LIPI.

Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Perdata Indonesia, PT. Citra Aditya


Bandung, 2000.

Muhammad, Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (PT.


Pustaka Rizki Putra 1987

Muslapa, Bachsan. Asas-asas Hukum Dagang, Penerbit Armico Bandung,


1982.

Prodjodikoro, Wirjono, Azas-azas Hukum Perrjanjian, Bandung: Sumur


Bandung, 1979
Sabiq, Sayyid, Fiqh at-Sunnah. Beirut: Dar Al-Fikr. 1983

Simanjuntak, P. N. H. Pokok-pokok Hukum Perdata Indonesia, Djambatan,


1999.

Subekti, Hukum Perjanjian, Jakarta: PT. Imermasa, 1987

Soebekti, R. Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta. 1978.

Syafi'I, Antonio Muhammad. Bank Syariah : Suatu Pengenalan Umum,


Jakarta, Bank Indonesia dan Tazkia Institute, 2000.

Syafi'i. Antonio Muhammad. Islamic Banking: Bank Syariah dan Teori ke


Praktik,. Gema Insani. Jakarta, 2001.

Thoha, Mahmud. (Ed), (2005). Aktivitas Ekonomi Berbasis Bagi Hasil


Dalam Sektor Primer (Buku 2), Jakarta: P2E-LIPI.

Udang Udangan Perbaankan No 10 Th 1999, Jakarta: Sinar Garfika, 2001

Zarqa, Musthafa Ahmad. Madkhal alfiqh al-Aam, Vol. III.

Peraturan Perundang-undangan:

Undang-undang No.10 Tahun 1998 Tentang.Perbankan Kitab Undang-


undang Hukum Perdata. Sumber Internet.

Http://www. LIPI.com. Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca


Krisis: Perspektif Ekonomi Politik Islam, oleh Mahmud Thoha,
dikutip pada tanggal 28 Desember 2006.

http://www. Waspada Online. Tantangan Manajemen Risiko Bank Syariah.


Oleh Vincent Wijaya. 04 November 2005.
LEMBARAN PERTANYAAN

Pengantar

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melimpahkan rahmat
dan kasih sayang-Nya sehingga kita dapat melakukan aktivitas dengan lancar
hingga saat ini.

Sebagai mahasiswa jurusan Perbankan Syari’ah, saya bermaksud melakukan


penelitian tentang Perjanjian Pembiayaan khususnya pada Bank Sumut Syari’ah
mengenai perjanjian yang dilaksanakan. Sehubungan dengan hal ini, saya
mengharapkan kesediaan bapak/ibu, saudara/i untuk berpartisipasi menjawab
pertanyaan di bawah ini dengan keadaan yang sebenarnya.

Seluruh data pribadi dan jawaban akan dijaga kerahasiaannya dan hanya akan
dipergunakan untuk keperluan penelitian saja. Atas perhatian dan kesediaannya
saya ucapkan terima kasih.

Petunjuk Pengisisian

Di bawah ini terdapat sejumlah pertanyaan, bacalah setiap pertanyaan dengan


teliti kemudian berikan jawaban dengan cara: Pertama, pada bagian (I), dengan
cara memberikan pernyataan/jawaban secara langsung dan akan dicatat/direkam
oleh penanya. Kedua, pada bagian (II), dengan cara memberikan ceklis (√) atau
tanda (X) pada kolom yang tersedia.

I. Data dan Sistem yang diterapkan di Bank Sumut Syari’ah

1. Darimanakah sumber penghimpunan DPK (Dana Pihak Ketiga) yang


terbesar di Bank Sumut Syari’ah.?
2. Berapa jumlah nasabah Bank Sumut Syari’ah saat ini?
3. Sistem akad apakah yang digunakan oleh Bank Sumut Syari’ah bagi
nasabahnya yang ingin membuka rekening giro?
4. Akad apa saja yang diterapkan di Bank Sumut Syariah saat ini?

II. Data-data Pribadi

1. Nama : ……………………..
2. Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan
3. Pekerjaan : Petani Pegawai Negeri
Pedagang Karyawan Swasta
Pelajar/Mahasiswa Lainnya…………..
4. Pendidikan Terakhir : SD/SDI Sarjana S1
SLTP/Tsanawiah Pasca Sarjana (S2/S3)
SLTA/Aliyah Lainnya…………
5. Agama : Islam Budha
Kristen Lainnya…………
Hindu
6. Status Pernikahan : Belum / Sudah Menikah
7. Umur : ____ tahun
8. Penghasilan : Kurang dari Rp 500.000
Rp 500.000 – Rp 2.000.000
Lebih dari Rp 2.000.000
FAKTA RILL
PELAKSANAAN PEMBIAYAAN MUDHARABAH & MURABAHAH
PADA BANK SUMUT SYARI’AH STABAT

Pada Saat Permohonan

1. Calon nasabah diwawancarai mengenai maksud dan tujuan, berapa besar


permohonan, berapa besar biaya, dll.

2. Selanjutnya dibuat permohonan

3. Di hari berikutnya dilanjutkan transaksi agunan dan melihat usaha calon


nasabah

4. Membuat analisa kelayakan, diterima atau ditolak

5. Apabila diterima, dibuat akad pencairan

6. Pada saat pencairan, maka akad murabahah diucapkan, seperti “Kami jual
rumah dengan harga ………………..”
STRUKTUR ORGANISASI PT. BANK SUMUT
RSUPS

Dewan
Komite
Komisaris
1. Audi
2. Pema
3. Rem

Direktur
Utama

Direktur Direktur
Kepatuhan Umum

Divisi Divisi Divisi


Sekretaris
Divisi Divisi Kepatuhan sumbe teknologi Divisi
Dewan
Pengasawan Perencanaan dan daya informasi Umum T
Komisaris
Manajemen manusia dan
Resiko akuntansi
Bidang pengawasan Tehnologi informasi

Bidang Complience & Qualiti Assurance


Bidang penelitian & Pengembangan
Bidang pengawasan Wilayah II

Bidang Pendidikan dan Latihan


Bidang pengawasan Wilayah I

Bidang Teknologi Informasi


Bidang Pembinaan Cabang

Bidang Menejemen Risiko

Bidang Jasa Luar Negeri


Bidang Rumah Tangga
Bidang Tenaga Kerja
Bidang Perencanaan

Bidang Akuntansi
Sekretaris Direksi

Bidang Logistik

Control Cabang Cabang


Intern Utama

Cabang Cabang
Pembantu Pembantu
Kantor
Kantor Kas Mobil/ Peament
Kas
Kas Point/ ATM
STRUKTUR ORGANISASI PT. BANK SUMUT
RUPS

Dewan
Komite
Komisaris
1. Audi
2. Pema
3. Rem
Dewan
Sekretaris

Komisaris
Sekretaris Direksi

Bidang pengawasan Wilayah I

Bidang pengawasan Wilayah II

Divisi
Pengawasan
Bidang pengawasan Tehnologi informasi

Kas
Kantor
Bidang Perencanaan

Intern
Control
Bidang penelitian & Pengembangan

Divisi
Perencanaan
Bidang Pembinaan Cabang

Cabang
Pembantu
Utama
Cabang
Direktur
Kepatuhan

Bidang Complience & Qualiti Assurance


dan
Divisi

Bidang Manajemen Risiko Resiko


Kepatuhan

Manajemen

Point/ ATM
Bidang Tenaga Kerja

Kas Mobil/ Payment


daya
Divisi
sumbe

manusia

Bidang Pendidikan dan Latihan

Bidang Teknologi Informasi


dan
Divisi

Bidang Akuntansi
teknologi
informasi

akuntansi

Kas
Kantor
Utama

Umum
Direktur
Direktur

Bidang Rumah Tangga


Divisi
Umum

Bidang Logistik
Cabang
Pembantu
Cabang

Bidang Jasa Luar Negeri


T
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHHIM

AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH

No. ..............................................................

Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-perjanjian itu".


(QS. Al-Maidah ayat 1)
Pada hari ini ................., Tanggal .............................., kami yang bertanda tangan
dibawah
1. Nama : ............................................................................................
Jabatan : ............................................................................................
Alamat : ..........................................................................................
Berdasarkan Akta Surat Kuasa Direksi PT. Bank Sumut yang dibuat dihadapan
Notaris ..............Nomor ......... tanggal ......... bertindak untuk dan atas nama PT.
Bank
Sumut selaku Shahibul Maal selanjutnya disebut: PIHAK PERTAMA.
2. Nama : ...........................................................................................
Jabatan : ...........................................................................................
Alamat : ...........................................................................................
dalam hal ini sesuai dengan Akte Pendirian Perusahaan dari
Notaris................Nomor
....... Tanggal ............. bertindak untuk dan atas nama : ...........................................
selaku Mudharlb selanjutnya selaku disebut : PlHAK KEDUA

Pihak Pertama dan Pihak Kedua bersepakat dan dengan ini mengikatkan diri satu
terhadap yang lain untuk membiayai usaha berdasarkan prinsip Mudharabah
berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Pihak Kedua. kepada Pihak Pertama
dan Pihak Pertama sebagai shahibul maal yang menyediakan penuh modalnya.

Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani Akad Mudharabah


(selanjutnya disebut "Akad") sebagai berikut:

Pasal 1
DEFINISI
17. Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang
dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka
waktu tertentu dengan imbalan berupa bagi hasil
18. Mudharabah adalah penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal)
kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha
tertentu dengan pembagian mengunakan metode bagi untung dan rugi
(profit loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara
kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya.
seheluuiiiya.
19. Nisbah adalah rasio atau perbandingan pembagian keuntungan (bagi hasil)
antara bank sebagai shahibul maal dan nasabah sebagai mudharib.
20. Bagi hasil adalah bagian hasil usaha yang dihitung dari pendapatan usaha
yang dibiayai dengan pembiayaan musyarakah yang menjadi hak bank dan
nasabah yang ditetapkan berdasarkan nisbah.
21. Modal (Maal) adalah dalam uang tunai atau hutang yang diperdagangkan
atau yang bersifat investasi yang ditanamkan dalam suatu usaha
berdasarkan prisip syariah.
22. Barang adalah barang yang dihalalkan berdasarkan Syariah baik zatnya
maupun cara perolehannya yang dibeli nasabah dan pemasok dengan
pendanaan yang berasal dari pembiayaan yang disediakan oleh bank dan
diketahui jelas kuantitas, kualitas dan serta spesifikasinya.
23. Agunan adalah barang bergerak maupun tidak bergerak yang didukung
oleh segala macam dan bentuk surat bukti tentang kepemilikan atau hak-
hak lainnya atas barang yang diserahkan Nasabah kepada Bank dan
dijadikan jaminan guna menjamin terlaksananya kewajiban pihak Kedua
terhadap Pihak Pertama berdasarkan akad ini
24. Citera Janji (wanprestasi) adalah keadaan tidak dilaksanakannya
sebagian atau seluruh kewajiban oleh nasabah sesuai deagan jadwal
penembalian pembiayaan yang disepakati
25. Denda adalah sanksi yang dikenakan kepada nasabah oleh Bank, yang
disebabkan karena nasabah lalai dalam melakukan kewajibanya sesuai
dengan jadwal angsuran yang ditentukan dan disepakti dalam akad
26. Keuntungan Usaha adalah pertambahan harta yang diperoleh dalam
menjalankan proyek/usaha yang dthitung berdasarkan periode tertentu
yaitu dengan mengurangkan jumlah harta akhir periode dengan harta awal.
27. Kerugian Usaha adalah berkurangnya harta di dalam menjalankan
proyek/usaha yang dihitung berdasarkan periode tertentu yaitu jumlah
harta akhir periode lebih kecil dari jumlah harta pada awal periode.
28. Pendapatan adalah seluruh penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha
yang dijalankan Pihak Kedua dengan menggunakan modal secara
patungan dari yang disediakan oleh Kedua belah pihak sesuai dengan
Akad ini.
29. Keuntungan Operasional adalah pendapatan operasional yang diperoleh
dari hasil proyek usaha yang dijalankan Pihak Kedua dengan
menggunakan modal secara patungan dari yang disediakan oleh Kedua
belah pihak setelah dikurangi biaya-biaya langsung yang dikeluarkan
untuk memperoleh pendapatan tersebut, belum tennasuk biaya-biaya tdak
langsung yang dikeluarkan dalam mendukung kegiatan operasional
proyek/usaha (overhead).
30. Keuntungan Bersih adalah keuntungan operasional setelah dikurangi
biaya-biaya tidak langsung yang dikeluarkan dalam mendukung kegiatan
operasional proyek/usaha (overhead) sebelum Pembagian Keuntungan dan
pajak-pajak.
31. Pembukuan Modal adalah pembukuan atas nama Syirkah pada Pihak
Pertama yang mencatat seluruh transaksi sehubungan dengan Modal, yang
merupakan.bukti sah atas pcnyertaan modal, hak dan beban kewajiban
para musyarik.
32. Hari Kerja Bank adalah hari kerja Pihak Pertama.

Pasal 2
KEDUDUKAN PARA PI HAK
Pihak Pertama dan Pihak Kedua masing-masing sesuai kedudukannya :
a. Pihak Pertama berdasairkan Akta surat Kuasa Direksi PT. Bank Sumut
Syariah bertindak selaku pemilik atau penanam modal (shahibbul maal)
b. Pihak Kedua berdasarkan Akta Pendirian Perusahaannya bertindak sebagai
pengelola dana dan menjalankan kegiatan usaha (Mudharib)

Para pihak terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut:


1. Bahwa, dalam rangka menjalankan dan memperluas kegiatan
usahanya, Pihak Kedua memerlukan sejumlah dana, dan untuk
memenuhi hal tersebut Pihak Kedua telah mengajukan permohonan
kepada Pihak Pertama untuk menyediakan Pembiayaannya, yang dari
pendapatan keuntungan usaha itu kelak akan dibagi di antara Kedua
Belah Pihak berdasarkan prinsip bagi hasil (syirkah).
2. Bahwa, lerhadap permohonan Piliak Kediia tersebut Pihak Pertama
telah menyatakan persetAijuaniiya menyediakan dana penuh terhadap
kegialan usalia yang akan dijalankan Pihak Kedua sedangkan terhadap
pembagian pendapt.lan/keuntungan berdasarkan prinsip bagi hasilnya
(syirkah)
Pasal 3
PEMBIAYAAN DAN JANGKA WAKTU PENGGUNAANNYA
1. Pihak Pertama berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk menyediakan
dana penuh dan tunai Pembiayaan Mudharabah kepada Pihak Kedua sampai
sejumlah Rp........................
(....................................................................................Rupiah) dan
atau barang berupa (daftar terlampir) secara sekaligus atau bertahap sesuai dengan
permintaan Pihak Kedua yang semata-mata akan dipergunakan untuk
membibayai usaha/pekerjaan sesuai dengan permohonan yang diajukan dan
harus disiapkan oleh Pihak Kedua yang disetujui Pihak Pertama, yang
dilampirkan pada dan karenanya merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan dari Akad ini.
2. Jangka waktu penggunaan modal tersebut oleh Pihak Kedua berlangsung untuk
jangka waktu...................(......................) bulan, terhitung mulai tanggal
penandatanganan Akad ini dan berakhir pada tanggal ................

Pasal 4
PENAR1KAN PEMBIAYAAN
Dengan tetap memperhatikan dan menaati ketentuan-ketentuan tentang perbatasan
penyediaan dana yang ditetapkan oleh yang berwenang, Pihak Pertama berjanji
dan dengan ini mengikatkan diri untuk mengizinkan Pihak Kedua menarik modal,
setelah Piliak Kedua memenuhi seluruh persyaratan sebagai berikut :
1. Telah menandatangani Akad ini.
2. Menyerahkan kepada Pihak Pertama Permohonan Realisasi Pembiayaan
yang berisi rirician barang yang akan dibiayai dengan fasilitas
Pembiayaan, serta tanggal dan kepada siapa pembayaran tersebut harus
dilakukan. Surat Permohonan tersebut harus sudah diterima oleh Pihak
Pertama selambat –lambamya 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal
pencairan harus dilaksanakan.
3. Menyerahkan kepada Pihak Pertama seluruh dokumen Pihak Kedua,
termasuk dan tidak terbatas pada dokumen-dokumen Agunan yang
berkaitan dengan Akad ini.
4. Sebagai buku telah diserahkannya setiap surat, dokumen, bukti
kepemilikan atas agunan dan atau akta dimaksud oleh Pihak Kedua kepada
Pihak Pertama, Pihak Pertama menerbitkan dan menyerahkan Tanda
Terima kepada Pihak Kedua.
5. Terhadap setiap penarikan sebagian atau seluruh dana, Pihak Kedua
berkewajiban membuat dan menandatangani Tanda terima Uang serta
menyerahkannya kepada Pihak Pertama,

Pasal 5
KESEPAKATAN BAGIHASIL (SYIRKAH)
1. Nisbah dan masing-masitig pihak disepakti adalah :
• ...%(........... persen) dan keuntungan/pendapatan*) untuk pihak
Kedua;
• ...%(............persen) dari keuntungan/pendapatan*) untuk Pihak
Pertama.
2. Kedua belah pihak sepakat, bahwa bagi hasil tersebut tidak berubah
sepanjang jangka waktu pembiayaan terkecuali berdasarkan kesepakatan
bersama dituangkan dalam suatu addendum dan tidak berlaku surut yang
menipakan bagian yang tidak terpisahkan dari Akad ini..
3. Kedua belah pihak sepakat pembayaran nisbah bagi hasil pada ayat 1
diatas dapat ditetapkan secara berjenjang yang besarnya berbeda-beda
berdasarkan pada awal akad yaitu setiap tanggal ........ dan atau sekaligus
pada saat pengembalian pokok sebagai akibat dari telah
bertakhirnyajangka waktu Akad.
4. Pihak pertama berjanji untuk menanggung kcrugian yang timbul dalam
pelaksanaan Akad ini, kecuali apabila kerugian tersebut terjadi karena
ketidak jujuran dan atau kelalaian Pihak Kedua sebagaimana yang diatur
dalam pasal 10, dan atau pelanggaran yang dilakukan Pihak Kedua atas
syarat-syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Akad ini.
5. Pihak Pertama baru akan menerima dan mengaku terjadinya kerugian
tersehut, apabila Pihak pertama telah menerima dan menilai kembali
segala perhitungan yang dibuat dan disampaikan oleh Pihak Kedua kepada
Pihak Pertama, dan Pihak Pertama telah menyerahkan hasil penilaiannya
tersebut secara tertulis kepada Pihak Kedua.
6. Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri, untuk menyerahkan
perhitungan usaha yang dibiayai dengan fasilitas Pembiayaan beirdasarkan
Akad ini, secara periodik pada tiap-tiap bulan atau sewaktu-waktu jika
dibutuhkan oleh Pihak Pertama.
7. Pihak Pertama berjanji dan dengan mengikatkan diri untuk melakukan
penilaian kembali atas perhitungan usaha yang diajukan oleh Pihak Kedua,
selambat-lambatnya pada hari ke 5 (lima) sesudah Pihak Pertama
menerima perhitungan usaha tersebut yang disertai data dan bukti-bukti
lengkap dari Pihak Kedua.
8. Kedua Belah Pihak berjanji dan dengan ini saling mengikatkan diri satu
terhadap yang lain, bahwa Pihak Pertama hanya akan menanggung segala
kerugian, maksimum sebesar pembiayaan yang diberikan kepada Pihak
Kedua sebagaimana tersebut pada Pasal 3.

Pasal 6
PEMBAYARAN KEMBALI
1. Pihak Kedua berjanji dan dengan ini, mengikatkan diri untuk
mengembalikan kepada Pihak Pertama, seluruh jumlah pembiayaan pokok
dan bagian pendapatan / keuntungan yang menjadi hak Pihak Pertama
sesuai dengan Nisbah sebagaimana ditetapkan pada Pasal 5 Akad ini,
menurut jadwal pembayaran sebagaimana ditetapkan pada lampiran yang
dilekatkan pada dan karenanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan
dari Akad ini.
2. Pengembalian pembiayaan pokok dan bagi hasil dilakukan pada akhir
periode akad untuk pembiayaan dengan jangka waktu sampai dengan 1
(satu) tahun atau dilakukan secara angsuran , berdasarkan aliran kas masuk
(cash in flow) usaha Nasabah.
3. Setiap pembayaran kembali oleh Pihak Kedua kepada Pihak Pertama atas
pembiayaan yang diberikan oleh Pihak Pertama dilakukan di kantor Pihak
Pertama atau di tempat lain yang ditunjuk Pihak Pertama, atau dilakukan
melalui rekening yang dibuka oleh dan atas nama Pihak Kedua di Bank.
4. Dalam hal pembayaran dilakukan melalui rekening Pihak Kedua di Bank,
maka dengan ini Pihak Kedua memberi kuasa yang tidak dapat berakhir
karena sebab-sebab yang ditentukan dalam pasal 1813 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata kepada Pihak Pertama, untuk mendebet rekening
Pihak Kedua guna membayar/melunasi kewajiban Pihak Kedua kepada
Piliak Pertama. Dalam hal pemberian kuasa ini Pihak kedua akan
menyerahkan Surat Pernyataan/Surat Kuasa kepada Pihak Pertama untuk
mendebet rekening Pihak Kedua sebesar kewajiban membayar
sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diatas.
5. Apabila Pihak Kedua membayar kembali atau melunasi pembiayaan yang
diberikan oleh Pihak Pertama lebih awal dari waktu yang diperjanjikan,
maka tidak berarti pembayaran tersebut akan menghapuskan atau
mengurangi bagian dan pendapatan / keuntungan*) yang menjadi hak
Pihak Pertama sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Akad ini.
6. Apabila Pihak Kedua membayar kembali atau melunasi pembiayaan yang
diberikan oleh Pihak Pertama melampaui batas waktu yang diperjanjikan
dalam Akad ini, maka terhadap Pihak Kedua pada saat pelunasan
dikenakan denda sebesar-besarnya 3 % dari kewajiban pokok yang harus
dibayar lunas oleh Pihak Kedua kepada Pihak Pertama .
Pasal 7
BIAYA, POTONGAN DAN PAJAK
1. Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk menanggung
segala biaya yang diperlukan berkenaan dengan pelaksanaan Akad ini,
termasuk jasa Notaris dan jasa lainnya, sepanjang hal itu diberitahukan
Pihak Pertama kepada Pihak Kedua sebelum ditanda-tanganinya Akad ini,
dan Pihak Kedua menyatakan persetujuannya.
2. Dalam hal Pihak Kedua cedera janji tidak melakukan pembayaran kembali
/ melunasi kewajibannya kepada Pihak Pertama , sehingga Pihak Pertama
perlu menggunakan jasa Penasehat hukum/Kuasa untuk menagihnya,
maka Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk
membayar seluruh biaya jasa Penasehat Hukum, jasa penagihan, dan jasa-
jasa lainnya yang dapat dibuktikan dengan sah menurut hukum.
3. Setiap pembayaran kembali/pelunasan Pihak Kedua sehubungan dengan
Akad ini dan perjanji lainnya yang mengikat Kedua Belah Pihak,
dilakukan oleh Pihak Kedua kepada Pihak Pertama tanpa potongan,
pungutan, bea, pajak dan atau biaya-biaya lainnya, kecuali jika potongan
tersebut diharuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
4. Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri bahwa terhadap
setiap potongan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku, akan dilakukan pembayarannya oleh Pihak Kedua melalui Pihak
Pertama .

Pasal 8
AGUNAN
1. Untuk menjamin tertibnya pembayaran kembali/pelunasan Pembiayaan
tepat pada waktu dan jumlah yang telah disepakat kedua belah pihak
berdasarkan Akad ini, maka Pihak Kedua berjanji dan dengan ini
mengikatkan diri untuk menyerahkan agunan dan membuat pengikatan
agunan kepada Pihak Pertama sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dan Akad ini.
2. Jenis dan surat barang agunan yang diserahkan kepada pihak Pertama
adalah berupa:
1)...................................................................................................................
2)...................................................................................................................
3). .................................................................................................................
4). .................................................................................................................
5). .................................................................................................................

Pasal 9
KEWAJIBAN PIHAK KEDUA
Sehubungan dengan penyediaan pembiayaan oleh Pihak Pertama berdasarkan
Akad ini, Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk:
1. Mengembalikan seluruh jumlah pokok pembiayaan berikut bagian dari
pendapatan/keuntungan Pihak Pertama, sesuai dengan Nisbah pada saat
jatuh tempo sebagaimana ditetapkan pada lampiran yang diletakkan pada
dan karenanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari Akad ini.
2. Memberitahukan secara tertulis kepada Pihak Pertama dalam hal
terjadinya perubahan yang menyangkut Pihak kedua maupun usahanya.
3. Melakukan pembayaran atau semua tagihan dari pihak ketiga dan setiap
penerimaan tagihan dan pihak ketiga disalurkan melalui rekening Pihak
Kedua di Bank.
4. Membebaskan seluruh harta kekayaan milik Pihak Kedua yang diagunkan
untuk kepentingan Pihak Pertama berdasarkau Akad ini dari beban
penjaminan terhadap pihak lain.
5. Mengelola dan menyelenggarakan pembukuan pembiayaan secara jujur
dan benar dengan itikad baik dalam pembukuan tersendiri.
6. Menyerahkan kepada Pihak Pertama setiap dokumen, bahan-bahan dan
atau keterangan-keterangan yang diminta Pihak Pertama kepada Pihak
Kedua.
7. Menjalankan usahanya menurul ketentuan-ket.cnluau, atau lidak
menymipang atav bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariah.

Pasal 10
PERNYATAAN PENGAKUAN PIHAK KEDUA
Pihak kedua dengan ini menyatakan pengakuan dengan sebenar-benarnya, dan
karenanya mengikatkan diri kepada Pihak Pertama , bahwa :
1. Pihak Kedua aclalali Perorangan / Badan Usaha*) yang tunduk pada
Hukum Negara Republik Indonesia ;
2. Pada saat ditandatanganinya Akad ini, Pihak Kedua tidak dalam keadaan
berselisih, bersengketa, gugat-menggugat di muka atau diluar lembaga
peradilan atau arbitrase, berutang kepada pihak lain, diselidik atau dituntut
oleh pihak yang berwajib baik pada saat ini ataupun dalam masa
penundaan, yang dapat mempengaruhi asset, keadaan keuangan, dan atau
mengganggu jalannya usaha Pihak Kedua ;
3. Pihak Kedua memiliki semua perjanjian yang berlaku untuk menjalankan
usahanya ;
4. Orang-orang yang bertindak untuk dan atas nama serta mewakili dan atau
yang diberi kuasa oleh Pihak Kedua adalah sah dan berwenang, serla tidak
dalam tekanan atau paksaan dan pihak manapun,
5. Pihak Kedua mengijinkan Pihak Pertama pada saat ini dan untuk masa-
masa selama berlangsungnya Akad, untuk memasuki tempat usaha dan
tempat-tempat lainnya yang berkaitan dengan usaha Pihak Kedua,
mengadakan pemeriksaan terhadap pembukuan, catatan-catatan, hansaksi,
ilan atau kegiatan lainnya yang berkaitan dengan usaha berdasarkan Akad
ini, baik langsung maupun tidak langsung.

Pasal 11
CIDERA JANJI/WAN PRESTASl
Menyimpang dari ketentuan dalam Pasal 2 Akad ini, Pihak Pertama berhak untuk
menuntut/menagih pembayaran dan Pihak Kedua dan atau siapa pun juga yang
memperoleh hak darinya, atas sebagian atau seluruh jumlah kewajiban Pihak
Kedua kepada Pihak Pertama berdasarkan Akad ini, untuk dibayar dengan
seketika dan sekaligus, tanpa diperlukan adanya surat pemberitahuan, surat
teguran, atau surat lainnya, apabila terjadi salah satu hal atau peristiwa tersebut: di
bawali ini:
1. Pihak Kedua tidak melaksanakan pembayaran atas kewajibannya kepada
Pihak Pertama sesuai dengan saat yang ditetapkan dalam Pasal 3 dan/atau
Pasal 5 Akad ini.
2. Dokumen, surat-surat bukti kepemilikan atau hak lainnya atau barang-
barang yang dijadikan jaminan, dan atau pernyataan pengakuan
sebagaimana tersebut: pada Pasal 8 Akad ini ternyata palsu atau tidak
benar isinya, dan atau Pihak Kedua melakukan perbuatan yang melanggar
atau bertentangan dengan salah satu hal yang ditentukan dalam Pasal 9 dan
atau Pasal 10 Akad ini.
3. Sebahagian atau seluruh harta kekayaan Pihak Kedua disita oleh
pengadilan atau pihak yang berwajib
4. Pihak Kedua berkelakuan sebagai pemboros, pemabuk, ditaruh di bawah
pengampuan, dalam keadaan insolvensi, dinyatakan pailit, atau dilikuidasi.

Pasal 11
PELANGGARAN
Pihak Kedua dianggap telah melanggar syarat-syarat Akad ini bila terbukti
Pihak Kedua melakukan salah satu dari perbuatan-perbuatan atau lebih sebagai
berikut :
1. Menggunakan pembiayaan yang diberikan Pihak Pertama di luar tujuan
atau rencana kerja yang telah mendapatkan persetujuan tertulis dan Pihak
Pertama
2. Melakukan pengalihan usahanya dengan cara apa pun, termasuk dan tidak
terbatas pada melakukan penggabungan, konsolidasi, dan atau akuisisi
dengan pihak lain
3. Menjalankan usahanya tidak sesuai dengan ketentuan teknis yang
diharuskan oleh Pihak pertama,
4. Melakukan pendaftaran untuk memohon dinyatakan patut oleh pengadilan;
5. Lalai tidak memenuhi kewajibannya terhadap pihak lain;
6. Menolak atau menghalang-halangi Pihak Pertama dalam melakukan
pengawasan dan atau pemeriksaan sebagaimana diatur dalam pasal 13
Akad ini.

Pasal 13
PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN
Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk memberikan ini
kepada Pihak Pertama atau petugas yang ditunjuknya, guna melaksanakan
pengawasan/peimeriksaan terhadap barang agunan, jalannya pengelolaan usaha,
serta pembukaan dan catataa pada setiap saat selama berlangsungnya Akad ini,
dan kepada petugas Pihak Pertama tersebut diberi hak untuk mengambil gambar
(foto), membuat fotokopi dan atau catatan-catatan yangdianggap perlu.

Pasal 14
ASURANSI
Pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri untuk menutup asuransi
berdasarkan syariah atas bebannya terhadap seluruh barang yang menjadi agunan
atas pembiayaan berdasar Akad ini, pada perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh
Pihak Perda, dengan menunjuk dan menetapkan Pihak Pertama sebagai pihak
yang berhak untuk menyimpan polis asuransinya, dan yang karena itu Pihak
Pertama berhak menerima pembayaran klaim asuransi tersebut (banker's clause).

Pasal 15
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
1. Dalam hal terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran atas hal-hal yang
tercantum di dalam Akad ini atau terjadi perselisihan atau sengketa dalam
pelaksanaannya, maka Kedua Belah Pihak sepakat untuk menyelesaikannya
secara musyawarah untuk mufakat.
2. Apabila musyawarah untuk mufakat telah diupayakan namun perbedaan
pendapat atau penafsiran, perselisihan atau sengketa tidak dapat diselesaikan
oleh kedua belah pihak, maka para pihak bersepakat, dan dengan ini berjanji
serta mengikatkan diri untuk menyelesaikannya melalui Badan Arbilrase
Syariah Nasional (BASYARNAS) menunurut prosedur beracara yang berlaku
di dalam Badan Arbitrase tersebut.
3. Kedua Belah Pihak sepakat, dan dengan ini mengikatkan diri satu terhadap
yang lain, bahwa pendapat hukurn (legal opinion) dan atau Putusan yang
ditetapkan oleh BASYARNAS tersebut bersitat final dan mengikat. (final and
binding).

Pasal 16
DOMISILI DAN PEMBERITAHUAN
1. Alamat Kedua Belah Pihak sebagaimana yang lercantum pada kalimat-kalimat
awal Akad ini menipakan alamat telap dan tidak berubah bagl masing-masing
pihak yang bersangkutan, dan ke alamat-alamat itu pula secara sah. segala
surat-menyurat atau komunikasi diantara kedua belah pihak akan dilakukan.
2. Apabila dalam pelaksanaan perjanjian ini terjadi perubahan alamat, maka
pihak yang berubah alamatnya tersebut wajib memberitahukan kepada pihak
lainnya dengan surat tercatat atau surat tertulis yang disertai tanda bukti
penerimaan, alamat barunya.
3. Selama tidak ada perubahun alamat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 pasal
ini, maka surat menyurat atau komunikasi yang dilakukan ke alamat yang
tercantum pada awal Akad dianggap sah menurut hukum.
Pasal 17
PENUTUP
1. Sebelum Akad ini ditandatangani oleh Pihak Kedua, Pihak Kedua
mengakui dengan sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya. bahwa
Pihak kedua telah membaca dengan cermat. atau dibacakan kepadanya
seluruh ISI Akad ini berikut semua surat. dan atau dokumen yang menjadi
lampiran Akad ini, sehingga oleh karena itu Pihak Kedua memahami
sepenuhnya segala yang akan menjadi akibat hukum selelah pihak Kedua
menandatangani Akad ini.
2. Apabila ada hal-hal yang belum diatur atau belum cukup diatur dalam
Akad ini, maka Kedua Belah pihakk akan mengaturnya bersama secara
musyawarah untuk mufakat dalam suatu Addendum.
3. Tiap Addendum dari Akad ini merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan.

Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat dan dengan ini mengikatkan diri satu
terhadap yang lain, bahwa untuk Akad ini dan segala akibatnya memberlakukan
syariah Islam dan peraturan perundang-undangan lain yang tidak bertentangan
dengan syariah.

Demikianlah, Akad ini dibuat dan ditandatangani oleh Kedua Belah Pihak diatas
kertas yang bermaterai cukup dalam dua rangkap, yang masing-masing disimpan
oleh Pihak Pertama dan Pihak Kedua, dan masig-masing berlaku sebagai aslinya.

......................,.........................
...

pihak Kedua, Pihak Perlama.

Kas:Akad Mudharabah .................................................


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHHIM
AKAD PEMBIAYAAN MURABAHAH
No. ..............................................................

Hai orang-orangyang beriman penuhilah akad-perjanjian itu".


(QS. Al-Maidah ayat 1)
Pada hari ini ................., Tanggal .............................., kami yang bertanda tangan
dibawah ini:
1. Nama : ............................................................................................
Jabatan : ............................................................................................
Alamat : ..........................................................................................
Berdasarkan Akta Surat Kuasa Direksi PT. Bank Sumut yang dibuat dihadapan
Notaris ..............Nomor ......... tanggal ......... bertindak untuk dan atas nama PT.
Bank
Sumut selaku Penjual selanjutnya disebut: PIHAK PERTAMA.
2. Nama : ..............................................................................
Jabatan : ..............................................................................
Bertindak untuk : ..............................................................................
Alamat : .............................................................................
Untuk poin ini harus ada persetujuan dari pihak lain dan persetujuan tersebut
mengacu kepada status Pembeli perorangan atau mewakili Badan Usaha.
Perorangan
Untuk melakukan perbuatan hukum ini telah mendapat persetujuan dari
(istri/suami) yang bernama ................ beralamat di
......................................................................,
Pemegang KTP Nomor: ......................................dan turut hadir serta
menandatangani Akad ini selaku Pembeli selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.
Badan usaha
Sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah Tangga perusahaan (berikut
perubahannya apabila ada) dalam jabatannya berwenang bertindak untuk dan
atasnya ...................................., selaku Pembeli selanjutnya disebut PIHAK
KEDUA

Pihak Pertama dan Pihak Kedua bersepakat dan dengan ini mengikatkan diri satu
terhadap yang lain untuk membiayai usaha berdasarkan prinsip Mudharabah
berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Pihak Pertama. Yang diproleh dari
Pihak Pertama

Para pihak terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut:


1. Bahwa pihak pertama sesuai dengan permohonan pihak kedua,
menyediakan dana pembiayaan berdasakan perjanjian jual beli barang
sesuai surat pesanan pihak kedua tertanggal ..................... untuk membeli
barang sesuai spesifikasi (terlampir) untuk kepentian pihak kedua.
2. Bahwa Pihak Pertama telah menyatakan persetujuannya untuk membeli,
menyediakan dan selanjutnya menjual barang tersebut kepada Pihak
Kedua sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan dan diatur dalam Akad ini.
3. Bahwa berdasarkan ketentuan syariah, pembelian barang oleh Pihak
Pertama dan Supplier/Developer dan menjual barang tersebut kepada
Pihak Kedua berlangsung menurut ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
• Pihak Kedua berdasarkan Akad. Wakalah dari Pihak Pertama
membeli barang dari Supplier / Developer, sesuai clengan
pennohonan dan untuk memenuhi kepentingan Pihak Kedua
berdasarkan harga beli Pihak Pertama yang telah disepakati
bersaina oleh Kedua belah Pihak, dan selanjutnya Pihak Pertama
menjual dengan harga jual Pihak Pertama kepada Pihak Kedua
yang disepakati Kedua belah Pihak, tidak termasuk biaya-biaya
yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan Akad ini.
• Penyerahan barang tersebut dapat dilakukan langsung oleh
Supplier/Developer kepada Pihak Kedua dengan persetujuan dan
diketahui oleh Pihak Pertama.
• Dalam jangka waktu yang disepakati Kedua belah Piliak, Pihak
Kedua membayar harga pokok yaiitu harga beli barang oleh Pihak
Pertama dari Supplier/Developer ditambah keuntungan (marjin)
yang diperoleh Pihak Pertama, sehingga karenanya, sebelum Pihak
Kedua melunasi pembayaran harga jual kepada Pihak Pertama,
Pihak Kedua berhutang kepada Pihak Pertama.

Selanjutnya, kedua belah pihak sepakat untuk membuat dan menandatangani


Akad ini yang selengkapnya sebagai berikut:

Pasal I
DEFINISI
Dalam Akad ini, yang dimaksud dengan :
1. Jual-beli Murabahah
adalah jual beli antara Pihak Kedua sebagai pemesan untuk membeli, dan
Pihak Pertama sebagai penyedia barang yang berasal dari milik pihak
ketiga, yang didalam perjanjian Akad ini dinyatakan dengan jelas dan rinci
mengenai barang, harga beli Pihak Pertama dan harga jual Pihak Pertama
kepada Pihak Kedua sehingga termasuk di dalamnya keuntungan yang
diperoleh Pihak Pertama, sera persetujuan Pihak Kedua untuk membayar
harga jual tersebut secara tangguh, balk secai'a sekaligus (lumpsum) atau
secara angsuran.

2. Barang
adalah barang yang menjadi objek dalam Akad ini, yang meliputi segala
jenis dan macam barang yang dihalalkan oleh syariah, baik zat maupun
cara perolehannya.
3. Supplier/Developer
adalah pihak ketiga yang ditunjuk atau disetujui oleh Pihak Pertama untuk
menyediakan barang yang akan dibeli oleh Pihak Pertama dan selanjutnya
akan dijual kepada Pihak Kedua .
4. Urbun
Adalah uang muka pembelian dan disetor Pihak. Kedua kepada Pihak
Pertama dan merupakan faktor pengurang pembiayaan murabahah bukan
sebagai pembayar angsuran) jika murabahah dilaksanakan. Akan tetapi
jika murabaliah halal maka Pihak Pertama mengembalikan urbun kepada
Pihak Kedua setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan
oleh Pihak Pertama untuk mengadakan alau momperoleh barang pesanan.
5. Harga beli
adalah sejumlah uang, yang dikeluarkan Pihak Pertama untuk membeli
barang dari Supplier/Developer yang diminta oleh Pihak Kedua dan
disetujui oleh Pihak Pertama berdasarkan Surat Persetujuan prinsip dan
Pihak Pertama kepada Pihak kedua. temasuk di dalamnya biaya-biaya
yang terkait dengan pembelian barang tersebut.
6. Keuntungan
keuntungan Pihak Pertama atas terjadinya jual-beli Murabahah ini yang
disetujui oleh Kedua Belah Pihak yang ditetapkan dalam Akad ini.
7. Harga Jual
adalah harga beli ditambah dengan sejumlah keuntugan Pihak Pertama
yang disepakati oleh Kedua belah Pihak yang ditetapkan dalam Akad ini.

8. Agunan
adalah barang bergerak maupun tidak bergerak yang didukung oleh segala
macam dan bentuk surat buku tentang kepemilikan atau hak-hak lainnya
atas barang yang diserahkan\Nasabah kepada Bank dan dijadikan jaminan
guna menjamin terlaksananya kewajiban Pihak Kedua terhadap Pihak
Pertama berdasarkan Akad ini.
9. Denda
adalah sanksi yang dikenakan kepada Nasabah oleh Bank yang disebabkan
karena kelalaian Nasabah dalam melakukan kewajibannya sesuai dengan
jadwal angsuran yang ditentukan dan disepakati dalam Akad.
10. Hari Kerja Bank
adalah Hari kerja yang berlaku pada Pihak Pertama.

Pasal 2
POKOK PERJANJIAN
1. Pihak Pertama berjanji dan mengikat diri untuk membiayai sebagian atau
seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya oleh
kedua belah pihak.
2. Pihak Pertama menjual barang (daftar terlampir) semlai Rp.
........................ (.......................).....................Rupiah). untuk selanjutnya
disebut barang dan menyerahkannya kepada Pihak Kedua, sebagaimana
Pihak Kedua berjanji membeli dan menerima barang tersebut dari Pihak
Pertama. .
3. Jika menurut pertimbangan Pihak Pertama diperlukannya urbun dalam
pelaksanaan Akad ini, maka Pihak Kedua hat'iis niembayar uang sebesar
Rp.
......................................................................(..........................:.....................
..................... Rupiah) kepada Pihak Pertama, yang telah diserahkan
padasaat menandatangani kesepakatan awal pemesanan barang.
4. Jual beli sebagamiana dimaksud pada ayat 1 diatas disepakati hanya sekali
oleh kedua belah pihak untuk saat ini dan seterusnya tidak berubah karena
sebab apapun, termasuk dan tidak terbatas pada terjadinya perubahan
moneter, dengan harga jual Pihak Pertama sebesar Rp. ..............................
(.......................................................... Rupiah) yang ditetapkan berdasarkan
harga beli pihak prtama sebesar Rp. ..............................
(........................................... Rupiah) ditambah keuntungan Pihak Pertama
sebesar Rp. ................................. (............................................ Rupiah).
5. Harga jual Pihak Pertama tersebut pada ayat 3 tidak termasuk biaya-biaya
administrasi, seperti biaya notaris, materai dan lain-lain sejenisnya, yang
oleh kedua belah pihak telah disepakati dibebankan sepenuhnya kepada
Pihak Kedua.

Pasal 3
JANGKA WAKTU DAN CARA PEMBAYARAN
1. Pihak Kedua memilih cara membayar harga jual barang sebagaimana
tersebut pada Pasal 2 Akad ini kepada Pihak Pertama sebagai berikut
(dipilih huruf a atau b) :
a. secara tinai dan sekaligus dalam jangka waktu ........ ( ......................) bulan
terhitung sejak tanggal ditanda-tangaiunya Akad ini, atau jatuh tempo pada
tanggal......................
b. dengan cara rnengangsui' dan secara proporsional pada tiap-tiap. bulan
pada hari kerja Piliak . Pertaina, sehesar Rp.........................
(....................... ........ ........ ........................ Rupiah terhitung sejak
tanggal ........................ sampai dengan tanggal .......................... atau
selama jangka waktu ........ (.........................) bulan terhitung sejak
tanggal ditanda tangani Akad ini yang besar sesuai dengan jadwal
angsuran yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.
2. Bila tanggal jatuh tempo atau saat pembayaran angsuran jatuh tidak pada
hari kerja Pihak Pertama, maka pihak kedua melakukan pembayaran
kepada pihak Pertama pada hari kerja pertama pihak Pertama pada hari
kerjanya.
3. Apabila terjadi keterlambatan pembayaran oleh Pihak Kedua kepada Pihak
Pertama, Pihak kedua wajib membayar denda kepada Pihak Pertama
sebesar 3 % dari jumlah angsuran setiap bulan keterlambatan.

Pasal 4
REALISASI PERJANJIAN
Dejigan tetap memperhatikan dan mentaati ketentuan tentang pembatasan
meyediakan fasilitas pembiayaan Murabahah yang ditetapkan oleh yang
berwenang, Pihak Perlama melaksanakan Akad ini setelah Pihak Kedua
memenuhi seluruh persyaratan sebagai berikut:
1. Telah menyerahkan kepada Pihak Pertama surat permohonan dan
surat pesanan barang yang berisi rincian barang yang akan dibeli
berdasarkan Akad ini;
2. Telah menyerahkan kepada Pihak Pertama seluruh dokumen Pihak
Kedua, termasuk dan tidak terbatas pada dokumen agunan serta
akta-akta pengikatan agunan yang berkaitan dengan Akad ini;
3. Telah menandatangani Akad iui dan pengikatan agunan yang
dipersyaratkan;
4. Telah membayar biaya-biaya yang berkaitan dengan pembuatan
Akad ini;
Atas penyerahan surat-surat tersebut, Pihak Pertama menerbitkan dan
menyerahkan kepada Pihak Kedua tanda bukti penerimaannya.

Pasal 5
PENYERAHAN BARANG
1. Berdasarkan syarat-syarat pembeli antara Pihak Pertama dan
Supplier/Developer, maka atas persetujuan dan sepengetahuan Pihak
Pertama penyerahan barang dimaksud pada Pasal 2 dapat dilakukan
langsung oleh Supplier/Developer kepada Pihak Kedua .
2. Apabila pelaksanaan teknis pembelian barang oleh Pihak Pertama dan
Supplier/Developer dilakukan oleh Pihak Kedua berdasarkan Akad
Wakalah untuk dan atas nama Pihak Pertama, maka kuasa harus dibuat
secara tertulis sesuai dengan ketentuan Pasal 1795 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata.

Pasal 6
PENGAKUAN HUTANG DAN PEMBERIAN JAMINAN
1. Berkaitan dengan jual-beli ini, selania harga jual Pihak Pertama
sebagaimana dimaksud Pasal 2 ayat 3 beliun dilunasi oleh Pihak Kedua
kepada Pihak Pertaina, maka Pihak Kedua dengan ini mengaku berhutang
kepada Pihak Pertama sejumlah harga atau sisa harga yang belum dibayar
lunas oleh Pihak Kedua.
2. Untuk menjamin tertibnya pembayaran kembali/pelunasan hutang tepat
pada waktu dan jumlah yang telah disepakati kedua belah pihak
berdasarkan Akad ini, maka Pihak Kedua dengan ini menyerahkan agunan
dan membuat pengikatan agunan kepada Pihak Pertama sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pihak Kedua menutup asuransi berdasarkan Syariah atas bebannya
terhadap seluruh barang agunan pada perusahaan asuransi yang ditujuk
oleh Pihak pertama, dengan menunjuk dan menetapkan Pihak Pertama
sebagai pihak yang berhak untuk menyimpan polis asuransi, dan
karenanya Pihak Pertama berhak menerima klaim asuransi tersebut
(banker's clause).
4. Jenis dan surat barang agunan yang diserahkan adalah berupa:
a. ......................................................................................................................
b. ......................................................................................................................
c. ......................................................................................................................
Pasal 7
TEMPAT PEMBAYARAN
1. Setiap pembayaran atau pelunasan hutang atau angsuran oleh Pihak Kedua
kepada Pihak Pertama dilakukan di kantor Pihak Pertama atau di tempat
lain yang ditunjuk Pihak Pertama, atau dilakukan melalui rekening, yang
dibuka oleh dan atas nama Pihak Kedua di Bank Sumut.
2. Dalam hal pembayaran dilakukan melalui rekening Pihak Kedua di Bank
Sumut maka dengnn ini Pihak Kedua memberi kuasa yang tidak dapat
berakhir karena sebab-sebab yang ditentukan dalam pasal 1813 Kitab
Undang-Undang Hukum perdata untuk mendebet rekening Pihak Kedua
guna membayar/melunasi hutang Pihak Kedua. Dalam hal pemberian
kuasa ini Pihak kedua akan menyerahkan Surat Kuasa Pendebetan
Rekening kepada Pihak Pertama untuk mendebet. rektining Pihak Kedua
sebesar kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Akad
ini.

Pasal 8
BIAYA, POTONGAN DAN PA.l AK-PAJAK
1. pihak Kedua menanggung segala biaya yang diperlukan berkenaan dengan
pembuatan Akad ini, termasuk jasa Notaris dan jasa lainnya, sepanjang hal
itu diberitahukan Pihak Pertama kepada Pihak Kedua sebelum ditanda-
tanganinya Akad ini, dari Pihak Kedua menyatakan setuju.
2. Pihak Kedua dengan ini memberi kuasa kepada Pihak Pertama untuk
membayar setiap potongan, bea, pajak dan biaya-biaya lainnya yang
diharuskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku melalui
Pihak Pertama.
Pasal 9
PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN
Pihak Kedua memberi izin kepada Pihak Pertama atau petugas yang ditunjuknya,
guna melaksanakan pengawasan/pemeriksaan terhadap barang maupun barang
agunan, serta pembukaan dan Catatan pada setiap saat selama berlangsungnya
Akad ini, dan kepada pelngas Pihak Pertama tersebut diberi hak untuk mengambil
gambar (foto), membuat fotokopi dan atau catatan-catatan yang dianggap perlu,

Pasal 10
CIDERA JANJI/WAN PRESTASI
1. Jika nasabah menolak membeli barang setelah membayar urbun, maka
biaya riil Bank harus dibayar dan urbun tersebut dan Bank harus
mengembalikan kelebihan urbun kepada Nasabah. Namun jika nilai urbun
kurang dan nilai kerugian yang harus ditanggung Bank, maka Bank dapat
meminta lagi pembayaran sisa kerugian kepada Nasabah.
2. Jika nasabah batal membeli barang, maka urbun yang telah dibayar
Nasabah menjadi milik Bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung
Bank akibat pembatalan tersebut dan jika urbun tidak mencukupi Nasabah
wajib melunasi kekurangannya.
3. Dalam hal Pihak Kedua cidera janji tidak melakukan
pembayaran/melunasi hutangnya kepada Pihak Pertama, sehingga Pihak
Pertama perlu menggunakan jasa Penasihat Hukum/Kuasa untuk
menagihnya, maka pihak Kedua berjanji dan dengan ini mengikatkan diri
untuk membayar seluruh biaya jasa Penasehat Hukum, jasa penagihan dan
jasa-jasa lainnya sepanjang hal itu dapat dibuktikan secara sah menurut
hukum.
4. Menyimpang dan ketentuan dalam Pasal 3 Akad ini, Pihak Pertama berhak
untuk menagih pembayaran dari Pihak Kedua atau siapapun juga yang
memperoleh hak darinya, atas sebagian atau seluruh jumlah hutang Pihak
Kedua kepada Pihak Pertama, untuk dibayar dengan seketika dan
sekaligus, tanpa diperlukan adanya siusal pemberitahuan, surat tegui'an,
atau s\irat lainnya, apabila terjadi salah satu hal atau peristiwa tersebut di
bawah ini:
a. Pihak Kedua tidak melaksanakan kewajiban pembayaran/pelunasan
atas kewajiban kepada Pihak Pertama sesuai yang ditetapkan dalam
Akad ini.
b. Dokumen atau keterangan yang dimasukan/disuluruhmasukkan ke
dalam dokumen yang diserahkan Pihak Kedua kepada Pihak
Pertama sebagaimana tersebut dalam Pasal 11 palsu, tidak sah, atau
tidak benar;
c. Pihak Kedua tidak memenuhi dan atau melanggar salah satu
ketentuan Akad ini;
d. Pihak Kedua ditaruh di bawah pengampuan, dalam keadaan
insolvensi, dinyatakan pailit, atau dilikuidasi;

Pasal 11
PENGAKUAN DAN PEMBEBASAN PIHAK PERTAMA DARI
TUNTUTAN/GUGATAN
PIHAK KE T1GA
Pihak Kedua dengan ini menyatakan mengakui dengan sebenarnya bahwa :
1. Pihak Kedua berhak dan berwenang sepenuhnya untuk menandatangani
Akad ini dari semua surat dokumen yang menjadi kelengkapannya serta
berhak pula untuk menjalankan usaha tersebut dalam Akad ini.
2. Pihak Kedua menjamin, bahwa segala surat dan dokumen serta akta yang
ditandatangani oleh Pihak Kedua dan yang berkeberatan dengan Akad ini
adalah benar, keberadaannya sah, tindakan Pihak Kedua tidak melanggar
atau bertentangan dengan Anggaran Dasar perusahaan.
3. Dalam hal belum dicukupinya barang agunan untuk melunasi hutang
Pihak Kedua kepada Pihak Pertama, Pihak: Kedua secepatnya melunasi
seluruh kewajibannya selama hutangnya belum lunas dan selanjutnya akan
menyerahkan agunan-agunan tambahan yang dinilai cukup oleh Pihak
Pertama.
4. Sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, Pihak Kedua mendahulukan untuk membayar dan melunasi
kewajibannya kepada Pihak Pertama dari kewajiban lainnya.
5. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat 1 dan 2 pasal ini, Pihak
Kedua berjanji membebaskan Pihak Pertama dari segala tuntutan atau
gugatan yang datan dari pihak manapun dan atau atas alasan apapun.

Pasal 12
PEMBATASAN TERHADAP TINDAKAN PIHAK KEDUA
Pihak Kedua berjanji bahwa selama masa berimigsungnya Akad ini, kecuali
setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Pihak Pertama, Pihak Kedua tidak
akan melakukan sebahagian atau seluiruh perbuatan-perbuatan sebagai berikut.:
1. Melakukan akiusisi. merger, restrukturisasi dan atau konsolidasi
perusahaan Pihak Kedua dengan perusahaan atau orang lain ;
2. Menjual, baik sebagian atau seluruh asset perusahaan Pihak Kedua yang
nyata-nyata akan mempengaruhi kemampuan atau cana membayar atau
melunasi hutang-hutang atau sisa hutang Pihak Kedua kepada Pihak
Pertama, kecuali menjual barang dagangan yang menjadi kegiatan usaha
Pihak Kedua;
3. Membua hutang kepada pihak ketiga (pihak lain);
4. Mengubah Anggaran Dasar, susunan pemegang saham, Komisaris dan
atau Direksi perusahaan Pihak Kedua.;
5. Melakukan investasi baru, baik yang berkaitan langsung atau tidak
langsung dengan tujuan perusahaan Pihak Kedua;
6. Memudahkan kedudukan/lokasi barang jaminan dari kedudukan/lokasi
barang itu semua atau sepatutnya berada, dari atau mengalihkan hak atas
barang atau barang jaminan yang bersangkutan kepada pihak lain;
Pasal 13
RISIKO
Pihak Kedua atas beban dan tanggung jawabuya, berkewajiban melakukan
pemelaksaan, dan karenanya bertanggung jawab baik. terhadap keadaan fisik
barang maupun sahnya bukti-bukti, surat-surat dan atau dokumen-dokumen yang
berkaitan dengan kepemilikan atau hak-hak lainnya atas barang dan barang-
barang yang dijaminkan, sehingga karena itu Pihak Kedua berjanji dan dengan ini
membebaskan Pihak Pertama dari segala tuntutan atau gugatan yang datang dari
pihak manapun dan atau berdasar alasan apapun.

Pasal 14
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
1. Dalam hal terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran hal-hal yang
tercantum di dalam akad ini atau terjadi perselisihan atau sengketa dalam
pelaksanaannya, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikannya
secara musyawarah untuk mufakat
2. Apabila musyawarah untuk mufakat telah diupayakan namun perbedaan
pendapat atau penafsiran, perselisihan atau sengketa tidak dapat
diselesaikan oleh kedua belah pihak, maka kedua belah pihak bersepakat,
dan dengan ini berjanji serta mengikatkan diri satu terhadap yang lain,
untuk menyelesaikannya melalui Badan Arbitrase syariah Nasional
(BASYARNAS) menurut prosedur beracara yang berlaku di dalam Badan
Arbitrage tersebut.
3. Kedua belah pihak sepakat, dan dengan ini mengikatkan diri satu terhadap-
yang lain, bahwa pendapat hukum (legal opinion) dan atau putusan yang
ditetapkan oleh BASYARNAS tersebut bersifat final dan mengikat (final
and binding).

Pasal 15
DOMISILI DAN PEMBERITAHUAN
1. Alamat kedua belah pihak sebagaimana yang tercantum pada kalimat-
kalimat awal Akad ini merupakan alamat tetap dan tidak berubah bagi
masing-masing pihak yang bersangkutan, dan ke alamat-alamat itu pula
secara sah segala surat-menyurat atau komunikasi diantara kedua belah
pihak akan dilakukan.
2. Apabila dalam pelaksanaan Akad ini terjadi perubahan alamat, maka pihak
yang berubah alamatnya tersebut wajib memberitahukan kepada pihak
lainnya alamat barunya dengan surat tercatat atau surat tertulis yang
disertai tanda bukti penerimaan dari pihak lainnya.
3. Selama tidak ada pemberitahuan tentang perubahan alamat sebagaimana
dimaksud pada ayat 2 pasal ini, maka surat-menyurat atan komunikasi
yang dilakukan ke alamat yang tercantum pada awal Akad ini dianggap
sah menurut hukum.

Pasal 16
PENUTUP
1. Sebelum Akad ini ditandatangani oleh Pihak Kedua, Pihak Kedua
mengakui dengan sebenarnya, bahwa Pihak Kedua lelah membaca dengan
cermat atau dibacakan kepadanya seluruh isi Akad ini berikut semua surat
dan atau dokumen yang menjadi lampiran Akad ini, sehingga oleh karena
itu Pihak Kedua menjamin sepenuhnya segala yang akan menjadi akibat
setelah Pihak Kedua menandatangani Akad ini.
2. Hal-hal yang belum diatur dalam Akad ini akan diatur lebih lanjut secara
musyawarah mufakat di antata para pihak dan dituangkan dalam suatu
Addedum.
3. Seluruh surat-menyurat, nota, lampiran dan addendum pada akad ini
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan mempunyai kekuatan
hukum yang sama serta mengikat seperti halnya pasal-pasal lain dalam
Akad ini.
4. Para pihak sepakat bahwa untuk Akad ini dan segala akibatnya
memberlakukan syariah Islam dan peraturan perundangan-undangan lain
yang tidak bertentangan dengan syariah.
Demikioanlah, Akad ini dibuat dan ditandatangani di ..............(nama kota).. .......
oleh kedua belah pihak
dalam rangkap dua dan dibubuhi materai yang cukup, keduanya mempunyai
kekuatan hukum yang sama, yang masing-masing disimpan oleh para pimilik.
..................................
PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA,

.................................... ........................................