Anda di halaman 1dari 9

MATERI EDUKASI DAN PELATIHAN UNTUK PASIEN YANG

RENCANA KEPULANGANNYA KOMPLEKS

RSIA KENDANGSARI MERR

JL.Dr.Ir.H.Soekarno No.02 Surabaya


Materi Edukasi Dan pelatihan untuk Pasien Diare
Apakah diare itu?
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar sebanyak 3(tiga) kali atau lebih
dalam sehari dan tinja atau feses yang keluar berupa cairan encer atau sedikit berampas,
kadang juga disertai darah atau lendir.

Apa yang menyebabkan diare?


Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi kuman, racun bakteri, atau obat-obatan.

Bagaimana diare terjadi?


Sebagian besar kejadian diare ditularkan melalui makanan/minuman yang terkontamikasi dan
obat-obatan. Yang perlu diingat adalah:
1. Makanan/minuman dan obat-oabatan yang dikonsukmsi terakhir sebelum terjadi diare,
2. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan air, seperti kemah, berenang, dan lainnya,
3. Jarak Waktu antara makanan/minuman terakhir dan saat terjadinya diare.
Informasi ini sangat dibutuhkan oleh tenaga kesehatan untuk menentukan penyebab diare dan
pengobatannya.

Kapan penderita diare memerlukan bantuan tenaga kesehatan?


1. Jika ditemukan tanda-tanda bahaya diare, yaitu:

 Anak menjadi rewel/gelisah/mudah marah/kesadarannya menurun/tidak sadar dan


atau,
 Mata menjadi lebih cekung dari biasanya,
 Anak merasa haus dan minum dengan lahap atau malas minum atau tidak bisa minum
dan atau,
 Cubitan kulit perut kembalinya lambat/sangat lambat.

2. Jika diare disertai demam tinggi (>38,5 derajat Celcius), nyeri/kram pada perut kiri bawah
dan perasaan BAB tidak tuntas, keinginan untuk BAB terus-terusan atau diare disertai darah.
3. Jika diare memburuk atau berlangsung lebih dari 7-10 hari.

Bagaimana penanganan diare secara mandiri dirumah?


1. Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)

 ASI tetap diberikan bagi anak yang masih menyusu,


 Oralit,
 Larutan gula garam,
 Cairan makanan (air tajin, kuah sayur, atau air matang).
2. Lanjutkan pemberian makanan, untuk penderita dewasa akan lebih nyaman dengan
menghindari:

 Makanan tinggi serat (misalnya nasi padat),


 Makanan/minuman yang terbuat dari susu (misalnya susu, keju) dan kafein (seperti
kopi dan cola).

Cara pembuatan dan pemberian oralit


1. Sediakan air matang 1 gelas (200 cc) dan campurkan 1 bungkus oralit untuk ukuran air 200
cc kemudian aduk sampai larut,
2. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak dibawah umur 2 tahun,
3. Berikan beberapa teguk larutan untuk anak lebih tua,
4. Bila anak muntah, tunggulah 10 menit, kemudian berikan cairan lebih lama (misalnya
sesendok 2-3 menit),
5. Bila diare berlanjut setelah oralit habis, berikan cairan lain seperti air tajin, kuah sayuran,
atau air matang.

Tabel: Pemberian Oralit/LGG setiap BAB sesuai umur.

Jumlah Oralit/Larutan Gula Garam (LGG) yang


Umur
diberikan tiap Buang Air Besar (BAB)
< 1 Tahun 50 – 100 ml
1-4 Tahun 100 – 200 ml
> 5 Tahun 200 – 300 ml
Dewasa 300 – 400 ml

Pencegahan diare
1. Pemberian ASI Eksklusif.
2. Perbaiki cara pemberian makanan pendamping ASI.
3. Selalu gunakan air bersih.
4. Cuci tangan dengan sabun, terutama setelah BAB dan saat menyajikan makanan.
5. Gunakan jamban dengan benar.
6. Buang tinja bayi dan anak-anak secara cepat.
7. Imunisasi campak.
Materi Edukasi Dan Pelatihan untuk Pasien Hipertensi
Apakah Hipertensi itu?

Hipertensi adalah tekanan darah yang melebihi ukuran normal atau disebut juga tekan darah
tinggi.

Kapan dikatakan Hipertensi?

Dikatakan hipertensi jika telah berumur 18 tahun atau lebih dengan tanda sebagai berikut:
Tekanan darah 140/90 mmHg atau tekanan sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolik 90
mmHg.
Jika dalam kunjungan yang berbeda tekanan diastolik 90 mmHg.
Beberapa kali pengukuran tekanan sistolik menetap 140 mmHg.

Tanda dan gejala:

– Sakit kepala dan pusing,


– Nyeri kepala berputar,
– Rasa berat di tengkuk,
– Marah/emosi tidak terkendali,
– Mata berkunang-kunang,
– Telinga berdengung,
– Suka Tidur,
– Kesemutan,
– Kesulitan bicara,
– Rasa mual/muntah.

Tabel Derajat Hipertensi (JNC 7)


Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)

Normal <120 <80

Pre-Hipertensi 120-139 80-89

Hipertensi Stage 1 140-159 90-99

Hipertensi Stage 2 >160 >100

Faktor yang mempengaruhi terjadinya Hipertensi:

1. Riwayat keluarga dengan Hipertensi


2. Umur
3. Kegemukan
4. Merokok
5. Stres
6. Alkohol
7. Obat-obatan
8. Kurang olahraga
9. Makanan berlemak
10. Berhenti haid
11. Penyakit (Diabetes Mellitus, Jantung, Ginjal).

Komplikasi:

Stroke
Penyakit jantung koroner
Gagal jantung
Penyakit ginjal
Penyakit pembuluh perifer (misalnya gejala semutan).

Pencegahan:

 Pertahankan berat badan ideal


 Olahraga
 Batasi pemakaian garam
 Hindari konsumsi alkohol
 Tidak/berhenti merokok
 Makan banyak buah dan sayuran
 Hindari minum kopi berlebihan
 Rekreasi
 Hindari/atasi stres
 Cek tensi teratur/bulan (bila umur > 40 tahun).

Bagi yang sudah sakit:

Ikuti petunjuk untuk pencegahan dan berobat secara teratur, mentaati aturan minum obat,
konsultasi bila akan minum obat lain.

Kunci utama keberhasilan:

– Keaktifan penderita,
– Penderita berusaha,
– Petugas membantu,
– Hubungan baik dan kerjasama penderita dengan petugas.

Makanan untuk penderita dengan tekanan darah tinggi.

1.Makanan yang diperbolehkan:

 Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, seperti beras, kentang,
ubi, mie, maizena, hunkwee, terigu, gula pasir,
 Kacang-kacangan dan hasilnya seperti kacang hijau, kacang merah, kacang tanah,
kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom,
 Minyak goreng, margarin tanpa garam,
 Sayuran dan buah-buahan tawar,
 Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur,
laos, lombok, salam, sere, cukak.

2. Bahan makanan yang dibatasi:

Untuk diet rendah garam, penggunaan daging/daging ayam/ikan dibatasi paling banyak 100
gram per hari. Telur ayam/telur bebek paling banyak 1 butir sehari.
Materi Edukasi dan Pelatihan Untuk
Pasien Obesitas
Apa itu Obesitas?

Obesitas adalah lemak tubuh yang berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas
disebabkan oleh energi (kalori) yang masuk lebih banyak dari energi (kalori) yang keluar.

Bagaimana mendiagnosis obesitas ?

Obesitas didiagnosis berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) seseorang. Cara menghitung
IMT adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan (dalam
meter).

IMT = Berat Badan (kg) / (Tinggi Badan (m)) 2

Setelah nilai IMT didapatkan, maka plotkan atau tentukan titiknya pada grafik IMT CDC
2000 (khusus untuk anak usia 2-20 tahun) sesuai usia dan jenis kelamin. Jika usia di bawah 2
tahun, maka grafik yang dipakai adalah grafik IMT WHO. Anak usia > 2 tahun disebut
overweight jika nilai IMT sedangkan untuk anak < 2 tahun disebut overweight jika nilai IMT
anak berada di atas Z-skor +2, dan obesitas jika di atas Z-skor +3.

Apa penyebab obesitas ?

1. Pola makan yang tidak sehat

Anak yang pola makannya tidak teratur dengan asupan gizi berlebih akan berisiko mengalami
obesitas. Konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak seperti makanan fast food atau cepat
saji, sosis, baso, pizza, dan softdrink juga dapat memicu terjadinya obesitas. Hal ini
diperparah dengan tidak ada atau kurangnya asupan buah dan sayur/sumber serat pada
makanan sehari-hari.

Pola makan yang sering terjadi pada anak obesitas adalah makan utama >3x/hari (umumnya
porsi besar) ditambah dengan camilan yang tidak sehat (contoh: kentang goreng, makanan
ringan dalam kemasan, gorengan), serta minum teh manis atau softdrink setiap makan.

2. Kurangnya aktivitas fisis

Tuntutan sekolah yang tinggi, jadwal dan tugas sekolah yang begitu padat secara tidak
langsung membatasi waktu olahraga anak/remaja. Selain itu, dengan adanya gadget aktivitas
fisis menjadi berkurang. Remaja lebih tertarik untuk bermain dengan gadget di dalam
ruangan dibandingkan bermain dengan teman di luar rumah seperti bermain bola atau
bersepeda.

3.Memiliki keluarga yang obesitas

Kebiasaan makan anak/remaja cenderung mengikuti orang-orang di sekitarnya. Tak heran


jika banyak anak obesitas berasal dari keluarga yang obesitas.
Bagaimana cara menghindari obesitas?

1. Pola makan yang sehat

Gambar 1.
Piring Makan yang Sehat

Sebaiknya makanan yang kita makan sehari-hari mengandung karbohidrat, protein, lemak,
vitamin, dan mineral. Untuk lebih mudahnya, yuk lihat gambar di atas! Piring makan yang
sehat harus terdiri dari sayur, buah, lauk-pauk, dan nasi/roti. Sayur (warna hijau) harus
dikonsumsi paling banyak di antara yang lain. Hampir setengah piring harus diisi oleh sayur-
sayuran. Setengah piring lagi dibagi dua untuk nasi (warna cokelat) dan juga lauk-pauk
(warna oranye). Lalu, sisanya diisi oleh buah.

Sebaiknya pilih nasi merah dibandingkan nasi putih dan roti gandum dibandingkan roti putih.
Perbanyak konnsumsi daging putih seperti ayam dan ikan dibandingkan daging merah yang
lemaknya tinggi seperti daging sapi, kambing, & daging olahan. Ganti minyak goreng kelapa
sawit (palm) keluarga anda dengan minyak goreng zaitun (olive oil) atau minyak goreng
kanola. Selain itu, pemberian susu harus dibatasi menjadi 2 gelas ukuran 2per hari untuk anak
usia >2 tahun.4 Terakhir jangan lupa untuk minum air putih minimal 2L setiap harinya dan
hindari minuman manis termasuk jus buah yang berlebihan. Asupan jus untuk anak usia 1 – 6
tahun adalah 120-180 mL per hari, sedangkan untuk anak usia >6 – 18 tahun adalah 240-360
mL per hari.5

Modifikasi Perilaku Makan

 Anak harus dapat menahan keinginan untuk makan di luar jam makan, misalnya pada
saat menonton televisi diusahakan untuk tidak makan karena menonton televisi dapat
menjadi pencetus keinginan makan. Orangtua diharapkan dapat meniadakan semua
stimulus di sekitar anak yang dapat merangsang keinginan untuk makan.
 Mengubah perilaku makan, misalnya belajar mengontrol porsi dan jenis makanan
yang dikonsumsi, serta mengurangi makanan camilan. Camilan diganti dengan buah-
buahan segar, berikan dalam bentuk buah potong, bukan jus buah. Pemberian jus buah
menggoda anak mengonsumsi dalam jumlah banyak sehingga pada akhirnya asupan
kalori bertambah.
 Jika ada rencana berpergian atau pesta, pilihlah makanan yang berkalori rendah
seperti sayur, buah, dan makanan yang tidak digoreng. Hindari karbohidrat berlebih
dan kue-kue manis. Apabila makanan-makanan tersebut tidak dapat dihindari,
imbangi dengan melakukan olahraga tambahan sebelum atau sesudah berpergian.

2. Aktivitas fisis teratur

Anak harus tetap aktif melakukan kegiatan fisik. Lakukan olahraga minimal 60 menit setiap
hari dengan intensitas sedang, misalnya jalan cepat. Ajak anak untuk lari pagi atau sore
minimal 3x dalam seminggu. Motivasi anak untuk terlibat dalam kegiatan olahraga di
sekolah, seperti sepak bola dan basket. Olahraga permainan akan lebih mudah disukai oleh
anak dibandingkan olahraga lain.

Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat anak tetap aktif secara fisik adalah
ajak anak untuk lebih memilih naik dan turun tangga daripada menggunakan lift, saat
mengantar ke sekolah turunkan anak beberapa meter dari gerbang sekolah, atau ajak anak
berkeliling di mall selama minimal 1 jam tanpa duduk.

3. Monitor Pertumbuhan

Anak pra-remaja diharapkan dapat mengawasi sendiri berat badan, masukan makanan, dan
aktivitas fisis, serta mencatat perkembangannya sehingga pola hidup sehat dapat tercipta
hingga dewasa.

Peran orang-orang di sekitarnya seperti orangtua, anggota keluarga, teman, dan guru sangat
menentukan keberhasilan pencegahan obesitas. Oleh karena itu, yuk bersama-sama cegah
obesitas