Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Tujuan


Segala upaya fasilitas yang bersifat persuasif dan tidak memerintah yang bertujuan
meningkatkan pengetahuan, perilaku dan kemampuan masyarakat dalam menemukan,
merencanakan dan memecahkan masalah menggunakan sumber daya /potensi yg dimiliki
dan dukungan tokoh-tokoh masyarakat serta LSM.
Pembinaan Peran Serta Masyarakat Adalah salah satu upaya pengembangan yang
berkesinambungan dengan tetap memperhatikan penggerakan dan pemberdayaan
masyarakat melalui model persuasif dan tidak memerintah untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap, perilaku dan mengoptimalkan kemampuan masyarakat.
Penggerakan dan pemberdayaan keluarga merupakan Segala upaya fasilitas yang
bersifat tidak memerintah guna meningkatkan pengetahuan dan mengambil keputusan
untuk melakukan pemecahan dengan benar tanpa atau dengan benar tanpa atau bantuan
pihak lain.
B. Prinsip dan Ciri – ciri
Prinsip – Prinsip Penggerakan
1. Menumbuh kembangkan kemampuan masyarakat
Di dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat
sebaiknya secara bertahap sedapat mungkin menggunakan sumber daya yang
dimiliki oleh masyarakat, apabila diperlukan bantuan dari luar bentuknya hanya
berupa perangsang atau pelengkap sehingga tidak semata-mata bertumpu pada
bantuan tersebut.
2. Menumbuhkan dan atau Mengembangkan peran serta masyarakat dalam
pembangunan kesehatan
Peran serta masyarakat di dalam pembangunan kesehatan dapat diukur dengan
makin banyaknya jumlah anggota masyarakat yang mau memanfaatkan pelayanan
kesehatan seperti memanfaatkan Puskesmas, Pustu, Polindes, mau hadir ketika ada
kegiatan penyuluhan kesehatan, mau menjadi kader kesehatan, mau menjadi peserta
Tabulin, JPKM, dan lain sebagainya.
3. Mengembangkan semangat gotong royong dalam pembangunan kesehatan
Semangat gotong royong yang merupakan warisan budaya masyarakat
Indonesia hendaknya dapat juga ditunjukkan dalam upaya pemeliharaan dan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Adanya semangat gotong royong ini
dapat diukur dengan melihat apakah masyarakat bersedia bekerjasama dalam
peningkatan sanitasi lingkungan, penggalakan gerakan 3M (Menguras, Menutup,
Menimbun) dalam upaya pemberantasan penyakit demam berdarah, dan lain
sebagainya.
4. Bekerja bersama masyarakat
Setiap pembangunan kesehatan hendaknya pemerintah/petugas kesehatan
menggunakan prinsip bekerja untuk dan bersama masyarakat. Maka akan
meningkatkan motivasi dan kemampuan masyarakat karena adanya bimbingan,
dorongan, alih pengetahuan dan keterampilan dari tenaga kesehatan kepada
masyarakat.
5. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi kemasyarakat yang ada
dimasyarakat
Prinsip lain dari penggerakan dan pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan adalah pemerintah/tenaga kesehatan hendaknya memanfaatkan dan
bekerja sama dengan LSM serta organisasi kemasyarakatan yang ada di tempat
tersebut. Dengan demikian upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan
masyarakat lebih berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien).
6. Penyerahan pengambilan keputasan kepada masyarakat
Semua bentuk upaya penggerakan dan pemberdayaan masyarakat termasuk di
bidang kesehatan apabila ingin berhasil dan berkesinambungan hendaknya bertumpu
pada budaya dan adat setempat. Untuk itu pengambilan keputusan khususnya yang
menyangkut tata cara pelaksanaan kegiatan guna pemecahan masalah kesehatan
yang ada di masyarakat hendaknya diserahkan kepada masyarakat,
pemerintah/tenaga kesehatan hanya bertindak sebagai fasilitator dan dinamisator.
Sehingga masyarakat merasa lebih memiliki tanggung jawab untuk
melaksanakannya, karena pada hakekatnya mereka adalah subyek dan bukan obyek
pembangunan. dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat lebih berhasil guna
(efektif) dan berdaya guna (efisien).
Ciri –Ciri Penggerakan Dan Pemberdayaan

1. Upaya yang berlandasan pada penggerakan dan pemberdayaan masyarakat


2. Adanya kemampuan/kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri
3. Kegiatan yang segala sesuatunya diatur oleh masyarakat secara sukarela
C. Kemampuan dan kekuatan dimasyarakat
1. Tokoh-tokoh masyarakat
Yang tergolong sebagai tokoh masyarakat adalah semua orang yang memiliki
pengaruh di masyarakat setempat baik Kampung, Kepala Dusun, Kepala Desa)
maupun tokoh non formal (tokoh agama, adat, tokoh pemuda, kepala suku). Tokoh-
tokoh masyarakat ini merupakan kekuatan yang sangat besar yang mampu
menggerakkan masyarakat di dalam setiap upaya pembangunan.
2. Organisasi masyarakat

Organisasi yang ada di masyarakat seperti TPKK, Lembaga Persatuan Pemuda


(LPP), pengajian, dan lain sebagainya merupakan wadah berkumpulnya para
angggota dari masing-masing organisasi tersebut, sehingga upaya penggerakan dan
pemberdayaan masyarakat akan lebih berhasil guna apabila pemerintah/tenaga
kesehatan memanfaatkannya dalam upaya pembangunan kesehatan.

3. Dana masyarakat
Pada golongan masyarakat tertentu, penggalangan dana masyarakat merupakan
upaya yang tidak kalah pentingnya. Tetapi pada golongan masyarakat yang tidak
ekonominya pra-sejahtera, penggalangan dana masyarakat hendaknya dilakukan
sekedar agar mereka merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab terhadap upaya
pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatannya. Cara lain yang dapat ditempuh
adalah dengan model tabungan-tabungan atflu sistem asuransi yang bersifat subsidi
silang.
4. Saranan dan material yang dimiliki masyarakat
Pendayagunaan sarana dan material yang dimiliki oleh masyarakat seperti
peralatan, batu kali, bambu, kayu dan lain sebagainya untuk pembangunan kesehatan
akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan ikut memillki masyarakat. Kampung,
Kepala Dusun, Kepala Desa) maupun tokoh non formal (tokoh agama, adat, tokoh
pemuda, kepala suku). Tokoh-tokoh masyarakat ini merupakan kekuatan yang sangat
besar yang mampu menggerakkan masyarakat di dalam setiap upaya pembangunan.
5. Pengetahuan masyarakat
Masyarakat memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan kesehatan
masyarakat, seperti pengetahuan tentang obat tradisional (asli Indonesia),
pengetahuan mengenai penerapan teknologi tepat guna untuk pembangunan fasilitas
kesehatan di wilayahnya misalnya penyaluran air menggunakan bambu, dll.
Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut akan meningkatkan keberhasilan
upaya pembangunan kesehatan.
6. Teknologi yang dimiliki masyarakat
Masyarakat juga telah memiliki teknologi tersendiri dalam memecahkan masalah
yang dialaminya, teknologi ini biasanya bersifat sederhana tapi tepat guna. Untuk itu
pemerintah sebaiknya memanfaatkan tekonologi yang dimiliki oleh masyarakat
tersebut dan apabila memungkinkan dapat memberikan saran teknis guna
meningkatkan hasil gunanya.
7. Pengembalian keputusan
Apabila tahapan penemuan masalah dan perencanaan kegiatan pemecahan
masalah kesehatan telah dapat dilakukan oleh masyarakat, maka pengambilan
keputusan terhadap upaya pemecahan masalahnya akan lebih baik apabila dilakukan
oleh masyarakat sendiri. Dengan demikian kegiatan pemecahan masalah kesehatan
tersebut akan berkesinambungan karena masyarakat merasa memiliki dan
bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mereka rencanakan sendiri.
Dalam memfasilitasi penggerakan dan memberdayaan masyarakat yang perlu
diketahui adalah bagaimana mengidentifikasi potensi sumber daya, mencari peluang
yang ada di Kampung, Kepala dusun, Kepala desa) maupun tokoh non formal (tokoh
agama, adat, tokoh pemuda, kepala suku). Tokoh-tokoh masyarakat ini merupakan
kekuatan yang sangat besar yang mampu menggerakkan masyarakat di dalam setiap
upaya pembangunan.
D. Strategi
1. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan
3. Mengembangkan berbagai cara untuk menggali dan memanfaatkan sumber daya yang
dimiliki oleh masyarakat untuk pembagunan kesehatan
4. Mengembangan manajemen sumber daya yang dimilki masyarakat secara terbuka.
E. Pokok Kegiatan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat
1. Penyampaian persepsi tentang masalah kesehatan yang ada dimasyarakat dan
perencanaan kegiatan untuk pemecahan masalah
2. Pelaksanaan rencana kegiatan
3. Pembinaan dan pengembangan
F. Langkah-langkah kegiatan penggerakan dan pemberdayaan masyarakat
1. Pertemuan Tingkat Desa (PTD)
a. Tujuan Kegiatan :
1) Dikenalkanya konsep Desa Siaga
2) Dikenalkan Poskesdes
3) Diperoleh dukungan
4) Didasari penting MMD
5) Tersusunnya kelompok kerja SMD
b. Tempat pertemuana di balai desa
Peserta (camat dokter , tingkat kecamatan) tingkat Desa (kepala Desa bidan
Kader, tokoh masyarakat)
c. Waktu Pertemuan
Disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa yang bersangkutan.
Pelaksanaan berdasarkan petunjuk dan hasil pertemuan tingkat kecamatan
bidan. Pertemuaan dibuka oleh kepala desa dan memperkenalkan para hadirin.
Camat memberikan kata sambutan. Bidan Desa sebagai pembicara menjelaskan
ttg masalah.
2. Survei Mawas Diri (SMD
a. Pengertian Survei Mawas Diri (SMD)
Survei Mawas Diri (SMD) adalah kegiatan perkenalan, pengumpulan dan
pengkajian masalah kesehatan oleh tokoh masyarakat dan kader setempat
dibawah bimbingan bidan desa.
b. Tujuan Survei Mawas Diri (SMD)
1) Masyarakat mengenal, mengumpulkan data, mengkaji masalah kesehatan
2) Timbul minat dan kesadaran masyarakat
c. Pelaksanaan Survei Mawas Diri (SMD)
1) Survei Mawas Diri (SMD) dilaksanakan didesa terpilih dengan memilih
lokasi tertentu.
2) Survei Mawas Diri (SMD) dilaksanakan oleh Kader yg telah ditunjukan
oleh kader masyarakat
3) Waktu Survei Mawas Diri (SMD) dilaksanakan sesuai dengan hasil
kesepakatan
4) Cara pelaksanaan :
Bidan Desa dan kader yang ditugaskan untuk melaksanakan :
a) Penentuan sasaran, baik jmlah KK ataupun lokasinya
b) Penentuan jenis informasi masalah kesahatan
c) Cara memperoleh informasi
d) Pembuatan intrumen
e) Kelompok pelaksanaan Survei Mawas Diri (SMD) dengan bimbingan
Bidan desa
3. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
a. Pengertian Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
Pertemuan seluruh warga untuk membahas hasil SMD dan merencanakan
penanggulangan masalah kes
b. Tujuan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
1) Masyarakat mengenal masalah kesahatan
2) Masyarakat bersepekat untuk menanggulangi masalah kesehatan
3) Masyarakat menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah
kesehatan
c. Pelaksanaan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
1) Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) harus dihadiri oleh pemuka
masyarakat desa, petugas Puskesmas dan sektor terkait
2) Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) dilaksanakan dibalai Desa
3) Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) dilaksanakan segera setelah Survei
Mawas Diri (SMD)
4) Cara pelaksanaan :
a) Pembukaan
b) Mengenalkan masalah kesehatan
c) Penyajian hasil Survei Mawas Diri (SMD) oleh kelompok Survei
Mawas Diri (SMD).
d) Perumusan dan penentuan prioritas
e) Penyusunan rencana penanggulangan masalah kesehatan
f) Penutup
4. Kegiatan Teknis
a. Pengamatan epidemiologi sederhana
b. Promosi Kesehatan
c. Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
d. PHBS
e. Sanitasi Dasar
f. Kesehatan Ibu dan Anak
BAB III

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. (2007). Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidan Poskesdes dan Pengembangan Desa
Siaga. Depkes. Jakarta.

Depkes RI. (2007) Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Pusat
Promosi Kesehatan.

Depkes RI. (2006). Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-
KIA). Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Effendy Nasrul. (1998). Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

Syahlan, J.H. (1996). Kebidanan Komunitas. Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan.

Marasabessy, N.B,. (2007). Program pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan


pelaksanaan pemberantasan malaria di kabupaten Maluku tengah.pdf. Universitas Gadjah
Mada.

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Wass, A. (1995). Promoting health: the primary health approach. Toronto: W.B. Sanders.

http://mhs.blog.ui.ac.id/rani.setiani/2009/11/10/45/

http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com