Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

“Berkebun: Menanam Pohon Jambu”

Oleh Kelompok IV:

1. Rista Agus Kurdani


2. Ni Kadek Dewi Ayu P
3. Anggi Rizki Marliani
4. Fitria Widiyarti
5. Lalu Ari Gunawan
6. Suhaini
7. Indri Sawitri

8. Dedi Novan Ari A

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XV


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM
MATARAM
2019
LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

“Berkebun: Menanam Pohon Jambu”

Telah dibaca dan disetujui pada:


Hari :
Tanggal :

Disusun oleh:

Oleh Kelompok IV:


1. Rista Agus Kurdani
2. Ni Kadek Dewi Ayu P
3. Anggi Rizki Marliani
4. Fitria Widiyarti
5. Lalu Ari Gunawan
6. Suhaini
7. Indri Sawitri
8. Dedi Novan Ari A

Disahkan Oleh:

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

(_____________ __________) (_ )
NIP: NIP:

Mengetahui

PJMK Keperawatan Gerontik

(_ )
NIP:
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunianya-Nya
proposal ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Proposal “Terapi Aktivitas Kelompok Berkebun” ini dibuat untuk memenuhi tugas
mahasiswa dari Keperawatan Gerontik tahun ajaran 2019/2020 Program Studi Profesi Ners
Stikes Mataram. Pada kesempatan ini tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
pembimbing akademik, pembimbing lahan serta Rekan-rekan dan semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan proposal ini.

Harapan kami semoga proposal ini membantu menambah pengetahuan serta


pengalaman bagi kami dan pembaca, sehingga proposal TAK Keperawatan Gerontik ini dapat
diperbaiki dan dikembangkan bentuk maupun isinya agar kedepannya menjadi lebih baik.

Proposal TAK Keperawatan Gerontik yang sederhana ini masih sangat jauh dari
kesempurnaan karena pengalaman kami yang masih sangat minim. Oleh karena itu kami
harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan proposak TAK Keperawatan Gerontik ini.

Mataram, 10 Desember 2019

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................

Latar Belakang.....................................................................................................................

BAB II Topik.......................................................................................................................

BAB III PENUTUP.............................................................................................................

Kesimpulan..........................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan hidup
manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami penurunan
kemampuan fisik, mental dan sosial secara bertahap sampai tidak dapat melakukan
tugasnya sehari-hari. Bagi kebanyakan orang masa tua itu masa yang kurang
menyenangkan (Stanley, 2009).

Anggapan terhadap lansia adalah bingung dan tidak peduli terhadap lingkungan,
kesepian dan tidak bahagia, pikun, tidak berniat dengan seksual dan tidak berguna bagi
masyarakat. Namun kenyataannya tidak semua usia lanjnut yang mencapai kematangan,
kemantapan dan produktivitas mental dan material pada usia lanjut (Bandiyah, 2010).

Lansia dipanti biasanya akan mengalami berbagai hal yang berhubungan dengan
biopsikospiritualnya yang begitu beragam dan kompleks. Slah satu yang paling menjadi
tingkat kedua dalam masalah lansia adalah gangguan psikologis yang sama tingginya
dengan gangguan penyakit fisik pada lansia. Contoh gangguan psikologis pada lansia
yaitu peningkatan depresi terhadap keadaan penuaan, diri sendiri dan keluarga yang
kadang tidak menghiraukan (Nugroho, 2008). Gangguan psikologis lain adalah lansia
mengalami kebosanan saat tidak dapat melakukan aktivitas karena hambatan berbagai
hal yang dialami lansia. Karena berkurangnya aktivitas pada lansia maka dari itu
hubungan sosial di sekitarnya juga mengalami penurunan bahkan jarang sekali memiliki
hubungan sosial antar sesama (Kuncoro, 2011).

Oleh karena itu perawat dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut
usia dalam memecahkan masalah dan mengurangi rasa putus asa, rendah diri, rasa
keterbatasan akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang dideritanya. Dapat
disadari bahwa pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan
upaya pengobatan medis dalam proses penyembuhan dan ketenangan para klien lanjut
usia (Nugroho, 2014).

Data pengkajian yang sudah dilakukan pada desiminasi awal tanggal 26 Oktober
2015 terdapat kurang lebih 24% dari 44 lansia di UPT Panti Werdha “ Mojopahit “
Mojokerto mengalami gangguan pada psikologis dan hubungan sosialnya. Ditandai
dengan lansia sering menyendiri dan mengungkapakan kebosanan serta rasa sedih tidak
bertemu keluarga. Maka dari itu terapi modalitas menjadi salah satu pilihan untuk
meningkatkan atau melatih lansia untuk membina hubungan sosial, menurunkan tingkat
gangguan psikologis dan mengurangi kebosanan.

Terapi Modalitas merupakan suatu cara pendekatan agar lanjut usia dapat
beradaptasi terhadap situasi, lebih mampu merawat diri sendiri, banyak aktivitas dan
lebih mandiri. Salah satu terapi modalitas pada lanjut usia untuk menurunkan tingkat
gangguan psikologis adalah terapi berkebun, yaitu terapi dengan menggunakan berkebun
secara terapeutik untuk meningkatkan fungsi fisik, psikologis, kognitif, perilaku dan
fungsi sosial serta meningkatkan hubungan yang terapeutik, juga dapat memperbaiki,
memelihara dan meningkatkan status fisik dan mental (Nugroho, 2014)..

Terapi berkebun dimulai dengan membangun hubungan dan kepercayaan serta


rasa aman dan membuat kanjut usia merasa lebih baik dengan memanfaatkan waktu
luangnya. Jenis terapi berkebun adalah kegiatan bercocok tanam, mencangkok, merawat
dan memelihara tanaman sehingga energy yang dikeluarkan akan menghasilkan keringat
(Nugroho, 2014).

B. Tujuan umum
Klien dapat meningkatkan hubungan interpersonal sesama anggota kelompok secara
bertahap dan mengungkapkan pengalaman atau rasa aman dan tidak bosan.
C. Tujuan khusus
1. Klien mampu bekerja sama dalam melakukan interaksi sosialisasi
2. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan tentang TAK
yang telah dilakukan
3. Klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang
sedang berbicara
4. Klien mampu memberikan tanggapan tentang peningkatan hubungan sosial
kegiatan TAK
5. Klien merasa senang terhadap TAK yang telah dilakukan
6. Klien akan mampu secara mandiri melakukan aktivitas sehari-hari
7. Klien mampu mengemukakan pendapat mengenai terapi aktifitas kelompok yang
telah dilakukan

BAB II

TOPIK KEGIATAN
A. Topik

Terapi berkebun: menanam papaya California

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah selesai mengikuti terapi modalitas, terapi berkebun klien mampu
beradaptasi terhadap situasi, lebih banyak aktivitas dan lebih mandiri.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti terapi modelitas, terapi berkebun selama 45 menit diharapkan
klien dapat :
a) Meningkatkan interaksi sosial dengan orang lain, meningkatkan rasa kasih
sayang terhadap lingkungan.
b) Merasa nyaman, mengurangi stress, menurunkan depresi dan kecemasan.
c) Mengekspresikan perasaan dan melepaskan tekanan emosi yang dihadapi.
d) Meningkatkan control diri dan perasaan.
e) Mengubah perilaku yang destruktif.
f) Mengembangkan kreativitas.

g) Hiburan atau kegiatan yang menyenangkan.

C. Landasan Teori
Terapi modalitas adalah berbagai pendekatan penanganan klien yang
bervariasi, yang bertujuan untuk menmgubah perilaku klien dengan oerilaku
maladaptive menjadi perilaku yang adaptif. Terapi modalitas merupakan proses
pemulihan fungsi fisik mental emosional dan sosial kea rah keutuhan pribadi yang
dilakukan secara holistic.
Terapi modalitas menurut Perko & Kreigh :
1. Suatu tekhnik terapi dengan menggunakan pendekatan secara spesifik
2. Suatu system terapi psikis yang keberhasilannya sangat tergantung pada
adanya komunikasi atau perilaku timbal balik antara pasien dan terapis

3. Terapi yang diberikan dalam upaya mengubah perilaku maladaptive menjadi


perilaku adaptif.

D. Indikasi Terapi Berkebun


Dilakukan pada lanjut usia dengan kondisi :
1. Lansia yang masih bisa bergerak dan sehat secara fisik.
2. Deficit fungsional pad afisik, psikologis atau fungsi mental.
3. Marah, gusar dan kesepian.
4. Gangguan emosi dan perilaku.
5. Stress dan kecemasan.

6. Gangguan kepribadian (anti sosial).


E. Proses Seleksi

Seleksi dilakukan oleh mahasiswa selama pengkajian dan observasi serta wawancara
dengan menggunakan pedoman pengkajian fisik, psikososial, masalah emosional,
spiritual, pengkajian fungsional klien yaitu Katz indeks, Barthel indeks, pengkajian
status mental gerontik yaitu SPSMQ dan MMSE serta pengkajian keseimbangan,
yang dilakukan mulai tanggal 09 Desember 2019.

F. Sasaran Kegiatan

Semua klien lanjut usia, laki-laki dan perempuan dengan kriteria diatas yang
berjumlah 8 orang atau lebih.

G. Tempat

Pekerangan wisma Balai Sosial Lanjut Usia mataram (BSLU Mataram)

H. Waktu
Hari : Kamis
Tanggal : 12 Desember 2019

Jam : 09.00-selesai WITA

I. Metode dan Alat Bantu


Metode : Dinamika kelompok
Alat bantu :
1. Tanah kosong
2. Alat bercocok tanam
3. Tong atau baskom
4. Air
5. Gayung
6. Pupuk
7. Tanaman jambu

8. Polibek

J. Struktur organisasi dan tugasnya


Struktur Organisasi:
1. Leader : Rista Agus Kurdani
2. Co-Leader : Ni Kadek Dewi Ayu P
3. Fasilitator : Anggi R, Indri S, Suhaini, Lalu Ari, Dedi N,
4. Observer : Fatria W
5. Dokumentasi : Lalu Ari
Tugas kerja:
1. Leader: Rista Agus Kurdani
a) Membuka acara
b) Memimpin kegiatan
c) Memotivasi klien
d) Menjelaskan tujuan terapi berkebun
e) Menjelaskan langkah-langkah terapi berkebun
f) Melaksanakan langkah-langkah terapi berkebun
g) Melaksanakan dan mengontrol jalannya terapi berkebun
h) Menutup acara
2. Co-Leader: Ni Kadek Dewi Ayu P
a) Mendampingi dan membantu Leader menjalankan tugasnya
b) Mengambil alih tugas Leader jika Leader pasif
3. Fasilitator: Anggi R, Indri S, Suhaini, Lalu Ari, Dedi N,
a) Mempertahankan keikutsertaan klien
b) Mengidentifikasi issue penting selama terapi berkebun
c) Memberikan umpan balik selama proses kegiatan dari mulai persiapan sampai
selesai
4. Observer: Fitria W
a) Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b) Mencatat prilaku Verbal dan Non- verbal klien selama kegiatan berlangsung
c) Mencatat perilaku kerja sama klien
d) Menjatat keaktifan klien
K. Setting Tempat

CO L L1
K K
2 2
K
K 2
2
F1 F1

K F1 K F1 K
K F1
2 2 2
2 OBSR
Keterangan:
- = Leader

- L1 = kordinator Leader
CO L
- = Fasilitator
F
- = Klien
K
- = Observer
2
OBS
L. Langkah-Langkah pelaksanaan kegiatan
1. Persiapan
Klien membentuk persegi
2. Fase Orientasi
a) Leader membuka acara
b) Melakuakn perkenalan (terapis dank lien)
c) Leader menyampaikan tujuan terapi berkebun
d) Leader membuat validasi kontrak
e) Co-Leader membaca tata tertib
f) Leader dibantu Co-Leader menjelaskan langkah-langkah terapi berkebun
3. Fase Kerja
Pelaksanaan terapi berkebun
a) Leader memimpin peserta dan terapis untuk menggali tanah sedalam 10-15 cm
b) Lalu tanah yang sudah digali diisi dengan tanaman toga
c) Selanjutnya ditutup kembali dengan tanah
d) Lalu diberi pupuk
e) Serta disiram air
f) Leader membuat kesimpulan
4. Fase Terminasi
a) Leader menanyakan perasaan peserta setelah mengikuti terapi berkebun
b) Leader menanyakan atau melakuakn evaluasi materi
c) Leader memberikan tugas atau rencana perawatan tanaman (terlampir)
d) Leader membuat kontrak untuk yang akan datang
e) Leader menutup acara
M. Perilaku yang Diharapkan
Persiapan :
1. Fasilitator
a) Mengidentifikasi masalah yang dialami lansia sebelum terapi berkebun
dilakukan
b) Mengatur setting tempat atau ruangan untuk terapi berkebun
2. Lansia
a) Siap untuk mengikuti terapi berkebun
b) Mengetahui terapi berkebun
c) Hadir 5 menit sebelum acara terapi dimulai

Proses :

1. Terapis
a) Melaksanakan terapi berkebun sampai dengan selesai
b) Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan
2. Lansia
a) Mengikuti terapi berkebun sampai dengan selesai
b) Klien aktif mengikuti terapi berkebun dengan ceria
Hasil :

1. Fasilitator
Mengungkapkan tugas dengan baik sesuai rencana atau modifikasi saat acara
2. Lansia

Mengungkapkan rasa senang dan lebih santai

N. Program Antisipasi
1. Bila ada peserta yang melakuakn kegiatan tidak sesuai dengan tujuan, fasilitator
mengingatkan dan mengarahkan
2. Bila peserta pasif, fasilitator memotivasi untuk mengikuti kegiatan
3. Jika peserta ingin pergi sebelum terapi berkebun selesai, fasilitator
membimbingnya agar menyelesaikan terapi
4. Bila Leader blokir maka Co-Leader yang mengambil jalannya acara terapi
berkebun

Tugas:

- Mengobservasi jalannya proses kegiatan


- Mencatat prilaku Verbal dan Non- verbal klien selama kegiatan berlangsung
BAB III

PENUTUP

Terapi Modalitas merupakan suatu cara pendekatan agar lanjut usia dapat beradaptasi
terhadap situasi, lebih mampu merawat diri sendiri, banyak aktivitas dan lebih mandiri. Salah
satu terapi modalitas pada lanjut usia untuk menurunkan tingkat gangguan psikologis adalah
terapi berkebun, yaitu terapi dengan menggunakan berkebun secara terapeutik untuk
meningkatkan fungsi fisik, psikologis, kognitif, perilaku dan fungsi sosial serta meningkatkan
hubungan yang terapeutik, juga dapat memperbaiki, memelihara dan meningkatkan status
fisik dan mental (Nugroho, 2014)..

Terapi berkebun dimulai dengan membangun hubungan dan kepercayaan serta rasa
aman dan membuat kanjut usia merasa lebih baik dengan memanfaatkan waktu luangnya.
Jenis terapi berkebun adalah kegiatan bercocok tanam, mencangkok, merawat dan
memelihara tanaman sehingga energy yang dikeluarkan akan menghasilkan keringat
(Nugroho, 2014).
Lampiran 1

LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN BERKEBUN

INDIKATOR EVALUASI
NO. NAMA LANSIA Total
Respon
Keaktifan Kepatuhan Kerja Sama
Verbal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Keterangan: Lebih = 2, Sedikit = 1, Tidak ada = 0


Lampiran 2

JADWAL PERAWATAN TANAMAN

INDIKATOR PERAWATAN
HARI/
NO. NAMA LANSIA Ket.
TANGGAL Menghilangkan
Pengairan Pemupukan
tumbuhan liar
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Keterangan: Pengairan 2 kali sehari pagi dan sore, Pemupukan 1 kali dalam 2 minggu,
Menghilangkan tumbuhan liar setiap ada tumbuhan liar.