Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN BERDASARKAN

KETERDAPATAN IKNOFOSIL DAERAH SUNGAI BANYUMENENG,


MRAGGEN, DEMAK DAN DAERAH NGAREN, JUWANGI, BOYOLALI

Dimas Wahyu Pamungkas


21100112140095
Email : d.pamungkas12@yahoo.co.id
TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO

ABSTRAK

Iknofosil adalah suatu sisa-sisa dari hasil aktivitas suatu organisme yang terekam dalam batuan terutama
batuan sedimen. Dalam fungsinya yang digunakan sebagai analisis dapat menghasilkan sebuah hipotesa
ataupun interpretasi lingkungan pengendapan dari tempat dimana iknofosil terseubt ditemukan. Untuk
jenis iknofosil yang ditemukan pada daerah Sungai Banyumeneng yaitu berupa burrowing yang telah
terisi oleh material sedimen. Sedangkan untuk daerah Ngaren berupa konkresi. Berdasarkan jenis
iknofosil dapat ditarik hipotesa lingkungan pengendapanya yaitu daerah sandy backshore / sandy shore,
zona sublitoral, dan zona abisal.
Kata Kunci : Sisa aktivitas organisme, Iknofosil, Jenis Iknofosil, Lingkungan Pengendapan

PENDAHULUAN berbatasan dengan Kabupaten Jepara, sebelah


Iknofosil adalah suatu sisa-sisa dari hasil timur berbatasan dengan Kabupaten Kudus dan
aktivitas suatu organisme yang terekam dalam Kabupaten Grobogan, sebelah selatan berbatasan
batuan terutama batuan sedimen. Dalam suatu dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten
pemetaan geologi, terdapat suatu jejak sisa Semarang, sedangkan sebelah barat berbatasan
organisme yang telah membentuk suatu fosil. dengan Kota Semarang.
Kemudian dilakukan analsis terhadap iknofosil Secara administrasi, Kabupaten Demak
tersebut untuk dapat menentukan lingkungan terdiri dari 14 kecamatan, 243 desa, dan 6
pengendapan dari keterdapatan iknofosil tersebut. kelurahan, 512 dusun, 6.326 Rukun Tetangga (RT)
Hipotesa dari jenis iknofosil yang ditemukan di dan 1.262 Rukun Warga (RW), dengan luas
kedua daerah penelitian tersebut adalah . dan wilayah 89.743 ha.
kedua daerah temuan iknofosil tersebut berlokasi Kabupaten Demak termasuk kedalam
di Sungai Banyumeneng, Mranggen, Demak serta zona Kendeng. Zona Kendeng sendiri meliputi
daerah Ngaren, Juwangi, Boyolali. deretan pegunungan dengan arah memanjang
barat-timur yang terletak langsung di sebelah
GEOLOGI REGIONAL utara sub zona Ngawi. Pegunungan ini tersusun
Wilayah Kabupaten Demak terletak di oleh batuan sedimen laut dalam yang telah
bagian utara Pulau Jawa dengan luas wilayah mengalami deformasi secara intensif membentuk
89.743 ha dengan jarak bentangan Utara ke suatu antiklinorium. Pegunungan ini mempunyai
Selatan 41 km dan Timur ke Barat 49 km dan panjang 250 km dan lebar maksimum 40 km (de
berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Adapun Genevraye & Samuel, 1972) membentang dari
kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut gunungapi Ungaran di bagian barat ke timur
Jawa adalah kecamatan Sayung, Bonang, dan melalui Ngawi hingga daerah Mojokerto. Di
Wedung. Secara geografis Kabupaten Demak bawah permukaan, kelanjutan zona ini masih
terletak pada 110º27’58’’-110º48’47’’ Bujur Timur dapat diikuti hingga di bawah selatan Madura.
dan 6º43’26’’-7º09’43’’ Lintang Selatan. Batas Ciri morfologi Zona Kendeng berupa jajaran
batas Kabupaten Demak meliputi sebelah utara perbukitan rendah dengan morfologi
bergelombang, dengan ketinggian berkisar antara tersusun oleh napal tak berlapis setebal 600 meter,
50 hingga 200 meter. Proses eksogenik yang berwarna putih kekuning-kuningan sampai abu-
berupa pelapukan dan erosi pada daerah ini abu kebiru-biruan, kaya akan kandungan
berjalan sangat intensif, selain karena iklim tropis foraminifera plantonik.
juga karena sebagian besar litologi penyusun Formasi Kalibeng bagian bawah ini
Mandala Kendeng adalah batulempung-napal- terdapat beberapa perlapisan tipis batupasir yang
batupasir yang mempunyai kompaksitas rendah, ke arah Kendeng bagian barat berkembang
misalnya pada formasi Pelang, Formasi Kerek dan menjadi suatu endapan aliran rombakan, yang
Napal Kalibeng yang total ketebalan ketiganya disebut sebagai Formasi Banyak (Harsono, 1983
mencapai lebih dari 2000 meter. dalam Rahardjo, 2004) atau anggota Banyak dari
Stratigrafi penyusun Zona Kendeng formasi Kalibeng (Nahrowi dan Suratman, 1990
merupakan endapan laut dalam di bagian bawah dalam Rahardjo, 2004), ke arah Jawa Timur, yaitu
yang semakin ke atas berubah menjadi endapan di sekitar Gunung Pandan, Gunung Antasangin
laut dangkal dan akhirnya menjadi endapan non dan Gunung Soko, bagian atas formasi ini
laut. Endapan di Zona Kendeng merupakan berkembang sebagai endapan vulkanik laut yang
endapan turbidit klastik, karbonat dan menunjukkan struktur turbidit. Fasies tersebut
vulkaniklastik. Stratigrafi Zona Kendeng terdiri disebut sebagai anggota Antasangin (Harsono,
atas 7 formasi batuan, urut dari tua ke muda 1983 dalam Rahardjo, 2004).
sebagai berikut (Harsono, 1983 dalam Rahardjo Keempat, ada Formasi Pucangan. Di
2004) : Kendeng bagian barat satuan ini tersingkap luas
Pertama yaitu Formasi Pelang, merupakan antara Trinil dan Ngawi. Di Mandala Kendeng
formasi tertua di Mandala Kendeng tersingkap di yaitu daerah Sangiran, Formasi Pucangan
Desa Pelang, Selatan Juwangi. Tidak jelas berkembang sebagai fasies vulkanik dan fasies
keberadaan bagian atas maupun bawah dari lempung hitam. Fasies vulkaniknya berkembang
formasi ini karena singkapannya pada daerah sebagai endapan lahar yang menumpang diatas
upthrust,berbatasan langsung dengan formasi formasi Kalibeng. Fasies lempung hitamnya
Kerek yang lebih muda. Dari bagian yang berkembang dari fasies laut, air payau hingga air
tersingkap tebal terukurnya berkisar antara 85 tawar. Di bagian bawah dari lempung hitam ini
meter hingga 125 meter (de Genevraye & Samuel, sering dijumpai adanya fosil diatomae dengan
1972 dalam Rahardjo, 2004). Litologi utama sisipan lapisan tipis yang mengandung
penyusunnya adalah napal, napal lempungan foraminifera bentonik penciri laut dangkal.
dengan lensa kalkarenit bioklastik yang banyak Semakin ke atas akan menunjukkan kondisi
mengandung fosil foraminifera besar. pengendapan air tawar yang dicirikan dengan
Kedua, Formasi Kerek, Formasi Kerek ini adanya fosil moluska penciri air tawar.
memiliki kekhasan berupa perulangan perselang- Formasi kelima, Formasi Kabuh . Formasi
selingan antara lempung, napal, batupasir tuf ini mempunyai lokasi tipe di desa Kabuh, Kec.
gampingan dan batupasir tufaan yang Kabuh, Jombang. Formasi ini tersusun oleh
menunjukkan struktur sedimen yang khas yaitu batupasir dengan material non vulkanik antara lain
perlapisan bersusun (graded bedding). Lokasinya kuarsa, berstruktur silang siur dengan sisipan
berada di Desa Kerek, tepi sungai Bengawan konglomerat, mengandung moluska air tawar dan
Solo, ± 8 km ke utara Ngawi. Di daerah sekitar fosil-fosil vertebrata. Formasi ini mempunyai
lokasi tipe formasi ini terbagi menjadi tiga penyebaran geografis yang luas. Di daerah
anggota (de Genevraye & Samuel, 1972 dalam Kendeng barat formasi ini tersingkap di kubah
Rahardjo, 2004), dari tua ke muda, masing- Sangiran sebagai batupasir silang siur dengan
masing : Anggota Formasi Kerek yang pertama, sisipan konglomerat dan tuf setebal 100 meter.
yaitu Anggota Banyuurip. Anggota kedua yaitu Batuan ini diendapkan fluvial dimana terdapat
Anggota Sentul. Anggota ketiga merupakan struktur silang siur, maupun merupakan endapan
Anggota Batugamping Kerek danau karena terdpaat moluska air tawar seperti
Selanjutnya kembali ke Formasi. Formasi yang dijumpai di Trinil.
ketiga yaitu Formasi Kalibeng. Formasi ini terbagi Formasi keenam yaitu Formasi Notopuro.
menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dan Formasi Notopuro ini mempunyai lokasi tipe di
bagian atas. Bagian bawah formasi Kalibeng desa Notopuro, Timur Laut Saradan, Madiun yang
saat ini telah dijadikan waduk. Formasi ini terdiri langsung ke daerah yang dituju, untuk
atas batuan tuf berselingan dengan batupasir mendapatkan hasil data yang valid dan
tufaan, breksi lahar dan konglomerat vulkanik. berkualitas. Untuk metode studi pustaka yaitu
Makin keatas sisipan batupasir tufaan semakin dengan membaca geologi regional dan unsur –
banyak. Sisipan atau lensa-lensa breksi volkanik unsur geologi yang ada untuk dapat mendapatkan
dengan fragmen kerakal terdiri dari andesit dan data yang lebih valid antara studi lapangan dan
batuapung juga ditemukan yang merupakan cirri pustaka. Sedangkan untuk metode analissi
formasi Notopuro. Formasi ini terendapkan secara digunakan setelah mendapatkan data lapangan
selaras diatas formasi Kabuh, tersebar sepanjang yang telah digabungkan dengan data pustaka.
Pegunungan Kendeng dengan ketebalan lebih dari Sehingga untuk analsisis data yang didapat akan
240 meter. Umur dari formasi ini adalah Plistosen lebih mudah.
akhir dan merupakan endapan lahar di daratan.
Terakhir, Endapan undak Bengawan Solo. HASIL DAN PEMBAHASAN
Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik Pengamatan lapangan dilakukan di Sungai
dengan fragmen napal dan andesit disamping Banyumeneng, Mranggen, Kabupaten Demak,
endapan batupasir yang mengandung fosil-fosil Jawa Tengah. Pada daerah pengamatan ditemukan
vertebrata. di daerah Brangkal dan Sangiran, dua jenis iknofosil, yaitu berupa trails , boring,
endapan undak tersingkap baik sebagai dan konkresi.
konglomerat dan batupasir andesit yang agak Boring merupakan suatu sisa aktivitas
terkonsolidasi dan menumpang di atas bidang organisme, dimana organisme tersebut membuat
erosi pada Formasi Kabuh maupun Notopuro. lubang galian pada endapan sedimen yang telah
Secara umum struktur – struktur yang ada terkonsolidasi sehingga menimbulkan lubang pada
di Zona Kendeng berupa : sedimen tersebut. Boring tersebut ditemukan pada
Lipatan, lipatan yang ada pada daerah litologi batupasir ukuran butir kasar. Boring yang
Kendeng sebagian besar berupa lipatan asimetri ditemukan, berposisi memotong lapisan batuan
bahkan beberapa ada yang berupa lipatan secara vertikal. Hal ini dapat dijadikan acuan
overturned. Lipatan – lipatan di daerah ini ada interpretasi lingkungan pengendapan.
yang memiliki pola en echelon fold dan ada yang Dari lubang yang memanjang memotong lapisan
berupa lipatan – lipatan menunjam. Secara umum batuan secara vertikal tersebut dan juga dari jenis
lipatan di daerah Kendeng berarah barat – timur. litologi yang menaungi iknofossil tersebut,
Selanjutnya yaitu Sesar Naik. Sesar naik interpretasi lingkungan pengendapannya ada dua
ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak kemungkinan, yaitu sandy backshore dan sandy
dijumpai di Zona Kendeng, dan biasanya shore.
merupakan kontak antar formasi atau anggota Iknofossil kedua yang ditemukan yaitu
formasi. berupa trails. Trail ini merupakan sisa aktivitas
Ketiga ada Sesar Geser. Sesar geser pada organisme yang menunjukkan bahwa organisme
Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat tersebut bergerak dengan menyeret bagian
daya dan tenggara -barat laut. tubuhnya. Biasanya merupakan hewan melata.
Dan yang terakhir terdapat Struktur Trails tersebut memanjang, memotong lapisan
Kubah. Struktur Kubah yang ada di Zona batuan secara horizontal. Interpretasi lingkungan
Kendeng biasanya terdapat di daerah Sangiran pengendapannya yaitu zona sublitoral. Iknofossil
pada satuan batuan berumur Kuarter. Bukti yang terbentuk pada zona sublitoral ini disebut
tersebut menunjukkan bahwa struktur kubah pada dengan Cruziana.
daerah ini dihasilkan oleh deformasi yang kedua, Terakhir yaitu konkresi yang ditemukan di
yaitu pada Kala Plistosen. daerah Juwangi. Konkresi ini mempunyai bentuk
oval yang simetris, dan mempunyai kenampakan
METODE PENELITIAN yang keras dibandingkan dengan lapisan sedimen
Untuk metode penelitian dari paper ini yang berada di sekitarnya. Konkresi sendiri
yaitu menggunakan metode studi lapangan, terbentuk akibat adanya oksida dan hidroksida
metode studi pustakan dan metode analisis. Untuk yang terjadi dalam bentuk mineral amorf,
penggunaan metode studi lapangan yaitu parakristalin atau kristalin sebagai selaput pada
dilakukan engan cara mengambil data secara
mineral lain, bahan sementasi mineral dan agregat Bentuk iknofosil yang berupa boring yang
mebentu suatu konkresi memotong lapisan batuan secara vertikal dan
terdapat pada litologi batupasir, diinterpretasikan
KESIMPULAN terbentuk pada lingkungan pengendapan sandy
Keterdapatan iknofosil yang ada di backshore atau sandy shore.
lapangan, dapat dijadikan acuan interpretasi Bentuk iknofosil yang berupa konkresi
lingkungan pengendapannya. Dasar interpretasi yang berbentuk oval diinterpretasikan terbentuk
yaitu berdasarkan bentuk dan jenis iknofosil yang pada lingkungan pengendapan abisal.
dapat ditemukan di lapangan.
Bentuk iknofosil yang berupa trail REFERENSI
memanjang horizontal lapisan batuan http://www.es.ucl.ac.uk/tf/ichno.htm
diinterpretasikan terbentuk pada lingkungan http://www.scribd.com/doc/109579891/Proposal-
pengendapan sublitoral. Tesis
http://en.wikipedia.org/wiki/Trace_fossil

LAMPIRAN

Gambar 1.1 Boring


Gambar 1.2 Trail

Gambar 1.3 Konkresi