Anda di halaman 1dari 5

Pendekar dan Tabib Pembela Kaum Tertindas

Oleh : Naufal Humam (XI IPA 8)

I. Identitas Buku
1. Judul : Once Upon A Time in China
2. Pengarang : Jeff Yang
3. Penerbit : Atria; Edisi Pertama (30 Desember 2003)
4. Tahun Terbit : 2003
5. Ukuran Buku : 320 Halaman
6. ISBN : 978-0743448178
II. Sedikit Tentang Penulis

Jeff Yang adalah pendiri sekaligus editor dari majalah aMagazine.


Selain itu, Jeff juga pengarang buku Eastern Standard Time : A Guide to
Asian Influence on American Culture.

III. Sinopsis

Wong Fei Hung adalah seorang Ahli Beladiri dan Ahli Kesehatan yang
hidup pada zaman Dinansti Qing. Ia terlahir dari keluarga yang terkenal
reputasinya di bidang seni beladiri Kung Fu. Wong Fei Hung dikenal
memiliki budi pekerti yang luhur suka membantu orang - orang lemah dan
yang tertindas.
Wong Fei Hung belajar ilmu beladiri sejak usia yang masih sangat
muda, dalam ilmu beladiri dia dikenal sebagai ahli teknik bela diri Hung Gar
dan melahirkan jurus "tendangan tanpa bayangan" yang sangat tersohor.
Selain ilmu beladiri tangan kosong Wong Fei Hung juga mahir menggunakan
berbagai macam senjata seperti tongkat atau toya

Sebagai seorang tabib, Wong mempraktekkan dan mengajarkan teknik


pengobatan akupuntur di klinik Po Ci Lam, terletak di Foshan, Guangdong,
China.Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan
umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya
pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang
datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu
dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa
pamrih.

IV. Kelebihan Buku

Cerita pada buku ini tersampaikan cukup baik dan kronologis oleh
penulis dari sejak Wong Fei Hung lahir hingga ia meninggal. Penulis juga
dapat mendeskripsikan suatu kejadian dengan jelas, sehingga pembaca juga
seolah-olah bisa merasakan kejadian tersebut.

V. Kekurangan Buku

Ada beberapa kejadian penting yang tidak dijelaskan dengan rinci.


Selain itu, Cerita yang sedikit bernarasi, sehingga melelahkan mengikuti alur
ceritanya. Memang alur cerita narasi sedikit membosankan bagi orang-orang
yang malas membaca karena terlalu panjang ujungnya.

VI. Rekomendasi Penulis

Penulis sangat merekomendasikan buku ini, khususnya bagi peminat cerita


sejarah dan kebudayaan cina. Di dalam buku ini juga banyak hal yang
dapat diteladani dari tokohnya, sehingga menambah pengetahuan dan
memotivasi pembacanya.
Biografi Wong Fei Hung

Wong Fei Hung lahir di Foshan, Guangdong, China 9 Juli 1847 pada masa
pemerintahan Kaisar Daoguang di dinasti Qing. Ayahnya bernama Wong Kay
Ying seorang tabib yang memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam
di Kanton. Wong Kay Ying juga ahli beladiri wushu dan kungfu Tiongkok,
menguasai ilmu wushu tingkat tinggi dan dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh
Macan Kwangtung.

Wong Fei Hung berlatih beladiri sejak masa kecil dibawah bimbingan
ayahnya dan guru-guru kung fu terbaik di China. Wong Fei-Hung mulai
mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah
menjadi guru ayahnya. Pada umur 13 tahun dia belajar jurus 'Tinju dan Ayunan
Kawat Besi' dari Lam Fuk Sik, seorang murid dari pendekar yang berjuluk '3
Jembatan Besi' Leung Kwan (yang termasuk juga ke dalam 10 harimau kanton).
Wong bertemu dengan Lam ketika sedang mengikuti pertunjukkan ilmu bela diri
jalanan. Setelah berguru dengan Lam, Wong berguru kepada seorang pendekar
yang bernama Sun Fai Tong. Sun inilah yang mengajarkan jurus yang kemudian
dikenal sebagai jurus 'tendangan tanpa bayangan'.

Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal
usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka.
Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Di tahun 1863, saat
usianya baru menginjak 17 tahun, Wong sudah mendirikan perguruan silat sendiri
di daerah Shuijiao. Dan pada tahun 1886, Wong mendirikan Po Ci Lam di Ren'an.

Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil


membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan jurus
"Cakar Macan" dan jurus "Sembilan Pukulan Khusus". Selain dengan tangan
kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata.

Menurut cerita, Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung


bagaimana Wong Fei Hung seorang diri dengan hanya memegang tongkat
berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan
kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang
akan mereka peras.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik


beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekertinya, membuat keluarga Wong
sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu.
Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan
Keluarga Wong. Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan
umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya
pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang
datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu
dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa
pamrih.

Selain merupakan guru bela-diri dan tabib terkenal, dia juga dikenal
sebagai patriot bangsa yang cinta tanah air. Ia merupakan salah satu anggota dari
"Ten Tigers of Guangdong" yang anti terhadap kolonialisasi bangsa Asing di
China

Wong Fei Hung memiliki banyak murid. Salah satunya yang paling
terkenal dan paling berjasa mengembangkan kungfu Hung Gar ke seluruh dunia
adalah Lam Sai Wing (Lin She Rong) yang sering dijuluki "Porky Lam" karena ia
dulu berprofesi sebagai tukang daging.
Pada 24 Mei 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Wong
meninggal karena sakit di Rumah Sakit Chengxi Fangbian di Guangdong. Ia
dimakamkan di kaki gunung Baiyun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwangtung
dan Kanton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum tertindas yang tidak
pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah
orang yang menindas orang miskin.