Anda di halaman 1dari 88

ANALISA PERBANDINGAN UU KPK NO.

30/2002 DENGAN UU KPK 19/2019


Poin revisi UU KPK yang telah disepakati DPR dan pemerintah yaitu, pertama, terkait kedudukan KPK sebagai lembaga penegak
hukum berada pada rumpun eksekutif yang dalam pelaksanaan kewenangan dan tugasnya tetap independen. Kedua, mengenai
pembentukan Dewan Pengawas KPK. Ketiga, terkait pelaksanaan fungsi penyadapan. Keempat, mengenai mekanisme penerbitan Surat
Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) perkara tindak pidana korupsi oleh KPK. Kelima, terkait koordinasi kelembagaan KPK dengan
penegak hukum sesuai dengan hukum acara pidana, kepolisian, kejaksaan, dan kementerian atau lembaga lainnya dalam pelaksanaan
penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan perkara tindak pidana korupsi. Keenam, mengenai mekanisme penggeledahan dan penyitaan.
Ketujuh, terkait sistem kepegawaian KPK.

No. UU KPK (Sebelum Perubahan) UU KPK (Setelah Perubahan)* Keterangan


1 a. bahwa dalam rangka mewujudkan a. bahwa dalam rangka mewujudkan UU KPK (Setelah Perubahan) yang baru
masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera masyarakat yang adil, makmur, dan lebih menitikberatkan pada penyelenggaraan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang sejahtera berdasarkan Pancasila dan negara yang bersih dari kolusi, korupsi, dan
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Undang-Undang Dasar Negara nepotisme.
1945, pemberantasan tindak pidana Republik Indonesia Tahun 1945,
korupsi yang terjadi sampai sekarang perlu penyelenggaraan negara
belum dapat dilaksanakan secara optimal. yang bersih dari kolusi, korupsi
Oleh karena itu pemberantasan tindak dan nepotisme;
pidana korupsi perlu ditingkatkan secara
profesional, intensif, dan
berkesinambungan karena korupsi telah
merugikan keuangan negara,
perekonomian negara, dan menghambat
pembangunan nasional;

1
2 b. bahwa lembaga pemerintah yang b. bahwa kepolisian, kejaksaan, dan UU KPK (Setelah Perubahan) lebih
menangani perkara tindak pidana korupsi Komisi Pemberantasan Tindak menitikberatkan pada peningkatan sinergitas
belum berfungsi secara efektif dan efisien Pidana Korupsi sebagai lembaga antara kepolisian, kejaksaan, dan juga KPK.
dalam memberantas tindak pidana korupsi; yang menangani perkara tindak
pidana korupsi perlu ditingkatkan
sinergitasnya sehingga
masingmasing dapat berdaya guna
dan berhasil guna dalam upaya
pemberantasan tindak pidana korupsi
berdasarkan asas kesetaraan
kewenangan dan perlindungan
terhadap hak asasi manusia;
3 c. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 43 d. bahwa beberapa ketentuan Poin meninmbang pada UU KPK (Sebelum
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 mengenai Komisi Pemberantasan Perubahan) adalah dasar pembentukan UU
tentang Pemberantasan Korupsi sebagaimana diatur dalam KPK.
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah UndangUndang Nomor 30 Tahun
diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 2002 tentang Komisi Pemberantasan Poin menimbang pada UU KPK (Setelah
Tahun Tindak Pidana Korupsi sebagaimana Perubahan) menyatakan bahwa UU KPK
2001 tentang Perubahan atas Undang- telah diubah dengan Undang- sudah tidak sesuai lagi dengan kehidupan
Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Undang Nomor 10 Tahun 2015 ketatanegaraan, perkembangan hukum, dan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, perlu tentang Penetapan Peraturan kebutuhan masyarakat.
dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pemerintah Pengganti Undang-
Pidana Korupsi yang independen dengan Undang Nomor 1 Tahun 2015
tugas dan wewenang melakukan tentang Perubahan atas
pemberantasan UndangUndang Nomor 30 Tahun
tindak pidana korupsi; 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sudah tidak
sesuai lagi dengan kehidupan

2
ketatanegaraan, perkembangan
hukum, dan

kebutuhan masyarakat sehingga


Undang-Undang tersebut perlu
diubah;
4 - c. bahwa pelaksanaan tugas Selain sinergitas, UU KPK (Setelah
Komisi Pemberantasan Tindak Perubahan) juga memberikan
Pidana Korupsi perlu terus penghormatan terhadap hak asasi manusia.
ditingkatkan melalui strategi
pencegahan dan pemberantasan
tindak pidana korupsi yang
komprehensif dan sinergis tanpa
mengabaikan penghormatan
terhadap hak asasi manusia
sesuai dengan ketentuan peraturan

3
perundang-undangan;

Mengingat
5 1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 1. Pasal 20 dan Pasal 21 UUD Ps. 5 (1) UUD 1945: Presiden berhak
UUD 1945; 1945; mengajukan rancangan undang-
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2. Undang-Undang Nomor 30 undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
1981 tentang Hukum Acara Tahun 2002 tentang Komisi
Pidana; Pemberantasan Tindak Ps. 21 UUD 1945: Anggota Dewan
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun Pidana Korupsi, Perwakilan Rakyat berhak mengajukan
1999 tentang Penyelenggara sebagaimana telah diubah usul rancangan undang-undang.
Negara yang Bersih dan Bebas dengan UndangUndang
dari Korupsi, Kolusi, dan Nomor 10
Nepotisme; Tahun 2015 tentang Penetapan
4. Undang-Undang Nomor 31 Tahun Peraturan Pemerintah
1999 tentang Pemberantasan Pengganti Undang-
Tindak Undang Nomor 1 Tahun
Pidana Korupsi sebagaimana telah 2015 Tentang Perubahan
diubah atas
UndangUndang Nomor 30
Tahun 2002 tentang

4
Komisi Pemberantasan
Tindak

dengan Undang-Undang Nomor 20 Pidana Korupsi


Tahun 2001 tentang Perubahan atas menjadi Undang-
Undang-Undang Nomor 31 Tahun Undang.
1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.

Pasal 1

5
6 (1) Tindak Pidana Korupsi adalah tindak (1) Tindak Pidana Korupsi adalah Pengertian tindak pidana korupsi.
pidana sebagaimana dimaksud dalam tindak pidana sebagaimana
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 dimaksud dalam undang-undang
tentang Pemberantasan Tindak Pidana yang mengatur mengenai
Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Pemberantasan Tindak
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Pidana Korupsi.
tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

7 (2) Penyelenggara Negara adalah (2) Penyelenggara Negara adalah -


penyelenggara negara sebagaimana dimaksud pejabat negara yang menjalankan
dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun kekuasaan eksekutif, legislatif,
1999 tentang Penyelenggara Negara yang atau yudikatif dan pejabat lain
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan yang fungsi dan tugas berkaitan
Nepotisme. dengan penyelengaraan negara
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
8 (3) Pemberantasan tindak pidana korupsi (4) Pemberantasan Tindak Pidana -
adalah serangkaian tindakan Korupsi adalah serangkaian kegiatan

6
untuk mencegah dan memberantas tindak untuk mencegah dan memberantas
pidana korupsi melalui upaya koordinasi, terjadinya tindak pidana korupsi
supervisi, monitor, penyelidikan, penyidikan, melalui upaya koordinasi, supervisi,
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang monitor, penyelidikan, penyidikan,
pengadilan, dengan peran serta masyarakat penuntutan, pemeriksaan di sidang
berdasarkan peraturan perundang-undangan pengadilan, dengan peran serta
yang berlaku. masyarakat sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.

9 - (3) Komisi Pemberantasan Tindak Dalam Putusan MK Nomor 36/PUU-


Pidana Korupsi yang selanjutnya XV/2017 disebutkan, dasar hukum MK
disebut Komisi Pemberantasan menyatakan bahwa KPK adalah bagian dari
Korupsi adalah lembaga negara eksekutif dan bisa dikenakan hak angket
dalam rumpun kekuasaan karena lembaga ini melakukan fungsi
eksekutif yang melaksanakan tugas eksekutif, seperti halnya lembaga kepolisian
pencegahan dan pemberantasan dan kejaksaan. Dengan memiliki fungsi itu,
Tindak Pidana Korupsi sesuai maka, menurut putusan tersebut, KPK bisa
dengan Undang- dikenakan hak angket sebagai bagian
Undang ini. mekanisme checks and balances.

Ketika organisasi KPK menjadi rumpun


eksekutif, maka sudah menjadi kewenangan
presiden sebagai kepala pemerintahan dan
kepala negara membentuk dewan pengawas
KPK. Dengan demikian KPK menjadi
lembaga penegak hukum sekaligus bagian
dari lembaga pemerintahan.

7
10 - (5) Penyadapan adalah kegiatan UU KPK (Sebelum Perubahan) tidak
untuk mendengarkan, merekam, mengatur definisi penyadapan.
dan/atau
mencatat transmisi informasi
elektronik dan/atau dokumen
elektronik yang tidak bersifat
publik, baik menggunakan jaringan
kabel, komunikasi, jaringan nirkabel,
seperti pancaran elektromagnetis
atau radio frekuensi maupun alat
elektronik lainnya.
11 - (6) Pegawai Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), KPK
Korupsi adalah aparatur sipil adalah bagian dari lembaga negara dalam
negara sesuai dengan ketentuan rumpun eksekutif yang melaksanakan tugas
peraturan perundang-undangan pencegahan dan pemberantasan tindak
mengenai aparatur sipil negara. pidana korupsi, sehingga status pegawai
KPK juga harus tunduk pada Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN.
Pasal 3
12 Komisi Pemberantasan Korupsi adalah Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), KPK
lembaga negara yang dalam melaksanakan adalah lembaga negara dalam adalah lembaga negara dalam rumpun
tugas dan wewenangnya bersifat rumpun kekuasaan eksekutif yang kekuasaan eksekutif yang melaksanakan
independen dan bebas dari pengaruh dalam melaksanakan tugas dan tugas dan wewenang yang bersifat
kekuasaan manapun. wewenangnya bersifat independen independen.
dan bebas dari pengaruh kekuasaan
manapun. Sedangkan, dalam UU KPK (Sebelum
Perubahan), tidak disebutkan bahwa KPK
adalah lembaga negara dalam rumpun
kekuasaan eksekutif.

8
Pasal 5
13 Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Dalam menjalankan tugas dan Ada tambahan asas dalam UU KPK (Setelah
Komisi wewenangnya, Komisi Perubahan) yakni penghormatan terhadap
Pemberantasan Korupsi berasaskan HAM.
pada:
Pemberantasan Korupsi berasaskan pada : a. kepastian hukum;
a. kepastian hukum; b. keterbukaan;
b. keterbukaan; c. akuntabilitas;
c. akuntabilitas; d. kepentingan umum;
d. kepentingan umum; dan e. proporsionalitas; dan
e. proporsionalitas. f. penghormatan terhadap
hak asasi manusia.
Pasal 6 (Tugas KPK)

9
14 BAB II TUGAS, WEWENANG, Komisi Pemberantasan Korupsi -
DAN KEWAJIBAN bertugas melakukan:
a. tindakan-tindakan
Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai pencegahan sehingga tidak
tugas: terjadi Tindak
a. koordinasi dengan instansi yang Pidana Korupsi;
berwenang melakukan pemberantasan b. koordinasi dengan instansi
tindak yang berwenang
pidana korupsi; melaksanakan
b. supervisi terhadap instansi yang Pemberantasan Tindak
berwenang melakukan pemberantasan Pidana Korupsi dan instansi
tindak yang bertugas
pidana korupsi; melaksanakan
c. melakukan penyelidikan, pelayanan publik;
penyidikan, dan penuntutan terhadap c. monitor terhadap
tindak pidana penyelenggaraan
korupsi; pemerintahan negara;
d. melakukan tindakan- d. supervisi terhadap instansi
tindakan pencegahan tindak pidana yang berwenang
korupsi; dan melaksanakan
Pemberantasan Tindak
Pidana
Korupsi;
e. penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan terhadap
Tindak
Pidana Korupsi; dan

10
e. melakukan monitor terhadap f. tindakan untuk melaksanakan
penyelenggaraan pemerintahan penetapan hakim dan putusan
negara. pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum
tetap.
Tugas Koordinasi
15 Pasal 7: Pasal 8: Tugas koordinasi dalam UU KPK (Sebelum
Perubahan) semula ada dalam Pasal 7 dan di
Dalam melaksanakan tugas koordinasi Dalam melaksanakan tugas ubah dalam Pasal 8 UU KPK (Setelah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf koordinasi sebagaimana Perubahan).
a, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang dimaksud dalam Pasal 6
: huruf b, Komisi Pemberantasan
a. mengkoordinasikan penyelidikan, Korupsi berwenang: a.
penyidikan, dan penuntutan tindak mengoordinasikan
pidana korupsi; penyelidikan, penyidikan, dan
b. menetapkan sistem pelaporan dalam penuntutan dalam Pemberantasan
kegiatan pemberantasan tindak pidana Tindak Pidana Korupsi;
korupsi; b. menetapkan sistem pelaporan
c. meminta informasi tentang kegiatan dalam kegiatan Pemberantasan
pemberantasan tindak pidana korupsi Tindak
kepada instansi yang terkait; Pidana Korupsi;
d. melaksanakan dengar pendapat atau c. meminta informasi tentang
pertemuan dengan instansi yang kegiatan Pemberantasan Tindak
berwenang melakukan Pidana
Korupsi kepada instansi yang terkait;
d. melaksanakan dengar
pendapat atau pertemuan dengan
instansi yang berwenang dalam

11
melakukan Pemberantasan Tindak
Pidana
Korupsi; dan
e. meminta laporan kepada
instansi berwenang mengenai upaya

pemberantasan tindak pidana korupsi; pencegahan sehingga tidak terjadi


dan Tindak Pidana Korupsi.
e. meminta laporan instansi terkait
mengenai pencegahan tindak pidana
korupsi.
Tugas Supervisi

12
16 Pasal 8: Pasal 10: Tugas supervisi dalam UU KPK (Setelah
Perubahan) tidak mencantumkan
(1) Dalam melaksanakan tugas supervisi (1) Dalam melaksanakan tugas pengawasan, penelitian, atau penelaahan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf supervisi sebagaimana dimaksud terhadap ‘instansi yang melaksanakan
b, Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Pasal 6 huruf d, Komisi pelayanan publik’.
berwenang melakukan pengawasan, Pemberantasan Korupsi berwenang
penelitian, atau penelaahan terhadap melakukan pengawasan, penelitian, Penyerahan tersangka dan seluruh berkas
instansi yang menjalankan tugas dan atau penelaahan terhadap instansi serta pembuatan dan penandatanganan berita
wewenangnya yang berkaitan dengan yang menjalankan tugas dan acara penyerahan yang sebelumnya diatur
pemberantasan tindak pidana korupsi, dan wewenangnya yang berkaitan dalam Pasal 8 mengenai tugas supervisi UU
instansi yang dalam melaksanakan dengan Pemberantasan Tindak KPK (Sebelum Perubahan), diatur dalam
pelayanan publik. Pidana Korupsi. Pasal 10A UU KPK (Setelah Perubahan).

(2) Dalam melaksanakan wewenang (2) Ketentuan mengenai Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Komisi pelaksanaan tugas supervisi ketentuan mengenai pelaksanaan tugas
Pemberantasan Korupsi berwenang juga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) supervisi akan diatur dengan Perpres.
mengambil alih penyidikan atau diatur dengan Peraturan Presiden.
penuntutan terhadap pelaku tindak pidana
korupsi yang sedang

13
dilakukan oleh kepolisian atau
kejaksaan.

(3) Dalam hal Komisi


Pemberantasan Korupsi mengambil alih
penyidikan atau penuntutan, kepolisian atau
kejaksaan wajib menyerahkan tersangka
dan seluruh berkas perkara beserta alat
bukti dan dokumen lain yang diperlukan
dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja, terhitung sejak tanggal
diterimanya permintaan Komisi
Pemberantasan Korupsi.

(4) Penyerahan sebagaimana dimaksud


pada ayat (3) dilakukan dengan membuat
dan menandatangani berita acara
penyerahan sehingga segala tugas dan
kewenangan kepolisian atau kejaksaan pada
saat penyerahan tersebut beralih kepada
Komisi Pemberantasan Korupsi.

14
Pengambilalihan Penyidikan dan Penuntutan
17 Pasal 9: Pasal 10A: Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), KPK
dalam mengambil alih penyidikan dan/atau
Pengambilalihan penyidikan dan Di antara Pasal 10 dan Pasal 11 penuntutan harus memberitahukan kepada
penuntutan sebagaimana dimaksud dalam disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal penyidik atau penuntut umum yang
Pasal 8, dilakukan oleh Komisi 10A, yang berbunyi sebagai berikut: menangani Tindak Pidana Korupsi.
Pemberantasan Korupsi dengan alasan:
a. laporan masyarakat mengenai (1) Dalam melaksanakan Pengambilalihan penyidikan dan penuntutan
tindak pidana korupsi tidak wewenang sebagaimana dimaksud diatur dalam Pasal 9 UU KPK (Sebelum
ditindaklanjuti; dalam Pasal 10, Komisi Perubahan), sedangkan dalam UU KPK
b. proses penanganan tindak Pemberantasan Korupsi berwenang (Setelah Perubahan) diatur dalam Pasal 10A.
pidana korupsi secara mengambil alih penyidikan
berlarut-larut atau tertunda- dan/atau penuntutan terhadap
tunda tanpa alasan yang dapat pelaku Tindak Pidana Korupsi yang
dipertanggungjawabkan; c. sedang dilakukan oleh kepolisian
penanganan tindak pidana atau kejaksaan.
korupsi ditujukan untuk
melindungi pelaku tindak pidana (2) Pengambilalihan penyidikan
korupsi yang sesungguhnya; dan/atau sebagaimana dimaksud
d. penanganan tindak pidana pada ayat (1), dilakukan oleh Komisi
korupsi mengandung unsur Pemberantasan Korupsi dengan
korupsi; alasan:
e. hambatan penanganan tindak a. laporan masyarakat mengenai
pidana korupsi Tindak Pidana Korupsi tidak
dilanjuti;
b. proses penanganan Tindak
Pidana Korupsi tanpa ada
penyelesaian atau tertunda

15
tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan;

16
f. karena campur tangan dari c. penanganan Tindak Pidana
eksekutif, yudikatif, atau Korupsi ditunjukan untuk
legislatif; atau melindungi pelaku Tindak
keadaan lain yang menurut Pidana Korupsi yang
pertimbangan kepolisian sesungguhnya;
atau kejaksaan, penanganan d. Penanganan Tindak Pidana
tindak pidana korupsi sulit Korupsi mengandung unsur
dilaksanakan secara baik dan Tindak Pidana Korupsi;
dapat e. hambatan penanganan
dipertanggungjawabkan. Tindak Pidana Korupsi
karena campur tangan dari
pemegang kekuasaan
eksekutif, yudikatif, atau
legislatif; atau
f. keadaan lain yang menurut
pertimbangan kepolisian
atau kejaksaan, penanganan
tindak pidana korupsi sulit
dilaksanakan secara baik
dan dapat
dipertanggungjawabkan.

(3) Dalam hal Komisi


Pemberantasan Korupsi mengambil
alih penyidikan dan/atau
penuntutan, kepolisian dan/atau
kejaksaan wajib menyerahkan
tersangka dan seluruh berkas
perkara berserta alat bukti dan

17
dokumen lain yang diperlukan
paling lama 14 (empat belas) hari
kerja, terhitung sejak

18
tanggal permintaan Komisi
Pemberantasan Korupsi.

(4) Penyerahaan sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) dilakukan
dengan membuat dan mendatangani
berita acara penyerahaan sehingga
segala tugas dan kewenangan
kepolisian dan/atau kejaksaan pada
saat penyerahaan tersebut beralih
kepada Komisi Pemberantasan
Korupsi.

(5) Komisi Pemberantasan


Korupsi dalam mengambil alih
penyidikan dan/atau penuntutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan kepada penyidik
atau penuntut umum yang
menangani Tindak Pidana Korupsi.
Pasal 10

19
18 Dalam hal terdapat alasan sebagaimana - -
dimaksud dalam Pasal 9, Komisi
Pemberantasan Korupsi memberitahukan
kepada penyidik atau penuntut umum untuk
mengambil alih tindak pidana korupsi
yang sedang ditangani.

Pasal 11

20
19 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana (1) Dalam melaksanakan tugas Perkara yang mendapat perhatian
dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal masyarakat tidak lagi menjadi kriteria dalam
Pemberantasan Korupsi berwenang 6 huruf e, Komisi Pemberantasan UU KPK (Setelah Perubahan).
melakukan penyelidikan, penyidikan, dan Korupsi berwenang melakukan
penuntutan tindak pidana korupsi yang : penyelidikan, penyidikan, dan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) juga
a. melibatkan aparat penegak hukum, penuntutan terhadap tindak pidana diatur, apabila dalam hal Tindak Pidana
penyelenggara negara, dan orang lain korupsi yang: Korupsi tidak memenuhi ketentuan, KPK
yang ada kaitannya dengan tindak a. melibatkan aparat wajib menyerahkan penyelidikan,
pidana korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum, penyidikan, dan penuntutan kepada
aparat penegak hukum atau Penyelenggara kepolisian dan/atau kejaksaan.
penyelenggara negara; Negara, dan orang
b. mendapat perhatian yang lain yang ada Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), KPK
meresahkan masyarakat; kaitannya dengan juga dituntut untuk melakukan supervisi
dan/atau Tindak Pidana terhadap penyelidikan, penyidikan, dan/atau
c. menyangkut kerugian negara paling Korupsi yang penuntutan.
sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu dilakukan oleh aparat
milyar rupiah). penegak hukum atau
Penyelenggara
Negara; dan/atau
b. menyangkut kerugian
negara paling sedikit
Rp1.000.000.000,00
(satu milyar rupiah).

(2) Dalam hal Tindak Pidana


Korupsi tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Komisi

21
Pemberantasan Korupsi wajib
menyerahkan penyelidikan,

22
penyidikan, dan penuntutan
kepada kepolisian dan/atau
kejaksaan.

(3) Komisi Pemberantasan Korupsi


melakukan supervisi terhadap
penyelidikan, penyidikan, dan/atau
penuntutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2).
Pasal 12 (Kewenangan Penyadapan)

23
20 (1) Dalam melaksanakan tugas (1) Dalam melaksanakan tugas Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) hanya
penyelidikan, penyidikan, dan sebagaimana penyelidikan dan penyidikan ada kewenangan untuk melakukan
penuntutan dimaksud Pasal 6 huruf c, sebagaimana dimaksud dalam Pasal penyadapan (tidak ada ‘merekam
dalam Komisi antasan Korupsi 6 huruf e, Komisi Pemberantasan pembicaraan’) karena dalam Pasal 1 UU
Pember berwenang Korupsi berwenang melakukan KPK (Setelah Perubahan) sudah dijelaskan
: penyadapan. perihal pengertian penyadapan.
a. melakukan penyadapan dan
merekam pembicaraan; (2) Dalam melaksanakan tugas
b. memerintahkan kepada instansi penyidikan sebagaimana dimaksud
yang terkait untuk melarang pada ayat (1), Komisi
seseorang Pemberantasan Korupsi berwenang:
bepergian ke luar negeri; a. memerintahkan kepada
c. meminta keterangan kepada instansi yang terkait untuk
bank atau lembaga keuangan melarang seseorang
lainnya tentang keadaan bepergian ke luar negeri;
keuangan tersangka atau b. meminta keterangan kepada
terdakwa yang sedang bank atau lembaga
diperiksa; keuangan lainnya tentang
d. memerintahkan kepada bank keadaan keuangan tersangka
atau lembaga keuangan atau

24
lainnya untuk memblokir rekening yang terdakwa yang sedang
diduga hasil dari korupsi milik tersangka, diperiksa;
terdakwa, atau pihak lain yang terkait; c. memerintahkan kepada bank atau
e. memerintahkan kepada pimpinan atau lembaga keuangan lainnya untuk
atasan tersangka untuk memberhentikan memblokir rekening yang diduga
sementara tersangka dari jabatannya; hasil dari korupsi milik
f. meminta data kekayaan dan data tersangka, terdakwa, atau pihak
perpajakan tersangka atau terdakwa lain yang terkait;
kepada d. memerintahkan kepada pimpinan
instansi yang terkait; atau atasan tersangka untuk
g. menghentikan sementara suatu transaksi memberhentikan sementara
keuangan, transaksi perdagangan, dan tersangka dari
perjanjian lainnya atau pencabutan jabatannya;
sementara perizinan, lisensi serta konsesi e. meminta data kekayaan dan data
yang dilakukan atau dimiliki oleh perpajakan tersangka atau
tersangka atau terdakwa yang diduga terdakwa kepada instansi yang
berdasarkan bukti awal yang cukup ada terkait;
hubungannya dengan tindak pidana f. menghentikan sementara suatu
korupsi yang sedang transaksi keuangan, transaksi
diperiksa; perdagangan, dan perjanjian
lainnya atau pencabutan
sementara perizinan, lisensi serta
konsesi yang dilakukan atau
dimiliki oleh tersangka atau
terdakwa yang diduga
berdasarkan bukti awal yang
cukup ada hubungannya dengan
Tindak Pidana Korupsi yang
sedang diperiksa;

25
h. meminta bantuan Interpol Indonesia g. meminta bantuan
atau instansi penegak hukum negara Interpol
lain untuk melakukan pencarian, Indonesia atau instansi
penangkapan, dan penyitaan barang penegak hukum negara lain
bukti di luar negeri; untuk melakukan pencarian,
i. meminta bantuan kepolisian atau penangkapan, dan penyitaan
instansi lain yang terkait untuk barang bukti di luar negeri; dan
melakukan penangkapan, penahanan, h. meminta bantuan kepolisian
penggeledahan, dan penyitaan dalam atau instansi lain yang terkait
perkara tindak pidana korupsi yang untuk melakukan
sedang ditangani. penangkapan, penahanan,
penggeledahan, dan
penyitaan dalam perkara
Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi yang sedang
ditangani.
Pasal 12 A, B, C, D

26
21 - Di antara Pasal 12 dan Pasal 13 Dalam UU KPK (Setelah Perubahan)
disisipkan 4 (empat) pasal, yakni penyadapan dilaksanakan setelah mendapat
Pasal izin tertulis dari Dewan Pengawas)
12A, Pasal 12B, Pasal 12C, dan berdasarkan permintaan secara tertulis dari
Pasal 12D, sehingga berbunyi Pimpinan KPK. Jangka waktu, laporan,
sebagai berikut: pertanggungjawaban, dan hasil penyadapan
juga diatur secara rinci.
Pasal 12A
Dalam melaksanakan tugas
penuntutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 huruf e, penuntut
pada Komisi
Pemberantasan Korupsi
melaksanakan koordinasi
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-
undangan.

27
Pasal 12B
(1) Penyadapan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1), dilaksanakan setelah
mendapatkan izin tertulis dari
Dewan Pengawas.
(2) Untuk mendapatkan izin
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan
berdasarkan permintaan
secara tertulis dari Pimpinan
Komisi
Pemberantasan Korupsi.
(3) Dewan Pengawas dapat
memberikan izin tertulis
terhadap permintaan
sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) paling lama 1 x 24
(satu kali dua puluh empat)
jam terhitung sejak
permintaan diajukan.
(4) Dalam hal pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi
mendapatkan izin tertulis dari
Dewan Pengawas sebagaimana
dimaksud pada ayat (3),
Penyadapan dilakukan paling
lama 6 (enam) bulan terhitung
sejak izin tertulis diterima

28
dan dapat diperpanjang 1
(satu) kali untuk jangka
waktu yang sama.

29
Pasal 12C
(1) Penyelidik dan penyidik
melaporkan Penyadapan
sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (1) yang sedang
berlangsung kepada Pimpinan
Komisi Pemberantasan
Korupsi secara berkala.
(2) Penyadapan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1) yang telah selesai
dilaksanakan harus
dipertanggungjawabkan
kepada Pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi dan
Dewan Pengawas paling
lambat 14 (empat belas) hari
kerja terhitung sejak
Penyadapan selesai
dilaksanakan.

Pasal 12D
(1) Hasil Penyadapan
sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (1) bersifat
rahasia dan hanya untuk
kepentingan peradilan dalam
Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.

30
(2) Hasil Penyadapan yang tidak
terkait dengan Tindak Pidana
Korupsi yang sedang ditangani

31
Komisi Pemberantasan Korupsi
wajib dimusnahkan seketika.
(3) Dalam hal kewajiban
sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) tidak dilaksanakan,
pejabat dan/atau orang yang
menyimpan hasil penyadapan
dijatuhi hukuman pidana
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Tugas Pencegahan

32
22 Pasal 13: Pasal 7: Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), ada
tambahan kewajiban yaitu KPK wajib
Dalam melaksanakan tugas pencegahan (1) Dalam melaksanakan tugas membuat laporan pertanggungjawaban 1
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf pencegahan sebagaimana dimaksud (satu) kali dalam 1 (satu) tahun kepada
d, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang dalam Pasal 6 huruf a, Komisi Presiden Republik Indonesia, Dewan
melaksanakan langkah atau upaya Pemberantasan Korupsi berwenang: Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan
pencegahan sebagai berikut : a. melakukan pendaftaran dan Badan Pemeriksa Keuangan.
a. melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap
pemeriksaan terhadap laporan laporan harta kekayaan
harta kekayaan penyelenggara penyelenggara negara;
negara; b. menerima laporan dan
b. menerima laporan dan menetapkan menetapkan status gratifikasi;
status c. menyelenggarakan program
gratifikasi; pendidikan anti korupsi pada
c. menyelenggarakan program pendidikan setiap jejaring pendidikan;
antikorupsi pada setiap jenjang d. merencanakan dan
pendidikan; melaksanakan program
sosialisasi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi;

33
d. merancang dan mendorong e. melakukan kampanye anti
terlaksananya program sosialisasi korupsi kepada masyarakat;
pemberantasan tindak dan
pidana korupsi; f. melakukan kerja sama
e. melakukan kampanye antikorupsi bilateral atau multilateral
kepada masyarakat umum; dalam Pemberantasan
f. melakukan kerja sama bilateral Tindak Pidana
atau multilateral dalam Korupsi.
pemberantasan tindak pidana
korupsi.
(2) Dalam melaksanakan
kewenangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Komisi
Pemberantasan Korupsi wajib
membuat laporan
pertanggungjawaban 1 (satu) kali
dalam 1 (satu) tahun kepada
Presiden Republik Indonesia,
Dewan
Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, dan Badan Pemeriksa
Keuangan.
Tugas untuk Melaksanakan Penetapan Hakim dan Putusan Pengadilan

34
23 - Pasal 13: UU KPK (Setelah Perubahan) menerapkan
tugas untuk melaksanakan penetapan hakim
Dalam melaksanakan tugas untuk dan putusan pengadilan yang sebelumnya
melaksanakan penetapan hakim tidak diatur dalam UU KPK (Sebelum
dan putusan pengadilan Perubahan).
sebagaimana dimaksud dalam pasal
6 huruf f, Komisi Pemberantasan
Korupsi berwenang melakukan
tindakan hukum yang diperlukan
dan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai
dengan isi dari penetapan hakim
atau putusan pengadilan.
Tugas Monitor

35
24 Pasal 14: melaksanakan tugas Pasal 9: Tugas monitor sebelumnya diatur dalam
sebagaimana dimaksud Pasal 14 UU KPK (Sebelum Perubahan)
Dalam Pasal 6 huruf e, Komisi Dalam melaksanakan tugas dan sekarang diatur dalam Pasal 9 UU KPK
monitor Pemberantasan Korupsi monitor sebagaimana dimaksud (Setelah Perubahan).
dalam berwenang: dalam Pasal 6 huruf c, Komisi
melakukan Pemberantasan Korupsi berwenang:
a. pengkajian a. melakukan pengkajian
terhadap sistem terhadap sistem pengelolaan
pengelolaan administrasi di semua
administrasi di lembaga negara dan
semua lembaga lembaga
b. negara dan pemerintahan;
pemerintah; b. memberi saran kepada
memberi saran pimpinan lembaga negara
kepada pimpinan dan lembaga pemerintahan
lembaga negara dan untuk melakukan perubahan
pemerintah untuk jika berdasarkan hasil
melakukan pengkajian, sistem
perubahan jika pengelolaan administrasi
berdasarkan hasil tersebut berpotensi
pengkajian, sistem menyebabkan terjadinya
c.
pengelolaan Tindak Pidana Korupsi; dan
administrasi c. melaporkan kepada Presiden
tersebut berpotensi Republik Indonesia, Dewan
korupsi; Perwakilan Rakyat Republik
melaporkan kepada Presiden Indonesia, dan Badan
Republik Pemeriksa Keuangan, jika
Indonesia, Dewan Perwakilan
Rakyat

36
Republik Indonesia, dan

37
Badan Pemeriksa saran Komisi Pemberantasan
Keuangan, jika saran Komisi Korupsi mengenai usulan
Pemberantasan Korupsi mengenai perubahan tidak
usulan perubahan tersebut tidak dilaksanakan.
diindahkan.

Pasal 15 (Kewajiban KPK)


25 Komisi Pemberantasan Korupsi berkewajiban Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan), diatur
: Korupsi berkewajiban: kewajiban baru KPK yaitu penyusunan kode
a. memberikan perlindungan terhadap saksi a. memberikan perlindungan etik pimpinan dan pegawai KPK.
atau pelapor yang menyampaikan laporan terhadap saksi atau pelapor yang
ataupun memberikan keterangan menyampaikan laporan ataupun
mengenai terjadinya tindak memberikan keterangan
pidana korupsi; mengenai terjadinya Tindak
b. memberikan informasi kepada masyarakat Pidana Korupsi sesuai dengan
yang memerlukan atau memberikan ketentuan peraturan
bantuan untuk memperoleh data lain yang perundang-undangan;
berkaitan dengan hasil penuntutan tindak b. memberikan informasi kepada
pidana masyarakat yang memerlukan
korupsi yang ditanganinya; atau memberikan bantuan untuk
c. menyusun laporan tahunan dan memperoleh data yang berkaitan
menyampaikannya kepada dengan hasil penuntutan Tindak
Presiden Republik Indonesia, Dewan Pidana Korupsi yang
Perwakilan Rakyat ditanganinya; c. menyusun laporan
Republik Indonesia, dan Badan tahunan dan menyampaikannya
Pemeriksa Keuangan; kepada Presiden Republik Indonesia,
d. menegakkan sumpah jabatan; Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, dan Badan Pemeriksa
Keuangan;

38
d. menegakkan sumpah jabatan;

e. menjalankan tugas, tanggung jawab, dan e. menjalankan tugas, tanggung


wewenangnya berdasarkan asas-asas jawab, dan wewenangnya
sebagaimana dimaksud dalam berdasarkan asas sebagaimana
Pasal 5. dimaksud dalam Pasal 4; dan
f. menyusun kode etik pimpinan
dan pegawai Komisi
Pemberantasan Korupsi.

39
Pasal 19 (Tempat Kedudukan KPK)
26 BAB IV TEMPAT KEDUDUKAN, (1) Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
TANGGUNG JAWAB, DAN Korupsi berkedudukan di ketentuan mengenai KPK dapat membentuk
SUSUNAN ORGANISASI ibukota negara perwakilan di daerah provinsi, dihapus.
Republik Indonesia dan
Pasal 19 wilayah kerjanya meliputi
(1)Komisi Pemberantasan Korupsi seluruh wilayah negara Republik
berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.
Indonesia dan wilayah kerjanya meliputi
seluruh wilayah negara Republik (2) Dihapus.
Indonesia.
(2)Komisi Pemberantasan Korupsi dapat
membentuk
perwakilan di daerah provinsi.

Pasal 21 (Sususnan Organisasi KPK)


27 (1) Komisi Pemberantasan Korupsi (1) Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
sebagaimana dimaksud dalam Pasal terdiri atas: dibentuk dewan pengawas yang berjumlah 5
3 terdiri atas : a. Dewan Pengawas yang orang. Pimpinan KPK bersifat kolektif
berjumlah 5 (lima) orang; kolegial (UU KPK Sebelum Perubahan
hanya

40
a. Pimpinan Komisi b. pimpinan Komisi Pemberantasan menyebut ‘Pimpinan KPK bekerja secara
Pemberantasan Korupsi yang terdiri dari Korupsi yang terdiri dari 5 (lima) kolektif’).
5 (lima) Anggota orang anggota Komisi
Pemberantasan Pimpinan KPK adalah penanggung jawab
Komisi Pemberantasan
tertinggi Komisi Pemberantasan Korupsi
Korupsi; Korupsi; dan
dihapuskan dari UU KPK (Setelah
b. Tim Penasihat yang terdiri dari 4 c. Pegawai Komisi Pemberantasan
Perubahan).
(empat) Anggota; dan Korupsi.
c. Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi
(2) Susunan pimpinan Komisi Tidak ada ketentuan mengenai Tim
sebagai pelaksana tugas.
Pemberantasan Korupsi sebagaimana Penasihat dalam UU KPK (Setelah
Perubahan).
(2) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dimaksud pada ayat (1) huruf b
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari:
disusun sebagai berikut: a. ketua merangkap anggota; dan
Status penyidik dan penuntut umum pada
a. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi b. wakil ketua terdiri dari 4 (empat)
merangkap Anggota; dan orang, masing-masing merangkap pimpinan KPK dalam Pasal 21 ayat (4) UU
anggota. KPK (Sebelum Perubahan) ditiadakan.
b. Wakil Ketua Komisi
Implikasi dari hal ini adalah, dikhawatirkan,
Pemberantasan Korupsi terdiri atas 4
(3) Pimpinan Komisi pimpinan KPK hanya hanya berfungsi
(empat) orang, masingmasing
merangkap Anggota. Pemberantasan Korupsi sebagaimana administratif saja. Jika tidak diatur jelas
dimaksud pada ayat (1) huruf b tentang pimpinan sebagai penyidik atau
penuntut umum, maka bisa saja berdampak
(3) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan pejabat negara.
terhadap penyidikan yang dilakukan tidak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
(4) Pimpinan Komisi sah.
adalah pejabat negara.
Pemberantasan Korupsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) bersifat
kolektif kolegial.

41
(4) Pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a adalah penyidik dan penuntut
umum.

(5) Pimpinan Komisi Pemberantasan


Korupsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) bekerja secara kolektif.

(6) Pimpinan Komisi Pemberantasan


Korupsi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf a adalah penanggung jawab
tertinggi Komisi
Pemberantasan Korupsi.

Pasal 22
28 (1) Komisi Pemberantasan Korupsi Dihapus. Ketentuan perihal Tim Penasihat dihapus
berwenang mengangkat Tim Penasihat dalam UU KPK (Setelah Perubahan).
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat
(1) huruf b yang diajukan oleh panitia
seleksi pemilihan.

(2) Panitia seleksi pemilihan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibentuk oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi.

42
(3) Panitia seleksi pemilihan
mengumumkan penerimaan calon dan
melakukan kegiatan mengumpulkan calon
anggota berdasarkan keinginan dan
masukan dari masyarakat.

(4) Calon anggota Tim Penasihat


sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diumumkan terlebih dahulu kepada
masyarakat untuk mendapat tanggapan
sebelum ditunjuk dan diangkat oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi berdasarkan
calon yang diusulkan oleh panitia seleksi
pemilihan.

(5) Setelah mendapat tanggapan dari


masyarakat, panitia seleksi pemilihan
mengajukan 8 (delapan) calon anggota
Tim Penasihat kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi untuk dipilih 4
(empat) orang anggota.

(6) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat
(4), dan ayat (5) dilakukan paling

43
lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak
tanggal panitia seleksi pemilihan
dibentuk.
Pasal 23
29 Tim Penasihat berfungsi memberikan Dihapus. -
nasihat dan pertimbangan sesuai dengan
kepakarannya kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi dalam pelaksanaan
tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan
Korupsi.

Pasal 24 (Pegawai KPK)


30 (1)Anggota Tim Penasihat sebagaimana (1)Pegawai Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
dimaksud dalam Pasal 22 adalah warga Korupsi sebagaimana dimaksud diatur bahwa Pegawai KPK merupakan
negara Indonesia yang karena dalam Pasal 21 ayat (1) huruf c anggota korps Profesi Pegawai ASN
kepakarannya diangkat oleh Komisi merupakan warga negara Republik
Pemberantasan Korupsi. Indonesia yang karena Indonesia.
(2)Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi keahliannya diangkat sebagai
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 pegawai pada Komisi
ayat (1) huruf c adalah warga negara Pemberantasan Korupsi.
Indonesia yang karena keahliannya (2)Pegawai Komisi Pemberantasan
diangkat sebagai pegawai pada Komisi Korupsi merupakan anggota
Pemberantasan Korupsi. korps Profesi Pegawai ASN
(3)Ketentuan mengenai syarat dan tata cara Republik Indonesia sesuai dengan
pengangkatan pegawai Komisi ketentuan peraturan perundang-
Pemberantasan Korupsi diatur lebih lanjut undangan.
dengan (3)Ketentuan mengenai tata cara
pengangkatan pegawai Komisi

44
Pemberantasan Korupsi
dilaksanakan sesuai dengan

Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi. ketentuan peraturan


perundangundangan.
Pasal 29 (Pimpinan KPK)

45
31 BAB V PIMPINAN KOMISI Untuk dapat diangkat sebagai Dalam Pasal 29 huruf e UU KPK (Setelah
PEMBERANTASAN KORUPSI pimpinan Komisi Pemberantasan Perubahan) cukup rancu karena ditulis
Korupsi harus memenuhi berusia paling rendah 50 (empat puluh)
Pasal 29 persyaratan sebagai berikut: tahun. Jadi, manakah yang benar? Usia
a. warga negara Republik pimpinan KPK paling rendah 40 tahun atau
Untuk dapat diangkat sebagai Indonesia; 50 tahun?
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi b. bertakwa kepada Tuhan Yang
harus memenuhi persyaratan sebagai Maha
berikut: Esa;
1. warga negara Republik c. sehat jasmani dan rohani;
Indonesia; d. berijazah sarjana hukum atau
2. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; sarjana lain yang memiliki
keahlian dan pengalaman paling
3. sehat jasmani dan rohani;
sedikit 15 (lima belas) tahun
4. berijazah sarjana hukum atau sarjana lain
dalam bidang hukum, ekonomi,
yang memiliki keahlian dan pengalaman
keuangan, atau perbankan;
sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun
dalam bidang hukum, ekonomi, keuangan, e. berusia paling rendah 50
atau perbankan; (empat puluh) tahun dan paling
tinggi 65 (enam puluh lima)
5. berumur sekurang-kurangnya 40
tahun pada proses pemilihan;
(empat puluh) tahun dan setinggi-
tingginya 65 (enam puluh lima) tahun f. tidak pernah melakukan
perbuatan tercela;
pada proses pemilihan;
g. cakap, jujur, memiliki integritas
moral yang tinggi, dan memiliki
reputasi yang baik;
h. tidak menjadi pengurus salah satu
partai politik;

46
i. melepaskan jabatan struktural dan
atau jabatan lainnya selama
menjadi

47
6. tidak pernah melakukan perbuatan anggota Komisi
tercela; Pemberantasan
7. cakap, jujur, memiliki integritas moral Korupsi;
yang tinggi, dan memiliki reputasi yang j. tidak menjalankan profesinya
baik; selama menjadi anggota Komisi
8. tidak menjadi pengurus salah satu partai Pemberantasan Korupsi; dan
politik; k. mengumumkan kekayaannya
9. melepaskan jabatan struktural dan atau sebelum dan setelah menjabat
jabatan lainnya selama menjadi anggota sesuai dengan ketentuan
Komisi peraturan perundang-undangan.
Pemberantasan Korupsi;
10. tidak menjalankan profesinya
selama menjadi anggota
Komisi Pemberantasan Korupsi; dan
11. mengumumkan kekayaannya sesuai
dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pasal 32 (Pemberhentian Pimpinan KPK)


32 (1) Pimpinan Komisi Pemberantasan (1) Pimpinan Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
Korupsi berhenti atau diberhentikan karena: Korupsi berhenti atau diberhentikan pimpinan KPK dapat berhenti atau
1. meninggal dunia; karena: diberhentikan karena melakukan perbuatan
2. berakhir masa jabatannya; a. meninggal dunia; tercela. Dalam penjelasan, yang dimaksud
3. menjadi terdakwa karena melakukan b. berakhir masa jabatannya; dengan “perbuatan tercela” adalah perbuatan
tindak pidana c. melakukan perbuatan tercela; yang dapat merendahkan martabat KPK.
kejahatan; d. menjadi terdakwa karena
melakukan tindak pidana kejahatan; Selain itu, dalam UU KPK
(Setelah

48
Perubahan), ada aturan baru bahwa
Pimpinan

49
4. berhalangan tetap atau secara terus- e. berhalangan tetap atau secara KPK yang mengundurkan diri ,dilarang
menerus selama lebih dari 3 (tiga) bulan terusmenerus selama lebih dari 3 untuk jangka waktu 5 (lima) tahun sejak
tidak dapat melaksanakan tugasnya; (tiga) bulan tidak dapat tanggal pengunduran dirinya menduduki
5. mengundurkan diri; atau melaksanakan tugasnya; jabatan publik.
6. dikenai sanksi berdasarkan Undang- f. mengundurkan diri; atau
Undang ini. g. dikenai sanksi berdasarkan
Undang-Undang ini.
(2) Dalam hal Pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi menjadi tersangka (2) Dalam hal pimpinan Komisi
tindak pidana kejahatan, diberhentikan Pemberantasan Korupsi menjadi
sementara dari jabatannya. tersangka tindak pidana kejahatan,
pimpinan Komisi Pemberantasan
(3) Pemberhentian sebagaimana Korupsi diberhentikan sementara
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dari jabatannya.
ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia.
(3) Pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi yang
mengundurkan diri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf f,
dilarang untuk jangka waktu 5
(lima) tahun sejak tanggal
pengunduran dirinya menduduki
jabatan publik.

(4) Pemberhentian sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan dengan Keputusan
Presiden.

50
51
Pasal 33 (Kekosongan Pimpinan KPK)
33 (1) Dalam hal terjadi kekosongan (1) Dalam hal terjadi Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, kekosongan pimpinan Komisi anggota pengganti dalam hal terjadi
Presiden Republik Indonesia mengajukan Pemberantasan Korupsi, Presiden kekosongan pimpinan KPK, dipilih dari
calon anggota pengganti kepada Dewan Republik Indonesia mengajukan calon pimpinan KPK yang tidak terpilih di
Perwakilan Rakyat Republik calon anggota pengganti kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia sepanjang masih memenuhi
Republik Indonesia. persyaratan dan anggota pengganti
(2) Prosedur pengajuan calon pengganti melanjutkan sisa masa jabatan pimpinan
dan pemilihan calon anggota yang (2) Anggota pengganti KPK yang digantikan.
bersangkutan dilaksanakan sesuai dengan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam dipilih dari calon pimpinan
Pasal 29, Pasal 30, dan Pasal 31. Komisi
Pemberantasan Korupsi yang
tidak terpilih di Dewan
Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia sepanjang masih
memenuhi persyaratan
sebagaimana diatur dalam Pasal 29.

(3) Anggota pengganti


pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) melanjutkan sisa masa
jabatan pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi yang
digantikan.
Pasal 37

52
34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Ketentuan sebagaimana dimaksud Tidak ada aturan mengenai tim penasihat
Pasal 36 berlaku juga untuk dalam Pasal 36 berlaku juga untuk dalam UU KPK (Setelah Perubahan).
Tim Penasihat dan pegawai yang Pegawai Komisi Pemberantasan
Korupsi.
bertugas pada Komisi
Pemberantasan Korupsi.
BAB VA (Dewan Pengawas)

53
35 - Di antara BAB V dan BAB VI UU KPK (Setelah Perubahan) membentuk
disisipkan 1 (satu) bab, yakni BAB dewan pengawas untuk mengawasi
VA yang berbunyi sebagai berikut: pelaksanaan tugas dan wewenang KPK.

BAB VA
DEWAN PENGAWAS

Di antara Pasal 37 dan Pasal 38


disisipkan 7 (tujuh) pasal, yakni
Pasal 37A, Pasal 37B, Pasal 37C,
Pasal 37D, Pasal 37E, Pasal 37F,
dan Pasal 37G, yang berbunyi
sebagai berikut:

Pasal 37A
(1) Dalam rangka mengawasi
pelaksanaan tugas dan wewenang
Komisi Pemberantasan Korupsi
dibentuk Dewan Pengawas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 ayat (1) huruf a.
(2) Anggota Dewan Pengawas
berjumlah 5 (lima) orang.
(3) Anggota Dewan Pengawas
sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) memegang jabatan selama 4
(empat) tahun dan dapat dipilih
kembali dalam

54
jabatan yang sama hanya untuk 1
(satu) kali masa jabatan.

Pasal 37B
(1) Dewan Pengawas bertugas: a.
mengawasi pelaksanaan tugas dan
wewenang Komisi Pemberantasan
Korupsi; b. memberikan izin atau
tidak memberikan izin Penyadapan,
penggeledahan, dan/atau penyitaan;
c. menyusun dan menetapkan kode
etik pimpinan dan Pegawai Komisi
Pemberantasan Korupsi; d.
menerima dan menindaklanjuti
laporan dari masyarakat mengenai
adanya dugaan pelanggaran kode
etik oleh pimpinan dan Pegawai
Komisi Pemberantasan Korupsi atau
pelanggaran ketentuan dalam
Undang-Undang ini; e.
menyelenggarakan sidang untuk
memeriksa adanya dugaan
pelanggaran kode etik oleh pimpinan
dan Pegawai Komisi Pemberantasan
Korupsi; dan f. melakukan evaluasi
kinerja pimpinan dan Pegawai
Komisi Pemberantasan Korupsi
secara berkala 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun.

55
(2) Dewan Pengawas membuat
laporan pelaksanaan tugas secara
berkala 1 (satu) kali dalam 1 (satu)
tahun.
(3) Laporan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disampaikan
kepada Presiden Republik Indonesia
dan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik
Indonesia.

Pasal 37C
(1) Dewan Pengawas dalam
menjalankan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37B
membentuk organ pelaksana
pengawas.
(2) Ketentuan mengenai organ
pelaksana pengawas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Presiden.

Pasal 37D
Untuk dapat diangkat sebagai
anggota
Dewan Pengawas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37A, harus
memenuhi persyaratan sebagai
berikut:

56
a. warga negara Indonesia; b.
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa; c. sehat jasmani dan rohani; d.
memiliki integritas moral dan
keteladanan; e. berkelakuan baik; f.
tidak pernah

57
dipidana penjara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap
karena melakukan tindak pidana
kejahatan yang diancam dengan
pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun; g. berusia paling
rendah 55 (lima puluh lima) tahun;
h. berpendidikan paling rendah S1
(sarjana strata satu); i. tidak menjadi
anggota dan/atau pengurus partai
politik; j. melepaskan jabatan
struktural atau jabatan lainnya; k.
tidak menjalankan profesinya selama
menjadi anggota Dewan Pengawas;
dan l. mengumumkan harta
kekayaannya sebelum dan setelah
menjabat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan yang
berlaku.

Pasal 37E
(1) Ketua dan anggota Dewan
Pengawas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37A diangkat dan
ditetapkan oleh Presiden Republik
Indonesia.
(2) Dalam mengangkat ketua dan
anggota Dewan Pengawas

58
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1),

59
Presiden Republik Indonesia
membentuk panitia seleksi.
(3) Panitia seleksi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) terdiri atas
unsur Pemerintah Pusat dan unsur
masyarakat.
(4) Setelah terbentuk, panitia
seleksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) mengumumkan penerimaan
calon.
(5) Pendaftaran calon dilakukan
dalam waktu 14 (empat belas) hari
kerja secara terus menerus.
(6) Panitia seleksi
mengumumkan kepada masyarakat
untuk mendapatkan tanggapan
terhadap nama calon sebagaimana
dimaksud pada ayat (4).
(7) Tanggapan sebagaimana
dimaksud pada ayat (6) disampaikan
kepada panitia seleksi paling lambat
1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal
diumumkan.
(8) Panitia seleksi menentukan
nama calon pimpinan yang akan
disampaikan kepada Presiden
Republik Indonesia. (9) Dalam
jangka waktu paling lambat 14
(empat belas) hari kerja terhitung

60
sejak tanggal diterimanya daftar
nama calon dari panitia seleksi,
Presiden Republik Indonesia
menyampaikan

61
nama calon sebagaimana dimaksud
pada ayat (8) kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia untuk dikonsultasikan.
(10) Presiden Republik Indonesia
menetapkan ketua dan anggota
Dewan Pengawas dalam jangka
waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja terhitung sejak konsultasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (9)
selesai dilaksanakan.
(11) Ketentuan lebih lanjut
mengenai tata cara pengangkatan
ketua dan anggota Dewan Pengawas
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 37F
(1) Ketua dan anggota
Dewan
Pengawas berhenti atau
diberhentikan, apabila: a. meninggal
dunia; b. berakhir masa jabatannya;
c. melakukan perbuatan tercela; d.
dipidana penjara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap
karena melakukan tindak pidana
kejahatan; e. mengundurkan diri atas

62
permintaan sendiri secara tertulis;
dan/atau f. tidak dapat melaksanakan

63
tugas selama 3 (tiga) bulan secara
berturut-turut.
(2) Dalam hal Dewan Pengawas
menjadi tersangka tindak pidana,
Dewan Pengawas diberhentikan
sementara dari jabatannya.
(3) Ketua dan anggota Dewan
Pengawas yang mengundurkan diri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf e dilarang untuk jangka waktu
5 (lima) tahun sejak tanggal
pengunduran dirinya menduduki
jabatan publik.
(4) Pemberhentian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
ditetapkan oleh Presiden Republik
Indonesia.

Pasal 37G
(1) Sebelum memangku jabatan,
Ketua, dan anggota Dewan
Pengawas wajib mengucapkan
sumpah/janji menurut agamanya di
hadapan Presiden
Republik Indonesia.
(2) Bunyi sumpah/janji
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berlaku secara mutatis mutandis
dengan bunyi sumpah/janji Ketua

64
dan Wakil Ketua Komisi
Pemberantasan Korupsi

65
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
35 ayat (2).
Pasal 38
36 BAB VI PENYELIDIKAN, Segala kewenangan yang berkaitan UU KPK (Sebelum Perubahan) mengatur
PENYIDIKAN, DAN dengan penyelidikan, penyidikan, bahwa ketentuan hukum acara pidana tidak
PENUNTUTAN dan penuntutan yang diatur dalam berlaku bagi penyidik tipikor, namun
undangundang yang mengatur ketentuan ini dihapus dalam UU KPK
Bagian Kesatu mengenai hukum acara pidana (Setelah Perubahan).
Umum berlaku juga bagi penyelidik,
Pasal 38 penyidik dan penuntut umum pada UU KPK (Setelah Perubahan) mengatur
(1) Segala kewenangan yang berkaitan Komisi Pemberantasan Korupsi, bahwa hukum acara pidana berlaku bagi
dengan penyelidikan, penyidikan, dan kecuali ditentukan lain penyelidik, penyidik dan penuntut umum
penuntutan yang diatur dalam Undang- berdasarkan Undang-Undang ini. pada KPK, kecuali ditentukan lain
Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang berdasarkan Undang-Undang ini.
Hukum Acara Pidana berlaku juga bagi
penyelidik, penyidik, dan penuntut umum
pada Komisi
Pemberantasan Korupsi.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana tidak berlaku bagi penyidik tindak
pidana korupsi sebagaimana ditentukan
dalam Undang-Undang ini.

66
Pasal 40 (Penghentian Penyidikan dan Penuntutan)
37 Komisi Pemberantasan Korupsi tidak (1) Komisi Pemberantasan UU KPK (Setelah Perubahan) mengatur
berwenang mengeluarkan surat perintah Korupsi dapat menghentikan perihal penghentian penyidikan dan
penghentian penyidikan dan penuntutan penyidikan dan penuntutan penuntutan terhadap perkara tipikor.
dalam perkara tindak pidana korupsi. terhadap perkara Tindak Pidana
Korupsi yang penyidikan dan Padahal, dalam UU KPK (Sebelum
penuntutannya tidak selesai dalam Perubahan) diatur bahwa KPK tidak
jangka waktu paling lama 2 (dua) berwenang mengeluarkan surat perintah
tahun. penghentian penyidikan dan penuntutan
(2) Penghentian penyidikan dan dalam perkara tipikor.
penuntutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus dilaporkan
kepada Dewan Pengawas paling
lambat 1 (satu) minggu terhitung
sejak dikeluarkannya surat perintah
penghentian penyidikan dan
penuntutan.
(3) Penghentian penyidikan dan
penuntutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus diumumkan
oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi kepada publik.
(4) Penghentian penyidikan dan
penuntutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat dicabut oleh
pimpinan Komisi Pemberantasan
Korupsi apabila ditemukan bukti
baru yang dapat membatalkan
alasan penghentian penyidikan dan

67
penuntutan, atau berdasarkan
putusan

68
praperadilan sebagaimana dimaksud
dalam peraturan perundang-
undangan.
Pasal 43 (Penyelidikan)
38 Bagian Kedua (1) Penyelidik Komisi Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
Penyelidikan Pemberantasan penyelidik KPK dapat berasal dari
Korupsi dapat berasal dari kepolisian, kejaksaan, maupun instansi
Pasal 43 kepolisian, kejaksaan, instansi pemerintah lainnya. Penyelidik wajib tunduk
(1) Penyelidik adalah Penyelidik pada pemerintah lainnya, dan/atau pada mekanisme penyelidikan sesuai dengan
Komisi Pemberantasan internal Komisi Pemberantasan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Korupsi yang diangkat dan Korupsi.
diberhentikan oleh Komisi Padahal dalam UU KPK (Sebelum
Pemberantasan Korupsi. (2) Penyelidik sebagaimana Perubahan), Penyelidik KPK diangkat dan
dimaksud pada ayat (1) diangkat diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan
(2) Penyelidik sebagaimana dimaksud dan diberhentikan oleh pimpinan Korupsi.
pada ayat (1) melaksanakan Komisi Pemberantasan Korupsi.
fungsi penyelidikan tindak
pidana korupsi. (3) Penyelidik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
wajib tunduk pada mekanisme
penyelidikan sesuai dengan
ketentuan peraturan
perundangundangan.
Pasal 43A (Persyaratan Penyelidik KPK)

69
39 - Di antara Pasal 43 dan Pasal 44 Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) diatur
disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal mengenai persyaratan penyelidik KPK yang
43A, yang berbunyi sebagai berikut: tidak diatur oleh UU KPK (Sebelum
Perubahan). Selain itu, dalam UU KPK
Pasal 43A (Setelah Perubahan), harus ada sinergitas
(1) Penyelidik Komisi antara KPK dengan kepolisian / kejaksaan.
Pemberantasan Korupsi harus Perihal tata cara pengangkatan dan

70
memenuhi persyaratan pemberhentian penyelidik KPK, nantinya
sebagai berikut: a. akan diatur dalam Peraturan Komisi
berpendidikan paling rendah S1 Pemberantasan Korupsi.
(sarjana strata satu) atau yang
setara; b. mengikuti dan lulus
pendidikan di bidang
penyelidikan; c. sehat jasmani
dan rohani yang dibuktikan
dengan surat keterangan dokter;
dan d. memiliki kemampuan
dan integritas moral yang tinggi.
(2) Persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b
diselenggarakan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi
bekerja sama dengan
kepolisian dan/atau
kejaksaan.
(3) Penyelidik Komisi
Pemberantasan Korupsi
sebagaimana yang dimaksud
dalam ayat (1) diberhentikan
dari jabatannya apabila: a.
diberhentikan sebagai aparatur
sipil negara; b. tidak lagi
bertugas di bidang teknis
penegakan hukum; atau c.
permintaan sendiri secara
tertulis.

71
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai
tata cara pengangkatan dan
pemberhentian penyelidik
Komisi
Pemberantasan Korupsi

72
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (3) diatur
dalam Peraturan Komisi
Pemberantasan Korupsi.
Pasal 45 (Penyidikan)
40 Bagian Ketiga (1)Penyidik Komisi Pemberantasan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
Penyidikan Korupsi dapat berasal dari penyidik KPK dapat berasal dari kepolisian,
kepolisian, kejaksaan, penyidik kejaksaan, maupun penyidik pegawai negeri
Pasal 45 pegawai negeri sipil yang diberi sipil yang diberi wewenang khusus oleh
(1) Penyidik adalah Penyidik pada wewenang khusus oleh undang-undang.
Komisi Pemberantasan Korupsi yang undangundang, dan penyelidik
diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan
Komisi Pemberantasan Korupsi. Korupsi.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada (2)Penyidik sebagaimana dimaksud
ayat (1) melaksanakan fungsi pada ayat (1) diangkat dan
penyidikan tindak pidana korupsi. diberhentikan oleh pimpinan
Komisi Pemberantasan
Korupsi.
(3)Penyidik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) wajib
tunduk pada mekanisme
penyidikan yang diatur
berdasarkan ketentuan hukum
acara pidana.
(4)Penyidik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) wajib
mempunyai standar
kompetensi yang sama.

73
Pasal 45A (Persyaratan Penyidik KPK)

74
41 - (1) Penyidik Komisi Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) diatur
Pemberantasan Korupsi harus mengenai persyaratan penyidik KPK yang
memenuhi persyaratan sebagai tidak diatur oleh UU KPK (Sebelum
berikut: a. berpendidikan paling Perubahan). Selain itu, dalam UU KPK
rendah S1 (sarjana strata satu) (Setelah Perubahan), harus ada sinergitas
atau yang setara; b. mengikuti antara KPK dengan kepolisian / kejaksaan.
dan lulus pendidikan di bidang Perihal tata cara pengangkatan penyidik
penyidikan; c. sehat jasmani dan KPK, nantinya akan diatur dalam Peraturan
rohani yang dibuktikan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.
surat keterangan dokter; dan d.
memiliki kemampuan dan
integritas moral yang tinggi.
(2) Persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b
diselenggarakan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi bekerja
sama dengan kepolisian
dan/atau kejaksaan.
(3) Penyidik Komisi Pemberantasan
Korupsi sebagaimana yang
dimaksud dalam ayat (1)
diberhentikan dari jabatannya
karena: a. diberhentikan
sebagai aparatur sipil negara; b.
tidak lagi bertugas di bidang
teknis penegakan hukum; atau c.
permintaan sendiri secara
tertulis.

75
(4) Ketentuan lebih lanjut
mengenai tata cara
pengangkatan penyidik

76
Komisi Pemberantasan Korupsi
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (3) diatur
dalam Peraturan Komisi
Pemberantasan Korupsi.
Pasal 46 (Penetapan Tersangka oleh KPK)
42 (1) Dalam hal seseorang ditetapkan sebagai Dalam hal seseorang ditetapkan Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
tersangka oleh Komisi Pemberantasan sebagai tersangka oleh Komisi penetapan tersangka dilaksanakan
Korupsi, terhitung sejak tanggal Pemberantasan Korupsi, terhitung berdasarkan ketentuan hukum acara pidana,
penetapan tersebut prosedur khusus sejak tanggal penetapan sedangkan dalam UU KPK (Sebelum
yang berlaku dalam rangka pemeriksaan tersangka Perubahan), penetapan tersangka dilakukan
pemeriksaan tersangka yang diatur dilaksanakan berdasarkan melalui prosedur khusus sehingga
dalam peraturan ketentuan hukum acara pidana. pemeriksaan tersangka yang diatur dalam
perundangundangan lain, tidak UU lain dinyatakan tidak berlaku.
berlaku berdasarkan Undang-Undang
ini.
(2) Pemeriksaan tersangka sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dilakukan
dengan tidak mengurangi hak-hak
tersangka.

Pasal 47
43 (1) Atas dasar dugaan yang kuat adanya bukti (1) Dalam proses penyidikan, Dalam UU KPK (Setelah Perubahan),
permulaan yang cukup, penyidik dapat penyidik dapat melakukan penggeledahan dan penyitaan harus atas
melakukan penyitaan tanpa izin Ketua penggeledahan dan penyitaan izin tertulis dari Dewan Pengawas. Dewan
Pengadilan Negeri atas izin tertulis dari Dewan pengawas disini harus memberikan izin
Pengawas.

77
atau tidak memberikan izin paling lama 1 x
24 (satu

78
berkaitan dengan tugas (2) Dewan Pengawas dapat kali dua puluh empat) jam sejak permintaan
penyidikannya. memberikan izin tertulis atau izin diajukan.
(2)Ketentuan peraturan perundangundangan tidak memberikan izin tertulis
yang berlaku yang mengatur mengenai terhadap permintaan izin Sedangkan, dalam UU KPK (Sebelum
tindakan penyitaan, tidak berlaku sebagaimana dimaksud pada Perubahan), penyidik dapat melakukan
berdasarkan Undang-Undang ini. ayat (1) paling lama 1 x 24 penyitaan tanpa izin Ketua Pengadilan
(3)Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (satu kali dua puluh empat) Negeri.
(1) wajib membuat berita acara jam sejak permintaan izin
penyitaan pada hari penyitaan yang diajukan.
sekurangkurangnya memuat: 1. nama, (3) Penggeledahan dan penyitaan
jenis, dan jumlah barang atau benda sebagaimana dimaksud pada
berharga lain yang disita; 2. keterangan ayat (1) wajib membuat berita
tempat, waktu, hari, tanggal, bulan, dan acara penggeledahan dan
tahun dilakukan penyitaan; 3. keterangan penyitaan pada hari
mengenai pemilik atau yang menguasai penggeledahan dan penyitaan
barang atau benda berharga lain tersebut; paling sedikit memuat: a. nama,
4. tanda tangan dan identitas penyidik jenis, dan jumlah barang atau
yang melakukan penyitaan; dan 5. tanda benda berharga lain yang
tangan dan identitas dari pemilik atau digeledah dan disita; b.
orang yang menguasai barang tersebut. keterangan tempat, waktu, hari,
(4)Salinan berita acara penyitaan tanggal, bulan, dan tahun
sebagaimana dimaksud pada ayat dilakukan penggeledahan dan
penyitaan; c. keterangan
mengenai pemilik atau yang
menguasai barang atau benda
berharga lain tersebut; d. tanda
tangan dan identitas penyidik
yang melakukan penggeledahan
dan penyitaan; dan e. tanda

79
tangan dan identitas dari
pemilik atau orang yang
menguasai barang tersebut.

80
(3) disampaikan kepada tersangka atau (4) Salinan berita acara
keluarganya. penggeledahan dan penyitaan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) disampaikan kepada
tersangka atau keluarganya.
Pasal 47A
44 - Di antara Pasal 47 dan Pasal 48 Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) diatur
disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal perihal pelelangan dari hasil penggeledahan
47A yang berbunyi sebagai berikut: dan penyitaan yang akan diatur dengan
peraturan pemerintah. Hal ini tidak diatur
Pasal 47A oleh UU KPK (Sebelum Perubahan).
(1) Hasil penggeledahan dan
penyitaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 dapat dilakukan
pelelangan.
(2) Ketentuan mengenai
pelelangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan
Pemerintah.
Pasal 69 A, B, C, D

81
45 - Di antara Pasal 69 dan Pasal 70 Dalam UU KPK (Setelah Perubahan) diatur
disisipkan 4 (empat) pasal, yakni mengenai ketua dan anggota dewan
Pasal 69A, Pasal 69B, Pasal 69C, pengawas; penyidik, penyelidik dan pegawai
dan Pasal 69D, sehingga berbunyi KPK harus menjadi ASN; dan ketentuan
sebagai berikut: sebelum dibentuknya dewan pengawas.

Pasal 69A
(1) Ketua dan anggota Dewan
Pengawas untuk pertama kalinya

82
ditunjuk dan diangkat oleh
Presiden Republik Indonesia.
(2) Kriteria ketua dan anggota
Dewan Pengawas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai
dengan ketentuan Pasal 37D
termasuk dan tidak terbatas pada
aparat penegak hukum yang
sedang menjabat dan yang telah
berpengalaman paling sedikit 15
(lima belas) tahun.
(3) Penunjukan dan
pengangkatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk 1
(satu) kali masa jabatan sesuai
masa jabatan Dewan Pengawas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37A ayat (4).
(4) Pengangkatan ketua dan
anggota Dewan Pengawas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan bersamaan dengan
pengangkatan pimpinan Komisi
Pemberantasan Korupsi periode
tahun 2019 sampai dengan tahun
2023.

Pasal 69B

83
(1) Pada saat Undang-Undang ini
mulai berlaku, penyelidik atau
penyidik Komisi Pemberantasan
Korupsi yang belum berstatus
sebagai

84
Pegawai Aparatur Sipil Negara
dalam jangka waktu paling lama 2
(dua) tahun sejak Undang-Undang
ini berlaku dapat diangkat sebagai
Pegawai ASN sepanjang memenuhi
ketentuan peraturan
perundangundangan.
(2) Pengangkatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi
penyelidik atau penyidik Komisi
Pemberantasan Korupsi yang telah
mengikuti dan lulus pendidikan di
bidang penyelidikan dan
penyidikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan.

Pasal 69C
Pada saat Undang-Undang ini mulai
berlaku, Pegawai Komisi
Pemberantasan Korupsi yang
belum berstatus sebagai pegawai
aparatur sipil negara dalam
jangka waktu paling lama 2 (dua)
tahun terhitung sejak Undang-
Undang ini mulai berlaku dapat
diangkat menjadi pegawai
aparatur sipil negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan.

85
Pasal 69D
Sebelum Dewan Pengawas
terbentuk, pelaksanaan tugas dan
kewenangan Komisi Pemberantasan
Korupsi dilaksanakan berdasarkan
ketentuan sebelum Undang-Undang
ini diubah.

86
Pasal 70 A, B, C
46 - Di antara Pasal 70 dan Pasal 71 UU KPK (Setelah Perubahan) mengatur
disisipkan 3 (tiga) pasal, yakni Pasal perihal pengangkatan, pembinaan, dan
70A, Pasal 70B, dan Pasal 70C, yang pemberhentian pegawai KPK yang
berbunyi sebagai berikut: dilaksanakan sesuai ketentuan
perundangundangan karena pegawai KPK
Pasal 70A diangkat menjadi ASN.
Pengangkatan, pembinaan, dan
pemberhentian Pegawai Komisi Lebih lanjut, dalam UU KPK (Setelah
Pemberantasan Korupsi Perubahan), UU yang bertentangan dicabut
dilaksanakan sesuai dengan dan dinyatakan tidak berlau. Jadi, tindakan
ketentuan peraturan perundang- penyelidikan, penyidikan dan penuntutan
undangan. tipikor yang proses hukumnya belum selesai
harus dilakukan berdasarkan ketentuan
Pasal 70B sebagaimana diatur dalam UU KPK (Setelah
Pada saat Undang-Undang ini Perubahan) ini.
berlaku, semua peraturan
perundangundangan yang
bertentangan dengan
UndangUndang ini dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.

87
Pasal 70C
Pada saat Undang-Undang ini
berlaku, semua tindakan
penyelidikan, penyidikan dan
penuntutan Tindak Pidana
Korupsi yang proses hukumnya
belum selesai harus dilakukan
berdasarkan ketentuan
sebagaimana diatur dalam
Undangundang ini.

*
) Didasarkan pada Rapat Paripurna ke-9 tahun 2019 di Ruang Sidang Paripurna Nusantara II, Kompleks DPR/MPR, Jakarta, pada hari
Selasa, 17 September 2019.

88