Anda di halaman 1dari 5

Nama : Tri Cahyani Anggraini

Nim : 03021281823052
Shift : C

PENERAPAN VISKOSITAS DALAM BIDANG INDUSTRI

 Pada industri Minyak bumi. Minyak mentah sering disalurkan melalui pipa jarak jauh
pada daerah dengan suhu berbeda-beda, dan laju aliran dalam menanggapi tekanan
bervariasi. Minyak mengakir melalui Alaska lebih kental daripada minyak di pipa di
Teluk Persia, karena suhu tanah yang berbeda, dan akibatnya tekanan perlu diterapkan
untuk tetap mengalir. Untuk mengatasi masalah gaya yang dibutuhkan untuk mengalirkan
minyak melalui pipa, sensor di beberapa pipa akan mengukur viskositas fluida dan
menentukan apakah tekanan yang lebih besar atau lebih kecil harus ditambahkan untuk
menjaga aliran minyak konstan dan stabil.

 Aplikasi dari viskositas adalah pelumas mesin. Pelumas mesin ini biasanya kita kenal
dengan nama oli. Oli merupakan bahan penting bagi kendaraan bermotor. Oli yang
dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin kendaraan berbeda-beda karena setiap tipe mesin
kendaraan membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian
yang sangat penting sekali karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar
resistensinya untuk mengalir. Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus
diperhatikan terlebih dahulu koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak dengan tipe mesin.
Memilih dan menggunakan oli yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor
merupakan langkah tepat untuk merawat mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat
rusak dan mencegah pemborosan. Masyarakat umum beranggapan bahwa fungsi utama
oli hanyalah sebagai pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain, yakni sebagai
pendingin, pelindung karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin. Sebagai
pelumas mesin oli akan membuat gesekan antar komponen di dalam mesin bergerak lebih
halus dengan cara masuk ke dalam celah-celah mesin, sehingga memudahkan mesin
untuk mencapai suhu kerja yang ideal.

Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya gesek yang
ditimbulkan oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu terhadap yang lain sehingga
mencegah terjadinya keausan. Pada permesinan bagian yang paling sering bergesekan
adalah piston, ada banyak bagian lain namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston.
Di sinilah kegunaan oli. Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga
gesekan pada piston diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang
memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat celcius ke bagian lain
mesin yang lebih dingin, sehingga mesin tidak over heat (sebagai pendingin). Pembersih
mesin dari sisa pembakaran dan deposit senyawa karbon yang masuk dalam ruang bakar
supaya tidak muncul endapan lumpur. Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan
menjadi lebih kental. Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu
atau membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu tebal
akan member resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperature rendah sehingga
mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus
memiliki kekentalan lebih tepat pada temperature tertinggi atau temperature terendah
ketika mesin dioperasikan karena nilai viskositas masing-masing oli akan berkurang jika
suhu cairan dinaikkan. Suhu semakin tinggi diikuti makin rendahnya viskositas oli atau
sebaliknya. Beberapa kriteria yang penting yang harus dipenuhi oleh oli antara lain :
1. Viskositas harus cukup kental untuk menahan agar bagian peralatan yang bergerak
relatif terpisah, tetapi juga harus mencegah kebocoran dari segel.
2. Fluida harus cukup pada saat awal yaitu pada saat peralatan masih dingin.
3. Dapat membentuk film yang cukup kuat untuk pelumasan perbatasan.
4. Tahan terhadap oksidasi suhu tinggi.
5. Mengandung deterjen dan dispersan cukup untuk menyerap endapan atau lumpur yang
terbentuk.
6. Tidak membentuk emulsi dengan air yang masuk dari segel yang bocor.

Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume maupun


kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan semakin kecil, namun
di sisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja bagi pompa oli. Oleh sebab itu,
araan baru (relatif baru berumur di bawah 3 tahun) direkomendasikan untuk
menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab seluruh
komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang atau celah dinding
yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli yang memiliki kekentalan tinggi.
Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan membuat lapisan film pada dinding silinder
guna melindungi mesin pada saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun
kendaraan tidak dipergunakan dalam waktu yang lama. Di samping itu, kandungan aditif
deterjen dalam pelumas berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar
terbuang saat pergantian oli. Oli jenis mesin diesel ini memerlukan tambahan aditif
dispersant dan deterjen untuk menjaga oli tetap bersih karena menghasilkan kontaminasi
jelaga sisa pembakaran yang tinggi. Sedangkan bila oli yang digunakan sudah tipe
sintetik maka tidak perlu lagi diberikan bahan aditif lain karena justru akan mengurangi
kireja mesin bahkan merusaknya. Tingkat kekentalan oli disebut Viscosity Grade, yaitu
ukuran kekentalan dan kemampuan oli untuk mengalirpada temperature tertentu menjadi
prioritas terpenting dalam memilih oli. kode pengenal oli adalah berupa huruf SAE yang
merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineers. Selanjutnya angka yang
mengikuti di belakangnya, menunjukkan tingkat kekentalan oli tersebut. Misalnya oli
yang bertuliskan SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10
untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Semakin besar angka
yang mengikuti kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut. Sedangkan huruf W
yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari Winter. Dengan kondisi
seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi
ekstrim sekalipun. Sementara itu dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja
pada kisaran angka kekentalan 40- 50 menurut standar SAE.

 Mengalirnya darah dalam pembuluh darah vena.

 Proses penggorengan ikan (semakin tinggi suhunya, maka semakin kecil viskositas
minyak goreng).

 Mengalirnya air dalam pompa PDAM yang mengalir kerumah-rumah kita.


Penerapan Viskositas dalam Pertambangan

Dalam satu artikel tentang energi, tepatnya tentang Teknologi Enhance Oil Recovery
(EOR) menyatakan bahwa salah satu teknologi EOR adalah dengan menginjeksikan
Chemical, yang berisi Poliakrilamida, sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan
minyak, sehingga oil droplet dapat naik ke permukaan. Menurunkan tegangan permukaan
berarti menurunkan viskositas. Namun, dalam buku Encyclopedia of Chemical Technolgy,
dinyatakan bahwa Poliakrilamida dapat meningkatkan viskositas larutan. Dan salah satu
aplikasi lainnya adalah sebagai aditif pada drilling mud, sebagai viscofier , alias penambah
viskositas lumpur. Manakah dari pernyataan tersebut yang benar? Poliakrilamida termasuk
dalam salah satu golongan flocculant. Poliakrilamida merupakan cairan sangat viscous,
bahkan sulit larut dalam air, sehingga biasanya digunakan larutan yang hanya mengandung
sekian persen poliakrilamida. Dalam dunia perminyakan, poliakrilamida sering digunakan
sebagai deoiler atau reverse demulsifier atau bahan kimia yang berguna untuk memisahkan
minyak dari air. Cara kerjanya adalah dengan cara membentuk bridging antar droplet oil
sehingga butiran-butiran kecil oil droplet bisa bergabung dan menyatu dengan droplet size
yang lebih besar dan gampang memisah dari air (naik) keatas. Menurut pengalaman di EOR
plant, poliakrilamida juga bisa digunakan sebagai turbidity reducer. Poliakrilamida
merupakan senyawa organik yang bersifat Cationic surfactant yang digunakan untuk
emulsion breaker dari Oil dalam Water (O/W) yang digunakan untuk mengurangi viscositas.
Selain itu juga bisa digunakan sebagai chemical coagulant untuk garam-garam, besi,
aluminum dalam larutan yang bersifat asam, dan membantu agglomerasi dari oil drop.
Sehingga menambah viscousitas larutan. Dalam buku The Nalco Water Handbook edisi ke 2
hal 114 dijelaskan aksi dari cationic emulsion breaker (poliakrilamida) dalam menetralisasi
perubahan bentuk colloidal oil dropped dalam oily wastewater, lengkap dengan gambarnya.
PAM juga dapat digunakan sebagai Fluid Loss Aditif. Dan Fluid Loss Aditif digunakan agar
semakin sedikit drilling mud yang hilang akibat friksi dengan dinding dril bit, sehingga,
efektifitas tekanan hidrolik yang dihasilkan jadi lebih baik. Caranya, dengan menurunkan
viskositas drilling mud, sehingga aliran drilling mud jadi lebih cepat. Karena alirannya jadi
lebih cepat,maka fluida hilang akibat friksi jadi lebih sedikit. Mungkin, poliakrilamida bukan
digunakan untuk menurunkan viskositas drilling mud akan tetapi dengan poliakrilamida dapat
meminimalisasi dari water run off, erosion, dan crusting serta menjadikan struktur tanah
menjadi lebih stabil. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca dari literatur di :
www.cytec.com/pdf/watertreatment/polyacrylamide characteristics related to soil
applicatio.Pdf atau Poliakrilamida adalah aditive untuk oil well drilling mud, dapat dilihat di :
www.arubras.com.ar/productor acrylamide Jadi, dapat disimpulkan bahwa polakrilamida itu
bertindak sebagai viscofier. Dan yang terjadi pada EOR adalah PAM digunakan sebagai
mobility control. Adapun yang bertugas menurunkan surface tension minyak adalah
surfaktan.
Aplikasi Pompa di Industri Produksi Gula

Industri produksi gula melibatkan beberapa proses kompleks yang memerlukan penggunaan
pompa. Aplikasi pompa yang paling umum berkisar mulai dari transfer cairan, perpindahan
molase dan penghapusan fly ash yang memerlukan pompa yang mampu memindahkan
padatan persen tinggi dan bahan viskositas tinggi. Kisaran EDDY Pump Pompa lumpur
dilengkapi untuk menangani tuntutan keras dari industri produksi gula dengan menyediakan
solusi pemompaan efisiensi tinggi dengan downtime minimal dan perawatan yang rendah.

Sebagian besar pabrik gula memiliki metode sendiri untuk memindahkan limbah ampas tebu
baik untuk produksi bubur kertas atau untuk menimbun bahan untuk digunakan kemudian
dalam tungku ketel uap. Ada dua penggunaan utama bahan limbah ini yang ramah
lingkungan; produksi kertas dari ampas tebu, sering dilakukan di dekat pabrik gula dan
mudah diangkut menggunakan berbagai solusi dan ampas tebu kering untuk produksi uap di
pabrik gula, yang dapat dimuat secara selektif oleh alat berat seperti alat perata atau wheel
loader atau alat lainnya. .

Pada pembakaran ampas kering di pabrik gula, ia terurai menjadi produk sampingan yang
berbeda yang disebut Fly-ash mengurangi sekitar 1% -4% dari berat aslinya pada kepadatan
sekitar 1800kg per meter kubik. Dalam arti global, sekitar 24 juta ton abu ampas tebu
diproduksi setiap tahun.

Dengan hubungan langsung antara jumlah tebu yang diproses dan fly ash yang diproduksi,
Brasil, negara penghasil gula utama menyumbang hampir 40% produksi gula global dan
produksi abu terbang diikuti India, Cina, dan Thailand yang memiliki gabungan hasil hampir
30% dari produksi global. Akibatnya, gabungan output abu terbang dari keempat negara ini
bersama-sama, menyumbang hampir 70% produksi ampas tebu dan 17 juta ton fly ash per
tahun.

Viskositas Molasses dapat bervariasi tergantung pada kandungan sukrosa, persentase


kemurnian dan faktor lainnya. Molase "Blackstrap" yang khas dapat mencapai viskositas di
suatu tempat antara 5,000 ke 10,000 Centipoises dibandingkan dengan air di antara 1 ke 5
Centipoise di 20 ° C. Beberapa konsistensi Molasses bahkan dapat mencapai Centipoises
20,000 dan variasi besar ini diduga ada karena sifat-sifat bidang geser dari cairan molase.

Viskositas minyak SAE 30 Motor, dengan perbandingan, adalah sekitar 250, madu di sekitar
3,000 sementara pasta tomat atau selai kacang mungkin mencapai 200,000 Centipoise.

Molase yang berasal dari ekstraksi gula (baik tebu atau bit) juga dapat digunakan sebagai
aditif memasak atau dicampur dengan umpan stok untuk menyediakan makanan tambahan
makanan biji-bijian untuk ternak. Ini juga digunakan dalam produksi rum dan produk lainnya.
Akibatnya, peralatan yang digunakan untuk mentransfer molase selama siklus produksi
kemungkinan akan membutuhkan klasifikasi food grade dan persetujuan FDA.

Ketika molase diproduksi mungkin juga mulai memfermentasi dengan mudah kecuali
Sulphur ditambahkan yang secara efektif memperlambat proses ini. Akibatnya, aditif ini
bersama dengan beberapa pengotor lainnya dalam molase mungkin memiliki dampak negatif
pada peralatan yang memerlukan pengaturan penyegelan khusus untuk melindungi elemen
mekanis dalam pompa dan peralatan lainnya.

Peralatan biasanya digunakan untuk transfer molase mungkin baik desain pompa roda gigi
untuk meteran aliran akurat atau jenis sekrup berputar juga menawarkan perpindahan positif.
Pompa EDDY dikembangkan pompa proses dirancang untuk menangani cairan viskositas
tinggi dan dapat digunakan dalam tahap awal produksi molase untuk membantu memfasilitasi
transfer bahan untuk diproses lebih lanjut.

Pada penyelesaian siklus pemompaan, atau jika terjadi terobosan dalam throughput yang
diantisipasi, diperlukan penyiraman pompa dan pengerjaan pipa yang terkait dengan air panas
untuk memastikan tidak ada residu molase yang tertinggal untuk menimbulkan korosi pada
impeller pompa, badan atau pengaturan penyegelan yang dapat menyebabkan perbaikan yang
mahal.

PENERAPAN VISKOSITAS MINYAK PELUMAS PADA MESIN PENGGERAK


UTAMA KAPAL PERIKANAN DI PT. HASIL LAUT SEJATI

Pelumas merupakan salah satu bahan yang penting dalam pengoperasian mesin kapal agar
bekerja secara optimal, dan memberikan pelumas yang salah dapat mengakibatkan mesin
mengalami kerusakan. Sedangkan Viskositas (Viscosity), adalah suatu angka yang
menyatakan besarnya perlawanan/hambatan dari suatu bahan cair untuk mengalir atau ukuran
besarnya tahanan geser dari bahan cair. Tujuan dari analisis sampel pelumas (Shell Rimula
R4X 15W 40) di laboratorium ini adalah untuk mengetahui kondisi pelumas dan penyebab
viskositas pelumas turun dari dua sampel pelumas (oli baru dan oli setelah tergunakan dengan
jam kerja pelumas 312 jam).Hasil dari analisa sampel pelumas di laboratorium ini
menunjukan bahwa kondisi dari dua sampel pelumas tidak normal. Dilihat dari uji fisik
viskositas uji nilai di oli baru 11.33 seharusnya pada oli normal uji fisik Viskositas 100ºC uji
nilai 14.7. Uji nilai TBN 17.1. Uji nilai Oksidasi 0.56 apabila oli baru seharusnya nilai
Oksidasi 0 karena belum mengalami proses operasi mesin, indikasi oli baru itu adalah oli
bekas, atau indikasi oli palsu. Dilihat dari uji fisik Viskositas uji nilai di oli setelah
tergunakan 11.00, terindikasi mesin yang Overheat, karena tercampurnya bahan bakar, dilihat
bahan bakar dengan Destilasi uji nilai 0.5 adanya kebocoran bahan bakar. Uji nilai TBN
15.03, normal karena TBN menetralisir asam sulfur di bahan bakar. Jadi hasil pengujian
sampel pelumas merk Shell Rimula R4X 15W 40 olibaru dan oli setelah digunakan
mengalami penurunan nilai viskositas.