Anda di halaman 1dari 38

BUKU KETERAMPILAN KLINIS

KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


BLOK 23

TIM BLOK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
PURWOKERTO
2019
PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI BLOK

1. Nama Blok : Kedokteran Forensik dan Medikolegal

2. Kode Blok : 1313011123

3. SKS : 3 SKS

4. Jadwal Pelaksanaan : Semester VIII

5. Deskripsi singkat blok :

Blok 23 Kedokteran Forensik dan Medikolegal merupakan blok


semester VIII yang mempelajari Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal. Blok ini mempersiapkan mahasiswa menjadi dokter yang
mampu memanfaatkan ilmu kedokteran untuk membantu penegakan hukum
dan masalah-masalah di bidang hukum. Setelah mempelajari blok ini
diharapkan mahasiswa mampu mengaplikasikan Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal dalam melakukan pelayanan kesehatan primer. Proses
Pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan
kuliah pakar, diskusi tutorial, skill lab, referat, dan penugasan.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menggunakan prinsip-prinsip komunikasi efektif
dalam hubugan antar teman di dalam kelompok maupun di luar kelompok.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip-prinsip kedokteran forensik dan
medikolegal.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan mengenal dan menjelaskan jenis-jenis
luka dan kekerasan yang terjadi pada korban akibat dugaan tindak pidana

2
4. Mahasiswa mampu menganalisa isu-isu pelanggaran hukum yang
menyangkut tubuh dan nyawa manusia serta permasalahan profesi dokter
yang terkait dengan aturan-aturan hukum yang ada
5. Mahasiswa mampu menjelaskan aturan-aturan hukum tentang kesehatan,
praktik kedokteran dan kedokteran gigi, dan rumah sakit

C. DEPARTEMEN TERKAIT
a. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
b. Hukum Kesehatan
c. Psikologi Klinis
d. Keislaman

3
TOPIK 1
PEMERIKSAAN LUAR KORBAN HIDUP/ MENINGGAL DAN
MEMBUAT DESKRIPSI LUKA

A. Tujuan Instruksional Umum:


Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan luar
korban hidup atau meninggal membuat deskripsi luka akibat suatu peristiwa
dugaan tindak pidana dan menyimpulkan hasil pemeriksaan
B. Tujuan Instruksional Khusus:
Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu:
1. Melakukan pemeriksaan identitas umum korban
2. Melakukan pemeriksaan identitas khusus korban
3. Melakukan pemeriksaan tanda pasti kematian pada korban meninggal
4. Melakukan pemeriksaan tubuh korban bagian luar
5. Merencanakan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan penunjang
6. Menyimpulkan hasil pemeriksaan

PEMERIKSAAN LUAR KORBAN HIDUP ATAU MENINGGAL

Dalam tugas sehari-hari, selain melakukan pemeriksaan diagnostik,


memberikan pengobatan dan perawatan kepada pasien, dokter juga mempunyai
tugas melakukan pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum,
baik untuk korban hidup maupun korban meninggal.
Pemeriksaan medik untuk tujuan membantu penegakan hukum antara lain
adalah melakukan visum et repertum terhadap seseorang yang dikirim oleh polisi
(penyidik) karena diduga sebagai korban suatu tindak pidana, baik dalam peristiwa
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, penganiayaan, pembunuhan, perkosaan,

4
maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan pertama polisi terdapat
kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana.
Menurut bahasa, visum et repertum adalah melihat dan melaporkan.
Sedangkan menurut istilah, visum et repertum adalah keterangan tertulis yang
dibuat oleh dokter atas permintaan resmi secara tertulis dari penyidik mengenai
pemeriksaan bagian tubuh makhluk hidup baik manusia maupun diduga tubuh
manusia yang meliputi apa yang dilihat dan ditemukan pada obyek tersebut serta
interpretasinya dengan mengingat sumpah jabatan dan digunakan untuk
kepentingan peradilan.
Dasar hukum yang berkaitan dengan visum et repertum:
Pasal 133 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP):
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban
baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pembedahan mayat.
Pasal 179 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP):
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenar-benarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya

5
Pasal 1 ayat 28 KUHAP: Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh
seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan.
Pasal 186 KUHAP: Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di siding
pengadilan
Pasal 187 KUHAP: (c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat
berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta
secara resmi dari padanya.
Format visum et repertum, terdiri dari 5 bagian tetap:
1. Pro justitia. Kata ini diletakkan di bagian atas, menjelaskan bahwa visum et
repertum khusus dibuat untuk tujuan peradilan.
2. Bagian Pendahuluan. Kata ”Pendahuluan” sendiri tidak langsung ditulis di
dalam visum et repertum, melainkan langsung dituliskan berupa kalimat-kalimat
di bawah judul. Bagian ini menerangkan instansi penyidik yang meminta berikut
nomor dan tanggal surat permintaan, nama dokter pembuat visum et repertum
dan institusi kesehatannya, identitas korban yang diperiksa, alasan
dimintakannya visum et repertum, kapan dan dimana dilakukan pemeriksaan.
3. Bagian Pemberitaan/ Hasil Pemeriksaan. Bagian ini berjudul ”Hasil
Pemeriksaan” dan berisi hasil pemeriksaan medik tentang keadaan kesehatan
atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan perkaranya, tindakan medik
yang dilakukan, serta keadaannya setelah pengobatan dan perawatan. Bila
korban meninggal dan dilakukan otopsi, maka diuraikan keadaan seluruh alat
dalam yang berkaitan dengan perkara dan meninggalnya orang tersebut.
Pemeriksaan pada korban hidup atau meninggal adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksaan identitas umum korban meliputi: jenis kelamin, umur, berat
badan, tinggi badan, warna pelangi mata, warna kulit, ciri rambut, keadaan
gizi
6
2) Pemeriksaan identitas khusus korban meliputi: tato, jaringan parut, tanda
lahir, tahi lalat, cacat fisik, pakaian, perhiasan. Bila korban meninggal
ditambah hal-hal berikut yaitu benda di samping jenazah, pembungkus/
penutup jenazah.
3) Pemeriksaan keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital pada korban
hidup
4) Pemeriksaan tanda pasti kematian pada korban meninggal: lebam mayat, kaku
mayat, pembusukan
5) Pemeriksaan tubuh bagian luar meliputi: permukaan kulit tubuh (termasuk
bagian tubuh tertentu seperti mata, hidung, telinga, mulut dan alat kelamin)
dan tulang-tulang (penampakan dari luar tubuh)
6) Pemeriksaan tubuh bagian dalam (bila diperlukan, sesuai dengan surat
permintaan visum)
7) Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan, sesuai dengan surat permintaan
visum)
4. Bagian Kesimpulan. Bagian ini berjudul kesimpulan dan berisi pendapat dokter
berdasarkan keilmuannya, mengenai jenis perlukaan atau cedera yang ditemukan
dan jenis kekerasan atau zat penyebabnya serta derajat perlukaan atau sebab
kematian. Interpretasi yang dibuat dalam kesimpulan ini harus dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh dokter pembuat visum et repertum.
5. Bagian Penutup. Bagian ini berisikan kalimat yang menyatakan bahwa
keterangan tertulis dibuat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan yang
dimiliki dokter dan dengan mengingat sumpah sewaktu menerima jabatan
sebagai dokter. Kemudian dibubuhi tanda tangan dokter yang memeriksa.

7
DESKRIPSI LUKA

Deskripsi luka adalah gambaran fisik secara rinci dari suatu luka dan wajib
dituliskan dalam pemberitaan visum et repertum. Sesuai SKDI 2012, deskripsi luka
merupakan kemampuan yang harus dipenuhi oleh calon dokter. Deskripsi luka
dalam visum diperlukan untuk membantu proses penyidikan demi kepentingan
peradilan.
Deskripsi luka sebaiknya ditulis secara sistematis. Adapun bagian-bagian
deskripsi luka sebagai berikut:
1. Jumlah: Untuk memar dan luka lecet bila jumlah lebih dari 3 dianggap beberapa,
diambil ukuran terbesar dan terkecil. Untuk luka kekerasan tajam dan luka robek
(bila kedalaman hingga otot/tulang atau dianggap mematikan), bila jumlah lebih
dari 3 tetap disebutkan semua.
2. Lokasi:
 Regio (daerah tubuh) dan koordinat (x, y)
 Terutama batang tubuh (dada, perut, punggung), pakai koordinat:
- Garis tengah tubuh (vertikal, melalui pusar)
- Garis mendatar/horizontal yang melewati kedua puting susu (laki-laki),
garis mendatar yang melewati pusar (perempuan)
- Punggung: garis tengah tubuh dan garis mendatar yang melewati ujung
bawah kedua buah tulang belikat
 Khusus luka tembak: menggunakan jarak dari tumit kaki
3. Bentuk: Bentuk teratur (menyerupai segiempat, bundar, persegi panjang, garis,
dan sebagainya); Bentuk tidak teratur
4. Ukuran: Panjang, lebar, dalam, diameter
5. Sifat:
 Batas luka: tegas atau kurang tegas
8
 Tepi luka: rata atau tidak rata
 Tebing luka: rata atau tidak rata; terdiri dari kulit, lemak, jaringan ikat bawah
kulit, otot
 Dasar luka: jaringan ikat bawah kulit, otot, tulang
 Jembatan jaringan: ada atau tidak
 Di sekitar luka: ada kelainan (memar) atau tidak

9
Gambar 1. Contoh-contoh
deskripsi luka pada visum (Buku
Petunjuk Visum et Repertum)

10
Penilaian Keterampilan Pemeriksaan Luar Korban Hidup/ Meninggal dan
Deskripsi Luka

Nama Mahasiswa :
NIM :

No Aspek yang Dinilai Skor


0 1 2
1 Mengucapkan salam, basmallah dan
memperkenalkan diri kepada penyidik (membawa
korban/jenazah)
2 Dokter menanyakan kepada penyidik apakah ada
surat permintaan visum*
3 Menyampaikan maksud dan tujuan visum korban*
4 Menyiapkan peralatan yang diperlukan seperti
meteran, timbangan, brankar, gayung, spons (busa),
handscoon, senter atau pen light dan lembar
pemeriksaan medis korban atau visum et repertum
5 Menyusun dan menyebutkan format visum et
repertum yang terdiri dari: Pro Justitia, Pendahuluan,
Pemberitaan/ Hasil Pemeriksaan, Kesimpulan,
Penutup
6 Mencuci tangan dengan tehnik WHO
7 Pemeriksaan identitas umum korban meliputi: jenis
kelamin, umur, berat badan, tinggi badan, warna
pelangi mata, warna kulit, ciri rambut, keadaan gizi
8 Korban hidup: Pemeriksaan identitas khusus korban
meliputi tato, jaringan parut, tanda lahir, tahi lalat,
cacat fisik, pakaian, perhiasan
Jenazah: Pemeriksaan identitas khusus jenazah 
seperti di atas, namun ditambah benda di samping
jenazah, pembungkus/ penutup jenazah
9 a. Pemeriksaan keadaan umum, tanda-tanda vital
dan kesadaran pada korban hidup
b. Pemeriksaan tanda pasti kematian pada korban
meninggal: lebam mayat, kaku mayat,

11
pembusukan
10 Pemeriksaan tubuh bagian luar meliputi: permukaan
kulit tubuh (termasuk bagian tubuh tertentu seperti
mata, hidung, telinga, mulut dan alat kelamin) dan
tulang-tulang. (Mahasiswa menyebutkan dan
menuliskan deskripsi luka)
11 Pemeriksaan tubuh bagian dalam (bila diperlukan,
sesuai dengan surat permintaan visum)
12 Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan, sesuai
dengan surat permintaan visum)
13 Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO
14 Menyimpulkan hasil pemeriksaan (menuliskan
kesimpulan hasil pemeriksaan)
15 Mengakhiri hasil pemeriksaan dengan mengucapkan
terima kasih dan menutup dengan ucapan hamdallah
serta menyerahkan hasil pemeriksaan kepada
penyidik dan berjabat tangan
Skor

Instruktur

(………………………………..)
Nilai : _Skor_ x 100 =

26

Keterangan:
* : critical point
2 : melakukan dengan sempurna
1 : melakukan tidak sempurna
0 : tidak melakukan

12
TOPIK 2
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN MEDIS

A. Tujuan Instruksional Umum:


Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu membuat beberapa jenis
surat keterangan medis berkaitan dengan keadaan seseorang yang sebenarnya.
B. Tujuan Instruksional Khusus:
Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu:
1. Mengetahui jenis-jenis surat keterangan medis
2. Mengetahui format-format dalam pembuatan masing-masing jenis surat
keterangan medis
3. Mengetahui dasar hukum yang berkaitan dengan surat keterangan medis

Pengertian
Surat keterangan medis adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter
untuk tujuan tertentu tentang kesehatan atau penyakit pasien atas permintaan
pasien atau atas permintaan pihak ketiga dengan persetujuan pasien atau atas
perintah undang-undang. Pembuatan surat keterangan medis harus berdasarkan
hasil pemeriksaan, dan dokter pembuatnya harus mampu membuktikan kebenaran
keterangannya apabila diminta.

Jenis Surat Keterangan Medis


Jenis surat keterangan medis yang dimaksud antara lain:
1. Surat Keterangan Lahir
2. Surat Keterangan Meninggal
3. Surat Keterangan Sehat
4. Surat Keterangan Sakit
13
5. Surat Keterangan Cacat
6. Surat Keterangan Pelayanan Medis untuk penggantian biaya dari asuransi
kesehatan
7. Surat Keterangan Cuti Hamil
8. Surat Keterangan Ibu hamil, bepergian dengan pesawat udara
9. Laporan Penyakit Menular

Dari kesembilan jenis surat keterangan medis di atas, mahasiswa lebih


difokuskan kemampuannya pada pembuatan surat keterangan lahir, surat
keterangan kematian/ meninggal, surat keterangan sehat dan surat keterangan sakit.

Surat Keterangan Lahir


Surat keterangan lahir berisikan tentang waktu (tanggal dan jam) lahirnya
bayi, kelamin, berat badan, panjang badan dan nama orang tua. Diisi sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya oleh karena sering adanya permintaan khusus dari
pasien.
Hal yang sering menjadi masalah:
1. Anak yang lahir dari inseminasi buatan dari semen donor (Arteficial
Insemination by Donor = AID)
2. Anak yang lahir hasil bayi tabung yang sel telur dan/ atau sel maninya berasal
dari donor (In vitro Fertilization by Donor)
3. Anak yang lahir hasil konsepsi dari saudara kandung suami
Ketiga hal di atas bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia

14
Gambar 2. Contoh surat keterangan lahir
(http://www.caramudahkebaitullah.com/2012)

Surat Keterangan Meninggal/ Kematian


Surat keterangan untuk keperluan penguburan, perlu dicantumkan identitas
jenazah, tempat, dan waktu meninggalnya serta dokter yang memeriksa. Surat
keterangan (laporan) kematian mengenai hal ini perlu diisi sebab kematian sesuai
dengan pengetahuan dokter. Karena bedah mayat klinik belum dapat dilakukan
hingga waktu ini, sebab kematian secara klinik saja yang dilaporkan. Lamanya
menderita sakit hingga meninggal dunia juga harus dicantumkan. Jika jenazah
dibawa ke luar daerah atau luar negeri maka adanya kematian karena penyakit
menular harus diperhatikan.
15
Gambar 3. Contoh surat keterangan meninggal (Instalasi Forensik dan
Pemulasaraan Jenazah RSUD Prof. dr. Margono)

Surat Keterangan Sehat


Surat keterangan yang dibuat oleh dokter mengenai hasil pemeriksaan fisik
seseorang yang dinyatakan dalam keadaan sehat. Surat keterangan ini umumnya
diperlukan untuk melanjutkan sekolah, melamar pekerjaan, asuransi jiwa, untuk
keperluan nikah, untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).
Dalam menulis laporan pengujian kesehatan untuk asuransi jiwa, perlu
diperhatikan oleh dokter agar:
1. Laporan dokter harus objektif, jangan dipengaruhi oleh keinginan calon nasabah
atau agen perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.
16
2. Sebaliknya jangan menguji kesehatan seorang calon yang masih atau pernah
menjadi pasien sendiri untuk menghindari timbulnya kesukaran dalam
mempertahankan wajib menyimpan rahasia jabatan.
3. Jangan memberitahukan kesimpulan hasil pemeriksaan medik kepada pasien,
langsung kepada perusahaan asuransi itu sendiri.
Dokter selaku ahli, bukan orang kepercayaan perusahaan asuransi kesehatan.
Pemeriksaan oleh dokter yang dipilih pasien pada dasarnya untuk kepentingan
pihak asuransi oleh karena sebagai dokter penguji kesehatan tersebut, dokter wajib
memberitahukan kepada perusahaan tentang segala sesuatu yang ia ketahui dari
orang yang kesehatannya diuji. Dapat terjebak melanggar wajib simpan rahasia
jabatan. Seharusnya dokter keluarga menolak untuk menguji kesehatan pasiennya.
Surat keterangan sehat juga diperlukan untuk memperoleh SIM. Perlu
diperhatikan oleh karena pengendara atau faktor manusia merupakan faktor utama
penyebab kecelakaan lalu lintas.
Surat keterangan sehat juga digunakan untuk keperluan pernikahan. Selain
pemeriksaan medis, dokter juga harus memberikan edukasi reproduksi dan
pendidikan seks kepada pasangan calon suami-istri. Yang sering menjadi dilema
adalah apakah dokter harusmemberitahukan kepada salah satu calon suami-istri
tersebut apabila menemukan kelainan-kelainan atau penyakit-penyakit yang
diderita salah satu calon pasangannya.

17
Gambar 4. Contoh surat keterangan sehat (http://format-contoh-
surat.blogspot.co.id/2014/)
18
Surat Keterangan Sakit
Surat keterangan yang dibuat oleh dokter mengenai hasil pemeriksaan pasien
yang dinyatakan dalam keadaan sakit sesuai dengan kondisi fisik yang sebenar-
benarnya. Pada umumnya, surat keterangan tersebut memuat:

1. Nama, umur, pekerjaan/ kegiatan dan alamat tinggal pasien


2. Pernyataan bahwa pasien tersebut dalam keadaan sakit (sebaiknya perlu
dicantumkan penyakit yang dideritanya)
3. Pemberian waktu istirahat oleh dokter selama beberapa hari sesuai kondisi
pasien
4. Tanda tangan dan nama jelas dokter yang memeriksa

Seorang dokter harus waspada terhadap kemungkinan sandiwara (simulasi)


atau melebih-lebihkan pada waktu memberikan keterangan mengenai cuti sakit
seorang karyawan. Ada kalanya cuti sakit disalahgunakan untuk tujuan lain. Surat
keterangan cuti sakit palsu dapat menyebabkan seorang dokter dituntut menurut
pasal 263, 267, dan 268 KUHP.

19
Gambar 5. Contoh surat keterangan sakit/ istirahat (http://satukin-
dikin.blogspot.co.id/2014)

Medikolegal Surat Keterangan Medis


1. BAB I Pasal 7 KODEKI: “ Setiap dokter hanya memberikan keterangan dan
pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya”
2. BAB II Pasal 12 KODEKI: ” Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu
yang diketahuinya tentang seorang pasien bahkan juga setelah pasien meninggal
dunia”
3. Paragraf 4 Pasal 48 Undang Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran:
1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib
menyimpan rahasia kedokteran.

20
2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien,
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-
undangan.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan
Menteri.
4. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 263:
1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat
menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk
memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya
benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan
kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam
tahun
2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu
dapat menimbulkan kerugian.
5. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 267:
1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu
tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang ke
dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana
penjara paling lama delapan tahun enam bulan.
3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.

21
6. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 268:
1) Barang siapa membuat secara palsu atau memalsu surat keterangan dokter
tentang ada atau tidak adanya penyakit, kelemahan atau cacat, dengan maksud
untuk menyesatkan penguasa umum atau penanggung, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan maksud yang sama
memakai surat keterangan yang tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah
surat itu benar dan tidak dipalsu.

22
Checklist Pembuatan Surat Keterangan Medis (Sesuai Skenario)

No Aspek yang Dinilai Skor


0 1 2
1 Mengucapkan salam, basmallah dan
memperkenalkan diri kepada pasien/ korban,
keluarga pasien/ korban, penyidik (membawa
korban/jenazah)

Surat Keterangan Lahir


2 Dokter menerima bayi yang dibawa oleh bidan atau
perawat
3 Mencuci tangan dengan tehnik WHO
4 Dokter melakukan pemeriksaan fisik umum,
termasuk tanda-tanda vital (denyut jantung, frekuensi
nafas, suhu tubuh), berat badan, panjang badan bayi
dan jenis kelamin
5 Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO
6 Dokter menuliskan identitas orang tua, identitas bayi
di surat keterangan lahir yang sudah disediakan.
Dituliskan pula waktu kelahiran (jam dan tanggal)
7 Mencantumkan tanda tangan dan nama jelas dokter
pemeriksa
Surat Keterangan Meninggal/ Kematian
8 Dokter menerima pasien yang meninggal dari ruang
rawat inap/ICU/IGD atau korban yang meninggal
dari TKP
9 Cuci tangan dengan tehnik WHO
10 Pemeriksaan identitas umum jenazah meliputi: jenis
kelamin, umur, berat badan, tinggi badan, warna
pelangi mata, warna kulit, ciri rambut, keadaan gizi
11 Pemeriksaan identitas khusus jenazah meliputi: tato,
jaringan parut, tanda lahir, tahi lalat, cacat fisik,
pakaian, perhiasan, benda di samping jenazah,
pembungkus/ penutup jenazah
12 Pemeriksaan tanda pasti kematian: lebam mayat,
kaku mayat, pembusukan
23
13 Pemeriksaan fisik umum {memastikan bahwa denyut
nadi dan nafas sudah tidak ada, reflex pupil terhadap
cahaya (-)}
14 Bila pasien adalah korban yang meninggal tidak
wajar (karena kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri),
lakukan prosedur visum et repertum
15 Mengetahui dugaan atau kepastian sebab kematian
pasien/ korban
16 Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO
17 Menuliskan hasil pemeriksaan di surat keterangan
kematian yang sudah disediakan. Menuliskan waktu
(tanggal dan jam) perkiraan pasien/ korban
meninggal dunia
18 Mencantumkan tanda tangan dan nama jelas dokter
pemeriksa
Surat Keterangan Sehat
19 Dokter menanyakan maksud dan tujuan kedatangan
pasien/ klien
20 Cuci tangan dengan tehnik WHO
21 Dokter melakukan pemeriksaan fisik umum,
termasuk tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut
nadi, frekuensi pernafasan dan suhu tubuh).
Melakukan pengukuran tinggi badan dan berat
badan.
22 Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO
23 Melakukan tes buta warna
24 Dokter menuliskan hasil pemeriksaannya di surat
keterangan sehat yang sudah disediakan, selain
rekam medis
25 Dokter menyimpulkan dan menyampaikan hasil
pemeriksaan kepada pasien/ klien bahwa kondisi
fisik pasien dalam keadaan SEHAT
Surat Keterangan Sakit/ Istirahat
26 Dokter menanyakan keluhan yang dialami pasien
27 Cuci tangan dengan tehnik WHO
28 Dokter melakukan pemeriksaan fisik umum,

24
termasuk tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut
nadi, frekuensi pernafasan dan suhu tubuh)
29 Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO
30 Menentukan diagnosa dari hasil pemeriksaan
31 Menuliskan hasil pemeriksaan di surat keterangan
sakit/ istirahat yang sudah disediakan, selain rekam
medis. Menentukan waktu pasien untuk istirahat
sesuai diagnosa penyakit yang dideritanya.
Menuliskan resep obat
32 Dokter menyimpulkan dan menyampaikan hasil
pemeriksaan kepada pasien/ klien bahwa kondisi
fisik pasien dalam keadaan SAKIT dan
menganjurkan untuk istirahat selama beberapa hari.
Penutup
33 Mengakhiri hasil pemeriksaan dengan mengucapkan
terima kasih dan menutup dengan ucapan hamdallah,
berjabat tangan dan mengantarkan pasien atau
keluarga pasien ke luar ruang pemeriksaan.
Skor

Nilai : Skor x 100 =


N

Instruktur

(………………………………….)
Keterangan:
2 : melakukan dengan sempurna
1 : melakukan tidak sempurna
0 : tidak melakukan
N : Total skor sesuai skenario

25
TOPIK 3
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

A. Tujuan Instruksional Umum:


Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu menarasikan dan melakukan
keterampilan pengambilan sampel.
B. Tujuan Instruksional Khusus:
Pada akhir kegiatan skill lab, mahasiswa mampu:
1. Menarasikan dan melakukan keterampilan pengambilan darah
2. Menarasikan dan melakukan keterampilan pengambilan urin
3. Menarasikan dan melakukan keterampilan pengambilan muntahan
4. Menarasikan dan melakukan keterampilan usap vagina (lendir liang
senggama)
5. Menarasikan dan melakukan keterampilan usap buccal (liur pipi bagian
dalam)

Pada pemeriksaan korban hidup dan/ atau korban meninggal, kadang-kadang


diperlukan pemeriksaan penunjang sesuai kasus misal kasus korban dugaan
keracunan, korban kejahatan seksual, identifikasi korban yang diduga memiliki
hubungan darah dengan pelaku (metode DNA).

KERACUNAN

Pada kasus keracunan, pemeriksaan penunjang sangat diperlukan untuk


memperkuat diagnosa pasti keracunan. Dalam hal ini, minimal sampel yang
diperlukan adalah darah, urin dan muntahan. Ketiga sampel ini diperlukan untuk

26
memperkuat atau menegakkan diagnosa pasti keracunan apakah karena sianida,
arsen, alkohol, karbonmonoksida, narkotika, dan lain-lain.

Pengambilan Sampel pada Korban Hidup Akibat Keracunan


Pada korban hidup, korban yang keracunan datang ke IGD Rumah Sakit.
Umumnya kondisi korban ditangani lebih dulu dengan metode CAB agar kondisi
korban stabil. Saat korban mulai stabil, dokter menganamnesis korban untuk
mendapatkan informasi penyebab korban mengalami keracunan. Umumnya darah
dan urin diambil sewaktu atau cito pada pemeriksaan korban kasus keracunan.
Berdasarkan Peraturan Kapolri No 10 Tahun 2009 Tentang Tata Cara dan
Persyaratan Permintaan Teknis Kriminalistik TKP dan Laboratoris Kriminalistik
Barang Bukti Kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara RI Pasal 59 ayat 2
point a bahwa jumlah barang bukti pada darah sekitar 10 ml dan urin sekitar 25 ml.
Langkah-langkah pengambilan sampel darah, urin, dan muntahan dari lambung:
1. Dokter memohon persetujuan dari korban untuk dilakukan pemeriksaan
laboratorium dengan mengambil darah, urin, dan muntahan korban yang sudah
keluar.
2. Dokter dan perawat menyiapkan peralatan pemeriksaan yang diperlukan seperti
minimal 2 spuit 3 – 5 cc dan beberapa jarum ukuran 23 G, beberapa buah tabung
dengan EDTA untuk mencegah penggumpalan darah, beberapa gelas plastik
kecil/ gelas ukur untuk menampung urin dan muntahan dari lambung,
handscoon, turniket, kapas alkohol 70% dan minimal satu lembar Berita Acara
Pengambilan Sampel.
3. Dokter dan perawat mencuci tangan dengan tehnik WHO, kemudian memakai
handscoon.
4. Meminta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan
aktivitas.
27
5. Meminta pasien mengepalkan tangannya. Pasang turniket kira-kira 10 cm di atas
lipat siku.
6. Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alkohol 70% dan
biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
7. Dokter melakukan pengambilan darah dengan menggunakan spuit 3-5 cc pada
vena mediana cubiti sebanyak 10 ml. Cara pengambilan darah dilakukan
sebanyak dua kali bila menggunakan spuit 5 cc. Pengambilan darah dapat
dilakukan oleh dokter dan perawat secara bersamaan di vena mediana cubiti
kanan dan kiri.
8. Setelah volume darah dianggap cukup, lepas turniket dan meminta pasien
membuka kepalan tangannya. Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera
lepaskan/tarik jarum. Tekan kapas beberapa saat lalu plester selama kira-kira 15
menit. Jangan menarik jarum sebelum turniket dibuka.
9. Darah yang sudah diambil dituangkan ke masing-masing tabung EDTA,
kemudian dibolak-balikkan kurang lebih 30 detik supaya merata.
10. Masing-masing EDTA diberi label yang memuat minimal identitas korban,
lokasi dan tanggal pengambilan darah.
11. Untuk pengambilan urin, gelas plastik diberikan kepada korban. Saat korban
BAK, sebagian urin ditampung dalam gelas plastik sekitar 25 ml.
12. Spesimen urin yang ideal adalah urin pancaran tengah (midstream), di mana
aliran pertama urin dibuang dan aliran urin selanjutnya ditampung dalam
wadah yang telah disediakan.
13. Urin yang sudah ditampung, ditutup dan diserahkan ke pemeriksa. Kemudian
gelas plastik berisi urin diberi label yang memuat minimal identitas korban,
lokasi dan tanggal pengambilan urin.
14. Siapkan gelas plastik yang lebih besar untuk menampung muntahan dari
korban. Saat korban muntah lagi, muntahan ditampung dalam gelas tersebut.
28
15. Gelas berisi muntahan ditutup dan diserahkan ke pemeriksa. Kemudian gelas
tersebut diberi label yang memuat minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan muntahan.
16. Seluruh wadah yang berisi darah, urin dan muntahan diserahkan ke penyidik
untuk dibawa ke laboratorium forensik.
17. Dokter dan perawat mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO.
18. Dokter mengisi berita acara pengambilan sampel yang sudah disediakan,
kemudian diserahkan ke penyidik.

Pengambilan Sampel pada Korban Meninggal Akibat Keracunan


Pengambilan darah pada korban meninggal dapat dilakukan melalui jantung
(bagian kanan dan kiri), vena jugularis, vena axillaris, dan lain-lain. Bila melalui
jantung bagian kiri, lakukan desinfeksi kulit dengan kapas alkohol 70% di dada kiri
sekitar spatium intercostalis V. Kemudian masukan jarum suntik dengan arah tegak
lurus dengan dada. Ambil darah sebanyak 10 cc. Darah yang sudah diambil
dituangkan ke masing-masing tabung EDTA, kemudian dibolak-balikkan kurang
lebih 30 detik supaya merata. Masing-masing EDTA diberi label yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal pengambilan darah.
Untuk pengambilan urin, lakukan perabaan di sekitar suprapubik, kemudian
desinfeksi area tersebut dengan kapas alkohol 70%. Aspirasi urin tepat di titik
suprapubik dengan menggunakan spuit. Diambil urin sebanyak kurang lebih 25 ml
dengan cara aseptik/suci hama (dilakukan oleh petugas yang berkompeten).
Masukkan urin ke dalam wadah yang steril dan tertutup rapat. Diberi label pada
wadah tersebut yang memuat minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan urin.
Untuk pengambilan muntahan atau cairan yang berasal dari lambung,
lambung diikat pada dua tempat yaitu yang berbatasan dengan kerongkongan
29
(oesophagus) dan yang berbatasan dengan usus 12 jari (duodenum). Cara ini
dimaksudkan untuk menghindari racun butir-butir pil atau tablet yang tertelan
korban sehingga mempermudah pemeriksaan toksikologi. Lambung yang sudah
diambil dari tubuh korban bagian dalam ditaruh dalam wadah yang cukup besar
yang berisi larutan fisiologis. Diberi label pada wadah tersebut yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal pengambilan muntahan atau cairan
dalam lambung.
Seluruh wadah yang berisi darah, urin dan muntahan atau cairan dalam
lambung diserahkan ke penyidik untuk dibawa ke laboratorium forensik. Dokter
mengisi berita acara pengambilan sampel yang sudah disediakan, kemudian
diserahkan ke penyidik.

KEJAHATAN SEKSUAL

Pada korban kejahatan seksual, sampel yang sering diambil adalah lendir
dalam liang senggama (vagina) yang biasa disebut dengan usap vagina (vaginal
swab). Tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah untuk mengetahui adanya sperma
dalam lendir vagina. Sebaiknya waktu yang diperlukan untuk usap vagina tidak
lebih dari tiga hari setelah kejadian perkara.
Langkah-langkah pemeriksaan dengan usap vagina:
1. Dokter melakukan anamnesis kepada korban untuk menyusun kronologis
kejadian yang berhubungan dengan kejahatan seksual, termasuk dugaan adanya
persetubuhan korban oleh pelaku.
2. Dokter memohon ijin kepada korban untuk melakukan pemeriksaan pada
kemaluan untuk menemukan bukti adanya persetubuhan.

30
3. Dokter menemukan adanya robekan pada arah jam tertentu. Setelah itu, dokter
memohon persetujuan kepada korban untuk dilakukan usap di dalam liang
senggama.
4. Dokter menyiapkan kapas lidi, kaca preparat (object glass) dan kaca fiksasi,
cawan dan aquades.
5. Dengan menggunakan kapas lidi, dokter melakukan usap lendir di dalam liang
senggama di berbagai sisi.
6. Setelah lendir melekat pada kepala kapas lidi, didiamkan dulu hingga kering.
Setelah itu, kepala kapas lidi yang mengandung lendir dibasahi dengan aquades
beberapa tetes.
7. Oleskan lendir yang sudah bercampur dengan aquades di tengah-tengah gelas
obyek, setelah itu ditutupi dengan kaca fiksasi dan ditaruh dalam cawan atau
wadah lain dengan penutupnya.
8. Cawan atau wadah lain diberi label yang memuat minimal identitas korban,
lokasi dan tanggal pengambilan lendir liang senggama, kemudian cawan
tersebut diserahkan ke petugas paramedis untuk dikirim ke laboratorium. Dapat
juga diserahkan ke penyidik untuk dikirim ke laboratorium forensik.
9. Dokter mengisi berita acara pengambilan sampel yang sudah disediakan,
kemudian diserahkan ke penyidik.

IDENTIFIKASI KORBAN
Pada identifikasi korban yang diduga memiliki hubungan darah dengan
pelaku, diperlukan metode identifikasi dengan DNA. Salah satu bagian tubuh
manusia yang banyak mengandung DNA adalah buccal (pipi bagian dalam)
dengan liur. Sumber-sumber umum untuk isolasi DNA meliputi seluruh darah,
rambut, sperma, tulang, kuku, jaringan, noda darah, air liur, buccal (pipi bagian
dalam), sel epitel, urin. Buccal (pipi bagian dalam) dengan liur merupakan salah
31
satu contoh sampel yang akan digunakan untuk identifikasi korban dengan metode
DNA.
Langkah-langkah pengambilan liur buccal/ usap buccal (buccal swab):
1. Dokter melakukan anamnesis singkat kepada korban terkait dengan identifikasi
korban yang memiliki hubungan darah dengan pelaku atau orang lain.
2. Dokter memohon persetujuan kepada korban untuk dilakukan usap pipi bagian
dalam untuk kepentingan identifikasi.
3. Dokter menyiapkan kapas lidi, amplop, gelas berisi air biasa, amplop.
4. Dokter meminta pasien untuk berkumur terlebih dahulu dengan air biasa dalam
gelas.
5. Dokter menggunakan kapas lidi untuk mengusap liur buccal sisi kanan atau kiri,
tepatnya di sudut gusi rahang atas atau bawah.
6. Setelah melakukan usap buccal, kapas lidi yang mengandung liur buccal
diangin-anginkan agar cepat mengering.
7. Kemudian kapas lidi tersebut dimasukkan dalam amplop dan diberi label yang
memuat minimal identitas korban, lokasi dan tanggal pengambilan liur buccal.
8. Amplop yang berisi sampel liur buccal diserahkan ke penyidik untuk dikirim ke
laboratorium DNA.
9. Dokter mengisi berita acara pengambilan sampel yang sudah disediakan,
kemudian diserahkan ke penyidik.

32
Teknik Pengambilan Darah, Urin, Muntahan atau Cairan Dalam Lambung,
Vaginal Swab dan Buccal Swab

Nama mahasiswa :
NIM :
No Aspek Ketrampilan yang dinilai Skor
0 1 2
1. Mengucapkan salam, basmallah dan memperkenalkan
diri kepada pasien/ korban, keluarga pasien/ korban,
penyidik (membawa korban/jenazah).
Kasus Keracunan pada Korban Hidup
2. Dokter melakukan tindakan CAB pada korban agar
kondisi korban stabil.
3. Setelah kondisi korban stabil, dokter memohon
persetujuan dari korban untuk dilakukan pemeriksaan
laboratorium dengan mengambil darah, urin, dan
muntahan korban yang sudah keluar.
4. Menyiapkan peralatan pemeriksaan yang diperlukan
seperti minimal 2 spuit 3 – 5 cc dan beberapa jarum
ukuran 23 G, beberapa buah tabung dengan EDTA untuk
mencegah penggumpalan darah, beberapa gelas plastik
kecil/ gelas ukur untuk menampung urin dan muntahan
dari lambung, handscoon, turniket, kapas alkohol 70%
dan minimal satu lembar BAP Sampel
5. Mencuci tangan dengan tehnik WHO, kemudian
memakai handscoon.
6. Meminta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan
yang banyak melakukan aktivitas. Meminta pasien
mengepalkan tangannya. Pasang turniket kira-kira 10 cm
di atas lipat siku
7. Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan
kapas alkohol 70% dan biarkan kering. Kulit yang sudah
dibersihkan jangan dipegang lagi.
8. Melakukan pengambilan darah dengan menggunakan
spuit 3-5 cc pada vena mediana cubiti sebanyak 10 ml.
Cara pengambilan darah dilakukan sebanyak dua kali
bila menggunakan spuit 5 cc.

33
9. Setelah volume darah dianggap cukup, lepas turniket dan
meminta pasien membuka kepalan tangannya. Letakkan
kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik
jarum. Tekan kapas beberapa saat lalu plester selama
kira-kira 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum
turniket dibuka.
10. Darah yang sudah diambil dituangkan ke masing-masing
tabung EDTA, kemudian dibolak-balikkan kurang lebih
30 detik supaya merata.
11. Masing-masing EDTA diberi label yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan darah.
12. Untuk pengambilan urin, gelas plastik diberikan kepada
korban. Saat korban BAK, sebagian urin ditampung
dalam gelas plastik sekitar 25 ml. Urin yang diambil
adalah urin pancaran tengah.
13. Urin yang sudah ditampung, ditutup dan diserahkan ke
pemeriksa. Kemudian gelas plastik berisi urin diberi
label yang memuat minimal identitas korban dan tanggal
pengambilan urin.
14. Siapkan gelas plastik yang lebih besar untuk menampung
muntahan dari korban. Saat korban muntah lagi,
muntahan ditampung dalam gelas tersebut.
15. Gelas berisi muntahan ditutup dan diserahkan ke
pemeriksa. Kemudian gelas tersebut diberi label yang
memuat minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan muntahan.
16. Seluruh wadah yang berisi darah, urin dan muntahan
diserahkan ke penyidik untuk dibawa ke laboratorium
forensik.
Kasus Keracunan pada Korban Meninggal
17. Menyiapkan peralatan pemeriksaan yang diperlukan
seperti minimal 2 spuit 3 – 5 cc dan beberapa jarum
ukuran 23 G, beberapa buah tabung dengan EDTA untuk
mencegah penggumpalan darah, beberapa gelas plastik
kecil/ gelas ukur untuk menampung urin dan muntahan
dari lambung, handscoon, turniket, kapas alkohol 70%
dan minimal satu lembar BAP Sampel
18. Mencuci tangan dengan tehnik WHO, kemudian

34
memakai handscoon.
19. Pengambilan darah pada korban meninggal dapat
dilakukan melalui jantung (bagian kanan dan kiri), vena
jugularis, vena axillaris, dan lain-lain. Bila melalui
jantung bagian kiri, lakukan desinfeksi kulit dengan
kapas alkohol 70% di dada kiri sekitar spatium
intercostalis V.
20. Kemudian masukan jarum suntik dengan arah tegak
lurus dengan dada. Ambil darah sebanyak 10 cc
21. Darah yang sudah diambil dituangkan ke masing-masing
tabung EDTA, kemudian dibolak-balikkan kurang lebih
30 detik supaya merata.
22. Masing-masing EDTA diberi label yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan darah.
23. Untuk pengambilan urin, lakukan perabaan di sekitar
suprapubik, kemudian desinfeksi area tersebut dengan
kapas alkohol 70%
24. Aspirasi urin tepat di titik suprapubik dengan
menggunakan spuit. Diambil urin sebanyak kurang lebih
25 ml dengan cara aseptik/suci hama.
25. Masukkan urin ke dalam wadah yang steril dan tertutup
rapat. Diberi label pada wadah tersebut yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan urin.
26. Untuk pengambilan muntahan atau cairan yang berasal
dari lambung, lambung diikat pada dua tempat yaitu
yang berbatasan dengan kerongkongan (oesophagus) dan
yang berbatasan dengan usus 12 jari (duodenum). {Bila
dilakukan pemeriksaan dalam}
27. Lambung yang sudah diambil dari tubuh korban bagian
dalam ditaruh dalam wadah yang cukup besar yang berisi
larutan fisiologis. Diberi label pada wadah tersebut yang
memuat minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan muntahan atau cairan dalam lambung.
Kejahatan Seksual
28. Melakukan anamnesis kepada korban untuk menyusun
kronologis kejadian yang berhubungan dengan kejahatan
seksual, termasuk dugaan adanya persetubuhan korban

35
oleh pelaku.
29. Memohon ijin kepada korban untuk melakukan
pemeriksaan pada kemaluan untuk menemukan bukti
adanya persetubuhan.
30. Mencuci tangan dengan tehnik WHO.
31. Menemukan adanya robekan pada arah jam tertentu.
Setelah itu, dokter memohon persetujuan kepada korban
untuk dilakukan usap di dalam liang senggama
32. Menyiapkan kapas lidi, kaca preparat (object glass) dan
kaca fiksasi, cawan dan aquades
33. Dengan menggunakan kapas lidi, dokter melakukan usap
lendir di dalam liang senggama di berbagai sisi.
34. Setelah lendir melekat pada kepala kapas lidi, didiamkan
dulu hingga kering. Setelah itu, kepala kapas lidi yang
mengandung lendir dibasahi dengan aquades beberapa
tetes.
35. Oleskan lendir yang sudah bercampur dengan aquades di
tengah-tengah gelas obyek, setelah itu ditutupi dengan
kaca fiksasi dan ditaruh dalam cawan atau wadah lain
dengan penutupnya.
36. Cawan atau wadah lain diberi label yang memuat
minimal identitas korban, lokasi dan tanggal
pengambilan lendir liang senggama, kemudian cawan
tersebut diserahkan ke petugas paramedis untuk dikirim
ke laboratorium. Dapat juga diserahkan ke penyidik
untuk dikirim ke laboratorium forensik
Identifikasi Korban
37. Dokter melakukan anamnesis singkat kepada korban
terkait dengan identifikasi korban yang memiliki
hubungan darah dengan pelaku atau orang lain.
38. Memohon persetujuan kepada korban untuk dilakukan
usap pipi bagian dalam untuk kepentingan identifikasi.
39. Mencuci tangan dengan tehnik WHO
40. Menyiapkan kapas lidi, amplop, gelas berisi air biasa,
amplop.
41. Meminta pasien untuk berkumur terlebih dahulu dengan
air biasa dalam gelas. Menggunakan kapas lidi untuk
mengusap liur buccal sisi kanan atau kiri, tepatnya di

36
sudut gusi rahang atas atau bawah.
42. Setelah melakukan usap buccal, kapas lidi yang
mengandung liur buccal diangin-anginkan agar cepat
mengering.
43. Kemudian kapas lidi tersebut dimasukkan dalam amplop
dan diberi label yang memuat minimal identitas korban,
lokasi dan tanggal pengambilan liur buccal. Amplop
tersebut diserahkan ke penyidik untuk dikirim ke
laboratorium DNA.

44. Mencuci tangan kembali dengan tehnik WHO.


45. Dokter mengisi berita acara pengambilan sampel yang
sudah disediakan, kemudian diserahkan ke penyidik.
46. Mengakhiri hasil pemeriksaan dengan mengucapkan
terima kasih dan menutup dengan ucapan hamdallah,
berjabat tangan dan mengantarkan pasien atau keluarga
pasien ke luar ruang pemeriksaan.
Jumlah skor

Instruktur

(………………………….)
Nilai : Skor x 100 =
N

Keterangan:
2 : melakukan dengan sempurna
1 : melakukan tidak sempurna
0 : tidak melakukan
N: total skor sesuai skenario

37
DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. 2007. Ilmu Kedokteran Forensik, Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
2. Hoediyanto, Hariadi A. 2010. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal, Edisi Ketujuh. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,
Surabaya
3. Budiyanto, Arif, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik, Cetakan Kedua. Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
4. Idries, Abdul Mun’im, dr, SpF dan dr. Agung Legowo Tjiptomartono. 2011.
Penerapan Ilmu Kedokteran Foresik dalam Proses Penyidikan, Edisi Revisi. CV
Sagung Seto, Jakarta
5. Suharto, Gatot, dkk. 2010. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi
Kedua. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
6. Di Maio VJM, Dana SE. Handbook of Forensic Pathology 2nd Ed. Boca Raton
Florida. CRC Press; 2007
7. ______________. 2011. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana dan Kitab
Undang-undang Hukum Pidana, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta
8. ______________. 2010. Undang-undang RI No 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan. Penerbit Sinar Grafika, Jakarta
9. Peraturan Kapolri No 10 Tahun 2009 Tentang Tata Cara dan Persyaratan
Permintaan Teknis Kriminalistik TKP dan Laboratoris Kriminalistik Barang
Bukti Kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara RI

38