Anda di halaman 1dari 12

Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter

(PPK) menjadikan pendidikan karakter sebagai platform pendidikan nasional untuk


membekali peserta didik sebagai generasi emas tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan
karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan (Pasal 2).
Perpres ini menjadi landasan awal untuk kembali meletakkan pendidikan karakter
sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
Kurikulum 2013 sebagai rujukan proses pembelajaran pada satuan pendidikan, perlu
mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Integrasi tersebut bukan
sebagai program tambahan atau sisipan, melainkan sebagai cara mendidik dan belajar
bagi seluruh pelaku pendidikan di satuan pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada September 2016, telah membentuk Tim
Implementasi PPK untuk mengembangkan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
yang menjadi salah satu amanat Nawacita Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Pemerintah telah membuat pedoman dan konsep dasar tentang Penguatan Pendidikan
Karakter, mulai dari naskah akademik utama, yaitu Pedoman dan Konsep Dasar PPK;
Buku Saku Panduan Penilaian PPK; dan berbagai modul pelatihan dan mekanisme
pelatihan fasilitator PPK untuk guru, kepala sekolah, komite sekolah dan pengawas;
serta mekanisme dan struktur pelatihan fasilitator PPK. Keseluruhan naskah ini dapat
ditemukan di laman http://www.cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah melakukan pelatihan terhadap guru,


kepala sekolah, pengawas, komite sekolah, dan menjadi sekolah rujukan.lihat tabel

dibawah:

Data Sekolah Pelaksana PPK tahun 2016-2017

Dua tahun setelah terbitnya Perpres nomor 87 Tahun 2017, seluruh sekolah di Indonesia
harus mengimplementasikan PPK sesuai dengan Perpres 87/2017. Salah satu upaya
untuk mempercepat implementasi PPK tersebut, Kemendikbud mengintegrasikan
materi PPK ke dalam modul-modul Bimtek Kurikulum 2013. Dukungan dan
partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam menyukseskan percepatan
implementasi PPK di seluruh sekolah.

Kurikulum 2013 menjadi bagian inti dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Karena itu,
modul bimbingan teknis Kurikulum 2013 ini diintegrasikan dengan pendekatan-
pendekatan dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Integrasi ini diperlukan agar tidak
terjadi kebingungan di kalangan guru tentang keberadaan Kurikulum 2013 dan PPK
atau program-program lain yang menjadi sistem pendukung pengembangan kualitas
sekolah, seperti gerakan literasi sekolah, sekolah adi wiyata, dan lain-lain.
Pada intinya, Penguatan Pendidikan Karakter mempergunakan tiga basis pendekatan
utama PPK, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis
budaya sekolah dan pendidikan karakter berbasis masyarakat. Tiga pendekatan ini
merupakan pendekatan pendidikan karakter utuh dan menyeluruh yang harus
diterapkan di satuan pendidikan. Keutuhan dan integrasi PPK ini juga ditegaskan di
dalam Perpres Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter terutama
pasal-pasal yang menjelaskan tentang penyelenggaraan PPK yang terintegrasi di dalam
kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler, dilakukan baik di satuan
pendidikan formal maupun nonformal (pasal 6,7,8).

Perpres No.87 Tahun 2017 tentang PPK mendefinisikan PPK sebagai “Gerakan
pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter
peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan
pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai
bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)” (Pasal 1, ayat 1)

Harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga ini perlu menjadi dimensi
dalam setiap program dan kegiatan di sekolah dalam rangka menanamkan nilai-nilai
kebaikan agar individu tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang sehat secara
jasmani, rohani, dan moral. Dalam Perpres dijelaskan bahwa fokus PPK adalah nilai-
nilai Pancasila. “PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam
pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin,
bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta
tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab” (Pasal 3)

Sangat jelas bahwa pengintegrasian PPK dalam implementasi Kurikulum 2013 perlu
diletakkan dalam kerangka pembentukan karakter peserta didik dengan nilai-nilai
kebaikan yang merupakan impmelentasi nilai-nilai Pancasila. Fokus pendekatan PPK
dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah pada pendidikan karakter berbasis kelas.
Pendidikan karakter berbasis kelas merupakan keseluruhan interaksi antara pendidik
dan peserta didik dalam proses pemelajaran untuk memenuhi tuntutan minimal dalam
kurikulum yang disepakati.

Pendidikan karakter berbasis kelas berbicara tentang bagaimana relasi atau hubungan
antara guru dan peserta didik dalam konteks pemelajaran formal isi kurikulum. Selain
itu, dalam pendekatan ini, bagaimana guru mengintegrasikan nilai-nilai pembentukan
karakter dalam proses pembelajaran yang terintagrasi dalam kurikulum menjadi sangat
penting. Guru perlu memahami bagaimana cara mempersiapkan dan
mengintagrasikannya dalam proses pembelajaran melalui pemilihan metodologi
pembelajaran, pengelolaan kelas, dan cara membuat evaluasi. Hal-hal ini menjadi
bagian penting yang perlu dipahami pendidik dalam rangka mengintegrasikan
penguatan pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013.

Tiga pendekatan dalam PPK secara konseptual bisa dibedakan, misalnya:

1. Pendidikan karakter berbasis kelasterbatas pada relasi antara guru dan siswa di
dalam kelas dalam proses pembelajaran.
2. Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan pembentukan karakter
yang dilakukan melalui berbagai macam kegiatan yang melibatkan seluruh anggota
komunitas sekolah, namun masih terbatas sebagai kegiatan sekolah di lingkungan
sekolah. PPK berbasis budaya sekolah dilaksanakan antara lain melalui hal-hal
sebagai berikut.

a. Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai karakter dalam keseharian sekolah.


b. Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan sekolah.
c. Melibatkan seluruh eskosistem pendidikan di sekolah.
d. Mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi peserta
didik melalui kegiatan ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler.
e. Memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah.
f. Mempertimbangkan dan mengevaluasi norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

3. Pendidikan karakter berbasis masyarakat adalah berbagai macam bentuk


kolaborasi antara sekolah dengan pihak lain di luar lingkungan sekolah, terutama
orang tua, dalam bentuk komite sekolah, atau kerjasama sekolah dengan lembaga-
lembaga dan komunitas lain yang mendukung proses pembentukan karakter
peserta didik.

Namun secara praktis, tiga pendekatan ini sesungguhnya dapat beririsan satu sama
lain. Misalnya, ketika seorang guru dalam mengajar memberikan tugas kepada peserta
didik untuk melakukan wawancara dengan masyarakat setempat, atau melakukan
kunjungan situs-situs resmi benda cagar budaya, maka selain terdapat implementasi
pendidikan karakter berbasis kelas, juga terdapat implementasi pendidikan karakter
berbasis masyarakat. Jadi sesungguhnya, dalam praksis, ketiga pendekatan itu bisa
beririsan satu sama lain.

Selama proses sosialisasi dan implementasi PPK, ternyata di lapangan berkembang


berbagai macam distorsi karena kurangnya pemahaman tentang PPK. Melihat adanya
banyak distorsi terhadap pemahaman PPK dalam konteks implementasi Kurikulum
2013, maka beberapa hal ini perlu diperhatikan oleh para pendidik dalam konteks
implementasi Kurikulum 2013:
 Tidak ada parsialitas dalam penyebutan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
seperti RPP PPK, RPP literasi, RPP HOTS, dan lain-lain. Yang ada adalah RPP
Kurikulum 2013. Karena PPK memperkuat Kurikulum 2013, maka yang ada adalah
RPP Kurikulum 2013. Tidak ada penyebutan nama RPP selain RPP Kurikulum 2013.

 PPK berbasis kelas lebih pada aksi guru di kelas dalam membentuk karakter, bukan
pada persoalan perumusan dan penulisan nilai karakter dalam kolom RPP. Karena
itu, apakah dalam RPP guru akan menambah kolom, membuat keterangan
tersendiri, atau lainnya, yang penting adalah bagaimana seorang pendidik dapat
mengintegrasikan proses pembelajaran itu dalam rangka pembentukan karakter
peserta didik, baik melalui pilihan metode pengajaran, pengelolaan kelas, dan
fokus integrasi nilai pada isi muatan kurikulum tertentu.

 Kurikulum 2013 mendukung desain besar Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter


sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. PPK memperkuat
Kurikulum 2013. Namun Kurikulum 2013 tidak sama dengan PPK, sebab PPK
memiliki cakupan lebih luas daripada sekedar Kurikulum 2013.

 Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga perlu diletakkan dalam kerangka penguatan
pendidikan karakter bagi peserta didik sesuai dengan tiga basis pendekatan utama
dalam PPK.

Penguatan Pendidikan karakter merupakan platform pendidikan nasional dan jiwa


utama dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Karena itu, para pelaku dalam
ekosistem pendidikan diharapkan dapat memahami konsep besar ini sehingga bisa
melakukan sinkronisasi dan harmonisasi dengan kebijakan pemerintah berupa
Penguatan Pendidikan Karakter sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Materi diatas diperoleh sewaktu Mengikuti Bimtek Penyegaran Kuruikulum 2013


SMK tahun 2018 di Surabaya, tanggal 13-15 Februari 2018.

Kelima karakter utama prioritas PPK di sekolah adalah sebagai berikut.


1. Religius
Sikap religius mencerminkan keberimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang
Maha Esa.Disini siswa ditekankan agar menjadi pemeluk agama yang taat tanpa harus
merendahkan pemeluk agama lain. Apalagi saat ini sedang diwacanakan kurikulum anti
terorisme, seyogyanya kita sambut dengan melatih siswa untuk selalu mengedepankan
toleransi antar umat beragama.

2. Integritas
Integritas artinya selalu berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang bisa
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.Siswa yang berintegritas akan
berhati-hati dalam menjalin pergaulan, sebab kepercayaan yang diberikan teman-
temannya itu mahal harganya.

Dengan maraknya praktik bullying dan perundungan, sekolah perlu membuat kebijakan
tegas bahwa siswa di sekolah harus berkata dan bertindak positif antar teman sebagai
bagian dari pembiasaan melatih karakter integritas.

3. Mandiri
Mandiri artinya tidak bergantung pada orang lain dan menggunakan tenaga,
pikiran, dan waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Mandiri
erat hubungannya dengan kesuksesan seseorang. Orang yang hidup mandiri sejak
kecil umumnya meraih sukses saat menginjak usia dewasa. Itulah alasan mandiri
menjadi karakter terdepan yang harus dimiliki anak sekolah.

4. Nasionalis
Nasionalis berarti menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk memupuk jiwa nasionalis, perlu dimulai
dari hal-hal kecil. Seperti mematuhi peraturan sekolah, menjaga kebersihan lingkungan,
dan mengikuti upacara bendera dengan khidmat.

5. Gotong Royong
Gotong royong menerminkan tindakan mengahargai kerja sama dan bahu
membahu menyelesaikan persoalan bersama. Sudah jelas, tradisi gotong royong
semakin lama semakin hilang akibat arus teknologi yang membuat siapapun bisa
menyelesaikan pekerjaan sendiri. Hal ini harus diputus salah satunya lewat
pembiasaan-pembiasaan di sekolah seperti kerja bakti, mengedepankan musyawarah
dan saling menghargai antar teman.
Tentu masih banyak lagi contoh dari masing-masing karakter selain yang saya
sebutkan di atas. Dan perlu dipahami bahwa kelima karakter di atas tidaklah berdiri dan
berkembang sendiri-sendiri melainkan nilai yang berinteraksi satu sama lain, yang
berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

Upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah tersedianya kurikulum


berbasis Pendekatan Holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap
aspek kehidupan sekolah. Berikut ini ciri-ciri pendekatan holistik (Elkind dan Sweet, 2005).
1. Segala sesuatu di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara
siswa, guru, dan masyarakat
2. Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan
yang jelas yang menghubungkan siswa, guru, dan sekolah
3. Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik
4. Kerjasama dan kolaborasi di antara siswa menjadi hal yang lebih utama
dibandingkan persaingan
5. Nilai-nilai seperti keadilan, rasa hormat, dan kejujuran menjadi bagian
pembelajaran sehari-hari baik di dalam maupun di luar kelas
6. Siswa-siswa diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku
moralnya melalui kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran memberikan pelayanan
7. Disiplin dan pengelolaan kelas menjadi fokus dalam memecahkan masalah
dibandingkan hadiah dan hukuman
8. Model pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan beralih ke
kelas demokrasi di mana guru dan siswa berkumpul untuk membangun kesatuan, norma,
dan memecahkan masalah
Lalu, adanya peran lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengimplementasikan
pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru, orangtua dan siswa bersama-sama
mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan, (2)
memberikan pelatihan bagi guru tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke
dalam kehidupan dan budaya sekolah, (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat
agar siswa dapat mendengar bahwa prilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah
dan di kehidupannya, dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, orangtua
dan masyarakat untuk menjadi model prilaku sosial dan moral (US Department of Education).
Upaya atau strategi lainnya adalah menciptakan lingkungan yang nyaman dan
menyenangkan. Lingkungan yang nyaman dan menyenangkan adalah mutlak diciptakan agar
karakter anak dapat dibentuk. Hal ini erat kaitannya dengan pembentukan emosi positif anak,
dan selanjutnya dapat mendukung proses pembentukan empati, cinta, dan akhirnya
nurani/batin anak.

Meningkatkan guru yang kompeten dan berkarakter adalah strategi lain, namun untuk
menjadikan guru yang seperti itu perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan
di antaranya: (1) Teori tentang Pentingnya Pendidikan Karakter, (2) Teori dan Implementasi
Pendidikan 9 Pilar Karakter secara eksplisit; knowing the good,reasoning the good, feeling the
good, and acting the good, (3) Prinsip dan penerapan Brain-based Learning, (4)
Penerapan Developmentally Appropriate Practices, (5) Penerapan Multiple Intelligences, (6)
Prinsip dan Penerapan Character-based Integrated Learning, (7) Prinsip dan
Penerapan Cooperative Learning, (8) Komunikasi Positif dan Efektif, (9) Prinsip dan
Penerapan Student Active Learning,Contextual Learning, dan Project-based Learning, (10)
Delapan Prinsip Belajar Membaca Menyenangkan, (11) Prinsip dan Penerapan Inquiry-based
Learning, (12) Fun Story Telling, (13) Manajemen Kelas, (14) Penerapan sistem Sentra,
(15) Character-based Co-Parenting, dan (16) Training Motivasi.

Tersedianya Character-based Teaching Aids(Alat Bantu Mengajar Berbasis Karakter)


merupakan bagian penting lainnya dalam rangka implementasi pendidikan karakter. Selain
pemberian pengetahuan dan keterampilan pembelajaran karakter, guru juga harus dibekali alat
bantu mengajar seperti modul, kurikulum, lesson plan, permainan edukatif, dan buku-buku
cerita. Tanpa alat bantu ini, akan sulit bagi guru untuk menerapkan ilmu yang telah
dipelajarinya.

Terakhir adalah adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua. Orangtua dilibatkan
secara aktif didalam usaha pengembangan karakter anak. Salah satu faktor keberhasilan
pendidikan karakter adalah adanya konsistensi antara sekolah dan rumah mengenai penerapan
pilar-pilar karakter yang ditanamkan. Sekolah Karakter selalu mengadakan sosialisasi mengenai
visi/misi dan filosofi pendidikan yang diterapkan di Sekolah Karakter. Pada awal tahun ajaran
baru pihak sekolah mewajibkan orangtua untuk mengikuti seminar yang diadakan pihak sekolah.
Selain itu, secara berkala pihak sekolah mengadakan seminar parenting education. Hal ini
dilakukan agar para orangtua mengerti mengenai praktik-praktik pengasuhan yang berbahaya
bagi pengembangan karakter anak. Para orangtua juga dihimbau untuk membaca buku-buku
tentang Pendidikan Karakter, yang memberikan petunjuk bagaimana menanamkan karakter
pada anak. Dengan adanya kerjasama ini ternayata banyak orangtua yang mengaku banyak
belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik, dan bahkan merasakan bahwa karakternya juga
semakin baik, dan banyak belajar mengenai perilakuperilaku akhlak mulia dari anak-anaknya.

Dari strategi yang disebut di atas, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada tiga strategi
utama dalam pendidikan karakter, di antaranya: (1) membekali siswa dengan alat dan media
untuk memiliki pengetahuan, kemauan dan keterampilan; (2) membekali siswa pemahaman
tentang berbagai kompetensi tentang nilai dan moral; (3) membiasakan siswa untuk selalu
melakukan keterampilan-keterampilan berperilaku baik.
Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik),
sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausaha.
Pada dasarnya, pendidikan kewirausahaan dapat diimplementasikan secara terpadu
dengan kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan
kewirausahaan dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor),
peserta didik secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidikan. Pendidikan
kewirausahaan diterapkan ke dalam kurikulum dengan cara mengidentifikasi jenis-jenis
kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan kewirausahaan dan
direalisasikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, program
pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat diinternalisasikan melalui berbagai aspek.

1. Pendidikan Kewirausahaan Terintegrasi Dalam Seluruh Mata Pelajaran

Yang dimaksud dengan pendidikan kewirausahaan terintegrasi di dalam


proses pembelajaran adalah penginternalisasian nilai-nilai kewirausahaan ke dalam
pembelajaran sehingga hasilnya diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai,
terbentuknya karakter wirausaha dan pembiasaan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam
tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang
berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Pada dasarnya
kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi
(materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta
didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dan
menjadikannya perilaku. Langkah ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-
nilai kewirausahaan ke dalam pembelajaran di seluruh mata pelajaran yang ada di
sekolah. Langkah pengintegrasian ini bisa dilakukan pada saat menyampaikan materi,
melalui metode pembelajaran maupun melalui sistem penilaian.

Dalam pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan ada banyak nilai yang dapat


ditanamkan pada peserta didik. Apabila semua nilai-nilai kewirausahaan tersebut harus
ditanamkan dengan intensitas yang sama pada semua mata pelajaran, maka penanaman
nilai tersebut menjadi sangat berat. Oleh karena itu penanaman nilai nilai
kewirausahaan dilakukan secara bertahap dengan cara memilih sejumlah nilai pokok
sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya. Selanjutnya nilai-nilai pokok
tersebut diintegrasikan pada semua mata pelajaran. Dengan demikian setiap mata
pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai pokok tertentu yang paling dekat
dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Nilai-nilai pokok
kewirausahaan yang diintegrasikan ke semua mata pelajaran pada langkah awal ada 6
(enam) nilai pokok yaitu: mandiri, kreatif pengambil resiko, kepemimpinan, orientasi
pada tindakan dan kerja keras.
Integrasi pendidikan kewirausahaan di dalam mata pelajaran dilaksanakan mulai dari
tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.
Pada tahap perencanaan, silabus dan RPP dirancang agar muatan maupun kegiatan
pembelajarannya memfasilitasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan.
Cara menyusun silabus yang terintegrsi nilai-nilai kewirausahaan dilakukan dengan
mengadaptasi silabus yang telah ada dengan menambahkan satu kolom dalam silabus
untuk mewadahi nilai-nilai kewirausahaan yang akan diintegrasikan. Sedangkan cara
menyususn RPP yang terintegrasi dengan nilai-nilai kewirausahaan dilakukan dengan
cara mengadaptasi RPP yang sudah ada dengan menambahkan pana materi, langkah-
langkah pembelajaran atau penilaian dengan nilai-nilai kewirausahaan.

Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan


mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai kewirausahaan
sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui
tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya
menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik
belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan
untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan yang
terkait dengan nilai-nilai kewirausahaan.

Pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan dalam silabus dan RPP dapat dilakukan


melalui langkah-langkah berikut:

 Mengkaji SK dan KD untuk menentukan apakah nilai-nilai kewirausahaan sudah


tercakup didalamnya.
 Mencantumkan nilai-nilai kewirausahaan yang sudah tercantum di dalam SKdan KD
kedalam silabus.
 Mengembangkan langkah pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan
peserta didik memiliki kesempatan melakukan integrasi nilai dan menunjukkannya
dalam perilaku.
 Memasukan langkah pembelajaran aktif yang terintegrasi nilai-nilai kewirausahaan
ke dalam RPP.

2. Pendidikan Kewirausahaan yang Terpadu Dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan
pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan
kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus
diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan
berkewenangan di sekolah/madrasah. Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah
berkembangnya potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian
dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri, keluarga dan
masyarakat. Misi ekstra kurikuler adalah (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang
dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat
mereka; (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik
mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok.

3. Pendidikan Kewirausahaan Melalui Pengembangan Diri

Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai


bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri
merupakan upaya pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha dan kepribadian
peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan
masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta
kegiatan ekstra kurikuler.

Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pengembangan kompetensi


dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pengembangan diri bertujuan
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan
perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah.

Pengembangan diri secara khusus bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam
mengembangkan: bakat, minat, kreativitas, kompetensi, dan kebiasaan dalam
kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan sosial, kemampuan
belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah, dan
kemandirian. Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram.
Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan
secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang
diikuti oleh semua peserta didik. Dalam program pengembangan diri, perencanaan dan
pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengintegrasian
kedalam kegiatan sehari-hari sekolah misalnya kegiatan ‘business day’ (bazar, karya
peserta didik, dll)

4. Perubahan Pelaksanaan Pembelajaran Kewirausahaan dari Teori ke Praktik

Dengan cara ini, pembelajaran kewirausahaan diarahkan pada pencapaian tiga


kompetansi yang meliputi penanaman karakter wirausaha, pemahaman konsep dan
skill, dengan bobot yang lebih besar pada pencapaian kompetensi jiwa dan skill
dibandingkan dengan pemahaman konsep. Dalam struktur kurikulum SMA, pada mata
pelajaran ekonomi ada beberapa Kompetensi Dasar yang terkait langsung dengan
pengembangan pendidikan kewirausahaan. Mata pelajaran tersebut merupakan mata
pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai kewirausahaan, dan
sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai
tersebut. Salah satu contoh model pembelajaran kewirausahaan yang mampu
menumbuhkan karakter dan perilaku wirausaha dapat dilakukan dengan cara
mendirikan kantin kejujuran, dsb.

5. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan ke dalam Bahan/Buku Ajar


Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh
terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang
mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan
pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan
adaptasi yang berarti. Penginternalisasian nilai-nilai kewirausahaan dapat dilakukan ke
dalam bahan ajar baik dalam pemaparan materi, tugas maupun evaluasi.

6. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan melalui Kutur Sekolah

Budaya/kultur sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik


berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, konselor dengan sesamanya,
pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antar anggota kelompok masyarakat
sekolah.

Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan kewirausahaan dalam budaya sekolah


mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga
administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan mengunakan fasilitas
sekolah, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, komitmen dan budaya
berwirausaha di lingkungan sekolah (seluruh warga sekolah melakukan aktivitas
berwirausaha di lingkungan sekolah).

7. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan melalui Muatan Lokal


Mata pelajaran ini memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan
kemampuannya yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu
mata pelajaran muatan lokal harus memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan,
nilai-nilai luhur budaya setempat dan mengangkat permasalahan sosial dan lingkungan
yang pada akhirnya mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dasar (life
skill) sebagai bekal dalam kehidupan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
Contoh anak yang berada di ingkungan sekitar pantai, harus bisa menangkap potensi
lokal sebagai peluang untuk mengelola menjadi produk yang memiliki nilai tambah,
yang kemudian diharapkan anak mampu menjual dalam rangka untuk memperoleh
pendapatan.

Integrasi pendidikan kewirausahaan di dalam mulok, hampir sama dengan integrasi


pendidikan kewirausahaan terintegrasi di dalam mata pelajaran dilaksanakan mulai dari
tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.
Pada tahap perencanaan ini, RPP dirancang agar muatan maupun kegiatan
pembelajarannya MULOK memfasilitasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai
kewirausahaan. Cara menyusun RPP MULOK yang terintegrasi dengan nilai-nilai
kewirausahaan dilakukan dengan cara mengadaptasi RPP MULOK yang sudah ada
dengan menambahkan pada materi, langkah-langkah pembelajaran atau penilaian
dengan nilai-nilai kewirausahaan. Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam
pengembangan pendidikan kewirausahaan mengusahakan agar peserta didik mengenal
dan menerima nilai-nilai kewirausahaan sebagai milik mereka dan bertanggung jawab
atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan,
menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan
diri. Dengan prinsip ini peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan
berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik dalam melakukan kegiatan yang terkait dengan nilai-nilai kewirausahaan.

Anda mungkin juga menyukai