Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

PSAK 71 : INSTRUMEN KEUANGAN

OLEH

KELOMPOK 2 :

1. ATIKAH MAHARANI (1610533002)

2. CINDY NABILA (1610533004)

3. JACKY LEO SANDRI (1610531009)

4. WAHYU YOLANDA (1610531006)

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan
karunianya sehingga kami, Kelompok 2 dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul
“PSAK 71 : Instrumen Keuangan” dengan tepat waktu.

Selanjutnya, kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat ketidak
sempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon kerjasamanya agar pembaca bersedia memberikan
kritik dan saran untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak dan referensi yang kami gunakan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Padang, Januari 2020


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Instrumen keuangan adalah suatu kontrak yang menambah nilai aset keuangan suatu
entitas dan kewajiban keuangan atau instrumen ekuitas dari entitas lain (IAI, 2012). Ada
beberapa instrumen keuangan banyak digunakan oleh perusahaan seperti perdagangan
piutang dagang, obligasi, saham biasa dan saham preferen. Tetapi ada beberapa instrumen
lain yang sangat kompleks dan penggunaan instrumen tersebut digunakan oleh manajer untuk
kepentingan pajak, untuk melakukan lindung nilai aset atau liabilitas dari suatu entitas
terhadap risiko pasar seperti suku bunga, dan lindung nilai valuta asing dan digunakan untuk
membuat laporan keuangan agar terlihat baik (Wolk et al.,2013).
Pasar global telah berubah secara pesat yang mengakibatkan perkembangan
perdagangan internasional seperti impor, ekspor, dan aktivitas pasar modal semakin dinamis
sehingga dapat meningkatkan tingkat risiko pada perusahaan dan investor. Salah satu risiko
yang paling penting yang terkait dengan perdagangan internasional dan investasi adalah
ketidakpastian tentang masa depan nilai tukar mata uang asing dan tingkat suku bunga.
Perubahan di pasar keuangan global dan terkait inovasi keuangan telah menyebabkan
meningkatnya penggunaan instrumen keuangan untuk mengurangi risiko dengan cara lindung
nilai yang timbul dari perubahan kedua nilai tukar dan suku bunga. Masalah utama dengan
instrumen ini adalah standar akuntansi tidak terus berpacu dengan perubahan. Bagaimanapun
sangat penting untuk meningkatkan informasi keuangan tentang derivatif dan kegiatan terkait
(Wilson et al., 1997). Pada laporan posisi keuangan bank umum hampir seluruhnya terdiri
dari instrumen keuangan. Pengukuran nilai wajar dari instrumen keuangan seperti investasi
yang dimiliki hingga jatuh tempo, pinjaman kredit, tabungan deposito, kewajiban keuangan
lainnya dan bermacam-macam jenis dari derivatif keuangan akan menghasilkan keuntungan
dan kerugian yang belum direalisasi yang merupakan bagian dari operasional bank dan
strategi risiko manajemen (Hodder et al., 2006). Oleh karena itu diperlukan adanya peraturan
yang mengatur tentang instrumen keuangan agar dapat memberikan informasi yang
menggambarkan kinerja entitas dan bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan
didalam pengambilan keputusan.
Agar bermanfaat, informasi akuntansi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pengguna laporan keuangan (investor, kreditor, dan calon kreditor) dalam proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat memengaruhi
keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan dengan membantu mereka mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi, hasil evaluasi
pengguna di masa lalu. Misalnya ketika pengguna laporan keuangan berusaha meramalkan
kemampuan entitas dalam memanfaatkan peluang dan bereaksi dalam situasi yang merugikan
(IAI, 2012). Sehingga pada proses penyajian dan pengungkapan instrumen keuangan harus
sesuai dengan standar-standar akuntansi yang berlaku yaitu PSAK No.50 tentang penyajian
instrumen keuangan, PSAK No.55 tentang pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan menurut PSAK 71
2. Bagaimana penurunan nilai menurut PSAK 71?
3. Bagaimana Akuntansi lindung nilai menurut PSAK 71?

1.3 Tujuan Masalah


1. Menjelaskan klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan menurut PSAK 71
2. Menjelaskan penurunan nilai menurut PSAK 71
3. Menjelaskan akuntansi lindung nilai menurut PSAK 71

1.4 Manfaat
1. Untuk mengetahui klasifikasi dan pengukuran instrumen keuangan menurut PSAK
71
2. Untuk mengetahui penurunan nilai menurut PSAK 71
3. Untuk mengetahui akuntansi lindung nilai menurut PSAK 71
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PSAK 71
PSAK 71 "Instrumen Keuangan" yang merupakan adopsi dari IFRS 9 Financial
Instruments, berlaku efektif pada 1 Januari 2020. PSAK ini menggantikan PSAK 55
"Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran" dan membawa perubahan signifikan atas:

(1) Klasifikasi dan pengukuran

(2) Penurunan nilai

(3) Akuntansi lindung nilai.

Secara internasional, standar ini efektif pada 1 Januari 2018, sehingga bagi entitas anak
atau asosiasi dari suatu perusahaan luar negeri yang sudah menerapkan IFRS 9 perlu
menyediakan informasi tambahan (penyesuaian) untuk kepentingan informasi keuangan grup
serta untuk persiapan penerapannya secara lokal.

B. TUJUAN DAN RUANG LINGKUP

Tujuan
Tujuan PSAK 71 adalah untuk menetapkan prinsip untuk pelaporan keuangan atas aset
keuangan dan liabilitas keuangan yang akan menyajikan informasi relevan dan berguna bagi
pengguna laporan keuangan untuk melakukan penilaian terhadap jumlah, waktu dan
ketidakpastian arus kas masa depan entitas.

Ruang Lingkup
Pernyataan ini diterapkan oleh semua entitas untuk seluruh jenis instrumen keuangan,
kecuali untuk:
a. Penyertaan pada entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura.
b. Hak dan kewajiban dalam sewa yang diatur dalam PSAK 30 (revisi 2007)
c. Hak dan kewajiban pemberi kerja berdasarkan program imbalan kerja yang diatur
dalam PSAK 24 (revisi 2010): Imbalan Kerja.
d. Instrumen keuangan terbitan entitas yang memenuhi definisi instrumen ekuitas yang
diatur dalam PSAK 50 (revisi 2010)
e. Hak dan kewajiban yang timbul dalam (i) kontrak asuransi sesuai dengan PSAK 62:
Kontrak Asuransi, selain hak dan kewajiban penerbit timbul karena kontrak asuransi
yang memenuhi definisi kontrak penjaminan keuangan dalam paragraf 08, atau (ii)
kontrak dalam ruang lingkup PSAK 62 karena kontrak tersebut berisi fitur partisipasi
tidak mengikat.
f. Kontrak antara pengakuisisi dan penjual dalam kombinasi bisnis untuk menjual atau
membeli perusahaan yang diakuisisi (acquiree) di masa depan.
g. Komitmen pinjaman yang diberikan selain dari yang dijabarkan dalam paragraf 03.
Penerbit komitmen pinjaman menerapkan PSAK 57 (revisi 2009)
h. Instrumen keuangan, kontrak dan kewajiban dalam transaksi kompensasi berbasis
saham yang masuk dalam ruang lingkup PSAK 53 (revisi 2011)
i. Hak atas pembayaran untuk penggantian pengeluaran entitas yang diperlukan untuk
menyelesaikan liabilitas yang diakui sebagai provisi sesuai dengan PSAK 57 (revisi
2009), atau untuk periode yang lebih awal, diakui sebagai provisi sesuai dengan
PSAK 57.

C. DEFINISI INSTRUMEN KEUANGAN


Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai aset keuangan entitas
dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas entitas lain. Aset keuangan meliputi setiap aset
yang menimbulkan hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan
lainnya. Liabilitas keuangan meliputi setiap kewajiban kontrak untuk membayar kas atau aset
keuangan. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset
suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya.

D. KLASIFIKASI INSTRUMEN KEUANGAN

Klasifikasi Aset Keungan


Entitas mengklasifikasikan aset keuangan sehingga setelah pengakuan awal aset
keuangan diukur pada biaya perolehan diamortisasi, nilai wajar melalui penghasilan
komprehensif lain atau nilai wajar melalui laba rugi, dengan menggunakan dua dasar, yaitu :

a. Model bisnis entitas dalam mengelola aset keuangan

Model bisnis entitas mengacu pada bagaimana entitas mengelola aset keuangan
untuk menghasilkan arus kas. Artinya, model bisnis entitas menentukan apakah arus
kas akan dihasilkan dari memperoleh arus kas kontraktual, menjual aset keuangan
atau keduanya. Aset keuangan yang dimiliki dalam model bisnis yang bertujuan
untuk memiliki aset untuk memperoleh arus kas kontraktual dikelola untuk
merealisasi arus kas dengan mengumpulkan pembayaran kontraktual selama umur
instrumen. Artinya, entitas mengelola aset yang dimiliki dalam portofolio untuk
memperoleh arus kas kontraktual tertentu. Dan entitas dapat memiliki aset keuangan
dalam model bisnis yang tujuannya tercapai dengan memperoleh arus kas
kontraktual dan menjual aset keuangan. Dalam model bisnis jenis ini, personil
manajemen kunci entitas telah membuat keputusan bahwa memperoleh arus kas
kontraktual dan menjual aset keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan
untuk mencapai tujuan model bisnis.

b. Karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan.

Karakteristik arus kas kontraktual tidak mempengaruhi klasifikasi aset keuangan


jika hanya memiliki efek de minimis pada arus kas kontraktual dari aset keuangan.
Untuk membuat penentuan ini, suatu entitas harus mempertimbangkan efek yang
mungkin terjadi dari karakteristik arus kas kontraktual pada setiap periode pelaporan
dan secara kumulatif selama umur instrumen keuangan. Sebagai tambahan, jika
karakteristik arus kas kontraktual dapat berpengaruh pada arus kas kontraktual yang
lebih dari de minimis (baik dalam periode pelaporan tunggal maupun secara
kumulatif) tetapi karakteristik arus kas tidak sah, itu tidak mempengaruhi klasifikasi
aset keuangan. Karakteristik arus kas tidak sah jika mempengaruhi arus kas
kontraktual instrumen hanya ketika terjadinya peristiwa yang sangat langka, sangat
tidak normal dan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.

Klasifikasi Liabilitas Keungan

Entitas mengklasifikasikan seluruh liabilitas keuangan setelah pengakuan awal diukur


pada biaya perolehan diamortisasi, kecuali :

a. liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi. Liabilitas tersebut, termasuk
derivatif yang merupakan liabilitas, selanjutnya akan diukur pada nilai wajar.

b. liabilitas keuangan yang timbul ketika pengalihan aset keuangan tidak memenuhi
syarat penghentian pengakuan atau ketika pendekatan keterlibatan berkelanjutan
diterapkan.
c. kontrak jaminan keuangan.

d. komitmen untuk menyediakan pinjaman dengan suku bunga di bawah pasar.

e. imbalan kontinjensi yang diakui oleh pihak pengakuisisi dalam kombinasi

f. bisnis di mana PSAK 22 diterapkan.

Derivatif Melekat

Derivatif melekat merupakan suatu komponen dari hybrid contract (kontrak hibrida)
yang di dalamnya termasuk kontrak utama nonderivatif, dengan efek pada arus kas dari
instrumen yang dikombinasikan berbeda daripada pola yang sama dengan derivatif yang
berdiri sendiri. Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang
dipersyaratkan dalam kontrak dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan, antara
lain: suku bunga, harga instrumen keuangan, harga komoditas, kurs valuta asing, indeks harga
atau indeks suku bunga, peringkat kredit atau indeks kredit, atau variabel lain. Untuk variabel
nonkeuangan, variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam kontrak. Derivatif
yang dilekatkan pada instrumen keuangan tetapi dalam kontraknya dapat dipindah tangankan
secara terpisah dari instrumen keuangannya, bukan merupakan derivatif melekat, tetapi
merupakan instrumen keuangan terpisah.

E. PENGUKURAN INSTRUMEN KEUANGAN

Pengukuran Awal
Pada saat pengakuan awal, entitas pada umumnya mengukur aset keuangan dan liabilitas
menggunakan akuntansi tanggal transaksi pada nilai wajar ditambah biaya transaksi (fair
value plus transaction costs), kecuali aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba
rugi. Aset keuangan dan liabilitas yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi pada
awalnya hanya diakui pada nilai wajar (fair value). Biaya transaksi (transaction costs) adalah
biaya-biaya tambahan, seperti biaya pendaftaran dan komisi lain yang ditetapkan, biaya yang
dibayarkan kepada penasehat hukum, akuntan, dan penasehat profesional lain, biaya
percetakan dan meterai.

Pengukuran Selanjutnya Aset Keuangan


Setelah pengakuan awal, entitas mengukur aset keuangan sesuai klasifikasi aset
keuangan :
a. Biaya perolehan diamortisasi
Biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan dari aset
atau liabilitas setelah disesuaikan, jika layak, untuk mencapai suatu suku bunga
efektif yang konstan selama umur aset atau liabilitas. Dengan kata lain, biaya
perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas keuangan adalah jumlah
pada pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas keuangan dikurangi pembayaran
pokok, ditambah atau dikurangi dengan akumulasi amortisasi berdasarkan metode
suku bunga efektif dan dikurangi penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.

Aset keuangan diukur pada biaya perolehan diamortisasi jika kedua kondisi berikut
terpenuhi:
1) Aset keuangan dikelola dalam model bisnis yang bertujuan untuk memiliki aset
keuangan dalam rangka mendapatkan arus kas kontraktual
2) Persyaratan kontraktual dari aset keuangan yang pada tanggal tertentu
meningkatkan arus kas yang semata dari pembayaran pokok dan bunga (solely
payments of principal and interest) dari jumlah pokok terutang.

b. Nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain


Aset keuangan diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain jika
kedua kondisi berikut terpenuhi:
1) Aset keuangan dikelola dalam model bisnis yang tujuannya akan terpenuhi
dengan mendapatkan arus kas kontraktual dan menjual aset keuangan
2) Persyaratan kontraktual dari aset keuangan tersebut memberikan hak pada tanggal
tertentu atas arus kas yang semata dari pembayaran pokok dan bunga dari jumlah
pokok terutang.

c. Nilai wajar melalui laba rugi


Saat pengakuan awal entitas dapat membuat penetapan yang tidak dapat
dibatalkan untuk mengukur liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi.
Jika penetapan tersebut mengeliminasi atau secara signifikan mengurangi
inkonsistensi pengukuran atau pengakuan (kadang disebut sebagai “accounting
mismatch”) yang dapat timbul dari pengukuran aset atau liabilitas atau pengakuan
keuntungan dan kerugian atas aset atau liabilitas dengan dasar yang berbeda-beda.
Pengukuran Selanjutnya Liabilitas Keuangan
Entitas mengklasifikasikan seluruh liabilitas keuangan setelah pengakuan awal diukur
pada biaya perolehan diamortisasi, kecuali :
a. liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi. Liabilitas tersebut, termasuk
derivatif yang merupakan liabilitas, selanjutnya akan diukur pada nilai wajar.

b. liabilitas keuangan yang timbul ketika pengalihan aset keuangan tidak memenuhi
syarat penghentian pengakuan atau ketika pendekatan keterlibatan berkelanjutan
diterapkan.

c. kontrak jaminan keuangan.

d. komitmen untuk menyediakan pinjaman dengan suku bunga di bawah pasar.

e. imbalan kontinjensi yang diakui oleh pihak pengakuisisi dalam kombinasi

f. bisnis di mana PSAK 22 diterapkan.

Jadi jika aset keuangan merupakan instrumen utang sederhana dan tujuan model bisnis
entitas adalah untuk mendapatkan arus kas kontraktual, aset keuangan tersebut diukur pada
biaya perolehan diamortisasi. Sebaliknya, jika aset keuangan dimiliki dengan tujuan model
bisnis untuk memperoleh arus kas kontraktual dan untuk diperdagangkan, aset keuangan
tersebut diukur pada nilai wajar dan disajikan dalam laporan posisi keuangan, sedangkan
informasi biaya perolehan diamortisasi disajikan dalam laporan laba rugi (fair value through
other comperhensive income – FVOCI). Jika model bisnis suatu aset keuangan bukan
merupakan kedua model tersebut, maka informasi nilai wajar menjadi sangat penting, oleh
karena itu informasi nilai wajar diungkapkan dalam laporan posisi keuangan dan laporan laba
rugi (fair value through profit or loss – FVTPL).

F. PENGAKUAN DAN PENGHENTIAN PENGAKUAN

Pengakuan Awal
Entitas mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan dalam laporan posisi
keuangan, jika dan hanya jika, entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada
kontrak instrumen tersebut. Entitas mengakui seluruh hak kontraktual dan kewajiban
kontraktual yang timbul dari derivatif sebagai aset dan liabilitas dalam laporan posisi
keuangannya, kecuali untuk derivatif yang menghalangi pengalihan aset keuangan untuk
dicatat sebagai penjualan. Jika pengalihan atas aset keuangan tidak memenuhi kriteria
penghentian pengakuan, maka pihak yang menerima pengalihan tidak mengakui aset alihan
tersebut sebagai aset miliknya.

Penghentian Pengakuan
Entitas mengakui aset keuangan atau liabilitas keuangan dalam laporan posisi
keuangan, jika dan hanya jika, entitas tersebut menjadi salah satu pihak dalam ketentuan pada
kontrak instrumen tersebut.

Bagan berikut ini mengilustrasikan proses evaluasi untuk menentukan apakah dan sejauh
mana suatu aset keuangan dihentikan pengakuannya :

-
Pertama-tama entitas mengonsolidasikan seluruh laporan entitas anak sesuai dengan PSAK
65 dan selanjutnya menerapkan paragraf tersebut pada kelompok usaha konsolidasian.

Entitas menentukan apakah paragraf tersebut diterapkan pada bagian aset keuangan atau
keseluruhan aset keuangan dengan cara sebagai berikut :

1) Pada bagian aset keuangan, jika dan hanya jika, bagian yang dipertimbangkan
untuk dihentikan pengakuannya memnuhi salah satu dari criteria berikut ini :
a) Bagian tersebut hanya terdiri atas arus kas dari aset keuangan yang
diidentifikasi secara spesifik.
b) Bagian tersebut hanya terdiri atas bagian proporsional penuh atas arus
kas dri aset keuangan.
c) Bagian tersebut hanya terdiri atas bagian proporsional penuh yang
diidentifikasi secara spesifik.
2) Diterapkan pada aset keuangan secara keseluruhan.
Istilah “aset keuangan” mengacu pada bagian dari aset keuangan sebagaimana
diidentifikasikan sebagai aset keuangan secara keseluruhan.

Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan, jika dan hanya jika:

1. hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan berakhir
2. entitas mengalihkan aset keuangan seperti dijelaskan dan pengalihan tersebut
memenuhi kriteria penghentian pengakuan

Entitas mengalihkan aset keuangan, jika dan hanya jika, entitas:

a. mengalihkan hak kontraktual untuk menerima arus kas yang berasal dari asset
keuangan
b. mempertahankan hak kontraktual untuk menerima arus kas yang berasal dari
aset keuangan tetapi juga menanggung kewajiban kontraktual untuk membayar
arus kas yang diterima tersebut kepada satu atau lebih pihak penerima melalui
suatu kesepakatan yang memenuhi persyaratan.

G. PENURUNAN NILAI
PSAK 71 merupakan sebuah terobosan besar dalam peningkatan kualitas pelaporan
keuangan terkait pengakuan penurunan nilai instrumen keuangan sehingga informasi yang
dihasilkan lebih tepat waktu, relevan dan dapat dipahami oleh pengguna laporan keuangan.
Pengakuan Kerugian Kredit Ekspektasian

Metode kerugian kredit ekspektasian dalam mengukur kerugian instrumen keuangan


akibat penurunan nilai instrumen keuangan. Berbeda dengan PSAK 55 sebelumnya yang
mengakui kerugian kredit pada saat peristiwa kerugian kredit terjadi, metode yang
diperkenalkan ED PSAK 71 ini mensyaratkan pengakuan segera atas dampak perubahan
kerugian kredit ekspektasian setelah pengakuan awal aset keuangan.

Entitas mengukur penyisihan kerugian instrumen keuangan sejumlah kerugian kredit


ekspektasian sepanjang umurnya, jika risiko kredit atas instrumen keuangan tersebut telah
meningkat secara signifikan sejak pengakuan awal. Jika pada tanggal pelaporan, risiko kredit
atas instrumen keuangan tidak meningkat secara signifikan sejak pengakuan awal, entitas
mengukur penyisihan kerugian untuk instrumen keuangan tersebut sejumlah kerugian kredit
ekspektasian 12 bulan. Kerugian dimaksud merepresentasikan kerugian kredit ekspektasian
yang timbul dari peristiwa gagal bayar instrumen keuangan yang mungkin terjadi dalam 12
bulan setelah tanggal pelaporan.

Penentuan Peningkatan Risiko Kredit secara Signifikan

PSAK 71 mensyaratkan Entitas mempertimbangkan apakah terdapat kenaikan risiko


kredit yang signifikan (penilaian berdasarkan perubahan pada kemungkinan gagal bayar yang
terjadi) yaitu dengan membandingkan risiko kredit awal instrumen keuangan dengan risiko
kredit pada tanggal pelaporan. Jika entitas mengestimasi instrumen keuangan memiliki risiko
kredit yang rendah pada tanggal pelaporan (contohnya, ‘investment grade’), maka entitas
mengasumsikan risiko kredit atas instrumen keuangan tidak meningkat secara signifikan

Terdapat praduga (rebuttable presumption) bahwa risiko kredit yang signifikan telah
terjadi ketika pembayaran tertunggak lebih dari 30 hari jika tidak ada lagi informasi spesifik
lain tentang peminjam, tersedia tanpa biaya dan upaya berlebihan, untuk menentukan apakah
terdapat kenaikan risiko kredit yang signifikan.

Perhitungan Kerugian Kredit Ekspektasian untuk Komitmen Pinjaman dan Kontrak


Jaminan Keuangan

Entitas mengakui penurunan nilai atas komitmen pinjaman dan kontrak jaminan
keuangan. Untuk kontrak jaminan keuangan, entitas mempertimbangkan perubahan risiko
bahwa debitur yang ditetapkan dalam kontrak akan mengalami gagal bayar. Untuk komitmen
pinjaman, entitas mempertimbangkan perubahan risiko gagal bayar yang terjadi pada
pinjaman yang terkait dengan komitmen pinjaman.

Untuk komitmen pinjaman yang belum ditarik, kerugian kredit adalah nilai kini dari selisih
antara:

(a) arus kas kontraktual yang terutang pada entitas jika pemilik komitmen pinjaman
menarik pinjaman; dan

(b) arus kas yang diharapkan entitas untuk diterima jika pinjaman ditarik.

Pengukuran kerugian kredit ekspektasian untuk kontrak jaminan keuangan adalah


pembayaran yang diekspektasi untuk mengganti pemegang jaminan atas kerugian
kredit yang terjadi dikurangi jumlah yang diharapkan entitas untuk diterima dari
pemegang jaminan, debitur, atau pihak lain.

Pengukuran Kerugian Kredit Ekspektasian

Entitas mengukur kerugian kredit ekspektasian dari instrumen keuangan dalam suatu cara
yang mencerminkan:

• jumlah yang tidak bias dan rata-rata probabilitas tertimbang yang ditentukan dengan
mengevaluasi serangkaian kemungkinan yang dapat terjadi;

• nilai waktu uang; dan

• informasi yang wajar dan terdukung yang tersedia tanpa biaya atau upaya berlebihan
pada tanggal pelaporan mengenai peristiwa masa lalu, kondisi kini, dan perkiraan
kondisi ekonomi masa depan.

H. AKUNTANSI LINDUNG NILAI


Tujuan dan Ruang Lingkup Akuntansi Lindung Nilai
Tujuan akuntansi lindung nilai adalah untuk menunjukkan dalam laporan
keuangan dampak dari aktivitas manajemen risiko entitas yang menggunakan instrumen
keuangan untuk mengelola eksposur yang timbul dari risiko tertentu yang dapat
mempengaruhi laba rugi (atau penghasilan komprehensif lain, dalam hal investasi pada
instrumen ekuitas yang telah dipilih oleh entitas untuk disajikan perubahan nilai wajarnya
dalam penghasilan komprehensif lain. Pendekatan ini bertujuan untuk menyampaikan konteks
instrumen lindung nilai dalam hal akuntansi lindung nilai diterapkan dan memberi informasi
atas tujuan dan dampak lindung nilai. Untuk lindung nilai atas nilai wajar atas eksposur suku
bunga dari portofolio aset keuangan atau liabilitas keuangan, entitas dapat menerapkan
persyaratan akuntansi lindung nilai dalam PSAK 55.

Instrumen lindung nilai

Derivatif yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dapat ditetapkan sebagai
instrumen lindung nilai, kecuali untuk beberapa written option. Aset keuangan nonderivatif
atau liabilitas keuangan nonderivatif yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dapat
ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai kecuali item tersebut merupakan liabilitas
keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dan jumlah
perubahan nilai wajar yang diatribusikan oleh perubahan dalam risiko kredit liabilitas tersebut
disajikan dalam penghasilan komprehensif lain. Untuk lindung nilai atas risiko valuta asing,
komponen risiko valuta asing dari aset keuangan nonderivatif atau liabilitas keuangan
nonderivatif dapat ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai selama instrumen keuangan
tersebut bukan merupakan investasi dalam instrumen ekuitas yang telah dipilih entitas untuk
disajikan perubahan nilai wajarnya dalam penghasilan komprehensif lain

Item lindung nilai

Item lindung nilai dapat berupa aset atau liabilitas yang diakui, komitmen pasti yang
belum diakui, prakiraan transaksi atau investasi neto pada kegiatan usaha luar negeri. Item
lindung nilai dapat berupa:

(a) suatu item tunggal; atau

(b) kelompok dari item

Item lindung nilai harus dapat diukur secara andal. Jika item lindung nilai adalah
prakiraan transaksi (atau bagian dari prakiraan transaksi), transaksi tersebut harus
kemungkinan besar terjadi.

Eksposur gabungan yang merupakan kombinasi dari eksposur yang memenuhi


syarat sebagai item lindung nilai sesuai dengan paragraf 6.3.1 dan derivatif dapat ditetapkan
sebagai item lindung nilai.
Penetapan item lindung nilai

Entitas dapat menetapkan suatu item secara keseluruhan atau komponen dari suatu
item sebagai item lindung nilai dalam hubungan lindung nilai. Keseluruhan item mencakup
seluruh perubahan arus kas atau nilai wajar dari suatu item. Komponen terdiri dari item
yang jumlahnya kurang dari keseluruhan perubahan nilai wajar atau variabilitas arus kas
dari suatu item.

Kriteria Kualifikasian untuk Akuntansi Lindung Nilai

Suatu hubungan lindung nilai memenuhi syarat akuntansi lindung nilai hanya jika seluruh
kriteria berikut ini dipenuhi tiga syarat:

1. Hubungan lindung nilai hanya terdiri dari instrumen lindung nilai yang
memenuhi syarat dan item lindung nilai yang memenuhi syarat.
2. Pada awal hubungan lindung nilai terdapat penetapan dan dokumentasi
formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen risiko entitas dan
strategi pelaksanaan lindung nilai. Dokumentasi mencakup:
a) identifikasi instrumen lindung nilai,
b) item lindung nilai,
c) sifat risiko yang dilindung nilai dan
d) bagaimana entitas akan menilai apakah hubungan lindung nilai
memenuhi persyaratan efektivitas lindung nilai (termasuk analisis
sumber dari ketidakefektifan lindung nilai dan bagaimana menentukan
rasio lindung nilai).
3. Hubungan lindung nilai memenuhi seluruh persyaratan efektivitas lindung
nilai berikut ini:

i. terdapat hubungan ekonomik antara item lindung nilai dengan


instrumen lindung nilai;

ii. pengaruh risiko kredit tidak mendominasi perubahan nilai yang


dihasilkan dari hubungan ekonomik tersebut dan

iii. rasio lindung nilai dari hubungan lindung nilai adalah rasio yang
sama dari hasil kuantitas item lindung nilai yang secara actual
dilindung nilai dan kuantitas instrumen lindung nilai yang secara
aktual digunakan entitas untuk melindung nilai sejumlah kuantitas
item lindung nilai tersebut.

Akuntansi untuk Hubungan Lindung Nilai Kualifikasian

Terdapat tiga jenis hubungan lindung nilai:

a) lindung nilai atas nilai wajar: lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar
dari aset atau liabilitas yang diakui, atau komitmen pasti yang belum diakui, atau
komponen dari item tersebut, yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu dan dapat
mempengaruhi laba rugi.
b) lindung nilai atas arus kas: suatu lindung nilai terhadap eksposur variabilitas
arus kas yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait dengan
keseluruhan atau komponen dari suatu aset atau liabilitas yang diakui (seperti
seluruh atau sebagian pembayaran bunga di masa depan atas utang dengan suku
bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan pada risiko tertentu yang terkait
dengan prakiraan transaksi yang kemungkinan besar terjadi, dan dapat
mempengaruhi laba rugi.
c) lindung nilai investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri sebagaimana
didefinisikan dalam PSAK 10.

Penyajian

Untuk suatu lindung nilai atas kelompok item dengan posisi risiko saling hapus (yaitu
dalam lindung nilai atas posisi neto) di mana risiko yang dilindung nilai mempengaruhi pos
yang berbeda pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, keuntungan atau
kerugian lindung nilai dalam laporan tersebut disajikan dalam pos yang berbeda dengan pos
yang dipengaruhi oleh item lindung nilai. Dengan demikian, jumlah pada pos yang terdapat
dalam laporan tersebut yang berkaitan dengan item lindung nilai (sebagai contoh,
pendapatan atau beban pokok penjualan) tidak akan terpengaruh

Untuk aset dan liabilitas yang dilindung nilai secara bersama-sama sebagai suatu
kelompok dalam lindung nilai atas nilai wajar, keuntungan atau kerugian dalam laporan
posisi keuangan atas masing-masing aset dan liabilitas harus diakui sebagai penyesuaian
atas nilai tercatat dari masing-masing item yang membentuk kelompok tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
Definisi Instrumen Keuangan

Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai aset keuangan entitas
dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas entitas lain. Aset keuangan meliputi setiap aset
yang menimbulkan hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan
lainnya. Liabilitas keuangan meliputi setiap kewajiban kontrak untuk membayar kas atau aset
keuangan. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset
suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya.

Karakteristik Instrumen Keuangan

A. Aset Keuangan

Aset keuangan merupakan bentuk dari aset tidak berwujud. Nilai dari aset keuangan
tergantung dari nilai arus kas/uang yang akan kita terima di masa yang akan datang, semakin
besar nilai arus kas yang akan kita terima maka semakin tinggi nilai aset keuangan tersebut.
Pihak yang setuju untuk melakukan pembayaran kas/klaim atas aset keuangan tersebut
disebut emiten atau issuer sedangkan pihak penerima klaim disebut investor.

Perbedaan antara aset keuangan dengan aset non keuangan adalah dari sifat
likuiditasnya. Aset keuangan memberikan kemudahan likuiditas bagi pemiliknya sehingga
mudah untuk mencairkan atau ditukarkan dengan uang tunai. Aset keuangan memilki
beberapa karakteristik, yaitu:
1. Tidak memberikan suatu jasa secara terus menerus kepada pemiliknya seperti yang
diberikan oleh aset berwujud, seperti mobil, rumah dll.
2. Aset keuangan menjanjikan pendapatan di masa mendatang. Jadi, apabila kita menaruh
kekayaan kita dalam bentuk aset keuangan, maka dari aset keuangan tersebut kita dapat
menerima pendapatan dari adanya penghasilan dan cadangan sebagai simpanan nilai atau
daya beli.
3. Tidak mengalami depresiasi. Apabila dibandingkan dengan aset berwujud seperti
mobil, rumah yang cenderung mengalami depresiasi, aset keuangan tidak megalami
depresiasi sehingga aset keuangan sangat baik digunakan sebagai penyimpan nilai.
4. Bentuk fisiknya tidak dapat digunakan untuk menilai harga pasarnya. Meskipun pada
umumnya berbentuk sertifikat atau informasi yang disimpan di dalam komputer, namun
harga dari aset keuangan tersebut bisa bervariasi.
5. Biaya distribusi, perawatan dan penyimpanannya relatif murah, selain itu juga mudah
dialihkan menjadi aset lain misalnya saja selembar saham sering dengan cepat dapat
dikonversi menjadi aset lain oleh pemiliknya.

B. Liabilitas Keuangan

Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang mungkin timbul
karena kewajiban suatuan usaha pada saat ini untuk menyerahkan aktiva atau memberikan
jasa kepada satuan-satuan usaha lain di masa depan sebagai hasil dari peristiwa masa lalu.
(FASB, SFAC NO. 6)

Karakteristik-karakteristik spesifik dari kewajiban adalah sebagai berikut:

1) Kewajiban itu harus ada pada saat ini. Saat ini, yaitu yang dilihat muncul dari
beberapa transaksi atau kejadian masa lalu.
2) Kewajiban atau tugas yang setara atau konstruktif harus dimasukkan jika hal itu
didasarkan pada keperluan untuk membuat pembayaran masa depan guna
mempertahankan hubungan bisnis yang baik atau jika hal itu sesuai dengan praktik
bisnis yang normal.
3) Harus tidak ada atau sedikit kebebasan untuk menghindari pengorbanan masa depan.
Tidak perlu bahwa jumlah kewajiban itu diketahui secara pasti selama kewajiban
masa depan itu mungkin sekali.
4) Lazimnya, harus ada nilai jatuh tempo yang dapat ditentukan atau perkiraan untuk
pembayaran suatu jumlah yang ditentukan oleh estimasi layak akan diwajibkan pada
suatu waktu tertentu di masa depan, sekalipun ketentuan waktu yang tepat belum
diketahui saat ini. Waktu pembayaran dapat diperpanjang dengan menggantikannya
dengan kewajiban baru, atau kewajiban itu dapat diakhiri dengan mengkonversinya
menjadi ekuitas pemegang saham. Perpanjangan yang berulang atau konversi dari
utang tidak mengubah klasifikasi awalnya sebagai suatu kewajiban.
5) Biasanya, pihak yang dibayar harus diketahui atau diidentifikasikan baik secara
spesifik atau sebagai suatu kelompok. Akan tetapi, selama yang dibayar akan menjadi
dapat diidentifikasikan pada tanggal penyelesaian, tidak perlu si pembayar
mengetahui identitas dari yang dibayar atau bahwa kreeditor meneguhkan klaim itu
atau mempunyai pengetahuan tentang itu pada saat ini.

Perbedaan PSAK 71 dan PSAK 55

Sebelum membahas mengenai PSAK 71, kita harus tau terlebih dahulu mengenai PSAK
55 atau IAS 39 agar bisa membandingkan antara PSAK 71 dan PSAK 55. PSAK 55 mengatur
tentang instrumen keuangan yang telah disahkan pada tanggal 29 April 2014. PSAK 55
adalah hasil adaptasi dari dari IAS 39. Seiring berjalannya waktu PSAK 55 pun dianggap
sudah tidak relevan dengan apa yang terjadi dimasa sekarang, maka dirubahlah dalam PSAK
71 yang merupakan adaptasi dari IFRS 9. Dengan kata lain PSAK 55 digantikan oleh PSAK
71.

Berikut adalah perbedaan PSAK 71 dan PSAK 55 :


Pada PSAK 55 klasifikasi instrumen keuangan berdasarkan intensi manajemen:

a. Aset Keuangan.
a. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Aset keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan (misalnya untuk dijual
dalam waktu dekat pada masa mendatang) atau pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. Contoh : Aset
derivatif dan investasi dalam instrumen utang dan ekuitas yang dimiliki dalam
portofolio diperdagangkan.

b. Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo

Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh
temponya telah ditetapkan serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan
untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Contoh : Investasi dalam
instrumen utang yang mempunyai kuotasi harga di mana entitas memiliki niat dan
mampu memiliki hingga jatuh tempo.

c. Pinjaman yang diberikan dan piutang

Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak
mempunyai kuotasi harga di pasar aktif. Contoh : Piutang usaha, pinjaman yang
diberikan, dan piutang wesel.

d. Aset keuangan tersedia untuk dijual

Aset keuangan yang dirancang sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak
diklasifikasikan dalam ketiga kategori di atas. Contoh : Investasi dalam instrumen
utang dan ekuitas yang tidak termasuk dalam kategori lain.

b. Liabilitas Keuangan
a). Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Liabilitas keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan (misalnya dibeli


kembali dalam waktu dekat pada masa mendatang) atau ditetapkan pada saat
pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi. Contoh : Liabilitas derivatif dan liabilitas diperdagangkan lainnya
b). Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi
Semua liabilitas lainnya selain daripada liabilitas yang dinillai pada nilai wajar
melalui laba rugi. Contoh : Utang usaha, utang wesel, dan efek utang yang
diterbitkan.

Pada PSAK 71 Klasifikasi instrumen keuangan berdasarkan :

1. Klasifikasi Aset Keungan

Entitas mengklasifikasikan aset keuangan sehingga setelah pengakuan awal aset keuangan
diukur pada biaya perolehan diamortisasi, nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain
atau nilai wajar melalui laba rugi, dengan menggunakan dua dasar, yaitu :

a) Model bisnis entitas dalam mengelola aset keuangan

Model bisnis entitas mengacu pada bagaimana entitas mengelola aset keuangan untuk
menghasilkan arus kas. Artinya, model bisnis entitas menentukan apakah arus kas akan
dihasilkan dari memperoleh arus kas kontraktual, menjual aset keuangan atau keduanya.

b) Karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan.

Karakteristik arus kas kontraktual tidak mempengaruhi klasifikasi aset keuangan jika
hanya memiliki efek de minimis pada arus kas kontraktual dari aset keuangan. Untuk
membuat penentuan ini, suatu entitas harus mempertimbangkan efek yang mungkin
terjadi dari karakteristik arus kas kontraktual pada setiap periode pelaporan dan secara
kumulatif selama umur instrumen keuangan. Sebagai tambahan, jika karakteristik arus kas
kontraktual dapat berpengaruh pada arus kas kontraktual yang lebih dari de minimis (baik
dalam periode pelaporan tunggal maupun secara kumulatif) tetapi karakteristik arus kas
tidak sah, itu tidak mempengaruhi klasifikasi aset keuangan. Karakteristik arus kas tidak
sah jika mempengaruhi arus kas kontraktual instrumen hanya ketika terjadinya peristiwa
yang sangat langka, sangat tidak normal dan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.

2. Klasifikasi Liabilitas Keuangan

Entitas mengklasifikasikan seluruh liabilitas keuangan setelah pengakuan awal diukur


pada biaya perolehan diamortisasi, kecuali :
• liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi. Liabilitas tersebut, termasuk
derivatif yang merupakan liabilitas, selanjutnya akan diukur pada nilai wajar.
• liabilitas keuangan yang timbul ketika pengalihan aset keuangan tidak memenuhi
syarat penghentian pengakuan atau ketika pendekatan keterlibatan berkelanjutan
diterapkan.
• kontrak jaminan keuangan.
• komitmen untuk menyediakan pinjaman dengan suku bunga di bawah pasar.
• imbalan kontinjensi yang diakui oleh pihak pengakuisisi dalam kombinasi
• bisnis di mana PSAK 22 diterapkan.

Dampak Penerapan PSAK 71 Terhadap Perbankan

Dampak penerapan PSAK 71 terhadap Penyisihan Penghapusan Akvita Produktif


(PPAP) yang berasal dari kredit yang diberikan perbankan. PSAK 71 berdampak signifikan
terhadap laba entitas, khususnya di bidang perbankan, yaitu pembentukan cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) yang lebih besar dari sebelumnya.Salah satu faktor pemicu
penundaan implementasi standar baru ini adalah karena penerapan PSAK 71 berdampak luas
pada pelaporan kinerja perbankan. PSAK 71 akan mengubah perhitungan cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN). CKPN dibentuk terkait dengan aset keuangan yang dimiliki oleh
bank. Salah satu aset keuangan tersebut adalah kredit yang diberikan (loan). Terhadap kredit
yang diberikan, bank harus membentuk provisi kerugian kredit yang dikenal juga dengan
istilah Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) atau allowance for loan loss
provision. PPAP merupakan salah satu akrual terbesar dalam laporan keuangan bank.

Dengan PSAK 71, bank wajib membuat Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
(PPAP) yang lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya menggunakan PSAK 50, 55 dan
60. Hal ini karena PSAK 71 mewajibkan bank menggunakan pendekatan kerugian kredit
ekspektasian (expected loss) dalam menentukan PPAP atau cadangan kerugian kredit yang
dibentuk dari beban provisi kerugian kredit. Sedangkan PSAK lama, yaitu PSAK 50, 55, dan
60, menggunakan pendekatan incurred loss. Pendekatan incurred loss mengakui pencadangan
kerugian kredit atau penurunan nilai pada saat peristiwa yang mengakibatkan risiko gagal
bayar terjadi. Sementara itu, pendekatan expected loss mewajibkan bank melakukan
pengakuan segera terhadap dampak perubahan kerugian kredit ekspektasian setelah
pengakuan awal aset keuangan berdasarkan forward looking, termasuk prediksi ekonomi
makro. Pendekatan ini dianggap dapat meningkatkan jumlah kredit bermasalah (non
performing loan) dan memperbesar beban kerugian kredit, yang kemudian berimplikasi pada
penurunan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR).
Namun demikian, keunggulan dari pendekatan expected loss yang diberlakukan oleh
PSAK 71 adalah menghindari bank dari pengalokasian provisi kerugian kredit yang bersifat
prosiklikal (procyclicality). Prosiklikal terjadi ketika bank meningkatkan provisi kerugian
kredit selama ekonomi turun dan menguranginya pada waktu ekonomi membaik. Pada saat
ekonomi membaik, proporsi yang besar dari portofolio kredit dapat ditagih dengan lancar dan
bank mengurangi provisi kerugian kredit. Sebaliknya, pada saat ekonomi memburuk yang
diikuti dengan meningkatnya non-performing loan, bank terbebani dengan besarnya jumlah
provisi kerugian kredit sehingga berdampak pada turunnya kinerja keuangan bank dan dapat
juga menurunkan rasio kecukupan modal. Sebagai implikasinya, bank menurunkan
penyaluran kredit yang diberikan. Oleh karena itu, dengan pendekatan expected loss,
prosiklikal tersebut dapat dikurangi atau dihindari. Karena pengukuran dan pengalokasian
provisi kerugian kredit telah diantisipasi sebelumnya berdasarkan pada informasi forward
looking, yaitu antara lain prediksi terhadap ekonomi makro tahun yang akan datang.
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Tujuan dari pengungkapan yang diatur oleh Pernyataan ini adalah untuk menyediakan
informasi guna meningkatkan pemahaman mengenai signifikasi instrumen keuangan terhadap
posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas, serta membantu penilaian jumlah, waktu, dan
tingkat kepastian arus kas masa depan yang terkait dengan instrumen tersebut.

Transaksi dalam instrumen keuangan mungkin mengakibatkan entitas menanggung atau


mentransfer kepada pihak lain satu atau lebih risiko keuangan sebagaimana diuraikan di
bawah iini. Pengungkapan yang dipersyaratkan menyediakan informasi untuk membantu
pengguna laporan keuangan dalam menilai tingkat risiko yang terkait dengan instrumen
keuangan.

Entitas menjabarkan tujuan dan kebijakan manajemen risiko keuangannya, termasuk


kebijakan lindung nilai atas setiap jenis utama dari prakiraan transaksi dalam hal akuntansi
lindung nilai digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

https://investor.id/opinion/dampak-penerapan-psak-71-bagi-perbankan

http://mariberlajarbersama.blogspot.com/2012/11/tugas-teori-akuntansi-liabilitas.html

https://staff.blog.ui.ac.id