Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN ST-

ELEVASI MIOCARD INFARK (STEMI) DI INSTALASI


GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. SARDJITO
YOGYAKARTA

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
(1910206027)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2019
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN ST-
ELEVASI MIOCARD INFARK (STEMI) DI INSTALASI
GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. SARDJITO
YOGYAKARTA

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
(1910206027)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH

2
YOGYAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN ST-


ELEVASI MIOCARD INFARK (STEMI) DI INSTALASI
GAWAT DARURAT (IGD) RSUP Dr. SARDJITO
YOGYAKARTA

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
(1910206027)

Telah Memenuhi Persyaratan dan disetujui Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Melengkapi Tugas Profesi Ners
pada Program Studi Profesi Ners
Fakultas Ilmu Kesehatan
di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Pada tanggal:

Preceptor Mahasiswa

(………………………..) Hanif Prasetyaningtyas

Mengetahui,
Pembimbing Akademik

Dwi Prihatiningsih, M. Ng.

3
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas
segala berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
makalah yang berjudul “Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan ST-Elevasi Miocard Infark
(STEMI) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta”, sholawat serta
salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan umat yang istiqomah
di jalan-Nya.
Penulis menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan untuk lebih
menyempurnakan penyusunan laporan ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Yogyakarta, Desember 2019

Penulis

4
5
ST-ELEVASI MIOCARD INFARK (STEMI)
A. Definisi
STEMI (ST Elevasi Miocard Infark) merupakan gejala karakteristik dari iskemik miokard
dimana pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) menunjukkan elevasi segmen ST. Infark
miokard akut dengan elevasi ST (STEMI) terjadi jika aliran darah koroner menurun secara
mendadak akibat oklusi trombus pada plak aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya. ST
Elevasi Miokardial Infark (STEMI) merupakan suatu kondisi yang mengakibatkan
kematian sel miosit jantung karena iskhemia yang berkepanjangan akibat oklusi koroner
akut. STEMI terjadi akibat stenosis total pembuluh darah coroner sehingga menyebabkan
nekrosis sel jantung yang bersifat irreversible.
B. Etiologi
Gangguan pada arteri koronaria berkaitan dengan atherosclerosis, kekakuan, atau
penyumbatan total pada arteri oleh emboli atau trombus. Menurunnya suplai oksigen
disebabkan oleh tiga faktor, antara lain:
1. Faktor pembuluh darah
Hal ini berkaitan dengan kepatenan pembuluh darah sebagai jalan darah
mencapai sel-sel jantung. Beberapa hal yang bisa mengganggu kepatenan pembuluh
darah diantaranya: atherosclerosis (arteroma mengandung kolesterol), spasme
(kontraksi otot secara mendadak/ penyempitan saluran), dan arteritis (peradangan
arteri). Spasme pembuluh darah bisa juga terjadi dan biasanya dihubungkan dengan
beberapa hal antara lain : (i) mengkonsumsi obat-obatan tertentu, (ii) stress emosional
atau nyeri, (iii) terpapar suhu dingin yang ekstrim, (iv) merokok.
2. Faktor Sirkulasi
Sirkulasi berkaitan dengan kelancaran peredaran darah dari jantung ke seluruh
tubuh sampai lagi ke jantung. Kondisi yang menyebabkan gangguan pada sirkulasi
diantaranya kondisi hipotensi. Stenosis (penyempitan aorta dekat katup) maupun
insufisiensi yang terjadi pada katup-katup jantung (aorta, maupun trikuspidalis)
menyebabkan menurunnya cardiak out put (COP)
3. Faktor darah
Darah merupakan pengangkut oksigen menuju seluruh bagian tubuh. Hal-hal
yang menyebabkan terganggunya daya angkut darah antara lain: anemia, hipoksemia,
dan polisitemia. Penurunan aliran darah system koronaria menyebabkan
ketidakseimbangan antara myocardial O2 Supply dan kebutuhan jaringan terhadap
O2. Pada penderita penyakit jantung, meningkatnya kebutuhan oksigen tidak mampu
dikompensasi, diantaranya dengan meningkatnya denyut jantung untuk meningkatkan
COP. Oleh karena itu, segala aktivitas yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan
oksigen akan memicu terjadinya infark. Misalnya : aktivitas berlebih, emosi, makan

1
terlalu banyak dan lain-lain. Hipertropi miokard bisa memicu terjadinya infark karena
semakin banyak sel yang harus disuplai oksigen, sedangkan asupan oksigen menurun
akibat dari pemompaan yang tidak efektive.
Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi:
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Genetik
Faktor resiko yang dapat dimodifikasi:
1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi merupakan juga faktor risiko yang dapat menyebabkan
penyakit arteri koroner. Tekanan darah yang tinggi akan dapat meningkatkan
gradien tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri saat memompa darah.
Tekanan tinggi yang terus menerus menyebabkan suplai kebutuhan oksigen jantung
meningkat.
2. Kolesterol darah tinggi
Tingginya kolesterol dengan kejadian penyakit arteri koroner memiliki hubungan
yang erat. Lemak yang tidak larut dalam air terikat dengan lipoprotein yang larut
dengan air yang memungkin dapat diangkut dalam sistem peredaran darah.
Peningkatan kolestreol low density lipoprotein (LDL) dihubungkan dengan
meningkatnya risiko koronaria dan mempercepat proses arterosklerosis. Sedangkan
kadar kolesterol high density lipoprotein (HDL) yang tinggi berperan sebagai faktor
pelindung terhadap penyakit arteri koronaria dengan cara mengangkut LDL ke hati,
mengalami biodegradasi dan kemudian diekskresi
3. Merokok
Merokok dapat memperparah dari penyakit koroner diantaranya karbondioksida
yang terdapat pada asap rokok akan lebih mudah mengikat hemoglobin dari pada
oksigen, sehingga oksigen yang disuplai ke jantung menjadi berkurang. Asam
nikotinat pada tembakau memicu pelepasan katekolamin yang menyebabkan
konstriksi arteri dan membuat aliran darah dan oksigen jaringan menjadi terganggu.
Merokok dapat meningkatkan adhesi trombosit yang akan dapat mengakibatkan
kemungkinan peningkatan pembentukan thrombus.
4. Diabetes mellitus
Pada penderita diabetes mellitus cenderung memiliki prevalensi aterosklerosis yang
lebih tinggi, hiperglikemia menyebabkan peningkatan agregasi trombosit yang
dapat menyebabkan pembentukan thrombus.
C. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita STEMI adalah:
1. Nyeri di dada kiri , bisa menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang.

2
2. Sesak napas
3. Pusing
4. Mual dan muntah
5. Diaphoresis (keluar keringat berlebih)
6. Detak jantung berdebar-debar
7. Terdapat elevasi segmen ST pada lead II, III, dan aVF di EKG
D. Patofisiologi
Proses aterosklerosis dimulai ketika adaya luka pada sel endotel yang bersentuhan
langsung dengan zat-zat dalam darah. Permukaan sel endotel yang semula licin menjadi
kasar, sehingga zat-zat didalam darah menempel dan masuk kelapisan dinding arteri.
Penumpukan plak yang semakin banyak akan membuat lapisan pelindung arteri perlahan-
lahan mulai menebal dan jumlah sel otot bertambah. Setelah beberapa lama jaringan
penghubung yang menutupi daerah itu berubah menjadi jaringan sikatrik, yang mengurangi
elastisitas arteri. Semakin lama semakin banyak plak yang terbentuk dan membuat lumen
arteri mengecil. STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara
mendadak setelah oklusi trombus pada plak aterosklerosis yang sudah ada sebelumnya.
Pada sebagian besar kasus, infark terjadi jika plak aterosklerosis mengalami fisura, rupture
atau ulserasi dan jika kondisi lokal atau sistemik memicu trombogenesis sehingga
mengakibatkan oklusi (tersumbatnya) arteri koroner. Pada STEMI gambaran patologis
klasik terdiri dari fibrin rich red trombus, yang dipercaya menjadi alasan pada STEMI
memberikan respon terhadap terapi trombolitik. Pada lokasi ruptur plak, berbagai agonis
(kolagen, ADP epinefrin dan serotonin) memicu aktivasi trombosit, selanjutnya akan
memproduksi dan melepaskan tromboksan A2 (vasokontriktor lokal yang poten). Aktifitas
trombosit juga akan memicu terjadinya agregasi platelet dan mengaktifasi faktor VII dan X
sehingga menkonversi protombin menjadi thrombin dan fibrinogen menjadi fibrin.
Pembentukan trombus pada kaskade koagulasi akan menyebabkan oklusi oleh trombus
sehinga menyebabkan aliran darah berhenti secara mendadak dan mengakibatkan STEMI.
E. Pathway

Luka pada sel


endotel

Zat dalam darah


menempel

Masuk ke dalam
dinding arteri

Penumpukan plak
3
Lapisan pelindung
arteri menebal

Lumen arteri
mengecil

Suplai oksigen dalam Okulasi (penyumbatan)


arteri koroner Nyeri akut
darah berkurang

Aliran darah coroner Penurunan curah


Kebutuhan oksigen tidak
menurun jantung
tercukupi

Ketidakefektifan pola
nafas Intoleransi aktivitas

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita STEMI adalah:
1. Gagal jantung
2. Henti jantung
3. Syok kardigenik
4. Kematian

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan STEMI (ST Elevasi Miocard Infark) terdiri dari terapi farmakologi
dan non farmakologi. Terapi farmakologi ada tiga kelas obat-obatan yang biasa digunakan
untuk meningkatkan suplai oksigen: vasodilator, antikoagulan, dan trombolitik. Analgetik
dapat diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dada, nyeri dikaitkan dengan
aktivasi simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban jantung.
Antikoagulan (heparin) digunakan untuk membantu mempertahankan integritas jantung.
Heparin memperpanjang waktu pembekuan darah, sehingga dapat menurunkan
kemungkinan pembentukan trombus. Trombolitik adalah untuk melarutkan setiap trombus
yang telah terbentuk di arteri koroner, memperkecil penyumbatan dan juga luasnya infark.
Tiga macam obat trombolitik: streptokinase, aktifator plasminogen jaringan (t-PA = tissue
plasminogen activator), dan anistreplase. Pemberian oksigen dimulai saat awitan nyeri,
oksigen yang dihirup akan langsung meningkatkan saturasi darah. Analgetik (morfin

4
sulfat), pemberian analgetik dibatasi hanya untuk pasien yang tidak efektif diobati dengan
nitrat dan antikoagulan, respon kardiovaskuler terhadap morfin dipantau dengan cermat
khususnya tekanan darah yang sewaktuwaktu dapat turun.
Terapi non farmakologi yang biasanya digunakan adalah dengan prosedur PTCA
(angiplasti koroner transluminal perkutan) dan CABG (coronary artery bypass graft).
PTCA 20 merupakan usaha untuk memperbaiki aliran darah arteri koroner dengan
memecah plak atau ateroma yang telah tertimbun dan mengganggu aliran darah ke jantung.
Kateter dengan ujung berbentuk balon dimasukkan ke areteri koroner yang mengalami
gangguan dan diletakkan diantara daerah aterosklerosis. Balon kemudian dikembangkan
dan dikempiskan dengan cepat untuk memecah plak (Mutaqin, 2009).
H. Rencana Asuhan keperawatan
Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama: keluhan pasien/alas an utama pasien membutuhkan perawatan/datang
ke RS
3. Triage primer: gunakan Emergency Severity Index
4. Survey primer
a. Airway:
 look: benda asing, luka bakar pada jalan nafas, fraktur, atau laserasi pada
wajah, laring, leher atau region maxillofacial
 Listen: snoring, gurgling, stidor, hoarseness, ketidakmampuan berbicara
 Feel: posisi trachea dan pergerakan udara yang berkurang
 Servical-spine control
b. Breathing
 Look: periksa dinding dada akan adanya:
- Fraktur, laserasi dan atau memar
- Pergerakan dada paradoksikal
- Takipnea dan atau pernafasan abnormal
- Penggunaan otot asesoris dan atau otot pernafasan tambahan
- Pengkajian lanjutan tentang kondisi warna pasien
 Listen: ada atau tidaknya penurunan suara nafas
 Feel:
- Udara subkutan
- Instabilitas dinding dada dan atau krepitus
- Posisi trachea
- Pekak atau hiperresonan
- Kondisi pernafasan:
a. Spontan
b. Apbea
c. Retraksi otot
d. Nasal flare
e. Sianosis
f. Posisi tripod
- Ekspansi dada: kanan dan kiri
- Auskultasi: kanan dan kiri

5
- Saturasi oksigen (%)
c. Circulation:
 Look
- Tanda-tanda perdarahan eksternal
- Warna kulit pucat atau sianosis
- Tingkat kesadaran
- Vena leher (collaps atau distensi)
 Listen: bunyi jantung teredam mengindikasikan tamponade jantung
 Feel:
- Kaji kelembapan kulit dan suhu tubuh
- Palpasi nadi untuk mengetahui kualitas, jumlah dan irama
- Nadi
a. Kuat
b. Lemah
c. Tidak ada
- Kulit
a. Normal
b. Pucat
c. Sianosis
d. Hangat
e. Dingin
d. Disability
- Tingkat kesadaran
- Pupil
- Reflek cahaya
- Lateralisasi: kanan dan kiri
- Jika terjadi penuruna kesadaran, tentukan penyebabnya dengan AEIOU
e. Exposure
- Dalam batas normal
- Luka
- Deformitas
- Perdarahan
- Nyeri tekan
- Pembengkakan
d. Tanda-tanda vital
- Tekanan darah
- Nadi
- Suhu
- Respirasi
- Skor nyeri: PQRST
5. Survey sekunder
a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit sekarang
c. AMPLE:
- Alergi
- Medication
- Postilness
- Last meal
- Event
d. Pemeriksaan fisik

6
- Kepala
- Leher dan cervical spine
- Thoraks
- Abdomen
- Pelvis
- Ekstremitas
- BB dan TB
6. Tes diagnostik
- Laboratorium
- EKG
7. Terapi saat ini:
- Nama obat
- Dosis
- Indikasi
- Kontra indikasi
- Efek samping
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan hiperventilisasi
3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
Rencana keperawatan
NOC
1. Kontrol nyeri (1605)
2. Status pernafasan (0415)
3. Keefektifan pompa jantung (0400)
NIC
1. Manajemen nyeri (1400)
2. Terapi oksigen (3320)
3. Perawatan jantung (4040)

7
8
DAFTAR PUSTAKA

Darliana, Devi. (2010). Manajemen Pasien ST Elevasi Miokardial Infark (STEMI).


Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Farissa, Inne Pratiwi. (2012). Komplikasi pada Pasien Infark Miokard Akut ST-Elevasi
(STEMI) yang Mendapat MAupun TidakMendapat Terapi Reperfusi. Universitas
Diponegoro.

Nugroho, Irfan Setyanto. (2018). Perbedaan Kadar SGOT pada Pasien ST-Elevasi Miokard
Infark (STEMI) dan NON-ST Elevasi Miokard Infark (NSTEMI) di RSUD Dr.
Moewardi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. (2016). Panduan Praktik Klinis


(PPK) dan Clinical Pathway (CP) Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Jakarta:
PERKI.

Pramono, Cahyo. (2017). Pengaruh Pemberian Hipnoterapi dan Edukasi Terhadap Skala
Nyeri pada Pasien ST-Elevasi Miocard Infark (STEMI). Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai