Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KASUS BISNIS DITINJAU DARI

PERSPEKTIF TEORI ETIKA BISNIS


(Studi Kasus Etika Bisnis pada PT Megasari Makmur dan PT Gradasi Anak
Negeri)

Disusun oleh:

Zabrina Nau’fal Dhea Radeva

17.D2.0012

Universitas Katolik Soegijapranata


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Manajemen S1 – S2
A. PENDAHULUAN

Etika bisnis adalah hal yang selalu menjadi pusat perhatian dunia
usaha. Bahkan dewasa ini etika bisnis dipandang sebagai sesuatu yang
penting dan urgent untuk menentukan umur perusahaan dalam jangka
panjang. Kelangsungan hidup perusahaan akan terganggu apabila
perusahaan tersebut tidak concern dengan “etika bisnis”. Menurut Sumantri
dan Yuliza (2015), etika bisnis adalah tindakan yang baik dan terkontrol
dalam berbisnis. Bisnis yang beretika merupakan bisnis yang baik, dalam
artian bisnis tersebut tiak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan
pihak lain dan tidak curang. Selain itu, bisnis yang baik adalah bisnis yang
terikat dengan aturan yang memungkinkan setiap pelakunya (pihak
perusahaan dan konsumen) mendapatkan keuntungan bersama, bukan satu
untung dan yang lainnya merugi. Namun sayangnya etika bisnis di
Indonesia masih dianggap sebagai sesuatu yang baru, sehingga terkadang
masih sering ditemui perusahaan-perusahaan yang tidak mengindahkan
etika bisnis dalam mengelola usahanya.
A. DESKRIPSI KASUS

1) Kasus Bisnis PT Megasari Makmur


Sebagaimana yang dilansir dari laman Kompasiana (2019), diketahui
bahwa banyak sekali produk obat nyamuk. Salah satu produk obat
nyamuk yang populer di Indonesia adalah obat anti nyamuk merek HIT.
Obat anti nyamuk yang diproduksi oleh PT Megasari Makmur ini
terkenal sebagai produk yang memiliki harga terjangkau dan memiliki
khasiat yang lebih tahan lama dibanding dengan produk obat anti
nyamuk lain yang ada di pasaran. Sayangnya beberapa waktu lalu, obat
anti nyamuk HIT yang diproduksi sejak tahun 1996 mendadak ditarik
peredarannya dari pasaran. Hal ini disebabkan karena PT Megasari
Makmur dalam pengelolaan obat anti nyamuk HIT ternyata
menggunakan bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia yang apabila
dihirup secara terus menerus akan mengganggu saluran pernapasan,
merusak sel-sel tubuh, hingga berpotensi menyebabkan penyakit kanker.
Bahan tersebut adalah zat aktif Diklorvos dan Propoxur. Dari hasil
investigasi yang dilakukan, obat anti nyamuk HIT yanng dinyatakan
berbahaya adalah jenis HIT 2,1 A (semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang).

2) Kasus Bisnis PT Gradasi Anak Negeri


Contoh kasus bisnis lain yang pernah terjadi di Indonesia adalah
kasus penipuan bisnis oleh PT Gradasi Anak Negeri pada 2012 silam.
Untuk memperoleh mangsa atau korbannya, PT Gradasi Anak Negeri
memberikan iming-iming berupa keuntungan 10% setiap minggunya
selama satu tahun. Minimal dana yang harus ditransfer kepada PT
Gradasi Anak Negeri adalah sebesar Rp. 5.000.000,00. Dengan dana
tersebut, maka masyarakat dapat bergabung menjadi investor dan
mendapatkan keuntungan 10 % dari dana yang diinvestasikan setiap
minggunya. PT Gradasi Anak Negeri juga menjanjikan akan memberikan
bonus tambahan jika para investor mengajak orang lain untuk menjadi
investor di PT Gradasi Anak Negeri. Iming-iming inilah yang
menyebabkan banyak pihak tertipu dan menjadi korban (Kompasiana,
2019.
B. TEORI ETIKA YANG RELEVAN

Banyaknya perosalan serta munculnya berbagai kasus yang menimpa


dunia bisnis, membuat para ilmuan berusaha untuk merumuskan dan
mengembangkan berbagai teori etika bisnis. Bahkan kajian tentang teori
etika bisnis sudah menjadi bidang kajian tersendiri di kalngan para ilmuan.
Berkaitan dengan studi kasus yang dibahas pada poin sebelumnya, maka
teori etika yang relevan untuk mengkaji kasus etika bisnis tersebut adalah
teori deontologi. Istilah “deontologi” berasal dari kata Yunani “deon” yang
berarti kewajiban. Teori etika bisnis ini menekankan kewajiban manusia
untuk bertindak secara baik. Teori etika ini juga memandang bahwa
tindakan baik bukan dibenarkan atau dinilai dari akibat atau tujuan baik
tindakan itu, melainkan dinilai berdasarkan tindakan awal itu sendiri. Atau
dengan kata lain, tindakan itu kan bernilai moral karena tindakan itu
dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan
sebagaimana mestinya terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu
(Keraf, 1998).
Singkatnya, teori deontologi ini memiliki tiga prinsip yang harus
dipenuhi yaitu:
1) Supaya suatu tindakan punya nilai moral, tindakan itu harus
dijalankan berdasarkan kewajiban
2) Nilai moral dari tindakan itu tidak tergantung pada tercapainya
tujuan, melainkan tergantung pada kemauan baik yang
mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu. Berarti jika
tujuannya tidak tercapai, tindakan itu sudah di nilai baik.
3) Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip di atas, kewajiban adalah
hal yang niscya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap
hormat pada hukum moral universal.
C. ANALISIS

Dalam dunia bisnis, jika kewajiban dibebankan kepada pelaku bisnis,


maka yang bersangkutan layak untuk mengerjakan atau melaksanakan apa-
apa yang seharusnya mereka kerjakan, terutama jika mereka tidak ingin
mengecewakan pihak konsumen. Jika studi kasus PT Megasari Makmur dan
PT Gradasi Anak Negeri dikaitkan dengan teori etika bisnis, maka sudah
jelas bahwa kedua perusahaan tersebut telah menentang teori etika bisnis
deontologi.
Suatu tindakan bisnis akan dinilai baik oleh etika deontologi bukan
karena tindakan tersebut mendatangkan akibat baik bagi pelakunya
(keuntungan), melainkan karena tindakan itu sejalan dengan kewajiban si
pelaku bisnis untuk melakukan tindakan yang baik. Dalam hal ini, pelaku
bisnis PT Megasari Makmur dan PT Gradasi Anak Negeri tidak menjalankan
kewajiban sebagaimana mestinya yaitu PT megasari Makmur tidak
memberikan atau memasarkan produk obat anti nyamuk yang aman bagi
kesehatan manusia dan justru menggunakan bahan atau zat berbahaya pada
saat pengelolaannya. Dengan kata lain, PT Megasari Makmur tidak menjual
produk dengan mutu baik yang seharusnya diterima oleh konsumen sesuai
dengan harga yang telah ditetapkan. Sementara PT Gradasi Anak Negeri
bertentangan dengan teori etika deontologi karena pihak yang bersangkutan
tidak merealisasikan pemberian bunga 10 % bagi investor setiap minggunya
selama satu tahun sesuai dengan kesepakatan awal, bahkan pihak PT
Gradasi Anak Negeri tidak mengembalikan uang yang dibayarkan oleh para
investor.
Dari kedua kasus di atas maka dapat dilihat dari analisa teori etika
deontologi bahwa nilai tindakan pada dasarnya tidak ditentukan oleh akibat
atau tujuan baik dari tindakan tersebut, yaitu PT Megasari Makmur yang
bertujuan untuk memberikan solusi bagi konsumen dalam mengatasi
nyamuk dengan obat anti nyamuk, sementara PT Gradasi Anak Negeri
bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi para investor dari bunga
yang ditawarkan. Nilai tindakan bisnis dikatakan baik adalah dinilai dari
kewajiban si pelaku bisnis, jika pelaku bisnis tidak menjalankan kewajiban
yang seharunya ia lakukan berarti tindakan bisnisnya tidak beretika. Oleh
sebab itu, etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik dan
watak yang kuat dari pelaku untuk menjalankan bisnisnya secara baik.
Kemauan baik merupakan syarat mulak untuk bertindak secara moral.
D. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa


PT Megasari Makmur dan PT Gradasri Anak Negeri tidak menjalankan
bisnisnya sesuai dengan etika bisnis “deontologi”. Dalam hal ini, pelaku
bisnis PT Megasari Makmur dan PT Gradasi Anak Negeri tidak menjalankan
kewajiban sebagaimana mestinya yaitu PT Megasari Makmur tidak
memberikan atau memasarkan produk obat anti nyamuk yang aman bagi
kesehatan manusia sementara PT Gradasi Anak Negeri tidak merealisasikan
pemberian bunga 10 % bagi investor setiap minggunya selama satu tahun
sesuai dengan kesepakatan awal, bahkan pihak PT Gradasi Anak Negeri
tidak mengembalikan uang yang dibayarkan oleh para investor.
PT Megasari Makmur jika ingin memproduksi sebuah produk maka
sudah seharuslah produk tersebut aman dan tidak membahayakan bagi
penggunanya. Karena yang terpenting dari sebuah produk adalah
keamanan dan kesehatan bagi penggunanya dan bukan hanya karena harga
produk yang murah. Apa yang dilakukan PT Megasari Makmur bahkan
sudah melanggar etika bisnis dalam hal kejujuran. Perusahaan ini tidak jujur
dalam memproduksi sebuah produk yaitu menggunakan bahan yang
sebenarnya dilarang. Sementara PT Gradasi Anak Negeri seharusnya tidak
menjalankan bisnisnya hanya demi keuntungan semata, bukan malah
menipu investor dan kewajibannya untuk menepati janji-janji kepada
investor tidak ditepati.
E. DAFTAR REFERENSI

Keraf, Sonny. 1998. Etika Bisnis-Edisi Baru. Yogyakarta: Kanisius.


https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=5QzuFOFAxbUC&oi
=fnd&pg=PA13&dq=info:G_axvv3j4yAJ:scholar.google.com/&ots=dnE
mqks8Lj&sig=1pC2yipxBXO9Se2pDbbKgOfqSZQ&redir_esc=y#v=one
page&q&f=true

Kompasiana. 2019. Kasus Pelanggaran Etika Bisnis oleh PT Megasari Makmur.


Diakses pada 25 Juni 2019. Tersedia dari
https://www.kompasiana.com/gandiwijaya/5ca99a04a8bc150ad13ff78
3/kasus-pelanggaran-etika-bisnis-oleh-pt-megasari-makmur

Kompasiana. 2019. Penipuan Bisnis dan Investasi PT Gradasi Anak Negeri.


Diakses pada 25 Juni 2019. Tersedia dari
https://www.kompasiana.com/yosep29833/5ca5d97295760e54696ed6c
2/penipuan-bisnis-dan-investasi-pt-gradasi-anak-negeri

Sumantri, Rinol dan N. A. Yuliza. 2015. Teori-Teori Etika Perilaku Bisnis dan
Pandangan Islam tentang Perilaku Etika Bisnis. Economics Journal. 1 (1):
1-30.