Anda di halaman 1dari 26

ANALISIS HAZARD DI INDUSTRI OTOMOTIF

Diajukan untuk emenuhi salah satu tugas mata kuliah Keselamatan Pasien dan Keselamatan
Kerja Keperawatan

Dosen Pengampu :

N.s. Asmadi M.Kep Sp.Kom

Disusun Oleh :

Andhini Gumiwng Distyanto (CKR0180082)

Ficka Khotimah (CKR0180091)

Khotimah Nurlaela (CKR0180097)

Muhamad Gari Akbar (CKR0180101)

Reza Romdona (CKR0180106)

Syamsul Nizar Aminudin (CKR0180112)

Kelas :

Keperawatan Reguler C

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN


Jl. Lkr. Bayuning No.2, Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat 45561

2019
1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Analisis Hazard di
Industri Otomotif”.

Penulis menyadari sepenuhnya akan kekurangan dan keterbatasan dalam makalah


ini,maka dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati penulis mengharap kritik dan saran yang
membangun sehingga dapat melengkapi kesempurnaan makalah ini.

Banyak pihak yang telah turut memberikan motivasi dan bantuan serta bimbingan yang
penulis terima selama proses penulisan makalah ini..Semoga Allah yang Maha Esa memberikan
kekuatan dan melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya atas segala yang telah kita lakukan.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis
khususnya maupun pembaca pada umumnya,amiin.

Kuningan, 17 Desember 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................................ .ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .................................................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................... 3

1.3. Tujuan Penullisan.................................................................................................................3

1.4. Manfaat Penulisan…………………………………………………………………………4

BAB II PEMBAHASAN......................................................................................................... 5

2.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri Otomotif………………………………….5

2.2. Jenis-jenis Hazard di Industri Otomotif…………………………………………………..6

2.3. Pengendaian Hazard di Industri Otomotif………………………………………………..8

2.4. Pengaruh Pengendalian Hazard Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan………………20

BAB III PENUTUP.................................................................................................................22

3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................22

3.2 Saran....................................................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di era globalisasi yang berkembang pesat dewasa ini, bidang industri merupakan salah
satu pilar pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kemajuan suatu negara sangat bergantung
pada perkembangan industrinya, baik industri dalam skala besar (nasional) maupun industri
dalam skala kecil (regional). Salah satu industri yang sedang gencar-gencarnya di
kembangkan sekarang adalah industri otomotif. Penerapan industri otomotif sangat penting
bagi suatu perusahaan industri lainnya, sebab dengan adanya industri otomotif ini segala
kerusakan sistem yang terjadi dapat dengan mudah di deteksi. Hal ini tentunya akan
memberikan efisiensi waktu dan biaya dalam suatu perbaikan sistem yang rusak pada
perusahaan industri yang bersangkutan.

Industri otomotif merupakan salah satu lingkungan kerja yang memiliki jenis bahaya
kesehatan yang beragam, mulai dari faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial.1
Berbeda halnya dengan bahaya keselamatan, dampak bahaya kesehatan tidak dapat langsung
terlihat. Penyakit yang diakibatkan oleh bahaya kesehatan lebih banyak berkontribusi dalam
kematian dibandingkan dengan bahaya keselamatan.

Hal ini terlihat dari data InternationalLabour Organization (ILO) yang


menyatakanbahwa setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh karena
penyakit atau yang disebabkan oleh pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta
kecelakaan, dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan
terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya.2 Sementara data
dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), setiap tahun di dunia terjadi
270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja.3Dengan melihat
angka kejadian tersebut, perlu adanya upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya
penyakit akibat kerja pada pekerja, salah satunya adalah dengan melakukan penilaian risiko
kesehatan. Penilaian risiko kesehatan terdiri dari identifikasi bahaya, penilaian exposure,
penilaian risiko, serta penentuan prioritas tindakan pengendalian terhadap bahaya.

1
Berdasarkan studi literatur, bahaya kesehatan yang dapat muncul di lingkungan kerja
industry otomotif yaitu bising dan getaran untuk faktor fisik, penggunaan thinner pada proses
pengecatan untuk faktor kimia, sanitasi lingkungan untuk faktor biologi, dan adanya bahaya
ergonomi, serta stress kerja untuk faktor psikosial. Bahaya yang dapat muncul di lingkungan
kerja memiliki batasan yang perlu diperhatikan, yang sering disebut Nilai Ambang Batas
(NAB). Nilai Ambang Batas (NAB) untuk setiap bahaya pun berbeda-beda berdasarkan
regulasi yang telah ditetapkan suatu negara.Setiap bahaya yang ada di lingkungan kerja tidak
diperbolehkan melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah ditentukan karena sangat
berbahaya bagi kesehatan pekerja. Menjamin kesehatan pekerja berbanding lurus dengan
meningkatnyaproduktivitas kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
Untuk mencapai hal tersebut, perlu adanya pengendalian khusus untuk menangani bahaya-
bahaya yang ada di lingkungan kerja. Namun, sebelum menetapkan pengendalian bahaya
yang tepat perlu dilakukannya penilaian risiko.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (Sistem Manajemen K3) merupakan bagian dari sistem manajemen secara
keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan,
pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat
kerja yang aman, efisien dan produktif.

K3 itu sendiri bertujuan untuk melindungi hak-hak pekerja akan keselamatan bekerja,
penyakit dalam bekerja yang disebabkan oleh lingkungan tenpat bekerja. Sistem Manajemen
K3 wajib diterapkan oleh setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100
orang atau lebih; perusahaan yang mempunyai potensi bahaya yang ditimbulkan oleh
karakteristik proses atau bahan yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan,
kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja.

Berdasarkan Pasal 4 Permenaker tentang Sistem Manajemen K3, terdapat 5 (lima)


ketentuan yang harus perusahaan/pengusaha laksanakan, yaitu: (a) menetapkan kebijakan

2
keselamatan dan kesehatan kerja dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem
Manajemen K3; (b.) merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan
keselamatan dan kesehatan kerja; (c) menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang
diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja;
(d.) mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja serta
melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan; (e.) meninjau secara teratur dan
meningkatkan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan
meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

Di dunia otomotif banyak sekali benda-benda berbahaya seperti mesin, dan benda-
benda berputar lainnya yang sangat berbahaya bagi pekerja jika tidak diperhatikan. Benda
tersebut sering ditemukan di bengkel-bengkel otomotif, jadi kaitannya bengkel otomotif dan
bahaya kecelakaan sangat erat, jika sistem K3 tidak diterapkan di bengkel otomotif, maka
kemungkinan kecelakaan kerja akan besar. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sistem
K3 yang ada pada bengkel otomotif.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di industri
otomotif?
2. Apa saja jenis hazard yang ditimbulkan oleh industri otomotif?
3. Bagaimana pengendalian hazard di industri otomotif?
4. Apakah pengendalian hazard di industri otomotif dapat mempengaruhi produktivitas
kerja karyawan?

1.3. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka makalah ini bertujuan :
1. Mahasiswa mampu memahami bahwa industri otomotif dapat menimbulkan hazard
2. Mahasiswa mampu mengetahui jenis hazard yang bias timbul di industri otomotif
3. Mahasiswa mampu mengetahui cara pengendalian hazard di industri otomotif
4. Mahasiswa bisa menyimpulkan pentingnya hazard di industri otomotif dan
pengaruhnya terhadap produktvitas kerja karyawan

3
1.4. Manfaat Penulisan

Dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan akan
adanya hazard di industri otomotif, baik jenis hazard, pengaruh hazard terhadap produktivitas
kerja karyawan, serta bagaimana cara pengendalian hazard yang paling tepat di Industi
Otomotif.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja di industri otomotif


Disetiap tempat kerja atau industri tentunya terdapat suatu standar K3 yang diterapkan
untuk melindungi setiap pekerja yang bekerja di tempat kerja tersebut.
K3 atau kependekkan dari kata Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan sebuah prinsip
untuk melindungi keselamatan dan kesehatan semua pekerja yang sedang melaksanakan
suatu pekerjaan agar terhindar dari kecelakaan dan penyakit kerja, serta agar membuat
pekerjaan dapat berjalan dengan efisien dan aman.
Di dalam K3 terdapat kata keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat diartikan sebagai
berikut :
1. Keselamatan (safety) dalam bekerja dapat diartikan segala upaya yang dilakukan
untuk melindungi pekerja, orang lain, peralatan kerja, bahan kerja dan tempat kerja.
2. Kesehatan (health) dalam bekerja dapat diartikan sebagai segala upaya yang
dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit, mencegah kelelahan kerja dan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Kecelakaan kerja mungkin saja bisa terjadi walaupun kita sudah bekerja dengan hati-hati.
Namun jika semua aspek K3 tidak terpenuhi bisa saja terjadi. Keselamatan dan Kesehatan
Kerja/K3 adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi
pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau
tempat kerja tersebut. Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk
mencegah setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan
kecelakaan.
Keselamatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan, baik
jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya dan budayanya tertuju pada
kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya. Begitu pula di
otomotif keselamatan kerja mekanik harus diperhatikan.
Keselamatan dan kesehatan kerja otomotif, merupakan satu kesatuan yang menjadiisu
penting didalam percaturan dunia modern, didalam terkandung dua disiplin ilmuyang saling

5
melengkapi yaitu ilmu teknik dan kedokteran. Tanpa teknologi dan perilakupekerja yang baik
dan benar serta dapat menyebabkan kecelakaan yang dahsyat bahkanmenimbulkan kematian.

2.2 Jenis jenis hazard industri otomotif


1. Potensi hazard lingkungan fisik

Potensi bahaya fisik, yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan sebagian
permasalahan kesehatan pada tenaga kerja yang terserang, umpamanya: terserang kebisingan
intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang memenuhi,
getaran, radiasi. Potensi hazard lingkungan fisik ini meliputi kebisingan. Nilai ambang batas
untuk kebisingan yakni 85 dB untuk 8 jam pemajanan, 90 dB untuk 4 jam pemajanan, 95 dB
untuk 2 jam pemajanan, dan sebagainya.

Sumber kebisingan yang ada ada pada saaat pekerja menyalakan mesin motor yang
mengakibatkan ruang itu jadi bising. Tipe kebisingan ini termasuk juga intermittent noise
atau kebisingan yang terputus-putus dan besarnya bisa berubah-ubah. Potensi bahaya juga
nampak pada asap knalpot yang bertebaran sampai berisiko mengenai mata atau terhirup
lewat saluran pernafasan.

2. Potensi hazard lingkungan Fisiologis/Ergonomi

Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang karena oleh
aplikasi ergonomi yg tak baik atau tak pas dengan beberapa norma ergonomi yang berlaku,
dalam lakukan pekerjaan dan peralatan kerja, termasuk juga: sikap dan cara kerja yg tidak
pas, pengaturan kerja yg tak pas, beban kerja yg tidak pas dengan kemampuan pekerja
ataupun ketidakserasian pada manusia dan mesin.

Potensi hazard lingkungan fisiologis meliputi ergonomis. Saat lakukan service


pekerja yang lakukan pekerjaan itu pada posisi berdiri tidak ada kursi terlebih di lebih dengan
suara bising dari kendaraan. Posisi duduk bisa mengakibatkan sakit punggung karena tampak
pada posisi duduk pekerja itu membungkuk tidak ada kursi.

6
3. Potensi hazard lingkungan Kimia

Potensi bahaya kimia, yaitu potensi bahaya yang datang dari sebagian bahan kimia
yang digunakan dalam system produksi. Potensi bahaya ini bisa masuk atau merubah tubuh
tenga kerja lewat : inhalation (lewat pernafasan), ingestion (lewat mulut ke saluran
pencernaan), skin contact (lewat kulit). Terjadinya efek potensi kimia pada tubuh tenaga
kerja begitu tergantung dari tipe bahan kimia atau kontaminan, bentuk potensi bahaya debu,
gas, uap. asap ; daya acun bahan (toksisitas) ; cara masuk dalam tubuh.

Potensi bahaya yang nampak saat lakukan perubahan oli dan tak menggunakan
sarung tangan lantas berlangsung ingestion (lewat mulut ke saluran pencernaan) dan
berlangsung kerancuan pada tipe kimia itu (oli).

4. Potensi hazard lingkungan biologi

Potensi bahaya tipe ini adalah potensi bahaya yang ditimbulkan dari faktor makhluk
hidup. Pada umumnya berkaitan erat dengan faktor kebersihan tempat kerja, dimana apabila
tempat kerja tidak bersih maka akan terdapat banyak bakteri penyakit.

Contohnya pada saat lingkungan kerja yang tidak bersih seseorang/pekerja bisa
terserang beberapa penyakit seperti flu, batuk, alergi, infeksi dan beberapa penyakit lainnya
yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun jamur.

5. Potensi bahaya psikologis (hazard psikologis)

Potensi bahaya tipe ini adalah potensi bahaya yang dapat disebabkan karena adanya
konflik di dalam lingkungan kerja.

Contohnya, apabila seorang pekerja sedang memiliki masalah di dalam keluarganya


dan ketika dia bekerja selalu memikirkan masalah tersebut, maka ketika dia bekerja akan
menjadi tidak fokus terhadap pekerjaannya sehingga akan menimbulkan potensi bahaya.

7
2.3 Pengendalian hazard di industri otomotif

Berikut adalah prosedur K3 yang harus diketahui dan diterapkan di tempat kerja,
terutama di bengkel otomotif.

1) Mematuhi peraturan perundang-undangan (UU No 1 tahun 70 tentang keselamatan dan


kesehatan kerja, UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan kerja dan UU no 13 tahun 2003
tentang ketenagakerjaan).
2) Mematuhi peraturan K3 yang diberlakukan diperusahaan.
3) Menganalisis kondisi lingkungan kerja.
4) Menganalisis kondisi peralatan dan perlengkapan kerja, termasuk penggunaannya
sesuai dengan fungsinya.
5) Menjaga lingkungan kerja tetap bersih dan rapih (5 S)
6) Bekerja sesuai prosedur (SOP).
7) Tersedianya alat keselamatan kerja dan terampil dalam penggunaannya.

1. Prosedur 5S
Bagi anda yang pernah berinteraksi dengan dunia industri tentunya tidak asing dengan
istilah 5S. Industri yang menerapkan program 5S akan terlihat bersih dan teratur. Mereka
berpikir keadaan yang berantakan akan menyembunyikan masalah. Program 5S dipandang
sebagai usaha untuk memunculkan masalah yang selama ini tersembunyi dari para pemecah
masalah (problem solver).
5S adalah kunci utama dilingkungan kerja untuk membantu mewujudkan pekerjaan dapat
dilakukan dengan cepat, benar dan aman.
Saat ini, program 5S telah banyak diadopsi oleh berbagai industri di berbagai negara.
Popularitas 5S ini tak lepas dari kesuksesan industri Jepang yang selama ini memusatkan
perhatiannya terhadap pengurangan segala pemborosan (waste). 5S adalah landasan untuk
membentuk perilaku manusia agar memiliki kebiasaan (habit) mengurangi pembororsan di
tempat kerjanya.

Program 5S pertama kali diperkenalkan di Jepang sebagai suatu gerakan kebulatan tekad
untuk mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan
kondisi yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk

8
melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke). Masing-masing S dalam 5S beserta
penjelasannya dijelaskan di bawah ini.

SEIRI

Seiri merupakan langkah awal implementasi 5S, yaitu: pemilahan


barang yang berguna dan tidak berguna:
 Barang berguna => Disimpan
 Barang tidak berguna => Dibuang
Dalam langkah awal ini dikenal istilah Red Tag Strategy, yaitu
menandai barang-barang yang sudah tidak berguna dengan label merah
(red tag) agar mudah dibedakan dengan barang-barang yang masih
berguna. Barang-barang dengan label merah kemudian disingkirkan
dari tempat kerja. Semakin ramping (lean) tempat kerja dari barang-
barang yang tidak dibutuhkan, maka akan semakin efisien tempat kerja
tersebut.

SEITON

Seiton adalah langkah kedua setelah pemilahan, yaitu: penataan barang


yang berguna agara mudah dicari,
dan aman, serta diberi indikasi.
Dalam langkah kedua ini dikenal istilah Signboard Strategy, yaitu
menempatkan barang-barang berguna secara rapih dan teratur
kemudian diberikan indikasi atau penjelasan tentang tempat, nama
barang, dan berapa banyak barang tersebut agar pada saat akan
digunakan barang tersebut mudah dan cepat diakses. Signboard
strategy mengurangi pemborosan dalam bentuk gerakan mondar-
mandir mencari barang.

SEISO

9
Seiso adalah langkah ketiga setelah penataan, yaitu: pembersihan
barang yang telah ditata dengan rapih agar tidak kotor, termasuk
tempat kerja dan lingkungan serta mesin, baik mesin yang breakdown
maupun dalam rangka program preventive maintenance (PM).
Sebisa mungkin tempat kerja dibuat bersih dan bersinar seperti ruang
pameran agar lingkungan kerja sehat dan nyaman sehingga mencegah
motivasi kerja yang turun akibat tempat kerja yang kotor dan
berantakan.

SEIKETSU

Seiketsu adalah langkah selanjutnya setelah seiri, seiton, dan seiso,


yaitu: penjagaan lingkungan kerja yang sudah rapi
 dan bersih menjadi
suatu standar kerja. Keadaan yang telah dicapai dalam proses seiri,
seiton, dan seiso harus distandarisasi. Standar-standar ini harus mudah
dipahami, diimplementasikan ke seluruh anggota organisasi, dan
diperiksa secara teratur dan berkala.

SHITSUKE

Shitsuke adalah langkah terakhir, yaitu penyadaran diri akan etika


kerja:
1. Disiplin terhadap standar
2. Saling menghormati
3. Malu melakukan pelanggaran
4. Senang melakukan perbaikan

Suksesnya 5S terletak pada sejauhmana orang melakukan 5S sebagai suatu kebiasaan (habit)
bukan paksaan sehingga inisiatif perbaikan akan muncul dengan sendirinya. Di bawah ini adalah
hal-hal penting yang diperlukan untuk pelaksanaan program 5S di tempat kerja.

10
 Membutuhkan keterlibatan/partisipasi semua orang dalam organisasi dari level atas
sampai level bawah.

 Membutuhkan komitmen manajemen untuk memastikan kegiatan 5S dilakukan setiap


hari dan dianggap sebagai prioritas.

 Merubah perspektif semua orang dalam organisasi bahwa 5S lebih dari sekedar program
kebersihan maupun housekeeping management.

 Menerapkan 5S secara konsisten untuk perubahan budaya.

 Menggunakan sistem visual display untuk mengkomunikasikan aktivitas 5S secara


efektif.

 Melakukan audit 5S secara teratur (mingguan, bulanan, dan surprise audit) untuk menilai
performance.

 Membutuhkan edukasi tentang konsep dan keuntungan aktivitas 5S.

2. Alat Keselamatan Kerja

Dengan mengetahui alat keselamatan kerja dan alat pendukung keselamatan kerja
serta cara penggunaannya, mungkin akan meminimalisir terjadinya kecalakaan kerja. Berikut
adalah alat keselamatan kerja yang harus selalu ada di industri terutama dibengkel otomotif.

a. Alat Pemadam Kebakaran

Digunakan untuk memadamkan api yang menyebabkan terjadinya kebakaran. Dibengkel


otomotif terutama, sangat besar kemungkinan terjadinya kebakaran, karena banyak bahan-bahan
yang mudah terbakar seperti bahan bakar, oli/pelumas, lap bekas membersihkan tumpahan bahan

11
bakar/oli, cairan pembersih yang mengandung alkohol, dll. Penyebab terjadinya kebakaran juga
banyak, diantaranya percikan api akibat terjadi korslet (hubungan singkat), terbukanya sirkuit
kelistrikan, kabel tegangan tinggi yang terendam oli/air, salah dalam menggunakan mesin
charging, kecerobohan teknisi (merokok ketika bekerja, membuang puntung rokok sembarangan,
ketika mengerjakan sistem kelistrikan tidak mencabut negatif baterai, dll).

Alat pemadam kebakaran banyak jenisnya disesuaikan dengan kelas-kelas api dan media
pemadamannya, yakni:

Kelas Jenis Api Media


Pemadaman

Kelas “A” Api Pejal (Solid Fire) Air dan Debu


Kering (Pasir)
1) Api Kayu

2) Api Kertas

3) Api Sampah

4) Api Kain

Kelas “B” Api Cair (Liquid Fire) Buih, Debu Kering


(Pasir), dan
1) Api Minyak
Varpourising
2) Api Cat Liquid

3) Api Varnish

Kelas “C” Api Uap dan Gas (Gas & Steam Fire) Debu Kering
(Pasir),
1) Butana
Karbondioksida
2) Propane (CO2), dan
Varpourising
3) Oxy Acetyline
Liquid

12
4) Gas (LPG)

Kelas “D” Api Logam (Metal Fire) Soda Ash, Pasir/


Debu Kering,
1) Potaosium
Mantel dan
2) Sodium Powder

3) Kalsium

4) Magnesium

Api Elektrik Debu Kering,


Karbondioksida
(CO2) dan
Vapourising
Liquid

b. Pakaian Kerja

13
Untuk mencegah kecelakaan, pilih pakaian kerja yang kuat dan dapat memudahkan pekerjaan.
Hindari pakaian kerja yang memperlihatkan sabuk, gesper, dan kancing yang dapat merusak
kendaraan saat bekerja.

Sebagai tindakan pengamanan terhadap kemungkinan cidera atau terbakar, jangan


memperlihatkan kulit secara terbuka.

c. Sepatu Kerja

Pastikan untuk selalu mengenakan sepatu kerja (safety shoes) saat bekerja, untuk menghindari
bahaya tergelincir, dan cidera kaki karena adanya benda yang terjatuh.

d. Sarung Tangan Kerja

Saat mengangkat benda atau melepas pipa knalpot yang panas atau benda serupa, kenakanlah
sarung tangan. Namun untuk pekerjaan seperti menggunakan mesin bor, mesin gerinda, jangan
sekali-kali menggunakan sarung tangan, hal ini akan menyebabkan terjadinya kecelakaan.

14
e. Pelindung Kepala

Pelindung kepala (helm) digunakan untuk melindungi kepala agar tidak cidera akibat ada benda
yang jatuh atau kitanya yang jatuh.

f. Pelindung Mata

Pelindung mata (googles) digunakan untuk melindungi mata dari serpihan-serpihan kecil pada
saat bekerja, seperti mengebor, menggerinda, dll. Atau dari cahaya yang keluar pada saat
mengelas. Sehingga mata bisa terbebas dari cidera yang mengakibatkan kebutaan.

g. Pelindung Telinga

Pelindung telinga digunakan untuk melindungi telinga kita dari gangguan pendengaran yang
berdampak pada ketulian, yakni pada saat bekerja diarea yang tingkat kebisingannya melebihi
standar, seperti mengebor, menggerinda, dll.

15
h. Himbauan/ Rambu-rambu

Perhatikan himbauan/ rambu-rambu tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang terpasang
dibengkel (tempat kerja) dan lingkungan sekitarnya, dan juga harap perhatikan himbauan
lainnya. Himbauan/rambu-rambu tersebut dipasang didaerah tertentu, karena sudah melalui hasil
analisis mengenai K3.

4. Keselamatan Kerja di Bengkel Otomotif

Keselamatan dan kesehatan kerja terdiri dari 5 (lima) aspek yang perlu diperhatikan selama
bekerja, yakni sebagai berikut:

(1) Kondisi lingkungan bengkel otomotif (tempat kerja)

Dalam penerapan konsep keselamatan kerja, satu hal yang harus kita perhatikan adalah
bagaimana lingkungan kerjanya. Kita harus memahami lingkungan kerja kita sebelum kita
menerapkan keselamatan kerja, bengkel otomotif merupakan lingkungan kerja dengan spesifikasi
kondisi yang khusus.

16
Di bengkel ini, kita mendapati banyak kondisi yang dapat menyebabkan kecelakaan
kerja. Setiap kondisi dan alat serta bahan yang kita pergunakan pada saat bekerja harus kita
sesuaikan dengan kebutuhannya, misalnya bahan yang mudah terbakar, bahan yang licin, tajam,
dan sebagainya. Hal ini harus kita perhitungkan sebagai aspek keselamatan kerja yang akan kita
terapkan.

Jika kita mampu menganalisa kondisi lingkungan kerja, maka kita dapat memberikan antisipasi
penanganan yang tepat. Antisipasi penanganan yang tepat ini dimaksudkan untuk menyediakan
sarana keselamatan kerja yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini hanya dapat kita lakukan
jika kita benar-benar mengenali segala aspek yang ada di lingkungan kerja. Setiap aspek yang
dapat menyebabkan kecelakaan kerja harus kita sediakan sarana keselamatan yang tepat.

Kondisi fisik dari lingkungan kerja perlu diperhatikan, sebab hal tersebut merupakan salah satu
cara yang dapat ditempuh untuk menjamin agar tenaga kerja dapat melaksanakan tugas tanpa
mengalami gangguan.

Kondisi fisik dari lingkungan kerja misalnya temperatur, kelembaban udara, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, yang berpengaruh terhadap hasil kerja.

(2) Alat Keselamatan Kerja di Bengkel Otomotif

a. Alat Pemadam Kebakaran

b. Pakaian Kerja

c. Sepatu Kerja

d. Sarung Tangan Kerja

e. Kacamata

f. Topi

g. Himbauan

17
(3) Bekerja dengan Aman dan Rapi

Bekerja dengan aman dan rapi antara lain dengan menjaga agar tempat kerja selalu bersih, dan
saat pekerjaan selesai kembalikan segala sesuatunya dengan teratur, suku cadang bekas harus
dikumpulkan dalam kantong plastik untuk selanjutnya dibuang atau dikembalikan ke pelanggan
(customer), memarkir kendaraan yang akan diperbaiki di dalam garis stall, jangan sampai keluar
karena akan mengganggu kendaraan lain, tidak menempatkan sesuatu di tengah jalan atau pintu
masuk walaupun untuk sementara, karena akan mengganggu mobil keluar atau masuk, tidak
meninggalkan kunci atau suku cadang di lantai, dimana dapat menyebabkan anda atau orang lain
tersandung atau terpeleset, biasakan menempatkan mereka pada pada caddy atau meja kerja,
membersihkan dengan segera setiap bahan bakar, oli atau gemuk yang tertumpah, membersihkan
alat-alat atau SST yang telah dipakai. (Ingat 5S)

(4) Menangani Kendaraan pelanggan

 Selama bekerja, pakailah selalu fender cover, seat cover, dan floor cover agar tidak
merusak atau mengotori kendaraan.

 Jagalah selalu kebersihan fender cover dan seat cover.

 Oli atau gemuk yang ada pada tangan atau alat-alat anda dapat mengotori kendaraan.
Karena itu tangan dan alat-alat harus dijaga agar tetap bersih.

 Jangan sekali-kali memasukkan benda yang tajam seperti obeng ke dalam kantong baju
karena dapat merusak kendaraan dan melukai anda sendiri misalnya anda terjatuh.

 Bersihkan selalu minyak dan oli yang tertumpah sehingga kendaraan tidak dalam
keadaan kotor. Jika oli yang tertumpah dibiarkan begitu saja, langganan akan mengira
terdapat kebocoran pada kendaraannya, lalu membawanya kembali ke bengkel.

 Apabila kendaraan tertumpah minyak rem, jangan mengelap tumpahan karena dapat
merusak cat. Cara menanganinya adalah dengan memberi air pada tempat yang tertumpah
minyak rem.

18
(5) Perilaku didalam bengkel

a. Jangan meninggalkan peralatan dan komponen dilantai karena orang lain dapat tersandung
karenanya.

b. Bersihkan tumpahan bahan bakar, oli atau stemplet dengan segera untuk mencegah agar tidak
ada yang tergelincir dilantai.

c. Jangan bekerja dengan posisi tubuh yang tidak nyaman. Hal ini tidak hanya mempengaruhi
efisiensi kerja, juga dapat menyebabkan terjatuh atau cidera.

d. Berhati-hatilah saat menangani benda-benda yang berat, karena anda dapat terluka bila
benda-benda tersebut menjatuhi kaki anda, atau punggung anda bisa cidera.

e. Jangan merokok saat bekerja terutama jika sedang bekerja dekat switch, papan switch, motor
listrik, perawatan sistem bahan bakar, motor listrik, baterai yang sedang diisi, dll.

f. Peralatan kelistrikan, hidrolik dan pneumatik dapat menyebabkan cidera serius bila tidak
digunakan dengan benar. Baca buku petunjuk penggunaannya.

g. Kenakan kacamata pelindung sebelum menggunakan peralatan yang menebarkan serpihan-


serpihan kecil.

h. Jangan menggunakan sarung tangan saat bekerja dengan peralatan yang berputar atau saat
bekerja diarea menggerakkan rotasi.

i. Untuk menaikkan kendaraan pada lift, pertama-tama angkatlah ban sampai berada sedikit
diatas permukaan tanah lalu pastikan bahwa kendaraan telah ditopang dengan aman pada lift
sebelum menaikkan kendaraan seluruhnya. Jangan pernah menggoyang kendaraan bila telah
dinaikkan karena kendaraan dapat jatuh dan melukai anda atau orang disekitar anda.

Pada umumnya kecelakaan kerja terjadi karena dua faktor, yakni kecelakaan dikarenakan faktor
manusia dan kecelakaan dikarenakan faktor fisik seperti mesin, peralatan, rendahnya standar
pengamanan peralatan, dan lingkungan kerja yang buruk. Jadi bijaklah dalam bekerja dengan
memperhatikan aspek-aspek keselamatan kerja tersebut.

19
2.4 Pengaruh Pengendalian Hazard Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan
Menurut Riyanto (1986), secara teknis produktivitas adalah suatu perbandingan antara
hasil yang dicapai (out put) dengan keseluruhan sumber daya yang diperlukan (input).
Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran
tenaga kerja persatuan waktu. Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam
memproduksi barang-barang. Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan
tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran dengan jumlah yang
digunakan atau jumlah jam kerja karyawan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah kemampuan
karyawan dalam berproduksi dibandingkan dengan input yang digunakan, seorang karyawan
dapat dikatakan produktif apabila mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan
diharapkan dalam waktu yang singkat atau tepat.
1. Hubungan K3 dengan Produktivitas Kerja

Menurut Simamora (1995), sumber daya manusia merupakan sumber daya paling
penting bagi organisasi kerena mempengaruhi efisiensi dan efektivitas organisasi dan SDM
juga merupakan pengeluaran pokok perusahaan dalam menjalankan bisnis. Oleh karena itu,
SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi.
Untuk kepentingan dalam mengatur SDM, dibutuhkan manajemen SDM itu sendiri.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat pekerja
maupun pengusaha sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat
kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tujuan
dari dibuatnya program K3 adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang benar-
benar menjaga keselamatan dan kesehatan karyawannya dengan membuat aturan tentang
keselamatan dan kesehatan kerja yang dilaksanakan oleh seluruh karyawan dan pimpinan
perusahaan.

Perlindungan tenaga kerja dari bahaya dan penyakit akibat kerja atau akibat dari
lingkungan kerja sangat dibutuhkan oleh karyawan agar karyawan merasa aman dan nyaman
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tenaga kerja yang sehat akan bekerja produktif,

20
sehingga diharapkan produktivitas kerja karyawan meningkat yang dapat mendukung
keberhasilan bisnis perusahaan dalam membangun dan membesarkan usahanya.

2. Klasifikasi Bengkel Otomotif

Menurut Muhammad Iqbal (2004), klasifikasi bengkel otomotif terdiri dari beberapa
jenis, antara lain sebagai berikut :

a Bengkel Resmi

Bengkel resmi merupakan bengkel yang dikelola oleh ATPM (Agen Tunggal Pemegang
Merk) langsung, dan juga ATPM merupakan jalur resmi masuknya mobilmobil buatan
luar negeri ke Indonesia.

b. Bengkel Umum

Bengkel umum juga disebut bengkel non resmi atau non ATPM sebab bengkel umum di
kelola oleh perorangan ataupun organisasi tertentu yang berdiri sendiri dan tidak
bekerjasama dengan pihak ATPM. Bengkel umum juga dapat memperbaiki berbagai
jenis atau merk mobil, hanya saja tidak seperti bengkel ATPM.

c. Bengkel Rekanan Asuransi

Merupakan bengkel yang bekerjasama dengan perusahaan asuransi. Bengkel rekanan juga
letaknya tersebar di berbagai daerah guna menjangkau konsumen asuransi mobil di
berbagai daerah. Hal ini dilakukan perusahaan asuransi guna mempermudah proses klaim
dari berbagai konsumennya. Meminimalkan resiko jarak tempuh yang jauh, maka pada
masa ini perusahaan asuransi telah melakukan kerjasama yang lebih banyak bersama
bengkel rekanan.

21
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Prinsip dasar dalam dalam penerapan K3 dalam dunia industri otomotif adalah bahwa
Industri otomotif merupakan salah satu lingkungan kerja yang memiliki jenis bahaya
kesehatan yang beragam, mulai dari faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial. 1
Berbeda halnya dengan bahaya keselamatan, dampak bahaya kesehatan tidak dapat langsung
terlihat. Penyakit yang diakibatkan oleh bahaya kesehatan lebih banyak berkontribusi dalam
kematian dibandingkan dengan bahaya keselamatan.

Kecelakaan kerja mungkin saja bisa terjadi walaupun kita sudah bekerja dengan hati-
hati. Namun jika semua aspek K3 tidak terpenuhi bisa saja terjadi. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja/K3 adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi
pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat
kerja tersebut. Keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan suatu usaha untuk mencegah
setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat, yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
Keselamatan dan kesehatan kerja otomotif, merupakan satu kesatuan yang menjadiisu penting
didalam percaturan dunia modern, didalam terkandung dua disiplin ilmuyang saling
melengkapi yaitu ilmu teknik dan kedokteran. Tanpa teknologi dan perilakupekerja yang baik
dan benar serta dapat menyebabkan kecelakaan yang dahsyat bahkanmenimbulkan kematian.

Manajemen K3 merupakan sebuah proses yang khas, terdiri dari tindakan-tindakan


perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai keselamatan dan kesehatan para pekerja.

3.2. Saran

Keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting dalam pengelolaan aplikasi yang
berbasis iptek atau penggunan mesin dalam sebuah indutri otomotif. Kecelakaan kerja akan
menimbulkan kerugian ekonomi suatu perusahaan atau negara. Oleh karena itu, keselamatan
dan kesehatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh manajemen perusahaan
tetapi juga dari unsur para pekerja.

22
DAFTAR PUSTAKA

Silalahi, Bennett N.B. [dan] Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen keselamatan dan kesehatan


kerja.[s.l]:Pustaka Binaman Pressindo

http://www.gentook3.net/index.php/2011/12/09/pencegahan-kecelakaan-akibat-kerja-pada-
industri-radiografi.t/ waktu unduh : 10.00 , 17 Desember 2019

http://inihradzhkhan.blogspot.com/2014/05/materi-pdto-keselamatan-dan-kesehatan.html waktu
akses 10.45, 17 Desember 2019

http://ikhaputri97.blogspot.com/2016/11/pengendalian-hazard-dan-risk-di-bengkel-.html?m=1
waktu akses 11.02, 17 Desember 2019

Kontribusi Penerapan Aspek Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Produktivitas
Kerja Mekanik. Diakses pada Selasa 17 D esember 2019. Diunduh dari
http://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/poto/article/view/3442

iii