Anda di halaman 1dari 10

DOKUMENTASI PENYULUHAN LUAR GEDUNG

TEMA “ Stunting ”
Senin, 20 Januari 2020

Dokter Mahdi saat memberikan penyuluhan


Laporan Penyuluhan Luar Gedung
Stunting

Pokok bahasan : Gizi


Sub pokok bahasan : Stunting
Sasaran : Posyandu
Hari/tanggal : Senin, 20 Januari 2020
Pukul : 09.00 – 09.30 WIB
Waktu : 30 menit
Tempat : Posyandu Bougenville 1
Penyuluh : Dr. Mahdi

A. Latar Belakang :
Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya
pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang yang ditandai dengan indeks panjang
badan dibanding umur (PB/U) atau tinggi badan dibanding umur (TB/U) dengan batas z-
score kurang dari -2 SD (Kepmenkes RI,2010).
Prevalensi stunting di Indonesia Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 sebesar 37,2
persen, meningkat dari tahun 2010 sebesar 35,6% dan pada tahun 2007 sebesar 36,8%.
Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita sekitar 8 juta anak di Indonesia, atau satu
dari tiga anak di Indonesia (Riskesdas, 2013). Prevalensi stunting bahkan lebih tinggi
dibandingkan dengan permasalahan gizi pada balita lainnya seperti gizi kurang (19,6%),
kurus (6,8%), dan gemuk (11,9%). (Millennium Challenge Account Indonesia, 2015).
Cakupan D/S di Kota Sukabumi pada Tahun 2016 sebesar 93,99% dengan jumlah
balita gizi buruk indikator BB/U sebanyak 29 anak (0,12%) (Dinkes Kota Sukabumi,
2016). Sedangkan untuk jumlah balita penderita stunting di wilayah kerja Puskesmas
Sukakarya pada tahun 2019 sebanyak 76 balita yang tersebar hampir di semua RW
(Puskesmas Sukakarya, 2019)
Peran posyandu dalam penanggulangan stunting di Indonesia sangatlah penting,
khususnya upaya pencegahan stunting pada masa balita. Melalui pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dilakukan satu bulan sekali melalui
pengisian kurva KMS, balita yang mengalami permasalahan pertumbuhan dapat
dideteksi sedini mungkin, sehingga tidak jatuh pada permasalah pertumbuhan kronis atau
stunting.

B. Tujuan Instruksional Umum :


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan agar peserta dapat mengetahui
tentang penyakit Stunting, memahami bagaimana gejala Stunting sehingga dapat
menjaga kecukupan gizi.

C. Tujuan Instruksional Khusus :


Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan para peserta dapat :
o Mengerti dan memahami penyebab Stunting
o Mengerti dan memahami tanda Stunting
o Mengerti dan memahami pencegahan Stunting
o Mengetahui pengobatan Stunting

D. Strategi Pelaksanaan :
1. Metode :
o Ceramah
o Diskusi

E. Proses Pelaksanaan :
N
Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
o
Pendahuluan 1. Salam pembuka 1. Menjawab salam 5 menit
1 2. Menyampaikan tujuan2. Menyimak
. penyuluhan 3. Mendengarkan, menjawab,
3. Apersepsi pertanyaan
2 Kerja 1. Penyampaian garis1. Mendengarkan dengan penuh 15 menit
. besar materi Stunting perhatian
2. Memberi kesempatan2. Menanyakan hal-hal yang
peserta untuk bertanya belum jelas
3. Menjawab pertanyaan 3. Memperhatikan jawaban dari
4. Evaluasi penceramah
4. Menjawab pertanyaan
3 Penutup 1. Menyimpulkan 1. Mendengarkan 10 menit
. 2. Salam penutup 2. Menjawab salam

F. Setting Tempat :
Peserta penyuluhan duduk berhadapan dengan penceramah.

G. Materi

DEFINISI

Kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat
dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan
gizi terjadi begitu saja sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi
lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Balita
pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan
panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan
dengan standar baku who-mgrs (multicentre growth reference study) 2006
(TNP2K,2017).

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh


asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam
kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada
usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya
mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa.Kemampuan
kognitif para penderita juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi
jangka panjang bagi Indonesia (MCA Indonesia, 2013)

Anak kerdil yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh
rumah tangga/keluarga yang miskin dan kurang mampu, karena stunting juga dialami
oleh rumah tangga/keluarga yangtidak miskin/ yang berada di atas 40 % tingkat
kesejahteraan sosial dan ekonomi (TNP2K,2017).

Pendek yang merupakan hasil dari gen bawaan ditambah kondisi gizi pada
janin dan bayi ditambah infeksi dan faktor epigenik lainnya, akan berdampak pada
jangka pendek maupun panjang, yang pada gilirannya meningkatkan penyakit dan
menjadi beban yang berat. Untuk melihat pertumbuhan bayi khususnya panjang
badan, pertumbuhan anak dari sejak lahir sampai usia 15 bulan dapat terjadi
gangguan pertumbuhan, mungkin karena asupan gizi yang kurang, seringnya
menderita penyakit infeksi, atau faktor determinan lainnya. Anak-anak yang berat
badan waktu lahir <2500 gram, cenderung prevalensi pendeknya lebih banyak
dibandingkan dengan anak yang lahir normal danlahir dengan berat badan >4000
gram. Ini berarti kejadian double burden sudah mulai nampak pada bayi lahir.
Menjaga bayi dengan lahir normal menjadi sangat penting, agar status gizi bisa
menjadi lebih baik (KEMENKES RI, 2013). Kondisi ini menunjukkan pentingnya
melahirkan bayi yang normal, sebab bila bayi lahir sudah pendek, pertumbuhannya
akan terhambat, bahkan berdampak pula pada akibat lain yaitu perkembangan yang
terhambat dan risiko menderita penyakit tidak menular di masa dewasa nanti.
Akibatnya anak ini akan menjadi pendek dan bila menjadi ibu akan melahirkan
generasiyang pendek, demikian seterusnya sehingga terjadi pendek lintas generasi
(Trihono, 2015).

FAKTOR PENYEBAB

Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan
oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi
yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting oleh karenanya
perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan sebagai
berikut:

1. Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu


mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta
setelah ibu melahirkan. Beberapa fakta dan informasi yang ada menunjukkan
bahwa 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)
secara ekslusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). MP-ASI diberikan/mulai diperkenalkan
ketika balita berusia diatas 6 bulan. Selain berfungsi untuk mengenalkan jenis
makanan baru pada bayi, MPASI juga dapat mencukupi kebutuhan nutrisi
tubuh bayi yang tidak lagi dapat disokong oleh ASI, serta membentuk daya
tahan tubuh dan perkembangan sistem imunologis anak terhadapmakanan
maupun minuman.
2. Masih terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal
Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), Post Natal
Care dan pembelajaran dini yang berkualitas. Informasi yang dikumpulkan
dari publikasi Kemenkes dan Bank Dunia menyatakan bahwa tingkat
kehadiran anak di Posyandu semakin menurun dari 79% di 2007 menjadi
64% di 2013 dan anak belum mendapat akses yang memadai ke layanan
imunisasi. Fakta lain adalah 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi
sumplemen zat besi yang memadai serta masih terbatasnya akses ke
layanan pembelajaran dini yang berkualitas (baru 1 dari 3 anak usia 3-6
tahun belum terdaftar di layanan PAUD/Pendidikan Anak Usia Dini).
3. Masih kurangnya akses rumah tangga / keluarga ke makanan bergizi.
Penyebabnya karena harga makanan bergizi di Indonesia masih tergolong
mahal.
4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Data yang diperoleh di lapangan
menunjukkan bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air
besar (BAB) di ruang terbuka, serta 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki
akses ke air minum bersih.
Peran sanitasi dalam mempengaruhi kejadian stunting, karena sanitasi yang
buruk akan meningkatkan kejadian sakit, seperti yang disampaikan pada
penelitian Safitri, Uji korelasi antara sanitasi rumah dengan kejadian diare
pada balita juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Keluarga
dengan sanitasi rumah memenuhi syarat sebagian besar memiliki balita yang
tidak terkena diare, begitu pula sebaliknya. Hal tersebut terjadi karena
sanitasi tidak memenuhi syarat, cenderung tidak memiliki penyediaan air
bersih untuk mencuci tangan dan makanan maupun membersihkan peralatan
makan sehingga kuman dan bakteri penyebab diare tidak dapat hilang.
Penyediaan air berhubungan erat dengan kesehatan. Di negara berkembang,
kekurangan penyediaan air yang baik sebagai sarana sanitasi akan
meningkatkan terjadinya penyakit dan kemudian berujung pada keadaan
malnutrisi. 9 Komponen fasilitas sanitasi yang tidak terpenuhi juga merupa-
kan penyebab terjadinya diare dalam keluarga. Akses dan sarana toilet yang
buruk, serta tidak adanya fasilitas pengelolaan tinja dan limbah akan
menambah resiko terjadinya diare pada balita dalam keluarga karena
persebaran virus, kuman, dan bakteri akan semakin tinggi.

Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan berdasarkan dari sisi ibu dan juga sisi
balitanya, seperti berikut :
A. Faktor Maternal
a) Usia Ibu
Kejadian kehamilan dan persalinan di usia yang masih sangat muda
menjadi masalah yang cukup serius. Usia yang sangat muda menjdikan
kehamilan yang berisiko bagi calon ibu. Kehamilan pada usia tersebut akan
menyebabkan meningkatnya risiko kematian pada ibu dan kemungkinan anak
yang dilahirkan akan sulit untuk bertahan hidup. (Afifah, 2011)
Pernikahan di usia yang sangat muda menurut WHO yaitu pernikahan
sebelum usia 18 tahun untuk kedua mempelai (WHO, 2013). Berdasarkan
data yang didapatkan dari UNICEF, total perempuan yang melakukan
pernikahan di usia kurang dari 18 tahun di seluruh dunia sekitar 2 juta jiwa
dan terdapat sekitar 280 juta jiwa lainnya diperkirakan berisiko menjadi
pengantin di usia kurang dari 18 tahun. (UNICEF, 2015)
Pernikahan di usia muda memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan
ibu dan anaknya, Bagi ibu, akan berdampak pada organ reproduksinya yang
kurang siap dalam menghadapi kehamilan dan kemudian menjadi kehamilan
yang berisiko (Afifah, 2011). Sedangkan bagi anaknya yang terlahir dari ibu
muda dapat menyebabkan kemungkinan hidup yang rendah dan berbagai
macam masalah gizi seperti pendek, kurus dan gizi buruk (Prakash R, Singh
A, Pathak PK, Parasuraman S, 2011)
b) Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan hal tersebut terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui panca indra manusia yang meliputi indera penglihatan, indera
pendengaran, indera penciuman, indera rasa dan yang terakhi indera raba.
Sebelum seseorang tersebut menghadapi perilaku baru, di dalam diri
seseorang terjadi proses berurutan yakni : Awareness (kesadaran) dimana
orang tersebut menyadari dalam artian mengetahui terlebih dahulu terhadap
suatu stimulus. Interest (merasa tertarik) terhadap suatu objek atau stimulus
tersebut yang mana bagi dirinya hal itu menarik. Trail yaitu subjek mulai
mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus tersebut. Pengetahuan (kognitif)
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. (Notoatmojo, 2007).
Terdapat enam tingkat dalam pengetahuan (Mubarak, Wahit Iqbal,
2007), meliputi
A. Tahu
B. Memahami
C. Aplikasi
D. Analisis
E. Sintesis

Sedangkan bagi status gizi balita, pengetahuan ibulah yang berperan


penting. Pengetahuan yang dimiliki ibu akan berpengaruh pada pola
konsumsi makanan bagi keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi
akan mengakibatkan keanekaragaman makanan yang berkurang. Keluarga
akan semakin banyak membeli makanan karena pengaruh kebiasaan, iklan,
dan lingkungan sekitar. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan oleh karena
kurangnya kemampuan ibu dalam menerapkan informasi tentang gizi dalam
kehidupan sehari-hari. (Ahmadi, 2009).
Kurangnya pendidikan serta pengertian yang salah mengenai
kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah suatu hal umum dijumpai setiap
negara di seluruh belahan dunia. Selain itu kemiskinan dan kurangnya
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah
kurang gizi dan akan menyebabkan stunting pada anak. Hal tersebut
diakibatkan oleh tingkat pendidikan yang rendah bagi masing-masing
individu. Tingkat pendidikan yang rendah akan menyebabkan kurangnya
pengetahuan bagi individu tersebut dalam menyediakan makanan yang
bergizi untuk dirinya dan untuk keluarganya. (Ahmadi, 2009)

c) Pola Asuh

Pola pengasuhan anak adalah pola pengasuhan anak dalam pra dan
pasca kelahiran, pemberian ASI, pemberian makanan, serta pengasuhan
bermain (Hamzah, 2000). Sedangkan pola asuh gizi atau makanan yaitu
kemampuan dari keluarga dalam memberikan makanan bagi anak balitanya,
terkhusus pemberian ASI dan makanan pendamping ASI. Selain itu, pola
asuh gizi juga merupakan asupan nutrisi makanan dalam rangka menopang
tumbuh kembang fisik dan biologis secara tepat dan seimbang. (Eveline,
Nanang, 2010).

Setiap orang tua wajib memberikan perlindugan bagi anaknya dengan


suasana yang aman dan nyaman. Masa lima tahun pertama mereka adalah
masa yang akan menentukan pembentukan fisik, psikis, maupun kecerdasan
otak. Oleh karena itu, pada masa tersebut diperlukan pola asuh yang tepat
agar anak dapat berkembang sebagaimana mestinya. (Eveline, Nanang,
2010)

Pemberian makanan adalah salah satu bentuk pola asuh yang


membentuk keterampilan makan, membina kebiasaan makan, membina
selera terhadap berbagai macam jenis makanan, mendidik kemampuan
dalam memilih mana makanan yang baik bagi kesehatan dan mendidik
perilaku makan yang baik dan benar sesuai adat dan kebudayaan masing-
masing keluarga. Peranan orang tua dalam hal ini sangat berpengaruh bagi
perkembangan anak kedepannya. Kekurangan dalam pemberian makanan
akan berdampak buruk berupa kesulitan makan atau kurangnya nafsu makan
yang dikemudian hari akan berdampak pula bagi kesehatan dan gizi anak
tersebut. (Waryana, 2010)

Makanan tambahan sudah mulai diberikan pada bayi setelah usianya


6 bulan, tetapi ASI harulah tetap diberikan kepada bayi sampai berusia 24
bulan. Makanan tambahan yang diberikan kepada bayi harus menjadi
pelengkap dan dapat memenuhi kebutuhan energy bayi tersebut. Sehingga
kekurangan zat gizi dari ASI dapat dipenuhui oleh makanan tambahan.
Pemberian ASI dan makanan tambahan ini juga salah satu pola asuh dalam
masalah gizi bagi anak. (Waryana, 2010)

Karakteristik Balita
a) Usia

Usia balita merupakan waktu dimana berlangsungnya proses


pertumbuhan dan perkembangan yang sangat amat pesat. Pada rentang ini
bayi dibawah lima tahun butuh asupan gizi-gizi yang memadai dalam hal
jumlah dan kualitas, karena pada usia ini aktivitas fisik cukup tinggi dan usia
ini juga balita berada pada proses untuk mempelajari sesuatu yang baru. Bila
intake zat gizi tidak terpenuhi maka pertumbuhan fisik dan intelektualitas
balita akan mengalami gangguan, yang akhirnya akan menyebabkan mereka
menjadi generasi yang tidak tahu arah (hilang) atau lost generation, dan
dampak yang lebih lagi yaitu negara akan kehilangan sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas (Soetjiningsih, 2012). Umur yang paling rawan
adalah masa balita, oleh karena pada masa itu anak mudah sakit dan mudah
terjadi kurang gizi. Masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian
anak sehingga diperlukan perhatian khusus (Tanuwidjaya, 2012). Selain itu,
masa balita adalah masa yang cukup penting karena pada kelompok usia
balita mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan yang cepat dan
menentukan kualitas anak di kemudian hari dalam menghasilkan sumber
daya manusia yang berkualitas (Soetjiningsih, 2012).

b) Pola Makan

Pemberian komposisi makanan yang baik pada bayi dan anak bertujuan
untuk:

1. Memberikan asupan nutrien yang cukup untuk kebutuhan tubuh,


memelihara kesehatan dan memulihkannya bila bayi atau anak sakit,
melakukan berbagai jenis aktivitas yang meliputi pertumbuhan dan
perkembangan fisik dan juga psikomotor (Alatas & Hassan, 2007).

2. Melakukan pendidikan tentang kebiasaan makan yang baik dan mendidik


untuk menyukai makanan yang disajikan (Alatas & Hassan, 2007).

Faktor-faktor yang diperhatikan dalam mengatur makan anak balita adalah (Alatas
& Hassan, 2007):

a. Umur

b. Berat badan

c. Diagnosis penyakit, termasuk juga tahap dan perjalanan penyakit

d. Keadaan organ mulut sebagai penerima dan pengolah makanan

e. Kebiasaan makan, kesukaan dan ketidaksukaan, akseptabilitas dari makanan dan


toleransi anak terhadap makanan yang diberikan (Alatas & Hassan, 2007).
Anjuran pemberian makanan anak balita (Depkes, 2010):

a. 0-6 bulan : ASI, frekuensi sesuai keinginan anak.paling sedikit 8 kali sehari. Jangan
diberi makanan atau minuman lain selain ASI.

b. 6-12 bulan : ASI frekuensi sesuai dengan keinginan anak. Paling sedikit 8 kali
sehari. Makanan pendamping ASI 2 kali sehari tiap kali 2 sendok makan. Yang
diberikan setelah pemberian ASI. Jenis makanan ini adalah bubur tim lumat
ditambah kuning telur/ayam/ikan/ tempe/tahu/daging sapi/wortel/ bayam/ kacang
hijau/ santan/ minyak. Kemudian berangsur-angsur bubur nasi ditambah
telur/ayam/ikan/tempe/tahu/daging sapi/ wortel/ bayam/ kacang hijau/ santan/
minyak. Makanan tersbut diberikan 3 kali sehari. Pemberian makan yaitu saat umur
6 bulan diberikan 6 sendok makan, 7 bulan diberikan 7 sendok makan, 8 bulan
diberikan 8 sendok makan, 9 bulan diberikan 9 sendok makan, 10 bulan diberikan
10 sendok makan, 11 bulan diberikan 11 sendok makan. Makan selingan 2 kali
sehari seperti bubur kacang hijau, pisang, biskuti, nagasari, dsb, diantara waktu
makan.

c. 12-24 bulan : ASI sesuai keinginan anak. Nasi lembek yang ditambah kuning telur,
ayam, ikan, tempe, tahu, daging sapi, wortel, bayam, bubur kacang hijau, santan
dan minyak, diberikan 3 kali sehari. Makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu
makan.

d. 24-51 bulan: makanan yang biasa dimakan dalam keluarga 3 kali sehari. Makanan
sampingan 2 kali sehari diberikan diantara waktu makan.

c) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ini akan mempengaruhi jumlah produksi ASI
yang keluar. Hal ini juga sangat mempengaruhi asupan gizi balita. Sehingga perlunya
IMD sangat penting dan sangat mempengaruhi gizi balita (WHO, 2013).

d) Imunisasi

Imunisasi memberikan zat kekebalan kepada balita sehingga balita


tersebut menjadi tidak rentan terhadap penyakit. Balita yang sehat tidak akan
kehilangan nafsu makan sehingga status gizi tetap baik. Imunisasi juga memiliki
hubungan yang bermakna dengan gizi buruk karena ASI dan imunisasi memberikan
zat kekebalan kepada balita sehingga balita tersebut menjadi tidak rentan terhadap
penyakit. Balita yang sehat tidak akan kehilangan nafsu makan sehingga status gizi
tetap baik (Arifianto, 2014).

e) Penyakit Infeksi (Diare dan ISPA)

Penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang
buruk dapat mempermudah terkena penyakit infeksi. Penyakit infeksi menyebabkan
nafsu makan anak turun, sehingga keadaan ini mempengaruhi keadaan status gizi
(Hediana, 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Scrimshaw, Taylor, dan Gordon (1968)
memperlihatkan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara diare dan malnutrisi.
Diare dapat menimbulkan terjadinya malnutrisi dan sebaliknya, malnutrisi juga bisa
menjadi penyebab timbulnya diare. Infeksi mempengaruhi status gizi melalui
penurunan asupan makanan, penurunan absorpsi makanan di usus, meningkatkan
katabolisme, dan mengambil nutrisi yang diperlukan tubuh untuk sintesis jaringan
dan pertumbuhan. Di samping itu, malnutrisi bisa menjadi faktor predisposisi
terjadinya infeksi karena menurunkan pertahanan tubuh dan mengganggu fungsi
kekebalan tubuh manusia (Nurcahyo & Briawan , 2010).

H. Tanya Jawab

1. Pertanyaan Ny. A:

“ apakah bayi yang tidak mendapat asi eksklusif menjadi stunting?”

Jawaban:

“anak yang tidak mendapat asi eksklusif lebih rentan untuk terjadiny stunting,
karna asupan gizi yang terdapat pada ASI tidak sebanding dengan susu
formula”

2.Pertanyaan Ny. B

“apakah stunting dapat menurun ke generasi selanjutnya?”

Jawaban:

“ stunting merupakan masalah gizi kronik, bukan merupakan penyakit genetic


yang dapat diturunkan, jadi orangtua yang stunting tidak dapat menurunkan
stuntingnya ke anaknya, kecuali memang orangtuanya memiliki genetic
perawakan tubuh pendek”

3.Pertanyaan Ny. C

“apa efek stunting pada anak yang sudah dewasa?”

Jawaban:

“stunting merupakan masalah gizi kronik yang dapat berlanjut sampai dewasa
karna pola asuh dan makan yang tidak tepat, efeka stunting pada dewasa
dapat mengakibatkan rentangnya tubuh terhdapa infeksi dan juga kejadian
penyakit DM dan Hipertensi salah satu faktornya adalah karena stunting”

Sukabumi, 20 Januari 2020


Pelaksana,

dr. Mahdi Yusuf