Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

Praktik Klinik Keperawatan Jiwa

Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Kasus

_____________________________

Oleh :

AFIFAH MEIZAYANI
P0 5120317 003

Mengetahui,

Clinical Teacher Clinical Instructure

(______________________) (______________________)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN JURUSAN KEPERAWATAN
T.A. 2019/2020
1
LAPORAN PENDAHULUAN

DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Konsep Dasar Defisit Perawatan Diri


1. Pengertian

Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang


mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi
aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (hygine), berpakaian
atau behias, makan dan BAB/BAK (toiletig) (Fitria, 2009).

Perawatan diri (personal hygiene) mencangkup aktivitas yang


dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang biasa di kenal
dengan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL). Aktivitas ini mempelajari
dari waktu ke waktu dan menjadi kebiasaan seumur hidup. Kegiatan
perawatan diri tidak hanya melibatkan apa yang harus dilakukan
(kebersihan, mandi, berpakaian, toilet, makan ), tetapi juga berapa, kapan,
di mana, dengan siapa, dan bagaimana (Miller dalam cartpenito-moyet,
2009).

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam


memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya,
kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien
dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan
perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan
kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias,
makan, toileting) (Nurjannah, 2004).

2. Etiologi
Penyebab Devisit Perawatan Diri :
a. Kemampuan realitas turun

1
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
a. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.

3. Tanda dan Gejala


Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit
perawatan diri adalah:
a. Fisik : Rambut kotor dan kulit kotor, kuku panjang dan kotor, gigi
kotorn dan mulut bau, penampilan tiidak rapi.
b. Psikologis : malas, tidak ada inisiatif, menarik diri, isolasi diri, merasa
tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Social : intraksi kurang, kegiatan kurang, tidak mampu berperilaku
sesuai norma, cara makan tidak teratur, BAB dan BAK di sembarang
tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
4. Mekanisme koping
a. Regresi c. Isolasi diri, menarik diri
b. Penyangkalan d. Intelektualisasi
5. Rentan respon pada sekema 2.1
adaptif maladaptif
Pola perawatan Kadang perawatan Tidak melakukan
diri seimbang diri kadang perawatan
tidak diri saat stres

a. Pola perawatan diri seimbang : saat pasien mendapatkan stresor dan


mampu untuk berperilaku adaftif maka pola perawatan yang dilakukan
klien seumbang, klien masih melakukan perawatan diri.

2
b. Kadang melakukan pearawatan diri kadang tidak : saat klien
mendapatkan stresor kadang-kadang pasien tidak memperhatikan
perawaatan dirinya.
c. Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan dia tidak peduli
dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresor ada. (Ade 2011).

6. Factor predisposisi
Menurut Depkes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah:
a. Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun.
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri.
d. Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.

7. Faktor presipitasi
Menurut Depkes (2000: 20), penyebab kurang perawatan diri adalah:
Yang merupakan faktor presiptasi deficit perawatan diri adalah
kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas,
lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang
mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:

3
a. Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan
diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak
peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita
diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.
g. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang
dan perlu bantuan untuk melakukannya.

8. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 yaitu:
a. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi pertumbuhan
belajar dan mencapai tujuan. Kategori ini adalah klien bisa memenuhi
kebutuhan perawatan diri secara mandiri.

4
b. Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai
lingkungan.Kategorinya adalah tidak mau merawat diri (Damaiyanti,
2012).

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan manurut herman (Ade, 2011) adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri

b. Membimbing dan menolong klien merawat diri

c. Ciptakan lingkungan yang mendukung.

5
B. Konsep Asuhan Keperawatan
KonsepAsuhan Keperawatan (umum)
1. Pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi nama klien,umur,jenis kelamin,status perkawinan,
agama, tanggal MRS(Masukrumahsakit),tanggal pengkajian, No
rekam medik, diagnosa medis dan alamat klien.
b. Keluhan utama
Menurut direja (2009), keluhan utama yang dirasakan klien
gangguanpersepsi sensori : halusinasi pendengaran adalah klien
sering mendengar suara-suara lain tanpa adanya rangsangan dari
luar (Stimulus) yang mengakibatkan klien sering tersenyum,
tertawa, berbicara sendiri, bahkan ada bisikan yang memerintahkan
untuk berbuat jahat.
c. Faktor predisposisi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi terjadinya halusinasi adalah :
1) Faktor biologis
Hal yang di kaji pada faktor biologis, meliputi adanya faktor
heriditer gangguan jiwa, adanya resiko bunuh diri, riwayat
penyakit atau trauma kepala, dan riwayat penggunaan NAPZA.
2) Faktor psikologis
Pada klien yang mengalami halusinasi, dapat ditemukan adanya
kegagalan yang berulang, individu korban kekerasan, kurang
kasih sayang, atau overprotektif.
3) Sosiobudaya dan lingkungan
Klien dengan halusinasi didapatkan sosial ekonomi rendah,
riwayat penolakan lingkungan pada usia perkembangan anak,
tingkat pendidikan rendah, dan kegagalan dalam hubungan sosial
( perceraian, hidup sendiri), serta tidak bekerja.

6
d. Faktor presipitasi
Secara fisik klien dengangan gguan halusinasi timbul
gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan,
isolasi, perasaan tidak berguna, putusasa dan tidak berdaya.Penilaian
individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasi
kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2011).
Stresor presipitasi pada klien dengan halusinasi di temukan
adanya riwayat penyakit infeksi, penyakit kronis atau kelainan
struktur otak, kekerasan dalam rumah tangga, atau adanya kegagalan-
kegagalan dalam hidup, kemiskinan, adanya aturan atau tuntutan di
keluarga atau masyarakat yang sering tidak sesuai dengan klien serta
konflik antar masyarakat. Sumber koping yang di pakai klien juga
sangat penting untuk di kaji dalam faktor presipitasi.
e. Pemeriksaan fisik/biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (Tekanan darah, Nadi,
Suhu, Pernafasan, TB,BB) dan keluhan fisikyangdialamioleh klien.
Klien sering terlihat menutup telinganya, mengarahkan telinga ke
arah tertentu, tampak mengepal tangan, muka klien tampak merah,
pandangan klien tajam, mengatup rahang dengan kuat.
f. Aspek psikososial
1) Genogram yang menggambarkan tiga generasi, apakah dalam
keluargaklienadayang mengalami gangguan jiwasebelumnya.
2) Konsepdiriklienmeliputigambarandiri,identitasdiri,peran, ideal diri
danhargadiri klien mengalami gangguan.
3) Hubungan sosial : klien mengatakan tidak memiliki teman dekat,
klien merasa bingung untuk memulai pembicaraan, sering
menyendiri dan melamun.
4) Spiritual, mengenai nilaidan keyakinan dan kegiatan ibadah.

7
g. Status mental
Pengkajian status mental klien dengan gangguan persepsi
sensori : halusinas pendengaran meliputi :
1) Penampilan : tidak rapi, tidak serasi caraberpakaian.
2) Pembicaraan : respon verbal lambat dan berbelit-belit,
menggerakan bibir tanpasuara, lebih banyak diam, mengancam
secara verbal dan fisik, marah-marah tanpa sebab, klien
mengatakan bingung untuk memulai pembicaraan, dan klien
berbicara dengan keras, kasar, suara tinggi, menjerit dan
berteriak.
3) Aktivitas motorik : meningkatatau menurun, klien tampak sering
melempar, memukul benda atau orang lain dan merusak barang/
benda.
4) Alam perasaan :klien mengatakan cendrungemosi, dan klien
mengatakan kesal atau benci terhadap seseorang..
5) Interaksi selama wawancara : respon verbal dan nonverbal
biasanyalambat, kontak mata kurang dan tidak mau menatap
lawan bicara, klien mengatakan tidak mempunyai kemampuan
mencegah/mengontrol perilaku kekerasan karena mendengar
suara-suara tersebut.
6) Persepsi : klien sering mendengar suara atau kegaduhan,
mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap, mendengar
suara yang menyuruh melakukan hal yang berbahaya, mendengar
suara orang yang sudah meninggal, klien tampak berbicara dan
tertawa sendiri.
7) Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi
dengan baik.
8) Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis

8
9) Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang.
10) Memori
a) Memori jangka pendek : mengingat peristiwa seminggu
yang lalu dan pada saat dikaji.
b) Memori jangka panjang : mengingat peristiwa setelah
lebih setahun berlalu.
h. Mekanisme koping
a) Regresi :regresi berhubungan dengan proses informasi dan upaya
yang di gunakan untuk menanggulangi ansietas. Energi yang
tersisa untuk aktivitas sehari-hari tinggal sedikit, sehingga klien
menjadi malas beraktivi-ras.
b) Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepasi dengan
berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
c) Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan
stimulus intrernal.
d) Keluarga mengingkari masalah yang di alami klien.
i. Aspek medik-
Diagnosa medisyang telah dirumuskan dokter, terapi
farmakol,psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitasi.
j. Pohon masalah

Effect Resiko Halusinasi

Core ProblemIsolasi Sosial: menarik diri Devisit perawatan Diri

Cause Hargadiri Rendah

(kaliat budi Ana,GKK,:2005).

9
C. KonsepAsuhan Keperawatan (Khusus)

1. Pengkajian
Defisit perawatan diri pada klien terjadi akibat adanya perubahan
proses pikir, yang menyebabkan menurunnya kemampuan untuk
melakukan aktivitas perawatan diri. Defisit perawatan diri tampak dari
ketidak mampuan individu merawat kebersihan diri, makan, berhias, dan
eliminasi (buang air besar atau buang air kecil).
a. Batasan karakkteristik
NANDA(2016) menjelaskan batasan karakteristik yang terdapat pada
linggkungan defisit perawatan diri. Batasan karakteristik pada tiap
ligkup tersebut meliputi:
1) Defisit perawatan diri: mandi (Bathing self-care deficit)
Hal ini merupakan gangguan kemampuan melakukan atau
menyelesaikan aktivitas mandi untuk diri sendiri. Batasan
karakteristiknya meliputi:
a) Gangguan kemampuan mengeringkan tubuh
b) Gangguan kemampuan untuk mengakses kamar mandi
c) Gangguan kemampuan untuk mengases air
d) Gangguan kemampuan untuk mengambil perlengkapan mandi
e) Ganguan kemapuan untuk mengatur air mandi
f) Gangguan membasuh tubuh
2) Defisit oerawatan diri: berhias /berpakaian(dressing self-care
deficit)
Defisit perawatan diri: berhias/berdandan merupakan ganguan
melakukan atau menyelesaikan aktivitas berpakaian untuk diri
sendiri.
a) Ketidak mampuan memilih pakaian
b) Ketidak mapuan memadupadukan pakaian
c) Katidakmampuan mempertahankan penampilan yang
memuaskan

10
d) Ketidak mampuan mengambil pakaian
e) Ketidak mampuan mengenakan pakaian pada bagian bawah
tubuh
f) Ketidak mampuan mengenakan pakaian di bagian atas tubuh
g) Ketidak mampuan memakai berbagai item pakain(mis: kemeja,
kaus kaki)
h) Ketidak mampuan melepaskan atribut pakaian (mis: kemeja,
kaus kaki, sepatu)
i) Ketidak mapuan mengunakan alat bantu alat
j) Ketidak mampuan menggunakan resleting
k) Ketidak mampuan mengancingkan pakaian
3) Defisit perawatan diri: makan (feeding self-care deficit)
Defisit perawatan diri: makan merupakan ganguan kemampuan
untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas makan (seelf-
feeding) (NANDA, 2016). Batasan karakteristik defisit perawatan
diri meliputi:
a) Ketidak mampuan mengambil dan memasukka makanan ke
mulut
b) Ketidak mampuan menggunakan alat bantu
c) Ketidak mampuan mengunyah makanan
d) Ketidak mampuan memanipulasi makanan di mulut
e) Ketidajk mampuan membuka kontainer/wadah makan
f) Ketidak mampuan mengambil cangkir
g) Ketidak mampuan meletakkan makanan ke alat makan
h) Ketidak mapuan menyiapkan makanann untuk di makan
i) Ketidak mampuan makan dengan tatacara yang bisa di terima
j) Ketidak mampuan menelan makanan
k) Ketidak mampuan menelan jumlah makanan yang memadai
l) Ketidak mampuan memegang alat makan
m) Ketidak mampuan menghabiskan makan scara mandoiri

11
4) Defisit perawatan diri: toileting

Gangguan kemampuan melakuakan atau menyelesaikan


kegiatan toileting sendiri (self-toileting). Batasan karateristik dalam
ganguan devisit perawatan diri ini meliputi gangguan:
a) Kemampuan untuk melakukan higiene elminasi secara komplet
b) Kemampuan untuk menyiram toilet
c) Kemampuan untuk memanipulasi pakaian untuk toileting
d) Kemampuan untuk mencapai toilet
e) Kemampuan untuk naik toilet
f) Kemampuan umtik duduk di toilet.
b. faktor predisposisi
Faktor predisposisi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya suatu kondisi. Faktor predisposisi defisit perawatan diri
meliputi:
1) Faktor psikologis
Faktor ini, keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien,
sehingga klien menjadi begitu bergantung dan perkembangan
inisiatifnya terganggu. Pasien gangguan jiwa, misalnya mengalami
defisit prrawatan diri dikarnakan kemampuan realitas yang kurang.
Hal ini menyababkan klien tidak peduli terhadap diri dan
lingkungannya, termasuk perawatan diri.
2) Faktor biologis
Faktoe ini, penyakit kronis berperan sebagai penyebab klien tidak
mampu melakukan perawatan diri. Defisit perawatan diri disebabkan
oleh adanya penyakit fisik dan mental yang menyebabkan klien tidak
mampu melakukan perawatan diri. Selain itu, faktor
herediter(keturunan) berupa anggota kluarga yang mengalami
gangguan jiwa, juga turut menjadi penyebab.
3) Faktor sosial

12
Faktor sosial ini berkaitan dengan kurangnya dukungan dan latihan
kemampuan perawatan diri lingkungannya.
c. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala yang tampak pada klien dengan gangguan defisit
perawatan diri, antara lain:
1) Data subjektif
Klien mengatakan tentang:
b) Malas mandi
c) Tidak mau menyisir rambut
d) Tidak mau menyikat gigi
e) Tidak mau memotong kuku
f) Tidak mau berhias atau berdandan
g) Tidak bisa atau tidak mau menggunakan alat mandi atau
kebersihan diri
h) Tidak menggunakan alat mkan dan minum saat makan dan
mium
i) BAB dan BAK sembarang
j) Tidak membersihkan diri dan tidak membersihkan
membersihkan tempat BAB dan BAK
k) Tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar

2) Data objektif
a) Badan klien bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi kotor, kuku
panjang.
b) Tidak menggunakan alat-alat mandi pada saat mandi dan tidak
mandi dengan benar.
c) Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi, serta
tidak mampu berdandan.
d) Pakaian tidak rapi, tidak mampu memili, mengambil, memakai,
mengencangnkan dan memindahkan pakaian.

13
e) Memakai barang-barang yang tidak perlu dalam berpakaian,
misalnya memakai pakaian berlapis-lapis, penggunaan pakian
yang tidak sesuai. Melepas barang-barang yang perlu dalam
berpakaian, misal telanjang.
f) Makan dan minum sembarang serta berceceran, tidak
menggunakan alat makan, tidak mampu menyiapkan makan,
memindahkan makanan ke alat makan(dari panci ke piring atau
mangkok, tidak mampu menggunakann sendok dan tidak
mengetahui fungsi alat-alat makan), memegang alat makan,
membawa makanan dari piring ke mulut, mengunyah, menelan
makanan secara aman dan menghabiskan makanan.
g) BAB dan BAK tidak pada tempatnya. Klien tidak
membersihkan diri setelah BAB/BAK serta tidak mampu
menjaga menjaga kebersihan toilet dan menyiram tooilet setelah
BAB/BAK.
d. Sunber koping
Sumber koping defisit perawatan diri mencangkup keamampuan
personal(personal ability) akan :
1) Kemampuan klien dalam melakukan kebersihan diri secara
mandiri.
2) Berhias dan berdandan secara baik.
3) Melaksanakan BAB/BAK secara mandiri.
4) Mengidentifikasi perilaku kebershan diri yang maladaptif.
5) Kemampuan klien dalam mengubah perilaku maladaftif menjadi
perilaku adaptif.

14
ANALISA DATA
NO Analisa data Masalah
1. Do : Devisit
1. Badan pasien bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi perawatan
kotor, kuku panjang. diri
2. Tidak mengggunakan alat alat mandi pada saat mandi,
tidak mandi dengan benar.
3. Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak
rapi, serta tidak mampu berdandan.
4. Pakaian tidak rapi, tidak mapu memilih,
mengambil,memakai, mengencangakan dan
memindahkan pakaian.
5. Memakai barang-barang yang tidak perlu.
6. Makan dan minum sembrang dan berceceran.
7. BAB/BAK tidak di tempatnya
Ds :
1. Biasanya Klien mengatakan malas mandi.
2. Biasanya malas menyisir rambut.
3. Biasanya malas menggosok gigi
4. Biasanya tidak mau memotong kuku.
5. Klien mengatakan malas beraktivitas.
6. Biasanya Klien mengatkan malas berhias.
7. Biasanya tidak mau mengenakan alat mandi atau
kebersihan diri.
2. Do : Isolasi
1. klien tampak sering menyendiri dan melamun. social :
2. Klien tampak tidak mau menatap lawan bicara Menarik
3. Tidak ada kontak mata dengan lawan bicara diri
Ds :
1. Klien mengatakan tidak memiliki teman dekat.
2. Klien mengatakan untuk memulai pembicaraan.

3. Do : Harga diri
rendah
1. Pasien tampak menunduk.
2. Bicara pelan.
3. Menghindari orang lain.
Ds:
1. Biasanya pasien mengatakan malu.
2. Biasanya pasien mengatakan sedih.
3. Biasanya pasien mengatakan dirinya tidak berguna.

15
1. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan masalah keperawatan
pasien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stressor
yang menunjang. (Stuart & Sundeen, 2003 ). Diagnosa keperawatan adalah
cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien
serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi. (Marilyn E. Doenges,
2004)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan
adalah suatu cara mengidentifikasi, memfokuskan dan mengatasi kebutuhan
spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi
mencakup respon adaptif maupun maladaptif serta stresor yang menunjang.
Masalah Keperawatan:
Effect Resiko Halusinasi

Core Problem Isolasi Sosial Devisit perawatan Diri

Cause Hargadiri Rendah


Gambar 2.2 : pohon masalah ( sumber : Keliat, 2006)
Diagnosa keperawatan yang mungkin untuk masalah gangguan
devisit perawatan diri adalah :
1. Devisit Perawatan Diri : kebersihan diri,berdandan, makan,
BAB/BAK.
2. Isolasi sosial
3. Harga diri rendah
4. Risiko halusinasi

16
DAFTAR PUSTAKA

DepKes (2000). Standar Pedoman Keperawatan Jiwa. Jakarta: DepKes


Nurhasanah. J. dkk, (2006). Ilmu Komunikasi dalam Konteks
Keperawatan. Jakarta: TBK.

Tarwoto & Wartonah (2000). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.

Keliat, Budi Anna. Dkk, (2007). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta:
EGC.

Keliat, Akemat, (2004). Keperawatan Jiwa Teori Aktivitas Kelompok. Jakarta:


EGC

17