Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA II

“ANALISIS PARASETAMOL DALAM CAIRAN HAYATI”

Disusun oleh:

Kelompok 4-A Farmasi 2016

Thufailah F. Prafdina 11161020000009

Nurul Hasna 11161020000010

Dinda Chairun Nisa 11161020000011

Intan Suri 11161020000013

Laili Nur Cholidah 11161020000014

Milatul Amalia 11161020000020

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

OKTOBER/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum
Biofarmasetika & Farmakokinetika II. Adapun laporan ini disusun untuk
memenuhi tugas setiap pasca Praktikum Biofarmasetika & Farmakokinetika
II.

Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada para dosen
pembimbing Praktikum Biofarmasetika & Farmakokinetika II, rekan-rekan
kelompok dan pihak lainnya yang turut berpartisipasi dalam terselesaikannya
Laporan Praktikum Biofarmasetika & Farmakokinetika II ini.

Kami telah berusaha sebaik mungkin dalam mengerjakan laporan ini,


namun mustahil apabila laporan yang kami buat tidak ada kekurangan
maupun kesalahan, maka dari itu kami berharap kritik dan saran dari para
pengoreksi juga pembaca yang bersifat membangun, sehingga kedepannya
kami dapat menjadi lebih baik lagi dalam penyusunan laporan praktikum..

Kami berharap dari penyusunan laporan ini dapat memberikan


manfaat bagi kami serta para pembaca.

Ciputat, Oktober 2019


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan metode
menggunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis, namun
lazimnya dipergunakan data darah atau data urin untuk menilai ketersediaan
hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui
cara dan validitasinya. Jika cara dan validitas belum diketahui,dapat
digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul
dapat diukursecara kuantitatif (Syukri, 2002).
Salah satu pendekatan secara langsung untuk menetapkan
farmakokinatika obat dalam tubuh adalah dengan mengukur konsentrasi
(kadar) obat dalam darah, serum, atau plasma. Secara kesuluruhan, darah
mengandung unsur-unsur seluler meliputi sel darah merah, sel darah putih,
platelet, dan berbagai protein, seperti albumin, dan globulin. Umumnya,
serum serta plasma adalah yang sering digunakan untuk mengukur kadar obat
dalam tubuh (Shargel & Yu, 2005)⁠.
Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil
pengukuran kadar obat utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati
(darah, urin, saliva atau cairan tubuhlainnya). Oleh karena itu agar nilai-nilai
parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus
memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali
(recovery), presisi dan akurasi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode
analisa adalahjika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali
yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari
10% (Pasha dkk, 1986).
B. Rumusan Masalah
1. Berapakah nilai persentasi recovery, kesalahan sistemik, serta kesalahan
acak dari analisis paracetamol dalam plasma darah dengan
Spektrofotometer UV-Vis?
2. Apakah spektrofotometer UV-Vis memiliki akurasi serta presisi yang baik
untuk mengukur kadar obat paracetamol dalam plasma darah?

C. Tujuan Praktikum
1. Untuk memahami langkah analisis obat dalam cairan hayati
2. Untuk menetapkan paremeter validasi dari metode yang digunakan untuk
menganalisis kadar obat dalam plasma darah.
BAB II
DASAR TEORI

Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang
bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah setelah
mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh. Ada korelasi yang baik antara
kadar obat dalam plasma dengan efek terapi.
Ketersediaan hayati digunakan untuk memberi gambaran mengenai keadaan
dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva
kadar-waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologi atau larutan
seperti darah dan urine. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan:
1. Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan.
2. Kecepatan obat diabsorbsi.
3. Masa kerja obat berada di dalam cairan biologik atau jaringan, bila dihubungkan
dengan respon pasien.
4. Hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efektivitas terapi/efek toksik.
Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat
seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik.
Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang
lain selain bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui
mulut (Anief, 1995).
Pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam serum dapat menjelaskan
mengapa seorang penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat, atau
mengapa penderita mengalami suatu efek yang tidak diinginkan. Sebagai tambahan,
praktisi mungkin ingin menjelaskan ketelitian dari aturan dosis.
Konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan
farmakokinetika suatu individu maupun populasi. Konsentrasi obat diukur
dalam sampel biologis seperti air susu, saliva, plasma dan urin. Sensitivitas,
akurasi, dan presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran secara
langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu, metode penetapan kadar secara
umum perlu divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk
monitoring farmakokinetik dan klinik.
Pengukuran konsentrasi obat di darah, serum, atau plasma adalah
pendekatan secara langsung yang paling baik untuk menilai farmakokinetik obat di
tubuh. Darah mengandung elemen seluler mencakup sel darah merah, sel darah putih,
keping darah, dan protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya serum atau
plasma digunakan untuk pengukuran obat. Untuk mendapatkan serum, darah
dibekukan dan serum diambil dari supernatan setelah disentrifugasi. Plasma
diperoleh dari supernatan darah yang disentrifugasi dengan ditambahkan
antikoagulan seperti heparin. Oleh karena itu, serum dan plasma tidak sama.
Plasma mengalir keseluruh jaringan tubuh termasuk semua elemen seluler dari
darah. Dengan berasumsi bahwa obat di plasma dalam kesetimbangan equilibrium
dengan jaringan, perubahan konsentrasi obat akan merefleksikan perubahan
konsentrasi obat di jaringan (Shargel, 1988). Adapun kandungan protein dalam
sampel biologis yang akan dianalisa menyebabkan dibutuhkannya suatu tahap
perlakuan awal dan/atau penyiapan sampel sebelum penentuan kadar obat dapat
dilakukan. Hal ini untuk mengisolasi atau memisahkan obat yang akan diteliti
dari matriks sampel yang diperoleh. Protein, lemak, garam dan senyawa endogen
dalam sampel akan mengganggu penentuan kadar obat yang bersangkutan dan
selain itu dalam hal analisa menggunakan metode seperti HPLC, adanya zat-zat
tersebut dapat merusak kolom HPLC sehingga usia kolom menjadi lebih singkat.
Hasil analisis dalam farmakokinetika dinyatakan dalam parameter
farmakokinetika. Parameter farmakokinetika didefinisikan sebagai besaran yang
diturunkan secara matematis dari hasil pengukuran kadar obat atau metabolitnya
di dalam cairan hayati. Parameter farmakokinetika obat diperoleh berdasarkan
hasil pengukuran kadar obat utuh dan metabolitnya. Terdapat tiga jenis parameter
farmakokinetik, yaitu:
1. Parameter pokok
o Tetapan kecepatan absorbsi (Ka)
Menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitu masuknya obat ke dalam
sirkulasi sistemik dari tempat absorbsinya (saluran cerna pada pemberian
oral, jaringan otot pada pemberian intramuskular).
o Cl (Klirens)
Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa
mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Umumnya, jaringan tubuh atau
organ dianggap sebagai suatu kompartemen cairan dengan volume terbatas
(volume distribusi) dimana obat terlarut di dalamnya (Shargel, 1988).
Klirens merupakan fartor yang memprediksi laju eliminasi yang
berhubungan dengan konsentrasi obat.
o Volume distribusi (Vd)
Volume distribusi adalah volume yang didapatkan pada saat obat
didistribusikan. Menghubungkan jumah obat dalam tubuh dengan
konsentrasi obat (C) dalam darah atau plasma.

2. Parameter Sekunder
o Waktu paruh eliminasi (t1/2)
Merupakan waktu yang dibutuhkan untuk mengubah jumlah obat di
dalam tubuh menjadi setengah atau separuh selama eliminasi (atau selama
infus yang konstan) (Katzung, 1997).

o Tetapan kecepatan eliminasi (Kel)


Kecepatan eliminasi adalah fraksi obat yang ada pada suatu waktu
yang akan tereliminasi dalam satu satuan waktu. Tetapan kecepatan
eliminasi menunjukkan laju penurunan kadar obat setelah proses kinetik
mencapai keseimbangan (Neal, 2006).

3. Parameter Turunan
o Waktu mencapai kadar puncak (tmaks)
Waktu konsentrasi plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan
waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi obat maksimum setelah
emberian obat. Pada fase ini, absorpsi ibat adalah terbesar dan laju absorpsi
obat sama dengan laju eliminasi obat. Absorpsi masih berjalan setelah fase
ini tercapai, tetapi pada laju yang lebih lambat. Harga tmaks menjadi lebih
kecil (berarti sedikit waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi
plasma puncak) bila laju absorbs obat menjadi lebih cepat.

o Kadar puncak (Cpmaks)


Parameter ini menunjukkan konsentrasi obat maksimum dalam
plasma setelah pemberian secara oral. Untuk beberapa obat diperoleh
suatu hubungan antara efek farmakologi suatu obat dan konsentrasi obat
dalam plasma (Shargel, 1988).

o Luas daerah di bawah kurva (AUC)


AUC adalah permukaan di bawah kurva yang menggambarkan naik
turunnya kadar plasma sebagai fungsi dari waku. AUC dapat dihitung
secara matematis dan merupakan ukuran untuk bioavaibilitas suatu obat.
AUC dapat digunakan untuk membandingkan kadar masing-masing plasma
obat bila penentuan kecepatan eliminasinya tidak mengalami perubahan.
Selain itu, antara kadar plasma puncak dan bioavaibilitas terdapat hubungan
langsung (Waldon, 2008).

Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh
melibatkan darah sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ lain seperti
absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Oleh karena itu, agar nilai-nilai
parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi kriteria,
yaitu:

1. Selektif atau spesifik


Selektifitas metode adalah kemampuan suatu metode untuk
membedakan suatu obat dari metabolitnya, obat lain, dan kandungan endogen
cuplikan hayati. Selektifitas metode menempati prioritas utama karena bentuk
obat yang akan ditetapkan dalam cuplikan hayati adalah dalam bentuk tak
berubah atau metabolitnya. Rumus matematik yang diturunkan berdasarkan data
pengukuran kadar obat tak berubah dalam cuplikan hayati tertentu, berbeda
dengan yang diturunkan dari data kadar metabolitnya (Smith, 1981).
2. Sensitif atau peka
Sensitivitas metode analisis yang digunakan berkaitan dengan kadar
terendah yang dapat diukur oleh metode analisis yang digunakan. Dalam
penelitian farmakokinetika, pemilihan metode analisis juga tergantung pada
tingkat sensitivitas yang dimiliki oleh metode tersebut. Hal ini dapat dipahami
mengingat dalam menghitung parameter farmakokinetika suatu obat, diperlukan
sederetan data kadar obat dari waktu ke waktu, atau data dari kadar tertinggi
sampai kadar terendah dalam cuplikan hayati yang digunakan. Misalnya
kita akan menghitung harga AUC, maka kita memerlukan data kadar obat
dari waktu nol sampai tak terhingga. Karena itu, metode analisis yang dipilih
harus dapat meliput kadar obat tertinggi sampai terendah yang ada di dalam
badan.
3. Ketelitian (accuracy) dan ketepatan ( precision)
Ketelitian (accuracy) ditunjukan oleh kemampuan suatu metode untuk
memberikan hasil pengukuran sedekat mungkin dengan true value (nilai
sesungguhnya). Ketelitian suatu metode dapat dilihat dari perbedaan antara
harga penetapan kadar rata-rata dengan harga sebenarnya atau konsentrasi yang
diketahui. Jika tidak ada data nilai sebenarnya atau nilai yang dianggap benar
tersebut maka tidak mungkin untuk menentukan berapa akurasi
pengukuran tersebut.
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖 (𝑃%) = × 100%
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑡𝑎ℎ𝑢𝑖

𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘 = 100% − 𝑃%


Metode yang baik memberikan hasil recovery (perolehan kembali) yang
tinggi yaitu 75-90% atau lebih dan kesalahan sistematik kurang dari 10%.
Perolehan kembali merupakan tolok ukur efisiensi analisis, sedangkan kesalahan
sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini
dapat berupa kesalahan konstan atau proporsional. Ketelitian berkaian dengan
purata. Bila suatu hasil itu teliti (accurate) berarti purata sama dengan harga
sebenarnya, walaupun penyebarannya lebar (luas). Dalam hubungan ini, adalah
lebih baik hasil yang kurang teliti tapi tepat daripada teliti namun kurang tepat.
Ketepatan menggambarkan hasil yang berulang-ulang tidak mengalami
perbedaan hasil (reprodusibilitas data). Dengan kata lain, ketepatan menunjukkan
kedekatan hasil- hasil pengukuran berulang. Ketepatan pengukuran
hendaknya diperoleh melalui pengukuran ulang (replikasi) dari berbagai
konsentrasi obat dan melalui pengukuran ulang kurva konsentrasi standar yang
disiapkan secara terpisah pada hari yang sama. Ketepatan berhubungan dengan
penyebaran harga terhadapa purata kecil meskipun karena kesalahan
sistematik, purata berbeda agak besar dengan harga sebenarmya. Kemudian
dilakukan perhitungan statistic yang sesuai dengan penyebaran data, seperti
standar deviasi atau koefisien variasi.

𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑢
𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑐𝑎𝑘 (𝐶𝑉) = × 100 %
𝑝𝑢𝑟𝑎𝑡𝑎

Kesalahan acak merupakan tolok ukur inprecision suatu analisis, dan


dapat bersifat positif atau negatif. Kesalahan acak identik dengan variabilitas
pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Metode yang baik memiliki
nilai kesalahan kurang dari dari 10%.

4. Cepat
Kecepatan berkaitan dengan banyaknya cuplikan hayati yang harus
dianalisis dalam suatu macam penelitian farmakokinetika
5. Efisien
Metode tidak terlalu panjang karena dikhawatirkan akan menimbulkan
suatu kesalahan sistematik. Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan
tubuh), metode yang digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya
diperlukan suatu ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat,
sehingga nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini,
kesalahan hasil tidak boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang
digunakan dalam analisis) (Ritschel, 1976).
Salah satu metode pengukuran kadar obat dalam analisis cairan hayati
adalah metode Bratton-Marshall. Metode ini didasarkan pada prinsip
kolorimetri, yaitu terbentuknya senyawa-senyawa berwarna yang intensitasnya
dapat ditentukan secara spektrofotometri visibel dengan 3 tahap, yaitu
pembentukan senyawa diazo, penghilangan sisa asam nitrit dengan
penambahan asam sulfamat, dan pengkoplingan garam diazonium-NED.

Parasetamol
Parasetamol atau asetaminofen merupakan senyawa turunan para-aminofenol
yang memiliki rumus bangun seperti di bawah ini:

Parasetamol berupa serbuk hablur atau serbuk putih yang tidak berbau dengan
rasa agak pahit. Kelarutan parasetamol yakni larut dalam air mendidih dan dalam
NaOH 1 N, serta mudah larut dalam etanol. Parasetamol merupakan obat asam lemah
dengan pKa 9,5 (Katzung, 1997).

Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang


sama dan digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretiknya ditimbulkan oleh gugus
aminobenzene. Efek analgesik parasetamol serupa dengan asam salisilat, yaitu
menghilangkan nyeri ringan sampai sedang dengan mekanisme yang diduga
berdasarkan efek sentralnya.

Parasetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin yang lemah.


Dalam plasma, 25% parasetamol terikat pada protein plasma. Sebagai analgesik,
parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama karena kemungkinan
menimbulkan nefropati analgesik (Wilmana, 1995).
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 ALAT DAN BAHAN

A. Alat
 Tube sentrifuge
 Mikropipet
 Tabung reaksi
 Vortex
 Sentrifuge
B. Bahan
 Darah
 Aquadest
 TCA
 Paracetamol

PROSEDUR KERJA

A. Pembuatan Plasma Bebas Protein


1. Diambil 80 ml darah, ditambah 80 ml TCA dicamburkan kedalam
beaker glass ke dalam beberapa tube sentrifuge
2. Darah diambil sebanyak 80 ml
3. Darah dituang ke dalam beaker glass ditambahkan sejumlah TCA
sesuai dengan jumlah volume darah yang diambil
4. Darah yang sudah dicampurkan dengan TCA diambil sebanyak 1,5 ml
ke dalam tube sentrifuge
5. Tube sentrifuge yang berisi campuran darah dan TCA disentrifugasi
selama 7 menit dengan kecepatan 15000 rpm
6. Supernatan yang terbentuk lalu diambil dan dimasukkan ke dalam
beaker glass kecil ukuran 100 ml
7. Terbentuklah plasma bebas protein

B. Prosedur Penetapan Kadar (Bratton-Marshall)


Sediakan larutan Paracetamol dalam aquadest dengan konsentrasi 1000 ppm
1. Dibuat satu seri larutan Paracetamol dalam plasma bebas protein (1
ml) dengan kadar: 10, 20, 30, 40, dan 50 μg/ml
2. Tiap-tiap kadar diambil larutan paracetamol masing-masing berturut-
turut 0,05; 0,1; 0,15; 0,2; 0,25 ml dan di ad sampai 1 ml dengan
plasma dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi 3 ml
air
3. Tambahkan larutan TCA (1 ml; 20%), diamkan 10 menit, dan
sentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm
C. Menetapkan Panjang Gelombang Larutan Paracetamol dengan Serapan
Maksimum (λ max)
Intensitas warna larutan obat diukur serapannya pada panjang gelombang 243
nm
D. Membuat Kurva Kalibrasi Paracetamol
1. Diukur serapan semua larutan Paracetamol pada λ max dan dibuat
kurva antara serapan lawan kadar masing-masing
2. Dibuat persamaan garis menggunakan persamaan kuadrat terkecil Y=
ax + b dan dihitung nilai r dari plot tersebut

E. Menentukan Perolehan Kembali, Kesalahan Acak dan Kesalahan Sistemik


1. Disediakan larutan paracetamol dalam darah 50 ppm dan 100 ppm;
tiap kadar dibuat 2 replikasi
2. Untuk 50 ppm diambil 0,1 ml larutan paracetamol (larutan induk 1000
ppm) + 1,9 ml darah + 1 ml TCA dan untuk 100 ppm diambil 0,2 ml
paracetamol (larutan induk 1000 ppm) + 1,8 ml darah + 1 ml TCA
3. Berdasarkan persamaan garis, ditentukan kadar masing-masing dan
dihitung kadar rata-rata simpangan baku
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum

1. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Konsentrasi (ppm) Absorbansi

10 0,629

20 0,597

30 1,230

40 1,198

50 1,440

R1 = 0.9199

R2 = 0.8462

Kurva Kalibrasi Paracetamol


1.6
1.4
1.2
Absorbansi

1
0.8
y = 0.0222x + 0.3519
0.6 R² = 0.8462
0.4
0.2
0
0 10 20 30 40 50 60
Konsentrasi (ppm)
2. Perhitungan Perolehan Kembali (% recovery)

Konsentrasi Absorbansi Konsentrasi yang % Recovery


Sampel yang terukur
dibuat (ppm)

50 ppm 0,957 27,649 55,298

0,97 28,125 56,25

0,894 25,237 25,237

100 ppm 0,894 25,237 25,237

Perhitungan

1. Persen Perolehan Kembali untuk Konsentrasi 50 ppm

27,649
% Recovery = × 100%
50

= 55,298

28,125
% Recovery = × 100%
50

= 58.246

2. Persen Perolehan Kembali untuk Konsentrasi 100 ppm

25,273
% Recovery = × 100%
100

= 25,273

25,273
% Recovery = × 100%
100
= 25,273

3. Perhitungan Kesalahan Sistematik

Konsentrasi Sampel yang % Recovery 100 - % recovery


dibuat (ppm)

50 ppm 55,298 44,702

56,25 43,75

25,237 74,763

100 ppm 25,237 74,763

4. Perhitungan Kesalahan Acak

Simpangan Baku
Kesalahan acak = Harga Rata−Rata × 100%

Konsentrasi Konsentrasi Rata – Rata (X-Ci) (X-Ci)² Kesalahan Acak


Sampel yang Konsentrasi
yang dibuat terukur (𝑋 − 𝑐𝑖)2
√ 𝑥 100%
𝑋
(ppm)
(Ci)
(X)
(Ct)

50 ppm 27,649 38,8245 11,1755 124,891 28,784

28,125 39,0625 10,9375 119,628 28

25,237 62,6185 37.3815 1.397,376 0.223

100 ppm 25,237 62,6185 37.3815 1.397,376 0,223


5. Panjang Gelombang Serapan Paracetamol pada λ maks yaitu :

262,4 nm

B. Pembahasan

Praktikum ini bertujuan untuk memahami langkah-langkah analisis obat


dalam cairan hayati. Cairan hayati yang digunakan adalah darah. Darah yang
digunakan adalah darah utuh (Whole Blood) yang didapatkan dari Palang Merah
Indonesia (PMI) sedangkan obat yang digunakan adalah paracetamol serta
menggunakan metode Bratton-Marshall. Untuk menguji ketepatan dan ketelitian
metode yang digunakan, ditetapkan beberapa parameter statistika yaitu recovery
dan kesalahan sistematik sebagai parameter ketelitian, serta standar deviasi dan
kesalahan acak sebagai parameter ketepatan.
Cairan hayati yang digunakan sebagai media obat adalah darah. Digunakan
darah karena darah merupakan tempat yang paling cepat dicapai dalam proses
absorpsi dan distribusi baik ke jaringan target maupun ke organ eliminasi,
sehingga kadar obat di dalam sirkulasi sistemik ini paling mencerminkan kadar
obat sebenarnya di dalam badan. Selain itu, bentuk obat pada umumnya tidak
berubah, merupakan senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi. Karena itu,
penetapan kadar obat pada cuplikan darah akan memberikan suatu indikasi
langsung berapa kadarnya yang mencapai sirkulasi.
Untuk menganalisis obat dalam darah, bagian darah yang akan digunakan
ialah plasma sehingga harus dilakukan pemisahan agar mendapatkan plasma yang
terbebas dari komponen darah lainnya. Bagian darah yang digunakan plasma
karena sampel obat yaitu paracetamol berikatan dengan protein plasma bukan
serum di dalam darah.
Pembuatan plasma bebas protein dibuat dengan cara mengambil sampel
darah kemudian ditambahkan dengan TCA. Tujuan dari penambahan TCA ini
adalah untuk mendenaturasi protein dalam darah tanpa memecah protein menjadi
asam amino penyusunnya. Dengan pemberian TCA, maka protein akan
mengendap dan memisah dengan plasma darah. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi
selama 7 menit dengan kecepatan 5000rpm. Proses sentrifugasi ini akan
memisahkan bagian padat (protein) dengan plasma darah yang berupa cairan.
Plasma darah akan tampak sebagai supernatant bening dibagian atas tabung.
Cairan bening yang diambil harus tanpa endapan. Hal ini bertujuan untuk
mengambil obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada
protein plasma tidak akan aktif secara farmakologis sehingga tidak memiliki efek
teraputik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil pengamatan
tidak valid (Anggaraeni, 2010).
Darah dibentuk dari dua komponen yaitu komponen selular dan komponen
non-selular. Komponen selular sering disebut juga korpuskuli, yang membentuk
sekitar 45% yang terdiri dari tiga jenis sel yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit.
Komponen non-selular berupa cairan yang disebut plasma dan membentuk sekitar
55% bagian dari darah. Plasma darah terdiri dari air, protein, karbohidrat, lipid,
asam amino, vitamin, mineral dan lain sebagainya. Komponen tersebut ikut
mengalir dalam sirkulasi bersama darah, baik bebas atau diperantarai molekul lain
agar dapat terlarut di dalam plasma (Nugraha, 2015).
Serum adalah bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah dan
faktor-faktor pembekuan darah. Protein-protein koagulasi lainnya dan protein yang
tidak terkait dengan hemostasis, tetap berada dalam serum dengan kadar serupa
dalam plasma. Apabila proses koagulasi berlangsung secara abnormal, serum
mungkin mengandung sisa fibrinogen dan produk pemecahan fibrinogen atau
protrombin yang belum di konevensi (Sacher, 2012).
Serum diperoleh dari spesimen darah yang tidak ditambahkan antikoagulan
dengan cara memisahkan darah menjadi 2 bagian dengan menggunakan sentrifuge,
setelah darah didiamkan hingga membeku kurang lebih 15 menit (Nugraha, 2015).
Setelah disentrifugasi akan tampak gumpalan darah yang bentuknya tidak
beraturan dan bila penggumpalan berlangsung sempurna, gumpalan darah tersebut
akan terlepas atau dengan mudah dapat dilepaskan dari dinding tabung. Selain itu
akan tampak pula bagian cair dari darah. Bagian ini, karena sudah terpisah dari
gumpalan darah maka tidak lagi berwarna merah keruh akan tetapi berwarna
kuning jernih. Gumpalan darah tersebut terdiri atas seluruh unsur figuratif darah
yang telah mengalami proses penggumpalan atau koagulasi spontan, sehingga
terpisah dari unsur larutan yang berwarna kuning jernih (Sadikin, 2014)
Plasma adalah bagian cair dari darah yang tidak mengandung sel-sel darah
tetapi masih mengandung faktor-faktor pembekuan darah. Plasma diperoleh
dengan cara memisahkan sel-sel darah dari darah (whole blood) dengan cara
sentrifugasi. Plasma yang terbentuk memiliki komposisi faktor pembekuan yang
berbeda sesuai dengan jenis antikoagulan yang ditambahkan (Nugraha, 2015).
Terdapat perbedaan yang jelas antara serum dan plasma. Plasma mencegah
proses penggumpalan darah sedangkan serum membiarkan terjadinya proses
penggumpalan darah. Plasma mengandung senyawa fibrinogen yaitu suatu protein
darah yang berubah menjadi jaring dari serat-serat fibrin pada peristiwa
penggumpalan, dimana senyawa tersebut sudah tidak ada lagi dalam serum. Di
dalam plasma fibrinogen tidak dapat berubah menjadi fibrin karena adanya
antikoagulan yang ditambahkan. Dalam pembuatan serum, sel-sel darah
menggumpal secara baur dan terjebak dalam suatu anyaman yang luas dan
kontraktif dari jaringan serat-serat fibrin. Sel-sel ini tidak dapat lagi terlihat secara
terpisah-pisah melaui mikroskop. Sebaliknya, dalam pembuatan plasma, sel-sel
darah terendapkan dengan jelas di dasar tabung, seperti pengendapan suspensi
partikel lain. Bahkan dengan jelas sekali pengendapan sel-sel darah pada
pembuatan plasma tersebut menghasilkan pemisahan sel berdasarkan massa jenis
menjadi 2 bagian. Sel-sel darah terpisah menjadi lapisan sel darah merah yang
merupakan lapisan yang tebal yang dapat mencapai hampir separuh volume darah.
Selain itu ada pula lapisan yang tipis dan putih di atas lapisan sel darah merah
yang terdiri atas sel-sel leukosit dan sejumlah trombosit (Sadikin, 2014).
Perbedaan mendasar antara serum dan plasma dikeahui bahwa sel-sel yang
terpisah dalam proses pembuatan plasma atau serum berada dalam keadaan yang
berbeda. Plasma memisahkan sel darah dalam bentuk endapan sel utuh, yang dapat
disuspensikan kembali dan digunakan untuk berbagai tujuan. Sebaliknya, sel-sel
yang terjebak dalam anyaman serat-serat fibrin ketika serat-serat ini membentuk
ikatan lintas serat dalam rangka menyusun anyaman fibrin. Sel-sel darah yang
menggumpal dalam pembentukan serum tidak dapat dipergunakan lagi untuk
berbagai tujuan (Sadikin, 2014).

Perbedaan Plasma Serum


Antikoagulan Perlu tidak perlu
Fibrinogen masih ada tidak ada
Pemisahan sel pemusingan penggumpalan
(sentrifugasi) spontan
Komposisi air, albumin, air, albumin, globulin,
globulin, asam asam amino,
amino, hormone, hormone, enzim,
enzim, limbah limbah nitrogen,
nitrogen, nutrisi, gas nutrisi dan gas
dan fibrinogen
(Sadikin.2014)

Setelah didapat plasma yang masih berprotein kemudian dibuat seri


konsentrasi Paracetamol dalam plasma berprotein. Dibuat 5 seri konsentrasi
paracetamol yaitu 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Kemudian
diukur serapannya menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang yang
telah ditentukan saat membuat kurva kalibrasi. Didapat panjang gelombang
maksimum = 262,4 nm Secara teoritis parasetamol dalam larutan asam memiliki
panjang gelombang serapan optimum sebesar 245 nm (Wade et al, 1989).
Dari data yang didapat kemudian dihitung nilai perolehan kembali, nilai
kesalahan sistematik dan nilai kesalahan acak.
Nilai perolehan kembali menunjukkan efisiensi dari analisis yang
dilakukan. Semakin tinggi nilai perolehan kembali maka semakin tinggi akurasi
dan efisiensi analisis. Nilai perolehan kembali yang baik berada dalam rentang
75% - 90% (shargel,2005). Nilai % perolehan kembali didapat dengan cara
memasukkan nilai kadar yang terukur dibagi dengan nilai kadar yang diketahui
lalu dikalikan 100%. Nilai kadar yang diketahui diperoleh dari hasil perhitungan
dengan pengenceran yang dibuat dari larutan induk 1000 ppm menjadi 100 ppm
dan 50 ppm. Sedangkan nilai kadar yang terukur diperoleh dengan memasukkan
nilai absorbansi dari seri konsentrasi yang ada ke dalam persamaan yang diperoleh
dari kurva kalibrasi. Dengan memasukkan nilai absorbansi dari masing-masing seri
konsentrasi diperoleh nilai x yang dinyatakan sebagai nilai kadar terukur pada
persamaan % perolehan kembali. Nilai %perolehan kembali yang didapat pada
konsentrasi 50 ppm adalah 55,298% dan 56,25%. Sedangkan pada konsentrasi 100
ppm %perolehan kembali yang didapat adalah 25,237%. Nilai recovery yang
<75% menunjukkan bahwa nilai akurasi dan efisiensi analisisnya rendah. Hal ini
mungkin dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu adanya senyawa endogen atau
metabolit yang ikut terukur, ketidaktelitian praktikan dalam penambahan analit
atau larutan pereaksi, kesalahan praktikan dalam penetapan blanko saat pembacaan
absorbansi.
Untuk menghindari kesalahan dalam parameter dalam nilai recovery dapat
dilakukan:
1. Sentrifugasi yang dilakukan harus mampu mengendapkan protein plasma dan
tidak menyebabkan hemolisis untuk sampel darah.
2. Saat pengambilan supernatant hasil sentrifugasi jangan sampai endapan ikut
terambil. Pengukuran sampel ataupun larutan harus tepat.
Selain menghitung nilai %recovery, dihitung pula nilai kesalahan
sistematik dan kesalahan acak. Nilai kesalahan sistematik menunjukkan ketelitian
atau akurasi metode yang digunakan. Nilai kesalahan sistematik seharusnya < 10%
agar hasil dapat dikatakan teliti atau akurat. Kesalahan ini bersifat konstan dan
mengakibatkan penyimpangan tertentu dari rata-rata. Nilai kesalahan sistematik
pada konsentrasi 50 ppm ialah 44.702% dan 43.75% sehingga didapatkan rata-rata
44.226%. Sedangkan pada 100ppm, nilai kesalahan sistematik ialah 74.763% dan
74.763% dengan rata-rata 74.763%.

Dari hasil perhitungan, nilai kesalahan sistematik tidak ada yang < 10%, sehingga
dapat dikatakan hasil percobaan tidak teliti atau tidak akurat. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi kesalahan sistemik antara lain:

 Kesalahan personel dan operasi. Dalam percobaan ini kemunkinan kesalahan


pada ketidaktelitian praktikan dalam pengukuran volume sampel maupun
reagen. Dapat diminimalisir dengan peningkatan ketrampilan analisis. Makin
terampil maka semakin kecil kesalahan personel.
 Kesalahan alat dan pereaksi, dapat disebabkan oleh pereaksi yang kurang valid
atau telah terkontaminasi atau pemakaian alat yang kurang tepat walaupun
alatnya baik.
 Kesalahan penggunaan blanko. Pada pengukuran dengan menggunakan
spektrofotometri UV-Vis digunakan air sebagai blanko. Namun sampel
berisikan air, TCA, darah dan larutan obat. Seharusnya blanko menggunakan
larutan yang serupa dengan larutan pada sampel.

Kesalahan acak merupakan tolak ukur inprecision suatu analisis, dan dapat
bersifat positif atau negative. Kesalahan acak identic dengan variabilitas
pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Kesalahan acak menunjukkan
presisi atau ketepatan suatu analisis. Kesalahan acak pada percobaan seharusnya
<10% agar dapat dikatakan presisi atau akurat (shargel, 2005).
Nilai kesalahan acak yang kami peroleh adalah

11,175
50 ppm
10,937
37,376
100 ppm
37,376
Hasil percobaan diatas didapatkan nilai kesalahan acak >10% pada semua
kadar. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan pada semua kadar
tidak presisi dan tidak memenuhi syarat. Kesalahan ini umumnya disebabkan
masalah pengukuran berulang dan alat yang digunakan kurang sensitive. Selain itu
pada pengukuran terjadi kesalahan dalam penetapan blanko spektrofotometri
sehingga mempengaruhi nilai pembacaan absorbansi.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari praktikukm yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa panjang


gelombang maksimum 262,4 nm. Nilai perolehan kembali menunjukkan efisiensi
dari analisis yang dilakukan. Nilai %perolehan kembali yang didapat pada
konsentrasi 50 ppm adalah 55,298% dan 56,25%. Sedangkan pada konsentrasi 100
ppm %perolehan kembali yang didapat adalah 25,237%. Nilai recovery yang
<75% menunjukkan bahwa nilai akurasi dan efisiensi analisisnya rendah. Nilai
perolehan kembali yang baik berada dalam rentang 75% - 90%.
Kesalahan acak menunjukkan presisi atau ketepatan suatu analisis.
Kesalahan acak pada percobaan seharusnya <10% agar dapat dikatakan presisi
atau akurat). Hasil percobaan didapatkan nilai kesalahan acak >10% pada semua
kadar. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan pada semua kadar
tidak presisi dan tidak memenuhi syarat.

B. Saran

Pada saat melakukan penambahan analit atau larutan pereaksi sebaiknya


praktikan harus lebih teliti dan pada pengukuran dalam penetapan blanko karena
mempengaruhi nilai pembacaan absorbansi.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, I. I., 2010, Penetapan kadar Medroksiprogesteron Asetat Dalam Plasma


Secara In vitro Dengan KCKT, ”Skripsi”, Universitas Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta.

Anief, Moh. 1995. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. UGM. Yogyakarta

Katzung, Betram. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: ECG.

Neal, M.J. 2006. At a Glance Medical Pharmacology Edisi V. Jakarta:


Erlangga.

Nugraha, Gilang (2015) Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar.


Jakarta: CV Trans Info Medika.
Ritschel, W. A. (1976) Hand Book of Basic Pharmacokinetics, Drugs Inteligence.
Edited by Illionis. Inc. Hamilton.
Pasha, L.A., Wright, D.S., dan Reinlods, D.L., 1986, Bioanalytic Consideration for
Pharmacokinetik and Biopharmaceutic Studies, J. Clin, Pharmacol.
Sacher, A Ronald (2012) Tinjauan Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC.
Saryono, SKP., Mkes. (2009).
Sadikin, H.M. 2001. Biokimia Dasar Jakarta: Widya Medika
Shargel, Leon. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.

Smith, R & Steavary. 1981. Text Book of Biopharmaceutics Analysis A


Description of Methods for The Determination of Drug in Biological
Fluid . Philadelphia: Les & Febiger.

Syukri Y., 2002, Biofarmasetika, UII Press, Yogyakarta.


Waldon, D.J. 2008. Pharmacokinetics and Drug Metabolism. Cambridge:
Amgen, Inc., One Kendall Square.
Wilmana, P. F., 1995, Analgesik – Antipiretik Analgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid
dan Obat Pirai, dalam: Farmakologi dan Terapi, Sulistia G. Ganiswarna. Gaya
Baru, Jakarta,
LAMPIRAN

Pengambilan darah untuk pembuatan Pengenceran larutan paracetamol


sampel UPK,KA,KS
Darah di pindahkan ke tube untuk di Sampel darah yang telah dicampur
sentrifugasi paracetamol dan TCA

Proses sentrifugasi Sampel yang telah di sentrifugasi


Hasil spektro

Anda mungkin juga menyukai