Anda di halaman 1dari 8

‫‪Ini Bentuk Sikap yang Menganiaya Diri‬‬

‫‪Sendiri‬‬

‫ِي‬‫ُوا ف‬ ‫ِير‬‫يس‬‫ْ َ‬ ‫َ‬


‫َلم‬ ‫َ‬
‫أو‬
‫َ‬
‫ْف‬ ‫َ‬
‫ُوا كي‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬
‫ض فينظر‬‫َ‬ ‫َ‬ ‫ِْ‬ ‫َ‬‫ْ‬
‫اْلر‬
‫َ‬
‫ِين‬ ‫ة َّ‬
‫الذ‬ ‫َُ‬ ‫َاق‬
‫ِب‬ ‫ن ع‬‫َاَ‬ ‫ك‬
‫انوا‬‫َ ُ‬ ‫ْ ك‬ ‫ِه‬
‫ِۚ‬
‫م‬ ‫ْل‬‫َب‬
‫ْ ق‬ ‫ِن‬‫م‬
‫ً‬
‫َّة‬ ‫ُ‬
‫ْ قو‬ ‫هم‬ ‫ْ‬
‫ِنُ‬‫د م‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫أشَّ‬
‫ْضَ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫ُوا اْلر‬ ‫َ‬
‫َأثار‬‫َ‬ ‫و‬
‫َّا‬
‫ِم‬‫َ م‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫ها أكثر‬ ‫َ‬ ‫ُوَ‬‫َر‬‫َم‬‫َع‬‫و‬
‫ْ‬
‫هم‬‫تُ‬‫ءْ‬‫َاَ‬ ‫َج‬‫ها و‬ ‫ُوَ‬‫َر‬‫َم‬‫ع‬
‫َ ۖ‬
‫اتِ‬ ‫َيِن‬‫ِالب‬‫ْ ب ْ‬ ‫لُ‬
‫هم‬ ‫ُسُُ‬‫ر‬
‫ن َّ‬
‫اَّللُ‬ ‫َاَ‬‫َا ك‬ ‫َم‬‫ف‬
ْ
‫ِن‬‫َٰلك‬
ََ‫ْ و‬
‫هم‬َُ
‫ِم‬‫ْل‬
‫َظ‬ ِ
‫لي‬
ْ
‫هم‬َُ‫ُس‬ َْ
‫انوا أنف‬ُ َ‫ك‬
َ‫ُو‬
‫ن‬ ‫ْل‬
‫ِم‬ َ
‫يظ‬
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum
mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah
mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah
mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan
membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim
kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.

“Maka Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri sendiri,” (QS. Ar Ruum: 9)

mam Hasan Al Bashri (642 – 728 Masehi) adalah ulama dari Kota Basrah dan cendekiawan
muslim yang berguru langsung kepada para sahabat Nabi, antara lain Imam Ali bin Abi Talib
kw, Abdullah bin Abbas, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and
Abdullah bin Umar.

Beliau salah seorang Ahli Fiqih (fuqaha) yang berani berkata benar dan menyeru kepada
kebenaran dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Menurut Imam
Al Bagir ra tentang ketokohan Imam Hasan Al Bashri, “ucapan Al Hasan menyerupai ucapan
para Nabi”.

Menurut Imam Hasan Al-Bashri dalam Kitab kitab Syarhu Sunnah jilid 14,” Kezaliman itu ada
tiga macam:
1)Kezaliman yang tidak diampuni Allah Swt;

2)Kezaliman yang tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah Swr ;

3)Kezaliman yang diampuni Allah Swt.

Kezaliman Pertama, Kezaliman yang tidak di ampuni Allah sebelum pelakunya bertobat,
adalah syirik pada kepada Allah Swt. Syirik (menyekutukan Allah) merupakan kezaliman
terbesar, sebagaimana firman Allah Swt : “Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang
besar.” (QS. Luqman:13)

Rasulullah Saw juga bersabda :Maukah aku kabarkan kepadamu sekalian tentang dosa yang
paling besar? yaitu mempersekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, dan persaksian
palsu.” (Muttafaq alaih)

Dosa syirik membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan seorang manusia di dunia dan
di akhirat. Di antaranya sebagai berikut:

·Dosa syirik merupakan kezaliman dan dosa terbesar yang tidak terampuni pelakunya sebelum
bertaubat. Sebagaimana termaktub dalam surat An-Nisaa’ ayat 48 dan 116.

·Dosa syirik mengeluarkan seseorang dari lingkaran Islam dan menjadikan tersesat dengan
kesesatan yang jauh. Allah berfirman: Dan Barangsiapa yang mempersekutukan Allah
sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS. An-Nisaa’ 116)

·Kesyirikan menggugurkan pahala amalan kebajikan. Allah berfirman: “Seandainya mereka


mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka
kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

·Orang yang mempersekutukan Allah adalah seburuk-buruk makhluk, dan akan kekal dalam
Neraka selama-lamanya. Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahlul Kitab
dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya.
Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Demikian besarnya akibat dosa syirik, hingga Nabi Ibrahim as memohon kepada Allah agar
menjauhkan dia dan keturunannya dari dosa syirik. Nabi Iberahim berdoa, “Ya Tuhanku,
jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari
menyembah berhala-berhala.”(QS. Ibrahim:35)

Perbuatan syirik itu tidaklah terbatas hanya pada penyembahan patung-patung saja, akan tetapi
banyak macamnya, seperti: berdoa kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain
Allah, percaya kekuatan gaib pada benda-benda tertentu.
Kezaliman yang kedua: kezaliman yang tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada pembalasan,
yaitu kezaliman yang dilakukan seorang manusia terhadap sesamanya, atau seorang muslim
terhadap saudaranya.

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayat-kan oleh Imam Muslim, Rasul berkata, Allah
Swt berfirman, “Wahai hamba-hambaku sesungguhnya Aku mengharamkan atas diriKu
untuk berbuat zalim (kepada hamba-hambaKu) dan Aku mengharamkannya pula atas kamu
sekalian, maka janganlah kamu sekalian saling menzalimi satu dengan yang lain.”

Kita sering melihat dalam realita kehidupan dunia ini, perbuatan kezaliman yang dilakukan
seseorang kepada saudara-nya baik dalam harta, jiwa dan kehormatannya, seperti: korupsi,
menumpahkan darah orang lain tanpa hak (termasuk perbuatan Teror oleh para Teroris), menyia-
nyiakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan , mengancam jiwa
seseorang, memfitnah,mencaci maki, mencerca, mencemarkan nama baik, pengambilan
tanah/rumah seseorang secara paksa tanpa hak atau ada imbalan yang pantas, memakan harta
anak yatim, tidak membayar hutang dalam kondisi mampu melunasinya dan lain-lain.

Semua itu merupakan bentuk kezaliman yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya,
sebagaimana dalam khutbah Arafah, Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya darah-darahmu,
harta-hartamu dan kehor-matanmu diharamkan atas kamu sekalian. (HR. Al-Bukhari-
Muslim)

Rasul Saw juga pernah bersabda "Diantara bentuk kezaliman seseorang terhadap saudaranya
adalah apabila ia menyebutkan keburukan yang ia ketahui dari saudaranya dan menyembunyikan
kebaikan-kebaikannya."

Kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat, sebagaimana Nabi Saw bersabda: Takutlah kamu
berbuat kedzaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari
kiamat.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Oleh karena itu beliau memerintahkan umatnya agar menyelesaikan urusan-urusan antara mereka
di dunia ini, sebelum datangnya hari kiamat, yang perkara-perkara tersebut diselesaikan bukan
lagi berupa harta, darah, dan kehormatan melainkan dengan tebusan amal-amal saleh kita.

Di Yaumil Hisab kelas, seorang yang kaya dengan amal kebajikan-nya dapat bangkrut seketika,
akibat kezaliman yang dilakukan di dunia.

Nabi Saw pernah bersabda. “Tahukah kalian apakah orang yang bangkrut itu? para sahabat
berkata: Orang yang bangkrut di antara kami, adalah yang tidak mempunyai uang dan harta
benda, Nabi Saq berkata: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang
yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, namun dia
pernah mencaci si anu, memakan harta si anu, menumpahkan darah, dan memukul orang
lain., maka diputuskanlah perkara orang tersebut dengan diambil sebagian dari pahala
kebaikannya, kemudian seorang lagi dengan pahalanya, dan jika pahalanya telah habis
sebelum menyelesaikan kewajiban-kewajiban atasnya maka diambillah dosa-dosa orang-
orang yang dizaliminya, lalu dilimpahkan kepadanya, kemudian ia dicam-pakkan ke
Neraka.” (HR.Muslim # 2581).

Kezaliman terhadap orang lain adalah seburuk-buruk bekal di yaumil hisab.

Kezalimam yang ketiga: kezaliman yang diampuni Allah Swt, yaitu kezaliman seorang hamba
terhadap dirinya dengan melakukan perbuatan dosa atau kemungkaran/pelanggaran terhadap
hak-hak Allah atas dirinya, misalnya meninggalkan puasa, minum-minuman keras, dan
perbuatan-perbuatan yang mungkar lainnya yang berkaitan dengan pelanggaran hak-hak Allah
terhadap dirinya. Al Qur’an sering membahasakan dosa itu dengan menganiaya diri sendiri.

Barangsiapa yang terjerumus dalam menganiaya diri sendiri atau berbuat kemungkaran –
kemungkaran, tapi ia menyadari bahwa itu dosa lalu segera mengingat Allah Swt dengan
bertobat dan beramal shaleh niscaya akan diampuni oleh Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyanyang.

Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang apabila mengerjakan pekerjaan keji atau
menganiaya diri mereka, mereka ingat akan Allah lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah
ampunan dari Tuhan mereka, dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai sedang
mereka kekal di dalamnya.” (QS. Ali Imran:135 – 136)

Semoga Allah Swt senantiasa menjauhkan kita dan anak2 keturunan kita dari segala bentuk
syirik, dan kezaliman kepada sesama manusia maupun kezaliman terhadap diri sendiri, dan
Semoga Allah Swt senantiasa menganugerahkan kepada kita dan anak keturunan kita, keimanan
kepada Allah dan RasulNya. Aamiin.

Semangat Pagi sahabatku, Alhamdulillah Jum’at, Thanks God it’s Friday. Selamat beraktifitas
menjemput rezeki dan jangan lupa untuk membaca surat Al Kahfi atau perbanyak shalawat dan
tentu saja saling berlomba dalam kebaikan dan saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran.

Untuk Anda yg sedang dilanda musibah/sakit, Semoga Allah segera mengangkat musibah/
penyakitnya dan menggantinya dgn kesehatan dan kebahagiaan. Amin YRA

Semoga tulisan sederhana ini membawa manfaat bagi diri saya, keluarga dan kita semua. Amin
YRA

Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

Terima kasih banyak, thank you n matur Syukran atas waktunya.


Bâraka Allâh fîkum. Amiin

Jakarta, Jumat, 13 Jumadil Akhir 1433 / 04 Mei 2012

Wassalamualaikum wr wb

Imam Puji Hartono (IPH)

Sahabat, pernahkah melihat orang yang menganiaya dirinya sendiri? Mungkin kita
langsung membayangkan seseorang yang memotong urat nadinya dengan cutter, atau
menjatuhkan dirinya dari lantai sekian gedung tinggi, atau menenggak racun.

Akan tetapi sebenarnya dalam Islam, arti dari “menganiaya diri sendiri” tidak hanya itu.
Bukan sekadar menyakiti fisik sendiri, melainkan segala kezaliman yang dilakukan
terhadap diri sendiri, menjadikannya berhak mendapat siksa di akhirat kelak.

Berikut beberapa hal yang termasuk menganiaya diri sendiri


:
1. Bersikap sombong atau angkuh
Bagaimana mungkin bersikap sombong maupun angkuh masuk dalam kategori
‘menganiaya’ diri sendiri?

Kita bisa memahami konsep ini jika menggunakan kacamata kehidupan abadi, bukan
kacamata dunia semata. Bukankah sifat sombong yang dimiliki oleh makhluk hanya
pantas bertempat tinggal di neraka?

Oleh sebab itu, seorang manusia yang mendongakkan kepalanya dan bersikap angkuh
pada manusia lain, menyombongkan hartanya, menyombongkan jabatannya,
membanggakan ilmunya, maka hakikatnya dia tengah menganiaya diri sendiri.

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,” (QS. Al Kahfi: 35)
2. Mengerjakan kejahatan
Jika seseorang melakukan pencurian, kebohongan, pemfitnahan, perzinaan, mungkin ia
merasa diuntungkan dari tindak kejahatannya tersebut, namun sebenarnya ia tidak
menyadari, sebenarnya tak ada seorang pun yang paling merugi akibat kejahatan yang
diperbuatnya melainkan dirinya sendiri.

Mengapa demikian? Karena Allah telah menjelaskan bahwa kejahatan dan kebaikan yang
diperbuat seseorang akan kembali pada dirinya sendiri.

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan bertaubat dari segala
perbuatan jahat yang dikerjakan.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia


mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang,” (QS. Annisa: 110)

3. Menyembah selain Allah


Menganiaya diri sendiri yang paling parah dan bahkan tidak lagi bisa
diselamatkan adalah jika seseorang memiliki sembahan selain Allah.

Sembahan yang dimaksud bukan sekadar dewa-dewa atau Tuhan lain yang benar-benar
disembah selain Allah, melainkan apapun yang lebih dicintai dan lebih ditakuti oleh diri
kita melebihi kecintaan dan ketakutan kita pada kuasa Allah.

Misalnya, ketika kita mencintai dan takut kepada pasangan hidup lebih dari kadar cinta
dan takut kita pada Allah, maka pasangan hidup kita hakikatnya merupakan sesuatu yang
kita jadikan sebagai “sembahan” tandingan Allah.

Demikian juga jika cinta dan takut yang kita rasakan pada bos di kantor melebihi cinta
dan takut pada Allah, maka bos kita tersebut merupakan sembahan yang kita miliki selain
Allah. Sungguh, tiadalah beruntung orang-orang yang memiliki sesembahan selain Allah.

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka
sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan
yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-
sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka,” (QS. Huud
: 101)

Sahabat, semoga kita bukanlah orang-orang bodoh yang menganiaya diri sendiri dengan
mengutamakan kehidupan duniawi di atas segalanya.

Mudah-mudahan kita terjauh dari segala perbuatan zalim yang dapat menganiaya diri kita
di akhirat
kelak. (SH)

Adapun cara mengatasinya adalah melakukan hal sebaliknya. Mengerjakan apa yang
diperintahkan oleh Allah SWT. Terlebih dengan melakukan kebaikan yang
kebermanfaatannya jangka panjang.