Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bimbingan konseling adalah suatu upaya bantuan yang diberikan kepada

individu yang mempunyai masalah secara berkelanjutan supaya individu tersebut

dapat mengatasi masalahnya sendiri sehingga ada perubahan tingkah laku pada

individu tersebut.

Teori piaget mengklasifikasikan bahwa anak usia 7-11 tahun masuk kedalam

kelompok operasional kongkrit artinya cara berpikir anak sudah mampu berpikir

secara logis. Anak mulai berpikir secara sistematis untuk mencapai pemecahan

masalah yang konkrit.

Seperti yang telah diketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik

pribadi atau perilaku yang berbeda dengan siswa lainnya. Dengan adanya perbedaan

ini maka masalah yang dimiliki setiap siswa pun berbeda juga. Ada yang hanya

memiiki masalah kesulitan belajar atau hanya masalah dalam berperilaku saja. Ada

yang memiliki kedua masalah tersebut. Dan ada juga yang memiliki masalah yang

lain. Masalah-masalah tersebut dapat berasal dari keluarga, lingkungan maupun dari

diri sendiri. Keragaman perilaku ini mengandung implikasi akan perlunya data dan

pemahaman yang memadai terhadap setiap siswa.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan

adalah memahami siswa secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun

latar belakang pribadinya. Dalam hai ini, guru dituntut untuk mengetahui asal usul

dan kepribadian setiap siswa agar guru dapat memperoleh cara untuk menghadapi

siswa yang bermasalah. Maka dari itu perlu adanya pengumpulan data terhadap

siswa. Dengan data yang lengkap, guru akan dapat memberikan layanan bimbingan

kepada siswa secara tepat atau terarah. Oleh karena itu, saya guru sekolah dasar

melakukan observasi ini untuk mengetahui bimbingan untuk menghadapi siswa yang

bermasalah tersebut.

1
B. Pengertian dan Tujuan Program BK di Sekolah Dasar

Program Bimbingan Konseling adalah suatu rencana kegiatan bimbingan dan

konseling yang dilaksanakan pada periode tertentu. Program ini memuat unsur –

unsur yang terdapat dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan

konseling dan diorientasikan pada pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan

konseling di Sekolah. Tujuan penyusunan program tidak lain adalah agar kegiatan

bimbingan dan konseling di Sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif dan

efisien, serta hasil-hasilnya dapatdinilai.

Tersusun dan terlaksananya program dan bimbingan konseling dengan baik,

selain akan lebih menjamin pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan konseling

pada khususnya, tujuansekolah pada umumnya, juga akan lebih menegakkan

akontabilitas bimbingan dan konseling diSekolah Dasar.

1. Jenis Program Bimbingan Konseling

Adapun jenis-jenis dari program bimbingan dan konseling adalah :

a) Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi

seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di

sekolah/madrasah.

b) Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling

meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program

tahunan.

c) Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi

seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.

d) Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi

seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.

e) Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang

dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian

merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan

(SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan

Konseling.

2
2. Penyusunan Program BK

Program pelayanan Bimbingan dan Konseling disusun berdasarkan

kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi

instrumentasi. Substansi program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi

keempat bidang, jenis layanan dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran

pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.

3. Unsur Penyusunan Program Pelayanan Konseling.

Dalam penyusunan program pelayanan konseling diharapkan memenuhi

unsur-unsur dan persyaratan tertentu. Menurut Prayitno (1998) unsur-unsur yang

harus diperhatikan dan menjadi isi program bimbingan dan konseling meliputi

kebutuhan siswa, jumlah siswa yang dibimbing, kegiatan di dalam dan di luar jam

belajar sekolah, jenis bidang bimbingan dan jenis layanan, volume kegiatan

bimbingan dan konseling, dan frekuensi layanan terhadap siswa.

C. Landasan Hukum Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Penyelenggaraan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah merupakan bagian

integral dari sistem pendidikan kita demi mencerdaskan kehidupan bangsa melalui

berbagai pelayanan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka

seoptimal mungkin. Kehadiran BK di institusi pendidikan sudah memiliki landasan

yuridis formal dimana pemerintah telah menyediakan payung hukum terhadap

keberadaan BK di sekolah. Berikut disampaikan peraturan-peraturan yang mendasari

dan terkait langsung dengan layanan BK di sekolah.

UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1

Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta kerampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kemudian mengenai pendidik

diterangkan di Ayat 6 yaitu dimana pendidik adalah tenaga kependidikan yang

3
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,

instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta

berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Selanjutnya tentang fungsi dan tujuan pendidikan dalam UU RI No. 20 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3 dinyatakan bahwa

pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak

serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,

berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab. Selanjutnya tentang hak peserta didik disebutkan dalam Bab 5

pasal 12 Ayat 1b dimana setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak

mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan

Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa pelayanan konseling meliputi

pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan

mengekspresikan diri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat. Kegiatan

pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan

dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir

peserta didik. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh

konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk

kegiatan ekstrakurikuler.

Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan

Kompetensi Konselor di Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa untuk dapat diangkat

sebagai konselor, seseorang wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan

kompetensi konselor yang berlaku secara nasional. Kemudian penyelenggara

pendidikan yang satuan pendidikannya mempekerjakan konselor wajib menerapkan

standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor.

4
Berikutnya dalam PP No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dalam Bab

10 tentang Bimbingan diterangkan di Pasal 27 bahwa bimbingan merupakan bantuan

yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal

lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru

pembimbing.

PP No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan Pasal 1 Ayat 2 diatur

bahwa tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang bertugas membimbing,

mengajar, dan/atau melatih peserta didik. Seterusnya di Ayat 3 dinyatakan bahwa

tenaga pembimbing adalah tenaga pendidik yang bertugas membimbing peserta didik.

Pada Pasal 3 Ayat 2 dimana tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar, dan

pelatih.

Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84

Tahun 1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal 3 Ayat 2

menyebutkan bahwa salah satu tugas pokok guru adalah menyusun program

bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan,

analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan

terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Selanjutnya di Pasal 5 Ayat

1c disebutkan bahwa salah satu bidang kegiatan guru adalah bidang pendidikan, yang

meliputi diantaranya melaksanakan proses belajar mengajar atau praktek atau

melaksanakan BK.

Dalam upaya mewujudkan pelaksanaan BK di sekolah, pemerintah melalui

SK Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi

Kepegawaian Negara Nomor 0433/P/1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan

Fungsional Guru Pembimbing dan Angka Kreditnya, serta SK Mendikbud Nomor

025/0/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru

dan Angka Kreditnya, menetapkan tugas guru pembimbing (konselor sekolah)

sebagai berikut: (1) menyusun program BK, (2) melaksanakan BK, (3) mengevaluasi

hasil pelaksanaan BK, (4) menganalisis hasil evaluasi pelaksanaan BK, (5) tindak

5
lanjut pelaksanaan BK. Adapun rincian dari tugas tersebut diatas adalah sebagai

berikut:

Penyusunan program BK adalah membuat rencana pelayanan BK dalam

bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir.

Pelaksanan BK adalah melaksanakan fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan,

pemeliharaan dan pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial,

bimbingan belajar dan bimbingan karir. Evaluasi pelaksanan BK adalah kegiatan

menilai layanan BK dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbangan

belajar dan bimbingan karier.

Analisis evaluasi pelaksanaan BK adalah menelaah hasil evaluasi pelaksanaan

BK yang mencakup pelayanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran,

konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan pembelajaran

serta kegiatan pendukungnya.

Tindak lanjut pelaksanaan BK adalah kegiatan menindaklanjuti hasil analisis

evaluasi tentang layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling

perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok dan pembelajaran serta

kegiatan pendukungnya.

Secara umum tugas konselor sekolah adalah bertanggung jawab untuk

membimbing peserta didik secara individual sehingga memiliki kepribadian yang

matang dan mengenal potensi dirinya secara menyeluruh. Dengan demikian

diharapkan siswa tersebut mampu membuat keputusan terbaik untuk dirinya, baik

dalam memecahkan masalah mereka sendiri maupun dalam menetapkan karir mereka

dimasa yang akan datang ketika individu tersebut terjun di masyarakat. Tugas

konselor sekolah adalah menyelenggarakan pelayanan bimbingan yang meliputi:

bidang bimbingan pribadi, bidang bimbingan sosial, bidang bimbingan belajar dan

bidang bimbingan karir yang disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.

6
BAB II
PROGRAM KEGIATAN

A. Program Bimbingan dan Konseling di SDN Tirtawening

Setelah saya melakukan observasi pada hari Senin, 09 September 2019 di

SDN Tirtawening mengenai Program Bimbingan dan Konseling yang ada di sekolah

tersebut dengan cara mewawancarai Kepala Sekolah dan Guru wali kelas ternyata di

sekolah ini tidak mempunyai Program Bimbingan dan Konseling namun pelaksanaan

Bimbingan dan Konseling tetap dilaksanakan sebagai layanan terhadap kebutuhan

setiap individu yang berada di sekolah ini. Kepala sekolah SDN Tirtawening yaitu

Ipit Yuanita MS, S.Pd. mengatakan bahwa program bimbingan dan Konseling di

SDN Tirtawening belum ada tetapi struktur pelaksanaan Bimbingan dan Konseling

sudah ada, yaitu digambarkan pada diagram berikut ini:

Kepala Sekolah Komite Sekolah

Guru kelas 1 Guru kelas 2 Guru kelas 3


Guru kelas 2

Guru kelas 4 Guru


Guru kelas
kelas 25 Guru kelas 6

Siswa

Melalui diagram tersebut beliau menjelaskan bahwa di sekolah yang beliau

pimpin Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di kategorikan ke dalam dua

Bimbingan dan Konseling, yaitu :

1. Bimbingan dan Konseling guru

Dalam dunia pendidikan ada beberapa komponen. Di sekolah dasar ada

beberapa komponen diataranya yaitu Kepala sekolah, guru, siswa, dan komite

sekolah. Oleh karena itu pendidikan di suatu sekolah dasar akan berjalan apabila

komponen-komponen yang ada di sekolah tersebut dapat saling berinteraksi.

Ketika kita berbicara masalah Bimbingan dan Konseling maka kita akan mengacu

kepada permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa saja. Tetapi setelah

7
saya berbincang-bincang dengan Kepala sekolah SDN Tirtawening ternyata

layanan Bimbingan dan Konseling juga diperlukan oleh guru. Karena guru juga

tidak akan terlepas dari masalah-masalah yang ada di kehidupannya yang

berdampak kepada pelaksanaan pembelajaran. Guru di SDN Tirtawening

melaksanakan Bimbingan dan Konseling setiap hari sabtu di akhir bulan.

Bimbingan dan Konseling ini diberikan oleh Kepala Sekolah sebagai pimpinan

yang ada di sekolah. Tujuan dari Bimbingan dan Konseling terhadap guru yang

dilakukan oleh kepala sekolah adalah agar guru dapat melaksanakan pembelajaran

secara disiplin dan dapat menyesuaikan diri ketika guru tersebut mempunyai

masalah sedikitnya tidak akan berpengaruh terhadap pembelajaran yang

dilakukan.

2. Bimbingan dan Konseling Siswa

Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa dilakukan

oleh guru wali kelas masing-masing. Dalam Bimbingan dan Konseling ini Kepala

Sekolah tidak turun langsung memberikan Bimbingan dan Konseling terhadap

siswa dikarenakan yang sering bertatap muka langsung dan setiap hari bertemu

dengan siswa adalah guru wali kelasnya masing-masing. Pelaksanannya wali

kelas juga setiap hari memberikan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa yang

mempunyai masalah dan yang mempunyai kecerdasan lebih. Apabila guru wali

kelas tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa maka akan

dilakukan alih tangan kasus kepada Kepala Sekolah untuk menemukan solusi

yang bijak terhadap permasalahan tersebut.

Dengan tidak adanya program yang terstruktur, beliau mengatakan

Bimbingan dan Konseling yang ada di sekolahnya masih belum bisa terlaksana

secara maksimal karena pada pelaksanaannya Bimbingan dan Konseling

terlaksana apabila ditemukan masalah saja ( fungsi kuratif/ pendekatan kritis )

sehingga dampak positif yang terjadi kurang begitu dirasakan oleh semua pihak.

Akan tetapi beliau juga berusaha untuk melaksanakan Bimbingan dan Konseling

melalui kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana penyalur bakat dan minat siswa

8
maupun guru yang ada di sekolahnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang utama di

SDN Tirtawening yaitu Pramuka, keagamaan, kesenian dan olahraga. Melalui

kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa dan guru sedikitnya mampu

meberikan dampak yang positif bagi semua pihak dan juga menumbuhkan

motivasi belajar siswa.

Namun kegiatan ektrakurikuler ini juga mempunyai hambatan karena

guru belum bias secara penuh memahami teknik-teknik yang ada di kegiatan

ekstrakurikuler sehingga sekolah mendatangkan pelatih khusus untuk

mengembangkan kreativitas siswa. Sehingga hambatan tersebut dapat teratasi dan

tidak menghambat pengembangan bakat dan minat siswa.

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah ini juga dilakuka dari

mulai anak masuk ke sekolah yaitu dengan pengumpulan data berupa biodata diri

siswa dan hal-hal lain yang menyangkut data pribadi siswa tersebut.

Dalam kaitannya juga dengan waktu untuk melaksanakan kegiatan

Bimbingan dan Konseling, sekolah mengacu pada SK Mendikbud No.

025/O/1995 mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan

di dalam atau di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan bimbingan dan konseling di

luar jam sekolah sebanyak-banyaknya 50% dari keseluruha kegiatan bimbingan

dan konseling untuk siswa di sekolah ini, atas persetujuan kepala sekolah.

SK Menpan No. 84/1993 pasal 4 ( dalam nurihsan, 2005:43) ditegaskan

bahwa ugas pokok guru pembimbing adalah “Menyusun program bimbingan,

melaksanakan bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil

pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut

dalam program bimbingan terhadap peerta didik yang menjadi tanggung

jawabnya”. Namun yang menjadi kelemahan di lapangan yaitu guru sulit

membuat program karena tidak adanya acuan yang berlaku untuk pelaksanaan.

Sehingga Pihak sekolah mengharapkan sekali adanya acuan program Bimbingan

dan Konseling dari Dinas Pendidikan supaya dalam pelaksanaan Bimbingan dan

9
Konseling bisa terlaksana dengan baik karena tanpa program yang merupakan

rencana untuk pelaksanaan maka pelaksanaanya tidak akan berjalan secara efektif.

Selain itu juga sarana yang diperlukan untuk penujang pelayanan

bimbingan dan konseling harus memadai, diantaranya :

1. Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes

Alat pengumpul data berupa tes yaitu : tes intelegensi, tes bakat

khusus, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi

belajar. Alat pengumpul data berupa non-tes yaitu : pdoman observasi,

catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis,

pedoman wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan

sosiometrii.

2. Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.

Alat penyimpanan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan

map. Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran

serta warna tertentu, sehingga mudah mudah untuk disimpan dalam

filling cabinet. Untuk menyimpan berbagai keterangan, informasi atau

pun data untuk masing-masing siswa, maka perlu disediakan map

pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa yang perlu

dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat

menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.

3. Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket

bimbingan, alatbantu bimbingan.

4. Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana

satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan,

blangko surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blangko konferesi kasus,

dan agenda surat.

5. Yang tidak kalah penting juga mengenai ruangan khusus untuk

pelaksanaan bimbingan dan konseling karena bimbingan yang efektif

itu terjadi apabila dilaksanakan person to person.

10
B. Bimbingan Konseling (BK)
1. Program Kerja BK Per Semester
2. Laporan Bulanan dan Evaluasi Pelaksanaan
3. Studi Kasus
4. Daftar Catatan Pelanggaran
5. Administrasi BK dan Bimbingan Konseling
a. Penyusunan Program
b. Program semester
c. Jadwal kegiatan kehadiran staff Bimbingan dan Konseling (BK)
d. Pembagian tugas bimbingan kelas
e. Rincian tugas Staff Bimbingan dan Konseling (BK)
f. Penyusunan program kegiatan administrasi Bimbingan dan Konseling (BK)
g. Kunjungan Rumah (Home Visit)
h. Pembinaan Pribadi
i. Bimbingan Langsung
j. Penelusuran Bakat dan Minat

11
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI TIRTAWENING
Jl. Cicondong Kel Cibeuti Kecamatan Kawalu Tasikmalaya

LAPORAN PER SEMESTER


BIMBINGAN DAN KONSELING
BULAN: JULI S/D JANUARI

KLASIFIKASI MASALAH PROSENTASE MASALAH


Pende
N Jml JENIS FAKTOR JENIS FAKTOR Ket
katan
o Siswa 1 2 3 4 PENYEBAB 1 2 3 4 PENYEBAB
L P L P L P L P A B C D E F G L P L P L P L P A B C D E F G A B C

Keterangan :
JENIS MASALAH FAKTOR PENYEBAB PENDEKATAN
1 = Pribadi L = Laki-laki A = Ekonomi A = Diberi informasi
2 = Sosial P = Perempuan B = Keluarga B = Dibantu dalam penyesuaian diri
3 = Belajar C = Pribadi C = Dibantu dalam
4 = Karir D = Lingkungan Sekolah
E = Lingkungan Luar Sekolah
F = Kesehatan
G = Potensi
Tasikmalaya,..........................

Guru Pembimbing Koordi. Bimbingan dan Konseling

Ade Nurhaeda, S.Pd Suryaman, A.Ma.Pd


NIP. 19691020 200501 2 008 NIP 19640921 198809 1 001
Mengetahui
Kepala SDN Tirtawening

IPIT YUANITA MS, S.Pd.


NIP. 19670628 198803 2 003

12
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI TIRTAWENING
Jl. Cicondong Kel Cibeuti Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya

LAPORAN BULANAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN BK

Nama Guru Pembimbing : Ade Nurhaeda, S.Pd


Bulan : September
Kelas / Semester : VI/ 1
Tahun pelajaran : 2019/2020

ASPEK KEGIATAN JENIS PENILAIAN


DESKRIPSI JENIS
NO YANG BK YANG Laiseg Laijapen Laijapan KET
PENILAIAN INSTRUMEN
DINILAI DINILAI
1 Pemahaman Bimbingan   - Sikap Observasi
tentang kelompok positif
nilai-nilai terhadp
kehidupan nilai-nilai
kehidupan Wawancara
Pelaksanaan
nilai-nilai - Penerapan
kehidupan nilai-nilai
kehidupan
2 Kesehatan Bimbingan    - Sikap Wawancara
jasmani kelompok hidup Observasi
sebagai pria sehat
dan wanita sebagai
wanita/pri
a
3 Cara Bimbingan    - Perilaku Wawncara
memelihara kelompok hidup observasi
dan Konseling sehat
merawat dalam
kondisi kehidupan
jasmani sehari-hari
yang sehat
Keterangan :
Laiseg : Layanan segera
Laijapen : Layanan jangka pendek
Laijapan : Layanan jangka panjang
Tasikmalya, September 2019

Kepala Sekolah Guru Bimbingan dan Konseling


SDN Tirtawening

IPIT YUANITA MS ADE NURHAEDA, S.Pd.


NIP. 19670628 198803 2 003 NIP. 19691020 200501 2 008

13
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI TIRTAWENING
Jl. Cicondong Kel Cibeuti Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya

FORMAT STUDI KASUS

Nama Siswa : Fauzan

HASIL DAN
GEJALA LATAR PERKIRAAN ALTERNATIF
No. PELAKSANAAN TINDAK
MASALAH BELAKANG MASALAH BANTUAN
LANJUT
Anak sering Keluarga Broken Home Pembinaan Kepala/Wk.Kepala/ Perlu kunjungan
tidak masuk Wali kelas rumah (home
visit)

Tasikmalaya, September 2019

Guru Pembimbing Koordi. Bimbingan dan Konseling

Ade Nurhaeda, S.Pd Suryaman, A.Ma.Pd


NIP. 19691020 200501 2 009 NIP. 19640921 198809 1 001

Kepala Sekolah
SDN Tirtawening

Ipit Yuanita MS, S.Pd


NIP. 19670628 198803 2 003

14
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN

SD NEGERI TIRTAWENING
Jl. Cicondong Kel Cibeuti Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya

DAFTAR CATATAN PELANGGARAN

Nama Siswa : Fauzan

HARI/ JENIS PEMBINAAN/


No. OLEH PARAF KETERANGAN
TANGGAL PELANGGARAN PENYELESAIAN
09 Pulang sebelum Diberikan pembinaan Pendidik Dibawa ke Tatib
September waktunya atau tenaga
2019 kependidikan D

Tasikmalaya, September 2019

Kepala Sekolah
SDN Tirtawening Guru Bimbingan dan Konseling

IPIT YUANITA MS, S.Pd ADE NURHAEDA, S.Pd


NIP. 19670628 198803 2 003 NIP. 19601020 200501 2 008

15
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI TIRTAWENING
JL. Cicondong Kelurahan Cibeuti Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya

CATATAN OBSERVASI SISWA

Nama Siswa : Fauzan


Kelas :VI

KEGIATAN YANG DILAKUKAN


HARI/
No. SISWA Ybs. KETERANGAN
TANGGAL
DI DALAM KELAS
1 09 Belajar kelompok/diskusi Baik
September
2019

Tasikmalaya, September 2019

Kepala Sekolah
SDN Tirtawening Guru Bimbingan dan Konseling

IPIT YUANITA MS, S.Pd ADE NURHAEDA, S.Pd


NIP. 19670628 198803 2 003 NIP. 19691020 200501 2 008

16
PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA
DINAS PENDIDIKAN
SD NEGERI TIRTAWENING
Jl. Cicondong Kelurahan Cibeuti Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya

ADMINISTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING

BULAN KET

rDesember
Septembe

Nopembe
JENIS KEGIATAN

Pebruari
Agustus

rOktober

Januari

Maret
April

Juni
Mei
Juli
1. Penyusunan Program
X X
a. Program semester
b. Jadwal kegiatan kehadiran staff
X X
Bimbingan dan Konseling (BK)
c. Pembagian tugas bimbingan kelas X X
d. Rincian tugas Staff Bimbingan dan
X X
Konseling (BK)
e. Penyusunan program kegiatan
administrasi Bimbingan dan Konseling X X
(BK)
f. Kunjungan Rumah (Home Visit) X X X X
g. Pembinaan Pribadi X X X X
h. Bimbingan Langsung X X X X X X
i. Penelusuran Bakat dan Minat X X X X

Tasikmalaya, September 2019

Kepala Sekolah
SDN Tirtawening Guru Bimbingan dan Konseling

IPIT YUANITA MS, S.Pd ADE BURHAEDA, S.Pd


NIP. 19670628 198803 2 003 NIP. 19691020 200501 2 008

17
Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling

Berdasarkan pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 29/90, “Bimbingan

merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan

pribadi, mengenal lingkungan, merencanakan masa depan.” (Depdikbud, 1994).

Selanjutnya Prayitno (1983) mendefinisikan bahwa:

Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada seorang (individu) atau

sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang

mandiri. Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh

pribadi mandiri, yaitu: (a) mengenal diri sendiri dan lingkungannya, (b) menerima diri

sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan, (d)

mengarahkan diri, dan (e) mewujudkan diri.

Dengan pengertian bimbingan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan

merupakan proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang secara

terus-menerus dan sistematis yang di lakukan oleh seorang guru pembimbing agar

individu atau seseorang menjadi pribadi yang mandiri dan positif. Menurut Winkel

(2004) “Pengertian program bimbingan dan konseling adalah suatu rangkaian kegiatan

bimbingan yang terencana dan terorganisasi dan terkoordinasi selama periode waktu

tertentu.” Berdasarkan pendapat Marsudi (2003) “program bimbingan dan konseling

adalah sederet kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan bimbingandan

konseling. Sederet kegiatan tersebut perlu di rencanakan sesuai dengan situasi dan

kondisi sekolah.” Sedangkan Berdasarkan kurikulum 2004 “Program bimbingan dan

konseling merupakan rencana kegiatan layanan dan kegiatan pendukung yang akan

dilaksanakan pada periode tertentu.” (Depdikbud, 2004:19). Menurut SK Mendikbud No.

025/0/1995 butir 1: Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa program

bimbingan dan konseling adalah suatu kegiatan pelayanan bantuan kepada peserta didik

atau siswa disekolah oleh guru BK atau konselor secara terencana, terorganisir dan

terkoordinasi yang dilaksanakan pada periode tertentu, secara teratur dan

berkesinambungan. Jenis-jenis program menurut satuan waktu yang ada pada bimbingan

dan konseling berjumlah empat (4) program, yaitu: program tahunan, program bulanan,

18
program mingguan dan program harian. Di bawah ini diuraukan keempat jenis program

tersebut. Program Tahunan merupakan program yang akan dilaksanakan selama satu

tahun ajaran pada tiap tingkatan kelas. Program ini mengumpulkan seluruh kegiatan

selama satu tahun, yang terbagi menjadi program semesteran yang kemudian dibagi lagi

menjadi laporan bulanan. Program Bulanan adalah program yang waktu pelaksanaannya

selama satu bulan dan kegiatannya menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Program

bulanan ini merupakan rincian dari program semesteran. Program mingguan adalah

kegiatan yang akan dilakukan selama satu minggu, yang juga merupakan rincian dari

program bulanan.Program harian adalah Program yang akan diberikan guru BK untuk

siswa atau kelas asuh, yang biasanya terinci pada satuan layanan (satlan) dan atau satuan

pendukung (satkung).

19
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Program Bimbingan dan Konseling sangat diperlukan sekali dalam dunia

pendidikan karena sebagai sumber/acuan untuk melakukan kegiatan bimbingan dan

konseling yang tertata dan tidak dilakukan seingat guru yang melaksanakannya.

Program Bimbingan dan Konseling dibuat agar dapat mencegah masalah-masalah

yang akan terjadi kepada siswa dan supaya siswa di berikan Bimbingan dan

Konseling sesuai dengan perkembangan usianya. Pada jenjang pendidikan dasar,

layanan bimbingan di sekolah dasar bertujuan untuk membantu siswa agar dapat

mencapai tugas – tugas perkembangan yang meliputi aspek pribadi sosial,

pendidikan dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan. Sehingga Bimbingan dan

Konseling ini dapat diterima secara efektif oleh siswa.

Masalah belajar timbul karena ada sesuatu hal yang melatarbelakanginya

dan banyak sekali faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah

belajar pada anak. Untuk mengatasi masalah-masalh yang ada, diperlukan program

Bimbingan dan Konseling.

B. Saran

Program Bimbingan konseling sangat penting sekali. Untuk itu pihak-pihak

yang terkait didalam dunia pendidikan harus saling mendukung terhadap adanya

program ini. Di sini, menurt saya dinas pendidikan alangkah baiknya memberikan

acuan program bimbingan konseling kepada setiap sekolah sebagai sumber untuk

menjalakan Bimbingan dan Konseling di sekolahnya masin-masing. Memang

seharusnya guru lah yang membuat program Bimbingan dan Konseling tetapi

nyatanya di lapangan guru sering mengabaikan tentang program bimbingan dan

Konseling ini. Ketika siswa mendapatkan masalah baru Bimbingan dan Konseling

berjalan, padahal Bimbingan dan Konseling ini di peruntukan bukan hanya pada

siswa yang mempunyai masalah, tetapi juga murid yang mempunyai kecerdasan

atau bahkan yang mempunyai bakat dan potensi yang menonjol.

20

Anda mungkin juga menyukai