Anda di halaman 1dari 8

ABRI Masuk Desa

SCENE 1
INT/EXT. DALAM TRUK – MALAM
PEMAIN: FAJAR, SOPIR TRUK, KERNET TRUK
Malam hari, pulang dari kota dimana Fajar kuliah, dengan naik truk.

SCENE 2
INT/EXT. PERTIGAAN – MALAM
PEMAIN: FAJAR, SOPIR TRUK, KERNET TRUK

Fajar turun di pertigaan, setelah mengucapkan terima kasih kepada supir dan
kernet, ia melewati jalan yang belum beraspal, berjalan kaki ke rumah.

FAJAR
Ksuwun banget Kang.

SOPIR DAN KERNET


Ya, sing ngati-ati...

SCENE 3
EXT. JALAN DESA – MALAM
PEMAIN: SURATNO, RISWAN, SODRI, FAJAR

Tiga peronda, Suratno yang juga pamong desa, Riswan, dan Sodri bakaran
ranting. Sodri sempat curiga pada sosok yang berjalan dari kejauhan yang
ternyata Fajar. Mereka berjaga-jaga setiap malam karena adanya isu pocong
jadi-jadian.

SODRI
(ke arah Fajar berjalan)
Sapa kae Kang?

SURATNO
(siap-siap penthungan)
Ndi?

SODRI
Fajar apa ya?

RISWAN
Iya Fajar...

Fajar berjalan semakin mendekat.

FAJAR
Lagi pada ronda apa?

CU
RISWAN
Oh ko Jar, ujarku sapa. Iya kiye, wengian deneng?

FAJAR
Iya, mau bali sekang kampus nanggung wis langka bis. Tumben ronda, neng
ndesa situasine agi gawat apa?

SODRI
Iya kiye, agi akeh bujungan. Andingane wingi neng ndesa Karangsari malah
sempet kecekel.

FAJAR

1
Bujungan? kecekel??

SURATNO
Siki nek mlaku wengi-wengi dewekan kudu ngati-ati, mbok dekira bujungan.

FAJAR
Aneh temen... Ya wis, nyong tek bali disit.

RISWAN DAN SODRI


Iya...

SCENE 4
INT. MEJA MAKAN – PAGI
PEMAIN: FAJAR, BAPAK, IBU

Usai sarapan pagi, Fajar ngobrol dengan Bapak dan Ibu di meja makan terkait
sembako yang mahal dan lainnya. Televisi menyala memberitakan demo
mahasiswa.

IBU
Sembako siki gole mundhak ora kira-kira. Beras jatah pegawai kualitase
adoh, ora kaya biasane.

BAPAK
Mending egin teyeng mangan sega Bu.

FAJAR
Ya kaya kiye, negara nek pejabate pada KKN. Duit rakyat nggo dolanan,
akibate krisis monter, rega-rega pada larang. Kabeh wong depeksa kon kudu
nyoblos Golkar.

IBU
Huussstt!! Nek udu merga Golkar, dewek wis ora teyeng mangan sega, ko ora
teyeng kuliah murah.

FAJAR
Pendapat sing kaya kuwe sing kudu delempengna Bu. Golkar menang merga
Soeharto otoriter, mburine ABRI, rakyat ora olih berpendapat. Saben agep
Pemilu kaya siki kiye, diisukna hantu pocong, ben wong ora pada ngomong
politik.

BAPAK
Sing penting ko aja melu-melu.

IBU
Iya, kuliah bae sing bener.

FAJAR
Nek nganggep kuliah bener kuwe merga rajin maring kampus, ya wis udu jamane
Bu, Pak. Siki saben ndina, mahasiswa wis ora pada neng kampus, wis neng
ndalan kabeh, nuntut Soeharto medun. Gole dadi mahasiswa wis pada ngrasa
nek kuliah murah merga pajeg rakyat. Ya kewajibane nggo mbelani rakyat.

BAPAK
Nyong paham. Nanging nek ko melu-melu nglawan pemerentah, taruhane bapakmu
kiye!

SCENE 5
EXT/INT. WARUNG KOPI – SIANG
PEMAIN: MURNI, MANTO, FAJAR

2
Setelah membeli kain putih dan menjahitnya sekaligus cat hitam di pasar,
Fajar mampir di warung kopi. Murni pemilik warung, Manto pembeli yang
sedang ngopi dan makan gorengan, Fajar ngobrol terkait jalan aspal dan
listrik masuk desa bila warganya memenangkan Golkar seratus persen.

MURNI
Enggane kapan dalan sing kaya kali sat kiye deaspal? Kae tangga desa malah
ana sing tekan siki ora ngrasakna listrik acan.

MANTO
Kpriwe agep deaspal? Agep depasangi listrik? Lha wong syarate Golkar kudu
menang. Kiye neng Pemilu ngko, nek Golkar ora menang, ya dalane ora bakalan
deaspal.

MURNI
Deneng bisa kaya kuwe ya?

Fajar datang dari pasar.

MANTO
Eh Jar, ngeneh. Bali kapan?

FAJAR
Mau mbengi Mas. Agi ngaso apa?

MANTO
Iya kiye, mau ora sempet sarap, dadi deganjel gorengan. Sekang ngendi Jar?

FAJAR
Dolan meng pasar.
(kepada Murni)
Yu, kopine, gelas cilik bae.

MURNI
Iya Jar...

MANTO
(kepada Murni)
Yu, kiye nek ora percaya, takon Fajar sing mahasiswa.

FAJAR
Anu apa Mas?

MANTO
Kae Yu Murni takon, kiye deneng dalan ora gagean deaspal. Ya tek jawab
merga Golkar neng kene kalah. Mbok bener ya Jar?

FAJAR
Ya kuwe salah siji strategine Golkar ben neng ndi-ndi bisa menang.

MURNI
Ora adil temen? Bisane kaya kuwe?

FAJAR
Ya bisa, merga Golkar dedukung neng pegawe negri, njur neng mburine Golkar
kuwe ABRI.

MANTO
Lha kae neng bale desa akeh tentara, kuwe anu apa Jar?

FAJAR

3
Tentara? Neng bale desa??

SCENE 6
INT. RUANG KANTOR BALAI DESA – SIANG
PEMAIN: KOPRAL DARSUN, KOMANDAN SOEJATNO

Di salah satu ruang balai desa, Kopral Darsun melapor pada Komandan
Soejatno, menginformasi bahwa ada seorang aktivis mahasiswa bernama Fajar
yang baru pulang dari kota. Komandan Soejatno menginstruksikan untuk terus
mengawasi mahasiswa itu.

KOPRAL DARSUN
(hormat dibalas komandannya)
Lapor Ndan?

KOMANDAN SOEJATNO
Ya

KOPRAL DARSUN
Ada informasi, seorang aktifis mahasiswa bernama Fajar Suganda pulang
kampung.

KOMANDAN SOEJATNO
Kalian awasi terus setiap gerakannya di kampung ini. Dari namanya,
mahasiswa ini masuk daftar. Saya akan cek kembali detailnya.

KOPRAL DARSUN
Siap Ndan!

KOMANDAN SOEJATNO
Laksanakan!

KOPRAL DARSUN
Laksanakan!!

SCENE 7
EXT. DEPAN KANTOR BALAI DESA – SIANG
PEMAIN: KOPRAL DARSUN, PRAJURIT WARYONO, SURATNO

Di luar ruang, Prajurit Waryono ngobrol dengan Suratno.

SURATNO
Pemuda yang satu ini memang beda dengan pemuda-pemuda sebaya di kampung ini
Pak. Bahkan bila dibandingkan dengan sesama mahasiswa di daerah ini.

PRAJURIT WARYONO
(manggut-manggut)
Benar kalau Fajar ini bapaknya Pegawai Negeri?

SURATNO
Benar Pak, bapaknya guru SD.

Datang Kopral Darsun setelah laporan.

PRAJURIT WARYONO
Bagaimana Ndan?

4
KOPRAL DARSUN
Kita awasi terus gerak-gerik Fajar, jangan sampai lengah.
(kepada Suratno)
Pak Suratno?

SURATNO
Siap Pak.

KOPRAL DARSUN
Mulai sekarang, tolong awasi setiap apa yang dilakukan Fajar di kampung
ini.

SURATNO
Siap Pak!

KOPRAL DARSUN
Bila apa yang dilakukan Fajar mencurigakan, segera lapor ke kami!

SURATNO
Siap!

SCENE 8
INT/EXT. RUANG BELAKANG RUMAH – SIANG
PEMAIN: FAJAR

Fajar sedang mengecat segi lima pada kain putih.

SCENE 9
EXT. RUANG BELAKANG RUMAH – SORE
PEMAIN: FAJAR

Setelah selesai, dengan sebatang pucukan bambu dan tali rafia, bendera
Golput dipasang tinggi di pohon belakang rumah.

SCENE 10
EXT/INT. RUANG KANTOR BALAI DESA – SORE
PEMAIN: KOPRAL DARSUN, KOMANDAN SOEJATNO

Kopral Darsun kembali laporan pada Komandan Soejatno dengan tergesa, ada
bendera Golput berkibar di atas pohon. Komandan Soejatno langsung keluar
ruangan melihat keberadaan bendera Golput tersebut.

KOPRAL DARSUN
(memberi hormat, dibalas Komandan Soejatno)
Lapor Ndan, terlihat bendera Golput berkibar dari atas pohon. Dipastikan,
Fajar pelakunya!

KOMANDAN SOEJATNO
Sudah saya duga!

KOPRAL DARSUN
Bendera Golput terlihat dari depan, Ndan!

KOMANDAN SOEJATNO
Kita cek ke depan!

KOPRAL DARSUN
Siap!

5
Komandan Soejatno menuju ke luar ruang diikuti Kopral Darsun, mereka
melihat arah bendera Golput berkibar.

KOMANDAN SOEJATNO
Kumpulkan pasukan, kita atur strategi!

KOPRAL DARSUN
Siap Ndan!

SCENE 11
EXT. JALAN DESA DEKAT BALAI DESA – MALAM
PEMAIN: FAJAR, RISWAN, SODRI, TIGA EKSTRAS, KOPRAL DARSUN, PRAJURIT WARYONO

Malam hari, terjadi keributan. Fajar dikeroyok lima pemuda desa yang tak
lain teman-temannya sendiri seperti Riswan dan Sodri. Pemuda desa itu
dicekoki minuman beralkohol oleh tentara untuk mengeroyok Fajar meski tak
sempat baku-hantam karena Fajar tidak meladeni. Riswan, Sodri dan tiga
pemuda lain sedang nongkrong setelah mabuk.

SODRI
Dela maning Fajar liwat ngeneh, langsung gered bae!

PEMUDA 1
Gebugi sisan nggawe!

RISWAN
Ngko nyong sing ngadepi, ko pada neng mburine nyong!

PEMUDA 2
Kae..kae! Fajar liwat!

Fajar berhenti sebelum melewati para pemuda.

FAJAR
Wan.. agi pada jagongan apa?

RISWAN
Jar, nyong sebagai batir ya, mending ko mbalik maring kota bae nganah!

FAJAR
Ana apa ya?

SOBRI
Wis ko orasah reka-reka, orasah kakehen cangkem!

PEMUDA 1
Wis bet lah!

Pemuda 1,2,3 mendekat.

FAJAR
Heh.. ngko disit, jelasna disit, kiye ana apa?

RISWAN
Wis orasah dijelasna, ko kudune ngerti dewek!!

Semua pemuda merangsek ke Fajar. Keributan itu menjadi alasan Kopral Darsun
dan Prajurit Waryono yang membawa senjata laras panjang menangkap dan
menyidang Fajar di kantor desa.

6
PRAJURIT WARYONO
Heh! Bubar.. Bubar!!

KOPRAL DARSUN
Fajar mana! Yang namanya Fajar mana?!!

Semua pemuda bubar. Tinggal Fajar sendirian.

KOPRAL DARSUN
Kamu yang namanya Fajar?!

FAJAR
Ya!

KOPRAL DARSUN
Ikut kami ke kantor!

Kopral Darsun menggelandang Fajar ke kantor desa diikuti Prajurit Waryono.

SCENE 12
INT. KANTOR DESA – MALAM
PEMAIN: FAJAR, KOMANDAN SOEJATNO, PRAJURIT WARYONO

Fajar dihadapkan pada Komandan Soejatno dan Prajurit Waryono yang turut
menjaga.

KOMANDAN SOEJATNO
Kamu pulang dari kota, cuma mau bikin geger kampung?! Tidak tahu kalau
banyak tentara di sini?!

FAJAR
Bapak-bapak sendiri harusnya tahu, siapa yang bikin geger.

PRAJURIT WARYONO
Diam kamu!

SCENE 13
EXT. KANTOR DESA – MALAM
PEMAIN: PRAJURIT WARYONO, SURATNO, EKSTRAS

Di luar kantor desa, Prajurit Waryono, Suratno, dan beberapa warga


berkumpul dan bergunjing.

SCENE 14
INT. KANTOR DESA – MALAM
PEMAIN: FAJAR, KOMANDAN SOEJATNO, PRAJURIT WARYONO

Fajar masih diiterograsi Komandan Soejatno. Dari belakang Fajar, Prajurit


Waryono dengan senjata laras panjang sesekali memopor senjatanya ke tengkuk
Fajar.

KOMANDAN SOEJATNO
Mau gagah-gagahan?! Pasang bendera Golput tinggi-tinggi, maksudnya apa?!

7
FAJAR
Tidak ada maksud apa-apa...

KOMANDAN SOEJATNO
(menggebrak meja)
Tidak ada maksud apa-apa, bagaimana?!! Itu budaya kota yang kamu bawa ke
kampung!!

PRAJURIT WARYONO
(memopor senjata ke tengkuk Fajar)
Jawab yang bener!!

Fajar memegang tengkuk kesakitan.

FAJAR
Itu hak saya.

KOMANDAN SOEJATNO
Hak bagaimana?!

FAJAR
Ini kampung kelahiran saya Pak!

Prajurit Waryono kembali memopor senjatanya ke tengkuk Fajar.

SCENE 15
INT. RUMAH – PAGI
PEMAIN: FAJAR, BAPAK, IBU

Pagi hari, sembari membaca buku di kamar, Fajar diceramahi banyak hal oleh
kedua orang tuanya. Ibu duduk di kursi meja makan, bapak memakai sepatu di
kursi lain.

IBU
Ibu, bapakmu wis ngomongi ko, wis aja melu-melu... aja gawe polah. Mbok ana
apa-apane ngko kabeh kena...

BAPAK
Nyong jane ya ora rila nduwe anak dekayakuwekna neng mbale desa. Tapi
kpriwe maning, sing diadepi udu perkara sepele.

IBU
Siki anane meneng bae... meneng! Ora neng kene, ora neng kana, meneng...

Fajar diam dan terus membaca.

SCENE 16
EXT. JALAN BERBATU – SIANG
PEMAIN: FAJAR

Siang itu, Fajar kembali ke kota. Ia melewati jalanan berbatu dengan


jembatan yang dicat kuning.

R A M P U N G