Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PEMICU 5 BLOK 12

“gusi merah dan bengkak”

Disusun Oleh :
Kelompok 5

Dosen Pembimbing :
Siti Salmiah,drg.,Sp.KGA
DR.Wilda H Lubis,drg.,M.Si
Armia Syahputra,drg.,Sp.Perio

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
2019
KELOMPOK 5

Ketua : Nadiyah Atika Putri ( 170600041 )


Sekretaris : Gieska Lailarahma Darmawan ( 170600043 )

Anggota :
Khoirunnisa ( 170600042 )
Vidi Putri Kurnia ( 170600044 )
Amalia Retno Giantyana ( 170600046 )
Jessica Angelita Claudia Br. Sinulingga ( 170600047 )
Ummu Mahfuzzah Nur Salam ( 170600048 )
Ayu Mayang Sari Rangkuti ( 170600049 )
Nova Sarahdiba ( 170600050 )
Clarinta Simangunsong ( 170600201 )
Erick Kho ( 170600202 )
Theresia Octavia Butar Butar ( 170600204 )
Febby Maulina ( 170600205 )
Nada Fairuzia Soadi ( 170600206 )
Melli Fiary Panjaitan ( 170600207 )
Nurhalijah ( 170600208 )
Assajdah Nasution ( 170600209 )
Sofia Honora Sinaga ( 170600210 )
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga laporan hasil diskusi kelompok pemicu lima mengenai “gusi
merah dan bengkak“ ini bisa diselesaikan tepat pada waktunya.
Terima kasih kami ucapkan kepada fasilitator yang sudah membantu kami
dalam menyelesaikan masalah dan membantu mencari titik tengah terhadap skenario
pemicu tiga ini. Rasa terima kasih juga diucapkan pada seluruh pihak terkait dalam
proses penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat.

TIM PENYUSUN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Topik


Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dibawa ibunya ke RSGM bagian IKGA dengan
keluhan gusi depan rahang bawah terlihat lebih bengkak dan warna lebih merah
dibandingkan gusi lainnya. Anamnesis diperoleh gingiva membesar dan memerah
serta terasa gatal. Gingiva sudah terlihat merah sejak lama tetapi kurang lebih 3 bulan
yang lalu gingiva semakin memerah disekitar gigi 32,31,41 dan 42 tetapi anak tidak
merasa nyeri. Anak hanya mau memakan makanan yang lunak serta tidak suka makan
sayur dan buah-buahan. Anak sering menderita pilek dan saat ini anak akan
menghadapi ujian semester. Selain itu anak suka malas menyikat gigi jika tidak
diingatkan oleh ibunya.
Hasil pemeriksaan dokter gigi diperoleh: karies media pada gigi 74,75,84 dan 85, gigi
32 dan 42 erupsi ¾ mahkota,terdapat kalkulus diservikal lingual gigi 41 dan
31,perdarahan spontan pada saat di probing pada gingiva anterior bawah,dan gigi
terasa lebih sensitif.

Pada mukosa labial bawah setentang gigi kaninus kanan ditemukan lesi ulser tunggal
berbentuk tidak beraturan dengan diameter 0,5cm dengan daerah tengah kuning
keabu-abuan dan dikelilingi tepi kemerahan. Gigi 53,52 fraktur vertical kelas 4 Ellis
dan Davey.

2.2 Learning Issue


 Pemeriksaan dan prosedur diagnosis penyakit periodontal
 Etiologi penyakit periodontal
 Pathogenesis penyakit periodontal
 Perawatan penyakit periodontal

2.3 Pertanyaan
1. Sebutkan klasifikasi penyakit periodontal pada kasus tersebut dan jelaskan alasannya
(dilihat dari usia dan gambaran klinis )
2. Sebutkan dan jelaskan etiologi lokal dan sistemik dari penyakit periodontal tersebut
3. Jelaskan mekanisme terjadinya penyakit periodontal tersebut
4. Jelaskan rencana perawatan pada kasus tersebut
5. Jelaskan mengenai tindakan pencegahan agar kasus diatas tidak terjadi lagi
6. Apakah diagnosis lesi yang terjadi pada mukosa labial bawah pada kasus tersebut.
Jelaskan alasannya
7. Jelaskan tata laksana lesi pada mukosa labial bawah pada kasus tersebut
2.4 Pembahasan
1. Klasifikasi penyakit periodontal
Menurut Carranza dan Glickman’s Clinical Periodontology (2002), gingivitis
dibedakan berdasarkan perjalanan dan lamanya serta penyebarannya. Berdasarkan
perjalanan dan lamanya diklasifikasikan atas empat jenis yaitu : gingivitis akut (rasa
sakit) timbul secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu pendek), gingivitis subakut
(tahap yang lebih hebat dari kondisi gingivitis akut), gingivitis rekuren (peradangan
gusi yang dapat timbul kembali setelah dibersihkan dengan perawatan atau hilang
secara spontan dan dapat timbul kembali, gingivitis kronis (peradangan gusi yang
paling umum ditemukan, timbul secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama, dan
tidak terasa sakit apabila tidak ada komplikasi dari gingivitis akut dan subakut yang
semakin parah).
 Klasifikasi gingivitis kronis pada anak yang saat ini digunakan sesuai dengan
kasus adalah
 Eruption gingivitis, merupakan gingivitis yang terjadi di sekitar gigi yang sedang
erupsi dan berkurang setelah gigi tumbuh sempurna dalam rongga mulut, sering
terjadi pada anak usia 6-7 tahun ketika gigi permanen mulai erupsi. Eruption
gingivitis lebih berkaitan dengan akumulasi plak daripada dengan perubahan jaringan
(Carranza, 2002). McDonald dan Avery (2004) mengatakan bahwa gingivitis dapat
berkembang karena pada tahap awal erupsi gigi, margin gusi tidak mendapat
perlindungan dari mahkota sehingga terjadi penekanan makanan di daerah tersebut
yang menyebabkan proses peradangan. Selain itu sisa makanan, materia alba, dan
bakteri plak sering terdapat di sekitar dan di bawah jaringan bebas, sebagian meliputi
mahkota gigi yang sedang erupsi hal ini mengakibatkan peradangan.

2. Etiologi lokal dan sistemik


 Faktor lokal
a. Plak bakteri
Melekat erat pada permukaan gigi dan gingiva, bila seseorang mengabaikan
kebersihan mulut. Pada kasus anak tersebut malas menyikat gigi bila tidak diingatkan
oleh ibunya. Plak bakteri ini bersifat toksik dan menyebabkan penyakit periodontal
secara tidak langsung dengan jalan:

- meniadakan mekanisme pertahanan tubuh


- mengurangi pertahanan jaringan tubuh
- menggerakkan proses imunopatologo

b. Kalkulus

Merupakan plak bakteri yang mengalami pengapuran/termineralisasi. Kalkulus


bukanlah penyebab utama dari gingivitis melainkan menjadi pendukung penyebab
terjadinya gingivitis (dapat dilihat bahwa inflamasi terjadi karena penumpukan sisa-
sisa makanan). Pada kasus terdapat kalkulus di sekitar servikal lingual pada gigi 41
dan 31. Kalkulus berfungsi sebagai tempat melekat nya plak bakteri yang akan
berkembang di permukaan kalkulus dan akan mempengaruhi gingiva secara tidak
langsung.

c. Pernapasan dari mulut

Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan salah satu kebiasaan buruk. Hal ini
sering dijumpai secara permanen atau sementara. Permanen misalnya pada anak
dengan kelainan saluran pernafasan, bibir maupun rahang, juga karena kebiasaan
membuka mulut terlalu lama. Sementara misalnya pada penderita pilek dan beberapa
anak dengan gigi depan atas protrusi sehingga mengalami kesulitan menutup bibir.

Keadaan ini menyebabkan viskositas (kekentalan) saliva akan bertambah pada


permukaan gingiva maupun permukaan gigi,aliran saliva berkurang,populasi bakteri
bertambah banyak,lidah dan palatum menjadi kering dan akhirnya memudahkan
terjadinya penyakit periodontal.
d. Sifat fisik makanan

Makanan yang bersifat lunak seperti bubur atau campuran semiliquid membutuhkan
sedikit pengunyahan, menyebabkan debris lebih mudah melekat disekitar gigi dan
bisa berfungsi sebagai sarang bakteri serta memudahkan pembentukan karang gigi.
Makanan yang baik untuk gigi dan mulut adalah yang mempunyai sifat self cleaning
dan berserat yaitu makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara
lebih efektif, misalnya sayuran mentah yang segar, buah-buahan dan ikan yang
sifatnya tidak melekat pada permukaan gigi.

 Faktor sistemik
a. Demam tinggi

pada anak sring terjadi penyakit periodontal selama menderita demam yang tinggi,
misalnya disebabkan pilek ataupun batuk yang parah, hal ini disebabkan anak yang
yang sakit tidak dapat melakukan pembersihan mulut dan makanan yang didapat
biasanya berbentuk cair.
b. Defisiensi vitamin

Diantara banyak vitamin, vitamin C sangat berpengaruh pada jaringan periodontal


karena fungsinya dalam pembentukan serat jaringan ikat. Defisiensi vitamin C sendiri
sebenarnya tidak menyebabkan penaykit periodontal, tetapi adanya iritasi lokal
menyebabkan jaringan kurang dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersebut
sehingga terjadi reaksi inflamasi (defisiensi memperlemah jaringan )
3. Mekanisme terjadinya penyakit periodontal

Mekanisme gingivitis ada 4 tahap :


1. Initial lesion ( 2-4 hari )
Terjadi perubahan vaskuler berupa vasodilatasi dan peningkatan aliran darah
sebagai respon terhadap aktivitas bakteri oleh leukosit dan stimulasi pada sel
endothelial. Secara klinis respon gingiva belum terlihat .
2. Early lesion (4-7 hari)
Terjadi proliferasi pembuluh darah dan peningkatan kerusakan kolagen, 70%
kolagen dihancurkan disekitar infiltrat selular. PMNs keluar dari pembuluh darah
sebagai respon terhadap stimulus kemotaksis dari komponen plak dan bergerak
menuju jaringan epitel, menyebrangi lamina basal dan banyak ditemukan di daerah
epitelium juga di area pocket. PMNs memfagositosis bakteri dan juga melepaskan
lysosom untuk mencerna bakteri. Makrofag melepaskan mediator-mediator inflamasi
berupa sitokin, prostaglandin E2 ( PGE2), dan Matriks Metaloproteinase (MMP).
Fibroblast mulai mengalami kemunduran ditandai dengan menurunnya produksi
kolagen.
3. Established lesion (14-21 hari)
Aktivitas kolagenolisis oleh enzim kolagenase meningkat pada jaringan yang
terinflamasi. Peningkatan aktivitas ini disebabkan karena adanya produksi kolagenase
dari bakteri PMNs. Makrofag melepaskan mediator-mediator inflamasi berupa
sitokin, PGE2, dan, MMP. Sitokin merekrut makrofag dan limfosit tambahan menuju
area lesi. Peningkatan aktivitas PGE2, dan MMP kemudian menyebabkan destruksi
serat kolagen pada jaringan konektif gingiva.
4. Advanced lesion
Perluasan lesi kedalam tulang alveolar. Secara mikroskopis terdapat fibrosis pada
gingiva dan manifestasi inflamasi yang menyebar dan kerusakan jaringan
imunopatologi. Sel plasma berlanjut mendominasi jaringan ikat dan neutrofil
berlanjut mendominasi epithelial junction dan celah gingival.

4. Rencana perawatan

Perawatan utama yg dilakukan terhadap gingivitis kronis pada anak yaitu dengan
menghilangkan faktor etiologi serta faktor lokal. Perawatan harus segera dilakukan
karena bila tidak akan menjadi periodontitis. Pada kasus, anak tersebut mengalami
gingivitis kronis ‘eruption gingivitis’ yg merupakan gingivitis yg terjadi disekitar gigi
yg sedan erupsi dan berkurang setelah gigi tunbuh sempurna didalam rongga mulut.
Peradangan disebabkan karena adanya akumulasi plak disekitar gigi yg sedang
erupsi. Erupsi gingivitis akan hilang apabila posisi oklusi telah normal dan hal ini
akan diikuti dengan pertumbuhan gigi yg sempurna. Perawatan OHi meliputi control
plak, sikat gigi 2kali sehati, flasshong, kumur dengan antimikroba dan kunjungan ke
dokter gigi tiap 6 bulan sekali.

5. Tindakan pencegahan
Secara umum tindakan pencegahan dibedakan atas 3 (tiga) faseyaitu:

Pencegahan primer (prepatogenesis) , Fase pencegahan timbulnya lesi inisial atau


penyakit pada jaringan yang sehat.

Pencegahan sekunder (patogenesis), Fase pencegahan untuk mengintersepsi penyakit


begitu penyakit telah terjadi, dengan tujuan untuk mencegah timbulnya cacat atau
membatasi cacat.

Pencegahan tersier, Fase pencegahan yang bertujuan untuk memperbaiki cacatyang


ditimbulkan oleh penyakit.
Tahapan pencegahan oleh Leavell & Clark :
PELAKSANAAN TAHAP PENCEGAHAN

I. PENINGKATAN KESEHATAN Tujuan Tujuan: Meningkatkan Pertahanan


Periodonsium
Dapat dicapai dengan jalan:
(1)mengkonsumsi nutrisi yang baik, (1)mengkonsumsi nutrisi yang baik,
(2) penyuluhan kesehatan umum dan kesehatan gigi-mulut
(3) motivasi untuk pemeliharaan kesehatan mulut, dan
(4) menjaga kondisi kehidupan yang baik.
II. PERLINDUNGAN KHUSUS
Tujuan Tujuan: Perlindungan Khusus Terhadap Penyakit Gingiva dan Periodontal
Dapat dicapai dengan jalan:
(1) profilaksis oral secara berkala di praktek atau klinik gigi gigi

(2) pelaksanaan prosedur higiena oral yang adekuat oleh pasien sehari-harinya di
rumah
(3) perbaikan restorasi yang dinilai cacat yang bisa berperan sebagai faktor etiologi
pendorong, dan
(4) penanggulangan kebiasaan buruk yang dapat mencederai periodonsium.
III. DIAGNOSIS DINI DAN PERAWATAN YANG TEPAT DIAGNOSIS DINI
DAN PERAWATAN YANG TEPAT
Tujuan: mencegah berlanjutnya penyakit gingivitis menjadi periodontitis

Perawatan yang dilakukan: semua prosedur perawatan yang bertujuan menyingkirkan


baik penyakit gingiva maupun penyakit periodontal pada penyakit gingiva maupun
penyakit periodontal pada tahap awal
IV. MEMBATASI CACAT

Tujuan: Membatasi Cacat Yang Terjadi Akibat Berkembangnya Penyakit


Periodontal
Tahap ini murni prosedur perawatan, hanya saja masih tergolong pencegahan karena
bila dilakukan dengan tepat dapat menghindarkan terjadinya cacat yang lebih parah
pada periodonsium yang lebih parah pada periodonsium

Perawatan yang dilakukan: semua prosedur perawatan periodontal non-bedah


perawatan bedah periodontal splinting temporer pencabutan gigi yang dinilai jelek
prognosisnya.
IV. REHABILITASI

Tujuan: Mengembalikan Seoptimal Mungkin Fungsi Oklusal Yang Dibutuhkan


Untuk Kesehatan Periodonsium

Perawatan yang dilakukan: prosedur prostodonsia untuk menggantikan gigi yang


hilang
Tahap rehabilitasi ,punya efek psikologis karena gigi tiruan yang dibuat akan
memperbaiki estetis pasien

Dokter gigi juga memilki peran penting agar penyakit tsb tdak muncul kembali. Peran
dokter gigi sebagai edukator,motivator,instruktur dan fasilitator
EDUKATOR

Tugas dokter gigi/ pendampingnyamenyampaikan informasi mengenai kesehatan gigi


dan mulut pada umumnya dan kesehatan periodonsium khususnya Informasi itu
mencakup : (1)kerentanannya terhadap penyakit periodontal, (2)bahwa pada rongga
mulutnya dijumpai faktor-faktor (2)bahwa pada rongga mulutnya dijumpai faktor-
faktor penyebab penyakit, (3)akibat dari penyakit periodontal apabila dibiarkan tanpa
dirawat, (4)apa yang dapat dan wajib dilakukan-nya untuk memelihara kesehatan
periodonsiumnya (5)mengapa dia harus secara berkala memeriksa kesehatan gigi dan
mulutnya.

Dibantu dengan kehadiran orangtua mengingatkan anaknya untuk menjaga kebersihan


mulut dan gigi.
MOTIVATOR

Tugas dokter gigi/ pendampingnyamemotivasi pasien yang sudah mendapat


penyuluhan kesehatan mengubah persepsi terhadap kesehatan periodonsium timbul
kemauan melakukan hal-hal yang wajib dilakukan untuk memelihara kesehatan
periodonsium.
INSTRUKTUR
Tugas dokter gigi/ pendampingnyamemberi instruksi berupa cara-cara pengkontrolan
plak dengan usaha-usaha kebersihan mulut terutama pada kontrol plak mekanis
dengan menggunakan sikat gigi dan alat pembersih interdental berupa benang gigi
(dental floss ), brus interdental (interdental brush), atau brus dengan rumpun bulu
tunggal (unitufted atau brus dengan rumpun bulu tunggal (unitufted brush). Selain itu
perlu pula diinstruksikan kontrol plak kimiawisebagai penunjang dengan pemakaian
bahan-bahan antiplak, baik dalam bentuk pasta gigiatau obat kumur.
FASILITATOR

Tugas dokter gigi membuat permukaan gigi geligi menjadi lebih aksesibel Profilaksis
Oralsecara luas mencakup prosedur-prosedur : 1. Penskeleran supragingival dan
subgingival 2. Penyerutan akar gigi yang telah tersingkap, 3. Penyingkiran stein
ekstrinsik dan plak, 4. Perbaikan tumpatan yang mengemper dan 4. Perbaikan
tumpatan yang mengemper dan restorasi dengan kontur yang inadekuat, 5. Pemolesan
permukaan gigi dan restorasi yang ada 6. Aplikasi bahan antikaries, 7. Instruksi
kontrol plak. Drg membuat gigi lebih aksesibel untuk pembersihan, sehari-hari perlu
pula dilakukan penambalan karies dan perawatan ortodonsia

6. Diagnosis lesi yang terjadi pada mukosa labial bawah

Lesi untuk kasus diatas adalah traumatik ulser. Traumatik ulser merupakan lesi
mukosa yang umum terjadi pada mulut. Lesi traumatik ulser ini dapat terjadi oleh
trauma mekanik(tergigit) , kimia, stimulus suhu, fraktur gigi, karies, malformasi, dan
malposisi. Etiologi nya adalah karena cedera atau trauma yang tidak disengaja.
Manifestasi klinis dari traumatik ulser adalah rasa sakit, memiliki warna kekuningan,
jaringan fibrin pada bagian tengah, batas merah inflamasi dan tanpa indurasi (bentol
kemerahan). Bila disebabkan oleh ujung gigi biasanya letaknya pada mukosa
bukal/pada lidah. Pada kasus terlihat pada gigi 53,52 fraktur vertikal kelas 4 ellis dan
davey yang artinya trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital
dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota, dan dikasus terlihat gambaran klinis
lesi ulser tunggal berbentuk tidak beraturan dengan diameter 0,5 cm dengan daerah
tengah kunibg keabu-abuan dan dikelilingi tepi kemerahan
7. Tata laksana lesi pada mukosa labial bawah pada kasus

*penatalaksanaan prinsip perawatan traumatik ulser :


1) singkirkan faktor etiologi baik mekanis, kemis, maupun termis.

2) pemberian obat-obatan dengan tujuan :


a. Menghilangkan rasa sakit
b. Mengurangi jumlah dan ukuran lesi
c. Mempercepat waktu penyembuhan
d. Mencegah infeksi sekunder
Obat-obatan yang digunakan :
1. NSAID (Non steroid)
Efeknya :
• mempercepat waktu penyembuhan
• Mengurangi jumlah dan ukuran lesi
• Menghilangkan rasa sakit
Obat : Asam hyaluronik, Benzydam Hcl, Azelastin
2. Anastetik
Efeknya : Menghilangkan rasa sakit
Obat : Lidocaine, Benzocaine
3. Antiseptik
Efeknya :
• Mempercepat waktu penyembuhan
• Mencegah infeksi sekunder
• mengkontrol kontaminasi mikrobial
Digunakan pada ulser rongga mulut dan oral hygine yang jelek.
Obat : Klorheksidin glukonat, Povidon iodin, Heksetidin.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan