Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL

CALON PERUSAHAAN PEMULA BERBASIS


TEKNOLOGI DARI PERGURUAN TINGGI
TAHUN 2018

RUMAH LELE: BUDIDAYA LELE INTENSIF SISTEM BIOFLOK


BERBASIS MICROBUBBLE DAN SUPLEMEN ORGANIK

Bidang Fokus : Pangan

Nama Lembaga : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB
No. Telp. Kantor : 08158844299
Alamat : Gd. Andi Hakim Nasoetion Lt. 5 Kampus IPB, Dramaga,
Jl. Raya Dramaga Bogor, 16680
E-mail : omanipb@gmail.com

i
RINGKASAN EKSEKUTIF

Tujuan dari program ini adalah mendampingi tenant Rumah Lele dalam rangka
pengembangan usaha melalui program Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT)
Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi,
mengembangkan dan menerapkan teknologi untuk perbaikan proses produksi sehingga mampu
meningkatkan pendapatan, memberdayakan pembudidaya lokal, dan meningkatkan peran LPPM
IPB dalam menginkubasi tenant.
Teknologi bioflok berbasis microbubble dan suplemen organik adalah salah satu alternatif
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah limbah budidaya dan menyediakan pakan
tambahan bagi ikan budidaya sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan.
Teknologi bioflok dimodifikasi dengan prinsip aerasi microbubble sehingga akan meningkatkan
penyebaran oksigen ke seluruh bagian kolam secara lebih merata. Selain itu didukung pula dengan
suplemen organik yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sebesar 25-43 % (Makkar,
1996). Adapun kandungan yang lainnya adalah vitamin A, B1, B2, B3, C, Kalsium, Kalori,
Karbohidrat, Tembaga, Lemak, Serat, Besi, Magnesium, Fosfor, Potasium, Protein, dan Seng.
Dengan teknologi tersebut, kami bisa menekan biaya pakan sebesar 30 %.
Saat ini kami telah bekerja sama dengan beberapa tengkulak ikan lele dan pemilik warung
pecel lele yang ada di beberapa kabupaten di Lampung. Kebutuhan mereka akan ikan lele per
bulannya sebesar 30 ton dan kapasitas produksi kami masih 10 ton ikan lele per bulan, sehingga
kami masih belum bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya kepastian kebutuhan pasar
saat ini, kami bermaksud untuk menambah kapasitas produksi ikan lele dengan mengikuti program
CPPBT ini.
Prospek masa depan usaha rumah lele sangat cerah karena teknologi budidaya tersebut
mudah dan ekonomis. Jika harga lele di pasar mengalami penurunan, kami tetap bisa bertahan.
Selain itu, berdasarkan data dan pendapat para pedagang lele bahwa stok lele di Indonesia masih
sangat jauh dari mencukupi. Hal ini tentunya menjadi alasan kuat bagi kami bahwa dengan tekun
dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya, kami yakin usaha kami akan berhasil sehingga
rumah lele menjadi solusi dan sangat potensial untuk diterapkan dalam pembudidayaan lele
intensif.

ii
LEMBAR PENGESAHAN

RUMAH LELE: BUDIDAYA LELE INTENSIF SISTEM BIOFLOK


BERBASIS MICROBUBBLE DAN SUPLEMEN ORGANIK

Keterangan Penanggung Jawab Lembaga

Nama Lembaga : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada


Masyarakat (LPPM) IPB
Nama Penanggung Jawab Lembaga : Dr. Ir. Agus Oman Sudrajat, M.Sc
Alamat : Gd. Andi Hakim Nasoetion Lt. 5 Kampus IPB
Dramaga, Jl. Raya Dramaga Bogor, 16680
Telepon/HP : 08158844299
E-mail : omanipb@gmail.com

Keterangan Penanggung Jawab Calon PPBT

Nama Penanggung Jawab Calon PPBT : Fajar Maulana, S.Pi, M.Si


Alamat : Departemen Budidaya Perairan FPIK IPB
Dramaga, Jl. Raya Dramaga Bogor, 16680
Telepon/HP : 08561483543
E-mail : fajarmaulana@apps.ipb.ac.id

Yang Mengusulkan

Kepala LPPM IPB Penanggung Jawab Calon PPBT

Dr. Ir. Prastowo, M.Eng Fajar Maulana, S.Pi, M.Si


NIP. 19580217 198703 1 004 NIP. 19901112 201504 1 002

Disetujui
Rektor IPB

Dr. Arif Satria, SP, M.Si


NIP. 19710917 199702 1 003

iii
SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Dr. Ir. Prastowo, M.Eng


Jabatan : Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat (LPPM) IPB
Institusi : Institut Pertanian Bogor
Alamat : Gd. Andi Hakim Nasoetion Lt. 5 Kampus IPB Dramaga,
Jl. Raya Dramaga Bogor, 16680

Menyatakan bahwa Calon PPBT yang tersebut di bawah ini:

Nama CPPBT : Fajar Maulana, S.Pi, M.Si


Inovasi Teknologi : Budidaya Lele Intensif Sistem Bioflok Berbasis Microbubble
dan Suplemen Organik
Alamat : Departemen Budidaya Perairan FPIK IPB
Dramaga, Jl. Raya Dramaga Bogor, 16680

Tidak sedang menerima pendanaan berasal dari APBN/APBD dan lembaga non pemerintah
lainnya pada tahun 2018 dan proposal yang diajukan bukan proposal dengan judul dan ruang
lingkup/ tahapan yang sama pada tahun 2017

Demikian Surat Pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan dipergunakan untuk
pengajuan Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Tahun 2018

Bogor, 05 Januari 2018


Ketua LPPM IPB

Dr. Ir. Prastowo, M.Eng


NIP. 19580217 198703 1 004

iv
PROFIL LEMBAGA

A. KONTAK LIAISON OFFICER/ PENGHUBUNG LEMBAGA


1. Nama : ……………………………
2. Alamat : ……………………………
3. Nomor HP : ……………………………
4. E-mail : ……………………………

B. IDENTITAS LEMBAGA
1. Nama Lembaga : ……………………………
2. Alamat Lembaga : ……………………………
3. Telepon Lembaga : ……………………………
4. E-mail Lembaga : ……………………………
5. Nama Pimpinan : ……………………………

C. KELEMBAGAAN LEMBAGA
1. Tahun Mulai Berdiri : ……………………………
2. SK Pendirian : ……………………………
3. Visi dan Misi : ……………………………
4. Kemitraan yang dimiliki : ……………………………
5. Pengalaman Pembinaan : ……………………………

v
DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF........................................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................................................iii
SURAT PERNYATAAN ............................................................................................................... iv
PROFIL LEMBAGA ...................................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................viii
BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
BAB II. ASPEK PRODUK INOVASI TEKNOLOGI ................................................................... 5
BAB III. ASPEK PROSPEK DAN POTENSI PASAR ................................................................. 9
BAB IV. RENCANA KEGIATAN .............................................................................................. 11
BAB V. RENCANA PENGGUNAAN ANGGARAN ................................................................. 12
LAMPIRAN .................................................................................................................................. 13
Lampiran 1. Jadwal Kegiatan .................................................................................................... 14
Lampiran 2. Sertifikasi/Perizinan/Hasil uji yang sudah ada ...................................................... 15
Lampiran 3. SK Penetapan LPPM ............................................................................................. 16
Lampiran 4. Profil Tim Pelaksana ............................................................................................. 18
Lampiran 5. Foto Pelaksanaan Kegiatan Pembuatan Prototipe ................................................. 20

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Komposisi nilai gizi ikan lele (Clarias batrachus) tiap 100 g .......................................... 1
Tabel 2. Rencana Kegiatan............................................................................................................ 11
Tabel 3. Rencana Penggunaan Anggaran ...................................................................................... 12

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema Latar Belakang Pendirian Usaha ....................................................................... 2


Gambar 2. Skema Kondisi Persaingan Usaha ................................................................................. 3
Gambar 3. Sistem Bioflok Berbasis Microbubble .......................................................................... 7
Gambar 4. Perbedaan regular bubble dengan microbubble ............................................................ 7
Gambar 5. Ilustrasi perbandingan ukuran regular bubble dengan microbubble............................. 8
Gambar 6. Gambar Lele Hasil Budidaya ........................................................................................ 8
Gambar 7. Kerangka Analisis Kompetisi ........................................................................................ 9
Gambar 8. Gambar Lele Hasil Budidaya ...................................................................................... 10

viii
BAB 1. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lele merupakan salah satu jenis ikan yang digemari sebagian besar masyarakat
Indonesia. Ikan lele memiliki serapan pasar yang sangat tinggi hampir di semua daerah di
Indonesia, bahkan di setiap warung-warung makan pasti tersedia ikan lele. Ikan lele memiliki
beberapa manfaat diantaranya adalah ikan lele kaya akan Leusin dan Lisin. Leusin
(C6H13NO2) merupakan asam amino esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan
anak-anak dan menjaga keseimbangan nitrogen. Leusin juga berguna untuk perombakan dan
pembentukan protein otot. Lisin merupakan salah satu dari 9 asam amino esensial yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Lisin termasuk asam amino yang
sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Asam
amino ini sangat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang pada anak, membantu
penyerapan kalsium dan menjaga keseimbangan nitrogen dalam tubuh, serta memelihara masa
tubuh anak agar tidak terlalu berlemak. Lisin juga dibutuhkan untuk menghasilkan antibodi,
hormon, enzim, dan pembentukan kolagen, disamping perbaikan jaringan. Tidak kalah
pentingnya, lisin bisa melindungi anak dari virus herpes (Pusluh KP, 2011). Selain itu, ikan
lele memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Data kandungan gizi ikan lele dapat dilihat di
Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Komposisi nilai gizi ikan lele (Clarias batrachus) tiap 100 g
No Komponen Satuan Jumlah
1 Protein g 18,2
2 Lemak g 2,2
3 Karbohidrat g -
4 Mineral g 1,5
5 Kalsium mg 34
6 Fosfor mg 116
7 Besi mg 0,2
8 Vitamin A mg 85
9 Vitamin B mg 0,1
10 Air g 78,1
11 Energi kkal 93
(Sumber : Pusluh KP, 2011)
Saat ini produksi ikan lele di Indonesia khususnya di Lampung belum mampu
memenuhi kebutuhan serapan pasar, hal ini terbukti dari salah satu pedagang lele di Lampung
yang kuwalahan dalam memenuhi kebutuhan pasar (Sumiyati, 2017). Melihat kebutuhan akan
ikan lele yang begitu besar sedangkan produksi ikan lele masih belum bisa mencukupi, disertai

1
dengan teknologi budidaya ikan lele kami yang mudah dan ekonomis, maka kami semakin
yakin untuk meningkatkan kapasitas produksi ikan lele yang kami geluti saat ini.
Dilihat dari kebutuhan serapan pasar akan ikan lele yang semakin meningkat,
kebutuhkan ikan lele di sebagian kota besar yakni Jakarta dan sekitarnya mencapai sekitar 40
ton setiap harinya, fakta menunjukan bahwa tidak kurang dari 320 ribu orang perhari di
jabodetabek mengkonsumsi lele. Dengan demikian, lele terbukti sebagai salah satu komoditas
bisnis yang memberi peluang terhadap siapapun. (Warta Pasar Ikan, 2009). Beralih ke
Lampung, Menurut antaranews.com edisi 29 Januari 2016, Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi Lampung tahun 2016 menargetkan peningkatan produksi ikan konsumsi sebesar 23
persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kebutuhan
ikan lele besar

Stok ikan Peluang


lele tidak
mencukupi
Usaha yang
sangat
menjanjikan
Teknik Budidaya
mudah dan
ekonomis

Gambar 1. Skema Latar Belakang Pendirian Usaha

Seiring dengan semakin banyaknya peminat lele, seharusnya semakin banyak pula
orang yang berkeinginan untuk membudidayakan ikan lele, akan tetapi yang terjadi di
lapangan justru malah sebaliknya. Hal ini dikarenakan biaya produksi ikan lele tidak cocok
dengan hasil penjualan yang mereka dapatkan, baik dipengaruhi oleh faktor pakan maupun
teknik budidaya konvensional yang dinilai kurang ekonomis. Hal tersebut yang menyebabkan
banyak pengusaha budidaya ikan lele yang memilih untuk mundur. Melihat permasalahan itu,
teknologi budidaya ikan lele kami mampu meminimalisir biaya produksi yaitu penghematan
pakan hingga 30%. Teknik budidaya yang telah kami jalankan ini, terbukti sangat ekonomis
dilihat dari penghematan biaya pakan sehingga dapat memperoleh keuntungan yang sangat
besar dengan harga jual pasar sekarang yaitu Rp 15.500-17.000 / kg (harga tengkulak), Rp
20.000 (Harga retail). Oleh karena itu teknologi budidaya ikan lele kami mampu bersaing
dengan para kompetitor usaha.

2
Budidaya Ikan
Lele

Kompetitor Usaha Kami

Menggunakan Teknologi
Metode Biasa Bioflok berbasis Mikrobubble
dan suplemen organik

Penghematan Biaya Pakan


Biaya Pakan Tetap
hingga 30%

Ada Pengurangan Biaya


Biaya Produksi Tinggi
Produksi

Tidak mampu bertahan


Mampu bertahan dengan harga
dengan harga jual saat
jual saat ini
ini

Gambar 2. Skema Kondisi Persaingan Usaha

Faktor terpenting dalam budidaya ikan lele adalah masalah optimasi pakan. Dengan
konsep kami yang melakukan optimasi pakan, sistem bioflok berbasis microbubble dan
suplemen organik rupanya mampu menjadi solusi dan bersaing dengan kompetitor. Kondisi
saat ini harga pakan lele dari pabrik semakin mahal, hal ini membawa dampak pada biaya
budidaya ikan lele yang semakin meningkat. Sedangkan harga jual lele di pasaran tidak
memungkinkan untuk ikut naik karena bersaing dengan harga ikan jenis lain. Oleh karena itu
teknologi kami sangat berpotensi untuk dikembangkan.
Selain itu, saat ini kami telah bekerja sama dengan beberapa tengkulak ikan lele dan
pemilik warung pecel lele yang ada di beberapa kabupaten di Lampung. Kebutuhan mereka
akan ikan lele per bulannya sebesar 30 ton dan kapasitas produksi kami masih 10 ton ikan lele
per bulan, sehingga kami masih belum bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya
kepastian kebutuhan pasar saat ini, kami bermaksud untuk menambah kapasitas produksi ikan
lele dengan mengikuti program Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT)
Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

3
B. TUJUAN DAN SASARAN KEGIATAN
Tujuan dari program ini adalah:
a) Mendampingi tenant Rumah Lele dalam rangka pengembangan usaha melalui program
Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Direktorat Jenderal Penguatan
Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
b) Mengembangkan dan menerapkan teknologi untuk perbaikan proses produksi sehingga
mampu meningkatkan pendapatan,
c) Memberdayakan pembudidaya lokal.
d) Meningkatkan peran LPPM IPB dalam menginkubasi tenant.

C. MANFAAT
Manfaat yang ingin diperoleh adalah :
a) Tumbuh dan berkembangnya tenant rumah lele program Calon Pengusaha Pemula
Berbasis Teknologi (CPPBT) Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset
Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
b) Meningkatkan pendapatan pembudidaya lokal yang menggunakan produk rumah lele
c) Meningkatkan peran LPPM dalam menginkubasi tenant
d) Membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar lokasi usaha

4
BAB II. ASPEK PRODUK INOVASI TEKNOLOGI

Ikan lele merupakan salah satu ikan konsumsi yang digemari masyarakat Indonesia.
Produksi ikan lele pada tahun 2014 sebesar 613.120 ton dan mengalami peningkatan 12.75% dari
tahun sebelumnya (KKP 2014). Berdasarkan data tersebut, angka produksi nasional ikan lele terus
mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan produksi budidaya lele dengan cara
budidaya super intensif membawa dampak negatif terhadap kualitas lingkungan budidaya yang
kemudian dapat berakibat bagi kesehatan ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh
limbah dari sisa pakan, feses dan sisa metabolisme ikan. Menurut Asaduzzaman et al. (2008),
tingginya penggunaan pakan buatan pada budidaya intensif menyebabkan pencemaran lingkungan
dan peningkatan kasus penyakit. Dengan demikian, semakin tinggi input pakan semakin tinggi
pula akumulasi limbah amonia dalam media budidaya dan bahkan dapat menyebabkan kematian
(Avnimelech 2012).
Nitrogen dalam sistem akuakultur terutama berasal dari pakan buatan yang mengandung
protein tergantung pada kebutuhan dan stadia organisme yang dikultur (Avnimeleeh & Ritvo,
2003). Dari total protein yang masuk ke dalam sistem budidaya, sebagian dikonsumsi oleh
organisme budidaya dan sisanya terbuang ke dalam air. Protein dalam pakan akan dicerna namun
hanya 20-30% dari total nitrogen dalam pakan dimanfaatkan menjadi biomassa ikan (Brune et al.
2003). Katabolisme protein dalam tubuh organisme akuatik menghasilkan ammonia sebagai hasil
akhir dan diekskresikan dalam bentuk ammonia (NH3) tidak terionisasi melalui insang (Ebeling et
al. 2006). Pada saat yang sama, bakteri memineralisasi nitrogen organik dalam pakan yang tidak
termakan dan feses menjadi ammonia (Gross & Boyd, 2000).
Teknologi bioflok adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah limbah budidaya. Bahkan mampu memberi keuntungan lebih karena selain dapat
menurunkan limbah nitrogen anorganik, juga dapat menyediakan pakan tambahan bagi ikan
budidaya sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Teknologi bioflok dapat
dilakukan dengan menambahkan karbon organik ke dalam media pemeliharaan untuk
meningkatkan C/N rasio dan merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof (Crab et al. 2007).
Bakteri heterotrof dapat mengasimilasi dengan cepat total ammonia nitrogen (TAN) dalam
perairan dan dikonversi menjadi protein bakteri jika terdapat C/N rasio yang optimal untuk
pertumbuhannya (Avinemelech 1999). Bakteri heterotrof kemudian akan membentuk bioflok. De
Schryver et al. (2008) menyatakan bioflok merupakan suspensi yang terdapat di dalam air yang
berupa fitoplankton, bakteri, agregat hidup, bahan organik, kation dan sel mati. Dengan demikian

5
bioflok merupakan suatu jenis kultur mikroba campuran yang tumbuh baik pada buangan nitrogen,
dan buangan nitrogen ini didaur ulang menjadi sel muda (Avnimelech 2007), dan dapat digunakan
sebagai nutrisi penting tambahan bagi ikan (Ekasari et al. 2010). Menurut Irianto (2003), spesies
Bacillus subtilis, B. megaterium, dan B. polymyxa merupakan spesies yang dapat digunakan untuk
memperbaiki kualitas air pada kolam pemeliharaan. Pemberian Bacillus sp. dengan metode
suplementasi dalam pakan juga meningkatkan pertumbuhan, respon imun, dan resistensi terhadap
infeksi virus (Widanarni et al. 2014), dan memperbaiki rasio konversi pakan (Widanarni et al.
2012), serta peningkatan kualitas air (Watson et al. 2008). Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan lele (Clarias sp.) dalam budidaya super intensif berbasis
bioflok dengan penambahan probiotik Bacillus sp. Kinerja pertumbuhan ikan lele pada perlakuan
bioflok dengan penambahan probiotik Bacillus sp. 106 CFU ml-1 menunjukkan hasil terbaik
dengan nilai SR 89.33±2.49%, SGR 6.35±0.05%, dan FCR 0.91±0.01.
Microbubble merupakan konsep aerasi kolam yang bertujuan untuk meningkatkan
penyebaran oksigen ke seluruh bagian kolam secara lebih merata. Hal ini dilakukan dengan cara
menghasikan gelembung udara (bubble) dalam ukuran yang lebih kecil dari gelembung pada
umumnya (penjelasan mengenai perbandingan ukuran gelembung ini dapat dilihat pada gambar
5). Gelembung biasa akan pecah dan melepasan oksigen di bagian permukaan kolam. Hal ini
menyebabkan oksigen yang beredar kurang merata pada bagian dalam kolam di mana ikan berada.
Dengan teknologi microbubble, maka gelembung yang dihasilkan berukuran jauh lebih kecil
sehingga mampu bertahan lebih lama melayang di bagian dalam kolam. Gelembung berukuran
kecil ini juga dapat beredar dan terpencar dengan lebih mudah sehingga menghasilkan aerasi yang
lebih baik, karena oksigen yang dihasilkan lebih merata.
Suplemen organik yang kami buat adalah suplemen yang memiliki kandungan protein yang
cukup tinggi sebesar 25-43 % (Makkar, 1996). Adapun kandungan yang lainnya adalah vitamin
A, B1, B2, B3, C, Kalsium, Kalori, Karbohidrat, Tembaga, Lemak, Serat, Besi, Magnesium,
Fosfor, Potasium, Protein, dan Seng. Suplemen organik ini diberikan dalam bentuk campuran
pakan pada dua pekan setelah tebar. Kandungan proteinnya yang tinggi dapat menghemat
pengeluran pakan reguler, karena kandungan proteinnya yang tinggi. Protein merupakan salah satu
unsur paling penting dalam pertumbuhan lele, karena unsur ini menjadi pembentuk daging.
Konsep mengenai suplemen organik ini kami peroleh dari studi literatur / jurnal, dengan tujuan
menemukan makanan tambahan yang mudah dan murah untuk didapat dan kaya akan senyawa-
senyawa esensial.
Selain itu, menurut pendapat konsumen, produk lele kami memilii rasa yang lebih gurih,
empuk dan nikmat (Harjo, 2017). Hal ini dikarenakan budidaya lele kami menggunakan konsep

6
sistem bioflok berbasis microbubble yang mampu mengoptimasi komposisi asam amino pemberi
rasa gurih pada tubuh ikan lele. Ini merupakan keunggulan kami dibandingkan dengan yang lain.
Dari segi tingkat penyakit dan kematian ikan lele, alhamdulillah selama ini kolam kami aman dari
penyakit dan tingkat kematian sangat rendah yakni maksimal 1%. Keunggulan yang lebih menarik
adalah ikan lele kami dapat dipanen pada usia 2 s.d. 2,5 bulan.

Gambar 3. Sistem Bioflok Berbasis Microbubble

Gambar 4. Perbedaan regular bubble dengan microbubble

7
Gambar 5. Ilustrasi perbandingan ukuran regular bubble dengan microbubble

Gambar 6. Gambar Lele Hasil Budidaya


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

8
BAB III. ASPEK PROSPEK DAN POTENSI PASAR

Segmen pasar yang kami tuju adalah tengkulak lele, pedagang ikan lele di pasar, pemilik
warung makan dan warga masyarakat disekitar lokasi usaha kami serta masyarakat daerah-daerah
lain di Tulang Bawang Barat. Kami akan berupaya menjadi suplier tetap mereka dimana kami
akan menjaga kualitas ikan sesuai dengan spesifikasi yang mereka inginkan. Saat ini kapasitas
hasil budidaya kami masih belum besar, sehingga segmen pasar yang kami tuju masih terbatas di
daerah Tulang Bawang barat dan Lampung Utara. Jika usaha kami berkembang pesat, dimana
kapasitas semakin besar, maka kami akan memperluas segmen pasar hingga kota-kota disekitar
provinsi Lampung.
Resiko kompetisi dari produk sejenis dari usaha kami tidak begitu membawa pengaruh
besar karena produk ikan lele dimanapun mempunyai kualitas yang hampir sama, yang
membedakan adalah dari segi biaya produksinya dimana yang mampu menekan biaya produksi
semaksimal mungkin, dia yang mampu bertahan. Strategi budidaya lele merupakan permainan dari
aspek pakan karena jika ingin mendapatkan lele sebesar satu ton, maka pakan yang diperlukan
juga sebesar satu ton. Permasalahan pakan merupakan hal yang kami siasati dimana dengan bekal
teknologi yang kami miliki, maka kebutuhan pakan lele sebesar 30% di awal pembesaran dapat
digantikan dengan makanan tambahan yang dihasilkan dari proses reaksi hasil sistem bioflok
berbasis microbubble. Selain itu limbah yang digunakan pun bisa digunakan untuk memproduksi
makanan tambahan untuk para lele.

KOMPETITOR USAHA KAMI

Pakan berasal dari pabrikan Pakan berasal dari pabrikan + suplemen


organik dan sistem bioflok

massa panen 3-4 bulan massa panen kurang dari 3 bulan

1 kg Lele= 1 kg pelet 1 kg lele = 0,7 kg pelet

Boros biaya pakan Hemat biaya pakan

Untung lebih sedikit untung lebih banyak

Gambar 7. Kerangka Analisis Kompetisi

9
Prospek masa depan usaha kami sangat cerah karena teknologi budidaya kami mudah dan
ekonomis dimana kami menghemat pakan hingga 30%. Jika harga lele di pasar mengalami
penurunan, kami masih bisa bertahan untuk tetap budidaya ikan lele. Berbeda dengan kompetitor
kami, jika harga lele turun maka mereka akan mengalami kerugian besar yang mengakibatkan
gulung tikar. Selain itu, berdasarkan data dan pendapat para pedagang lele bahwa stok lele di
Indonesia masih sangat jauh dari mencukupi. Hal ini tentunya menjadi alasan kuat kami dengan
modal tekun dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya, kami yakin bahwa usaha kami akan
berhasil. Dengan biaya produksi yang murah dan kualitas dari produk kami sesuai dengan
spesifikasi yang diminta oleh konsumen, kami optimis bisa bersaing dengan kompetitor.

Gambar 8. Gambar Lele Hasil Budidaya


Kami berharap dengan adanya program pemberian dana CPPBT ini, kami dapat melakukan
pengembangan usaha dengan memperbanyak kolam sehingga kapasitas produksi kami dapat
bertambah.

10
BAB IV. RENCANA KEGIATAN

Tabel 2. Rencana Kegiatan

Target Luaran Durasi Kegiatan


Nama Kegiatan Rincian Kegiatan
(Terukur) (Dalam Bulan)
Workshop Sistem Kurikulum Tenant dan tenaga Bulan ke 1 pekan ke 1
Bioflok Berbasis a. SOP pembuatan kerjanya memiliki
Microbubble sistem bioflok presepsi yang sama
berbasis dalam teknologi yang
microbubble akan diaplikasikan
b. SOP pembuatan dalam usahanya
mcrobubble
Workshop pembuatan Kurikulum Tenant dan tenaga Bulan ke 1 Pekan ke 2
suplemen organik a. SOP pembuatan kerjanya memiliki
suplemen organik presepsi yang sama
dalam teknologi yang
akan diaplikasikan
dalam usahanya
Pelatihan manajemen Kurikulum: Tenant dan tenaga Bulan ke 1 Pekan ke 3
usaha dan pemasaran a. Struktur organisasi, kerjanya memiliki
konsep presepsi yang sama
pemberdayaan, dalam teknologi yang
manajemen konflik akan diaplikasikan
b. Survey konsumen, dalam usahanya
SOP manajemen
distribusi, SOP
manajemen kas
Penyediaan sarana dan a. Penyediaan media Kegiatan produksi dapat Bulan ke 1 dan 2
prasarana untuk pertumbuhan dijalankan di bulan ke-2
probiotik
b. Penyediaan
prebiotik
c. Penyediaan bahan
baku suplemen
organik
Penyediaan Fasilitas a. Penyediaan web, a. Mendapatkan Bulan ke 3 s.d. 6
Pemasaran pengelolaan akun konsumsen dan
sosial media, distributor baru
pembuatan bilbord b. Mendapatkan
didepan tempat konsumen dan
usaha, ikut expo distributor tetap
b. Penambahan staff c. Mendapatkan
IT, Promosi dan Investor baru
expo
Pengurusan legalitas Pembuatan legalitas Asepek legal dapat Bulan ke 3
usaha dan jaminan usaha dalam bentuk didapatkan pada bulan
mutu CV, pembuatan ke-4
sertifiaksi halal
Pelatihan Upgrading tim Tim Semakin Solid Bulan ke 2,4 dan 6

11
BAB V. RENCANA PENGGUNAAN ANGGARAN

Dalam penyusunan rencana penggunaan anggaran usaha rumah lele ini, yang menjadi tujuan
kami adalah meningkatkan produksi rumah lele dengan menekan biaya produksi dan pakan dengan
cara penggunaan sistem bioflok berbasis microbubble dan penambahan suplemen organik pada
pakan sehingga biaya pakan bisa ditekan 30 %.

Tabel 3. Rencana Penggunaan Anggaran


Uraian Kegiatan Satuan Jumlah Harga Jumlah (Rp)
No
Satuan (Rp)
Bahan Habis Pakai
1 Benih Lele 3-5 cm Ekor 300.000 150,- 45.000.000,-
2 Pakan Kg 21000 9.300,- 195.300.000,-
3 Obat dan Probiotik Bulan 20 25.000,- 500.000,-
4 Perlengkapan Kolam Unit 15 30.000,- 450.000,-
5 Perangkat Sistem Bioflok Unit 25 500.000,- 8.500.000,-
Jumlah 253.750.000,-
Bahan Promosi
6 Pembuatan Papan Usaha Unit 1 1.000.000,- 1.000.000,-
7 Pembuatan X Banner Buah 2 150.000,- 300.000,-
8 Mengikuti Pameran Bulan 2 2.000.000,- 4.000.000,-
Jumlah 5.300.000,-

9 Coaching Bulan 3 2.000.000,- 6.000.000,-


10 Perjalanan Dinas Bulan 3 1.500.000,- 4.500.000,-
11 Penyusunan Laporan 3.000.000,- 3.000.000,-
Jumlah 13.500.000,-
Jumlah Total 272.550.000,-
Catatan :
Asumsi yang digunakan adalah dengan basis hasil panen 30 ton/ 3 bulan, dibutuhkan benih
300.000 ekor. Pakan pelet dihitung selama dua bulan saja karena sudah dibantu dengan pakan
probiotik sistem bioflok berbasis microbubble yang dapat menekan biaya pakan hingga 30 %.
Asumsi panen selama 3 bulan.

12
LAMPIRAN

13
Lampiran 1. Jadwal Kegiatan

No Nama Kegiatan Bulan ke-


1 2 3 4 5 6 7
1 Workshop Sistem Bioflok berbasis microbubble
2 Workshop Pembuatan suplemen organik
4 Pelatihan manajemen usaha dan pemasaran
5 Penyediaan sarana dan prasarana
6 Penyediaan fasilitas pemasaran
7 Pengurusan legalitas izin usaha dan jaminan mutu
6 Pelatihan
7 Monitoring evaluasi
8 Penyusunan dan penyerahan laporan kemajuan
9 Penyusunan dan penyerahan laporan akhir

14
Lampiran 2. Sertifikasi/Perizinan/Hasil uji yang sudah ada

Hasil Analisis Proximat Bioflok (dalam % bobot kering)

Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata
(P<0,05) (A) Perlakuan dosis 102 CFU ml-1; (B) Perlakuan dosis104 CFU ml-1;(C)
Perlakuan dosis 106 CFU ml-1; (K+) Kontrol Positif; BETN (Bahan ekstrak tanpa nitrogen);
SK : Serat Kering (Yusup, 2015).

15
Lampiran 3. SK Penetapan LPPM

16
17
Lampiran 4. Profil Tim Pelaksana
Curriculum Vitae

Nama : Arief Mulyawan


Tempat / Tanggal lahir : Dayamurni, 10 Maret 1993
Alamat : RT 05 RK 05, Desa Daya Asri, Kec. Tumijajar,
Kab. Tulang Bawang Barat, Lampung
Daerah Asal : Lampung

Riwayat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jurusan Tahun
SD Negeri 01 Daya Asri 1998-2004
SMP Negeri 01 Tumijajar 2004-2007
SMA Negeri 01 Tumijajar IPA 2007-2010
S1 UNDIP Teknologi Hasil Perikanan 2010-2014
Pascasarjana IPB Ilmu Pangan 2015-Sekarang

Pengalaman Organisasi
Nama Organisasi Tahun Jabatan
Himmpas IPB 2016 Ketua Umum
Forsi Himmpas Indonesia 2017 Ketua Umum

Prestasi
 Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud Tahun 2015

Pelatihan
 Pelatihan Ekspor Tahun 2017

18
Curriculum Vitae
Nama : SyafiqAlfikri
Tempat / Tanggal lahir : Pangean / 17 Februari 1990
Alamat : Perum Darmaga Regency Blok A3
Daerah Asal : Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir – Riau

Riwayat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jurusan Tahun Nilai/IPK
SD Muhammadiyah 026 Tembilahan 1996-2002 92,82
SMP Negeri 3 Tembilahan 2002-2005 24,50
SMA Negeri 2 Tembilahan Hulu IPA 2005-2008 49,35
Program Diploma IPB Teknologi Industri Benih 2008-2011 3,75
Program Sarjana IPB Agribisnis 2011-2014 3,48

Pengalaman Organisasi
Nama Organisasi Tahun Jabatan
Pramuka 2002 – 2007 Anggota
Osis 2006-2007 Ketua Komisi
Rohis Program Keahlian 2008-2009 Ketua
Rohis Diploma IPB 2009 Sekretaris Umum
Rohis Diploma IPB 2010 Ketua Umum
HIMMPAS (Himpunan 2016 Ketua Departemen
Mahasiswa Muslim Kewirausahaan
Pascasarjana) IPB

Prestasi
 Mahasiswa Terbaik Program Keahlian Teknologi Industri Benih tahun 2010
 Ketua Panitia Terbaik Forum Rohis Diploma IPB Tahun 2009
 Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud Tahun 2016

Pelatihan
 Pelatihan Internet Marketing SB1M Tahun 2015
 Pelatihan Ekspor Tahun 2017

Kegiatan Kewirausahaan
 Usaha peternakan ayam broiler tahun 2012-2013

19
Lampiran 5. Foto Pelaksanaan Kegiatan Pembuatan Prototipe

a. Kolam Lele Permanen Tengah

b. Kolam Lele Permanen Pinggir Kanan

c. Kolam Lele Permanen Pinggir Kiri

20
d. Kolam Lele Permanen Paling Ujung

e. Kolam Lele Tanah

f. Menjaring Ikan Lele di Kolam

21
g. Area untuk Pengembangan Budidaya dengan Luas 22 m x 50 m

h. Area Pengembangan BudidayaSsiap Eksekusi

i. Ikan Lele Siap Panen

22