Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRATIKUM HEMATOLOGI I

“Pemeriksaan Sediaan Apusan Darah Tepi (SADT) “

OLEH :

Nama : Dhani Achmad Oktovianto

NIM : P07134018 095

Kelas : 2B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

2020
I. TUJUAN
a. Tujuan Umum
1) Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan dan pewarnaan sediaan hapusan
darah.
b. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa dapat membuat sediaan hapusan darah.
2) Mahasiswa dapat melakukan pewarnaan sediaan hapusan darah.

II. METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode hapusan darah (Blood
Smear).

III. PRINSIP
Suatu apusan darah tipis dibuat dengan meletakkan setetes (hanya selapis).
Prinsip pewarnaan disesuaikan dengan sifat kimiawi dalam sel. Prinsip pewarnaannya
menggunakan dua cat yang berbeda yaang terdiri dari azure B (Ttriethylthionin) yang
bersifat basa dan eosin Y (Tetrabromofluorance) yang bersifat asam.

IV. DASAR TEORI


Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel
darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah.
Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira
lima liter (Dwijastuti, Sri.2015).
Darah tersusun dari beberapa komponen yaitu sel darah, plasma darah, dan
serum.
1. Sel darah, terdiri dari :
a. Sel darah merah (eritrosit)
Eritrosit berbentuk bulat gepeng dengan permukaan gepeng (bikonkaf) dan
tidak berinti. Eritrosit mengandung hemoglobin yang berfungsi sebagai
pengikat O2 dan sebagai pemberi warna merah pada darah.
b. Sel darah putih (leukosit)
Leukosit memiliki bentuk yang tidak tetap (ameboid), tidak berwarna dan
memiliki inti. Fungsi sel darah putih untuk melindungi tubuh dari infeksi.
Leukosit terdiri dari sel yang bergranula (eosinofil, basofil, neutrofil) dan sel
tidak bergranula (monosit, linfosit)
c. Keping darah (trombosit)
Bentuk keping darah tidak tetap. Trombosit berfungsi dalam proses
pembekuan darah dengan membentuk benang fibrin yang akan menutup
luka sehingga perdarahan akan terhenti.
(Susilo, Reki Usman. 2014)
2. Plasma darah
Plasma darah merupakan bagian cair darah. Cairan ini didapat dengan membuat
darah tidak beku dan sel darah tersentrifugasi. Plasma terdiri dari 90% air, 7-8%
protein,dan di dalam plasma terkandung pula beberapa komponen lain seperti
garam-garam, karbohidrat, lipid, dan asam amino. Pada pemeriksaan plasma,
digunakan darah yang mengandung EDTA dan sebaiknya dilakukan segera.
Penyimpanan darah EDTA dalam waktu yang terlalu lama dapat menyebabkan
terjadinya hemolisis, sehingga hemoglobin lepas ke dalam medium sekelilingnya
(plasma).
3. Serum
Serum adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan faktor
koagulasi, serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen. Serum terdiri dari semua
protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan darah) termasuk cairan
elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan semua substansi exogenous. Serum
merupakan salah satu bentuk protein. Protein memiliki molekul yang cukup besar.
Jika darah didiamkan dalam waktu yang cukup lama atau dapat diputar dengan
sentrifuge, maka zat protein tersebut akan mengendap, sisa berupa cairan
bening/jernih yang disebut serum.
(Susilo, Reki Usman. 2014).
3.2 Sediaan Hapusan Darah
Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada umumnya
dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah tepi adalah suatu cara yang sampai saat
ini masih digunakan pada pemeriksaan di laboratorium. Prinsip pemeriksaan sediaan
apus ini adalah dengan meneteskan darah lalu dipaparkan di atas objek glass, kemudian
dilakukan pengecatan dan diperiksa dibawah mikroskop (Anonim. 2011)
Guna pemeriksaan apusan darah:
1. Evaluasi morfologi dari sel darah tepi (eritrosit, trombosit, dan leukosit)
2. Memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit
3. Identifikasi parasit (misal : malaria. Microfilaria, dan Trypanosoma)
(Anonim. 2011)
3.3 Jenis apusan darah :
Terdapat 2 jenis sediaan hapusan darah, yaitu sediaan hapusan darah tipis dan
sediaan hapusan darah tebal.
1. Sediaan darah tipis
Ciri- ciri apusan sediaan darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal morfologinya lebih
jelas. bentuk parasit plasmodium berada dalam eritrosit sehingga didapatkan
bentuk parasit yang utuh dan morfologinya sempurna. Serta lebih mudah untuk
menentukan spesies dan stadium parasit dan perubahan pada eritrosit yang
dihinggapi parasit dapat dilihat jelas.
2. Sediaan darah tebal
Ciri- ciri apusan sediaan darah tebal yaitu membutuhkan darah lebih banyak
untuk pemeriksaan dibanding dengan apusan darah tipis, sehingga jumlah parasit
yang ditemukan lebih banyak dalam satu lapang pandang, sehingga pada infeksi
ringan lebih mudah ditemukan. Sediaan ini mempunyai bentuk parasit yang
kurang utuh dan kurang begitu lengkap morfologinya.
(Anonim.2011)

3.4 Pewarnaan Sediaan Hapusan Darah


Pewarnaan darah apus merupakan pewaraan yang terwarnai pada preparat darah
apus tepi, misalnya dengan menggunakan pewarnaan menurut Romanowsky ada empat
macam pewarnaan preparat darah apus yaitu pewarnaan wright’s stain, pewarnaan
lieshman, pewarnaan may grunwald, pewarnaan giemsa (Anonim.2012)
Pewarnaan preparat darah apus yang sering digunakan untuk melakukan
pengecatan preparat darah apus kebanyakan menggunakan metode pewarnaan
Romanowsky diantaranya :
a. Pewarnaan Giemsa
Pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan agar sediaan
terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode
pewarnaan ini banyak dipakai untuk mempelajari morfologi darah, sel-sel sumsum dan
juga untuk identifikasi parasit-parasit darah misalnya dari jenis protozoa. Zat ini tersedia
dalam bentuk serbuk atau larutan yang disimpan di dalam botol yang gelap
(Anonim.2011)
b. Pewarnaan wright
Pewarnaan wright adalah zat warna yang digunakan dalam metode Romanowsky,
merupakan campuran eosin Y, Azure B, metilen blue, dan metal alkohol dalam
konsentrasi tinggi. Sediaan apus yang telah dikeringkan diudara, tidak perlu
mengadakan fiksasi tersendiri, karena telah mengandung metil alkohol dalam
konsentrasi tinggi dan di cat wright langsung ditambah penyanggah pH 6,4 sama
banyak dan membiarkan selama 15- 20 menit. Preparat apus yang yang telah selesai
dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x (Anonim.2012)

V. ALAT, BAHAN, DAN REAGEN


a. Alat
- Oject glass
- Pipet tetes
- Rak pewarna
- Botol semprot
- Stop watch

b. Bahan
- Sampel darah EDTA
- Tissue
- Pewarna Giemsa
- Pewarna Wright

VI. CARA KERJA


a. Pembuatan Sediaan Hapusan Darah
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dan dipastikan alat dan bahan
dalam keadaan siap.
2. Diteteskan sampel darah pada objek glass
3. Diratakan sampel darah dengan bantuan objek glass yang lain.
4. Didorong objek glass ke depan dengan membentuk sudut 30-400 ,
sehingga
terbentuk apusan dengan panjang 3-4 cm.
5. Dikering anginkan sediaan yang telah dibuat.

b. Pewarnaan Sediaan Hapusan Darah


1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Diletakkan sediaan darah pada rak pewarnaan.
3. Diteteskan cat Wright secara merata diatas apusan. Didiamkan 2-3 menit
(fiksasi).
4. Ditumpuk dan ditetesi cat Giemsa secara merata, dan didiamkan selama 15
menit.
5. Dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan.

IV. HASIL PENGAMATAN


Gb.1 Proses penetesan darah di atas Gb. 2 Dihapuskan darah dengan
objek glass bantuan objek glass lain

Gb. 3 Didorong objek glass ke depan Gb.4 Sediaan hapusan darah tipis

Gb. 5 Sediaan hapusan darah tipis


menggunakan pewarnaan Giemsa.
V. PEMBAHASAN
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel
darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah
(Dwijastuti, Sri.2015). Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada
umumnya dibuat sediaan hapusan darah. Prinsip pemeriksaan sediaan hapusan darah ini adalah
dengan meneteskan darah lalu dipaparkan di atas objek glass, kemudian dilakukan pengecatan
dan diperiksa dibawah mikroskop (Anonim. 2011).
Terdapat 2 jenis sediaan hapusan darah, yaitu sediaan hapusan darah tipis dan sediaan
hapusan darah tebal. Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan sediaan hapusan darah tipis.
Mula-mula, disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu, dan dipastikan dalam keadaan siap
digunakan. Darah yang digunakan dalam praktikum ini adalah darah dengan antikoagulan
EDTA. Pertama-tama, dibersihkan terlebih dahulu objek glass yang akan digunakan untuk
membuat sediaan hapusan darah tepi. Hal ini berfungsi untuk menghilangkan lemak-lemak yang
menempel pada objek glass agar tidak mengganggu saat proses pengamatan hapusan. Setelah itu,
diteteskan darah ke atas objek glass dengan menggunakan pipet tetes. Kemudian objek glass atau
kaca penutup yang lain disentuhkan ke tetesan darah hingga darah melebar. Selanjutnya dengan
membentuk sudut 30-400, digerakkan objek glass atau kaca penutup ke depan membentuk
hapusan darah yang tidak terlalu tipis ataupun terlalu tebal, karena jika terlalu tebal maka saat
pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat kurang jelas karena sel darah bertumpuk.
Ciri-ciri sediaan hapusan darah yang baik adalah sebagai berikut:
a. Sediaan tidak melebar sampai tepi kaca objek glas, panjang ½ sampai 2/3 panjang kaca.
b. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bangian itu eritrosit tersebar
rata berdekatan dan tidak saling bertumpukan
c. Pinggir sediaan rata, tidak berlubang-lubang atau bergaris-garis.
d. Penebalan eritrosit yang baik tidak berkumpul pada pinggir atau ujung sedimen
(Anonim.2012)
Sediaan hapusan darah tepi dapat digunakan untuk berbagai macam pemeriksaan,
misalnya evaluasi morfologi dari sel darah tepi (eritrosit, trombosit, dan leukosit),
memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit, maupun identifikasi parasit (misal : malaria.
Microfilaria, dan Trypanosoma) (Anonim. 2011).
Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka sediaan hapusan
darah dibiarkan kering dalam suhu ruang. Setelah itu, dilakukan proses pewarnaan. Pada
praktikum kali ini dilakukan pewarnaan Giemsa dan Wright pada sediaan hapusan darah. Pada
pewarnaan Giemsa, mula-mula diteteskan methanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi
darah tertutup semuanya. Fungsi methanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tetap
menempel pada objek glass sehingga tidak hilang saat diamati. Fiksasi juga berfungsi untuk
mempertahankan struktur dari sel darah agar tetap normal. Proses fiksasi ini dilakukan selama 5
menit. Selanjutnya sediaan diteteskan dengan larutan giemsa yang sebelumnya telah diencerkan
dengan buffer pH 7 dengan perbandingan 1:4, dimana 1 mL Giemsa dilarutkan dalam 4 mL
buffer pH 7. Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah sehingga mudah dibedakan dan dapat
terlihat jelas saat diamati. Waktu perendaman ini sebaiknya jangan terlalu lama karena darah bisa
tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu pekat.
Sedangkan dalam pewarnaan Wright, mula-mula sediaan hapusan darah difiksasi
dengan methanol selama 5 menit pada sediaan. Sebenarnya, fiksasi tidak perlu dilakukan karena
dalam larutan Wright sudah terdapat metil alkohol dalam konsentrasi tinggi. Kemudian
diteteskan Wright sebanyak 20 tetes dan didiamkan selama 2 menit. Setelah itu diteteskan buffer
pH 7 hingga menutupi seluruh hapusan dan dibiarkan selama 20 menit lalu dibersihkan cat warna
dengan air yang mengalir.
Berdasarkan penelitian perbedaan hasil pewarnaan giemsa dan wright terhadap
morfologi eritrosit dan kualitas cat pada preparat darah apus didapatkan hasil bahwa cat giemsa
memiliki kualitas pewarnaan lebih baik dibandingkan cat wright. Baik pewarnaan giemsa
maupun wright keduanya tidak mempengaruhi morfologi eritrosit pada preparat darah apus
(Carascallo, Maryo Vegas.2013)
Dalam praktikum ini, terdapat beberapa kesalahan dalam pembuatan sediaan hapusan
darah. Diantaranya adalah darah yang diteteskan terlalu banyak sehingga sediaan hapusan darah
menjadi terlalu tebal sehingga sel-sel eritrosit menutupi satu sama lain sehingga mempersulit
proses pengamatan. Selain itu, saat mendorong atau spreading, praktikan sering ragu-ragu
sehingga terbentuk sediaan yang bergaris-garis, berlubang, dan terkadang terdapat ekor pada
bagian ujung hapusa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya latihan dan teknik yang dimiliki oleh
praktikan.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengencerkan Giemsa, dimana
dari air pengencer yang digunakan harus jernih dan tidak berbau. Selain itu, derajat keasaman
pengencer hendaknya berada 6,8 - 7,2 perubahan, hal ini berguna karena pH pada larutan giemsa
berpengaruh pada sel-sel darah. Dalam praktikum kali ini digunakan buffer pH 7 untuk
mengencerkan Giemsa.

VI. SIMPULAN
Berdasarkan praktikum mengenai pembuatan dan pewarnaan sediaan hapusan darah,
dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Pembuatan sediaan hapusan darah dapat dilakukan dengan cara meneteskan darah ke atas
objek glass kemudian objek glass yang lain disentuhkan ke tetesan darah hingga darah
melebar lalu digerakkan objek glass atau kaca penutup ke depan membentuk hapusan
darah yang baik.
2. Pewarnaan sediaan hapusan darah tepi yang sering dilakukan adalah dengan pewarnaan
Giemsa dan Wright. Pewarnaan ini berfungsi dalam evaluasi morfologi dari sel darah
tepi, memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit, dan untuk identifikasi parasit
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. METODE PEMBUATAN HAPUSAN DAN PENGECATAN PREPARAT


MALARIA (BLOOD SMEAR). [online]. Tersedia:
http://habibi.staff.ub.ac.id/files/2012/11/blood-smear.pdf. [Diakses: 27 Maret 2016; 13.32
WITA]
Anonim.2011. BAB II TINJAUAN PUSTAKA [online]. Tersedia:
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=12611. [Diakses: 27 Maret 2016; 13.42
WITA]
Anonim.2011. BAB II TINJAUAN PUSTAKA.[online]. Tersedia:
http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=11251. [Diakses: 27 Maret 2016; 13.55
WITA]
Carascallo, Maryo Vegas.2013. Perbedaan Hasil Pewarnaan Giemsa dan Wright terhadap
Morfologi Eritrosit dan Kualitas Cat pada Preparat Darah Apus.[online].Tersedia:
http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-
maryovegas-6908. [Diakses: 27 Maret 2016; 15.40 WITA].
Dwijastuti, Sri.2015.Preparasi Sampel Darah dan Urin.[online].Tersedia :
http://dokumen.tips/documents/preparasi-sampel-darah-dan-urine.html. (diakses : 8
Maret 2016. 09:30 wita)
Susilo, Reki Usman. 2014. Flebotomi. Denpasar: Pustaka Rasmedia Yogyakarta