Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HASIL DISKUSI PEMICU 3 BLOK 9

“MINUM OBAT TAPI TIDAK SEMBUH JUGA”

OLEH:

KELOMPOK 10

PENYUSUN:

dr. Datten Bangun, M.SC., Sp. FK.

Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., MKes.

Minasari, drg., MM.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018
TIM PENYUSUN
Ketua : Saswendra Felmi (170600086)

Sekretaris : Livita (170600081)

Anggota : Shabrina Prisnanda (170600082)

Mella Ratnasari Sinaga (170600083)

Cindy Loreta (170600084)

Joswin (170600085)

Faiza Albi (170600087)

Adzimatinur Pratiwi (170600089)

Patrick Christofer (170600090)

Ariny Putri Armelia (170600191)

Finna (170600192)

Dwita Apriza (170600193)

Siska Tri Amenda Br Ginting (170600195)

Femy Nawia (170600196)

Wellman Pratama Malau (170600197)

Gabriel Jonathan Panggabean (170600198)

Aliftia Nur Salsabila (170600199)

Bryan Julio Hasim (170600200)

i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah
ini merupakan laporan hasil diskusi kelompok yang berjudul “Gigi Terpendam”.
Laporan ini tidak akan selesai tanpa bimbingan dari dosen pembimbing dan begitu
pula fasilitator yang telah membantu memberikan kami masukan-masukan yang berarti
di dalam diskusi.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna,
untuk itu kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan serta mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih.

Medan, 28 September 2018

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

TIM PENYUSUN ..........................................................................................................i

KATA PENGANTAR ................................................................................................. ii

DAFTAR ISI............................................................................................................... iii

BAB 1: PENDAHULUAN ...........................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG ..............................................................................1


1.2 DESKRIPSI PEMICU ..............................................................................1

BAB 2: PEMBAHASAN.............................................................................................. 2

2.1 PEMBAHASAN PEMICU.......................................................................2

BAB 3: PENUTUP .......................................................................................................7

3.1 KESIMPULAN ........................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................8

iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seorang dokter gigi harus memiliki pengetahuan yang memadai akan ilmu
farmakologi karena perawatan gigi dan mulut tidak terlepas dari penggunaan obat-
obatan. Seorang dokter harus dapat memahami cara dan persyaratan penggunaan
suatu obat sehingga dalam pemberian dan penjelasan kepada pasien tidak terjadi
kesalahan. Suatu obat yang tidak digunakan dengan baik tidak akan memberikan hasil
yang maksimal serta dapat membahayakan pengguna. Sebaliknya, obat yang
digunakan dengan cara yang benar dan tepat dapat memberikan hasil perawatan yang
baik pula.
1.2 Deskripsi Pemicu
Nama Pemicu : Minum Obat tapi tidak sembuh juga
Penyusun /Narasumber : dr Datten Bangun, M.SC., Sp. FK, Dr. Ameta Primasari,
drg., MDSc., MKes, Minasari, drg., MM
Hari/ Tanggal : Jumat / 21 September 2018
Waktu : 07.30 – 09.30 WIB
Kasus :
Seorang remaja usia 18 tahun, datang berobat ke dokter gigi karena gigi geraham
bawahnya sakit dan gusinya membengkak. Rasa tidak nyaman sudah berlangsung
selama 2 hari dan remaja ini juga mengatakan dia sudah minum antalgin, tapi tidak
berkurang keluhannya.
Pemeriksaan intra oral oleh dokter gigi, terdapat infeksi pada gigi gerahamnya
yang berlobang. Setelah melakukan perawatan pada gigi gerahamnya, remaja ini
diberikan resep antibiotik amoksisilin 500 mg, 3 kali sehari untuk seminggu dan
ibuprofen 600 mg, tablet 3 kali sehari, serta obat kumur.
Setelah 3 hari, remaja tersebut kembali ke dokter gigi dengan keluhan bengkak
tidak berkurang walaupun sakitnya agak berkurang,.
Dokter kemudian memeriksa kembali gigi remaja tersebut dan tidak sembuh.
Dan ternyata remaja tersebut minum obat tidak sesuai anjuran dokter.

Learning issue
-Farmakologi

1
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pembahasan Pemicu
1. Apa yang menyebabkan gusi pasien ini jadi membengkak?
Pembengkakan gusi dapat disebabkan oleh infeksi dari gigi berlubang yang
menyebar ke gusi. Bakteri yang menginfeksi akan mengeluarkan substansi toksik
yang menyebabkan munculnya pertahanan dari tubuh melalui mekanisme
inflamasi.1 Sel mast akan mengsekresikan faktor berupa mediator vasodilatasi
sehingga terjadi peningkatan penyaluran darah, plasma, dan sel-sel leukosit ke
daerah terinfeksi dan terbentuk eksudasi yang disertai peningkatan cairan
interstisial sehingga menimbulkan bengkak di gusi.2
2. Mengapa dokter gigi perlu melakukan perawatan pada gigi geraham remaja
tersebut?
- Untuk menghilangkan sumber infeksi dan menghindari penyebaran infeksi ke
bagian tubuh lain yang dapat menyebabkan komplikasi berupa selulitis
(Ludwig’s angina), trombosis sinus kavernosus, dan penyebaran infeksi ke
daerah mediastinum. Bakteri yang sampai ke pembuluh darah jantung melalui
pembuluh darah di pulpa dapat menyebabkan endokarditis.3,4
- Mencegah terjadinya karies kembali serta mengurangi risiko karies.3
- Mencegah timbulnya abses. Abses berisi nanah dan menyebabkan
pembengkakan di gusi. Abses dapat membesar hingga pipi menjadi
membengkak.5
- Meredakan rasa nyeri.5
- Untuk menghindari pencabutan gigi. Pencabutan gigi dapat menimbulkan
ketidakseimbangan antara gigi.6
- Untuk mempertahankan struktur gigi dan mencegah kerusakan gigi lebih lanjut.
Perawatan restorasi dapat mengembalikan fungsi, integritas, dan morfologi
dari struktur gigi yang hilang akibat karies.7
3. Mengapa bengkak gusi pasien ini tidak berkurang walaupun sudah minum
Antalgin?
Antalgin adalah salah satu obat golongan NSAID (nonsteroidal
antiinflammatory drug) yang memiliki elemen analgetik, antipiretik, serta
antiinflamasi dan efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang.8
Walaupun antalgin termasuk golongan NSAID, Antalgin tidak dapat meredakan

2
inflamasi yang disebabkan oleh infeksi karena Antalgin tidak dapat
menghilangkan penyebab infeksi. NSAID dapat bekerja pada inflamasi akibat
penyakit sistem imun dengan cara menghalangi fungsi enzim cyclooxygenase
(COX) dalam pembentukkan thromboxane dan prostaglandin sebagai mediator
inflamasi. Bengkak pada gusi pasien tidak berkurang setelah mengonsumsi
Antalgin karena penyebab bengkak gusi pasien belum diatasi.9
4. Untuk apa dokter memberi amoksisilin pada pasien ini?
Amoksisilin adalah antibiotik beta lactam golongan penisilin yang memiliki
spektrum yang luas yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap mikroorganisme
Gram positif, kokus Gram negatif, dan mikroorganisme anaerob yang tidak
menghasilkan beta lactamase. Amoksisilin menghambat pertumbuhan bakteri
dengan mengganggu reaksi transpeptidase dalam sintesis dinding sel bakteri
sehingga bakteri akan mati.10 Berikut alasan pemberian amoksisilin pada pasien:
- Membantu host mengeliminasi sisa bakteri. Antibiotik membantu pertahanan
host untuk membunuh bakteri dengan lebih menyeluruh sehingga diperoleh
perawatan yang maksimal.11
- Sebagai profilaksis untuk menghindari kolonisasi bakteri dan mengurangi
komplikasi paskaperawatan, terutama pada pasien yang berisiko.11
5. Untuk apa pula diberi ibuprofen dan obat kumur?
Ibuprofen merupakan obat golongan NSAID yang memiliki properti
antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi. Ibuprofen merupakan inhibitor enzim
cyclooxygenase (COX 1 dan COX 2) non selektif. Inhibisi enzim COX 2
menghambar konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin, sehingga
mencegah timbulnya rasa sakit dan menghambat sel dan mediator inflamasi
bergerak ke daerah terluka.12 Manfaat penggunaan ibuprofen bagi pasien:
- Mencegah rasa sakit paskaperawatan.13
- Meredakan pembengkakan pada gusi paskaperawatan.14
- Ibuprofen aman, tidak mahal, memiliki sifat analgesik dan antiinflamasi yang
efektif untuk nyeri, serta memiliki waktu paruh yang pendek (2,1 jam)
sehingga mengurangi peluang terjadi efek samping.13
Obat kumur memiliki fungsi terapeutik dalam menjaga kesehatan gigi dan
mulut. Manfaat penggunaan obat kumur bagi pasien:
- Menjaga oral hygiene. Obat kumur mengandung chlorhexidine yang
bersifat bakterisid dan bakteriostatik; fluoride dan zinc yang dapat

3
menghambat metabolisme bakteri plak; povidine iodine yang menjadi
bahan bakterisidal/fungisida.15 Obat kumur dapat bertindak sebagai
antiseptik yang mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan
menghambat reaksi enzimatis sehingga mencegah terbentuknya biofilm
dan terjadinya karies.16
- Meningkatkan remineralisasi. Obat kumur mengandung kalsium dan
fosfat yang dapat membantu remineralisasi gigi.15
6. Jelaskan cara dan persyaratan menggunakan obat analgetik dan antibiotic?
Cara menggunakan obat analgetik:
- Menggunakan obat analgetik sesuai dosis.17
- Rute pemberian ada 2:
 Rute parenteral: diindikasikan untuk pasien yang tidak boleh/ tidak
mampu menerima masukan per oral. Efek dari obat lebih cepat
daripada melalui penggunaan oral. Terbagi menjadi:
a. Rute intravena: nyeri hilang lebih cepat dan obat dimetabolisme
cepat
b. Rute subkutan: berupa bentuk infus yang biasanya digunakan
untuk pasien dengan nyeri berat seperti kanker
c. Rute intramuskular: obat memasuki aliran darah secara perlahan
dan dimetabolisme secara lambat
 Rute oral: penggunaan mudah, noninvasif, tidak menyakitkan.18
- Tidak mengonsumsi obat analgetik oral bersama dengan alkohol karena
meningkatkan risiko pendarahan saluran cerna.17
Persyaratan menggunakan obat analgetik:
- Obat analgetik digunakan hanya saat merasa nyeri
- Berhati-hati jika obat analgetik dikombinasikan dengan obat lain
seperti dengan parasetamol karena berpeluang merusak hati
- Digunakan setelah mengetahui ketentuannya.18
Cara menggunakan antibiotik:
- Menggunakan antibiotik sesuai dosis;19
- Rute pemberian ada 2:
 Rute oral: mudah dan efektif
 Rute intravena: untuk menangani kasus yang lebih serius seperti
tifus, mual dan muntah terus menerus.18

4
- Tidak dianjurkan mematahkan sediaan oral antibiotik karena dapat
mengganggu cara kerja/penyerapan;
- Antibiotik oral dikonsumsi bersama dengan air, bukan jus, susu, atau
alkohol karena dapat mengganggu absorbsi;
- Tidak menggandakan dosis jika tidak mengonsumsi/menghabiskan
dosis sebelumnya.19
Persyaratan menggunakan antibiotik:
- Antibiotik harus dikonsumsi sepanjang waktu yang telah ditentukan
dokter meskipun gejala telah reda karena hal tersebut tidak
menandakan semua kuman telah terbunuh. Bakteri yang tersisa dapat
menyebabkan penyakit muncul kembali;
- Sisa tablet jangan disimpan atau diberikan kepada orang lain.
Sebaliknya, jangan memakai antibiotik yang diresepkan untuk orang
lain;
- Tidak membuang antibiotik ke parit/toilet karena merusak lingkungan
dan berkontribusi terhadap resistensi dari bakteri;
- Tidak menggunakan antibiotik jika tidak mengalami infeksi bakteri
karena berkontribusi terhadap resistensi dari bakteri.19
7. Bakteri apa yang resisten terhadap antibiotic tersebut? Kenapa?
Resistensi amoksisilin ditemukan pada genus Bacteroides, Prevotella,
Veillonella, dan juga pada bakteri Staphylococcus aureus dan Fusobacterium
nucleatum. Resistensi terjadi karena produksi enzim beta lactamase oleh bakteri
tersebut. Produksi enzim beta lactamase menjadi proteksi bagi bakteri tersebut
dan juga bakteri lainnya.20,21,22 Enzim beta lactamase dapat:
- Menghancurkan antibiotik
- Menurunkan penetrasi antibiotik untuk berikatan dengan protein
transpeptidase pada dinding sel bakteri
- Menurunkan afinitias ikatan antara protein pengikat dengan senyawa
antibiotik.22
8. Sebutkan ciri-ciri bakteri tersebut!
- Ciri-ciri Bacteroides:
 Bakteri anaerobik Gram negatif
 Berbentuk batang
 Tidak menghasilkan spora23

5
- Ciri-ciri Prevotella:
 Bakteri anaerobik Gram negatif
 Berbentuk batang dan soliter
 Nonmotil
 Dapat membentuk biofilm
 Mengandung exopolysaccharide yang membantu Prevotella menghindari
sistem imun dan membantu pembentukkan biofilm
 Pada blood agar: koloni coklat hitam23
- Ciri-ciri Veilonella sp.
 Bakteri anaerobik Gram negatif
 Diameter kurang dari 0,5 µm
 Berbentuk coccus, tersusun berkelompok/diplococcus
 Berwarna merah bata di bawah sinar ultraviolet
 Pada blood agar: kecil, konveks, putih abu-abu, translusen
 Indole negatif dan nitrat positif
 Menggunakan laktat untuk bertumbuh24
- Ciri-ciri Staphylococcus aureus
 Bakteri aerobik dan anaerob fakultatif Gram positif
 Berbentuk coccus, tersusun seperti anggur
 Koagulasi positif, katalase positif
 Tidak menghasilkan spora dan nonmotil
 Mengandung asam teikoat di dinding sel
 Mampu memfermentasi mannitol25
- Ciri-ciri Fusobacterium nucleatum
 Bakteri anaerob Gram negatif
 Berbentuk batang fusiform
 Memproduksi iritan dan dapat beragregasi secara sinergis dengan bakteri
lain
 Memproduksi sulfida untuk menghindari sistem imun24

6
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Obat-obatan senantiasa dilibatkan sebelum dan sesudah suatu perawatan. Obat-
obatan sering digunakan dalam mengatasi rasa nyeri dan radang. Namun, obat-
obatan tidak dapat bekerja maksimal apabila penyebab radang, seperti infeksi, belum
diatasi. Oleh karena itu, dibutuhkan perawatan gigi dan mulut untuk memastikan
sumber infeksi telah dibersihkan. Obat-obatan juga diperlukan pascaperawatan
untuk memastikan bahwa eliminasi bakteri telah menyeluruh dan obat-obatan juga
memiliki fungsi terapeutik dan profilaksis.
Penggunaan obat yang tidak benar dapat merugikan pasien, seperti tidak
meredakan radang dan dapat membahayakan. Selain itu, penggunaan obat tertentu,
seperti antibiotik, yang tidak sesuai anjuran dapat menimbulkan resistensi yang
akibatnya akan merugikan masyarakat secara skala besar. Oleh karena itu, seorang
pasien harus mematuhi dan mengikuti panduan penggunaan obat yang telah
diberitahukan oleh dokter dan dokter juga harus memberikan edukasi kepada pasien
akan pentingnya menggunakan obat sesuai anjuran dokter.

7
DAFTAR PUSTAKA

1. Nield-Gehrig JS, Willman DE. Foundations of Periodontics for the Dental Hygienist,
3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins 2011: 273-4.
2. Agrawal AA. Gingival Enlargements: Differential Diagnosis and Review of
Literature. World J Clin Class. 2015; 3(9): 779-88.
3. Odell EW,ed. Clinical Problem Solving in Dentistry, 3rd ed. London: Churchill
Livingstone Elsevier 2010: 219.
4. Dahong F. Abses Odontogen Subkutan. Dentofasial. 2009; 8(2): 69-73.
5. Widayati N. Faktor yang Berhubungan dengan Karies Gigi pada Anak Usia 4-6
Tahun. J Berkala Epid. 2014; 2(2): 197-8.
6. Chavez de Paz LE, Sedgley CM, Kishen A, eds. The Root Canal Biofilm. Berlin:
Springer 2015: 199.
7. Yadav K, Prakash S. Dental Caries: A Review. Asian J Biomed Pharmaceutical Sci.
2016;6(53): 1-7.
8. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia 2007. Farmakologi dan Terapi, ed. 5. Jakarta: Departemen Farmakologi
dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2007. 2007: 209-10.
9. Trevor AJ, Katzung NG, Masters SB, et al. Katzung & Trevor’s Pharmacology
Examination & Board Review, 10th ed. New York: McGraw Hill 2013: 199.
10. Mainjot A, D’Hoore W, Vanheusden A, et al. Antibiotic Prescribing in Dental
Practice in Belgium. Int Endod J. 2009; 42(12): 1112-7.
11. American Association of Endodontists. Use and Abuse of Antibiotics. Endodontics:
Colleagues for Excellence. 2012: 2-8.
12. Alviony FM, Hermanto E, Widaningsih W. Pengaruh Pemberian Ibuprofen
Preoperatif terhadap Sebaran Sel Radang Kronis pada Proses Penyembuhan Luka
Pasca Pencabutan Gigi. Denta J Kedok Gigi. 2016; 10(1):55-61.
13. Arslan H, Topcuoglu HS. Effectiveness of Tenoxicam and Ibuprofen for Pain
Prevention Following Endodontic Therapi in Comparison to Placebo. J Oral Sci.
2011; 53(2): 157-61.
14. Pozzi A, Gallelli L. Pain Management for Dentists: The Role of Ibuprofen. Ann
Stomatol. 2011; 2(3-4): 3-24.

8
15. Sinaredi BR, Pradopo S, Wibowo TB. Daya Antibakteri Obat Kumur Chlorhexidine,
Providone Iodine, Fluoride Suplementasi Zinc terhadap Streptococcus mutans dan
Porphyromonas Gingivalis. Dent J. 2014; 47(4): 211-4.
16. Rafael de Oliveira J. Mouthwashes: An In Vitro Study of Their Action on Microbial
Biofilms and Cytotoxicity to Gingival Fibroblasts. April 2018. agd.org. (20
September 2018).
17. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas.
2017
18. Muhagin A. Buku Ajar Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan.
Jakarta: Salemba Medika. 2008: 78.
19. Institute for Quality and Efficiency in Health Care. Using Medication: Using
Antibiotics Correctly and Avoiding Resistance. 18 Desember 2013.
www.ncbi.nlm.nih.gov. (20 September 2018).
20. Shweta, Prakash SK. Dental Abscess: A Microbiological Review. Dent Res J
(Isfahan). 2013; 10(5):585-91.
21. Sweeney LC, Dave J, Chambers PA, et al. Antibiotic resistance in general dental
practice—a cause for concern?. J Antimicrob Chem 2004; 53: 567-76.
22. Worthington RJ, Melander C. Overcoming Resistance to ß-Lactam Antibiotic. J Org
Chem. 2013; 78(9): 4207-13.
23. Samaranayake L. Essential Microbiology for Dentistry, 5th ed. New York: Elsevier.
2018: 223-5.
24. Ergelkirk PG, Duben-Engelkirk JL. Laboratory Diagnosis of Infectious Diseases.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2008: 427.
25. Nasution M. Pengantar Mikrobiologi. Medan: USU Press. 2016: 74-80.