Anda di halaman 1dari 108

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PASIEN DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL

Dosen Pengampu: Dr. Lilik Ma’rifatul.,S.Kep.Ns.,M.Kes

Disusun Oleh:

Kelompok 2 Kelas 3D

1. Ristia Pratiwi
201701138
2. Sela Tri Cahyani
201701148
3. Ahmad Aris Abdillah
201701152
4. Lailatul Dewi Masthuro
201701154
5. Ani Khoirul Umatin
201701156
6. Rivaldo Imam Saputra
201701170
7. Nur Kholifah
201701174
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

2
STIKES BINA SEHAT PPNI
TAHUN 2019/2020KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah
melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PASIEN DENGAN MASALAH ISOLASI SOSIAL” ini dengan baik. Makalah
ini dibuat guna memenuhi tugas dari mata kuliah Keperawatan Jiwa II oleh ibu
Dr. Lilik Ma’rifatul.,S.Kep.Ns.,M.Kes. Ucapan terima kasih tidak lupa kami
sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah ini, diantaranya:
1. Dr. Lilik Ma’rifatul.,S.Kep.Ns.,M.Kes., selaku dosen mata
kuliah Keperawatan Kesehatan Jiwa II.
2. Teman-teman yang telah membantu dan bekerjasama
sehingga tersusun makalah ini.
3. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan
motivasi dalam pembuatan makalah ini yang namanya kami tidak dapat
sebutkan satu persatu.
Kami menyadari atas kekurangan kemampuan penulis dalam pembuatan
makaah ini, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi kami apabila
mendapatkan kritikan dan saran yang membangun untuk menyempurnakan
makalah ini.
Demikian akhir kata dari kami, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pihak dan menambah wawasan bagi pembaca.

Mojokerto, 01 September 2019

1
Penyusun

2
DAFTAR ISI

BAB I

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI...........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

1.1Latar Belakang..........................................................................................1

1.2Rumusan Masalah.....................................................................................1

1.3Tujuan Penulisan.......................................................................................1

BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................3

2.1Definisi Isolasi Sosial................................................................................3

2.2Proses Terjadinya Isolasi Sosial................................................................3

2.2.1 Etiologi................................................................................3

2.2.2 Rentang respon....................................................................6

2.2.3 Mekanisme koping..............................................................8

2.2.4 Sumber koping....................................................................9

2.2.5 Pathway isolasi sosial..........................................................9

2.2.6 Tanda dan gejala................................................................10

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN...................................................12

3.1Pengkajian...............................................................................................12

3.2Pohon masalah.........................................................................................19

3.3Diagnosa Keperawatan............................................................................20

3.4Nursing Care Plan (NCP)........................................................................20

3.5Evaluasi...................................................................................................25

3
BABIVTINJAUAN KASUS................................................................................27

4.1Trigger Case............................................................................................27

4.2Pembahasan Kasus..................................................................................28

4.3Asuhan Keperawatan...............................................................................31

BAB VSTRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN..............62

BAB VI PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI........86

4
BAB II
PENDAHULUAN

II.1 Latar Belakang

Setiap individu memiliki kemampuan menjalin hubungan sosial, mulai


dari hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan . Hubungan
sosial tersebut diperlukan individu dalam rangka menghadapi dan mengatasi
berbagai kebutuhan hidup.Maka dari itu seorang manusia perlu membina
hubungan interpersonal yang memuaskan.

Kepuasan hubungan akan tercapai bila individu terlibat aktif dalam


melakukan interaksi peran serta yang tinggi , disertai respon lingkungan yang
positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama , hubungan timbal balik
yang harmonis (Stuart and Sundeen ,1995)

Pemutusan hubungan akan terjadi apabila terdapat ketidakpuasan


individu dalam menjalin interaksi,juga adanya respon lingkungannya yang
negatip.Kondisi ini akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak percaya
dengan orang lain dan keinginan untuk menghindar dari orang lain.

II.2 Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari isolasi sosial?


2. Apa saja etiologi (penyebab) isolasi sosial?
3. Bagaimana rentang respon isolasi sosial?
4. Bagaimana mekanisme koping isolasi sosial?
5. Bagaimana sumber koping isolasi sosial?
6. Bagaimana pathway isolasi sosial?
7. Apa saja tanda dan gejala isolasi sosial?

II.3 Tujuan Penulisan

Tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana


cara penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah kecemasan.

1
Tujuan Khusus:

1. Untuk mengetahui definisi isolasi sosial.


2. Untuk mengetahui etiologi (penyebab) isolasi sosial.
3. Untuk mengetahui rentang respon isolasi sosial.
4. Untuk mengetahui mekanisme koping isolasi sosial.
5. Untuk mengetahui sumber koping isolasi sosial.
6. Untuk mengetahui pathway isolasi sosial.
7. Untuk mengetahui tanda dan gejala isolasi sosial.

2
8.

BAB III
TINJAUAN TEORI

III.1 Definisi Isolasi Sosial

Isolasi sosial adalah keadaan di mana seorang individu mengalami


penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di
sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Kelliat, 2006).
Gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu terhadap
sesuatu yang mengancam dirinya dengan cra menghindari interaksi dengan orang
lain dan lingkungan.

Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian seorang individu yang


diterima sebagai perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi yang negatif atau
mengancam. Isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidak mampuan
untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan
sekitarnya secara wajar dalam khalayaknya sendiri yang tidak realistis. Menarik
diri merupakan reaksi yang ditampilkan individu yang dapat berupa reaksi fisik
maupun psikologis. Reaksi fisik yaitu individu pergi atau menghindari stressor.
Sedangkan reaksi psikologis yaitu individu menunjukkan perilaku apatis
mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan permusuhan
(Rasmun, 2001).

Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi


dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi
dengan orang lain. Penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan
melepaskan diri, baik perhatian maupun minatnya terhadap lingkungan sosial
secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap.

3
III.2 Proses Terjadinya Isolasi Sosial

III.2.1 Etiologi

Isolasi sosial (menarik diri) sering disebabkan oleh kurangnya rasa


percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan
sebelumnya, waham, sukar berinteraksi di masa lampau, perkembangan ego yang
lemah serta represi rasa takut. Menurut Stuart & Sundeen , isolasi sosial
disebabkan oleh gangguan konsep diri rendah.

1) Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari
pengalaman selama proses tumbuh kembang. Setiap tahap tumbuh
kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses,
karena apabila tugas perkembangan ini tidak terpenuhi akan
menghambat perkembangan selanjutnya, kurang stimulasi kasih sayang,
perhatian dan kehangatan dari ibu (pengasuh) pada bayi akan memberi
rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya.
b. Faktor biologi
Genetik adalah salah satu faktor pendukung gangguan jiwa, faktor
genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif ada bukti
terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan
gangguan ini namun tahap masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
c. Faktor sosial budaya
Faktor sosial budaya dapat menjadi faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam membina hubungan dengan orang lain, misalnya
anggota keluarga yang tidak produktif, diasingkan dari orang lain.
d. Faktor komunikasi dalam keluarga
Pola komunikasi dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang ke
dalam gangguan berhubungan bila keluarga hanya mengkomunikasikan
hal-hal yang negatif akan mendorong anak mengembangkan harga diri
rendah.
2) Faktor presipitasi

4
Stressor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang
penuh stress seperti kehilangan yang mempengaruhi kemampuan individu
untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.
a. Faktor nature (alamiah)
Secara alamiah, manusia merupakan makhluk holistik yang terdiri dari
dimensi bio-psiko-sosial dan spiritual. Oleh karena itu meskipun
stressor presipitasi yang sama tetapi apakah berdampak pada gangguan
jiwa atau kondisi psikososial tertentuyang maladaptif dari individu,
sangat bergantung pada ketahanan holistik individu tersebut.
b. Faktor origin (sumber presipitasi)
Demikian pula dengan faktor sumber presipitasi, baik internal maupun
eksternal yang berdampak pada psikososial seseorang. Hal ini karena
manusia bersifat unik.
c. Faktor timing
Setiap stressor yang berdampak pada trauma psikologis seseorang yang
berimplikasi pada gangguan jiwa sangat ditentukan oleh kapan
terjadinya stressor, berapa lama dan frekuensi stressor.
d. Faktor number (banyaknya stressor)
Demikian juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi
gangguan jiwa sangat ditentukan oleh banyaknya stressor pada kurun
waktu tertentu. Misalnya, baru saja suami meninggal, seminggu
kemudian anak mengalami cacat pemanen karena kecelakaan lalu
lintas, lalu sebulan kemudian ibu kena PHK dari tempat kerjanya
(Suryani, 2005).
e. Appraisal of stressor (cara menilai predisposisi dan
presiptasi)
Pandangan individu terhadap faktor predisposisi dan presipitasi yang
dialami sangat tergantung pada:
1) Faktor kognitif: Berhubungan dengan tingkat
pendidikan, luasnya pengetahuan dan pengalaman.
2) Faktor afektif: Berhubungan dengan tipe
kepribadian. Tipe kepribadian introvert bersifat: Tertutup, suka
memikirkan diri sendiri, tidak terpengaruh pujian, banyak fantasi,
tidak tahan kritik, mudah tersinggung, menahan ekspresi emosinya,
sukar bergaul, sukar mengerti orang lain, suka membesarkan

5
kesalahannya dan suka kritik terhadap diri sendiri. Tipe kepribadian
ekstrovert bersifat: terbuka, lincah dalam pergaulan, riang, ramah,
mudah berhubungan dengan orang lain, melihat realitas dan
keharusan, kebal terhadap kritik, ekspresi emosinya spontan, tidak
begitu merasakan kegagalan dan tida banyak mengeritik diri sendiri.
Tipe kepribadian ambivert dimana seseorang memiliki kedua tipe
kepribadian dasar tersebut sehingga sulit untukmenggolongkan
dalam salah satu tipe.
f.Faktor fisiologikal
Kondisi fisik seperti status nutrisi, status kesehatan fisik, faktor
kecacatan atau kesempurnaan fisik sangat mempengaruhi bagi penilaian
seseorang terhadap stressor predisposisi dan presipitasi.
g. Faktor bahavioral
Pada dasarnya perilaku seseorang turut mempengaruhi nilai, keyakinan,
sikap dan keputusannya. Oleh karena itu, faktor perilaku turut berperan
pada seseorang dalam menilai faktor predisposisi dan presipitasi yang
dihadapinya. Misalnya, seseorang meminum alkohol, dalam keadaan
mabuk akan lebih emosional dalam menghadapi stressor. Demikian
juga dengan perokok atau penjudi, dalam menilai stressor berbeda
dengan seseorang yang taat beribadah.
h. Faktor sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang hidupnya saling bergantung
antara satu dengan lainnya. Menurut Luh Ketut Suryani (2005),
kehidupan kolektif atau kebersamaan berperan dalam pengambilan
keputusan, adopsi nilai, pembelajaran, pertukaran pengalaman dan
penyelenggaraan ritualitas. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa
faktor kolektifitas atau kebersamaan berpengaruh terhadap cara menilai
stressor predisposisi dan presipitasi.

III.2.2 Rentang respon

Menurut Stuart Sundeen rentang respon klien ditinjau dan interaksinya


dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara
respon adaptif dengan maladaptif sebagai berikut:

6
Respon Adaptif Respon Maladaptif

Solitude Aloneless Curiga

Otonomi Depedensi Manipulatif

Bekerjasama Menarik diri Impulsif

Interdependen Narkisisme

Terdapat dua respon yang dapat terjadi pada isolasi sosial, yakni:

a. Respon adaptif
Merupakan suatu respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial
dan kebudayaan secara umum yang berlaku dengan kata lain individu tersebut
masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah.
1) Menyendiri (solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
yang telah terjadi di lingkungan sosialnya (intropeksi).
2) Otonomi
Merupakan kemapuan individu untuk menentukan dan menyampaikan
ide, pikiran, dan perasaan dalam hubungan sosial.
3) Bekerjasama
Merupakan kemampuan individu yang saling membutuhkan satu sama
lain serta mampu untuk memberi dan menerima.
4) Interdependen
Merupakan saling ketergantungan antara individu dengan orang lain
dalam membinas hubungan interpersonal.
b. Respon maladaptif
Merupakan suatu respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan
di suatu tempat, perilaku respon maladaptif, yakni meliputi:
1) Menarik diri
Merupakan keadaan dimana seseorag yang mengalami kesulitan dalam
membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2) Ketergantungan
Merupakan keadaan dimana seseorang gagal mengembangkan rasa
percaya dirinya sehingga tergantung dengan orang lain.
3) Manipulasi

7
Merupakan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang
menganggap orang lain sebagai objek dan berorientasi pada diri sendiri
atau pada tujuan, bukan berorientasi pada orang lain. Individu tidak dapat
membina hubungan sosial secara mendalam.
4) Curiga
Merupakan keadaan dimana seseorang gagal mnegenbangkan rasa
percaya diri terhadap orang lain.
5) Impulsif
Ketidak mampuan merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman, tidak dapat diandalkan, mempunyai penilaian yang buruk
dan cenderung memaksakan kehendak.
6) Narkisisme
Harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian, memiliki sikap egosentris, pencemburu dan
marah jika orang lain tidak mendukung.

III.2.3 Mekanisme koping

Individu yang mengalami respon sosial maladaptif menggunakan


berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas. Mekanisme tersebut
berkaitan dengan dua jenis masalah hubungan yang spesifik. Koping yang
berhubungan dengan gangguan kepribadian anti sosial antara lain proyeksi,
splitting dan merendahkan orang lain, koping yang berhubungan dengan
gangguan kepribadian ambang splitting, formasi reaksi, proyeksi, isolasi,
idealisasi orang lain, merendahkan orang lain dan identifikasi proyektif.

III.2.4 Sumber koping

Menurut Stuart, 2006, sember koping yang berhubungan dengan respon


sosial maladaptif meliputi keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luasan
teman, hubungan dengan hewan peliharaan dan penggunaan kreatifitas untuk
mengekspresikan stres interpersonal misal, kesenian, musik atau tulisan.

8
III.2.5 Pathway isolasi sosial

III.2.6
Penolakan dari orang lain
III.2.7

III.2.8
Ketidak percayaan diri
III.2.9

III.2.10

III.2.11
Kecemasan dan ketakutan
III.2.12

Putus asa terhadap hubungan


dengan orang lain

Sulit dalam mengembangkan


berhubungan dengan orang lain

Menarik diri dari lingkungan


(regresi)

Tidak mampu berinteraksi dengan


orang lain

ISOLASI SOSIAL

III.2.13 Tanda dan gejala

1. Gejala subjektif:

9
a) Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak
oleh orang lain.
b) Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c) Respon verbal kurang dan sangat singkat.
d) Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti
dengan orang lain.
e) Klien lambat menghabiskan waktu.
f) Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat
keputusan
g) Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
h) Klien merasa ditolak
i) Menggunakan kata-kata simbolik.
2. Gejala objektif
a) Klien banyak diem dan tidak mau bicara
b) Tidak mengikuti kegiatan
c) Banyak berdiam diri di kamar
d) Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan
orang yang terdekat
e) Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal
f) Kontak mata kurang
g) Kurang spontan
h) Apatis (acuh terhadap lingkungan)
i) Ekspresi wajah kurang berseri
j) Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan
kebersihan diri
k) Mengisolasi diri
l) Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan
sekitarnya
m) Masukan makanan dan minuman terganggu
n) Aktifitas menurun
o) Kurang energi (tenaga)
p) Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus atau
janin (khususnya pada posisi tidur)

Menurut Townsend & Carpenito, isolasi sosial menarik diri sering


ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut:

1) Data subjektif
a. Mengungkapkan perasaan penolakan oleh
lingkungan

10
b. Mengungkapkan keraguan tentang
kemampuan yang dimiliki
2) Data objektif
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Tampak sedih atau, datar
e. Posisi meringkuk di tempat tidur dengan
punggung menghadap ke pintu
f.Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai
atau imatur dengan perkembangan usianya
g. Kegagalan untuk beriteraksi dengan orang
lain didekatnya
h. Kurang aktivitas fisik dan verbal
i. Tidak mampu membuat keputusan dan
berkonsentrasi
j. Mengekpresikan perasaan kesepian dan penolakan
di wajahnya.

11
k.

BAB IV
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

IV.1 Pengkajian

Isolasi sosial adalah keadaan di mana seorang individu mengalami


penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di
sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain.

Untuk mengkaji pasien isolasi sosial daat menggunakan wawancara


dan observasi kepada pasien dan keluarga. Pertanyaan berikut dapat ditanyakan
pada saat wawancara untuk mendapatkan data subjekyif:

a) Bagaimana pendapat pasien terhadap orang-orang di sekitar


(keluarga atau tetangga)?
b) Apakah pasien punya teman dekat? Bila punya siapa teman
dekat itu?
c) Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang terdekat
dengannya?
d) Apa yang pasien inginkan dari orang-orang di sekitarnya?
e) Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien?
f) Apa yang menghambat hubungan harmonis antara pasien
dengan orang-orang di sekitarnya?
g) Apakah pasien merasa bahwa waktu begitu lama berlalu?
h) Apakah pernah ada perasaan ragu untuk melanjutkan
kehidupan?

Adapaun isi dari pengkajian tersebut adalah:

1) Identitas klien
Melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: nama mahasiswa,
nama panggilan, nama klien, nama panggilan klien, tujuan, waktu, tempat

12
pertemuan, topik yang akan dibicarakan. Tanyakan dan catat usia klien dan
no. RM, tanggal pengkajian,dan sumber data yang didapat.

13
2) Alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang, atau dirawat di rumah
sakit, biasanya berupa menyendiri (menghindar dari orang lain), komunikasi
krang atau tidak ada, berdiam diri di kamar, menolak interaksi dengan orang
lain, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, dependen, perasaan kesepian,
merasa tidak aman berada dengan orang lain, merasa bosan dan lambat
menghabiskan waktu, tidak mampu berkonsentrasi, merasa tidak berguna dan
merasa tidak yakin dapat melangsungkan hidup. Apakah sudah tahu penyakit
sebelumnya, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah ini.
3) Faktor predisposisi
Menyanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil
pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami
kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak
realistis, kegagalan atau frustasi berulang, tekanan dari kelompok sebaya,
berubahan struktur sosial, terjadi trauma yang tiba-tiba misalnya harus
dioperasi, kecelakaan, perceraian, putus sekolah, PHK, persaan malu karena
sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba),
mengalami kegagalan dalam pendidikan maupun karir, perlakuan orang lain
yang tidak menghargai klien atau perasaan negatif terhadap diri sendiri yang
berlangsung lama.

Faktor-faktor predisposisi terjadinya gangguan hubungan sosial, adalah:

1. Faktor perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu dan tugas perkembangan
yang harus dilalui individu dengan sukses agar tidak terjadi gangguan dalam
hubungan sosial. Tugas perkembangan pada masing-masing tahap tumbuh
kembang ini memiliki karakteristik sendiri. Apabila tugas ini tidak
terpenuhi, akan mencetuskan seseorang sehingga mempunyai masalah
respon sosial maladaptif. Sistem keuarga yang terganggu dapat menunjang
perkembangan respon sosial maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa
individu yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil

14
memisahkan dirinya dan orang tua. Norma keluarga yang tidak mendukung
hubungan keluarga dengan pihak lain di luar keluarga.
2. Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.
Berdasarkan hasil penelitian, pada penderita skizofrenia 8% kelainan pada
struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat dan
volume otak serta perubahan struktur limbik diduga dapat menyebabkan
skizofrenia.
3. Faktor sosial budaya
Isolasi soail merupakan faktor dalam gangguan berhubungan. Ini akibat
dan norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau
tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti lansia,
orang cacat, dan penyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi
norma, perilaku, dan sistem nilai yang berbeda dan kelompok budaya
mayoritas. Harapan yang tidak realistis terhadap hubungan merupakan
faktor lain yang berkaitan dengan gangguan ini.
4. Faktor komunikasi
Gangguan komunikasidalam keluarga merupakan faktor pendukung untuk
terjadinya gangguan dalam berhubungan sosial. Dalam teori ini termasuk
masalah komunikasi yang tidak jelas yaitu suati keadaan dimana seseorang
anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu
bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat
untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.
4) Stressor presipitasi
Stressor presipitasi umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh
stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk
berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Stressor
presipitasi dapat dikelompokkan dalam kategori:
1. Stressor sosial budaya
Stress dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara faktor lain dan
faktor keluarga seperti menurunnya stabilitas unit keluarga dan
berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya, misalnya
dirawat di rumah sakit.
2. Stressor psikologi

15
Tingkat kecemasan yang beratakan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan individu mengatsi masalah diyakini akan
menimbulkan berbagai masalah ganguan berhubungan (isolasi
sosial).
5) Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan
apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
6) Psikososial
a) Genogram
Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
b) Konsep diri
a. Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagaimana tubuh
yang disukai, reaksi terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan
bagian yang disukai. Pada klien dengan isolasi, klien menolak
melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan
terjadi, menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatif
tentang tubuh, preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang,
mengungkapkan perasaan keputus asaan, mengungkapkan
ketakutan.
b. Identitas diri
Klien dengan isolasi sosial mengalami ketidakpastian memandang
diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil
keputusan.
c. Fungsi peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga/pekerjaan/kelompok
masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau
perannya, dan bagaimana perasaan klien akibat perubahan
tersebut. Pada klien dengan isolasi sosial bisa berubah atau
berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua,

16
putus sekolah, PHK, perubahan yang terjadi saat klien sakit dan
dirawat.
d. Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubu yang ideal, posisi, tugas,
pearan dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien
terhadap lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya,
bagaimana jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya. Pada
klien dengan isolasi sosial cenderung mengungkapkan keputus
asaan karena penyakitnya, mengungkapkan keinginan yang terlalu
tinggi.
e. Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri
sendiri, gangguan hubungan sossial, merendahkan martabat,
mencederai diri, dan kurang percaya diri.
c) Hubungan sosial
Dalam setiap interaksi dengan klien, perawat harus menyadari luasnya
dunia kehidupan klien. Siapa orang yang berarti dalam kehidupan
klien, tempat mengadu, bicara, minta bantuan atau dukungan baik
secara material mauun non material. Peran serta dalam kegiatan
kelompok/masyarakat sosial apa saja yang diikuti di lingkungannya.
Pada penderita isolasi sosial perilaku sosial terisolasi atau sering
menyendiri, cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka
melamun, dan berdiam diri. Hambatan klien dalam menjalin
hubungan sosial oleh karena malu atau merasa adanya penolakan oleh
orang lain.
d) Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah/menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan.
7) Status mental
1. Penampilan
Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada
klien dengan ISOS mengalami defisit perawatan diri (penampilan
tidak rapi). Penggunaan akaian tidak sesuai, cara berpakaian tidak
seperti biasanya, rambut kotor, rambut seperti tidak pernah disisir,
gigi kotor dan kuning, kuku panjang dan hitam.
17
2. Pembicaraan
Tdak mamou memulai pembicaraan, berbicara jika hanya ditanya.
Cara berbicara digambarkan dalam frekuensi (kecepatan,
cepat/lambat) volume (keras/lembut) jumlah (sedikit, membisu,
ditekan) dan karakteristinya (gugup, kata-kata bersambung, aksen
tidak wajar). Pada pasien dengan ISOS bisa ditemukan cara
berbicara yang pelan (lambat, lembut, sedikit/membisu, dan
menggunakan kata-kata simbolik).
3. Aktivitas motorik
Klien dengan isolasi sosial cenderung lesu dan lebih sering duduk
menyendiri, berjalan pelan dan lemah. Aktivitas motorik menurun,
kadang ditemukan hipokinesia dan katalepsi.
4. Afek dan emosi
Klien dengan isolasi sosial cenderung datar (tidak ada perubahan
roaman muka pada saat ada stimulus yang menyenangkan atau
menyedihkan) dan tumpul (hanya bereaksi bila ada stimulus emosi
yang sangat kuat).
5. Interaksi selama wawancara
Klien dengan ISOS kontak mata kurang (tidak mau menatap lawan
bicara), merasa bosan dan cenderung tidak kooperatif (tidak
konsentrasi menjawab pertanyaan pewawancara dengan spontan).
Emosi ekspresi sedih dan mengekspresikan penolakan atau kesepian
kepada orang lain.
6. Persepsi-sensori
Klien dengan ISOS beresiko mengalami gangguan sensori/persepsi
halusinasi.
7.
Proses pikir
a. Proses pikir
Arus: Bloking (pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan
dari luar kemudian dilanjutkan kembali).
Bentuk pikir: Otistik (autisme) yaitu bentuk pemikiran yang
berupa fantasi atau lamunan untuk memuaskan keinginan yang
tidak dapat dicapainya. Hidup dalam pikirannya sendiri, hanya
memuaskan keinginannya tanpa peduli sekitarnya, menandakan
ada distorsi arus assosiasi dalam diri klien yang

18
dimanifestasikan dengan lamunan yang cenderung
menenangkan dirinya.
b. Isi pikir
Sosial isolation (pikiran isolasi sosial) yaitu isi pikiran yang
berupa rasa terisolasi, tersekap, terkucil, terpencil dari
lingkungan sekitarnya/masyarakat, merasa ditolak, tidak disukai
orang lain, dan tidak enak berkumpul dengan orang lain
sehingga sering menyendiri.
8. Tingkat kesadaran
Pada klien dengan ISOS ccenderung bingung, kacau (perilaku yang
tidak mengarah pada tujuan), dan apatis.
9. Memori
Klien tidak mengalami gangguan memori, dimana klien sulit
mengingat hal-hal yang telah terjadi oleh karena menurunnya
konsentrasi.
10. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Pada klien dengan ISOS tidak mampu berkonsentrasi: klien selalu
minta agar pertanyaan diulang karena tidak menangkap apa yang
ditanyakan atau tidak dapat menjelaskan kembali pembicaraan.
11. Daya tilik
Pada klien dengan ISOS cenderung mengingkari penyakit yang
diderita: klien tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik dan
emosi) pada dirinya dan merasa tidak perlu meminta
pertolongan/klien menyangkal keadaan penyakitnya, klien tidak mau
bercerita tetang penyakitnya.
8) Koping penyelesaian masalah
Mekanisme yang sering digunakan pada ISOS adalah:
1. Regresi
Adalah mundur ke masa perkembanga yang telah lain.
2. Represi
Adalah perasaan dan pikiran yang tidak dapat diterima, secara sadar
dibendung agar tidak tiba dikesadaran.
3. Isolasi
Adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan timbulnya
kegagalan defensif dalam menghubungkan perilaku dengan motivasi
atau bertentangan antara sikap dan perilaku.

19
IV.2 Pohon masalah

Resiko halusinasi (efek)

Isolasi sosial (core problem)

Harga diri rendah (causa)

IV.3 Diagnosa Keperawatan

1. Isolasi sosial
2. Harga diri rendah kronis
3. Perubahan persepsi sensori: Halusinasi

IV.4 Nursing Care Plan (NCP)

Rencana Keperawatan Klien dengan Isolasi Sosial

Perencanaan
Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Tujuan
umum:
Klien dapat
berinteraksi
dengan orang
lain
TUK 1: Kriteria evaluasi: 1. Bina hubungan saling Hubungan
Klien dapat Klien dapat percaya dengan saling percaya
membina mengungkapkan menggunakan prinsip merupakan
hubungan perasaan dan komunikasi terapeutik. langkah awal
saling keberadaannya a. Sapa klien dengan untuk
percaya. secara verbal. ramah, baik verbal menunjukkan
- Klien mau maupun non verbal. keberhasilan

20
menjawab salam. b. Perkenalkan diri rencana
- Klien mau dengan sopan. selanjutnya.
berjabat tangan. c. Tanya nama lengkap
- Klien mau klien dan nama
menjawab panggilan yang disukai
pertanyaan. klien.
- Ada kontak d. Jelaskan tujuan
mata. pertemuan.
- Klien mau e. Jujur dan menepati
duduk janji.
berdampingan f. Tunjukkan sikap
dengan perawat. empati dan menerima
klien apa adanya.
g. Beri perhatian pada
klien
TUK 2: Kriteria evaluasi: a. Kaji pengetahuan klien Dengan
Klien dapat Klien dapat tentang perilaku menarik mengetahui
menyebutkan menyebutkan diri dan tanda-tandanya. tanda-tanda dan
penyebab penyebab menarik b. Beri kesempatan gejala menarik
menarik diri. diri yang berasal kepada klien untuk diri akan
dari: mengungkapkan menentukan
a. Diri sendiri perasaan penyebab langkah
b. Orang lain menarik diri atau mau intervensi
c. Lingkungan bergaul. selanjutnya.
c. Diskusikan bersama
klien tentang perilaku
menarik diri, tanda-tanda
dan gejala.
d. Berikan pujian
terhadap kemampuan
klien mengungkapkan

21
perasaannya.
TUK 3: Kriteria evalusi: 1.Kaji pengetahuan klien Reinforcement
Klien dapat  tentang manfaat dan dapat
menyebutkan Klie keuntungan berhubungan meningkatkan
keuntungan n dapat dengan orang lain harga diri
berhubungan menyebutkan 2.Beri kesempatan
dengan orang keuntungan kepada klien untuk
lain dan berhubungan mengungkapkan
kerugian dengan orang perasaan tentang
tidak lain, misal keuntungan berhubungan
berhubungan banyak teman, dengan prang lain
dengan orang tidak sendiri, 3.Diskusikan bersama
lain. bisa diskusi, klien tentang manfaat
dll. berhubungan dengan

orang lain
Klie
4.Kaji pengetahuan klien
n dapat
tentang kerugian tidak
menyebutkan
berhubungan dengan
kerugian tidak
orang lain
berhubungan
5.Beri kesempatan
dengan orang
kepada klien untuk
lain misal:
mengungkapkan
sendiri, tidak
perasaan tentang
punya teman,
kerugian tidak
sepi, dll
berhubungan dengan
prang lain
6.Diskusikan bersama
klien tentang kerugian
tidak berhubungan
dengan orang lain
7.Beri reinforcement

22
positif terhadap
kemampuan
mengungkapkan
perasaan tentang
kerugian tidak
berhubungan dengan
orang lain.
TUK 4: Kriteria evaluasi: 1. Kaji kemampuan klien Mengetahui
Klien dapat Klien dapat membina hubungan sejauh mana
melaksanaka mendemonstrasik dengan orang lain pengetahuan
n hubungan an hubungan 2. Dorong dan bantu klien tentang
sosial secara sosial secara klien untuk berhubungan berhubungan
bertahap bertahap: dengan orang lain dengan orang
a) Klien-perawat melalui tahap: lain.
b) Klien-perawat-  Klien-
perawat lain perawat
 Klien-
c) Klien-perawat-
perawat-perawat lain
perawat lain-klien
 Klien-
lain
perawat-perawat lain-
d) Klien-
klien lain
kelompok kecil  Klien-
e) Klien- kelompok kecil
 Klien-
keluarga/kelompo
keluarga/kelompok/ma
k/masyarakat
syarakat
3.Beri reinforcement
positif terhadap
keberhasilan yang telah
dicapai.
4.Bantu klien untuk
mengevaluasi manfaat
berhubungan dengan
23
orang lain.
5.Diskusikan jadwal
harian yang dilakukan
bersama klien dalam
mengisi waktu.
6.Motivasi klien untuk
mengikuti kegiatan terapi
aktivitas kelompok
sosialisasi.
7. Beri reinforcement
atas kegiatan klien dalam
kegiatan ruangan.
TUK 5: Kriteria evaluasi: 1.Dorong klien untuk Agar klien lebih
Klien dapat Klien dapat mengungkapkan percaya diri
menungkapk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan
an perasaan setelah berhubungan dengan dengan orang
perasaannya berhubungan orang lain lain. Mengetahui
setelah dengan orang lain 2.Diskusikan dengan sejauh mana
berhubungan untuk: klien tentang perasaan pengetahuan
dengan orang  Dir masnfaat berhubungan klien tentang
lain. i sendiri dengan orang lain. kerugian bila
 Or
3.Beri reinforcement tidak
ang lain
positif atas kemampuan berhubungan
klien mengungkapkan dengan orang
perasaan manfaat lain.
berhubungan dengan
oranglain
TUK 6: Kriteria evaluasi: 1. BHSP dengan Agar klien lebih
Klien dapat Keluarga dapat: keluarga percaya diri dan
memberdaya a) Menjelaskan Salam, tahu akibat tidak
kan sistem perasaanya. perkenalan diri berhubungan
Sampaika

24
pendukung b) Menjelaskan n tujuan dengan orang
Membuat
atau keluarga cara merawat lain.
kontrak
atau keluarga klien menarik diri.
Eksplorasi
mampu c) Mendemonstra- Mengetahui
perasaan keluarga
mengembang sikan cara sejauh mana
2. diskusikan dengan
kan perawatan klien pengetahuan
anggota keluarga
kemampuan menarik diri. klien tentang
tentang:
klien untuk d) Berpartisipasi membina
▪ Perilaku
berhubungan dalam perawatan hubungan
menarik diri.
dengan orang klien menarik diri. dengan orang
▪ Penyebab
lain. lain.
perilaku menarik diri.
▪ Cara
keluarga menghadapi
klien menarik diri
3. Dorong anggota
keluarga untuk
memberikan dukungan
kepada klien untuk
berkomunikasi dengan
orang lain.
4.Anjurkan anggota
keluarga untuk secara
rutin dan bergantian
mengunjungi klien
minimal satu kali
seminggu
5. Beri reinforcement
positif atas hal-hal yang
telah dicapai oleh
keluarga

25
IV.4.1

IV.5 Evaluasi

1. Klien dapat mengungkapkan perasaan dan keberadaannya


secara verbal.
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang
berasal dari diri sendiri/orang lain/lingkungan.
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan dapat menyebutkan kerugian jika tidak berhubungan
dengan orang lain.
4. Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara
bertahap
5. Klien dapat menungkapkan perasaan setelah berhubungan
dengan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, L. M. (2016). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta:


Indomedia Pustaka.

Townsend, M. C. (2002). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri Rencana


Asuhan dan Medikasi Psikotropik.Jakarta: ECG

Stuart and Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa, ed.3. Jakarta: ECG

26
BAB V

BAB VITINJAUAN KASUS

VI.1 Trigger Case

Tn.K dengan usia 27 thn di bawa masuk ke RSJ lewat UGD pada
tanggal 9 Juni 2019 pukul 11.00 WIB. Klien mengatakan masuk RSJ karena
sering marah-marah di rumahnya semenjak dia berhenti dari pekerjaannya sebagai
cleaning service di Bekasi. Selain itu keluarga klien mengatakan klien sering
berdiam diri di kamar dan kurang bersosialisasi baik dengan orang yang berada di
rumahnya dan tetangga sekitarnya.

Pada tahun 2017 klien pernah dibawa ke RSJ oleh keluarganya karena
sering melempari batu ke rumah tetangganya-tetangganya sehingga
membahayakan orang disekitarnya. Selain itu klien sering marah dan mengamuk
bila keinginannya tidak dituruti. Keluarga klien mengatakan sebelum masuk ke
RSJ klien pernah dibawa berobat ke paranormal tetapi tidak ada perubahan.
Keluarga klien mengatakan setelah pulang dari RSJ klien hanya berdiam diri di
kamar dan tidak pernah bersosialisasi.

Pada saat pengkajian klien mengatakan ia malas berhubungan


dengan orang lain, karena menurut klien tidak ada hal yang perlu
dibicarakan atau diceritakan kepada orang lain dan juga klien mengatakan
dia bingung apa yang ingin diceritakan. Klien sering diam, jarang bercakap-
cakap dengan klien lain di ruangan. Pada saat wawancara klien menjawab
pertanyaan seperlunya saja, terkadang pembicaraan inkoheren dengan
pertanyaan yang diajuakan, terkadang klien langsung pergi ke kamar. Klien
kurang kooperatif selama wawancara, tidak ada kontak mata.

27
Klien mengatakan jika klien memiliki masalah, klien selalu meikirkan
dan mencari jalan keluar sendiri. Jika klien mampu menyelesaikan masalahnya
sendiri akan diselesaikan sendiri. Namun bila tidak mampu klien akan marah-
marah, mengamuk, setelah mengamuk klien seperti hilang ingatan (lupa) dan
klien menyendiri lagi.

VI.2 Pembahasan Kasus

VI.2.1 Model Keperawatan

A. Model Psikoanalisa (Sigmund Freud, Erickson, Klein,


Horney dll)
 Pandangan tentang penyimpangan perilaku
Perilaku didasarkan pada perkembangan dini dan resolusi konflik
perkembangan yang tidak adekuat. Pertahanan ego yang tidak
adekuat untuk mengontrol perilaku isolasi sosial dan berkaitan dengan
konflik yang tidak terselesaikan.
 Proses terapeutik
Psikoanalisa menggunakan teknik asosiasi bebas dan analisa mimpi.
Hal ini menginterpretasikan perilaku, menggunakan transferen untuk
memperbaiki pengalaman traumatik masa lalu dan mengidentifikasi
area masalah melalui interpretasi resisten klien.
 Peran klien dan terapis
Klien mengungkapkan semua pikiran dan mimpi serta
mepertimbangkan interpretasi terapis. Terapis tetap mengupayakan
perkembangan transferen dan menginterpretasikan mimpi dalam
kaitannya dengan konflik, transferen dan resisten.
B. Model Sosial (Caplan, Szasz)
 Pandangan tentang penyimpangan perilaku
Faktor sosial dan lingkungan menciptakan stress, yang dapat
mengakibatkan penyipangan perilaku isolasi sosial. Perilaku yang
tidak dapat diterima diartikan secara sosial dan memengaruhi
kebutuhan sistem sosial.
 Proses terapeutik

28
Klien dibantu untuk mengatasi sistem sosial dengan intervensi krisis.
Manipulasi lingkungan dan menunjukkan dukungan sosial dan
dukungan kelompok.
 Peran klien dan terapis
Klien secara aktif menyampaikan masalah dan bekerja sama dengan
terapis menyelesaikan masalah dengan menggunakan sumber yang
ada pada masyarakat. Terapis menggali sistem sosial klien dan
membantu menggunakan sumber yang tersedia serta menciptakan
sumber yang baru.
C. Komunikasi (Berne, Watzlawick)
 Pandangan tentang penyimpangan perilaku
Gangguan perilaku terjadi apabila pesan tidak dikomunikasikan
dengan jelas. Bahasa dapat digunakan untuk merusak makna, pesan
verbal dan nonverbal mungkin tidak seralas.
 Proses terapeutik
Pola komunikasi dianalisis dan umpan balik diberikan untuk
mengklarifikasi berkomunikasi secara langsung tanpa sandiwara.
 Peran klien dan terapis
Klien memperhatikan pola komunikasi, termasuk permainan dan
bekerja untuk mengklarifikasi komunikasinya sendiri dan
memvalidasi pesan dari orang lain. Terapis menginterpretasikan pola
komunikasi pada klien dan mengajarkan prinsip-prinsip komunikasi
dengan baik.

VI.2.2 Terapi Modalitas

1. Terapi Individual
Dengan terapi individual, perawat menjalin hubungan saling percaya
dengan klien agar tercipta trust kepada perawat. Sehingga, klien dapat
dengan leluasa menceritakan semua yang ia rasakan, dengan demikian
klien merasa aman, nyaman, klien dapat mengembangkan
kemampuannya dalam menyelesaikan konflik, meredakan penderitaan
emosional, dan klien dapat memenuhi kebutuhan dirinya serta
mempermudah proses asuhan keperawatan jika sudah terjalin rasa
saling percaya klien terhadap perawat.
2. Terapi Kognitif

29
Karena klien mempunyai persepsi dan pemikiran yang negatif/salah,
diperlukan terapi kognitif untuk merubah hal tersebut. Sehingga
diharapkan dengan terapi kognitif persepsi dan pemikiran klien yang
negatif dapat berubah menjadi positif/baik, klien juga mampu
mempertimbangkan stressor, mengidentifikasi pola berfikir, persepsi
dan keyakinan yang tidak baik.
3. Terapi Kelompok
Karena klien cenderung menarik diri dan tidak bersosialisasi,
diperlukan terapi kelompok agar klien dapat berinteraksi dengan orang
lain seperti sebelum klien mengalami gangguan bersosialisasi. Perawat
dapat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur, membantu
anggota kelompok meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan
hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptif menjadi
adaptif.

VI.2.3 Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)

Terapi aktivitas kelompok yang cocok untuk klien dengan isolasi sosial
yaitu terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS). Hal tersebut dikarekan klien
sering menyendiri (menghindar dari orang lain), komunikasi berkurang (bicara
apabila ditanya, jawaban singkat), berdiam diri di kamar dalam posisi meringkuk,
tidak melakukan sehari-hari, wajah tampak sedih dan lebih sering menunduk yang
menunjukkan bahwa klien mengalami masalah dalam hubungan sosial (isolasi
sosial). Oleh karena itu, terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) cocok untuk
memfasilitasi kemampuan klien dengan masalah hubungan sosial agar klien dapat
bersosialisasi kembali dengan orang lain maupun lingkungannya serta dapat
meningkatkan hubungan interpersonal dan kelompok. Terapi aktivitas kelompok
sosialisasi (TAKS) dilakukan dalam 7 sesi dengan indikasi klien menarik diri yang
sudah sampai pada tahap mampu berinteraksi dalam kelompok kecil dan sehat
secara fisik.

a. Sesi 1: Kemampuan memperkenalkan diri


b. Sesi 2: Kemampuan berkenalan
c. Sesi 3: Kemampuan bercakap-cakap

30
d. Sesi 4: Kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
e. Sesi 5: Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
f. Sesi 6: Kemampuan bekerja sama
g. Sesi 7: Evaluasi kemampuan bersosialisasi

VI.3 Asuhan Keperawatan

VI.3.1 Pengkajian

I. Identitas Klien
Nama : Tn. K
Umur : 27th
Status Perkawinan : Belum Kawin
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : Way Kanan
II. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Bpk. T
Umur :-
Pekerjaan : Buruh
Hub. Dengan Klien : Bapak
Alamat : Way Kanan
VI.3.2 Alasan Masuk
Klien masuk RSJ lewat UGD pada tanggal 9 Juni 2019 pukul 11.00
WIB, klien mengatakan masuk RSJ karena sering marah-marah di rumahnya
semenjak dia berhenti dari pekerjaanya sebagai cleaning service di Bekasi. Selain
itu, keluarga klien juga mengatakan klien selalu berdiam diri di kamar dan kurang
bersosialisasi baik dengan orang yang berada di rumahnya dan tetangga
sekitarnya.
VI.3.3 Faktor Predisposisi
1. Riwayat Gangguan Jiwa

Klien mengatakan ia sudah dua kali masuk RSJ, pertama kali pada
tahun 2017 karena klien sering melempari batu ke rumah tetangga – tetangganya
sehingga membahayakan orang disekitarnya, selain itu klien selalu marah dan
mengamuk bila keinginanya tidak di turuti dan yang kedua kalinya adalah

31
sekarang, klien dimasukan ke RSJ provinsi lampung karena klien selalu berdiam
diri dan tidak bersosialisasi, baik dengan keluarganya dan orang disekitarnya.

2. Riwayat Pengobatan

Keluarga klien mengatakan bahwa klien pernah dibawa berobat ke


paranormal tetapi tidak ada perubahan. Selain itu pada tahun 2017 klien pernah di
rawat di RSJ provinsi Lampung, namun setelah pulang dari RSJ klien hanya
berdiam diri di kamar dan tidak pernah bersosialisasi.

3. Riwayat Penganiayaan

Klien mengatakan pernah dikeroyok oleh warga karena mabuk-


mabukan minuman keras pada tahun 2017 membawa motor hampir menabrak
anak kecil.

4. Riwayat Keluarga yang Gangguan Jiwa

Keluarga klien mengatakan bahwa di keluarganya tidak ada yang


mengalami gangguan jiwa.

5. Pengalaman Masa Lalu yang Tidak Menyenangkan

Klien mengatakan dari masa sekolah hingga sekarang ia tidak pernah


mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

VI.3.4 Pemeriksaan Fisik

1. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmhg
Nadi : 94 x/menit
Suhu : 36,1 0C
Pernafasan : 20 x/menit
2. Ukur
Berat badan : 68 kg
Tinggi badan : 178 cm
3. Keluhan fisik

32
Klien mengatakan ia tidak memiliki keluhan fisik.
Masalah keperawatan : tidak ditemukan
VI.3.5 Psikososial
1. Genogram

x x x

Keterangan:

Laki-laki =

Perempuan =

Sudah meninggal = X
Klien =

Klien adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara. Klien berumur 27 tahun dan


belum menikah.

33
2. Konsep Diri
a. Gambaran diri

Klien mengatakan tubuhnya terlalu kurus, ia merasa jelek, klien juga


mengatakan kalau pria berbadan besar itu akan disegani orang.

b. Identitas diri

Klien mengatakan ia belum pernah menikah, klien anak pertama dari


tiga bersaudara.

c. Peran diri

Peren klien dalam keluarga adalah klien anak pertama dari tiga
bersaudara. Klien membantu orang tua mencari nafkah, namun semenjak dirawat
di RSJ, klien tidak mempedulikan perannya.

d. Ideal diri

Klien mengatakan ingin cepat sembuh dari penyakitnya dan segera


pulang, karena klien ingin bekerja kembali seperti layaknya orang sehat.

e. Harga diri

Klien merasa sedih ketika ia berhenti dari pekerjaan sehingga klien


merasa tidak berharga karena tidak mampu membantu orang tuanya. Klien
menyendiri di kamar, tidak berinteraksi dengan orang lain.

Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti

Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah


keluarganya. Keluarga klien adalah orang yang mengerti dan memahami klien.

34
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok atau
masyarakat

Klien mengatakan bahwa ia tidak ikut dalam organisasi masyarakat


yang ada di lingkungan tempat tinggalnya, tetapi ia terkadang bermain sepak bola
pada sore hari.

c. Hambatan dalam hubungan dengan orang lain

Klien mengatakan ia malas berhubungan dengan orang lain, karena


menurut klien tidak ada hal yang perlu dibicarakan atau diceritakan kepada orang
lain dan juga klien mengatakan dia bingung apa yang ingin diceritakan. Klien
merasa ditolak dan tidak disukai oleh orang lain.

Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial

4. Spiritual
a. Nilai dan kepercayaan

Klien mengatakan bahwa ia dimasukkan ke RSJ kerena klien sering


marah-marah, namun klien tidak mengetahui bahwa klien mengalami gangguan
jiwa, klien meyakini dirinya sehat.

b. Kegiatan ibadah

Klien mengatakan sebelum masuk RSJ, klien jarang melakukan ibadah


sholat lima waktu. Begitu juga saat masuk RSJ klien tidak pernah sholat lima
waktu.

VI.3.6 Status Mental

a. Penampilan

Dalam berpakaian, klien terlihat kurang rapi. Rambut klien tidak


tertata. Klien tampak kusam, lesu, dan kuku klien tampak kotor. Klien
mengatakan ia mandi dua kali sehari namun tidak pernah pakai sabun dan
shampo.

Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Berhias


35
36
b. Pembicaraan

Klien tidak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu pada lawan


bicara. Klien menjawab pertanyaan seperlunya saja, terkadang pembicaraan
inkoheren dengan pertanyaan yang diajukan.

Masalah keperawatan : Isolasi sosial & Kerusakan Komunikasi


Verbal

c. Aktivitas motorik

Ketika berbincang-bincang, kontak mata klien kurang, klien lebih


banyak diam ketika tidak ditanya, terkadang malah pulang ke kamar.

Masalan keperawatan : Isolasi sosial

d. Alam perasaan

Klien mengatakan ia putus asa karena ia takut tidak bisa membantu


keluarganya karena ia sudah tidak bisa bekerja lagi dan pernah masuk RSJ selain
itu menganggap dirinya tidak baik karena dahulu klien pernah meresahkan
tetangganya yaitu dengan merusak kaca tetangganya dengan cara menimpukinya
dengan batu dan dianggap buruk oleh lingkungannya, klien mengatakan dia malu
bila bertemu orang karena dia pernah masuk RSJ sebelumnya.

Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

e. Afek

Datar, karena selama interaksi klien banyak diam, menjawab


pertanyaan seperlunya. Terkadang klien langsung pergi ke kamar.

Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

f. Interaksi selama wawancara

Klien kurang kooperatif saat diwawancarai, tidak ada kontak mata.


Klien berbicara hanya saat diberi pertanyaan oleh perawat, setelah itu klien

37
kembali diam, mudah dialihkan bila ada klien lain, pembicaraanya kacau,
terkadang tidak jelas.

Masalah Keperawatan : Kerusakan Interaksi Sosial

g. Persepsi

Klien mengatakan ia marah-marah karena dia mendengar ada bisikan-


bisikan, klien mengatakan suara – suara itu adalah suara wanita, klien mengatkan
suara wanita utu mengajak dia untuk bersenang – senang, dan paling sering suara
itu terdengar pada saat ia sedang melamun. Tetapi perawat saat ini belum pernah
melihat tanda-tanda klien berhalusinasi auditori seperti berbicara sendiri, tertawa
sendiri.

Masalah keperawatan : gangguan persepsi sensori : Halusinasi


Pendengaran

h. Proses pikir

Klien sering terlihat melamun, tidak suka memulai pembicaraan. Klien


lebih suka menyendiri. Saat interaksi selama wawancara kontak mata klien tidak
fokus,dialihkan bila ada klien lain, pembicaraanya kacau terkadang tidak jelas.

Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir

i. Isi pikir

Klien merasa ditolak dan tidak disukai oleh orang lain. Klien juga
merasa tidak enak berkumpul dengan orang lain.

Masalah keperawatan : isolasi sosial

j. Tingkat kesadaran
 Waktu: klien dapat mengetahui kapan klien masuk
RSJ, dan dia mengrti kapan saja waktu ia harus mandi
 Tempat: klien mengetahui saat ini klien berada di
RSJ

38
 Orang: kilen sulit mengenali seseorang, jarang
memulai perkenalan, di dalam ruangan pun klien hanya hafal nama
orang 3-5 orang saja.

Masalah keperawatan : Gangguan Proses Pikir

k. Memori

Klien mampu mengingat kejadian yang telah lalu dan baru-baru terjadi.
Klien masih ingat jam berapa dia bangun tadi, klien juga ingat tahun berapa klien
berhenti kerja.

Masalah keperawatan : tidak ditemukan

l. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Klien mampu berhitung dengan baik, saat diberi soal penambahan,


klien mampu menjawab dengan baik.

Masalah keperawatan : tidak ditemukan

m. Kemampuan penilaian

Klien dapat menilai yang baik dan yang buruk dan klien juga
mengetahui bahwa sebelum dirawat perbuatannya yang sering melawan orang tua
berkelahi, melempar batu ke rumah tetangga termasuk perbuatan tercela (tidak
baik).

Masalah keperawatan : Tidak Ditemukan

n. Daya tilik diri

Klien tidak menyadari tentang apa yang diderita klien saat ini. Klien
merasa sehat tidak perlu pengobatan khusus untuk dirinya.

Masalah keperawatan : Kurang Pengetahuan

39
VI.3.7 Keperluan Persiapan Pulang

i. Makan

Klien mengatakan setiap kali makan mencuci tangan dan makan sendiri
tanpa bantuan orang lain . Klien mengatakan sering menghabiskan porsi makanan
yang disediakan

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

2. BAB/BAK

Klien mengatakan BAB & BAK di kamar mandi dan klien


menyiramnya

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

3. Mandi

Klien mengatakan dalam sehari mandi 2 kali dengan menggunakan alat


mandi yang benar, namun klien jarang sikat gigi, sehingga giginya tampak kotor
dan klien tidak mencuci rambut dan sabunan.

Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri :Mandi

4. Berpakaian dan berhias

Klien tidak nampak berhias diruangan, klien mengganti pakaian sehari


satu kali dan menggantinya sendiri. Rambut tidak tertata rapi.

Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri : Berhias

5. Istirahat dan tidur

Klien mengatakan jadwal tidur siang dan malam tidak menentu, tapi
biasanya :

Tidur siang : 13.00-15.00

Tidur malam : 19.30-04.00

40
Masalah keperawatan : tidak ditemukan

6. Penggunaan obat

Klien minum obat secara mandiri, klien minum obat secara teratur
dengan dosis yang benar. Klien tidak tahu jenis dan manfaat obat yang diminum.

Masalah keperawatan : kurang pengetahuan

7. Pemeliharaan kesehatan

Klien mengatakan apabila sakit klien berobat ke puskesmas. Bila


menurut klien sakitnya biasa saja, klien tidak pergi ke dokter (seperti masuk
angin, dll). Dan saat ini klien mengatakan rutin minum obat dan obat yang
diminum sesuai dengan yang diberikan oleh perawat.

Masalah keperawatan : tidak ditemukan

8. Kegiatan di dalam rumah

Klien mengatakan kegiatan didalam rumah yang paling sering adalah


tidur dan berdiam diri dikamar, tidak ada kegiatan di rumah.

Masalah keperawatan : Isolasi sosial

9. Kegiatan di luar rumah

Klien jarang keluar rumah, apabila keluar rumah pada pagi hari dan
hanya pergi ke ladang dan pulang pada sore hari. Lalu klien pulang berdiam diri di
kamar.

Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

VI.3.8 Mekanisme Koping

a. Adaptif

Klien hanya berbicara seperlunya dengan pasien lain dan perawat.

b. Maladaptif

41
Klien mengatakan jika klien ada masalah, klien selalu memikirkan dan
mencari jalan keluar sendiri. Jika klien mampu menyelesaikan masalahnya sendiri
akan diselesaikan sendiri. Namun bila tidak mampu klien akan marah-marah.,
mengamuk, setelah mengamuk klien seperti hilang ingatan(lupa) dan klien
menyendiri lagi.

Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif


VI.3.9 Masalah Psikososial dan Lingkungan
1. Masalah berhubungan dengan dukungan kelompok
Klien mendapat dukungan dari keluarganya walaupun dirawat di RSJ.
Hal ini di buktikan dengan datangnya keluarga klien untuk menjenguk.

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan


2. Masalah berhubungan dengan lingkungan
Klien termasuk orang pendiam klien terlihat menyendiri, memiliki
kekurangan dalam berinteraksi dengan orang lain klien mngatakan malas
berinteraksi, klien berbicara jika ada yang mengajak bicara dahulu.
Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial
3. Masalah dengan pendidikan
Klien sudah lulus SLTA, klien tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi, karena klien ingin langsung bekerja.
Masalah Keperawatan : Tidak ditemukan
4. Masalah dengan pekerjaan
Klien mengatakan klien berhenti dari pekerjaannya sebagai cleaning
service di Bekasi dari tahun 2007 karena gajihnya sedikit dan klien malu karena
tidak bisa menolong kedua orang tuanya.
Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah
5. Masalah dengan perumahan
Klien mengatakan dirumah tinggal dengan oarang tuanya, beserta dua
adik perempuan dan satu adik ipar. Klien pernah di kroyok dengan warga
setempat karena mabuk-mabukkan

Masalah Keperawatan : Tidak Ditemukan

42
6. Masalah ekonomi
Klien mengatakan keluarganya cukup memenuhi keperluannya sehari-
hari.
Masalah Keperawatan : tidak ditemukan

43
7. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien sebelumnya pernah di rawat di rumah sakit jiwa sekali karena
ngamuk-ngamuk dilingkungn tempat tinggal dan di bawa ke RSJ lalu di ikat satu
malam.
Masalah Keperawatan : Resiko Prilaku Kekerasan
VI.3.10 Kurang Pengetahuan Tentang
Klien kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa yang klien alami
sekarang, klien belum mengetahui cara pengobatan yang dilakukan, karena kurang
pengetahuan itu cara klien menyelesaikan masalah tidak benar dan tepat.

Masalah keperawatan : kurang pengetahuan


VI.3.11 Aspek Medis
1. Dx. Medis : Skizofrenia
2. Therapi medis (saat ini) :
Haloperidol (HLP) 5 mg 3x1
Trihexyphenidil (THP) 2 mg 3x1
Chlorpomazin (CPZ) 100 mg 1x1
VI.3.12 Analisa Data
n Analisa Data Maslah
No. Keperawatan
1 DS :
.
Klien mengatakan bingung dalam memulai
pembicaraankarena menurut klien tidak ada
bahanpembicaraan untuk berinteraksi
Isolasi Sosial
DO :

 Klien lebih banyak berdiam diri


 Kontak mata kurang
 Klien sering menyendiri
 Klien tidak pernah memulai
pembicaraan, maupun perkenalan
 Afek datar, karena selama interaksi

44
klien banyak diam, menjawab pertanyaan
seperlunya.
2 DS :
.
Klien mengatakan mendengar bisikan-bisikan wanitayang
mengajak klien untuk melakukan hal yang tidakbenar.
Halusinasi
DO :

 Klien sering menyendiri


 Klien terkadang berbicara sendiri
 Klien sering bengong / melamun

3 DS :
.
 Klien mengatakan dirinya jelek,
Harga Diri Rendah
badannya terlalu kurus.
 Klien mengatakan malu bila
bertemu dengan orang yang baru dikenal.
 Klien mengatkan takut berbicara
banyak karena takut menyakiti hati orang lain

DO :

 Klien tidak percaya diri ketika


berbicara dengan orang lain
 Klien jarang memulai pembicaraan
dengan orang lain
 Klien tidak mau menatap wajah
lawan bicara

VI.3.13 Pohon Masalah

Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi (efek)

45
Isolasi Sosial (core problem)

Harga Diri Rendah (causa)

VI.3.14 Diagnosa Keperawatan

1. Isolasi Sosial
2. Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
3. Harga diri Rendah
VI.3.15 Rencana Tindakan Keperawatan

Inisial klien : Tn. K Dx Medis : Skizofrenia


No RM : 013650 Ruangan : Cendrawasih
Dx. Rencana Tindakan Keperawatan
No
Keperawata Rasional
. Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
n
1. Isolasi TUM : Klien Interaksi klien 1. Bina hubungan Hubungan saling
Sosial mampu menunjukan saling percaya percaya
berinteraksi tanda-tanda dengan : merupakan
 Beri salam
dengan orang percaya kepada langkah awal
setiap
lain atau terhadap untuk melakukan
berinteraksi
perawat : interaksi
 Perkenalkan
TUK 1 : Klien  Wajah
nama, nama
dapat membina cerah,
panggilan
hubungan saling tersenyum
perawat, dan
 Mau
percaya
tujuan perawat
berkenalan
 Ada kontak berkrnalan
 Tanyakan dan
mata
 Bersedia panggil nama
menceritaka kesukaan klien
 Tunjukan sikap
n perasaan
 Bersedia jujur dan
mengungka menepati janji

46
pkan setiap kali
masalahnya berinteraksi
 Tanyakan
perasaan dan
masalah yang
dihadapi klien
 Buat kontrak
interaksi yang
jelas
 Dengarkan
dengan penuh
perhatian
ekspresi
perasaan klien

TUK 2 : Interaksi klien 1. Tanyakan pada Dengan


Klien mampu dapat klien tentang : mengetahu tanda-
menyebutkan menyebutkan  O tanda dan gejala,
penyebab tanda minimal satu rang yang kita dapat
dan gejala penyebab tinggal menentukan
isolasi sosial menarik diri : serumah atau langkah intervensi
 dengan selanjutnya
D sekamar klien
 O
iri Sendiri
 rang yang
O paling dekat
rang lain ddengan klien

dirumah atau
L
diruangan
47
ingkungan perawatan
 A
pa yang
membuat klien
dekat dengan
orang tersebut
 O
rang yang tidak
dekat dengan
klien dirumah
atau diruangan
perawat
 A
pa yang
membuat klien
tidak dekat
dengan orang
tersebut
 U
paya yang
sudah
dilakukan agar
dekat dengan
orang tersebut
2. D
iskusikan
dengan klien
penyebab
menarik diri /
tidak mau
bergaul
dengan orang
lain
48
3. B
eri pujian
terhadap
kemampuan
klien
mengungkapk
an perasaanya
TUK 3 : Interaksi dengan 1. T Reinforcement
Klien mampu klien dapat anyakan pada dapat
menyebutkan menyebutkan klien tentang : meningkatkan
M
keuntungan keuntungan harga diri klien
anfaat
berhubungan berhubungan
hubungan
sosial dan sosial,
sosiial
kerugian misalnya :
K
menarik diri 
erugian
B
menarik diri
anyak teman 2. D

iskusikan
T
bersama klien
idak
tentang
kesepian
manfaat

berhubungan
S
sosial dan
aling
kerugian
menolong
menarik diri
Dan kerugian
3. B
menarik diri
eri pujian
misalnya :
terhadap

kemampuan
S
klien
endiri
mengungkapka

n perasaannya
49
K
esepian

T
idak bisa
diskusi

TUK 4 : Interaksi klien 1. O Mengetahui


Klien dapat dapat bservasi sejauh mana
melaksanakan melaksanakan perilaku klien pengetahuan klien
hubungan sosial hubungan tentang tentang
secara bertahap soosial secara berhubungan berhubungan
bertahaap sosial dengan orang lain
2. B
dengan :
eri motivasi

dan bantuu
P
klien untuk
erawat
 berkenalan /
P berkomunikasi
erawat lain dengan

perawat lain,
K
klien lain,
elompok
kelompok
3. L
ibatkan klien
dalam terapi
aktivitas
kelompok
sosialisasi
4. D
iskusikan
jadwal harian
yang dilakukan
50
untuk
meningkatkan
kemampuan
klien
bersosialisas
5. B
eri motivasi
klien untuk
melakukan
kegiatan sesuai
jadwal yang
telah dibuat
6. B
eri pujian
terhadap
kemampuan
klien
memperluas
pergaulanya
melalui
aktifitas yang
dilaksanakan
TUK 5 : Interaksi klien 1. D Agar klien lebih
Klien mampu dapat iskusikan percaya diri untuk
menjelaskan menyebutkan dengan klien berhungan dengan
perasaanya perasaanya tentang orang lain
setelh setelah perasaanya
berhubungan berhubungan setelah
sosial sosial dengan : berhbungan
 sosial dengan :
 O
O
rang lain
rang lain
 K
51
 elompok
2
K
.
elompok
B
eri pujian
terhadap
kemampuan
klien
mengungka
pkan
perasaaanya

TUK : 6 1 1. D Agar klien lebih


Klien mendapat . iskusikan percaya diri dan
dukungan k pentingya tau akibat tidak
keluarga dalam eluarga peran serta berhubungan
memperluas dapat keluarganay dengan orang lain
hubyngan sosial menjelaska sebagai
n: pendukung

untuk
P
mengatasi
engertian
perilaku
menarik diri
menarik diri

2. D
t
iskusikan
anda dan
potensi
gejala
keluarga untuk
menarik diri
membantu

klien
p
mengatasi
enyebab
perilaku
dan akibat
menarik diri
menarik diri
52
 3. J
c elaskan pada
ara merawat keluarga
klien tentang :
P
menarik diri
2 engertian
. menarik diri
T
k
anda dan
eluarga
gejala menarik
dapat
diri
memprakte
P
kkan cara
enyebab dan
merawat
akibat menarik
klien
diri
menarik C
diri ara merawat
klien menarik
diri
4. L
atih keluarga
cara merawat
klien menarik
diri
5. T
anyakan
perasaan
keluarga
setelah
mencoba cara
yang
dilatihkan
6. B

53
eri motivasi
keluarga agar
membantu
klien
bersosialisasi
7. B
eri pujian
pada keluarga
atas
keterlibatanny
a merawat
klien dirumah
sakit
TUK 7 : 1 1. D Minum obat dapat
Klien dapat . iskusikan menyembuhkan
memanfaatkan I dengan klien penyakit klien
obat dengan nteraksi tentang
baik klien manfaaat dan
menyebutk kerugian tidak
an : minum obat,

nama, warna,
M
dosis, cara,
anfaat
efek terapi,
minum obat
dan efek

samping
K
penggunaan
erugian
obat.
tidak
2. P
meminum
antau klien
obat
saat

penggunaan
N
obat
ama, warna,
54
dosis, efek 3. B
terapi, efek eri pujian jika
samping klien
obat menggunakan
2.
obat dengan
S
benar
etelah 2x 4. D
interaksi iskusikan
klien berhenti
mendemons minum obat
trasikan tanpa
penggunaan konsultasi
obat dengan dengan dokter
5. A
benar
3. njurkan klien
S untuk
etelah 2x konsultasi
interaksi kepada dokter
klien dapt atau perawat
menyebutka jika terjadi hal-
n akibat hal yang tidak
berhenti diinginkan
minum obat
tanpa
konsultasi
dokter
2. Halusinasi TUM : klien 1. 1. A Mengetahui
dapat I dakan kontrak apakah halusinasi
mengontrol nteraksi langsung dan datang dan
halusinasi klien singkat secara menentukan
menyebutka bertahap tindakan yang
2. O
TUK 1 : n: tepat atas

55
klien dapat  bservasi halusinasinya
mengenal I tingkah laku
halusinasinya si klien terkait

dengan
W
halusinasinya.
aktu T

anyakan
F
apakah klien
rekuensi
mengalami

halusinasi
S
 Ji
ituasi dan
ka klien
kondisi
menjawabnya,
yang
tanyakan apa
menimbulk
yang
an
dialaminya
halusinasi k
atakan bahwa
perawat
percaya
TUK 2: 1. 1. I Klien dapat
Klien dapat I dentifikasi melakukan
mengontrol nteraksi bersama klien tindakan yang
halusinasi klien cara atau tepat saat
menyebutka tindakan yang halusinasinya
n tindakan dilakukan jika muncul
yang terjadi
biasanya halusinasi
2. D
dilakukan
iskusikan cara
untuk
yang
mengendali
digunakan
kan
klien
56
halusinasi-  Ji
nya. ka cara yang
2.
digunakan
I
adaptif, beri
nteraksi
pujian
klien  ji
menyebutka ka cara yang
n cara baru digunkan
mengontrol maladaptif
halusinasi. diskusikan
3.
kerugian cara
I
tersebut
nteraksi 3. D
klien dapat iskusikan cara
memilih baru untuk
dan mengontrol
memperaga halusinasi
K
kan cara
atakan pada
megatasi
diri sendiri ini
halusinasi.
4. tidak nyata
I (saya tidak
nteraksi, mau
klien mendengar)
M
melaksanak
enemui orang
an cara
tua /perawat
yang telah
untuk
dipilih
menceritakan
untuk
tentang
mengendali
halusinasinya
kan
M
halusinasi
embuat dan
57
dengar melaksanakan
5.
jadwal
I
kegiatan
nteraksi,
sehari-hari
klien
yang telah
mengikuti
disususn
terapi
aktivitas
kelompok
TUK 3: 1. 1. D Minum obat dapat
Klien dapat I iskusikan mengurangi
memanfaatkan nteraksi denagn klien halusinasi klien
obat dengan klien dapat tentang
baik menyebutka manfaat dan
n : kerugian tidak

minum obat,
M
nama, warna,
anfaat dari
dosis, dan efek
minum
terapi dan efek
obat
samping

penggunaan
K
obat
erugian
2. P
tidak
antau klien
minum
saat
obat
penggunaan

obat
N
3. B
ama,
eri pujian bila
warna,
klien
dosis, efek
menggunakan
terapi dan
obat dengan
efek
58
samping benar
4. D
obat
2. iskusikan
I akibat berhenti
nteraksi minum obat
klien tanpa
mendemons konsultasi
trasikan denagn dokter
5. A
penggunaan
njurkan klien
obat dengan
untuk
benar
3. konsultasi
I kepada
nteraksi dokter/perawat
klienmenye jika terjadi hal-
butkan hal yang tidak
akibat diinginkan.
berhenti
minum obat

3. Harga Diri TUM : 1 1. D Pujian akan


rendah Klien dapat . iskusikan meningkatkan
melakukan K kemampuan harga diri klien
hubungan sosial ebutuhan dan aspek
secara bertahap klien positif yang
terpenuhi dimiliki klien
2
TUK 1 : dan beri pujian
.
Klien dapat /reinforcement
K
mengidentifikasi atas
lien dapat
kemampuan dan kemampuan
melakukan
aspek positif mengungkapka
aktivitas
yang dimiliki n perasaannya

59
terarah 2. S
aat bertemu
klien,
hindarkan
memberi
penilaian
negatif.
Utamakan
memberi
pujian yang
realistis
TUK 2 : 1 1. D Peningkatan
Klien dapat . iskusikan kemampuan
menilai K kemampuan mendorong klien
kemampuan lien klien yang untuk mandiri
yang dapat mampu masih dapat
digunakan beraktivita digunakan
s sesuai selama sakit
2. D
kemampua
iskusikan juga
n
2 kemampuan
. yang dapat
K dilanjutkan
lien penggunaan di
mengikuti rumah sakit
terapi dan dirumah
aktivitas nanti
kelompok

TUK 3: 1 1. R Pelaksanaan
Klien dapat . encanakan kegiatan secara
menetapkan dan K bersama klien mandiri modal

60
merencanakan lien aktivitas yang awal untuk m
kegiatan sesuai mampu masih dapat eningkatkan harga
dengan melakukan dilakukan diri rendah
kemampuan apa yang setiap hari
yang dimiliki diajarkan sesuai
2
kemampuan :
.
kegiatan
K
mandiri,
lien mau
kegiatan
memberika
dengan
n
bantuan
dukungan
minimal,
kegiatan
dengan
bantuan total
2. T
ingkatkan
kegiatan
sesuai dengan
toleransi
kondisi klien
3. B
eri contoh
cara
pelaksanaan
kegiatan yang
boleh klien
lakukan
(sering klien
takut
melaksanakan
ny)

61
TUK 4 : Klien mampu 1. B Dengan aktivitas
Klien dapat beraktivitas eri kesempatan klien akan
melakukan sesuai klien untuk mengetahui
kegiatan sesuai kemampuan mencoba kemampuannya
kondisi sakit kegiatan yang
dan direncanakan
2. B
kemampuannya
eri pujian atas
keberhasilan
klien
3. D
iskusikan
kemungkinan
pelaksanaan
dirumah

TUK 5 : 1 1. B Perhatian
Klien dapat . eri pendidikan keluarga dan
memanfaatkan k kesehatan pengertian
sistem lien mampu pada keluarga keluarga akan
pendukung yang melakukan klien tentang dapat membantu
ada apa yang cara merawat meningkatkanhar
diajarkan klien harga ga diri klien.
2
diri rendah
. 2. B
k antu keluarga
lien mau memberi
memberika dukungan
n dukungan selama klien
dirawat
3. B
antu keluarga
62
menyiapkan
lingkungan
dirumah

VI.3.16 Strategi Pelaksanaan (SP) Berdasarkan


Pertemuan

a. SP1 Klien:
1.Identifikasi penyebab:
a)Siapa yang satu rumah dengan pasien?
b)Siapa yang dekat dengan pasien? Dan apa
sebabnya?
c)Siapa yang tidak dekat dengan pasien? Apa
penyebabnya?
2.Keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan
orang lain
3. Latihan berkenalan
4.Masukkan jadwal kegiatan klien
b. SP2 Klien:
1.Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien (SP1)
2.Melatih berhubungan sosial secara bertahap (pasien
dan keluarga)
3.Memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
c. SP3 Klien:
1.Mengevaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 dan 2)
2.Latih ADL (kegiatan sehari-hari), cara bicara
3.Masukkan dalam jadwal kegiatan klien
d. SP1 Keluarga:
1.Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat klien
2.Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi
sosial serta proses terjadinya
3.Menjelaskan cara merawat klien dengan isolasi
sosial

63
4.Bermain peran dalam merawat pasien isolasi sosial
(simulasi)
5.Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk
merawat klien
e. SP2 Keluarga:
1.Evaluasi kemampuan keluarga (SP1)
2.Melatih keluarga merawat langsung klien dengan
isolasi sosial
3.Menyusun RTL keluarga,jadwal keluarga untuk
merawat klien

f. SP3 Keluarga:
1.Evaluasi kemampuan keluarga (SP1 dan 2)
2.Evaluasi kemampuan klien
3.Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up
dan rujukan

BAB VII

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Masalah : Isolasi Sosial

Hari/Tanggal : Senin, 10 Juni 2019

Pukul : 08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 1

Ruangan : Cendrawasih

Nama Klien : Tn.K

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
64
Klien mengatakan ia malas berhubungan dengan orang lain, karena
menurut klien tidak ada hal yang perlu dibicarakan atau diceritakan kepada
orang lain dan juga klien mengatakan dia bingung apa yang ingin
diceritakan. Klien sering diam, jarang bercakap-cakap dengan klien lain di
ruangan. Pada saat wawancara klien menjawab pertanyaan seperlunya saja,
terkadang pembicaraan onkoheren dengan pertanyaan yang diajukan,
terkadang klien langsung pergi ke kamar. Klien kurang kooperatif selama
wawancara serta tidak ada kontak mata.
b. Diagnosa Keperawatan
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus
- TUK1: klien dapat membina hubungan saling
percaya
- TUK2: klien mampu menyebutkan penyebab, tanda
dan gejala isolasi sosial.
- TUK3: klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri
d. Tindakan Keperawatan
1. SP1 Pasien:
a) Identifikasi penyebab isolasi sosial
b) Keuntungan dan kerugian berinteraksi
dengan orang lain
c) Latihan berkenalan
d) Masukkan jadwal kegiatan klien
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1. Salam Terapeutik
“Selamat pagi bapak... perkenalkan saya perawat M. Kalau boleh tau
nama bapak siapa? Dan senang dipanggil siapa?”
2. Evaluasi/Validasi
“Bagaimana kabar bapak hari ini? Apakah bapak masih ingan kenapa ”
3. Kontrak
Topik :
“Bapak , bagaimana kalau kita mengobrol sebentar tentang kemampuan
atau hal – hal yang bapak sukai dan ingin dilakukan ? Setelah itu kita
akan menilai kegiatan mana yang masih dapat dilakukan dan kemudian
kita pilih salah satu kegiatan yang akan kita latih.”

65
Waktu :
“Bapak mau mengobrol berapa lama ? Bagaimana kalau 30 menit
saja ?”
Tempat :

“Bapak ingin mengobrol dimana ? Bagaimana jika di taman rumah sakit


saja?”

b. Kerja
“Bapak di rumah tinggal dengan siapa?”
“Ohh... bersama orang tua. Lalu orang di rumah yang paling dekat dengan
bapak siapa?”
“Ibu yaa... mengapa bapak merasa dekat dengan ibu?”
“Lalu di rumah menurut bapak siapa yang tidak dekat dengan bapak?”
“Mengapa bapak merasa tidak dekat dengan ayah bapak?”
“Lalu bagaimana upaya bapak agar bisa dekat dengan ayah bapak?”
“Kalau boleh tau mengapa bapak sering mengurung diri di kamar?
Mengapa tidak mau berinteraksi dengan orang rumah ataupun dengan
tetangga bapak?”
“Apa yang bapak rasakan selama dirawat disini? Ohh.. bapak merasa
kesepian? Siapa saja yang bapak kenal diruangan ini?
“Apa saja kegiatan yang biasa bapak lakukan dengan teman yang bapak
kenal?”
“Apa yang mengahambat bapak dalam berteman atau bercakap-cakap
dengan pasien lain?”
“menurut bapak apa saja keuntungan kalau kita mempunyai teman?
Wahh... benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? (sampai klien dapat
menyebutkan beberapa). Nahh kalau kerugian tidak mempunyai teman apa
ya? Ya, apa lagi?. Jadi banyak yaa kerugian tidak mempunyai teman.
Kalau begitu inginkan bapak belajar bergaul dengan orang lain?”
“Bagus... bagaimana kalau kita mencoba untuk berkenalan dengan orang
lain?”
“Begini bapak... untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan terlebih
dahulu nama kita dan nama panggilan yang kita suka, asal, hobi. Contoh :
nama saya Tn.K senang dipanggil K. Asal saya dari Way Kanan. Hobby
memancing.”

66
“Selanjutnya bapak menanyakan nama orang yang diajak berkenalan.
Contohnya begini : nama bapak siapa? Senang dipanggil siapa? Asal dari
mana?/hobbynya apa?”
“Ayo pak dicoba? Misal saya belum kenal dengan bapak. Coba berkenalan
dengan saya”
“Ya, bagus sekali... coba sekali lagi. Bagus sekali...”
“Setelah bapak berkenalan dengan orang tersebut, bapak bisa melanjutkan
percakapan tentang hal-hal lainnya. Misalkan tentang cuaca, hobby,
tentang keluarga atau yg lainnya.”
c. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang sebentar
dengan saya?”
- Evalasi klien (objektif)
Klien mampu mengungkapkan perasaannya. Klien mampu
menjelaskan keuntungan serta kerugian mempunyai teman. Klien
mampu berkenalan dengan orang lain.
2. Tindak lanjut klien
“Baik pak untuk pertemuan besok saya akan menjelaskan apa yang kita
sepakati”
3. Kontrak yang akan datang
Topik : “Untuk besok bapak dapat mengingat-ingat apa yang sudah kita
pelajari hari ini selama saya tidak ada. Sehingga bapak dapat lebih siap
untuk berkenalan dengan orang lain. Bapak mau mempraktekkan ke
pasien lain?
Waktu : “Waktunya kira-kira jam 8 pagi yaa pak”
Tempat : “Untuk tempat kira-kira bapak mau berbincang dimana?
Ohh... baik kalau begitu pak saya pamit dulu yaa”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

67
Masalah : Isolasi Sosial

Hari/Tanggal : Selasa, 11 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 2

Ruangan : Cendrawasih

Nama Klien : Tn.K

A.Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
Klien mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan. Klien mampu
mengungkapkan penyebab klien menarik diri. Klien sudah berlatih cara
berkenalan dengan orang lain.
a. Diagnosa Keperawatan
Isolasi soial
b. Tujuan Khusus
- TUK4 : klien mampu melaksanakan hubungan
sosial secara bertahap
- TUK5 : klien mampu menjelaskan perasaan setelah
berhubungan sosial
c. Tindakan Keperawatan
SP2 Pasien:
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien (SP1)
b) Melatih berhubungan sosial secara bertahap (pasien
dan keluarga)
c) Memasukkan ke jadwal kegiatan harian
A. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1. Salam terapeutik
“Selamat pagi bapak...”
2. Evaluasi/Validasi
“Dengan bapak K yaa... apakah bapak masih ingat dengan saya?”
3. Kontrak:
Topik : “ jadi sesuai dengan dengan kesepakatan kemarin yaa pak
kita akan mencoba untuk berkenalan dengan perawat atau pasien lain
yang ada disini ”

68
Waktu : “Untuk waktunya tidak lama, Cuma 10-15 menit saja pak”
Tempat : “Untuk tempai enaknya kita berbincang dimana pak?
Bagaimana jika kita berjalan-jalan diluar?”
a. Kerja
“Baik pak ayoo kita mulai”
“Nahh disana ada salah satu perawat, ayo pak, bapak coba untuk
berkenalan denga perawat itu”
“Tidak usah takut pak, ayo dicoba dulu”
“ayo pak coba berkenalan dengan perawat itu sama seperti yang kita
praktekkan kemarin”
“Perawat tadi siapa pak namanya?”
“Nahh.. bagus sekali pak”
“Ada lagi yang ingin bapak tanyakan ke perawat S? Coba tanyakan
tentang hobby perawat S”
“kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi ke perawat S, bapak bisa
sudahi perkenalan ini. Lalu bapak bisa buat janji bertemu lagi dengan
perawat S, misalkan jam 2 siang nanti?
“baiklah perawat S, Tn.K sudah selesai berkenalan, saya dan Tn.K kembali
keruangan terlebih dahulu yaa, selamat pagi...”
“Jadi bagaimana pak? Mudah kan untuk berkenalan dengan orang lain?”
“Baiklah pak, untuk sekarang bagaimana kalau kita lanjutkan agenda kita
hari ini?”
b. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana pak setelah mencoba untuk berkenalan degan perawat
lain dan mengikuti kegiatan kelompok?”
- Evaluasi klien (objektif)
Klien mampu berkenalan dengan perawat lain
2. Tindak lanjut klien
“Baik untuk besok kita akan melakukan kegiatan yang akan bapak
sepakati yaa”
3. Kontrak yang akan datang
Topik : “Pertahankan terus ya pak apa yang sudah kita latih hari ini.
Jangan lupa untuk menanyakan hal lain supaya lancar dalam
berkenalan. Misalkan hobby, makanan apa yang disukai dan
sebagainya. Bagaimana? Mau mencoba ke perawat lain? Mari kita

69
masukkan jadwalnya mau berapa kali sehari? Bagaimana jika 2 kali?
Baik nanti bapak coba sendiri yaa. Besok kita latihan lagi”
Waktu: “Untuk waktunya sama yaa pak dengan hari ini”
Tempat: “Untuk tempat bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar
ruangan lagi?”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Masalah : Isolasi Sosial

Hari/Tanggal : Rabu, 12 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 3

Ruangan : Cendrawasih

Nama Klien : Tn.K

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
Klien sudah mampu untuk berinteraksi dengan perawat lain. Klien mampu
berknalan.
b. Diagnosa Keperawatan
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus
- TUK4: klien mampu melaksanakan hubungan sosial
secara bertahap

70
- TUK5 : klien mampu menjelaskan perasaan setelah
berhubungan sosial
d. Tindakan Keperawatan
SP3 Pasien:
a) Mengevaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan 2)
b) Latih ADL (kegiatan sehari-hari), cara berbicara
c) Masukkan kedalan jadwal kegiatan klien
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1. Salam terapeutik
“Selamat pagi bapak...”
2. Evaluasi/Validasi
“Dengan bapak K yaa... apakah bapak masih ingat dengan saya?”
3. Kontrak:
Topik : “ jadi sesuai dengan dengan kesepakatan kemarin yaa pak
kita akan menjadwalkan kegiatan yang akan bapak lakukan untuk
meningkatkan bersosialisasi bapak, kita akan mencoba untuk
berkenalan dengan perawat lainnya”
Waktu : “Untuk waktunya sekitar 15-20 menit saja yaa pak”
Tempat : “Untuk tempai enaknya kita berbincang dimana pak?
Bagaimana jika kita berjalan-jalan diluar lagi?”
c. Kerja
(Bersama-sama dengan Tn.K mendekati pasien/perawat lain)
“selamat pagi perawat B... ini ada pasien yang mau berkenalan dengan
perawat B”
(Klien mendemostrasikan cara berkenalan : memberi salam, menyebutkan
nama, nama panggilan, asal, hobby dan menanyakan hal yang sama)
“Ada lagi yang ingin ditanyakan kepada perawat B?
“Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, bapak bisa sudahi perkenalan hari
ini. Lalu bapak bisa buat janji misalkan jam 1 siang nanti”
(Tn.K membuat janji dengan perawat B)
“Baiklan perawat B, katena Tn.K sudah selesai berkenalan, saya dan Tn.K
akan kembali ke ruangan Tn.K. selamat pagi...”
(Bersama klien meninggalkan perawat B untuk melakukan terminasi
dengan Tn.K di tempat lain)
d. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)

71
“Bagaimana pak untuk kegiatan hari ini? Mudah kan berkenalan
dengan orang lain.”
- Evaluasi klien (objektif)
“Dibandingakn dengan kemarin bapak lebih baik saat berkenalan
dengan perawat B. Jangan lupa untuk bertemu dengan perawat B
jam 1 siang nanti yaa pak”
2. Tindak lanjut klien
“Baik untuk pertemuan yang akan datang kita akan mencoba
berkenalan lagi dengan perawat lainnya bertujuan untuk mengevaluasi
dan mengobservasi keadaan bapak”
3. Kontrak yang akan datang
Topik : “Untuk pertemuan yang akan saya akan mengobservasi dan
mengevaluasi keadaan bapak”
Waktu: “Untuk waktunya hari senin mendatang yaa pak. Untuk jamnya
sama seperti hari ini”
Tempat: “Untuk tempat enaknya kita berbincang dimana pak?”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Masalah : Isolasi Sosial

Hari/Tanggal : Kamis, 13 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 4

Ruangan : Cendrawasih

Nama Klien : Tn.K

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
Klien mampu mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh perawat.
b. Diagnosa Keperawatan
72
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus
- TUK5: klien mampu menjelaskan perasaan setelah
berhubungan sosial
d. Tindakan Keperawatan
1. Mengevaluasi kegiatan yang telah diagendakan
2. Mengobservasi keadaan pasien
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1. Salam terapeutik
“Selamat pagi bapak...”
2. Evaluasi/Validasi
“Dengan bapak K yaa... apakah bapak masih ingat dengan saya?”
3. Kontrak:
Topik : “ jadi sesuai dengan dengan kesepakatan kemarin yaa pak
kita akan mencoba untuk berkenalan dengan perawat lain yang ada
disini ”
Waktu : “Untuk waktunya sekitar 10-15 menit saja yaa pak”
Tempat : “Untuk tempai enaknya kita berbincang dimana pak?
Baiklah kita berbincang disini saja kalu begitu pak?”
e. Kerja
“Bagaimana kabar bapak? Apakah ada kesulitan pada saat melaksanakan
kegiatan yang sudah kita sepakati?”
“Yaa tidak apa-apa pak, dicoba sedikit demi sedikit”
“Bagus sekali pak, bapak sudah mencoba untuk mengikuti kegiatan yang
sudah kita agendakan”
“Bapak sudah mencoba untuk berbincang dengan berapa orang”
“Wahhh... bagus sekali pak”
f. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang hari ini?
Bagaimana pak rasanya setelah mengikuti kegiatan yang sudah kita
agendakan?”
- Evaluasi klien (objektif)
Klien mampu menguraikan kegiatan yang telah diagendakan
2. Tindak lanjut klien
“Baik untuk besok kita akan melakukan kegiatan yang akan kita
sepakati yaa”
3. Kontrak yang akan datang

73
Topik : “Untuk besok kita kita akan mendiskusikan tentang obat yang
bapak konsumsi”
Waktu: “Untuk wantunya sama yaa pak dengan hari ini”
Tempat: “Untuk tempat kita di ruangan saja atau kita keluar ruangan
pak? Baiklah kita akan keluar ruangan yaa pak”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Masalah : Isolasi Sosial

Hari/Tanggal : Senin, 17 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 5

Ruangan : Cendrawasih

Nama Klien : Tn.K

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
Klien mampu mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan oleh perawat
b. Diagnosa Keperawatan
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus
- TUK7: klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
d. Tindakan Keperawatan
1. Mendiskusikan dengan pasien manfaat dan kerugian
tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi, dan efek
samping penggunaan obat.
2. Memantau pasien saat menggunakan obat
3. Mendiskusikan berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter
4. Menganjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter
atau perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi

74
1. Salam terapeutik
“Selamat pagi bapak...”
2. Evaluasi/Validasi
“Dengan bapak K yaa... apakah bapak masih ingat dengan saya?”
3. Kontrak:
Topik : “ jadi sesuai dengan dengan kesepakatan kemarin yaa pak
kita akan mendiskusikan tentang penggunaan obat yang bapak
konsumsi”
Waktu : “Untuk waktunya sekitar 10-15 menit saja yaa pak”
Tempat : “Untuk tempai enaknya kita berbincang dimana pak? Baik
kalau begitu kita keluar ruangan yaa pak?”
g. Kerja
“Bagaimana kabar bapak hari ini?”
“Jadi hari ini kita akan membahas tentang obat yang bapak konsumsi yaa.
Nah ini saya sudah membawa obat yang akan bapak konsumsi”
“ Nah yang ini adalah obat Haloperidol. Obat ini berfungsi untuk
menengkan. Diminum 3x1 sehari setelah makan yaa pak. Untuk efek
samping dari obat ini yaitu keinginan untuk bergerak, gangguan pada
gerakan otot, gerakan tidak terkendali pada lidah, wajah dan bibir, sakit
kepala, dan sulit tidur.”
“Untuk selanjutnya obat Trihexyphenidil (THP). Obat ini berfungsi untuk
mengatasi gejala ekstrapiramidal. Obat ini diminum 3x1 sehari ya pak.
Untuk efek samping obat ini yaitu sulit BAB, sulit BAK, pusing, mulut
kering, pandangan buram, dan merasa mual.
“Nahh untuk obat yang terakhir ini obat Chlorpomazin (CPZ). Obat ini
berfungsi untuk mengatasi gejala psikosis. Diminum 1x1 sehari yaa pak.
Untuk efek sampingnya tangan terasa gemetar, hilang nafsu makan, cemas,
terasa lelah, sulit tidur, pusing, sakit kepala dan jantung terasa berdebar.
“bagaimana pak? Apa bapak sudah paham dengan apa yang saya
jelaskan?”
“Wahh... bagus sekali pak”
“Nahh jika bapak merasa kurang enak dengan obatnya bapak harus
konsultasikan terlebih dahulu yaa ke dokter. Obatnya harus selalu diminum
pak”
“Lalu jika bapak perlu bantuan, bapak bisa minta tolong ke dokter atau
perawat yang ada”
h. Terminasi

75
4. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana pak? Apa bapak sudah memahami apa yang saya
sampaikan?”
- Evaluasi klien (objektif)
Klien mampu memahami apa yang telah disampaikan oleh perawat

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Hari/Tanggal : Jum’at, 14 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 1

Ruangan : Cendrawasih

Nama Keluarga Klien : Ny.N (ibu klien)

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Keluarga Klien
Keluarga klien tidak mengetahui bagaimana kondisi klien. Keluarga juga
tidak mengetahui pentingnya dukungan keluarga untuk mengatasi perilaku
menarik diri klien.
b. Diagnosa Keperawatan Klien
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus
- TUK6: klien mendapatkan dukungan keluarga
dalam memperluas hubungan sosial
d. Tindakan Keperawatan
SP1 Keluarga:

76
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga
dalam merawat klien
b) Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi
sosial serta proses terjadinya
c) Menjelaskan cara merawat klien dengan isolasi
sosial
d) Bermain peran dalam merawat pasien isolasi sosial
(simulasi)
e) Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk
merawat klien

B. Strategi Komunikasi
a.Orientasi
4. Salam terapeutik
“Selamat pagi ibu...”
5. Evaluasi/Validasi
“Apa benar dengan keluarga bapak K? Kalau boleh tau dengan ibu
siapa yaa?”
6. Kontrak:
Topik : “ Jadi untuk hari ini, saya akan menjelaskan beberapa hal
yang berkaitan dengan kondisi bapak K”
Waktu : “Untuk waktunya sekitar 10-15 menit saja yaa Bu”
Tempat : “Untuk tempat enaknya kita berbincang dimana Bu?”
i. Kerja
“Jadi begini bu… apakah ibu mengetahui bagaimana kondisi bapak
sekarang?”
“Jadi bapak sekarang mengalami gangguan isolasi sosial. Isolasi sosial itu
sendiri merupakan keadaan dimana seseorang mengalami penurunan atau
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya.”
“Salah satu tanda dan gejalanya yaitu kliem merasa kesepian, sering
menyendiri atau mengurung diri, susah untuk berinteraksi dengan orang
lain.”
“Untuk penyebab dari gangguan isolasi sosial ini ada beberapa hal. Salah
satunya karena adanya trauma masa lalu. Atau karena merasa dirinya
selalu kurang mampu.”

77
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka seseorang bisa
mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang
sebetulnya tidak ada”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian ibu dan keluarga lainnya
harus sabar menghadapi Tn.K. dan untuk merawat Tn.K, keluarga perlu
melakukan beberapa hal. Pertama, keluarga harus membina hubungan
saling percaya dengan Tn.K yang caranya adalah bersikap peduli dengan
Tn.K dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan
semangat dan dorongan kepada Tn.K untuk melakukan kegiatan bersama-
sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela
kondisi pasien.
“Selanjutnya, jangan biarkan Tn.K sendiri. Buat rencana atau jadwal
bercakap-cakap dengan Tn.K. Misalnya, sholat bersama, makan bersama,
rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah bersama.”
“Nah, bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara
itu?”
“Begini contoh komunikasinya, Ibu: K, ibu lihat sekarang kamu sudah bisa
bercakap-cakap dengan orang lain. Perbincangan juga lumayan lama. Ibu
senang sekali melihat perkembangan kamu nak. Coba kamu berbincang-
bincang dengan saudara yang lain. Lalu dimana? Kalau nanti di rumah,
kamu sholat bersama-sama dengan keluarga atau di musholla kampung.
Bagaimana K? Kamu mau coba kan?”
“Nah, coba sekarang ibu peragakan cara berkomunikasi seperti yang saya
contohkan.”
“Bagus bu, Ibu telah memperagakan dengan baik sekali.”
“Sampai disini ada yang ditanyakan bu?”
j. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Coba ibu ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan
tanda-tanda orang yang mengalami isolasi sosial”
“Selanjutnya bisa ibu sebutkan kembali cara merawat anak ibu
yang mengalami masalah isolasi sosial”
- Evaluasi klien (objektif)

78
Klien mengetahui apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan
bagaimana tanda dan gejalanya.
Klien mampu meperagakan kembali bagaimana cara merawat klien
dengan masalah isolasi sosial.
2. Tindak lanjut klien
“nanti jika bertemu dengan Tn.K coba ibu lakukan. Dan tolong
ceritakan kepada semua keluarga ada mereka juga melakukan hal yang
sama”
3. Kontrak yang akan datang
Topik : “Bagaimana jika pertemuan yang akan datang kita
mempraktekkan langsung dengan Tn.K ”
Waktu: “Baiklah bu, kita akan bertemu 3 hari lagi. Apakah ibu setuju?”
Tempat: “Untuk tempat kita mencoba di luar ruangan saja. Bagaimana
bu? Atau ibu ingin di tempat lain?”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Hari/Tanggal : Senin, 17 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 2

Ruangan : Cendrawasih

Nama Keluarga Klien : Ny.N (ibu klien)

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Keluarga Klien
Keluarga klien sudah mendapatkan penjelasan tentang kondisi klien dan
mengetahui cara merawatnya.
b. Diagnosa Keperawatan Klien
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus

79
- TUK6: klien mendapatkan dukungan keluarga
dalam memperluas hubungan sosial
d. Tindakan Keperawatan
SP2 Keluarga:
a) Mengevaluasi kemampuan keluarga (SP1)
b) Melatih keluarga merawat langsung klien dengan
isolasi sosial
c) Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk
merawat klien
B. Strategi Komunikasi
a. Orientasi
1. Salam terapeutik
“Selamat pagi ibu...”
2. Evaluasi/Validasi
“Apa benar dengan keluarga bapak K?

3. Kontrak:
Topik : “ Jadi untuk hari ini, mari kita praktekkan langsung ke
Tn.K. ”
Waktu : “Berapa lama waktunya Bu? Baik kita coba 30 menit”
Tempat : “Baiklah sekarang mari temui Tn.K?”
k. Kerja
“Selamat pagi bapak K. Bagaimana perasaannya hari ini?”
“Ibu bapak K datang membesuk. Beri salam! Bagus. Tolong bapak K
tunjukkan jadwal kegiatannya” (kemudian saudara berbicara dengan
keluarganya)
“Nah bu, sekarang ibu bisa mempraktekkan cara merawat pasien seperti
yang sudah kita latihan beberapa hari yang lalu” (saudara mengobservasi
keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatih
pada pertemuan sebelumnya)
“Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan ibu
bapak?”
“baiklah sekarang saya dan ibu bapak ke ruang perawat dulu yaa”
l. Terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita latihan? Ibu sudah bagus”
- Evaluasi klien (objektif)

80
Klien mampu menguraikan perasaannya setelah mempraktekkan
cara merawat klien.
2. Tindak lanjut klien
“Mulai sekarang ibu sudah bisa bagaimana cara merawat Tn.K.”
3. Kontrak yang akan datang
Topik : “Untuk pertemuan mendatang, kita akan mendiskusikan
pengalaman ibu melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari ”
Waktu: “Baiklah bu, kita akan bertemu 3 hari lagi. Apakah ibu setuju?”
Tempat: “Untuk tempatnya sama seperti hari ini yaa?”

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

(SPTK)

Hari/Tanggal : Kamis, 20 Juni 2019

Pukul :08.00 WIB

Pertemuan : Ke – 3

Ruangan : Cendrawasih

Nama Keluarga Klien : Ny.N (ibu klien)

A. Proses Keperawatan
a. Kondisi Keluarga Klien dan Klien
Keluarga klien sudah mengerti cara merawat klien dirumah dan sudah
dilatih langsung ke klien. Kondisi klien sudah mapu memulai interaksi
aktif dengan orang lain, dan sudah mampu mengikuti kegiatan harian di
ruangan.
b. Diagnosa Keperawatan Klien
Isolasi soial
c. Tujuan Khusus

81
- TUK6: klien mendapatkan dukungan keluarga
dalam memperluas hubungan sosial
d. Tindakan Keperawatan
SP3 Keluarga:
1. Evaluasi kemampuan keluarga.
2. Evaluasi kemampuan klien.
3. Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up
dan rujukan.
B. Strategi Komunikasi
b. Orientasi
4. Salam terapeutik
“Selamat pagi ibu...”
5. Evaluasi/Validasi
“Apa benar dengan keluarga bapak K?
6. Kontrak:
Topik : “ Karena besok bapak K sudah boleh pulang, maka perlu
kita bicarakan perawatan dirumah. ”
Waktu : “Berapa lama waktunya Bu? Baik kita coba 30 menit”
Tempat : “Bagaimana jika kita berbicara disini saja bu?”
m. Kerja
“Ibu, ini jadwal bapak K selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah
dilanjutkan di rumah? Di rumah ibu yang menggantikan perawat.
Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun minum
obatnya.”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang
ditampilkan oleh anak ibu dirumah. Misalnya kalau bapak K terus menerus
tidak mau bergaul dengan orang lain, menolah minum obat atau
meperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi
segera hubungi perawat F di puskesmas..., puskesmas terdekat dari rumah
ibu, ini nomor teleponnya...”
“selanjutnya perawat F tersebut yang akan memantau perkembangan
bapak K selama dirumah”
n. Terminasi
4. Evaluasi respon klien terhadap tindakan
keperawatan
- Evaluasi klien (subjektif)
“Bagaimana bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian
bapak K untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di

82
puskesma... jangan lupa kontrol ke puskesmas sebelum obat habis
atau ada gejala yang tampak. Silahkan ke administrasi”
- Evaluasi klien (objektif)
Klien mampu memahami apa yang disampaikan oleh perawat

BAB VIII
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

A. Topik:

TAK Sosialisasi:
Sesi 1 : Kemampuan memperkenalkan diri
Sesi 2 : Kemampuan berkenalan
Sesi 3 : Kemampuan bercakap-cakap
Sesi 4 : Kemampuan bercakap-cakap dengan topik tertentu
Sesi 5 : Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
Sesi 6 : Kemampuan bekerja sama
Sesi 7 : Evaluasi kemampuan bersosialisasi

B. Tujuan:

1. Tujuan Umum:

Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara


bertahap

2. Tujuan Khusus:

a. Klien mampu memperkenalkan diri


b. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
c. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota
kelompok
d. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan
topik
e. Klien mampu bercakap-cakap tentang masalah
pribadi pada orang lain

83
f. Klien mampu bekerja sama dalam permainan
sosialisasi kelompok
g. Klien mampu menyampikan pendapat tentang
manfaat kegiatan tentang TAKS yang telah dilakukan.
h.

C. Landasan Teori
Sosialisasi adalah kemampuan untuk berhubungan dan berinteraksi
dengan orang lain (Gail W. Stuart, 2007). Penurunan sosialisasi dapat terjadi pada
individu yang menarik diri, yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan
orang lain (Rowlins). Dimana individu yang mempunyai mekanism e koping
adaptif, maka peningkatan sosialisasi lebih mudah dilakukan. Sedangkan individu
yang mempunyai mekanisme koping maladaptif bila tidak segera mendapatkan
terapi atau penanganan yang baik akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih
banyak dan lebih buruk. (Keliat dan Akemat, 2005)

Hampir di seluruh dunia terdapat sekitar 450 juta (11%) orang yang
mengalami mekanisme koping maladaptif (ringan sampai berat) (WHO, 2006).
Hasil survey Kesehatan Mental Rumah Tangga di Indonesia menyatakan bahwa
185 orang per 1000 penduduk di Indonesia mengalami mekanisme koping
maladaptif (ringan sampai berat). Berdasarkan survey di rumah sakit jiwa,
masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah menarik diri (17,91
%), halusinasi (26,37 %), perilaku kekerasan (17,41 %), dan harga diri rendah
(16,92 %) (Pikiran Rakyat Bandung, 2007).

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh menarik diri pada klien isolasi
sosial adalah ; 1) Kerusakan komunikasi verbal dan non verbal, 2) Gangguan
hubungan interpersonal, 3) Gangguan interaksi sosial, 4) resiko perubahan
persepsi sensori (halusinasi). Bila klien menarik diri tidak cepat teratasi maka
akan dapat membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain (Budi
Anna Kelliat, 2006)

Penatalaksanaan klien dengan riwayat menarik diri dapat dilakukan


salah satunya dengan pemberian intervensi Terapi Aktivitas Kelompok sosialisasi,

84
yang merupakan salah satu terapi modalitas keperawatan jiwa dalam sebuah
aktifitas secara kolektif dalam rangka pencapaian penyesuaian psikologis, prilaku
dan pencapaian adaptasi optimal pasien. Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)
sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan klien dalam meningkatkan
sosialisasi

D. Klien
1. Kriteria pasien
a. Pasien dengan isolasi sosial menarik diri dengan
kondisi mulai menunjukkan kamauan untuk melakukan interaksi
interpersonal
b. Pasien dengan kerusakan komunikasi verbal yang
telah berespons sesuai dengan stimulus yang diberikan.
2. Proses seleksi
a. Mengidentifikasi pasien yang masuk kriteria
b. Mengumpulkan pasien yang masuk kriteria
c. Membuat kontrak dengan pasien yang setuju ikut
TAK, meliputi: menjelaskan tujuan TAK pada pasien, rencana
kegiatan kelompok dan aturan main dalam kelompok.

E. Pengorganisasian
1. Waktu dan tempat:
a. Tempat: Ruang Cendrawasih
b. Jam: 10:00 s.d 10:45 WIB
c. Alokasi waktu:
Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
2. Tim terapis:
Leader: Rivaldo

Tugas:

- Menyiapkan proposal kegiatan TAK

85
- Menyampaikan tujuan dan peraturan
kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai.
- Menjelaskan permainan.
- Mampu memotivasi anggota untuk aktif
dalam kclompok dan memperkenalkan dirinya.
- Mampu memimpin tcrapi aktilitas kelompok
dengan baik dan tertib
- Menetralisir bila ada masalah yang timbul
dalam kelompok

Co Leader: Aris

Tugas:

- Mendampingi leader
- Menyampaikan informasi dari fasilitator ke
leader tentang altiviatas pasien
- Mengingatkan leader jika kegiatan
menyimpang dari perencanaan yang telah dibuat
- Mengambil alih posisi leader jika leader
mengalami blocking dalam proses terapi

Fasilitstor: Ristia, Sela, Laila

Tugas:

- Menyediakan fasilitas selama kegiatan


berlangsung.
- Memotivasi klien yang kurang aktif.
- Memfalitasi dan memberikan stimulus dan
motivator pada anggota kelompok untuk aktif mengikuti
jalanya terapi.

Observer : Ani

Tugas:

- Mengobservasi jalanya proses kegiatan

86
- Mengamati serta mencatat prilaku verbal
dan non-verbal pasien selama kegiatan berlangsung (dicatat
pada format yang tersedia)
- Mengawasi jalanya aktivitas kelompok dari
mulai persiapan, proses, hingga penutupan.
-

3. Setting tempat:

Leader
Co Leader

Pasien Pasien

Pasien Pasien

Fasilitator Fasilitator

Observer
Pasien Pasien

Keterangan Gambar :

L : Leader

CL :Co-Leader

F :Fasilitator

O :Observer

P :Pasien

4. Metode dan media:


Metode:
a. Dinamika kelompok

87
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Bermain peran/ simulasi

Media/alat:

- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Kartu nama/ name tag
- Jadwal kegiatan klien

TAK SOSIALISASI

SESI 1: KEMAMPUAN MEMPERKENALKAN DIRI

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Rabu, 12 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan:
Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap,
nama panggilan, asal dan hobi.
3. Setting
- Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran
- Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan

88
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik : salam dari terapis
b. Evaluasi/validasi : menanyakan perasaan klien saat
ini
c. Kontrak :
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu
memperkenalkan diri.
2) Menjelaskan aturan main/terapi :
- Jika ada klien yang meninggalkan
kelompok harus minta izin kepada terapis.
- Lama kegiatan 45 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari
awal sampai selesai
2. Tahap kerja
a. Jelaskan kegiatan, yaitu hidupkan laptop dan play
musik serta bola diedarkan berlawanan dengan arah jarum jam
(yaitu kearah kiri) dan pada saat musik dimatikan maka anggota
kelompok yang memegang bola memperkenalkan dirinya.
b. Hidupkan musik kembali dan edarkan bola
berlawanan dengan arah jarum jam
c. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang
memegang bola mendapat giliran untuk menyebutkan : salam,
nama lengkap , nama panggilan, hobi, dan asal, dimulai oleh terapis
sebagai contoh.
d. Tulis nama panggilan pada kertas/papan nama dan
tempel/pakai.
e. Ulangi b, c, dan d sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
f. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota
kelompok dengan memberi tepuk tangan.
3. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan klien setelah
mengikuti tak
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut

89
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok
melatih memperkenalkan diri pada orang lain di kehidupan
sehari-hari.
2) Memasukan kegiatan memperkenalkan diri
pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati kegiatan berikut, yaitu
berkenalan dengan anggota kelompok
2) Menyepakati waktu dan tempat
3)

TAK SOSIALISASI

SESI 2: KEMAMPUAN BERKENALAN DIRI

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Kamis, 13 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan
Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok :
a. Memperkenalkan diri sendiri : nama lengkap, nama
panggilan, asal dan hobi.
b. Menanyakan diri anggota kelompok lain : nama
lengkap, nama panggilan, asal dan hobi.
3. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan

90
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik
- Salam dari terapis
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah telah mencoba
memperkenalkan diri pada orang lain.
c. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu
berkenalan dengan anggota kelompok.
- Menjelaskan aturan main berikut : Jika ada
klien yang meninggalkan kelompok harus minta izin kepada
terapis, lama kegiatan 45 menit, setiap klien mengikuti
kegiatan dari awal sampai selesai
2. Tahap kerja
a. Hidupkan laptop dan play musik dan edarkan bola
berlawanan dengan arah jarum jam
b. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang
memegang bola mendapat giliran untuk berkenalan dengan anggota
kelompok yang ada disebelah kanan dengan cara :
- Memberi salam
- Menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal
dan hobi.
- Menanyakan nama lengkap, nama panggilan, asal
dan hobi lawan bicara.
- Dimulai oleh terapis sebagai contoh
c. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
d. Hidupkan kembali musik dan edarkan bola. Pada
saat musik dimatikan, minta pada anggota kelompok yang
memegang bola untuk memperkenalkan anggota kelompok yang
disebelah kanannya kepada kelompok, yaitu : nama lengkap, nama
panggilan, asal dan hobi. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.
e. Ulangi d sampai semua anggota mendapat giliran
f. Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota
kelompok dengan memberi tepuk tangan.

91
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
1) menanyakan perasaan klien setelah
mengikuti TAK
2) memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
1) menganjurkan tiap anggota kelompok
latihan berkenalan
2) memasukan kegiatan berkenalan pada
jadwal kegiatan harian klien
c. Kontrak yang akan datang
1) Menyepakati kegiatan berikut, yaitu
bercakap-cakap tentang kehidupan pribadi
2) Menyepakati waktu dan tempat
3)

TAK SOSIALISASI

SESI 3: KEMAMPUAN BERCAKAP-CAKAP

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Kamis, 14 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan
Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok :
a. Menanyakan kehidupan pribadi kepada 1 orang anggota
kelompok
b. Menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi
3. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode

92
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Memberi salam terapeutik
- Salam dari terapis
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah telah mencoba
berkenalan pada orang lain.
c. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bertanya
dan menjawab tentang kehidupan pribadi
- Menjelaskan aturan main berikut: Jika ada
klien yang meninggalkan kelompok harus minta izin kepada
terapis, lama kegiatan 45 menit dan setiap klien mengikuti
kegiatan dari awal sampai selesai
2. Tahap kerja
a. Hidupkan laptop dan play musik dan edarkan bola
berlawanan dengan arah jarum jam
b. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang
memegang bola mendapat giliran untuk bertanya tentang kehidupan
pribadi anggota kelompok yang ada disebelah kanan dengan cara :
- Memberi salam
- Memanggil panggilan
- Menanyakan kehidupan pribadi : orang
terdekat/dipercayai/ disegani, pekerjaan.
- Dimulai oleh terapi sebagai contoh
- Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
- Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota
kelompok dengan memberi tepuk tangan.
c. Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi

93
1) Menanyakan perasaan klien setelah
mengikuti TAK
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana Tindak Lanjut
1) Menganjurkan tiap anggota kelompok
bercakap-cakap tantang kehidupan pribadi dengan orang lain
pada kehidupan sehari-hari.
2) Memasukan kegiatan bercakap-cakap pada
jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak Yang Akan Datang
1) menyepakati kegiatan berikut, yaitu
menyampaikan dan membicarakan topik tertentu.
2) menyepakati waktu dan tempat
3)

TAK SOSIALISASI

SESI 4: KEMAMPUAN BERCAKAP-CAKAP TOPIK TERTENTU

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan
Klien mampu menyampaikan topik pembicaraan tertentu dengan anggota
kelompok :
a. Menyampaikan topik yang ingin dibicarakan
b. Memilih topik yang ingin dibicarakan
c. Memberi pendapat tentang topik yang dipilih
3. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode

94
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Salam terapeutik
- Memberi salam terapeutik
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah telah latihan bercakap-
cakap dengan orang lain.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu
menyampaikan, memilih, dan memberi pendapat tentang
topik percakapan.
2) Menjelaskan aturan main berikut :
- Jika ada klien yang meninggalkan kelompok
harus minta izin kepada terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal
sampai selasai
2. Tahap kerja
a. Hidupkan laptop dan play musik dan edarkan bola
berlawanan dengan arah jarum jam.
b. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang
memegang bola mendapat giliran untuk menyampaikan satu topik
yang ingin dibicarakan. Dimulai oleh terapis sebagai contoh.
Misalnya, ”cara bicara yang baik” atau ”cara mencari teman”.
c. Tuliskan pada flipchart atau white board topik yang
disampaikan secara berurutan.
d. Ulangi a, b, dan c sampai semua anggota kelompok
menyampaikan topik yang ingin dibicarakan.
e. Hidupkan kembali musik dan edarkan bola. Pada
saat musik dimatikan, minta pada anggota kelompok yang
memegang bola untuk memilih topik yang disukai untuk
dibicarakan dari daftar yang ada.

95
f. Ulangi sampai semua anggota kelompok memilih
topik.
g. Terapis membantu menetapkan topik yang paling
banyak dipilih.
h. Hidupkan kembali musik dan edarkan bola. Pada
saat musik dimatikan, minta pada anggota kelompok yang
memegang bola untuk menyampaikan pendapat tentang topik yang
dipilih.
i. Ulangi sampai semua anggota kelompok
menyampaikan pendapat.
j. Beri pujian untuk tiap keberhasilan anggota
kelompok dengan memberi tepuk tangan.
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
- menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
- memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
- menganjurkan setiap anggota kelompok latihan
bercakap-cakap tentang topik tertentu dengan orang lain
- memasukan kegiatan bercakap-cakap topik tertentu
pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
- menyepakati kegiatan berikut, yaitu bercakap-cakap
masalah pribadi.
- menyepakati waktu dan tempat

TAK SOSIALISASI

SESI 5: KEMAMPUAN BERCAKAP-CAKAP MASALAH PRIBADI

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Minggu,16 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih

96
2. Tujuan
Pasien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan
orang lain
3.Setting
a.Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam lingkaran.
b.Ruangan nyaman dan tenang
4.Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Salam terapeutik
- Memberi salam terapeutik
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah telah latihan bercakap-
cakap topik tertentu dengan orang lain.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu
menyampaikan masalah pribadi yang ingin dibicarakan.
2) Menjelaskan aturan main berikut :
- Jika ada klien yang meninggalkan kelompok
harus minta izin kepada terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal
sampai selasai
2. Tahap kerja
a. Hidupkan laptop dan play musik dan edarkan bola
berlawanan dengan arah jarum jam.
b. Pada saat musik dimatikan, anggota kelompok yang
memegang bola mendapat giliran untuk memilih masalah yang
ingin dibicarakan.

97
c. Tuliskan pada flipchart atau white board masalah
yang disampaikan secara berurutan.
d. Ulangi a, b, dan c sampai semua anggota kelompok
menyampaikan masalah yang ingin dibicarakan.
e. Hidupkan kembali musik dan edarkan bola. Pada
saat musik dimatikan, minta pada anggota kelompok yang
memegang bola untuk memilih masalah yang ingin dibicarakan.
f. Ulangi e sampai semua anggota kelompok
memiliki giliran.
g. Terapis membantu menentukan topik yang paling
banyak.
h. Hidupkan lagi musik dan edarkan bola. Saat musik
dihentikan peserta yang sedang memegang bola tennis
mendapatkan giliran untuk memberi pendapat tentang topik yang
telah ditentukan.
i. Ulangi g sampai semua mendapatkan giliran

j. Terapis memberikan pujian, setiap kali pasien


selesai menceritakan perasannya
3. Terminasi
a. Evaluasi
- menanyakan perasaan klien setelah
mengikuti TAK
- memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
- menganjurkan agar pasien bercakap-cakap
tentang masalah pribadi dengan orang lain
- memasukan kegiatan menyampaikan
masalah pribadi pada jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
- menyepakati kegiatan berikut, yaitu
bekerjasama.
- menyepakati waktu dan tempat

TAK SOSIALISASI

98
SESI 6: KEMAMPUAN BEKERJA SAMA

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Senin, 17 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan
Pasien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok
1. Bertanya dan meminta sesuai dengan kebutuhan
pada orang lain.
2. Menjawab dan memberi pada orang lain
3. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam
lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Salam terapeutik
- Memberi salam terapeutik
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah telah latihan tentang
masalah pribadi dengan orang lain.
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bekerja
sama dengan anggota kelompok.
2) Menjelaskan aturan main berikut :

99
- Jika ada klien yang meninggalkan kelompok
harus minta izin kepada terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal
sampai selasai
2. Tahap kerja
a. Terapis membagi 4 buah kartu kwartet pada
setiap anggota sisanya diletakkan diatas meja
b. Terapis meminta tiap anggota menyusun
kartu sesuai serinya
c. Terapis menyalakan tape dan mengedarkan
bola lalu menghentikan. Saat musik dihentikan peserta yang
sedang memegang bola tennis memulai permainan dengan cara:
1) Meminta kartu yang dibutuhkan kepada
anggota kelompok disebalah kanannya.
2) Jika kartu yang dipegangnya telah lengkap
maka diumumkan pada kelompok dengan membaca judul
dan subjudul
3) Jika kartu yang dipegang tidak lengkap
maka diperkenankan mengambil kartu yang berada diatas
meja
4) Jika anggota kelompok memberikan kartu
yang dipegang pada yang meminta ia berhak mengambil
satu kartu yang berada diatas meja
5) Setiap menerima kartu diminta
mengucapkan terima kasih
d. Ulangi langkah b, c, jika 2) dan 3) terjadi
pada setiap anggota kelompok.
e. Terapis memberikan pujian untuk tiap kali
keberhasilan pasien
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
- menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
- memberi pujian atas keberhasilan kelompok
b. Rencana tindak lanjut
- menganjurkan setiap anggota kelompok latihan
bekerja sama

100
- memasukan kegiatan bekerja sama pada jadwal
kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
- menyepakati kegiatan berikut, yaitu evaluasi TAKS.
- menyepakati waktu dan tempat
-

TAK SOSIALISASI

SESI 7: EVALUASI KEMAMPUAN BERSOSIALISASI

1. Pelaksanaan
a. Hari/Tanggal : Selasa, 18 Juni 2019
b. Waktu : 10.00 – 10.45 WIB
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (10 menit)
Terapi kelompok (30 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruang Cendrawasih
2. Tujuan
Pasien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan kelompok
yang telah dilakukan
3. Setting
a. Klien dan terapis/leader duduk bersama dalam
lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang
4. Alat
- Laptop
- Musik/ lagu
- Bola
- Buku catatan dan pulpen
- Jadwal kegiatan klien
5. Metode
- Dinamika kelompok
- Diskusi dan tanya jawab
- Bermain peran/simulasi
6. Langkah kegiatan
1. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan :
a. Salam terapeutik
- Memberi salam terapeutik
- Peserta dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini

101
- Menanyakan apakah telah latihan bekerja
sama
c. Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu evaluasi
TAKS.
2) Menjelaskan aturan main berikut :
- Jika ada klien yang meninggalkan kelompok
harus minta izin kepada terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Masing-masing dapat menyampaikan
manfaat 6 kali pertemuan TAKS
2. Tahap kerja
a. Musik akan dinyalakan. Saat musik terdengar bola
dipindahkan dari satu peserta ke peserta lain.
b. Saat musik dihentikan peserta yang sedang
memegang bola menyebutkan manfaat 6 kali pertemuan TAKS.
c. Ulangi langkah a dan b sampai semua paserta
mendapat giliran.
d. Terapis memberikan pujian untuk tiap kali peserta
berhasil
3. Tahap Terminasi
a. Menanyakan perasaan pasien setelah mengikuti
TAK
b. Memberi pujian atas pencapaian kelompok
c. Menyimpulkan 6 kemampuan pada 6 kali
pertemuan yang lalu
d. Menganjurkan agar pasien melatih diri untuk 6
kemampuan yang telah dimiliki
e. Penkes keluarga agar memberi dukungan pada
pasien
f. Membuat kontrak kembali untuk evaluasi
kemampuan secara periodik

102