Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

HUKUM INTERNASIONAL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah : Hukum Internasional

Dosen Pengampu : Hambali, S.H., M.H.

Disusun Oleh:

GILANG PURNAMA AZI

1111180419

3/J

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

TAHUN 2019
PEMBAHASAN

A. Definisi Hukum Internasional


Hukum internasional adalah hukum yang berlaku di dua negara atau lebih yang
mengatur tentang aktivitas berskala Internasional. Hukum Internasional merupakan hukum
antar negara atau antar bangsa yang menunjukkan pada kompleks asas dan kaidah yang
mengatur hubungan antar masyarakat bangsa-bangsa atau negara.

Pada umumnya hukum internasional diartikan sebagai himpunan peraturan-peraturan


dan ketetntuan-ketentuan yang mengikat serta mengatur hubungan antara negara-negara dan
subjek-subjek hukum lainnya dalam kehidupan masyarakat internasional. Definisi hukum
internasional yang diberikan oleh para pakar-pakar hukum terkenal di masa lalu seperti
oppenheim dan brierly, terbatas pada negara sebagi satu-satunya pelaku hukum dan tidak
memasukkan subjek hukum lainnya.
Selain itu hukum internasional dapat didefinisikan sebagai keseluruhan hukum yang
untuk sebagian besar terdiri dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perilaku yang terhadapnya
negara-negara merasa dirinya terikat untuk menaati dan karenanya benar-benar ditaati secara
umum dalam hubungan-hubungan mereka satu sama lain, dan meliputi juga:
 Kaidah-kaidah hukum yang berkaitan dengan berfungsinya lembaga-lembaga atau
organisasi-organisasi internasional, hubungan-hubungan antara mereka satu sama lain,
dan hubungan mereka dengan negara-negara dan individu-individu.
 Kaidah-kaidah hukum tertentu yang berkaitan dengan individu-individu dan badan-
badan non-negara sejauh hak-hak dan kewajiban individu dan badan non-negara
tersebut penting bagi masyarakat internasional.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hukum internasional


adalah bagian hukum yang mengatur aktivitas entitas berskala internasional atau merupakan
keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas
negara antara negara dengan negara serta negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau
subyek hukum bukan negara satu sama lain.

B. Jenis-jenis Hukum Internasional

Terdapat dua macam hukum internasional diantaranya, yaitu:

 Hukum publik internasional merupakan hukum internasional yang mengatur antara


negara yang satu dengan lainnya dalam hubungan internasional (hukum ini disebut
hukum antarnegara).
 Hukum perdata internasional merupakan hukum internasional yang mengatur antara
warga negara pada suatu negara dengan warga negara yang berasal dari negara lain
(hukum ini disebut hukum antar bangsa).
C. Asas-asas Hukum Internasional
Asas hukum internasional merupakan prinsip-prinsip umum yang menjelma dalam
hukum internasional. Terdapat beberapa asas hukum internasional, antara lain: asas territorial,
asas kebangsaan dan asas kepentingan umum.
 Asas territorial adalah prinsip yang memberikan hak kepada masing-masing negara
untuk melaksanakan hukum yang berlaku di negaranya terhadap semua orang dan atau
barang yang berada dalam wilayah negaranya. Berkenan dengan hal tersebut, maka
semua orang dan atau barang yang berada diluar dari wilayah kekuasaan suatu negara
akan diberlakukan hukum asing atau hukum internasional.
 Asas kebangsaan adalah prinsip yang mengakui adanya kekuasaan negara terhadap
warga negaranya. Menurut asas ini, setiap warga negara dimanapun dia berada tetap
dapat memperoleh perlakuan hukum dari negaranya. Asas kebangsaan memiliki
kekuatan ekstraterritorial yang berarti hukum yang berlaku di suatu negara tetap dapat
berlaku terhadap warga negaranya meskipun warga negara tersebut berada di negara
lainnya.
 Asas kepentingan umum adalah asas yang didasarkan pada pengakuan terhadap adanya
kewenangan negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalam kehidupan
masyarakatnya. Dimana negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan
peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan umum, sehingga hukum tidak hanya
terikat pada batas wilayah negara tertentu.

D. Sumber-sumber Hukum Internasional

Istilah sumber hukum internasional memiliki makna materiil dan makna formal. Sumber
hukum dalam arti materiil mempersoalkan isi/materi hukum, sedangkan sumber hukum dalam
arti formal mempersoalkan bentuk atau wadah aturan hukum. Berikut ini penjelasan mengenai
dua sumber hukum internasional, yaitu materil dan formal.

1. Sumber Hukum Materil

Sumber hukum material adalah sumber hukum yang membahas materi dasar
tentang substansi dari pembuatan hukum itu sendiri atau prinsip-prinsip yang
menentukan isi ketentuan hukum internasional yang berlaku.
Sumber hukum material juga dapat diartikan sebagai dasar kekuatan
mengikatnya hukum internasional.
2. Sumber Hukum Formal

Sumber hukum formal dalam hukum internasional ditegaskan dalam Statuta Mahkamah
Internasional pasal 38 ayat (1). Menurut pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah
Internasional, sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam
mengadili perkara sebagai berikut.
a. Perjanjian Internasional

Perjanjian internasional yang menjadi sumber hukum utama atau primer dari
hukum internasional adalah perjanjian internasional (treaty) baik berbentuk law
making treaty maupun yang berbentuk treaty contract. Law making treaty artinya
perjanjian internasional yang menetapkan ketentuan hukum internasional yang
berlaku umum. Adapun treaty contract artinya perjanjian internasional yang
menetapkan ketentuan-ketentuan hukum kebiasaan internasional yang berlaku bagi
dua pihak atau lebih yang membuatnya dan berlaku khusus bagi pihak-pihak
tersebut.

b. Kebiasaan Internasional

Kebiasaan internasional (international custom) adalah kebiasaan yang terbukti


dalam praktik umum dan diterima sebagai hukum. Contohnya, penyambutan tamu
dari negara-negara lain dan ketentuan yang mengharuskan pemasangan lampu bagi
kapalkapal yang berlayar pada malam hari di laut bebas untuk menghindari
tabrakan.
c. Prinsip Hukum Umum

Yang dimaksud prinsip-prinsip hukum umum di sini adalah prinsip-prinsip


hukum yang mendasari sistem hukum modern, yang meliputi semua prinsip
hukum umum dari semua sistem hukum nasional yang bisa diterapkan pada
hubungan internasional. Dengan adanya prinsip hukum umum, Mahkamah
Internasional diberi keleluasaan untuk membentuk dan menemukan hukum baru.
Dengan demikian, tidak ada alasan bagi Mahkamah Internasional untuk
menyatakan nonliquet atau menolak mengadili karena tidak adanya hukum yang
mengatur persoalan yang diajukan.

d. Keputusan Pengadilan

Keputusan pengadilan yang dimaksud sebagai sumber hukum internasional


menurut Piagam Mahkamah Internasional pasal 38 ayat (1) sub d adalah
pengadilan dalam arti luas dan meliputi segala macam peradilan internasional
maupun nasional termasuk di dalamnya mahkamah dan komisi arbitrase.
Mahkamah yang dimaksudkan di sini adalah Mahkamah Internasional Permanen,
Mahkamah Internasional, dan Mahkamah Arbitrase Permanen.

E. Fungsi Hukum Internasional

Adapun fungsi dari hukum internasional, yaitu:

 menata pelaksanaan perang yang adil;

 mewujudkan keamanan dan perdamaian;

 menghentikan perlombaan senjata;

 mengatur hubungan internasional;

 menghukum penjahat perang.

F. Tujuan Hukum Internasional


 Mewujudkan keadilan dalam hubungan internasional. Ini terbukti dengan adanya
lembaga/mahkamah pengadilan, yaitu:
a. Mahkamah Tetap Pengadilan Internasional, yang ada semasa Liga Bangsa-
Bangsa.
b. Mahkamah Pengadilan Internasional, atau yang kadang-kadang disebut dengan
Mahkamah Internasional, yang adanya diatur di dalam Piagam PBB maupun
secara khusus diatur di dalam Statuta Mahkamah Internasional.
 Menciptakan hubungan internasional yang teratur.

G. Penyelesaian Sengketa Internasional


Ketika terjadinya sengketa internasional, ada beberapa metode atau cara untuk
menyelesaikannya. Metode atau cara tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Kekerasan

Metode kekerasan dalam menyelesaikan sengketa internasional terdiri atas cara-cara


seperti berikut.

 Pertikaian Bersenjata

Pertikaian bersenjata ialah suatu pertentangan yang disertai penggunaan kekerasan


angkatan bersenjata tiap-tiap pihak dengan tujuan menundukkan lawan, dan menetapkan
persyaratan perdamaian secara sepihak.
 Retorsi
Retorsi ialah pembalasan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap tindakan yang tidak
pantas dari negara lain. Perbuatan retorsi ialah perbuatan sah, tetapi tidak bersahabat.
Contoh retorsi antara lain retorsi mengenai pengetatan hubungan diplomatik,
penghapusan hak istimewa diplomatik, dan penarikan kembali konsensi pajak atau tarif.

 Reprasial
Reprasial ialah pembalasan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap tindakan yang
melanggar hukum dari negara lawan dalam suatu sengketa. Reprasial bisa dilakukan pada
masa damai maupun di antara pihak yang bersengketa. Reprasial pada masa damai antara
lain pemboikotan barang, embargo, dan unjuk kekuatan (show of force).

 Blokade Damai

Blokade ialah suatu pengepungan wilayah, misalnya pengepungan suatu kota atau
pelabuhan dengan tujuan untuk memutuskan hubungan wilayah itu dengan pihak luar.
Ada dua macam blokade, yaitu blokade pada masa perang dan damai.

2. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai

Penyelesaian secara damai adalah cara penyelesaian tanpa paksaan atau kekerasan.

 Arbitrase
Penyelesaian pertikaian atau sengketa internasional melalui arbitrase internasional
adalah pengajuan sengketa internasional kepada arbitrator yang dipilih secara bebas oleh
para pihak. Mereka itulah yang memutuskan penyelesaian sengketa, tanpa terlalu terikat
pada pertimbangan-pertimbangan hukum. Putusan itu dapat didasarkan pada kepantasan
dan kebaikan.

 Penyelesaian Yudisial

Penyelesaian yudisial adalah suatu penyelesaian sengketa internasional melalui suatu


pengadilan internasional yang dibentuk sebagaimana mestinya, dengan memberlakukan
kaidah-kaidah hukum. Lembaga pengadilan internasional yang berfungsi sebagai organ
penyelesaian yudisial dalam masyarakat internasional adalah International Court of
Justice.

 Negosiasi
Negosiasi ialah upaya penyelesaian sengketa yang dilakukan secara langsung oleh para
pihak yang bersengketa melalui dialog tanpa ada keikutsertaan dari pihak ketiga. Dalam
pelaksanaan negosiasi ini, para pihak melakukan pertukaran pendapat dan usul untuk
mencari kemungkinan tercapainya penyelesaian sengketa secara damai. Negosiasi dapat
berbentuk bilateral dan multilateral. Negosiasi bisa dilangsungkan melalui saluran
diplomatik pada konferensi internasional atau dalam suatu lembaga atau organisasi
internasional.

H. Subjek Hukum Internasional


Menurut Starke, subjek hukum internasional terdiri atas negara, tahta suci, palang merah
internasional, organisasi internasional, orang-perorangan (individu), pemberontak, dan pihak-
pihak yang bersengketa.
 Negara
Sejak lahirnya hukum internasional, negara sudah diakui sebagai subjek hukum
internasional. Bahkan, hingga sekarang pun masih ada anggapan bahwa hukum
internasional pada hakikatnya adalah hukum antarnegara. Dalam suatu negara federal,
pengemban hak dan kewajiban subjek hukum internasional adalah pemerintah federal.
Tetapi, adakalanya konstitusi federal memungkingkan negara bagian (state) mempunyai
hak dan kewajiban yang terbatas atau melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh
pemerintah federal. Sebagai contoh, dalam sejarah ketatanegaraan USSR (Union of
Soviet Socialist Republics) dulu, Konstitusi USSR (dalam batas tertentu) memberi
kemungkinan kepada negara-negara bagian seperti Byelo-Rusia dan Ukraina untuk
mengadakan hubungan luar negeri sendiri di samping USSR.

 Takhta Suci
Di samping negara, sejak dulu Takhta Suci (Vatikan) merupakan subjek hukum
internasional. Hal ini merupakan peninggalan sejarah masa lalu. Ketika itu, Paus bukan
hanya merupakan kepala Gereja Roma, tetapi memiliki pula kekuasaan duniawi. Hingga
sekarang, Takhta Suci mempunyai perwakilan diplomatik di banyak ibukota negara,
termasuk di Jakarta.
Takhta Suci merupakan suatu subjek hukum dalam arti yang penuh. Oleh karena itu,
Takhta Suci mempunyai kedudukan sejajar dengan negara. Kedudukan seperti itu
terjadi terutama setelah diadakannya perjanjian antara Italia dan Takhta suci pada
tanggal 11 Februari 1929, yang dikenal sebagai Perjanjian Lateran (Lateran Treaty).
Berdasarkan perjanjian itu, pemerintah Italia antara lain mengembalikan sebidang tanah
di Roma kepada Takhta Suci. Dalam sebidang tanah itulah kemudian didirikan Negara
Vatikan.

 Palang Merah Internasional


Palang Merah Internasional (PMI), yang berkedudukan di Jenewa, mempunyai tempat
tersendiri dalam sejarah hukum internasional. Kedudukan Palang Merah Internasional
sebagai subjek hukum internasional lahir karena sejarah masa lalu. Pada umumnya, kini
Palang Merah Internasional diakui sebagai organisasi internasional yang memiliki
kedudukan sebagai subjek hukum internasional, walaupun dengan ruang lingkup
terbatas. Dengan kata lain, Palang Merah Internasional bukan merupakan subjek hukum
internasional dalam arti yang penuh.

 Organisasi Internasional
Kedudukan organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional sekarang tidak
diragukan lagi. Memang, pada mulanya belum ada kepastian mengenai hal tersebut.
Organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa- Bangsa dan Organisasi Buruh
Internasional (ILO) mempunyai hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam konvensi-
konvensi internasional. Berdasarkan kenyataan ini, dapat dikatakan bahwa PBB dan
organisasi internasional semacam itu merupakan subjek hukum internasional.
Setidaknya, hal itu didasarkan pada hukum internasional khusus yang bersumberkan
konvensi internasional.

 Orang Perseorangan (Individu)


Orang perseorangan juga dapat dianggap sebagai subjek hukum internasional, meskipun
dalam arti yang terbatas. Dalam perjanjian perdamaian Versailles tahun 1919, yang
1
mengakhiri Perang Dunia I antara Jerman dengan Inggris dan Perancis (bersama
sekutunya masing-masing), sudah terdapat pasal-pasal yang memungkinkan orang
perseorangan mengajukan perkara ke hadapan Mahkamah Arbitrase Internasional.

I. Deskripsi Kasus

ANALISIS KASUS

SENGKETA INTERNASIONAL ANTARA INDONESIA DAN CHINA ATAS


PULAU NATUNA

Pada hari Sabtu, 19 Maret 2016, terjadi insiden yaitu terpergoknya kapal Motor
Kway Fey 10078 berbendera Tiongkok saat melakukan aktivitas penangkapan ikan di
perairan Natuna. Kementerian Kelautan dan Perikanan mendeteksi kapal nelayan Tiongkok
pada hari itu pukul 15.14 WIB berada di koordinat 5 derajat lintang utara dan 109 derajat
bujur timur yang merupakan Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia.
Insiden itu berbuntut protes resmi dari pemerintah Indonesia karena upaya
penindakan yang hendak dilakukan oleh tim KKP dihalang-halangi oleh kapal patroli milik
badan keamanan laut (coastguard) Tiongkok. Kapal penjaga pantai (coast guard) milik
Angkatan Laut China nekat menerobos perbatasan. Tak hanya itu, mereka juga menabrak
dan menarik paksa kapal yang baru saja ditangkap operasi gabungan Kementerian Kelautan
dan Perikanan bersama TNI AL.
Akibat Akibat ulah dari kapal coast guard China yang menerabas wilayah perairan
Natuna, Indonesia ini belum usai. Hal ini membuat pemerintah Indonesia kini berencana
meningkatkan pengamanan wilayah perbatasan itu. Tak sekadar memperketat pengawasan,
mereka bahkan berencana memperkuat posisi militer di perairan tersebut. Langkah itu
dilakukan demi menegakkan kedaulatan NKRI di lautan khususnya Natuna. Sebagaimana
dikutip viva.com, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar
Pandjaitan, saat berkunjung ke kantor redaksi tvOne, Rabu malam, 23 Maret 2016
mengatakan bahwa Natuna harus jadi seperti kapal induk kita. Kita Jadikan basis militer
yang kuat, AL dan AU di sana. Dia menambahkan bahwa presiden Joko Widodo bersikap
tegas dan tidak kompromi mengenai persoalan tersebut.

2
Pemerintah melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah melayangkan
protes kepada Pemerintah China, terkait insiden pelanggaran kedaulatan di perairan laut
Natuna, Kepulauan Riau. Menlu sudah memanggil kuasa usaha sementara Kedutaan Besar
China di Jakarta. Menlu langsung menyampaikan tiga hal protes pemerintah Indonesia atas
tragedi di laut Natuna pada Minggu 20 Maret 2016 malam kemarin. Poin kedua dari protes
Indonesia ke negeri Tirai Bambu itu, mengenai upaya yang dilakukan oleh coast guard
China untuk mencegah upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh otoritas Indonesia di
wilayah ZEE dan landas kontinen. Di mana, salah satu kapal coast guard China tiba-
tiba mengejar Kapal Pengawas (KP) Hiu 11 milik Indonesia dan kapal tangkapan KM
Kway Fey 10078 China dengan kecepatan 25 knots. Kapal cost guard itu justru menabrak
kapal tangkapan hingga rusak. Akhirnya, petugas meninggalkan kapal tangkapan tersebut
demi keselamatan. Dan, yang ketiga adalah keberatan kita atau protes kita terhadap
pelanggaran kedaulatan laut teritorial Indonesia.
Kepulauan Natuna merupakan wilayah Indonesia yang paling utara di Selat
Karimata. Kepulauan Natuna terdiri dari pulau-pulau kecil yang berbatasan langsung
dengan wilayah maritim tiga negara, yaitu Malaysia, Singapura dan Vietnam.22 Kepulauan
Natuna memiliki cadangan gas alam terbesar di kawasan Asia Pasifik bahkan di Dunia.
Cadangan minyak bumi Natuna diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas
bumi 112.356.680 barel. Kawasan laut Natuna juga merupakan salah satu jalur Alur Laut
Kepulauan Indonesia (ALKI) dan menjadi lintasan laut Internasional bagi kapal-kapal yang
datang dari Samudera Hindia memasuki negara-negara industri di sekitar laut tersebut dan
juga menuju Samudera Pasifik. Akan tetapi, China selama ini mengklaim kedaulatan di
hampir seluruh wilayah Laut China Selatan. Dalam hal wilayah, China mengklaim 90%
wilayah perairan Laut China Selatan seluas 3,6 juta kilometer persegi. Klaim itu didasari
pada peta kuno armada laut China pada abad kedua sebelum Masehi pada masa dinasti Qin
dan dinasti Han. Kemudian dari tahun 960 sampai 1368, orang- orang China memperluas
aktivitasnya ke perairanan pulau Zhongsha dan Nansha. Aktivitasaktivitas China berlanjut
terus sampai tahun 1911, dimana wilayah kegiatannya sudah mencakup semua pulau di
Laut China Selatan.

3
J. Analisis Kasus berdasarkan Penyelesaian Sengketa Internasional
Mengenai kemelut yang terjadi di Laut China Selatan, sebenarnya Indonesia sejak
dahulu telah melakukan upaya diplomatik agar sengketa Laut China Selatan tidak meluas di
wilayah kedaulatan Indonesia di Natuna. Pada saat itu, Menlu Indonesia Marty Natalegawa
dan Menlu China Yang Jiechi sepakat untuk mengadakan diplomasi dalam menyelesaikan
sengketa Laut China Selatan. Mengimplementasikan secara penuh dan efektif dari
Declaration on the conduct of Parties in the Shout China Sea (DOC), yaitu membangun
rasa saling percaya, meningkatkan kerjasama, memelihara perdamaian dan

stabilitas di Laut China Selatan. Dalam menyelesaikan konflik di laut China Selatan,
pemerintah Indonesia telah memiliki instrumen penyelesaian konflik yang memadai.
Inisiatif Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang mengusulkan draf awal kode etik
atau zero draft code of conduct Laut China Selatan bisa dijadikan senjata bagi diplomasi
Indonesia. Ada tiga poin penting yang menjadi tujuan zero draft code of conduct, yaitu
menciptakan rasa saling percaya, mencegah insden, dan mengelola insiden jika insiden itu
terjadi. Pada tiga tahap ini juga dipaparkan langkah-langkah konkrit yang mengatur kapal-
kapal perang untuk menciptakan rasa saling percaya, mencegah insiden dan mengelola
insiden. Code of conduct yang diusulkan pada September 2012 tersebut telah disetujui
dalam pertemuan antara menteri luar ASEAN dan China Beijing pada Agustus 2013.26
Berdasarkan sedikit pemaparan tersebut, maka pendapat Menteri Luar Negeri
China jelas melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Yang pada akhirnya, dengan
melakukan negosiasi secara diplomatik dalam rangka menyelesaikan sengketa atas pulau
Natuna, China mengakui hak penuh Indonesia atas Pulau Natuna di Laut China Selatan.

4
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hukum internasional adalah hukum yang berlaku di dua negara atau lebih yang
mengatur tentang aktivitas berskala Internasional.

Terdapat dua macam hukum internasional diantaranya, yakni :


 Hukum publik internasional
 Hukum perdata internasional
Istilah sumber hukum internasional memiliki makna materiil dan makna formal.
Sumber hukum dalam arti materiil mempersoalkan isi/materi hukum, sedangkan
sumber hukum dalam arti formal mempersoalkan bentuk atau wadah aturan hukum

Adapun fungsi dari hukum internasional, yaitu:

 menata pelaksanaan perang yang adil;

 mewujudkan keamanan dan perdamaian;

 menghentikan perlombaan senjata;

 mengatur hubungan internasional;

 menghukum penjahat perang.

B. Saran

Keberadaan hukum internasional sangat dirasakan demi tercapainaya ketertiban dunia.


Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa dewasa ini ketegasan dari hukum internasional
sudah mulai melemah seiring berkembangnya kekuatan-kekuatan yang terpusat pada
beberapa negara tertentu. Sebagai generasi penerus yang akan menjalankan tugas-tugas
pemerintahan pada masa akan datang, sangat diharapkan keseriusan dari semua pihak
khususnya mahasiswa untuk kritis terhadap isu-isu, baik yang terjadi di dalam maupun diluar
negeri ini, apalagi menyangkut pelaksanaan dari hukum internasional yang semakin hari
semakin melemah pengimplementasiannya demi tercapainya perdamaian dunia.
5
DAFTAR PUSTAKA

Starke,J.G. 2006. Pengantar Hukum Internasional Edisi Kesepeuluh. Jakarta: Sinar Grafika
Wallace, Rebecca. 1986. Hukum Internasional Pengantar Untuk Mahasiswa. Semarang : IKIP
Semarang Press
“ Penyelesaian sengketa dan analisis kasus “ dalam
https://www.academia.edu/24679799/PENYELESAIAN_SENGKETA_INTERNASIONAL,
diakses pada Selasa, 19 November 2019 pukul 21.20 WIB