Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI


DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH dr. ARIF ZAINUDIN
SURAKARTA

Disusun oleh :

MUH KHAIRIL WARDI

071182024

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI

A. Pengertian

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan pasien


untuk mengakhiri kehidupannya.
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang
dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri
karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh
diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu
gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi
masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan
untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan
terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal
melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri
dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri
keputusasaan (Stuart, 2006).
B. Manifestasi Klinis
1. Data Subjektif
a. Klien mengungkapkan ingin diakui jati dirinya
b. Klien mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli
c. Klien berkata tidak bisa apa-apa
d. Klien merasa dirinya tidak berguna
e. Klien mengkritik diri sendiri
f. Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya
2. Data Objektif
a. Merusak diri sendiri
b. Merusak orang lain
c. Menarik diri dari hubungan sosial
d. Tampak mudah tersinggung
e. Tidak mau makan dan tidak tidur
f. Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan
tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya
C. Penyebab
a. Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi perilaku bunuh diri meliputi :
1. Diagnosa medis;gangguan jiwa
Diagnosa medis gangguan jiwa yang beresiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan afektif, penyalahgunaan zat dan schizophrenia. Lebih dari
90% orang dewasa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri megalami
gangguan jiwa.
2. Sifat kepribadian
Sifat kepribadian yang menibgkatkan resiko bunuh yaitu suka
bermusuhan, impulsif, kepribadian anti sosial dan depresif.
3. Lingkungan psikososial
Individu yang mengalami kehilangan dengan proses berduka yang
bekepanjangan akibat perpisahan atau bercerai, kehilangan barang dan
kehilangan dukungan sosial merupakan faktor penting yang
mempengaruhi individu untuk melakukan tindakan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga
Keluarga yang pernah melakukan bunuh diri dan konflik yang terjadi
dalam keluarga merupakan faktor penting untuk melakukan bunuh diri
5. Faktor biokimia
Menurunnya neurotransmitter serotonin, opiat dan dopamin dapat
menimbulkan perilaku destruktif-diri. (Purwanto, 2009)
b. Presipitasi
Seringkali berupa peristiwa kehidupan yang memalukan seperti
masalah hubungan interpersonal, dipermalukan di depan umum,
kehilangan pekerjaan, ancaman penahanan dan dapat juga berpengaruh
media yang menampilan peristiwa bunuh diri (Purwanto, 2009).
D. Rentang respon dan jenis-jenis
Rentang respon
Respon adaptif Respon maladaptif
Peningkatan Pengambilan Perilaku Pencederaan Bunuh
diri resiko yang destruktif- diri diri
meningkatkan diri tidak
pertumbuhan langsung
Keterangan :
a. Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara
wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai
contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda
mengenai loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
b. Beresiko destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat
bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal
sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif)
terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri.
Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal,
maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja
seenaknya dan tidak optimal.
d. Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri
akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.
Jenis-jenis
Ada beberapa kategori, antara lain :
1. Isyarat bunuh diri
Ditunjukkan dengan perilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri.
2. Ancaman bunuh diri
Diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai dengan
rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk
melaksanakan rencana tersebut.
3. Percobaan bunuh diri
Tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri
kehidupannya. (Keliat, 2007)
E. Psikopatologi
Bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja
untuk mengakhiri kehidupan. Individu secara sadar berkeinginan untuk mati
sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan
tersebut.
Perilaku bunuh diri disebabkan karena individu mempunyai koping tidak
adaptif akibat dari gangguan konsep diri : harga diri rendah.
Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh
diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup. Perilaku yang
muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan
tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.
(Fitria, 2009)
Pohon masalah

Bunuh Diri

Risiko Bunuh Diri

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis

F. Diagnosis Keperawatan
Risiko Bunuh Diri
G. Intervensi Keperawatan
Tujuan : pasien tetap aman dan selamat
Tindakan : melindungi pasien
Tindakan keperawatan :
1. Menemani pasien terus-menerus sampai ia dapat dipindahkan ketempat
yang aman
2. Menjauhkan semua benda yang berbahaya (mis.,pisau, silet, gelas, tali
pinggang)
3. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika
pasien mendapatkan obat
4. Menjelaskan pada pasien bahwa Anda akan melindungi pasien sampai
tidak ada keinginan bunuh diri.(Keliat, 2007)
Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga
Tujuan tindakan keperawatan :
Keluarga diharapkan mampu merawat anggota keluarga yang mengancam
atau mencoba bunuh diri.
Tindakan keperawatan :
1. Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien dan jangan pernah
meninggalkan pasien sendirian
2. Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-
barang berbahaya disekitar pasien
3. Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak membiarkan pasien sering
melamun sendiri
4. Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara
teratur (Keliat, 2007)
STRATEGI PELAKSANAAN
RESIKO BUNUH DIRI

1. Kondisi Klien
Klien bicara sendiri nampak bingung, mempermainkan jari jari tangannya,
kontak mata kurang, tidak mau menatap lawan bicara, sulit berkomunikasi
dengan perawat, sering menunduk, pembicaraan kacau.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri
3. Tujuan khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya dan mengenali masalah bunuh
diri.
Tindakan:
a. Memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi
c. Menciptakan lingkungan yang aman dan tenang
d. Mewawancarai dan mengobservasi kondisi klien secara langsung dari
keluarga.
4. Strategi Pelaksanaan

SP 1 Pasien : Percakapan untuk melindungi pasien dari isyarat bunuh diri.


ORIENTASI
Selamat pagi mbak, perkenalkan nama saya Wardi, mahasiswa keperawatan
dari Universitas Ngudi Waluyo. Saya yang akan merawat mbak di ruangan ini. Nama
mbak siapa ? senang dipanggil apa ?
Bagaimana perasaan Dea hari ini? Saya akan selalu menemani Dea disini
mulai dari pukul 08.00-14.00, nanti akan ada perawat yang menggantikan saya untuk
menemani Dea selama dirawat di rumah sakit ini.
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang mbak rasakan selama
ini, saya siap mendengarkan sesuatu yang ingin mbak sampaikan. Bagaimana kalau
kita lakukan disini saja? Jam berapa kita akan berbincang – bincang? Bagaimana
kalau jam 13.00 setelah makan siang mbak?
KERJA
Bagaimana perasaan Dea setelah bencana itu terjadi? Apakah dengan bencana
tersebut Dea merasa paling menderita di dunia ini? Apakah Dea kehilangan
kepercayaan diri? Apakah Dea merasa tidak berharga dan lebih rendah dari pada
orang lain? Apakah Dea sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi? Apakah
Dea berniat untuk menyakiti diri sendiri seperti ingin bunuh diri atau berharap Dea
mati? Apakah Dea mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya?
Jika klien telah menyampaikan ide bunuh diri, segera memberikan tindakan
untuk melindungi klien.
Baiklah tampaknya Dea memerlukan bantuan untuk menghilangkan keinginan
untuk bunuh diri. Saya perlu memeriksa seluruh kamar Yuki untuk memastikan tidak
ada benda-benda yang membahayakan Dea.
Nah, karena Dea tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri
hidup Dea, maka saya tidak akan membiarkan Dea sendiri.
Apakah yang akan Dea lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Ya, saya setuju.
Dea harus memaggil perawat yang bertugas di tempat ini untuk membantu Dea. Saya
percaya Dea dapat melakukannya.
TERMINASI
Bagaimana perasaan Dea setelah kita bincang – bincang selama ini ?
Coba ibu sebutkan cara tersebut ?
Dea, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang meningkatkan harga
diri pasien isyarat bunuh diri. Jam berapa Dea bersedia bercakap-cakap lagi? mau
berapa lama? Dea, mau dimana tempatnya?

SP 2 Pasien : Percakapan untuk meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh


diri
ORIENTASI
Selamat pagi Dea, masih ingat dengan saya? Ya betul sekali. Bagaimana
perasaan Dea saat ini? Masih adakah dorongan mengakhiri kehidupan? Baik, sesuai
janji kita kemarin sekarang kita akan membahas tentang rasa syukur atas pemberian
Tuhan yang masih Dea miliki. Mau berapa lama? Dimana?
KERJA
Apa saja dalam hidup Dea yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang
sedih dan rugi kalau Dea meninggal. Coba Dea ceritakan hal-hal yang baik dalam
kehidupan Dea. Keadaan yang bagaimana yang membuat Dea merasa puas? Bagus.
Ternyata kehidupan Deamasih ada yang baik yang patut Dea syukuri. Coba Dea
sebutkan kegiatan apa yang masih dapat Dea lakukan selama ini. Bagaimana kalau
Dea mencoba melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih.
TERMINASI
Bagaimana perasaan Dea setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali
apa-apa saja yang Dea patut syukuri dalam hidup Dea? Ingat dan ucapkan hal-hal
yang baik dalam kehidupan Dea jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan. Bagus
Dea. Coba Dea ingat lagi hal-hal lain yang masih Dea miliki dan perlu di syukuri!
Nanti jam 2 siang kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik. Tempatnya
dimana? Baiklah, tetapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera
hubungi saya ya!
SP 3 Pasien : Percakapan untuk meningkatkan kemampuan dalam
menyelesaikan masalah pada pasien isyarat bunuh diri.
ORIENTASI
Selamat pagi
Bagaimana perasaannya hari ini? Masihkah ada keinginan bunuh diri?
Apalagi hal-hal positif yang perlu disyukuri? Bagus!
Sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana cara mengatasi masalah mbak
selama ini. Mau berapa lama mbaki? Mau disini saja?
KERJA
Coba ceritakan situasi yang membuat mbak ingin bunuh diri. Selain bunuh
diri apalagi kira-kira jalan keluarnya. Wow, banyak juga ya mbak. Nah, sekarang
coba kita diskusikan tindakan yang menguntungan dan merugikan dari seluruh cara
tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi masalah yang paling menguntungkan!
Menurut mbak cara yang mana? Ya saya juga setuju dengan pilihan mbak. Sekarang
kita buat rencana kegiatan untuk mengatasi perasaan mbak ketika mau bunuh diri
dengan cara tersebut.
TERMINASI
Bagaimana perasaan Yuki, setelah kita bercakap-cakap?
Apa cara mengatasi masalah yang mbak gunakan. Coba silahkan melatih cara yang
mbak pilih tadi.
Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi untuk membahas pengalaman Yuki
menggunakan cara yang mbak pilih.

SP I Keluarga : Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri


ORIENTASI
Assalamu’alaikum. Selamat pagi Bapak/Ibu. Benar kalian adalah orang tua dari Dea?
Kenalkan saya Wardi mahasiswa keperawatan dari Universitas Ngudi Waluyo yang
merawat putri Anda selama disini.”
Sekarang kita akan mendiskusikan tentang tanda dan gejala bunuh diri dan cara
melindungi dari bunuh diri.
Dimana kita akan mendiskusikannya? Berapa lama bapak dan ibu ingin
mendiskusikannya?
KERJA
Apa yang bapak/ibu lihat dari perilaku Dea selama ini?
Bapak/Ibu sebaiknya lebih sering memperhatikan tanda dan gejala bunuh diri. Pada
umumnya orang yang akan melakukan tindakan bunuh diri menunjukkan tanda
melalui percakapannya seperti “ saya tidak ingin hidup lagi”. Apakah Dea sering
mengatakannya pak?
Kalau bapak/ibu mendengarkan Dea berbicara seperti itu, maka sebaiknya bapak
mendengarkan secara serius. Pengawasan terhadap kondisi Dea perlu ditingkatkan,
jangan biarkan Dea mengunci diri di kamar. Bapak perlu menjauhkan benda
berbahaya seperti gunting, silet, gelas dan lain-lain. Hal ini sebaiknya perlu dilakukan
untuk melindungi Dea dari bahaya dan memberi dukungan untuk tidak melakukan
tindakan tersebut.
Usahakan 5 hari sekali bapak dan ibu memuji dengan tulus.
Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya bapak dan ibu mencari
bantuan orang lain. Apabila tidak dapat diatasi segeralah ke rumah sakit terdekat
untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius. Setelah kembali ke rumah, bapak/
ibu perlu membantu Dea terus berobat untuk mengatasi keinginan bunuh diri
TERMINASI
Evaluasi Subjektif : Bagaimana bapak/ibu ada yang mau ditanyakan?
Evaluasi objektif : Bapak/ibu dapat mengulangi lagi cara-cara merawat anggota
keluarga yang ingin bunuh diri? Ya, Bagus. Jangan lupa untuk selalu mengawasi
Yuki ya pak jika ada tanda-tanda keinginan bunuh diri segera menghubungi kami.
Terima kasih Bapak/Ibu. Selamat Siang.
DAFTAR PUSTAKA

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:
Salemba Medika.
Keliat. 2007. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN (Basic Course).
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Stuart, GW. 2002. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Purwanto, Teguh. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.