Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Pokok Bahasan : Kanker Paru

Sub Pokok Bahasan : Pencegahan Dan Pengobatan Kanker Paru

Sasaran : keluarga pasien kanker paru

Waktu : 30 Menit

Tempat : Ruang Paru RS AY Metro

Tujuan Intruksional Umum

Setelah dilakukan penyuluhan klien dan keluarga diharapkan mampu memahami perawatan
kanker paru dan mampu mengetahui pencegahan dan pengobatan kanker paru.

Tujuan Instruksional Khusus

1. Keluarga mampu memahami pengertian penyakit kanker paru.


2. Keluarga mampu memahami penyebab dari penyakit kanker paru.
3. Keluarga mampu memahami tentang pencegahan kanker paru.
4. Keluarga mampu memahami tentang pengobatan kanker paru.
Tahap Kegiatan:
No Tahap Kegiatan penyuluhan Waktu
1. Pembukaan a. Perkenalan 5 menit
b. Menjelaskan tujuan
c. Apersepsi
2. Pelaksanaan a. Menjelaskan materi tentang 20 menit
pencegahan dan pengobatan penyakit
kanker paru.
b. Memberikan kesempatan kepada
keluarga untuk bertanya.
3. Penutupan a. Menyimpulkan materi penyuluhan 5 menit
b. Mengevaluasi tentang materi yang telah
diberikan
c. Mengakhiri pertemuan

Materi
Terlampir
Media
1. Leaflet
Metode

1. Ceramah
2. Tanya jawab

Evaluasi:

Evaluasi awal: Persiapan

a. Materi sudah siap dan dipelajari 1 hari sebelum penyuluhan.


b. Media sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan.
c. Tempat sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan,
d. SAP sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan.

Evaluasi proses: pelaksanaan

a. Leafleat dibagikan pada masyarakat atau audiens.


b. Masyarakat memperhatikan penjelasan penyaji atau narasumber.
c. Masyarakat aktif bertanya.
d. Media dapat digunakan secara efektif.

Evaluasi hasil:

a. Apa yang dimaksud dengan kanker paru?

b. Apa penyebab dari kanker paru?


c. Bagaimana pencegahan dari kanker paru?

d. Bagaimana cara pengobatan penyakit kanker paru?


MATERI
A. Pengertian kanker paru
Karsinoma bronkhogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau lesi primer.
Tumor ganas dapat ditemukan di bagian mana saja. Matastasis paru sering ditemukan lebih
dulu sebelum lesi primernya diketahui. Lebih dari 90% tumor paru primer merupakan tumor
ganas dan sekitar 95% tumor ganas ini termasuk karsinoma bronkhogenik. Apabila kita
menyebut kanker paru, yang dimaksudkan adalah karsinoma bronkhogenik, mengingat
kebanyakan tumor ganas primer dari pernapasan bawah bersifat epitel dan berasal dari
mukosa percabangan bronchus.
Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker paru
berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh lain yang terkena
kanker. Keganasan yang terjadi 90% di epithelium bronkus yang tumbuh lambat memakan
waktu 8-10 tahun dan tumor mencapai ukuran 1 cm, dimana lesi terkecil dapat dideteksi
dengan X-Ray.
B. Etiologi
Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa
faktor yang bertanggung jawab dalam peningkatan insiden tumor paru atau faktor pendukung
dari tumor paru, antara lain : (Price Sylvia, 2006)
1. Merokok dan asap rokok
Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru
pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin
besar risiko untuk menderita tumor atau kanker paru-paru.
Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang
defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari)
dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai
kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang
perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali
ke pola risiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon
karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan
pada kulit hewan, menimbulkan tumor.
Kanker paru adalah sepuluh kali lebih umum terjadi pada perokok dibanding pada
bukan perokok. Risiko ditentukan dengan riwayat jumlah merokok dalam tahun
(jumlah bungkus rokok yang digunakan setiap hari dikali jumlah tahun merokok).
Selain itu, makin muda individu memulai merokok, makin besar resiki terjadinya
kanker paru. Faktor lain juga dipertimbangkan termasuk jenis rokok yang dihisap
(kandungan tar, filter dengan tidak berfilter).
Terdapat hubungan antara rata-rata jumlah rokok yang dihisap per hari dengan
tingginya insiden kanker paru. Dikatakan bahwa, 1 dari 9 perokok berat akan
menderita kanker paru. Belakangan, dari laporan beberapa penelitian mengatakan
bahwa perokok pasif pun akan berisiko terkena kanker paru. Anak-anak yang terpapar
asap rokok selama 25 tahun pada usia dewasa akan terkena risiko kanker paru dua
kali lipat dibandingkan dengan yang tidak terpapar, dan perempuan yang hidup
dengan suami atau pasangan perokok juga terkena risiko kanker paru 2-3 kali lipat.
Diperkirakan 25% kanker paru dari bukan perokok adalah berasal dari perokok pasif.
Insiden kanker paru pada perempuan di USA dalam 10 tahun terakhir ini juga naik
menjadi 5% per tahun, antara lain karena meningkatnya jumlah perempuan perokok
atau sebagai perokok pasif.
Jika seseorang perokok menghentikan kebiasaan merokok, maka penurunan risiko
baru tampak setelah 3 tahun penghentian dan akan menunjukkan risiko yang sama
dengan bukan perokok setelah 10-13 tahun.
Perokok pasif telah diidentifikasi sebagai penyebab yang mungkin dari kanker
paru pada bukan perokok. Dengan kata lain, individu yang secara involunter
terpajang pada asap tembakau dalam lingkungan yang dekat (mobil, gedung) berisiko
terhadap terjadinya kanker paru. Opini publik telah mengarah pada berbagai
kampanye untuk melarang merokok pada tempat-tempat umum seperti restoran,
kantor, dan pesawat udara.
2. Paparan zat karsinogen (asbestos, radiasi ion, radon arse)
Pemajanan (paparan) kronik terhadap karsinogen industrial, seperti arsenic,
asbestos, gas mustard, krom, asap oven untuk memasak, nikel, minyak, dan radiasi
telah dikaitkan dengan terjadinya tumor atau kanker paru. Hukum telah dibuat untuk
mengendalikan pemajanan terhadap elemen tersebut ditempat kerja.
Radon adalah gas tidak berwarna, tidak berbau yang ditemukan dalam tanah dan
bebatuan. Gas berat yg mengandung radioaktif, berasal dari peluruhan radium, yang
terberat dikenal dengan nomor massa 222 dan termasuk seri radioaktif uranium.
Selama bertahun-tahun, gas ini telah dikaitkan dengan pertambangan uranium tetapi
sekarang diketahui gas tersebut dapat menyusup ke rumah-rumah melalui bebatuan
didasar tanah.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan
penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru)
berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga
merupakan agen etiologi operatif.
Bahan-bahan industri yang paling banyak dihubungkan dengan karsinoma
bronkogenik adalah asbestos. Dinyatakan bahwa asbestos dapat meningkatkan risiko
kanker 6-10 kali. Paparan industri ini baru tampak pengaruhnya setelah 15-20 tahun.
Lapangan pekerjaan lain yang dikaitkan dengan peningkatan risiko terhadap
kemungkinan menderita kanker paru adalah penambang nikel, industri ion exchange
resin yang menggunakan klormetil eter dan bisklorometil eter, penambang biji kromit
serta industri pemakai arsenikum.
Bekerja dengan asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard
dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Terdapat insiden yang
tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic
(pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru-paru hematite) dan orang-orang
yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan
insiden.
3. Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari
pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen
dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.
Berbagai karsinogen telah diidentifikasi, termasuk di dalamnya adalah sulfur,
emisi kendaraan bermotor, dan polutan dari pengolahan pabrik. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa insiden kanker paru lebih besar di daerah perkotaan sebagai
akibat penumpukan polutan dan emisi kendaraan bermotor.
C. Pencegahan
Tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker paru-paru, tetapi dapat mengurangi risiko
jika kita melakukan hal-hal berikut :
1. Tidak merokok. Jika belum pernah merokok, jangan mulai. Bicaralah dengan anak-
anak untuk tidak merokok sehingga mereka bisa memahami bagaimana untuk
menghindari faktor risiko utama kanker paru-paru. Banyak perokok mulai merokok di
usia remaja. Memulai percakapan tentang bahaya merokok dengan anak-anak lebih
awal sehingga mereka tahu bagaimana harus bereaksi terhadap tekanan teman sebaya.
2. Berhenti merokok. Berhenti merokok sekarang. Berhenti merokok mengurangi risiko
kanker paru-paru, bahkan jika telah merokok selama bertahun-tahun. Berhenti
merokok dapat mengurangi resiko terkena kanker paru. Penelitian darikelompok
merokok yang berusaha berhenti merokok, hanya 30% yang berhasil. Konsultasi
dengan dokter tentang strategi dan bantuan berhenti merokok yang dapat membantu
berhenti. Pilihan meliputi produk pengganti nikotin, obat-obatan dan kelompok-
kelompok pendukung.
3. Hindari asap rokok. Hindari daerah di mana orang merokok, seperti bar dan restoran,
dan memilih area bebas asap.
4. Tes radon rumah. Periksa kadar radon di rumah, terutama jika tinggal di daerah
dimana radon diketahui menjadi masalah. Kadar radon yang tinggi dapat diperbaiki
untuk membuat rumah lebih aman. Untuk informasi mengenai tes radon, hubungi
departemen kesehatan.
5. Hindari karsinogen di tempat kerja. Tindakan pencegahan untuk melindungi diri dari
paparan bahan kimia beracun di tempat kerja. Perusahaan harus memberitahu jika
terkena bahan kimia berbahaya di tempat kerja. Misalnya, jika diberi masker untuk
perlindungan, selalu memakainya. Tanyakan kepada dokter apa lagi yang bisa
lakukan untuk melindungi diri di tempat kerja. Risiko kerusakan paru-paru dari
karsinogen ini meningkat jika merokok.
6. Makan-makanan yang mengandung buah-buahan dan sayuran. Pilih diet sehat dengan
berbagai buah-buahan dan sayuran. Makanan sumber vitamin dan nutrisi yang
terbaik. Hindari mengambil dosis besar vitamin dalam bentuk pil, karena mungkin
akan berbahaya. Sebagai contoh, para peneliti berharap untuk mengurangi risiko
kanker paru-paru pada perokok berat memberi mereka suplemen beta karoten.
Hasilnya menunjukkan suplemen benar-benar meningkatkan risiko kanker pada
perokok.
7. Minum alkohol dalam jumlah sedang, jika bisa sama sekali tidak. Batasi diri untuk
satu gelas sehari. Jika seorang wanita atau dua gelas sehari jika seorang laki-laki.
Setiap orang usia 65 atau lebih tua harus minum alkohol tidak lebih dari satu gelas
satu hari.
8. Olah raga. Capai minimal 30 menit olah raga pada setiap hari dalam seminggu.
Periksa dengan dokter terlebih dahulu jika belum berolahraga secara teratur.
9. Akhir-akhir ini pencegahan dengan Chemoprevention banyak dilakukan, yakni
dengan memakai derivate asam retinoid, carotenoid, vitamin C, selenium, dan lain-
lain. Jika seseorang berisiko terkena kanker paru maka penggunaan betakaroten,
retinol,nisotetrinoin ataupun N-acetyl-cystein dapat meningkatkan risiko kanker paru
pada perokok. Untuk itu, penggunaan kemopreventif ini masih memerlukan
penelitian lebih lanjut sebelum akhirnya direkomendasi untuk digunakan. Hingga saat
ini belum ada consensus yang diterima oleh semua pihak.
D. Pengobatan
Tujuan pengobatan kanker adalah:
1. Kuratif : menyembuhkan atau memperpanjang masa bebas penyakit dan mening-
katkan angka harapan hidup pasien.
2. Paliatif : mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
3. Rawat rumah ( hospice care ) pada kasus terminal : mengurangi dampak fisik maupun
psikologi kanker baik pada pasien maupun keluarga.
4. Suportif : menunjang pengobatan kuratif paliatif dan terminal seperti pemberian
nutrisi, transfuse darah dan komponen darah, growth factors obat anti nyeri dan obat
anti infeksi.
Secara umum, pengobatan kanker paru dapat mencakup pembedahan, terapi radiasi, dan
kemoterapi.
1. Pembedahan reseksi
Pembedahan reseksi bedah adalah metoda yang lebih dipilih untuk pasien dengan
kanker setempat tanpa adanya penyebaran metastasis dan mereka yang fungsi jantung
parunya baik. Reseksi bedah jarang menghasilkan penyembuhan sempurna.
Tumor bronchial jinak biasanya diangkat melalui pembedahan untuk menghindari
tersumbatnya bronki kadang dilakukan pembedahan pada kanker selain karsinoma sel
kecil yang belum menyebar. Sekitar 10-35% kanker bisa di angkat melalui
pembedahan, tetapi pembedahan tidak selalu membawa kesembuhan. Sekitar 25-40%
penderita tumor yang terisolasi dan tumbuh secara perlahan, memiliki harapan hidup
sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Penderita ini harus melakukan
pemeriksaan rutin karena kanker paru-paru kambuh kembali pada 6-12% penderita
yang telah menjalani pembedahan.
Sebelum pembedahan, dilakukan tes fungsi paru-paru untuk menetukan apakah
paru-paru yang tersisa masih bisa menjalankan funsinya dengan baik atau tidak.
Pembedahan tidak perlu dilakukan jika:
1. Kanker telah menyebar keluar paru-paru
2. Kanker terlalu dekat dengan trekhea
3. Penderita memiliki keadaan yang serius (misalnya penyakit jantung/ penyakit
paru-paru yang berat)
2. Terapi radiasi
Terapi radiasi dapat menyembukan pasien dalam persentasi kecil, namun
bermanfaat dalam pengendalian neoplasma yang tidak dapat di reseksi tetapi yang
responsif terhadap radiasi. Radiasi dapat digunakan untuk mengurangi ukuran kanker
dan dapat digunakan sebagai pengobatan paliatif untuk menghilangkan tekanan
kanker, radiasi dapat membantu menghilangkan batuk, nyeri dada, dispnea,
hemoplisis, dan nyeri tulang serta hepar.
Pada beberapa kasus yang inoperable radioterapi dilakukan sebagai pengobatan
terapi dan bisa juga sebagai terapi adjuvant atau paliatif pada tumor dengan
komplikasi seperti mengurangi efek abstruksi atau penekanan terdapat pembuluh
darah atau bronkus.
Efek samping yang sering adalah disvagia karna esophagus post radiasi,
sedangkan pneumonitis post radiasi jarang terjadi ( <10%). Radiasi dengan dosis paru
yang bertujuan kuratif sacara teoritis bermanfaat pada kasus yang inoperable tapi
belum disokong data percobaan klinis yang sahih. Keberhasilan memperpanjang
survival sampai 20% dengan cara radioasi dosis paru ini didapat dari kasus kasus
stadium 1 usia lanjut, kasus dengan penyakit penyerta sebagai penyulit operasi atau
pasien yang menolak dioperasi.
Pasien dengan metastasis sebatas N1 – N2 atau saat operasi terlihat tumor sudah
merambat sebatas sayatan operasi maka radiasi post operasi dianjurkan untuk
diberikan. Radiasi preoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar misalnya pada
reseksi lebih komplit pada pancoast tumor atau stadium 3b dilaporkan bermanfaat
dari beberapa sentra kanker.Radiasi paliatif . pada kasus dari studi lain nilai negatif
palsu pada mediastinoskopi didapat sebesar 8-12 (diikuti dengan torakotomi).
Torakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan bila berbagai prosedur non
invasive dan invasive sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
3. Kemoterapi
Kemoterapi digunakan untuk menganggu pola pertumbuhan kanker, untuk
menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasis luas, untuk
melengkapi bedah atau terapi radiasi.
Terapi bedah adalah pilihan pertama pada stadium I atau II pada pasien dengan sisa
cadangan parenkim parunya yang adekuat. Reseksi paru biasanya ditoleransi baik bila
diprediktif ‘’post Reseksi FEV ‘’ yang didapat dari pemeriksaan spirometri preoperative dan
kuantitatif ventilasi perkusi scaning melebihi 1000 ml. luasnya penyebaran intra thorak yang
ditemui saat operasi menjadi pegangan luas prosedur operasi yang dilaksanakan. Lobektomi
atau pneumonektomi tetap sebagai standar dimana segmen tektomi dan reseksi baji
bilobektori atau reseksi sleeve jadi pilihan pada situasi tertentu.
Survival pasien yang di operasi pada setadium I mendekati 60%, pada stadium II 26-37%
dari II A 17-36,3%. Pada stadium III A masih ada kontroversi mengenai keberhasilan operasi
bila kelenjar mediastini ipsilateral atau dinding torak terdapat metastasis.
Pasien stadium III B dan 4 tidak dioperasi combined modality therapy yaitu gabungan
radiasi, kemoterapi dengan operasi (2 atau 3 modalitas) dilaporkan memperpanjang survival
dari studi-studi yang masih berlangsung.
Terapi penyinaran dilakukan pada penderita yang tidak dapat menjalani pembedahan
karena mereka memiliki penyakit lain yang serius. Tujuan penyinaran adalah memperlambat
pertubuhan kanker, bukan untuk penyembuhan. Terapi penyinaran juga bisa mengurangi
nyeri otot, sindroma vena kava superior dan penekanan saraf tulang belakang.
Tetapi terapi penyinaran bisa menyebabkan radang paru-paru (pneuminitis karena
penyinaran), dengan gejala berupa batuk, sesak nafas dan demam. Gejala ini bisa dikurangi
dengan corticosteroid (misalnya prednisone).
Pada saat terdiagnosis, karsinoma sel kecil hamper selalu telah menyebar kebagian tubuh
lainnya, sehingga tidak mungkin dilakukan pembedahan. Sehingga kanker harus diobati
dengan kemoterapi, yang kadang disertai terapi penyinaran. Penderita kanker paru=paru
banyak yang mengalami penurunan fungsi paru-paru. Untuk mengurangi gangguan
pernafasan bisa diberikan terapi oksigen dan obat yang yang melebarkan saluran udara
(bronkodilator).
DAFTAR PUSTAKA
WH. Sastrosudarmo. Kanker The Silent Killer. 978-602-97447-1-2. garda media
Sudoyo, aru.
Ahmad Dikrullah, dkk. 2014. Satuan Acara Penyuluhan Ca Bronchogenic (Kanker
Paru). Diunduh dari http://laporan-pendahuluan.asuhan-keperawatan.com/sap-kanker-paru-
50493/ pada tanggal 13 Januari 2016 pukul 10:17 WIB
Indrasari, Astried. 2003. Diagnosis Dini Kanker Paru. Diunduh dari
https://id.scribd.com/doc/79638724/REFRAT-KANKER-PARU oleh marlina sihombing pada
tanggal 11 November 2015 pukul 14.07 WIB
Diunduh dari https://id.scribd.com/doc/87190282/Kanker-paru oleh tpuspitasary pada
tanggal 11 November 2015 pukul 14.09 WIB
Hasanuddin, Muhammad sidik. 2011. Refrat Tumor Paru. Diunduh dari
https://id.scribd.com/doc/91209529/Tumor-Paru-Referat oleh muhammad sidik hasanuddin pada
tanggal 11 November 2015 pukul 14.06 WIB
Diunduh dari https://www.academia.edu/5218241/MAKALAH-KMB-TUMOR-PARU
oleh muhammad hakim pada tanggal 11 November 2015 pukul 14.10 WIB